Kamis, 28 Mei 2020

Lebaran Rasa Karantina (Setelah Dua Bulan nggak Bertemu!)

Hore! Lebaran datang, hati pun senang! :D Hehe, ---eh, masih berlaku nggak ya saat di tengah pandemik seperti ini? ---Lebaran kali ini memang "beda", tentu, ---rasanya semua orang juga tahu. Jadi kayanya gue nggak perlu menulis tentang betapa bedanya, or how much I miss Lebaran tahun-tahun sebelumnya, ya karena gue rasa semua orang juga merasakan hal yang sama. Buat gue Lebaran itu selalu "menyenangkan", ada vibe tersendiri yang nggak bisa gue rasakan di hari-hari biasa, entah kenapa. Bahkan di saat nggak bisa bertemu secara langsung dengan keluarga besar pun ada keakraban yang berbeda saat video call atau chatting dengan mereka dibanding biasanya. Ajaib ya! :) 
Oh iya, sampai lupa. Minal aidin walfaidzin :) Dari lubuk hati yang terdalam, mohon maafkan jika ada tulisan gue yang menyinggung kalian di blog atau di sosial media gue lainnya. Mari kita mulai semuanya dari awal lagi dan saling ingatkan jika ada kekhilafan. Maaf lahir batin :)

Puasa dan Lebaran kali ini adalah kali pertama gue dan Shane tinggal di rumah sendiri. Dua tahun sebelumnya kami masih pacaran, dan tahun berikutnya kami baru menikah (cieee, hahaha). Sejak pertama kali pindahan, kami sudah deal untuk mengunjungi rumah orangtua satu minggu sekali dan menginap kadang-kadang. Tapi rupanya rencana kami nggak sejalan dengan skenario yang sudah ditulis Tuhan, ---Corona datang dan kami pun  mematuhi anjuran untuk nggak kemana-mana. Jadi semenjak bulan Februari kami belum bertemu mereka sama sekali. Meski sebenarnya jarak rumah kami dan ortu literally hanya sejauh "keluar kompleks lalu belok kiri", tetap saja gue nggak mau ambil resiko. Gue pikir lebih baik patuh sekarang dan gunakan kesempatan untuk bertemu hanya untuk saat sangat penting saja. Meski di rumah hanya berdua saja, gue dan Shane tetap berusaha melakukan "tradisi" sebelum Lebaran seperti di rumah Ibu dan Bapak. Salah satunya beres-beres rumah dan mencuci semua pakaian kotor! Haha, seru sekali, seharian kami benar-benar sibuk. Shane membersihkan kamar mandi sementara gue beres-beres kamar. Lalu dilanjutkan dengan membersihkan ruang TV bersama-sama. Kami sampai kelelahan dan beberapa kali ketiduran di sofa. Tapi hati kami senang dan terasa hangat sekali. I've told you, Lebaran selalu punya vibe yang berbeda :)


Ruang TV yang biasanya berantakan sudah rapi. Balkon juga bersih, sih, siiiih. Itu lantainya masih basah, hehe.


Dapur baru rapi pas tengah malam, soalnya dipakai masak. Pas difoto pun masih banyak alat masak yang berceceran :p


Jujur, ini spot yang paling malas buat kami bersihkan: jendela kamar! Ribet aja gitu harus dilap satu-satu tirainya, hahaha.


Kasur sudah divakum sampai ke sela-sela, Onci, boneka kelinci gue pun tidur nyenyak :p


Hari Lebaran akhirnya benar-benar tiba. Setelah lebih dari dua bulan akhirnya gue dan Shane akan segera bertemu Ibu Bapak lagi. Pagi-pagi, setelah sarapan dan mandi kami bergegas pergi ke rumah mereka. Nggak ada kontak dengan orang lain sebelum kami masuk ke dalam mobil (---salah satu "keuntungan" tinggal di apartemen, yang saat "normal" malah dianggap kekurangan). Kami memang sudah berkomitmen untuk menjaga diri, baik gue dan Shane, juga orangtua jangan sampai bertemu orang jika nggak terpaksa. Sadly, itu artinya kami nggak bisa berlebaran tanpa Nenek, yang meskipun rumahnya dekat tapi kami khawatir kalau di sana ternyata menerima tamu. 
Waktu kami tiba rasanya surreal, ---kaya mimpi, melihat Bapak membukakan pagar garasi dengan baju kokonya. Melihat Eris yang mengibas-ngibas ekornya karena akhirnya melihatku lagi! Ibu sudah menunggu kami di dalam, dengan bersemangat beliau bercerita tentang betapa ia merindukan kami, ---juga tentang masakan Lebaran yang sudah beliau siapkan khusus untuk kami. Gue nggak menyangka akan ada saat seperti ini, dimana untuk memeluk mereka saja rasanya canggung. Bukan, bukan karena gue sudah dewasa dan malu. Tapi karena terlalu lama nggak bertemu dan pendemik ini menakuti kami untuk berdekatan :( Tapi setelah dipikir ketakutan kami tanpa alasan, kami disiplin, ---kami sama-sama nggak kemana-mana. Dan akhirnya kami berpelukan kembali untuk pertama kalinya setelah lebih dari dua bulan :')


Outfit Lebaran. Gak ada baju baru, yang penting bersih dan rapi :)


Sebenarnya gak ada beda sih antara syle Lebaran sekarang sama sebelumnya. Kami lebih nyaman bergaya santai, gak punya sepatu khusus atau harus pakai makeup. Again, yang penting bersih dan rapi :)


Suasana di rumah tetap seperti Lebaran-Lebaran yang lalu rupanya. Ada bunga sedap malam, kue, kue dan masakan Ibu. Ah, it's so nice to back home again :') Biasanya hal pertama yang dilakukan adalah berfoto bersama, tapi berhubung cuma ada kami berempat jadi camerannya ditaruh di meja, ---kami berfoto pakai timer, hahaha. Seru sekali. Untuk menghasilkan 2 foto saja harus pakai trial and error dulu karena belum pernah sebelumnya :D Yang bikin haru, Ibu dan Bapak excited sekali dengan kedatangan kami, sampai-sampai beberapa malam sebelum Lebaran mereka mengirimi gue foto-foto masakan yang mereka buat. Bapak malah bikin surprise, beliau bilang sedang belajar bikin ayam palsu, ---yang maksudnya daging ayam tiruan dari nabati karena gue dan Shane vegan :D Benar saja, di meja makan sudah tersedia berbagai macam hidangan khas Lebaran, yang semuanya vegan karena memang khusus untuk kami berdua saja. Ada gulai shiitake, potato schotel dengan susu soya, pangsit tofu, acar, sambal goreng kentang, dan tentu saja primadonanya "ayam palsu" ala Bapak. Katanya beliau belajar dari YouTube dan waktu mencobanya dapur jadi berantakan sekali, sampai-sampai harus pindah ke ruang TV, hahaha. We really appreciate that, Pak! Bingung mau bilang apa punya orangtua yang sangat suportif dengan keputusan kami menjadi vegan. Gue cuma bisa bersyukur :)

WhatsApp dari Ibu. Aw! :)

WhatsApp Bapak tentang ayam palsu, haha.

Akhirnya ada foto bersama yang sukses, sebelumnya 3 kali percobaan gak ada yang siap, hahaha.


Pose ini idenya Ibu. Iya deh, biar kerasa Lebarannya. Salaman virtual! :D


Semua makanan yang disediakan rasanya enaaaaak sekali. Selesai makan, dua jam kemudian kami sudah makan lagi. Pokoknya kegiatan kami selama di sana kalau nggak ngobrol-ngobrol, nonton, main sama Eris ya makan, lol. Rasanya seperti kembali lagi ke masa kecil, Ibu senang sekali setiap kali gue dan Shane bilang ingin makan. Dengan semangat beliau pasti bergegas menghangatkan makanan meskipun sedang ditengah melakukan sesuatu. Selalu ada sisi positif dari semua hal, jujur gue dan Shane bukan tipe orang yang pandai mingle atau beramah-tamah dengan orang asing. Dan Lebaran ala karantina ini ternyata lebih cocok dengan kami. Jaraaaaang sekali kami masuk ke dalam kamar (kecuali saat akan tidur, of course). Biasanya kami selalu canggung kalau kedatangan tamu dan memilih stay di kamar. Tapi kali ini rasanya kami memiliki quality time yang lebih banyak.
Lucunya TV juga seperti mendukung kehadiran kami. Seharian diputar film-film Disney di saluran Fox. Dari mulai Haunted Mansion sampai Lion King, kami marathon sampai malam (dan ketiduran di sofa, haha). Di rumah sendiri pun gue dan Shane memang senang menonton film, tapi kalau sama orangtua rasanya beda. Lebih ramai, lebih hangat.


Semuanya vegan! No meat, no dairy, no egg! Yay! :D


Close up daging vegan buatan Bapak. Beliau bangga sekali karena hasilnya mirip, hahaha.


Nonton Lion King sampai nangis.


Selain dengan orangtua tentu gue juga rindu dengan Eris. Salah satu alasan kenapa kami pindah ke tempat yang nggak jauh dari rumah ortu ya supaya bisa sering-sering bertemu Eris. Tapi karena pandemik tentu kerinduan gue harus ditahan. Meski gue tetap rutin mengiriminnya hadiah, tentu rasanya beda. Jadi kesempatan bertemu ini gue gunakan sebaik-baiknya. Dua bulan nggak bertemu artinya dua bulan pula Eris belum grooming. Bapak tentu rutin menyisirinya, tapi yang bisa membersihkan telinga dan menggunting kukunya hanya gue. Sedih melihat bulunya yang sudah semakin lebat dan kukunya yang sudah semakin panjang. Gue jadi merasa bersalah meskipun memang nggak ada yang bisa gue lakukan (siapa suruh datang Corona!).  ---Hebatnya, seperti mengerti, Eris nggak banyak protes. Hanya sesekali menghindar lalu membiarkan gue merawatnya sampai dia (semakin) cantik :) Seharusnya Eris juga dimandikan, tapi berhubung Bandung sedang mendung jadi gue urungnya. Waktu luangnya kami gunakan saja untuk bermain lempar tangkap sampai lelah. Oh iya, tanggal 22 Mei Eris berulang tahun yang ke 11 (still, and always be my little girl). Gue dan Shane bikin perayaan kecil-kecilan untuknya. Kami membuatkan Eris kue ulang tahun untuk, tapi tanpa kado karena nggak ada pet shop yang buka. Kapan-kapan gue ceritakan di post terpisah ya. Karena banyak yang mau gue share tentang Eris.


Ada yang cemberut karena gue minta foto pas dia lagi main. Gemaaas! :D


Sebelum potong kuku. Nanti gue share afternya ya :)


Lebaran hari kedua aktivitas kami tetap sama. Makan tetap menjadi kegiatan favorit, hehe. Kalau di hari pertama gue dan Shane kompakan memakai batik saat tiba di rumah ortu, hari kedua kami blasss berpiyama dari bangun tidur sampai malam :D Well, Ibu dan Bapak juga sama sih, karena nggak ada siapa-siapa juga kan. Biasanya kalau kumpul lebaran tanpa sadar jadi ada age group nya, atau kelompok berdasarkan usia :p Misalnya Ibu Bapak bakal gabung sama grup Om Tante, sedangkan gue biasanya sama sepupu-sepupu. Bukan pilih-pilih, tapi biasanya yang mau diajak main games ya yang muda-muda saja. Kalau ajak Ibu biasanya beliau bilang "pusing", hehehe. Tapi berhubung sekarang hanya ada berempat jadi kami ngobrol-ngobrolnya juga berempat saja. Dan itu ternyata seru sekali! Misalnya, gue jadi tahu kalau film pertama yang gue tonton adalah "Aladdin", dan itu juga ternyata alasan mengapa gusa akhirnya jadi suka dengan alm. Robin Williams. Atau saat gue dan Shane bercerita pada Bapak tentang film Jumanji versi baru dan beliau langsung membandingkannya dengan versi lama, hahaha. Lucunya beliau bisa menebak bagaimana ending Jumanji baru lho, bahkan bertaruh kalau nanti akan ada sekuelnya lagi. Hmm, let's see :D


Hari kedua masih tetap makan-makan :D


Perpaduan yang nikmat sekali. Lontong gak kenyang, gue nambah nasi :p


Pangsit tofu. Sekali makan bisa 6 potong. Enaaaak banget. Ibu dapat resepnya dari aplikasi vegan.

Sebelum pulang kami dibekali banyak makanan :') Semuanya sudah divakum jadi tinggal dihangatkan. Ini "ayam vegan" buatan Bapak.


Mungkin ini terdengar berlebihan, tapi gue benar-benar berusaha menikmati setiap moment Lebaran kali ini dengan orangtua dan Eris. Sampai-sampai gue rela kurang tidur demi menghabiskan waktu sama mereka (itulah kenapa gue ketiduran di sofa melulu). Berat rasanya waktu gue dan Shane harus pulang ke rumah kami. Ibu juga sebenarnya meminta agar kami stay semalam lagi, tapi ada ikan peliharaan yang sendirian di rumah. Ingin menangis rasanya waktu kami masuk ke dalam mobil dan melambai sambil bilang "See you" (---kami nggak suka bilang "good bye"). Belum tahu kapan lagi kami akan bertemu. Belum tahu kapan pendemik ini berakhir. Gue dan Shane cuma bisa berdoa, semoga nggak lama lagi agar kami bisa bertemu kapan pun kami mau. Tapi tetap, ---gue, Shane sangat bersyukur. Kami bersyukur masih diberikan kesempatan untuk bertemu dan mengabiskan waktu bersama keluarga meski 1 malam saja. Kami juga bersyukur karena diberikan kesehatan yang baik jadi bisa menikmati waktu yang singkat ini dengan maksimal. Lebaran, bagaimana pun keadaannya tetap saja istimewa tetap moment yang bahagia. Hanya karena kami nggak bisa bersama untuk waktu yang lama dan nggak bisa berkumpul dengan keluarga besar, bukan berarti jadi nggak berkesan. 

Sekali lagi, selamat Lebaran ya teman-teman. Bisa menghabiskan waktu dengan keluarga atau pun nggak, jangan lupa, kita beruntung masih bertemu Lebaran :)

peluk semua dari jauh,

Indi


------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Kamis, 21 Mei 2020

Wedding Anniversary rasa Halloween (Menginap di Hotel Angker, hiiii!)


Penah mengalami pergi ke suatu tempat untuk bersenang-senang lalu ketika di sana baru tahu kalau tempatnya angker? Gue dan Shane pernah! Pengalaman ini terjadi sebelum pandemik, tepatnya di bulan Oktober tahun lalu. Waktu itu kami merayakan satu tahunnya pernikahan kami. As always, kami selalu memilih selebrasi sederhana untuk hari-hari penting (---misalnya ultah gue atau Shane). Cukup menginap di hotel atau pergi ke tempat wisata, pokoknya asalkan suasana baru dan bisa punya waktu berkualitas berdua, hehe. Kami juga punya kebiasaan booking hotel di saat-saat mepet. Biasanya kami akan buka situs seperti Traveloka, Agoda, etc lalu mencari yang cocok. Nggak ada kriteria khusus, yang penting dari fotonya terlihat bagus, bersih, nyaman dan ada bathupnya. ---Supaya gue bisa bawa bath bomb, terus berendam sambil nonton film :p

Kami nggak punya terlalu banyak pilihan, waktu itu. Dan dari pilihan yang sedikit itu akhirnya jatuh ke Hotel Grand Aquilla. Dari fotonya kami langsung suka karena kamarnya luas juga berdesain klasik. Keesokan harinya kami langsung berangkat ke sana (---iya semepet itu, hahaha) dengan menggunakan Grabcar karena lokasinya cukup jauh dari rumah kami. Sebenarnya bisa saja sih Shane nyetir sendiri dengan mengandalkan map. Tapi jujur, meski sudah lebih dari 2 tahun tinggal di Indonesia sepertinya dia belum terbiasa dengan kemacetan di sini. Jadi lebih baik kami mencari aman saja. Beruntungnya drivernya baik dan sangat hati-hati meskipun sedang hujan lebat.

Ketika kami tiba suasana lobby cukup sepi, jadi prosesnya cepat dan kami bisa langsung ke kamar. Letak kamar kami ada di... lantai berapa ya lupa, hahaha. Pokoknya naik lift di pojok kanan lobby, melewati pintu kolam renang dan ada di ujung lorong pertama. Begitu tiba di lantai kami, Shane langsung notice betapa besar dan sepinya lorong kami. Hanya ada kami dan 1 kamar lagi yang terisi. Tapi kami nggak (belum) merasa seram, malah excited setelah melihat kamarnya. Sayang kami nggak terlalu banyak mengambil foto dan lebih berfokus ke video karena lebih mudah tanpa harus berhenti-berhenti dan berpose (apaan sih, hahaha), jadi nggak bisa share banyak gambar di sini. Kalau penasaran dengan suasananya nanti gue sertakan link vlog dari channel YouTube gue di bawah, ya. 
Begitu pintu kamar dibuka, TV langsung menyala dan menayangkan iklan hotel yang diiringi musik jazz. Typical, tapi entah kenapa selalu membuat kami tertawa. Shane bilang kami disambut musik jazz fancy, hahaha. Ada banyak cermin di dalam, cantik sekali. Kamar mandinya juga ukurannya okay, lebih bagus daripada hotel tempat merayakan ultah gue Juni kemarin. Nggak besar tapi ada 2 shower terpisah, satu di atas bathup dan satu lagi di balik pintu kaca. Perlengkapan juga cukup lengkap. Jadi gue langsung tahu lah, kalau kami bakal betah di sini.


Suasana kamar kami. Sepertinya gue sudah hapus foto-foto aslinya jadi hanya ada kolase ini yang gue post di Facebook.




Kain batik yang kami pakai ini hadiah pernikahan dari Rifa, teman kami. Istimewa, jadi dipakai di saat istimewa juga :)


Setelah menyimpan barang-barang kami putuskan untuk berkeliling melihat fasilitas hotel. Gue ingin sekali berendam di jacuzzi mumpung hujannya berhenti. Tapi Shane bilang lebih baik kami bisa makan siang dulu. Meski belum lapar-lapar amat gue mengiyakan ide Shane. Lagipula masih siang, berendam sore hari mungkin lebih asyik karena lampu-lampu mulai dinyalakan :) Karena nggak bawa kendaraan kami makan di restoran hotel. Hanya ada kami berdua di sana, ---keren, berasa sekali anniversary nya, hahaha. Setelah melihat-lihat menu ternyata nggak tersedia menu vegan (yup, kami berdua vegan). Untung saja chef di sana mau membuatkan menu vegan istimewa untuk kami. Nasi goreng dengan sayuran dan jamur! Yum! Sambil menunggu kami iseng googling tentang hotel Grand Aquilla. Dengan iseng Shane ingin mencari tahu apakah hotelnya berhantu atau nggak. Well, ---hasilnya ternyata bikin dia menyesal dengan rasa penasarannya, karena ternyata hotel ini termasuk salah satu yang terangker di Bandung. Malah berada di urutan nomor 2! Lalu saat makanan kami datang, Shane baru sadar kalau dompetnya tertinggal di kamar. Dia bertanya apa gue mau ikut untuk mengambilnya, dan dengan mantap gue menggeleng sambil bilang, "Good luck, semoga nggak bertemu hantu!" Hahahaha...


Senangnya request menu vegan kami dikabulkan! Nasi goreng campur tumpah ruah, hahaha :D


Perut kenyang kami kembali ke kamar. Shane ternyata selamat waktu bolak-balik restoran-kamar-restoran tanpa kekurangan suatu apapun, nggak bertemu hantu :p Gue langsung ke kamar mandi untuk mengganti dress dengan tank top dan celana pendek karena akan merendam di jacuzzi. Sebelum selesai Shane sudah memanggil-manggil gue. "Ada yang aneh", katanya. Dia mengajak gue melihat jendela yang tertutup tirai. Katanya, dia ingin mengecek apakah di luar hujan atau nggak, tapi yang ditemukan malah... jejak telapak tangan! Gue sih santuy saja ya awalnya, karena bisa saja itu bekas tamu sebelumnya dan lupa dibersihkan. Tapi waktu gue lap pakai tisu ternyata itu ada di balik jendela (model jendelanya sealed ya, bukan yang bisa dibuka). Gue masih tetap berpikir positif, mungkin itu telapak tangan cleaning guy yang lagi membersihkan kaca jendela dari luar dan lupa pakai sarung tangan karena terlihat ada sidik jari samar-samar. Sampai gue cocokan dengan telapak tangan gue sendiri, baru gue berhenti santuy. ---Ukurannya setengah tangan gue, dong! Dan telapak tangan gue itu nggak besar-besar amat ya. Masa iya ada bocah manjat? Masa iya petugas kebersihan di sini masih kecil?? Banyak pertanyaan di kepala gue dan Shane. Akhirnya kami tutup tirainya dan langsung lompat ke balik sofa. Hiiii...

Iya sih, kami suka hal-hal berbau seram. Film horror sudah jadi tontonan kami sehari-hari. Sampai-sampai menikah pun di bulan Oktober yang identik dengan Halloween. Tapi ya, nggak mau juga kalau harus sampai mengalamai di dunia nyata, hahaha. Apalagi rupanya cuaca ikut-ikutan gloomy, hujan turun lagi! Terpaksa kami mengabiskan waktu di kamar karena nggak mungkin untuk berendam, huhu. Shane selalu membawa laptopnya kemana-mana, lengkap dengan speakers jadi kami bisa nonton film kapan saja. Tapi kami penasaran di TV sedang diputar film apa saja, siapa tahu ada yang seru. Eh, ternyata nggak jauh-jauh dari horror, ada Conjuring 2! Kami nonton sambil selonjoran di sofa. Ini kali kedua Shane nonton film ini, tapi buat gue entah yang keberapa kali saking seringnya. Di tengah film kami lapar (lagi, hehe), karena nggak banyak pilihan di restoran hotel, akhirnya kami pesan via GoFood. Asyik juga, comfort food. Ada nasi, tahu, tempe dan kangkung. Enak dan porsinya banyak, gue sampai nggak sanggup menghabiskan dan dengan menyesal harus membuang sisanya karena nggak tahan disimpan lama. Padahal kami cuma beli masing-masing satu porsi, lho... :( Dan... ternyata "pengalaman horror" kami belum berakhir, sambil makan TV tetap menyala, setelah Conjuring selesai giliran Final Destination yang diputar, hahaha. Ya, anggap saja resiko menikah pas Halloween, yang diputar nggak mungkin juga malah film komedi lah :p

Setelah makan akhirnya gue bisa berendam di bathup, ---sambil bawa handphone buat nonton YouTube biar nggak kepikiran yang seram-seram. Gue sengaja bawa body butter pumpkin dari rumah biar terasa nuansa fall yang hangat. Sehabis berendam langsung gue oleskan ke seluruh tubuh dan gue pun siap meluncur ke kasur. Kalau selesai mandi air hangat bawaannya suka ngantuk. Nggak lama gue langsung tertidur dan... nggak mimpi apa-apa. Mungkin saking nyenyaknya, hahaha. 
Kami bangun pagi-pagi, tanpa alarm karena sudah ada panggilan alami alias lapar :p Gue dan Shane berganti baju lalu ke restoran yang sama dengan tempat kami lunch di hari sebelumnya. Suasananya sangat berbeda, penuh dengan para tamu hotel. Mungkin karena menginap di sani sudah include breakfast ya, jadi sayang juga kalau nggak digunakan. Pilihan menunya sebenarnya ada banyak, tapi terbatas kalau untuk menu vegan. Shane hanya bisa makan nasi, salad wortel dan bubur kacang. Sementara gue makan nasi, bokchoy jamur (itu pun ternyata ada dagingnya, hiks) dan surabi kinca, ---yang kata Shane itu pancakes :p Nggak kenyang-kenyang amat, tapi lumayan untuk mengganjal sampai di rumah nanti, hehe. 

Kami kembali lagi ke kamar, keinginan untuk berenang atau berendam di jacuzzi sudah hilang meski waktu check out kami masih lama. Cuaca Bandung yang dingin dan hujan yang datang dan pergi membuat kami lebih ingin bersantai saja. Waktu TV dinyalakan, surprise... surprise, film horror lagi, hahaha. Terpaksa gue dan Shane menonton Insideous 2 yang langsung mengingatkan kami sama suasana seram di sini. Untung saja pagi-pagi, jadi kami nggak ketakutan :p 
Tengah harinya kami check out dan kembali menggunakan Grabcar untuk pulang. Pengalaman seru. Siapa mengira hari jadi kami yang pertama malah lebih mirip malam Halloween. Oh iya, Shane bercerita kalau dia sebenarnya mimpi buruk (---lah gue malah nyenyak kaya bayi). Jadi di mimpinya dia ketemu iblis di tempat parkir, dan iblisnya itu mengikuti kemana pun sampai manjat-manjat gitu. Tapi anehnya iblis itu nggak berusaha nangkep atau ngejar Shane, cuma ngikutin doang. Pas diceritain sih gue nggak takut karena sudah siang, tapi kalau yang mengalami sih pasti seram :'D



Foto-foto sebelum pulang.


Entahlah mimpi jika mimpinya ada hubungan dengan hotel tempat kami menginap atau Shane hanya tersugesti dengan cerita-cerita seram yang dibaca di internet (---seriously, coba googling nama hotelnya, yang keluar malah tentang hotel angker semua). Yang pasti berhati-hatilah saat berharap sesuatu. Sebagai duo penggemar Halloween kami sering sesumbar ingin mengalami film horror di dunia nyata. Tapi setelah mengalami eh, takut juga guuuuys, hahaha. Jadi berharap yang baik-baik saja ya :p But anyway, ini tetap jadi pengalaman anniversary yang seru dan berkesan buat kami. Meski horror tapi gue nggak mau menukar dengan apapun. Karena justru semakin menyakinkan gue kalau he's the one, ---bahkan dalam suasana apapun kami tetap stick together. ----Cieeeeeh :D 
Sekarang sih kami belum tahun kapan bisa jalan-jalan lagi, bisa menginap di hotel lagi. Kalau dipikir pandemik yang terjadi sekarang malah lebih seram dari hantu-hantuan, ya :( Mari berdoa semoga ini cepat berlalu, deh! Amin....



Video anniversary pertama kami dan video pernikahan humble kami.



yang nantangin hantu tapi takut,


Indi




------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Minggu, 10 Mei 2020

Persembahan Lagu Ibu Pertiwi dari Indi

Yuhuuu, teman-teman adakah yang memiliki akun Instagram? Pasti banyak iya nggak sih? Soalnya ibu gue saja pakai dan aktif di sana, hahaha.
Nggak, kok, ---gue bukan mau ngomongin Instagram. Tapi ingin meminta bantuan kalian, mudah-mudahan berkenan yaaa.
Jadi gue mengikuti sebuah kontes bernyanyi (cover song) yang diadakan oleh "Kejar Mimpi" gerakan sosial yang diinisiasi oleh CIMB Niaga. Visinya yaitu untuk membentuk generasi muda Indonesia yang positif. Meski gue nggak bisa-bisa amat nyanyi dan main ukulele, tapi boleh dong ikutan. Apalagi gue selalu berusaha untuk menjadi pribadi yang positif, hihi.

Kalian bisa support gue dengan cara menonton video clip dan tinggalkan "like". Kalau mau ditambah komentar, boleeeh. Gue malah semakin senang, hehehe. Step by stepnya seperti ini:

1. Buka aplikasi instagram.

2. Di kolom "Search" atau "Cari" ketik @indisugarmika. Nah, itu akun gue.

3. Lihat post terbaru gue, atau video yang ada di fitur IGTV. 

4. Silakan tonton video clipnya, nikmati dan jika suka tinggalkan "like" (juga komentar).


Atau langsung saja klik direct link ini: HERE

Simple kan :)


Lagu yang wajib yang dibawakan adalah "Ibu Pertiwi". Baru ngeh ternyata cocok sekali dengan situasi sekarang, sampai-sampai gue nggak bisa menahan haru waktu membawakannya... :')
Seluruh proses rekaman dan editing dilakukan di rumah dan hanya menggunakan handphone (Iphone 11). Selain bernyanyi, gue juga bermain ukulele. Sementara Shane, suami gue bermain gitar dan keyboard electric. Gue ucapkan terima kasih banyak banyak banyak untuk yang berkenan mendukung. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian. Dan... get well soon, world! 

xx,

Indi Sugar


------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Selasa, 05 Mei 2020

Kapan Harus Menikah?

Yay, gue kembali! ---Well, semoga saja gue benar-benar "kembali" aktif menulis di sini, ya. Bukan balik sebentar terus menghilang lagi, ahahaha. Buat gue rajin menulis itu murni agar otak gue tetap aktif, juga agar ada dokumentasi perjalanan hidup gue karena nggak semua hal bisa diabadikan dengan foto. Kalau ada yang membaca gue senang, tapi kalau pun nggak itu bukan masalah. Nggak akan gue jadikan alasan untuk stop menulis. Lalu, kemana saja kah gue selama 4 bulan terakhir? Jawabannya cukup complicated. Pertama, gue malas. Iya, setelah pindah ke rumah baru semenjak menikah segala "setting" berubah. Ada space khusus untuk gue menulis di sini, kamar kecil lengkap dengan meja dan kursinya. Tapi gue belum terbiasa, karena meski suasana di sini nyaman tapi tetap saja gue perlu adaptasi. Dan untuk mengatasinya gue kurang bijak. Alih-alih mencoba, gue malah lebih rajin baca buku atau menonton film sekarang, hahaha. Dan kedua, laptop gue yang memang usianya sudah tua semakin sulit untuk digunakan. Frekuensi tiba-tiba mati karena over heatnya semakin sering, lemotnya semakin luar biasa. Akhirnya gue jadi lebih sering bermain dengan laptopnya Shane, ---tapi bukan untuk menulis. Bersyukur kemarin gue dapat laptop "baru". ---Bukan model baru maksudnya, ini model sudah lumayan jadul tapi ini waaaay better dari laptop lama gue. Seharusnya alasan gue untuk "malas" jadi berkurang, dong sekarang. Kita lihat saja sama-sama, ya! Hahaha :p

By the way, gue mau cerita soal sesuatu yang sebenarnya sudah lama gue rencanakan. Tapi karena alasan yang gue sebutkan di atas, dan somehow lupa terus, akhirnya malah nggak jadi-jadi. Gue rasa sekarang waktu yang tepat karena sahabat gue, Rifa baru saja menikah (sebelum pandemik yang terjadi sekarang ini, ---Oh, God please lindungi kami semua). Yup, gue mau membahas soal pernikahan. Kalau soal "acara" pernikahan gue dan Shane sih sudah pernah ya, yang sekarang mau gue bahas itu tentang my thought about getting married. Mungkin  teman-teman yang sering membaca blog ini dari dulu tahu kalau gue nggak pernah membahas soal rencana menikah, meskipun saat itu gue punya long term boyfriend, ---delapan tahun. Well, itu karena gue nggak pernah punya rencana menikah muda dan nggak punya target usia kapan harus menikah. Gue adalah tipe orang yang let it flow. Kalau cocok ayo jalani, kalau nggak ya sudah tinggalkan. Nggak ada dalam kamus gue "sia-sia" atau "buang waktu" hanya karena suatu hubungan nggak berakhir di pernikahan. Buat gue pernikahan itu perjalanan, bukan sebuah goal yang tiap orang HARUS mengalaminya.

Balik lagi ke sahabat gue, Rifa. Kami sangat dekat, dengannya gue bisa bercerita apa saja. Begitu juga sebaliknya. Tapi bukan berarti kami selalu "setuju" dalam segala hal. Apa yang gue yakini, sukai, nggak selalu sama dengan Rifa. Dan untuk kami itu bukan masalah :) Berbeda dengan gue, Rifa selalu ingin menikah, menjadi seorang istri dan ibu. Pokoknya setiap kali berhubungan dengan laki-laki, tujuannya untuk menikah dan ingin langsung punya anak. Tentu gue sangat mendukung goalnya ini meski nggak sejalan dengan gue. Setiap kali ia dekat dengan seseorang, gue selalu dengan excited bertanya tentang kelanjutannya. Rifa sangat "pandai" berandai-andai, dengan lancar ia bercerita bagaimana kehidupan pernikahannya kelak dan itu membuat gue ikut bahagia :D Sampai-sampai gue bilang kalau ingin ia yang menikah duluan suatu hari, hahaha.

Tapi ternyata realitanya berbeda, gue lah yang menikah lebih dulu. ---Dengan sahabat sendiri yang sebelumnya nggak pernah gue gembar-gemborkan. Pacaran yang singkat, tanpa tunangan, tanpa resepsi. Buru-buru? Nop. Gue menikah karena gue TAHU sudah tiba waktu yang tepat. Tentu pernikahan gue mengejutkan banyak orang, termasuk Rifa (bahkan beberapa anggota keluarga gue). Memang serba salah, ya. Mendadak menikah bikin gempar, eh santai nggak nikah-nikah malah ditanya melulu, lol. Orangtua gue menikah di usia yang secara umum dianggap muda. ---Gue bilang dianggap karena muda itu relatif. Misalnya, menurut gue menikah usia 35 itu masih muda, tapi ada juga orang yang bilang telat, ---yang mana gue sangat nggak suka dengan istilah "telat nikah". There's no such thing as that, lah. Katanya kalau usia gue sekian harus sudah menikah, biar pas umurnya, biar ini, biar itu, biar masih cantik, biar punya anaknya belum terlalu tua, bla bla blaaaa... I called that BS! Beruntungnya gue dibesarkan oleh orangtua yang sangat suportif open minded. Sama seperti gue, mereka juga berpendapat kalau nggak ada patokan usia kapan manusia harus menikah. Kalau sudah siap dan mau menikah ya silakan, tapi kalau nggak siap (atau malah nggak mau) ya sudah. Dorongan-dorongan dari luar bisa berbahaya karena bisa membuat toxic marriage. Just imagine, kamu sebenarnya nggak mau menikah, tapi demi "menyenangkan" orang lain kamu menjalaninya dengan setengah hati. Your happiness matter, buddy!

Waktu Rifa menikah, gue bahagia sekali. Gue tahu ini sudah lama ia impikan, dan gue tahu kalau ia memang sudah SIAP. Keinginan ini datang dari dirinya sendiri, setelah menemukan laki-laki yang tepat ia nggak mau menunggu lama. Ini menjadikan moment pernikahannya nggak cuma istimewa buatnya, tapi juga untuk gue. Gue datang jauh-jauh bersama Shane dan juga Bapak dari Bandung ke resepsinya di Purwakarta. Her face... ia terlihat sumringah dan bersemangat. Gue dan Shane sampai hampir nggak mengenalinya karena ia terlihat cantik dengan gaun lebarnya.
Waktu gue mengetik ini I miss her so darn much, seperti yang gue bilang, kami bersahabat tapi gue dan Rifa "nggak sama". Setelah menikah ia berfokus dengan rumah tangganya, waktu untuk teman-temannya banyak berkurang, ---termasuk dengan gue. Sementara gue, setelah menikah nggak ada yang berubah. Gue masih hangout dengan teman-teman sebanyak sebelumnya, ---malah lebih seru karena Shane juga ikut. Tapi lagi-lagi, buat gue itu nggak masalah. Setiap orang boleh menentukan pilihannya dan saat nggak sesuai dengan gue bukan berarti harus memusuhi. Setiap rumah tangga bekerja dengan cara yang berbeda-beda ;)




Jadi kapan dong usia yang tepat untuk menikah menurut gue? NGGAK ADA. Pernikahan itu bukan perlombaan. Manusia boleh menikah kapanpun (asal cukup umur, siap mental dan finansial) atau malah nggak menikah sama sekali. Keinginan dan goal hidup setiap orang itu berbeda. Jangan lupa kalau kadang usia juga nggak berarti apa-apa. Bisa saja yang berusia 25 tahun lebih siap (dan lebih ingin) untuk menikah dibandingkan temannya yang berusia 40 tahun.
Dan well, sekarang bulan puasa sebentar lagi Lebaran tiba. Kalau nih... kalau-kalau saja corona sudah pergi dan kita punya kesempatan buat kumpul-kumpul, please stop bertanya "Kapan nikah?" (dan 'kapan-kapan' yang lain seperti tentang anak, pekerjaan, etc). Itu bukan urusanmu. Jangan sampai pertanyaan-pertanyaan basa-basi yang basi itu malah jadi beban atau malah melahirkan pernikahan yang terpaksa. Gue nggak becanda, ada kenalan gue (masih kerabat sih...) yang akhirnya menikah karena bosan ditanya terus. Padahal ia mengaku kalau ia nggak cinta sama istrinya. Dan sekarang, guess what?! Ia berencana punya anak. Kenapa? Karena cape ditanya melulu! See that, ia (dan istri dan anak kelak) adalah korban dari pertanyaan basi tersebut. Bagus kalau pada akhirnya mereka bisa cope with the situation dan menjalani pernikahan yang tulus. Nah kalau nggak? Mau disalahkan? Ah, gue jamin paling orang-orang yang nanya melulu itu langsung ngeles dengan bilang, "Kan gue cuma nanya."
Kan somplak.


yang waktu itu menikah karena (akhirnya) ingin,

Indi



------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com