Tampilkan postingan dengan label Iin Nur Indah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iin Nur Indah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Juli 2015

Indi dan Inis: Our Sleepover Story :)

Aku senang sekali waktu tahu Inis akhirnya datang ke Bandung. Sejak jauh-jauh hari aku dan Inis membicarakan rencana menginap, jalan-jalan dan hal-hal seru lainnya yang ingin kami lakukan jika bertemu nanti.  Rasa excited ku melebihi pertemuan-pertemuan  yang sebelumnya karena ini adalah kali pertama kami akan bertemu di Bandung, ---setelah sebelumnya selalu bertemu di Jakarta. Well, Inis sendiri sebenarnya nggak tinggal di Jakarta, sih, tapi di Makassar. Profesinya lah yang membuat ia sering mampir ke sana. Inis adalah seorang penyanyi ‘lulusan’ 10 besar X Factor Indonesia season pertama. Dari sana juga aku pertama kali mengenalnya dan langsung mengaguminya. Nggak disangka ternyata ia juga menyukai film “Mika” yang diinspirasi oleh novelku, “Waktu Aku sama Mika”. Perkenalan singkat yang terjadi melalui layar kaca dan layar lebar itu (hehehe) ternyata cukup untuk menjadikan kami teman baik. Mungkin karena kami juga sama-sama scolioser, ---pengidap scoliosis :)

Bersiap menjemput Inis. Cuma pose, yang nyetir Bapak, hahaha :D

Rencananya pertemuan kami akan sebentar saja, Inis hanya berada satu malam di Bandung untuk mengurus pekerjaannya, lalu bertemu aku di salah satu pusat perbelanjaan sebelum kembali ke Jakarta. Tapi ketika kami janjian lewat BBM tiba-tiba saja muncul ide untuk menginap dulu di rumahku! Urusan nggak bawa baju sih belakangan, bisa lah pakai punyaku meskipun Inis lebih mungil dari aku, hehehe. Segera saja aku minta izin pada Bapak dan Ibu bahwa ada teman yang akan menginap di rumah. Mereka mengizinkan dan senang, tentu saja, ---meskipun kaget karena begitu mendadak :D Dengan diantar Bapak aku menemui Inis di pusat perbelanjaan. Mumpung sedang di Bandung, ---yang konon banyak pakaian berkualitas dengan harga lebih hemat dibandingkan tempat lain---, Inis pun memanfaatkan kesempatan ini untuk berbelanja.

Soal belanjanya sih nggak perlu diceritakan, sudah pasti berdesak-desakan karena banyak yang berbelanja sambil ngabuburit (atau sekalian untuk lebaran juga, hihihi). Tapi yang menarik, ternyata Inis itu pintar menawar, lho. Biasanya aku selalu “oke-oke” saja dengan harga yang ditawarkan, makanya langsung mengeluarkan dompet begitu diberitahu harganya ketika aku mau membeli stocking. Tapi dengan sigap Inis menawar terlebih dahulu untukku sebelum uang yang aku keluarkan berpindah ke tangan penjual. Wow, sepertinya aku harus belajar darinya, karena menawar merupakan "must have skill" kalau tinggal di Bandung, hehehe. Setelah selesai rencananya aku dan Inis akan makan malam di luar, tapi Bapak bilang lalu lintas sudah semakin macet karena bertepatan dengan waktu berbuka puasa. Akhirnya kami langsung pulang ke rumah setelah membeli beberapa bahan masakan dan camilan di supermarket di dekat rumah.

Ada Inis di rumah terasa sangat menyenangkan. Aku satu-satunya girl di rumah (---kecuali kalau Eris juga dihitung, hehehe) dan sekarang jadi ada teman untuk girly talk, sharing tentang scoliosis, bahkan untuk melakukan hal-hal konyol. Kami tidur larut sekali, sepertinya topik pembicaraan kami nggak ada habis-habisnya. Inis juga sempat mencoba SpineCor (soft brace untuk scoliosis) milikku. Meskipun ukurannya nggak pas, tapi katanya terasa sangat nyaman. Inis juga sama sepertiku, di masa remaja sempat memakai boston brace yang rasanya sangat kaku. Mudah-mudahan saja bisa segera menyusulku untuk memakai SpineCor, ya. Amen... :) Aku sering membicarakan tentang perasaanku sebagai seorang scolioser kepada orangtua, sahabat, bahkan Ray. Tapi dengan Inis rasanya berbeda. Kami saling mengerti perasaan satu sama lain karena apa yang aku alami juga Inis alami. Ah, mungkin begini rasanya punya sister, huhuhu.

Saking randomnya sampai tengah malam kamarku masih ramai, ---atau kalau istilah Ibu; berisik banget, hehehe. Setelah selesai mengobrol aku dan Inis langsung asyik bernyanyi sambil main ukulele. Waktu di mobil, di perjalanan ke rumah Inis sempat bilang kalau ingin bernyanyi denganku. Tentu saja aku juga mau (---kapan lagi duet dengan lulusan X Factor, hihihi), apalagi setelah diingat-ingat ternyata ada salah satu follower di Instagram yang meminta kami untuk berduet. Jadi ya sudah sekalian memenuhi request. Tapi kami baru sadar kalau sudah memakai piyama yang kayanya nggak begitu nyaman untuk dilihat di video. Jadi kami putuskan untuk merekam penampilan kami di pagi hari nanti dan segera bersiap untuk beristirahat, ---setelah menghabiskan 2 potong lumpia mix mayonnaise dan Boncabe di atas tempat tidur, hehehe (jangan ditiru, aku langsung sakit perut).

Berfoto untuk thumbnail YouTube. Tadinya akan dihapus, tapi aku putuskan untuk disimpan, hehehe :)
Inis dan Indi :)

Ketika alarm berbunyi kami bersusah payah untuk bangun. Waktu tidur kami super singkat dan ke-randoman yang kami lakukan rupanya membuat stamina terkuras. Tapi begitu ingat kalau kami harus memanfaatkan waktu agar bisa menikmati quality time berdua, kami langsung bergantian masuk ke kamar mandi untuk bersiap memulai hari. Aku dan Inis pun super sibuk, kami menggotong kursi meja makan dan kursi di kamarku ke halaman depan. Bukan, kami bukan mau pindahan, tapi ini demi kualitas rekaman kami karena aku nggak punya tripod untuk menyangga kamera, hehehe. Setelah semuanya siap kami pun langsung beraksi. Jangan bayangkan yang serius-serius, aku itu bukan penyanyi, bermain ukulele pun nggak bagus-bagus amat. Makanya kami cuma bersenang-senang. Pembagian suara seadanya, ---atau lebih tepatnya Inis yang menyesuaikan nada dengan suaraku yang seadanya, hehehe :D Nih, aku share videonya, siapa tahu teman-teman mau dengar :p


Nggak terasa hari sudah semakin siang, Inis pun membereskan barang-barang bawaanya ke dalam tas. Mobil travel yang akan mengantarkannya ke Jakarta akan berangkat nanti sore, jadi kami punya sedikit waktu lagi untuk bersama. Dengan diantar Bapak kami melihat-lihat kota Bandung dari dalam mobil, ---yang sayangnya nggak bisa berhenti di tempat-tempat menarik karena sedang super macet. Rasanya belum puas untuk melakukan banyak girly thing bersama, tapi jadwal keberangkatan mobil travel Inis sudah semakin dekat. Kami pun berpisah di depan pool travel tanpa bisa menemani sampai mobil berangkat karena tempat parkirnya sudah penuh :( Aku dan Inis berharap agar bisa segera kembali bertemu. Mungkin sehabis Lebaran, setelah Inis merayakan hari besar dengan keluarganya di Makassar. Ah, can’t wait. Really! Siapa yang menyangka bahwa TV dan bioskop bisa menjadi awal pertemanan kami? And now I already missing that special girl from the talent show :’)

yang bukan penyanyi tapi penulis, ---tapi suka main ukulele,

Indi

nb: Tolong support aku di GoGirl! Passion Pitch 2015, ya. Caranya "like" dan berikan komentar di video ini.  Terima kasih :)


________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here

Minggu, 24 Mei 2015

Cerita Malam Penobatan Kartini Next Generation Award 2015 :)

Hehehe, aku ingat sudah janji untuk menceritakan soal malam penobatan “Kartini Next Generation Award 2015” berabad-abad lalu, tapi rupanya baru sempat sekarang :’D Mungkin teman-teman sudah ada yang tahu bahwa 2 minggu lalu aku terkena demam berdarah dan gejala tipus. Itulah yang membuat update-ku terhambat belakangan. Ditambah segera setelah aku pulih banyak kegiatan yang menanti. Cukup membuat energiku terkuras, bahkan untuk sekedar blog walking. Tapi aku juga bersyukur karena Tuhan masih (dan semoga selalu) memberikan kesehatan dan semangat untuk bekerja dan berkarya :)

Jadi setelah menjalani proses penjurian (baca cerita lengkapnya di sini), dua hari kemudian di tanggal 22 April 2015 aku dan para finalis diundang untuk menghadiri malam penobatan yang dilaksanakan di auditorium Gedung BPTT Jakarta. Aku berangkat pagi-pagi sekali dari Bandung dengan diantar Ibu dan Bapak, sama seperti ketika proses penjurian. Tapi ada yang berbeda kali ini, nenekku, yang biasa dipanggil Emah oleh cucu-cucunya juga ikut mendampingi. Senang rasanya, karena moment yang istimewa ini terasa semakin istimewa dengan dihadiri oleh orang-orang tercinta :) Meski cuaca sangat terik (sangat, sampai ketika berhenti di rest area aku ingin minuman dingin meskipun masih pagi, hehehe) tapi perjalanan terbilang lancar. Macet karena KAA hanya terasa sebentar dan dalam waktu beberapa jam saja kami sudah tiba di Jakarta.

Ketika tiba di Gedung BPPT rasanya seperti Deja vu. Meski diadakan di ruangan yang berbeda, tapi rupanya aku dan keluarga lagi-lagi menjadi finalis yang paling awal tiba (baca: kepagian), hehehe. Mungkin karena finalis lain kebanyakan masih menginap di Hotel dan ada yang tinggal di Jakarta jadi mereka tiba tepat waktu. Sambil menunggu aku berganti baju dengan kebaya yang sudah disiapkan dari rumah. Karena aku hanya punya satu kebaya dan jahitannya sudah mulai lepas, jadi aku dan Ibu mendesain kebaya baru dan segera menjahitnya dalam waktu yang sangat singkat (kami hanya punya waktu 3 hari sebelum penjurian!). Kain yang digunakan pun seadanya, yang sudah tersedia di rumah. Untuk kain kebaya menggunakan stok kain Ibu, dan untuk roknya menggunakan kain batik rangrang oleh-oleh dari adik yang pulang honeymoon di Bali. Sempat khawatir warna dan motifnya “nabrak”, tapi setelah finalis lain mulai berdatangan mereka ternyata menyukai “kebaya last minute” ku, hehehe. Thank God :D


Dari kain-kain yang ada di rumah, jadilah kebaya ini :)

Bersama finalis KNG 2015 :)

Kompakan pakai batik rangrang. Lucu, ya :D


Selain Ibu, Bapak dan Emah, kehadiran Iin dan mamanya pun semakin membuat perasaanku bertambah gembira. Iin adalah seorang teman yang aku kenal dari audisi X Factor karena sama-sama mengidap scoliosis dan sama-sama tertarik dengan dunia seni. Meski ini adalah pertemuan yang pertama kali dengan mamanya Iin, tapi kami langsung duduk di satu meja dan berbincang akrab tentang banyak hal (baca cerita seru kami di sini). Kehadiran mereka membuat mejaku jadi yang paling ramai. Pasalnya finalis lain hanya ditemani dengan 2 orang pendamping, sedangkan aku oleh 5 orang yang semuanya senang mengobrol, hehehe. Eh, tapi aku sudah izin pada panitia dulu kok sebelumnya. Kebetulan ada salah satu finalis yang nggak membawa pendamping, jadi aku bisa mengajak Emah, Iin dan mamanya :) 


Kedatangan suporter cantik, nih. Iin :*


Tepat setelah acara pembukaan selesai Iin dan mamanya pamit karena ada keperluan lain. Oh, iya waktu nama dan foto finalis ditampilkan di layar sepertinya cuma mejaku saja yang heboh, soalnya waktu wajah konyolku muncul, Iin dan orangtuaku kompak bertepuk tangan sambil bersorak. Hahaha, kalau panitianya membaca tulisan ini aku minta maaf ya :p
Aku berpisah dari Ibu, Bapak dan Emah untuk duduk bersama finalis yang lainnya. Jaraknya cukup jauh dari mejaku sebelumnya, di pojok dekat speaker raksasa sementara keluargaku di tengah ruangan dengan posisi yang menghadap langsung ke panggung. Well, lebih strategis dan nyaman, sih... tapi masa aku mau nempel terus sama mereka seperti anak kecil, hehehe. Lagipula mengobrol dengan teman-teman baruku itu seru sekali, lho. Dan tentu saja bisa membuat “lupa” dengan suara berisik dari speaker raksasa yang ada di sebelah kiri kami :D

Selain kata sambutan dan doa dari para mentri, acara juga diisi dengan talk show yang sesuai dengan tema Kartini Next Generation Award tahun ini, yaitu Woman as Drivers of Progress. Sidrotun Naim dan Maizidah Salas, finalis tahun ini menjadi salah dua (istilah apaan ini? Lol) dari narasumber talk show. Kisah mereka sangat menginspirasi, bahkan sempat membuatku hampir meneteskan air mata. Sungguh membuktikan bahwa “Kartini” bisa menjelma dari berbagai latar belakang dan profesi. Awesome! Selain itu juga ada drama musikal singkat yang menceritakan tentang keragaman perempuan. Aku suka sekali karena perempuan digambarkan dengan nggak seragam. Ada yang bekerja di luar, ibu rumah tangga dan lain sebagainya, ---tapi semuanya HEBAT! :)


Talk show.

Drama musikal tentang perempuan :)


Setelah penantian yang panjang (banget, ---sampai sore lho) akhirnya ke 22 orang finalis dipanggil untuk naik ke atas panggung. Mereka adalah (aku termasuk, ya, hehehe) Yunia Muji Utami (Sidoarjo), Siti Rohayah (Banyuasin), Julie Nava (USA, berhalangan hadir), Diana Anggraini (Bandung), Annisa Wibi (Bandung), Abys Wigati (Malang), Vanda Yulianti (Jakarta), Laurencia Ika (Surabaya), Maizidah Salas (Wonosobo), Alia Noor (Jakarta), Nadhira Vidya (Bandung), Nariana Pardede (Yogyakarta), Wahyuning Widiowati (Jakarta), Sidrotun Naim (Tanggerang), Indi Taufik (dari antah berantah, mungkin dari Disney channel atau Nickelodeon, hahaha), Qori Sulaeman (Karawang), Aretha Aprilia (Tanggerang), Tri Wahyuni (Samarinda), Vania Santoso (Surabaya), Yayuk Sri (Nganjuk), Anazkia (Malang) dan Talita Asagi (Papua). Hal pertama yang aku lakukan ketika berdiri di sana adalah “dadah-dadah” ke arah keluargaku, hehehe. I know it’s kinda childish. Tapi aku happy sekali, ---dan menyapa keluarga adalah caraku mengekspresikannya :)


22 orang finalis :)

Ayo luruskan barisannya! :p

Ada 2 stasiun TV yang meliput acara ini, yaitu TVRI dan Daai TV :)


Ada perasaan haru yang susah sekali dijelaskan dengan kata-kata ketika melihat keluargaku dari atas panggung. Bapak berdiri di dekat panggung, bahkan lebih depan daripada para wartawan untuk mengambil fotoku. Sementara Ibu keluar dari mejanya dan berdiri agar bisa melihatku dengan jelas. Dan Emah... Well, beliau yang paling membuat hatiku tersentuh... Emah sama sekali nggak beranjak dari kursinya, tapi air matanya terus keluar sambil menatapku bangga. Kalau saja kamera nggak menyorotku dari segala arah, mungkin aku sudah menangis seperti bayi, hehehe. Setelah beberapa sambutan dibacakan 6 orang yang terpilih untuk mewakili 6 bidang/kategori yang berbeda. Mereka adalah Siti Rohayah (ekonomi), Laurencia Ika (pendidikan), Alia Noor (sosial budaya), Vania Santoso (kesehatan dan lingkungan hidup, ---kategori yang sama denganku), Sidrotun Naim (riset perikanan) dan Maizidah Salas (pemberdayaan perempuan)


Bersalam-salaman :D

Penyerahan trophy dan sertifikat pada 6 perempuan dari 6 kategori yang berbeda.

Gue menerima sertifikat.

Lalu cengengesan karena tertukar dengan finalis lain, hahaha. 

Tebak aku lagi cerita apa. Pokoknya yang berdiri di dekatku pasti susah jaim. Maaf, yaaa :)

Horeeee, dapat hadiah banyak :D

Emah menangis haru ketika aku di atas panggung :')

Bersama Talita (aku sudah pegal maksimal dan keberatan membawa sertifikat dan hadiah) xD


Setelah penyerahan sertifikat, trophy, hadiah dan foto bersama, kami turun dari panggung untuk menemui pendamping/keluarga masing-masing. Ibu dan Bapak sudah menyambutku di tepi panggung sambil terus-terusan berkata tentang betapa bangganya mereka padaku. Emah, yang masih belum juga beranjak dari kursinya mencium dan memelukku erat. Air matanya semakin deras seiring dengan doa dan kata-kata pujian yang beliau lontarkan untuk cucu perempuan pertamanya ini. Pertahananku pun roboh, air mataku mulai keluar dan menangis haru. Sungguh ini hari yang membahagiakan karena bisa berdiri di antara perempuan-perempuan hebat dari seluruh Indonesia. Tapi mendengar Ibu, Bapak dan Emah bangga denganku melebihi segalanya. Aku beyond bahagia...

Di malam penobatan Kartini Next Generation award ini juga ada kejadian nggak terduga yang menyenangkan. Menurut cerita Ibu, waktu aku pindah meja untuk duduk bersama finalis lain ada seorang perempuan yang menghampiri untuk duduk di kursi kosong yang tadinya aku tempati. Ketika mengenalkan diri ternyata ia adalah Erlinda, sekjen dari KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia). Tahu bahwa Ibu, Bapak dan Emah adalah keluarga finalis, ia ingin berkenalan denganku. Ternyata Erlinda ini baiiiik sekali (plus cantik). Ia menyebut dirinya “Tante”, tapi aku lalu memanggilnya “Kakak” karena terlihat sangat muda. Setelah saling mengenalkan diri (nggak lupa aku bercerita tentang passion-passionku) kami pun bertukar nomor telepon dan alamat email. Ketika aku selesai mengobrol dengan Ibu, Bapak dan Emah, Kak Erlinda mengucapkan selamat dan memberikan pesan padaku. Katanya sudah waktunya aku meneruskan perjuangan generasi terdahulu. “Yang masih muda seperti Indi ini harus diberi kesempatan untuk melakukan perubahan,” begitu katanya. Aduh, aku jadi semakin terharu.
Rupanya Emah punya request istimewa pada Kak Erlinda sebelum aku turun panggung. Katanya beliau ingin aku berfoto dengan para mentri. Hehehe, Emah ada-ada saja... Tapi ternyata Kak Erlinda mengabulkannya. Dengan mengenalkanku sebagai keponakannya, aku pun berfoto dengan para mentri. Ah, terima kasih banyak Kak Erlinda... Baik sekali hatimu padahal kita baru kenal beberapa jam saja :)


Ibu, Emah dan Kak Erlinda KPAI :)

Sempat berbincang di sela acara :)

Requestnya Emah, aku berfoto dengan Puspita Zorawar (ketua KNG 2015) dan Imam Nahrawi (Menpora RI).

Bersama Rudiantara (Menkominfo RI). Terima kasih banyak Kak Erlinda! :D


Setelah acara selesai rupanya masih ada kejutan lain. Para juri rupanya masih mengingatku, ---tepatnya mengingat presentasiku yang dalam bentuk dongeng, hehehe. Yang mengesankan, salah satu juri yang juga pimpinan redaksi majalah Noor, Ibu Jetti R. Hadi, memanggilku ketika kami akan pulang. “Sebentar... sebentar, saya mau difoto sama Indi,” katanya sambil memelukku. Beliau berkata bahwa sejak mendengar ceritaku, beliau ingin bertemu dengan orangtuaku. Katanya aku pasti dibesarkan oleh orangtua yang hebat. Wah, Ibu dan Bapak sampai penasaran dengan isi presentasiku, katanya kenapa mereka sampai dianggap “hebat”. Hehehe, rahasia dong! :p



Bersama Ibu Jetti pimred majalah Noor :)

Thank God.... :)


Di perjalanan pulang kami nggak henti-hentinya membahas tentang apa yang baru saja kami alami. Aku bilang ini salah satu hari yang paling membahagiakan di hidupku. Tapi ternyata Ibu, Bapak dan Emah pun merasakan hal yang sama. Emah bangga sekali sama Kakak. Lihat Kakak di atas panggung, berdiri sama banyak orang hebat. Kalau bukan karena Kakak mana bisa Emah mengalami hari seperti ini?” Diam-diam aku menghapus air mata yang pelan-pelan turun. Aku berjanji akan terus belajar, terus mencari pengalaman dan nggak mudah menyerah. Aku ingin membuat mereka bahagia dan bangga... selalu :)) 


Simak tayangan Penobatan KNG 2015 oleh DAAI TV di sini: 


anaknya ibu dan bapak,

Indi


 _______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Rabu, 29 April 2015

Another Scoliosis Talk with Iin :)

Kalau ngobrol sama teman pasti bisa ke mana-mana. Yang tadinya lagi ngobrolin "ini" bisa nyambung ke "itu". Tapi justru bikin seru, seperti yang aku alami tanggal 22 April kemarin.

What a nice surprise, Iin temanku datang ke acara penobatan Kartini Next Generation Award 2015 di Jakarta. Aku yang dari Bandung lumayan kesepian karena hanya ditemani Ibu, Bapak dan Nenek. Teman-temanku nggak ada yang bisa datang, termasuk Ray karena sedang hari kerja. Beruntung sekali Iin bisa datang, dan bahkan ditemani mamanya sehingga membuat mejaku jadi ramai, hehehe. Perkenalanku dan Iin ini cukup unik, kami berkenalan lewat twitter dan berlanjut ke dunia nyata karena memiliki kesamaan, yaitu: sama-sama scolioser!

Suatu hari di tahun 2013 banyak follower twitter yang mention aku tentang penampilan Iin di audisi X Factor. Katanya ada penyanyi bersuara bagus yang juga mengidap scoliosis sama sepertiku. Aku yang sedang di luar buru-buru pulang ke rumah dan mencari videonya di YouTube. Ternyata benar saja, suaranya baguuuus sekali! Berkat salah satu komentar di videonya aku menemukan akun twitter Iin. Langsung saja aku mengontaknya dan memperkenalkan diri. Nah, kebetulannya hanya selang beberapa hari Iin menonton "Mika", film yang diinspirasi dari novelku, "Waktu Aku sama Mika".

Ini pertemuan kami yang kedua. Yang pertama kami bertemu di Central Park Jakarta. Dalam rangka apa? Dalam rangka... pengen ketemu saja pokoknya, hehehe. Aku tahu Iin sedang di Jakarta saat itu, jadi aku menemuinya sebelum ia pulang ke Makassar. Nah, tanggal 22 lalu giliran Iin yang menemuiku, di saat yang istimewa pula! Ini kali pertama aku bertemu dengan mamanya Iin. Aku memanggilnya 'Tante'. Ternyata Tante ini persis seperti putrinya, ramai dan gampang akrab, hehehe. Belum apa-apa kami langsung ngobrol ke sana-ke mari seperti sudah sering bertemu. Bahkan ada salah seorang finalis yang menyangka bahwa aku dan Iin kakak-adik :D

Dari macam-macam obrolan yang paling seru tentu saja soal scoliosis. Aku dan Iin sama-sama mempunyai kurva yang berat, yaitu diatas 50 derajat. Kami juga sama-sama sempat memakai boston brace dalam jangka waktu yang cukup lama. Ternyata sama sepertiku, kurva Iin pun nggak berkurang dengan pemakaian brace tipe itu. Salut dengan Tante yang rajiiiiin banget searching soal scoliosis, baik itu source nya dari luar atau dari dalam negeri, termasuk dari (ehm...) blog ini, hehehe. Sampai-sampai Tante juga tahu nama-nama selebritis yang juga scolioser. Cool!





Waktu pertemuan pertamaku dan Iin, kami berbicara tentang SpineCor, soft brace yang kabarnya sudah banyak membantu scolioser di luar negeri. Waktu itu kami berandai-andai suatu hari bisa memakai SpineCor dan beraktivitas dengan lebih nyaman. Eh, siapa sangka beberapa bulan semenjak pertemuan itu aku benar-benar memakai SpineCor karena ternyata sudah tersedia di Indonesia! Makanya waktu ketemu lagi aku langsung excited cerita bagaimana pengalamanku dengan brace yang super soft ini. 

Rupanya Iin pun sudah mampir ke Spine Body Center, tempat di mana aku membuat SpineCor beberapa minggu sebelumnya. Tapi Iin belum belum mulai fitting, "Nabung dulu, Isyaallah tahun ini," begitu katanya. Amen, aku dan keluarga doakan semoga cepat terkabul, ya :) 
Setelah merasakan banyak perubahan positif semenjak memakai SpineCor aku berharap kalau scolioser lain juga merasakan hal yang sama. Scoliosis kadang menyakitkan, dan hard brace malah membuat gerak tubuh terbatas juga menimbulkan pegal-pegal. Tapi dengan SpineCor 'koreksi' pun jadi nggak terasa, seolah tubuhku sedang memakai baju biasa saja.

Tante juga nggak sabar agar Iin cepat pakai SpineCor. Rupanya beliau tahu kalau Lourdes, anaknya Madonna juga pakai. Wah, benar-benar mama yang cool, nih! :D Btw, selain karena "dipakai seleb" ada alasan-alasan lain yang lebih penting lho kenapa aku (dan juga teman-teman yang sudah pakai) memilih SpineCor,
1. SpineCor terbukti lebih efektif 3,7 kali daripada hard brace (seperti boston brace yang dulu kupakai) untuk mencegah operasi. Karena lebih baik dalam menstabilkan dan mengendalikan scoliosis. 
2. SpineCor secara klinis sudah terbukti memiliki 89% keefektifan terhadap pasien. Ini menurut penelitan selama 10 tahun terhadap lebih dari 40 pasien, lho. Jadi meskipun sekali scoliosis tetap scoliosis, dengan SpineCor kesempatan aku untuk membaik lebih besar.
3. Meski bentuk badan berubah, misalnya tambah gemuk atau tambah kurus, SpineCor bisa disesuaikan kembali (re-adjustment). Itu juga artinya biaya yang dikeluarkan lebih sedikit karena bisa dipakai untuk jangka waktu lama ;)
4. SpineCor bisa dicuci, jadi tentu kebersihannya lebih terjaga. Aku gampang sekali terkena biang keringat, tapi sampai sekarang kulit yang terkena SpineCor tetap sehat, karena setiap minggu aku seolah memakai brace yang baru, hehehe.
5. Dengan SpineCor gerak tubuh yang dulunya mustahil dilakukan ketika memakai hard brace bisa dilakukan dengan nyaman. Karena elastis aku bisa membungkuk, duduk di lantai, dll tanpa masalah.
6. Dan yang terakhir adalah yang paling aku suka. Saking tipisnya (dibanding brace tipe lain) yang tahu kalau aku sedang memakai SpineCor ya hanya aku sendiri, kecuali kalau aku bilang-bilang, hehehe. Mau pakai outfit apapun nggak masalah, karena SpineCor bisa bersembunyi dengan sempurna ;)





Selain ngobrolin tentang SpineCor, aku, keluaga, Iin dan Tante juga setuju kalau banyak pengidap scoliosis yang nggak sadar bahwa ia seorang scolioser. Mungkin karena kurang disosialisasikan jadi orang banyak yang berasumsi bahwa scoliosis hanya masalah "kosmetik" alias tampilan luar. Padahal dengan tulang yang bengkok tentu mempengaruhu organ dalam kita, lho. Misalnya jantung, paru-paru, pencernaan dan lain-lain. Atau ada juga scolioser yang malah menutup diri atau malu. Padahal berbagi itu salah satu cara untuk melegakan perasaan, lho. Asalkan pada porsinya saja, bukannya malah minta dikasihani.






Aku bersyukur Iin berkata dengan bangga bahwa ia seorang scolioser saat audisi X Factor. Tanpa sadar ia sudah menginspirasi orang lain untuk bangga dengan dirinya sendiri dengan kondisi apapun yang Tuhan berikan. Iin juga membuktikan bahwa semua orang pasti punya bakat dan tetap bisa dinilai utuh meskipun ada bagian tubuh yang 'berbeda'. Dan tentu saja berkat keberaniannya kami bisa berteman. Tante sampai bergurau kalau saja Iin nggak menyebut "scoliosis" saat audisi mungkin kami nggak akan saling mengenal. Hehehe, betul juga, ya :D 

Pertemuanku dengan Iin dan mamanya kali itu sangat berkesan sekali. Aku senang karena ada teman yang hadir saat moment terpentingku. Juga aku senang karena di pertemuan santai pun kami bisa saling menguatkan. Waktu aku pulang ke rumah, aku dan Iin sama-sama meng-upload foto kami di Instagram. Ada komentar dari Iin di sana;
"Aku seneng banget bisa datang!!! Bangga banget sama Kak Indi! Hell yeah, scolioser dari X Factor dan penulis cantik yang tulisannya udah difilmin di "Waktu Aku sama Mika" bertemu. Terus menginspirasi semua scolioser ya Kak Indi, NEVER LOSE HOPE. Percaya diri dan kejar mimpi bareng-bareng."

Yes, Iin, let's catch our dreams and never lose hope. Tapi kamu harus tahu kalau kamu juga menginspirasi! :)


proud scolioser,

Indi


nb: Mohon maaf jika pertanyaan seputar SpineCor di post sebelumnya ada yang nggak terbalas. Aku berusaha sebaik mungkin untuk membalas satu persatu. Silakan tinggalkan alamat email saja di kolom komentar. Untuk pertanyaan mengenai medis, dll lebih baik hubungi langsung Spine Body Center di APL Tower, Lt. 25, Jakarta Barat (samping Central Park Mall) atau telepon ke (021) 2933 9295. Aku ditangani oleh Dr. Natalie Liem, MSc, PhD. Tapi jika ingin mengetahui pengalamanku dengan SpineCor, dengan senang hati aku share :)




 ______________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469