Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Desember 2016

Come Roll with Hunter Kelch! :)


Pertemanan memang bisa dimulai darimana saja, termasuk dari dunia maya. Seperti perkenalanku dengan Hunter Kelch yang dimulai dari Instagram. Waktu itu somehow ia menemukan akunku dan segera kami menemukan banyak kesamaan! Kami sama-sama senang menulis (baca website nya: www.comerollwithme.com), mendengarkan musik rock, menonton film, makan pizza dan sama-sama mengidap scoliosis! Meski begitu sebenarnya kondisi kami nggak sama persis karena penyebab scoliosis kami berbeda. Agar lebih saling mengenal, kami memutuskan untuk saling mewawancarai. Dan ini adalah hasil wawancaraku dengan Hunter tentang kondisi cerebral palsy dan kegiatannya! :)


www.comerollwithme.com


1. Hai Hunter, bisa kamu ceritakan tentang dirimu?
Aku seorang pria berusia 24 tahun yang mengidap Cerebral Palsy. Aku lahir 3 bulan prematur dan mengalami infeksi serius yang mengakibatkan kerusakan otak. Aku tinggal di sebuah gedung apartemen bersama orang-orang yang juga memiliki disabilitas, tapi aku punya apartemen sendiri. Aku punya caregiver yang datang untuk membantu kebutuhan pribadiku. Ibuku adalah caregiver utamaku, tapi aku juga punya tiga orang lain yang membantu. Sejak dua tahun yang lalu aku memutuskan untuk menjadi seorang blogger profesional dan fokus pada tema "hidup dengan cerebral palsy" sambil memberikan wawasan pada orang lain yang juga memiliki disabilitas. Selain itu aku juga membahas tentang aksebilitas. Sekarang baru sebatas di kampung halaman saja, tapi aku berharap suatu hari akan berjalan-jalan dan blogging ke seluruh penjuru dunia.

Aku punya seekor "kucing gila" bernama Sully yang terkadang bisa sangat manis dan penuh kasih sayang, tapi di lain waktu ia bisa menjadi kucing yang nakal!

Aku selalu suka olahraga, ---kalau dipikir mungkin sejak aku di dalam kandungan! Olahraga favoritku untuk ditonton adalah American Football, bisbol dan gulat profesional! Aku telah menonton beberapa pertandingan dan pernah ke acara gulat profesional sebanyak 3 kali!

Aku juga suka menonton acara memasak, acara kriminal dan acara tentang medis. Dan aku juga suka bermain video game. Aku mulai bermain video game sejak usia 2 tahun. Waktu itu aku bermain Mario Bros di Super Nintendo milik ibuku! Tapi sekarang aku bermain di PS4 milikku sendiri, kebanyakan aku bermain game tentang  olahraga dan perang.

Aku suka makan di luar, burger adalah makanan kesukaanku. Aku juga suka pizza! Aku sering pergi ke tempat bermain bowling, pertandingan balapan dan bioskop.

Aku menikmati musik rock keras yang diputar keras-keras! Tapi kalau di apartemen aku tidak bisa memutarnya telalu kencang karena penghuni lain kebanyakan orang-orang yang usianya lebih tua. Untungnya, sampai sekarang belum ada komplain dari mereka! 

2. Apa itu cerebral palsy? Dan waktu usia berapa ketika kamu didiagnosis oleh dokter?
Cerebral Palsy pada dasarnya adalah gangguan motorik non-progresif yang disebabkan oleh kerusakan otak pada tahun-tahun pertama kehidupan. Aku lahir 3 bulan lebih awal, punya pendarahan otak dan juga infeksi. Ini berpengaruh ke keempat anggota tubuhku, jadi aku bisa disebut sebagai quadriplegic. Aku sudah memakai kursi roda sejak usia 3 tahun. Tidak ada obat untuk cerebral palsy, tapi terapi fisik dan terapi okupasi bisa membantu. Beberapa orang yang mengidap CP juga terkadang memiliki masalah lain seperti ketulian, kebutaan dan perkembangan kognitif. Selain kemampuan motorik, kemampuan bicaraku juga terpengaruh (aku bicara terpatah-patah dan juga gagap). Aku juga mengalami gangguan penglihatan. Ini artinya otakku memberikan pesan yang salah pada mataku. Yang menarik, karena gangguan mataku orang tuaku dulu pernah diberitahu bahwa aku tidak akan pernah bisa membaca. Tapi lalu orangtuaku memberitahu dokter bahwa aku bisa membaca waktu usiaku masih 4 tahun! Padahal aku belajar membaca sendiri. Saat itulah aku memutuskan bahwa tidak ada seorang pun yang bisa membatasiku!

Aku baru didiagnosis pada usia 1 tahun. Tapi aku sudah ke terapi fisik dan terapi okupasi sejak usia 6 bulan.

Hunter waktu berusia beberapa minggu, beratnya 2lbs 13oz. Yang di sampingnya itu tangan ayahnya.

Bersama Nghia, saudara laki-lakinya yang diadopsi dari Vietnam.

Bersama Katie, anjing pertamanya yang sangat istimewa :)


3. Apa sih yang sering menjadi kesalahpahaman atau menjadi mitos tentang cerebral palsy? Dan apa yang orang perlu tahu tentang fakta-faktanya?
Salah satu kesalahpahaman yang aku sendiri pernah alami adalah bahwa banyak orang mengira semua pengidap CP memiliki gangguan perkembangan kognitif (keterlambatan). Pernah suatu hari waktu aku berada di sebuah turnamen renang, ada seorang wanita datang dan berbicara padaku seolah aku masih balita, padahal waktu itu aku sudah berusia 21 tahun. Aku percaya bahwa meskipun ada yang memiliki keterlambatan, tetap saja layak untuk diajak bicara sesuai dengan usia mereka yang sesungguhnya. Berbicara pada orang dewasa dengan gaya berbicara seperti pada balita itu tidak sopan.

Aku rasa salah satu kesalahpahaman yang utama tentang CP adalah bahwa orang mengira ada sesuatu yang salah dengan lengan dan kaki kami. Padahal kaki dan tangan kami "normal". Karena kerusakan adanya di otak kami, bukan tubuh kami. Otak kamilah yang salah mengirimkan pesan kepada tubuh kami.

Kesalahpahaman lainnya adalah bahwa aku dikira tidak bisa menikmati aktivitas yang sama dengan orang pada umumnya. Aku mungkin harus melakukan sesuatu yang berbeda, dan hasilnya mungkin tetap tidak sama. Tapi aku masih ingin berpartisipasi, kok. Salah satu contohnya saja dengan kecintaan aku pada sebak bola. Secara fisik aku tidak bisa bermain bersama rekan-rekanku. Tapi aku masih bisa pergi ke pertandingan dan membantu pelatih dari pinggir lapangan. Ada kok pelatih dari tim Miami Dolphins yang sebenarnya tidak pernah menendang tapi tetap dihormati!!

Bersama temannya, Daryl, di pertandingan bisbol.


4. Apa tantangan terbesar yang pernah kamu hadapi?
Kalau harus menjawab jujur yang paling sulit itu menemukan pasangan. Berkencan sebagai orang dengan disabilitas itu sangat sulit. Perempuan non disabel kebanyakan tidak ingin mendapat tanggung jawab untuk merawatku, dan banyak yang tidak mau punya pasangan yang tidak bisa melakukan beberapa hal. Pengalaman pacaranku terbatas di kemah anak-anak berkebutuhan khusus dan waktu SMA. Sekarang setelah dewasa, aku malah merasa lebih susah untuk mendapatkan pacar. Aku ingin bertemu dengan perempuan yang bisa melihat di balik kursi roda dan di balik keterbatasanku, karena sebenarnya masih banyak hal lain yang bisa aku tawarkan.

5. Bagaimana perasaanmu tentang penggambaran orang dengan cerebral palsy di film dan televisi? Misalnya saja seperti Walter White Jr dari serial "Breaking Bad", atau Michael Connolly dari film "Rory O'Shea was Here".
Aku belum pernah menonton dua-duanya, baru rencana. Tapi ibuku pernah menonton serial Breaking Bad. Katanya karakter Walter Jr benar-benar tidak mewakili apa yang beliau bayangkan. Disabilitsnya digunakan untuk dijadikan alasan sebagai perilaku kriminal ayahnya. Jadi tidak berfokus pada kehidupannya sebagai pengidap CP.

Aku pernah menonton Fundamentals of Caring di Netflix. Meskipun tokohnya mengidap Muscular Dystrophy, bukan CP, tapi aku merasa sangat relatable dengannya. Selera humornya yang gelap dan caranya menguji caregiver nya sangat tepat sasaran. Ia juga orangnya blak-blakan, mirip sepertiku. Aku suka cara mereka menggambarkan rasa keterasingan karena memiliki disabilitas. Ibuku juga menontonnya dan setuju dengan penggambaran tantangan-tantangan sebagai seorang ibu yang juga merangkap caregiver.

Sekarang aku sedang mendengarkan audiobook nya Zach Anner, ia juga mengidap CP. Kalau sudah selesai, nanti aku akan ceritakan tentangnya di blog. Zach tidak takut untuk membahas tentang disabilitasnya dan juga membahas "sisi gelap" dari mengidap CP. Ia bercerita dengan sangat jujur dan penuh humor! Aku sarankan orang-orang yang memiliki disabilitas dan para caregiver untuk membaca/mendengar buku ini karena bisa memberikan wawasan tentang tantangan apa saja yang mungkin kami hadapi.

(Dua hari setelah wawancara ini, Hunter bercerita bahwa akhirnya ia menonton film "Rory O'Shea was Here". Katanya filmnya sangat bagus dan ia merasa related dengan Michael. Bahkan ibunya pun menangis di sepanjang film. Berbeda denganku yang merasa adegan measurement sangat nggak nyaman karena aku pribadi harus mengalaminya paling nggak sebulan sekali, bagi Hunter measurement rasanya lebih mudah karena sebagai pengidap CP ia selalu membutuhkan perawatan fisik total).

6. Kenapa kamu memutuskan untuk menjadi seorang penulis? Ngomong-ngomong, aku suka situsmu, lho.
Waktu itu awalnya tidak direncanakan. Aku sedang bosan jadi mulai mencoba menulis. Kamu bisa anggap ini 'kecelakaan'. Tapi terkadang hal-hal besar bisa dimulai dari sebuah 'kecelakaan'. Ibuku lalu punya ide agar aku mulai blogging. Kami lalu mencobanya. Awalnya secara mandiri, tapi kemudian kami menghubungi agen untuk membantuku belajar mengenai seluk-beluk blogging profesional. Aku masih belajar, dan aku punya mentor hebat yang selalu siap membimbing.

Kolase hidup Hunter.


7. Apa impian terbesar dan tujuan hidupmu?
Salah satu tujuan utamaku adalah untuk menjadi penasehat yang lebih baik bagi diri sendiri, dan suatu hari blog ku juga bisa menjadi penasehat bagi orang lain. Aku ingin berkeliling dunia dan menulis pengalamanku untuk membantu orang lain. Aku ingin mencoba sebanyak mungkin hal-hal baru. Pada dasarnya aku hanya ingin menjadi yang terbaik sebisaku.

Berperahu di danau Wausau bersama temannya, Dave. Ah, seperti di surga! :)


8. Terakhir, apa pesan kamu bagi yang sedang membaca wawancara ini?
Jika kamu ingin melakukan sesuatu, jangan biarkan keterbatasanmu menghentikanmu untuk menemukan cara mencapainya! Aku mendorong semua orang untuk melihat di balik semua jenis disabilitas, lihat orangnya... lihat jiwanya... lihat sosoknya. Aku bukanlah kursi rodaku, aku bukan cedera otakku dan aku juga bukan gangguan mataku. Aku Hunter, aku adalah pria santai, lucu, unik dan mempunyai hati yang besar.

***

Wah, dari wawancara ini aku jadi banyak belajar hal-hal baru. Coba deh teman-teman mampir ke website nya untuk membaca tulisan-tulisan keren (review, pengalaman, ide, dll) dari sudut pandangnya. Kalian pasti akan menikmatinya seperti aku yang betah menghabiskan sore dengan membaca tulisan-tulisannya. Di sana kalian juga bisa membaca wawancara Hunter denganku. Penasaran kan dengan pertanyaan-pertanyaan cerdasnya? Klik di sini ;)

Baca interview Hunter denganku di sini :)
cheers,


Indi

______________________________________________________


Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com


Selasa, 04 Agustus 2015

Jatuh Cinta Lagi dengan SpineCor (Hope for Scolioser) :)


Howdyyyyy bloggies! Apa kabar semuanya? Hehehe, liburan sudah selesai dan sekarang waktunya kembali ke aktivitas masing-masing, ya. Well, kalau aku sih jujur saja masih kangen deangan suasana Lebaran. Loads of foods, dikunjungi sepupu-sepupu, jalan-jalan.... :p Tapi kalau begitu terus bisa-bisa hari libur jadi nggak istimewa, hehehe. Jadi sambil menunggu libur panjang berikutnya aku mengerjakan project-project yang sudah direncanakan. Semoga kita semua selalu semangat, ya ;)

Sepertinya teman-teman di sini sudah tahu bahwa aku adalah seorang scolioser, atau pengidap scoliosis. Sejak usia 13 tahun sampai dewasa sudah banyak terapi yang aku coba, dari mulai terapi fisik sampai bracing. Yang paling lama aku jalani adalah bracing dengan boston brace selama 5 tahun. Kurvaku bertahan nggak bertambah selama beberapa waktu tapi lama kelamaan, wuzzzz, naik dari 35 derajat ke hampir 60 derajat, huhuhu. Nah, 9 bulan terakhir aku mulai bracing dengan SpineCor, ---brace yang bentuknya soft berbeda dengan tipe lain. Meski belum dalam hitungan tahun ternyata aku sudah bisa merasakan hasilnya, kurvaku turun menjadi 40 derajat! Yup, hanya 5 derajat lebih besar dari saat pertama kali scoliosisku terdeteksi :'D Luar biasa banget, kan? Tapi nyamannya SpineCor pun kadang bukan tanpa godaan. Adaaaa saja hal yang bikin aku 'lupa' untuk disiplin. Seringnya sih karena aku sudah merasa puas dengan hasil yang kucapai, hehehe.

Ada yang nyangka nggak, kalau aku pakai SpineCor di balik dress ini? ;)
Hihihi, SpineCor tersembunyi dengan sempurna karena cuma sedikit lebih tebal dari tank top :)

Atas saran dokterku, dr. Natalie Liem dari Spine Body Center, aku menghubungi Tante Novi, ibu dari salah seorang pasiennya yang juga pemakai SpineCor. Katanya supaya bisa tahu langsung pengalaman Fahira, karena ia termasuk salah satu pasien yang sukses. Kenapa ia sukses? Ya, karena disiplin dalam pemakaian SpineCor nya, dong, hihihi. Dengan bantuan Dr. Natalie aku menerima email yang berisi testimoni dari Tante Novi. Seru banget bacanya, dan Tante Novi juga mengizinkanku untuk berbagi ceritanya di sini, lho! ;)

"Berawal dari rasa penasaran kami melihat tulang belikat kanan anak kami “Fahira Syifa Machfudz” yang lebih menonjol dari pada tulang belikat kirinya tapi tidak ada keluhan apapun saat itu...
BINGUNG.....
Kenapa ini? Ada apa dengan anakku? neneknya yang pertama kali sadar dan memaksa kami untuk memeriksakan keanehan itu tapi kami juga tidak tahu harus kemana dan harus ke dokter apa kami memeriksakannya.
Karena pada saat itu Fahira masih berumur 12 tahun maka saya bawa dia ke dokter spesialis anak dan beliau merujuk ke dokter spesialis tulang. Tibalah kami bertemu dengan dokter spesialis tulang, beliau tidak banyak bicara hanya bilang “Oo anak ibu skoliosis.”
Sudah??
Hanya itu yang dikatakannya sambil mencatat report medisnya.
Sementara saya yang seorang ibu yang khawatir dengan kondisi anaknya menunggu apa yang akan dikatakan oleh dokter itu selanjunya mengenai sakitnya anak saya. Tapi kata2 itu tak kunjung keluar dari mulut beliau. Sampai akhirnya dengan sedikit memaksa dan sok tahu saya bertanya tentang apa itu SKOLIOSIS?
Dok.. skoliosis itu apa?
Kenapa bisa terjadi skoliosis pada anak kami?
Apa penyebabnya?
Adakah obat yang akan menyembuhkannya?
Lalu apa yang akan terjadi kalau kami membiarkan skoliosi itu pada anak kami? 

Ini jawaban beliau;
"Skoliosis itu tulang punggung yang bengkok, penyebabnya ya banyak bisa karena kebiasaan buruk yang dilakukan berulang-ulang atau memang keturunan. Nanti saya kenalin deh sama orang yang suka bikin jaket untuk skoliosis (hard brace maksudnya), dia bisa bikin dengan harga murah daripada ibu harus beli ke Singapur harganya mahal di sana bisa 8 jutaan lebih ditambah lagi nanti setiap 3 bln sekali dia hrs memeriksakan ulang posisi brace dan tubuh si anak."
Saat itu saya betul-betul khawatir dengan kondisi anak saya yang harus memakai hard brace itu, mengingat orang yang pakai behel gigi saja suka mengeluh sariawan karena tekanan benda keras di gusi, dan itu pasti akan terjadi pada anakku juga, di beberapa bagian tubuh tertentunya, ditambah lagi dengan adanya hard brace itu, gerakan anakku dalam bergaul menjadi tidak leluasa, kasihan ya (pikir saya).
Selama setahun kami mencari jalan bagaimana caranya kami dapat memberikan pengobatan kepada anak kami tanpa harus membatasi ruang geraknya dia dan tidak menyulitkannya, kami beri dia les private berenang dengan guru khusus, yoga dan mencari tahu tentang pengobatan alternatif sampai menemukan rumah skoliosis, ternyata banyak ya pengidap scoliosis di Indonesia ini.
Selang setahun berlalu, saya bawa kembali fahira ke dokter yang tadi dan saya minta untuk di Xray dan hasilnya dia bacakan dan memang tidak ada perubahan yang berarti.
SEDIH :(
Tapi tetap saya saya googling dan kaget saya begitu saya membuka google dan menemukan kasus skoliosis yang amat sangat parah dan harus di operasi kemudian setelah operasipun pasien tidak seratus persen sembuh tetap ada efek sampingnya, takut saya bacanya.  

Dengan searching sampai lah kami menemukan Spine Body Center. Kesan pertama bertemu dengan Dr. Fong and team yang menawarkan SpineCor®, membuat hati saya tenang meskipun pada saat itu saya hampir tidak mempercayai nya. Disamping kekecewaan saya terhadap dokter yang pertama saya temui, saya juga tidak percaya, masa tali temali bisa membuat skoliosis anak kami sembuh? dengan harga yang ditawarkan, mungkin saat itu saya berpikir mending beli sepeda motor saja. Tapi untung pikiran itu hanya melintas begitu saja yang akhirnya saya memutuskan untuk membelinya.
Tidak semudah yang di bayangkan, ternyata awal mengenakan brace amat sangat mengganggu bagi anakku, ada saja alasannya. Dia harus bangun 10 atau 15 menit lebih awal dari biasanya. Kemudian rasa pegal yang mendera, dia jadi sering bete di awal penyesuaian.
Tak henti2 kami di rumah menasehati, dari mulai bahasa yang amat sangat manis sampai ancaman pernah kami lakukan, ancaman dengan memperlihatkan gambar2 kasus skoliosis yang parah. Team dari Spine Body Center juga demikian, mereka memberikan pujian agar anak kami mau dan tidak malas memakai SpineCor® brace.
Hari berlalu waktu berjalan tak terasa sudah hampir 5 tahun anak kami memakai SpineCor® brace itu, terimakasih Tuhan kami masih dicukupkan rejeki hingga sampailah kami menemani anak kami menjalani pengobatan dengan hasilnya saat ini. Berdasarkan progress selama 5 tahun ini, kami merasa sangat puas dengan perkembangan perubahan derajat kebengkokannya, yang cukup stabil, tidak bertambah derajatnya. Info yang  kami peroleh, derajat kebengkokan akan terus bertambah seiring dengan waktu, akan tetapi dalam kondisi anak kami, derajat kebengkokan tetap stabil dari awal menggunakan SpineCor® sampai saat ini.
Tulangnya belikatnya sudah tidak terlalu menonjol lagi, meskipun masih ada. Minimal jika dia memakai baju modis tidak terlalu terlihat kelainannya dan meskipun dia memakai brace tapi kegiatannya tak terbatasi dia masih tetap berkegiatan sebagaimana anak ABG lainnya, di sekolah bahkan dia masih mengikuti les dan kejuaraan dance hiphop dan meraih juara 1 sejabodetabek lomba dance hiphop."
SpineCor gak bikin gerakan terbatas. Tuh, lihat masih bisa menang lomba dance :)

Wah, inspiring sekali ya ceritanya? Bikin aku semakin semangat agar terus disiplin dalam pemakaian SpineCor! Aku bahagia sekali dengan kemajuan yang kudapat sejak memakai SpineCor, tapi bukan berarti aku boleh merasa cukup. Aku bisa lebih baik dari ini, seperti Fahira yang setiap tahun semakin membaik kondisinya. Membaca cerita Tante Novi juga membuatku tersenyum, karena rupanya bukan hanya aku yang tertolong dengan SpineCor. Ada Fahira, dan mungkin banyak orang lain di luar sana yang juga merasakan hal yang sama. Berbagi cerita, meskipun nggak bertemu langsung bisa membuat orang yang membacanya termotivasi. Aku termotivasi karena membaca cerita Fahira. Apakah kalian kenal dengan seorang scolioser? Atau malah kalian juga scolioser? Jangan berhenti berbagi, karena siapa tahu cerita kalian menjadi harapan bagi orang yang membacanya! :)


nb: Aku dan Fahira memakai SpineCor dari Spine Body Center (APL Tower Lt. 25, samping Central Park, tlp: 021 33072111). Di sana kalian bisa mendapatkan SpineCor resmi dengan dokter-dokter yang berpengalaman. 

cheers,

Indi

 _______________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Jumat, 03 Juli 2015

Indi dan Inis: Our Sleepover Story :)

Aku senang sekali waktu tahu Inis akhirnya datang ke Bandung. Sejak jauh-jauh hari aku dan Inis membicarakan rencana menginap, jalan-jalan dan hal-hal seru lainnya yang ingin kami lakukan jika bertemu nanti.  Rasa excited ku melebihi pertemuan-pertemuan  yang sebelumnya karena ini adalah kali pertama kami akan bertemu di Bandung, ---setelah sebelumnya selalu bertemu di Jakarta. Well, Inis sendiri sebenarnya nggak tinggal di Jakarta, sih, tapi di Makassar. Profesinya lah yang membuat ia sering mampir ke sana. Inis adalah seorang penyanyi ‘lulusan’ 10 besar X Factor Indonesia season pertama. Dari sana juga aku pertama kali mengenalnya dan langsung mengaguminya. Nggak disangka ternyata ia juga menyukai film “Mika” yang diinspirasi oleh novelku, “Waktu Aku sama Mika”. Perkenalan singkat yang terjadi melalui layar kaca dan layar lebar itu (hehehe) ternyata cukup untuk menjadikan kami teman baik. Mungkin karena kami juga sama-sama scolioser, ---pengidap scoliosis :)

Bersiap menjemput Inis. Cuma pose, yang nyetir Bapak, hahaha :D

Rencananya pertemuan kami akan sebentar saja, Inis hanya berada satu malam di Bandung untuk mengurus pekerjaannya, lalu bertemu aku di salah satu pusat perbelanjaan sebelum kembali ke Jakarta. Tapi ketika kami janjian lewat BBM tiba-tiba saja muncul ide untuk menginap dulu di rumahku! Urusan nggak bawa baju sih belakangan, bisa lah pakai punyaku meskipun Inis lebih mungil dari aku, hehehe. Segera saja aku minta izin pada Bapak dan Ibu bahwa ada teman yang akan menginap di rumah. Mereka mengizinkan dan senang, tentu saja, ---meskipun kaget karena begitu mendadak :D Dengan diantar Bapak aku menemui Inis di pusat perbelanjaan. Mumpung sedang di Bandung, ---yang konon banyak pakaian berkualitas dengan harga lebih hemat dibandingkan tempat lain---, Inis pun memanfaatkan kesempatan ini untuk berbelanja.

Soal belanjanya sih nggak perlu diceritakan, sudah pasti berdesak-desakan karena banyak yang berbelanja sambil ngabuburit (atau sekalian untuk lebaran juga, hihihi). Tapi yang menarik, ternyata Inis itu pintar menawar, lho. Biasanya aku selalu “oke-oke” saja dengan harga yang ditawarkan, makanya langsung mengeluarkan dompet begitu diberitahu harganya ketika aku mau membeli stocking. Tapi dengan sigap Inis menawar terlebih dahulu untukku sebelum uang yang aku keluarkan berpindah ke tangan penjual. Wow, sepertinya aku harus belajar darinya, karena menawar merupakan "must have skill" kalau tinggal di Bandung, hehehe. Setelah selesai rencananya aku dan Inis akan makan malam di luar, tapi Bapak bilang lalu lintas sudah semakin macet karena bertepatan dengan waktu berbuka puasa. Akhirnya kami langsung pulang ke rumah setelah membeli beberapa bahan masakan dan camilan di supermarket di dekat rumah.

Ada Inis di rumah terasa sangat menyenangkan. Aku satu-satunya girl di rumah (---kecuali kalau Eris juga dihitung, hehehe) dan sekarang jadi ada teman untuk girly talk, sharing tentang scoliosis, bahkan untuk melakukan hal-hal konyol. Kami tidur larut sekali, sepertinya topik pembicaraan kami nggak ada habis-habisnya. Inis juga sempat mencoba SpineCor (soft brace untuk scoliosis) milikku. Meskipun ukurannya nggak pas, tapi katanya terasa sangat nyaman. Inis juga sama sepertiku, di masa remaja sempat memakai boston brace yang rasanya sangat kaku. Mudah-mudahan saja bisa segera menyusulku untuk memakai SpineCor, ya. Amen... :) Aku sering membicarakan tentang perasaanku sebagai seorang scolioser kepada orangtua, sahabat, bahkan Ray. Tapi dengan Inis rasanya berbeda. Kami saling mengerti perasaan satu sama lain karena apa yang aku alami juga Inis alami. Ah, mungkin begini rasanya punya sister, huhuhu.

Saking randomnya sampai tengah malam kamarku masih ramai, ---atau kalau istilah Ibu; berisik banget, hehehe. Setelah selesai mengobrol aku dan Inis langsung asyik bernyanyi sambil main ukulele. Waktu di mobil, di perjalanan ke rumah Inis sempat bilang kalau ingin bernyanyi denganku. Tentu saja aku juga mau (---kapan lagi duet dengan lulusan X Factor, hihihi), apalagi setelah diingat-ingat ternyata ada salah satu follower di Instagram yang meminta kami untuk berduet. Jadi ya sudah sekalian memenuhi request. Tapi kami baru sadar kalau sudah memakai piyama yang kayanya nggak begitu nyaman untuk dilihat di video. Jadi kami putuskan untuk merekam penampilan kami di pagi hari nanti dan segera bersiap untuk beristirahat, ---setelah menghabiskan 2 potong lumpia mix mayonnaise dan Boncabe di atas tempat tidur, hehehe (jangan ditiru, aku langsung sakit perut).

Berfoto untuk thumbnail YouTube. Tadinya akan dihapus, tapi aku putuskan untuk disimpan, hehehe :)
Inis dan Indi :)

Ketika alarm berbunyi kami bersusah payah untuk bangun. Waktu tidur kami super singkat dan ke-randoman yang kami lakukan rupanya membuat stamina terkuras. Tapi begitu ingat kalau kami harus memanfaatkan waktu agar bisa menikmati quality time berdua, kami langsung bergantian masuk ke kamar mandi untuk bersiap memulai hari. Aku dan Inis pun super sibuk, kami menggotong kursi meja makan dan kursi di kamarku ke halaman depan. Bukan, kami bukan mau pindahan, tapi ini demi kualitas rekaman kami karena aku nggak punya tripod untuk menyangga kamera, hehehe. Setelah semuanya siap kami pun langsung beraksi. Jangan bayangkan yang serius-serius, aku itu bukan penyanyi, bermain ukulele pun nggak bagus-bagus amat. Makanya kami cuma bersenang-senang. Pembagian suara seadanya, ---atau lebih tepatnya Inis yang menyesuaikan nada dengan suaraku yang seadanya, hehehe :D Nih, aku share videonya, siapa tahu teman-teman mau dengar :p


Nggak terasa hari sudah semakin siang, Inis pun membereskan barang-barang bawaanya ke dalam tas. Mobil travel yang akan mengantarkannya ke Jakarta akan berangkat nanti sore, jadi kami punya sedikit waktu lagi untuk bersama. Dengan diantar Bapak kami melihat-lihat kota Bandung dari dalam mobil, ---yang sayangnya nggak bisa berhenti di tempat-tempat menarik karena sedang super macet. Rasanya belum puas untuk melakukan banyak girly thing bersama, tapi jadwal keberangkatan mobil travel Inis sudah semakin dekat. Kami pun berpisah di depan pool travel tanpa bisa menemani sampai mobil berangkat karena tempat parkirnya sudah penuh :( Aku dan Inis berharap agar bisa segera kembali bertemu. Mungkin sehabis Lebaran, setelah Inis merayakan hari besar dengan keluarganya di Makassar. Ah, can’t wait. Really! Siapa yang menyangka bahwa TV dan bioskop bisa menjadi awal pertemanan kami? And now I already missing that special girl from the talent show :’)

yang bukan penyanyi tapi penulis, ---tapi suka main ukulele,

Indi

nb: Tolong support aku di GoGirl! Passion Pitch 2015, ya. Caranya "like" dan berikan komentar di video ini.  Terima kasih :)


________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here

Sabtu, 15 November 2014

Tentang Steve Irwin; Obsesi Masa Kecil yang Menjadi Inspirasi :)

The Irwin's Family.

14 November 2014
Jadi tadi, menjelang malam, setelah mandi sore gue bersantai di atas tempat tidur ---dengan satu mangkuk popcorn dan remote TV di tangan. Gue memang nggak keluar rumah, hujan sepanjang hari jadi aktivitas gue hanya di depan komputer dan bermain lempar tangkap di dalam garasi bersama Eris, anjing gue. Ngemil di atas tempat tidur nggak apa, hanya sesekali ini gue pikir, hihihi. Lalu saat tangan berselancar di remote, dari channel ke channel, gue melihat sesuatu yang familiar. Ada seorang penyanyi laki-laki berambut pendek sedang bernyanyi sambil bermain gitar. Bukan, bukan dia yang menarik perhatian gue. Tapi 3 orang berpakaian berwarna khaki yang sedang duduk di sofa. Setelah beberapa detik penuh keenggakyakinan, kamera mulai meng-zoom salah satu dari mereka. Segera gue bangun dari tempat tidur, berlari ke ruang TV dan merebut remote dari Bapak yang sedang menonton Harry Potter. "Pak! Pak! Lihat ada siapa di TV!" Gue tertawa girang dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Terri, Bindi dan Robert "Bob" Irwin ada di acara Hitam Putih Trans 7. Bagaimana bisa gue nggak tahu kehadiran mereka di Indonesia sementara gue memfollow twitter mereka dan bahkan twitter Australia Zoo. Acara sepertinya sudah berlangsung setengah jalan, jadi gue terlewat untuk mengetahui tujuan mereka datang ke sini. Dengan tangan gemetar gue mengambil handphone dan mengetik kata kunci "Bindi Irwin di Indonesia" di kolom google. Nggak banyak berita yang keluar, kecuali bahwa mereka sempat ke Gandaria City Jakarta untuk promo "Wild But True" nya Robert Irwin. Nggak ada informasi apakah mereka sudah kembali ke Australia atau belum. Di layar televisi pun nggak ada keterangan apakah mereka tampil live atau taping. Gue heran mengapa di twitter mereka sama nggak menyebutkan tentang rencana kehadiran ke Indonesia, padahal biasanya mereka (terutama Bindi dan Terri) selalu update pada penggemarnya. 
"Sudah, Jakarta kan dekat. Kalau mereka masih di sana hari minggu kita bisa susul," begitu kata Bapak.



Bagi teman-teman sebaya gue Irwin's Family mungkin nggak begitu populer, tapi bagi gue mereka adalah hero! Terutama Steve Irwin, ayah dari Bindi dan Robert sekaligus suami dari Terri yang telah meninggal dunia pada tahun 2006 lalu. Steve Irwin adalah bagian dari masa kecil gue, bagian dari khayalan dan obsesi yang kemudian membentuk tentang masa dewasa yang gue inginkan. Dulu, setiap sore gue selalu menonton The Crocodile Hunter, dimana Steve menunjukan kepiawaiannya dalam menangkap buaya sekaligus berbagi tentang rasa hormatnya kepada hewan buas yang cantik itu. Gue ingat ia menyebut dirinya "Steve-O" dan berbicara dengan lantang. Ketika ada buaya mendekat ia akan memelankan suaranya dengan logatnya yang sangat khas (saat mengetik ini pun rasanya gue mendengar ia berbicara di kepala gue, hihihi). Menontonnya di TV rasanya seperti mengikuti kehidupannya. Mungkin gue masih kecil tapi gue sudah bisa merasakan bahwa ia adalah pria yang baik. Gue ingat ketika ia berbicara tentang Terri istrinya. Betapa Steve sangat mencintainya sehingga Terri rela untuk meninggalkan negara asalnya. "Cinta pada pandangan pertama," begitu katanya. Juga ketika Bindi putri pertamanya lahir, lalu disusul oleh Robert putra keduanya. Ia sosok ayah yang penyanyang dan menyenangkan, membuat gue semakin mengaguminya. Gue juga ikut menangis ketika Sui anjing kesayangannya mati karena sakit dan sudah tua...

Buku harian gue, 12 tahun yang lalu.

Steve Irwin semakin menumbuhkan kecintaan gue terhadap binatang. Sejak bayi gue memang selalu dikelilingi binatang peliharaan, tetapi Steve membuat gue mempunyai tujuan. Gue mulai tertarik dengan konservasi fauna, mencari tahu kemana gue harus membantu jika ada binatang-binatang terlantar. Gue juga belajar untuk menghormati, sekecil apapun binatang yang ada di sekitar gue. Gue mulai dengan membuat "animal diary", yaitu sebuah buku harian yang memuat update tentang binatang peliharaan gue dan binatang-binatang yang terkenal. Kisah pertama yang gue tulis adalah tentang seekor Panda tua di Cina, yang sedihnya berakhir mati karena sakit :( Dengan uang jajan yang ditabung cukup lama gue juga membeli VCD-VCD Steve Irwin. Dan ketika Crocodile Hunter nggak ada lagi di TV gue semakin sering menonton ulang koleksi VCD nya.

Ketika mendengar kabar tentang kepergiannya gue sangat terkejut. Ada rasa haru yang aneh karena gue nggak pernah mengenalnya secara personal. Dunia kehilangan salah satu penghuni terbaiknya, seseorang yang (at least di mata gue) mempunyai aksi nyata untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Meski begitu kepergiannya nggak membuat gue berhenti terinspirasi. Bindi, putrinya yang mulai besar mempunyai acara sendiri dan berbagi passion yang sama dengan ayahnya. Gue ingat melihatnya di acara Oprah, ia bernyanyi lagu rap "Trouble in the Jungle" dengan lirik sederhana yang menyentuh. Ia meneruskan jejak ayahnya dengan caranya sendiri dan melakukannya karena ingin, bukan hanya karena sebuah keharusan. Bindi membuat semangat gue semakin besar. Gue bangga menjadikannya seorang inspirasi baru meski ia berusia lebih muda dari gue.

Koleksi VCD Steve Irwin "The Crocodile Hunter" hasil menabung dari uang jajan :)


Waktu kecil punya buku harian yang isinya tentang binatang.

Ide Bapak untuk menyusul keluarga Irwin ke Jakarta terpaksa batal. Mereka ternyata sudah kembali ke Australia dan entah kapan akan berkunjung kembali ke sini. Mengingat bahwa gue hanya terlambat beberapa hari dengan jarak yang cukup dekat membuat gue merasa kecolongan. Padahal ingin rasanya gue menyapa Terri, Bindi dan Robert sambil menyampaikan rasa kagum gue terhadap mereka. Gue juga ingin menunjukan koleksi VCD-VCD  dan "animal diary" gue agar Bindi dan Robert tahu betapa berpengaruhnya ayah mereka terhadap gue... Bapak menenangkan gue, beliau bilang ini mungkin bukan waktunya. Suatu hari akan ada kesempatan dengan skenario indah untuk bertemu mereka. Seperti ketika tahun lalu Aerosmith yang sudah gue tunggu sejak berusia 7 tahun batal datang ke Indonesia. Tuhan ternyata punya rencana lain untuk mempertemukan kami di Singapore dengan jalan yang bahkan nggak berani gue impikan. Mungkin suatu hari gue yang menemui mereka di Australia, siapa tahu... Yang pasti sambil menunggu hari itu datang gue akan terus menumbuhkan kecintaan gue terhadap binatang, dengan rasa hormat seperti yang diajarkan oleh keluarga Irwin.


note:
*Tanggal 15 November diperingati sebagai hari Steve Irwin (Steve Irwin Day) untuk menghormati hidup dan legacy nya. Meskipun gue selalu memakai dress colorful, gue ingin selama 1 hari saja memakai setelan khaki ala Irwin's Family :)
*Foto gue yang sedang memegang VCD-VCD Steve Irwin dilihat oleh account Australia Zoo (kebun binatang milik Irwin's Family) dan mereka berkomentar "Thanks for being a wildlife warrior!". Really made my day :)
* Gue membuat novel dengan judul "Guruku Berbulu dan Berekor" yang royaltinya didonasikan untuk penampungan-penampungan hewan di Indonesia. Meskipun hanya langkah kecil, gue harap bisa melanjutkan spirit dari Steve Irwin :)
*Dan yes, nama gue "Indi". Seperti "Bindi" tapi tanpa huruf "B", hihihi.

***

Update:
Australia Zoo akhirnya membaca postingan ini! Sungguh sebuah kehormatan! :)



Crikey!

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469


Senin, 11 Agustus 2014

Tentang Novel "Karena Cinta Itu Sempurna" :)


Aku dan novel “Karena Cinta Itu Sempurna”.





"Apa rasanya sakit, Mika? Waktu HIV membunuh CD4 kamu?"
Mika menyelipkan rokoknya lagi, tapi kali ini lebih lama karena ia memutuskan untuk mengunyahnya.
"Kamu ingat bintang-bintang yang ditempel di papan di dalam kelasmu? Bu guru akan mencabuti satu persatu jika ada murid yang nakal, iya kan?"
Aku mengangguk.
"Bintang-bintang itu seperti CD4, sedangkan Bu guru itu seperti HIV. Dan aku adalah muridnya, Sugar... Jadi aku akan baik-baik saja, selama aku tidak nakal."
Aku mengangguk mengerti.

(Karena Cinta Itu Sempurna, halaman 83)

***



"Karena Cinta Itu Sempurna" adalah novel kedua yang kutulis dan diterbitkan oleh Homerian Pustaka. Sama seperti novel sebelumnya, "Waktu Aku sama Mika", novel ini juga diambil dari pengalaman hidupku, alias diary yang dibukukan. "Karena Cinta Itu Sempurna" menceritakan masa kecilku yang penuh dengan khayalan dan teman-teman yang unik, masa remajaku yang mengalami pahit manis setelah divonis mengidap scoliosis oleh dokter lalu menemukan seorang penyembuh bernama Mika, yang mengidap AIDS tapi mempunyai semangat yang sangat besar. Dan masa-masa memasuki dunia dewasa yang membingungkan tapi juga menyenangkan.

Jika teman-teman pernah menonton film MIKA (dibintangi oleh Vino G. Bastian sebagai Mika dan Velove Vexia sebagai aku), maka novel ini akan memberikan penjelasan lebih dari apa yang ada di film, karena scene-scene dari film tersebut memang banyak yang diambil dari novel ini :) 
Sampai sekarang "Karena Cinta Itu Sempurna" sudah dicetak sebanyak belasan kali dan aku sangat bersyukur karena mendapatkan sambutan yang positif. Bukan hanya dari pembaca di Indonesia tapi juga di luar negeri. Seperti Malaysia, Singapore dan Australia. Thank God :)


Foto-foto kiriman pembaca. Terima kasih banyak! :D



Berikut beberapa komentar dari pembaca "Karena Cinta Itu Sempurna":

"Cerita ini mengajarkan aku apa itu cinta sesungguhnya tanpa membalas atau bersyarat."
(Hannie, pengguna Facebook)

"Novel kedua terbaik dari kak Indi yang bikin air mataku kembali mengalir seperti “Waktu Aku Sama Mika”. Bahasa yang ada dinovel ini tergolong sederhana (mudah dimengerti), tapi setiap kalimat-kalimat yang dipakai, maknanya begitu luar biasa."
(Olivia Dejoinears, via email)

"Pertama kali baca, tidak mau berhenti.. Eh tidak tahunya semalam malah sudah khatam dalam 2.5 jam."
(Papafaiz, blogger)

"Bukunya sih kecil tapi isinya beri motivasi dan pelajaran."
(Ekarhmdania, pengguna instagram)

"Pemilihan kata-kata yang santun, ringan serta ditambahkan beberapa catatan berupa diary sang penulis membuat buku ini mudah untuk dinikmati."
(Lidya C, blogger)

"Membaca novel Karena Cinta Itu Sempurna memberikan tebaran rasa manis dan sedikit pahit di hati. Rasa manis saat Kak Indi menulis bahwa perbedaan skolioser hanya tidak boleh berlari dan melompat, hanya itu saja, kami masih bisa seperti orang lain. Hal-hal manis masih banyak terumbar di novel manis yang ditulis penuh kata-kata seperti coklat, manis yang tidak berlebihan."
(Tiskusuma, blogger)

"Pertama kali terpandang reka kulit novel ini, saya terus memegangnya. Ringkas sekali. Dan apabila saya membaca isi di dalamnya, hati saya rasa sangat syahdu."
(Ruhana Zaki, penulis dari Malaysia)



Ah, membaca komentar-komentar positif membuatku tersenyum. Senang rasanya bisa berbagi kisah dan mendapatkan teman-teman baru. Terima kasih banyak-banyak-banyak aku ucapkan untuk semua yang telah menyempatkan membaca :) 


Dan untuk teman-teman yang belum pernah membaca, novel "Karena Cinta Itu Sempurna" bisa kalian mendapatkannya di Indi Sugar Official Store dengan harga Rp. 29.000 (plus bonus stiker Indi's Friend).
Caranya cukup SMS atau whatsapp ke 081322339469, dan novel akan dikirimkan ke alamat teman-teman.


Sekali lagi, terima ksih untuk supportnya selama ini, blessed to have you guys! :)



sugar pie nya Mika,

Indi

______________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 05 Mei 2013

(Masih) Menunggu...

Sabtu, 4 Mei 2013

Pagi-pagi sekali gue sudah bangun. Sarapan tanpa disuruh dan langsung mandi tanpa kembali berbaring di sofa. Bapak bilang gue aneh, tapi gue nggak peduli dan sebelum beliau sadar gue sudah berdiri di garasi. Menunggu diantarkan ke suatu tempat yang istimewa.

Masih ingat tulisan gue tentang Aerosmith yang "ini"? Yup, betul, waktunya semakin dekat. Tinggal 7 hari lagi sampai gue dan Bapak bisa berdiri di front row sambil berharap-harap cemas Steven Tyler akan melemparkan harmonikanya untuk kami, hehehe. Kami sudah benar-benar siap, stamina, mental, dan bahkan Bapak sudah menyarankan gue segera membuat surat untuk Steven Tyler. Kemungkinan akan sampai memang kecil, tapi Bapak bilang nggak ada salahnya mencoba. Rasa exited kami semakin hari semakin menggebu. Kami selalu terkikik ketika membicarakannya. Mata gue berbinar dan Bapak pura-pura mengejek. Lalu kabar bahagia yang lainnya datang menghampiri kami. Aerosmith Indonesia, sebuah perkumpulan pengagum Aerosmith mengundang gue untuk interview di Global Radio Jakarta. Tentu saja ini dalam rangka menyambut kedatangan Aerosmith yang sebentar lagi :D

Jadilah kami menempuh perjalanan menuju Jakarta. Bapak di balik kemudi dan gue asyik mengganti-ganti CD di bangku penumpang. PUMP, Big Ones, Just Push Play dan album-album Aerosmith lainnya sudah gue siapkan dan pastikan cukup untuk menemani perjalanan kami. Bapak bertanya apakah gue hapal dengan sejarah Aerosmith. Gue bilang, "ini interview, Pak, bukan ujian", tapi Bapak tetap bertanya hal yang sama sampai gue mogok bicara. Beliau lalu tertawa dan berkata bahwa ia hanya menggoda gue. Beberapa saat kemudian gue ikut tertawa, nggak kalah kencang. Karena sebenarnya gue sudah tahu dari awal bahwa beliau hanya becanda dan gue tadi hanya pura-pura ngambek :)

Gue bernyanyi terus. Dengan penghayatan penuh, ekspersi konyol dan membuat suara serak ala rocker. Sesekali gue melirik Bapak, memastikan suara gue nggak mengganggu konsentrasinya menyetir. Bapak juga ikut menyanyi, tapi suaranya nggak jelas, hanya bergumam dan baru agak terdengar di bagian refrain lagunya saja, hehehe. Tapi gue lega, karena itu artinya Bapak nggak terganggu. Kami begitu terus sampai 2 jam kemudian. Gue sudah menghabiskan 1 botol minuman dan mulai kehilangan energi untuk bernyanyi. Gue bertanya pada Bapak kapan kami sampai. Tapi beliau nggak tahu pasti, "sudah dekat", cuma begitu katanya. Gue sangat kahwatir kami nyasar, dan sayangnya, kami ternyata memang nyasar.

Kami baru bisa menemukan MNC tower, tempat dimana Global Radio berada setelah 4 jam perjalanan. Gue berkeringat sangat banyak karena tegang. Dalam hati gue berdoa supaya nggak terlambat meski sebenarnya gue sadar sudah lewat 30 menit dari waktu yang disepakati. Gue berjalanan secepat mungkin dan meninggalkan Bapak yang sibuk mencari tempat parkir. Nggak lama kemudian gue bertemu Hans, menyalaminya dan sebisa mungkin menyembunyikan suara nafas gue yang hampir terdengar seperti dinosaurus, lol. Ajaibnya, semua yang ada di sana ternyata belum memulai interviewnya karena menunggu kedatangan gue. Selain Hans admin dari Aerosmith Indonesia, ada Wihel, seorang fans Aerosmith dan Lupi penyiar di sana. Kami mengobrol dulu dan baru berhenti setelah Bapak menemukan tempat kami. Karena ternyata mereka juga memutuskan untuk mengajak Bapak interview!

Awalnya jelas saja beliau menolak, seperti biasa Bapak lebih memilih jadi fotografer gue, mengabadikan setiap moment dari putri kecilnya ini. Tapi setelah gue bujuk dan ditambah sedikit tarikan di lengan (hihi), akhirnya beliau mau juga duduk di depan mikrofon :) Sebelum interview benar-benar dimulai Hans dan Wihel selalu menggoda bahwa gue adalah 'die hard fans' Aerosmith. Mereka bilang kalau mau bertanya yang sulit-sulit mending sama gue saja. Gue langsung melirik Bapak sambil nyengir. De javu, di mobil kan Bapak yang bergurau soal "sejarah Aerosmith", hehehe. 

Wihel, Bapak, Indi, Lupi, Hans :)

Interview berjalan lancar dan menyenangkan. Gue sesekali berbuat konyol tapi sepertinya semuanya bisa memaklumi karena gue terlalu exited setelah menunggu bad boys from Boston ini selama 20 tahun. Berkali-kali gue bilang bahwa akhirnya impian gue jadi nyata dan penantian gue terbayar. Dengan semangat gue menceritakan persiapan untuk konser nanti. Dari mulai pakaian dan apa yang akan gue lakukan kalau mempunyai kesempatan menemui mereka secara personal. Gue ingin sekali memberikan surat kepada Steven Tyler yang isinya ucapan terima kasih gue. Mungkin bagi sebagian orang ini terdengar konyol, tapi ia memang memberikan pengaruh positif kepada gue. Gue nggak akan seperti sekarang jika saja waktu berumur 7 tahun gue melewatkan video clip Crazy di TV (baca cerita lengkapnya di sini).

Bapak sangat menikmati suasana interview. Beliau sering menimpali gue dan mentertawakan setiap kali gue berbicara sesuatu yang konyol. Gue senang Bapak berlaku seolah nggak ada yang mendengar kami, hehehe. Lalu apa yang Bapak katakan menjadi kenyataan. Gue benar-benar ditanya soal sejarah Aerosmith! Untung saja bisa menjawab karena yang ditanyakan adalah hal-hal yang sudah gue ketahui sejak berusia 10 tahun: kapan Aerosmith berdiri dan kapan Steven Tyler berulang tahun. Hehehe, ternyata itu ya yang disebut sebagai "die hard fans" :p




Banyak moment berkesan selama interview 1 jam itu. Gue bercerita bahwa berkat Aerosmith gue berlatih bermain harmonika dan drum ketika masih kecil untuk menemukan bakat gue. Meski kedua alat musik itu sampai sekarang belum dikuasai tapi apa yang gue lakukan ternyata membantu apa yang gue inginkan dan gue suka sebenarnya. Gue suka menulis, dan ingin berkarya seperti Aerosmith. Dari hati, tulus, meski dalam bentuk seni yang berbeda. Lalu tiba-tiba Bapak mendekati mikrofon dan berkata, "Indi bukan sekedar nge-fans sama Aerosmith. Tapi ia terinspirasi". Gue mengangguk dan tersenyum. Tadinya mau melanjutkan bicara tapi takut menangis karena gue terharu dengan kata-kata Bapak...

Tapi bukan hanya moment mengharukan yang kami alami. Ada kenangan lucu yang gue dan Bapak bagi tadi. Kami pernah hampir mencuri poster "Just Push Play" Aerosmith di salah satu toko kaset. Gue memang masih kecil waktu itu, tapi sebenarnya sudah mengerti bahwa mencuri itu salah. Entah terinspirasi dari mana, gue tiba-tiba merengek meminta diambilkan poster itu pada Bapak. Mungkin karena takut gue menangis Bapak mengambilnya dan sempat berjalan sejauh beberapa meter. Tapi lalu kami tersadar bahwa itu perbuatan yang salah, dan dengan canggung Bapak mengembalikan poster itu ke tempat semula sambil diikuti tatapan heran orang-orang di sana, hahahaha :D Kami hampir nggak bisa berhenti tertawa waktu menceritakannya. Aerosmith memang sebuah band, tapi bagi kami lebih dari itu. Kehadiran mereka bisa membawa suasana haru sampai konyol :)

Interview ditutup dengan sesuatu yang agak mengerikan, kami ditantang untuk bernyanyi! Hehehe, kami sepakat menyanyikan lagu "Crazy". Gue melirik sekilas pada Bapak dan diluar dugaan beliau tampak exited sekali. Padahal Bapak paling malu bernyanyi di depan umum, apalagi Global radio bisa didengar oleh seluruh warga Jakarta, hehehe. Kami bernyanyi bagian refrain-nya saja. Meski pelan, gue bisa mendengar suara Bapak dan itu membuat gue tersenyum sangat lebar. Bapak berani mengalahkan rasa malunya, beliau pasti sedang bahagia sekali!

Gue dan Bapak langsung pamit pulang. Perjalanan kami masih jauh, another 4 hours dan hari sudah mulai gelap. Gue senang sekali bisa bertemu dengan Hans, Wihel dan Lupi. Ini adalah pertama kalinya gue dan Bapak bertemu dengan komunitas pengagum Aerosmith. Perjalanan pulang sama menyenangkannya seperti ketika pergi. Gue melanjutkan marathon CD Aerosmith, Bapak mengikutinya dengan gumaman dan terkadang kami mengenang-ngenang apa yang baru saja kami alami. Karena belum sempat makan malam kami memutuskan untuk mampir ke Burger King. Gue adalah seorang pesco vegetarian, dan hampir nggak punya pilihan lain selain kentang goreng kalau makan di sana. Tapi ini menjadi tradisi nggak tertulis, kami harus ke sana karena Steven Tyler menjadi bintang iklan Burger King! Hahaha... Jangan anggap serius, tentu saja kami hanya main-main dan melakukannya karena menganggap itu lucu :D

Gue membeli veggie's burger dari tempat lain dan hanya membeli kentang goreng dan soda di Burger King. Bapak bilang nggak apa-apa, yang penting aura Aerosmith nya tetap terasa, lol. Kami melanjutkan perjalanan kembali setalah Bapak selesai makan, sedangkan gue sengaja menyisakan kentang gorengnya. Best part, jangan cepat-cepat karena ini makanan kesukaan Aerosmith, hehehe. Lalu handphone gue berbunyi. Ada pesan singkat dari Aerosmith Indonesia. Gue langsung tersenyum karena pasti isinya mengenai Aerosmith. "Baru juga ketemu sudah kangen kita lagi nih, Pak", gue bergurau. Gue akan membacakan pesan itu keras-keras, tapi lalu berhenti ketika gue sadar isinya bukan berita baik...

"Aerosmith batal konser di Jakarta"
.
Suara gue datar, tanpa emosi. Bahkan gue juga kaget kenapa bisa seperti itu padahal biasanya gue sangat ekspresif. Bapak sepertinya nggak percaya dengan pendengarannya, beliau bilang "hah?" berkali-kali. Gue membacakan untuknya satu kali lagi dan langsung bersandar ke jendela mobi. Nggak menangis dan cuma terdiam. Bapak juga. Pelan-pelan ia mematikan CD player yang sedang memutarkan lagu "Blind Man". Suasana mobil begitu sepi dan entah kenapa mendadak canggung. Gue nggak berani menatap Bapak karena takut melihat wajah kecewanya. Dua jam yang lalu impian kami rasanya sudah di depan mata, dan tiba-tiba hilang bahkan saat kami masih jauh dari rumah. Gue nggak tahu harus berkomentar apa. 20 tahun gue menunggu dan itu sudah menjelaskan segalanya.

Lalu tiba-tiba dada gue terasa sesak. Tangis gue akhirnya meledak, air mata gue nggak bisa ditahan. Gue menangis seperti bayi. Di tengah tangis gue bercerita tentang sesuatu yang seharusnya menjadi kejutan untuk Bapak. Diam-diam gue sudah memesan T shirt official Aerosmith untuk beliau. Harganya bagi gue nggak murah dan gue khusus menabung untuk itu. Gue ingin Bapak memakainya ketika konser nanti karena selama ini Bapak belum punya T shirt Aerosmith. Sejak dulu semuanya buat gue. Hanya buat gue. Dan gue ingin memberikan satu hari istimewa untuk Bapak.

Gue terus menangis. Benar-benar nggak tertahan. Lalu Bapak terkekeh, seperti memaksakan tertawa. Gue melihat wajahnya, akhirnya, dan jelas sekali beliau sedih. Bapak mencoba menenangkan gue, beliau bilang bisa saja Aerosmith berubah pikiran, mungkin konsernya hanya diundur sebentar. "Kaosnya buat nanti saja, terima kasih sudah dibelikan. Nanti dipakai waktu kita nonton konser Aerosmith selanjutnya, ya..."
Kata-kata Bapak sama sekali nggak menenangkan gue. Gue menangis tanpa suara dan merubah posisi duduk gue jadi meringkuk menghadap ke kiri. Membelakangi Bapak dan memejamkan mata gue.

Dalam gelap gue membayangkan seorang gadis kecil berusia 7 tahun. Berambut acak-acakan berponi dengan gigi ompong sedang menatap serius ke layar TV. Ia begitu begitu terhipnotis dengan apa yang baru dilihatnya. Bapaknya berkata, "mereka itu Aerosmith", dan gadis itu pun tersenyum konyol. "Aku mau bertemu mereka, Pak". Bapaknya tersenyum lalu menjawab, "suatu hari, Indi... Suatu hari...".

Dan 20 tahun kemudian gadis kecil yang telah tumbuh dewasa itu masih menunggu "suatu hari" nya akan datang. Sekarang ia mungkin bersedih, kecewa, dan marah. Tapi dibalik itu, di lubuk hatinya yang paling dalam ia tetap gadis kecil yang sama. Ia akan kembali tersenyum konyol dan suatu hari akan memberikan langsung surat yang ditulis tangan olehnya dengan hati-hati kepada Steven Tyler. Mungkin ditambah menjabat tangannya. Mungkin ditambah tepukan hangat di bahu. Mungkin. Siapa yang tahu. Yang pasti suatu hari ia nggak perlu menunggu lagi.
Amen...

daddy's little girl,


Indi
Facebook: here | Twitter: here | Contact person: 081322339469

Sabtu, 14 April 2012

Reuni Paduan Suara: Bertemu Kak Immanuel Lagi dan Mendengar Cerita Darinya :)


Howdy my blogger friends?! :D
Wah, sudah weekend lagi, ya? Kok sepertinya ada aturan nggak tertulis kalau aku selalu nge-post di akhir minggu? Hihihi... Well, sebenarnya sih ini bukan disengaja, apalagi direncanakan. Tapi kebetulan saja waktuku selalu lebih senggang di akhir minggu. Sudah 2 minggu ini aku menjadi guru pendamping di playgroup dan 3 kali seminggu aku kuliah dari siang sampai sore. Setiap weekend pasti kuusahakan untuk memanfaatkannya dengan hal-hal fun. Nah, seperti hari sabtu tanggal 7 April kemarin, aku menghadiri reuni kecil-kecilan Paduan Suara Lisma! :)

Ide reuni ini datang dari Nisa, salah satu anggota paduan suara yang sangat loyal. Sama sepertiku, Nisa menjadi anggota sejak tahun 2005 sampai 2010 dan hanya lulus kuliah lah yang membuatnya berhenti bergabung dengan Lisma. Waktu 5 tahun kebersamaan membuat Nisa dan aku sangat akrab dengan anggota paduan suara yang lain, meskipun kebanyakan dari mereka datang dan pergi. Iya, paduan suara Lisma memang menerima anggota 'kontrak' alias anggota yang hanya bernyanyi ketika ada event dan boleh pergi sesuka hati jika event selesai. Syaratnya hanya dua: bersedia mengikuti latihan sebelum hari H dan nggak tahu nada. Jadi, meskipun total anggota paduan suara Lisma sangat banyak, anggota tetap yang selalu ada dalam setiap event dan lomba hanya itu-itu saja. Mungkin hanya 25 orang, itu sudah termasuk Nisa dan aku.

Waktu aku mencoba menghubungi mantan anggota paduan suara, ternyata hanya sedikit yang nomor ponselnya tetap. Singkat cerita, hanya 5 orang yang bisa datang (sudah termasuk aku dan Nisa). Ditambah Kak Immanuel, mantan pelatih kami, totalnya jadi 6 orang. Agak kecewa sebenarnya, tapi mengingat aku sudah 2 tahun nggak bertemu mereka, pertemuan ini pasti akan sangat menyenangkan meskipun hanya sedikit yang bisa hadir :)

Aku diantar adik ke Pizza Hut, BIP, tempat di mana aku dan teman-teman ex paduan suara Lisma bertemu. Aku terlambat 30 menit karena terjebak macet, dan waktu aku sampai sudah ada Nisa, Tessa, Septi dan Kak Immanuel di meja paling pojok. Rasanya gembira sekali melihat mereka, dan... sedikit ajaib, karena biasanya, dulu, kami hanya bertemu waktu latihan. Apalagi dengan Kak Immanuel yang super sibuk, seperti mimpi rasanya bisa duduk santai satu meja dengannya, hihihi.
Belum satu menit aku duduk, mereka sudah sibuk melontarkan komentar. Nisa bilang, "Kamu makin chubby sekarang, bagus". Kak Immanuel bilang, "Masih bule saja kamu. Nggak bosan?", dan sebagainya dan selanjutnya. Aku juga ingin mengomentari mereka sebenarnya, tapi entah kenapa, I was too stunned to see them again (apalagi ternyata ada Dian menyusul satu jam setelah aku datang). Yang keluar dari mulutku malah pertanyaan-pertanyaan penasaran seperti, "Pada tinggal di mana sekarang?", "Ada yang masih aktif nyanyi nggak?", "Anggota lain apa kabar?", dan seterusnya sampai mereka pusing :p

Meski pusing ternyata mereka tetap menjawab. Nisa sekarang bekerja di kantor lising Sumedang, Tessa menjadi guru SMP di Sukabumi, Dian menjadi guru tutor bahasa Inggris untuk orang Korea, sedangkan Septi baru saja diterima bekerja di tempat yang nggak terlalu jauh dari tempat tinggalku. Dan Kak Immanuel, dia lah yang mempunyai pekerjaan paling menarik sekarang. Well, mungkin bukan pekerjaannya yang menarik, tapi caranya bekerja. Dia menjadi guru sekarang, di sebuah SMP yang terletak di ujung kota Subang. Mendengar nama tempatnya saja aku sudah bisa membayangkan betapa berbedanya dengan keadaan di sini. Di sana susah sekali akses internet, untuk menuju 'kota' harus pakai ojek selama beberapa jam dan sinyal telepon masih belum bagus. Ditambah lagi menurut Kak Immanuel di sekolah tempatnya mengajar, setiap semester pasti ada saja siswinya yang keluar karena hamil. Wah...


Tessa and me :)

Tessa yang gak pernah nolak kalau kuajak nonton film musikal :p

Septi, Indi, Nisa, Kak Immanuel, Dian.

Senang bisa bertemu lagi dengan mereka :D


Tapi mendengar cerita Kak Immanuel membuatku dan teman-teman mencoba mengerti mengapa dia kerasan tinggal di sana. Menurutnya, pada awalnya memang sulit sekali untuk merasa nyaman, apalagi dia harus meninggalkan keluarganya di Bandung. Mama dan tunangannya terutama. Tapi setelah melihat keadaan sekolahnya, Kak Immanuel merasa bahwa anak-anak di sana sangat membutuhkannya. Bayangkan saja, di sana ada siklus berulang yang sudah terjadi sejak sangat-sangat-sangat lama. Rata-rata setelah lulus SMP mereka menikah karena hamil duluan dan kemudian bercerai di usia muda. Pendidikan menjadi bukan prioritas sehingga pekerjaan yang mereka dapatkanpun nggak pernah berkembang dari masa ke masa. Alumni sekolah yang berhasil lulus SMA dan melanjutkan ke jenjang kuliah pun bisa dihitung dengan jari. Itu pun mereka nggak pernah kembali lagi ke Subang dan menetap di Bandung atau kota besar lainnya. Anak-anak di sana menjadi miskin role model... 

Kak Immanuel bertekad mengubah keadaan itu, dia mulai berbicara pada guru-guru lain tentang situasi yang terjadi. Sayangnya guru-guru di sana sudah terlanjur 'malas', katanya sejak dulu memang keadaan sudah begitu, sudah diusakan berubah juga, tapi nggak ada hasilnya. Kak Immanuel yang jabatannya sebagai guru seni musik, bukan guru bimbingan konseling pun akhirnya memutuskan untuk bekerja 'di luar kewajibannya'. Mulai mengarahkan anak-anak ke jalur yang lebih positif (lewat musik tentunya), berbicara pada mereka secara pribadi sampai dengan berusaha mendatangkan role model yang diharapkan bisa membuat anak-anak lebih semangat. Usaha Kak Immanuel nggak berjalan mulus, anak-anak memang respect padanya, tapi hanya ketika di kelas. Di luar itu mereka tetap dengan 'tradisi' turun temurunnya. Kak Immanuel nggak kehilangan akal, dia meminta kepala sekolah untuk membelikan gitar dan biola agar anak-anak membentuk tim orkestra. Too bad, nggak ada seorang pun yang mendaftar :(
Aku mengenal Kak Immanuel cukup baik, 5 hampir 6 tahun aku menjadi muridnya. Aku tahu dia pantang menyerah. Tapi mendengar bahwa dia batal menikah karena dia mengharapkan pasangan yang mau ikut dengannya ke Subang benar-benar membuatku mengaguminya 100 kali lipat lebih banyak dari sebelumnya.


Aku jadi ingat pertama kali aku mengenal Kak Immanuel. Waktu itu aku adalah mahasiswa baru yang masih bingung dengan kegiatan ekstra yang mau kuikuti. Secara random aku memilih teater, fotografi dan paduan suara. Aku mengikuti ketiga kegiatan itu bersamaan, dengan rasa suka yang sama dan ketertarikan untuk belajar yang sama. Lalu suatu hari, beberapa minggu setelah aku mengikuti paduan suara, ada kabar bahwa pelatih yang selama ini mengajar digantikan oleh seorang pelatih baru. Masih muda dan penuh semangat, namanya Kak Immanuel. Entah kenapa aku memilih untuk meninggalkan teater dan fotografi lalu berkonsentrasi di paduan suara. Padahal dibandingkan dengan 2 kegiatan ekstra yang kutinggalkan, paduan suara adalah yang paling sedikit prestasinya. Satu-satunya undangan rutin hanya untuk mengisi acara wisuda atau acara kampus lainnya. Sedangkan untuk lomba, entah berapa belas tahun yang lalu paduan suara Lisma ini terakhir mengikuti lomba.


 
Seragam paduan suara kami, dasinya warna biru muda :D

Foto studio dengan kaos Lisma Choir yang masih kupakai sampai sekarang :D

Khusus acara wisuda seragam kami menjadi putih-hitam.









Aku heran melihat Kak Immanuel, dia begitu semangat untuk mengubah paduan suara yang, well, jujur saja... hancur ini. Dia selalu datang lebih awal dibandingkan murid-muridnya dan menyiapkan semuanya dengan serius. Partitur, keyboard, bahkan dia mengajari kami membaca not balok! Iya, terkadang dia meminjam kelas yang sudah selesai dipakai dan mengajari kami di sana, seolah di sekolah musik. Lambat laun usaha Kak Immanuel ada hasilnya. Dengan pelatih yang sebelumnya paduan suara Lisma hanya memiliki dua suara, tapi dengannya kami memiliki 4 suara: sopran, alto, bass dan tenor. Kami juga mulai digabungkan dengan orkestra lengkap, bukan hanya piano atau keyboard. Lalu hal yang nggak diduga pun datang, Kak Immanuel menawarkan agar paduan suara Lisma mengisi sebuah event (aku lupa nama event-nya apa). Itu adalah yang pertama buat kami, tapi Kak Immanuel menyemangati kami dan menyakinkan bahwa kami sudah siap tampil. Benar saja, sejak saat itu tawaran untuk mengisi event banyak berdatangan. Dalam satu bulan paduan suara Lisma bisa diundang ke beberapa acara sekaligus. Kami bahkan mendapatkan 'uang saku' yang benar-benar sangat lumayan secara rutin, hehehe ;)
Kegiatan ekstra yang tadinya kurang diperhatikan pun mendadak jadi sorotan. Banyak yang ingin menjadi anggota 'kontrak' karena tergiur dengan uang sakunya, dan ada pula yang ingin karena tergiur dengan tempat-tempat yang didatangi ketika mengisi event. Semuanya Kak Immanuel terima dengan senang hati.

Kak Immanuel itu orangnya galak. Eh, atau tegas ya? Hehehe... Dia nggak ragu untuk memarahi muridnya kalau memang dia bersalah. Kalau sudah marah, wah seram banget :( Syukurlah aku belum pernah dimarahi (hmm, pernah sih satu kali, tapi itu karena salah pengertian, lol). Berkat ketegasannya paduan suara Lisma akhirnya mencicipi bagaimana rasanya lomba, masuk TV, malah sampai merencanakan konser yang sayangnya harus batal karena beberapa kendala termasuk karena anggota tetapnya sudah banyak yang lulus kuliah dan mulai bekerja di tempat lain (termasuk aku). Kak Immanuel juga akhirnya mengundurkan diri karena memilih menjadi guru di Subang, dan paduan suara Lisma dikenang sebagai paduan suara yang bagus dan dispilin (ya, sekarang masih ada sih, tapi terakhir kudengar kualitasnya menurun tanpa Kak Immanuel).

Kembali lagi ke cerita Kak Immanuel di reuni kecil kami, aku penasaran kenapa dia memilih Subang bukannya Bandung yang lebih nyaman. Sebagai teman dari Nisa yang dulu pernah menjabat sebagai ketua koordinator, aku tahu betul berapa honor yang Kak Immanuel terima sebagai pelatih. Jumlahnya besar, lebih besar dibandingkan dengan gajinya sebagai guru di Subang. Dan tahukah apa jawaban Kak Immanuel? Katanya, "Mereka lebih butuh saya daripada anak-anak di sini. Kalau saya tinggalkan mereka kasihan. Ada saya saja masih susah teratur, apalagi kalau nggak ada...".
Aku terseyum. Aku rasa nggak ada alasan aku khawatir dengan keadaan Kak Immanuel di sana. Kalau 7 tahun yang lalu saja dia berhasil mengubah paduan suara super kacau menjadi paduan bersuara berprestasi, kenapa aku mesti nggak percaya kalau Kak Immanuel bisa mengubah anak-anak SMP itu untuk lebih teratur?
I know you can do it, Kak Immanuel. Yakin ;)


do re mi,
Indi




____________________________

Indi mengikuti giveaway 'Eksis dengan Batik' di sini :)


Diedit: 4/3/2024. Kak Immanuel sekarang sudah berkeluarga dan kembali ke Bandung. Usahanya membuahkan hasil, aku melihat video-video paduan suara anak didiknya di Subang yang mengikuti banyak lomba dan event :) Aku, Kak Immanuel dan Tessa masih berteman, kami berencana untuk bertemu kembali.

_________________________________________
Contact Me? HERE and HERE. Sponsorship? HERE.