Teman-teman yang menyukai "Dunia Kecil Indi"

Minggu, 30 November 2014

Warna-Warni HIV/AIDS Awareness 2014: Ada Haru, Ada Tawa, Ada Teman-Teman Baru :)


Hai my beloved bloggies friends! Kemarin, 28 November 2014 gue mendapat (another) awesome experience. Gue mengisi acara talk show "HIV/AIDS Awareness 2014" di Kampus Politeknik Bandung Program Studi Usaha Pejalanan Wisata. Untuk gue ini adalah pengalaman yang kedua mengisi acara dalam rangka memperingati hari AIDS sedunia dengan audience mahasiswa. Tahun lalu gue berbicara di hadapan mahasiswa-mahasiswa Universtitas Diponegoro Semarang, meski begitu tetap nggak mengurangi perasaan excited gue :)

Kali ini gue nggak sendirian, tapi ditemani oleh Kak Taufik dari Rumah Cemara. Di pertemuan pertama kami ini langsung akrab, lho meskipun sebelumnya hanya berkomunikasi lewat SMS, hihihi. Dan untuk MC nya, guess who? Pasti yang sering mampir ke sini bisa menebak, ya; the one and only Ray ;)
Acara dimulai jam 1 siang dan dibuka dengan sesi sharing bersama Kak Taufik. Nah, waktu sesi ini gue belum datang karena rencananya memang dibagi menjadi 2 sesi sharing, yaitu bersama Kak Taufik lalu bersama gue. Menurut Ray ada banyak sekali yang datang, ia bahkan mengirimi gue foto suasana di ruangan yang membuat gue semakin ingin cepat-cepat tiba, hihihi. Akhirnya, sekitar jam 2.30 sore gue yang diantar Bapak tiba dengan selamat meskipun sempat terjebak macet dan hujan lebat. Sesi bersama Kak Taufik sudah selesai dan audience sedang nonton bareng film Mika. Sambil menunggu gue sempatkan dulu mengobrol sana-sini dengan Ray dan Kak Taufik. Lumayan, masih punya banyak waktu karena durasi filmnya 1 jam lebih :)



Bersama Kak Taufik Rumah Cemara sambil berpose dengan karya-karya gue :) 

Dari luar ruangan, meskipun pintu tertutup tapi gue bisa mendengar reaksi teman-teman audience di dalam. Wah, benar-benar bikin merinding. Waktu ada adegan lucu mereka kompak tertawa, waktu ada adegan yang bikin gemas gue nggak bisa menahan tawa karena komentar-komentar mereka cukup jelas tedengar. Dan waktu mendekati ending film tiba-tiba ruangan sangat sepi, samar-samar gue mendengar suara isak tangis yang diakhiri dengan tepuk tangan seru ketika film selesai. Wah, kalau saja gue nggak harus mengisi acara kemungkinan besar gue sudah ikut menangis saking terharunya :') Film Mika yang diinspirasi oleh kisah hidup gue yang dinovelkan dengan judul "Waktu Aku sama Mika" dipilih untuk diputar di hari AIDS sedunia karena menceritakan kisah hidup Mika, seorang ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) yang berpacaran dengan gue selama 3 tahun terakhir hidupnya. Melalui film ini audience bisa "mengenal" Mika dan melihat seperti apa kehidupan kami yang (sebenarnya) nggak jauh berbeda dengan orang lain.



Ada yang masih menangis haru ketika gue masuk ruangan :')

Ray dan Kak Taufik masuk ke dalam ruangan lebih dulu, lalu disusul oleh gue yang langsung disambut tepuk tangan meriah. Rasa haru gue jadi semakin bertambah, hihihi :'D Rupanya profile gue sudah dibacakan sebelum gue tiba, jadi audience sudah cukup mengenal gue, seenggaknya mereka tahu bahwa gue adalah "Indi nyata" dari film yang baru saja mereka tonton :) Hanya dalam beberapa detik gue menyadari bahwa beberapa dari mereka masih ada yang bermata sembab karena menonton film Mika. Untung saja suasanya santai, jadi alih-alih sedih berlarut-larut kami dengan cepat tertawa karena Ray juga tanpa ragu melontarkan lelucon.

Ray membawakan acara talk show dengan santai :)

Di sesi sharing ini gue bercerita tentang tentang latar belakang novel "Waktu Aku sama Mika" yang lalu menjadi film Mika. Gue juga bercerita tentang hal-hal yang bisa dilakukan untuk melindungi diri dari HIV/AIDS. Pokoknya gue bercerita tentang hal-hal yang memang sudah akrab tapi sebenarnya bisa dilakukan untuk melindungi diri, misalnya saja dengan mencari informasi yang benar tentang HIV/AIDS. Setelah itu giliran audience yang diberikan kesempatan untuk bertanya pada gue. Boleh tanya apa saja, asalkan masih sesuai tema dan jika bertanya tentang Mika nggak ke hal yang terlalu sensitif/pribadi ;) Pertanyaan yang gue dapat beragam sekali dan semuanya sangat antusias. Well, sejauh ini gue memang blessed bertemu dengan teman-teman baru yang selalu antusias, tapi kali ini antusiasnya super sekali, hehehe. Ada yang bertanya tentang kegiatan gue di yayasan AIDS, ada yang bertanya tentang hal-hal mengesankan bersama Mika yang nggak diceritakan di film, ada juga yang bertanya tentang proses penulisan naskah dan lain-lain. Terlihat sekali ya mereka tertarik dengan banyak hal, salut :) Tentang Mika gue jawab bahwa ia istimewa bukan karena ia ODHA. Mika istimewa karena bagaimana cara ia memperlakukan gue dan tentu saja kepribadiannya. Karena menurut gue semua orang itu sama, apapun yang ia idap nggak perlu dijadikan label. Gue sebagai seorang scolioser (pengidap scoliosis) nggak mau hanya dikenal karena apa yang gue idap, dan gue yakin Mika juga begitu :)




Pengetahuan gue tentang HIV/AIDS sudah pasti masih kalah dengan Kak Taufik, tapi setiap ada yang bertanya gue selalu mencoba menjawab sebaik mungkin. Karena menurut gue nggak perlu jadi seorang expert untuk stop diskriminasi dan stigma. Mulailah memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan, siapapun itu. Dan untuk menjadi seseorang yang peduli dengan isu HIV/AIDS bukan berarti harus menjadi relawan di sebuah yayasan atau organisasi. Menurut gue dengan membantu menyebarkan info yang benar di kalangan kecil seperti teman atau keluarga sudah merupakan bentuk untuk menunjukan rasa peduli. Hal kecil jika dilakukan terus menerus tentu akan menjadi besar, kan? ;)

Setelah semuanya puas memberikan pertanyaan giliran gue dan Kak Taufik yang bertanya kepada audience. Untuk yang bisa menjawab pertanyaan kami dapat hadiah, lho. Hadiahnya adalah novel charity "Guruku Berbulu dan Berekor" karya gue (yang dibantu oleh beberapa volunteer) dan sebuah stiker dari Tiloe, event organizer yang menyelenggarakan acara ini. Pertanyaannya mudah-mudah, kok. Kak Taufik bertanya tentang hal apa saja yang bisa menularkan HIV/AIDS sedangkan gue bertanya tentang hal apa saja yang nggak bisa menularkan HIV/AIDS. Semuanya bisa dijawab dengan cepat, sampai-sampai hampir berebutan, hihihi. Eh, tapi ada lho satu pertanyaan yang cukup tricky, yaitu 'Apakah ODHA bisa memiliki anak yang negatif? Jika bisa bagaimana caranya?' Setelah beberapa audience gagal menjawab akhirnya ada juga yang berhasil. Congratulations! :D Btw, kalau-kalau diantara pembaca ada yang penasaran, nih gue kasih bocoran; ODHA bisa kok punya anak yang berstatus negatif :)

Acara ditutup dengan sesi foto dan book signing. Luar biasa sekali sampai akhir acara energi audience sepertinya sama sekali belum berkurang, hihihi. Sampai-sampai ada yang mengajak selfie segala :'D Oya, salut deh dengan mereka, soalnya selain antusias, open minded juga sangat helpful. Mereka sudah menyiapkan selembar kertas yang bertuliskan nama masing-masing, jadi gue nggak harus bertanya lagi nama yang ingin ditulis di buku yang akan ditandatangi. Simpel tapi manis sekali, hihihi :) Gue sangat senang dan bersyukur acara ini berjalan dengan sangat lancar (dan ramai, lol). Bisa berbagi ilmu dan mendapatkan teman-teman baru sungguh pengalaman yang berharga buat gue. Terima kasih banyak untuk Polban, Ray, Tiloe, Kak Taufik dari Rumah Cemara dan Homerian Pustaka yang membuat acara ini terwujud. Gue harap akan ada semakin banyak orang peduli bukan hanya karena ada saudara atau teman mereka yang mengidap HIV/AIDS. Peduli datangnya dari hati dan nggak pernah ada kata terlalu cepat untuk memulai :)





Sampai bertemu lagi, teman-teman! :)




keep fighting,

Indi

nb: 
*Senin, 1 Desember 2014 gue akan live interview di I-radio 89.6 FM Jakarta jam 5 sore. Jika kebetulan ada waktu luang, yuk stay tuned! ;)
*Minggu, 7 Desember 2014 film MIKA akan diputar di Taman Film Bandung (Terusan Taman Pasupati) pukul 4 sore. Gue dan D-100 Community akan hadir di sana. Yuk, kita nobar. Gratis! :)


_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Senin, 24 November 2014

Halloween Costume Party di Trans Studio Bandung: Cerita Tinker Bell dan Peter Pan yang bukan di Neverland :)

Tanggal 29 Oktober lalu gue dapat surprise yang menyenangkan. Gue terpilih sebagai pemenang lomba kostum Halloween Trans Studio Bandung! Wow, padahal tadinya gue nggak berharap banyak, just for fun gue post yang sedang memakai kostum Snow White ke account twitter Trans Studio. Tahu-tahu gue ditelepon dan diminta datang untuk Halloween Party pada tanggal 31 November for free! Bukan hanya itu, gue juga diajak untuk berparade bersama talent Trans Studio, mengikuti zombie dance dan mendapatkan kesempatan untuk mengikuti lomba kostum (lagi). How cool is that? Gue sampai nggak bisa senyum-senyum saking senangnya :D 

Meskipun gue nggak mempunyai kostum khusus, hanya kostum Tinker Bell handmade yang tadinya akan dipakai untuk ber Halloween di rumah (baca ceritanya di sini), tapi gue tetap excited. Gue bahkan mengajak Ray yang memakai kostum Peter Pan untuk pergi bersama ke Trans Studio. 
Sekitar jam 11 pagi di tanggal 31 November kami sudah siap dengan kostum masing-masing. Mungkin karena masih pagi dan bukan weekend sepanjang jalan dan tempat parkir Trans Studio Mall tampak cukup lenggang. Which is good, karena membuat gue dapat nomor urut peserta kostum kontes yang cukup awal, yaitu nomor 5, hehehe. Begitu tahu kalau gue datang bersama Ray yang juga memakai kostum, panitia menawari Ray untuk ikut kontes juga. Langsung saja gue setuju, soal menang atau kalah itu nggak masalah. Kami hanya mau have fun, dan bisa ber Halloween di Trans Studio saja sudah membuat kami sangat senang. Lagipula gue kan sudah menang kontes kostum di twitter, masa mau berharap menang lagi? Hehehe :)



Parade baru  mulai jam 1 siang, jadi gue dan Ray masih punya waktu untuk bermain beberapa wahana dulu. Sambil melihat-lihat suasana, mata kami juga mencari peserta yang lain. Hehehe, penasaran, kira-kira kostum mereka seperti apa ya. Soalnya seluruh kru Trans Studio nampaknya berdandan seram, nggak ada yang berdandan ala fairy tale seperti kami. Untuk menghindari ‘teriak-teriak karena adrenalin terpacu’ dini, gue dan Ray masuk ke Science Center. What a cute surprise, kami langsung disambut dengan sapaan, “Hai Peter Pan, Hai Tinker Bell” oleh petugas di sana. Kami terkikik geli karena kaget kostum handmade kami ternyata dikenali :D 

Peter Pan dan Tinker Bell, hihihi :)

Tadinya gue khawatir sayap yang gue pakai akan merepotkan, tapi ternyata nggak sama sekali. Gue dan Ray menikmati ‘bermain’ dengan alat-alat peraga science tanpa masalah. Meskipun sudah beberapa kali ke sini tapi masih tetap seru, kami mencoba hal-hal yang dikunjungan sebelumnya belum sempat. Favorit gue adalah simulasi bowel system, bukan karena tertarik dengan cara kerjanya, tapi gue suka saat tangan gue ikut tersedot ke pencernaan! Hahaha, I’m Peter Pan at heart :p Dan yang paling lucu waktu Ray mencoba menarik dirinya sendiri dengan sistem katrol. Sekeras apapun ia berusaha, kursinya sama sekali nggak bergerak. Hmm, gue nggak mengerti dengan ilmu fisika (padahal di sekolah jurusan IPA, lol), tapi pengunjung lain pun nggak ada yang berhasil. Jadi asumsi gue memang begitulah seharusnya alat itu bekerja, hahaha.

Setelah itu kami bermain sebentar di Broadcast Museum. Setelah tahun lalu mencoba menjadi dubber Si Unyil (OMG, lol), kali ini kami (tepatnya gue) mencoba menjadi pembawa acara infotainment di depan green screen. Konyolnya karena baju gue berwarna hijau, kepala gue jadi tampak melayang-layang di monitor. Cocok banget, gue kan Tinker Bell :p 
Nggak terasa sudah hampir jam 1 siang, gue dan Ray langsung menuju Magic Corner. Disana kami bertemu dengan Rama yang menelepon gue. Ia memberi gue selamat dan memberi sedikit pengarahan untuk parade yang sebentar lagi berlangsung. Katanya gue dan Ray cukup mengikuti rombongan dan melambaikan tangan ke arah pengunjung. Gue yakin hanya kami yang diberitahu untuk berekspresi ceria, karena ternyata peserta lainnya berdandan seram-seram! Super seram malah! Aduh, gue jadi merasa salah kostum di saat pesta kostum. Kami nampak seperti penghuni Neverland yang nyasar ke serial Walking Dead :’D

The Walking Death VS Fairy Tale, lol.

Meski begitu kami menikmati sesi parade. Awalnya memang awkward karena yang lain memasang straight face dan seram, sedangkan kami tersenyum ramah. Tapi setelah dipikir-pikir ini memang role yang paling pas buat gue, selain anti make up (gue nggak suka kalau wajah gue harus kena darah-darahan, uh) gue juga paling nggak bisa menahan untuk nggak cengar-cengir. Kebayang kan kalau pakai kostum seram tapi gue ketawa-ketawa pengunjung langsung kabur, soalnya seramnya jadi double, hahaha :D
Thumbs up lho untuk talent Trans Studio, make up nya keren dan real. Ada yang berdandan seperti boneka Annabelle, Vampire, The Grinch, Death Angel sampai pocong. Aura Halloween pun jadi semakin terasa karena parade berhenti di Magic Corner, dekat dengan wahana Dunia Lain, hiiiiii :D

Bersiap-siap untuk parade :)

Satu-satunya talent yang match sama gue: The Grinch, hahaha :p

Cool costumes! :)

Setelah selesai parade suasana menjadi semakin seru karena talent dan peserta kostum tiba-tiba flash mob alias Zombie Dance. Yup, seharusnya termasuk gue dan Ray. Tapi berhubung nggak ikutan briefing (main melulu sih kami, lol) dan gerakannya ribet jadi kami foto-foto saja :p Ini keren banget lho, gerakannya kompak. Apalagi pakai lagu Thriller nya Michael Jackson, klasik, no surprise tapi nggak salah :D 
Begitu lagu selesai talent dan peserta berbaur dengan pengunjung untuk sesi foto. Ini agak-agak bikin gue deg-degan. Yang lain bisa dengan mudahnya dikenali dengan kostum iconic dan menawan mereka ---atau minimal seram---, sedangkan gue dan Ray berkeliaran dengan kostum berwarna hijau terang yang lebih cocok di acara trick or treat untuk anak-anak, hehehe. But then satu persatu dari pengunjung mulai mengenali kami dan mengajak berfoto. Senyum gue semakin lebar karena sayap gue yang terbuat dari gantungan baju bekas dan topi Ray yang terbuat dari flanel dikenali sebagai kostum Tinker Bell dan Peter Pan :)

Sementara yang lain dance...

Let's dance, Peter! :)

Lifeless dolls! OMG, mereka perlu 1 ton Pixie dust dan satu milyar Happy Thoughts! :D

We’re having a super great time, setelah sesi foto kami bebas bermain sampai jam 4  sore untuk pengumuman pemenang. Karena sibuk keluar masuk wahana, sayap gue pun seringnya ditenteng, nggak lagi nempel di punggung. Bisa (lebih) bebas bermain memang lebih penting daripada keindahan kostum, hehehe. Gue mengajak Ray untuk bermain Jack and The Beanstalk (Negeri Raksasa), wahana yang merupakan first love gue waktu pertama kali datang ke Trans Studio :p Lucunya, dibanding Ray gue jauh lebih pemberani untuk permainan yang memacu adrenalin seperti ini. Kalau tahun lalu Ray sempat agak gue paksa, tahun ini ia sudah lebih ikhlas. Terbukti dengan bersedia terjun bebas dari ketinggian 13 meter sebanyak 2 kali! Hehehe, berhubung favorit jadi gue nggak mau dong kalau naik cuma 1 kali saja ;)
Kami juga bermain Transcar Racing, Dragon Riders (dua kali!) dan Marvel Superheroes the Ride 4D, yang seperti biasa kami duduk terpisah, hehehe. Setelah puas bermain, kami ke Studio Mie untuk makan dan minum sekaligus menunggu waktu pengumuman pemenang.


Jam 4 sore (lewat, hehehe) gue dan Ray ke area wahana Vertigo. Di sana sudah ada Rama dan peserta kontes kostum lainnya yang amazingly nampak rapi. Bingung juga bagaimana cara mereka memanage bermain sambil tetap terlihat bagus, sementara gue dan Ray sudah banjir keringat dan rambut berantakan, hehehe. Meskipun kami nggak berharap menjadi pemenang, tapi kami tetap penasaran dengan pengumumannya. Soalnya peserta lain kostumnya bagus-bagus sekali, jurinya pasti kebingungan, hehehe. Setelah berbasa-basi sebentar, diumumkanlah siapa pemenangnya *drum roll*
 “Dan pemenangnya utamanya adalaaaaaaah....”
Bukan kami, bukan salah satu dari kami tapi peserta termuda bernama Bijoux yang super cute dengan kostum Two Faces Angel-Devil nya. Aww, kami ikut senang, dan sepertinya peserta lainpun setuju jika ia layak untuk menjadi pemenang. Bayangkan, he’s only 5 dan nggak rewel selama berjam-jam memakai kostumnya dengan wajah yang di cat. Apalagi Bijoux dan mamanya jauh-jauh dari Jakarta! Congratulation, little boy :)
Eh, tapi gue juga juara, lho. Juara hiburan tapinya, hahahaha :p Thank God, gue dan Ray mendapat another free ticket dari Trans Studio Bandung dan goodie bag dari Orang Tua Grup (OT) yang isinya setara dengan hasil Trick or Treatin’ sepanjang hari :D Tapi juara atau bukan juara, yang penting kami sangat bersenang-senang. Halloween adalah moment yang tepat untuk melepaskan jiwa kanak-kanak kami, meski sebenarnya meskipun tanpa kostum pun kami tetap Tinker Bell dan Peter Pan di hati. Kalian juga pasti bisa melihatnya, kan? ;)

With Bijoux, the 1st winner! :)

Yay, another free ticket!! Thanks, Trans Studio Bandung :)


Boo,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Sabtu, 15 November 2014

Tentang Steve Irwin; Obsesi Masa Kecil yang Menjadi Inspirasi :)

The Irwin's Family.

14 November 2014
Jadi tadi, menjelang malam, setelah mandi sore gue bersantai di atas tempat tidur ---dengan satu mangkuk popcorn dan remote TV di tangan. Gue memang nggak keluar rumah, hujan sepanjang hari jadi aktivitas gue hanya di depan komputer dan bermain lempar tangkap di dalam garasi bersama Eris, anjing gue. Ngemil di atas tempat tidur nggak apa, hanya sesekali ini gue pikir, hihihi. Lalu saat tangan berselancar di remote, dari channel ke channel, gue melihat sesuatu yang familiar. Ada seorang penyanyi laki-laki berambut pendek sedang bernyanyi sambil bermain gitar. Bukan, bukan dia yang menarik perhatian gue. Tapi 3 orang berpakaian berwarna khaki yang sedang duduk di sofa. Setelah beberapa detik penuh keenggakyakinan, kamera mulai meng-zoom salah satu dari mereka. Segera gue bangun dari tempat tidur, berlari ke ruang TV dan merebut remote dari Bapak yang sedang menonton Harry Potter. "Pak! Pak! Lihat ada siapa di TV!" Gue tertawa girang dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Terri, Bindi dan Robert "Bob" Irwin ada di acara Hitam Putih Trans 7. Bagaimana bisa gue nggak tahu kehadiran mereka di Indonesia sementara gue memfollow twitter mereka dan bahkan twitter Australia Zoo. Acara sepertinya sudah berlangsung setengah jalan, jadi gue terlewat untuk mengetahui tujuan mereka datang ke sini. Dengan tangan gemetar gue mengambil handphone dan mengetik kata kunci "Bindi Irwin di Indonesia" di kolom google. Nggak banyak berita yang keluar, kecuali bahwa mereka sempat ke Gandaria City Jakarta untuk promo "Wild But True" nya Robert Irwin. Nggak ada informasi apakah mereka sudah kembali ke Australia atau belum. Di layar televisi pun nggak ada keterangan apakah mereka tampil live atau taping. Gue heran mengapa di twitter mereka sama nggak menyebutkan tentang rencana kehadiran ke Indonesia, padahal biasanya mereka (terutama Bindi dan Terri) selalu update pada penggemarnya. 
"Sudah, Jakarta kan dekat. Kalau mereka masih di sana hari minggu kita bisa susul," begitu kata Bapak.



Bagi teman-teman sebaya gue Irwin's Family mungkin nggak begitu populer, tapi bagi gue mereka adalah hero! Terutama Steve Irwin, ayah dari Bindi dan Robert sekaligus suami dari Terri yang telah meninggal dunia pada tahun 2006 lalu. Steve Irwin adalah bagian dari masa kecil gue, bagian dari khayalan dan obsesi yang kemudian membentuk tentang masa dewasa yang gue inginkan. Dulu, setiap sore gue selalu menonton The Crocodile Hunter, dimana Steve menunjukan kepiawaiannya dalam menangkap buaya sekaligus berbagi tentang rasa hormatnya kepada hewan buas yang cantik itu. Gue ingat ia menyebut dirinya "Steve-O" dan berbicara dengan lantang. Ketika ada buaya mendekat ia akan memelankan suaranya dengan logatnya yang sangat khas (saat mengetik ini pun rasanya gue mendengar ia berbicara di kepala gue, hihihi). Menontonnya di TV rasanya seperti mengikuti kehidupannya. Mungkin gue masih kecil tapi gue sudah bisa merasakan bahwa ia adalah pria yang baik. Gue ingat ketika ia berbicara tentang Terri istrinya. Betapa Steve sangat mencintainya sehingga Terri rela untuk meninggalkan negara asalnya. "Cinta pada pandangan pertama," begitu katanya. Juga ketika Bindi putri pertamanya lahir, lalu disusul oleh Robert putra keduanya. Ia sosok ayah yang penyanyang dan menyenangkan, membuat gue semakin mengaguminya. Gue juga ikut menangis ketika Sui anjing kesayangannya mati karena sakit dan sudah tua...

Buku harian gue, 12 tahun yang lalu.

Steve Irwin semakin menumbuhkan kecintaan gue terhadap binatang. Sejak bayi gue memang selalu dikelilingi binatang peliharaan, tetapi Steve membuat gue mempunyai tujuan. Gue mulai tertarik dengan konservasi fauna, mencari tahu kemana gue harus membantu jika ada binatang-binatang terlantar. Gue juga belajar untuk menghormati, sekecil apapun binatang yang ada di sekitar gue. Gue mulai dengan membuat "animal diary", yaitu sebuah buku harian yang memuat update tentang binatang peliharaan gue dan binatang-binatang yang terkenal. Kisah pertama yang gue tulis adalah tentang seekor Panda tua di Cina, yang sedihnya berakhir mati karena sakit :( Dengan uang jajan yang ditabung cukup lama gue juga membeli VCD-VCD Steve Irwin. Dan ketika Crocodile Hunter nggak ada lagi di TV gue semakin sering menonton ulang koleksi VCD nya.

Ketika mendengar kabar tentang kepergiannya gue sangat terkejut. Ada rasa haru yang aneh karena gue nggak pernah mengenalnya secara personal. Dunia kehilangan salah satu penghuni terbaiknya, seseorang yang (at least di mata gue) mempunyai aksi nyata untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Meski begitu kepergiannya nggak membuat gue berhenti terinspirasi. Bindi, putrinya yang mulai besar mempunyai acara sendiri dan berbagi passion yang sama dengan ayahnya. Gue ingat melihatnya di acara Oprah, ia bernyanyi lagu rap "Trouble in the Jungle" dengan lirik sederhana yang menyentuh. Ia meneruskan jejak ayahnya dengan caranya sendiri dan melakukannya karena ingin, bukan hanya karena sebuah keharusan. Bindi membuat semangat gue semakin besar. Gue bangga menjadikannya seorang inspirasi baru meski ia berusia lebih muda dari gue.

Koleksi VCD Steve Irwin "The Crocodile Hunter" hasil menabung dari uang jajan :)


Waktu kecil punya buku harian yang isinya tentang binatang.

Ide Bapak untuk menyusul keluarga Irwin ke Jakarta terpaksa batal. Mereka ternyata sudah kembali ke Australia dan entah kapan akan berkunjung kembali ke sini. Mengingat bahwa gue hanya terlambat beberapa hari dengan jarak yang cukup dekat membuat gue merasa kecolongan. Padahal ingin rasanya gue menyapa Terri, Bindi dan Robert sambil menyampaikan rasa kagum gue terhadap mereka. Gue juga ingin menunjukan koleksi VCD-VCD  dan "animal diary" gue agar Bindi dan Robert tahu betapa berpengaruhnya ayah mereka terhadap gue... Bapak menenangkan gue, beliau bilang ini mungkin bukan waktunya. Suatu hari akan ada kesempatan dengan skenario indah untuk bertemu mereka. Seperti ketika tahun lalu Aerosmith yang sudah gue tunggu sejak berusia 7 tahun batal datang ke Indonesia. Tuhan ternyata punya rencana lain untuk mempertemukan kami di Singapore dengan jalan yang bahkan nggak berani gue impikan. Mungkin suatu hari gue yang menemui mereka di Australia, siapa tahu... Yang pasti sambil menunggu hari itu datang gue akan terus menumbuhkan kecintaan gue terhadap binatang, dengan rasa hormat seperti yang diajarkan oleh keluarga Irwin.


note:
*Tanggal 15 November diperingati sebagai hari Steve Irwin (Steve Irwin Day) untuk menghormati hidup dan legacy nya. Meskipun gue selalu memakai dress colorful, gue ingin selama 1 hari saja memakai setelan khaki ala Irwin's Family :)
*Foto gue yang sedang memegang VCD-VCD Steve Irwin dilihat oleh account Australia Zoo (kebun binatang milik Irwin's Family) dan mereka berkomentar "Thanks for being a wildlife warrior!". Really made my day :)
* Gue membuat novel dengan judul "Guruku Berbulu dan Berekor" yang royaltinya didonasikan untuk penampungan-penampungan hewan di Indonesia. Meskipun hanya langkah kecil, gue harap bisa melanjutkan spirit dari Steve Irwin :)
*Dan yes, nama gue "Indi". Seperti "Bindi" tapi tanpa huruf "B", hihihi.

***

Update:
Australia Zoo akhirnya membaca postingan ini! Sungguh sebuah kehormatan! :)



Crikey!

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469


Rabu, 12 November 2014

Update Scoliosis Gue: Alasan Lain Kenapa Memakai SpineCor :)


Haiiiiiii, bloggies apa kabar? Semoga semuanya baik, ya :) In case ada yang bertanya, kabar gue juga baik, hihihi. Gue lagi happy dengan another good news dari perkembangan scoliosis gue. Sudah pada tahu kan kalau selama 6 bulan terakhir gue memakai SpineCor alias soft brace? (lihat cerita sebelumnya di sini, di sini dan di sini). Jadi beberapa waktu lalu gue kembali bertemu dengan Dr. Natalie, karena selama pemakaian SpineCor setiap 1 bulan sekali gue harus review. Setelah perjalanan yang super macet (Bandung-Jakarta saja sampai 6 jam lebih, dong!) rasa pegalnya langsung terbayar. Dr. Natalie berkata tulang belakang gue "amazing". Masih terlalu dini untuk x ray ulang, tapi dia optimis dengan hasilnya :)

Sejak hari pertama gue memakai SpineCor sampai hari ini, gue masih takjub dengan cara kerjanya yang 'nggak terasa'. Waktu gue pakai boston brace, 23 jam sehari, 7 hari seminggu (yang pernah menonton film MIKA pasti tahu maksud gue, hihi), aktifitas gue jadi terbatas. Gue nggak bisa menunduk, tidur menyamping dan melakukan semua hal yang memutuhkan kelenturan alami tubuh gue. Tapi dengan SpineCor gue melakukan semuanya tanpa hambatan, bahkan kalau nggak gue beri tahu orang pasti nggak mengira kalau gue memakai brace karena SpineCor bisa tersembunyi dengan sempurna di balik baju. Meski sangat lentur dan tipis (yup, nggak memberi "efek gemuk" seperti boston brace) SpineCor membuat hidup gue lebih berkualitas. Keluhan khas yang ditimbulkan dari scoliosis seperti kebas, kesemutan dan pegal-pegal sedikit demi sedikit berkurang, jadi kegiatan gue sehari-haripun lebih maksimal :)

SpineCor tersembunyi di balik baju dan super nyaman :)


Meski awal keinginan gue memakai SpineCor adalah karena melihat Lourdes, putrinya Madonna yang tetap super stylish meskipun scoliosis. Sekarang alasan kenapa gue memakai SpineCor semakin bertambah. Gue diberitahu oleh Dr. Natalie tentang fakta-fakta yang bikin gue semakin semangat untuk lebih membaik. Pertama, SpineCor ternyata terbukti lebih efektif 3,7 kali daripada hard brace (seperti boston brace yang dulu gue pakai) untuk mencegah operasi. Karena lebih baik dalam menstabilkan dan mengendalikan scoliosis. Dan yang kedua, SpineCor secara klinis sudah terbukti memiliki 89% keefektifan terhadap pasien. Ini menurut penelitan selama 10 tahun terhadap lebih dari 40 pasien, lho. Jadi meskipun sekali scoliosis tetap scoliosis, dengan SpineCor kesempatan gue untuk membaik lebih besar :)

Meski tipis tapi keefektifannya mencapai 89% :)


Gue berbagi pengalaman gue selama memakai SpineCor di blog ini karena tahu betul bagaimana nggak nyamannya scoliosis. Gue baru ketahuan setelah kurva mencapai 35 derajat. Masih ringan, tapi sebenarnya sudah bisa terlihat ciri-cirinya. Tapi dulu gue dan keluarga sama sekali nggak mengerti apa itu scoliosis, padahal cara mendeteksinya sangat mudah. Gunakan metode "Adam's Forward Bend Test", yaitu membungkuk seperti gerakan shalat rukuk, lalu dengan bantuan orang lain lihat permukaan punggung kita, apakah terlihat menonjol sebelah atau nggak. Jika terlihat ada yang menonjol segera konsultasikan dengan dokter, karena penggunaan SpineCor akan lebih efektif jika kurva masih kecil. Meski begitu bukan berarti yang sudah terlanjur berkurva besar nggak bisa memakai SpineCor. Ada faktor lain yang juga menjadi penyebab efektif atau nggaknya Spinecor, seperti usia dan kedisiplinan. Yang kedua itu jauh lebih penting daripada faktor kurva dan usia. Gue sudah berusia mature (di atas 18) dengan kurva besar (52 derajat) buktinya masih bisa turun 12 derajat dengan pemakaian teratur sesuai yang dianjurkan dokter :D

Gue tahu kadang membicarakan scoliosis itu nggak mudah. Dulu gue juga selalu menghindar kalau ada yang menyinggung tentang kelainan tulang belakang gue ini. Alasannya karena nggak semua orang mengerti dan karena tahu bahwa scoliosis nggak bisa sembuh dengan minum obat 3 kali sehari dan istirahat yang cukup ---somehow bikin gue sedih---. Tapi sekarang gue rasa yang terbaik adalah dengan membicarakannya, dengan sharing. Karena scoliosis bukan akhir segalanya dan dengan kemajuan tekhnologi, kita, scolioser bisa membaik :) Jadi jika ada diantara teman-teman yang juga scoliosis, atau mengenal seseorang yang scoliosis, please jangan dibiarkan tapi segeralah berkonsultasi dengan dokter.

Oh iya, waktu review pemakaian SpineCor gue diberitahu bahwa Back Up Clinic sekarang sudah berganti nama menjadi Spine Body Center. Lokasinya berdekatan dengan yang lama, kok. Yaitu di APL Tower lantai 25 (samping Central Park Mall) Jakarta. Jika mau bertanya seputar SpineCor atau membuat janji dengan dokternya bisa telepon ke (021) 2933 9295
Bulan depan gue juga akan kembali lagi ke sana untuk review, nggak sabar dengan hasilnya, hihihi. Okay, sekian dulu ya update tentang pemakaian SpineCor nya, sekarang gue mau tidur dulu karena sudah super larut. See you, teman-teman! :D

smile,

Indi



_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Jumat, 07 November 2014

Ada Hello Kitty di Wadah Bekal Gue! :D

Horeee, di Lock&Lock sekarang ada gambar idola gue :D

Howdy-do, bloggies?!! Ah, nggak terasa ya sekarang sudah masuk bulan November. Rasanya baru saja gue melewati ulang tahun Puja dan Bapak, lalu Halloween, eh tahu-tahu bulan sudah berganti, hihihi. Tapi nggak apa-apa, itu artinya kita menikmati hari-hari sepanjang bulan Oktober, dan semoga saja bulan ini juga ya ;)

Teman-teman pembaca 'Dunia Kecil Indi' mungkin sudah tahu kalau gue selalu bawa bekal dari rumah. Hihi, dan bukan cuma untuk piknik tapi juga ketika gue bekerja. Meskipun ada yang bilang seperti anak TK, tapi gue nyaman-nyaman saja, tuh. Dari mulai TK, sekolah, kuliah sampai sekarang gue tetap betah bawa makanan dari rumah :) Alasannya, gue adalah penggemar berat masakan Ibu, jadi dimanapun maunya cita rasa yang sudah akrab di lidah. Dan gue juga pesco vegetarian, jadi kadang sulit menemukan menu yang 'aman'. Juga tentu saja karena alasan kebersihan, dengan membawa bekal dari rumah gue tahu persis seperti apa proses memasaknya dan wadah untuk membawanya :)

Berhubung gue suka banget dengan karakter Hello Kitty (nah kalau ini sih seluruh dunia juga tahu, hihihi), jadi wadah bekal alias lunch box gue pun harus bergambar si kucing centil itu. Gue punya beberapa dan modelnya pun lucu-lucu. Tapi kata Ibu gue harus waspada, karena bahannya dari plastik nggak jelas bisa saja berbahaya untuk kesehatan jika dipakai terlalu lama. Hiii, seram, ya :( Gue pun jadi sering berganti-ganti lunch box karena takut lapisan plastiknya terkikis setelah sering dicuci dan nantinya malah termakan bersama bekal gue :O
Kadang-kadang gue dibujuk Ibu untuk memakai lunch box Lock&Lock miliknya. Beliau bilang punyanya lebih aman daripada punya gue. Kalau sudah begitu gue menurut karena alasannya kesehatan. Dan supaya tetap ada Hello Kitty nya, jadi gue tempeli saja dengan sticker, huhuhu :')

Tapi sekarang gue punya Lock&Lock bergambar Hello Kitty sungguhan, lho! Sepertinya memang too good to be true ya, tapi setelah melihatnya sendiri gue percaya :D Berbeda dengan milik Ibu, Lock&Lock gue ini edisi Hello Kitty yang tampilannya lebih cute dan stylish. Saking stylish nya lunch box yang biasanya tersembunyi sekarang malah gue jinjing dengan percaya diri. Soalnya tas nya pun bergambar Hello Kitty, sih, hihihi. Meskipun imut, kalau soal kualitas ternyata sama kerennya seperti punya Ibu. Lunch box gue terbuat dari bahan-bahan yang aman seperti Polypropylene dan plastik Tritan. Tanpa BPA yang artinya aman untuk dipakai seluruh keluarga, termasuk anak-anak. Keren sekali, ya :)



Selain aman dan imut, lunch box Lock&Lock Hello Kitty ini juga ringkas untuk dibawa kemana-mana. Di dalam salah satu box ada wadah berukuran kecil yang bisa dilepas pasang. Cocok untuk membawa beberapa buah potong, permen atau puding supaya nggak tercampur. Modelnya yang transparant juga membuat gue nggak harus membuka lunch box satu persatu untuk mengambil makanan yang gue inginkan, jadi membantu gue untuk lebih rapi, deh, hihihi.



Oh, iya selain lunch box, Lock&Lock ternyata punya tumbler (vacuum bottle) dengan edisi Hello Kitty juga, lho! Senang sekali, karena super cute gue jadi termotivasi buat minum lebih banyak, hihihi. Kalau soal keamanan Lock&Lock memang nggak perlu diragukan, deh. Di tutup tumbler terdapat silicon, jadi nggak perlu khawatir soal bocor. Permukaan botolnya juga lebar jadi gampang banget buat dibersihkan. Oh, iya gue kan suka banget minum jus. Kemarin gue coba isi tumbler ini dengan jus stroberi, ternyata sampai sore masih fresh dan dingin lho! Ini karena di bagian dalam tumbler terdapat 4 lapis stainless steel, jadi baik minuman dingin maupun panas akan tahan sampai 8 jam :D



Hihi, gue jadi nggak sabar untuk piknik atau bepergian jauh. Lunch box dan tumbler gue pasti jadi yang paling cute diantara teman-teman gue :D Eh, tapi kalau mau cute bareng-bareng juga nggak apa-apa, kok, biar kompak ;) Dan sekarang Ibu nggak khawatir lagi dengan wadah untuk bekal gue, malah beliau penasaran dengan model lain Lock&Lock edisi Hello Kitty ini. Katanya selain aman dan ringkas bentuknya juga lucu, jadi bagus buat koleksi. Horeeee, senang deh kalau Ibu juga senang, siapa tahu nanti dibelikan model yang lain :p
Nah, siapa nih diantara teman-teman yang juga suka bawa bekal? Ceritakan pengalaman kalian, ya! :)

cheers,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 02 November 2014

Halloween Costumes DIY Project: Tinker Bell and Peter Pan :)

Yay, Halloween! Teman-teman yang sering mampir ke sini pasti tahu kalau gue suka sekali dengan Halloween. Setiap tahun gue pasti berusaha untuk memakai kostum dan berdandan seperti tokoh kesukaan gue :D Untuk teman-teman yang belum tahu, Halloween ala gue bukan Halloween seperti di Irlandia, negara asalnya yang berhubungan dengan kepercayaan dan arwah. Tapi hanya untuk bersenang-senang bersama keluarga, Ray atau teman-teman. Nggak ada 'trick', yang ada hanya 'treat' dan marathon film yang nggak harus seram, hihihi :)

Menurut gue yang paling awesome menganai Halloween ---selain permen--- adalah proses pembuatan kostum. Setiap tahun gue selalu berusaha hanya mengeluarkan budget minimal saja untuk kostum. Semakin kecil biaya yang dikeluarkan, maka gue semakin bangga. Beruntung sekali gue mempunyai Ibu dan Bapak yang sangat suportif. Mereka selalu senang jika bisa membantu gue dengan memberikan ide atau membuatkan kostum. Gue tahu ada orang tua yang menganggap Halloween itu "apa-apaan", tapi nggak dengan Ibu dan Bapak, mereka mengerti bahwa ini sekedar have fun yang hanya satu tahun sekali :)

Tahun lalu gue menjadi Dorothy Gale, idola gue dari dongeng Wizard of Oz. Untuk tahun ini ada beberapa tokoh yang melintas di kepala gue. Sempat terpikir untuk jadi Princess Anna dari Frozen, soalnya sepupu-sepupu cilik gue selalu rebutan jadi Queen Elsa kalau lagi roleplay, jadi ceritanya gue mengalah :p Tapi lalu gue terpikir dengan kepergian aktor favorit gue, Robin Williams, gue jadi ingin memakai kostum yang didedikasikan untuknya. Banyak filmnya yang berkesan (I'm his big fans, kapan-kapan gue ceritakan, ya), salah satunya adalah Hook yang menceritakan masa dewasa Peter Pan. Gue nggak pernah suka dengan ide Peter Pan tumbuh dewasa, tapi dengan Robin Williams filmnya ternyata jadi briliant! :) Karena gue perempuan dan suka pakai dress, jadi gue putuskan untuk menjadi Tinker Bell dan Ray yang menjadi Peter Pan. Gue re-watch beberapa versi film Peter Pan dan buka kembali buku ceritanya untuk referensi kostum, sambil memikirkan juga bahan-bahan apa saja yang sudah ada di rumah gue. 
Oh, iya Mika dulu terobsesi sekali dengan Neverland (tempat ringgal Peter Pan). Jadi gue rasa kostum ini juga bisa didedikasikan untuknya. Mika dan Robin Williams, dua orang "Peter Pan" yang sama-sama sudah pulang ke Neverland :)


Kostum Tinker Bell
Sama seperti Peter Pan, Tinker Bell juga punya banyak versi. Yang paling sederhana dan mudah diikuti adalah versi Disney yang juga favorit gue (buku cerita yang gue punya keluaran Disney, hehehe). Yang dibutuhkan untuk menjadi Tinker Bell adalah:
1. Dress.
Tink punya model dress spesifik yang menurut gue terlalu terbuka dan bakal hanya tersimpan di lemari saja jika Halloween selesai. Jadi gue buat (baca: gue yang mendesain dan Ibu yang membuat) dengan model sesuka gue, yang terpenting terlihat fairy dan bisa dipakai lagi untuk sehari-hari :) Kain yang digunakan berjenis katun dengan harga yang paling terjangkau di toko kain. Gue buat bagian bawahnya mengembang dan ditempeli pompom-pompom kecil sebagai pixie dust nya :)

2. Sayap
Nah, ini lumayan menantang. Harga sayap ala peri yang dijual di toko kostum dan mall ternyata cukup tinggi, sampai-sampai bikin gue sempat pikir-pikir lagi untuk menjadi Tinker Bell. Untung saja Bapak sangat kreatif. Beliau membuat sayap dari bahan-bahan yang sudah ada seperti gantungan baju, stocking bekas dan lakban. Dengan bantuan tang, Bapak membengkokkan 4 buah gantungan baju lalu membentuknya menjadi sayap dan melekatkannya dengan lakban. Setelah itu dibungkus dengan stocking bekas. Supaya tampilannya nggak terlalu terlihat sebagai project low budget (lol), gue hiasi sayap dengan pompom dan glitter. Ini juga berfungsi sebagai penutup lubang-lubang bekas jempol kaki gue di stocking :D




3. Sepatu 
Tink pakai sepatu dengan pompom besar di ujungnya. Sayangnya gue hanya punya yang ukurannya kecil-kecil. Jadi gue lekatkan saja 3 buah pompom di masing-masing sepatu. Supaya mudah dilepas kembali gue lekatkan dengan mountain tape dan fabric glue :)


4. Aksesoris rambut 
Rambut gue panjangnya lagi nanggung. Pendek enggak, tapi panjang pun belum, hehehe. Untuk membuat cepol ala Tink yang di puncak kepala, ternyata lumayan membutuhkan banyak hairspray dan gue nggak nyaman. Jadi dari sisa kain gue buat saja bentuk daun dan digambari dengan glitter. Lalu gue tempel ke bando dengan menggunakan mountain tape supaya letaknya bisa diatur dan dilepas kalau sudah nggak dipakai.


Gue puas dengan hasilnya. Setelah dipadukan ternyata cukup terlihat seperti Tinker Bell :) Budget yang dikeluarkan pun sangat minimal, gue hanya membeli kain hijau dan glitter. Itu pun sisanya masih banyak dan bisa dipakai kerajinan tangan yang lain. Untuk gantungan baju, tenang saja, Bapak memakai yang sudah karatan, kok, hehehe. Dan melihat hasilnya gue rasa masih bisa dipakai sampai tahun-tahun kedepan karena nggak kalah seperti buatan toko! Ibu sampai bergurau kalau gue bisa saja menjualnya dan orang-orang akan membelinya karena jauh lebih murah dari di toko :D



Untuk kostum Peter Pan yang akan dipakai Ray malah lebih mudah lagi. Disiapkannya pun benar-benar last minute, hanya 1 hari sebelum Halloween. Ray sempat menelepon gue sepulang bekerja, katanya ia sedang berada di mall dan mau mencari kaus hijau untuk kostum Peter Pan nya. Langsung saja gue larang dan memintanya menggunakan apa yang ada di rumah. Lebih baik uangnya digunakan untuk membeli permen yang banyak :D

Kostum Peter Pan:
Sama seperti kostum gue, supaya mudah gue mengambil referensi dari versi Disney (yup, sama seperti tahun sebelumnya kostum Ray gue yang "desain", hehehe). Kostum Peter Pan sama-sama berwarna hijau seperti Tinker Bell, tapi hijaunya sedikit lebih tua. Yang khas adalah topi yang berhiaskan bulu merah di sebelah kiri. Kreasi kostum Peter Pan gue seperti ini:
1. Baju
Berhubung gue bilang untuk memakai apa yang ada, akhirnya Ray memakai kemeja polos berwarna hijau tuanya. Dengan membuka kancing atas dan memakainya dengan cara nggak dimasukan ke dalam celana, tampilannya langsung mirip kostum Peter Pan.
2. Topi
Gue belum pernah coba cari, sih. Tapi sepertinya akan sulit mencari topi ala Peter Pan apalagi dengan budget yang minimal, hehehe. Jadi gue mencari video tutorial cara membuat topi Peter Pan sederhana di YouTube. Ternyata caranya mudah, gue tinggal melipat bahan seperti cara melipat perahu-perahuan yang diajarkan waktu kecil. Bedanya dengan video, gue mengganti bahan kertas karton dengan kain flanel. Super cheap, tapi tampilannya bikin beda, mirip topi sungguhan. Untuk bulu merah yang disematkan di sisi kiri, gue memotong box bekas lensa kontak dan membentuknya menjadi bulu. Untuk warnanya gue menempelkan kain perca berwarna merah. Kebetulan Ibu punya butik, jadi gue bisa minta sisa-sisa kain, hehehe.


3. Celana
Ingat nggak kalau pemeran Peter Pan selalu perempuan kecuali di film terbaru (produksi tahun 2003)? Sepertinya agak kurang enak dilihat kalau laki-laki dewasa pakai legging ya? Hehehe. Jadi gue minta Ray menggantinya dengan celana berwarna coklat atau hijau yang ketat. Tapi yang Ray punya dan bermodel skinny hanya yang berwarna hitam. Berhubung bukan hal yang iconic jadi warna apapun asal gelap nggak masalah :)
4. Sepatu dan sabuk
Well, gue sama sekali nggak mempermasalahkan; asalkan boots dan lilitkan sabuk di pinggang, jadilah Peter Pan!


Dan yay! Lagi-lagi gue puas dengan hasilnya. Setelah semuanya dipadukan Ray terlihat seperti Peter Pan, hanya saja ia berkacamata minus, hehehe. Budget yang dikeluarkan pun hampir Rp.0, kecuali untuk membeli flanel. Itu pun hanya terpakai sedikit, sisanya gue pakai untuk menutupi lakban di sayap, hehehe.
Dan inilah kami berdua, menjadi Tinker Bell dan Peter Pan dengan kostum yang sangat membuat kami senang meskipun dengan budget yang minimal. Karena seperti kata Peter Pan, yang kita butuhkan hanyalah Faith, Trust, Pixie dust... dan sedikit kreativitas! Hihihi :)


bangerang,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469