Tampilkan postingan dengan label job. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label job. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Juli 2014

AIDS Time: Yayasan AIDS Indonesia Roadshow to School-SMPN 178 Jakarta :)




Hai bloggies! Nggak seperti biasanya ya gue post di luar weekend, hehehe. Kebetulan hari ini gue sedang izin bekerja karena diundang sebagai bintang tamu di event nya Yayasan AIDS Indonesia, jadi sebelum tidur gue putuskan untuk share cerita singkatnya :)
Mungkin teman-teman sudah ada yang tahu bahwa sejak tahun 2007 (atau 2006, ya? Lupa, lol) gue terdaftar sebagai relawan di Yayasan AIDS Indonesia. Meskipun cukup rutin keep in touch dengan teman-teman di sana, tapi kehadiran gue semakin jarang karena kesibukan belakangan ini dan tentu saja karena jarak Bandung-Jakarta yang lumayan jauh. Jadi waktu mereka mengundang gue sebagai bintang tamu di event AIDS Time tadi siang, gue langsung mengiyakan meskipun sebenarnya gue sedang nggak libur, hehehe.

AIDS Time adalah kegiatan rutin yang diadakan oleh Yayasan AIDS Indonesia (YAI). Tempat dan temanya selalu berbeda, tapi tujuannya tetap sama yaitu mengedukasi masyarakat, terutama anak muda tentang HIV/AIDS. Kebetulan film Mika (inspired by Waktu Aku sama Mika) yang merupakan kisah hidup gue dan alm. Mika dipakai sebagai film yang diputar selama event AIDS Time, tapi baru di hari ini lah gue bisa bergabung :)

AIDS Time hari ini diadakan di SMPN 178 Jakarta. Karena macet dan sempat nyasar, gue yang diantar oleh Bapak baru datang 10 menit sebelum segmen gue dimulai. Sayang sekali, padahal sebelumnya sedang diputar film Mika, lho. Meskipun sudah puluhan kali menonton film itu, tapi rasanya selalu penasaran dengan reaksi orang-orang yang baru pertama kali menontonnya. Syukurlah rasa penasaran gue terobati, dari wajah-wajahnya teman-teman siswa SMPN 178 sepertinya menikmati film Mika. Thank God :)

Di segmen talkshow gue nggak sendirian, ada bintang tamu lain yang bernama Sheryl Sheinafia. Ia adalah seorang penyanyi yang telah mengeluarkan sebuah album yang sangat care dengan isu HIV/AIDS. Gue baru pertama kali bertemu dengannya, tapi langsung suka dengan suaranya :) 
Sebelum sesi tanya jawab gue sempat sedikit bercerita tentang latar belakang kenapa gue menulis novel "Waktu Aku sama Mika" dan kenapa gue peduli dengan isu HIV/AIDS. Waktu gue bercerita ternyata sebagian besar audience kaget karena baru tahu bahwa kisah gue dan Mika adalah nyata. Mungkin mereka terkejut karena gue sempat berpacaran dengan Mika yang ODHA sampai akhirnya ia meninggal. Tapi gue yakinkan mereka bahwa berpacaran dengan Mika bukan berarti gue kehilangan moment-moment seru. Gue tetap menilai Mika secara utuh karena menjadi ODHA bukan berarti berbeda seperti orang lain. He was the most grateful person I ever met. Semuanya mengenai kepribadian, bukan mengenai apa yang Mika idap.

Acara ditutup dengan sesi tanya jawab. Sungguh membanggakan, teman-teman SMPN 178 sudah tahu dengan apa saja yang bisa dan nggak bisa menularkan HIV/AIDS. Meski sempat malu-malu tetapi mereka cukup kritis lho ketika mengajukan pertanyaan. Thumbs up untuk Yayasan AIDS Indonesia yang sudah membuat acara fun tapi kaya manfaat. Mudah-mudahan saja event rutin ini akan tetap berlangsung sehingga lebih banyak lagi anak muda yang peduli dengan isu HIV/AIDS. Karena menurut gue ini bukan hanya tentang bagaimana caranya untuk mencegah diri sendiri supaya nggak terjangkit. Tapi juga bagaimana caranya agar menghilangkan stigma atau judgement pada ODHA. Karena gue percaya obat yang paling ampuh untuk segala hal adalah kasih sayang dan tanpa prasangka buruk :)


sugar kecilnya Mika yang sudah besar,

Indi

Lihat foto lengkap dari kegiatan ini di sini.
_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Sabtu, 22 Juni 2013

Sepatu Baru dari Shoemax :)



Hi bloggies! Apa kabar? Ah, akhirnya sudah hari sabtu lagi, ya, libur akhir pekan :) Siapa yang menghabiskan waktu di rumah hari ini? Kalau ada, berarti sama dengan gue. Sekarang gue masih berpiyama dan menikmati segelas teh hangat, hehehe. Apalagi libur gue masih panjang, sampai 2 minggu kedepan karena anak-anak di pre school tempat gue bekerja sudah libur naik kelas dan kelulusan. Jadi bersantainya bisa lebih lama sebelum menyelesaikan "tugas-tugas" menulis gue.

Ngomong-ngomong soal pekerjaan, di pre school seluruh teacher dan stafnya diwajibkan memakai kaos kaki, lho. Alasannya karena di sana terdapat playground yang sangat luas dan hampir seluruh area ditutupi karpet. Jadi agar terjaga kebersihannya kami harus menghindari kontak langsung kulit kaki dengan seluruh mainan yang ada di playground. Untuk gue ini bukan masalah, karena hampir setiap hari memakai stocking. Tapi kadang-kadang gue ingin juga pakai kaos kaki seperti rekan-rekan bekerja gue yang lain. Sayangnya, mungkin karena sudah kebiasaan gue agak kurang nyaman memadukan sepatu flat yang biasa gue pakai dengan kaos kaki. Kalau dilihat-lihat sepatu flat gue padanan paling pasnya memang dengan koleksi stocking gue, hehehe.

Lalu, tiba-tiba saja seolah bisa membaca pikiran, gue mendapat email dari Shoemax yang menawari gue untuk memakai produknya. Tanpa menunda gue langsung mencari tahu tentang produk sepatu ini dan mengiyakan ketika melihat katalognya! Ternyata, pas sekali, ada sepatu bertali di sana, persis seperti apa yang gue inginkan untuk dipadankan dengan kaos kaki :) Gue langsung memilih yang berwarna abu-abu karena sepatu gue kebanyakan berwarna cerah. Dan ini juga sepatu bertali gue yang pertama lho, karena selama ini gue lebih suka velcro atau yang sekali injak langsung terpasang, hehehe.

Gue nggak sabar menunggu sepatu gue datang. Dari gambarnya terlihat bagus sekali. Jadi penasaran apakah aslinya juga sebagus itu. Tapi mengingat Shoemax adalah second brand dari Edward Forrer soal kualitas seharusnya nggak usah diragukan lagi, sih. Sejak kecil gue sudah memakai produk mereka dan nggak pernah dikecewakan (wedges pertama yang gue pakai dibeli dari Edward Forrer waktu kelas 6 SD, sampai sekarang masih ada, lho, lol). Maklum lah berdirinya saja sejak tahun 1989 :)

Ketika sepatunya sampai ternyata sesuai dengan gambarnya, bagus sekali. Karena nggak sabar mencobanya gue langsung memakainya untuk bekerja keesokan harinya. Akhirnya, gue punya sepatu untuk dipadankan dengan kaos kaki, hehehe. Waktu disimpan di rak rekan-rekan bekerja banyak yang bertanya tentang siapa pemilik dari sepatu itu, dan waktu mereka tahu bahwa itu milik gue, mereka nggak percaya akhirnya gue memakai sepatu model lain, hahaha :D Berkat Shoemax gue jadi punya style baru untuk bekerja deh. Menjadi beda sesekali ternyata menyenangkan, tapi yang terpenting gue masih tetap nyaman, karena meskipun terlihat thin tapi sepatu Shoemax ini kuat lho.
(Waktu tulisan ini dibuat gue sudah memakainya 2 kali, pemakaian terakhir selama hampir seharian dan dipakai berjalan cukup jauh).

Foto diambil waktu gue pulang bekerja :)
Bagaimana style baru gue dengan Shoemax? :)

Karena gue merasa nyaman dengan "style baru" ini, mungkin gue akan mencoba style lainnya karena Shoemax punya banyak pilihan model sepatu, dari mulai boyish sampai yang girly sekalipun. Untuk pacar atau keluarga pun banyak pilihan modelnya. Bagaimana, apakah ada diantara teman-teman bloggies yang ingin mencoba mengganti gaya? Sesekali nggak apa-apa lho, untuk refreshing dan bisa buat orang-orang terdekat kita "terkejut" juga, hehehe. Kalau kalian tertarik, Shoemax bisa didapatkan di outlet SHOEMAX by EDWARD FORRER:
Jl. Cihampelas no. 124, Bandung.
Atau hubungi saja  022-2032384, 0812 2466 9380 dan 269d9c31 (BBM).

Dan sekarang, mumpung sedang bersantai di rumah gue mau lihat-lihat koleksi Shoemax dulu, ah. Tinggal klik di sini atau di sini saja. Ada yang mau ikut? Hehehe :)

girl with a new style,

Indi

____________________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Contact Person: 081322339469

Kamis, 16 Agustus 2012

Bekerja itu Menyenangkan :))

YAIY!! :D

Howdy-do bloggies? Apakah puasanya lancar? :D Bulan puasa sudah hampir selesai, nih, untuk yang mau mudik hati-hati di jalan dan tetap semangat puasanya, ya, jangan sampai bolong, hihihi :)
Gue ingat, waktu masih kecil suka sekali dengan bulan puasa dan lebaran. Guess why? Karena liburannya panjang! Hihihi... Apalagi waktu SD dan SMP, bisa hampir satu bulan,lho. Dan biasanya gue dan keluarga pergi ke luar kota, menginap di sebuah hotel dan melakukan random things. Dari mulai memancing sampai mengunjungi tempat-tempat wisatanya karena kami memang nggak punya tradisi mudik, sejak lahir kami sudah di Bandung, hihihi. Tapi sekarang, setelah dewasa libur panjang nggak lagi gue dapatkan. Di bulan puasa sampai sesudahnya malah merupakan "bulan padat" untuk gue. Kadang rindu masa kecil juga, sih... tapi semua kan ada fasenya. Sekarang waktunya gue mendapat kesenangan selain dari hari libur :)

Dulu nggak pernah terbayang bagaimana rasanya menjadi dewasa. Sekolah dari pagi sampai siang saja rasanya sudah cukup bikin gue ingin tidur siang sampai waktunya makan malam,hihihi. Setiap kali melihat Bapak dan Ibu yang bekerja sampai sore rasanya itu masih sangat jauuuuuuh sekali untuk gue alami. Atau istilah lainnya, "Hey, gue nggak mungkin menjadi seperti mereka". Tapi lalu, BAM! Waktu berjalan dan here I am now :)
Orang tua gue adalah pekerja keras, mereka bekerja dari senin sampai sabtu. Malah, jika sedang sibuk-sibuknya mereka bekerja di hari minggu, full day, lalu pulang ke rumah untuk menghadapi dua anak remajanya yang bandel-bandel. That was me and my brother, hehehe :p Bagaimana cara mereka tetap have fun padahal hampir nggak punya waktu untuk diri sendiri, itu menjadi misteri... sampai gue yang mengalaminya sendiri :)

Keberhasilan mereka di mata keluarga! Iya, saat Bapak dan Ibu berhasil menyekolahkan gue dan adik sampai kuliah, saat Ibu bisa menyajikan makanan bergizi setiap hari, saat Bapak bisa mengantarkan gue dengan mobil yang dibeli dari jerih payahnya... Itu keberhasilan mereka. Itu yang membuat mereka merasa sepadan untuk terus bekerja, mengorbankan "met time"-nya dan terus merasa bahagia! Seperti sebuah lingkaran, mereka bekerja untuk keluarga, keluarga menghargainya dan mereka ikut bahagia :) Gue mengalaminya sekarang, gue tahu bagaimana rasanya. Ini bukan tentang rasa bahagia ketika rekening gue jumlahnya bertambah, tapi ini tentang rasa bahagia ketika ada orang-orang yang menghargai karya gue, mengirimi gue email hangat dan menyapa gue di tempat-tempat umum. Ini membuat gue merasa super bahagia! :)

Seperti sebuah keluarga, bekerja, profesi apapun itu pasti memberi pengaruh pada sekitar, lalu akan kembali lagi pada diri sendiri, baik itu disadari atau nggak. Ketika gue masih kecil dan bercita-cita menjadi seorang penulis, yang gue inginkah hanya mempunyai buku untuk dipajang di rak dengan nama gue tercetak di cover-nya. That's it. Lalu ketika gue sudah menjadi seorang penulis sungguhan, gue mendapatkan lebih dari itu. Gue menerima banyak komentar-komentar dari pembaca yang isinya sangat menyenangkan hati. Email, surat, pesan di facebook, twitter... sangat menyenangkan untuk membaca dan membalasnya satu-persatu. Gue anggap mereka semua teman karena mereka begitu baik, menginginkan gue untuk terus bertumbuh. Dari bekerja gue mendapatkan banyak teman baru... :)

'Pengaruh' memang kata yang besar, tapi gue percaya, pengaruh itu selalu  ada meskipun kecil. Di novel pertama dan kedua gue ada tokoh bernama Mika, dia adalah 'pahlawan' gue sejak gue berusia 15 tahun... sampai sekarang. Di mata gue, Mika begitu berani dan selalu siap melindungi gue sampai AIDS membuatnya harus kembali menjadi malaikat Tuhan. Menceritakannya membuat gue merasa lebih ringan dan membuat gue tersenyum, kembali mengingat masa-masa penuh hal konyol dan mengharukan bersama Mika. Membaginya merupakan 'terapi' untuk gue. Siapa sangka bahwa apa yang gue tulis bisa ternyata mempengaruhi orang lain? Melalui novel-novel gue ternyata Mika seolah hidup kembali, banyak yang mengaku ingin mengenal Mika, bahkan ada yang ingin mempunyai pasangan seperti Mika :) Itu manis sekali... Dan di bulan Agustus ini ada kejutan yang sangat menyenangkan juga mengharukan... Ada dua orang Ibu yang mengaku memberi nama bayinya yang baru lahir dengan nama "Miracle" karena terinspirasi oleh Mika dari novel-novel gue... Ah, gue nggak bisa berkata apa-apa selain "terima kasih" dan "terima kasih Tuhan..." :)

Bekerja dengan hati membuat gue merasa diberkati Tuhan, I'm blessed karena teman-teman pembaca menghargai usaha yang gue lakukan dengan sungguh-sungguh... Mempunyai mereka membuat gue merasa dicintai :) Menyenangkan rasanya ketika tahu ada yang membuat sebuah karya karena termotivasi oleh yang gue lakukan. Ada yang ingin menjadi penulis, ada yang membuat film indie dengan "Waktu Aku sama Mika" sebagai kisahnya. Ada yang membuat pementasan drama, juga ada yang membuat artwork karena membaca "Karena Cinta itu Sempurna". Menyenangkan, sungguh. Bahkan waktu menulis ini pun gue nggak bisa berhenti tersenyum :)

Gue dan Mika, gambar imajinasi dari Sharon Citara :)

Masih karya Sharon, ini Mika, gue dan Ray. Diberi judul seperti novel gue, Karena Cinta itu Sempurna :)


Karya @littlelaugh18, dengan perbandingan foto aslinya :)


Karya Vindy Putri, dengan perbandingan foto aslinya :)


Karya Gluck Fraulein, dengan perbandingan foto aslinya :)

Kebahagiaan dari bekerja dengan sungguh-sungguh juga gue di tempat lain. Membaca nama gue di cover novel sudah membuat gue kegirangan setengah mati, apalagi membacanya di poster :) Beberapa kali gue melihat dua buah novel gue ada di rak best seller atau di recommended list. Tapi melihatnya di toko buku paling besar di Bandung... waw itu benar-benar luar biasa... Ingin menangis rasanya melihat nama dan gambar cover novel-novel gue di sana :') Semua nggak ada yang sia-sia, butuh proses berbulan-bulan sampai kedua novel ini keluar, dan ini hasilnya, thank God... thank God...


Thank God, they're BEST SELLER!! :D

Pekerjaan, apapun itu, selama dilakukan dengan sungguh-sungguh pasti ada hasilnya, gue percaya itu. Nggak peduli jika ada yang memandang rendah pekerjaan kalian, just follow your heart, do your best dan buktikan bahwa semua pekerjaan itu sama mulianya. Waktu gue sekolah teman-teman (bahkan beberapa guru) sering heran kalau gue menjawab "penulis" sebagai cita-cita gue. Mereka bilang, itu hobi, bukan pekerjaan. Gue sempat sedih, tapi gue percaya selalu ada jalan untuk maksud baik :) Dan ini lah gue sekarang, dengan bangga menyebut bahwa gue adalah seorang penulis. Mungkin bukan penulis yang baik karena masih harus banyak belajar, tapi, apapun itu, gue memang penulis :)

Gue nggak menyesal dengan kesibukan yang gue dapat, gue juga nggak sedih karena waktu liburan gue jauuuuuuuh lebih berkurang dibanding masa sekolah dulu. Thanks to my parents karena mengenalkan gue dengan nikmatnya bekerja dan percaya bahwa reward terbesar adalah penghargaan dari orang-orang sekitar, bukan uang :)
Setelah liburan lebaran yang sangat-sangat singkat gue siap untuk bekerja, gue nggak sabar untuk mendapatkan senyuman dan sapaan dari siapa saja yang menikmati karya gue. Novel ke tiga gue "Guruku yang Berbulu dan Berekor" akan terbit nggak lama setelah lebaran. Lalu di bulan September ada sebuah project yang akan gue kerjakan bersama Ray (it's a TV show and meet and greet, yaiy, yaiy). Dan, mungkin ada yang sudah tahu bahwa "Waktu Aku sama Mika" (IFI) akan ada versi layar lebarnya (inspired by my first novel)? :) Yes, film yang dikerjakan sejak tahun kemarin ini pada tanggal 13 lalu sudah selesai shooting dan akan diputar di bioskop bulan Desember 2012!! Senang, senang, senang sekali. Semua yang berasal dari hati dan sungguh-sungguh pasti ada hasilnya :)


It's a wrap! :)

Jadi, apalagi yang bisa gue bilang selain: cintai pekerjaanmu, lakukan dengan sungguh-sungguh. Apa yang menurutmu terbuang ketika mengerjakannya pasti akan tergantikan. Percaya, deh ;)

smile,
Indi


nb: Selain yang sudah disebutkan, ada sebuah project lagi yang gue kerjakan bersama teman-teman bernama "green smile". Project ini bertujuan untuk mengenalkan gaya hidup hijau. Silakan kunjungi web'nya di sini. Ada tulisan gue juga, lho :) Dan terima kasih banyak untuk teman-teman yang sudah membuatkan gue/novel-novel gue fans page dan akun twitter (Waktu Aku sama Mika, @indisugarindo, @indisugar_fc, @sugarsbook dan yang lainnya). Ini berarti banyak untuk gue... sekali lagi, terima kasih :')
_________________________________

Kontak Indi: di sini, sini atau email namaku_indikecil@yahoo.com
Akun Waktu Aku sama Mika dan Karena Cinta itu Sempurna resmi: di sini dan di sini

Senin, 09 Juli 2012

The Interview: My Color :)



Hi bloggies, apa kabar? How's your week? Semoga meski sibuk tetap bisa bersantai di hari minggu, ya :)
Gue menulis post ini sepulang karaoke-ing sama Ray. Sudah sekitar satu bulan kami nggak pergi keluar bersama. Pekerjaan Ray sedang sibuk-sibuknya dan gue sedang mengerjakan beberapa hal baru yang sangat menyita waktu. Jadi waktu kami akhirnya dapat quality time lagi, dengan 3 jam non-stop karaoke lagu-lagu yang 70 persen pilihan gue, rasanya really refreshing, hehehe :)

Bulan kemarin, saat kegiatan gue sedang padat-padatnya gue mendapatkan beberapa tawaran untuk interview di media cetak. Seperti biasa sebelum menerima gue pasti 'memeriksa' dulu image dari media tersebut. Well, sebenarnya gue nggak pikir image dari suatu media bakal berpengaruh banyak sama gue, sih, semua kan tergantung apa yang gue kemukakan di sana. Tapi image suatu media berpengaruh terhadap apa yang mereka tulis. Pernah suatu kali ada sebuah majalah yang menginginkan kisah hidup gue dimuat di sana, 3 halaman penuh, ekslusif. I was so flattered, sampai majalahnya terbit dan gue membaca sendiri apa yang dimuat di sana. Kisahnya dilebih-lebihkan. Too much drama dan ada beberapa data soal diri gue yang nggak sesuai dengan fakta. Gue agak marah dan langsung menghubungi reporternya saat itu juga, tapi majalah sudah terlanjur beredar dan yang bisa gue lakukan cuma mengkonfirmasi tulisan yang dimuat lewat Facebook dan jika ada yang bertanya langsung. Begitulah, meski gue sudah memberikan informasi yang jelas, mereka tetap menulisnya dengan 'gaya drama' karena image majalah mereka memang begitu.

Sebelum gue menulis novel kegiatan yang gue lakukan sehari-hari adalah sekolah, mendesain pakaian dan menulis untuk kesenangan pribadi. Jika ada media yang menginginkan gue, itu bisa dipastikan untuk berbagi cerita tentang pengalaman sebagai pengidap scoliosis. Yup, gue memang scolioser, terdeteksi sejak usia 13 tahun, memakai alat bantu brace selama 5 tahun dan berakhir di kelengkungan 58 derajat yang penuh berkah. Gue nggak pernah malu dengan fakta itu dan dengan senang hati berbagi cerita karena di luar sana gue tahu banyak anak-anak, terutama anak perempuan yang mempunyai keterbatasan yang sama. Nggak pernah ada sedikitpun niat gue untuk minta dikasihani atau mencari sensasi dengan menceritakan pengalaman gue, semuanya murni, dari hati yang paling dalam gue ingin membantu. Karena mengenali gejala scoliosis sejak dini bisa berpengaruh banyak dengan masa depan anak tersebut. Dan gue termasuk salah satu yang beruntung karena ditangani dengan benar.

Lalu, pada tahun 2009 ada penerbit yang membaca tulisan gue di blog. Tanpa proses yang terlalu lama mereka langsung menawarkan kontrak untuk menerbitkan novel. Gue terkejut bukan main, tapi setelah 1 minggu berpikir gue langsung setuju dan 3 bulan kemudian terbitlah novel perdana gue yang berjudul, "Waktu Aku sama Mika". Keluarga, sahabat dan beberapa kerabat ikut bahagia tapi juga surprise karena sebelumnya mereka nggak tahu bahwa gue bisa (baca: suka) menulis. Hanya Ibu dan Bapak yang tahu, itu pun sebatas menulis di buku harian. Gue senang sekali dengan reaksi positif mereka yang terus men-support supaya gue nggak berhenti berkarya. Mereka suka karya gue, dan itu lebih berharga daripada mendapat piala, karena gue diakui memiliki kemampuan tanpa melihat sisi gue sebagai pengidap scoliosis. Fair. Gue dinilai dengan cara yang sama seperti orang lain.


What I wore: Dress: Glow | Shoes: Michelle CLA | Ribbon: my mum's sewing bow :)


Setelah itu setiap kali ada media yang meminta gue berbagi cerita, gue pasti menceritakan bahwa gue sudah menjadi penulis. Gue mempunyai buku yang dalam beberapa bulan penjualan saja sudah menjadi best seller. Itu membanggakan, seenggaknya untuk gue :)
Seperti yang sebelumnya gue ceritakan, gue sama sekali nggak pernah malu atau minta dikasihani dengan status gue, tapi juga nggak ingin dinilai dari situ saja. Gue juga sama, manusia utuh yang mempunyai kemampuan dibalik kekurangan gue. Ingin sekali suatu hari media meminta gue bercerita tentang buku gue saja (sekarang 'buku-buku' karena hampir 3 novel yang terbit, yaiy!) tanpa embel-embel yang lain. Tapi ternyata itu sulit sekali, setiap kali ada email atau telepon yang meminta interview, pasti saja gue diminta mengulang cerita yang sama...

Lalu gue memutuskan untuk menolak sementara waktu jika ada yang menawari untuk interview yang 'itu-itu' saja. Iya, sementara saja, sampai orang-orang bisa melihat bahwa gue lebih dari itu dan sekaligus untuk mengetes kemampuan diri juga. Kita nggak akan pernah tahu sudah berhasil sejauh mana sampai orang menilai kita dengan fair, kan? :)
Jadi ketika beberapa waktu lalu gue dihubungi oleh sebuah koran dan mereka meminta gue 'mengulang cerita', dengan sehalus mungkin gue menjelaskan bahwa gue juga seorang penulis, dan alangkah senangnya kalau diminta bercerita tentang pekerjaan gue. Gue menawarkan untuk bercerita 'apa yang gue punya' dan kalau nantinya mereka tetap menyebutkan gue sebagai pengidap scoliosis, it's okay, karena faktanya memang begitu. Sayangnya mereka nggak setuju. Mereka ingin mengangkat kisah hidup gue dan soal buku gue cukup jadi 'selingan' saja. Wow, gue baru sadar bahwa scoliosis gue jauh lebih besar dari novel gue. Bahkan menjadi best seller saja masih nggak cukup untuk membuat mereka 'tertarik' dengan karya-karya gue.


Sesuai tekad gue, gue menolak interview dengan koran tersebut. Gue mengemukakan alasannya sejelas mungkin, bahwa gue ingin dinilai secara adil: pekerjaan gue dulu, bagus atau tidak, baru silakan ceritakan tentang siapa gue. Tapi mereka bilang bahwa pembaca akan lebih tertarik dan terinspirasi justru dengan kisah gue sebagai scolioser, bukan yang lainnya. Well, mereka kan belum coba sebaliknya, jadi kenapa nggak mencoba? Tapi sudahlah, menjelaskan sesuatu memang sering kali nggak mudah, dan media mungkin saat ini lebih suka mengenal gue sebagai "Indi yang scoliosis" bukan "Indi yang penulis". Padahal gue mau saja berbagi cerita, gue cuma butuh break, sebentar saja.
Jangan salah mengira, gue cukup aktif berinteraksi dengan teman-teman di Masyarakat Skoliosis Indonesia, lho. Gue bisa bercerita tentang scoliosis kapan saja karena itu bagian dari diri gue. Nah, bukankah kemampuan diri juga bagian dari diri sendiri? :)

Gue punya teman, namanya Ginan. Ia seorang pekerja keras yang usianya lebih tua dari gue. Jujur saja sebelum gue mengenal bakat-bakatnya gue hanya mengenalnya sebagai temannya Mika, pengidap HIV/AIDS. Lalu seiring berjalannya waktu gue mulai tahu bahwa ia sangat aktif bermain sepak bola dan menjadi juara dimana-mana. Ia juga seseorang yang memperjuangkan kaum marjinal! Waktu gue tahu bahwa ia mendapatkan "Hero Award" dari acara Kick Andy gue langsung, "Wow... ia benar-benar hebat" dan gue sama sekali nggak 'mengingat' status kesehatannya. Ia dinilai utuh karena memaksimalkan kemampuan yang diberikan Tuhan.
Gue ingat sebuah kata yang selalu diucapkannya ketika gue mencapai sesuatu, sekecil apapun itu. Kata itu adalah "Mamprang". Awalnya gue nggak mengerti dan nggak berniat menanyakan artinya karena ia memang punya banyak stock kata-kata 'asing' (lol). Tapi setelah berkali-kali mendengar (terakhir ketika gue terpilih sebagai salah satu anak muda menginspirasi versi adalahkita.com), akhirnya gue bertanya juga. Dan ternyata 'mamprang' berarti show who you are, show your ability, tunjukan apa yang kamu punya, jangan takut-takut ibaratnya harimau. Gue setuju, itu memang benar. Somehow satu kata 'aneh' itu terasa ajaib di telinga dan hati gue. Kalau sekarang media masih betah dengan cerita scoliosis gue, yang seharusnya dilakukan bukanlah kesal, tapi mencoba lebih keras lagi menunjukan kemampuan diri, sampai akhirnya diakui. Gue akan terus membagi cerita gue selama itu bisa membantu dan bermanfaat. Mungkin suatu hari media yang suka menyelipkan 'bumbu drama' akhirnya sadar bahwa kisah sederhana dan nyata juga bisa disukai pembaca dan tetap inspiring :)

Sekarang gue akan menjadikan masa 'break' ini untuk mengukur kemampuan diri sekaligus kesempatan untuk mengembangkan diri. Memang sulit jika sudah terlanjur di 'cap', tapi sulit bukan berarti nggak bisa :) Dan thank God dua hari yang lalu radio Pro2 Semarang meminta gue untuk live interview selama satu jam non stop. Tahu untuk apa? Itu murni untuk membicarakan novel-novel dan project gue selanjutnya! Thank God :)) Gue akan terus menunjukan apa yang gue bisa, gue mau dinilai secara adil dan tanpa embel-embel lain. Gue tetap dan akan selalu menjadi "Indi si Scolioser", tapi gue lebih dari itu, seenggaknya, let me try. Gue bangga menjadi diri sendiri, gue nggak mau menukar scoliosis gue dengan apapun, apapun, apapun. Karena gue nggak menganggapnya sebagai beban, tapi bagian dari diri gue sendiri seperti hal nya kemampuan gue :) I am me, gue akan mengusahakan yang terbaik dan seadil mungkin untuk hidup. So, show your true color, guys. Atau pinjam istilahnya Ginan, "Mamprang!" :D

it's me,
Indi

nb: buku yang gue pegang berjudul "Being Remember" hadiah dari Kinanti Kitty, penulisnya sendiri. Kalian bisa menghubunginya di sini :)

________________________________________________
Contact Me? HERE and HERE. My Shop? HERE. Sponsorship? HERE.

Jumat, 04 November 2011

De Do Do Do, De Da Da Da ;)


Hi, it's me again, Indi. Tumben ya baru 3 hari lalu post, sekarang sudah post baru lagi, hihihi. Belakangan ini aku memang belum keluar rumah, jadi bisa menyelesaikan pekerjaan lebih cepat karena aku bisa fokus mengetik naskah seharian :D Memang sih, ada kangen-nya juga melihat dunia luar, tapi karena hujan terlalu lebat untuk ditembus, aku harus puas dengan menjadikan halaman rumah sebagai "dunia luar" yang paling jauh, hihihi. Terakhir aku ke luar rumah dua hari lalu, sengaja aku membawa naskah ke warnet yang jaraknya nggak terlalu jauh. Tapi ternyata baru satu jam aku di sana hujan langsung deras sederas-derasnya. Akhirnya pulang lah aku sambil memegang payung dan menyembunyikan beberapa lembar kertas 'naskah mentah' di balik baju, hihihi.

Bekerja di rumah memang ada enak dan nggak-nya, ya sama saja seperti pekerjaan lain. Tapi kadang aku merasa lucu juga, sih, saat teman-teman lelah bekerja di kantor pasti merindukan rumah, nah sedangkan aku setelah lelah bekerja tinggal 'ngesot' sedikit ke atas tempat tidur di samping meja kerjaku, hahaha. Bekerja di rumah juga rentan terkena gangguan yang sifatnya guilty pleasure (at least ini pleasure buatku lah, lol). Aku gampang sekali terbujuk sama wajah memelas Eris, anjingku. Terkadang di tengah-tengah pekerjaan, aku malah tiba-tiba kabur dan berakhir jadi kiper buat permainan "sepak bola karet" nya Eris di halaman rumah, hehehe. Aku memang harus lebih disiplin dalam menentukan batasan dan jam kerja, maklum lah aku adalah bos untuk diri sendiri. Dan aku masih belajar untuk jadi "bos" yang baik :)

Ngomong-ngomong soal gangguan, beberapa hari lalu aku diwawancarai oleh Judika, reporter dari Aplaus the Lifestyle. Nah, karena nggak memungkinkan untuk bertemu langsung wawancara pun dilakukan lewat telepon. Sejak awal percakapan entah kenapa aku nggak bisa dengar suara Judika dengan jelas. Suaranya selalu diikuti dengan "nguing-nguing" seperti suara lebah. Berkali-kali kami tutup teleponnya dan aku minta ditelepon ulang, tapi tetap saja suara yang keluar terdengar aneh. Akhirnya aku minta agar Judika menghubungiku ke telepon kantor Ibu, dan, yes! Suara yang terdengar akhirnya lebih jelas. Tapi baru beberapa menit kami bicara... "Guk... guk...", Eris mengonggong cari perhatian, hahahaha.
Meski bekerja di rumah, tetap saja aku perlakukan pekerjaanku dengan serius. This is my job, this is my responsibility. Jadi aku langsung tutup pintu rapat-rapat dan kembali melanjutkan wawancara sambil berjanji dalam hati akan menghibur Eris kemudian.

Banyak yang bertanya kenapa aku memilih bekerja di rumah. Seorang teman bahkan terang-terangan bilang bahwa ia menyayangkan gelar "S.Ip" aku disia-siakan. Well, menurutku nggak ada yang sia-sia. Ilmu meskipun nggak dipakai untuk profesi yang sesuai gelar pasti akan berguna untuk suatu hal. Toh aku berusaha sebaik mungkin waktu mencapai gelar itu :) Bekerja di rumah pun jujur saja, awalnya bukan keputusanku begitu lulus kuliah. Aku ingin menjajal ilmu 'Hubungan Internasional' dulu sekitar satu tahun baru lanjut bekerja di rumah. Tapi manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, Tuhan tetap yang menentukan akhirnya karena Ia tahu yang terbaik. Semenjak lulus, scoliosisku semakin sering nyeri. Keadaanku nggak memungkinkan untuk bekerja lama-lama, apalagi meninggalkan kotaku, karena (saat itu) harus terapi 3 kali per minggu. Aku pun memutuskan untuk bekerja di rumah, fokus ke naskah novel kedua yang mulai dikerjakan tepat setelah wisuda, dan menjalankan bisnis on line shop (yang sebenarnya sudah dimulai sejak aku kuliah, tapi belum begitu serius).

Nggak bisa dipungkiri, awalnya usahaku nampak nggak berhasil. Masih jarang yang melirik desain-desainku di online shop. Malah aku sempat kepikiran untuk berhenti dan memakai modalnya untuk hal lain. Begitu juga dengan novel, aku sempat insomnia berat gara-gara kebanyakan mikir 'bisa nggak ya aku make a living dari menulis?'. Tapi lambat laun Tuhan menujukan jalannya, Toko Kecil Indi, online shopku mulai punya pelanggan tetap. Sedangkan novel-novelku mulai membuahkan prestasi dan 'pemasukan' yang membuat hati lega. Novel perdanaku "Waktu Aku sama Mika" sampai bulan ini sudah dicetak 7 kali, dan novel keduaku "Karena Cinta itu Sempurna" sudah dicetak 4 kali, padahal baru saja terbit bulan Maret lalu. Thank God... Tuhan memang maha ajaib. Meski aku nggak kemana-mana tapi aku  merasa berkecukupan :)

Soal suka duka, nggak kalah dengan yang bekerja di luar/di kantor. Tapi yang paling menonjol adalah 'duka' stereotype. Rumah identik dengan tempat beristirahat dan bersantai, bukan bekerja. Sering kali aku dapat reaksi 'iba' saat aku menyebutkan tempat di mana aku bekerja. Kalau sudah begini aku cuma bisa bersabar dan mencoba membuktikan bahwa di rumah juga bisa aktif, menghasilkan dan... menjanjikan :) (Amen, ya...).
Kalau soal suka tentu saja banyak. Yang paling aku syukuri adalah bisa dekat terus dengan keluarga. Rasanya bahagia sekali aku bisa membantu pekerjaan rumah sebelum kembali ke balik komputer. Melihat orangtuaku tersenyum dan bilang 'terima kasih' waktu aku bantu menyapu halaman rasanya nggak tergantikan! :)

Meski aku bekerja di rumah, bukan berarti aku nggak bisa bersosialisasi. Pekerjaanku (kedua-duanya) justru sering mempertemukan aku dengan orang-orang baru. Beberapa kali aku diundang ke stasiun TV untuk acara talk show dan juga fashion. Malah sering kali mereka lah yang mendatangiku ke rumah. Untuk shooting acara fashion biasanya lebih nyaman di kantor Ibu (yang merangkap rumah) karena di sana ada display baju-baju hasil desainku. Yang berkesan adalah waktu Indra Herlambang datang ke rumah (nop, nop, I'm not his gossip show fans) dan surprise, dia menghampiri Bapak lalu bilang, "Pak, anaknya berbakat sekali. Baru saya baca buku yang bahasanya indah dan menyentuh". Tapi sayangnya Bapak nggak terharu ataupun menunjukan reaksi bangga. Beliau malah menaikan alisnya dan bilang, "Masa?", hahahaha *tepok jidat*. Indra juga memberikanku buku perdananya yang berjudul "Kicau-Kacau" (nice book, seriously) dan sebuah note manis;


"To: Indy
Thank you for the inspiration".


Indra Herlambang

(harusnya namaku dieja pakai huruf 'i", bukan "y", ya hihihi).


Warna Trans 7, September 2011

Sweet note from Indra Herlambang :)


Pose-pose Richard 'Bule' bersama buku Waktu Aku sama Mika, lol.


Benar-benar moment yang membuat aku freeze sejenak :) Tapi ada lho yang lebih berkesan dari itu. Tahu Richard si penulis "Bule juga Manusia"? Well, okay, mungkin Indra Herlambang jauh lebih terkenal dari pada dia, tapi trust me, bule yang satu ini lucu banget. Dan selain kami berteman, ia juga membuatkanku foto pose-pose konyolnya bersana novel "Waktu Aku sama Mika". Hahahaha, aku terharu, Richard! :'D

Don't get me wrong, aku nggak bilang bahwa bekerja di rumah lebih baik daripada kerja di kantor, ya. Kerja di mana pun sama baiknya, asalkan dikerjakan dengan tulus dan sungguh-sungguh. Kesungguhan selalu membuahkan hasil, aku percaya :) Aku  cuma mau mengingatkan bahwa selalu ada jalan, bagaimana pun keadaan kita selama nggak lupa berdoa dan berusaha. Jika gagal dengan sebuah pekerjaan, jangan menyerah untuk mencoba kembali. Dan saat kita pikir nggak berhasil, think again, Tuhan memberikan semua umatnya bakat. Itu adalah "bekal alami" yang bisa dipergunakan, kita tinggal mengasahnya saja.

Ah, iya, aku jadi ingat. Sekarang aku sedang di tengah project novel yang royaltinya akan disumbangkan untuk charity. Aku semangat banget, apalagi royaltinya akan disumbangkan ke yayasan-yayasan fauna --- I love animals---. Sebenarnya project ini sudah berjalan sejak beberapa bulan lalu dan sekarang sudah hampir rampung, tapi aku pikir akan menyenangkan kalau ada teman-teman yang mau ikut menyumbang. Caranya gampang, cukup kirimkan cerita, quote, puisi, gambar, foto atau apapun yang berisikan pengalaman kalian dengan binatang (nggak harus pet, bisa juga binatang yang pernah ditemui) yang menginspirasi ke namaku_indikecil@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama, usia dan lokasi, ya. Novel akan diterbitkan awal tahun depan oleh Homerian Pustaka dan laporan charity akan diupdate di blog ini ;)

Begitulah pekerjaanku. Aku bersyukur selalu ada yang menyemangati ketika merasa kurang mampu melakukan sesuatu. Keluarga, teman-teman (iya, termasuk teman-teman blogger :) ), really blessed to have them. Aku memang bukan yang terbaik, bukan juga yang ahli. Tapi apapun 'posisi' di profesiku sekarang, yang terpenting adalah aku berusaha melakukan yang terbaik, berusaha sebaik-baiknya.

Well, sekarang sepertinya sudah larut (betul nggak ya? Jam dindingku mati soalnya, hihihi), sudah waktunya beristirahat supaya aku siap bekerja besok siang. Ada hal menarik yang akan aku lakukan bersama anak-anak di sekitar rumahku besok, akan aku share ceritanya lain kali. Selamat istirahat ya, teman-teman. Love your job, explore your potential and don't forget to thank God. Good night! ;)


"Don't give up, try again and motivate yourself to be better. If J. K. Rowling gave up once she got rejected, we'll never know who is Harry Potter, right? Be serious with what you are going to do, sincerity always giving you the best one".

(My personal quote from an interview with Seycil Corner)




stick out your chin and grin,


INDI



-------------------------------------------------------------------------
Contact Me? HERE. Sponsorship? HERE.