Indi's Friends

Minggu, 13 Januari 2019

Menikah dengan WNA di KUA. Gratis dan Cepat. Kok Bisa???

Setelah menikah gue jadi sering ditanyain soal susah atau nggaknya menikah dengan Warga Negara Asing. Well, dulu gue juga gitu, ---penasaran. Karena katanya sih ribet, jadi pas diajakin nikah langsung "malas" duluan, hahaha. Tapi kenyataan itu mitos, namanya menikah pasti ada prosesnya. Ribet ya kalau dibikin ribet, kalau kita mengikuti aturan sebenarnya ringan-ringan saja, kok.


Gue dan Shane hanya melalui proses pacaran yang sebentar. Begitu kami saling suka dia langsung memutuskan untuk pindah ke Indonesia dan mengajak menikah. Semenjak itu gue langsung googling dan tanya-tanya sama teman-teman yang menikah dengan WNA tentang bagaimana prosesnya. Hampir semuanya menjawab, "Ribet dan banyak biaya ini itu!" Untung saja gue bisa mengalahkan rasa "malas menikah", dan setelah dijalani akhirnya membuktikan kalau menikah itu mudah dan murah, ---sekalipun dengan WNA. Mungkin ada yang berpikir, "Ah, murah ya karena lo punya duit atau orangtua lo kaya!" Eits, jangan berprasangka dulu, Ferguso! Kami menikah dengan biaya sendiri (baca: Shane). Dan FYI, gue dan Shane masih muda, penghasilan kami nggak banyak. Jadi silakan simpulkan sendiri pernyataan gue ini :) Gue share proses pernikahan kami di sini juga semata-mata untuk menyimpan kenangan, dan siapa tahu bermanfaat. Karena gue yakin, I'm not the only one yang mikir-mikir dulu untuk menikah karena takut ribet, hehehe.


Membuat CNI

Jujur gue sempat nangis semalaman karena gue malaaaaas sekali kalau harus dealing dengan segala keribetan yang konon katanya bakal terjadi. Eh, bukan murni malas sih. Tapi juga karena ada perasaan nggak enak, takutnya saking ribetnya gue jadi harus minta bantuan ortu buat nyupir karena harus bolak-balik ke sana-sini. Sampai akhirnya gue putuskan untuk stop googling dan berjanji untuk cari tahu sendiri. Gue tanya lagi sama Shane, apa dia yakin untuk menikah karena selama pengalaman gue berpacaran (ecieeeeh, lol) baru kali ini ada laki-laki yang langsung mengajak menikah di hari pertama berpacaran (iya, bahkan sebelum kami bertemu). Dengan mantap Shane menjawab kalau dia nggak mau mundur dan bakal menjalani segala prosesnya. Jawabannya ini semakin membuat gue semangat, screw yang bilang ribet, gue nggak takut, hehehe :p Langkah pertama gue dan Shane datang ke KUA terdekat dan bertanya tentang persyaratan menikah. Meski sudah tahu dari hasil googling sebelumnya, tapi kami pura-pura polos supaya mensugesti kalau kami nggak perlu takut, hehe.

Kami nggak lama-lama di sana, petugasnya hanya memberi kami catatan yang ditulis tangan. Isinya ternyata hanya persyaratan menikah standar. Alias sama seperti menikah dengan WNI. Bedanya setelah itu kami diminta untuk membuat surat izin menikah dulu dari negara Shane (Amerika), baru setelah itu kembali lagi. "Gitu doang?" batin gue sambil cengengesan (dalam hati, lol). Meski Shane nggak bawa surat-suratnya ke Indonesia, tapi semua bisa dalam bentuk scan/foto. Jadi dia minta ibunya untuk mengirimkan akta kelahiran, dll via email. Sedangkan untuk izin menikah ternyata maksudnya CNI atau Certificate of No Impediment. Untuk mendapatkannya harus ke kedutaan negara calon mempelai WNA. Nggak menunggu lama kami langsung menghubungi kedutaan via telepon dan akhirnya bertukar pesan di email. Yang perlu datang hanya Shane saja, dan dia mendapat jadwal 2 minggu setelah bertukar pesan. Hanya perlu membawa passport, akta kelahiran dan biaya sekitar Rp.400.000 (gue lupa tepatnya).

Meski gue nggak diperlukan, tapi gue tetap ikut ke kedutaan Amerika di Jl. Medan Merdeka Jakarta. Alasannya? Ya, kepengen saja daripada di rumah sendirian, hehehe. Padahal gue sudah tahu kalau nggak boleh masuk, tapi siapa tahu bisa jajan-jajan di sana. Di luar dugaan lalu lintas sangat lancar, jadi perjalanan Bandung-Jakarta pun sangat cepat sehingga kami tiba jauuuuh lebih awal dari waktu perjanjian. Bersyukur Shane langsung diizinkan masuk. Meski sayang impian gue untuk berkuliner gagal karena lokasi kedutaannya nggak asyik, ---tempat parkir jauh dan cuaca sedang panaaaas sekali. Untung saja 15 menit kemudian Shane keluar, kalau nggak, mungkin gue bisa pingsan dehidrasi di trotoar kedutaan, hehehe. Dan... that's it! CNI sudah didapat. Cepat sekali, dan no drama seperti yang orang pernah bilang pada kami :)


Terjemahkan Dokumen ke Bahasa Indonesia

CNI selesai kami pun kembali ke KUA. Siap menikah ceritanya (ciee cieee...). Tapi ternyata pihak KUA minta agar CNI dan akta kelahiran Shane diterjemahkan dulu ke Bahasa Indonesia (meski sebenarnya CNI sudah bilingual). Kami disarankan untuk kembali lagi ke kedutaan karena penerjemahnya harus yang tertunjuk, nggak bisa sembarangan. Tentu kami nggak menurut begitu saja. Untuk urusan ini kami mencoba mencari penerjemah tersumpah di daerah Bandung, dan ternyata... bisa! Biayanya pun murah sekali, untuk 2 halaman nggak lebih dari Rp. 200.000. Dan God bless abang Gojek, kami nggak perlu datang karena dokumen bisa dikirim via email dan diambil oleh Gojek! ;) 

Prosesnya cepat sekali, hanya 3 hari itupun karena terpotong weekend. Kalau hari biasa sepertinya bisa sehari saja. Oh iya berhubung yang diterjemahkan itu literally semuanya, jadi gue harus pastikan waktu scan kertasnya nggak terpotong. Karena sampai tulisan yang sekecil kuman pun harus terbaca, hehehe. 


Mencari Cincin dan Baju

Gue ingin pernikahan yang sederhana. Sejak awal sudah bilang sama Shane bahwa gue nggak mau dirias ataupun pakai baju yang ribet. Gue ingin momentnya indah dan santai, jadi semua pihak bisa menikmati suasana dan nggak ada "jarak". Syukurlah Shane setuju, dan ternyata pernikahan impian dia juga seperti itu. Karena sudah satu ide, jadi kami pun mengesampingkan soal baju dan lebih mendahulukan cincin. Alasannya karena untuk baju nggak perlu waktu lama untuk dipersiapkan, ---kalau mau pun kami bisa saja pakai baju yang sudah ada. Tapi kalau cincin pasti butuh waktu karena size jari gue memang agak besar. Jadwal menikah di KUA sudah dapat, dan jaraknya 5 hari dari pemesanan cincin. Mepet? Nggak juga. Asalkan sudah tahu mana cincin yang dipilih, waktu penyesuaian ukuran cincin sebenarnya cepat, kok. 

Kami beli cincin di dua tempat berbeda. Untuk Shane, karena dia hanya mau yang modelnya simple tanpa aksesoris tambahan, kami mencari di sepanjang Jl. Otista Bandung. Di sana banyak sekali toko emas, jadi kalau pun di toko pertama nggak ada yang cocok kami bisa cari di tempat lain. Baru 2 tempat kami datangi, Shane sudah langsung menjatuhkan pilihan. Sedangkan untuk gue, kami mencari di mall. Tepatnya di Frank & Co. Dan sama seperti Shane, gue pun nggak perlu waktu lama untuk jatuh hati dengan salah satu cincin di sana. Pilihan jatuh ke diamond ring yang menurut gue cantik tapi tetap sederhana. Karena size gue nggak ada, cincin baru akan siap satu hari sebelum hari pernikahan kami. 



Ketika cincin gue selesai, nggak sabar rasanya mau langsung dipakai. Tapi tentu belum boleh dong, hehehe. Sekalian Shane juga membelikan mahkota bunga dan dress batik untuk hari istimewa kami. Beberapa hari sebelumnya padahal Shane sudah membelikan dress, lho. Tapi tiba-tiba saja dia melihat yang menurutnya lebih bagus. Menurut kami menikah nggak harus pakai "baju khusus". Yang penting nyaman, bersih dan sopan. Sempat gue ajak berkeliling mall tapi Shane tetap teguh dengan keputusannya memakai kemeja batik yang sudah dia punya sejak beberapa bulan lalu. Kebetulan memang belum sempat dipakai. Dan waktu dilihat-lihat... ternyata match dengan dress gue! :)


The Day

Kami menikah tanggal 26 Oktober 2018. Jujur, kami nggak memilih tanggal karena percaya kalau semua hari itu baik. Waktu Shane memberi tahu ibunya beliau langsung terharu. Ternyata tanggal dan bulannya sama persis dengan pernikahan pertamanya (---dengan ayah kandung Shane), dan juga pernikahan orangtuanya, aww! :D 
Kabar pernikahan gue dan Shane membuat beberapa pihak terkejut, tapi juga berbahagia. Sengaja kami memberi kabar pada teman-teman dan kerabat yang nggak terlalu dekat beberapa hari setelahnya agar prosesi berlangsung khidmat. Jadi yang hadir ketika itu hanya orangtua, nenek, dan beberapa om dan tante. Sedangkan ibu mertua datang setelahnya karena menyesuaikan dengan hari libur beliau. 

Meski gue belum pernah menghadiri prosesi pernikahan orang lain, tapi sepertinya nggak ada bedanya antara WNI dengan WNA. Pukul 7 pagi gue bangunkan Shane untuk bersiap (---dia masih tidur di kamar atas karena belum sah, hehehe) dan sehabis sarapan kami mandi lalu berangkat ke KUA bersama keluarga. Di sana dilakukan proses ijab kabul dan setelahnya kami langsung mendapatkan buku nikah. Ada istilah "sebaiknya kalau ada yang berniat baik jangan dipersulit", dan itu nyatanya benar. Daripada berijab kabul dengan Bahasa Indonesia yang mana Shane nggak mengerti, kami memilih menggunakan Bahasa Inggris. Alasannya agar dia benar-benar paham apa yang dia ucapkan dan juga paham makna dari pernikahan. Jadi bukan hanya dengan membaca catatan di kertas lalu semua orang berkata "sah" padahal kurang menjiwai. Penghulu juga memberikan wejangan dengan 2 bahasa, Indonesia dan Inggris. Termasuk dalam versi tertulis agar bisa dibaca-baca lagi. Karena "sederhana" bukan berarti main-main. Gue nggak mau kami hanya sekedar mengejar buku nikah sementara prosesinya hanya asal lewat.



Dan begitulah, kami sah menjadi pasangan suami istri. Sepanjang hidup gue inilah moment terindah yang gue alami. Semuanya terasa soooo beautiful :) Yang agak menggangu keindahan hanya satu sebenarnya. Kami sempat mengalami pungli di KUA dengan jumlah 2 juta rupiah. Tapi no worry, uang Shane sudah kembali karena gue langsung melaporkan ke akun Instagram KUA. Dan no hurt feeling, ---kami sudah saling bermaafan. Semoga jangan terulang lagi, ya. Karena zaman sudah modern, jadi kalau ada pungli tinggal dilaporkan saja. Dan kalau benar kenapa harus takut ;) As simple as that!

***

Kalau dihitung harinya proses pengurusan pernikahan kami sebenarnya malah lebih singkat dibanding sepupu-sepupu gue yang menikah lebih dulu (dengan WNI). Gue sangat sangat sangat bersyukur karena memutuskan untuk mencari tahu sendiri daripada mendengar apa kata orang. Gue juga bersyukur karena nggak merepotkan orangtua selama proses. ---I know, namanya ortu pasti akan senang kalau dimintai bantuan untuk pernikahan anaknya. Tapi gue ingin Ibu dan Bapak kebagian happy nya saja, duduk manis menyaksikan pernikahan kami tanpa harus pusing masalah CNI dan KUA :) Gue juga salut dengan Shane yang berusaha sekeras mungkin agar gue (juga keluarga) nggak mengeluarkan biaya sepeserpun. Bahkan untuk yang seharusnya bagian gue (---akan gue ceritakan nanti), dia tetap nggak mau menerima sepeser pun. Bless his heart :)

Gue harap tulisan ini membantu siapapun yang ragu menikah karena takut ribet dan khawatir masalah biaya. Pernikahan gue dan Shane adalah bukti kalau menikah dengan Warga Negara Asing itu nggak seseram yang orang-orang bilang. Menurut pengalaman kami apa yang membuat lama dan ribet itu justru kalau mempelai nggak siap. Ya, kalau hal kecil seperti akta kelahiran saja nggak ada bagaimana mau lancar? :p Untuk biaya pun jika apa-apa diurus sendiri, tanpa harus melalui pelantara sebenarnya sangat murah. Dan jangan lupa, menikah di KUA itu gratis terkecuali jika weekend atau dilaksanakan di lain tempat. Itu pun hanya dikenai biaya Rp. 600.000. Juga termasuk jika pasangan kita mualaf lho, ya. Jangan mau bayar, karena agama itu bukan untuk dijual belikan.

Jadi kalau ada di antara kalian yang membaca tulisan ini dan punya pacar WNA tapi belum mengajak/mau diajak menikah dengan alasan ribet dan mahal, tunjukan saja tulisan ini. Kalau sudah ditunjukan tapi masih nggak mau juga padahal katanya serius... wah, hati-hati! *becanda :p




yang nama belakangnya jadi dua,

Indi

----------------------------------------------------------------------------------------------

Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com


17 komentar:

  1. Ikut berbahagia Kak Indii....

    BalasHapus
  2. huwaaaa... selamat ya kak indi.

    apakah saya juga harus menikah dengan WNA? haha

    BalasHapus
  3. Selamat ya kak Indi, ikut bahagia, semoga aku bisa menyusul. :)

    BalasHapus
  4. Selamat, ya! Turut berbahagia. Artinya, yang penting dijalani saja ya. Ntar setelah lewat semuanya dan kita menengok ke belakang, semuanya sebenarnya simple. Ribet itu cuma di pikiran.

    BalasHapus
  5. Waaaa ikut bahagia banget kaaaaaak :')

    Ribet nikah tuh ya cuma di dalam angan, tapi setelah dilakukan, sebenernya bisa mudah kok :D

    BalasHapus
  6. Selamat menempuh hidup baru, kak Indi :)
    Ikut deg-degan baca rentetan proses di kedubes Amerika hehehe ..

    Semoga berbahagia selamanya, kak.

    BalasHapus
  7. Semua ada prosesnya ya, Ndi hehehe mau WNA mau WNI hihih. Yang penting dijalani dengan bahagia dan ikhlas. Suka sama keluarga Indi :)

    BalasHapus
  8. Masha Allah..
    Selamat berbahagia Indi, semoga berjodoh hingga ke surgaNya.
    Keren banget ini mah, menikah itu ibadah, mengapa harus ribet ya.
    Dan salut banget karena berani menolak pungli.

    Dan memang, cari berita di Googling itu baik, tapi lebih baik lagi cari tau langsung ya.
    Biar gak deg-degan dan penasaran melulu.
    Nyatanya, setelah dijalani eh ternyata biasa aja ya.

    BalasHapus
  9. Ekspresi Bapak itu ya ampun, priceless banget! So lovely. *kayaknya aku udah pernah komen tentang ekspresi bapak. Hahahahaha... Tapi biarlah. Bapak emang unyuuuuuu

    BalasHapus
  10. Wah saya tidak dapat undangan saat ijab qubul nih. Hatiku jadi panasa melihat adegan ciuman, kapan saya bisa nyusul ya. Sakit rasanya jadi jombolo abadi.
    Taman teknologi canggih, semua bisa mudah. Dan untung KUA nya juga melek teknologi.

    BalasHapus
  11. Ikut seneng bacanya, selamat ya, Teh. Semoga harapan kedepan bareng suami d.mudahkan dan tercapai satu persatu. Aamiin.

    BalasHapus
  12. semoga samawa ya Indi, sukses n sehat selalu

    BalasHapus
  13. LAMA nggak pernah main kedunia kecil ini....ternyata udah dinikahi pria bule...sip deh.

    SELAMAT YAH, SEMOGA JADI KELUARGA YANG BAHAGIA LAHIR BATIN DAN SEGERA MENDAPATKAN MOMONGAN.

    BalasHapus
  14. Selamat ya sayang semoga dilanggengkan dalam menjalani rumah tangganya

    BalasHapus
  15. Selamat ya indi, saya setuju kalau ijab kabul perlu penjiwaan saat pengucapan .

    BalasHapus
  16. Sudah lama gak berkunjung kemari, eh tahu-tahu mbak Indi sudah menikah.
    Selamat ya mbak atas pernikahannya. Semoga menjadi keluarga yang samawa.

    Duh itu ada pungli ya waktu di KUA. Memalukan. Bagus banget mbak melaporkan kasus itu dan uang bisa kembali. Karena kebanyakan mendiamkan kasus semacam ini.

    Terakhir, selamat menempuh hidup baru. Semoga berbahagia selalu.

    Salam dari saya di Sukabumi.

    BalasHapus

Terima kasih untuk komentarnya, it's really nice to hear from you :)