Selasa, 14 September 2021

Harry Potter Birthday Party! Kue ala Hagrid dan Vegan! :D




Gue nulis ini menjelang subuh, tepatnya jam 2 lewat 32 menit. Kenapa? Nggak tahu, tiba-tiba saja pengen cerita. Padahal kemarin sudah ada niatan mau cerita yang lain, tapi sekarang malah berubah pikiran jadi pengen cerita tentang ulang tahun gue dan Shane yang... sudah lama lewat, hahaha :D Gue bukannya belum tidur, tapi terbangun karena merasa lapar dan gerah. Setelah perut kenyang gue belum mengantuk lagi. Jadi di sini lah gue sekarang. Mungkin karena suasana sepi dan nggak ada teman ngobrol (karena of course Shane masih tidur), pikiran gue jadi kemana-kemana. Tiba-tiba teringat dengan moment ulang tahun gue yang dirayakan bareng Shane dengan tema yang sudah lama gue impikan... Harry Potter! --Iya, Harry Potter yang itu xD Mungkin ada orang yang menganggap aneh atau bahkan konyol. Tapi buat gue nggak sama sekali. Gue pertama kali membaca novelnya di usia 12 atau 13 tahun dan langsung terbawa sampai dunia nyata, hahaha. Bahkan waktu novelnya diadaptasi jadi film gue masih ingat dengan jelas moment ke bioskop diantar Bapak sambil berdandan ala Harry Potter lengkap dengan tanda kilat di kening :p


Intinya, Harry Potter itu segitu berartinya buat hidup gue. Meski nggak nyata, tapi waktu remaja gue merasa kalau kehidupan Harry dan teman-temannya itu relatable dengan hidup gue. Jadi gue ingin at least sekali saja seumur hidup untuk merayakan hari ulang tahun gue dengan tema Harry Potter!

Lalu bagaimana dengan Shane?

Meski Harry Potter juga populer di Amerika, tapi dia belum pernah membaca buku atau pun menonton filmnya. Pengetahuan dia hanya sejauh pernah mendengar namanya saja, tapi bagaimana ceritanya dia sama sekali nggak tahu :D 

Ulang tahun gue jatuh di tanggal 8 Juni, sedangkan Shane di tanggal 29 Mei, ---selisih 10 hari saja. Kalau untuk sekedar makan-makan atau tiup lilin di hari ulang tahun dia oke-oke saja, tapi untuk dirayakan dia nggak pernah mau. Terkecuali jika dirayakan bersama gue (lalu gue merayakan kembali tepat di hari ultah gue, lol), dia mau. Soal tema dia juga menyerahkan sama gue. Pokoknya Shane ngikut-ngikut saja, deh, hehehe xD


Kebetulan banget, suatu hari waktu kami menginap di rumah orangtua, di TV kabel menayangkan film-film Harry Potter. Maraton gitu, jadi dimulai dari yang pertama sampai akhir. Shane akhirnya untuk pertama kali dalam seumur hidupnya berkenalan juga dengan Harry dkk :D Dia hanya menonton yang pertama sampai ketiga, itu pun nggak full karena biasanya kami sambil beraktivitas sementara TV menyala. Tapi buat gue sudah cukup. Yang penting kalau nanti ada yang nanya (lah?) Shane tahu siapa itu Harry Potter, hahaha.

Berhubung sudah kenalan, Shane jadi ikut excited untuk memilih-milih pernik ulang tahun. Tapi tetap gue yang paling banyak hunting karena "Shane takut salah", hehehe. Gue dapat garland (flag bunting), kaos dan cake toppernya di toko online. Sementara sisanya seperti piring kertas, gelas kertas dan camilan gue beli di minimarket komplek apartemen. Sebenarnya gue sudah mengurangi pemakaian peralatan pesta sekali pakai gitu. Tapi itu kemauan Ali, ---maklum dia sih kalau lihat orang ultah berasa acaranya dia juga :p Ya sudahlah asalkan benar-benar untuk sekali saja.


Setelah semuanya siap, justru yang terpenting lah yang belum ada sampai mendekati hari H... Kue ulang tahun! Soalnya mencari kue vegan yang bisa diantar dan bisa custom made di Bandung bukan hal mudah. Sudah segala kata kunci gue masukkan di Google demi mencari kue impian tapi tetap juga nggak ketemu. Nah, di saat gue hampir menyerah dan bersiap minta tolong Shane untuk bikinin kue Oreo andalan saja (bhahaha), ternyata datanglah titik terang! :') Tanpa sengaja gue menemukan penjual bento cake di Instagram yang punya vegan option. Langsung saja nggak pakai narik napas dulu gue hubungi lewat DM dan bertanya apakah bisa membuat kue custom. Dan jawabannya adalah... BISA! Yay! Dengan deg-degan gue jelaskan kalau gue ingin kuenya seperti kue buatan Hagrid yang diberikan pada Harry di ulang tahunnya yang ke 11. Lengkap dengan retakan di atas kuenya, ---karena ceritanya kedudukan Hagrid waktu di motor xD Dan gue ingin kue seperti yang di versi film, bukan buku. Di buku nggak diceritakan kalau Hargrid typo saat menulis ucapan selamat di atas kue, tapi di film berbeda. Tulisannya, "Happee Birthdae Harry" ---dan menurut gue akan unik kalau punya gue jadi, "Happee Birthdae Indi" :D


Screenshot dari film yang gue pakai sebagai referensi kue ulang tahun.



THE DAY!


Tadinya gue ingin merayakan ulang tahun kami di tanggal 5 Juni karena lebih dekat ke tanggal ulang tahun gue yang sebenarnya dan karena jatuh di hari sabtu. Tapi tiba-tiba saja Ibu meminta untuk lebih awal karena beliau dan Bapak ada keperluan di tanggal 5. Jujur awalnya gue cukup kecewa karena tanggal 4 Juni bertepatan dengan jadwal sekolah Ali. Gue dan Shane pasti sibuk, ---dan dengan adanya Ali di rumah kami rencana mendekor terancam terhambat. Tahu sendiri lah anak usia 5 tahun itu gimana, hahaha. Beberapa rencana yang sudah matang pun harus diubah. Kami sudah berencana membeli ay*m goreng vegan untuk dimakan bersama, tapi di tanggal 4 restorannya tutup. Untung saja ada restoran pizza yang punya menu vegetarian dan kami bisa minta dibuatkan khusus jadi vegan. Juga rencana mendekor yang seharusnya dilakukan malam hari pun dilakukan setelah Ali sekolah dan seadanya. Mandi? Ah, mana sempat. Rambut gue lepek banget dan akhirnya diputuskan untuk ganti kaos saja. Yang penting pakai kaos Harry Potter, sudah berasa ultahnya gue :p


Dari sekian banyak pilihan kaos Harry Potter akhirnya pilih ini karena desainnya simple.


Tiap ultah belum lengkap kalau nggak berpose di depan kue, hahaha.


Ali pilih sendiri kaosnya. Nggak nyambung sama tema tapi yang penting pegang tongkat :p


Karena mendadak ganti hari, gue jadi lupa kalau Ibu Mertua gue memberi satu set DVD Harry Potter sebagai hadiah ulang tahun awal (---well, sebenarnya dalam bentuk uang tunai, jadi gue belikan saja beberapa barang, hehehe). Tadinya akan dipajang bersama koleksi novel-novel gue tapi nggak ingat dan malah disimpan di rak kamar! Huaaaaa :') Tapi nggak apa, diluar penampilan gue yang kaya habis lari maraton dan lupa pajang DVD, semuanya berjalan sesuai rencana. Ali juga nggak bosan karena dia dilibatkan dalam mempersiapkan ultah gue dan Shane. Tugas dia memasang topper di atas pizza vegan xD Oya, berbeda dengan Shane, Ali sudah akrab dengan Harry Potter bahkan sebelum dia lancar berbicara. Di Halloween keduanya, di usia 1 tahun 11 bulan, Ali memakai kostum Harry Potter sementara gue memakai kostum Moaning Myrtle. Selain karena gue suka Harry Potter, waktu itu alasannya karena gue nggak punya budget banyak dan keadaan mental gue sedang nggak stabil (---mungkin ada beberapa teman di sini yang tahu ceritanya). Yang biasanya gue sangat antusias, waktu itu gue sama sekali nggak mau kemana-mana, bahkan sudah berniat untuk melewati Halloween. Tapi Bapak bilang gue harus semangat dan ingat kalau Halloween selalu bikin gue happy. Jadi mendadak lah gue dan Bapak ke supermarket buat beli supply Halloween, sementara di rumah (mantan) ipar gue mendekor ruang tamu. Satu-satunya tema yang kepikiran ya cuma Harry Potter karena paling mudah, dan jadilah Halloween dadakan. Duh, jadi terharu kalau gue mengingat moment itu :') Tuh, kurang berarti gimana coba Harry Potter sama hidup gue, hahaha :')


Halloween kedua Ali sebagai Harry Potter di usia 1 tahun 11 bulan. Ya ampun mungil banget :')


Versus foto yang di atas, jadi now and then judulnya.


Harusnya figurin Gollum itu diganti sama koleksi DVD Harry Potter, tapi kelupaan, hahaha.


Kelihatan nggak sih kalau ada foto Harry, Ron dan Hermione di garlandnya :)



THE PARTY!


Setelah rumah kami sedikit rapi (---ya, mana bisa rapi maksimal di hari sekolah, hahaha), gue langsung menghubungi Ibu dan Bapak untuk segera datang. Nggak lupa sambil mengirimkan foto gue dan Shane (yang diambil Ali) dengan kaos Harry Potter kami. Ibu bilang kaosnya lucu. Iya, sedikit humor, tulisannya Harry Potter tapi logonya "HP" merk printer, hahaha.

Kue ulang tahun datang di waktu yang tepat. Tadinya gue sempat pesimis kalau kue akan tiba dengan selamat mengingat jarak toko yang jauh dan dikirim menggunakan jasa Gojek. Tapi ketika Shane menjemputnya di lobby matanya langsung berbinar-binar. Dia bilang, "WOW! INI KUE PALING MIRIP YANG PERNAH AKU LIHAT! GAMBAR DI INTERNET NGGAK ADA YANG SEBAGUS INI!" Langsung saja gue nggak sabar untuk segera melihatnya. Dan benar saja, bagus! Warna dan detail retakan bekas pantat Hagrid nya (lol) mirip sekali. ---Sampai-sampai kami nggak sadar kalau ada spelling error. Huruf "P" nya kelebihan satu, dan kurang huruf "T"! Hahahaha. Tapi it's okay, semua orang bisa salah. Dan ini kesalahan kecil sekali dibanding dengan kemiripan kuenya. Apalagi bukan cuma tampilan luarnya, tapi sampai dalamnya juga mirip karena ini kue cokelat! ---seperti buatan Hargrid! :D


Bagus banget :') Bikin typonya termaafkan. Mana rasanya enak banget lagi.


Kata Ali supaya suasana Hogwarts lebih terasa, dia ingin kukunya dicat ungu dan diberi gliter. Katanya karena penyihir kukunya seperti itu (lho?), bhahahaha. Oke deh, gue menurut saja, ---padahal gue belum pernah lihat Harry Potter kukunya dicat :p Ibu dan Bapak yang baru tiba pun langsung bergabung di pesta kecil kami. Selain membawa kado mereka juga ternyata membawa mie vegan. ---Tradisi nggak tertulis, kalau ultah mesti makan mie. Ada yang sama? :D

Ibu suka dengan dekorasi yang kami buat, tapi tentu Bapak yang lebih mengenal Harry Potter jadi beliau yang cerewet memberi berkomentar sana-sini. ---Shane bilang Bapak itu seperti kritikus, lol. Benar juga, ya :p


Kata Ali ini kuku penyihir, hahaha.


Mie vegan kiriman Ibu dan Bapak. Enak banget dan masih ada sisa sampai malam :p


Sebelum kami makan-makan Ibu ingin kami tiup lilin dulu. Padahal gue sudah lumayan lapar, hahaha. Katanya kurang terasa ulang tahunnya kalau nggak foto sambil tiup lilin dan potong kue :p Sebenarnya agak sedih juga sih, soalnya artinya kuenya bakal dipotong. Tapi ya masa mau dijadiin pajangan. Untung saja gue sempat ambil foto dan video buat kenang-kenangan. (Kalau teman-teman perlu untuk inspirasi desain kue yang mirip banget sama punya Harry, boleh banget lho simpan foto punya gue). Di sini nih Ali mulai manyun. Gara-garanya gue dan Shane jadi pusat perhatian. Maklum lah, meski sudah pada dewasa di mata ortu tetap saja gue dan Shane ini bocah-bocah. Jadi Ibu dan Bapak heboh sibuk nyanyi, ambil foto dan rekam kami... sementara Ali juga ingin diperhatikan, hahaha. Alhasil waktu kami tiup lilin Ali nggak mau ikutan :'D  Btw, tiup lilinya sampai diulang 2 kali lho. Soalnya tiap dikasih aba-aba buat tiup barengan somehow Shane selalu duluan, hahaha. Kesel kan :p Akhirnya gue sudah males ngulang dan berkesimpulan kalau yang penting lilinnya mati. 


Dari foto saja kelihatan kan kalau Shane yang tiup lilin duluan :")


Ali manyunnya sebentar. Setelah kebagian potongan kue dia happy lagi dan sibuk sendiri sama kuenya. Gue surprise lho sama rasanya. Enak banget! Rasa manisnya pas dan rasa cokelatnya lumayan kuat. Biasanya gue nggak gitu suka sama icing kue dan milih makan dalamnya saja, tapi ini sih beda. Teksturnya juga lembut dan nggak kering. Ibu dan Bapak, ---sang kritikus, juga approve. Mereka bilang rasanya enak. Dan kalau gue nggak bilang katanya mereka nggak akan tahu kalau ini vegan. Hehehe, kebiasaan ya, orang selalu berpikir kalau kue (dan makanan) vegan bakal kurang enak dibanding makanan non vegan. Padahal ya nggak gitu juga. Bahan-bahan kue kan banyak yang vegan friendly. Kalau bikinnya bener ya rasanya pasti enak :D Shane beli kue ini di Mamayu (silakan googling untuk alamat dan kontaknya). Nggak kok, bukan endorse :p Gue dan keluarga beneran suka rasanya dan cuma ingin berbagi info, siapa tahu ada yang mencari kue vegan juga :) 

Sehabis makan kue dilanjutkan dengan makan mie kiriman Ibu dan Bapak. Gue sih sehabis mie langsung kenyang, jadi nggak makan pizza. Tapi Ibu, Ali dan Shane makan masing-masing satu potong. Kalau Ibu katanya selain memang masih ingin makan juga penasaran sama rasa pizza vegan. Beliau tertipu, melihat tampilannya dikira dari Pizza Hut padahal bukan, hahaha. Kami dapat dari Pizza 37 (again, bukan endorse, lol). Selain enak harganya juga terjangkau. Kalau pesan biasanya gue dan Shane nggak pernah kurang dari 2 pan. Sok silakan googling kalau ingin tahu alamatnya :D


Pizza vegan customize dengan topper yang dipasang Ali :D


Setelah perut kenyang kami lanjut buka kado. Ada dua kado dari Ibu dan Bapak, gue dan Shane masing-masing dapat satu. Lucunya ada kado tambahan yaitu satu garland "Happy Birthday" buat dipakai tahun depan, hahaha. Ya, ampuuuun sampai segitunya berpikir tentang masa depan xD Sedangkan kado yang spesial untuk gue isinya music box berbentuk windmill. Lucu banget, tanpa sengaja gue jadi koleksi benda-benda kaya gini karena sering dapat kado dari Ibu dan Bapak. Tahun lalu justru Shane yang dapat kado music box berbentuk biola :D Tahun ini Shane dapat miniatur becak onthel. Bentuknya real sekali dan roda-rodanya bisa berputar. Segera saja Shane dapat ide untuk menaruh figurin Kakek-Nenek hadiah dari ortu gue tahun lalu di atasnya, hahaha. Gue memang lebih senang mendapat kado barang dibandingkan uang. Rasanya lebih berkesan saja karena tahu orang yang memberi benar-benar memilih sesuatu spesial untuk gue :) Ibu mertua pun tahu sebenarnya, tapi berhubung terhalang jarak jadi lebih mudah untuk mengirimkan uang. Meski begitu tetap satu tahun sekali ketika Natal gue dan Shane tetap mendapat kado dalam bentuk barang :)


Shane amaze dengan becak othelnya (---gue juga, cuma nggak kelihatan di foto, lol).


Terima kasih Ibu, Bapak, Ali untuk hari yang luar biasa. Peluuuuuk :')


Rasanya gue nggak rela perayaan ultah kami selesai. Berkumpul dengan keluarga rasanya memang nggak pernah "terlalu lama", ---selalu terasa kurang. Tapi Ibu, Bapak dan Ali harus pulang dan kembali dengan aktivitas mereka. Juga gue dan Shane yang harus kembali bekerja, ---setelah sebelumnya beres-beres rumah dulu, haha :D Waktu mereka berpamitan rasanya sepi sekali. Aura pestanya sudah nggak terasa, menyisakan dua orang dewasa yang pakai kaos Harry Potter dan akan dipakai sampai sisa hari sebagai piama :'D 

Gue bersyukur sejak dulu orangtua gue selalu merayakan ulang tahun gue, ---dan sekarang dilanjutkan dirayakan dengan Shane. Mengeksprsikan rasa syukur memang bisa kapan saja. Tapi saat membuat satu hari khusus rasanya lebih istimewa. Ulang tahun itu adalah hari peringatan ketika kita dilahirkan. Dan menurut kami, perasaan bahagia ketika seseorang lahir harus dikenang kembali di hari ulang tahunnya. You know, untuk mengingatkan betapa mereka dicintai dan betapa mereka sangat dinantikan kehadirannya di dunia :) Sederhana tapi berarti :)


Ya... begitulah cerita ulang tahun gue dan Shane yang mendadak ingin diceritakan ketika menjelang subuh seperti ini xD Kayanya gue bisa tidur dengan nyenyak sekarang (---eh, tapi nggak bisa tidur sampai siang sih ada kerjaan, hahaha). Gue bersyukur, kadang yang bagi orang lain "ah, cuma gitu doang" justru bisa bikin gue happy luar biasa. Gue ingin ulang tahun dengan tema Harry Potter dan gue dapat, ya sudah cukup begitu. Nggak perlu mewah-mewah atau sekalian boyong keluarga ke Hogwarts segala, begini juga sudah terdebest buat gua. Apalagi ada Shane yang sekarang ikutan tertarik sama Harry Potter :D Harapan di ulang tahun gue dan Shane sederhana. Gue nggak berharap tiba-tiba Corona menghilang tahun depan. Cukup berikan kesempatan gue dan Shane berkumpul lagi bersama keluarga, itu sudah menjadi "kemewahan" yang luar biasa :)

Bisa bantu aminkan, teman-teman? :)


(Untuk pengguna mobile klik di sini untuk menonton vlog ultah Indi dan Shane)



rictumsempra!,


Indi


---------------------------------------------------------------

Kontak email: namaku_indikecil@yahoo.com | Facebook: Indi Sugar | Instagram/Twitter: Indisugarmika | YouTube: Indi Sugar Taufik

Rabu, 18 Agustus 2021

Cerita Lebaran yang Tertunda dan Penuh Nostalgia.


Tahu nggak sih, kemarin itu gue sempat happy karena gue pikir bakal bisa nulis lagi di sini sebelum bulan Juni habis. ---Jadi (rencananya) pengen bikin 2 tulisan dalam sebulan gitu. Kan keren (menurut standar gue, hahaha). Tapi ternyata nggak bisa, gue masih harus menerima kenyataan kalau mampunya baru sebulan sekali. Better sih dibanding tahun kemarin, tapi gue tahu kalau bisa lebih baik dari ini. Tujuan gue bukan supaya blog ini trafficnya tinggi, karena dari dulu tujuan gue punya blog murni untuk berbagi cerita. Tapi ini untuk melatih agar gue punya rutinitas. WFH sudah cukup bikin jadwal gue semaunya, at least dengan menulis di sini sebulan dua kali bisa membuat gua punya aktivitas terjadwal :)


Waktu Lebaran tiba, 13 Mei 2021 yang lalu, gue nggak sabaaar banget buat bercerita di sini. Maunya sambil blog walking juga, karena pasti seru membaca cerita Lebaran teman-teman yang lain. Lalu ulang tahun Shane datang, disusul ulang tahun gue. Gue pun goyah dan bilang, "Ah, mau cerita tentang ulang tahun saja deh, kan lebih relatable karena masih anget." Dan apa yang terjadi? Gue malah kebanyakan pertimbangan dan moment dua-duanya jadi sudah lewat! Hahaha. Ditambah gue dan Shane sempat menginap di rumah ortu (family time, gue nggak pernah bawa laptop), juga sempat sakit kemarin selama satu minggu. Semakin lah gue lupa tentang goal gue yang sangat spektakuler ini xD


Anyway, Lebaran tahun ini sama seperti tahun lalu. Gue dan Shane menghabiskan waktu di rumah orangtua dari satu malam sebelum Lebaran. Sekitar jam 6 sore kami baru berangkat karena siangnya sibuk membungkus kado-kado untuk Ibu, Bapak, the babies, Nenek, Eris dan juga beberapa karyawan Ibu dan Nenek. Kami masih belum berani kemana-mana, terakhir keluar ya waktu Mei kemarin itu, ---jadi kado-kado kami beli secara online. Dibandingkan tahun lalu, gue merasa Lebaran kali ini hati lebih damai. Nggak ada mikir pengen bisa kesana-kesini, kangen ini-itu, dsb. Gue merasa bisa kumpul dengan keluarga saja sudah suatu privilage, jadi suasana hati gue dan Shane begitu happy sehappy nya ;)

Begitu kami tiba langsung disambut masakan Ibu. Sejak menikah kami memang dapat hak istimewa untuk curi start, bisa makan masakan Lebaran di malam Lebaran, hahaha xD Meski Bapak sedang kurang sehat tapi tetap ada gulai vegan untuk kami. Tahun lalu Bapak buatkan "ayam palsu" (ini istilah Bapak) untuk kami. Berhubung prosesnya cukup berat, jadi isi gulai diganti dengan jamur shiitake, tahu dan kentang saja. Rasanya? Wuiiih, tetap enak dong! Pas menulis ini saja gue jadi lapar, hahaha.



Tradisi nggak tertulis sejak gue kecil adalah setiap malam Lebaran gue boleh begadang. Mungkin teman-teman ada yang tahu kalau gue dulu lahir di malam Lebaran. Karena berpegang pada prinsip birthday girl boleh ngapain saja, ortu membebaskan gue mau tidur jam berapapun. Toh besoknya nggak sekolah juga kan. Biasanya gue bakal di ruang TV semalaman, kalau pun ortu tidur duluan juga nggak masalah. Selama mata belum sepet gue nggak akan masuk kamar :p Nah, tahun ini Ali rupanya ingin ikutan tradisi gue, ia ingin begadang. Meski awalnya sempat dicoba untuk ditidurkan beberapa kali, tapi Ali terlalu excited dengan Lebaran, jadi kami izinkan saja. Suasana yang awalnya damai, cuma ada kami dan TV yang menyala berubah jadi ramai dan... bikin pusing! Ali bermain dengan mikrofon mainannya sampai jam 11 malam. Semua lagu karangannya dia mainkan, ---sesekali mengikuti orang-orang di masjid juga yang sedang takbiran. Gue pun harus bilang bye-bye dengan tradisi begadang yang dulunya identik dengan me time, hahaha. Untungnya cuma setahun sekali, dan sebenarnya aksi Ali menghibur juga, lho. Shane sampai merekam diam-diam waktu Ali bernyanyi lagu karangannya karena ia pikir itu lucu :D



Gue tidur beberapa jam saja. Sesudah Ali (akhirnya) tidur gue putuskan untuk menonton TV dengan Shane karena banyak sekali film bagus diputar di TV kabel. Untung saja besoknya masih bisa bangun nggak siang-siang amat, hehehe. Gue langsung mandi dan dilanjutkan dengan bermaaf-maafan dengan keluarga kecil kami :) Nyaman sekali rasanya, Lebaran selalu punya vibe yang berbeda dengan hari-hari biasa. Dan waktu moment bermaafan gue selalu merasa menjadi anak kecil kembali. Susah dijelaskan dengan kata-kata, ---tapi kalian tahu kan perasaan nostalgic yang bikin kalian merasa sedang berada di waktu ternyaman dan teraman di hidup kalian? ;)

Oya, Lebaran ini nggak ada yang beli baju baru. Rasanya nggak perlu saja. Baju gue dan Shane banyak sekali dan kebanyakan masih bagus-bagus, jadi kami pikir bakal lebih wise kalau pakai yang ada saja. Gue pakai dress yang beberapa waktu lalu dibelikan Shane (sudah dipakai beberapa kali), sementara Shane cukup pinjam baju koko milik Bapak yang kebetulan sizenya cocok. Yang penting sih kami merasa kece (hahaha). Lagian nggak ada yang salah dong dengan pakai baju lama ;)




Setelah bermaafan kami langsung makan bersama, termasuk dengan Puja, adik gue yang datang untuk Lebaran. Berhubung gulai vegannya ekslusif untuk gue dan Shane, gue makannya benar-benar dipuas-puasin xD Lupa nambah berapa kali, yang pasti gue kekenyangan sampai mager! Kalau biasanya gue rajin ambil foto menu Lebaran, kali ini cuma gulai vegan yang gue foto. Lumpia, sambal goreng kentang dan lainnya kelupaan karena yang gue ingat cuma makan :D Ibu memang juara kalau soal masak (selain jago mendesain baju juga pastinya). Menu apapun bisa divegankan dan rasanya selalu pas. Bapak juga keren, cuma karena sedang kurang sehat saja beliau jadi nggak berkreasi tahun ini. Gue bersyukur sekali punya keluarga yang hangat dan selalu semangat tiap Lebaran (dan hari-hari penting lain seperti ultah, tahun baru, etc). Padahal jumlah kami cuma sedikit :'D



Tahun ini juga jadi tahun pertama gue dan keluarga bertemu Nenek lagi. Lebaran kemarin kami memang benar-benar sama keluarga inti saja dan nggak keluar rumah. Tapi tahun ini kami beranikan untuk berkunjung. Jarak rumah orangtua dan Nenek itu dekat sekali, beda satu block saja. Dan di sana juga hanya ada Nenek dan bibi yang jaga, jadi kami rasa aman. Nenek, yang gue panggil Emah senang banget pas kami ke sana. Malam Lebaran gue dan Shane sempat kirim cake Harvest kesukaannya via Gojek, jadi beliau nggak mengira kalau kami akan datang :D Saking happynya kami sampai terus ditawari makan, disodori ini-itu, pokoknya terharu :') Meski Shane baru kenal Nenek ketika dia berpacaran dengan gue tapi dia sudah merasa nyaman di rumahnya. Shane selalu bilang kalau ruangan belakang di rumah Nenek keren, ---entah kenapa, padahal Nenek tinggal di rumah lama. Mungkin karena dia bisa rasakan kalau keluarga kami nyaman berkumpul di sana, ya :D




Siang menjelang sorenya, gue dan Shane memutuskan sesuatu yang lumayan berat. Kami mau ke bioskop! Iya, setelah lebih dari satu tahun nggak menginjak mall apalagi bioskop (---supermarket pun sangat jarang), kami putuskan menonton film untuk pertama kalinya. Bukan tanpa alasan, ada sebuah film yang sangat ingin gue tonton dari sebelum Corona ini ada. Terlebih teman gue bermain di sana. Gue sudah janji padanya akan menjadi salah satu penonton pertama, alias nonton saat pemutaran perdana. Filmnya berjudul "Terima Kasih Emak Terima Kasih Abah". Terdengar familiar? Iya, para pemainnya adalah original cast dari sinetron dengan soundtrack yang liriknya seperti judul filmnya. Nggak perlu disebut pun gue yakin kebanyakan dari kalian sudah tahu sinetron apa yang gue maksud. Kenapa judulnya beda? Well, alasannya bisa dengan mudah ditemukan di google dan nggak akan gue sebut di sini karena gue takut salah ;)


Gue dan Shane sengaja memilih bioskop yang kosong, ---nggak di mall dan juga bukan tempat populer. Ortu awalnya khawatir dan hampir nggak mengizinkan, tapi setelah melihat jumlah penontonnya secara online, mereka lega dan merestui kami pergi. Setelah kami tiba pun jumlah penonton ternyata belum bertambah, hanya ada kami dan dua orang lainnya. Untung saja bukan nonton film horor, hahaha. Jadi bisa dibilang kami beruntung, belum lagi kelihatannya petugasnya rajin bersih-bersih kursi di tempat kami menunggu. Semakin merasa tenang, deh :) Sedikit review tentang filmnya, kami sangat menikmati ceritanya. Meski nama-nama pemainnya berbeda dengan nama-nama yang dulu kita kenal, tapi chemistry mereka nggak bisa bohong, dapet banget. Abah sama Emak sudah pasti cocok lah ya, ditambah anak-anaknya, Iis, Rara (dia teman gue yang barusan disebut) dan Gigi yang ternyata karakternya masih sama seperti dulu. (Sumpah, cuma namanya saja yang beda). Nostalgia habis-habisan deh gue nonton film ini. Sampai nangis berkali-kali, hehehe. Shane yang nggak mengenal keluarga Emak dan Abah sebelumnya pun tetap bisa enjoy karena ceritanya memang sederhana dan ada subtitle Bahasa Inggrisnya. Keren banget kan!




Filmnya memang nggak sempurna, di beberapa bagian ada audio yang kurang balance. Tapi somehow gue merasa kalau ini justru yang membuat filmnya jadi nostalgic. Jadi ingat waktu kecil menonton sinetronnya setiap pulang sekolah :) Lagipula buat gue film ini sudah cukup kuat kok HANYA dengan tokoh-tokohnya. Mereka begitu murni, nggak perlu audio atau visual yang fancy. Filmnya juga menurut gue straight to the point, nggak terlalu panjang dan bertele-tele seperti film drama kebanyakan (---inilah salah satu alasan kenapa setelah dewasa gue jadi lebih milih nonton film horor daripada drama, hehehe). Btw, ini bukan film yang "sekali lewat", alias sudah film selesai kami langsung lupa. Ada beberapa konflik di film yang membuat Shane bertanya tentang pendapat gue, apakah gue akan menyelesaikan dengan cara yang sama dengan tokoh di film atau nggak. Kami jadi berdiskusi dan berakhir dengan kesimpulan bahwa apa yang kami lihat di film mungkin nggak ideal di mata kami, tapi setiap keluarga pasti punya caranya sendiri dalam menyelesaikan masalah. Setiap langkah yang diambil tentu ada pertimbangannya. Kadang kita harus berkorban untuk menyelamatkan perasaan orang lain, ---dan untuk kami itu adalah pesan yang indah :)


Setelah filmnya selesai kami langsung pulang. Kami nggak mau berlama-lama di luar karena kami merasa lebih aman di rumah. Lagipula setelah menonton film tentang keluarga, gue jadi ingin hangout semalaman dengan Ibu, Bapak dan Ali, hehehe. Kalau Ali mau begadang lagi gue rela deh digangguin :p Jadilah kami begadang bersama, ngobrol sana-sini dan nggak lupa bercerita tentang film yang baru kami tonton juga. Nggak ada rencana apa-apa untuk esok hari, hanya kami menikmati waktu bersama :)


Kalau dulu hari Lebaran kedua kami masih kece, soalnya biasanya ada keluarga atau kerabat yang mampir. Nah berhubung ini Lebarannya covid style, jadi bangun pun siang-siang. Begitu bangun apalagi yang dicari kalau bukan masakan Ibu dan TV kabel :D Rasanya seperti hidup di keabadian, nggak perlu khawatir apa-apa, nggak perlu mikir mau ngapain. Semaunya saja, sampai tidur pun kadang di depan TV. Gue bawa satu dress batik sebenarnya, just for in case. Tapi kenyataannya gue pakai piama seharian, ---begitu saja terus sampai hari keempat, hahaha.


Ngomong-ngomong soal keabadian, di rumah orangtua memang segalanya selalu terasa sama. Seolah seperti gue nggak pernah meninggalkan rumah. Kamar gue masih terlihat sama, barang-barangnya terjaga. Bahkan mainan-mainan gue pun masih disimpan dengan rapi. Ada kejadian menarik waktu Ali sedang bermain dengan dua bonekanya; Yeye si boneka kucing dan Teddy, boneka beruang yang dulunya milik gue. Gue ceritakan pada Ali kalau dulu boneka itu adalah milik gue, jadi sebelum Ali lahir Teddy sudah ada lebih dulu. Gue pikir fakta itu akan membuat Ali surprise, tapi ternyata gue juga jadi ikut terkejut! Karena tiba-tiba saja Ibu bilang kalau Teddy, ---yang oleh Ibu dipanggil Brindil, bahkan lebih tua dari gue! Ternyata dulunya boneka itu milik Ibu, sebelum gue lahir. Wow... luar biasa ya... Seandainya saja Teddy punya ingatan, pasti yang ia simpan isinya lebih lebih lengkap daripada foto dan video yang kami punya, ya :D 



Saat pulang ke rumah orangtua juga jadi kesempatan buat gue untuk bercerita apaaaa saja yang belum sempat diceritakan selama kami nggak bertemu. Whatsapp-an sih memang setiap hari, video call juga sering, tapi nggak ada yang bisa menggantikan pertemuan langsung. Dari mulai yang serius-serius seperti soal visa, sampai yang nggak jelas seperti cerita tentang jemuran, semuanya puas gue ceritakan :D Gue yang pada dasarnya manja menjadi semakin menjadi saat bertemu Ibu Bapak, hahaha. Gue bersyukur baik ortu maupun suami sangat pengertian dengan sifat gue yang sebelas dua belas sama Ali ini. Saat gue sedang asyik dengan ortu pun Shane mengerti. Dia akan memberi gue ruang tanpa harus merasa "tersingkir". Biasanya dia akan bermain game atau membuat musik sampai waktunya kami kembali berkumpul. Gue juga melakukan hal yang sama. Saat Shane sedang ingin quality time dengan keluarganya lewat telepon, ---sekali pun itu berjam-jam, dengan senang hati gue memberinya waktu :)


Di hari keempat akhirnya Cody boy, keponakan gue yang satu lagi datang. Kabarnya sih dia sempat sakit pilek jadi nggak bisa berkumpul bersama kami di hari Lebaran. Bagaimana suasana rumah ortu gue setelah the babies kumpul lengkap? Waduh, jangan ditanya xD Ramainya mengalahkan kelas preschool yang dulu gue ajar. Gue mandi dicariin, gue pergi diikutin. Shane mau istirahat sebentar saja langsung dikepoin (baca: diintipin di kamar meski sudah ditegur). Tapi kami menikmati, sih. Apalagi gue dan Shane nggak bisa lama-lama untuk bertemu dengan si Cody boy karena harus pulang. Di rumah kami ada dua ekor ikan yang harus diurus. Kami khawatir kalau ditinggal terlalu lama akan terjadi hal-hal yang nggak diinginkan. 




Sebelum pulang, gue dan Shane puas-puasin dulu untuk bermain dengan the babies dan Eris, ---yang kelihatannya happy dengan baju barunya. Kami juga mampir ke supermarket dulu di perjalanan pulang karena stock makanan di rumah benar-benar kosong. (Selama bulan puasa kami kebanyakan delivery order, jarang sekali masak). Iya, kami pulang diantar ortu plus the babies juga! Jadi ada waktu ekstra untuk nambah quality time meski sedikit :) Kebetulan di supermarket tempat kami berbelanja ada foodcourtnya, jadi setelah selesai kami bisa ngemil-ngemil dulu sambil berpamitan. Hati ini berat sebenarnya. Kalau nggak malu gue ingin menangis rasanya, hahaha. Tapi gue tahan-tahan sampai ingetin diri sendiri kalau sebentar lagi kami juga pasti bertemu kembali. 









Begitulah cerita Lebaran kami yang "mewah", ---karena bisa berkumpul yang di saat seperti ini :) Doa gue masih tetap sama seperti tahun lalu; semoga tahun depan segalanya menjadi lebih baik. Tanpa mengurangi rasa syukur dengan apa yang gue dan Shane dapat di tahun ini, kami berharap dalam waktu dekat bisa kembali berkumpul dengan keluarga Shane juga. Kami sudah membicarakan tentang kemungkinan untuk mereka yang datang ke sini atau gue yang berkunjung ke sana. Tapi dengan situasi sekarang kami belum mendapatkan titik terang. Doakan, ya! :)

Dan mohon maaf lahir batin untuk teman-teman di sini. ---I know, I know, ini sudah bulan Agustus, hahaha. Tapi nggak apa-apa, dong. Untuk memulai sesuatu yang baik waktunya selalu tepat, kan ;)


______________________________

Btw, pas bulan Ramadan, gue dan Shane ikutan kontes musik "Ramadhan Home Recording Competition" yang diadakan oleh IMS Indo Pro Audio, De Sound, Ibanez Indonesia, Korg Indonesia dan Vox Indonesia. Kami membawakan lagu "Tombo Ati" dan berhasil masuk ke Top 20! Haha, nggak nyangka, ya? Sama gue juga :p Sayang kami nggak berlanjut ke 10 besar. Tapi berhubung kontesnya skala nasional dengan peserta yang banyak, jadi gue dan Shane sangat bangga. Lagipula, menang atau kalah yang dihitung itu prosesnya, kan ;)

Kalau penasaran dengan penampilan kami, klik videonya di sini: https://youtu.be/uRq9-slggEU




blessed girl,


Indi



---------------------------------------------------------------

Kontak email: namaku_indikecil@yahoo.com | Facebook: Indi Sugar | Instagram/Twitter: Indisugarmika | YouTube: Indi Sugar Taufik

Jumat, 18 Juni 2021

Scarlett Face Care. Apakah Sebagus Body Carenya? ;) (No Animal Testing Product)

Yuhuuuu, teman-teman! Happy banget dong gue sekarang lagi duduk di kamarnya si Ali (---iya, gue dan Shane membuat kamar untuknya di rumah kami) yang merangkap jadi kamar kerja gue buat menulis di blog! Haha xD Gue pernah cerita kalau salah satu resolusi tahun 2021 ini untuk kembali aktif di blog. Yang ingin diceritakan sih banyak, tapi yang susah itu justru mengumpulkan tekad :') Makanya gue merasa ini sebuah prestasi karena sejak masuk tahun 2021 gue bisa rutin menulis satu bulan sekali di sini. Yang absen hanya bulan Februari saja. Gue lupa alasannya, tapi kayanya karena gue dan Shane lumayan lama menginap di rumah orangtua, deh. Kalau menginap gue memang sengaja nggak bawa laptop, biar bisa fokus makan masakan Ibu :p Maunya sih nanti ditinggkatkan jadi sebulan dua kali, lalu tiga kali, dan... seterusnya sampai bisa kembali lagi seperti dulu. Soalnya apa pantas mengaku hobi menulis tapi menulisnya saja jarang? *sentil diri sendiri. Kondisi kulit gue sempat menurun lumayan banyak, dan sebabnya bukan sekedar aging yang amat sangat wajar dialami manusia. Tapi juga gaya hidup! Duh... semenjak WFH tahun kemarin gue dan Shane kerjaannya delivery order melulu. Awalnya sih dengan alasan biar nggak banyak cucian dan bagi-bagi rezeki sama abang G*food, eh ujung-ujungnya malah kebanyakan pesan vegan junk food. Belum lagi tiap break kerja gue cuma rebahan atau ngemil, sementara Shane mojok dengan gamenya. Apa itu ngegym? Duh, lupa, hahaha. Kesannya kaya sepele, tapi kebiasaan kaya gini bikin kulit gue lama-lama bermasalah. Pipi yang dulu jadi bagian wajah paling mulus sekarang mulai jerawatan (---ya iya lah, orang seharian nempel di bantal melulu, hiks). Kening dan garis rahang juga sama nggak amannya. Muncul bruntusan kecil-kecil yang kalau tersentuh agak keras, ampuuuun perihnya. Pokoknya gue sampai curhat sama Shane, kok nggak fair ya kulit dia tetap mulus meski jarang mandi dan makan "sampah", sementara gue langsung porak poranda, bhahahahaaa x'D


Untuk kulit tubuh sih nggak gitu kentara ya, dan seperti yang pernah gue ceritakan di post sebelumnya, gue sudah menemukan solusi dari kulit belang plus bekas luka di sikut gue. Sekarang tinggal kulit wajah gue, nih. ---Oh iya, keinginan gue untuk merawat kulit bukan semata tentang look, ya. Tapi karena gue ingin memperbaiki kesehatan kulit gue yang memburuk. Salah satu bentuk self love, ---gue sadar kemarin sudah abai ;)


Gue pun mulai mencari-cari face care yang cocok untuk kulit berjerawat. As always sumber pencarian utama gue dari internet dan dari teman-teman sendiri yang punya masalah kulit yang mirip. Gue mencari rekomendasi dan membaca review berbagai produk supaya ada gambaran. Nah, di tengah pencarian tiba-tiba gue menemukan brand yang sudah sangat familiar (gue pakai body carenya!), yaitu Scarlett. Awalnya gue pikir salah baca atau malah ini ada brand yang namanya mirip-mirip. Tapi setelah baca reviewnya sampai tuntas, gue yakin ini memang Scarlett yang gue kenal! :D Happy banget dong gue. Biasanya kan kalau dari brand yang sama kualitas produknya juga bakal sama. Langsung saja gue mampir ke akun instagram official Scarlett dan lihat-lihat produk face carenya. Ternyata mereka punya produk baru dalam bentuk krim wajah, serum dan facial wash. Lengkap banget! Dan kerennya ada dua varian, yaitu acne dan brightening. Jadi bisa dipakai sesuai dengan kebutuhan kulit wajah gue.


Nggak pakai nunggu lama, gue langsung saja order Scarlett Acne Day and Night Cream sekaligus dengan Brightening Facial Washnya. Harga per produknya Rp. 75.000, ---yang menurut gue sangat terjangkau (mengingat brand ini bagus tapi affordable, nilai plus banget kan). Gue order dari Shopee Mall nya, Scarlett Whitening Official Shop. Ini membantu banget karena di sana gue bisa lihat foto produknya sekaligus daftar kandungan dan cara pakainya. Lengkap dan bikin yakin nggak salah milih produk yang cocok buat gue. Tahu dong gue kadang suka agak canggung kalau harus nanya-nanya, jadi mendingan baca deh, hehe. Selain dari Shopee Mall kita juga bisa order lewat Line @scarlett_whitening dan WhatsApp di 087700353000, lho. Jadi kalau nggak punya akun Shopee pun bisa tetap mudah berbelanja. Yay :D


Waktu paketnya datang, gue langsung nggak sabar untuk buka dan coba semuanya. Berasa bocah yang lagi ultah xD Isinya aman sentosa, nggak ada bocor atau bahkan penyok (iya, termasuk dus-dus kecil buat creamnya juga). Tadinya gue sempat khawatir kalau facial washnya bakal bocor, soalnya waktu lihat fotonya di Instagram kemasannya pakai botol flip top gitu. Eh, tapi ternyata nggak sama sekali. Di bagian kepala botolnya dililit pakai bubble wrap. Kesan pertama waktu lihat secara langsung packaging produk-produknya gue langsung "aww" ing, ---cute parah dong! Hahaha. Warna-warnanya gue banget, ungu dan pink gitu. Langsung kebayang bakal cocok banget di pajang di meja rias gue. *Lho kok?? xD





Terus soal kualitas produknya gimana? Ternyata sesuai ekspektasi gue, dong, bagus banget :') Bakal panjang kalau diceritain, pokoknya belum 2 minggu sudah terlihat perkembangan dan bikin gue kembali pede untuk berfoto dari dekat lagi :') ---Eh, tapi kayanya mending gue review lengkap saja kali, ya? Siapa tahu ada yang sedang mengalami masalah kulit yang sama dengan gue. Toh gue juga tahu Scarlett dari review blogger kan awalnya, hehehe.




Scarlett Brightening Facial Wash

Jujur dari awal si facial wash ini lah yang paling menarik perhatian gue. Soalnya packagingnya ramping dan unik gitu. Isinya 100 ml di botol flip top yang aman (pernah gue masukkan pouch untuk menginap dan ternyata nggak tumpah kok sampai tujuan). Dari luar sudah terlihat isinya yang kelihatan cantik dan mewah. Gimana enggak, dilihat sekilas saja langsung ketahuan ada rose petal di dalamnya. Bikin penasaran seperti apa rasanya kalau dipakai! Waktu gue tuangkan ke tangan yang pertama gue notice itu aromanya. Lembut dan sweet banget, bikin mood gue jadi bagus, hehe. Teksturnya nggak sekental yang gue kira (---gue pikir bakal seperti gel gitu). Agak cair dan ada butiran-butiran gel yang lembut gitu. Rose petalnya bikin gemeees. Gue nggak langsung dapat di pemakaian pertama, tapi sekalinya dapat langsung bikin penasaran dan pengen mainin dulu, hahaha. 




Jadi di Scarlett Brightening Facial Wash ini terdapat kandungan glutathione, vitamin E, rose petals dan aloe vera. Manfaatnya untuk kulit adalah untuk membantu mencerahkan, membantu menutrisi serta mengecilkan pori-pori di wajah, membantu mengontrol kadar minyak berlebih, membantu menghilangkan bruntusan/jerawat dan membantu meregenerasi kulit wajah agar tampak lebih fresh. ---Yup, sangat cocok dengan keadaan kulit gue, kan :')



Baru kali ini gue pakai facial wash yang punya efek nenangin. Waktu gue aplikasikan ke wajah, aromanya enak banget. Dan lembut banget juga! :') Lagi jerawatan dan bruntusan gini kulit gue jadi terasa sensitif, kena sarung bantal saja nggak nyaman apalagi waktu cuci muka, kan. Tapi ini tuh nggak sakit sama sekali, yang ada malah terasa segar. Tipe kulit gue ini sebenarnya kombinasi, di kening dan dagu (hampir) selalu berminyak, tapi ada spots keringnya juga di bagian pipi akibat gesekan dari pemakaian kacamata selama belasan tahun. Nah, sehabis cuci muka pakai Scarlett facial wash kulit gue langsung terasa lembap, termasuk di tempat yang biasanya kering. Lembap lho, ya bukan berminyak. Jadi terasa terhidrasi gitu, ---halus, kenyal. Bikin gue mikir jangan-jangan selama ini gue salah milih facial wash ya? Buktinya ini bisa kok dry spots gue terasa halus. 


Nyaman waktu lagi jerawatan dan bruntusan buat gue adalah suatu kemewahan, hahaha, dan yes, Scarlett facial wash berhasil menenangkan wajah gue yang lagi ngambek ;)


Scarlett Acne Day Cream

Jujur nih, ini baru kali pertama gue pakai cream wajah yang ada day and night nya. Biasanya sih gue pakai cream yang baik siang atau malam. Soalnya dulu goal gue cuma supaya kulit jadi lembap. Tapi pas jerawatan gini baru terasa kalau gue harus perlakukan kulit wajah dengan sedikit ekstra :') Scarlett Acne Day Cream ini dikemas di jar 20 gr. Pas banget lah nggak terlalu kecil tapi juga nggak yang mungil-mungil banget. Warna labelnya ungu, sama dengan night creamnya. Bedanya yang day cream ini ada variasi warna putihnya. Jadi gampang buat dibedakan, nggak mungkin tertukar. 




Kandungannya Scarlett Acne Day and Night Cream ini terdiri dari CM Acnatu, poreway, double action salicylic acid, natural vitamin C, natural squalane, hexapeptide-8, aqua peptide glow dan triceramide. Yang semuanya itu bermanfaat untuk melembabkan dan menghidrasi kulit, menyamarkan pori-pori dan garis halus pada wajah, juga membantu meredakan peradangan jerawat dan menyembuhkan jerawat. 


Soal peradangan ini nih yang bikin gue concern. Seumur-umur belum pernah rasain punya jerawat sampai meradang gini :') Bikin kepikiran, huhu. Gue pakai Scarlett day cream ini setelah mandi pagi dan mencoba nggak sering-sering ngecek cermin (---selain kepikiran, gue juga gemes pengen mencetin). Ternyata efek creamnya langsung terasa, dong. Jerawat gue memang nggak langsung kempes, tapi merahnya berkurang banyak. Gue sampai bilang sama Shane kalau ternyata ada harapan buat jerawat gue, hahaha. Tekad gue untuk memperbaiki pola hidup (termasuk rajin mandi, lol) jadi semakin bulat. Gue bilang sama diri sendiri, "Indi, pasti bisa! Please cuci muka minimal 2 kali sehari dan pakai creamnya. Pasti mulus lagi!" xD




Tapi memang si Scarlett Day Cream ini bikin semangat lho. Begitu jar dibuka ada scent yang bikin gue awake dan pengen buru-buru oleskan creamnya di wajah. Gue nggak bisa jelasin kaya apa scentnya, yang pasti memang cocok buat pagi/siang hari. Oya, tekstur day cream ini bukan yang berat gitu, jadi benar-benar ringan. Bahkan hampir cair gitu, yang kalau jarnya digoyang-goyang creamnya bakal ngikut (---apaan sih, ahahaha). Dan itu gue suka banget karena gue kurang suka kalau wajah terasa berat. Jadi kalau harus keluar rumah dan ngerasa kepengen bedakan (jarang-jarang :p ), nah Scarlett Day Cream ini sama sekali nggak bikin lengket atau berasa pakai topeng :)


Scarlett Acne Night Cream

Setelah pakai night cream ini nih, gue jadi ngerti kenapa siang dan malam cream wajahnya harus beda. Dari scent dan teksturnya saja sudah beda. Yang ini scentnya lebih soft daripada day cream, cocok banget buat menjelang tidur, hahaha. Teksturnya lebih thick, tapi sama-sama nggak lengket dan bikin kulit terasa berminyak. Lembap saja gitu. Pas gue bangun tidur ternyata efek lembapnya nggak hilang. Kulit rasanya lembut dan kenyal. Efek seperti ini nih gue belum pernah rasakan di cream wajah terdahulu. Jadi jujur gue surprised, nggak nyangka bakal seenak ini efeknya x'D Menurut analisa sotoy gue, mungkin saja alasan kenapa tekstur night cream lebih thick daripada day cream supaya bisa "mengunci" kelembapan lebih lama. Soalnya kan kita tidur bisa sampai 8 jam sehari (---kecuali Shane yang bisa 11 jam, hahaha) dan selama itu pula kita nggak bisa apply ulang creamnya. Eh, tapi entah deh, yang pasti gue suka banget. Gue tidur dengan AC menyala tiap hari dan kulit gue aman-aman saja :D






Conclusion

GUE COCOK BANGET pakai rangkaian face care Scarlett! *mo nangis. Kulit wajah gue benar-benar membaik selama hampir 2 minggu ini. Bruntusan hilang sama sekali. Kening dan garis rahang gue sudah nggak bertekstur lagi. Padahal tadinya gue sampai pesimis nggak bisa hilang lho. Jerawat yang tersisa tinggal 2 dan lumayan besar, di garis rahang kanan dan pelipis kiri. Mudah-mudahan sih minggu ini hilang, soalnya gue harus kondangan, hahaha. PR gue sekarang tinggal hilangin bekas noda jerawatnya. Gue janji bakal berusaha rutin pakai Scarlett face care. Semalam apapun gue sampai rumah, sederas apapun hujan di luar sampai bikin mager, gue HARUS cuci muka pakai Scarlett brightening facial wash terus dilanjutkan dengan acne day and night creamnya xD Kalau tiba-tiba malas, gue ingat saja kalau menderitanya pas jerawat gue masih meradang, hahaha.


Sampai sejauh ini nggak ada alasan bagi gue untuk berpaling dari Scarlett. Soalnya sudah teruji bebas merkuri dan hydroquinon, teregistrasi BPOM, dan tentu saja nggak diujicobakan pada hewan. Bikin hati nggak was-was, kan? ;)





Kalau teman-teman gimana nih? Adakah yang punya masalah kulit berjerawat juga semenjak WFH? Sudah coba pakai Scarlett face care? Semangat terus ya untuk para acne fighter supaya kulitnya kembali sehat. Pasti bisa! ;)


smile,


Indi