Teman-teman yang menyukai "Dunia Kecil Indi"

Rabu, 16 Juli 2014

AIDS Time: Yayasan AIDS Indonesia Roadshow to School-SMPN 178 Jakarta :)




Hai bloggies! Nggak seperti biasanya ya gue post di luar weekend, hehehe. Kebetulan hari ini gue sedang izin bekerja karena diundang sebagai bintang tamu di event nya Yayasan AIDS Indonesia, jadi sebelum tidur gue putuskan untuk share cerita singkatnya :)
Mungkin teman-teman sudah ada yang tahu bahwa sejak tahun 2007 (atau 2006, ya? Lupa, lol) gue terdaftar sebagai relawan di Yayasan AIDS Indonesia. Meskipun cukup rutin keep in touch dengan teman-teman di sana, tapi kehadiran gue semakin jarang karena kesibukan belakangan ini dan tentu saja karena jarak Bandung-Jakarta yang lumayan jauh. Jadi waktu mereka mengundang gue sebagai bintang tamu di event AIDS Time tadi siang, gue langsung mengiyakan meskipun sebenarnya gue sedang nggak libur, hehehe.

AIDS Time adalah kegiatan rutin yang diadakan oleh Yayasan AIDS Indonesia (YAI). Tempat dan temanya selalu berbeda, tapi tujuannya tetap sama yaitu mengedukasi masyarakat, terutama anak muda tentang HIV/AIDS. Kebetulan film Mika (inspired by Waktu Aku sama Mika) yang merupakan kisah hidup gue dan alm. Mika dipakai sebagai film yang diputar selama event AIDS Time, tapi baru di hari ini lah gue bisa bergabung :)

AIDS Time hari ini diadakan di SMPN 178 Jakarta. Karena macet dan sempat nyasar, gue yang diantar oleh Bapak baru datang 10 menit sebelum segmen gue dimulai. Sayang sekali, padahal sebelumnya sedang diputar film Mika, lho. Meskipun sudah puluhan kali menonton film itu, tapi rasanya selalu penasaran dengan reaksi orang-orang yang baru pertama kali menontonnya. Syukurlah rasa penasaran gue terobati, dari wajah-wajahnya teman-teman siswa SMPN 178 sepertinya menikmati film Mika. Thank God :)

Di segmen talkshow gue nggak sendirian, ada bintang tamu lain yang bernama Sheryl Sheinafia. Ia adalah seorang penyanyi yang telah mengeluarkan sebuah album yang sangat care dengan isu HIV/AIDS. Gue baru pertama kali bertemu dengannya, tapi langsung suka dengan suaranya :) 
Sebelum sesi tanya jawab gue sempat sedikit bercerita tentang latar belakang kenapa gue menulis novel "Waktu Aku sama Mika" dan kenapa gue peduli dengan isu HIV/AIDS. Waktu gue bercerita ternyata sebagian besar audience kaget karena baru tahu bahwa kisah gue dan Mika adalah nyata. Mungkin mereka terkejut karena gue sempat berpacaran dengan Mika yang ODHA sampai akhirnya ia meninggal. Tapi gue yakinkan mereka bahwa berpacaran dengan Mika bukan berarti gue kehilangan moment-moment seru. Gue tetap menilai Mika secara utuh karena menjadi ODHA bukan berarti berbeda seperti orang lain. He was the most grateful person I ever met. Semuanya mengenai kepribadian, bukan mengenai apa yang Mika idap.

Acara ditutup dengan sesi tanya jawab. Sungguh membanggakan, teman-teman SMPN 178 sudah tahu dengan apa saja yang bisa dan nggak bisa menularkan HIV/AIDS. Meski sempat malu-malu tetapi mereka cukup kritis lho ketika mengajukan pertanyaan. Thumbs up untuk Yayasan AIDS Indonesia yang sudah membuat acara fun tapi kaya manfaat. Mudah-mudahan saja event rutin ini akan tetap berlangsung sehingga lebih banyak lagi anak muda yang peduli dengan isu HIV/AIDS. Karena menurut gue ini bukan hanya tentang bagaimana caranya untuk mencegah diri sendiri supaya nggak terjangkit. Tapi juga bagaimana caranya agar menghilangkan stigma atau judgement pada ODHA. Karena gue percaya obat yang paling ampuh untuk segala hal adalah kasih sayang dan tanpa prasangka buruk :)


sugar kecilnya Mika yang sudah besar,

Indi

Lihat foto lengkap dari kegiatan ini di sini.
_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

18 komentar:

  1. dari kegiatan seperti ini bisa dikenalkan bahaya AIDS dan harus di hindari

    BalasHapus
  2. Saya sepakat. Semakin banyak acara bertema WOrkshop AIDS ini bisa lebih disosialisasikan lagi ke masyarakat dari segala lapisan. Sehingga bahaya penularan penyakit AIDS bisa dihindarkan.

    BalasHapus
  3. Good luck Indi. Biarlah kisah hidup kita bisa memberkati/ memotivasi banyak orang

    BalasHapus
  4. Yayasan seperti ini bisa membantu menghindari penyakit berbahaya AIDS atau setidaknya membuat ODHA tidak terlalu terintimidasi karena dikucilkan

    BalasHapus
  5. seru ya kalo jadi duta anti aids...

    Saya... kalo jadi Kak Indi dengan pengalaman yang begitu w-o-w (seperti yang dikisahkan di film mika), beuh, nggak tahu harus bagaimana.
    Memang ya Kak, mungkin saya memang nggak akan apa-apa jika saya berteman dengan ODHA, tapi orang tua itu loooh... sangat anti dengan ODHA, khawatir terbawa arus.. Tapi yaa, kitanya sebagai remaja sudah sadar diri dari jauh-jauh hari...

    Acaranya rame banget Kak..
    Sekolahnya peduli banget untuk kampanye HIV/AIDS

    BalasHapus
  6. Workshop ini banyak manfaatnya banget ya, Mbak.. Jadi bisa lebih paham gimana AIDS dan ODHA gitu, ngga sekedar nyangka atau suudzon berdasarkan mitos doank..

    BalasHapus
  7. Mengedukasi anak-anak sejak dini yah. kalau sudah mendapatkan pemahaman, mereka menjadi lebih mawas diri. iyah Mbak Indi, biar tidak salah kapra juga. pastinya bermanfaat sekali acara ini.

    BalasHapus
  8. Keren banget, bisa mensosialisasikan AIDS ke adek2. :D

    BalasHapus
  9. Semoga acaranya bermanfaat buat teman-teman di sana, harusnya di buat secara nasional tuh sosialisasinya.

    Halo mbak indi, salam kenal. Senang bisa berkunjung kesini. Visit back web kita ya smansa-radio.com

    BalasHapus
  10. seru banget acaranya,,,selain menginpirasi juga dapat ilmu,,sukses terus buat Indi,,,

    BalasHapus
  11. @ LIDYA: Betul, mbak. Sekaligus untuk lebih menghargai sesama, bagaimana pun keadaannya :)

    @ ASEP: Iya, dengan mensosialisasikan bagaimana AIDS bisa menular juga bisa membuat teman-teman tahu bahwa gak ada seorang pun yang 'imun' dengan AIDS. Siapa saja bisa tertular, termasuk kita. Dengan begitu diharapkan gak ada lagi prasangka/stigma pada ODHA :)

    @ ASYIKNYA: Terima kasih. Amen :)

    @ OCHA: Nah, itulah kenapa diadakan acara ini, supaya menghapus prasangka pada ODHA. Termasuk mama-papa kita, agar mereka mengerti bahwa berteman dengan ODHA sama saja berteman dengan teman kita yang lainnya :) Kalau sekolah/kampusmu mau didatangi juga oleh YAI boleh, kok. Kontak saja mereka :)

    @ CARA: Silakan :)

    @ BEBY: Iya, supaya kita semua berbaik sangka jika bertemu dengan orang baru. Termasuk dengan ODHA. Aku yang HIV negatif saja belum tentu lebih baik dengan temanku yang ODHA, kok :)

    @ RICHO: Betul, sedini mungkin agar gak salah pengertian :)

    @ HENA: Adik-adiknya nih yang keren, mereka open minded :)

    @ SMANSA: Amen... Memang nasional, kok. Kalau yang di luar Jakarta mau didatangi oleh YAI juga boleh, kontak saja :) Salam kenal kembali ya, nanti aku mampir :)

    @ DWIEX'Z: Terima kasih. Amen... :)

    BalasHapus
  12. Acaranya keren nih... semoga dapat dilakukan di semua sekolah yg ada di Indonesia dan mengedukasi seluruh para remaja tentang HIV-AIDS

    BalasHapus
  13. Selamat.

    Anyway, ada kemungkinan nggak buku-buku lainnya ikut difilmkan? Penasaran, hehehe.

    BalasHapus
  14. ini nih yang diperlukan remaja sekarang, apalagi di kalangan ortu pendidikan seks msh dianggap tabu.

    blog nya girlie banget, salam kenal mbak indi :)

    BalasHapus
  15. @ RENI: Amen... mudah-mudahan semakin merata kampanyenya, dan semakin banyak orang yang care dan open minded :)

    @ IMMANUEL: Thanks :) Penasaran sama apa nih? Hehehe. Kemungkinan selalu ada, dong. Doanya saja, ya :)

    @ PSYCHOSOCIAL: Iya, padahal pendidikan seks itu penting, remaja kan harus dibekali sedini mungkin supaya gak ada salah pengertian *sok tua, hehehe* Salam kenal kembali, ya :)

    @ NURMAYANTI: Thanks :)

    BalasHapus
  16. salam kenal kak indi.. pengen banget gabung d yayasan ato lembaga peduli HIV/AIDS n ODHA.. ato mungkin yayasan yg memberi penyuluhan kyak kak indi itu.. sekarang q sadar betapa pentingnya sex education n narkoba pemahaman lebih tentang bahaya2nya setelah q hampir terinfeksi.. sempet beberapa kali tes Elisa., n mesti nunggu berbulan2 untuk bisa yakin betul qt tertular ato gak,.alhamdulillah negatif. Biarpun gitu, mengalami sendiri "hampir" jadi ODHA adlh pengalaman yg gak akan bisa q lupakan. Dag dig dug nya itu lho, membuatq sadar akan perasaan sodara2 qt para ODHA.. setelah baca sana sini tentang HIV, q yakin, Ya, AKU PEDULI ODHA..!!
    Kak indi ato tmen2 lain ada info ga dimana bisa daftar jadi relawan peduli HIV/AIDS? Kebetulan q kerja n tinggal d denpasar.. mgkin q gaptek kali yah, q cari d mbah google gak ketemu.. hehe..

    BalasHapus

Terima kasih untuk komentarnya, it's really nice to hear from you :)