Indi's Friends

Minggu, 06 Mei 2018

Kehidupan Tidak Pernah Berakhir: Lho kok Vegan Makan Telor Ceplok?! :O

Hi bloggies! How's your weekend? Semoga menyenangkan ya! Ngomong-ngomong soal weekend, apa nih aktivitas favorite kalian? Hangout? Atau di rumah sajakah kaya gue? Hihihi. Jujur, gue hampir selalu milih buat menghabiskan waktu di rumah sih. Nulis, bikin musik, masak, kumpul sama keluarga, main sama Eris anjing gue, or simply snuggling sama si pacar. Gue cuma keluar kalau lagi kepengen banget, misalnya saja lagi craving sesuatu. Kaya kemarin nih, gue kepengeeeen banget makan telor ceplok, rendang sama sate! ---Tunggu! Sebelum protes, iya kok gue masih (dan akan tetap) vegan. Yang gue mau ini bukan menu-menu sungguhan, kok, tapi versi vegannya alias cruelty free! ;)

Sejak beralih dari pesco vegetarian, ke vegetarian lalu ke vegan, selera makan gue nggak berubah. Gue masih tetap suka makanan dengan kaya bumbu dan segar. Dulu gue sering ditakut-takuti sama orang sekitar, katanya kalau jadi vegetarian susah cari makan, hahaha. Tapi ternyata buktinya nggak kok, bahkan setelah jadi vegan pun gue bisa makan enak dan sesuai selera. Caranya ya gampang, tinggal masak sendiri. Kalau menunya hewani ya tinggal "divegankan". Sekarang kan apa-apa mudah dicari di internet, dan layanan pesan-antar via aplikasi juga memudahkan gue untuk membeli bahan-bahannya. Nah, tapi bagaimana kalau gue lagi malas? Ya, beli saja masakan yang sudah jadi. Memang tempatnya nggak sebanyak restoran biasa, tapi restoran vegan itu ADA kok, dan bukan hal "mewah" :)

Gue tinggal di Bandung. Sejak masih jadi pesco vegetarian (vegetarian yang mengkonsumsi ikan) bertahun-tahun lalu, gue sudah punya restoran favorite. Namanya "Kehidupan Tidak Pernah Berakhir". Gue tahu tempat ini justru dari teman gue yang bukan vegan! Dia cerita sama gue kalau ada restoran dengan harga terjangkau yang makanannya enak-enak. Penasaran, gue pun langsung cari alamatnya dan... gue jatuh cinta pada pandangan pertama, hahaha. Waktu dulu sih gue belum berani pesan yang macam-macam di sana, cuma nasi dan sayuran. Padahal gue tahu kalau tersedia menu meat alternative juga, tapi nggak berani pesan karena takut mahal. Maklum masih bocah :D Kalau sekarang sih sudah berani, bukan karena banyak duit tapi karena tahu kalau harganya terjangkau.

Menurut gue restoran ini seleranya universal banget, nggak hambar. Seandainya almarhum Kakek gue makan di sini gue yakin beliau pasti suka karena dulu harus makan menu vegan Rumah Sakit yang rasanya yucky :( Makanya gue sering rekomendasi tempat ini, bahkan sama yang meat eater sekalipun. Dan sumpah gue nggak diendorse lho, hahaha. Termasuk sama pacar gue, Shane. Well, singkat cerita tentang dia, dulu dia bukan vegan. Tapi semakin lama kenal dia mulai cerita kalau sebenarnya dia nggak suka masakan dari hewani, terutama telur. Tapi kadang merasa nggak ada pilihan dan rasanya "nggak enak" kalau sudah disediakan makan sama ibunya tapi nggak dimakan. Nah di hari pertama dia tiba di Indonesia (sebelumnya tinggal di Amerika), pola makan Shane berubah. Dia plek mengikuti menu makan gue. Awalnya gue pikir hanya karena kami tinggal serumah, tapi rupanya saat makan di luar pun selalu menolak daging. Pernyataan "gue vegan" memang nggak pernah keluar dari mulutnya, tapi after more than a month meat and dairy free, rasanya aman untuk menyebut kalau dia juga vegan :)

Salah satu spot foto di "Kehidupan Tidak Pernah Berakhir".

Shane baru berkunjung ke "Kehidupan Tidak Pernah Berakhir" dua kali. Sama seperti gue, dia juga rupanya falling in love at the first sight sampai gue jealous, --JK :D Makannya lahaaaap banget, padahal rasa Indonesia pasti baru buat lidah dia. Nah yang mau gue ceritain sekarang itu tentang kunjungan dia yang kedua (dan ke sekian ratus kali buat gue, lol). Jadi ceritanya gue mendadak banget kepengen telor ceplok, rendang dan sate. Kenapa? Gue juga nggak tahu, pokoknya mendadak malas masak (padahal biasanya juga si pacar yang masak, hahaha). Akhirnya menjelang malam kami putuskan ke "Kehidupan" untuk early dinner. Suasana nggak terlalu ramai, kami jadi bisa leluasa memilih tempat. Tanpa ragu gue langsung memilih nasi soto, rendang, terong bumbu cabai dan sayuran. Sedangkan si pacar, dia selalu ragu buat mencoba hal baru. Seperti kunjungan sebelumnya dia memilih nasi goreng ditambah mie keriting setelah gue pelototin karena kelamaan milih :p

Tempat duduk yang kami pilih, dekat sekali dengan display buffet/prasmanannya.

Gue ngiler dengan menu rendang karena sempat mencicipi rendang yang ipar gue pesan beberapa waktu lalu. Rasanya ternyata enak dan pedas. Teksturnya mirip seperti daging sungguhan, meski kalau soal rasa gue lupa-lupa ingat karena sudah lama nggak makan teman, ---eh hewan. Meski kepedesan (karena terong yang gue pesan juga pedas) tapi gue makan sampai ludes termasuk dengan bumbu-bumbunya. Nikmat banget dimakan sama nasi dan sayuran. Kalau soal terongnya sih jangan ditanya. Rasanya setiap makan di sana jadi menu wajib yang gue pesan, hahaha. Alasannya karena gue cukup picky, kalau terongnya benyek biasanya gue nggak suka. Nah, terong "Kehidupan" tuh rasanya fresh dan cabainya juga "nendang". Saking nendangnya gue sampai pesan teh manis plus bonus dapat bibir dower, hahaha.

Rendang, terong cabai, sosin, tahu kecap dan daun pepaya (---atau singkong??).

Nasi soto plus sambal.

Mie keriting dan pangsit punya si pacar. Ah, suka dengan ide sumpit reusable nya :)

Soto, menu lain yang gue incar juga "terinspirasi" dari ipar gue yang pernah memesan menu ini buat Ali, keponakan gue yang masih berusia 2 tahun. Yup, karena tanpa MSG dan santan makanan di sana jadi aman buat anak-anak. Rasanya waktu itu mau nyicip tapi nggak enak kalau nyosor makanan bocah xD Dan akhirnya keinginan gue tercapai! Rasanya hampir sama seperti yang gue bayangkan, cuma menurut lidah gue agak kurang tajam rasanya. Kalau jeruknya ditambah pasti gue kasih nilai 10. Nasi, sayur, terong dan rendang membuat gue kekenyangan. Bahkan buat membuat piring dan mangkuk gue cling bersih pun kepayahan, hahaha. Padahal telor ceplok idaman gue belum tercapai. Akhirnya gue putuskan untuk tetap pesan nasi goreng plus si sunny side up tapi untuk dibawa ke rumah. Oh iya, meski kekenyangan gue masih sempat mencicipi mie keriting si pacar, lho  :p Next time gue juga harus pesan, soalnya rasa mie nya pas banget sama selera gue. Kuahnya juga gurih dan harum. Cuma bagian pangsitnya agak terlalu "enek" buat gue, makan satu saja cukup. Lainnya sih perfect, sampai sambal dan emping pun gue habiskan :D

Jadi lagi-lagi gue dan Shane cukup puas dengan "Kehidupan Tidak Pernah Berakhir". Kenapa "cukup"? Karena menurut kami masih ada hal-hal yang perlu dibenahi. Dan dari sudut pandang gue yang sudah ke sana sejak zaman bocah, rasanya ada kualitas yang menurun. Misalnya saja menu-menu meat alternative yang hilang juga dekorasi yang berkurang. Dulu gue sempat berfoto di jajaran bunga matahari yang instagramable banget tapi sekarang sudah nggak ada :( Dan yang paling gue soroti masalah kebersihan toiletnya. Rasanya semakin lama semakin nggak terawat. Nah, kemarin itu rasanya paling gawat. Gue sudah kebelet banget dan dari 2 toilet nggak ada satu pun yang mending, banyak tisu di lantai dan berjejalan di lubang toilet (ewww...). Terpaksa gue dan pacar jalan kaki ke resto fast food di ujung jalan buat numpang pipis :( Mudah-mudahan sih tulisan gue ini dibaca sama pihak "Kehidupan", karena gue pernah membuat review di YouTube dan mereka merespon. Tapi kalaupun nggak gue tetap akan berusaha menghubungi mereka karena ini demi kebaikan. Kalau kualitas semakin bagus kan semakin banyak yang berkunjung dan tertarik dengan veganism. So, don't take this as mean comment ya, ini saran :)

Wah, ternyata bertemu teman pembaca. Sayang ya nggak menyapa :(

Take out food packaging nya rapi, suka! :)

Ini foto setelah nasi goreng dan telor ceploknya dihangatkan di microwave. Masih tetap enak!

Apa gue merekomendasikan restoran ini? Tentu, iya! Buat teman-teman yang membaca post ini dan belum pernah ke sana, ayo datang ke "Kehidupan Tidak Pernah Berakhir" di Jl. Pajajaran No. 63 Pasir Kaliki, Cicendo Bandung. Mereka buka dari pagi sampai jam 9 malam. Jika kalian datang untuk mencari makanan enak tempat ini worth it sekali, tapi ya itu dia dari segi kebersihan memang harus dibenahi. Oh iya, satu lagi yang lupa gue sebutkan. Packaging untuk take out foodnya rapi, lho. Nasi goreng gue utuh sampai rumah. Tapi gue nggak yakin apa ini berlaku juga untuk menu sate karena gue pernah pesan via Gofood dan hanya dibungkus plastik :O Well, sekian dulu tulisan gue. Meski ada kekurangan tapi restoran ini salah satu bukti kalau jadi vegan itu nggak ribet dan nggak mahal. Nih gue contohnya, sering bokek tapi selalu bisa makan enak! Hahahaha. Cheers! :)




yang kalau foto pacarnya gak boleh ikutan tapi fotonya ada kok di instagram, lol,

Indi

(*Untuk teman-teman vegan di Tangerang, gue juga punya rekomendasi tempat makan enak yang terjangkau lho, klik di sini. Juga yang mau dengar kolaborasi musik baru gue dengan si pacar, klik di sini)

_____________________________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

20 komentar:

  1. Rendangnya pedes nggak mbak Indi? Lihat makanan ini jadi terinspirasi buat menu maksi nanti 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pedes kok, kaya rendang pada umumnya. Yang beda cuma bahan dasarnya aja yang cruelty free 😉

      Hapus
  2. Aku juga asli Bandung mbak. Bandung selain tempat Wisata yang banyak, kuliner nya juga bikin nagih dan pengen balik lagi kesana. Mungkin kalau go food dari Bandung ke Tangerang ga mahal, aku sudah order tiap hari hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener, kulinernya enak-enak. Semoga bisa cepat kembali ke sini ya 😊 Buat makanan vegan di Tangerang tuh aku udah sematkan link di post tentang restoran di sana. Rasanya gak kalah enak dan konsep restorannya mirip. Semoga cocok 😉

      Hapus
  3. Kehidupan tidak pernah berakhir untuk terus berbenah ke arah yang lebih baik, semoga niat baik mendapat sambutan baik juga

    BalasHapus
  4. Indi tambah cantik setelah jadi vegan lho

    BalasHapus
  5. Aku agak kurang ngerti miss, soal ceplok dan rendang versi vegan
    Maksudnya bagaimana sihh?

    Btw lucu banget ini Kehidupan Tidak Pernah Berakhir
    Such a fresh and unique concept

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seperti yang aku sebutkan di post, di restoran ini ada menu meat alternative, Aul. Yaitu menu yang terbuat dari bahan non hewani seperti kacang-kacangan dan jamur-jamuran yang tekstur dan rasanya dibuat menyerupai daging hewan 😊

      Hapus
  6. nanti kalo ke bandung wajib mampir kesana ya mba he

    BalasHapus
  7. Nasi Rendangnya menggiurkan, siang2 pas ngantor baca ini jadi laper nih... saatnya kopibrik...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, aslinya memang enak banget rendangnya. Mana harganya oke lagi 😍 Enjoy your coffee break, ya! 😊

      Hapus
  8. Wah wah gimana ini, ngomongin soal makanan terus buntutnya ke WC ini, wah selera jadi hilang nih.
    Saya suka dengan daun pepaya, bikin badan sehat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan aku review restorannya, jadi sekalian makanan juga fasilitasnya. No worry, aku gak pakai bahasa yang "vulgar", kaaan, hihihi. Terima kasih sudah mampir 😉

      Hapus
  9. Salut buat Indi yang konsisten vegan. Dan buat Kakang Shane yang lidahnya lentur banget gampang nyesuaiin diri sama makanan Indo. Hehehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dia mah apa aja masuk, Fely. Malah aku yang picky, hahaha 😂

      Hapus
  10. Rendang juara, rada pedas sih hehe

    BalasHapus
  11. Tetangga tepat di samping rumah saya vegetarian. Pernah dikirimin makanan sama mereka, ternyata enak juga :)

    BalasHapus
  12. Kalo tiap weekend, biasanya sih saya sempatin hangout bareng temen kantor.
    Cuma pas puasa gini ya libur dulu, hahhaha :D
    Oh ya kayaknya rendangnya enak ya :D

    BalasHapus

Terima kasih untuk komentarnya, it's really nice to hear from you :)