Senin, 14 Februari 2022

Cerita Christmas Kami yang Super Slow :D

Selamat tahun baruuuuuu! *tiup terompet*

Ada yang bilang kalau ngucapin selamat tahun baru setelah tanggal 8 Januari itu terlambat. Tapi buat gue sih selama belum masuk tengah tahun ya masih tahun baru, hahaha :D ---Teman-teman gimana nih tahun barunya? Kemana dan ngapain saja? Cerita-cerita, dong! Gue senang banget setiap baca/dengar cerita seru tahun baruan. Sampai minggu kemarin gue betah banget lihat-lihat IGS sama status WA di contact list, soalnya jadi berasa ikut jalan-jalan atau kumpul-kumpul xD 

Kalau gue (dan Shane) menghabiskan sepanjang bulan Desember 2021 dengan sangaaaat slow. Nggak kemana-mana, even buat belanja bahan makanan sehari-hari kami milih via delivery saja. Christmas pun dilalui dengan santai, ---nggak ada belanja dekor, baju baru, kado buat Shane (huehehehe) atau masak khusus. Alasannya karena gue ingin menikmati waktu “apa adanya” sebaik mungkin. Di tahun 2021 gue belajar kalau punya tujuan atau goal itu bagus, TAPI kalau semuanya pakai patokan waktu justru bikin gue nggak maju-maju karena terus berkutat sama yang belum tercapai. Jadi gue putuskan untuk appreciate setiap pencapaian sambil terus mengerjakan yang lain. Rasanya? Nikmat banget beneran :D 


Anyway, balik lagi ke bulan Desember gue yang super slow, hari-hari gue dan Shane kebanyakan dihabiskan dengan bersantai sambil mengerjakan hobi masing-masing. Kalau ada yang dikerjakan berdua paling nonton film. Itu pun nggak kaya tahun-tahun kemarin yang harus banget marathon film-film tema natal. Se-mood-nya saja, kami nggak bikin list film apa saja yang harus ditonton. Kalau tahun kemarin gue sampai bikin IGS kan, minta rekomendasi Holiday movie yang seru dan SEMUANYA ditonton, hahaha x'D Kemarin sih satu-satunya film khas natal yang kami tonton cuma Home Alone (---kalau nggak nonton nggak berasa natal, ya, lol). Kami nonton Home Alone Holiday Heist yang diputar di RCTI dan Home Sweet Home Alone yang diputar di Disney+. Tadinya sih mau lanjut Home Alone pertama dan kedua juga, karena tahu lah, si Kevin itu kan the real OG. Tapi entah kenapa gue lupa dan tahu-tahu saja Desember sudah habis :p 

Eh, ada yang nonton Home Sweet Home Alone nggak, nih? Ada yang kasih tahu gue katanya filmnya jelek, jadi mendingan gue nggak usah nonton. Pas nonton trailernya setuju sih, kayanya nggak ada yang baru. Satu-satunya yang bikin penasaran cuma dengan come back nya Buzz, kakaknya Kevin yang jadi petugas Polisi. Tapi pas filmnya ditonton menurut gue lumayan kok, ada moment-moment yang bikin gue ketawa ngakak. Yang gue sayangin cuma ceritanya yang nggak sekuat Home Alone yang sebelum-sebelumnya. Nggak ada penjahat "sungguhan" di sana. ---Gue nggak mau spoiler, yang pasti filmnya layak ditonton kok, asal jangan berharap terlalu banyak, ya! :D




Gue tadinya mau nonton Home Sweet Home Alone sama Ali juga (keponakan). Tapi pas dipikir lagi kayanya dia belum tertarik sama film yang bukan kartun (---masih ingat kan Halloween kemarin dia maunya nonton Luca sama Toy Story diulang-ulang, huhu). Jadi pas dia datang berkunjung gue siapin aktivitas lain saja. ---Um, nggak "siapin" juga sih sebenarnya, cuma ide spontan yang nggak butuh persiapan, hahaha. Ali ini suka banget sama "bebikinan", kalau gue lagi nggak malas dan gue ajak masak pasti mau. Katanya dia mau bikin Christmas cookies, jadi gue ajak dia ke Indomaret di lantai bawah buat beli Oreo. Setelah itu gue kasih dia meses sama icing yang sudah ada di rumah buat hias-hias Oreonya. Simple tapi seru banget. Saking serunya setelah Oreonya habis, dia masih hias piringnya, hahaha. Gue juga ikutan karena dilihat-lihat kok seru juga. Ada rencana baking cookies beneran sih, tapi nanti saja berdua sama Shane. Itu pun yang sederhana dan (maunya) mess free karena kami sedang "super slow" :p 




Kebetulan sekolah Ali libur beberapa hari sebelum natal, jadi menjelang tanggal 25 Desember cuma ada gue dan Shane saja di rumah. Kami nggak buru-buru pasang dekorasi, soalnya masih menunggu paket hadiah dari Ibu Mertua yang berisi Christmas tree mini dan pernak-pernik. Satu-satunya dekorasi di rumah yang dipasang dari awal bulan Desember cuma kaos kaki, yang lalu ditambah snow flakes buatan Ali (---eh, gue bantuin juga sih bikinnya, hehe). Yang sudah-sudah paket dari US selalu terlambat datang ke sini meski sudah dikirim 2 bulan sebelumnya. Jadi kami nggak terlalu berharap datang tepat waktu, seadanya saja yang penting menikmati waktu. Dekorasi, kado, ect gue anggap cuma bonus :)




Baru pas Christmas eve kami putuskan untuk baking. Hahaha, akhirnya ya :p Itu pun nggak yang ribet-ribet. Hanya peanut butter cookies favorit kami karena mudah dan of course vegan friendly. Meski nggak kemana-mana kami juga tetap berusaha terlihat festive. Gue dressed up lengkap dengan pakai pita merah di rambut (biasanya kan kalau di rumah gue piamaan doang, lol). Sedangkan Shane, ---ya dia pakai kaos yang warnanya ngikut dress gue saja :p Gue juga putuskan buat beli bahan-bahannya di mini market komplek apartemen, jadi biar pun cuma beberapa langkah tapi bisa dibilang gue keluar rumah juga kan xD Btw, cookies yang gue dan Shane buat ini bahan-bahannya sedikit, cocok banget sama kondisi minimarket sini yang isinya nggak lengkap, hahaha. Siapa tahu ada yang mau coba, gue share resepnya di sini ya. Ini tuh dijamin anti gagal, ---nggak mungkin nggak enak, kecuali kalau memang nggak doyan/alergi selai kacang ya :D



Vegan Peanut Butter Cookies


Bahan-bahan:

- 100 gram tepung terigu serbaguna.

- 60 gram selai kacang. Mereknya bebas, tapi kalau yang non sugar berarti tambahin lagi gula sendiri.

- Minyak sayur (kira-kira 2 Sdm).

- Koko crunch dan plant mylk (opsional).


Cara membuat: 

Masukkan tepung, selai kacang dan minyak sayur ke dalam wadah. Aduk sampai rata dan nggak lengket. Kalau tekstur masih crumbly boleh ditambahkan minyak atau sepercik plant mylk (gue biasanya pakai almond atau kedelai). Setelah ambil adonan sedikit dan bulatkan. Terus lakukan sampai adonan di wadah habis. 

Gepengkan bola-bola adonan dengan menggunakan garpu, criss cross ya biar kece, hehehe. Terakhir, hias sesuka hati dengan Koko Crunch. Sebenarnya boleh sereal apa saja kok, cuma di lidah gue perpaduan selai kacang sama cokelat itu rasanya paling pas :p


Sebelum dibaked, masukkan adonan cookies ke dalam kulkas selama 5 menit. Sambil menunggu bisa preheat ovennya dulu. Tapi kalau gue sih nggak, ya. Langsung saja panggang di suhu 175 derajat selsius selama 10 menit dengan panas atas dan bawah. 



Gue dan Shane lumayan sering bikin cookies ini. Karena bahan utamanya cuma tepung terigu dan selai kacang, jadi kunci rasanya ada di selainya. Pastikan kalian memang suka dengan merek yang dipakai. Gue sendiri suka pakai selai kacang yang sudah mengandung gula dan garam, bikin hasilnya guriiiiih :p Di grup vegan ada yang bilang pakai selai kacang organik tanpa gula juga enak. Tapi ya balik lagi ke selera masing-masing. Yang pasti selai apapun yang dipilih jangan lupa untuk tunggu cookiesnya sedikit dingin dulu sebelum dimakan. Karena kalau masih panas gampang hancur, ---dan itu sering terjadi sama kami karena nggak sabar makan, hahaha xD




Terus pas Christmas day nya gue ngapain? Masa nggak ada yang istimewa? Ya ada dong! :D Beberapa waktu yang lalu gue order (lagi, entah untuk keberapa kalinya saking cintanya) body scrub, shower scrub dan body lotion Scarlett dari akun official Shopee mereka. Gue ingin self pampering sebagai hadiah buat diri sendiri. Memang sih bisa kapan saja karena Scarlett selalu ada di rak kamar mandi, kamar dan tas gue, tapi kali ini gue benar-benar mau enjoy setiap stepnya, ---benar-benar berurutan dan take my time, supaya di hari istimewa ini gue merasa cantik meskipun nggak pakai baju baru :D



Begitu bangun tidur gue langsung semangat buat mandi, padahal biasanya mager dulu sambil scroll-scroll feed di handpone kan :p Sebelum nyalain shower, dalam keadaan kulit masih kering, gue pakai body scrub Scarlett yang varian Pomegrante dulu. Huaaa, begitu tutupnya dibuka wanginya langsung tercium. Gue suka sih dengan semua aroma body scrubnya Scarlett, tapi aroma floral-fruity gourmand dari Pomegrante ini menurut gue paling segar dan cocok sama karakter gue yang ceria, hehehe. Selain aromanya, yang gue suka dari body scrub Scarlett ini tekstur buliran scrubnya yang halus, jadi nggak sakit waktu diapply ke kulit. Dulu sebelum kenal Scarlett gue sempat trauma pakai body scrub, soalnya rasanya kaya diwaxing, ahahaha :'D Gue serius lho ini. Jadi kulit gue memang tipe berbulu halus lumayan panjang. Nah, pas scrubbing bulu-bulu gue ikut kecabut. Inget banget deh gue sampai curhat sama sepupu sambil nangis-nangis campur ngambek xD



Kulit tubuh gue sensitif, terus ada spot-spot kasarnya juga akibat gesekan dari baju atau terlalu lama diam di satu posisi (---ehm, mager). Nah, body scrub Scarlett ini ampuh banget buat mengangkat sel-sel kulit mati di tubuh gue. Tiap habis scrubbing efeknya langsung terasa. Kulit gue haluuuuus banget. Nggak ada tuh drama bulu lengan tercabut, hahaha. Dan manfaat lainnya juga masih banyak, seperti mengembalikan kelembapan kulit tubuh (please ini penting karena kulit gue gampang kering), membantu mencerahkan kulit tubuh, membantu melancarkan peredaran darah, sebagai sarana rileksasi tubuh seperti yang sedang lakukan :D Membantu meregenerasi kulit setelah eksfoliasi, dan meningkatkan kadar hidrasi yang dibutuhkan kulit tubuh. 


Yang gue rasakan nih ya, manfaatnya itu terasa segera setelah selesai scrubbing. Kulit gue lebih moist dan terlihat lebih cerah. ---Ingat ya, CERAH, bukan bikin warna kulit gue pucat atau abu-abu. Gue bahkan pernah tanya Shane apa kulit gue memang cerahan atau perasaan gue doang, dan dia jawab kalau kulit gue memang terlihat lebih segar. Kalau dia yang ngomong percaya dong, soalnya dia si anti sugar coating apapun, hahaha. Goal gue memang bukan untuk mengubah warna kulit, ---gue suka warna kulit gue apa adanya. Tapi gue ingin kulit sehat dan nggak kusam.  Body scrub Scarlett ini jelas membantu mencapai goal gue karena mengandung vitamin E dan glutathione ;)


Satu jar body scrub ini lumayan lama lho habisnya, soalnya isinya 250 ml dan sekali pakai juga nggak yang banyak-banyak amat karena mudah diaplikasikan. (Kan ada tuh tipe body scrub "boros" karena tiap dioles pasti jatuh-jatuh karena nggak lekat di kulit). Beberapa minggu lalu gue juga sempat kasih body scrub ini ke Bapak (---iya BAPAK, hehe). Soalnya body scrub Scarlett bisa dipakai di semua jenis kulit. Formulanya aman, bahkan untuk ibu hamil dan menyusui sekalipun. ---Dianjurkan untuk konsultasi dengan dokter dulu ya ;)


Selesai scrubbing, waktu mau bilas dan pakai body shower, gue kaget dong ada body shower Scarlett varian Jolly di rak kamar mandi! Perasaan punya gue sudah dipakai setengah botol, lah ini kok ada yang baru :O Spontan gue langsung teriak, nanya ini punya siapa. Dan ternyata ini hadiah Natal dari Shane, dong! Hahaha, ya ampuuuun, so sweet sekali :') Terharu gue, karena rupanya dia ingat betapa sukanya gue dengan si Jolly ini. Sebelum ada shower scrubnya gue pakai lotionnya dulu dan langsung in love sama aromanya. Makanya happy banget waktu tahu Scarlett ngeluarin shower scrub dengan varian Jolly. Aromanya sama kaya lotionnya, awet banget (---menurut gue paling awet dibandingkan varian yang lain). Jadi kalau dipakai barengan tubuh gue wanginya berlipat ganda, huehehe... 



Gue busakan shower scrub Scarlett ini di shower puff supaya busanya lebih banyak dan aromanya lebih keluar. Tapi kalaupun nggak (biasanya kalau gue lagi buru-buru), sama sekali nggak mengurangi keefektifan fungsinya kok. Beads nya yang banyak sudah cukup membantu memaksimalkan saat membersihkan kulit dan mengangkat sel kulit mati. Kandungan vitamin E, glutathione dan colagennya bermanfaat untuk membuat kulit lebih halus setelah eksfoliasi, mengembalikan kelembapan kulit, dan membantu mencerahkan kulit tubuh. Sama seperti body scrubnya, ini juga bisa digunakan di semua jenis kulit (Shane juga kadang pakai, BTW) dan aman digunakan oleh ibu hamil dan menyusui. Tapi as always, dianjurkan untuk dikonsultasikan dulu dengan dokter ;)



Oya, gua suka banget sama desain botolnya yang ringkas dan praktikal. Meski isinya 300 ml alias lumayan besar size botolnya, tapi tetap nyaman buat dibawa kemana-mana. Soalnya tutupnya benar-benar anti tumpah dan gampang banget dibuka-tutup karena modelnya flip top. Botolnya juga kokoh tapi nggak bikin shower scrubnya susah keluar. Jadi gue selalu bisa pakai isinya sampai habis bis bis, ---tanpa ada yang nempel-nempel di dinding botol. Menurut gue sih ini better than botol dengan pump ya, soalnya gue selalu nemu problem masih ada isinya yang tersisa. 


Selesai mandi dan say thank you lagi sama Shane (sebelumnya say thank you dari kamar mandi, hahaha), gue masuk ke kamar. Bukan buat balik tidur lagi lho, tapi buat pakai body lotionnya Scarlett. Tahu dong pakai varian apa?! Yup, Jolly! Saking sukanya gue sampai bawa kemana-mana. Sebelum libur saja gue sempat fisioterapi dan sengaja bawa si Jolly ke dalam ruangan klinik supaya sesi terapinya jadi lebih fun :D

Waktu duduk di depan meja rias, siap-siap mau pakai lotion, ternyata ada kejutan lain yang menanti gue! Ada satu botol baru body lotion Scarlett varian Jolly! Aaaa, ----mumpung belum lepas handuk gue buru-buru keluar kamar lagi buat bilang terima kasih sama Shane, hahaha. Suami gue ini memang baik, tapi dia nggak romantis. Makanya gue selalu amaze kalau dia kasih kado-kado gini meski nggak pakai kata-kata xD



Jolly ini aromanya terinspirasi dari YSL Black Opium. Jadi wangi floriental gourmand gitu, persis kaya body showernya. Meski bisa dipakai kapan saja, body lotion ini paling pas kalau dipakai sehabis pakai body scrub dan body shower, ada efek relaksasinya gitu deh. Botolnya pump, jadi nggak messy. Konsistensinya agak thick ya, makanya kemasannya nggak disamain dengan body showernya yang lebih cair dan cenderung seperti gel ringan. Isinya sama 300 ml, sama dengan body showernya. Makanya lumayan awet, padahal sehari minimal gue pakai dua kali karena kulit gue kering.


Kandungannya nggak main-main, lengkap banget. Ada glutathione, vitamin E, kojic acid dan niacinamide. Bermanfaat untuk membantu mengembalikan kelembapan kulit tubuh, membantu mencerahkan kulit tubuh, menutrisi kulit tubuh dengan kandungan terbaiknya, dan menyegarkan juga memberi keharuman tahan lama. Seperti yang lainnya, body lotion Scarlett ini juga dapat digunakan di semua jenis kulit dan aman digunakan oleh ibu dan menyusui (dianjurkan untuk konsultasi dengan dokter terlebih dahulu, yaaa). Shane juga kadang ikut pakai untuk di bagian kulitnya yang bertato karena (katanya) suka kering. 


Ketiga produk Scarlett ini sudah teregistrasi di BPOM, jadi berasa tenang gitu deh pakainya. Gue dari dulu memang selalu cari aman karena kulit gue sensitif. Daripada pakai produk yang "katanya, katanya, katanya...", gue sih milih yang sudah jelas saja. Juga yang nggak kalah pentingnya semuanya sudah bersertifikat halal dan nggak diujicobakan pada hewan. Body care yang berlabel "not tested on animals" memang masih jarang di sini, banyaknya produk dari luar. Bangga banget sama Scarlett yang peduli nggak cuma sama kita tapi juga sama hewan :) Dan produk sebagus ini harganya terjangkau banget. Setiap produknya masing-masing Rp. 75.000! Buat gue membantu banget supaya bisa konsisten pakainya karena nggak khawatir nggak terbeli, hahaha :D (Hemat, guys, lol).


Ngomong-ngomong soal hemat, Scarlett ada paket hematnya juga, lho. Harganya Rp. 300.000 dan sudah dapat 5 item plus dapat box exclusive dan free gift! Gue belum pernah, sih, tapi next pas lotion etc gue habis pasti beli yang paket hemat ini. Teman-teman yang mau beli (---masih belum telat buat beliin gue kado tahun baru, lhooo, huehe, maksa ya) bisa langsung melalui link yang tertera di bio instagramnya Scarlett, @scarlett_whitening.



Setelah selesai memanjakan diri, gue hangout di ruang TV sama Shane, eat more cookies dan begitu terus sampai malam lalu kami ketiduran :D Tahu apa yang bikin gue semakin happy? Literally pas kami bangun kado Natal dari Ibu Mertua tiba! Waaa, gue dan Shane langsung kaya bocah lagi xD Isinya macam-macam, dari mulai pernak-pernik sampai baju kembaran. Duh nggak Ibu Mertua, nggak Ibu, dua-duanya kalau kasih kado pasti isinya dua dan kembar supaya nggak berebutan, hahaha. Tapi kado-kado ini bukan berarti yang terpenting, seperti yang gue bilang sebelumnya, kado yang terindah adalah keluarga dan kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama mereka. Gue beruntung dan bahagia memiliki mereka. Meski gue sekarang tinggal berdua saja dengan Shane, tapi bukan berarti kami berjauhan di hati. Kami tetap "berkumpul" meski lewat telepon dan internet :)




Sekali lagi, Merry Christmas and happy new year! (Masih Februari kan, hehe!).


xx,


Indi


Jumat, 21 Januari 2022

Scarlett Save my Skin, —-Again! :D



Pernah nggak sih kalian tiba-tiba ngerasa semangat? ---Bener-bener tiba-tiba aja gitu. Nggak ada angin nggak ada hujan terus kalian kepengen melakukan sesuatu dan HARUS detik itu juga. Well, ini sedang terjadi sama gue, hahaha. Gue sendiri nggak ngerti kenapa, yang pasti perasaan ini datang sejak Oktober lalu, sehabis gue sama Shane staycation berdua. Gue yang sudah lama nggak nulis (---nulis serius maksudnya), dan baca buku mendadak kepengen borong buku dan tiap malem pasti nongkrong di depan laptop buat nyelesaiin naskah yang lama tertunda. Mungkin karena sudah lama nggak liburan ya, jadi sekalinya staycation otak gue kaya kerestart lagi, ahahaha. Apapun, gue bersyukur. Karena biasanya untuk urusan hobi menulis dan membaca jadi tersendat sama kerjaan, sekarang malah jadi jalan dua-duanya. Padahal waktu sehari tetap 24 jam ya, tapi gue bisa sempet-sempetin. Minusnya gue jadi banyak begadang, kulit juga jadi mulai kusam karena kebanyakan kena cahaya laptop :S Bukan berarti gue harus stop sih, sayang kan soalnya lagi semangat-semangatnya. Gue lebih "atur" saja. supaya nggak meledak-ledak dan supaya gue nggak tahu-tahu drop saking semangatnya, hahaha. Kalau bulan lalu gue ikutin kemauan beli buku sampai 5 judul, begadang sampai adzan subuh, nah bulan ini gue batasin hanya beli SATU buku, bacanya pelan-pelan dan menulis hanya sebelum tidur. Nggak lupa, skin care juga dikencengin lagi. Soalnya kemarin-kemarin saking semangatnya gue sampai lupa perawatan kulit. Kalau bangun tidur megangnya langsung buku, bukannya cuci muka dulu, hahaha.

Untungnya belum sampai ketahap jerawatan lagi, sih (---masih ingat kan gue pernah jerawat-bruntusan parah? Huaaa). Gue keburu sadar, jadi terhindar dari penyesalan :p 
Gue nggak ganti-ganti merk skin care, masih setia dengan Scarlett karena cocok di kulit gue yang lumayan sensitif. Bedanya sekarang gue lebih detail, nggak cuma pakai facial wash, serum terus face cream saja. Tapi mulai pakai face mask juga, karena gaya hidup penuh semangat (haha) gue yang baru memang bikin kulit jadi butuh perhatian ekstra. By the way, gue tahu kalau Scarlett ngeluarin produk masker ya dari Instagram mereka, @Scarlett_Whitening. Semenjak follow akunnya gue jadi selalu update soal produk-produk mereka, dan kesadaran gue soal menjaga kesehatan kulit pun bertambah :D Berhubung sudah percaya alias "pasti cocok", gue langsung check out dua variannya saja sekaligus, "Seriously Sooting & Hydrating Gel Mask" dan "Herbalism Mugwort Mask". Soalnya efek dan fungsinya kan beda, jadi bisa gue pakai bergantian sesuai dengan kondisi kulit. 




Eh, gue review saja sekalian di sini kali ya? Gue paling nggak tahan buat nggak share sesuatu yang menurut gue bagus. Siapa tahu saja ada yang punya problem kulit sama kaya gue dan sedang mencari produk skin care. Untuk urutan skin care nggak ada yang berubah sebenernya, masih diawali dengan facial wash. Bedanya sekarang diselingi face mask dan NGARUH BANGET! Kalau awalnya gue pikir kondisi kulit gue sudah maksimal membaiknya, ternyata sekarang even better! Okay, langsung saja gue share step by step skin care routinenya, ya.


Awali dengan Scarlett Brightening Facial Wash

Dari sejak pertama kali pakai sampai sekarang, facial wash Scarlett ini selalu gue bawa kemana-mana. Bahkan saat menginap di hotel/rumah orangtua. Untuk sabun mandi gue masih okay lah pakai apa saja, tapi buat membersihkan wajah gue nggak berani ambil resiko pakai yang lain. Seperti yang sudah gue sebut sedikit di atas, beberapa waktu lalu gue sempat jerawatan plus bruntusan akibat lifestyle yang tiba-tiba berubah. Sempat panik karena seumur hidup belum pernah ngalamin sampai segitunya :') Nah, facial wash Scarlett ini salah satu penyelamatnya. Pas kulit wajah lagi sensitif-sensitifnya, gue jadi parno buat megang-megang, ---takutnya jerawatnya pecah gitu, hahaha. Tapi ternyata aman, malah bikin kulit gue calm down gitu. Pokoknya nggak terasa sakit sama sekali, malah terasa segar dan meninggalkan efek lembap dan kenyal. Spot-spot kering di pipi jadi terasa terhidrasi, tapi bagian kening dan dagu yang berminyak pun nggak lengket. Tiap gue mau cuci muka, terus buka tutup flip topnya, aromanya langsung kecium dan kasih efek menenangkan. Bikin mood jadi bagus :D 




Ini bukan sekedar sugesti, kandungan di dalamnya memang sebagus itu. Di satu botol kece 100 Ml mengandung glutathione, aloe vera, vitamin E dan rose petal yang kaya manfaat. Diantaranya untuk membantu membersihkan kulit wajah, meningkatkan kelembapan dan elastisitas kulit wajah, memberikan perlindungan dari radikal bebas dan polusi udara, membantu mengatasi peradangan dan kemerahan pada wajah, (---yang penting banget buat gue!), memberikan efek relaksasi dan mengembalikan kesegaran kulit wajah. Facial wash Scarlett ini cocok untuk semua jenis kulit, lho. Jadi buat yang kulitnya campur-campur kaya gue juga (---maksudnya kombinasi, haha) juga aman. Nggak akan over kering atau malah jadi berminyak.

Oya, yang pakai di rumah bukan cuma gue lho, tapi Shane juga. Tipe kulit dia kering, dan katanya ia paling sebal kalau cuci muka terus kulitnya jadi berminyak. Entah sudah berapa merk facial wash dia coba semenjak tinggal di Indonesia, dan Scarlett ini salah satu dari sedikit merk yang cocok di kulit dia. Makanya nggak heran kalau dibanding  skin care gue yang lain, facial wash Scarlett lah yang paling cepat habis, ---orang pakainya berdua! xD Kami pakai sehari dua kali, pagi-pagi dan malam hari sebelum tidur. Cara pakainya sama seperti facial wash pada umumnya, tinggal tuangkan ke telapak tangan, busakan dengan air lalu usap merata ke seluruh wajah.


Lalu Gue Pakai Herbalism Mugwort Mask

Kenapa pakai yang Herbalism Mugwort Mask dulu, alasannya karena kulit gue kadang masih jerawatan. At least sebulan sekali saat sedang menstruasi meski nggak parah-parah amat. Nah, kandungan mugwort extract berfungsi sebagai anti infamasi yang mampu meredakan peradangan pada kulit berjerawat, pas banget sama kulit gue. Jadi teman-teman sesuaikan saja dengan kondisi kulitnya masing-masing ya. Untuk face mask yang Seriously Sooting & Hidrating Gel Mask bakal gue bahas sehabis ini ;)




Scarlett Herbalism Mugwort Mask ini memiliki kandungan mugwort extract, vitamin C, glutathione, niacinamide, bamboo charcoal, allantoin, ahlorophyllin dan green tea powder. Setelah gue cari tahu ternyata manfaatnya banyak sekali! Diantaranya; mugwort extract mempunyai efek membantu menenangkan kulit, vitamin C membantu meningkatkan produksi kolagen, glutathione dan niacinamide membantu  menyamarkan noda pada kulit dan mencerahkan warna kulit, bamboo charcoal efektif dalam membantu membersihkan kulit, allantoin membantu menjaga kelembapan dan kelembutan, dan chlorophyllin juga Green Tea Powder sebagai antioksidan yang baik untuk anti-aging! Pantas saja gue langsung merasakan efeknya di pemakaian pertama :)




Waktu gue dengar "herbalism", jujur gue pikir aroma maskernya bakal "aneh" gitu, kaya jamu. Tapi ternyata nggak, malah mirip aroma es krim vegan kesukaan gue, hahaha. Saking enaknya gue sampai tergoda buat jilat :p Eh, tapi jangan dong! Rakus amat masa xD Di jar face mask berisi 100 g ini sudah dilengkapi spatula mini, jadi pengaplikasiannya mudah banget. Gue tinggal ambil masker dengan spatulanya, lalu gue ratakan di wajah yang sudah dibersihkan dengan Scarlett facial wash. Setelah itu gue diamkan selama 15 menit sambil membaca buku supaya dapat inspirasi menulis, hahaha. Lalu dibilas. Selesai! Wajah gue langsung terasa segar. Semua kekusaman kulit gue akibat kelamaan di depan laptop rasanya terangkat semua :') 

Yang gue rasakan masker ini memang bisa mengangkat minyak, tapi gue bikin kulit jadi kering. Wajah gue juga rasanya nggak tegang/tertarik seperti ketika pakai clay mask kebanyakan. Entah ini cuma perasaan gue atau memang beneran berpengaruh, face cream gue rasanya jadi terasa lebih menyerap setelah maskeran! Jadi berasa maksimal gitu skin care-annya :)

Gue Juga Pakai Seriously Soothing And Hydrating Gel Mask!

Seperti yang gue bilang sebelumnya, gue pakainya ganti-gantian sesuai kondisi kulit. Meski jenis kulit gue kombinasi, belum pernah sih gue coba pakai kedua varian masker secara bersamaan, hahaha. Satu persatu saja dan NGARUH BANGET di gue! :D Gue pakai yang Seriously Sooting & Hydrating Gel Mask kalau pas nggak jerawatan. Kandungan terdapat niacinamide, vitamin C, grape fruit water, seven berry extract, ginseng extract, centella asiatica, rose flower water dan allantoin. Yang memberi manfaat diantaranya; Seven berry extract;
- Blackberry, membantu menghidrasi kulit.
- Blackcurrant, membantu meredakan peradangan.
- Blueberry, kaya akan antioksidan untuk membantu melawan radikan bebas.
- Raspberry, membantu meningkatkan produksi kolagen.
- Cranberry, membantu mencerahkan dan membuat kulit tampak lebih bersinar.
- Acai berry, membantu mencegah tanda-tanda penuaan dini.
- Strawberry, membantu mengangkat sel-sel kulit mati sehingga dapat membantu mencerahkan kulit. 
Juga ginseng extract membantu menyamarkan kerutan secara nyata, centella asiatica extract sebagai antioksidan yang baik, rose flower water dapat membantu mengurangi kemerahan dan bengkak pada kulit, dan allantoin membantu menjaga kelembapan dan kelembutan kulit. 





Sama seperti Herbalism Mugwort Mask, jar Seriously Sooting Hydrating Gel Mask juga dilengkapi dengan mini spatula jadi mudah untuk diaplikasi ke kulit wajah. Yang gue rasakan, selain teksturnya yang berbeda (---ini lebih lembut), aromanya juga nggak terlalu kuat dan menyegarkan banget. Efeknya di kulit gue bikin lembap, tapi as always, nggak bikin berminyak. Sehabis pakai masker gue lanjutkan skin care routine seperti biasa. Gue pakai toner, serum lalu face care.

Gue pakai Scarlett bukan semata karena cocok lho. Tapi karena Scarlett sejalan dengan prisip gue yang sebiasa mungkin nggak menggunakan sesuatu yang diujicobakan pada hewan. Baik facial wash maupun face mask, keduanya not tested on animal. Ditambah sudah teregistrasi di BPOM RI, bebas merkuri dan hydroquinone, jadi makin tenang pakainya :) Gue juga suka karena dapetin produk-produknya gampang banget, dari http://linktr.ee/scarlett_whitening jadi dijamin asli dan aman. Dan nggak lupa harganya juga cocok dengan kantong gue yang hobi jajan buku, hahaha. Per produk Rp, 75.000 saja, jadi terjangkau sama berbagai kalangan. Gue yakin uang saku pelajar juga masih okay buat beli Scarlett ;)

Sekarang sudah hampir jam 11 malam, gue mau maskeran dulu sebentar sambil baca novel yang baru gue beli (---mudah-mudahan nggak bablas sampai pagi, haha). Semoga tulisan gue bermanfaat ya, teman-teman! See you! ;)

yang suka belanja buku sama belanja skin care,

Indi

Jumat, 12 November 2021

Halloween 2021: Kostum Squid Game Pakai Celana Anak SD sampai Kue Kuburan!



*
*
*

Akhirnyaaaa setelah setahun nunggu salah satu hari favorit gue datang juga! Halloween! ---Iya, gue sudah nunggu sejak Halloween tahun kemarin selesai, dong! Hahaha. Kalau yang sudah cukup lama suka nengokin blog ini pasti tahu lah ya betapa gue selalu antusias dengan Halloween :D Dulu gue selalu merayakannya dengan keluarga (baca: Ibu dan Bapak) di rumah, tapi setelah menikah gue merayakan dengan Shane, suami gue yang ternyata 11-12 sama gue :') 

Ini sebenarnya penjelasan yang diulang-ulang, tapi gue rasa nggak mungkin dong semua yang di sini bakal scroll ke postingan bertahun-tahun lalu cuma buat cari tahu kenapa gue suka Halloween. (---Ada yang sekedar iseng mampir ke sini saja gue sudah senang, huehehe...). Pertama, gue suka suasananya. Halloween jatuh di bulan Oktober yang mana musim hujan. Huaaah, gue paling lemah sama hujan. Nonton film horor jadi lebih seru, makan jadi terasa 100 kali lipat lebih enak (rakus!), belum lagi malam hari jadi terasa lebih panjang karena setiap detiknya gue nikmati banget. Yang kedua kostum! Cuma di waktu Halloween gue bisa jadi apa dan siapa saja tanpa harus merasa canggung. Apalagi kebanyakan kostum gue dibuat oleh Ibu, ---sambil diskusi atau mendesain kostumnya kami jadi punya moment mother-daughter yang berharga banget! :') Dan yang ketiga, Halloween adalah waktu yang tepat untuk kreatif. Iya, kreatif memang bisa kapan saja, tapi karena gue suka dengan suasananya jadi momentnya pas. Dari mulai dekorasi sampai makanan gue pasti semangat banget buat berkreasi. Apalagi sejak 3 tahun yang lalu kami memulai "tradisi" mengukir labu :)


Dibanding tahun kemarin, Halloween tahun ini terasa lebih "niat". Dekorasi dan kostumnya saja sudah gue dan Shane pikirkan sejak bulan September, hahaha. Rencana kami adalah untuk menyicil, supaya nggak tiba-tiba mengeluarkan biaya besar. Apalagi kami memang selalu pakai key word: KREATIF. Jangan sampai membuang-buang uang, makanan dan waktu. Pokoknya jangan sampai kesenangan satu hari bikin kami jadi mubazir. Untuk dekor nggak semua baru (as always). Gue bawa beberapa dari rumah orangtua, bekas DIY gue zaman masih muda belia :p Sisanya kami beli online. Kebetulan ada bantuan juga dari Ibu Mertua tercinta yang sama-sama Halloween enthusiast ;) Lucunya karena perencanaanya jauh-jauh hari, untuk kostum gue berubah pikiran melulu. Hampir tiap hari tuh gue ganti-ganti kostum yang gue mau. Bisa pagi-pagi bilang sama Shane mau jadi A, eh... sorenya berubah mau jadi B. Sampai pusing kayanya suami gue, hehehe. Untung dia sabar :p


Hantu-hantuan ini sudah ada sejak Halloween 3 tahun yang lalu. Sempat terlupakan, hahaha.


Kartu ucapan Halloween dari keluarga mertua dan lilin yang ada typonya :p


Gue sempat mau jadi Matilda, sampai kostumnya sudah nonkrong di list belanja, tinggal check out. Eh batal gara-gara nggak bisa mutusin mau jadi Matilda versi buku atau film, ---mau jadi Matilda di scene ono atau scene ini. Terus berubah lagi jadi mendiang Suzzanna. Sudah cari wig di toko online, nonton make up tutorial sampai cari seragam Hansip buat Shane supaya dia bisa jadi Bang Bokir, tapi ujung-ujungnya batal karena pusing sendiri. Gue nggak bisa make up! Lipstik aja nggak punya, lah nanti mau makeup pakai apa? T_T Kalau beli dulu nggak sesuai dengan pedoman Halloween ala Indi dan Shane, dong, which is... ngirit :p 

Akhirnya gue usulkan sama Shane untuk pakai kostum Squid Game! Kenapa? Karena gue baru selesai nonton serialnya dan cuma itu yang kepikiran. Shane setuju, padahal dia (saat itu) belum pernah nonton. Katanya terserah gue saja, asal gue happy dia ngikut. (Aseeek).

By the way, ini kejadiannya di akhir bulan September ya. Jadi Squid Game belum sehype di bulan Oktober (dan sekarang). Masih lumayan sepi, bahkan kalau gue cari kostumnya online pun belum ada seller lokal yang jual. 


Nah, justru karena belum ada yang jualan kostumnya, gue jadi makin semangat buat cari ide. Gue paksa Shane buat nonton Squid Game at least episode pertama saja supaya dia nggak blank-blank amat. Ya, minimal tahu kostumnya kaya gimana lah. Masa pas Halloween dia nggak tahu jadi siapa. (---Eh, siapa juga yang bakal nanya sih, hahahaha). Setelah Shane lumayan akrab sama serialnya (yang ternyata dia HABISIN dalam dua malam saja), kami baru diskusi gimana cara dapat kostumnya. Ingat key wordnya, guys: KREATIF (---dan irit, hueheee). Kami nggak akan beli dari luar negeri. Kalau masih bisa bikin sendiri ya lakukan. Tiba-tiba gue punya ide buat mencari pengrajin jaket di daerah kami yang bisa custom made. Sengaja gue cari yang biasa bikin tracksuit. kenapa? Supaya gampang dicustom! Seragam peserta Squid Game itu kan dasarnya "cuma" tracksuit ditambahin nomor, modelnya sudah pasti gitu-gitu saja. Gue tinggal mencari warna yang mendekati terus minta ditempel nomor pilihan deh di bagian dada dan punggungnya. Sesimple itu :D Mau tahu berapa harga "jaket seragam ala-ala" Squid Game kami? 60 ribu saja! ---Iya, se-affordable itu coba :') Sampai sekarang gue dan Shane masih suka senyum-senyum sendiri, bangga aja gitu karena pas cek di toko online harga pasaran jaket seragamnya ratusan ribu, hahaha x'D


Meski dibuat sebelum serialnya ngehype tapi jaket gue cukup mirip, kan?


Di bagian belakangnya juga ada nomornya. Gue wanti-wanti penjualnya supaya posisi nempelnya pas xD


Gue cuma keluar modal 60 ribu lho iniiii. Ya ampun, bangga banget sama diri sendiri, hahaha.


Jaket sudah dapat, tinggal cari celananya. Ini sih lebih gampang lagi. Tinggal pakai celana training hijau, sudah deh kami mirip Gi Hun dan Kang Sae-Byeok (astaga becanda, guys T_T ). Gue cari yang paling murah, ukuran anak kelas 6 SD. Anak-anak sekarang kan bongsor-bongsor tuh, jadi muat-muat aja dipakai gue dan Shane. Yaa... kependekan dikit sih, tapi gak apa-apa, tinggal pelorotin dikit aja pakainya :p Harganya bahkan lebih murah dari jaket, cuma 20 ribu doang. Jadi dengan uang 80 ribu gue bisa dapat satu stel seragam Squid Game. Asik nggak tuh :p 


Celana olahraga anak SD yang disulap jadi seragam Squid Game. Gak 100% mirip dengan di serial tapi ini bagian dari kreatifitas gue :D


Celana kependekan bisa diakalin dengan dipelorotin, hahaha. Untungnya Shane bilang celananya nyaman. Malah sempat dipakai main keluar juga, lho :)


Kostum sudah siap kami tinggal pasang-pasang dekor dan isi toples sama permen, ---karena sudah pasti lah bakal dipalakin sama bocah-bocah. Rencananya duo babies, Ali dan Cody boy bakal merayakan Halloween bersama kami. Kostum sudah kami siapkan jauh-jauh hari. Awalnya sih gua masih lemah lembut nanya mereka mau jadi apa buat Halloween, tapi ternyata mereka 11-12 sama tantenya; jawabannya ganti-ganti melulu! x'D Akhirnya gue dan Shane belikan saja mereka kostum tengkorak. Dipakai nggak dipakai terserah, ---tapi nggak boleh minta gantinya dan nggak boleh makan permen :p Ternyata mereka suka banget sama kostumnya, dong. Belum Halloween saja sudah dilihat-lihat terus sampai akhirnya gue sembunyikan di lemari. Takutnya mereka keburu bosan :D


Ada yang happy dengan kostumnya. Hore!


Sebelum Halloween gue cuma isi jarnya setengah doang. Soalnya takut diambilin melulu permennya :')



This is Halloween!


Pas hari H ternyata Cody nggak bisa datang karena sedang menginap di rumah nenek dari pihak bundanya. Tapi it's okay, buat gue dan Shane Halloween kan berlangsung sampai bulan November, jadi dia selalu bisa menyusul, hehe.  Mungkin karena sedang hujan deras dan malamnya begadang buat nonton film seram, Shane agak ngantuk ketika Ali datang. Kostumnya nggak langsung dipakai dan dia cuma kedip-kedip waktu gue dan Ali sibuk pakai kostum. Untungnya nggak lama, disogok permen dia langsung semangat dan bertransformasi jadi Gi Hun versi Barat. (Lah?! Hahahaha). Oh iya, hampir lupa cerita. Jadi beberapa hari sebelum Halloween gue dan Shane putuskan untuk menambahkan kaos di kostum kami. Memang sih nggak terlalu penting karena mostly kami kan pakai jaket. Tapi pertimbangannya saat musim hujan udara Bandung itu lembap, pasti sesekali kami ingin melepas jaket. Dan dengan memakai kaos orang yang lihat nggak akan menyangka lagi mau olahraga di Gasibu :p (Again, siapa juga yang bakal lihat ya, lol). Nggak pakai ribet, kami cuma pesan kaos raglan dengan lengan berwarna hijau. Nggak perlu sama-sama amat warnanya dengan celana dan jaket kami, yang penting ada nomornya. ---Gue rasa kaos ini complete our look ;)


Agak sedih sih mereka gak bisa pakai kostumnya barengan. Jadi gue bikin foto ini saja supaya bisa sedikit mengobati :')


Sebelum Halloween Shane potong rambut sendiri. Keren gak sih, segitu menjiwainya dia jadi Gi Hun xD


Kami nggak punya rencana "harus" ngapain saja pas Halloween, sih. Yang penting menikmati hari :) Di luar juga sedang hujan, menambah suasana mager. Jadi kebanyakan waktu kami lewati dengan menonton film sambil makan permen. Gue bebaskan Ali untuk memilih film Halloween untuk diputar di ruang TV. Dia pilih Toy Story dan Luca, ---padahal gue sudah pilih Goosebumps :p Di tengah-tengan film, perut terasa lapar (kami skip sarapan, terlambat bangun). Gue lalu masak spageti untuk makan siang. Bukan spageti biasa tentunya, ---tapi spooky spaghetti! :D Spagetinya dihias dengan "laba-laba" yang gue buat dari jamur. Idenya gue dapat dari Halloween 7 tahun yang lalu. Waktu itu gue masih pescatarian, dan Bapak membuatkan gue "laba-laba" dari bakso ikan. Berhubung gue sekarang vegan, jadi diganti dengan jamur. Hasilnya masih tetap bagus kok, buktinya Ali amaze sekali dengan "laba-laba" nya. Dia pikir ide membuat laba-laba dari jamur itu jenius, padahal cuma modal tusuk-tusuk spageti mentah ke jamur sebelum direbus, ya :'D Shane juga suka dengan spagetinya, dia makan sampai habis meski kemarin malamnya juga dia makan spageti :p


Apapun bisa dibuat vegan. ---Termasuk "laba-laba", hahaha.


Oya, dari sekian banyak dekorasi Halloween tahun ini, ada satu yang sangat istimewa untuk gue. Yaitu mainan nenak sihir yang bisa tertawa dengan sensor suara! Mungkin bagi orang lain biasa saja ya (bahkan Ibu Mertua juga punya mainan yang sama dan sudah sangat lama), tapi buat gue mainan itu adalah impian masa kecil! Entah sudah berapa kali gue cerita sama Shane kalau gue sangat ingin mainan itu. Dulu, waktu gue kecil dan sempat tinggal di Jakarta sebentar, gue sering diajak ortu ke Mall Kelapa Gading karena dekat dengan tempat kami tinggal. Di hari menjelang Halloween, Mall didekor dengan berbagai macam pernik. Salah satunya ada si nenek sihir yang digantung di atas eskalator. Gue lupa gimana ceritanya, tapi gue dan Bapak jadi tahu kalau mainan itu bakal ketawa jika gue teriak (---iya dong, gue teriak-teriak di Mall, pasti annoying banget dah, hahaha). Akhirnya gue bolak-balik naik eskalator cuma buat bikin si nenek sihir ketawa :') Nggak tahu kenapa buat gue mainan itu amusing banget, kaya ada daya tarik tersendiri, hehe. Gue sampai minta Bapak beli mainannya tapi ternyata nggak dijual, cuma dekor saja. 

Makanya pas akhirnya bisa nemu mainan itu di internet gue senang sekaligus haru gitu T_T Gue dan Shane sudah mencari di internet dengan berbagai kata kunci tapi nggak ketemu-ketemu. Eh, tahunya malah ketemu pas masukin kata kunci nggak spesifik: "Halloween Decor". Yelah, nenek :')


Setelah puluhan tahun akhirnya kamu jadi milikku, Nek :')


Anyway, balik lagi ke cerita aktivitas Halloween. Selesai kami makan Ali nggak sabar mau mengukir labu. Dari semua persiapan Halloween yang sudah ada dari jauh-jauh hari, cuma labu yang kami beli mendadak. Aneh ya, padahal Halloween identik dengan labu jadi harusnya paling pertama dibeli, hahaha. Well, sebenarnya gue dan Shane punya alasan sendiri. Labu setelah diukir akan cepat busuk jadi sayang kalau beli jauh-jauh hari karena nggak bisa dipajang lama-lama setelah Halloween. Jadi yang dipajang sebelum Halloween tiba labu bohongan. Resiko beli labu mendadak ya... kami dapat sisa! Labu yang kami dapat kecil-kecil, karena tentu yang besar-besar sudah dibeli orang xD Tapi no biggie sih buat kami, labu kecil juga fun karena tetap bisa diukir dan dimakan bijinya :D

Untuk pertama kalinya Ali menggambar pola di labu secara utuh, lho. Tahun kemarin dia hanya gambar mulutnya, itu pun masih ragu-ragu. Mungkin Ali sudah lebih besar sekarang (---aww...), atau mungkin juga karena tahun ini dia menggambar menggunakan spidol, jadi lebih mudah. Setelah itu tentu saja gue yang mengukir labunya. Sampai beberapa tahun kedepan Ali hanya boleh menggambar dan membersihkan isi labu, karena bahkan buat orang dewasa seperti seperti gue dan Shane pun mengukir labu bisa sedikit berbahaya jika kurang hati-hati. Kulit labu yang tebal kadang membuat kami salah perkiraan, tahu-tahu pisau sudah menancap dalam padahal tangan kami masih ada di dalam labu :/ Tapi beberapa hari yang lalu gue melihat ada YouTuber yang menghias labu dengan stiker. Mungkin kapan-kapan bisa dicoba supaya ada variasi, ya! :D



Shane perlu waktu lama untuk memutuskan pola seperti apa yang akan ia gambar di labu. Sudah dapat beberapa referensi dari google tapi ujung-ujungnya malah pakai pola yang super sederhana, hahaha. Katanya khawatir gagal karena labunya kecil :p Gue sih nggak begitu peduli dengan bagaimana penampilan labu-labu kami. Yang terpenting moment kebersamaannya, istimewa :) Lagipula mau bentuknya nggak karuan sekalipun kalau sudah dimasukkan lilin pasti keren kok. ---Eh, tapi maksudnya bukan berarti gue menganggap labu-labu kami jelek yaaa. Bagus-bagus, kok. Tuh, lihat saja fotonya :p

Labu-labu kami pajang di ruang TV saja, nggak di balkon seperti tahun kemarin karena hujan sangat deras. Kalau dipikir kami malah nggak menginjak balkon sama sekali deh, hahaha. 





Gue sempat menawari Ali untuk menonton film lain, tapi dia nggak mau. Toy Story pun sudah habis dia tonton sampai yang kedua, lalu dilanjutkan Luca yang... entah sudah keberapa kali ia tonton dari sejak film itu keluar :'D Ya, gue dan Shane ngikut saja, toh Ali sangat enjoy. Kasian juga kalau diganggu. Apalagi kalau Halloween gini gue kepengen anak-anak senang. Rasanya nggak fair saja gitu dulu-dulu at least ada aktivitas di sekolah (biasanya pesta kostum atau trick or treatin'), tapi sekarang anak-anak ngapain kalau Halloween? Paling di rumah saja. Makanya gue (dan Shane) berusaha keras supaya Halloween tetap berkesan dan bisa dikenang, meskipun nggak kemana-mana :)

Baking kue "kuburan" biasanya jadi acara utama kalau Halloween, tapi berhubung Ali asyik dengan filmnya jadi gue langsung mulai saja sendirian. Eh, dibantu Shane sih, karena gue mana bisa megang oven, hehe. Ternyata aroma batter kue bikin perhatian Ali teralih, dia langsung ikut membantu dan waktu kuenya masuk oven dia terus-terusan ngingetin gue supaya dicek. Padahal kan pakai timer :D Malah waktu kuenya dikeluarkan dan ternyata masih kurang matang Ali minta gue supaya jangan dimasukan lagi. Sudah segitu saja katanya karena sudah nggak sabar mau makan. Untung kami vegan ya, jadi kuenya tanpa telur. Aman dimakan meski setengah matang (baca: setengah jadi), hahaha. 


Ali menghias kue "kuburan" nya dengan gummy worms. Ini wajib, meskipun gue sudah bilang kalau permennya mengandung gelatin. Katanya nggak apa-apa, nggak usah dimakan untuk hiasan saja. Hahaha, ya sudah lah asal beneran cuma setahun sekali :'D 

Kue "kuburan" ini ada sejarahnya, lho. Dulu gue menyebutnya "mud cake" alias kue lumpur. Tapi berhubung Ali punya ide untuk menambahkan batu nisan, jadilah kue "kuburan". Dia tahu batu nisan dari makam Veggie, anjing kami dulu. Akhirnya sejak Halloween dua tahun lalu hadirlah tradisi ini, membuat kue "kuburan" :D

Meski bentuknya lumayan realistik (---mirip tanah), tapi rasanya sangat enak. Apalagi karena bagian tengahnya belum set jadi lumer-lumer gitu, hahaha. Saking enaknya Ali cuma makan sedikit dan minta sisanya dibawa pulang. Katanya supaya Abah dan Uti nyicipin juga. Aww, how sweet :') 


Seram gak sih itu tengahnya longsor? T_T Gara-gara Ali gak sabar nih belum set sudah diangkat aja.



Beli bahan-bahan di Indomaret di komplek apartemen.



Halloween ---AGAIN!


Setelah Halloween selesai sengaja dekor-dekornya nggak dibereskan dulu. Kenapa? Jaga-jaga kalau si Cody Boy bisa mampir ke rumah gue dan Shane, jadi kami bisa merayakan Halloween LAGI! :D Rasanya sedih saja tahun kemarin pun ia nggak bisa datang dan katanya sempat menangis karena merasa nggak diajak T_T Padahal kami nggak pernah pilih-pilih, lho, sayang dengan semua keponakan. Bedanya dengan Ali, dia memang sekolah didampingi gue, jadi tentu saja lebih sering ketemu. Dan akhirnya kabar baik pun datang. Ali mengabari gue kalau adiknya ikut datang untuk menemaninya bersekolah di rumah kami. Hore! Gue dan Shane langsung sedikit rapi-rapi rumah untuk menyambutnya. Dan sungguh kebetulan yang manis, ketika mereka tiba gue juga baru menerima paket pernik dan treats Halloween dari Cloudy Store (cloudystore.kr)! Waaaah, bikin nggak kalah meriah sama Halloween kemarin, nih! :')




Samyang dan Pringlesnya vegan jadi buat gue dan Shane. Sisanya buat the babies. Cute banget gak sih warna treatsnya Halloween sekali :D


Halloween kami tahun ini semakin meriah dengan pernak-pernik dari Cloudy Store. Keren banget gak sih bisa titip belanja dari Korea :')


Melihat Cody senang, gue dan Shane pun ikut senang. Akhirnya dia bisa merayakan Halloween sama kami. Dulu sebenarnya Cody juga pernah ber Halloween bersama keluarga gue di rumah orangtua (---waktu gue belum menikah). Tapi dia masih keciiiiiil banget, masih digendong dan sepertinya dia nggak ingat. Selanjutnya karena ia lebih sering menginap di rumah nenek dari bundanya, plus nggak sekolah sama gue, semakin susah lah untuk ketemu pas Halloween :'D Tapi no worry, gue pastikan dia juga mendapat kenangan yang sama indahnya dengan Ali. Gue dan Shane bekali ia dengan banyak permen, kostum Halloween, bahkan membebaskannya untuk menonton film yang ia mau. ---Ia pilih Spongebob, btw, hahaha. Mudah-mudahan saja tahun depan Cody dan Ali bisa mengukir labu bersama ya :)


Kostum boleh dilepas, tapi outfit tetap dong vibesnya Halloween sampai akhir bulan :D



Detail kaus kaki dari Cloudy Store super gemas!


Sampai gue menulis ini dekorasi Halloween belum diturunkan. Rasanya sayang saja karena kami masih ingin mengingat-ingat moment manis bersama keluarga. ---Well, mungkin minggu depan ada sebagian yang diturunkan karena Ali akan berulang tahun yang keenam dan ia ingin dekorasi Minecraft, hehe :)

Setiap Halloween selalu meninggalkan kesan yang berbeda, dan tahun ini rasanya sangaaaat penuh cinta. Kami nggak hyper sampai ketawa-ketawa gimana, malah bisa dibilang kebanyakan cuma nonton film, kan. Tapi rasanya hangat saja. Melihat Shane yang super niat begadang buat dekor, dengerin semua yang mau gue, Ali yang nggak rewel dan bawaannya senyum terus, dan ditambah Cody yang happynya bikin nular... kurang sempurna gimana coba :') Belum lagi Ibu Mertua dan Kakak Ipar yang meskipun nggak bisa hadir di sini perhatiannya tetap bisa bikin gue meleleh. Tahu kami pakai kostum Squid game mereka terus-terusan meminta kami mengirimi foto, ---sampai bingung gue harus pose gimana lagi xD Padahal reaksi Ibu Mertua waktu nonton serialnya nggak begitu baik lho karena beliau nggak suka kekerasan. Tapi tetap saja excited dengan kostum kami :'D


Yaaa, begitulah cerita Halloween dari keluarga gue. Sederhana, ---tapi gue nggak mau tukar dengan apapun! :) Bagaimana Halloween kalian kemarin? Semoga menyenangkan, ya. ---Halloween mungkin bukan untuk semua orang, tapi perasaan bahagia dengan keluarga itu universal, kan? ;)





boo!


INDI


---------------------------------------------------------------

Kontak email: namaku_indikecil@yahoo.com | Facebook: Indi Sugar | Instagram/Twitter: Indisugarmika | YouTube: Indi Sugar Taufik