Tampilkan postingan dengan label Singapore. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Singapore. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Desember 2018

Singapore Trip: Happy Tapi Kok Minta Pulang?

Hah? Sudah malam tahun baru saja besok :O Time does flies, ya... Rasanya kayak baru kemarin aku asyik edit-edit novel kelima, eh tahu-tahu saja sudah mau berganti tahun. Jujur saja rasanya aku kurang produktif di tahun 2018. Bukan karena 100% malas sih, tapi ada beberapa hal yang berubah dan "mengeluarkan" aku dari zona nyaman, ---yang bikin harus adaptasi dari awal. Kalau saja bisa kembalikan waktu, aku mau. Tapi ini kan dunia nyata bukan The Twilight Zone, hehehe. Jadi daripada disesali lebih baik sih diperbaiki. I'm gonna be a better me. Amen! :) 
Dari sekian hal yang membuat aku "keluar dari zona nyaman" ada satu hal yang sama sekali nggak aku sesali alias nggak mau ganti dengan apapun. Ada yang bisa tebak apa? Well, kalau sempat baca post ku yang kemarin-kemarin pasti tahu. ---Aku punya suami! Selain keinginan dari diri sendiri, dialah yang membantuku pelan-pelan kembali ke track yang benar. Aku bersyukur dia, ---Shane, nggak memaksakan agar aku bisa kembali produktif secara instan, malah kemarin kami sempat jalan-jalan singkat ke Singapore untuk berlibur sekaligus me-restart tubuhku :)


Ide jalan-jalan ini sebetulnya nggak seluruhnya ide suami. Dia memang berencana mengajakku ke Singapore untuk suatu keperluan, tapi lalu Ibu Mertua punya ide agar aku juga bisa bersenang-senang di sana. "Hadiah natal untuk Indi", begitu katanya. Ya sudah yang tadinya aku hanya membawa piyama banyak-banyak (karena niatnya mau stay di hotel saja, hehehe), jadi ditambah beberapa dress deh biar kece :p By the way, ada yang ingat dengan cerita liburanku sebelum ini kah? Nah, setelah pengalaman yang sampai sekarang meninggalkan trauma itu aku jadi wanti-wanti sama Shane untuk membaca baik-baik dulu review hotel tempat kami menginap nanti. Jangan sampai foto-foto di situsnya bagus tapi setelah sampai ternyata jauh berbeda. Aku sih lebih percaya apa kata pelanggan daripada kata situs karena bisa saja dimanis-manisin. Syarat yang kuminta juga nggak muluk-muluk, asal bersih, wifi kenceng, ada bathup, dan bakal nilai plus kalau ada hair dryer karena aku malas bawa tas berat-berat. Maklum dari zaman masih bocah tas travelingku cuma satu dan ukurannya nggak besar-besar amat, hehehe. Akhirnya setelah Shane punya 3 kandidat hotel dia nemu juga hotel yang pas. Keesokan paginya kami langsung terbang ke Singapore, deh :)

Kami terbang dari Bandung dengan menggunakan pesawat Air Asia. Nggak sempat sarapan dan waktu tiba sudah pas-pasan dengan waktu boarding. Sebenarnya ada sih waktu sedikit, tapi kami sempat ditanya-tanya dulu sama petugas imigrasi karena Shane over stayed beberapa hari. Iya, meski kami sudah menikah suamiku masih pakai visa on arrival, jadi hanya berlaku 30 hari. Dan dia sudah tinggal di sini selama 7 bulan, ---jadi coba hitung saja berapa kali dia harus meninggalkan Indonesia setiap bulan agar bisa bersamaku. Saking seringnya Bandung-Singapore-Bandung jadi terasa seperti ke mall saja, karena berangkat pagi sorenya sudah di Bandung lagi. Awalnya rasanya sih kasihan, kok demi pacar begini amat. Tapi sekarang aku malah merasa wajar, you need to fight for love, benar nggak? :) 
Setelah selesai dengan urusan imigrasi (---yang menurut Shane petugasnya flirting sama aku karena kami disangka temenan, bhahahahaaaa) penerbangan berjalan lancar. Nggak sempat tidur sih karena perut lapar dan menu di pesawat nggak ada yang vegan friendly. Tapi mood kami baik sekali, sepanjang perjalanan ngobrol terus dan main cilukba dengan penumpang cilik yang duduk di depan kami, hehehe.


Setiba di Changi airport kami nggak langsung ke hotel tapi cari makan dulu. Sekalian Shane juga ajak aku berkeliling karena airport ini sudah jadi "tempat tinggal" keduanya selama 7 bulan terakhir (aww...). Pilihanku nggak jauh-jauh sama Nasi Padang. Paling aman deh, soalnya ada menu perkedel sama terong dan nasinya segunung jadi dijamin kenyang dan vegan (eh tapi nggak tahu ya kalau ternyata perkedelnya pakai egg wash T_T). Selesai makan kami duduk-duduk sambil main ukulele. Mau menginjakkan kaki ke luar rasanya malaaaaas banget, soalnya matahari lagi terik-teriknya. Jadi kami santai dulu sambil menunggu waktu check in hotel. Ini nih salah satu alasan kenapa aku cinta sama Shane, kami sama-sama malas panas-panasan, hehehe. Oh iya, dulu pas aku ke Singapore sama Bapak kami boros banget gara-gara pakai taksi ke mana-mana. Bersyukur aku diberitahu teman, Wilson namanya, untuk pakai aplikasi Grab saja karena lebih murah dan cepat dapatnya. Aplikasinya nggak perlu khusus, secara otomatis bakal baca lokasi kita meski download app nya pas di Indonesia. Pokoknya ini life saver banget karena dari pintu terminal kami rupanya cukup susah untuk dapat taksi dan kendaraan umum lainnya. Saking susahnya driver yang jemput kami sempat salah lokasi. Untung saja beliau sabar banget dan mau muter-muter tanpa charge kami lebih *fiuuuh* :D


Hotel yang Shane pilih itu namanya Grand Pasific. Entah deh masih ada hubungannya dengan hotel yang bernama sama di Bandung atau nggak. Jarak dari airport sekitar 20 menitan, tepatnya di Victoria Street. Kesan pertama, aku suka dengan suasana daerahnya yang sepi. Nggak gitu banyak turis lalu lalang dan hotelnya juga sederhana. Kalau kata Shane sih, "Gedungnya tua, tapi tuanya tua dalam artian bagus." ---Nggak tahu deh apa maksudnya, hahaha :') Kami kebagian di lantai 10, di kamar paling ujung dekat tangga darurat. Aku dan Shane langsung girang, soalnya itu artinya kami bisa nyanyi dan main ukulele sampai larut tanpa takut ada yang merasa terganggu. Hore! Sudah dua kali berturut-turut saat menginap kami kebagian kamar yang "bebas merdeka", sungguh kebetulan yang menyenangkan :D Prinsip kami sih mending menginap di tempat yang lumayan supaya fasilitas toiletries atau personal carenya lengkap. Jadi space di tas bisa buat alat musik, laptop dan, ehm... boneka kelinciku, hehehe. Paling hanya sabun cuci muka dan deodoran saja yang bawa dari rumah, lainnya seperti lotion, qtips, dll sudah ada. Karena happy ala kami ya begitu, bisa menulis, bisa nonton film, bisa main musik, bisa santai... Rasanya kaya surga dunia, hehehe. 



Shane langsung rebahan di kasur sementara aku langsung berendam air hangat. Rasanya nyaman sekali setelah paginya aku mandi agak keburu-buru. Sayangnya aku lupa bawa bathboom yang mertuaku kasih, jadi cuma pakai shower gel biasa. Aku juga sudah siap bawa HP ke kamar mandi supaya bisa sambil nonton film, tapi rupanya wifi selalu putus-nyambung begitu di wilayah tub. Jadi ya sudah aku merem-melek saja sambil menikmati siang menjalang sore. Setelah selesai aku pun menyusul Shane yang sudah terlelap (mungkin kelamaan nungguku, hehehe). Saking nyenyaknya kami terbangun tengah malam dalam keadaan lapar. Insting pertamaku langsung ajak Shane jalan kaki buat cari makan murah-meriah. Tapi lalu aku sadar kalau di daerah ini restoran sudah pada tutup, dan yang buka 24 jam cuma mini market. Yah... makan mie instannya besok-besok saja dulu deh... Masa lagi liburan sudah berasa kaya pas akhir bulan di rumah, hehehe :p Hasil cek google restoran terdekat yang masih buka jaraknya di atas 4 KM semua. Jangankan cuci muka, buat ganti piyama dengan yang baju yang agak mendingan saja aku sudah malas... Akhirnya kami putuskan untuk pakai Grab food. Agak asing dengan aplikasinya karena di Bandung kami biasa pakai Gofood atau delivery order ke restorannya langsung. Sempat 2 kali gagal karena jaraknya di luar area, dan waktu akhirnya dapat ternyata makanan Meksiko. Padahal awalnya aku lagi kepengen banget makanan India, hehehe. Tapi nggak apa-apa deh, soalnya Baja Bowl dari Baja Fresh Mexican Grill ternyata enak banget! Aku sampai habiskan 2 mangkuk besar dan setelahnya... langsung tidur lagi. Kekenyangan!


Karena aktivitas hari pertama kami cuma makan-tidur-makan-tidur, besoknya kami bangun pagi-pagi sekali. Rambutku agak lepek jadi sekalian saja aku mau coba jajal kemampuan hair dryer hotel. Di luar dugaan, meski kecil ternyata oke juga. Anginnya kuat banget, sampai-sampai rambutku yang tebal ini lumayan cepat keringnya. Sayangnya colokan di wastafel kamar mandi hanya untuk shaver. Jadi sehabis rambut kering aku nggak bisa styling pakai catokan di sana :( Untung saja aku banyak akalnya (lol). Aku pakai kamera selfie HP ku sebagai cermin! Agak-agak kagok sih, tapi it works. Sudah kece kami niatnya mau cari sarapan di luar. Alasannya karena menginap ternyata exclude sarapan. Tapi iseng-iseng kami tanya berapa harganya, ternyata terjangkau (kalau nggak salah sekitar 200 ribuan per orang) dan all you can eat! Ya sudah kami makan di sana, namanya Sun's Cafe. Menunya ala makanan rumah gitu, dan ada pilihan untuk vegan. Aku dan Shane puas banget dan berandai-andai kalau saja kami bisa makan "menu sarapan" untuk makan siang dan malam juga. Kan bisa hemat tuh. Secara pas kami hitung-hitung untuk makan malam yang lalu habis 500 ribuan. Mending aku makan di Ampera deh bisa traktir sekeluarga plus gratis teh anget :') 





Keinginanku buat main ukulele sepuasnya tercapai juga. Mungkin karena nggak was-was ada yang terganggu rasanya jadi lebih kreatif. Aku bikin lagu di sana, ---tepatnya pas lagi nongkrong di kamar mandi, hehehe. Aku dan Shane memang nggak banyak ke luar, sebagian besar waktu kami dihabiskan di kamar saja. Kami hanya keluar untuk makan, itu pun nggak jauh-jauh. Ada restoran namanya Din Tai Fung yang jaraknya cuma 2 belokan dari hotel. Sejauh ini rasa makanannya jadi yang paling memuaskan lidahku, soalnya pedas dan nendang. Sedangkan sisanya kami makan di kamar saja sambil genjang-genjreng ukulele. Eh, ngomong-ngomong ada pengalaman cukup horror lho di kamar kami. Seperti yang sudah aku sebutkan, kamar kami ada di ujung. Jadi sisi kirinya mentok dan sisi kanan langsung ke tempat tidur kamar lain bukan kamar mandi. Di depan kamar kami juga kosong dan kamar kami menghadap ke jalan, jadi suara yang terdengar harusnya cuma lalu-lalang kendaraan saja. Tapi beberapa kali kami dengar ada suara air mengalir, seperti orang pakai shower dan flush toilet gitu. Padahal aku sudah cek kalau ada yang pakai kamar mandi nggak terdengar tuh ke luar. Pernah lagi asyik nonton TV tiba-tiba saja ada "suara-suara". Malah yang lumayan bikin deg-degan lampu kamar kami suka kaya ada yang mainin. Seram-seram kocak, soalnya kami senang nonton film horror tapi kalau ngalamin ternyata takut juga, hahaha.







Di hari ketiga aku kepengen pulang. Padahal seharusnya kami menginap satu malam lagi, bahkan sudah berencana ganti hotel segala biar nggak bosan. Entah kenapa aku kepikiran melulu ikanku, Fish O'Fish. Jadi sebelum berangkat aku memang sempat nangis kejer gara-gara si ikan lagi sakit pop eye (mata bengkak). Sudah diobati dan minta saran sama teman-teman di grup tapi kondisinya masih gitu-gitu saja. Yang bikin makin khawatir dia jadi susah makan, padahal biasanya lahap. Selama di Singapore aku whatsapp bapakku terus buat nanya keadaannya. Katanya sih baik-baik, tapi karena nggak kirim bukti foto kok aku jadi curiga (---padahal rupanya memang baik-baik saja, lol). Aku bilang sama Shane kalau pulangnya lebih baik dipercepat saja. Toh aku sudah dapat cukup waktu untuk refreshing dan lama-lama bingung juga mau ngapain lagi. Sayangnya karena mendadak kami nggak dapat tiket yang langsung ke Bandung kecuali kalau berangkat pagi-pagi sekali. Well, itu sih nggak mungkin karena aku minta pulangnya saja sudah hampir tengah hari. Aku pikir sudahlah kami ke airport dulu siapa tahu ada yang cancel dan jadi rezeki kami. Jadilah kami check out dan jalan-jalan dulu sebentar. ---Maksudnya literally jalan kaki sambil ngalor-ngidul karena Shane rupanya belum mantap untuk pulang. Kami mampir dulu ke Food Republic dan ngobrol-ngobrol di sana. Kami bahas apa plus-minusnya kalau kami pulang sekarang atau besok. Tapi nggak butuh waktu lama Shane pun setuju untuk pulang, alasannya karena cuaca sangat panas dan setelah dihitung baju bersih dia juga tinggal satu, hahaha. Jadilah kami pesan Grab dan menuju airport.




Pas banget sampai di airport ibuku video call. Beliau kaget karena aku sudah mau pulang dan belum dapat tiket. Kayanya Ibu khawatir kalau aku bakal nginep di airport saking malas ke mana-mananya :p Tapi aku jelaskan kalau Shane sedang cari tiket, dan terakhir waktu kami cek ada penerbangan ke Jakarta untuk sore hari. Syukurlah ternyata kami kebagian meski sisa hanya beberapa seats saja, ---dan aku masih kebagian window seat pula! Alhamdulillah! :D Pokoknya aku girang-segirangnya. Kami cuma punya waktu 30 menit sebelum boarding, dan itu aku pakai untuk beli oleh-oleh baju buat Ali keponakanku, sementara Shane beli burger sayur untuk bekal di pesawat karena tahu nggak ada menu vegan di udara. Kami sempat berselisih, karena waktu kami sudah dipanggil Shane ternyata masih belum kembali. Padahal aku sudah ingatkan dia untuk lari. Aku sampai bilang kalau sampai kami ketinggalan aku mau nangis kejer, hahaha. *becanda*
Waktu kami duduk di pesawat rasanya aku lega banget. Nggak sabar untuk tidur di kamar kami dan ketemu lagi sama keluarga dan hewan-hewan peliharaan di rumah. Singapore memang negara yang menyenangkan, aku nggak pernah kecewa setiap kali berkunjung ke sana. Tapi nggak ada yang mengalahkan nyamannya rumah dan nikmatnya masak di dapur sendiri :))


Rupanya memang benar, aku hanya perlu refreshing. Keluar dari rutinitas ternyata membuatku rindu untuk kembali produktif. Mungkin karena terlalu larut dengan kemageran, bikin aku lupa tentang "pentingnya" liburan. Serius guys, jangan pernah menyepelekan kekuatan dari ambil break buat diri sendiri. Nggak usah jauh-jauh, nggak usah lama-lama. Yang penting beri diri sendiri waktu untuk rehat because you deserve it! ;)



nb: Aku deg-degan banget waktu buka pintu kamar, takutnya Fish O'Fish kenapa-napa. Rupanya oh rupanya, dia malah jauuuuh lebih sehat dari sebelumnya. Aku memang suka khawatir berlebih ya, hahaha :D


penggemar burger sayur,

Indi

-----------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Kamis, 06 Juni 2013

Sudah (Tidak Lagi) Menunggu...



Akhirnya gue memutuskan untuk bercerita di sini. Gue menundanya cukup lama karena meski pengalaman ini terjadi di akhir bulan yang lalu, tapi terkadang gue masih nggak percaya bahwa gue benar-benar mengalaminya...



Tanggal 22 Mei yang lalu, di pagi-pagi sekali sebelum gue mandi dan berangkat kerja handphone gue berbunyi. Ada email yang masuk. Sambil terkantuk-kantuk gue membukanya dan berusaha membaca tanpa kacamata. Lalu dalam hitungan detik posisi gue yang sedang menyandar malas langsung berubah menjadi terduduk tegak. Email itu dikirim oleh Sound Rhythm. Mereka mengabarkan sesuatu yang kelak akan menjadi kabar yang akan gue ingat seumur hidup:
Gue diundang untuk menonton konser Aerosmith di Singapore!
Gue mengedip-ngedipkan mata berkali-kali, memastikan bahwa gue nggak salah baca dan nggak sedang bermimpi. Ketika sadar bahwa semuanya nyata, gue langsung keluar kamar dan menunjukan email itu pada Ibu dan Bapak. Tanpa bicara karena gue menahan tangis. bertahun-tahun menunggu dan ketika rasanya kesempatan bertemu mereka sudah didepan mata, tiba-tiba saja gagal karena mereka batal konser di Indonesia. Dan sekarang, apakah ini adalah kesempatan gue untuk bertemu mereka?

Tangisan gue meledak ketika Bapak bertanya apakah gue yakin email yang baru diterima tadi bukan sebuah lelucon. Sejak kecil teman-teman memang sudah mengetahui bahwa gue sangat mengagumi Aerosmith, jadi bukan nggak mungkin jika salah satu dari mereka sedang menggoda gue sekarang. Gue bilang, "nggak tahu" dan memohon agar Ibu dan Bapak menikmati moment ini dulu, nggak memikirkan ini email lelucon atau bukan. Seenggaknya memberikan gue harapan bahwa akhirnya gue bertemu dengan band yang menjadi inspirasi gue selama ini. Perasaan gue sungguh bercampur aduk, ada perasaan bahagia tapi juga perasaan khawatir. Apakah akan menjadi ending yang bahagia jika gue menanggapi email ini atau malah rasa kecewa gue menjadi lebih besar karena (lagi-lagi) gue batal bertemu Aerosmith. Gue berusaha nggak memikirkan itu dulu. Berusaha, seenggaknya sampai jam 2 siang ketika jam kerja gue habis...

Gue menerima SMS dari Bapak ketika break makan siang. Beliau sedang berada di kantor imigrasi, memutuskan untuk mengurus passport gue jaga-jaga jika undangan untuk ke Singapore memang benar adanya. Gue senang sekali dan ingin cepat sampai di rumah. Gue ingin segera menghubungi pihak Sound Rhythm untuk memastikan bahwa memang mereka yang mengirikan email tersebut.
Setelah di rumah gue langsung mengangkat telepon dan menghubungi Sound Rhythm. Sebelum panggilan terjawab gue menyerahkan gagang teleponnya pada Bapak. Gue nggak tahu harus bicara apa dan rasanya, "Apa benar saya mendapat undangan untuk menonton Aerosmith?" bukan kalimat pembuka yang tepat.

Bapak berbicara dengan seseorang di seberang sana. Gue memperhatikannya dengan hati berdebar, berusaha menebak apa yang sedang mereka bicarakan. Bapak beberapa kali tertawa dan melirik pada gue. Cukup lama, dan percakapan pun akhirnya selesai dengan senyum di bibir Bapak. Gue mengatur posisi duduk dan bertanya pada beliau dengan lambat-lambat, "Jadi emailnya betulan atau hanya bohongan?" Bapak tertawa dan berkata bahwa Sound Rhythm membaca tulisan gue di blog tentang Aerosmith. Mereka tahu betapa gue mengangumi mereka dan betapa gue sangat terinspirasi dengan mereka. Lalu mereka memutuskan untuk mengundang gue menonton Aerosmith di Singapore. Jadi, YA, emailnya memang sungguhan dan itu artinya gue hanya punya 2 malam untuk mempersiapkan keberangkatan gue ke Singapore!

Gue nggak memikirkan tentang tiket pesawat atau passport. Gue langsung menjerit histeris dan mengejutkan Ibu yang sedang memasak di dapur. Semuanya tertawa, semuanya bahagia. Kami mengucap syukur dan membicarakannya sepanjang sore. Ketika gue berumur 7 tahun Ibu dan Bapak sudah tahu bahwa gue pasti akan menyukai band ini untuk waktu yang sangat-sangat-sangat lama. Dan di tahun 2013 mereka nggak menyangka bahwa akhirnya ada yang berusaha mempertemukan gue dengan mereka. Ketika malam datang gue pamit untuk masuk ke dalam kamar. Di sana gue duduk di depan meja tulis lalu menyiapkan kertas dan pulpen. Gue berjanji sejak lama bahwa akan menulis surat yang ditulis tangan untuk Steven Tyler. Gue nggak tahu apakah nanti akan ada kesempatan untuk melemparkan surat ini ke atas panggung atau nggak. Tapi janji adalah janji, gue memutuskan untuk menulisnya dengan sungguh-sungguh...

Dan akhirnya hari itu datang. Tanggal 25 Mei gue terbang ke Singapore ditemani Bapak. Sound Rhythm ternyata memutuskan memberikan tiket juga untuk Bapak. Ini luar biasa karena Bapak juga mengagumi Aerosmith. Ketakutan gue akan terbang berusaha sekuat tenaga gue lawan. Gue berusaha fokus dengan tujuan gue hari ini: Gue akan bertemu dengan Aerosmith, dan sepertinya itu cukup berhasil. Selama penerbangan gue hanya beberapa kali cemas dan sisanya diisi oleh obrolan menyenangkan bersama Bapak. Gue tertidur satu kali, dan ketika membuka mata gue sudah sampai di Singapore.



Halo Singapore :)

Gue excited bukan main, selama perjalanan ke hotel gue sering terkikik dan melonjak-lonjak sampai mengejutkan sopir taksi. Pikiran bahwa gue semakin dekat dengan Aerosmith membuat gue terlihat sedikit nggak wajar bagi orang yang belum mengerti. Bapak memperhatikan tingkah gue dan berkomentar bahwa gue konyol sekali. Kami sedang di Singapore dan banyak pemandangan menarik selama di perjalanan, tapi gue malah nggak memperhatikan sama sekali, hehehe. Ketika sampai di hotel gue langsung menghubungi Ivan dari Sound Rhythm  Ia dan keluarganya menginap di hotel yang sama dengan kami. Kelak gue mengetahui bahwa bukan cuma mereka saja menginap berdekatan dengan kami. Tapi juga Aerosmith!!!...


Tempat kami menginap sangat dekat dengan venue :')


Gue berganti baju tanpa sempat mandi. Gue mencuci muka gue sedikit sambil diam-diam bernyanyi lagu Aerosmith dengan suara pelan. Terkikik, membayangkan seperti apa gue terlihat ketika konser nanti. Bapak sudah siap dengan T shirt Aerosmith nya. Kami nggak pernah menyangka bahwa Bapak mempunyai kesempatan untuk memakai T shirt ini di konser Aerosmith setelah konser di Indonesia batal. Gue membelikan T shirt ini sebagai kejutan setelah menabung beberapa minggu. Sempat membuat gue bersedih setiap gue melihatnya, tapi kali ini gue memandangi Bapak sambil tersenyum. Beliau terlihat hebat memakainya. Kami lalu menemui keluarga Sound Rhythm di lobby. Ada Ivan, istri dan Queena putrinya, serta seorang keponakan bernama Rio. Dengan konyol gue bertanya pada mereka apakah gue benar-benar akan menonton konser Aerosmith sekarang. Nggak ada jawaban, tapi semua tertawa dan Ivan bertanya apa gue ingin memegang tiketnya. Gue mengangguk, dengan hati-hati memegang tiket itu dengan kedua tangan dan berbisik pada Bapak, "Tiketnya asli!"


Sudah berganti baju :)

Gue sudah pegang tiketnya! Hore! :)


Di perjalanan menuju Garden by The Bay, lokasi konser, gue nggak bisa berhenti tertawa dan mengungkapkan betapa bahagianya gue. Bapak bilang gue cerewet, sedangkan sopir taksi menyangka kebahagiaan gue berasal dari sesuatu yang gue menangkan di Casino. Sambil bergurau gue berkata bahwa ini lebih baik dari itu, gue dapat tiket konser Aerosmith. Sopir taksi itu sepertinya nggak mengerti dan menatap gue heran dari kaca spion. Gue menjulurkan lidah lalu bersorak, "I'm happyyyyyy!!!" Hehe, konyol memang. Tapi itu wajar (seenggaknya untuk gue, lol) karena gue sedang luar biasa bahagia ;)



I'M HAPPYYYYYY :D

Ketika kami sampai, gerbang menuju venue masih ditutup. Di sana sudah ada keluarga Sound Rhythm  Sigit dari Corcertholic dan Anggi seorang pemenang kuis yang beruntung untuk menonton konser Aerosmith bersama kami. Waktu memang masih sore dan konser baru mulai di malam hari, tapi menurut gue datang lebih awal memang ide yang bagus agar kami bisa berada di front row. Membayangkan bahwa gue ada di paling depan dan mempunyai kemungkinan untuk menyentuh sepatu Steven Tyler membuat perut gue geli. Diam-diam gue berdoa supaya gue nggak pingsan, karena gue nggak mau menyia-nyiakan kesempatan yang sudah gue tunggu sejak kecil ini.

Nemu poster bekas acara sebelumnya. Gak boleh dibawa pulang, ya? :p

Sigit, Anggi, Rio dan luckiest girl on earth :)

Bersama keluarga Sound Rhythm :)

Hapy face :)

"Kira-kira kamu bakal ketemu Aerosmith langsung nggak, nih?" Ivan bertanya pada gue. Gue nyengir dan berkata bahwa bisa menonton konsernya saja rasanya sudah sangat bahagia. Lalu gue bercerita bahwa gue memang sudah menulis surat untuk Steven Tyler, tapi nggak berharap banyak bisa memberikannya secara langsung. Sebelum pergi ke Singapore gue sempat membaca bahwa Concerholic akan meliput konser ini dan artinya mendapat akses ke belakang panggung. Gue sudah berniat menitipkan surat itu pada Sigit. Sampai atau nggak, yang penting gue sudah mencoba. Dan menitipkan padanya pasti mempunyai kesempatan lebih besar dibandingkan dengan ide gue untuk melempar suratnya dari bawah panggung...

Sekitar setengah jam kemudian seseorang menghampiri kami. Ia membawa walkie talkie dan terlihat sangat sibuk. Kami diminta untuk pindah barisan, berpisah dari calon penonton yang lain dan memasangi kami bracelet pass. Dalam beberapa detik gue menyadari bahwa warna gelang yang dipakaikan ke gue berbeda dengan yang dipakaikan ke Bapak. Setelah itu gue bahkan dipakaikan gelang tambahan berwarna emas. Gue dan Bapak saling pandang kebingungan. Dan sebelum kebingungan kami mereda Ivan memberikan gue sebuah badge berwarna biru. Gue memandanginya nggak percaya, bibir gue hampir tertarik ke bawah tapi gue menahan tangis sebaik mungkin. Terlalu banyak orang di sini, dan mungkin saja mereka juga menginginkan sesuatu yang sedang gue pegang ini. Gue membaca tulisan di badge itu satu kali lagi dan memaksa diri gue untuk percaya. Di sana tertulis: MEET N GREET THE GLOBAL WARMING WORLD TOUR '03.

All access pass dan meet and greet badge! :D

After show party pass dan VIP pass :)

"Ini betulan? Ini betulan?", gue bertanya pada siapa saja yang bisa gue tanya di sana, termasuk Bapak yang sudah pasti nggak tahu apa-apa. Ivan berkata bahwa gue bisa serahkan surat yang sudah gue tulis langsung pada Steven Tyler. Gue langsung membuka tas tangan gue dan memastikan suratnya masih tersimpan aman di sana. Aman, sedikit kusut tapi masih bisa dibaca. Oh, iya amplop yang dipakai sudah gue punya sejak SMP. Iya, betul, sudah selama 'itu' niat gue memberikan surat kepada Steven Tyler. Bapak menatap gue senang, beliau nggak menyangka bahwa apa yang gue dapatkan lebih dari yang gue harapkan. Setelah itu gate dibuka, tapi hanya untuk Sound Rhythm, Sigit dan gue. Anggi dan Bapak menunggu di luar seperti yang lain untuk menikmati konser nanti malam. Gue sedikit sedih karena harus dipisahkan dengan Bapak, tapi beliau bilang ini waktunya gue untuk bersenang-senang. Sambil sedikit bergurau Bapak berbisik pada Rio, "Nanti jagain Indi, ya. Jangan-jangan dia pingsan".

Gue nggak tahu sedang dimana dan akan dibawa kemana. Di belakang venue ternyata areanya sangat luas. Hanya Ivan yang berbicara kepada kru Aerosmith, gue hanya bisa mendengar samar-samar. Well, posisi gue sebenarnya nggak pernah terlalu jauh dari Ivan, tapi mungkin karena gue nervous luar biasa semuanya jadi terdengar samar, hehehe. Kami berputar-putar, lalu menunggu. Lalu berputar lagi dan menunggu lagi. Lalu seseorang bertubuh besar bernama Stephen membawa kami ke belakang panggung. Gue nggak tahu apa yang akan kami lakukan di sana karena panggung masih kosong. Jangankan Aerosmith, band pembuka saja belum menjejakan kaki mereka di sana. Tapi gue mengikuti Stephen, ia lalu berhenti di tangga dan membiarkan kami naik lebih dulu. Gue melihat pemandangan yang luar biasa di sana... Box-box hitam tergeletak di sana, beberapa ada yang terbuka dan beberapa ada yang ditumpuk. Tercetak logo Aerosmith di atas dan samping box. Logo lama Aerosmith, jauh sebelum logo baru dengan desain yang lebih rumit ada....seperti angka 4 dengan sayap yang digambar tangan. Dulu gue sering menggambar logo ini dimana-mana. Di buku, topi bahkan lengan gue sendiri. Gue nggak menyangka bahwa sekarang gue menatap box milik Aerosmith dan ada logonya di sana. Kami masuk semakin jauh. Ada gitar-gitar milik Joe Perry dan Brad Whitford berjejer di box yang berdiri tegak. Ivan bilang gue boleh menyentuhnya. Tapi gue hanya menyentuhnya dengan jari telunjuk, satu-persatu dengan hati-hati. Tangan gue gemetar, gue takut jika menyentuhnya terlalu lama gitar-gitar yang berharga itu akan jatuh dan gue diusir dari sana.


Cuma berani pegang pakai telunjuk, hihihi :)

Setelah selesai proses yang sama terulang lagi. Kami berputar dan menunggu. Lalu ada meja berisi banyak makanan di hadapan kami. Semuanya terlihat enak dan menyenangkan. Ada macaron berwarna-warni dengan ukuran kecil, salad segar, chocolate melt di dalam gelas dan lain sebagainya. Gue bertanya apakah gue boleh memakannya, Ivan bilang "boleh". Tapi gue ternyata hanya sekedar bertanya, gue satu-satunya orang yang nggak makan. Pikiran bahwa sebentar lagi akan bertemu Aerosmith membuat gue gelisah dan mual. Gue takut akan muntah di depan mereka jika perut gue diisi. Mengotori sepatu mereka dengan muntahan macaron warna-warni... jangan sampai... Gue putuskan untuk minum berbotol-botol Fiji water. Gue habiskan 2 botol di meja dan satu botol lagi gue genggam di tangan, untuk dibawa ketika semua selesai makan dan menuju tempat lain. Di sana nggak ada cermin, tapi gue tahu wajah gue terlihat aneh: satu detik tersenyum sumringah, lalu satu detik kemudian tersenyum nervous.

Gue sudah nggak sabar untuk bertemu idola-idola gue, tapi ketika sudah benar-benar dekat lutut gue malah lemas. Gue merasa beruntung sebelumnya menolak makan karena benar saja mual gue semakin terasa hebat. Kami berbaris, berjajar di hadapan sebuah ruangan berwarna putih. Seorang kru Aerosmith berkata bahwa kami akan segera menemui mereka. Kamera dan benda-benda lain nggak diizinkan untuk dibawa. Semua harus dititipkan di keranjang yang sudah disediakan. Kami hanya boleh bertemu mereka sebentar, bersalaman lalu berjalan keluar ruangan. Gue tiba-tiba memikirkan surat yang sudah gue tulis, bagaimana mungkin Steven Tyler bisa menerimanya jika gue nggak diizinkan membawa surat ini ke dalam? Tapi gue menepis pikiran itu jauh-jauh, gue adalah salah satu orang yang beruntung untuk menemui Aerosmith dari BANYAK orang di dunia yang menginginkan hal yang sama. Mungkin lain kali gue bisa mengirimkan surat itu lewat email :)

Setiap kali melihat bayangan yang bergerak di dalam ruangan gue selalu mengira-ngira apakah itu salah salah satu dari member Aerosmith. Gue berjinjit mencari tahu dan mengawasi setiap kali ada yang melintas. Kru... kru... kru dan kru. Lalu beberapa menit kemudian gue melihat wajah yang familiar. Joe Perry! Ia berjalan melintas di samping kami, sepertinya akan menuju panggung. Dengan suara tercekat gue berusaha memanggilnya, "Jjjjj....". Payah, suara gue pelan sekali, dan bahkan belum sempat menyebut namanya secara lengkap ia sudah menghilang. Gue mencolek Queena, bertanya apakah ia juga melihat Joe Perry. Tapi ternyata ia nggak melihatnya. Tepat sebelum gue meyakinkan diri bahwa yang gue lihat tadi hanyalah halusinasi, seseorang melintas sambil membawa sebuah gitar yang sangat gue kenal: berwarna putih gading dengan gambar seorang perempuan berambut panjang di depannya. Itu gitar Joe Perry. Yang gue lihat tadi ternyata memang benar ia! Lalu beberapa menit kemudian gue kembali melihat wajah yang dikenal. Gue melihatnya dengan takjub, lalu menutup mulut dengan kedua tangan karena nggak percaya... Itu Steven Tyler! Jaraknya hanya 3 meter dari kami. Ia berjalan terburu-buru tanpa menoleh sekalipun. Dengan suara pelan gue menyapanya. "Hi, Steven...". Tapi sepertinya ia nggak mendengar karena tetap nggak menoleh. Sedikit kecewa tapi berusaha bergurau gue berkata, "Yah, dikacangin Steven Tyler". Lalu sesuatu yang manis pun terjadi… Steven Tyler kembali melintas, ia tersenyum dan melambaikan tangannya.

Ini sudah waktunya. Seorang kru Aerosmith menghampiri kami dan menjelaskan sekali lagi tentang aturan di dalam ruangan nanti. Gue menaruh tas dan air mineral di keranjang hijau yang sudah disediakan. Sedikit gambling, gue diam-diam menyelipkan surat untuk Steven Tyler di tangan kiri. Gue pikir, jika akhirnya ketahuan dan surat ini diambil gue nggak akan menyesal karena telah mencoba sampai sejauh ini. Gue berjalan melewati beberapa kru dan security, semuanya tersenyum dengan ramah. Ajaib, surat yang menyembul di sela-sela jari gue seolah nggak terlihat... Keluarga Sound Rhythm dan Sigit berjalan lebih dulu, sedangkan gue sengaja berjalan lambat-lambat. Gue sibuk mengatur napas dan berusaha supaya suara detak jantung gue yang keras nggak terdengar oleh orang lain.

Gue terdiam beberapa saat di pintu masuk. Dari sana gue bisa Joe Perry berdiri sambil bersalaman dengan yang lain. Gue paksakan diri untuk melangkah. Tiba-tiba keyakinin diri gue untuk menahan pingsan langsung diragukan. Gue bahagia, terlalu bahagia. Tapi menemui idola yang sudah sangat lama gue kagumi bukan hal yang mudah. Tanpa sadar surat di genggaman tangan sudah gue remas-remas. Satu langkah. Gue melihat Joey Kramer di samping Joe Perry. Gue berusaha tersenyum tapi wajah gue pasti terlihat aneh. Satu langkah berikutnya gue melihat Steven Tyler dan Brad Whitford. Dengan perasaan mual gue menyalami mereka satu-persatu dan berhenti di depan Steven Tyler. Ia tersenyum lebar, terlihat menyenangkan dan bertanya apakah gue baik-baik saja. Gue mengangguk dan segera menunjukan surat yang sudah gue tulis dengan hati-hati padanya. Gue sudah siap jika kru merampasnya sekarang. Tapi ternyata itu nggak terjadi. Sambil terus tersenyum Steven Tyler mengambil surat gue, merapikan lipatannya dan mengucapkan terima kasih. Ia berkata akan menyimpan suratnya. Gue tersenyum senang ketika melihatnya menyimpan surat pemberian dari gue di saku bajunya dengan hati-hati. Gue nggak tahu berapa lama lagi waktu yang tersisa, jadi dengan buru-buru gue berkata bahwa surat itu sengaja gue tulis tangan. Dengan penuh perhatian Steven Tyler menatap gue dan berkata, “Awwww...”. Lalu dengan lembut ia mencium pipi gue dua kali.


Gue nggak pernah membayangkan ini akan terjadi, dan kalaupun dulu gue sempat membayangkannya pasti hanya ada 2 skenario yang gue tulis: menangis atau pingsan. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Perasaan nervous gue menghilang entah kemana dan gue mendadak sangat cerewet. Gue bercerita pada Steven Tyler bahwa ia menjadi inspirasi dan semangat gue dalam berkarya. Ivan berkata kepadanya bahwa gue adalah penggemarnya sejak kecil. Setiap kali Steven Tyler bertanya “really?” atau berkata, “awwww” gue selalu merasa seperti anak-anak. Steven Tyler memang seorang rockstar, tapi saat ini gue menyadari bahwa ia juga manusia biasa. Sangat humble dan menyenangkan. Ia bahkan masih mengingat keluarga Sound Rhythm ketika malam sebelumnya bertemu di lobby hotel untuk mengantri taksi. Iya, ia juga mengantri dan tanpa pengawalan. What a nice man.

Seharusnya kami memang hanya bersalaman dan langsung berjalan keluar, tapi Steven Tyler sepertinya menginginkan kami tinggal lebih lama. Ia mentertawakan stiker yang ditempel di lengan kiri gue dan mencium pipi gue dua kali lagi. Dulu gue selalu blushing bahkan hanya dengan menonton video clip nya, tapi sekarang gue malah menyambut ciuman hangatnya dengan tertawa senang. Ia manusia biasa, ia juga seorang ayah dan wajar jika ia memperlakukan gue seperti anak-anak karena ia sudah memiliki seorang cucu laki-laki. Lalu fotografer Aerosmith mengingatkan kami untuk berfoto. Steven Tyler sudah merangkul gue sebelum fotografernya meminta gue untuk berjongkok. Gue mengucapkan terima kasih dan dengan sungguh-sungguh berkata bahwa Aerosmith adalah inspirasi gue. Gue melangkah menuju pintu keluar tapi Steven Tyler memanggil gue kembali dan memberikan sebuah pelukan hangat yang panjang. Dan akhirnya gue melakukannya. Gue menepuk bahunya seperti yang sering gue impikan. Steven membalasnya dengan tepukan hangat dan berbisik, “You’ll be fine…”.

Lebih lengkap jika ada Tom Hamilton. Get well soon, Tom :)

Gue terharu. Mata gue mulai berkaca-kaca. Tapi ini moment bahagia dan gue seharusnya tersenyum. Jadi gue melangkah keluar ruangan sambil melambaikan tangan, berseru dengan ceria, “Bye Steven, bye Joe, bye Brad, bye Joeeeey”. Dan samar-samar gue mendengar semuanya membalas dari dalam ruangan.

Gue melangkah dengan perasaaan nggak percaya. Mata gue melotot dan mulut gue terbuka seperti habis melihat hantu. Seorang kru bertanya apakah gue baik-baik saja dan gue hanya menjawabnya dengan mengangguk. Yang gue pikirkan sekarang hanya ingin bertemu Bapak. Gue ingin memeluknya dan bercerita bahwa gue sudah berhasil menemui Aerosmith, menyerahkan suratnya dan memberikan tepukan hangat di bahu Steven Tyler. Gue bahagia, sangat sangat sangat bahagia. Menemui mereka secara personal memberikan gue pelajaran yang baru: bahwa sehebat apapun dirimu menjadi, tapi kamu harus tetap humble dan menghargai setiap orang.

Hi, Steven Tyler. My name is Indi from Indonesia. I love your music and Aerosmith since I was 7. I remember the first music video that I saw was Crazy, and since then I instantly decided to become a fan of you and Aerosmith :) When you planned to come to Indonesia I was really excited. Finally my dream for years to see Aerosmith live concert is gonna be real! I woke up early in the morning, booked some tickets from online ticket store, made sure not to run out and hope to be in the front row when the concert held. But then there was bad news, the concert canceled and I just knew it just 2 hours after I was being interviewed on a radio in order to say welcome to you. I was so sad and scared all my dreams would never be real…


Steven, you're not just an idol to me, but you are my life inspiration. You have helped me get through the difficult teenage years. I used to get teased & mocked because of my back brace for my scoliosis. Once I’ve cried. But when I read the article about you, then I got the spirit. You also used to be ridiculed and you decide to fight instead of crying. You can prove to your friends that you're great. I learned to play drums and harmonica to be like you. But then I realized that the music is not my talent, hehe. I developed my own talent in writing. Although we are not creating the same path, but I do my job just like your work ethic: do it from the heart and mean it.


And today, finally my dream come true. I can see you and Aerosmith concerts. My waiting is not such a waste of time. Don't stop working, Steven. Because once again, you're not just an idol to me. But you're my life inspiration.




Best regards,
Indi

***

My super awesome daddy and his new friend :)

Gue menari diantara ribuan orang, bernyanyi dan bergaya seperti rockstar. Bapak berdiri di samping gue terlihat hebat dengan T shirt Aerosmith nya. Sementara Aerosmith beraksi di panggung membawakan lagu-lagu kesukaan gue dan Bapak. Dalam 1 malam impian gue menjadi nyata. Tuhan mengabulkan doa gue dan menjadikannya lebih indah dari mimpi lewat kebaikan Sound Rhythm. Selama gue menunggu Tuhan ternyata telah menyiapkan skenario sesempurna ini. Konser ditutup dengan 3 lagu terakhir. Salah satunya adalah "Dream On". Dan setelah seharian mengalami pengalaman yang luar biasa gue akhirnya menangis. Steven Tyler bernyanyi dengan penuh perasaan. Gue bisa mendengarnya ia bersungguh-sungguh. Lagu ini dibuat ketika ia berusia18 tahun, usia yang sama dengan masa-masa tersulit gue.
“Dream On, dream on…. Dream until your dream come true..."
Ya, Steven I will. Gue akan terus bermimpi, berusaha dan berdoa untuk meraih impian gue. Janji!




Song list! :)

Good bye Singapore... :)

Blessed girl,

Indi




Facebook: here | Twitter: here | Contact person: 081322339469