Minggu, 15 September 2019

Tentang Pindahan.

Ah, akhirnya bisa kembali menyentuh laptop... Belakangan jangankan laptop, buat pakai lipbalm saja kadang aku lupa, hahaha. Aku dan Shane sudah resmi moving out, teman-teman! Akhirnya! :) Sekarang aku excited sekali untuk cerita gimana seru (dan ribetnya) waktu kami pindahan. Dari mulai drama status Shane yang WNA sampai susahnya say good bye sama baju-bajuku yang jumlahnya 3 lemari (---maksa mau dibawa semua, wkwk). Tulisan ini bukan tips n tricks pindahan lho, ya. Ini murni pengalamanku (dan Shane) sebagai newlywed muda yang mengurusi apa-apa berdua saja. Kalau bermanfaat ya syukur, tapi kalau nggak... makasih lho sudah dibaca :p

Kami menyiapkan tempat tinggal di usia 6 bulan pernikahan. Nggak ada perencanaan khusus tentang "rumah idaman", semuanya mengalir begitu saja. Karena aku dan Shane dari sejak pacaran pun bukan tipe yang banyak teori kapan harus ini-itu. Kalau kami siap ya ayok, kalau belum ya nggak usah memaksakan. Yang terpenting kenyamanan kami, karena yang menikah juga kan kami, hehehe. Jadi kalau ada yang bilang kok kami menunggu 6 bulan baru punya rumah ya cuek. Juga, kalau ada yang bilang kami terkesan terburu-buru pun cuek. Karena yang tahu kapan timing tepat ya kami. ---Apa yang pas buat pasangan lain belum tentu cocok buatku dan Shane, begitu juga sebaliknya. Aku sangat dekat dengan Ibu dan Bapak, hampir semua hal kami bicarakan. Tapi untuk soal rumah beliau-beliau ini nggak pernah turut campur. Mau lokasinya di mana, seperti apa, mereka menyerahkan sepenuhnya sama aku dan suami. Jadi waktu aku menyodorkan brosur apartemen sepulang kerja pada Ibu, beliau langsung bertanya kapan bisa melihat-lihat ke sana bersama Bapak.


Pulang Kerja "dapat" Rumah

Seperti biasa aku dan Shane pulang kerja bersama-sama. Di perjalanan, iseng, aku menunjuk gedung apartemen yang letaknya berlawanan dengan arah pulang. Aku bilang, 
"Tinggal di situ asyik kali, ya. Kerja nggak takut kesiangan lagi, tinggal ngesot." 
Respon Shane ternyata di luar dugaan, dia langsung bertanya apa aku ingin melihat-lihat dalamnya. Waktu itu aku pikir boleh juga buat iseng, asal jangan lama-lama saja karena belum makan siang, hehe. 
Entah kenapa setelah di dalam gedung kami langsung betah. Yang tadinya sekedar melihat-lihat jadi bicara panjang lebar dengan pihak marketingnya. ---Yang tadinya hanya minta brosur jadi janjian bertemu untuk berbicara lebih lanjut. Kami lalu pamitan sambil bertukar nomor handphone. 

Aku dan Shane sama-sama masih belajar menjadi orang dewasa. Kami masih belum mengerti bagaimana "cara" membeli rumah. Let alone deh rumah, untuk beli tiket pesawat sendiri saja kadang masih deg-degan... Secara kasar kami menghitung penghasilan bulanan Shane dan membaginya jadi beberapa bagian, mengira-ngira tipe manakah yang paling pas dengan kondisi keuangan *kami.
(*Meski yang digunakan adalah uang yang Shane hasilkan, tapi tetap dihitung sebagai "uang kami" karena kami sepakat setelah menikah apa yang Shane miliki adalah milikku juga).
Yang terpenting nggak memaksakan, kecil bukan masalah. Kami ingin nggak kesulitan ketika mencicilnya dan masih ada sisa untuk keperluan sehari-hari dan menabung. Setelah hitung-hitung berdua, di rumah aku langsung tanya Bapak tentang gimana proses pembelian rumah. Sebenarnya kami bisa saja langsung bertanya sama pihak marketing, tapi aku lebih percaya sama Bapak. ---Dan supaya kesannya aku nggak blank-blank amat juga sih, hehehe. 




Menikah "Rasa" Single!

Mungkin karena terlalu excited, aku dan Shane lupa kalau WNA nggak boleh punya properti di sini. Pikiranku waktu itu simple banget, urusan beli rumah biar diserahkan sama suami, atas nama suami, ---sama seperti orang-orang kebanyakan. Jadi yang disiapkan ya data-data Shane saja. Tapi ternyata eh ternyata... nggak bisa! Dan entah kenapa pihak apartemennya nggak langsung bilang, padahal saat pertemuan pertama pun kami sudah bilang kalau Shane baru setahun di Indonesia dan pakai Kitas, bukan ganti kewarganegaraan. Setelah sedikit drama, akhirnya diputuskan kalau sertifikat dibuat atas namaku. Agak sebal juga sih, soalnya aku jadi berasa single. Yang ditelponin, yang ditanya-tanyain dan disuruh tanda tangan cuma aku doang. Ada sedikit perasaan nggak enak juga sama Shane meski katanya sih dia nyantai saja. Apalagi karena pernikahan beda negara jadi notaris menyarankan kami membuat surat kesepakatan yang isinya menyatakan  jika ada apa-apa dengan pernikahan kami (amit-amit, ketok meja!) maka hanya aku yang berhak atas kepemilikan apartemen. TBH, ini sempat mengganggu moodku buat beberapa waktu. Tapi namanya aturan nggak mungkin juga kami langgar. Jadi aku coba fokus ke bagaimana fun nya mendekor rumah pertama kami saja supaya mood membaik.






Rumah Halloween Kami

Akhirnya 3 bulan kemudian, alias di usia 9 bulan pernikahan, kami mulai mencicil isi rumah. Apakah seru seperti yang dibayangkan? Iya! Apakah mudah? ---Well, nggak juga! :D Meski kami sudah membagi-bagi penghasilan Shane, tapi tetap saja terkadang ada pengeluaran nggak terduga. Apalagi jika kami lupa untuk menghitung hal-hal printilan yang sebenarnya penting, seperti biaya keamanan dan token, hehehe. Jadi budget untuk furnitur harus diatur ulang deh. Kami nggak punya merk favorit atau harus banget pakai style yang sedang hype. Asal modelnya kami suka dan harganya terjangkau saja. Oh iya, aku sempat ngotot membawa seluruh barang-barang dari rumah orangtua. Yang mana sangat mustahil, karena rumah kami mungil sekali, hihi. Hikmahnya aku jadi belajar untuk memilih, dan meninggalkan apa yang sudah jarang dipakai. Atau istilah kerennya downsizing. Hanya yang penting-penting saja yang dibawa. Ukulele sebagian aku tinggalkan, juga baju-bajuku. Dari 3 lemari aku hanya membawa 1 lemari. Toh, jarak ke rumah orangtua juga nggak terlalu jauh. Jadi kami sering bolak-balik, dalam satu minggu ada satu hari kami menginap di sana. 

Kalau diingat lagi ke belakang, sebenarnya lucu juga. Akhir tahun 2017 lalu waktu aku dan Shane awal bersahabat, kami sering berandai-andai tentang apa yang dilakukan kalau kami punya kesempatan bertemu. Banyak hal "ajaib" yang kami khayalkan, salah satunya adalah memiliki rumah bersama dengan tema Halloween. Maunya kamar kami letaknya bersebelahan agar gampang kalau mau ngobrol, nggak perlu video call seperti di dunia nyata, hahaha. Dan rupanya sekarang menjadi nyata. Kami punya rumah bersama dengan tema Halloween. ---Sebagai suami istri, jadi kami bahkan nggak perlu tidur di kamar yang berbeda :) Oh, kami punya alasan sentimentil lho mengapa pakai tema Halloween. Kami mulai bersahabat di Halloween 2017 dan menikah di Halloween 2018. Jadi bukan sekedar alasan iseng.




Kami sangat menikmati tinggal di rumah pertama kami. Nggak banyak yang berubah seperti waktu pacaran dan tinggal di rumah orangtua sebenarnya, tugas memasak masih dipegang oleh Shane dan aku yang bertugas mengatur "mau pakai baju apa", hehe. Bedanya kami jadi belajar untuk memiliki, lebih menghargai apa yang kami punya. Aku bangga dengan Shane yang berusaha untuk pernikahan kami. Rumah kami memang sederhana, tapi itu bukan hal yang penting. Kemauan Shane untuk memperjuangkan sesuatu dan melakukan hal-hal untuk pertama kali adalah yang buatku matter! Aku juga bangga karena Shane memiliki prinsip untuk nggak termakan gengsi, hanya dapatkan apa dia tahu dia mampu. 
Seperti yang kubilang sebelumnya, judulnya juga bukan tips n tricks, aku hanya bisa sharing. Jangan pernah memaksakan. Dan untuk memiliki rumah pertama itu nggak ada istilah terlalu cepat atau terlalu lambat. Yang ada hanya waktu yang tepat, karena hanya kita yang tahu kapan kita mampu :)




cheers,

Indi

-----------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com