Selasa, 18 Mei 2021

Traktiran yang Gagal :D

Teman-teman, ada yang merasa jenuh karena "belum bisa kemana-mana" kah?

Jujur, meski gue tipe orang yang bisa menikmati waktu di rumah tapi terkadang ada rasa jenuh dan "stuck" datang juga. Meski mall, kantor dan banyak tempat umum lainnya sudah dibuka tapi tetap sih gue merasa vibenya beda. Gue rindu hal-hal kecil macam ngemall pulang kerja, sekedar makan di kantin sehabis menjemput Ali atau bahkan bolak-balik dari rumah gue dan Shane ke rumah Ibu-Bapak tanpa takut "menyakiti" mereka. ---Terutama Bapak, karena usianya sudah di atas 60 tahun. Amit-amit deh kalau gue dan Shane tanpa sadar menjadi carrier :S Jadi untuk sekarang ini kami masih setuju dengan sesedikit mungkin keluar rumah. 


Seperti yang teman-teman tahu (---kalau mengikuti blog ini, hahaha), terakhir kali gue dan Shane pergi agak jauhan dan agak lamaan ya bulan Oktober tahun lalu. Itu pun karena anniversary pernikahan kami. Seandainya nggak ada yang dirayakan, tentu kami nggak akan kemana-mana. Awal tahun 2021 melihat teman-teman gue liburan bareng keluarga atau teman-temannya membuat hati gue hampir goyah, ingin rasanya berlibur juga. Tapi gue tahan-tahan. Karena awal tahun rasanya waktu yang "paling buruk" untuk meninggalkan rumah. Kerumunan dimana-mana, banyak orang mudik, dsb...

Sampai akhirnya bulan Maret kemarin gue utarakan juga keinginan gue sama Shane. Gue butuh liburan, gue butuh menghabiskan waktu dengan keluarga di tempat "baru", bukan sekedar makan-makan di rumah lalu nonton TV seharian. Gue butuh, bukan hanya ingin. Satu tahun rasanya sudah cukup, ---I deserve it, Ibu Bapak deserve it too. Kami BOLEH bersenang-senang di luar rumah dan gue yakin ini waktu yang tepat. Rasanya dada seperti hampir meledak karena akhirnya mengeluarkan perasaan yang sudah kelamaan gue tahan, hahaha. Dan... Shane juga ternyata setuju.


Gue juga punya satu keinginan lagi. Gue ingin staycation kali ini (---karena masih di Bandung juga liburannya) gue yang bayar. Semenjak menikah segalanya selalu dari Shane. Iya, gue mengerti bahwa uang suami adalah uang istri juga. Tapi sesekali gue ingin dong memberi dari kantong gue sendiri, ---meskipun nggak seberapa. Meski sempat ragu, Shane akhirnya mengerti dengan keinginan gue. Segera gue kabari Ibu dan Bapak, dan mereka senang sekali :) Mereka juga sudah rindu untuk bersenang-senang bersama kami, tentu saja. Gue jelaskan bahwa staycation ini murni ide gue, dengan budget yang nggak banyak. Ada rasa khawatir mereka nggak akan menikmati kamar hotel sederhana dan suasanya. ---Terutama Shane yang sejauh ini belum pernah menginap di hotel di bawah bintang 4. Tapi mereka meyakinkan gue kalau kami semua pasti akan bersenang-senang, dan itu bukan tergantung tempat. Gue pun menjadi lega dan nggak sabar untuk segera pergi bersama mereka!


Ada 3 pilihan hotel yang sesuai dengan budget gue. Ketiganya nggak terlalu jauh dari rumah kami dan rumah orangtua. Gue biarkan Ibu yang memilih karena inginnya sih selain menginap kami juga bisa sedikit jalan-jalan. Pilihan Ibu jatuh ke POP Hotel yang berada di Festival Citylink. ---Iya, di dalam mall! Hahaha, ide bagus juga, jadi kami nggak perlu jauh-jauh dari tempat menginap kalau mau main :D Waktu gue cek foto-foto kamar hotelnya di internet sebenarnya agak ragu, sih. Soalnya baru kali ini lihat kamar hotel yang begitu plain dan fasilitasnya "seadanya". Bahkan Shane sempat bergurau kalau kamarnya terlihat seperti sel tahanan, hahaha. Tapi gue mengerti kok, namanya juga hotel budget. Kalau nggak suka ya salah gue dong kenapa nekad mau bayar sendiri :p Jadinya sehari sebelum kami menginap gue berdoa terus semoga semuanya happy. Jangan sampai niat gue mau ngajak senang-senang malah jadi sebaliknya :D


Supaya perginya bareng-bareng, Ibu dan Bapak menjemput gue dan Shane di rumah kami. Ali juga ikut karena dia memang sering menghabiskan waktu dengan orangtua gue (---semacam anak bungsu lah dia jadinya, hahaha). Sempat ada "insiden". Karena gue sudah siap, jadi gue turun duluan ke lobby (kami tinggal di apartemen) untuk menunggu jemputan ortu. Eh, waktu Shane turun dia cuma bawa badan doang dong! Nggak bawa tas atau apalah. Dia cuma pakai kemeja yang didouble, ---yang warnanya sudah dia sesuaikan dengan dress yang gue pakai. Mau ngambek tapi kocak juga, bhahaha. Apalagi ortu sudah terlanjur jemput, lama lagi kalau naik ke atas jadi sudah lah xD Shane masih belum ngeh kalau hotel yang mau kami inapi nggak menyediakan amenities seperti hotel pada umumnya. Ya... ada sih sabun mandi kecil sebatang, sikat gigi juga cuma satu. Masa mau dipakai berdua? Hahahaha xD


Ketika tiba ternyata benar, hotel berada di satu gedung dengan mall. Tampilan lobbynya berwarna-warni dan simple. ---Lebih mirip warnet sih kalau dibandingkan lobby hotel. Ada dua buah komputer yang bisa dipakai umum dan banyak meja-kursi model kafetaria. Benar-benar "lain", dan gue excited sekali untuk melihat kamar hotelnya!

Sengaja, gue minta agar kamar orangtua bersebelahan dengan kamar gue dan Shane. Supaya kalau mau apa-apa mudah. Gua dan Shane antar dulu Bapak dan Ali ke kamar mereka, ---sementara Ibu pulang kembali ke rumah karena masih ada pekerjaan dan menyusul kemudian. Persis seperti di gambar, desain kamar sangat simple dan amenitiesnya sangat terbatas (satu buah kasur besar plus ekstra bed tapi hanya ada perlengkapan mandi untuk satu orang). Tapi melihat reaksi Bapak dan Ali kekhawatiran gue 100% sirna! Mereka benar-benar gembira. ---Terutama Ali yang langsung sibuk mengecek semua benda di kamar. Dari mulai lampu, TV, sampai kamar mandi, hahaha. 


Bapak dan Ali bersantai setelah tiba di kamar hotel.


Foto bersama yang diambil dengan menggunakan timer. Handphone kami senderkan ke wastafel, hahaha.


Gue dan Shane lalu pamit untuk ke kamar kami yang tepat berada di sebelah kanan kamar Bapak. Isinya sama, tentu saja. Yang berbeda hanya letak furniturnya saja yang berlawanan (mirroring dengan yang di kamar Bapak). Dan... di sinilah kami baru ngeh kalau ada yang kocak dengan desain kamar mandinya. Saking kocaknya gue sampai kembali ngakak waktu menulis ini xD Jadi kalau biasanya di hotel ada kamar mandi dalam artian sebenarnya (benar-benar KAMAR), nah di sini modelnya seperti kapsul. Hanya berdinding kaca dengan pintu dorong! Ya, kalau di kamar sendiri nggak apa-apa lah ya. Tapi kalau seandainya menginap dengan teman, gue sih ogah pas lagi mandi teman bisa lihat siluet badan gue, hahaha. Gue sempat rekam Shane yang sengaja joged-joged gitu di kamar mandi, buat buktiin kalau orang di luar memang bisa lihat dia dengan jelas xp (Vlog ada di channel YouTube "Indi Sugar Taufik").


Matching outfits kami. Shane benar-benar cuma bawa baju yang nempel di badan. Dia rangkap 2 kemeja sekaligus xD


Gue dan Onci, boneka kelinci gue. Gak terpisahkan sejak usia gue 8 tahun ;)


Berada di satu gedung dengan mall manfaatnya baru terasa saat malam tiba. Perut lapar nggak perlu khawatir karena tinggal jalan saja ke supermarket :D Di hotelnya sendiri memang nggak banyak pilihan makanan. Semuanya modelan ready to eat gitu yang disajikan di dalam kotak. Gak bisa customize jadi tentu saja nggak cocok untuk gue dan Shane yang vegan. Bapak pun memilih untuk makan malam dari luar saja. Yang beli makanan dari hotel cuma si Ali, hahaha. Dia kepengen es krim yang ternyata waktu gue cek harganya di supermarket (yang jaraknya literally beberapa langkah saja) cuma setengah dari harga yang dibayarkan, hahaha. Gue sih nggak makan berat, karena selain nggak lapar-lapar amat, Shane juga sedang sakit kepala. Jadi kami memilih untuk kumpul-kumpul lagi di kamar Bapak sambil ngobrol kesana-kemari. Duh, rasanya kepengen nangis saking happynya. Rasanya masih kaya mimpi bisa main sama keluarga di tengah pandemi kaya gini. Pokoknya tiap detik gue nikmati banget. Ngantuk juga gue tahan-tahan, soalnya entah kapan lagi kami bisa main bareng di tempat umum :')


Sekitar jam 9 malam, gue dan Shane kembali ke kamar kami. Gue sih langsung cuci muka dan ganti baju pakai piyama sementara Shane cemal-cemil sambil bersantai di tempat tidur. TV menyala, dan ada beberapa film yang kami sukai. Tapi gak benar-benar kami tonton sih karena lama-lama mengantuk juga, hehehe. Kesan seperti sel tahanan ternyata nggak terasa setelah kami benar-benar menghabiskan waktu di kamar. Kebersihannya cukup bagus dan tempat tidurnya terasa nyaman. Kami pun nggak ada masalah untuk terlelap seperti bayi :) 

Oh, by the way, ternyata niat gue untuk "staycation kali ini disponsori oleh GUE" digagalkan oleh Ibu Mertua, hahaha. Sepertinya Shane diam-diam bilang sama ibunya kalau kami sedang berada di hotel. Soalnya beliau tiba-tiba saja bilang kalau kami boleh menggunakan kartu kreditnya untuk membeli apa saja yang kami mau :/ Aduuuh, rasanya jadi campur aduk, deh. Antara "malu" karena gue kekeuh banget pengen liburan, sama senang karena punya mertua murah hati, hahaha.


Tapi yang namanya orangtua memang begitu, deh. Bapak saja yang sudah jelas tahu kalau gue SANGAT ingin mengtraktirnya tetap saja berusaha menyelipkan uang ke tangan gue saat akan mengajak Ali makan es krim. Huaaa, bikin terharu T_T Padahal gue sama Shane juga nggak muda-muda amat. Lah, yang seumur gue sudah punya cucu saja ada :p Maaf nih kalau pembahasannya jadi ngelantur-lantur... Sejak hari pertama gue dan Shane menikah kami memang bertekad untuk hidup mandiri. Langsung move out dan memiliki rumah sendiri meskipun super mungil. Sebisa mungkin kalau ada apa-apa berusaha berdua dulu sebelum meminta bantuan orangtua (---baik ortu gue atau mertua). Kadang gue merasa kalau mereka terlalu khawatir sama kami. Khawatir lapar lah, atau khawatir nggak pernah belanja lah. Padahal kaminya nggak kenapa-napa :') 


Anyway, kami tidur nyenyak. Kabarnya sih si Ali baru tidur tengah malah saking senangnya, hahaha :D Kami nggak sarapan di hotel dan memilih membeli sendiri saja. Gue mandi juga akhirnya, meskipun kesyel banget karena pintunya transparan :p Shane sih memilih menggosok gigi saja dan mengganti kemejanya dengan yang (again) match sama dress gue. Dari wajahnya dia kelihatan lebih segar, yang mana bagus karena artinya sakit kepalanya sudah membaik. Ibu membawakan kami obat sih sebenarnya, tapi Shane nggak mau minum obatnya karena takut terlalu sering. Tadinya gue sudah deg-degan saja kalau dia sakit, ---bisa-bisa liburan kami gagal. (Segagal traktiran gue, lol).



Morning selfies. Sambil menunggu Shane yang sedang bersiap-siap :)


Dari kemarin Ali sudah request untuk berenang dan bermain di Kids Club, tapi batal karena fasilitas hotel tutup lebih cepat dengan alasan keamanan. Jadi kami beramai-ramai ke kolam renang yang letaknya ternyata berada di Hotel Harris (---mereka satu management, dan POP nggak punya kolam renang sendiri). Yang nyemplung cukup Ali. Sisanya menunggu di pinggir kolam. Kenapa? Ya iyalah, masih pagi dingin banget kan xD Ali meski gemetaran tetap saja semangat ciprat-ciprat. Mungkin karena dingin dia jadi lupa caranya berenang, haha. Nggak apa-apa, ya, yang penting happy :) Nggak terasa matahari semakin naik. Yang tadinya kedinginan lama-lama kami malah ingin berlindung dari teriknya matahari. Untung ada area untuk berteduh dan duduk-duduk. Kami istirahat dulu di sana sebentar sebelum ke Kids Club, ---yang rupanya kosong melompong. Mungkin karena sedang pandemi jadi tamu hotel lebih memilih di kamar saja. Ali cuma menghabiskan waktu sebentar saja di sana, lalu kami kembali ke kamar hotel sambil berpikir mau ngapain lagi :D





Ali dan Bapak menikmati kolam renang berdua saja :D 


Kids club yang serasa milik Ali sendiri, hahaha.



Lumayan banget lho, meski hotelnya sederhana tapi ada area terbuka buat duduk-duduk gini. Bapak senang banget di area ini :)


Seperti kemarin, kami ngumpul-ngumpul lagi di kamar Bapak. Ngemil-ngemil, mulai beres-beres sambil menunggu Ibu yang sedang ke Panti Asuhan untuk Jumat Berkah. Perut gue sudah lumayan lapar (lagi), tapi belum tahu mau makan dimana. Jam 10 pagi restoran di mall juga belum banyak yang buka, jadi pilihan mungkin terbatas. Akhirnya kami putuskan untuk check out awal saja begitu Ibu datang. Soalnya memang sudah nggak ada aktivitas lagi yang bisa dilakukan di hotel. Pilihan Ibu memang nggak salah ya, kami jadi nggak mati gaya karena bisa jalan-jalan ke mall, hehehe. Eh, tapi bukan berarti di hotel membosankan lho. Ini pendapat pribadi gue, yang 100% jujur. Kalau bisa kasih nilai, gue kasih POP Hotel ini 4 dari 5 bintang! Desain boleh sederhana dan wifi sering macet, tapi kamarnya nyaman dan bersih. Untuk teman-teman yang ada rencana ke Bandung dan on budget tapi mau tetap nyaman, gue rekomendasikan hotel ini (---catat, bukan untuk yang suka dengan "kemewahan" hotel pada umumnya ya, ini hotel murah). Nggak endorse lho gue, ini murni pendapat gue xD


Setelah check out sambil menunggu Ibu. Ali langsung angkat kamera seperti ini ketika tahu akan gue foto. Katanya dia mau foto juga :D


Kalau mau ngikut budget gue, seluruh keluarga paling gue traktir pizza, lol. Tapi Shane bilang supaya gue bilang sama orangtua gue untuk memilih restoran yang mereka suka. Mall masih sepi banget, dan ini jadi punya sisi baik karena artinya kami lebih leluasa memilih. Mau pilih apapun bakal berasa punya pribadi, hehe. Ortu tentu menyerahkan pada kami karena mereka ingin tempat yang netral, yang punya menu ramah vegan dan punya pilihan non vegan juga. Akhirnya kami memilih Ta Wan, yang hanya ada menu vegetarian tapi lumayan lah masih bisa special request agar jadi vegan :) Ajaibnya, setelah 2 hari 1 malam bersama, justru moment di restoran inilah yang menurut gue menjadi highlight staycation kami. Suasana begitu hangat dan menyenangkan. Karena sambil makan masker pun ditanggalkan, dan berbincang sambil saling menatap wajah-wajah yang gue cintai rasanya luar biasa sekali. Gue sampai lupa kalau keadaan sedang nggak baik-baik saja. Gue merasa ini adalah moment ternormal yang gue rasakan semenjak tahun lalu. Kalau ada kata untuk "amat sangat bahagia, bahkan lebih bahagia", maka itulah yang gue rasakan.


Sambil menunggu pesanan kami datang semua, kami minta tolong untuk diambilkan foto bersama :D


Selesai makan gue sadar kalau waktunya berpisah semakin dekat. Tapi ternyata Shane mengajak kami berbelanja dulu. ---Lagi-lagi ada pesan dari Ibu Mertua yang berpesan agar kami membeli apa yang kami inginkan :') Mumpung sedang di mall katanya. Meski rasanya nggak enak, karena semakin gagal lah traktiran gue (ini malah gue yang ditraktir terus, hahaha) tapi deep inside gue senang karena jadi punya waktu lebih lama lagi buat jalan-jalan keliling mall sama Ibu, Bapak dan Ali :"D 

Klasik, tapi benar adanya. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Mau dilama-lamain kaya apa juga kami harus pulang ke rumah masing-masing T_T Karena Ibu yang membawa mobil, jadi gue dan Shane diantarkan dulu ke rumah kami. Hanya sampai lobby dan rasanya jadi "dadah" terberat gue sepanjang sejarah (---maaf lebay, hehe). Waktu kami naik ke atas rasanya masih surreal, kaya nggak nyata saja gitu. Untuk dua hari rasanya hidup kami normal kembali. Dan ini membuat hati gue sedikit mencelos. Kapan ya kami bisa benar-benar seperti ini tanpa harus menunggu moment istimewa? Karena meski sudah satu tahun tetap saja kami nggak bisa (dan nggak mau!) terbiasa dengan kehidupan yang seperti ini. Kami kangen "hidup lama" kami. 


Ah, tapi gue nggak mau kerinduan gue mendistraksi gue dari rasa syukur. Mau seperti apapun keadaan dunia saat ini, nggak akan mengubah fakta kalau 2 hari yang kami habiskan bersama sangat LUAR BIASA. 

Meski gue gagal mengtraktir!

Karena setelah dipikir-pikir gue malah sangat bersyukur. Kalau saja Ibu Mertua nggak maksa traktir pasti waktu bertemu kami lebih singkat. 


Everything happen for a reason ;)


Vlog kami. Jangan lupa nonton ya :) Untuk pengguna mobile klik di sini.


Edit: Berhubung ada 2 komentar yang bilang kalau kolam renangnya nggak besar (—-karena sebelumnya gue hanya post bagian kiddy pool). Tuh, gue sudah tambahkan foto kolam renang yang mudah-mudahan bisa jadi gambaran sebesar apa ukuran sebenarnya xD Lumayan besar kok ini, sesuai saja dengan kapasitas tamu hotel yang nggak terlalu banyak ;)


blessed girl,


Indi

---------------------------------------------------------------

Kontak email: namaku_indikecil@yahoo.com | Facebook: Indi Sugar | Instagram/Twitter: Indisugarmika | YouTube: Indi Sugar Taufik

Selasa, 27 April 2021

Scarlett Whitening, Not tested on Animals, Halal, —-Kira-kira Sebagus Apa, ya? ;)

Yuhuuuu, gimana nih puasanya, teman-teman? :D Nggak terasa ya tahu-tahu sudah Ramadan. Padahal rasanya baru kemarin gue cerita tentang tahun baru. ---Eh, itu sih gara-gara gue nya saja yang sering absen cerita, ya :p Kebanyakan absen sampai-sampai waktu gue cek kolom komentar di postingan gue kemarin, banyak yang baru tahu kalau gue sudah menikah. Astagaaa, sudah masuk tahun ketiga iniiiih, hahaha. Maafkan :p Salah satu goals gue tahun ini adalah supaya balik rajin menulis lagi di sini. Masih angin-anginan, tapi gue janji nggak bakal terlalu manjain kebiasaan "mager" gue. (Buat teman-teman silakan banget lho kalau mau sentil gue secara online kalau tiba-tiba semangat gue kendor lagi, hahaha)
Tapiiiiii, ada lho salah satu resolusi tahun ini yang sudah mulai jalani dan sudah mulai kelihatan hasilnya. Gue mau punya kulit lebih sehat! Yang mengikuti gue di instagram mungkin tahu lah ya kalau sejak tahun kemarin gue mendampingi Ali les berenang. Kulit gue jadi belang dong, terutama bagian lengan :') 

Jadi sejak awal tahun 2021 gue langsung mencari-cari body care yang pas. (Ya, siapa tahu pas Lebaran kulit gue sudah mendingan gitu, hoho). Nggak cuma yang "sekedar" bisa bikin kulit gue cerah dan kelihatan fresh, tapi gue juga secara spesifik mencari produk yang nggak diujicobakan sama hewan. Ya masa dong gue sudah nggak mengkonsumsi hewan tapi tetap menyakiti hewan demi cantik :') Akhirnya pilihan gue jatuh kepada Scarlett Whitening. Selain yang sudah gue sebutkan barusan, pertimbangan lainnya juga karena sudah banyak yang mereview. Bahkan teman gue (haloooo Angie!) juga pakai, jadi setelah sedikit tanya-tanya gue mantap semantap-mantapnya untuk ikutan pakai Scarlett.



Gue pesan melalui Instagram officialnya, @scarlett_whitening. Tiga produk sekaligus, yaitu body scrub Romansa, shower scrub Pomegrante dan body lotion Freshy. Harga satuannya Rp. 75.000, ---yang gue pikir sepadan banget, secara lotion dan body showernya saja isinya 300 ML, dan body scrubnya 250 ML :) Waktu paketnya datang sejujurnya gue sempat khawatir, soalnya produk perawatan kulit gini biasanya bocor di perjalanan. Terutama di bagian tutupnya gitu. Pengalaman banget soalnya pas ke Singapore 2 tahun lalu gue sempat nangis kejer karena lotion yang baru gue beli porak poranda pas dititip di ransel Shane, hahaha. Tapi ternyataaaaaa... aman, saudara-saudara! Paketnya selamat luar dalem banget (apaan sih, hahaha). Soalnya dikemas pakai kardus coklat tebal (yang sekarang gue pakai untuk menyimpan kartu pos) dan tiap produknya dilapisi bubble wrap (kecuali body scrub karena kemasannya beda, bukan botol). Lega dan happy banget deh rasanya :') 



Eh, by the way, by the way... gimana kalau sekarang sekalian gue review saja produk Scarlett nya? Kan sudah lumayan lama juga tuh gue nggak review body care di sini karena kemarin-kemarin belum nemu yang cocok. Apalagi sejauh ini gue beneran cocok banget sama produk-produknya. Siapa tahu ada yang punya problem kulit seperti gue juga atau at least penasaran.
Setuju dong, ya? Iya. (---Lah, jawab sendiri, lol).

Tentang Scarlett Whitening
Jadiiii seperti yang sudah gue bilang sebelumnya, sebelum memilih Scarlett gue sempat cari tahu dulu tentang produk-produknya. Begitu gue ketik di internet langsung muncul banyaaaak banget testimoni dari yang sudah pernah memakainya. Nah, selain nggak diujicobakan pada hewan (not tasted on animals), yang nggak kalah pentingnya Scarlett ini ternyata sudah teregistrasi di BPOM dan halal. Nggak cuma halal katanya-katanya doang, tapi pas gue cek memang sudah ada logo MUI nya. Ketiga produknya (body scrub, shower scrub dan body lotion) mengandung glutathione dan vitamin E yang berfungsi untuk mencerahkan, melembabkan dan menutrisi kulit. Pas banget sama yang sedang gue butuhkan!



Body Scrub Romansa
Jujur waktu pertama kali gue buka paketnya, body scrub nya lah yang paling mencuri perhatian. Kemasannya cute banget (tahu lah gue paling lemah kalau soal kemasan cute, hahaha). Warnanya putih dengan bunga-bunga pink yang cantik. Ketika dibuka ada segel hologramnya yang menurut gue memberi kesan ekslusif dan mewah. Aroma lembut nan romantis langsung tercium begitu gue melepas segelnya. Asli bikin relaks banget, padahal belum juga gue pakai lho xD Gue cukup akrab dengan produk body scrub. Maklum pengguna scoliosis brace senior pasti harus sering-sering scrubbing. kalau nggak bisa kapalan :p Nah, body scrub nya Scarlett ini berbeda. Teksturnya lebih halus dibanding scrub lain, jadi waktu diaplikasikan sama sekali nggak bikin sakit dan pedih (---you know, perasaan itu lho waktu bulu-bulu halus kita ikut ketarik gara-gara scrub, haha). Bisa dibilang effortless, karena gue tinggal oles-oles sampai rata ke seluruh tubuh (dalam keadaan tubuh kering), tunggu 2 sampai 3 menit, gosok-gosok, terus dibilas deh. 







Nggak harus yang gosok-gosok pakai penuh tenaga gitu. Meski teksturnya lembut tapi tetap efektif kok untuk menganggat kotoran. Gue sampai puas banget lihatnya daki sama sel kulit mati (eh, ini sama nggak sih?) rontok dari badan gue, huehehe... xD Apalagi dengan wanginya yang lembut-lembut gitu bikin gue berasa lagi di spa. Nggak perlu pakai lilin-lilin aromaterapi lagi di kamar mandi deh, pakai ini juga cukup, hoho...
Waktu pertama kali nyoba, gue masih inget banget Shane langsung komentar kalau kulit gue jadi kelihatan makin fresh! Dan gue sih percaya banget kalau dia yang ngomong. Soalnya dia kan jarang banget kasih komentar, tapi sekalinya bersuara pasti jujur, hahaha.

Brightening Shower Scrub Pomegrante
Ini nih yang botolnya gue khawatirkan bakal bocor selama di perjalanan tapi ternyata aman :D Kesan pertama waktu melihat produknya kok lucu amat sih kaya slime mainan punya Ali. Bikin gue nggak sabar mau pakai :D Kemasannya botol plastik transparan dengan tutup flip top. Bisa terlihat dari luar kalau isinya berwarna ungu dengan bintik-bintik (---yang ternyata bulir-bulir scrub) berwana biru. Berbeda dengan body scrub nya yang beraroma kalem, yang ini sedikit lebih strong dan playful. Tapi nggak menyengat ya, justru segar. Bikin semangat kalau dipakai mandi pagi. Sebelum gue coba pakai shower puff, gue coba dulu tuangkan shower scrubnya ke telapak tangan. Modelnya ternyata gel gitu, sedikit kental tapi nggak susah untuk dikeluarkan dari botol. Gue selalu mandi pakai puff, dan itu bikin busanya banyaaak banget. Padahal gue pakainya sedikit lho. Efeknya setelah pemakaian pertama, kulit gue langsung terlihat dan terasa segar. Mungkin karena ada bulir scrub yang bikin proses membersihkan tubuh jadi maksimal, ya. Meski begitu bukan berarti bikin kulit gue jadi kering, justru malah terasa semakin lembap. Oya gue juga minta Shane untuk mencoba shower scrubnya (karena gue istri yang baik dan suka berbagi, hehe). Sejauh ini dia pun cocok. Jadi aman dong untuk bilang kalau produk ini bisa dipakai tipe kulit kering seperti gue dan berminyak seperti Shane ;)









Fragrance Brightening Body Lotion Freshy
Waktu gue lihat kemasan botolnya, seketika gue langsung teringat insiden lotion gue yang porak-poranda di ransel Shane, hahaha. Seandainya saja dulu gue sudah kenal dengan lotion Scarlett pasti nggak akan terjadi :'D Botolnya model pump yang kerennya ada option open dan stopnya. Ini sih game changer banget, astagaaa. Soalnya dari sekian banyak produk body care, lotion adalah produk PASTI yang selalu gue bawa kalau traveling. Gue surprise banget sama aromanya yang mewah. Kayanya sejauh ini belum pernah deh nemu lotion dengan aroma seperti ini. ---Seperti wangi Jo Malone English Pear & Freesia eau de cologne! Nggak perlu pakai parfum lagi pun tubuh gue sudah wangi maksimal. 
Konsistensi lotionnya cukup thick. Juga nggak lengket di kulit karena cepat banget meresap. Pernah nggak sih pas buru-buru, badan sudah pakai lotion tapi nggak bisa langsung pakai baju karena takut nempel-nempel? Nah, ini sih nggak. Beberapa saat setelah pakai lotion yang ditinggalkan hanya wangi mewah dan perasaan nyaman di kulit saja, no lengket-lengket club :D Sama seperti ketika habis memakai body scrubnya, setelah memakai Scarlett body lotion Freshy ini gue juga bisa langsung melihat kalau kulit gue cerahan. Dan ini tuh nggak yang bikin kulit pucat ya atau malah jadi terlihat seperti habis pakai foundation. Tapi cerah yang alami dan segar. Susah sih kalau dijelaskan pakai kata-kata. Lihat saja fotonya biar kalian yang menilai, hehe :D






Kesimpulannya, gue puas dan happy banget sama Scarlett Whitening ini. Kayanya resolusi kulit sehat dan no belang-belang gue sukses nih sebelum Lebaran (Amin...) xD 
Gue sih nggak ada niatan mengubah warna asli kulit gue. Yang terpenting sehat, complexionnya rata dan terlihat cerah. Cerah dalam artian nggak kusam ya, bukan kulit putih seperti dibleach gitu karena itu mah nggak alami. Kalau tampilan kulit gue bisa lebih baik kan why not? Iya nggak ;)
Teman-teman yang penasaran sama Scarlett gue saranin buat langsung meluncur (---aih, bahsanya ketahuan umur, lol) ke Instagram mereka di @scarlett_whitening. Oya, gue juga baru tahu kalau selain via DM Instagram kita juga bisa pesan produknya melalui nomor whatsapp 087700353000, akun Shopee @scarlett_whitening dan Line @scarlett_whitening. Tapi pilih salah satu saja ya, jangan kirim pesan ke semuanya sekaligus, hehehe. Gue kemarin sih beli satuan (@ Rp. 75.000, seperti yang sudah gue sebutkan). Kalau mau lebih hemat tersedia juga paket berisi 5 item dengan box exclusive dan free gift dengan harga Rp. 300.000. Rencananya kalau yang gue punya ini sudah habis mau pesan paket hematnya saja. Biar sekalian buat stock dan buat bawa ke rumah orangtua juga, supaya Ibu bisa cobain :D

Teman-teman ada yang punya resolusi 2021 sama kaya gue juga nggak, nih? Kalau ada, ---atau apapun resolusinya, semoga tercapai ya! Selamat berpuasa! :)



 

Minggu, 14 Maret 2021

Wedding Anniversary Kedua: Sempat Lupa dan Penuh Kejutan!


Yuhuuu! Di tulisan sebelumnya gue cerita soal Halloween yang berdekatan dengan hari jadi pernikahan gue dan Shane. Sedekat apa? Dekat banget, hahaha :') Dan sekarang gue mau bercerita tentang keseruannya, ---atau, um.. "keribetannya" :D


Seperti yang gue ceritakan sebelumnya, gue dan Shane menginap di rumah orangtua beberapa hari sebelum Halloween. Selama di sana, as always, gue cuma mager, sampai-sampai lupa hari. Apalagi gue juga lagi mens, jadi bawaannya malas mikir, hahaha. Sebelum pulang, pas gue bangun tidur Shane nanya, "Kamu pengen main ke suatu tempat nggak? ---Eh, tapi kalau lagi sakit perut kamu nggak mau kemana-mana, ya?" Gue, yang saat itu nggak ngeh cuma jawab, "Iya." Mana tahu kalau maksud pertanyaan suami gue itu adalah kode... HARI JADI PERNIKAHAN KAMI YANG KEDUA! Ahahaha :')


In my defense, gue lupa bukan tanpa alasan. Pernikahan kami diselenggaran secara humble dan hanya dihadiri keluarga inti. Nggak banyak orang tahu kalau kami menikah waktu itu. Bukan ditutupi, tapi kami ingin pernikahan menjadi moment yang intim. Nggak pakai milih tanggal dan lain sebagainya. Setelah punya cincin, besok paginya kami langsung ke KUA. Sudah, begitu saja. Jadi kami nggak menganggap tanggal itu hal penting, tapi moment pernikahannya lah yang dikenang :) 


Entah gimana awalnya, ketika sampai di rumah gue ingat kalau 26 Oktober 2 tahun yang lalu kami menikah. Otak gue pun langsung ber "ooooh.... oooooh pantesan" ria. Langsung saja gue minta maaf sama Shane karena nggak mengerti kode dia, hahaha. Tapi seperti yang gue duga, dia sih cuek. Katanya kalau di selimut pemberian mertua gua nggak ada tanggal pernikahan kami dia pun nggak ingat. Dan menurutnya tanggal berapapun kami merayakan nggak penting. Yang penting setiap tahun diperingati, ---istilahnya cherish the memories :) Gue bilang, gue nggak keberatan kalau besoknya kami pergi jalan-jalan, atau menginap di suatu tempat. Gue yakinkan Shane kalau sakit perut gue pasti segera baikan. Kami pun mulai survey tempat mana saja yang bisa dibooking dan nggak terlalu jauh dari rumah kami.


Setelah scroll atas bawah di laptop selama 10 menit, entah kenapa gue tiba-tiba pengen menginap di Trans Luxury Hotel. Kepengennya itu nggak main-main, gue sampai nonton video reviewnya segala, hahaha. Shane sih menyerahkan pada gue, katanya kalau gue suka tempatnya dia juga pasti suka. Senang banget dong gue dapat restu :D Nggak pakai nunggu lama gue langsung buka websitenya dan cantumkan tanggal rencana menginap. 27 Oktober 2020. ---Masih loading... 1... 2... Oh no! Ternyata penuh. Oke, oke, gue coba 28 Oktober 2020. 1... 2... 3... ---dan ternyata masih penuh juga! Huhu, kecewa dong gue... Tapi gue nggak kehabisan akal, gue whatsapp langsung saja hotelnya. Siapa tahu kalau bilang buat anniversary bisa "diada-adain" :p 

Jawaban pertama adminnya bilang kalau kamar hotel yang include tiket bermain di Trans Studio sudah penuh. Di pikiran gue, oh okelah berarti yang non paket masih ada. Jadi gue bilang nggak apa-apa. ---Meski sebenarnya ingin sambil main, tapi gue pikir better than nothing lah ya... :') Tapi setelah ditunggu-tunggu ternyata jawabannya masih sama, nggak ada kamar kosong. Ngerasa sia-sialah gue nunggu. Harapan terakhir gue cuma bilang gini sama adminnya, "Mas, Mbak, kalau ada yang cancel tolong kasih tahu ya. Terserah deh kamarnya kaya gimana juga." (Gue ngetik sambil berkaca-kaca, bhahahaaa...).


Dan akhirnyaaaaaa... sekitar satu jam handphone gue bunyi. Ada kamar kosong!

Tapi...


Yang kasurnya dua!


Ahahahahahahahahahahahahaha... hahahahaha... hahahahaaaa T_T


Ya gue nggak maulah :(


Masa anniversary pisah-pisahan kaya lagi backstreet:(

Karena sadar terlalu mepet kalau mau booking buat besok, akhirnya gue googling hotel yang bisa buat lusanya, 28 Oktober. Tetap susah ternyata, dimana-mana penuh karena musim liburan. Beruntung banget akhirnya gue buka instagram dan nemu hotel yang namanya Crowne Plaza Bandung. Dari foto-fotonya sih kelihatan sederhana meskipun bintang lima (maksudnya beda dengan hotel sekelas lain yang pernah gue inapi, ---halah istilah apa itu, hahaha). Gue sih suka-suka saja. Karena buat gue tampilan nggak penting. Asal bersih, wifi kenceng, ada bathup, udah deh gue bisa tidur nyenyak. Nggak pakai pertimbangan lagi, gue langsung klik "booking". Soalnya kalau ditunda-tunda lagi takutnya nanti malah keburu ada yang ambil :p


28 Oktober 2020

Kami harusnya check in jam 2 siang, tapi karena gue orangnya "sok sibuk", sebelum pergi gue malah ribet sendiri sama rumah yang sebenarnya sudah gue bereskan. Rasanya adaaa saja yang kurang. Iya, gue memang OCD (begitu kata psikiater), tapi ada juga saat-saat dimana gue tahu kalau guenya saja yang lebay, seperti pas lagi gini nih. Dilawan sebenarnya bisa, tapi gue kadang terlalu baik sama diri sendiri, hahaha. Akhirnya kami tiba di hotel sekitar jam 3 sore. Perasaan gue langsung nggak enak, ---kok penuh amat ya? :O Parkirnya sih lancar, nggak pakai putar-putar kami langsung dapat tempat. Tapi begitu masuk lobby kami disambut sama antrian yang panjangnya dari pintu masuk sampai ke meja lobby T_T Cukup lama sampai kami akhirnya kami tiba di front desk, ---yang sayangnya bukan tanda kami bisa cepat-cepat masuk kamar. Kami tiba 1 jam lebih lambat dari waktu check in, tapi ternyata kamar belum siap. Kenapa? Asli, nggak ngerti. Mau berlama-lama bertanya pun gue nggak enak karena antrian masih panjang. Gue pikir, ya sudah lah, semua tamu juga mengalami. Lagipula, ini anniversary gue dan Shane. Jangan sampai kami jadi bad mood "cuma" gara-gara terlambat dapat kamar. Kami putuskan saja untuk makan siang (tapi sore, lol) dulu. Sekalian menghindari kerumunan. Gue dan Shane memang nggak yang parno sampai gimana-gimana, tapi sebisa mungkin kami berusaha melindungi diri. Masker selalu dipakai, rajin cuci tangan, ...dan kalau di tempat ramai mending mojok berdua saja lah, hahaha.


Gue merasa beruntung kami memutuskan untuk menginap di Crowne Plaza. Lokasinya dekat sekali dengan Jalan Braga. Jadi gue dan Shane nggak perlu ke parkiran lagi untuk ambil mobil, tapi cukup jalan kaki. 10 menit saja kami sudah tiba di Braga Permai. ---Iya, restoran yang sama yang kami kunjungi di ulang tahun gue, Juni 2019 lalu. Kami suka restoran ini. Meski pilihan menu vegannya nggak banyak (mereka hanya punya menu vegetarian yang harus direquest kalau ingin vegan), tapi tempatnya nyaman. Live bandnya juga keren-keren. Seperti kali ini, yang gitarisnya total banget, hehehe xD Kami pesan pizza vegetarian dan lumpia sayur seperti biasa. Gue paling kalap kalau makan lumpia, apalagi di Braga Permai bumbu kacangnya enak banget. Beda sama restoran lain, light gitu nggak bikin enek :')




Setelah makan kami kembali lagi ke hotel. Langit Bandung sangat bersahabat, cerah dan hangat padahal sedang musim hujan. Ini bikin suasana hati gue makin happy karena awalnya gue khawatir bakal kehujanan, tapi ternyata hujan hanya mengguyur ketika gue dan Shane sedang di dalam mobil. Sungguh pengertian ya :') Hehe.


Di lobby, antrian masih tetap panjang ternyata. Sepertinya semakin sore semakin banyak tamu yang datang. Beruntung ada Ibu baik hati (tamu hotel juga) yang tahu kami sudah menunggu lama. Beliau memberikan tempatnya agar nggak mengantri lagi bersama orang-orang yang baru datang (---hatur nuhun pisan, Ibu, maaf lupa nanya namanya). Eh, sudah sampai di depan ada tamu yang nyelak dong, alasannya dia cuma mau ngambil kunci doang -_- Di luar dugaan, Shane langsung tegur tamu itu padahal dia orangnya pendiam, lho. Mungkin karena kesal dan ditambah perut sudah terisi ya, dia jadi penuh energi, hahaha. Jujur, gue senang sih. Soalnya dalam hati gue juga kesal tapi malas kalau harus berargumen dengan orang seperti itu. Btw, tapi gue jadi belajar sesuatu... Orang yang menyela antrian itu punya perfect English padahal, jauh lah sama gue yang Bahasa Indonesia saja belepotan. Tapi ternyata cerdas itu belum tentu mengerti (atau mau menerapkan) sopan santun.


Diselak saat antri itu rupanya jadi satu-satunya kejadian yang kurang menyenangkan yang kami alami. Sisanya bisa dibilang jadi salah satu pengalaman TERBAIK saat menginap di hotel bagi gue dan Shane :) Saat booking kamar gue sama sekali nggak meminta special request, bahkan sama sekali nggak menyebutkan kalau kami datang dalam rangka anniversary. Tapi pihak Crowne Plaza sendiri yang berinisiatif memberi kami complimentary dinner dan wine. Petugas yang sedang bertugas di front desk bilang, "Sudah pasti jauh-jauh kemari karena ada moment istimewa yang dirayakan." Padahal rumah kami masih di Bandung juga, hehe :'D Bukan itu saja, dia juga bilang bahwa kami boleh check out di sore hari, instead of jam 12 siang! Untuk kami ini adalah tindakan yang sangat manis dan kami sangat menghargainya. Kami bukan siapa-siapa (baca: bukan selebriti atan influencer). Jadi kalapun ada kejadian buruk (yang mana gue dan Shane sama sekali nggak merasa begitu), nggak akan lah dibaca sama jutaan follower gue. Juga misalnya gue mendapat complimentary dari mereka, siapa juga yang akan tahu selain sejumput (lol, saking sedikitnya) pembaca di sini, kan? Jadi kami yakin tindakannya pure untuk menghormati kami sebagai tamu. Kalau nggak salah ingat yang melayani kami namanya Mr. Julius. (If you read this, thank you!)



Gue dan Shane sama sekali nggak menyangka akan mendapatkan hadiah seperti ini (---dari pengalaman kami, biasanya hotel "hanya" memberi kami cokelat, itu  pun dengan special request).

Karena ini anniversary, sudah pasti Shane menyiapkan budget untuk dinner istimewa kami. Tapi siapa sangka ternyata hotel malah memberi kami dengan cuma-cuma :') Kami jadi semakin merasa istimewa karena saat dinner di lounge hanya ada kami dan seorang tamu lain (yang kebetulan hanya mampir sebentar). Jadi berasa private dinner, hahaha. Staff hotel memperlakukan kami dengan sangat baik dan profesional. Mereka beberapa kali bertanya tentang makanan yang disajikan. The food was good (mereka punya vegan option!), perut kami kenyang, hati kami bahagia. 




Karena jarak lunch dan dinner yang berdekatan (makan siang kesorean, lol), kami baru benar-benar menikmati kamar setelah waktu dinner. Sebelumnya kami hanya menyimpan barang bawaan kami, sedikit touch up, lalu ke lounge. Kamar kami posisinya di pojokan, yang mana bikin kami (tambah) happy. Ada dua jendela di dua sisi berbeda yang membuat kamar terasa lapang (kerena sebenarnya ukuran kamar termasuk kecil kalau dibandingkan hotel lain yang pernah kami inapi). Begitu di kamar as always Shane langsung rebahan sambil main game, sedangkan gue langsung berendam di bathup. Semanjak menikah dan tinggal di rumah sendiri, berendam itu jadi hal yang mewah lho bagi gue. Soalnya di rumah mungil kami hanya ada shower, nggak ada tub. Jadi harus menunggu ke hotel dulu kalau mau berendam, hahaha :D

Setelah badan kena air hangat dan pakai piyama, gue auto mengantuk. Di TV diputar film "Ma", salah satu film favorit kami. Meski mata sudah dipaksa melek, akhirnya gue dan Shane tidur sebelum film selesai :p




29 Oktober 2020

Paginya, rasanya berat sekali buat gue buat bangun. Satu-satunya yang jadi motivasi gue buat bangun ya sarapan (dasar rakus! Hehe). Dengan alasan keamanan, sekarang sarapan nggak disajikan dalam bentuk prasmanan lagi. Meski begitu staff di sana cukup helpful kok. Gue bolak-balik beberapa kali buat minta nambah pun pelayanannya tetap baik. Apalagi gue cukup "cerewet" karena selalu bertanya menu mana saja yang vegan friendly :p Menurut gue, kalau untuk menu sarapan vegetarian sih mereka punya banyak pilihan ya. Tapi untuk vegan memang limited, beda dengan ketika makan malam yang memang ada option non dairynya. 




Sehabis makan gue tergiur untuk berendam di jacuzzinya. Tapi niat gue urung setelah sadar kalau gue sedang menstruasi, hahaha. Ya sudah lah, lebih "aman" berendam di bathup lagi. Berhubung kami membawa ukulele jadi kami juga nggak mati gaya. Sekalian saja kami bikin video clip untuk lagu original terbaru kami. ---Sambil menyelam minum air lah ya xD Beruntung sekali kamar kami di pojokan, jadi bisa bebas main musik tanpa khawatir mengganggu tamu lain. Kalau dipikir, seringnya kami memang dapat kamar yang di pojokan ya. Bahkan waktu menginap di Singapore tahun 2018 lalu pun kami dapat kamar di pojok, dan selama 4 hari di sana kami main ukulele tiap hari, hahaha. Oya, tapi bukan berarti kami nggak cek-cek dulu ya. Biasanya Shane akan berdiri di luar, di depan pintu sementara gue di dalam genjrang-genjreng. Buat make sure suaranya nggak terdengar keluar. Juga, yang nggak kalah penting jangan sampai kamar yang pas banget sebelah kami ada isinya (---isi manusia, kalau yang lain mah gak apa-apa, lol)


Bikin video clip ternyata bikin waktu terasa cepat sekali berlalu. Mungkin saking sangat menikmatinya, ya (---serius, gue nggak sabar untuk edit dan post videonya, soalnya lagu dan konsepnya istimewa sekali untuk gue dan Shane). Tadinya gue pikir masih cukup waktu buat tidur siang sebentar, eh tahu-tahu sudah sore saja :p Kami pun mengemasi barang-barang kami dan bersiap pulang. Perpaduan mood kami yang bagus dan pelayanan yang baik bikin kami betah. Bahkan Shane bilang dia suka dengan hotel ini dan ingin kembali lagi. Pas gua tanya alasannya, katanya dia pun nggak tahu, ---pokoknya atmosfirnya enak. Gue setuju. Dan ini bukan karena kami dapat "hadiah", tapi tempatnya memang nyaman :)





Di perjalanan pulang kami mampir dulu ke "Kitchen Veggie" untuk makan siang (yang lagi-lagi kesorean, hahaha). Restoran vegan-vegetarian kecil favorit kami sejak tahun 2018, ---iya awal kami menikah :D Kami memang punya kebiasaan untuk kembali ke tempat yang sudah cocok, terutama soal makanan karena lidah vegan kami ini sedikit picky, hehe. Dan tempat ini lah salah satunya. Shane suka banget dengan hot dog vegan mereka. Harganya murah meriah, tapi soal rasa nggak ada yang bisa menandingi. Buktinya dibandingkan dengan hot dog yang lebih mahal pun, Shane pasti lebih memilih yang ini, hahaha. (Sedikit OOT, tapi kalau kalian vegan dan berada di Bandung, restoran ini layak banget untuk dicoba).


Ketika kami tiba di rumah hari sudah gelap. Perut sudah kenyang dengan senyum yang sangat awet (---meski disambut dengan setumpuk cucian, haha). Rasanya sempurna, dua hari dihabiskan bersama, di tempat yang membuat kami bahagia dan melakukan hal-hal yang juga membuat kami bahagia, ---bermain musik dan membuat video clip bersama. Dua tahun berlalu dan kadang masih terasa seperti mimpi. Di tahun 2017 gue masih nggak mengira bisa berteman dengan Shane, satu tahun kemudian ternyata kami malah menikah. Hidup memang semisterius itu, guys. Orang yang awalnya gue idolakan, lalu menjadi sahabat ternyata menjadi suami gue. ---Iya, secepat dan setanpa basa-basi itu. Tahu-tahu dekat, tahu-tahu menghampiri ke Indonesia, ...tahu-tahu menikah :)


Doa gue dan Shane di anniversary kedua ini sederhana. Semoga kami bisa menjadi bisa selalu bersama untuk selamanya. Alasan mengapa kami selalu menyebut diri kami "sahabat", karena sahabat mungkin saja berselisih tapi akan selalu kembali. Seperti orang bilang, sahabat adalah selamanya, ---bestfriend forever. And I love you forever, Shane, buddy! :)




yang sedang dan (semoga) selalu bahagia,


INDI


____________________________________

Kontak: namaku_indikecil@yahoo.com | Facebook: Indi Sugar | Instagram & Twitter: @indisugarmika | Youtube (Vlog & Musik): Indi Sugar Taufik

Senin, 25 Januari 2021

Tahun Baru: Waktunya untuk Pulang :)

Selamat tahun baru! Hore, 2021! Kita semua berhasil melalui 2020, teman-teman! :) *peluk*

I know, I know, tahun berganti bukan berarti semuanya otomatis menjadi lebih baik. Tapi gue hanya ingin memberikan vibe positif, meski hanya sedikit di tahun baru ini :) Tahun 2020 terasa berat untuk kita semua. Banyak di antara kita (termasuk gue) yang harus kehilangan pekerjaan. Bahkan nggak sedikit yang harus ditinggalkan oleh orang-orang tersayang. Sedikit optimis sepertinya bisa memberi harapan, dan membuat perasaan (suasana hati) menjadi lebih baik. Betul, kan? ;)


Orangtua gue selalu bilang, tahun baru itu waktunya untuk membuat harapan dan semangat baru. Meski sebetulnya kapan saja bisa, tapi saat tahun baru hampir semua orang melakukannya. Mereka percaya doa menjadi lebih kuat saat dipanjatkan bersama-sama, ---dan gue pun begitu. Makanya gue selalu merasa tahun baru itu istimewa, jadi dalam keadaan apapun gue dan Shane selalu usahakan untuk datang ke rumah orangtua gue. Termasuk tahun ini, sejak akhir Desember 2020 Ibu sudah sibuk bertanya gue dan Shane ingin makan apa di sana. Request kami sih sederhana, hanya ingin lumpia buatan Ibu dan jagung bakar, hehe. Sudah tradisi sejak gue kecil, terutama jagung bakar. Mungkin karena itu satu-satunya menu yang netral, bisa dimakan oleh semua, ---bahkan saat gue masih jadi pemakan segala, lalu vegetarian, sampai vegan sekarang, hahaha (sejak 4 tahun lalu) :p


Gue dan Shane lagi total nggak kemana-mana, terakhir keluar ya di bulan Oktober 2020 lalu. Itu pun (lagi-lagi) hanya ke rumah ortu untuk Halloween lalu dilanjutkan ke hotel karena berdekatan dengan ulang tahun pernikahan kami. Selebihnya kami hanya di rumah saja. Sempat bingung juga mau beli hadiah tahun baru dimana karena, seriuosly, kami malas banget kemana-mana :D Akhirnya kami putuskan berbelanja online. Untuk Ibu, Bapak dan Nenek kami pesan jam dinding customize gitu, ada foto kami sekeluarga. Khusus untuk Nenek, kami pilih foto yang ada beliau dan Ibu Mertua? Kenapa? Karena mereka BFF, hahaha. Jadi kami pikir beliau akan senang. Meskipun pasti kadonya akan diterima terlambat, karena Nenek merayakan tahun baru di vilanya, di Purwakarta. Untuk dua keponakan gue, Ali dan Abi Cody, gue dan Shane hanya membeli cokelat karena mereka sudah punya banyak mainan. Lagian, mereka sih lebih happy kalau dapat makanan dibandingkan barang xD


Malam tahun baru gue dan Shane berangkat. Kami putuskan untuk memakai Gocar agar lebih praktis. Barang-barang perbekalan menginap sudah di turunkan ke lobby waktu kami sadar kalau kami kesorean. Uh oh, baru ingat kalau jalan di daerah kami akan ditutup jam 6 sore nanti. Nggak ada Gocar dan taksi yang kosong waktu kami memesannya via aplikasi, huhu. Untung saja Ibu memang akan keluar rumah, jadi bisa sekalian menjemput kami. Agak malu juga sih, niatnya mengunjungi eh malah merepotkan, hehehe. Tapi yaaa mau bagaimana lagi, malam tahun baru macet, makanya kami malas pakai mobil sendiri :D


Ketika tiba kami langsung disambut sama dua keponakan yang gue panggil "the babies", ---yang kata Shane mending dipanggil "the boys" saja karena sudah pada besar, hahaha. Mereka ini nggak selalu ada di rumah ortu, kadang ya di rumah mereka sendiri yang jaraknya nggak jauh dari rumah ortu, atau malah di rumah Nenek mereka (dari pihak bundanya). Tapi kalau saat istimewa seperti ini pasti berkunjung dan menginap, bikin rumah makin ramai. Karena mereka sedang main, jadi gue ikutan. Padahal niatnya begitu tiba mau santai di depan TV sambil rebahan di sofa. Eh, ternyata realitanya sofa penuh dengan mainan dan malah ada kolam renang karet di tengah ruangan, hahaha.





Seperti biasa kalau ada Ibu, gue dan Shane bisa makan sampai 5 kali sehari soalnya beliau hobi masak. Ketika gue sibuk bermain dengan the babies, Ibu langsung menyiapkan lumpia istimewa request dari kami. Sengaja, gue dan Shane memang belum makan dari rumah, hihi. Saking banyaknya lumpia yang kami makan, kami sampai minta break dulu sebelum lanjut makan jagung bakar. Padahal Ali sudah semangat untuk bakar jagung sendiri. "Sekarang kan kita lagi pesta," begitu katanya :D Dan dipikir-pikir memang baiknya kami bakar jagung segera sih, soalnya kalau nggak pasti Ali dan Cody keburu ngantuk. Mereka kan balita, masa iya mau ikut begadang sampai tengah malam :D Akhirnya, kami pun berusaha sekeras mungkin memberi ruang di perut untuk jagung bakar buatan Ali, ---yang ternyata bumbunya pure saos tomat doang, hahaha. Tapi enak kok :D



Dibanding para orang dewasa mereka memang lebih menjiwai "pesta" nya xD


Gue senang Ibu dan Bapak menyukai kado kami. Saking bersemangatnya mereka langsung pasangkan jarum dan baterainya. Sekalian yang punya Nenek juga dipasangkan supaya ketika beliau tiba di Bandung bisa langsung dipakai. Kalau the babies sih nggak perlu ditanya, mereka sudah pasti terobsesi dengan kado tahun barunya, hahaha. Nggak sampai 5 menit mereka langsung lahap cokelatnya plus berebutan pula karena cokelat Cody habis duluan :D Ya, begitulah... heboh dan hangat. Kalau ada mereka tiap hari gue nyerah, tapi juga kangen kalau lama nggak bertemu, hehehe.




Oya, berhubung gue dan Shane nggak kemana-mana untuk membeli kado, kami nggak bawa apa-apa untuk Eris, anjing kesayangan kami :( Sebetulnya kalau ada Gocar yang berhenti sih kami mau mampir dulu di petshop, tapi ternyata nggak seperti yang direncanakan. Sebagai gantinya, gue cuci tempat tidur Eris sampai cling. Biar tahun baru tidurnya nyenyak :D



(Edit: Saat tulisan ini dibuat kami sudah beli kado untuk Eris, hehehe).


Betul saja seperti perkiraan gue, sebelum tengah malam Ali dan Cody sudah tidur. Gue jadi leluasa buat nonton TV di sofa. Iya, di sofa! Finally xD Banyak film seru yang diputar. Rasanya seperti dapat kado tahun baru dari TV kabel karena sampai 2 hari ke depan ada beberapa channel yang gratis. Gue benar-benar manfaatkannya sampai-sampai begadang. Mata sepet pun nggak terasa, hahaha. Tapi tentu kerjaan gue nggak cuma makan dan nonton TV saja dong. Gue ngobrol-ngobrol sama Ibu dan Bapak sampai puas (asli, ngalor-ngidul, dari mulai ngomongin tetangga sampai acara TV, lol). Dan yang paling seru gue juga menemukan banyak album foto lama. Bapak menunjukkan foto-foto almarhum Kakek dan Nenek, yang ternyata mereka dulu keren sekali. Jadi terharu, huhu. Maklumlah gue masih kecil waktu mereka meninggal, jadi memory gue dengan mereka hanya sedikit :') Shane juga nggak kalah amazenya melihat foto-foto masa kecil gue. Katanya nggak kebayang dulu gue kecilnya sebandel keponakan Ali dan Cody, hahaha. Eh, padahal nggak lho, dulu gue manis kok :p



Melihat-lihat foto masa kecil gue. Ada yang mau lihat kah selain Shane? Hahaha :D


Saking happynya gue di rumah ortu, kamar tidur yang sudah disiapkan jadi jarang banget ditempati. Seringnya gue di ruang TV, ---dan ruang makan, hehe. Rasanya kalau tidur tuh sayang, takutnya missing out. Meski gue sangat menikmati tinggal berdua saja dengan Shane di rumah mungil kami, tapi ada lho hari-hari dimana gue mikir, "Kayanya enak ya tinggal satu rumah tumplek-tumplek gitu." Tapi gue sadar, untuk gue (dan Shane) itu bukan kondisi ideal. Buat kami lebih fair untuk tinggal terpisah, karena Shane juga kan tinggal berjauhan sekali dengan orangtuanya, dan dia rela tinggal dimana saja asalkan gue happy. (Sebetulnya Ibu Mertua ingin gue tinggal di Amerika, btw, tapi berhubung gue lebih happy di sini, Shane bilang dia saja yang ikut gue). Juga dari sisi ortu gue, mereka sudah membesarkan gue sampai segini besarnya (hahaha), rasanya lebih fair jika memberi mereka ruang untuk menikmati masa tua mereka :)


Lagipula gue jadi punya tempat untuk "pulang", ada rasa rindu dan alasan untuk kembali ke rumah masa kecil gue karena ada Ibu dan Bapak di sana :)

Kami menginap selama 2 malam. Di perjalanan ke rumah kami gue sudah kangen lagi sama mereka (termasuk sama the babies dan Eris juga). Lucunya dulu gue suka berpikir kalau kangen itu hanya berlaku untuk yang tinggalnya berjauhan. Tapi setelah 2 tahun tinggal terpisah, gue jadi sadar kalau kangen itu bukan soal tempat, tapi soal dengan siapa dan dengan suasana yang melekat di hati. Semoga saja keadaan cepat membaik ya biar gue bisa sering-sering menginap di sana lagi. Sekali lagi, selamat tahun baru, semuanya! :)


(virtual) kisses,


Indi


-----------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com