Minggu, 30 Agustus 2015

Indi Sugar Menantang Kalian Potong Rambut untuk Kanker! :)

Teman-teman yang waktu itu ramai bertanya tentang donasi rambut mana nih suaranya? :) Aku sempat dapat banyak sekali tanggapan dan pertanyaan tentang donasi yang aku lakukan tahun lalu, tapi ternyata banyak yang batal ikutan dengan alasan biaya pengiriman rambut yang cukup mahal :(
Nah, sekarang ada alternatifnya nih teman-teman. Kalian tetap bisa ikut berdonasi tanpa harus membayar mahal :)

Aku ajak kalian untuk mengikuti tantangan Shave for Hope 2015. Caranya seperti ini:
1. Buat video yang berisi before dan after pemotongan rambut kalian. Untuk laki-laki sampai botak dan untuk perempuan minimal di atas bahu.
2. Di video berikan ucapan untuk Shave for Hope dan pesan untuk adik-adik yang mengidap kanker.
3. Jangan lupa akhiri video dengan tagline, "Be the hero, be the hope".

Setelah itu upload video kalian ke YouTube dengan judul #SFH2015Challenge, nantinya setiap video akan dihargai Rp.100.000 dan uangnya akan digunakan untuk donasi atau untuk bantuan biaya pengobatan adik-adik di YPKAI-3C. Kirim melalui email link video kalian ke sfh2015challenge@gmail.com, dan... selesai! Dengan cara sesederhana itu kalian sudah membuat perubahan :)

Ayo, langsung lakukan ya, teman-teman. Potong rambutnya gak perlu di salon, bisa minta bantuan keluarga atau teman karena yang penting syarat pemotongannya terpenuhi (nanti setelahnya baru bisa dirapikan). Videonya ditunggu sampai BESOK, 31 Agustus 2015. Tolong sebarkan juga tentang kabar ini agar semakin banyak yang ikutan! Kalau masih bingung kalian bisa lihat videoku yang disertakan di bawah ini:



Be the hero, be the hope. Kalian juga bisa ;)


let's shave for hope,

Indi


________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Jumat, 28 Agustus 2015

Belajar Selfie dengan Universal Clip Lens dari @ealymorning_shop (Review) :)

Well... I'm not a "selfie" person, hahaha. Aku nggak tahu apa ada di antara kalian yang notice kalau aku senang sekali difoto tapi jaraaaang sekali selfie. Seringnya sih difotoin orang lain, ---terutama oleh Bapak, fotografer favoritku :D Alasannya gara-gara malas cari angle yang bagus buat foto, dan... seram saja kalau lihat hasil foto isinya wajah semua :p 





Sebenarnya kadang kepengen juga sih bisa selfie, soalnya nggak setiap waktu aku pergi dengan orang yang bisa dimintai tolong untuk mengambil foto. Atau kalaupun ada, nggak semua orang mengerti apa yang aku mau alias asal jepret (kalau ini Ibu ahlinya, beliau suka ambil fotoku tanpa melihat ke kamera, hahaha). Nah, ini yang bikin aku akhirnya kepikiran buat belajar selfie. Nggak ada kata terlambat buat belajar, kan? Lol.

Makanya kemarin pagi waktu Universal Clip Lens dari @earlymorning_shop tiba di rumah aku happy banget. Selain karena excited mau nyobain, aku juga excited karena bentuk clip nya kepala Hello Kitty yang super imut. Sudah tahu dong kalau aku fans berat dari kucing berpita yang satu itu? Hihihi. Packagingnya juga cute banget, kotaknya bergambar Hello Kitty dan di dalamnya ada mini pouch yang juga bergambar, ---of course, Hello Kitty :D Di dalam satu kemasan ini ada 3 lensa, yaitu Fish eye, Macro dan Wide Angle Lens. Ketiganya mempunyai fungsi masing-masing. Yang pertama katanya sih jadi bisa lihat unreal world lebih luas (dari sudut pandang mata ikan kali, ya? Hahaha), yang kedua untuk mengambil object kecil agar lebih jelas dan yang terakhir untuk mengambil gambar lebih lebar, sesuai namanya.




Cara pakainya mudah sekali, tinggal dijepitkan ke handphone tepat di kameranya. Nggak merusak HP dan bisa dipindah-pindah dari kamera depan ke belakang. Hmm, mungkin ada yang penasaran, apa hubungannya selfie sama lensa? Kan tinggal buka kamera depan terus ambil foto, deh. Nah, kalau buat aku yang nggak begitu sreg dengan hasil foto yang isinya "hanya wajah", lensa yang bisa meng-capture background atau minimal sedikit dari outfitku tentu jadi pilihan ;)

Yang pertama aku coba yaitu Fish Eye Lens. Begitu dipasang dan lihat ke kamera, aku langsung... "Whoaaa, kok ajaib ya?". Soalnya object yang  kuambil jadi lebih fokus dan pemandangan sekitarnya ikut terbawa. Aku coba foto satu object, ---salah satu tanaman Ibu dengan Fish Eye Lense dan dengan kamera saja dari jarak yang sama. Hasilnya ternyata jauuuh berbeda. Seolah aku mengambil foto dari jarak yang lebih jauh karena pintu yang tadinya nggak terlihat jadi terlihat di foto yang menggunakan Fish Eye Lens. Nggak percaya? Nih aku share foto berfore dan afternya :)




Yang kedua, ---dan yang paling bikin aku excited yaitu Wide Angle Lense. Awalnya aku coba mengambil  salah satu sudut di halaman rumah. Supaya gampang lihat hasilnya aku pakai sepeda Mang Ayi, ---tukang reparasi sofa, untuk menjadi patokan. Seperti sebelumnya, aku berdiri di tempat yang sama. Saat mengambil foto hanya dengan kamera saja, sepeda hanya terlihat bagian stangnya saja. Dan setelah memakai Wide Angle Lens ternyata joknya pun terlihat, ---even better (or wider? Lol), pengki dan sapu lidi yang seharusnya disembunyikan dari pandangan pun jadi ikut terlihat, hihihi. Langsung saja aku coba untuk selfie menggunakan Wide Angle Lens, dan.... suka banget sama hasilnya! Hasil foto jadi nggak "hanya wajah" dan aku jadi bisa menunjukan outfitku yang berbunga-bunga :p Sepertinya sih kalau mau best result bisa dengan bantuan tongsis, dan lensa yang ini juga bakal membantu banget kalau mau foto bareng dengan teman-teman. Oh, iya mau lihat hasil belajar selfieku? Nih, aku tunjukan :p






Dan yang ketiga, Macro Lens, sayangnya aku nggak bisa tunjukan hasilnya di sini. Aku sudah coba, ternyata memang membuat object kecil jadi besar tapi sayangnya blurry :( Aku nggak tahu apa ini karena kesalahanku sebagai pengguna atau kamera di HP ku yang nggak support (HP ku sudah seusia dengan anak TK, lol). Kapan-kapan aku akan coba lagi dan tentu akan aku share hasilnya. Tapi buatku sih itu bukan big deal, Fish Eye Lens dan Wide Angle Lens nya sudah bikin aku super happy, ---memudahkanku untuk selfie, hihihi. Setelah ini aku pasti akan lebih sering ambil foto sendiri dan mempelajari angle yang keren. Jadi lain kali kalau aku lagi sendirian nggak perlu kebingungan lagi deh kalau mau difoto :p Kalau teman-teman ingin Universal Clip Lens seperti yang aku punya ini, langsung saja ke:
Instagram @earlymorning_shop, atau hubungi ownernya yang super ramah di sini:
  082299203179
Dijamin deh, taking picture will never be the same again ;)

cheese,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Sabtu, 22 Agustus 2015

L'OREAL PARiS Fall Repair 3x Review :)


Yeaaaay, weekend!!! Siapa yang excited kaya aku kalau akhir pekan tiba, nih? Hihihi. Kalau aku sih sudah pasti bersemangat (---maksudnya ekstra bersemangat daripada weekdays, lol), soalnya bisa punya lebih banyak waktu untuk kumpul dengan orang-orang yang aku sayang, dengan Eris, untuk hobi dan tentu... untuk "me time"! :D 

Me time versiku nggak aneh-aneh, kok, biasanya cukup dengan lip-sync lagu-lagu rock di kamar (iya, nggak aneh cuma absurd, lol), nonton film atau merawat diri. Nah, untuk urusan merawat diri aku nggak selalu melakukannya di salon. Kadang rumah malah terasa lebih nyaman karena bebas untuk menambahkan apa saja ke "day spa ala aku". Mau melakukan perawatan rambut sama badan sekaligus juga bisa, nggak makan waktu banyak pula soalnya bisa sekalian waktu sedang mandi, hihihi. 

Lucky me, beberapa waktu lalu aku terpilih untuk mengikuti uji coba produk di Home Tester Club, dan aku mendapatkan L'OREAL PARiS FALL RESIST 3x, masker rambut untuk rambut rontok. Meskipun rambutku nggak begitu rontok, tapi produk ini cocok banget sama misiku yang sedang memanjangkan rambut untuk didonasikan. Jadi aku pengen rambutnya nggak sekedar panjang tapi juga sehat! Di kemasannya nih ada tulisan mengenai rambut yang diwarnai, katanya masker ini berfungsi memberikan nutrisi dan membuat rambut tetap sehat. Aku memang hanya mewarnai rambut secara ringan (tanpa bleach, ect, hanya cat agar warna rambutku lebih terang dari warna aslinya), tapi memang diakui bahwa semakin panjang rambut vitamin apapun yang aku pakai sepertinya hanya sampai akar hingga ke tengah rambut sedangkan ujungnya cenderung kering.





Kemasan yang aku dapat adalah L'OREAL PARiS FALL REPAIR 3x isi 4, alias untuk pemakaian 1 bulan. Dan waktu menulis ini aku baru memakainya 1 kali. Cara pemakaiannya sangat mudah, malah sebenarnya nggak ada bedanya dengan memakai conditioner. Setelah keramas aplikasikan produk pada rambut yang masih basah, diamkan 1 sampai 2 menit lalu bilas sampai bersih. Selesai! Yup, as simple as that, ---jadi sebanarnya nggak perlu menunggu weekend untuk me time yang seperti ini. Berhubung rambutku tebal, proses mengeringkan rambutnya malah jauh lebih lama daripada proses pakai maskernya, hihihi :D

Kesanku setelah memakai produk ini rasanya rambut menjadi lebih lembut. Proses bilas yang biasanya agak terhambat karena harus memisahkan helai-helai rambut sekarang menjadi mudah. Lembutnya pun tahan sampai proses pengeringan rambut, aku nggak perlu pakai sisir bergigi jarang dulu karena rambut sudah langsung "teratur" dengan sendirinya. Setiap habis keramas aku keringkan rambut dengan menggunakan hair dryer dan itu butuh waktu sekitar 30 menit-1 jam untuk benar-benar kering (betul, nggak salah ketik, kok, rambutku memang bandel). Jadi efek lembut dan mudah diatur ini cukup membantuku untuk menghemat waktu; no more nyangkut-nyangkut dulu di sisir, deh, hehehe.

Apa aku suka dengan produk ini? Yup, meskipun masih perlu 3 kali pemakaian lagi untuk hasil maksimal tapi sejauh ini aku puas dengan hasilnya. Sepertinya kalau dipakai rutin rambutku akan semakin lembut dan terhindar dari rambut bercabang. Rambut yang kusut itu akan sulit untuk disisir, dan kalau disisir keras-keras, of course rambut bisa jadi bercabang. Menurutku rambut bercabang itu salah satu musuh untuk memanjangkan rambut, soalnya bikin nggak panjang-panjang. Bayangkan saja, rambut belum tumbuh maksimal eh sudah patah di tengah karena bercabang, hihihi. Jadi nutrisi yang maksimal merupakan solusi yang tepat untuk semakin melancarkan misiku ini :p

Meski rambutku nantinya akan dipotong tapi memiliki rambut yang sehat itu penting. Kalau didonasikan tentu penerimanya akan senang jika mendapatkan rambut yang indah. Makanya sebisa mungkin aku merawat rambut agar selalu sehat :) 
Nah, kalau teman-teman bagaimana, ---apa "me time" versi kalian di waktu weekend. Atau ada yang ingin mencoba L'OREAL PARiS FALL REPAIR 3x juga? Share with me! :)

ilovemyhair,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Selasa, 18 Agustus 2015

Little Victory :)

Howdy do, my bloggie pals! Bagaimana long weekendnya? Semoga menyenangkan dan... nggak ada yang lagi sakit kaya aku, hihihi. Liburanku menyenangkan of course, hanya saja demam dan batuk yang belum kunjung sembuh membuat beberapa aktivitas jadi terbatas. Selama long weekend aku hanya di rumah, atau paling jauh ya ke ujung komplek untuk jalan-jalan sore. Beruntungnya karena sedang suasana Agustusan alias hari kemerdekaan Indonesia sekitar rumah jadi ramai. Aku nggak perlu jauh-jauh deh untuk mencari hiburan, hihihi.

Seperti yang (mungkin) teman-teman tahu, jalan-jalan sore bersama Eris sudah menjadi rutinitasku setiap hari. Nggak jauh-jauh, sih, paling hanya keliling komplek atau kalau sedang nggak terlalu fit bolak-balik di depan rumah pun jadi. Tujuannya 'sambil menyelam minum air', alias satu kegiatan dengan 2 manfaat. Yang pertama tentu agar Eris, anjing golden retriever mungilku tetap bugar dan nggak merasa bosan. Dan yang kedua sebagai bentuk exercise rutinku sebagai pegidap scoliosis. Menurut anjuran dokter seenggaknya aku harus exercise 20 menit sehari agar ototku menjadi kuat dan nggak kaku. Apalagi aku memakai SpineCor, berjalan-jalan sore bagus untuk membiasakan tubuhku dengan soft brace yang harus dipakai beberapa jam sehari itu. Meski istilahnya "exercise" tapi aku menikmati sekali rutinitas ini. Malah bisa dibilang salah satu kegiatan yang paling aku tunggu-tunggu sepanjang hari, hehehe. Bayangkan saja, selain membuat badan sehat jalan-jalan juga sekaligus refreshing. Menyenangkan sekali :D


Kalau soal fun part nya jalan-jalan sore, teman-teman yang hobi jogging atau yang rutin dog walking pasti tahu rasanya. Dari mulai kenalan sama orang baru sampai ngobrol random kesana-kemari sudah jadi hal yang biasa. Malah kadang-kadang bukan cuma aku yang dapat teman baru, tapi Eris nya sekalian, ---kalau ada yang kebetulan sedang jalan-jalan dengan anjingnya juga, hehehe. Tapi namanya di tempat umum terkadang nggak cuma hal fun yang bisa terjadi, tapi juga hal-hal yang kurang menyenangkan. Aku tahu ini nggak terjadi di setiap neighborhood, tapi at least dari grup animal lovers yang aku ikuti hal yang kualami ternyata juga terjadi pada sebagian anggotanya dan hewan peliharaannya, ---bukan cuma pada anjing.

Well, di beberapa tempat, ---termasuk di tempat tinggalku anjing itu 'not for eveyone', bahkan untuk anjing semanis Eris sekalipun. Terkadang di waktu sedang berjalan-jalan ada saja anak-anak yang berkomentar nggak enak. Dari mulai yang bawa-bawa ras sampai bawa-bawa agama. Bahkan ada diantara mereka yang melempar batu secara sengaja ke pagar rumah untuk memancing Eris supaya menggonggong. Dalam hatiku kesal, sih. Tapi aku yakin perkataan dan perbuatan semacam itu nggak muncul begitu saja dari mereka. Anak-anak selalu melihat contoh, dan sayangnya role model mereka belum tentu baik. Yang lebih seram, terkadang kalau aku papasan dengan ibu-ibu yang sedang berjalan-jalan dengan anaknya, mereka melontarkan kata-kata yang super ajaib seperti, "Hiiii, awas ada anjing nanti digigit." Atau, "Hiii, awas jangan dekat-dekat," ---dengan nada jijik seolah melihat kotoran. Aku selalu berusaha menjadi pemilik yang baik, jika di luar rumah Eris selalu aku ikat dengan menggunakan leash dan kami selalu berjalan di pinggir. Jadi mustahil bagi Eris untuk sampai berdekatan dengan mereka. Meski ini nggak terjadi setiap hari, tapi tetap saja membuatku sedih karena kadang-kadang kepikiran sampai rumah :(



Aku nggak pernah menilai seseorang dari rasnya, dari warna kulitnya, dari agamanya dan hal-hal semacam itu. Buatku orang yang baik adalah yang kepribadiannya baik, ---dan aku percaya agama/kepercayaan manapun mengajarkan cinta kasih. Saat ada hal yang nggak sesuai dengan apa yang kita percaya kita nggak perlu "memberi label" atau malah berkata hal buruk. Indonesia itu negara yang isinya penuh keragaman dan itu yang membuat kita kaya. Berbeda kepercayaan bukan berarti harus membenci. Justru seharusnya saling menghargai :)

Satu hari sebelum peringatan kemerdekaan aku berjalan-jalan dengan Eris. Waktu itu cuacanya cerah sekali, dan bukan cuma kami saja yang ingin menikmati sore, tapi juga anak-anak yang tinggal di belakang perumahan. Tiba-tiba saja seorang anak laki-laki mendekati kami, dengan gayanya yang supel ia bercerita bahwa di rumahnya ada kucing. Katanya kucingnya makan cat food dan kalau mandi harus di pet shop karena di rumah nggak ada hair dryer. Aku tertawa mendengarnya dan langsung jatuh hati, ---karena anak itu sepertinya ingin membelai Eris. Melihat gelagatnya langsung saja aku tanya, "Kamu mau kenalan sama Eris?" Dengan cepat ia mengangguk dan langsung bersiap meletakan tangannya di kepala Eris. Tapi belum sempat tangannya menyentuh kepala Eris, temannya yang memakai sepeda meneriakkan kata-kata rasis. Sontak aku terkejut dan melihat wajah anak itu. Dalam hati aku ingin marah, tapi sadar bahwa ia hanya anak-anak. Jadi aku putuskan untuk membalasnya dengan senyuman.


Aku berpikir, sampai kapan hal seperti ini akan terjadi? Sampai kapan anak-anak ini nggak menghargai keragaman? Well, kalaupun bagi mereka anjing itu "nggak baik" seenggaknya mereka harus mengenal apa itu "saling menghargai" dan "sopan santun". Don't yell, ---karena itu nggak sopan, ---apalagi kalau sampai melempari dengan batu. Akhirnya aku beranikan diri mengumpulkan mereka di ujung jalan, di tempat yang paling sering dilalui karena dekat dengan kantor Kelurahan. Sengaja aku pilih tempat yang ramai agar anak-anak ini nggak merasa sedang diintimidasi dan agar orangtua atau pejalan kaki yang melihat tahu bahwa aku bermaksud baik dan nggak ada yang ditutup-tutupi.


Awalnya hanya ada 3 anak yang berkumpul, tapi kehadiran Eris rupanya menarik perhatian anak-anak lain hingga akhirnya ada 8 anak yang mengelilingi kami. Aku bertanya pada mereka alasan mengapa sampai membenci anjing. Salah satu dari anak-anak itu menjawab begini, "Soalnya anjing itu galak, suka gigit." Aku pun bertanya balik padanya, apakah ia pernah digigit anjing. Ternyata jawabannya, "Nggak pernah". Dan asumsi galak yang ia dapatkan adalah karena ia pernah melempar anjing dengan batu dan anjing itu balik mengejarnya! Oh, my... :( Waktu aku tanya alasan mengapa ia melempat batu jawabannya ternyata super mengejutkan. Rupanya orangtuanya yang mengizinkan ia melakukan itu. Dan kenapa? Sepertinya hanya ia dan Tuhan yang tahu asalannya...

Aku pun menjelaskan bahwa anjing dan hewan lain juga punya perasaan. Jika disakiti tentu saja akan marah, dan kalau marah anjing akan mengigit karena nggak bisa bicara seperti manusia. Mendengar penjelasanku anak-anak itu mengangguk-angguk mengerti. Lucunya salah satu dari mereka bertanya, "Oh, jadi anjing juga bisa mati seperti kita, ya?" Hehehe, aku sampai nggak tahan untuk tertawa. See that? Mereka itu masih polos, hal negatif yang mereka lakukan pasti berasal dari orang lain. Kalau dilihat-lihat mereka ini rata-rata masih TK dan paling tua kelas 3 SD. Waktu seusia mereka lingkungan yang aku tahu ya hanya orangtua, keluarga dan sekolah. Lalu anak yang lainnya ikut bertanya, "Tapi kenapa kalau saya lewat depan rumah teteh Eris nya marah?" Aku balik bertanya, "Kamu lewat depan rumahnya sambil lempar batu nggak?" Dengan malu-malu ia pun mengakui terkadang melempar botol minuman untuk menarik perhatian Eris. Dan lagi-lagi aku harus bisa menahan rasa kesal karena kelakuan "polos" mereka. Aku jelaskan, kalau ingin binatang baik pada kita maka kita pun harus berbuat baik pada mereka. Jangan sampai karena binatang nggak punya pikiran seperti kita lalu diartikan boleh bertindak seenaknya pada mereka.

Anak-anak itu semakin lama posisi berdirinya semakin dekat dengan Eris, bahkan salah satu dari mereka mulai membelai-belai punggung Eris (awkward, lol). Kesempatan ini aku gunakan untuk bercerita lebih banyak lagi. Aku bilang binatang dan manusia diciptakan untuk hidup berdampingan, dan kalau mau kita tentu bisa berteman dengan mereka, ---seperti aku dan Eris misalnya. Kalau diperlakukan dengan baik binatang akan percaya dengan manusia dan nggak akan menyerang tanpa alasan. "Sama seperti manusia, binatang juga bisa belajar. Mau lihat nggak?" tanyaku pada anak-anak yang semakin antusias. Eris pun menunjukan kehebatannya untuk "duduk", "bersalaman" dan "berdiri" di depan mereka. Saking takjubnya anak-anak itu sampai bersorak-sorak dan menarik perhatian abang tukang bakso yang langsung berhenti dan ikut melihat aksi Eris, hehehe. Ah, bangga sekali rasanya :)

Menyadari kesalahan mereka anak-anak itu pun meminta maaf pada Eris, ---dan itu tanpa aku minta, lho. Mereka menyodorkan tangan kanannya pada Eris dan langsung disambut dengan tapal kaki depan Eris yang mungil! Hihihi, lucu sekali, ---sekaligus mengharukan. Sebelum berpisah mereka berjanji akan menyapa Eris baik-baik jika bertemu di jalan dan nggak akan menyakiti binatang lagi. Perasaan aku lega bukan main. Rasanya kehawatiranku untuk berjalan-jalan sore sudah menghilang. Aku memang nggak bisa memaksa semua orang untuk mengerti, tapi seenggaknya sore itu adalah kemerdekaan kecil untukku dan Eris... :)


blessed girl,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 09 Agustus 2015

Recreated Poltergeist III (Making Memory of my Long Hair)

Creepy...


Aku masih sangat kecil ketika pertama kali menontonnya. Waktu itu aku belum mengantuk, jadi memutuskan untuk ikut menonton TV bersama Ibu dan Bapak. Film itu diputar di RCTI, --- waktu belum ada sinetron yang mendominasi jam tayang malam. Aku ingat betul betapa ketakutannya ketika melihat adegan boneka badut yang duduk di kursi sementara dahan pohon menggaruk-garuk dari luar jendela kamar. Poltergeist itu judulnya. Dibuat saat aku belum terlahir ke dunia ini tapi bisa membuatku jatuh cinta saat pertama kali menontonnya. I love being scared. Lol. 

Aku sangat menyukai ketiga seri Poltergeist (---yang kemudian aku tonton di Trans TV), meskipun sutradaranya sudah berganti di seri yang terakhir. Mungkin karena kehadiran Carol Anne yang diperankan oleh almh. Heather O’Rourke di film itu. She was soooo adorable! Pipi tembam dan rambut terangnya terlihat sangat angelic, sampai-sampai dulu akuberandai-andai ingin punya anak seperti dia suatu hari nanti, hahaha. Dan waktu tahu kalau ternyata little girl yang sangat aku kagumi itu sudah meninggal dunia (hanya 4 bulan sebelum Poltergeist III rilis) rasanya sangat sedih. Mungkin terdengar aneh karena aku masih 2 tahun waktu ia meninggal, ---tapi begitulah yang kurasakan :(

Dan baru-baru ini Poltergeist dibuat remake-nya. Aku nggak percaya waktu mendengarnya, karena... hey, ini klasik! Membuat remake dari film ini sama saja dengan mencoba mengulang sukses besarnya ET. Tapi aku tetap menontonnya, karena nggak mau menilai sesuatu sebelum melihatnya sendiri. Dan pendapatku, hmm, well... nggak sebagus yang diharapkan. Tapi over all cukup menghibur karena masih ada beberapa momen menegangkan. Dan menontonnya juga lumayan bikin aku merinding-merinding gimana... gitu. Soalnya di film ini ada beberapa adegan yang direcreate dari film originalnya oleh Maddi, ---yang menggantikan peran Carol Anne.  She’s cute too. Tapi aku kangen sama wajah lugunya Heather O’Rourke dan rambut panjangnya yang indah. Ah, film Poltergeist memang sangat berkesan untukku :’)

Bapak sampai keliling-keliling rumah untuk cari lokasi yang pas untuk scene ini :D
1988 VS 2015 :)

Dulu aku ingin menjadi Carol Anne, (sampai sekarang) aku memelihara ikan mas di kamar supaya mirip dengan karakternya. Malah aku ingin sekali punya rambut panjang berponi sepertinya, tapi selalu gagal karena aku nggak tahan dengan rasa gerah. Mungkin teman-teman juga tahu bahwa sebelumnya rambutku paling panjang hanya sedikit di bawah telinga, belum pernah menyentuh bahu. Tapi karena tahun lalu aku mulai mendonasikan rambut untuk dibuat wig, mulailah aku termotivasi untuk memanjangkan rambut. Selain membayangkan wajah happy anak-anak yang menerima rambutku, Carol Anne juga ikut menjadi motivasi. Aku mengiming-imingi diri sendiri dengan berkata; Rambut panjang = mirip Carol Anne, hehehe.

Sekarang rambutku sudah melewati bahu. Terkadang masih terasa mengganggu apalagi di musim panas seperti belakangan, tapi aku juga mulai sayang. Keinginanku untuk potong rambut nggak sebesar dulu lagi, mungkin karena sudah terbiasa dengan rambut ‘baru’ ini. Tapi bukan berarti aku jadi membatalkan niat untuk berdonasi, hehehe. Jadwal pemotongan rambut sudah semakin dekat dan aku merasa harus membuat sedikit kenang-kenangan sekaligus memberi reward pada diri sendiri karena sudah berhasil menahan diri nggak potong rambut selama setengah tahun (well, kecuali trimming ya, karena aku nggak mau rambutku bercabang). Setelah dipikir-pikir akhirnya aku tahu apa reward yang tepat untuk diri sendiri; Recreated Poltergeist Scenes! Alias membuat ulang adegan-adegan di film Poltergeist :D

Atas request Bapak aku tambahkan garis hitam di fotonya. "Supaya mirip", begitu kata Bapak.

Jadi kemarin sore dengan dibantu Bapak aku mewujudkan impian masa kecil untuk menjadi Carol Anne. Setelah bercerita bahwa aku ingin melakukan ini untuk making memory (---dan sebagai dedikasi untuk almh. Heather O’Rourke, tentu), Bapak ikut senang dan beliau bersemangat sekali dengan project sederhana ini. Kami putuskan untuk Recreate adegan-adegan di Poltergeist III karena itu film terakhirnya Heather dan karena aku punya onesie yang sama, hehehe (thanks, Ibu!). Dengan cepat aku dan Bapak menonton kembali trailer film itu lalu mengambil gambar beberapa adegannya. Seperti biasa, Bapak berperan menjadi fotografer dan beliau dengan sungguh-sungguh melakukannya untukku. 

Meski mengandalkan feeling (yep, kami sama sekali nggak mencetak gambar adegan-adegan yang akan di recreate, hahaha), tapi kami ingin seakurat mungkin. Untuk urusan pose aku serahkan sepenuhnya pada Bapak karena ingatan beliau lebih bagus dariku. Nah, lucunya Bapak malah lebih bersemangat dan lebih kretaif daripada “modelnya”. Untuk recreate phone scene Bapak sampai cabut telepon rumah untuk dijadikan properti foto, lho! Dan ini membuat Ibu kebingungan beliau pikir teleponnya hilang, hehehe.

Hello? They're hereeeee... 

Hasilnya nggak sempurna, tapi aku menyukainya. Aku menghargai sekali usaha Bapak untuk mewujudkan keinginanku menjadi Carol Anne. I’m making memory, dan Bapak jadi salah satu bagiannya :) Mungkin ada yang mengganggap aku aneh karena ingin mengenang rambut yang hanya dalam jangka waktu beberapa bulan akan tumbuh kembali. Atau malah ada yang mengganggapku lebay? Go ahead :) Menjadi seseorang yang mendonasikan rambut membuatku sadar bahwa rambut adalah bagian tubuh yang sangat berharga. Untukku, dan banyak orang lainnya mungkin ini ‘hanya’ rambut. Tapi bagi orang lain rambut bisa jadi hal yang sangat diimpikan. Jika aku ingin rambut seperti Heather O’Rourke, di luar sana ada yang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan rambut pendek yang kupunya, ---atau malah untuk sebagian saja dari rambut yang kupunya. Jadi ini adalah caraku untuk mengingatkan diri sendiri bahwa aku beruntung, aku diberkahi karena punya rambut. Dan kalau pun nggak punya, ---rambut bukan sesuatu yang menjadikan kita, tapi hati :)

Ps: Untuk membaca post dan melihat video mengenai donasi rambut pertamaku bisa lihat di sini: klik.

carol anne 27 years later,

Indi

 __________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Selasa, 04 Agustus 2015

Jatuh Cinta Lagi dengan SpineCor (Hope for Scolioser) :)


Howdyyyyy bloggies! Apa kabar semuanya? Hehehe, liburan sudah selesai dan sekarang waktunya kembali ke aktivitas masing-masing, ya. Well, kalau aku sih jujur saja masih kangen deangan suasana Lebaran. Loads of foods, dikunjungi sepupu-sepupu, jalan-jalan.... :p Tapi kalau begitu terus bisa-bisa hari libur jadi nggak istimewa, hehehe. Jadi sambil menunggu libur panjang berikutnya aku mengerjakan project-project yang sudah direncanakan. Semoga kita semua selalu semangat, ya ;)

Sepertinya teman-teman di sini sudah tahu bahwa aku adalah seorang scolioser, atau pengidap scoliosis. Sejak usia 13 tahun sampai dewasa sudah banyak terapi yang aku coba, dari mulai terapi fisik sampai bracing. Yang paling lama aku jalani adalah bracing dengan boston brace selama 5 tahun. Kurvaku bertahan nggak bertambah selama beberapa waktu tapi lama kelamaan, wuzzzz, naik dari 35 derajat ke hampir 60 derajat, huhuhu. Nah, 9 bulan terakhir aku mulai bracing dengan SpineCor, ---brace yang bentuknya soft berbeda dengan tipe lain. Meski belum dalam hitungan tahun ternyata aku sudah bisa merasakan hasilnya, kurvaku turun menjadi 40 derajat! Yup, hanya 5 derajat lebih besar dari saat pertama kali scoliosisku terdeteksi :'D Luar biasa banget, kan? Tapi nyamannya SpineCor pun kadang bukan tanpa godaan. Adaaaa saja hal yang bikin aku 'lupa' untuk disiplin. Seringnya sih karena aku sudah merasa puas dengan hasil yang kucapai, hehehe.

Ada yang nyangka nggak, kalau aku pakai SpineCor di balik dress ini? ;)
Hihihi, SpineCor tersembunyi dengan sempurna karena cuma sedikit lebih tebal dari tank top :)

Atas saran dokterku, dr. Natalie Liem dari Spine Body Center, aku menghubungi Tante Novi, ibu dari salah seorang pasiennya yang juga pemakai SpineCor. Katanya supaya bisa tahu langsung pengalaman Fahira, karena ia termasuk salah satu pasien yang sukses. Kenapa ia sukses? Ya, karena disiplin dalam pemakaian SpineCor nya, dong, hihihi. Dengan bantuan Dr. Natalie aku menerima email yang berisi testimoni dari Tante Novi. Seru banget bacanya, dan Tante Novi juga mengizinkanku untuk berbagi ceritanya di sini, lho! ;)

"Berawal dari rasa penasaran kami melihat tulang belikat kanan anak kami “Fahira Syifa Machfudz” yang lebih menonjol dari pada tulang belikat kirinya tapi tidak ada keluhan apapun saat itu...
BINGUNG.....
Kenapa ini? Ada apa dengan anakku? neneknya yang pertama kali sadar dan memaksa kami untuk memeriksakan keanehan itu tapi kami juga tidak tahu harus kemana dan harus ke dokter apa kami memeriksakannya.
Karena pada saat itu Fahira masih berumur 12 tahun maka saya bawa dia ke dokter spesialis anak dan beliau merujuk ke dokter spesialis tulang. Tibalah kami bertemu dengan dokter spesialis tulang, beliau tidak banyak bicara hanya bilang “Oo anak ibu skoliosis.”
Sudah??
Hanya itu yang dikatakannya sambil mencatat report medisnya.
Sementara saya yang seorang ibu yang khawatir dengan kondisi anaknya menunggu apa yang akan dikatakan oleh dokter itu selanjunya mengenai sakitnya anak saya. Tapi kata2 itu tak kunjung keluar dari mulut beliau. Sampai akhirnya dengan sedikit memaksa dan sok tahu saya bertanya tentang apa itu SKOLIOSIS?
Dok.. skoliosis itu apa?
Kenapa bisa terjadi skoliosis pada anak kami?
Apa penyebabnya?
Adakah obat yang akan menyembuhkannya?
Lalu apa yang akan terjadi kalau kami membiarkan skoliosi itu pada anak kami? 

Ini jawaban beliau;
"Skoliosis itu tulang punggung yang bengkok, penyebabnya ya banyak bisa karena kebiasaan buruk yang dilakukan berulang-ulang atau memang keturunan. Nanti saya kenalin deh sama orang yang suka bikin jaket untuk skoliosis (hard brace maksudnya), dia bisa bikin dengan harga murah daripada ibu harus beli ke Singapur harganya mahal di sana bisa 8 jutaan lebih ditambah lagi nanti setiap 3 bln sekali dia hrs memeriksakan ulang posisi brace dan tubuh si anak."
Saat itu saya betul-betul khawatir dengan kondisi anak saya yang harus memakai hard brace itu, mengingat orang yang pakai behel gigi saja suka mengeluh sariawan karena tekanan benda keras di gusi, dan itu pasti akan terjadi pada anakku juga, di beberapa bagian tubuh tertentunya, ditambah lagi dengan adanya hard brace itu, gerakan anakku dalam bergaul menjadi tidak leluasa, kasihan ya (pikir saya).
Selama setahun kami mencari jalan bagaimana caranya kami dapat memberikan pengobatan kepada anak kami tanpa harus membatasi ruang geraknya dia dan tidak menyulitkannya, kami beri dia les private berenang dengan guru khusus, yoga dan mencari tahu tentang pengobatan alternatif sampai menemukan rumah skoliosis, ternyata banyak ya pengidap scoliosis di Indonesia ini.
Selang setahun berlalu, saya bawa kembali fahira ke dokter yang tadi dan saya minta untuk di Xray dan hasilnya dia bacakan dan memang tidak ada perubahan yang berarti.
SEDIH :(
Tapi tetap saya saya googling dan kaget saya begitu saya membuka google dan menemukan kasus skoliosis yang amat sangat parah dan harus di operasi kemudian setelah operasipun pasien tidak seratus persen sembuh tetap ada efek sampingnya, takut saya bacanya.  

Dengan searching sampai lah kami menemukan Spine Body Center. Kesan pertama bertemu dengan Dr. Fong and team yang menawarkan SpineCor®, membuat hati saya tenang meskipun pada saat itu saya hampir tidak mempercayai nya. Disamping kekecewaan saya terhadap dokter yang pertama saya temui, saya juga tidak percaya, masa tali temali bisa membuat skoliosis anak kami sembuh? dengan harga yang ditawarkan, mungkin saat itu saya berpikir mending beli sepeda motor saja. Tapi untung pikiran itu hanya melintas begitu saja yang akhirnya saya memutuskan untuk membelinya.
Tidak semudah yang di bayangkan, ternyata awal mengenakan brace amat sangat mengganggu bagi anakku, ada saja alasannya. Dia harus bangun 10 atau 15 menit lebih awal dari biasanya. Kemudian rasa pegal yang mendera, dia jadi sering bete di awal penyesuaian.
Tak henti2 kami di rumah menasehati, dari mulai bahasa yang amat sangat manis sampai ancaman pernah kami lakukan, ancaman dengan memperlihatkan gambar2 kasus skoliosis yang parah. Team dari Spine Body Center juga demikian, mereka memberikan pujian agar anak kami mau dan tidak malas memakai SpineCor® brace.
Hari berlalu waktu berjalan tak terasa sudah hampir 5 tahun anak kami memakai SpineCor® brace itu, terimakasih Tuhan kami masih dicukupkan rejeki hingga sampailah kami menemani anak kami menjalani pengobatan dengan hasilnya saat ini. Berdasarkan progress selama 5 tahun ini, kami merasa sangat puas dengan perkembangan perubahan derajat kebengkokannya, yang cukup stabil, tidak bertambah derajatnya. Info yang  kami peroleh, derajat kebengkokan akan terus bertambah seiring dengan waktu, akan tetapi dalam kondisi anak kami, derajat kebengkokan tetap stabil dari awal menggunakan SpineCor® sampai saat ini.
Tulangnya belikatnya sudah tidak terlalu menonjol lagi, meskipun masih ada. Minimal jika dia memakai baju modis tidak terlalu terlihat kelainannya dan meskipun dia memakai brace tapi kegiatannya tak terbatasi dia masih tetap berkegiatan sebagaimana anak ABG lainnya, di sekolah bahkan dia masih mengikuti les dan kejuaraan dance hiphop dan meraih juara 1 sejabodetabek lomba dance hiphop."
SpineCor gak bikin gerakan terbatas. Tuh, lihat masih bisa menang lomba dance :)

Wah, inspiring sekali ya ceritanya? Bikin aku semakin semangat agar terus disiplin dalam pemakaian SpineCor! Aku bahagia sekali dengan kemajuan yang kudapat sejak memakai SpineCor, tapi bukan berarti aku boleh merasa cukup. Aku bisa lebih baik dari ini, seperti Fahira yang setiap tahun semakin membaik kondisinya. Membaca cerita Tante Novi juga membuatku tersenyum, karena rupanya bukan hanya aku yang tertolong dengan SpineCor. Ada Fahira, dan mungkin banyak orang lain di luar sana yang juga merasakan hal yang sama. Berbagi cerita, meskipun nggak bertemu langsung bisa membuat orang yang membacanya termotivasi. Aku termotivasi karena membaca cerita Fahira. Apakah kalian kenal dengan seorang scolioser? Atau malah kalian juga scolioser? Jangan berhenti berbagi, karena siapa tahu cerita kalian menjadi harapan bagi orang yang membacanya! :)


nb: Aku dan Fahira memakai SpineCor dari Spine Body Center (APL Tower Lt. 25, samping Central Park, tlp: 021 33072111). Di sana kalian bisa mendapatkan SpineCor resmi dengan dokter-dokter yang berpengalaman. 

cheers,

Indi

 _______________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 26 Juli 2015

Don't Kill Me!




Kalau ada acara kumpul-kumpul aku sering mendadak cemas dan pengen mengurung diri di kamar. Apalagi kalau kerabat-kerabat yang seusia dengan Ibu dan Bapak datang. Uh, mau menghilang saja rasanya... Bukan, aku bukan ingin menghindari mereka, ---tapi asap rokoklah yang membuat aku ketakutan setengah mati! 

“Tradisi” merokok sepertinya memang sudah mendarah daging. Semenjak aku kuliah pemandangan asap mengepul jadi pandangan sehari-hari. Saat aku lagi makan siang di kantin, lagi menunggu dijemput pulang, bahkan di dalam kelas, ---jika kebetulan kebagian dosen yang entah kenapa merasa nggak berdosa untuk membunuh mahasiswanya pelan-pelan. Katanya sih merokok bisa menambah keakraban, apalagi jika ditemani oleh kopi dan camilan hangat. At least begitulah kata teman-teman laki-laki dan om-omku, kalau sudah berkumpul sambil merokok bisa dipastikan betah berlama-lama. Ya, mungkin seperti suku Indian yang aku lihat di film koboi, mereka menghisap calumet sambil berkumpul setelah hari yang panjang untuk kedamaian. Bedanya teman-teman dan om-omku ini hidupnya di zaman modern, ---zaman di mana banyak hal lain yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu selain dengan merokok.

OOTD: Dress: Toko Kecil Indi (my design) | Shoes: Noche | Ukulele: Mahalo

Aku nggak bermasalah dengan perokok. Ibu dan Bapak perokok berat, meskipun frekuensi merokoknya sudah banyak berkurang dibandingkan dulu. Yang menjadi masalah buatku itu perokok egois, ---perokok yang hobi bagi-bagi penyakit. I hate to admit, tapi om-omku juga termasuk perokok egois. Kalau sedang acara kumpul-kumpul mereka dengan ringannya menghisap rokok sambil mengajak ngobrol keponakannya alias aku. Bla... bla... bla... wajah mereka tersenyum tapi di waktu bersamaan mereka juga mencekikku. Posisiku jadi serba salah, kalau menghindar dianggap nggak sopan sedangkan kalau tetap diam sama saja dengan nggak sayang diri sendiri. Padahal keinginan untuk melindungi diri dari asap rokok ini bukan tanpa usaha, lho. Aku sudah berusaha, ---sangat keras. Dari mulai acting batuk ala sinetron, meminta dengan baik-baik, meminta Ibu dan Bapak untuk nggak merokok saat ada om-omku (supaya mereka nggak enak, lol), sampai dengan menyembunyikan asbak dan membuang rokok mereka diam-diam.


Rumah Ibu dan Bapak cukup luas, tapi daerah garasi pun termasuk no smoking area karena di sana ada Eris (our lovely dog), lengkap dengan baju-baju dan segala perlengkapannya. Sayangnya om-omku (dan kerabat lainnya) menganggap kalau it’s okay untuk merokok di dekat hewan. Dan saat kubilang “jangan” malah aku yang dianggap berlebihan. Dulu pun Ibu dan Bapak begitu, mereka kadang merokok sambil bermain bersama Eris di garasi atau halaman. Prinsip mereka (dulu) asalkan nggak merokok di dalam rumah atau dekat-dekat aku artinya aman. Tapi sekarang setelah mereka tahu bahaya nikotin, jangankan dekat Eris, dekat bajunya pun nggak berani. Mereka hanya merokok sambil mengurung diri di ruang ber hexos fan atau di luar, di kursi yang letaknya dekat dengan pagar rumah.

Semoga meja di semua rumah bisa begini; nggak ada asbak dan rokoknya :)

Aku sadar karena sudah dianggap “tradisi” merokok itu susah ditinggalkan dan dianggap wajar. Untuk meyakinkan Ibu dan Bapak bahwa tindakan mereka bisa membunuhku pun perlu waktu yang cukup lama. Karena gambar-gambar di bungkus rokok nggak bisa menakuti mereka, aku pakai pendekatan lain. Aku bilang bahwa rokok bukan hanya mempengaruhi mereka, tapi juga aku, anaknya, ---ralat; anak kesayangannya. Dan dengan merokok di ruang terpisah bukan berarti aku aman, tapi bisa saja aku tetap dalam bahaya. Nikotin bisa menempel di kulit, di baju, di tirai, di taplak meja, di sofa dan lain sebagainya. Jadi jika Ibu dan Bapak merokok di ruang TV sementara aku sedang di dalam kamar, aku masih bisa terpapar nikotin dari sofa yang habis mereka duduki, atau dari pelukan hangat yang mereka beri, ---bahkan ketika rokoknya sudah dibuang jauh-jauh. Ibu dan Bapak memang masih merokok, tapi sekarang selain hanya merokok di tempat yang telah disepakati mereka juga selalu mengganti baju segera setelah merokok. Mereka takut membuatku sakit, mereka takut membunuhku

Aku mandapatkan banyak komentar ketika menulis status tentang ini di Facebook, terutama dari perokok. Mereka bilang aku nggak mengerti perasaan mereka yang kecanduan, bahkan ada yang bilang bahwa usahaku akan sia-sia karena merokok itu sudah “tradisi”. Well, aku memang nggak kecanduan rokok, tapi aku pernah kecanduan hal lain. Kalian tahu apa yang aku lakukan? Aku cari bantuan! Ikut support group, cari terapis. Kecuali jika memang belum mau berenti merokok, so go ahead, silakan merokok sebanyak-banyaknya tapi make sure jangan ajak orang lain untuk sakit. Aku nggak melarang orang untuk merokok, toh negara saja melegalkan rokok. Akucuma minta agar perokok nggak egois. Temanku anaknya harus dirawat di Rumah Sakit gara-gara terpapar nikotin dari baju ayahnya (suami temanku). Jika memang belum mau menjaga kesehatan diri sendiri, please... at least jangan sakiti keluarga, teman-teman atau bahkan orang asing yang nggak sengaja duduk di tempat bekas kalian merokok. Jika memang gambar-gambar di bungkus rokok belum bisa membuat kalian takut, please ingat  bahwa itu bukan hanya bisa menimpa kalian, tapi juga orang lain. Don’t be selfish. Don’t kill us...

Don’t kill me,

Indi

Fakta tentang rokok: 
~ Racun dari rokok yang menempel di baju, perabot rumah tangga, dll nggak akan hilang sampai berbulan-bulan, bahkan jika di ruangan ber hexos fan sekalipun.
~ Hanya melewati orang yang sedang merokok di jalan pun asapnya bisa menempel di baju kita dan dampaknya bukan hanya pada kita, tapi juga orang kita temui di rumah nanti (misalnya: anak, orangtua, etc)


 __________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 19 Juli 2015

(Another) Animal Abuse Story di Hari Raya :(


“Undangannya untuk berapa orang, Indi?” tanya Ibu.
“Untuk 2 orang, Bu. Pasti aku akan senang kalau Ibu dan Bapak bisa menemani di Jakarta. Ini moment penting buatku,” jawabku.
Bapak terdiam beberapa saat, “Jadi siapa yang akan menjaga Eris di rumah? Bi Ade? Atau Puja?”
Kami ikut terdiam, memikirkan solusi yang paling tepat untuk Eris, anjing peliharaan kami yang sudah pasti nggak bisa ikut menginap di hotel.
“Sudah, kamu pergi dengan Ibu saja ya. Biar Bapak menyusul di malam penobatan nanti,” Bapak memutuskan, --- yang langsung disetujui oleh Ibu.

***



Aku masih ingat betul percakapan kami ketika aku menjadi finalis Kartini Next Generation Award 2015. Sungguh aku ingin kedua orangtuaku menemani, tapi untuk kami Eris juga anggota keluarga, ---dan keluarga artinya ‘no one left behind’. Aku sering bilang bahwa aku dan Eris nggak terpisahkan, tapi sebenarnya ini juga berlaku untuk Ibu dan Bapak. Mereka selalu berusaha untuk nggak meninggalkan Eris sendirian di rumah. Itulah kenapa aku terkadang hanya bisa ditemani oleh salah satu dari mereka saja jika harus menginap di luar kota. Menjadikan Eris sebagai anggota keluarga merupakan sebuah komitmen. Aku, Ibu dan Bapak bahagia dengan kehadiran Eris, dan kami juga ingin memastikan Eris merasakan hal yang sama.



Heran rasanya jika mendengar ada orang yang menelantarkan atau menyia-nyiakan hewan peliharaannya. Alasanku memelihara Eris (teman-temannya) tentu saja karena aku menyayanginya. Tapi faktanya masih ada orang yang membawa hewan ke kehidupan mereka hanya sebagai kebanggaan atau penanda status sosial. Semakin mahal harga hewan yang mereka miliki, akan semakin bangga mereka. Let alone deh soal kelegalannya. Aku kenal kok dengan orang yang memelihara hewan eksotis ilegal di halaman rumahnya. Yang memelihara tanpa berpikir panjang pun ada (malah sepertinya paling banyak). Mereka membeli/mengadopsi hewan saat sedang lucu-lucunya, tapi malah kebingungan ketika hewan-hewan itu mulai tumbuh besar atau malah sakit-sakitan karena usia. Wajah puppy, kitten dan bayi-bayi hewan lainnya sudah pasti membuat siapa pun yang melihatnya jatuh cinta. Tapi bisakah mereka memastikan untuk jatuh cinta dengan hewan-hewan itu selamanya?


Di moment Lebaran yang indah ini aku malah mendengar berita yang memilukan. Seekor anjing betina ditinggalkan pemiliknya mudik berhari-hari dalam keadaan terikat dan tanpa makanan sama sekali! Ketika ada yang menemukan kondisikan sangat mengenaskan, sudah dehidrasi dan vaginanya dipenuhi belatung. Meski dalam keadaan lemah, anjing itu mengangkat kepalanya dan tersenyum (---yang punya anjing pasti mengerti apa maksudnya) ketika tahu ada yang datang untuk menyelamatkannya. Too bad, karena kondisinya begitu buruk ia hanya bisa bertahan selama 3 jam saja :( Hatiku pedih sekali mendengarnya, tapi juga marah. Sangat SANGAT marah. Aku nggak mau meninggalkan Eris terlalu lama karena tahu bahwa dalam konsep waktu anjing, berjam-jam terasa seperti berhari-hari bagi mereka. Dan bayangkan apa yang mereka rasakan jika ditinggalkan berhari-hari dengan leher dirantai, --- dan tanpa makanan sama sekali! Tersiksa sudah pasti! Dan juga bingung! Sudah sejak zaman nenek moyang anjing secara naluriah menjaga dan mempercayai manusia. Saat tuannya pergi mereka akan khawatir, dan kelaparan tentu membuat keadaan lebih buruk. Sampai saat mengetik ini pun aku  masih nggak ngerti dengan apa yang ada di kepala pemilik anjing malang itu :/


Aku nggak bilang tinggal serumah dengan hewan peliharaan itu mudah, apalagi jika jumlahnya lebih dari satu, ---bisa dibilang merepotkan malah. Tapi merepotkan bukan berarti nggak menyenangkan. Aku, Ibu dan Bapak somehow sangat menikmati kerepotan kami ketika berbagi tugas, termasuk di saat-saat membingungkan seperti ketika aku harus menginap di Jakarta tapi ingin ditemani oleh keduanya. Seperti yang kubilang tadi, ini adalah komitmen. Sejak hari pertama Eris ada di rumah kami sudah siap bahwa ia akan tumbuh besar, akan makan semakin banyak, akan ada waktunya ia sakit dan akan ada waktunya kami harus meninggalkannya, ---meskipun diusahakan jangan terlalu sering. Kami sudah membuat list kandidat siapa saja yang bisa dititipi Eris jika terpaksa harus meninggalkannya agar kami dan Eris sama-sama merasa nyaman.

Hari raya apapun sudah pasti merupakan moment yang sangat penting, dan sebagai orang yang tinggal di Indonesia aku mengerti betul dengan tradisi mudik. Siapa sih yang nggak senang jika bisa bertemu dengan sanak keluarga yang tinggal berjauhan, apalagi jika bisa sekalian berlibur? Tapi jangan sampai kita nggak memikirkan nasib hewan peliharaan di rumah. Jika memungkinkan ajak mereka bersama kita. Jika nggak memungkinkan pastikan ada orang yang bisa dititipi. Jika nggak bisa juga... you shouldn’t get a pet in the first place! Aku nggak memanusiakan hewan, tapi jangan pernah lupa bahwa mereka juga makhluk hidup. Don’t be selfish!


yang lagi makan kue lebaran sama Eris,

Indi



Nb: Guuuuys, selamat hari raya Idul Fitri, ya. Mohon maaf jika ada tulisan-tulisanku yang menyinggung. I never mean to do that :) Semoga waktu berkumpul kalian bersama keluarga dan kerabat menyenangkan. Amen! :)
Nb: Dan untuk yang bertanya tentang novel "Guruku Berbulu dan Berekor" di tulisanku sebelumnya, yup novel itu masih tersedia di sini dan royaltinya didonasikan ke hewan-hewan terlantar/korban kekerasan. 


________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469


Jumat, 03 Juli 2015

Indi dan Inis: Our Sleepover Story :)

Aku senang sekali waktu tahu Inis akhirnya datang ke Bandung. Sejak jauh-jauh hari aku dan Inis membicarakan rencana menginap, jalan-jalan dan hal-hal seru lainnya yang ingin kami lakukan jika bertemu nanti.  Rasa excited ku melebihi pertemuan-pertemuan  yang sebelumnya karena ini adalah kali pertama kami akan bertemu di Bandung, ---setelah sebelumnya selalu bertemu di Jakarta. Well, Inis sendiri sebenarnya nggak tinggal di Jakarta, sih, tapi di Makassar. Profesinya lah yang membuat ia sering mampir ke sana. Inis adalah seorang penyanyi ‘lulusan’ 10 besar X Factor Indonesia season pertama. Dari sana juga aku pertama kali mengenalnya dan langsung mengaguminya. Nggak disangka ternyata ia juga menyukai film “Mika” yang diinspirasi oleh novelku, “Waktu Aku sama Mika”. Perkenalan singkat yang terjadi melalui layar kaca dan layar lebar itu (hehehe) ternyata cukup untuk menjadikan kami teman baik. Mungkin karena kami juga sama-sama scolioser, ---pengidap scoliosis :)

Bersiap menjemput Inis. Cuma pose, yang nyetir Bapak, hahaha :D

Rencananya pertemuan kami akan sebentar saja, Inis hanya berada satu malam di Bandung untuk mengurus pekerjaannya, lalu bertemu aku di salah satu pusat perbelanjaan sebelum kembali ke Jakarta. Tapi ketika kami janjian lewat BBM tiba-tiba saja muncul ide untuk menginap dulu di rumahku! Urusan nggak bawa baju sih belakangan, bisa lah pakai punyaku meskipun Inis lebih mungil dari aku, hehehe. Segera saja aku minta izin pada Bapak dan Ibu bahwa ada teman yang akan menginap di rumah. Mereka mengizinkan dan senang, tentu saja, ---meskipun kaget karena begitu mendadak :D Dengan diantar Bapak aku menemui Inis di pusat perbelanjaan. Mumpung sedang di Bandung, ---yang konon banyak pakaian berkualitas dengan harga lebih hemat dibandingkan tempat lain---, Inis pun memanfaatkan kesempatan ini untuk berbelanja.

Soal belanjanya sih nggak perlu diceritakan, sudah pasti berdesak-desakan karena banyak yang berbelanja sambil ngabuburit (atau sekalian untuk lebaran juga, hihihi). Tapi yang menarik, ternyata Inis itu pintar menawar, lho. Biasanya aku selalu “oke-oke” saja dengan harga yang ditawarkan, makanya langsung mengeluarkan dompet begitu diberitahu harganya ketika aku mau membeli stocking. Tapi dengan sigap Inis menawar terlebih dahulu untukku sebelum uang yang aku keluarkan berpindah ke tangan penjual. Wow, sepertinya aku harus belajar darinya, karena menawar merupakan "must have skill" kalau tinggal di Bandung, hehehe. Setelah selesai rencananya aku dan Inis akan makan malam di luar, tapi Bapak bilang lalu lintas sudah semakin macet karena bertepatan dengan waktu berbuka puasa. Akhirnya kami langsung pulang ke rumah setelah membeli beberapa bahan masakan dan camilan di supermarket di dekat rumah.

Ada Inis di rumah terasa sangat menyenangkan. Aku satu-satunya girl di rumah (---kecuali kalau Eris juga dihitung, hehehe) dan sekarang jadi ada teman untuk girly talk, sharing tentang scoliosis, bahkan untuk melakukan hal-hal konyol. Kami tidur larut sekali, sepertinya topik pembicaraan kami nggak ada habis-habisnya. Inis juga sempat mencoba SpineCor (soft brace untuk scoliosis) milikku. Meskipun ukurannya nggak pas, tapi katanya terasa sangat nyaman. Inis juga sama sepertiku, di masa remaja sempat memakai boston brace yang rasanya sangat kaku. Mudah-mudahan saja bisa segera menyusulku untuk memakai SpineCor, ya. Amen... :) Aku sering membicarakan tentang perasaanku sebagai seorang scolioser kepada orangtua, sahabat, bahkan Ray. Tapi dengan Inis rasanya berbeda. Kami saling mengerti perasaan satu sama lain karena apa yang aku alami juga Inis alami. Ah, mungkin begini rasanya punya sister, huhuhu.

Saking randomnya sampai tengah malam kamarku masih ramai, ---atau kalau istilah Ibu; berisik banget, hehehe. Setelah selesai mengobrol aku dan Inis langsung asyik bernyanyi sambil main ukulele. Waktu di mobil, di perjalanan ke rumah Inis sempat bilang kalau ingin bernyanyi denganku. Tentu saja aku juga mau (---kapan lagi duet dengan lulusan X Factor, hihihi), apalagi setelah diingat-ingat ternyata ada salah satu follower di Instagram yang meminta kami untuk berduet. Jadi ya sudah sekalian memenuhi request. Tapi kami baru sadar kalau sudah memakai piyama yang kayanya nggak begitu nyaman untuk dilihat di video. Jadi kami putuskan untuk merekam penampilan kami di pagi hari nanti dan segera bersiap untuk beristirahat, ---setelah menghabiskan 2 potong lumpia mix mayonnaise dan Boncabe di atas tempat tidur, hehehe (jangan ditiru, aku langsung sakit perut).

Berfoto untuk thumbnail YouTube. Tadinya akan dihapus, tapi aku putuskan untuk disimpan, hehehe :)
Inis dan Indi :)

Ketika alarm berbunyi kami bersusah payah untuk bangun. Waktu tidur kami super singkat dan ke-randoman yang kami lakukan rupanya membuat stamina terkuras. Tapi begitu ingat kalau kami harus memanfaatkan waktu agar bisa menikmati quality time berdua, kami langsung bergantian masuk ke kamar mandi untuk bersiap memulai hari. Aku dan Inis pun super sibuk, kami menggotong kursi meja makan dan kursi di kamarku ke halaman depan. Bukan, kami bukan mau pindahan, tapi ini demi kualitas rekaman kami karena aku nggak punya tripod untuk menyangga kamera, hehehe. Setelah semuanya siap kami pun langsung beraksi. Jangan bayangkan yang serius-serius, aku itu bukan penyanyi, bermain ukulele pun nggak bagus-bagus amat. Makanya kami cuma bersenang-senang. Pembagian suara seadanya, ---atau lebih tepatnya Inis yang menyesuaikan nada dengan suaraku yang seadanya, hehehe :D Nih, aku share videonya, siapa tahu teman-teman mau dengar :p


Nggak terasa hari sudah semakin siang, Inis pun membereskan barang-barang bawaanya ke dalam tas. Mobil travel yang akan mengantarkannya ke Jakarta akan berangkat nanti sore, jadi kami punya sedikit waktu lagi untuk bersama. Dengan diantar Bapak kami melihat-lihat kota Bandung dari dalam mobil, ---yang sayangnya nggak bisa berhenti di tempat-tempat menarik karena sedang super macet. Rasanya belum puas untuk melakukan banyak girly thing bersama, tapi jadwal keberangkatan mobil travel Inis sudah semakin dekat. Kami pun berpisah di depan pool travel tanpa bisa menemani sampai mobil berangkat karena tempat parkirnya sudah penuh :( Aku dan Inis berharap agar bisa segera kembali bertemu. Mungkin sehabis Lebaran, setelah Inis merayakan hari besar dengan keluarganya di Makassar. Ah, can’t wait. Really! Siapa yang menyangka bahwa TV dan bioskop bisa menjadi awal pertemanan kami? And now I already missing that special girl from the talent show :’)

yang bukan penyanyi tapi penulis, ---tapi suka main ukulele,

Indi

nb: Tolong support aku di GoGirl! Passion Pitch 2015, ya. Caranya "like" dan berikan komentar di video ini.  Terima kasih :)


________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here