Tampilkan postingan dengan label jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jakarta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 November 2016

Indi Sugar di NET 12 NET TV (bersama UKUiki)


Hi bloggies, apa kabar? Semoga semuanya dalam keadaan baik, ya. Aku juga baik kok, meski saat menulis ini hujan sedang super deras dengan petir yang kencang, hihihi. 
Karena sudah awal November hati masih suasana Halloween, nih. Rasanya nggak sabar mau cerita kostumku tahun ini dan camilan apa saja yang sudah kubuat kemarin. Tapi, ups!... Aku baru ingat kalau berjanji untuk bercerita tentang pengalamanku menjadi bintang tamu di Net TV bulan Juli lalu, hihihi. I know, I know... aku cukup lama menunda untuk bercerita. Alasan pertamanya sih karena belakangan sedang banyak yang harus aku kerjakan, dan alasan keduanya adalah... malas! Jangan ditiru ya, aku punya bad habit untuk break cukup lama setelah melakukan sesuatu :'D *jewer diri sendiri.

Jadi ceritanya dimulai di bulan Mei lalu ketika aku dihubungi oleh UKUiki, ---company yang melayani jasa lukis untuk ukulele dan alat musik lainnya. Mereka bertanya apakah aku mau bergabung di liputan program NET 12 NET TV sebagai penggemar ukulele dan pengguna dari ukulele lukis. Meski excited tapi aku nggak langsung menjawab karena (lagi-lagi) shooting akan diadakan di Jakarta sementara aku tinggal di Bandung. Kesehatanku juga sebenarnya lagi kurang okay karena di bulan yang sama baru saja didiagnosis kista dan hernia (wow, dapat paket cantik, hahaha). Tapi setelah bertanya pada Ibu dan Bapak, akhirnya diputuskan untuk ikut bergabung di liputan bersama UKUiki. Karena rupanya di hari yang sama orangtuaku ada keperluan di Jakarta dan lokasinya cukup dekat dengan lokasi shooting, jadi aku bisa sekalian ikut. By the way sebelum mereka menghubungi, ---dan aku punya ukulele dari UKUiki, ---sebenarnya aku sudah lumayan kenal dengan art work mereka, lho. Mila, salah satu blogger di sini (---"Yuhuuuuu Milaaa, angkat tangannya!") juga pernah cerita kalau ia dapat hadiah ukulele dari UKUiki. Dan sejak itu aku langsung in love dengan desainnya yang dibuat hand painted sesuai pesanan *bayangkan ada love emoji di sini, lol.

Karena shooting akan dilakukan pukul 10 pagi, jadi aku, Ibu dan Bapak berangkat ke Jakarta waktu matahari masih mengintip malu-malu. Sebenarnya jam segitu seharusnya aku lagi mengantuk-mengantuknya, apalagi karena hanya tidur sebentar. Tapi sayang di perjalanan aku nggak bisa tidur, padahal sudah berbekal selimut dan bantal segala, huhuhu. Syukurlah lalu lintas lumayan lancar, jadi aku nggak harus berpegal-pegal karena macet. Tiba di Jakarta aku nggak langsung ke lokasi shooting, ---karena apa daya aku ini cuma nebeng, hehehe. Jadi aku ikut turun di kantor direktorat pajak bersama Ibu dan Bapak, lalu menghubungi kru NET TV untuk minta dijemput dari sana. Butuh waktu sekitar 40 menit sebelum kru menjemputku. Rupanya ada perubahan lokasi shooting jadi mereka harus survey dulu ke lokasi baru sebelum menjemputku. By the way, ini adalah kali pertama aku shooting tanpa ditemani Ibu atau Bapak karena biasanya ada salah satu dari mereka yang ikut ke lokasi untuk menjadi "fotografer" ku. Waktu berpamitan aku jadi sedikit emosional, soalnya Bapak sebenarnya ingin sekali ikut tapi Ibu nggak bisa jika harus mengurus pekerjaannya sendirian. Huhuhu, sniff :'D

Di perjalanan, aku baru diberi script dan konsep untuk shooting nanti. Sebelumnya aku hanya diberitahu untuk menyiapkan sebuah lagu yang nantinya akan aku mainkan. Well, sebenarnya mereka sudah request lagu dari Shakira sih, tapi karena aku nggak akrab dengan lagunya jadi aku ajukan lagu yang lain. Dari 2 pilihan, "The Show" nya Lenka dan "Soul to Squeeze" nya Red Hot Chili Peppers mereka memilih yang pertama (---kok TV-TV suka banget lagu ini, ya? Hahaha). Mereka ingin konsepnya nanti dibuat seperti video clip dan diakhiri dengan wawancara. Aku juga diperlihatkan sebuah video yang menjadi inspirasi konsep mereka ini. Pretty cool, ---nggak girly seperti biasanya, apalagi pilihan lokasinya yang extraordinary. Bukan "aku banget", tapi nggak ada salahnya kan melakukan sesuatu yang baru? :)

Kami tiba di Kemang waktu cuaca lagi asyik-asyiknya alias terik banget, hehehe. Lokasi ini rupanya bekas gedung futsal yang reruntuhannya sekarang dipakai untuk coretan-coretan keren a.k.a grafiti. Aku lumayan aww-ing juga untuk beberapa detik, soalnya belum pernah ke tempat yang seperti ini :p Nggak menunggu lama, sehabis lap-lap wajah pakai tisu plus pakai lipstick sedikit (---gimana atuh, aku memang nggak nyaman kalau pakai makeup, huhuhu) kami langsung mulai shooting. Yang pertama adalah adegan mendengarkan musik di atas tembok berkusen (kayaknya sih bekas jendela). Karena temboknya lumayan tinggi dan setelah 5 kali percobaan masih gagal juga untuk manjat, akhirnya aku punya ide untuk pakai ban bekas sebagai pijakan. Kocaknya, lokasi ban dan tembok itu jaraknya dari ujung ke ujung, jadi aku dibantu dengan 2 kru cantik NET 12 menggelindingkan (---word? Lol) ban sampai selamat ke tempat tujuan, hahaha. Scene ini diambil dari beberapa angle, jadi artinya aku harus melakukan gerakan yang sama berulang-ulang; ambil earphone, putar video di HP (pinjam punya kru, punyaku mati, lol), goyang-goyang sedikit, lepas earphone dan turun dan tembok, ---yang mana cukup menantang, ---sampai semua sudut yang diperlukan dapat. 


Adegan yang kedua lebih tricky karena aku harus berjalan melintasi reruntuhan gedung sementara kamera mengelilingiku. Soal jalan sih gampang, yang aku takutkan itu kalau sampai nabrak kamera. Syukurlah nggak terjadi kecelakaan meskipun harus diulang berkali-kali sampai kakiku kesemutan, hahaha. Nggak terasa tahu-tahu sudah lewat tengah hari dan masih cukup banyak scene yang harus diambil. Mungkin teman-teman ada yang bertanya-tanya, "Memang buat tayang berapa jam sih, kok lama sekali shootingnya?". Lol, ---gue hanya muncul sekitar 2 menit, tapi trust me, aku sudah beberapa kali mengalami yang lebih lama dari ini. Kalau shooting diadakan di rumah biasanya berlangsung dari pagi sampai malam, ---dan tayangnya cuma 5 menit, huahaha... Tapi meski bikin energi terkuras aku tetap mencoba cooperative, soalnya mereka pasti ingin hasil liputannya semaksimal mungkin :)) Selanjutnya diambil adegan-adegan "random" seperti aku sedang berdiri dan menyetel ukulele yang hanya memakan waktu beberapa menit saja.



Karena suara bernyanyi dan permainan ukulele aku sudah pre-recorded, jadi aku pikir untuk scene bernyanyi cukup cuap-cuap saja. Tapi ternyata mereka ingin aku untuk sambil berpose. Kalau pose nyender tembok atau goyang kiri-kanan sih gampil, yang menantang itu kalau lip sync sambil jalan-jalan. Ya, ampun selain ukulele yang terus-terusan melorot (nggak punya strap, hahaha), suara sama mulutku juga kadang nggak singkron. Maklum saja, aku nggak bisa dengar suara yang sudah direkam sebelumnya karena lalu-lintas cukup ramai. Makanya aku legaaaa sekali waktu mereka merasa sudah cukup dengan footage yang didapat dan puas dengan hasilnya. Scene yang terakhir yang perlu diambil tinggal interview. Sengaja diambil belakangan karena (seharusnya jadi) yang paling mudah dan (seharusnya) hanya memakan waktu singkat. Aku pun kembali ke tembok berkusen dan menjejerkan koleksi ukuleleku, ---termasuk yang dari UKUiki untuk dijadikan background saat interview nanti. Tapi tiba-tiba saja... Uh-oh, hujan turun dan langsung super deras! :O

Setengah panik aku langsung memboyong ukulele-ukuleleku ke mobil, ---dua sekaligus di satu tangan, hahaha. Semuanya selamat, ---well, kinda, karena si smiley kesayangan agak retak karena tergelincir di tembok yang licin... Tapi aku nggak boleh BT, jangan sampai hal kecil merusak hari yang baik. Ini kecelakaan, bukan salah siapa-siapa :) 
Dan, jadilah kami menunggu hujan reda di dalam mobil. Saking lamanya aku sampai malas lihat jam dan lebih memilih mencari cara untuk melewati waktu. Mumpung sedang membawa koleksi ukulele, aku pinjamkan saja kepada kru dan aku membuka 'kelas ukulele' dadakan, hahaha. Ternyata cukup berhasil, suasanya menunggu jadi lebih fun dan akrab. Malah jadi berlanjut mengobrol kesana-kemari, termasuk tentang scoliosisku (---mereka awalnya nggak tahu dan cukup surprise karena aku masih bisa dorong-dorong ban berat dan lompat dari tembok, haha).

Sekitar jam 2 siang akhirnya hujan reda juga. Lokasi langsung basah kuyup, termasuk tembok tempat untuk menaruh ukulele-ukuleleku. Waktu semakin mepet, ---kru NET 12 masih harus ke bengkel UKUiki dan matahari sudah semakin redup, ---jadi aku lap-lap saja tembok dengan tisu supaya nggak terlalu basah. I love my ukuleles so much (of course!), tapi aku juga harus bertanggung-jawab dengan 'peranku'. Biarlah ukulele-ukulele ini harus diopname ketika tiba di Bandung nanti, yang terpenting aku sudah berusaha maksimal :) Interview hanya berlangsung sekitar 5 menit dan pada jam 3 sore semuanya sudah selesai. Ah, thank God! Aku pun diantarkan kembali ke Ibu dan Bapak yang sudah menunggu di depan sebuah hotel karena kami mencari jalan tengah. Setelah saling berpamitan, aku dan orangtua langsung pulang ke Bandung. Perjalanan nggak selancar ketika pergi, malah bisa dibilang super macet. Untung saja aku ketiduran jadi tahu-tahu saja sudah sampai di rumah ketika tengah malam, hehehe.



Aku selalu senang dan bersyukur sekali setiap diberi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman baru yang berharga. ---Karena menurutku "pengalaman baru" itu bukan berarti mengalami sesuatu yang sama sekali asing. Aku bisa saja sudah sudah mengalaminya berkali-kali, tapi tiap moment itu tentu memberi pelajaran yang berbeda. "Every moment is first", begitu kalau meminjam istilah John Frusciante :p Itulah kenapa aku selalu berusaha maksimal di setiap kesempatan, ---nggak peduli seberapa porsi peranku di sana. Aku percaya yang ada hanya "peran", bukan kecil atau besar, ---dan semuanya penting. Lagipula nggak ada ruginya untuk memberikan yang terbaik, karena apa yang kita lakukan adalah apa yang orang lain lihat. Just live your life like you meant it. So, kalau kalian mau melihat penampilan 5 jamku yang diringkas menjadi 2 menit dan ukulele baruku dari UKUiki yang super cute di NET TV (lol), klik di sini, ya. See you soon, dan semoga November kalian menyenangkan! ;)

ukulele girl,

Indi

____________________________________

Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Rabu, 05 Oktober 2016

Halloween Party and Pocky Deco: Waktu Halloween Datang Lebih Awal! Yay! :D

Haiiiii bloggies! O, my God! Ini jam setengah 4 pagi dan aku terbangun dari mimpi yang super absurd! Hahaha. Setelah celingak-celinguk bingung mau ngapain, aku putuskan saja untuk menulis di sini. No, ---nggak kok, bukan, aku nggak akan menulis tentang mimpi barusan yang absurd, lol. Tapi aku akan bercerita tentang event fun yang kuhadiri 3 September 2016 yang lalu. Mungkin akan membantuku melupakan mimpi yang cocoknya jadi naskah komedi Scary Movie terbaru (---eh, tapi boleh juga tuh asal aku diperankan sama Anna Faris, hahaha).

Aku selalu mengecek email secara berkala dan sebisa mungkin segera membalasnya. Maklumlah aku mengurus segala macam pekerjaan dari sana, dan email juga jadi salah satu saranaku berkomunikasi dengan Indi's Friends, ---sebutan untuk pembaca novel dan penikmat filmku. Seringnya aku melakukannya dari handphone karena lebih praktis. Tapi handphone juga ada kekurangannya, terkadang ada email yang nggak muncul di notifikasi meskipun nggak masuk ke list spam atau bulk. Nah, ini juga yang terjadi padaku di akhir bulan lalu. Waktu membuka email via PC, aku kaget karena ada email dari Pocky Indonesia! 

Aku memang sudah lama menjadi fans nya Pocky dan pernah memenangkan kontes fotonya di twitter. Tapi rasanya aku nggak sedang mengikuti kontes lagi, jadi agak bingung juga mendapat email dari mereka. Waktu dibuka rupanya berisi undangan untuk mengikuti Pocky Halloween Party! Surprise sekali, ---dan lebih surprise lagi waktu tahu kalau rupanya mereka sudah mencoba menghubungiku via Indi's Official. Hmm, kenapa nggak disampaikan ke aku, ya?... Ah, sudahlah, yang penting akhirnya undangannya sampai ke tanganku meskipun mepet banget. Saking mepetnya aku sampai nggak yakin akan datang. Apalagi ada dress code nya juga; hitam dan orange. Padahal biasanya aku selalu excited dengan Halloween, tapi karena ini super early (---biasanya at least paling cepat akhir September aku baru menyiapkan kostum), aku jadi bingung harus pakai apa, huhuhu.

Syukurlah di detik-detik terakhir, ---(atau bahasa non lebay-nya 2 hari sebelumnya, lol) Ibu datang dengan ide untuk kostumku. Kami punya kain stripes hitam-putih yang sudah lumayan lama disimpan dan kalau dijahit sepertinya akan mirip dengan kostumnya Beetlejuice, hehehe. Supaya bisa dipakai sehari-hari kami membuatnya dengan model sailor, bukan suit seperti originalnya. Tapi kami nggak meninggalkan dasi hitam ala Beetlejuice, bedanya punyaku modelnya kupu-kupu :) Aku cukup puas dengan hasilnya, meskipun kostumnya nggak "seakurat" tahun-tahun sebelumnya, tapi cukup miriplah, hehehe.



Halloween party ini diadakan oleh Pocky yang bekerjasama dengan Cosmopolitan Indonesia (yay, akhirnya dapat juga acara yang segmennya bukan teenagers, lol). Katanya sih Cosmpolitan memilih beberapa pembacanya yang tergabung dengan "Cosmo Club" untuk mengikuti acara ini. Aku sih belum tahu banyak soal majalah ini, soalnya jujur, ---ehm, aku masih membaca majalah remaja, hahaha. Tapi mungkin aku akan membaca edisi bulan Oktober karena dari web nya sepertinya menarik ;) 
Seperti biasa, karena dipisahkan oleh jarak (hiks), aku dengan diantar Bapak harus pergi pagi-pagi sekali dari Bandung menuju Jakarta. Acaranya dimulai pukul 12 siang di Kaffeine, the Foundry 8 SCBD. Tempatnya masih asing bagi kami jadi mudah-mudahan nggak datang terlambat karena harus putar-putar dulu, hehehe.


Kerennya, perjalanan ternyata super lancar. Kami bahkan sempat berhenti beberapa kali untuk sekedar peregangan (---travelling with severe scoliosis, hehe) dan minum kopi. Padahal biasanya siang sedikit saja Jakarta sudah macet. Baru setelah keluar tol kami agak kebingungan karena mendengar nama SCBD saja belum pernah. Berbekal google map dan GPS kami mencari lokasinya, tapi sayang antara GPS dan kenyataan suka nggak singkron! Mobil sudah jalan ke mana, eh lokasi yang tertulis sudah terlewat beberapa meter, hahaha. Untung saja aku ingat temanku, Habibie Afsyah (---harus ditulis nama lengkapnya, hehehe) yang tinggal nggak begitu jauh dari SCBD. Ternyata dia lebih akurat dan cepat daripada GPS! Dengan tuntunannya kurang dari 10 menit kami sudah tiba di lokasi. Hore! :D Thank you, ya Bie. Sebagai ucapan terima kasih tadinya aku mau kasih 1 truck Pocky, tapi nggak jadi soalnya kan katanya nggak mau ditengokin :p

Di Kaffeine suasana sudah cukup ramai dengan dekor yang Halloween-ish, lengkap dengan Jack O'lantern nya :D Awalnya aku bingung mau duduk dimana dan dengan siapa, soalnya nggak mengenal seorangpun, huhuhu. Yang lain sih sepertinya datang dengan satu atau dua orang temannya karena sama-sama dari Cosmo Club. Untung saja moment canggungnya hanya berlangsung beberapa menit karena aku menemukan 1 girls group dan kami langsung mengobrol seru :) Meskipun di undangannya tertulis jam 11 pagi, tapi sampai jam 1 siang acara belum juga dimulai. Molornya lumayan lama :( Untung saja suasananya super akrab dan kami menikmati lunch dulu. Karena aku nggak makan daging dan menu yang disediakan kebanyakan bebek dan ayam, aku pun makan salad dan BANYAAAAK sekali Pocky untuk makan siang, hahaha. Begini nih asyiknya event Pocky, pasti produk Glico everywhere. Sampai-sampai sebelum acara dimulai aku sudah menghabiskan 1 gelas Pocky yang disediakan untuk berdua. *Maaf :p



Nggak lama setelah kami selesai makan, acara dimulai dengan sambutan dari MC lalu perwakilan dari Pocky dan Cosmopolitan. Mereka menjelaskan apa saja yang akan kami lakukan nanti. Meski aku bukan orang yang terampil di dapur (kecuali urusan microwave, lol) tapi aku excited waktu diberitahu akan mendekor camilan Halloween, ---atau istilahnya Pocky Deco. Aku pikir, well... at least bisa colek sana-sini dan memuaskan sweet tooth ku meskipun hasilnya hancur :p Eh, tapi aku nggak perlu takut hancur-hancur amat sih, soalnya sudah diundang chef untuk memberikan tutorialnya. Namanya Chef Nova yang super ramah dan helpful. Dia memberi tahu apa saja yang bisa kita lakukan dengan macaron, brownies dan cupcakes. Untuk dekornya sudah disediakan garnish, melted chocolate, sprinkles dan of course a lotsa lotsa lotsaaaa Pocky! Meski temanya Halloween tapi dekornya imut-imut, lho. Nggak seram sama sekali, dan yang pasti edible, hihihi.




Bisa ditebak, aku memang banyakan ngemilnya daripada ngedekornya. Sementara yang lain sudah membuat spider, makam dan lain-lain, aku masih stuck dengan Pocky Deco monsternya Dr. Frankenstein, hehehe. Hasilnya pun nggak bagus-bagus amat tapi lumayan miriplah :p *menghibur diri sendiri
Setelah selesai selesai mendekor diadakan mini contest. Jadi yang karyanya mendapat tepuk tangan paling meriah akan diberi hadiah. Aku mah sudah pasti kalah, tapi beruntungnya masih dapat hadiah dari kontes yang lain. Agak malu-maluin, sih aku dapat hadiah mini pouch lucu karena membawa uang paling sedikit di dompet, hahahaha :'D Dan itu bukan hadiah satu-satunya yang kuterima, aku juga mendapatkan movie card sebagai undangan yang asalnya paling jauh. Ya ampun, "prestasi" ku kok aneh-aneh ya? :D



Acara ditutup dengan moment yang paling ditunggu-tunggu yaitu: memukul pinata! Yay! :D Terakhir kali aku mukul pinata berapa tahun lalu ya? Itu juga karena diundang bocah ke pesta ulang tahun, hehehe. Ternyata pinata pumpkin yang nampak menggemaskan itu bandel juga. Kami bergiliran memukulnya dan baru pecah waktu percobaan ke seratus kali (---lol, saking banyaknya dan aku lupa). Berbagai macam sweets pun segera berhamburan! Aku dapat banyak, lho, hampir 100 permen yang aku tampung di dalam topi kertas. Tapi ada juga yang dapat lebih banyak karena ditampung di rok! Hahaha, OMG, cerdas banget :D Yang berhasil mengumpulkan permen terbanyak juga mendapatkan hadiah. Pokoknya Pocky generous banget deh bagi-bagi hadiah terus. Malah saking baiknya Pocky, Pejoy, permen yang tersisa dan dekornya boleh dibawa pulang. Aku sama Dara, ---teman baru, sampai bawa sedotan dan sisa-sisa Pocky di dalam gelas saking "nggak tahu malunya", hahaha :p



Aku langsung pulang setelah acara selesai karena Bapak sudah menjemput (---entahlah beliau habis jalan-jalan ke mana, hehehe). Senang sekali bisa mengikuti Halloween party yang super early ini. Selain belajar mendekor (gagal tapi, huahahaha) aku juga mendapatkan pengalaman dan banyak teman baru. Mereka sih janji kalau bikin acara di Bandung akan menghubungiku. Mudah-mudahan saja betul ya karena aku akan dengan senang hati terlibat dengan acara yang bisa memuaskan sweet tooth ku :p Okay, thank you so much Pocky dan Cosmopolitan! Ditunggu acara selanjutnya, ya! :)



Update: Ternyata ada artikel tentang event Halloween ini di website Cosmopolitan :)




yang selalu happy kalau halloween,

Indi

____________________________________

Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com


Kamis, 04 Agustus 2016

Cerita Launching "Indi Sugar's Sweets" di Bazaar Pesona Ramadhan :)


O my God... O my God... dari mana saja aku? *pura-pura amnesia, hehehe* Tahu-tahu saja sudah masuk bulan Agustus sekarang. Selamat memasuki bulan baru ya, teman-teman. Semoga bulan ini lebih baik dari sebelumnya. Amen... :)
Hmm, sebenarnya aku nggak ke mana-mana, sih. Tapi aku punya penyakit "anak kecil", ---terlalu excited mau cerita banyak hal yang dialami tapi malah bingung mau yang mana dulu. Persis kaya anak kecil disuruh milih mainan baru, hihihi. Untuk menulis yang sekarang saja aku sampai tutup semua tab di komputer, mencoba nggak melihat foto-foto pengalamanku sebulan ke belakang karena bisa-bisa ganti tema di tengah tulisan :p Tulisan itu memang lebih tricky daripada foto, sih. Kalau foto bisa langsung upload sesegera mungkin karena paling keren aku cuma crop sama resize saja, sedangkan tulisan prosesnya lebih panjang, ---terkadang harus membangun mood. Tapi repotnya kalau kaya aku, mood baru mulai on, eh sudah pengen cerita hal lain. Ah, sudah cukup dengan blabbingnya, sekarang aku mau mulai cerita :D

Seperti yang pernah diceritakan di sini, 2 bulan lalu aku meluncurkan sebuah label sweets alias camilan yang bernama "Indi Sugar's Sweets". Sebenarnya ini nggak pure ideku, tapi atas dukungan orangtua juga, khususnya Ibu. Kebetulan beliau dan dua orang temannya (---yang sudah aku anggap sebagai tante) juga mempunyai usaha kue kering yang bernama Mawarsari, jadi produk mereka bisa meramaikan booth ku ketika launching. Sengaja aku mengambil waktu di bulan Juni karena sudah dekat dengan Lebaran, biasanya banyak yang mencari camilan untuk jamuan silaturahmi. Ya, sambil menyelam minum air lah ceritanya. Aku mau belajar jadi pengusaha, dan kalau ada untungnya bisa buat bekal liburan, hehehe. Bapak bilang sih jangan jadi beban. Yang penting aku have fun dan untuk menambah pengalaman. Makanya waktu ditawari untuk ikut bazar, aku langsung setuju. Sepertinya itu tempat yang tepat untuk launching "Indi's Sugar's Sweets".

Bazar yang aku dan Ibu ikuti, ---eh plus Bapak karena beliau ikut mengantar--- diadakan di Gedung Direktorat Pajak Jakarta Selatan dari tanggal 16-17 Juni 2016. Namanya "Semarak Bazaar Ramadhan" dan meskipun diadakan di lantai 2 tapi bazar ini terbuka untuk umum. Kami pergi dari Bandung waktu matahari belum terbit, kira-kira pukul 4 subuh karena loading barang hanya boleh dilakukan sampai sebelum pukul 9 pagi (buseeeeet). Aku sempat agak pengen menangis, soalnya belum tidur semalaman dan kondisi juga sedang nggak fit. Aku baru saja dapat "surat cinta" dari dokter, katanya aku kena hernia dan kista, jadi buat duduk di mobil berjam-jam rasanya.... (coba tebak, lol). Let alone soal scoliosis lah yang sudah pasti menambah kemeriahan suasana. Tapi mau gimana lagi, rencana ini sudah ada sebelum aku sakit dan semangatku juga sebenarnya lagi oke-oke nya. Untuk menyiasati agar aku nggak terlalu menderita (lol), cushion kesayangan pun sengaja ikut diboyong dan menemani sepanjang perjalanan. Thank God kami tiba tepat waktu dan bisa mendekor booth dulu sebelum pengunjung mulai berdatangan.



Karena sekalian launching, ---yang artinya pengunjung sama sekali belum tahu belum tahu tentang produkku, jadi kami berusaha supaya booth terlihat se-catchy mungkin. Sejak 1 minggu sebelumnya aku dan Ibu memikirkan tentang temanya. Akhirnya kami putuskan untuk memakai nuansa pink dan girly supaya cukup memakai benda-benda yang sudah aku punya. Untuk logonya pun aku yang desain, lho. Biar hemat yang penting meriah, hehehe. Oh iya, sebenarnya kami juga sudah mencetak backdrop. Tapi rupanya posisi booth kami pas di depan jendela, jadi nggak boleh ditempel apa-apa :( Untung saja banner kami warnanya cukup terang, jadi masih terlihat stand out di antara keramaian :p


Agak nervous karena ini adalah my very first bazaar. Waktu sudah menunjukan pukul 10 tapi suasananya masih sepi, hanya ada beberapa orang kantor saja yang berlalu-lalang. Bisa dimengerti sih karena selain di hari kerja, posisi kami yang di lantai 2 pun membuat pengunjung agak sulit untuk mencapainya. Eh, jangankan pengunjung sih, kami saja harus diantar security ke lokasi karena kurangnya petunjuk, hihihi. Syukurlah satu jam kemudian pengunjung mulai ramai, ---meski sebagian besar hanya melihat-lihat saja. Aku dan Ibu juga masih bingung dengan cara memperkenalkan produk kami karena masih malu-malu :p Akhirnya aku memberanikan diri untuk melangkah keluar dari booth dan mulai berseru, "Silakan mampir. Kami punya coklat, kue kering, permen. Mbak, Bu, Kakak, Pak..." Rupanya cara itu berhasil! Pengunjung mulai melirik booth kami dan kami pun mendapat pembeli pertama! Hore! :D


Jam-jam berikutnya terasa lebih mengalir dan cepat. Booth kami hampir selalu ada pembeli dan akhirnya jajaran toples "Indi Sugar's Sweets" yang dipajang di rak pun harus kuisi ulang. "Sedikit-sedikit tapi pasti," begitu kata Ibu waktu melihat sisa dagangan kami. Rasa sakitku pun jadi nggak terlalu terasa karena sibuk melayani dan beramah-tamah dengan pengunjung. Dan tahu apa best part nya? Kalau ada waktu luang aku bisa berkeliling dan mencicipi makanan yang dijual di sana. Favoritku adalah booth masakan Bali yang letaknya ada di sebrang sebelah kanan booth ku. Ya, ampun aku sampai nambah 2 kali saking enaknya :p Lucunya abang yang menjaga booth gantian berkunjung dan membeli 1 toples bola-bola cokelatku, hehehe, ya ampuuuun :D



Semakin sore kejutan pun berdatangan. Yang pertama kami dikunjungi oleh keluarga "lama" nya Eris, anjing kami. Mungkin masih ada yang ingat kalau 6 tahun yang lalu Eris diberikan oleh seorang Ibu baik hati untuk mengobati hatiku setelah ditinggal Veggie, anjingku yang mati karena epilepsi. Nah, beliau datang bersama anaknya ke boothku. Surprise sekali, selain memborong sweets dan kue kering, mereka juga membawa kado untuk Eris yang berulang tahun di bulan Mei lalu. Ya, ampun kalau nggak malu rasanya aku mau menangis :'D Dan kejutan kedua adalah aku kedatangan beberapa pembacaku. Katanya mereka tahu tentang bazar ini dari instagram dan memutuskan untuk datang. Waaa, jadi terharu, rasanya kaya meet and greet dadakan, hihihi.


Bazar selesai pukul 3 sore. Karena lokasinya di dalam kantor jadi cukup menguntungkan, kami nggak harus membawa barang-barang lagi karena ada security 24 jam. Dan itu sangat membantu karena tanpa beres-beres pun tenagaku sudah terkuras, hehehe. Sebisa mungkin aku berusaha agar "nggak semakin sakit" karena bazar masih 1 hari lagi. Supaya nggak "cape di jalan" kami putuskan untuk nggak pulang ke Bandung, tapi menginap di villa keluarga di Purwakarta. Rasanya lucu juga, menginap di villa tapi hampir nggak menikmati apa-apa. Hanya numpang mandi air hangat, exercise ringan dan tahu-tahu ketiduran. Paginya sudah wuzzz lagi ke Jakarta. Hihihi, nggak apa deh, buat pengalaman :D

Hari kedua rupanya benar-benar puncaknya. Jumlah pengunjung jauuuuh lebih banyak dari hari sebelumnya dan lebih antusias! Sampai-sampai aku susah pegang kamera untuk mengabadikan moment. Agak sayang juga, sih, tapi yang penting tetap terekam dalam hati (---apaan coba? Lol). Rupanya ada beberapa pembeli kemarin yang mengajak teman-temannya untuk mampir :) Kue-kue Ibu laris manis, produk Manies dan camilan Bandung yang juga ikut meramaikan jauh lebih laris dibanding hari sebelumnya. Begitu juga dengan produk "Indi Sugar's Sweets" yang kalaupun ada yang nggak jadi beli tapi tetap diambil fotonya karena packagingnya imut, hehehe *boleh dong bangga?*






Aku, Ibu dan Bapak sudah super lelah ketika bazar berakhir, tapi kami juga super senang. Pengalaman launching sekaligus bazar pertama ini sangat berharga untuk kami. Secara kasar Bapak menghitung kalau produk "Indi Sugar's Sweets" laku 70% yang artinya lebih baik dari yang diperkirakan (---dan sisanya terjual hanya beberapa hari setelah bazar). Mungkin setelah ini aku akan ikut bazar lagi, ---mungkin jika mendekati hari Natal atau tahun baru nanti ;) Aku nggak bohong, bekerja ditemani scoliosis, hernia dan kista memang nggak mudah. Kadang gue bahkan nggak bisa bedakan sakit yang sedang aku alami itu sumbernya dari mana, lol :p Tapi aku berhasil melewatinya, aku belajar, aku dapat pengalaman dan teman baru. It's awesome. Aku jadi nggak sabar untuk mencoba hal-hal baru lagi. Karena buatku nggak ada istilah "mumpung masih muda" atau "mumpung masih sehat". Usia berapa pun nggak ada kata terlambat untuk belajar. Dan (aku harap) dalam keadaan sakit atau sehat, semangatku nggak akan berubah :) Amen!



yang kemarin nyanyi, nulis buku, eh sekarang jualan kue, lol,

Indi

Btw, karena di post sebelumnya banyak yang bilang nggak tahu aku tampil di NET TV (karena aku kasih kabar mendadak, ---sorry, aku juga baru tahu, hehehe). Nih, aku kasih link untuk nonton in case ada yang penasaran, hihihi. Klik di sini.


(Update 8/3/2024. Aku masih melanjutkan bisnis di bidang kuliner, kini dengan nama “Indi Sugreen” yang berfokus pada makanan plant based).


___________________________________


Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: 081322339469

Rabu, 15 Juni 2016

Kamu di Jakarta? Yuk, Cicipi "Indi Sugar's Sweets" Sambil Ngabuburit! :)


Halooooo teman-teman bloggies! Siapa nih yang tinggal di Jakarta? Ayo angkat tanggannya. ---Eh, nggak usah deh, dari sini juga nggak kelihatan, hihihi :p Kita ketemuan, yuk! Tanggal 16 sampai 17 Juni 2016 nanti aku akan ada di sana, tepatnya di Gedung Direktorat Pajak. Kedatangan ku ke sana dalam rangka memperkenalkan brand makanan milikku yang bernama "Indi Sugar's Sweets". Ya, semacam launching kecil-kecilan, deh, hihihi. 

Mungkin ada yang heran, kok dari penulis aku bisa mendadak tertarik dengan dunia makanan. Well, aku juga heran. ---Lol, just kidding! :p Aku memang senaaaaaang sekali ngemil, terutama segala macam sweets dan desserts. Kalau ada yang masih ingat dengan film MIKA, di sana aku senang sekali setiap menerima lollipop dari Mika. Nah, di real life pun gitu, segala macam permen, es krim dan cokelat akan kuhabiskan tanpa menunggu lama :D Dari sanalah ide "Indi Sugar's Sweets" dibuat, agar kecintaan terhadap berbagai macam sweets bukan aku saja yang menikmati, tapi juga banyak orang ;)

"Indi Sugar's Sweets" menyediakan macam-macam cemilan manis seperti cokelat isi biskuit, cokelat isi kacang, jelly, permen dan lain sebagainya. Eits, meski banyak sweets yang beredar di pasaran, produkku beda, dong ;) Selain harganya bersaing (---betul, coba bandingkan saja, lol), rasa dan kualitasnya sangat terjaga. Saat dikemas aku pastikan agar sweets nya nggak lengket dan cacat, bahkan di kemasan yang paling kecil pun disertakan silica gel. Dan yang nggak kalah penting, packagingnya rapi dan as sweet as a sugar, dong, hihihi.


Launching diadakan di Bazar Dharma Wanita DJP, tepatnya di booth "Indi Sugar's Sweets". By the way, meski judulnya sweets, tapi untuk yang nggak suka manis aku juga disupport oleh "Mekar Sari" yang menyediakan beraneka macam kue kering (cocok nih buat persiapan lebaran) dan "Manies" yang menyediakan bola-bola susu dan jajanan khas Bandung termasuk keripik pedas dan seblak! Yumm :) Dan untuk yang mau berkunjung, nggak usah khawatir sulit untuk menemukan booth nya karena "Indi Sugar's Sweets" punya banner berwarna pink catchy dengan fotoku dan Ibu :p



Aku tunggu kedatangan teman-teman semua untuk menikmati sweets dan jajanan lainnya di;

Semarak Bazaar Ramadhan
Booth "Indi Sugar's Sweets"
Waktu: 16-17 Juni 2016, pukul 10.00-15.00
Tempat: Gedung Direktorat Pajak
Jl. Gatot Subroto 40-42 Jakarta Selatan
(Aula Gedung A Lantai 2)

Ajak teman, saudara, orangtua, pasangan, tetangga, ---dan siapapun yang kalian mau, hihihi. Sampai bertemu di sana! ;)


as sweet as a sugar and everything nice,

Indi

______________________________

Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: 081322339469

Rabu, 30 Maret 2016

Pelajaran yang Didapat Ketika Menghadiri Resepsi Pernikahan...

Wedding invitation.
"Uh, lagi?"
Mungkin terdengar kasar---atau aneh, tapi begitulah reaksiku. Sejak kecil sampai sekarang aku nggak pernah excited dengan segala yang berhubungan dengan wedding stuff. Ini bukan karena aku sensi dengan pertanyaan "kapan nyusul", ya. Aku sudah 8 tahun punya serious relationship with Ray, so definitely I’m not a jomlo, hehehe :p Tapi aku adalah girly girl yang orang bilang "not girly enough" karena malas ribet. Konon setiap anak perempuan mempunyai impian untuk menjadi pengantin, tapi untukku membayangkannya saja sudah seram. Pakai makeup, duduk dan berdiri di pelaminan berjam-jam... Uh, pakai bb cream saja aku sudah jerawatan, apalagi kalau harus dibikin "pangling". Pokoknya setiap mendengar tentang wedding, aku langsung teriak "Nooooo... jangan libatkan akuuuu", ---dalam hati. Karena kalau berteriak di depan calon pengantin itu namanya rude, hehehe. Don't get me wrong, tentu suatu hari aku akan menikah. Tapi sambil menunggu waktunya tiba, bukan berarti aku bisa free dari segala makeup dan ini-itu. Terutama ketika yang menikah adalah anggota keluarga...

Aku sangat senang waktu tahu kalau Dani, sepupuku akan menikah dengan his longtime girlfriend, Dila. Kebetulan beberapa tahun yang lalu Dila pernah mewawancariku untuk video dan website Greensmile. Meski nggak begitu mengenalnya, tapi akan memilikinya sebagai ipar membuatku excited karena kami mempunyai passion yang sama di bidang lingkungan hidup :) Sampai aku ingat bahwa keluarga harus memakai seragam dan makeup agar terlihat kece dan berbeda dengan tamu yang lain. Jantungku langsung deg-degan. Why oh why... kenapa di keluargaku ada tradisi seperti ini? Bisakah aku memakai apapun yang ada di lemari dan cukup memakai bedak tipis? Well, jawabannya tentu "tidak". Demi menjaga kekompakan aku harus membuat baju baru dari kain seragam yang sudah disediakan oleh pihak pengantin. Ini mengingatkanku dengan film 28 Dresses. Seperti di film, aku punya banyak dress pengiring pengantin dan semuanya hanya berakhir di lemari karena kebanyakan modelnya nggak cocok untuk dipakai sehari-hari, hehehe. By the way, resepsi pernikahan diadakan di Jakarta sementara aku tinggal di Bandung. Dengan pertimbangan jarak dan waktu karena resepsi diadakan di malam hari, akhirnya diputuskan untuk nggak menyetir mobil sendiri dan kami (aku, Ray dan keluarga adikku) memutuskan memakai jasa sewa mobil sekaligus sopirnya sementara Ibu dan Bapak lebih dulu berangkat satu hari sebelumnya.

Sebenarnya bukan pernikahan yang aku takuti, tapi segala macam prosesi membuatku ingin menjadi anak-anak selamanya saja. Dulu aku pernah bertanya pada Ibu kenapa pengantin harus didandani dan dipajang di pelaminan. Waktu itu Ibu menjawab bahwa semuanya dilakukan agar berkesan, bisa dikenang sampai hari tua nanti, ---dan yang termanis di resepsi pernikahan pengantin bisa merasakan menjadi raja dan ratu selama sehari. Tapi aku nggak mengerti, bukankah berkumpul bersama di satu meja sambil mengobrol seru dengan teman dan keluarga tentang betapa beruntungnya bisa menikahi seseorang yang sangat dicintai akan lebih berkesan dibandingkan dengan menyalami tamu undangan di pelaminan dan makan belakangan? Semakin dewasa aku belajar bahwa versi fun dan berkesan bagi setiap orang itu berbeda-beda. Bagiku makeup dan highheels merupakan nightmare, tapi bagi orang lain bisa saja itu adalah hal yang sangat mereka inginnya. Aku nggak harus seperti itu, of course. Ketika hari itu datang menikmati musik dan kumpul-kumpul would be perfect for me and Ray. Tapi seperti yang sudah aku sebutkan barusan, versi fun setiap orang itu berbeda-beda, jadi di perjalanan aku bolak-balik ingatkan diri sendiri supaya nggak berwajah masam. Berempati, bayangkan jika aku ada di posisi pengantin dan ini adalah hari yang sangat mereka impikan.

Ibu dan Bapak mengerti dengan karakter aku yang 'girly but not so girly' (apaan coba, lol). Mereka selalu mencarikan jalan tengah agar aku happy tapi tetap mengikuti tradisi. Supaya kedua belah pihak senang, dan nggak ada yang (terlalu) memaksakan diri. Seperti di acara-acara pernikahan sebelumnya (OMG, aku benar-benar terdengar seperti film 28 Dresses, hehehe) pihak pengantin selalu memberi kain seragam untuk dipakai anggota keluarga. Biasanya aku menjadi pengiring pengantin, ---literally jalan di belakang mereka, jadi harus kompak dengan sepupu-sepupuku yang lain. Aku yang clumsy ini nggak pantas untuk pakai dress panjang karena bisa-bisa terpeleset dan dikenang seumur hidup oleh tamu undangan. Jadi untukku model dress sengaja dibedakan, tapi tetap dengan kain yang sama. Dan untuk sepatu, karena aku nggak bisa memakai high heels (not good for my back, lah) jadi diganti dengan kitten heels, ---yang menurutku sih tetap nggak nyaman, masih lebih enak flat shoes atau flatform. Nah, biasanya yang susah 'kabur' itu kalau urusan makeup, soalnya orang-orang langsung gemas melihat wajahku yang lebih polos dari adik sepupu yang masih SD. Kalau perlu mereka bakal mengejar-ngejar aku sambil bawa lipstik demi membuat wajahku jadi presentable, hehehe. Syukurlah kali ini aku diizinkan untuk nggak dimakeup oleh mbak-mbak makeup artist karena iparku lumayan akrab dengan lipstik dan kawan-kawannya. Aku hanya dipakaikan bb cream, bulu mata palsu, eye liner, blush on dan lipstik tipis, ---tanpa eye shadow, pensil alis dan lainnya. Lega sekali waktu melihat cermin ternyata wajahku masih dikenali. Soalnya entah karena belum terbiasa, atau memang begitu kenyataannya, makeup selalu membuatku merasa seperti pemeran antagonis, hehehe.

Bersantai dulu di Mall Slipi Jaya sebelum pakai dress dan makeup sederhana.

Resepsi pernikahan diadakan malam, tapi keluarga diharapkan untuk berkumpul pukul 12 siang untuk, ---believe it or not, makeup! Keluarga plus kerabat berkumpul di rumah mempelai dan hotel untuk bergantian dirias. Tadinya aku pikir bakal too early karena acara masih sangat lama, bisa-bisa makeup nya luntur duluan. Tapi rupanya untuk mengerjakan 1 orang membutuhkan waktu lebih dari 1 jam; makeup wajah, rambut, pakaian... Wah, pantas saja Ibu sudah stand by dari pukul 11, hehehe. Berhubung aku nggak menggunakan jasa makeup artist dan untuk rambut hanya perlu dikepang (catok rambutnya pun sendiri, lol) jadi aku punya banyaaaaaak waktu sampai resepsi tiba. Sambil menunggu aku ajak Ray berjalan-jalan ke mall yang lokasinya nggak jauh dari rumah omku. Rupanya mall sedang direnovasi, jadi hanya lantai 1 dan 2 saja yang ramai. Meski begitu kami sangat menikmati our escape date. Setiap lantai kami jelajahi dan berakhir dengan membeli sepatu, kaus kaki dan kaus dalam yang super murah. Setelah berjalan-jalan moodku menjadi semakin bagus, seperti me-refresh tubuh dan pikiran setelah perjalanan dari Bandung ke Jakarta yang melelahkan. Aku tahu setelah ini aku akan kembali ke kenyataan sebagai pengiring pengantin yang harus berdiri sampai larut malam, ---dengan sepatu yang bisa membuat scoliosis ku marah selama 1 minggu. Tapi at least aku akan berusaha melakukannya dengan happy, for my family :)

Dengan dress yang didesain khusus untukku, kitten heels dan simple makeup :)

Oh, satu hal lagi yang belum aku sebutkan tentang tradisi di acara pernikahan keluarga, secara nggak resmi aku dipilih sebagai big sister bagi adik-adik sepupuku, Gaby dan Billa yang usianya 8 dan 10 tahun. Kebiasaan ini sudah berlangsung sejak mereka masih balita sampai-sampai banyak yang mengira bahwa mereka benar-benar adikku. Psst, mudah-mudahan mereka nggak baca tulisan ini, karena mereka selalu protes jika diperkenalkan sebagai sepupu, ---maunya sebagai adik kandung saja, hihihi. Tradisi ini memberikan keuntungan sekaligus "memberi keterbatasan" bagiku. Sisi baiknya tentu karena aku bisa mendapatkan semua hal seru yang mereka dapat dari orang dewasa lainnya. Es krim, happy meal, jalan-jalan ke mall... you named it deh pokoknya. Tapi di sisi lain mereka juga begitu terikat denganku sampai-sampai "me time" jadi hal yang hampir mustahil. Sebenarnya aku bukan satu-satunya sepupu mereka yang sudah dewasa, tapi somehow Gaby dan Billa selalu memilihku. Sampai-sampai namaku sering dijadikan senjata oleh orangtua mereka untuk membujuk kalau mereka malas melakukan sesuatu, hahaha. Dan belakangan "adik" ku bertambah 1, namanya Anissa, anak dari sepupuku, ---si mempelai pria. Well, sebenarnya secara teknis aku adalah tantenya Anissa, tapi karena usianya nggak jauh dari Gaby dan Billa ia ikut-ikutan ingin menjadi adikku. So kali ini aku menjadi big sister bagi mereka bertiga. Sebelum resepsi dimulai aku berharap mereka nggak akan berebutan untuk menggandeng tanganku, karena obviously, ---tanganku hanya dua, hahaha.

Bersama Ibu dan Bapak :)

Pukul 7 malam resepsi pernikahan dimulai. Karena keluarga pengantin harus sudah berada di gedung sebelum acara dimulai, jadi aku harus pandai-pandai mencuri waktu untuk beristirahat. Untunglah ada beberapa kursi di salah satu sudut, jadi aku bisa melepas sepatu dan membiarkan kaki untuk bernapas lega, hihihi. Entah ada apa dengan kakiku, setiap memakai sepatu ber-heels, ---sekalipun kitten heels, pasti ujung-ujung jarinya sakit semua. Sementara para orangtua sibuk beramah-tamah dengan kerabat dan tamu yang mulai berdatangan, para sepupu sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang sekedar mondar-mandir, selfie bahkan ada yang menenangkan anak-anak mereka karena sudah mulai rewel. Sedangkan aku mengobrol random dengan Ray sambil sesekali membalas sapaan kerabat yang melintas. Tapi itu nggak bertahan lama karena Gaby, Billa dan Anissa sudah datang. Belum apa-apa aku sudah ditantang untuk membuat sebuah kursi untuk bisa muat diduduki kami berempat! Padahal kursi yang kosong masih banyak, lho. Tapi mereka berlomba-lomba untuk duduk paling dekat denganku. Cepat-cepat aku berdiri supaya adil karena 3 gadis kecil yang berkelahi saat pernikahan = not good, lol. Setelah berdiri pun rupanya masalah belum selesai, ---seperti yang aku khawatirkan mereka benar-benar berebutan untuk menggandeng tanganku! Hahaha, OMG, that was beyond cute, Billa menggandeng tangan kiriku sementara Gaby dan Anissa menggandeng tangan kananku, ---Anissa menggenggam jempolku kuat sekali, hahaha. Tapi yang paling lucu adalah ketika giliran keluargaku berfoto bersama pengantin, Billa dengan percaya diri mengikutiku ke studio mini dan mengingatkan (lagi) bahwa ia adalah adikku, hahaha. Tentu Billa nggak diizinkan ikut, tapi jujur saja melihat wajah seriusnya membuatku terharu. Awww...

Acara seremonial baru "benar-benar" dimulai setelah sesi foto; doa, pidato, tari-tarian dan lain sebagainya. The girls sangat excited untuk menonton Tari Merak dari jarak dekat dan itu membuat aku cukup kewalahan karena, ---of course--- mereka minta ditemani. Tapi seperti yang sudah aku sebutkan sebelumnya, ada 2 sisi dari menjadi seorang kakak. The bright side is... aku bisa berkeliling dan mencicipi banyak makanan tanpa perlu merasa canggung. Well, akhirnya aku mengerti kenapa Ibu dan Bapak dulu sering menjadikanku alasan. Karena sekarang aku bisa merasakan keuntungannya. "Gaby, mau mau chocolate melt, ya? Yuk, ambil," ---dan aku pun mengambil porsi yang paling besar untukku sendiri, hehehe. Rasa pegal di kaki dan berat di wajah (bahkan makeup ringan pun kalau dipakai lama-lama terasa berat) memang nggak hilang. Aku masih bisa merasakannya tapi at least perhatianku teralih karena ada mereka. Pukul 9 malam, 1 jam sebelum acara selesai aku pamit untuk pulang lebih dulu. Sebenarnya masih ada 1 sesi foto lagi, tapi karena sebelum acara juga sudah jadi aku pikir itu bukan masalah. Berpamitan dengan adik-adikku seperti biasa dibumbui sedikit drama, aku harus mengantar mereka ke pelaminan karena selain bersamaku mereka hanya mau bersama orangtuanya! Hahaha, obviously I'm not ready for kids, ---yet :'D

Billa, Anissa, Gaby dan Kiran, anak dari teman ibuku.

Begitu tiba di mobil aku langsung melepas kitten heels dan menggantinya dengan sepatu yang kubeli di mall sebelumnya. I'm so happy for Dani dan Dilla, tapi aku benar-benar nggak sabar untuk tiba di rest area dan menghapus semua riasan dari wajah. Hatiku masih bertanya-tanya mengapa resepsi pernikahan harus identik dengan berdandan? Mengapa pengantin harus dipajang di pelaminan? Dan lain sebagainya. Tapi setelah kupikir-pikir, memang apa masalahnya dengan semua itu? Yang terpenting adalah kebahagiaan pengantin. Mungkin memang inilah hal yang mereka inginkan, ---yang sejak kecil diimpikan, seperti aku yang bermimpi ingin makan-makan bersama keluarga dengan diiringi konser musik kecil di hari pernikahanku nanti, ---no need to dressed up. Sedikit berkorban seharusnya bukan masalah, ---karena versi fun bagi setiap orang itu beda-beda, dan aku juga pasti bersedih jika ada yang berwajah masam ketika "hariku" tiba. Well, sepertinya nggak berlebihan jika aku menyebut resepsi pernikahan sebagai tempat untuk belajar tentang keberagaman. Aku berlajar bertoleransi, aku belajar menghormati dan aku belajar untuk ikut happy saat orang lain happy. Memang nggak mudah untuk happy saat tumit mulai lecet, tapi bukan berarti nggak bisa :)
By the way sebelum kalian mengira bahwa tulisan tentang pernikahan ini adalah kode. Jawabannya adalah; "Nooooo." Suatu hari aku akan menikah, tapi not very soon lah. Lagipula, ingat pesan Gaby, Billa dan Annisa; "No boyfriend until you're 30, Kak!" 
Oh, kasihan Ray, hahaha :D


yang kakinya masih sakit,

Indi

__________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 24 Mei 2015

Cerita Malam Penobatan Kartini Next Generation Award 2015 :)

Hehehe, aku ingat sudah janji untuk menceritakan soal malam penobatan “Kartini Next Generation Award 2015” berabad-abad lalu, tapi rupanya baru sempat sekarang :’D Mungkin teman-teman sudah ada yang tahu bahwa 2 minggu lalu aku terkena demam berdarah dan gejala tipus. Itulah yang membuat update-ku terhambat belakangan. Ditambah segera setelah aku pulih banyak kegiatan yang menanti. Cukup membuat energiku terkuras, bahkan untuk sekedar blog walking. Tapi aku juga bersyukur karena Tuhan masih (dan semoga selalu) memberikan kesehatan dan semangat untuk bekerja dan berkarya :)

Jadi setelah menjalani proses penjurian (baca cerita lengkapnya di sini), dua hari kemudian di tanggal 22 April 2015 aku dan para finalis diundang untuk menghadiri malam penobatan yang dilaksanakan di auditorium Gedung BPTT Jakarta. Aku berangkat pagi-pagi sekali dari Bandung dengan diantar Ibu dan Bapak, sama seperti ketika proses penjurian. Tapi ada yang berbeda kali ini, nenekku, yang biasa dipanggil Emah oleh cucu-cucunya juga ikut mendampingi. Senang rasanya, karena moment yang istimewa ini terasa semakin istimewa dengan dihadiri oleh orang-orang tercinta :) Meski cuaca sangat terik (sangat, sampai ketika berhenti di rest area aku ingin minuman dingin meskipun masih pagi, hehehe) tapi perjalanan terbilang lancar. Macet karena KAA hanya terasa sebentar dan dalam waktu beberapa jam saja kami sudah tiba di Jakarta.

Ketika tiba di Gedung BPPT rasanya seperti Deja vu. Meski diadakan di ruangan yang berbeda, tapi rupanya aku dan keluarga lagi-lagi menjadi finalis yang paling awal tiba (baca: kepagian), hehehe. Mungkin karena finalis lain kebanyakan masih menginap di Hotel dan ada yang tinggal di Jakarta jadi mereka tiba tepat waktu. Sambil menunggu aku berganti baju dengan kebaya yang sudah disiapkan dari rumah. Karena aku hanya punya satu kebaya dan jahitannya sudah mulai lepas, jadi aku dan Ibu mendesain kebaya baru dan segera menjahitnya dalam waktu yang sangat singkat (kami hanya punya waktu 3 hari sebelum penjurian!). Kain yang digunakan pun seadanya, yang sudah tersedia di rumah. Untuk kain kebaya menggunakan stok kain Ibu, dan untuk roknya menggunakan kain batik rangrang oleh-oleh dari adik yang pulang honeymoon di Bali. Sempat khawatir warna dan motifnya “nabrak”, tapi setelah finalis lain mulai berdatangan mereka ternyata menyukai “kebaya last minute” ku, hehehe. Thank God :D


Dari kain-kain yang ada di rumah, jadilah kebaya ini :)

Bersama finalis KNG 2015 :)

Kompakan pakai batik rangrang. Lucu, ya :D


Selain Ibu, Bapak dan Emah, kehadiran Iin dan mamanya pun semakin membuat perasaanku bertambah gembira. Iin adalah seorang teman yang aku kenal dari audisi X Factor karena sama-sama mengidap scoliosis dan sama-sama tertarik dengan dunia seni. Meski ini adalah pertemuan yang pertama kali dengan mamanya Iin, tapi kami langsung duduk di satu meja dan berbincang akrab tentang banyak hal (baca cerita seru kami di sini). Kehadiran mereka membuat mejaku jadi yang paling ramai. Pasalnya finalis lain hanya ditemani dengan 2 orang pendamping, sedangkan aku oleh 5 orang yang semuanya senang mengobrol, hehehe. Eh, tapi aku sudah izin pada panitia dulu kok sebelumnya. Kebetulan ada salah satu finalis yang nggak membawa pendamping, jadi aku bisa mengajak Emah, Iin dan mamanya :) 


Kedatangan suporter cantik, nih. Iin :*


Tepat setelah acara pembukaan selesai Iin dan mamanya pamit karena ada keperluan lain. Oh, iya waktu nama dan foto finalis ditampilkan di layar sepertinya cuma mejaku saja yang heboh, soalnya waktu wajah konyolku muncul, Iin dan orangtuaku kompak bertepuk tangan sambil bersorak. Hahaha, kalau panitianya membaca tulisan ini aku minta maaf ya :p
Aku berpisah dari Ibu, Bapak dan Emah untuk duduk bersama finalis yang lainnya. Jaraknya cukup jauh dari mejaku sebelumnya, di pojok dekat speaker raksasa sementara keluargaku di tengah ruangan dengan posisi yang menghadap langsung ke panggung. Well, lebih strategis dan nyaman, sih... tapi masa aku mau nempel terus sama mereka seperti anak kecil, hehehe. Lagipula mengobrol dengan teman-teman baruku itu seru sekali, lho. Dan tentu saja bisa membuat “lupa” dengan suara berisik dari speaker raksasa yang ada di sebelah kiri kami :D

Selain kata sambutan dan doa dari para mentri, acara juga diisi dengan talk show yang sesuai dengan tema Kartini Next Generation Award tahun ini, yaitu Woman as Drivers of Progress. Sidrotun Naim dan Maizidah Salas, finalis tahun ini menjadi salah dua (istilah apaan ini? Lol) dari narasumber talk show. Kisah mereka sangat menginspirasi, bahkan sempat membuatku hampir meneteskan air mata. Sungguh membuktikan bahwa “Kartini” bisa menjelma dari berbagai latar belakang dan profesi. Awesome! Selain itu juga ada drama musikal singkat yang menceritakan tentang keragaman perempuan. Aku suka sekali karena perempuan digambarkan dengan nggak seragam. Ada yang bekerja di luar, ibu rumah tangga dan lain sebagainya, ---tapi semuanya HEBAT! :)


Talk show.

Drama musikal tentang perempuan :)


Setelah penantian yang panjang (banget, ---sampai sore lho) akhirnya ke 22 orang finalis dipanggil untuk naik ke atas panggung. Mereka adalah (aku termasuk, ya, hehehe) Yunia Muji Utami (Sidoarjo), Siti Rohayah (Banyuasin), Julie Nava (USA, berhalangan hadir), Diana Anggraini (Bandung), Annisa Wibi (Bandung), Abys Wigati (Malang), Vanda Yulianti (Jakarta), Laurencia Ika (Surabaya), Maizidah Salas (Wonosobo), Alia Noor (Jakarta), Nadhira Vidya (Bandung), Nariana Pardede (Yogyakarta), Wahyuning Widiowati (Jakarta), Sidrotun Naim (Tanggerang), Indi Taufik (dari antah berantah, mungkin dari Disney channel atau Nickelodeon, hahaha), Qori Sulaeman (Karawang), Aretha Aprilia (Tanggerang), Tri Wahyuni (Samarinda), Vania Santoso (Surabaya), Yayuk Sri (Nganjuk), Anazkia (Malang) dan Talita Asagi (Papua). Hal pertama yang aku lakukan ketika berdiri di sana adalah “dadah-dadah” ke arah keluargaku, hehehe. I know it’s kinda childish. Tapi aku happy sekali, ---dan menyapa keluarga adalah caraku mengekspresikannya :)


22 orang finalis :)

Ayo luruskan barisannya! :p

Ada 2 stasiun TV yang meliput acara ini, yaitu TVRI dan Daai TV :)


Ada perasaan haru yang susah sekali dijelaskan dengan kata-kata ketika melihat keluargaku dari atas panggung. Bapak berdiri di dekat panggung, bahkan lebih depan daripada para wartawan untuk mengambil fotoku. Sementara Ibu keluar dari mejanya dan berdiri agar bisa melihatku dengan jelas. Dan Emah... Well, beliau yang paling membuat hatiku tersentuh... Emah sama sekali nggak beranjak dari kursinya, tapi air matanya terus keluar sambil menatapku bangga. Kalau saja kamera nggak menyorotku dari segala arah, mungkin aku sudah menangis seperti bayi, hehehe. Setelah beberapa sambutan dibacakan 6 orang yang terpilih untuk mewakili 6 bidang/kategori yang berbeda. Mereka adalah Siti Rohayah (ekonomi), Laurencia Ika (pendidikan), Alia Noor (sosial budaya), Vania Santoso (kesehatan dan lingkungan hidup, ---kategori yang sama denganku), Sidrotun Naim (riset perikanan) dan Maizidah Salas (pemberdayaan perempuan). 


Bersalam-salaman :D

Penyerahan trophy dan sertifikat pada 6 perempuan dari 6 kategori yang berbeda.

Gue menerima sertifikat.

Lalu cengengesan karena tertukar dengan finalis lain, hahaha. 

Tebak aku lagi cerita apa. Pokoknya yang berdiri di dekatku pasti susah jaim. Maaf, yaaa :)

Horeeee, dapat hadiah banyak :D

Emah menangis haru ketika aku di atas panggung :')

Bersama Talita (aku sudah pegal maksimal dan keberatan membawa sertifikat dan hadiah) xD


Setelah penyerahan sertifikat, trophy, hadiah dan foto bersama, kami turun dari panggung untuk menemui pendamping/keluarga masing-masing. Ibu dan Bapak sudah menyambutku di tepi panggung sambil terus-terusan berkata tentang betapa bangganya mereka padaku. Emah, yang masih belum juga beranjak dari kursinya mencium dan memelukku erat. Air matanya semakin deras seiring dengan doa dan kata-kata pujian yang beliau lontarkan untuk cucu perempuan pertamanya ini. Pertahananku pun roboh, air mataku mulai keluar dan menangis haru. Sungguh ini hari yang membahagiakan karena bisa berdiri di antara perempuan-perempuan hebat dari seluruh Indonesia. Tapi mendengar Ibu, Bapak dan Emah bangga denganku melebihi segalanya. Aku beyond bahagia...

Di malam penobatan Kartini Next Generation award ini juga ada kejadian nggak terduga yang menyenangkan. Menurut cerita Ibu, waktu aku pindah meja untuk duduk bersama finalis lain ada seorang perempuan yang menghampiri untuk duduk di kursi kosong yang tadinya aku tempati. Ketika mengenalkan diri ternyata ia adalah Erlinda, sekjen dari KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia). Tahu bahwa Ibu, Bapak dan Emah adalah keluarga finalis, ia ingin berkenalan denganku. Ternyata Erlinda ini baiiiik sekali (plus cantik). Ia menyebut dirinya “Tante”, tapi aku lalu memanggilnya “Kakak” karena terlihat sangat muda. Setelah saling mengenalkan diri (nggak lupa aku bercerita tentang passion-passionku) kami pun bertukar nomor telepon dan alamat email. Ketika aku selesai mengobrol dengan Ibu, Bapak dan Emah, Kak Erlinda mengucapkan selamat dan memberikan pesan padaku. Katanya sudah waktunya aku meneruskan perjuangan generasi terdahulu. “Yang masih muda seperti Indi ini harus diberi kesempatan untuk melakukan perubahan,” begitu katanya. Aduh, aku jadi semakin terharu.
Rupanya Emah punya request istimewa pada Kak Erlinda sebelum aku turun panggung. Katanya beliau ingin aku berfoto dengan para mentri. Hehehe, Emah ada-ada saja... Tapi ternyata Kak Erlinda mengabulkannya. Dengan mengenalkanku sebagai keponakannya, aku pun berfoto dengan para mentri. Ah, terima kasih banyak Kak Erlinda... Baik sekali hatimu padahal kita baru kenal beberapa jam saja :)


Ibu, Emah dan Kak Erlinda KPAI :)

Sempat berbincang di sela acara :)

Requestnya Emah, aku berfoto dengan Puspita Zorawar (ketua KNG 2015) dan Imam Nahrawi (Menpora RI).

Bersama Rudiantara (Menkominfo RI). Terima kasih banyak Kak Erlinda! :D


Setelah acara selesai rupanya masih ada kejutan lain. Para juri rupanya masih mengingatku, ---tepatnya mengingat presentasiku yang dalam bentuk dongeng, hehehe. Yang mengesankan, salah satu juri yang juga pimpinan redaksi majalah Noor, Ibu Jetti R. Hadi, memanggilku ketika kami akan pulang. “Sebentar... sebentar, saya mau difoto sama Indi,” katanya sambil memelukku. Beliau berkata bahwa sejak mendengar ceritaku, beliau ingin bertemu dengan orangtuaku. Katanya aku pasti dibesarkan oleh orangtua yang hebat. Wah, Ibu dan Bapak sampai penasaran dengan isi presentasiku, katanya kenapa mereka sampai dianggap “hebat”. Hehehe, rahasia dong! :p



Bersama Ibu Jetti pimred majalah Noor :)

Thank God.... :)


Di perjalanan pulang kami nggak henti-hentinya membahas tentang apa yang baru saja kami alami. Aku bilang ini salah satu hari yang paling membahagiakan di hidupku. Tapi ternyata Ibu, Bapak dan Emah pun merasakan hal yang sama. “Emah bangga sekali sama Kakak. Lihat Kakak di atas panggung, berdiri sama banyak orang hebat. Kalau bukan karena Kakak mana bisa Emah mengalami hari seperti ini?” Diam-diam aku menghapus air mata yang pelan-pelan turun. Aku berjanji akan terus belajar, terus mencari pengalaman dan nggak mudah menyerah. Aku ingin membuat mereka bahagia dan bangga... selalu :)) 


Simak tayangan Penobatan KNG 2015 oleh DAAI TV di sini: 


anaknya ibu dan bapak,

Indi


 _______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469