Teman-teman yang menyukai "Dunia Kecil Indi"

Senin, 30 Desember 2013

Semarang, Bagian ketiga: Oleh-oleh, Lawang Sewu dan Perjalanan Pulang :)


Setelah menceritakan perjalanan ke Semarang bagian pertama dan kedua, sekarang gue akan menceritakan bagian yang ketiga, alias yang terakhir. Hihihi, sedih juga rasanya harus meninggalkan Semarang, karena meski sebentar tapi semuanya sangat berkesan :)
Jadi setelah gue mengisi acara "The Long Journey" di E Plaza, teman-teman dari AIESEC menjemput gue ke hotel. Agak kaget juga karena masih terlalu dini, sementara kereta api gue baru berangkat nanti malam. Rupanya mereka mau mengajak gue dan Bapak untuk jalan-jalan dulu. Untung saja kami sudah selesai packing, jadi tanpa membuat mereka menunggu kami sudah siap untuk melihat-lihat kota Semarang ;)

Sepertinya hampir seluruh kru ikut mendampingi kami karena gue lihat jumlah mereka cukup banyak, sampai-sampai harus menggunakan 2 mobil, hehehe. Gue dan Bapak satu mobil dengan Putri dan Dinda, mereka bilang tujuan pertama adalah ke toko oleh-oleh. Gue senang sekali karena tadinya sama sekali nggak terpikir untuk ke sana, gue cuma terpikir akan belanja oleh-oleh di stasiun karena belum mengenal jalan di kota semarang :D 

Kami ke toko oleh-oleh berkonsep all in yang sayangnya gue lupa apa namanya, hehehe. Nih, gue post fotonya, siapa tahu ada teman-teman yang mengenalinya :p


Saking banyaknya pilihan gue sampai bingung mau pilih apa saja, apalagi tokonya juga lumayan ramai jadi nggak bisa berlama-lama nempel ke etalase (kecuali kalau mau diusir, lol). Untung saja Dinda membantu memilihkan oleh-oleh, jadi setelah bingung sejenak akhirnya gue memilih wingko, lunpia dan ikan bandeng. Dan ternyata ini semua ternyata hadiah dari teman-teman AIESEC UNDIP, lho. Sudah dibantu, dapat oleh-oleh untuk dibawa ke Bandung lagi! Yay! Thanks ya, guys :) 

Setelah itu gue dan Bapak dibawa ke Lawang Sewu. Kalau namanya sih sudah sering dengar dari teman-teman yang sering nonton acara-acara horor di TV, tapi melihat bangunannya belum pernah sama sekali. Meskipun (katanya) di sana seram, tapi kami malah hampir nggak bisa berhenti tertawa, karena adaaaa saja kejadian yang lucu. Teman-teman dari AIESEC UNDIP yang memakai seragam kaos merah sering kali saling melontar ejekan, misalnya dengan menyebut bahwa dengan seragam itu mereka tampak seperti rombongan anak-anak pesantren. Atau mereka malah berpura-pura menjadi bodygurad gue dengan memberi jalan jika ada yang menghalangi, hahaha. Ada-ada saja :D




Berhubung waktu gue dan Bapak nggak banyak, jadi kami meminta guide untuk menjelaskan tentang titik-titik yang utama saja di bangunan Lawang Sewu. Ternyata bangunan ini dulu adalah kantor Nederlands-Indische Spoorweg, yang setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (PT. Kereta Api Indonesia). Kami langsung melewati beberapa ruangan tanpa berfoto sambil mendengarkan penjelasan guide. Meskipun gelap karena tanpa lampu tapi nggak seram, kok. Mungkin juga karena malam ini cuacanya panas sekali.


Lalu kami berhenti di ruangan yang desainnya mirip dengan gerbong kereta api. Pintu-pintunya dibuat sejajar sampai entah ada berapa. Kalau dilihat dari ujung kesannya trippy sekali, hehehe. Gue suka sekali dengan desainnya yang unik dan meminta Bapak untuk mengambil foto gue di sana. Bapak mengambil foto berkali-kali dan gue bergaya meskipun sebenarnya nggak bisa melihat dengan jelas karena gelap :p Teman-teman yang lain nggak ada yang ikut berfoto di sini, waktu gue ajak mereka malah menawari untuk mengambil foto. Aneh juga, tapi mungkin mereka sudah sering ke sini sebelumnya.



Waktu kami menuju ruangan lain, perasaan gue jadi aneh. Kok rasanya teman-teman AIESEC UNDIP berjalan agak menjauh dari gue. Karena penasaran langsung saja gue tanyakan, tapi nggak ada yang menjawab. Baru setelah agak jauh dari ruangan yang tadi, Lana, salah seorang yang memegang kamera bertanya apakah gue pernah punya pengalaman supranatural. Meski bingung gue langsung mengangkat bahu dan menjawab, "nggak". Pertanyaan tadi rupanya membuat Dinda khawatir gue ketakutan dan langsung berbisik pada Lana, "Kamu gimana, sih, seharusnya nanti saja bilangnya."
Waaaah, meski gue bukan orang yang penakut dengan hal-hal seperti itu, tapi gue itu selalu penasaran tingkat tinggi (ssst, tapi gue malah takut sama film horror yang hantunya suka loncat di depan kamera, hehehe). Jadi gue terus-terusan mendesak Lana supaya cerita apa yang dia lihat. Sayangnya dia terus tutup mulut :(

Kami ke lantai paling atas yang kata guide nya dulu dipakai untuk menyejukan ruangan di bawahnya, makanya langit-langitnya dibuat tinggi. Ada insiden kecil waktu gue naik tangga, pegangannya lepas karena gue terlalu kuat memegangnya. Akibatnya, waktu mau turun gue kebingungan sendiri dan merepotkan banyak orang untuk memegang tangan gue dan memberikan penerangan dengan cahaya handphone, hehehe. Maaf ya :'p

Confused Indi is confuse... Hahaha, gue baru saja sadar dengan "kekuatan" terpendam gue :p

Meski begitu tetap berpose, hehehe.

Ruangan ini jadi yang terakhir karena kami skip ruang bawah tanah yang pernah masuk di acara Uji Nyali itu. Selain waktu semakin menipis, di sana udaranya ternyata sangat pengap. Nggak tahan deh sepertinya kalau gue sampai masuk, di pintunya saja gue sudah keringetan dan heboh kipas-kipas, hehehe. Kami lalu langsung keluar ruangan dan mencari beberapa spot untuk difoto sebelum gue diantar ke stasiun.

Sambil mencari lokasi yang bagus, gue yang (makin) penasaran bertanya lagi pada Lana tentang apa yang dia lihat. Mungkin karena gue sambil ngotot dan melotot (lol), pertanyaan gue akhirnya dijawab juga. Ternyata sejak di ruang yang mirip gerbong itu gue diikuti oleh sesuatu, yang sampai sekarang masih betah 'berjalan' di belakang gue. Mendengar penjelasannya refleks gue langsung nengok ke arah belakang, tapi nggak menemukan apa-apa. Tadinya gue pikir ini lelucon, tapi melihat wajahnya yang serius gue jadi percaya. Apalagi ditambah Dinda juga merasakan, dan katanya di sini memang sering ada yang 'ngikutin'.





Bersiap ke stasiun dengan wajah (dan seluruh tubuh) keringetan :p

Gue sih nggak takut, toh nggak melihat apa-apa. Tapi khawatir juga, bagaimana kalau 'yang mengikuti' gue ini pengen ikut sampai ke Bandung, hehehe. Syukurlah waktu kami sampai ke halaman Lawang Sewu dan berfoto di kereta api, katanya gue sudah bebas medeka alias no more stalker :p Hehehe, thank God :)
Dan setelah berfoto kami langsung buru-buru menuju stasiun. Kereta satu-satunya yang menuju Bandung akan berangkat 30 menit lagi! Wah, keringet gue semakin bertambah deh karena deg-degan. Apalagi lalu lintas juga sedang kurang bersahabat, huhuhu.

Tapi memang selama di Semarang ini penuh miracle. Keberangkatan kereta api ternyata ditunda selama 30 menit, jadi gue dan Bapak nggak tertinggal kereta. Bayangkan kalau sampai tertinggal, kami harus menunggu sampai besok malam :O 
Gue berpamitan dengan teman-teman AIESEC UNDIP, nggak lupa mengucapkan banyak terima kasih karena telah membuat pengalaman bekerja gue jadi plus jalan-jalan :)

Berpamitan dengan teman-teman AIESEC UNDIP. Haha, silly face :p

Gue dan Bapak langsung duduk di bangku kereta api dengan nyaman setelah gue menyempatkan diri dulu untuk cuci muka di toilet stasiun (ini butuh keahlian khusus, lho, lol). Badan gue terasa sangat lelah tapi juga senang karena sudah mengalami hari-hari yang menyenangkan selama di Semarang. Perjalanan pulang nggak seperti perjalanan ketika pergi, sama sekali tanpa delay dan cuaca sangat bagus. Gue terlelap di tengah film Mr. Bean Holiday yang diputar ulang sampai-sampai terbawa mimpi.
Ketika membuka mata gue sudah sampai di Bandung dan merasa sangat segar karena mendapat tidur yang cukup. 
Ah, benar-benar perjalanan yang menyenangkan. Kapan-kapan gue mau ke Semarang lagi. Kalau kali ini untuk bekerja, mungkin nanti untuk liburan, hihihi. Siapa yang tahu? ;)

Sudah cuci muka dan nyaman duduk di kereta api :)

Begitu tiba langsung sarapan di stasiun :)


twin sister of carol anne,

Indi


_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Contact person: 081322339469 

Rabu, 25 Desember 2013

All I Want for Christmas is You...


(Untuk petarung AIDS ku 1 Juli 1979-24 Desember 2004)


sugarpie honey mu yang sudah besar,

Indi

Sabtu, 21 Desember 2013

Semarang, Bagian Kedua: Bercerita tentang Mika di Charity Event "The Long Journey" :)


Howdy! Apa kabar teman-teman? Semoga semuanya baik-baik saja, ya ;)
Gue sekarang mau lanjutkan cerita yang sebelumnya, nih (klik di sini untuk membaca). Jadi setelah perjalanan 13 jam yang super seru itu akhirnya gue tidur dengan nyenyak di kamar hotel Rinjani. Mungkin karena tidurnya tepat 8 jam, pagi-pagi gue terbangun dengan segar, cerah, ceria dan bugar, hahaha. Pokoknya I'm really blessed that day, karena biasanya gue bukan morning person :p 
Setelah berganti piyama dengan dress hasil desain sendiri dan sarapan bersama Bapak, kami dijemput untuk menghadiri charity event "The Long Journey". *crossed fingers*

"The Long Journey" ROAR+ (Red Ribbon Alert Plus) adalah project sosial yang diadakan oleh AIESEC Universitas Diponegoro yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran remaja terhadap bahaya HIV/AIDS dan isu kanker, sesuai dengan tagline "Stop the Diseases Start the Action". Meskipun temanya serius, tapi konsepnya sangat ringan dan fun, karena media yang digunakan untuk mengenal HIV/AIDS adalah sebuah film! Yup, gue bangga sekali mereka menggunakan film Mika yang diinspirasi oleh novel "Waktu Aku sama Mika", yang juga diambil dari perjalanan hidup gue dan almarhum Mika :) Penghasilan dari event ini juga akan digunakan untuk membantu pasien kanker di Semarang. Benar-benar keren, kan? :)

Begitu tiba di E Plaza berfoto dengan Dinda dan Enggar :)
Sebelum masuk ke teater.
(almost) the whole team! :)

Acara dimulai dengan nonton bareng film Mika di bioskop E-Plaza. Meskipun gue sudah menonton film ini belasan kali, tapi tetap masih ada perasaan deg-degan. Pertama, rasanya selalu aneh setiap kali melihat hidup gue diperankan dengan orang lain. Ke dua, meski lihat ribuan kali pun gue nggak pernah siap dengan kepergian Mika. Dan ke tiga... kali ini gue duduk di sebelah Bapak, hahaha :'p
Gue sempat bertanya-tanya dalam hati, apakah mereka menyukai filmnya atau nggak. Soalnya waktu film mulai diputar teater terasa begitu sunyi, nggak ada seorang pun yang bersuara. Sampai di adegan 'menari' gue baru dengar beberapa orang tertawa diikuti yang lainnya sampai seluruh teater. Oooh... ternyata penontonnya malu-malu, hehehe. Begitu sampai adegan mengharukan teater kembali sepi, lalu terdengar isak tangis dan komentar-komentar penonton. Gue yang bersusah payah menahan tangis dengan menutup mata akhirnya ikut menangis, karena meskipun nggak melihat tapi jadi teringat kembali adegan-adegannya. Atau lebih tepatnya flasback apa yang pernah gue lalui waktu bersama Mika :')

Waktu lampu teater menyala gue langsung mengelap air mata dengan tisu. Tapi ternyata bukan cuma gue saja yang terlihat dengan mata sembab. Gue lega ternyata penonton bisa masuk ke dalam kisah gue dan Mika meskipun hanya lewat filmnya. Mereka bahkan seolah masuk ke dalam kisah cinta kami. Ada beberapa komentar yang terlontar waktu adegan Mika ditolak oleh dokter gigi. "Kok jahat sih dokternya?" "Wah, melanggar hak asasi manusia, tuh," dan lain sebagainya yang bikin gue tersenyum haru :)

Setelah selesai nonton semuanya turun ke lounge untuk makan siang sambil dihibur oleh Paduan Suara UNDIP. Mereka keren, lho. Menghibur dan bikin kangen sama paduan suara gue dulu, hehehe. Sambil makan siang gue berkenalan dengan Om Dodok dari Cancer Information dan Support Center dan Om. Jonathan dari Rumah Damai. Dari mereka gue mendapat banyak cerita yang inspiratif. Istri Om Dodok adalah seorang cancer survivor, sempat ragu untuk berkeluarga tapi akhirnya sekarang dikaruniai 3 orang anak yang lucu-lucu dan sehat-sehat. Sekarang mereka aktif memberikan penyuluhan mengenai kanker, agar msyarakat menjadi semakin care dengan kesehatan pribadi. Juga ada cerita dari Om Jonathan yang sempat drop tapi akhirnya bangkit karena meski statusnya sebagai ODHA, ternyata ia tetap bisa memberikan semangat pada orang lain. Salut! Oh, iya ngomong-ngomong Om Jonathan ini lucu, lho. Tiba-tiba ia duduk di sebelah gue dan tanpa basa-basi langsung minta Om Dodok mengambil foto kami, hahaha. Gue sampai kaget. Katanya ia punya DVD fim Mika, dan tadi waktu di teater adalah kali ke sekian ia menontonnya. Bapak juga ikut mengobrol bersama kami. Karena Om Dodok juga punya 2 orang putri, jadi ia banyak bertanya pada Bapak soal tips parenting. Ada pertanyaan yang menarik dari Om Dodok tentang bagaimana pendapat Bapak mengenai hubungan gue dengan Mika dulu. Surprise, Bapak menjawab begini, "Anak jangan terlalu banyak dilarang, biar saja kalau ia mau mengenal siapapun."
Ah, that's my Daddy! :*

Paduan Suara UNDIP.

Karena keasyikan ngobrol hampir saja gue nggak sadar kalau sudah dipanggil untuk naik ke atas panggung, hehehe. Ini adalah sesi sharing, gue bercerita mengenai masa pacaran dengan Mika sewaktu masa SMA. Tentang bagaimana kami berburu kaset rock and roll bekas, tentang cerita-cerita Mika yang konyol, tentang pengalaman pertama gue diajak naik angkot untuk pertama kali (hehe) dan masih banyak lainnya. Well, ya masa-masa pacaran gue memang nggak jauh berbeda dengan remaja lainnya meskipun Mika adalah ODHA. Waktu itu gue juga sama sekali belum tahu apa itu HIV/AIDS. Gue hanya tahu kalau itu adalah penyakit, sama seperti pilek, sakit kepala atau batuk.



Setelah Mika meninggal gue menjadi relawan di Yayasan AIDS Indonesia. Di sana gue banyak belajar tentang HIV/AIDS. Dan apakah anggapan gue tentang penyakit itu jadi berubah? Nope! Nggak. Ternyata selama ini gue memang benar. HIV sama saja seperti pilek. Kita bisa kena pilek karena kebanyakan makan es krim, tapi bisa juga karena tertular dari orang lain. Jadi nggak ada alasan untuk menjauhi orang-orang seperti Mika. Dulu gue sempat dijauhi teman-teman karena berpacaran dengan Mika. Bahkan ada gosip yang bilang bahwa gue juga ketularan oleh Mika. Padahal HIV nggak semudah itu menular.

Semakin lama gue jadi semakin mengerti. Stigma itu munculnya dari prasangka, dan itu hampir selalu terjadi di kehidupan kita sehari-hari, bahkan dimulai dari hal kecil. Contohnya seperti yang gue tadi sebutkan, waktu ada orang kena pilek kadang langsung di judge habis kebanyakan makan es krim. Padahal yang diinginkan orang sakit ya hanya sesimpel ucapan "get well soon", bukan malah dicerca dengan macam-macam pertanyaan dan prasangka. Gue sendiri pernah mengalaminya. Waktu kuliah ada seorang dosen yang berkata bahwa gue pasti scoliosis karena kebanyakan bawa beban terlalu berat. Dan baru-baru ini gue sering sekali dinasehati buat nggak makan junk food karena baru kena tumor payudara. Ya, mungkin mereka bermaksud care, tapi care bukan berarti harus judging, kan? Gue sering mendapat email yang berisi seperti ini,
"Hai Indi, Mika dulu pakai narkoba ya makanya kena AIDS?"
Wow, that's really uncool and rude! :(

Gue nggak bertanya pada Mika kenapa ia bisa terkena AIDS. Buat gue itu nggak penting karena yang gue lihat Mika orang baik dan selalu positif ketika bersama gue. Gue belajar banyak hal darinya, terutama tentang menjadi diri sendiri. Mika berkata bahwa yang terbaik itu mengikuti kata hati, bukan kata orang lain. Dan gue terus begitu sampai sekarang selama nggak melanggar norma-norma dan menyakiti orang lain. Gue juga masih berhubungan baik dengan teman-teman Mika, dan sedikit banyak gue jadi mendengar tentang masa lalunya. Tapi itu sama sekali nggak mempengaruhi penilaian gue tentang Mika, karena jika ada hal buruk... the past is the past, just forget it and move on. Setiap orang punya hak untuk untuk dinilai dengan apa yang dilakukannya hari ini :)

Waktu sesi sharing gue sedikit berapi-api karena tiba-tiba teringat apa yang sudah Mika lalui dan masih terbawa suasana di teater. Little bit teary, tapi dengan Puput sebagai MC yang berkarakter kocak gue jadi nggak pernah lupa untuk tersenyum, hehehe. Gue juga mendapat beberapa pertanyaan dari audience. Ada yang bertanya tentang apa yang harus dilakukan jika hidup serumah dengan ODHA. Menurut gue yang paling tepat adalah memperlakukan ia seperti anggota keluarga yang lain. Sederhana, tapi itu adalah perasaan yang paling nyaman sedunia. Gue bukan ODHA tapi sejak kecil gue terkena scoliosis. Harus pakai brace 23 jam per hari, terapi ini-itu dan nggak boleh ini-itu. Waktu gue dibedakan dengan saudara-saudara yang lain rasanya bikin gue sedih, tapi jika orang-orang berlaku seolah brace gue itu invisible, gue merasa nyaman dan dihargai. Dan gue yakin itu berlaku untuk semua orang, termasuk ODHA :)

Sesi sharing dan tanya jawab berlangsung dengan lancar tapi tetap fun. Dari percakapan antara gue dan audience rasanya apa yang menjadi poin gue sudah cukup tersampaikan :) Gue lega karena semuanya begitu antusias dan mengaku nggak lagi takut dengan HIV/AIDS. 
Sesi gue ditutup dengan penyerahan penghargaan oleh Jefry selaku Organizing Committee President ROAR +. Setelah itu diikuti oleh Om Dodok dan Om Jonathan yang juga diberikan penghargaan. Gue langsung pamit untuk kembali ke hotel karena nanti malam akan langsung pulang ke Bandung. Tapi ternyata gue sudah ditunggu dengan teman-teman yang ingin mengajak foto bersama! :)





***

and the award goes to...
Om Dodok dari Cancer Information and Support Center.
Om Jonathan dari Rumah Damai.
Salah satu penerima penghargaan juga, yang ---silly me--- nggak sempat berkenalan padahal duduk berdekatan :p

Terharu sekali karena banyak dari mereka yang membawa novel-novel gue untuk ditandatangani. Bahkan ada yang jauh-jauh datang dari kota Pati dan sengaja menyempatkan ke E-Plaza Semarang untuk bertemu gue. Juga ada surprise, beberapa scolioser dari MSI (Masyarakat Skoliosis Indonesia) juga ikut datang! Wah, kehadiran mereka sampai-sampai bikin gue hampir lupa kembali ke hotel, karena di sela foto-foto kami juga sempat berbincang singkat dan berkenalan :) Bapak lalu mengingatkan bahwa waktu sudah semakin sore. Gue berpamitan dan kembali ke hotel dengan perasaan yang sangat senang. Senang acaranya berjalan dengan lancar, senang mendapat teman-teman baru, dan senang karena bisa berbagi cerita-cerita kebaikan tentang Mika. Thank God :)

Thank God :)
Teman-teman MSI Semarang. Hore! :)
:)

Ketika sampai di hotel handphone gue bunyi, ternyata ada SMS dari Om Jonathan. Isinya seperti ini, "Sharing nya bagus banget, Indi. Thanks for your share, Bless you, Indi." 
Dan itu membuat perasaan senang gue bertambah berkali-kali lipat karena kata-kata itu datang dari seseorang yang pernah mengalami apa yang Mika alami :)
Salut untuk AIESEC UNDIP atas ROAR+ project "The Long Journey" nya yang telah membuat acara positif untuk remaja dengan cara santai dan fun. Gue harap akan ada acara-acara seperti ini lagi selanjutnya agar lebih banyak lagi orang yang care tanpa harus judging! :)

Koran "Wawasan" 18 Desember 2013 :)

sugar-nya Mika,

Indi


baca juga artikel mengenai acara ini di suaramerdeka.com di sini.
______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Contacr person: 081322339469

Selasa, 17 Desember 2013

Semarang, Bagian Pertama: Perjalanan Serba 13 yang Penuh Berkah :)


Pernah nggak teman-teman mengalami kejadian yang benar-benar di luar rencana dan hampir nggak tahu harus ngapain? Nah, gue baru saja mengalaminya. Tepatnya hari kamis kemarin, ketika gue sudah menyiapkan semuanya dan tiba-tiba saja berubah dari apa yang diharapkan. Sampai hari ini pun rasanya gue masih terkenang-kenang dengan kejadian itu ;)

Cerita dimulai ketika gue mendapat undangan dari AIESEC Universitas Diponegoro Semarang untuk menghadiri project sosial mereka yang disebut ROAR+ (Red Ribbon Alert Plus). Gue exited sekali, karena acaranya bertujuan untuk meningkatkan kepedulian remaja terhadap HIV/AIDS. Apalagi hasil dari acara ini akan didonasikan kepada pasien kanker. Tapi lalu gue khawatir, Semarang jaraknya cukup jauh dari Bandung dan gue (ehm...) seorang aerophobia alias takut terbang. Meskipun Ibu dan Bapak sudah meyakinkan gue berkali-kali bahwa pakai pesawat itu aman, tapi gue tetap menolak. Well, sebenarnya sempat mengiyakan satu kali, sih, tapi lalu berubah pikiran 1 hari sebelum berangkat, hehehe. Akhirnya gue putuskan untuk menggunkana kereta api meski akan memakan waktu 8 jam. Gue pikir, 8 jam itu nggak terlalu buruk, bisa digunakan untuk tidur karena kereta akan pergi di malam hari. Dan ketika bangun pasti kereta sudah sampai stasiun karena dijadwalkan tiba jam 5.50 pagi :)

Siap tempur dengan travel bag, boneka dan koper mini berisi camilan :p

Jadi hari kamis malam gue pergi ke stasiun dengan ditemani Bapak. Sebelumnya gue sudah packing untuk persiapan menginap 1 malam dan memakai pakaian hangat karena perjalanan malam-subuh pasti akan sangat dingin. Sekitar jam 9.30 malam kami sudah berada di dalam kereta dan beberapa menit kemudian kereta mulai berangkat, sesuai dengan jadwal :)

Di gerbong yang gue tumpangi bangkunya hampir terisi semua. Rata-rata penumpangnya sudah seusia Bapak dan sibuk dengan gadget masing-masing. Ada yang mendengarkan lagu, mengetik, bahkan membuka sosial media, hehehe. Sepertinya hanya gue saja yang memperhatikan bahwa di TV sedang diputar film Night at the Museum 2. Gue sangat terhibur, karena dulu waktu film itu ada di bioskop gue terlambat masuk teater dan melewatkan bagian awalnya. Ketika sudah sampai pertengahan film, gue mulai mengantuk. Apalagi di gerbong ini memang cuma gue satu-satunya yang masih terjaga. Tapi ternyata untuk tertidur di dalam kereta nggak semudah yang gue kira, banyak penumpang yang mendengkur, termasuk Bapak! Hehehe... Akhirnya gue memakai headset dan mendengarkan musik sampai tertidur. Bersyukur sekali karena sebelum pergi gue memutuskan untuk memasukan beberapa lagu John Frusciante ke handphone. Entah kenapa gue selalu berpikir bahwa suaranya cocok untuk didengarkan di kereta api :p

Di perjalanan: Pilih duduk dekat jendela :D

Kebanyakan penumpang tertidur atau sibuk dengan gadget.

Gue terbangun waktu subuh, beberapa penumpang juga sudah bangun sementara yang lainnya masih tidur termasuk Bapak. Karena perkiraan kereta akan tiba di Semarang sebentar lagi, jadi gue pergi ke toilet dan merapikan diri (tapi susah, lol). Baru saja gue kembali duduk di bangku, ada pengumuman dari masinis, katanya kereta akan terlambat 10 menit karena ada perbaikan rel. Gue langsung membangunkan Bapak dan SMS Ray untuk memberi kabar pada yang menjemput di stasiun nanti bahwa kami akan terlambat. Karena hanya sebentar jadi gue nggak kembali tidur dan duduk dengan tegak menunggu kereta kembali berjalan.

Tapi ternyata ini bukan untuk terakhir kali. Kereta baru berjalan sebentar sudah berhenti lagi. Begitu terus sampai beberapa kali dan lagi-lagi masinis berkata bahwa HANYA 10 menit. Gue benar-benar nggak enak karena yang menjemput sudah stand by dari jam 5.30 ternyata :( Karena terlalu lama sebagain besar penumpang kembali tidur, sedangkan gue sama sekali nggak mengantuk. Tiba-tiba saja gue melihat ada 2 orang petugas berjalan ke ujung gerbong. Salah satu dari mereka bertanya berapa lama lagi kereta akan tiba di Semarang. Petugas yang satunya nggak menjawab, ia hanya mengacungkan 4 jari dan menggerakan mulutnya tanpa suara, "4 jam."

Oh, my God, Oh, my God! Gue kaget bukan main, membayangkan harus duduk 4 jam ke depan setelah 8 jam perjalanan rasanya bikin gue sedih. Cepat-cepat gue kembali SMS Ray dan minta untuk menyampaikan bahwa kereta akan sangat terlambat. Setelah itu gue memberitahu Bapak tentang kabar yang gue "dapat" dari petugas. Beliau nggak percaya dan berkata bahwa kereta pasti akan tiba sebentar lagi. Tapi lalu ada pengumuman kembali dari masinis... Kereta akan berhenti dulu selama 40 menit. Langsung saja penumpang yang sudah kelelahan protes dan menyayangkan karena nggak ada antisipasi sejak awal. Gue yang juga sudah mulai bosan langsung berdiri dan berkata, "Bukan 40 menit, tadi aku dengar 4 jam, lho."
Dan langsung disambut dengan protes yang lebih keras. Gue pikir lebih baik penumpang tahu yang sebenarnya daripada ditutup-tutupi. Seenggaknya bisa menyiapkan mental untuk 4 jam ke depan, hehehe.

Gerbong langsung ramai dengan kesibukan penumpang yang memberi kabar pada penjemput di stasiun lewat handphone. Gue yang sudah pegal (rasanya susah dijelaskan, lol) memutuskan untuk berjalan-jalan dan melihat suasana di luar lewat pintu penghubung gerbong. Ternyata di sebrang kereta ada sawah! Langsung saja gue mengajak Bapak untuk berfoto. Nggak peduli dengan wajah berminyak dan baju acak-acakan, yang penting gue bisa melakukan sesuatu yang fun dan melupakan sejenak delay yang sangat lebay ini, hehehe. 

Ternyata pemandangannya indah :)




Gue berfoto, berpose seolah baru saja mandi dan berdandan cantik. Mood gue langsung berubah 180 derajat, sungguh banyak tawa dan gue kembali cerewet. Beberapa penumpang bahkan mulai mengikuti jejak gue yang turun dari kereta. Ada yang duduk-duduk, merokok ada juga yang menonton aksi gue, hehehe. Gue bahkan sempat mengobrol dengan beberapa dari mereka. Ya, sekedar obrolan ringan karena nggak semua penumpang punya teman mengobrol di perjalanan seperti gue dan Bapak :) Ada yang pertama kali naik kereta, ada pula yang jauh-jauh dari Palembang karena ingin tahu Semarang itu seperti apa. Mereka rata-rata menyesal nggak memilih pesawat. Kalau gue sih nggak, kalau naik pesawat mungkin sepanjang jalan akan dihabiskan dengan nervous. Karena sejauh ini perjalanan udara yang gue lakukan dengan hati ikhlas dan damai hanya waktu ke Singapore untuk bertemu dengan Aerosmith, hehehe :p No, seriously, gue nggak menyesal, karena di pesawat belum tentu bisa mendapat percakapan random seperti ini :)





Kereta kembali berjalan, tapi hanya untuk beberapa menit. Lagi-lagi masinis berkata bahwa kereta hanya berhenti sebentar, tapi kenyataanya ternyata untuk 2 jam! Gue sudah sangat kelelahan tapi tetap mencoba menikmati perjalanan. Gue kembali mendengarkan lagu dan mengisi perut dengan camilan. Tadinya sih gue berharap akan sarapan di hotel, tapi sepertinya kereta baru akan tiba ketika waktu makan siang :') Setelah bosan mendengarkan lagu gue melepas headset dan samar-samar mendengar musik yang berasal dari film Mr. Bean Holiday. Yup, gue memang hapal dengan hampir seluruh dialog, musik dan efek suara di film itu, bahkan tanpa melihat adegannya karena itu salah satu film kesukaan gue, hehehe. TV yang dipasang di kereta mati, jadi awalnya gue pikir ada penumpang yang menonton film di gadget nya. Tapi karena penasaran waktu Bapak mau ke toilet gue minta supaya beliau intip gerbong sebelah dan lihat TV nya. Ternyata benar saja, di sana sedang diputar film Mr. Bean Holiday! Langsung saja gue mencegat petugas yang kebetulan lewat di gerbong dan protes karena TV nya mati, hehehe. Beberapa menit kemudian TV menyala dan gue menikmati film nya meski tinggal setengah jalan, hehehe.

Keterlambatan yang katanya hanya "sebentar" itu ternyata jadi 5 jam. Iya, bahkan bukan 4 jam. Meski wajah gue sudah sekusut baju gue, tapi senang sekali bisa tiba di Semarang dengan selamat. Apalagi dengan apa yang sudah gue alami di atas kereta, gue nggak mau menukarnya dengan apapun. 13 jam yang penuh kebahagiaan. Gue percaya semua hal yang terjadi pasti ada maksudnya, Tuhan selalu menyelipkan kebahagiaan bagaimana pun kondisi kita. Gue percaya buruk itu "hanya" yang kita pikir :)
Di atas kereta selama 13 jam di tanggal 13, tahun 2013 di gerbong yang memuat sampai seat 13 dan ternyata tiba di stasiun jam 1 siang lewat beberapa menit (iya, alias jam 13 lewat, hehehe). What a cute number :)

Ketika sampai di hotel gue langsung mandi, berganti piyama dan makan siang di atas tempat tidur. What a day, gue nggak sanggup berjalan-jalan untuk melihat kota Semarang. Begitu juga dengan makan malam, gue memesannya dari hotel dan makan di atas tempat tidur. Gue hanya turun jika mau ke toilet, hehehe. Semua yang terjadi memang selalu ada alasannya. Karena kelelahan gue jadi tidur sangat nyenyak, padahal biasanya gue nggak nyaman jika di tempat asing. Dan ini bisa membuat gue bisa bangun pagi-pagi untuk menghadiri charity event "The Long Journey"! O, my God, I'm blessed! :)

Makan siang dengan Pop Mie karena ini makanan khas jika melalukan perjalanan, hehehe.

Makan malam di tempat tidur :)

toot toot train girl,

Indi

______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Contact person: 081322339469

Rabu, 11 Desember 2013

Sweetest Day: Martabak Toblerone ala JKT 66 :D


Howdy bloggies! Wah, nggak terasa ya sekarang sudah masuk minggu ke 2 di Bulan Desember. Padahal rasanya baru saja gue operasi pengangkatan tumor payudara. Yes, ini artinya (hampir) sebulan sejak pengalaman pertama masuk ruang operasi yang membuat gue mimpi tentang Steven Tyler yang super keren, hehehe. Meski kelihatannya cukup lama, tapi gue masih dalam masa pemulihan dan harus cuti bekerja di preschool sampai awal Januari. Selama menunggu, kegiatan gue hanya menulis di rumah dan menghadiri beberapa undangan seperti yang beberapa kali gue share disini. Hehehe, meski lagi sakit tapi bukan berarti harus berhenti have fun. Yang penting tahu batasnya saja, ya ;D

Nah, tanggal 8 Desember kemarin gue dapat undangan dari JKT 66 untuk datang ke booth mereka di Tastemarket PVJ Bandung. Yaiy! :D Tastemarket adalah event terbesar dan pertama di Bandung yang mendukung kreatifitas anak muda dalam bidang kuliner dan art. Event ini berlangsung sejak tanggal 6 sampai tanggal 8 Desember. Gue exited sekali karena... well... sudah tahu kan kalau gue nge-fans sama makanan, apalagi yang manis-manis, hehehe.

Gue pergi ke PVJ diantar Ray setelah sebelumnya mampir dulu ke salon untuk creambath dan meni-pedi. Ini beauty treats pertama gue lho setelah pasca operasi. *thank you so much, Ray, I really need it* <3 p="">
Kami sampai jam 7 malam di event Tastemarket yang terletak di roof top PVJ. Di sana ternyata sudah penuh dengan pengunjung. Pantas saja sih, karena booth nya beragam. Belum lagi dekornya super unik, baru masuk saja sudah disambut dengan wall penuh ornamen yang terbuat dari alat-alat dapur dan payung. Sayangnya gue lupa bawa kamera (bahkan handphone!), huhuhu :( Untung saja Ray langsung berinisiatif untuk mengabadikan moment lewat handphone nya :)

Creative decor! :D

Nggak perlu waktu lama kami langsung menemukan booth JKT 66. Di sana juga ramai, Anggun dan Arya (owners) sibuk melayani para pengunjung yang ingin mencicipi menu-menu super uniknya. Menu andalan JKT 66 itu martabak dan Indomie. Tapi tentunya beda dari yang lain. Pilihan topping martabaknya nggak biasa, ada berbagai cokelat seperti Toblerone, SilverQueen, Cadbury, Delfi dan Cha Cha. Juga bisa ditambahkan Nuttela atau marshmallow. Yumm, siapa coba yang bisa menolak? (Kalau ada, sini buat gue saja, hehehe). Untuk yang suka dengan rasa asin juga ada banyak pilihan seperti bratwurst, beef, turkey dan lain-lain. Kalau porsinya terlalu besar bisa pesan baby martabak yang supeeeeer cute, hehehe. Untuk Indomie nya juga nggak kalah unik, soalnya mie yang disajikan sama dengan bungkusnya! Iya, benar-benar sama. Masih ingat kan joke 90'an yang bilang kalau beli Indomie suka tertipu soalnya waktu direbus nggak ada ayam gorengnya seperti gambar di bungkusnya. Nah, sekarang joke itu sudah nggak berlaku soalnya antara bungkus dan isi sudah kompak, hehehe.

Semua ini bisa jadi topping martabaknya, lho. Iya, SEMUA! :)

Ayo, cepat, dooooong :p

Selalu sibuk :)

Packaging martabak JKT 66.

Ya, ampun wangi bangeeeeet *tears of joy*

Baby martabaknya super CUTE ya :)

Gue pilih untuk mencicipi martabak Toblerone dan baby martabak. Waktu menu dibuat, langsung tercium aromanya yang wangiiiii banget. Benar-benar bikin nggak sabar buat makan, deh :D Gue memang tergila-gila dengan yang manis-manis terutama cokelat, jadi agak nggak yakin juga untuk share sama Ray :p 
Rasa martabak Toblerone nya bikin lidah gue jadi ketagihan. Manisnya pas banget. Memang di beberapa tempat lain juga bisa ditemukan martabak seperti ini, tapi di sini toppingnya nggak pelit. Coklat Toblerone nya rata di setiap sisi dan lumer dengan sempurna. Sukses bikin gue jilat-jilat jari, hehehe. Baby martabaknya juga ternyata bukan cuma cute, tapi yummy. Dengan topping icing sugar, fresh strawberry, Pocky stick dan marhsmallow, rasanya gue sanggup makan 5 buah sekaligus. (Tapi kenyataannya enggak, hehehe).





Sebenarnya gue penasaran dengan Indomie yang punya topping sama dengan gambar di bungkusnya itu. Tapi ada daya, perut sudah nggak sanggup menampung apa-apa lagi. Soalnya martabak Toblerone nya gue habiskan (hampir) sendirian. Ray cuma boleh makan pinggirnya saja, hahaha *kejam* Untuk sekarang ini sudah cukup,  deh. Lain kali gue janji akan coba Indomie vegan yang rasanya pasti yumm-yumm :D (I'm pesco-vegetarian).

Event Tastemarket memang sudah berakhir. Tapi kalau teman-teman mau coba martabak Toblerone atau Indomie ala JKT 66, jangan khawatir, mereka bisa ditemukan di Jl. Terusan Jakarta no. 66 Antapani Bandung, kok. Bukanya dari pukul 3 sore sampai 11 malam. Kalau mau delivery juga bisa. Hubungi saja (022)7237092. Tapi menurut gue sih lebih baik datang langsung. Buat "uji nyali", tahan nggak tuh sama aroma wanginya waktu martabaknya dibuat :D
Thank you so much ya, JKT 66. Menunya sukses bikin gue recovery lebih cepat, hehehe :p


"sweet" girl,

Indi


Twitter: here | Facebook: here | Contact person: 081322339469