Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Februari 2024

Izin Tinggal yang Menyebalkan dan Mall yang Menyenangkan! :)

Keputusan Shane untuk tinggal di Indonesia memang mengejutkan. Bayangkan saja, Shane nggak pernah pergi jauh dari negaranya, Amerika, ---paling jauh hanya sampai Jamaika. Lalu tiba-tiba saja ia bilang ingin mengunjungi aku, (yang waktu itu masih) sahabat internetnya di Indonesia. Aku bilang pada orangtuaku kalau akan ada teman yang berkunjung. 

"Tiga minggu saja paling lama," ujarku pada Ibu dan Bapak, ---yang ternyata keliru. 

Shane dan aku saling jatuh cinta segera setelah kami bertemu. Perubahan status kami dari sahabat ke sepasang kekasih membuat Shane mengubah rencananya. Orangtuaku terkejut, keluarga Shane apa lagi! Tapi mereka ikut berbahagia dan mendukung apapun keputusan kami :)


Aku dan Shane sama-sama clueless tentang izin tinggal di Indonesia. Shane ke Indonesia menggunakan visa kunjungan yang hanya berlaku selama satu bulan. Lalu bagaimana caranya agar ia bisa di sini bersamaku selama tujuh bulan kami berpacaran? Well... sekarang sih terdengar "lucu", tapi percayalah waktu itu cara yang Shane lakukan adalah satu-satunya cara yang masuk akal bagi kami. Jadi setiap masa tinggalnya habis Shane pergi ke Singapura di pagi hari dan kembali lagi ke Indonesia di sore hari DEMI MENDAPATKAN CAP VISA KUNJUNGAN DI PASPORNYA! Iya, orang yang sekarang jadi suamiku itu rela pulang-pergi ke luar negeri satu bulan sekali, bahkan tanpa meninggalkan Bandara untuk mengejar penerbangan berikutnya, supaya ia bisa tinggal dengan legal di Indonesia, ahahahaaa :"D


Untung saja beberapa minggu setelah menikah kami diberi tahu kalau ada yang namanya KITAS, ---Kartu Izin Tinggal Sementara untuk WNA yang berlaku selama satu tahun (---nah, mengerti kan kenapa kami jadi merasa konyol, hahaha). Atas saran Alison, mantan atasanku di Preschool tempat aku dulu mengajar, kami menggunakan jasa agen untuk mengurus segala macam dokumen yang diperlukan. Jadi selama satu tahun pertama kami tenang, izin tinggal Shane sudah ada yang mengurus dan kami hanya perlu ke Imigrasi  untuk pengambilan foto dan sidik jari. Praktis, cepat, ---tapi kami terkejut setelah tahu berapa biaya asli pembuatan KITAS. Ternyata kami membayar hampir dari tiga kali lipat! Huaaa, agak menyesal rasanya, dan sejak saat itu kami memutuskan untuk mengurusnya sendiri saja. Kan lumayan tuh uang lebihnya bisa dipakai buat jatah makan seblak satu tahun :p


Tahun pertama mengurus KITAS berdua saja kami masih meraba-raba. Kami menjelaskan pada pihak Imigrasi kalau sebelumnya kami menggunakan jasa agen jadi belum mengetahui apa saja yang harus kami bawa. Aku ingat sekali waktu itu aku dan Shane saling bertukar pandang karena heran. Di zaman yang serba digital ini ternyata fotokopi KTP, Kartu Keluarga, CNI, dsb, dst, masih juga menjadi salah satu persyaratan perpanjangan KITAS. Dengan banyaknya kolom di formulir yang diisi, dengan seluruh data kami yang sudah ada di komputer, kenapa fotokopi masih diperlukan? Kertas-kertas fotokopi yang isinya selalu sama setiap tahun itu memang nantinya dikemanakan? Jangan sampai deh berakhir di tukang gorengan. 


Jadi setiap akhir tahun saat keluarga kami merencanakan liburan, aku dan Shane merencanakan kunjungan kami ke Imigrasi, hahaha. Di kedatangan pertama aku dan Shane harus menyerahkan segala macam fotokopi, foto terbaru, paspor, mengisi formulir dan membayar biayanya. Setelah itu kami dijadwalkan untuk pengambilan data biometrik (sidik jari dan foto). ---Yup, semua itu nggak bisa dilakukan di satu hari saja. Lumayan menguras tenaga fisik dan mental karena jarak dari rumah ke Imigrasi nggak dekat dan perjalanannya nggak pernah mulus (warga Bandung pasti paham kalau di daerah Surapati always macet, sniff...). Pernah satu kali kami terpaksa kembali lagi ke rumah hanya karena nggak membawa CNI. Padahal satu malam sebelumnya kami menerima email dari Imigrasi yang NGGAK menyebutkan CNI sebagai salah satu persyaratan. Aku sampai menunjukkan bukti email dan Buku Nikah, karena CNI itu sendiri adalah surat bukti kalau Shane nggak terikat pernikahan di negaranya. Harusnya kita nggak butuh CNI lagi dong karena sudah menikah legal di sini dengan bukti Buku Nikah dan data di Disdukcapil? :'D Tapi tetap saja mereka kekeuh menginginkan selembar kertas fotokopi dari kedutaan Amerika itu.


Bulan Desember 2023 yang lalu ketika akan melakukan "kunjungan" rutin ke Imigrasi level anxiety kami cukup tinggi. Dua tahun yang lalu aku dan Shane sempat merasa nggak nyaman karena salah seorang petugas memanggilku dengan sebutan "Kakak" dengan nada over friendly (ykwim...) dan berkomentar tentang penampilanku. Bukan saja terkesan nggak profesional tapi juga membuat Shane merasa kurang dihargai (ia merasa "dikacangin"). Like, why does he care about my appearance? Panggilan "Kakak" dan mengomentari kalau styleku "Kawaii" itu nggak appropriate untuk diucapkan di tempat yang formal. And he's NOT even my friend! ---To be clear ya, BUKAN panggilan “Kakak” nya yang jadi masalah. Tapi ini soal tempat dan sedang dalam kepentingan apa. Di tempat di mana semua orang dipanggil “Ibu” dan “Bapak” (bahkan Shane dipanggil “Sir”), kenapa petugasnya memilih memanggilku dengan sebutan yang berbeda dan membuat komentar nggak perlu soal penampilan dan saat melihat foto KTP ku? Ia bahkan nggak bertanya apa-apa sama Shane, seolah nggak kelihatan. Padahal Shane yang berkepentingan untuk urusan KITAS. Aneh :S Meski petugasnya sekarang sudah nggak bekerja di sana tapi tetap aku dan Shane jadi menetapkan Imigrasi sebagai tempat least favorite kami. "Vibesnya nggak enak," begitu kata Shane. Syukurlah persyaratan perpanjangan KITAS kami nggak ada yang kurang dan berjalan lancar, ---atau kami kira begitu...


Di kunjungan kami yang kedua untuk pengambilan data biometrik, seharusnya menjadi hari yang sama dengan pengambilan paspor milik Shane. Tapi kemarin nggak begitu, setelah menunggu sebentar kami diberitahu kalau paspor belum bisa diambil. Waktu aku bertanya sama petugasnya kapan, ia menjawab, "Belum tahu, whatsapp saja ke sini hari Senin. Tanyakan tentang status permohonan KITAS nya dan kapan paspornya bisa diambil."

Jujur, rasanya kepengin nangis tahu nggak sih, ahahaha... Sudah jauh-jauh datang, DUA KALI PULA, eh masih juga harus kembali lagi, KAPAN-KAPAN (karena bahkan petugasnya saja belum tahu, ahahahaha). Kalau begini rasanya lebih baik kami kembali pakai agen saja! Ingin rasanya menyerocos bertanya kenapa kami nggak dikabari saja lewat Whatsapp, email, telepon, pos, atau apapunlah supaya kedatangan kami nggak sia-sia. Tapi semuanya hanya di dalam kepalaku, karena badanku rasanya terlalu lemas dan mood sudah jelek. Aku hanya ingin pulang dan tidur.


Tapi Shane rupanya punya ide lain, alih-alih setuju untuk pulang ia mengajakku untuk ke mall. Katanya ia ingin membuat hari kami yang dimulai dengan sangat menyebalkan menjadi lebih baik. Senyumku pun kembali. Bukan karena gembira akan berjalan-jalan di mall, tapi karena aku bersyukur memiliki suami yang selalu mencoba "memperbaiki" hari untuk kami :) Dengan bantuan aplikasi map di handphone aku menemukan mall terdekat dari gedung Imigrasi, Mall Bandung Indah Plaza, mall yang sempat menjadi tempat favoritku ketika masih kecil sampai remaja. Segera kami ke sana tanpa rencana dan tanpa tahu apa yang ada di sana. Sudah sangat lama sejak terakhir kali kami mengunjungi mall tertua di Bandung itu. (---Itu pun sangat sebentar, untuk makan karena terlewat saat pulang sehabis kami dari Rumah Sakit). Di perjalanan Shane berkata kalau aku harus bersenang-senang di sana, lakukan apa saja yang aku inginkan dan jangan pikirkan soal urusan Imigrasi yang menyebalkan.


BIP, mall masa kecil dan remaja. Sudah banyak yang berubah, jadi kangen suasana dulu, huhu.


Mall sedang nggak terlalu ramai. Di beberapa pojok terlihat sedikit festive karena sedang suasana Natal dan Tahun Baru. Dengan mantap aku langsung mengajak Shane ke restoran fast food yang menjual burger plant based. ---Junk food nabati memang selalu sukses membuat moodku lebih baik, hehe. Kami ke Burger King karena plant based whopper mereka enak sekali (dan sangat mengenyangkan!). Sayang ternyata stocknya habis :') Perasaanku sih sepertinya mereka memang sudah discontinued, at least untuk wilayah Bandung karena di cabang lain pun jawabannya selalu sama. Tapi mungkin supaya terdengar halus dan menjaga supaya harapan para vegan tetap tinggi jadi bilangnya "habis" :p Untung saja di lantai paling atas ada A&W. Mereka punya menu yang namanya Veggie Burger. Rasa dan teksturnya lebih mirip perkedel dibandingkan dengan burger, tapi menurut kami sih sama-sama enak apalagi saat dipadukan dengan curly fries. 


Dekorasi mall sangat minim, di lantai atas malah hampir gak ada dekorasi :D


Kami makan sambil mengobrol ini-itu, sama sekali nggak membahas soal Imigrasi. Shane dengan random bilang kalau ia tiba-tiba ingat lima tahun yang lalu di hari yang sama kami makan di foodcourt Metro Indah Mall dan ia mengambil fotoku yang sedang duduk di depan pohon Natal. Aku tertawa mendengarnya, aku ingat waktu itu kami baru sekitar dua minggu menikah dan aku sedang ingin makan seblak. Jadi bibirku tampak merah dan dower sekali di foto, hahaha. Somehow Shane menyukai foto itu dan sampai sekarang masih menjadikannya wallpaper di handphonenya :) Oh iya, Shane dulu bukan "anak mall", ia lebih suka pergi ke toko musik atau hangout di rumah teman-temannya. Tapi semenjak bersamaku tampaknya ia jadi menyukai mall, bahkan mulai hapal dengan nama-namanya, hehe.


Hahaha, sign di belakang kami. Aku bertanya sama Shane apa ia merasa "di rumah" :p


Foto kenangan bibir dower di foodcourt Metro Indah Mall, hahaha :D


Selesai makan Shane bertanya padaku apa lagi yang ingin kulakukan. Aku berpikir sejenak lalu mengajaknya ke bioskop untuk melihat film apa saja yang sedang diputar. Kebetulan sekali ada "Wonka", dan hari pertama tayang! Sejak kecil Shane sangat menggemari film "Willy Wonka and the Chocolate Factory" (1971), film yang (seharusnya) menjadi adaptasi dari buku Roald Dahl yang berjudul "Charlie and the Chocolate Factory". Sementara aku adalah penggemar berat buku-buku Roald Dahl, baik buku anak-anak maupun buku dewasanya. Jadi menonton film ini merupakan win-win untuk kami; Shane bisa menonton "prekuel" dari film favoritnya, sedangkan aku bisa membandingkan karakter Wonka dengan yang di buku. Kupikir bioskop akan ramai, apalagi di hari Senin harga tiket lebih murah. Tapi ternyata di dalam teater hanya ada kami berdua dan beberapa orang di baris samping dan belakang kami. Aku menyukainya :)


Poster film "Wonka".


Kedua buku tentang Willy Wonka dan karya Roald Dahl yang lain.


Aku dan Shane sangat menikmati filmnya, ---aku bahkan sempat terlarut di beberapa adegan dan sedikit meneteskan air mata :'D Telinga dan mata kami terasa dimanjakan, semuanya porsinya pas, dari drama, hal-hal magis dan musiknya. Mungkin kalau aku terlalu berharap filmnya patuh dengan cerita di buku Roald Dahl aku nontonnya bakal kecewa, ya. Tapi karena sudah belajar dari film-film adaptasi Roald Dahl lain yang hampir NGGAK PERNAH persis bukunya, aku jadi menikmati filmnya sebagai sebuah karya mandiri yang "diinspirasi" Roald Dahl saja. Karena kalau dibilang jadi prekuel film versi tahun 1971 pun sebenarnya nggak nyambung-nyambung amat. Background storynya ke mana-mana, hanya karakter Willy Wonka saja yang mendekati. Disambungkan dengan film "Charlie and the Chocolate Factory" versi tahun 2005 (yang mana paling patuh dengan bukunya) apalagi, ---makin jauh, ahahaha. Jadi ya dinikmati apa adanya saja. Oya, di film "Wonka" juga ada kejutan menyenangkan dari Rowan Atkinson, yang meski perannya nggak banyak tapi sukses bikin aku tersenyum haru. Sebelumnya di film adaptasi Roald Dald yang berjudul "The Witches" (1990) ia juga punya peran sebagai Mr. Stringer, eh tiba-tiba sekarang muncul lagi sebagai Pendeta. Jadi makin nostalgia masa kecil, kan! :'D 


Begitu keluar dari teater, aku dan Shane sepakat kalau filmnya membuat kami jadi ingin makan cokelat! Tanpa berbelok ke mana-mana dulu kami langsung ke supermarket di lantai dasar dan mencari cokelat "yang bisa kami makan". Kebanyakan cokelat yang dijual di pasaran mengandung susu, dan kami yang vegan ini menghindarinya. Syukurlah setelah mencari nggak terlalu lama kami menemukan dark chocolate yang kemasannya cukup besar untuk dimakan berdua! Biasanya kami hanya menemukan chocolate bar kecil, jadi harus beli beberapa supaya puas. Tapi kali ini kami dapat kemasan pouch yang isinya ada banyaaaak. Hore! :) 

Nggak terasa hari sudah semakin gelap, kami putuskan untuk segera pulang setelah sebelumnya membeli treat untuk Kitty, si kucing mungil, yang ditinggal sendirian di rumah. Kami banyak sekali tertawa. Kalau saja nggak melihat outfit kami yang memakai batik, aku nggak akan ingat kalau sebelumnya habis mengalami hari yang menyebalkan di Imigrasi :p


***


"Shane, kalau tiba-tiba kita ketemu Steven Tyler terus dia naksir aku gimana?" Tanyaku iseng.

"Oh, nggak apa-apa, nanti kamu pura-pura suka sama dia. Terus kalau dia kasih kamu uang jangan lupa bagi aku ya," jawab Shane.

Aku tersenyum nakal, "Tapi kalau aku naksir beneran sama dia gimana?"

Shane diam sejenak, menatapku dengan serius lalu berkata, "Ya, artinya kamu tetap saja harus bolak-balik ke Imigrasi. Kan Steven Tyler juga perlu Kitas. Dia dan aku nggak ada bedanya kalau di Indonesia, sama-sama WNA!"

"Oh, iya juga ya," aku terkikik geli. 


Nggak, aku nggak naksir Steven Tyler, kok. Aku nggak akan menukar suamiku ini dengan apapun, hahaha. Nggak bisa aku membayangkan diriku dengan orang lain selain dengan Shane, ---yang selalu berusaha mengubah hari menyebalkan menjadi hari terbaik sedunia! ---Ia sudah lebih dari cukup untukku :)


blessed girl,


Indi


Kalau teman-teman ingin membaca proses pernikahanku dan Shane bisa baca di sini :)

____________________________________

Instagram: @indisugarmika | Youtube: Indi Sugar Taufik

Jumat, 04 Agustus 2023

Menginap di Hotel Kapsul: Awalnya Terpaksa Tapi Berakhir Bahagia! :D




Ada nggak sih orang yang sengaja staycation di hotel kapsul? Maksudnya bukan karena transit atau mau jalan-jalan gitu terus milih hotel kapsul cuma buat tempat tidur tok, ---tapi benar-benar NIAT buat staycation di sana. Kayanya kebanyakan orang bakal milih staycation di hotel konvensional kali ya, yang ada fasilitas buat bersantai seperti kolam renang atau minimal bath up. Soalnya aku pun begitu. Kalau bukan karena terpaksa seperti beberapa tahun yang lalu waktu harus menunggu di bandara, aku ogah menginap di hotel kapsul lagi xD 


Makanya aku cukup kaget waktu Ali bilang ingin menginap di hotel kapsul. Tahun sebelumnya kami staycation di hotel yang punya fasilitas kolam renang dan kids club. Kupikir waktu itu Ali sangat menyukainya jadi akan memilih hotel yang serupa, tapi ternyata aku salah. Dengan mantap ia memilih hotel kapsul karena pernah melihat videonya di Youtube, dan ia penasaran seperti apa rasanya menginap di sana, ahahaha :') Aku nggak langsung mengiyakan tentu saja, tapi menawarinya beberapa pilihan hotel yang sekiranya ia akan suka. Aku juga menceritakan perasaanku ketika menginap di hotel kapsul, ---bahwa di sana tempatnya sempit, kamar mandinya sharing dan nggak ada play groundnya. Bukan untuk menakuti, tapi agar Ali tahu seperti apa di sana dan jangan sampai ia nggak menikmati waktu staycation. Dari beberapa hotel yang aku tunjukkan reviewnya di YouTube, Ali (agak) tertarik dengan tiga hotel yang lokasinya dekat mall dan salah satunya punya fasilitas untuk anak-anak. Segera aku menghubungi ketiganya untuk booking di akhir minggu. Aku sadar akhir pekan selalu jadi waktu yang sibuk di dunia perhotelan, jadi hotel mana pun yang punya kamar kosong akan aku ambil dengan senang hati.


Tapi ternyata... ketiga hotel yang Ali pilih semuanya sudah fully booked! Aku bahkan mencoba booking via aplikasi dan tetap, no luck. Aku bilang sama Ali, "Well, sepertinya tahun ini kita benar-benar staycation di hotel kapsul seperti yang Ali mau." Dan ia langsung menyambutnya dengan gembira, ---sangat-sangat gembira! :D Ali langsung merencanakan apa saja yang akan ia lakukan di sana dan kemana saja kami akan berjalan-jalan. Melihat Ali seperti itu membuatku jadi ikut gembira dan sedikit terharu. Keinginan Ali sangat sederhana, aku jadi merasa bersalah karena nggak langsung mengiyakan, huhuhu :') Ketika aku bersiap untuk memilih hotel kapsul dan memesannya, ada notifikasi yang masuk di handphoneku. Rupanya aku memenangkan giveaway dari Inspira TV, salah satu stasiun TV digital! ---Dan tebak apa hadiahnya?

Voucher diskon menginap di Bobobox alias hotel kapsul! :')


Daftar rencana staycationnya Ali :')


Ali juga ingin mentraktir kami jadi ia membawa bekal "uang" :D



Hari Pertama: Asyik di Luar Angkasa, Menunggu Bapak dan Lapar Dini Hari.


Akhirnya hari yang paling ditunggu oleh Ali pun tiba. Jumat, 2 September 2022, kami bersiap-siap segera setelah Ali pulang sekolah. Rencananya yang akan menginap di hotel hanya aku, Shane dan Ali. Tapi aku memutuskan untuk memesan dua kamar karena Ali ingin Bapak ikut menemani kami di malam hari (---mungkin ia takut disuruh tidur sendirian, hihihi). Sebenarnya keputusanku ini agak gambling, Bapak belum tentu bisa datang karena sedang mengawasi pegawai yang merenovasi tempat tinggal baruku dan Shane. Tapi kupikir nggak apa-apa, better ada kelebihan kamar daripada kebingungan kalau beliau tiba-tiba datang :D Toh aku punya voucher potongan harga, jadi kamar ekstranya nggak bayar harga full :)


Foto sebelum kami berangkat.


Sekitar jam 2 siang kami bertiga berangkat dengan menggunakan mobil online. Hotel Bobobox yang kami tuju itu cabang Alun-Alun, tepatnya di Jl. Kepatihan no. 8 Bandung. Di sana nggak ada tempat parkir khusus pengunjung hotel di dalam gedung, harus jalan ke parkiran Alun-alun atau menumpang di supermarket di sampingnya, atau di mall di sebrangnya. Kami pikir agar lebih praktis gak perlu pakai kendaraan pribadi, jadi bisa langsung berhenti di depan lobby dan nggak pusing mikirin tempat parkir xD 


Berbeda dengan hotel konvensional, Bobobox punya aplikasi sendiri untuk booking dan untuk digunakan selama beraktivitas di hotel (---lumayan makan space memory HP, huhuhu). Jadi waktu kami tiba aku langsung menunjukkan bukti pemesanan untuk mendapat barcode yang nantinya digunakan sebagai akses keluar masuk, termasuk akses ke kamar mandi. Karena aku memesan dua kamar (dua pods) jadi aku mendapat dua barcode, ---yang ternyata bikin sedikit ribet karena kadang tertukar dan bikin pintu nggak bisa dibuka, hahaha. Tapi di luar keribetan itu (mending pakai kartu akses saja deh kalau boleh milih), aku salut dengan semua pegawainya yang super ramah dan helpful. Meski bukan hotel yang didesain khusus untuk ramah anak, tapi mereka baiiiiik banget sama Ali. Dari mulai security sampai front desknya selalu menyapa dan mengajak Ali bercanda. Wah, belum apa-apa Ali langsung bilang betah, deh :D


Setelah proses check in kami menaruh sepatu-sepatu kami di loker mungil untuk digantikan dengan sandal hotel. Sandal-sandal ini hanya boleh digunakan di area kamar, lorong dan kamar mandi. Kalau mau ke area lobby kami harus menukar kembali dengan sepatu, alasannya tentu supaya kebersihannya terjaga. Kami mendapat kamar yang paling ujung, pod nomor 1 dan nomor 3. Dua-duanya tipe skypod alias di atas (ada dua pilihan di atas atau di bawah, jadi podsnya ditumpuk). Karena Bapak belum tentu datang jadi kami bertiga masuk ke kamar nomor 1 saja. Sesuai dugaan, Ali super bersemangat dan langsung memanjat ke atas tempat tidur :D Meski kamar kami didesain untuk dua orang dewasa dan 1 anak, tapi tetap semuanya serba mungil dan compact. Untuk naik ke tempat tidur kami harus memanjat meja yang punya fungsi lain sebagai tangga, hahaha. Untung bawaan kami sedikit, masing-masing hanya satu ransel berisi baju ganti dan dua buah boneka untuk menemani tidur (Onci, bonekaku dan Yeyer, boneka Ali). Jadi kamar kami nggak terasa terlalu sempit. Nggak kebayang kalau kami menginapnya berhari-hari dan harus bawa lebih banyak tas, bisa-bisa kami nggak punya space untuk memijakkan kaki :D


Ali dan Shane langsung mengeksplor isi pod, termasuk tablet yang menempel di dinding.


Ali yang happy :)


Aku dan Onci. Bisa nangis aku kalau ia ketinggalan, hahaha.


Karena sebelumnya sudah pernah menginap di hotel kapsul lain (Digital Airport Hotel-Terminal 3), otomatis aku jadi membandingkan keduanya. Di Bobobox meskipun kami memilih tipe pod yang paling besar tapi di dalamnya nggak ada TV. Berbeda dengan pengalamanku sebelumnya, di dalam pod mungilnya ada TV layar datar yang dilengkapi dengan TV kabel dan headphone. Agak kecewa sih, karena biasanya saat staycation hiburanku selain mengobrol dengan keluarga ya menonton film, hehe xD Tapi Bobobox juga punya kelebihan, sih, di dalam podnya ada lampu yang warnanya bisa diatur sesuai mood kita, juga ada pilihan suara-suara alam yang membantu istirahat jadi lebih relax. Semuanya bisa dikontrol melalui tablet yang menempel di dinding atau melalui aplikasi di handphone. Tips dariku, jangan pasang suara sungai mengalir, soalnya bikin pengin pipis, ahahaha :p 


Suasana pod di Digital Airport Hotel. Sama-sama futuristik tapi ada TV nya.


Ali sudah pintar banget mengambil foto kami, jadi kalau mau berfoto berdua gak perlu timer :p


Another pic by Ali.



Kalau berfoto bertiga gini HP nya disenderin di dinding :p


Lokasi hotel kami super strategis, berhadapan dengan The King's Shopping Center, ---mall legend di Bandung yang sempat kebakaran dan bangkit kembali. Di sekitarannya banyak penjual street food, dan kalau jalan sedikit ke sampingnya ada supermarket Yogya yang lumayan lengkap. Aku dan Shane sudah lapar dan berencana untuk mencari makan siang di sekitaran. Tapi rupanya Ali sangat betah di dalam pod dan nggak mau keluar, padahal ia baru makan siang sedikit sepulang sekolah. Ali sangat sibuk mengotak-atik tablet, mengatur lampu dan suara sesuai seleranya. Katanya ia merasa sedang berada di spaceship seperti Buzz Lightyear xD Aku senang Ali menikmati waktunya, tapi ia tetap harus makan. Dan akhirnya setelah dibujuk kalau setelah makan siang boleh membeli permen, ia pun setuju untuk ikut dengan kami :D


King's Mall terlihat jelas dari hotel karena letaknya bersebrangan.


Shane sedang ingin makan pizza, jadi kami ke Pizza Hut yang berada di dalam mall. Kami selalu berusaha fleksibel, kalau di sekitar nggak ada restoran vegan maka kami akan masuk ke restoran apa saja dan cari menu yang paling mendekati tanpa hewani lalu dimodifikasi. Apalagi kalau sedang liburan seperti ini dan kami bersama orang lain yang makan non vegan, kami nggak mau jadi "sok ekslusif" dan bikin ribet. Di Pizza Hut ada pizza Veggie Garden yang memang vegetarian friendly, jadi kami tinggal request untuk tanpa keju saja. Kalau komposisi yang beredar online akurat, adonannya memang tanpa susu dan telur sih. Ada kemungkinan mengandung butter, but we tried our best ;) Aku dan Shane berbagi satu pan besar, sedangkan Ali berbagi satu pan kecil dengan Yeyer, bonekanya yang ia ajak makan siang, hehehe. Seperti biasa kalau sedang moment istimewa aku izinkan Ali untuk memesan minuman yang sedikit "nakal" (asal jangan soda, kopi dan alkohol, ya, hehe). Ia memilih untuk memesan lemon tea yang kalau hari-hari biasa bakal jadi big no kecuali kalau bikin sendiri di rumah :D 


Sebelum makan berfoto bersama dulu. Yang fotoin Mbak Pizza Hut yang baik hati :)


Yeyer, bonekanya Ali juga ikut. Tuh, ia duduk di samping Shane ;)


Sesuai janjiku, sehabis makan Ali boleh membeli permen (again, ini juga hanya untuk moment istimewa). Di King's ada konter permen yang letaknya di samping eskalator, namanya "Sweet 16 Candy Castle" (kalau di Google namanya "Candy Toko", Idk why). Waktu kecil aku selalu happyyyyy banget kalau diajak Ibu ke sana, dan sekarang ternyata jadi tempat favoritnya Ali juga :D Ya, nggak heran sih karena pilihannya memang banyak dan kita dibebaskan untuk mencampur berbagai macam permen atau cokelat jadi satu gitu. Maksudnya kita nggak perlu beli satu pack, tapi bebas mengambil jenis apapun dan nantinya dihitung per ons, ---tempting kan, hahaha. Tapi Ali anaknya memang manis banget, meski ia kubebaskan untuk mengambil apapun tapi ia selalu bertanya dulu sebelum memasukkan permen pilihannya ke keranjang :')


Beberapa permen pilihan Ali.


Setelah perut kenyang dan puas berjalan-jalan di mall, kami kembali lagi ke hotel. Karena aku sudah mandi di pagi hari, jadi aku hanya mencuci muka dan berganti baju dengan piama. Sementara Shane dan Ali mereka mandi terlebih dulu. Shane mandi di kamar mandi laki-laki (of course, haha) dan Ali mandi di kamar mandi perempuan karena masih harus aku awasi meski bisa mandi sendiri. Aku cukup kagum dengan keadaan kamar mandinya, karena meski sharing bathroom tapi cukup bersih, lho. Fasilitasnya juga nyaman, ada air panas yang mengalir lancar, hair dryer, bahkan setiap orang mendapatkan pasta dan sikat gigi yang bisa diambil di lobby. Plus handuk juga yang sudah tersedia di masing-masing pod, tapi hanya dipinjamkan tentunya :D Aku nggak tahu ya apa kondisinya memang selalu bersih atau hanya kebetulan karena pas kami menginap tamunya sedang sedikit. Semoga sih memang selalu bersih, ya ;)


Fasilitas kamar mandi yang bisa dipakai bersama. Lengkap juga, ada hair dryer, blower dan sabun di area wastafelnya. Di sampingnya ada toilet stall tiga pintu.


Area shower. Ada pembatas antara shower dan tempat untuk ganti baju, jadi no basah-basah.


Sekitar jam 7 malam mulai deh Ali bertanya-tanya apa Abah alias Bapak akan datang untuk menginap bersama kami. Sepertinya ia mulai mengantuk, tapi untung saja nggak rewel, hehehe. Aku lalu menelepon Bapak dan syukurlah ternyata beliau bisa menyusul meski paginya harus kembali bekerja. Sama seperti Ali, aku juga senang karena artinya kamar ekstra yang ku booking nggak sia-sia :D Yang lucu saking bersemangatnya menyambut Bapak, Ali ingin menunggu di lobby saja supaya nggak ketiduran, hahaha. Sebetulnya Ibu sudah mengingatkan Ali lewat WhatsApp kalau ia lebih baik menunggu di kamar, tapi rupanya Ali benar-benar takut ketiduran jadi ia terus membujukku untuk menemaninya di lobby. Tadinya sambil menunggu kami ingin sambil cemal-cemil, tapi ternyata untuk pembayaran harus menggunakan dompet digital. Karena saldo OVO ku tinggal sedikit jadi kami hanya bisa beli 2 botol air mineral, ahahaha :'D Sebal sih, tapi mau gimana lagi. Mau keluar pun sudah malam dan aku nggak mau kalau tanpa Shane. Aku langsung kepikiran Bapak, gimana kalau beliau lapar tengah malam dan nggak bisa beli apa-apa karena nggak punya dompet digital :(


Ali yang sudah ganteng, wangi dan berpiama menunggu Bapak di lobby.


Right on time, Bapak tiba sebelum Ali ketiduran. Jadi sebelum Bapak tiba Ali akhirnya menuruti nasihat Ibu untuk menunggu di kamar. ---Well, sebenarnya karena sedikit diancam juga sih, Ibu bilang Bapak nggak akan jadi datang kalau Ali masih di lobby, hahaha. Aku nggak berlama-lama menemani Bapak dan Ali di pod nomor 3 karena mereka akan segera beristirahat. Aku hanya memberi Bapak perlengkapan mandi untuk besok pagi, sebotol air mineral dan barcode untuk akses keluar masuk. Nggak lupa aku juga mengingatkannya untuk mengirimiku pesan jika lapar atau memerlukan sesuatu karena aku dan Shane sepertinya akan begadang untuk menonton film. (---Nggak ada TV, HP pun jadi, lol). Setelah itu aku mengucapkan selamat tidur dan kembali ke pod nomor 1, kamarku dan Shane.


Yang ditunggu-tunggu Ali akhirnya datang juga. Wah, langsung dipinjami HP :p


Shane sedang tidur-tiduran di balik selimut sambil bermain HP ketika aku masuk ke kamar. Aku ikut berbaring di sampingnya dan mulai mencari-cari tontonan menarik. Internet (Wifi) di sini agak lambat jadi agak berat untuk dipakai menonton film. Bahkan waktu kami check in pun sempat kesulitan sebenarnya, tapi memang masih mending dibandingkan di kamar. Waktu kami di lobby Ali masih sempat menonton "I Am Groot" di Disney+ dan lumayan lancar, lho. Akhirnya kami urung menonton film dan menonton video-video pendek saja. Belum satu jam aku merasa ngantuk, mungkin pengaruh suhu yang sangat dingin juga. AC nya memang dingin sekali padahal sudah diatur ke suhu yang paling tinggi, dan selimut yang disediakan juga nggak membantu karena tipis dan ukurannya pas-pasan :') Kami sampai harus tidur berdempetan dan batal begadang, hahaha.


Sekitar jam 2 pagi aku dan Shane terbangun karena lapar (ajaib ya bisa berbarengan, lol). Kami lalu memutuskan untuk memesan makanan via aplikasi karena nggak yakin kalau masih ada yang berjualan di sekitar di waktu sangat larut. Nggak lupa sebelumnya aku juga mengirim pesan pada Bapak, siapa tahu beliau juga terbangun dan lapar. Tapi ternyata nggak ada balasan jadi aku asumsikan beliau sedang di alam mimpi bersama Ali dan Yeyer :D Kami memesan makanan dari restoran langganan sewaktu kami masih tinggal di apartemen yang (seringnya) buka sampai pagi. Aku dan Shane sering bergurau kalau alasan kami menjadi pelanggan karena kami nggak punya pilihan lain. Jadi meski sering salah dan porsinya berubah-ubah waktu memberikan pesanan, kami menerima saja daripada lapar tengah malam :p Joke aside, rasa masakannya lumayan kok :)


Di Bobobox tamu nggak boleh makan di dalam kamar, mereka sudah menyediakan 2 communal area yang bisa digunakan. Satu di rooftop dan satunya lagi di kursi dan meja yang disediakan di setiap lorong pods. Karena kami takut membangunkan tamu lain, jadi kami memilih untuk makan di rooftop saja. Nggak ada akses lift untuk ke rooftop dan mushala yang berada di lantai 4, kami harus menggunakan tangga manual yang sempit. Sangat disayangkan sebenarnya karena kesannya jadi nanggung. Jika lift bisa dipakai sampai lantai 3 kenapa nggak sekalian lanjut satu lantai lagi? Untuk yang fisiknya sehat sih nggak masalah, tapi untuk yang punya keterbatasan masa sih selama menginap harus diam di kamar karena nggak punya akses ke rooftop dan juga mushala, huhu. Kecuali kalau di tempat ini memang punya aturan yang menginap khusus untuk anak muda dan yang sehat saja ya :p


Anyway, di luar "keanehan" aksesnya yang sangat nggak senior dan disability friendly, kondisi rooftopnya sebenarnya oke. Luas, ada meja-meja panjang yang bisa untuk menampung banyak tamu sekaligus dan perlengkapan makan juga disediakan. Para tamu juga sepertinya lumayan bertanggung jawab, mereka langsung mencuci piring, sendok dan gelas sehabis digunakan. Kenapa aku bilang "lumayan"? Karena mereka nggak CUKUP bertanggung jawab untuk membersihkan sisa-sisa nasi di drainer wastafel! Ahahaha, jorok banget lihatnya :') Aku dan Shane yang "gelian" auto bersih-bersih wastafel supaya orang lain nggak harus mengalami hal sama, lalu cuci tangan dengan banyak sabun sesudahnya. 


Makannya pakai mangkuk karena Shane gak tahu kalau ada piring ekstra di lemari, hahaha.


Makan di rooftop dini hari itu mixed feeling. Lihat kota Bandung dari atas waktu keadaan sepi bikin perasaanku damai sampai lupa kalau siangnya selalu macet. Tapi di sisi lain aku juga merasa seram setiap melihat ke arah gedung supermarket yang berada di samping kanan hotel. Kelihatan begitu kosong dan "mati", benar-benar nggak ada tanda-tanda kehidupan. Entah ide dari mana aku tiba-tiba mengarahkan kamera HP ke arah jendela lantai paling atas supermarket. Tapi nggak lama aku berhenti, soalnya ingat kalau nggak akan siap kalau sampai lihat "sesuatu", ahahaha T_T Sehabis makan dan bersih-bersih kami kembali lagi ke kamar untuk tidur. Mau berlama-lama pun selain seram udara di atas sangat dingin. Minimal di kamar ada selimut deh meski harus saling tarik (karena mungil, hehe).



Hari Kedua: Sarapan Double, Mall dan Film Horor.


Kami berempat bangun pagi-pagi sekali, sebelum jam 7 pagi. Bapak langsung mandi karena beliau harus bekerja. Beliau bilang kamar mandinya nyaman, bersih dan air panasnya lancar. Suasananya juga sepi jadi terasa leluasa karena nggak harus berbagi dengan tamu lain. (---Yaaa, yang lain mungkin masih tidur, Pak! Hehehe). Mendengar beliau bilang begitu aku jadi lega, karena sebenarnya aku merasa nggak enak mengajak orangtua ke tempat seperti ini (baca: bukan hotel konvensional untuk bersantai). Tapi Bapak bilang ia nggak keberatan, so I guess everything is fine! :) Nggak bisa berlama-lama Bapak langsung pamit tanpa sarapan. Untung saja semalam aku sempat memberikan sedikit uang untuk berjaga-jaga jika ingin membeli sesuatu, jadi beliau bisa menggunakannya di perjalanan nanti. Ali terlihat sedikit berkaca-kaca dan sesekali membujuk Bapak untuk tetap bersama kami. Syukurlah hanya sebentar, nggak lama setelah Bapak melambaikan tangan dan masuk ke dalam lift untuk turun, Ali kembali ceria! :D


Ali mengantar Bapak ke lift.


Karena semalam aku nggak mandi, jadi aku putuskan untuk mandi selagi belum ada tamu lain yang memakai kamar mandi. Saat aku sedang bersiap-siap membawa handuk dan baju ganti, tiba-tiba Ali bilang kalau ia juga ingin mandi lagi! Waaah, nggak mungkin dong kami mandi berdua :D Untung saja Shane kemarin sudah mandi, jadi aku bisa minta tolong padanya untuk mengawasi Ali. Aku bilang padanya kalau ia hanya perlu mengawasi Ali dari luar tirai shower, nggak perlu ikut masuk. Karena yang Ali butuhkan hanya seseorang yang mengingatkan dan memastikan ia membilas sabun dengan benar lalu mengeringkan badannya dengan teliti. ---Well, sepertinya Shane understood the assignment. Karena begitu aku selesai mandi langsung disambut oleh Ali yang sudah rapi, rambutnya klimis dan wangi minyak telon, ahaha xD Kami berkumpul di pod nomor 1, nggak banyak melakukan apa-apa hanya menikmati waktu bersama. Sesekali Shane bermain dengan Ali, mereka berpura-pura Yeyer (boneka) bisa bermain skateboard dengan menggunakan HP sebagai papannya, hahaha. Lama-lama perut kami lapar juga, sementara mall baru buka jam 10 yang artinya masih 2 jam lagi.


Selfie setelah mandi. Langsung beda auranya, gak lagi muka bantal, hahaha.


OOTD bersama mural yang chubby sepertiku xD Oya, lorong ini salah satu communal space, bisa dipakai makan atau sekedar duduk-duduk.


Kami sudah rapi dan wangi. Hebat banget Ali mandi sendiri :)


Yeyer bermain "skateboard" :D


Karena nggak tahan aku memesan nasi goreng plus teh manis dari restoran terdekat yang sudah buka. Entah kenapa nasi goreng kami terasa amis, seperti ada ikan/seafoodnya gitu, padahal yang kupesan nasi goreng sayur :( Mungkin dimasak dengan wajan yang sama atau memang di bumbunya ada terasi/saus tiram, IDK. Yang pasti selama makanannya bersih aku nggak mau mubazir dan akan berusaha menghabiskannya. Tapi rasa amisnya memang terlalu kuat, aku hanya bisa memakannya setengah porsi. Begitu juga Shane dan Ali yang menyerah dan ingin menunggu mall buka saja untuk proper breakfast. Btw, Shane memang nggak suka ikan, bahkan sebelum ia jadi vegan. Makanya jangankan aroma amis ikan asli, ikan tiruan pun ia nggak mau makan, hehehe :'D 


Posisi pod kami sangat dekat dengan jendela, jadi kami bisa mengecek kondisi mall sesering mungkin. Begitu terlihat security mall sudah datang dan lampu-lampu dinyalakan, kami langsung berkemas. ---Um, sebenarnya Ali belum mau check out, ia masih mau stay di hotel sampai tengah hari. Tapi rencanaku dan Shane, kami ingin menghabiskan sisa hari di mall saja. Berkali-kali Ali menelepon Ibu agar beliau mau menemaninya di hotel selama aku dan Shane di mall, tapi tentu Ibu nggak bisa karena di rumah nggak ada siapa-siapa. Kasihan sebenarnya, tapi aku sudah lumayan pegal di dalam ruang sempit :') Beruntung Ali setuju untuk check out selama ia diizinkan memilih menu sarapan yang kedua. Ia ingin makan donat! Okay, you got it, kiddo! ;)


Waktu proses check out Ali masih berat meninggalkan Bobobox rupanya. Dengan security dan petugas front desk ia sibuk mengobrol ini itu. Ia bahkan mengambil foto password Wifi untuk berjaga-jaga jika ia kembali lagi suatu hari :'D Beneran deh kalau soal ramah seluruh pegawai di Bobobox ini juara! Mereka bahkan nggak segan mengajak Ali bermain dan bercanda setiap kami ke lobby. Sungguh nilai plus :) ---Well, siapa tahu teman-teman ada yang mau menginap dan perlu sedikit insight, aku sebutkan ya poin-poin plus dan minusnya.


Kekurangan:

1. Nggak ramah anak (kecuali semua pegawainya yang ramah-ramah ya :p ). Padahal hanya perlu space kecil untuk mini playground. Bisa ditaruh di communal space, misalnya di rooftop.

2. Nggak ramah disabilitas dan orang tua. Ini yang paling menggangguku. Elevator sangat kecil dan hanya sampai lantai tiga. Untuk menuju rooftop dan mushala hanya bisa menggunakan tangga yang terjal. Jika pengguna kursi roda ingin menginap di sini, lupakan saja.

3. Wifi yang lemah.

4. Kebersihan dipertanyakan. Ada gumpalan rambut di sudut tempat tidur. Ketika lapor langsung ada petugas yang membersihkan dengan cara naik ke atas tempat tidur yang sudah terpasang sprai :')

5. Ukuran selimut terlalu kecil untuk dipakai berdua.

6. Untuk snacks dan minuman hanya bisa dibeli dengan dompet digital (seperti OVO, dll). Kurang praktis terutama untuk bapakku yang nggak punya aplikasi-aplikasi seperti itu.

7. Akses masuk pod harus menggunakan HP. Artinya saat masuk ke kamar mandi pun HP harus dibawa, ahaha :'D Kecuali jika ada orang lain yang bisa membukakan pod dari dalam. Nggak bersih rasanya HP keluar masuk kamar mandi dan toilet.


Kelebihan:

1. Seluruh pegawainya ramah demi apa :'))) Bahkan securitynya helpful dan sabar.

2. Fasilitas kamar mandi cukup bersih. Terkadang ada tisu berceceran tapi setelah ku cek beberapa jam kemudian sudah bersih :)

3. Lokasi dekat dengan mall dan supermarket.

4. Nggak terlalu ramai meskipun akhir pekan.

5. Bisa memilih pod di atas atau pod di bawah bagi yang nggak suka/nggak bisa memanjat.


Saranku sih Bobobox kalau bisa lebih "ramah" untuk semua kalangan. Nggak ada larangan untuk orang tua, anak-anak dan disabilitas untuk menginap, kan? Jadi mungkin bisa dipikirkan kembali aksesibilitasnya (nanggung lho, tinggal nambah satu lantai saja akses lift nya padahal, ahaha). Untuk akses keluar masuk juga bisa diganti dengan kartu misalnya. Model HP sekarang besar-besar, TBH risih banget harus bawa HP buat sekedar pipis, huhu. 


Okay, aku lanjutkan lagi ceritanya ya. Karena nggak bawa mobil, jadi kami ke King's dengan masih membawa ransel. Berat-berat sedikit nggak apa lah, toh kupikir bakal sering duduk, hihi. Sesuai janji pada Ali, kami sarapan (lagi) di JCO Donuts. Aku dan Shane memesan kopi hitam. ---Kami sekedar menemani Ali saja sih sebenarnya, hanya ngopi-ngopi biar nggak mengantuk. Untuk makan berat kami berencana mencari di tempat lain yang ada menu vegannya. Yang penting Ali dapat yang ia mau dulu dan ia happy :) Ali memesan beberapa donat Oreo dan ia bisa menghabiskan semuanya padahal baru makan nasi goreng, hahaha. Ia sangat cerewet sepanjang sarapan kedua ini, nggak henti-hentinya ia berbicara tentang pengalamannya selama di Bobobox. Mungkin saking berkesan baginya, ya. Sampai-sampai belum satu jam check out ia sudah berencana akan menginap di sana lagi! :')


Ali dan donat-donatnya. Seperti Hobbit ya, ada "sarapan kedua" :D


Selesai sarapan Ali dijemput pulang karena aku dan Shane masih ingin melanjutkan jalan-jalan di mall. Ya, sekalian quality time berdua juga. Ada Ali memang seru, tapi boleh dong kami pacaran berduaan saja :p Kami ke lantai atas untuk melihat-lihat random stuff, ---benar-benar random dari mulai furnitur, mainan sampai pakaian. Tapi kami nggak membeli apa-apa karena bawaan kami lama-lama ternyata lumayan merepotkan, sampai-sampai aku menyerah dan membiarkan Shane menggendong tas ranselku. Akhirnya kami putuskan untuk ke bioskop, di sana at least kami bisa duduk, kan, hehehe. Nggak ada film yang lagi benar-benar kami ingin tonton, but we're such a sucker for horror movies, ---literally apa saja asal horror akan kami tonton :D Jadi saat kami melihat poster film Mumun, tanpa banyak pertimbangan kami langsung membeli dua buah tiket. Memang kami tahu filmnya tentang apa? NGGAK xD Menonton trailernya saja belum pernah. Kalau aku sih sebelumnya sudah tahu kalau dulu ada serial "Jadi Pocong" di Indosiar dengan nama tokoh yang sama dengan judul filmnya meski nggak pernah nonton. Sedangkan Shane, dia benar-benar blank :p


Ngemil di foodcourt sebelum film dimulai.


Pilih-pilih camilan untuk teman nonton.


Kami masuk teater tanpa ekspektasi, kalaupun filmnya jelek kami masih punya pop corn untuk dinikmati, hehe. Oya, meskipun aku lahir dan besar di Bandung tapi ini baru kali ketigaku nonton di bioskop King's, lho. Duluuuu sekali memang lumayan sering, tapi waktu masih bermana "Galaxy" (koreksi kalau salah), belum CGV seperti sekarang. ---Dan sebelum mallnya kebakaran tentunya :')

Kesan pertama kami dengan film Mumun yaitu satu kata: Kocak! Humornya sangat Betawi dan kalau saja nontonnya di TV tanpa tahu tahun rilisnya kami bakal mikir ini film tahun 90'an. Mirip-mirip seperti Si Doel gitu. Lalu di pertengahan film baru lah muncul adegan-adegan horornya, ---yang sejujurnya sukses bikin aku dan Shane lompat dari kursi kami, ahahaha. Visualnya oke, dan timing kemunculan pocong "Mumum" nya pun tepat, jadinya efektif. Overall kami puas dan merasa nggak salah pilih film. Meski tentu bukan film yang sempurna, karena ada adegan-adegan yang terlalu repetitif (bikin seramnya hilang) dan endingnya juga berkesan buru-buru. Tapi itu dia, tertutup dengan komedi dan visual pocongnya yang kece ;) (Lah, pocong kok kece, huehe).


Kalau ada yang nggak menyenangkan dari pengalaman menonton kami, jelas bukan gara-gara filmnya. Tapi gara-gara penonton lain! Ah, astaga, Ibu-Ibu di sebelahku sibuk banget bikin status WhatsApp pakai potongan film. Iya, ia merekam dengan handphonenya meskipun sudah ada larangan yang disiarkan sebelum film diputar. Parahnya ini Ibu bolak-balik putar ulang rekamannya waktu film MASIH diputar. Aku sampai bilang, "Ssst," berkali-kali tapi ia cuek saja T_T Penonton lain juga banyak yang bawa anak-anak meski filmnya berkategori 13 tahun ke atas. Gimana mereka bisa lolos waktu mau masuk dan proses penyobekan tiket? Nggak tahu. Yang aku tahu pasti, ini salah satu bioskop terburuk yang pernah aku kunjungi, ---perpaduan seimbang antara petugas cuek dan pengunjung norak :')


Tapi moodku dan Shane memang benar-benar bagus, jadi begitu keluar area bioskop sudah seperti nggak habis terjadi apa-apa, hahaha. Perut kami sudah terasa lapar, mikir-mikir sebentar akhirnya diputuskan untuk makan di Solaria saja. Restoran vegan-vegetarian terdekat namanya "Padma Vegeta", kalau ditempuh dengan jalan kaki jadinya berasa nggak dekat-dekat amat, jadi kami urung ke sana dan makan yang ada saja. Di Solaria kami memesan makanan yang paling mudah dimodifikasi jadi vegan. Shane memesan nasi goreng sayur (tinggal minta tanpa ayam, sosis, telur, dll), sedangkan aku memesan kwetiau sayur tanpa kuah (---karena kuahnya kemungkinan besar mengandung kaldu). No ribet-ribet kan, kami bisa ber-vegan dimana saja :D Dua-duanya rasanya enak dan sukses membuat kami kenyang. 


Mungkin karena perut sudah terisi aku jadi merasa sedikit mengantuk. Aku bilang sama Shane lebih baik kami sudahi saja jalan-jalannya dan kembali ke rumah orangtuaku (selama tempat tinggalku dan Shane direnovasi kami sementara tinggal di sana). Shane setuju, karena ternyata ia juga kelelahan. Kami mampir sebentar ke Dunkin Donuts untuk membeli oleh-oleh untuk Ibu. Beliau memang lebih suka Dunkin dibanding merk lain, katanya lebih empuk dan padat, hahaha. Persis sepertiku, waktu masih makan vegetarian aku juga selalu pilih Dunkin :D 

Setelah dapat donatnya kami langsung ke area drop off mall untuk menunggu mobil online. Kocak juga rasanya, orang-orang mungkin pikir kami habis backpackeran soalnya bawa-bawa ransel. Padahal masih dari Bandung-Bandung juga, ahahaha. Di mobil rasanya aku semakin mengantuk. Kami nggak banyak mengobrol dan hanya menikmati perjalanan kami sampai tiba di rumah :)


Kalian tahu, aku sebelumnya nggak pernah mengira akan mengatakan (well mengetik) ini. Tapi aku BAHAGIA dan sangat BERSYUKUR kami staycation di hotel kapsul! :'D Seandainya aku nggak mengikuti keinginan Ali mungkin rasanya akan berbeda, so thank you so much, Ali! :) Dan aku juga belajar sesuatu dari staycation kali ini, bahwa kebahagiaan setiap orang itu berbeda-beda. Bagi orang lain (termasuk bagiku) liburan yang sempurna itu mungkin di hotel dengan kolam renang dan playground yang luas, tapi bagi Ali menginap di hotel kapsul itu adalah hal yang paling keren sedunia! Juga, melihat orang lain (Ali) senang membuatku ikut senang. Hatiku terasa penuh melihat kebahagiaan dan excitement Ali sepanjang dua hari satu malam bersamanya. Aku nggak mau mengganti pengalaman ini dengan apapun, bermalam bersama Ali di hotel kapsul dan menonton film horor di bioskop "norak" bersama Shane xD (Dan Bapak, meski beliau hanya mampir sebentar)

Jadi akan menginap di mana kami untuk staycation berikutnya? Well belum tahu, dan apakah itu matter? ---Kurasa enggak, karena selama kami bisa mengabiskan waktu bersama, di mana pun, itu yang membuat kami bahagia. 

Mau ke hotel kapsul lagi juga ayok! Ahahaha! :p 





yang suka kebangun tengah malam karena lapar,


INDI

Rabu, 18 Agustus 2021

Cerita Lebaran yang Tertunda dan Penuh Nostalgia.


Tahu nggak sih, kemarin itu aku sempat happy karena kupikir bakal bisa nulis lagi di sini sebelum bulan Juni habis. ---Jadi (rencananya) pengen bikin 2 tulisan dalam sebulan gitu. Kan keren (menurut standarku, hahaha). Tapi ternyata nggak bisa, aku masih harus menerima kenyataan kalau mampunya baru sebulan sekali. Better sih dibanding tahun kemarin, tapi aku tahu kalau bisa lebih baik dari ini. Tujuanku bukan supaya blog ini trafficnya tinggi, karena dari dulu tujuanku punya blog murni untuk berbagi cerita. Tapi ini untuk melatih agar aku punya rutinitas. WFH sudah cukup bikin jadwalku semaunya, at least dengan menulis di sini sebulan dua kali bisa membuatku punya aktivitas terjadwal :)


Waktu Lebaran tiba, 13 Mei 2021 yang lalu, aku nggak sabaaar banget buat bercerita di sini. Maunya sambil blog walking juga, karena pasti seru membaca cerita Lebaran teman-teman yang lain. Lalu ulang tahun Shane datang, disusul ulang tahunku. Aku pun goyah dan bilang, "Ah, mau cerita tentang ulang tahun saja deh, kan lebih relatable karena masih anget." Dan apa yang terjadi? Aku malah kebanyakan pertimbangan dan moment dua-duanya jadi sudah lewat! Hahaha. Ditambah aku dan Shane sempat menginap di rumah ortu (family time, aku nggak pernah bawa laptop), juga sempat sakit kemarin selama satu minggu. Semakin lah aku lupa tentang goalku yang sangat spektakuler ini xD


Anyway, Lebaran tahun ini sama seperti tahun lalu. Aku dan Shane menghabiskan waktu di rumah orangtua dari satu malam sebelum Lebaran. Sekitar jam 6 sore kami baru berangkat karena siangnya sibuk membungkus kado-kado untuk Ibu, Bapak, the babies, Nenek, Eris dan juga beberapa karyawan Ibu dan Nenek. Kami masih belum berani kemana-mana, terakhir keluar ya waktu Mei kemarin itu, ---jadi kado-kado kami beli secara online. Dibandingkan tahun lalu, aku merasa Lebaran kali ini hati lebih damai. Nggak ada mikir pengen bisa ke sana-ke sini, kangen ini-itu, dsb. Aku merasa bisa kumpul dengan keluarga saja sudah suatu privilage, jadi suasana hatiku dan Shane begitu happy sehappy nya ;)

Begitu kami tiba langsung disambut masakan Ibu. Sejak menikah kami memang dapat hak istimewa untuk curi start, bisa makan masakan Lebaran di malam Lebaran, hahaha xD Meski Bapak sedang kurang sehat tapi tetap ada gulai vegan untuk kami. Tahun lalu Bapak buatkan "ayam palsu" (ini istilah Bapak) untuk kami. Berhubung prosesnya cukup berat, jadi isi gulai diganti dengan jamur shiitake, tahu dan kentang saja. Rasanya? Wuiiih, tetap enak dong! Pas menulis ini saja aku jadi lapar, hahaha.



Tradisi nggak tertulis sejak aku kecil adalah setiap malam Lebaran aku boleh begadang. Mungkin teman-teman ada yang tahu kalau aku dulu lahir di malam Lebaran. Karena berpegang pada prinsip birthday girl boleh ngapain saja, ortu membebaskan aku mau tidur jam berapapun. Toh besoknya nggak sekolah juga kan. Biasanya aku bakal di ruang TV semalaman, kalau pun ortu tidur duluan juga nggak masalah. Selama mata belum sepet aku nggak akan masuk kamar :p Nah, tahun ini Ali rupanya ingin ikutan tradisiku, ia ingin begadang. Meski awalnya sempat dicoba untuk ditidurkan beberapa kali, tapi Ali terlalu excited dengan Lebaran, jadi kami izinkan saja. Suasana yang awalnya damai, cuma ada kami dan TV yang menyala, berubah jadi ramai dan... bikin pusing! Ali bermain dengan mikrofon mainannya sampai jam 11 malam. Semua lagu karangannya dia mainkan, ---sesekali mengikuti orang-orang di masjid juga yang sedang takbiran. Aku pun harus bilang bye-bye dengan tradisi begadang yang dulunya identik dengan me time, hahaha. Untungnya cuma setahun sekali, dan sebenarnya aksi Ali menghibur juga, lho. Shane sampai merekam diam-diam waktu Ali bernyanyi lagu karangannya karena ia pikir itu lucu :D



Aku tidur beberapa jam saja. Sesudah Ali (akhirnya) tidur aku putuskan untuk menonton TV dengan Shane karena banyak sekali film bagus diputar di TV kabel. Untung saja besoknya masih bisa bangun nggak siang-siang amat, hehehe. Aku langsung mandi dan dilanjutkan dengan bermaaf-maafan dengan keluarga kecil kami :) Nyaman sekali rasanya, Lebaran selalu punya vibes yang berbeda dengan hari-hari biasa. Dan waktu moment bermaafan aku selalu merasa menjadi anak kecil kembali. Susah dijelaskan dengan kata-kata, ---tapi kalian tahu kan perasaan nostalgic yang bikin kalian merasa sedang berada di waktu ternyaman dan teraman di hidup kalian? ;)

Oya, Lebaran ini nggak ada yang beli baju baru. Rasanya nggak perlu saja. Bajuku dan Shane banyak sekali dan kebanyakan masih bagus-bagus, jadi kami pikir bakal lebih wise kalau pakai yang ada saja. Aku pakai dress yang beberapa waktu lalu dibelikan Shane (sudah dipakai beberapa kali), sementara Shane cukup pinjam baju koko milik Bapak yang kebetulan sizenya cocok. Yang penting sih kami merasa kece (hahaha). Lagian nggak ada yang salah dong dengan pakai baju lama ;)




Setelah bermaafan kami langsung makan bersama, termasuk dengan Puja, adikku yang datang untuk Lebaran. Berhubung gulai vegannya ekslusif untuk aku dan Shane, aku makannya benar-benar dipuas-puasin xD Lupa nambah berapa kali, yang pasti aku kekenyangan sampai mager! Kalau biasanya aku rajin ambil foto menu Lebaran, kali ini cuma gulai vegan yang kufoto. Lumpia, sambal goreng kentang dan lainnya kelupaan karena yang aku ingat cuma makan :D Ibu memang juara kalau soal masak (selain jago mendesain baju juga pastinya). Menu apapun bisa divegankan dan rasanya selalu pas. Bapak juga keren, cuma karena sedang kurang sehat saja beliau jadi nggak berkreasi tahun ini. Aku bersyukur sekali punya keluarga yang hangat dan selalu semangat tiap Lebaran (dan hari-hari penting lain seperti ultah, tahun baru, etc). Padahal jumlah kami cuma sedikit :'D



Tahun ini juga jadi tahun pertama aku dan keluarga bertemu Nenek lagi. Lebaran kemarin kami memang benar-benar sama keluarga inti saja dan nggak keluar rumah. Tapi tahun ini kami beranikan untuk berkunjung. Jarak rumah orangtua dan Nenek itu dekat sekali, beda satu block saja. Dan di sana juga hanya ada Nenek dan bibi yang jaga, jadi kami rasa aman. Nenek, yang aku panggil Emah senang banget pas kami ke sana. Malam Lebaran aku dan Shane sempat kirim cake Harvest kesukaannya via Gojek, jadi beliau nggak mengira kalau kami akan datang :D Saking happynya kami sampai terus ditawari makan, disodori ini-itu, pokoknya terharu :') Meski Shane baru kenal Nenek ketika dia berpacaran denganku tapi dia sudah merasa nyaman di rumahnya. Shane selalu bilang kalau ruangan belakang di rumah Nenek keren, ---entah kenapa, padahal Nenek tinggal di rumah lama. Mungkin karena dia bisa rasakan kalau keluarga kami nyaman berkumpul di sana, ya :D




Siang menjelang sorenya, aku dan Shane memutuskan sesuatu yang lumayan berat. Kami mau ke bioskop! Iya, setelah lebih dari satu tahun nggak menginjak mall apalagi bioskop (---supermarket pun sangat jarang), kami putuskan menonton film untuk pertama kalinya. Bukan tanpa alasan, ada sebuah film yang sangat ingin aku tonton dari sebelum Corona ini ada. Terlebih temanku bermain di sana. Aku sudah janji padanya akan menjadi salah satu penonton pertama, alias nonton saat pemutaran perdana. Filmnya berjudul "Terima Kasih Emak Terima Kasih Abah". Terdengar familiar? Iya, para pemainnya adalah original cast dari sinetron dengan soundtrack yang liriknya seperti judul filmnya. Nggak perlu disebut pun aku yakin kebanyakan dari kalian sudah tahu sinetron apa yang aku maksud. Kenapa judulnya beda? Well, alasannya bisa dengan mudah ditemukan di google dan nggak akan aku sebut di sini karena aku takut salah ;)


Aku dan Shane sengaja memilih bioskop yang kosong, ---nggak di mall dan juga bukan tempat populer. Ortu awalnya khawatir dan hampir nggak mengizinkan, tapi setelah melihat jumlah penontonnya secara online, mereka lega dan merestui kami pergi. Setelah kami tiba pun jumlah penonton ternyata belum bertambah, hanya ada kami dan dua orang lainnya. Untung saja bukan nonton film horor, hahaha. Jadi bisa dibilang kami beruntung, belum lagi kelihatannya petugasnya rajin bersih-bersih kursi di tempat kami menunggu. Semakin merasa tenang, deh :) Sedikit review tentang filmnya, kami sangat menikmati ceritanya. Meski nama-nama pemainnya berbeda dengan nama-nama yang dulu kita kenal, tapi chemistry mereka nggak bisa bohong, dapet banget. Abah sama Emak sudah pasti cocok lah ya, ditambah anak-anaknya, Iis, Rara (dia temanku yang barusan disebut) dan Gigi yang ternyata karakternya masih sama seperti dulu. (Sumpah, cuma namanya saja yang beda). Nostalgia habis-habisan deh aku nonton film ini. Sampai nangis berkali-kali, hehehe. Shane yang nggak mengenal keluarga Emak dan Abah sebelumnya pun tetap bisa enjoy karena ceritanya memang sederhana dan ada subtitle Bahasa Inggrisnya. Keren banget kan!




Filmnya memang nggak sempurna, di beberapa bagian ada audio yang kurang balance. Tapi somehow aku merasa kalau ini justru yang membuat filmnya jadi nostalgic. Jadi ingat waktu kecil menonton sinetronnya setiap pulang sekolah :) Lagipula buatku film ini sudah cukup kuat kok HANYA dengan tokoh-tokohnya. Mereka begitu murni, nggak perlu audio atau visual yang fancy. Filmnya juga menurutku straight to the point, nggak terlalu panjang dan bertele-tele seperti film drama kebanyakan (---inilah salah satu alasan kenapa setelah dewasa aku jadi lebih milih nonton film horor daripada drama, hehehe). Btw, ini bukan film yang "sekali lewat", alias sudah film selesai kami langsung lupa. Ada beberapa konflik di film yang membuat Shane bertanya tentang pendapatku, apakah aku akan menyelesaikan dengan cara yang sama dengan tokoh di film atau nggak. Kami jadi berdiskusi dan berakhir dengan kesimpulan bahwa apa yang kami lihat di film mungkin nggak ideal di mata kami, tapi setiap keluarga pasti punya caranya sendiri dalam menyelesaikan masalah. Setiap langkah yang diambil tentu ada pertimbangannya. Kadang kita harus berkorban untuk menyelamatkan perasaan orang lain, ---dan untuk kami itu adalah pesan yang indah :)


Setelah filmnya selesai kami langsung pulang. Kami nggak mau berlama-lama di luar karena kami merasa lebih aman di rumah. Lagipula setelah menonton film tentang keluarga, aku jadi ingin hangout semalaman dengan Ibu, Bapak dan Ali, hehehe. Kalau Ali mau begadang lagi aku rela deh digangguin :p Jadilah kami begadang bersama, ngobrol sana-sini dan nggak lupa bercerita tentang film yang baru kami tonton juga. Nggak ada rencana apa-apa untuk esok hari, hanya kami menikmati waktu bersama :)


Kalau dulu hari Lebaran kedua kami masih kece, soalnya biasanya ada keluarga atau kerabat yang mampir. Nah berhubung ini Lebarannya covid style, jadi bangun pun siang-siang. Begitu bangun apalagi yang dicari kalau bukan masakan Ibu dan TV kabel :D Rasanya seperti hidup di keabadian, nggak perlu khawatir apa-apa, nggak perlu mikir mau ngapain. Semaunya saja, sampai tidur pun kadang di depan TV. Aku bawa satu dress batik sebenarnya, just for in case. Tapi kenyataannya aku pakai piama seharian, ---begitu saja terus sampai hari keempat, hahaha.


Ngomong-ngomong soal keabadian, di rumah orangtua memang segalanya selalu terasa sama. Seolah seperti aku nggak pernah meninggalkan rumah. Kamarku masih terlihat sama, barang-barangnya terjaga. Bahkan mainan-mainanku pun masih disimpan dengan rapi. Ada kejadian menarik waktu Ali sedang bermain dengan dua bonekanya; Yeye si boneka kucing dan Teddy, boneka beruang yang dulunya milikku. Aku ceritakan pada Ali kalau dulu boneka itu adalah milikku, jadi sebelum Ali lahir Teddy sudah ada lebih dulu. Aku pikir fakta itu akan membuat Ali surprise, tapi ternyata aku juga jadi ikut terkejut! Karena tiba-tiba saja Ibu bilang kalau Teddy, ---yang oleh Ibu dipanggil Brindil, bahkan lebih tua dariku! Ternyata dulunya boneka itu milik Ibu, sebelum aku lahir. Wow... luar biasa ya... Seandainya saja Teddy punya ingatan, pasti yang ia simpan isinya lebih lebih lengkap daripada foto dan video yang kami punya, ya :D 



Saat pulang ke rumah orangtua juga jadi kesempatan buat aku untuk bercerita apaaaa saja yang belum sempat diceritakan selama kami nggak bertemu. Whatsapp-an sih memang setiap hari, video call juga sering, tapi nggak ada yang bisa menggantikan pertemuan langsung. Dari mulai yang serius-serius seperti soal visa, sampai yang nggak jelas seperti cerita tentang jemuran, semuanya puas aku ceritakan :D Aku yang pada dasarnya manja menjadi semakin menjadi saat bertemu Ibu Bapak, hahaha. Aku bersyukur baik ortu maupun suami sangat pengertian dengan sifatku yang sebelas dua belas sama Ali ini. Saat aku sedang asyik dengan ortu pun Shane mengerti. Dia akan memberiku ruang tanpa harus merasa "tersingkir". Biasanya dia akan bermain game atau membuat musik sampai waktunya kami kembali berkumpul. Aku juga melakukan hal yang sama. Saat Shane sedang ingin quality time dengan keluarganya lewat telepon, ---sekali pun itu berjam-jam, dengan senang hati aku memberinya waktu :)


Di hari keempat akhirnya Cody boy, keponakanku yang satu lagi datang. Kabarnya sih dia sempat sakit pilek jadi nggak bisa berkumpul bersama kami di hari Lebaran. Bagaimana suasana rumah ortuku setelah the babies kumpul lengkap? Waduh, jangan ditanya xD Ramainya mengalahkan kelas preschool yang dulu kuajar. Aku mandi dicariin, aku pergi diikutin. Shane mau istirahat sebentar saja langsung dikepoin (baca: diintipin di kamar meski sudah ditegur). Tapi kami menikmati, sih. Apalagi aku dan Shane nggak bisa lama-lama untuk bertemu dengan si Cody boy karena harus pulang. Di rumah kami ada dua ekor ikan yang harus diurus. Kami khawatir kalau ditinggal terlalu lama akan terjadi hal-hal yang nggak diinginkan. 




Sebelum pulang, aku dan Shane puas-puasin dulu untuk bermain dengan the babies dan Eris, ---yang kelihatannya happy dengan baju barunya. Kami juga mampir ke supermarket dulu di perjalanan pulang karena stock makanan di rumah benar-benar kosong. (Selama bulan puasa kami kebanyakan delivery order, jarang sekali masak). Iya, kami pulang diantar ortu plus the babies juga! Jadi ada waktu ekstra untuk nambah quality time meski sedikit :) Kebetulan di supermarket tempat kami berbelanja ada foodcourtnya, jadi setelah selesai kami bisa ngemil-ngemil dulu sambil berpamitan. Hati ini berat sebenarnya. Kalau nggak malu aku  ingin menangis rasanya, hahaha. Tapi aku tahan-tahan sampai ingetin diri sendiri kalau sebentar lagi kami juga pasti bertemu kembali. 









Begitulah cerita Lebaran kami yang "mewah", ---karena bisa berkumpul yang di saat seperti ini :) Doaku masih tetap sama seperti tahun lalu; semoga tahun depan segalanya menjadi lebih baik. Tanpa mengurangi rasa syukur dengan apa yang aku dan Shane dapat di tahun ini, kami berharap dalam waktu dekat bisa kembali berkumpul dengan keluarga Shane juga. Kami sudah membicarakan tentang kemungkinan untuk mereka yang datang ke sini atau aku yang berkunjung ke sana. Tapi dengan situasi sekarang kami belum mendapatkan titik terang. Doakan, ya! :)

Dan mohon maaf lahir batin untuk teman-teman di sini. ---I know, I know, ini sudah bulan Agustus, hahaha. Tapi nggak apa-apa, dong. Untuk memulai sesuatu yang baik waktunya selalu tepat, kan ;)


______________________________

Btw, pas bulan Ramadan, aku dan Shane ikutan kontes musik "Ramadhan Home Recording Competition" yang diadakan oleh IMS Indo Pro Audio, De Sound, Ibanez Indonesia, Korg Indonesia dan Vox Indonesia. Kami membawakan lagu "Tombo Ati" dan berhasil masuk ke Top 20! Haha, nggak nyangka, ya? Sama aku juga :p Sayang kami nggak berlanjut ke 10 besar. Tapi berhubung kontesnya skala nasional dengan peserta yang banyak, jadi aku dan Shane sangat bangga. Lagipula, menang atau kalah yang dihitung itu prosesnya, kan ;)

Kalau penasaran dengan penampilan kami, klik videonya di sini: https://youtu.be/uRq9-slggEU




blessed girl,


Indi



---------------------------------------------------------------

Kontak email: namaku_indikecil@yahoo.com | Facebook: Indi Sugar | Instagram/Twitter: Indisugarmika | YouTube: Indi Sugar Taufik