Tampilkan postingan dengan label vegetarian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label vegetarian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Oktober 2016

Halloween Party and Pocky Deco: Waktu Halloween Datang Lebih Awal! Yay! :D

Haiiiii bloggies! O, my God! Ini jam setengah 4 pagi dan aku terbangun dari mimpi yang super absurd! Hahaha. Setelah celingak-celinguk bingung mau ngapain, aku putuskan saja untuk menulis di sini. No, ---nggak kok, bukan, aku nggak akan menulis tentang mimpi barusan yang absurd, lol. Tapi aku akan bercerita tentang event fun yang kuhadiri 3 September 2016 yang lalu. Mungkin akan membantuku melupakan mimpi yang cocoknya jadi naskah komedi Scary Movie terbaru (---eh, tapi boleh juga tuh asal aku diperankan sama Anna Faris, hahaha).

Aku selalu mengecek email secara berkala dan sebisa mungkin segera membalasnya. Maklumlah aku mengurus segala macam pekerjaan dari sana, dan email juga jadi salah satu saranaku berkomunikasi dengan Indi's Friends, ---sebutan untuk pembaca novel dan penikmat filmku. Seringnya aku melakukannya dari handphone karena lebih praktis. Tapi handphone juga ada kekurangannya, terkadang ada email yang nggak muncul di notifikasi meskipun nggak masuk ke list spam atau bulk. Nah, ini juga yang terjadi padaku di akhir bulan lalu. Waktu membuka email via PC, aku kaget karena ada email dari Pocky Indonesia

Aku memang sudah lama menjadi fans nya Pocky dan pernah memenangkan kontes fotonya di twitter. Tapi rasanya aku nggak sedang mengikuti kontes lagi, jadi agak bingung juga mendapat email dari mereka. Waktu dibuka rupanya berisi undangan untuk mengikuti Pocky Halloween Party! Surprise sekali, ---dan lebih surprise lagi waktu tahu kalau rupanya mereka sudah mencoba menghubungiku via Indi's Official. Hmm, kenapa nggak disampaikan ke aku, ya?... Ah, sudahlah, yang penting akhirnya undangannya sampai ke tanganku meskipun mepet banget. Saking mepetnya aku sampai nggak yakin akan datang. Apalagi ada dress code nya juga; hitam dan orange. Padahal biasanya aku selalu excited dengan Halloween, tapi karena ini super early (---biasanya at least paling cepat akhir September aku baru menyiapkan kostum), aku jadi bingung harus pakai apa, huhuhu.

Syukurlah di detik-detik terakhir, ---(atau bahasa non lebay-nya 2 hari sebelumnya, lol) Ibu datang dengan ide untuk kostumku. Kami punya kain stripes hitam-putih yang sudah lumayan lama disimpan dan kalau dijahit sepertinya akan mirip dengan kostumnya Beetlejuice, hehehe. Supaya bisa dipakai sehari-hari kami membuatnya dengan model sailor, bukan suit seperti originalnya. Tapi kami nggak meninggalkan dasi hitam ala Beetlejuice, bedanya punyaku modelnya kupu-kupu :) Aku cukup puas dengan hasilnya, meskipun kostumnya nggak "seakurat" tahun-tahun sebelumnya, tapi cukup miriplah, hehehe.



Halloween party ini diadakan oleh Pocky yang bekerjasama dengan Cosmopolitan Indonesia (yay, akhirnya dapat juga acara yang segmennya bukan teenagers, lol). Katanya sih Cosmpolitan memilih beberapa pembacanya yang tergabung dengan "Cosmo Club" untuk mengikuti acara ini. Aku sih belum tahu banyak soal majalah ini, soalnya jujur, ---ehm, aku masih membaca majalah remaja, hahaha. Tapi mungkin aku akan membaca edisi bulan Oktober karena dari web nya sepertinya menarik ;) 
Seperti biasa, karena dipisahkan oleh jarak (hiks), aku dengan diantar Bapak harus pergi pagi-pagi sekali dari Bandung menuju Jakarta. Acaranya dimulai pukul 12 siang di Kaffeine, the Foundry 8 SCBD. Tempatnya masih asing bagi kami jadi mudah-mudahan nggak datang terlambat karena harus putar-putar dulu, hehehe.


Kerennya, perjalanan ternyata super lancar. Kami bahkan sempat berhenti beberapa kali untuk sekedar peregangan (---travelling with severe scoliosis, hehe) dan minum kopi. Padahal biasanya siang sedikit saja Jakarta sudah macet. Baru setelah keluar tol kami agak kebingungan karena mendengar nama SCBD saja belum pernah. Berbekal google map dan GPS kami mencari lokasinya, tapi sayang antara GPS dan kenyataan suka nggak singkron! Mobil sudah jalan ke mana, eh lokasi yang tertulis sudah terlewat beberapa meter, hahaha. Untung saja aku ingat temanku, Habibie Afsyah (---harus ditulis nama lengkapnya, hehehe) yang tinggal nggak begitu jauh dari SCBD. Ternyata dia lebih akurat dan cepat daripada GPS! Dengan tuntunannya kurang dari 10 menit kami sudah tiba di lokasi. Hore! :D Thank you, ya Bie. Sebagai ucapan terima kasih tadinya aku mau kasih 1 truck Pocky, tapi nggak jadi soalnya kan katanya nggak mau ditengokin :p

Di Kaffeine suasana sudah cukup ramai dengan dekor yang Halloween-ish, lengkap dengan Jack O'lantern nya :D Awalnya aku bingung mau duduk dimana dan dengan siapa, soalnya nggak mengenal seorangpun, huhuhu. Yang lain sih sepertinya datang dengan satu atau dua orang temannya karena sama-sama dari Cosmo Club. Untung saja moment canggungnya hanya berlangsung beberapa menit karena aku menemukan 1 girls group dan kami langsung mengobrol seru :) Meskipun di undangannya tertulis jam 11 pagi, tapi sampai jam 1 siang acara belum juga dimulai. Molornya lumayan lama :( Untung saja suasananya super akrab dan kami menikmati lunch dulu. Karena aku nggak makan daging dan menu yang disediakan kebanyakan bebek dan ayam, aku pun makan salad dan BANYAAAAK sekali Pocky untuk makan siang, hahaha. Begini nih asyiknya event Pocky, pasti produk Glico everywhere. Sampai-sampai sebelum acara dimulai aku sudah menghabiskan 1 gelas Pocky yang disediakan untuk berdua. *Maaf :p



Nggak lama setelah kami selesai makan, acara dimulai dengan sambutan dari MC lalu perwakilan dari Pocky dan Cosmopolitan. Mereka menjelaskan apa saja yang akan kami lakukan nanti. Meski aku bukan orang yang terampil di dapur (kecuali urusan microwave, lol) tapi aku excited waktu diberitahu akan mendekor camilan Halloween, ---atau istilahnya Pocky Deco. Aku pikir, well... at least bisa colek sana-sini dan memuaskan sweet tooth ku meskipun hasilnya hancur :p Eh, tapi aku nggak perlu takut hancur-hancur amat sih, soalnya sudah diundang chef untuk memberikan tutorialnya. Namanya Chef Nova yang super ramah dan helpful. Dia memberi tahu apa saja yang bisa kita lakukan dengan macaron, brownies dan cupcakes. Untuk dekornya sudah disediakan garnish, melted chocolate, sprinkles dan of course a lotsa lotsa lotsaaaa Pocky! Meski temanya Halloween tapi dekornya imut-imut, lho. Nggak seram sama sekali, dan yang pasti edible, hihihi.




Bisa ditebak, aku memang banyakan ngemilnya daripada ngedekornya. Sementara yang lain sudah membuat spider, makam dan lain-lain, aku masih stuck dengan Pocky Deco monsternya Dr. Frankenstein, hehehe. Hasilnya pun nggak bagus-bagus amat tapi lumayan miriplah :p *menghibur diri sendiri
Setelah selesai selesai mendekor diadakan mini contest. Jadi yang karyanya mendapat tepuk tangan paling meriah akan diberi hadiah. Aku mah sudah pasti kalah, tapi beruntungnya masih dapat hadiah dari kontes yang lain. Agak malu-maluin, sih aku dapat hadiah mini pouch lucu karena membawa uang paling sedikit di dompet, hahahaha :'D Dan itu bukan hadiah satu-satunya yang kuterima, aku juga mendapatkan movie card sebagai undangan yang asalnya paling jauh. Ya ampun, "prestasi" ku kok aneh-aneh ya? :D



Acara ditutup dengan moment yang paling ditunggu-tunggu yaitu: memukul pinata! Yay! :D Terakhir kali aku mukul pinata berapa tahun lalu ya? Itu juga karena diundang bocah ke pesta ulang tahun, hehehe. Ternyata pinata pumpkin yang nampak menggemaskan itu bandel juga. Kami bergiliran memukulnya dan baru pecah waktu percobaan ke seratus kali (---lol, saking banyaknya dan aku lupa). Berbagai macam sweets pun segera berhamburan! Aku dapat banyak, lho, hampir 100 permen yang aku tampung di dalam topi kertas. Tapi ada juga yang dapat lebih banyak karena ditampung di rok! Hahaha, OMG, cerdas banget :D Yang berhasil mengumpulkan permen terbanyak juga mendapatkan hadiah. Pokoknya Pocky generous banget deh bagi-bagi hadiah terus. Malah saking baiknya Pocky, Pejoy, permen yang tersisa dan dekornya boleh dibawa pulang. Aku sama Dara, ---teman baru, sampai bawa sedotan dan sisa-sisa Pocky di dalam gelas saking "nggak tahu malunya", hahaha :p



Aku langsung pulang setelah acara selesai karena Bapak sudah menjemput (---entahlah beliau habis jalan-jalan ke mana, hehehe). Senang sekali bisa mengikuti Halloween party yang super early ini. Selain belajar mendekor (gagal tapi, huahahaha) aku juga mendapatkan pengalaman dan banyak teman baru. Mereka sih janji kalau bikin acara di Bandung akan menghubungiku. Mudah-mudahan saja betul ya karena aku akan dengan senang hati terlibat dengan acara yang bisa memuaskan sweet tooth ku :p Okay, thank you so much Pocky dan Cosmopolitan! Ditunggu acara selanjutnya, ya! :)



Update: Ternyata ada artikel tentang event Halloween ini di website Cosmopolitan :)




yang selalu happy kalau halloween,

Indi

____________________________________

Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com


Jumat, 15 Januari 2016

Animal Cruelty on Your Plate



Kalau tengah malam begini biasanya aku mulai menulis. Bukan, ---bukan ala ala seniman yang senang dengan keheningan karena inspirasi jadi mudah datang. Tapi jam segini biasanya aku habis mengendap-endap ke dapur untuk membuat camilan atau makanan berat sekalian, hahaha. Dibandingkan dengan menonton TV aku lebih suka menyalakan komputer tuaku, menulis ide-ide yang terpikir ketika menjalani hari, menyelesaikan buku terbaru (---which is seharusnya selesai bulan lalu), menonton video homemade di channel-channel YouTube, atau scroll up and down di timeline/newsfeedku. Kalau sedang beruntung aku akan dapat link-link video konyol, tulisan-tulisan inspiratif atau best of all... dapat kabar John Frusciante kembali aktif bermusik. Tapi seringnya aku malah menemukan banyak cerita hoax, status-status fanatik mem-piggy-buta, atau worst of all... video-video animal cruelty yang lebih kejam daripada Cruella de Vil...

Well, ya soal hoax aku akan ceritakan lain kali. Belum tahu kapan, tapi harus ---karena rupanya masih banyak orang yang asal share tanpa memeriksa dulu asal usulnya. Sekarang aku mau cerita tentang animal cruelty, ---tapi ini bukan tentang orang-orang yang menelantarkan hewan peliharaannya atau breeding untuk keuntungan materi. Ini tentang hewan ternak yang nantinya akan masuk ke dalam perut kita. Aku nggak akan membahas ini dari sudut pandang sebagai seorang vegetarian atau seorang animal lover. Tapi apa yang akan aku tulis adalah yang aku rasakan sebagai seorang manusia yang punya hati nurani dan akal pikiran.
Aku dibesarkan di keluarga penyayang hewan, dari anjing, kucing, burung, ayam sampai tikus pernah menemani hari-hari kami. Tapi keluargaku juga penggemar daging (aduh apa ya istilahnya?). Ibu dan Bapak sangat menyukai masakan dengan daging kambing dan ayam. Kalau nasi goreng nggak cukup kalau dengan timun dan telur dadar saja, maunya ada kambingnya, hihihi. Suatu hari (long looooooong time ago) aku memutuskan untuk menjadi vegetarian, ---tepatnya pescatarian. Ibu dan Bapak nggak bertanya apa alasannya dan langsung mengizinkan karena mereka pikir hanya fase di usiaku yang masih remaja. Tapi setelah sadar bahwa ini adalah keputusan permanen, mereka pun dengan senang hati menyiapkan menu khusus untuk anak perempuannya ini. Nggak ada yang berubah dari rutinitas makan kami sehari-hari. Kami tetap makan di meja yang sama dan terkadang makan malam sambil menonton TV, ---yang berbeda hanya menu di atas piringku :)



Meski terkadang aku cengeng saat tahu ada hewan yang disembelih, tapi tentu aku lebih mendengarkan akal sehatku. Tuhan menciptakan dunia dan isinya dengan masing-masing manfaat, termasuk hewan. Sudah sejak zaman dahulu manusia memanfaatkan hewan untuk keperluan sehari-hari, dari mulai tenaganya, kulitnya untuk dibuat pakaian dan dagingnya untuk dimakan. Bayangkan saja jika di zamannya Fred Flinstone penggunaan bulu hewan sudah dilarang, mungkin mereka semua akan kedinginan dan bergantung pada daun-daunan (---lalu menumbuhkan bulu sebagai proses adaptasi, lol). Kalau soal pakai kulit hewan, sekarang sih memang sudah seharusnya untuk berhenti. Kita sudah tinggal di rumah, ada selimut, jaket dan payung dengan berbagai pilihan bahan untuk melindungi diri. Nggak perlu pakai kulit hewan, kecuali kalau jika itu memang untuk memanfaatkan sisa pemotongan, seperti misalnya kulit sapi untuk bedug. Kalau sengaja bunuh binatang untuk diambil kulitnya, misalnya ular atau buaya untuk dibuat tas sih big NO ;) Aku percaya sebagai manusia kita nggak perlu serakah, cukup manfaatkan apa yang ada, ----hanya ambil apa yang bisa kita makan.

Aku senang sekali dengan villa keluarga yang terletak di Purwakarta. Nggak jauh dari sana ada kandang sapi dan kambing. Kalau sedang bersama sepupu-sepupuku yang masih kecil, kami sering memberi mereka rumput untuk dimakan. Bahkan sesekali kami membelai-belai mereka juga, soalnya menggemaskan, hihihi. Meski sepupuku yang berusia 7 tahun pun tahu kalau hewan-hewan ini nantinya akan dipotong, aku selalu berusaha menyampaikan kalau mereka "baik-baik saja". Ya, mereka memang akan mati dan menjadi makanan manusia, tapi selama semasa hidupnya diperlakukan dengan baik mereka pasti senang karena bisa bermanfaat untuk kita :) By the way, aku nggak menyangka kalau harus menyampaikan ini sama mereka, karena kupikir hanya "Indi kecil" saja yang kaget waktu sadar kalau apa yang dimakan sehari-hari asalnya dari hewan, hehehe. Makanya penting sekali agar mereka tahu kalau it's okay to eat animals, selama caranya baik.

Kehadiran kita di dunia ini seperti rantai, semuanya saling menyambung. Hewan pun ada sebagian yang saling memangsa agar bisa bertahan hidup (---karena yang vegetarian kaya aku juga ada, hehehe). Contoh kecilnya saja ikan arwana yang dipelihara di aquarium, mereka diberi pakan yang berasal dari udang, ikan kecil, jangkrik atau bahkan kecoa yang kaya protein. Meski mereka nggak memangsanya sendiri, tapi tujuannya sama, hewan-hewan kecil itu yang membuat arwana bertahan hidup. Katanya semakin berkualitas pakan yang diberikan maka semakin sehat pula arwana-arwana itu. Makanya, supaya kualitasnya terjaga banyak orang yang memilih mengembangbiakan hewan-hewan kecil itu sendiri untuk dijadikan pakan daripada membeli. Meski nggak semuanya buruk, tapi ada saja pedagang yang memperlakukan ikan pakan (---feeder fish) dengan nggak layak. Mereka dijejalkan ke dalam sebuah aquarium, atau plastik penyimpanan tanpa oksigen yang cukup. Pernah suatu hari aku melihat seorang pegawai pet shop yang cuek saja ketika ada seeokor ikan pakan menggelepar-gelepar di lantai. Waktu kutegur jawabannya bikin aku meringis, katanya, "Biar saja, masih banyak yang hidup di sana," sambil menunjuk ke plastik besar berisi ratusan ikan tanpa aerator. Mungkin ada orang berpikir bahwa ini bukan big deal. Kenapa harus bersusah-susah merawat ikan pakan yang nantinya akan dimakan oleh ikan yang lebih besar? Toh dalam keadaan sekarat pun ikan besar akan tetap memakan mereka. Padahal, tahukah kalian bahwa ikan-ikan yang dikembangbiakan dengan berdesak-desakan memiliki resiko untuk memiliki parasit, bakteri dan terserang stress? Dan ya, itu memang BIG DEAL, karena penyakit yang dimiliki ikan-ikan itu bisa menular ke ikan yang memakannya. 


Meski nantinya dimakan tetap saja namanya animal cruelty, ---dan jadi double animal cruelty kalau ikan besar yang memakan mereka ikut sakit, lol :p Hal yang sama juga beresiko terjadi pada hewan ternak, yang nantinya kita makan. Saat kita, ---err, kalian makan rendang atau sate ayam, pernahkah terpikir dari mana asal hewan-hewan tersebut? Apakah mereka disembelih dengan baik, atau dengan cara yang halal, ---bagi muslim? Beberapa waktu yang lalu timelineku sempat ramai dengan video-video rumah potong ternak yang 'menyiksa' dulu hewan-hewannya sebelum disembelih. Mereka dijejalkan di kandang yang sempit dan ditarik paksa sampai kakinya terpeleset. Di video lain lebih memilukan lagi, sapi-sapi dihancurkan tulangnya dengan menggunakan alat lalu kepalanya diputar sampai putus. Sungguh cara yang kejam, berbeda sekali dengan cara menyembelih hewan yang seharusnya. Memang kejadiannya kebanyakan di luar negeri, tapi bukan berarti di Indonesia bisa bebas. Masih ingat dengan sapi glonggong, ---sapi yang dipaksa minum sebanyak-banyakanya agar beratnya bertambah demi keuntungan penjual? Ini bukan hoax, bagi yang sering berbelanja di pasar pasti deh bisa membedakan mana yang betulan gemuk atau hasil glonggong. Jika hewan-hewan itu dimakan oleh manusia apakah efeknya akan baik bagi tubuh? I don't think so :)

Jika owner ikan arwana saja nggak mau peliharaannya memakan sesuatu yang buruk, apalagi kita sebagai manusia? Sama seperti pada ikan, jika kita memakan hewan ternak yang stress atau sakit maka efeknya akan buruk bagi tubuh kita. Ayam goreng, gulai kambing dan bistik sapi yang seharusnya nikmat dan bermanfaat bagi tubuh pun bisa malah jadi penyakit. Kita memang nggak selalu bisa tahu dari mana asal makanan yang dikonsumsi sehari-hari, ---apalagi jika asalnya dari restoran cepat saji. Tapi bukan berarti nggak bisa dicegah, atau minimal dikurangi resikonya. Orangtuaku biasanya membeli ayam langsung dari pasar, dalam keadaan hidup jadi mereka bisa melihat langsung bagaimana proses menyembelihnya. Untuk daging kambing, mereka membelinya dari sesorang sudah sangat mereka percayai dan dipotong di hari yang sama oleh 1 orang, ---bukan rumah pemotongan masal. Lalu bagaimana dengan restoran cepat saji atau fast food? Well, beberapa tahun belakangan ini mereka berhasil menghindari untuk membeli makanan dari sana, ---dan itu membuatku sebagai anak merasa bangga, hehehe :p 

Aku yakin masih banyak peternak dan rumah potong yang memperlakukan hewan-hewannya dengan baik, misalnya saja di peternakan kecil yang sering aku kunjungi saat sedang mampir ke villa keluarga. Aku cuma mau ingatkan kalau animal cruelty mungkin saja ada di piring kita, di menu masakan homemade yang terkesan innocent. Berilah tubuh makanan yang baik karena kita mencerminkan apa yang kita makan. Sekali lagi, aku nggak mempromosikan vegetarianism. Menjadi vegetarian adalah pilihanku, tapi selalu percaya bahwa IT'S TOTALLY OKAY untuk memakan hewan ternak karena itu memang salah satu takdir mereka untuk diambil manfaatnya oleh manusia. Just choose wisely, okay? No more animal cruelty on your plate! :)

bukan cruella de vil,

Indi

***

nb: Aku berterima kasih untuk teman-teman yang tetap mampir ke sini meskipun belakangan aku jarang update dan blog walking. Bahkan aku lihat ada beberapa teman baru yang mengikuti blog ini. Really appreciate it, dan selamat datang ke Dunia Kecil Indi :) Tapi sadly jumlah komentar nggak nyambung pun jadi bertambah. Begini teman-teman, sebelum berkomentar tolong make sure untuk membaca tulisanku dulu dengan lengkap. Dan kalau malas, it's okay, aku nggak pernah menganggap bahwa banyak follower/komentar = prestasi, karena aku menulis murni karena suka menulis :) Jika tujuan kalian meninggalkan komentar karena ingin dikunjungi balik lebih baik minta to the point saja, itu akan lebih aku hargai. Karena komentar yang nggak nyambung dari hasil membaca setengah-setengah kadang malah membuat misleading dan membuat orang yang berkunjung ke blog ini untuk benar-benar mencari informasi jadi bingung. Tolong, ya, terutama untuk di tulisan yang mengenai scoliosis dan HIV/AIDS. Thanks, have a nice day :)

_____________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Kamis, 31 Desember 2015

Kalau Indi dan Microwave Bersahabat di Malam Tahun Baru...

Yay! Tahun baru hampir tibaaaa. Who’s excited?? Kalau aku sih jangankan tahun baru, minggu baru atau malah hari baru pun excited sekali, hihihi. Aku selalu merasa kalau setiap hari adalah awal yang baru, ---kalau hari ini nggak berjalan sesuai rencana, don’t worry, ada hari esok. Waktu keberhasilan kita tertunda rasanya memang nggak nyaman, it’s okay kalau mau menangis atau marah, tapi jangan lama-lama karena kita bisa mulai lagi semuanya dari awal. Aku bersyukur dengan bagaimana tahun 2015 berjalan. Banyak hal yang aku cita-citakan akhirnya tercapai, meski yang belum pun masih banyak. Tapi jangan khawatir, tahun 2016 sudah di depan mata, hihihi.



Well, aku nggak akan bercerita tentang resolusi tahun 2016 atau berbagi moment-moment di tahun 2015. ---Atau at least sekarang karena rasanya sedang ingin menulis yang santai-santai saja :p Malam tahun baru biasanya aku habiskan bersama keluarga di rumah; movie marathon, makan bersama dan terjaga sampai tengah malam (---eh, hari-hari biasa juga aku begadang ding, hihihi). Rencananya kali ini pun akan begitu, tapi bedanya sekarang aku akan memasak! Kalau biasanya hanya Ibu dan Bapak yang sibuk di dapur, sejak beberapa minggu yang lalu aku sudah direquest untuk menambah menu di hidangan malam tahun baru kami. Bukan menu yang sulit-sulit tentu, tapi menu sederhana yang cepat sehingga cocok dimakan saat movie marathon. Berhubung aku nggak terlalu betah berlama-lama di dapur (---kecuali untuk main-main dan nyicipin makanan, lol), jadi diputuskan untuk masakan kali ini adalah... *drum roll* QUICK MICROWAVE MEALS ALA INDIIIIIIII *tepuk tangan*
Mau tahu apa saja menunya? Aku akan share resep dan fotonya di sini, ---siapa tahu saja ada yang sama malasnya denganku untuk bermacet-mecet keluar rumah dan memilih makan di depan TV saja, hihihi :p


1. Roti Bakar dalam Mug


Yumm, siapa yang suka roti bakar tapi malas dengan remah-remahnya? *angkat tangan tinggi-tinggi* Kalau biasanya makanan ini populer untuk menu sarapan, buatku ini adalah menu setiap saat. Kalau tengah malam lapar aku bikin ini, ---kalau habis lunch masih lapar juga bikin ini, hihihi. Bedanya dengan roti bakar biasa yang ini disajikan dengan mug, jadi setelah keluar dari microwave tinggal ambil dan bisa dimakan di mana saja.

Bahan-bahan:
~ 2 potong roti tawar
~ 1 Butir telur
~ Keju parut secukupnya
~ 2 sendok teh mentega/butter
~ 3 sendok makan makan susu
~ Secubit garam dan merica

Cara membuat:
~ Olesi mug dengan mentega lalu masukan roti yang sudah dipotong dadu.
~ Di gelas/mangkuk terpisah kocok 1 butir telur, 2 sendok teh mentega/butter, susu, garam dan merica sampai rata.
~ Siram bahan yang sudah dikocok ke atas roti, biarkan sampai meresap (kira-kira 60 detik) lalu beri topping keju.
~ Masukan ke microwave selama 3 menit dengan suhu sedang, dan... siap dinikmati ;)


2. Bownies Terenak Sedunia (---sedunia kecil Indi maksudnya, lol) di Dalam Mug


Cokelaaaaat! Katanya sahabat terbaik perempuan kalau sedang PMS. Oh well, aku PMS setiap hari kalau begitu :p Aku suka sekali dengan rasa brownies yang nggak terlalu manis dan teksturnya yang nggak terlalu lembut. Kalau sudah dapat yang rasanya pas, uh rasanya nggak mau sharing, hihihi. Nah, kalau porsinya pas 1 mug pasti nggak ada yang tega untuk minta, dong :p

Bahan-bahan:
~ 2 sendok makan cocoa powder
~ 3 sendok makan terigu
~ 3 sendok makan susu cair
~ 2 sendok makan gula
~ Secubit garam
~ 3 sendok makan minyak sayur

Cara membuat:
~ Masukan semua bahan ke dalam mug, aduk hingga benar-benar rata. Masukan ke dalam microwave selama 3 menit dengan suhu sedang, dan brownies porsi egois pun siap dimakan. Hati-hati masih panas :p


3. Pizza Terong



Sebagai seorang pesco-vegetarian penggemar pizza, mencari pizza yang aman lumayan tricky. Apalagi untuk memesan pizza di malam tahun baru pasti perlu waktu yang lama karena waiting list di mana-mana. Nah, daripada pusing berburu pizza, kenapa nggak bikin sendiri saja? It’s healthier and tastier, of course ;)

Bahan-bahan
~ 2 buah Terong ungu (untuk porsi 1 loyang)
~ Bawang Bombay
~ Tomat
~ 1 mangkuk keju parut
~ Minyak atau mentega
~ Garam dan merica secukupnya

Cara membuat:
~ Olesi loyang/pyrex dengan minyak atau mentega hingga rata.
~ Iris terong dan susun di atas loyang sampai menutupi dasarnya, taburi garam dan merica. Lalu taburi keju sampai terong tertutup.
~ Ulangi proses di atas untuk layer yang kedua, lalu berikan toping bawang bombay dan tomat.
~ Masukan ke dalam microwave selama 15 menit dengan suhu sedang. Keluarkan, dan selamat menikmati pizza (almost) guilt free! Hihihi :)


4. Mac and Cheese ala Kevin McCallister di Film Home Alone


“Bless this highly nutritious microwavable macaroni and cheese dinner and people who sold it on sale. Amen.”
Hahaha, ada yang ingat dengan doa Kevin di Film Home Alone ketika ia menunggu Marv dan Harry setelah mencuri dengar kalau rumah orangtuanya akan dirampok? Sejak kecil sampai sekarang Home Alone adalah film liburan terbaik yang selalu menghibur untuk ditonton setiap tahun. I love Kevin and his mac ‘n cheese! Setiap lihat scene dinner aku selalu ikut lapar dan amaze dengan betapa yummy lookingnya mac ‘n cheese instan keluaran dari Kraft itu, ---meski aku tahu betul yang asli nggak terlihat seperti itu, lol. Yep, kalau diperhatikan di scene belanja, Kevin membeli mac ‘n chesse instan, jadi ia nggak membuatnya sendiri. Tapi kalau mau buat sendiri bisa lho, dan aku yakin rasanya nggak kalah dengan punya Kevin.

Bahan-bahan:
~ 1 mangkuk makaroni
~ 1 cangkir susu
~ 1 mangkuk keju parut
~ Bawang bombay
~ Tomat
~ Garam dan merica secubit

Cara membuat:
~ Masukan makaroni, susu, garam dan merica ke dalam mangkuk. Panaskan di microwave selama 10 menit di suhu sedang.
~ Keluarkan, lalu aduk-aduk sampai rata sambil ditambahkan tomat, bawang bombay dan keju.
~ Masukan kembali ke dalam microwave selama 5 menit dengan suhu sedang, dan... that’s pretty much it! Marv dan Harry saja bisa dihadapi, apa lagi tahun baru, hihihi. “Merry Christmas, ya filthy animal. And a happy new year!” *yang ingat adegan ini keren, lol*


5. Potato Chips Super Renyah



Kalau sambil nonton film mulutku pasti maunya ngunyah terus. Favoritku selain popcorn ya keripik kentang. Karena yang biasa dijual biasanya rasanya terlalu asin plus ada penyedap sapi atau ayamnya, jadi aku pilih untuk bikin sendiri. Caranya super mudah dan nggak terlalu lama, ---hampir samalah dengan jalan ke mini market buat beli sebungkus chips, hehehe.

Bahan-Bahan:
~ 1 buah kentang
~ Secubit garam dan merica

Cara membuat:
~ Taburkan garam dan merica di atas piring/pyrex.
~ Iris tipis kentang (lebih baik menggunakan potato slicer) lalu susun di atas piring atau pyrex. Pastikan nggak mengenai satu sama lain supaya nggak lengket. Kembali taburkan garam dan merica di atasnya.
~ Masukan ke dalam microwave selama 8 menit dengan suhu paling panas. Keluarkan, lalu balikan kentangnya satu persatu.
~ Kembali masukan ke dalam microwave selama 8 menit dan ya, you officially impressed yourself :D

Ngetik resep-resepnya dan melihat kembali foto-fotonya saja sudah membuat aku drooling. Ah, jadi nggak sabar untuk masak dan melahapnya sambil movie marathon bersama keluarga di malam tahun baru, hihihi. Aku sebenarnya agak nggak enak juga sih karena nggak masak yang istimewa buat Eris, anjing mungil kesayangan kami. Jadi sebagai gantinya aku belikan saja makanan kaleng kesukaan Eris. “Kakak Indi masak buat kamu pas ulang tahun saja ya, sayang,” hihihi :p Memang, makanan bukan hal terpenting dari tahun baru, tapi nggak ada salahnya untuk melakukan hal yang istimewa. Anggap saja sebagai cara bilang, “Yeah, aku berhasil melewati tahun 2015 dengan baik”, ---atau dengan kata lain sebagai ungkapan syukur :) Kalau kalian, apa yang akan dilakukan di malam tahun baru? Selain bersyukur dan berdoa, apakah akan berjalan-jalan dengan keluarga, movie marathon, main kembang api? Share me! :) Dan oh, iya sampai lupa, ini ada hadiah kecil untuk yang merayakan natal dariku, video cover ukulele dan kazoo “Mele Kalikimaka”. Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2016, guys. Let’s ROCK this year! :)


yang masih anggap kalau Macaulay Culkin itu cute,

Indi
__________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Senin, 02 November 2015

Why I Love Halloween: Corpse Bride, Treats, Kostum dan Apa yang Orangtuaku Bilang.



“Sudah siap?” tanya Bapak.
“Sudah, sih... Tapi kalau di film Emily punya bekas luka di sini,” jawabku sambil menunjuk ke arah pipi.
“Kalau begitu bikin dulu dong bekas lukanya,” sahut Bapak santai.
Aku bengong, menebak-nebak apa Bapak serius atau sedang menggodaku. “Bikin pakai apa? Aku kan gak punya face painting.”
“Pensil alis kan bisa...”

Begitulah kira-kira percakapanku dan Bapak tanggal 30 Oktober lalu, ---di malam Halloween. Berbeda dengan tahun lalu yang dihabiskan di theme park, tahun ini aku ber-Halloween di rumah saja. Untukku di mana pun Halloween sama fun-nya, karena of course, ---ini adalah salah satu hari favoritku :D Sehari sebelumnya aku menyiapkan dekorasi untuk ditempel di tembok; kelalawar dan sarang laba-laba yang dibuat dari kertas. Sederhana, because I’m not a crafty person, hihihi, ---yang penting suasana spookynya terasa :) Untuk kostum ini adalah tahun pertama di mana aku nggak dressed up sebagai cute character. Setelah pernah menjadi Dorothy Wizard of Oz dan Tinker Bell yang sangat fairy tale, akhirnya aku berdandan (mudah-mudahan...) seram juga! Aku menjadi Emily dari film Corpse Bride nya Tim Burton. Ini agak di luar dugaan, karena sebelum memutuskan untuk memakai kostum ini keinginanku sempat berubah-ubah. Mulai dari ingin menjadi Rapuntzel, Glinda, Snow White (again, lol) sampai Annie Little Orphan, ---yang semuanya nggak ada seram-seramnya. Keinginan untuk menjadi Emily ini muncul tiba-tiba ketika aku menonton ulang film Corpse Bride. Emily was strangely adorable, lalu  kupikir, “Oh, I want to be her,” hahaha. 


Emily di film.

Emily ala aku :p


Ide Bapak untuk menambahkan bekas luka di pipi sebenarnya menyelamatkan penampilanku, karena kalau tanpa itu sepertinya nggak terlihat menyeramkan, hihihi. Beruntungnya waktu sedang mencari ide kostum aku teringat dengan dress putih yang Nenek beri beberapa tahun lalu. Dressnya sama sekali belum pernah dipakai karena modelnya sangat pas dengan tubuh, ---yang mana aku kurang nyaman untuk memakainya sehari-hari. Somehow di mataku dress ini terlihat seperti gaun pengantin, jadi cocok dengan yang aku butuhkan untuk menjadi Emily. Dan karena Emily memakai kerudung yang dihiasi dengan bunga-bunga, aku pun memakai flower wreath DIY project dari beberapa tahun lalu. Oh, iya aku juga memakai sepatu yang sedikit ber-heels supaya kesannya formal. Bisa ditebak dong kalau ini pasti bukan sepatuku (flat shoes ruleeees!), aku pinjam sepatunya dari rak sepatu Ibu, hihihi. Kalau tahun kemarin aku mengeluarkan sedikit uang untuk membeli glitter dan lem kain, tahun ini aku mengeluarkan Rp. 0 untuk kostum! Yay! Hihihi. Meski aku selalu ingin dressed up untuk Halloween, tapi bukan berarti boleh menghamburkan uang. Be wise. Usahakan mendapatkan hasil yang maksimal dengan budget sesedikit mungkin. Karena di situlah letak serunya, untuk menguji seberapa jauh kekreatifitasanku, hihihi. 





Di malam Halloween ini Bapak lebih banyak terlibat dibandingkan Ibu. Jika tahun lalu beliau yang membantuku membuat dressnya, tahun ini beliau hanya meminjamkan sepatunya karena sedang di luar kota. Selesai dressed up Bapak langsung bersiap untuk mengambil fotoku. Hihihi, kalau soal ini sepertinya sudah banyak yang tahu, ya, Bapak memang senang sekali mengambil gambar little girlnya ini :D Untuk gaya, setting, dll aku serahkan semuanya pada beliau. Aku sih cuma menempel sarang laba-laba dan kelalawar yang sudah kubuat sebagai background. Rupanya Bapak masih betah dengan tema cermin. Mungkin beliau puas dengan hasil photoshot “Poltergeist” ku beberapa waktu lalu jadi ingin mengulangnya lagi. Banyak foto yang diambil dari pantulan cermin, padahal aku sudah menghias tembok. Awalnya aku sempat protes, tapi setelah melihat hasilnya ternyata keren juga, hihihi. Meski tanpa darah-darah atau dekor macam-macam kesan spooky nya tetap terasa. Hmm, sepertinya aku akan pakai mirror trick ini untuk beberapa waktu ke depan, deh :p




Karena bertepatan dengan waktu dinner, aku pun membuat Halloween dinner dari bahan-bahan yang sudah ada di rumah. Dari hasil membuka-buka kotak penyimpanan ternyata masih ada spageti dan bakso ikan yang jumlahnya lumayan banyak. Langsung saja aku menusuk-nusukkan spageti ke bakso ikan sampai membentuk kaki. Oh, my God aku sudah lama sekali ingin membuat laba-laba dari spageti! Dan akhirnya tercapai juga :D Dari resep yang kulihat online biasanya sosis yang digunakan sebagai tubuhnya, tapi berhubung aku pesco-vegetarian jadi nggak makan itu. Menggunakan bakso ikan sebagai pengganti ternyata hasilnya lumayan. Memang warnanya jadi nggak kontras, tapi yang penting.... rasanya enak, hahaha. Untuk alasnya aku membuat sarang laba-laba dari kertas nasi. Lagi-lagi kurang kontras, tapi aku sengaja karena bahannya aman jika bersentuhan langsung dengan makanan. Nah, bukan Halloween namanya kalau tanpa sweet treats. Biasanya aku cukup membeli banyak permen dan cokelat lalu dimakan bersama, tapi tahun ini aku ingin sesuatu yang berbeda. Aku bentuk treats yang sudah kubeli di minimarket menjadi bertema Halloween. Aku ingin membuatnya menjadi sedikit menyeramkan tanpa terlihat menjijikan, hihihi. Well, aku tahu Halloween treats itu rasanya enak meski bentuknya kadang bikin perut melilit. Tapi aku adalah tipe orang yang lidahnya kadang dipengaruhi oleh bentuk makanan :p Jadi aku membuat laba-laba colorful dari Oreo, Pocky dan chocolate chips. Semua bahannya adalah kesukaanku yang sudah tentu cocok dengan lidahku. Nah, yang tricky aku mau membuat pudding “Bangkit dari Kubur”. Puddingnya sih mudah, aku menggunakan pudding yang sudah ada cup’nya. Untuk tanahnya aku menggunakan bubuk Oreo dan ditambahkan cokelat berbentuk kepala manusia. Tapi untuk nisannya, aku sampai membuat Bapak keliling-keliling mini market untuk mencari biskuit yang bukan saja berbentuk nisan, tapi juga yang rasanya manis. Kebanyakan biskuit yang bentuknya pas adalah biskuit asin yang rasanya sudah pasti nggak cocok dengan puddingnya. Untung saja akhirnya Bapak menemukan biskuit kentang yang rasanya cocok dipadukan dengan pasta cokelat untuk tulisan “RIP” nya, hihihi. Ibu pulang bertepatan ketika aku selesai membuat treats. Beliau ternyata cukup terkesan lho dengan hasil kreasiku.  Tapi juga jengkel ketika melihat dapur yang super berantakan, hihihi :p







Halloween night ku benar-benar menyenangkan, rasanya gembira sekali bisa berkreasi dengan dibantu Bapak. Di hari biasa belum tentu aku ingat untuk “bermain-main” dulu dengan makanan dan membuat to do list yang super panjang. Saking panjangnya aku sampai nggak sempat untuk melakukan semuanya, lho. Rencananya aku mau marathon film seram sebelum tidur tapi malah ketiduran dengan lampu menyela sampai pagi. Still a good sleep though, karena moodku sangat bagus, hihihi :D Waktu bangun tidur perasaan excited ku jadi bertambah karena of course... It’s HALLOWEEN!! Ray yang bekerja di hari sabtu berencana untuk pulang cepat agar bisa menghabiskan waktu Halloween denganku dan orangtuaku di rumah. Ray masih belum ada clue tentang apa yang akan kami lakukan, jadi aku kirimi ia list apa saja yang harus dibawa, hihihi. Setelah Ibu memberikan izin untuk menggunakan dapur, aku dan Ray langsung beraksi dengan bahan-bahan yang telah dibawa. Aku melihat treats ini beberapa waktu lalu di internet, namanya Frankenstein pudding yang sebenarnya kurang tepat karena Frankenstein adalah nama dokternya sedangkan monsternya bernama Adam, atau cukup dipanggil The Monster saja (yup, aku tahu itu semua, lol). Nggak ada cara membuat atau bahan-bahannya, tapi dari gambarnya aku sudah bisa mengira-ngira apa saja yang digunakan untuk membuatnya. Aku menggunakan pudding pandan sebagai wajahnya dan my trusted Oreo “dirt” untuk rambutnya. Agar lebih mirip, aku gambar mata, mulut dan bekas jahitan di cup puddingnya dengan marker. Hasilnya ternyata sangat mirip. Bahkan dari warnanya saja sudah cukup dikenali sebagai The Monster (ingat ya, bukan Frankenstein, hihihi). Lucunya aku dan Ray sempat beragrumen tentang kapan waktu yang tepat untuk memasukan puddingnya ke lemari es. Ray bilang harus tunggu dingin, sementara aku percaya asal bagian atasnya sudah mengeras dan nggak terlalu panas itu sudah aman. Karena kami nggak menemukan kata sepakat akhirnya bertanya pada Ibu yang ternyata setuju denganku, hahaha. Yes :p





Sebenarnya Ibu sudah memasak dinner untuk kami, tapi aku ingin sekali merasakan stuffed Doritos. Itu lho, keju goreng yang berbalut bubuk Doritos. Meski sudah ada keju dan Doritos-nya sejak beberapa waktu lalu, tapi baru sekarang aku punya keberanian untuk mencobanya. Mumpung ditemani Ray, jadi kalau dapur berantakan yang ditegur bukan cuma aku saja, hihihi, ups :p Meski sedikit deg-degan tapi aku tetap berusaha PD untuk mencobanya. Kami berbagi tugas, aku yang memotong-motong keju dan membalutnya dengan telur dan dorito, sedangkan Ray yang menggorengnya. Aku khawatir keju yang meleleh akan membuat penggorengan lengkat, tapi ternyata ajaibnya bubuk Doritos bisa menahan keju tetap di dalam! Woooow, hasilnya bahkan lebih bagus dari video yang kulihat di YouTube, hahaha. Dan rasanya pun ternyata super enak. Ibu bahkan sudah nggak sabar mencobanya sebelum aku mengambil fotonya. Aku pikir rasanya akan salty karena keju dan Doritos sama-sama asin. Tapi ternyata nggak, rasanya seperti keju goreng yang dijual di restoran pizza hanya saja lebih renyah. Sisa telur untuk menggoreng Ray jadikan omelet untuk kami berdua. Ditambah masakan Ibu makan malam kami pun jadi super mengeyangkan. Selesai makan kami baru ingat kalau puddingnya belum dikeluarkan dari lemari es. Karena bentuknya agak mengerikan, jadi aku minta Bapak dan Ray yang terlebih dulu mencobanya. Cacing-cacing yang keluar dari tanah kelihatan sangat nyata. Untung saja mereka bilang rasanya enak, hihihi. Dan aku setuju, begitu juga Ibu. Ah, senangnya Halloween dinner ini berjalan sukses :D





Aku senang Bapak memuji kostum Halloweenku, katanya beliau belum pernah melihat dress itu sebelumnya (well, of course, hihihi). Dan aku juga senang karena Ibu menyukai stuffed Doritos yang aku dan Ray buat. Lain kali beliau akan membuatnya juga katanya :D Setelah Ray pulang aku membereskan dekorasi sederhana yang menempel di tembok. Hari yang melelahkan tapi aku sama sekali nggak menyesal karena hatiku berbunga-bunga (lol, nggak ada seram-seramnya). Halloween selalu jadi saat yang istimewa karena bisa memaksaku untuk kreatif dan melakukan sesuatu yang kadang bahkan belum pernah terpikir sebelumnya. Begitu juga bagi Ibu, Bapak dan Ray, mereka pun merasakan hal yang sama. Karena Halloween aku dan Ibu pernah berkeliling toko kain untuk mencari kain yang harganya paling terjangkau untuk kostumku. Bapak juga pernah membuat sayap Tinker Bell dari gantungan baju bekas yang caranya beliau lihat dari YouTube. Kalau hari-hari biasa mana pernah beliau menonton YouTube dan mau menghabiskan waktu berjam-jam untuk membengkokkan kawat gantungan baju, hihihi. Ray juga jadi pintar mix and match berkat Halloween. Tahun lalu ia datang ke rumah dengan kostum Peter Pan kreasinya sendiri! Padahal katanya sebelum mengenalku ia belum pernah lho excited dengan Halloween, hihihi. 

Setiap aku upload foto-foto Halloweenku di media sosial, teman-teman dan pembaca pasti mengomentari. Ada yang memberi pujian, tapi ada juga yang heran kenapa aku melakukannya. Rupanya banyak yang nggak percaya bahwa Ibu dan Bapak totally okay dengan apa yang kulakukan, ---bahkan begitu mendukung. Aku sendiri sebenarnya justru bingung jika ada orangtua yang melarang anaknya melakukan hal yang sama sepertiku. Ini hanya untuk bersenang-senang dan aktivitas yang dilakukan di hari Halloween bisa semakin mempererat hubunganku dengan orangtua, ---dengan bonus menjadi semakin kreatif. Bapak bilang aku boleh melakukan apapun yang diinginkan selama itu nggak merugikan orang lain dan menyakiti diri sendiri. Dan Bapak melihat Halloween sebagai sesuatu yang positif, meskipun waktu beliau kecil belum mengenal hari ‘menakut-nakuti’ ini. Aku bersyukur mempunyai orangtua yang sangat open minded, nggak melarang sesuatu sebelum mencari tahu dan selalu ikut bersenang-senang denganku. Menutup diri nggak akan menghasilkan apa-apa, malah mungkin akan menjauhkanku dengan orangtua. Hal yang baru bukan berarti buruk, dan hal yang lama bukan berarti lebih baik. Ibu dan Bapak setuju jika “budaya” ini seharusnya lebih acceptable daripada “budaya” bullying, lempar telur saat ulang tahun, corat-coret seragam ketika kelulusan sekolah dan berbagai macam hal “buang-buang” lainnya. Ini  hanya Halloween, dan ini di Indonesia bukan di Irlandia. Menjadi kreatif nggak akan menyakiti siapapun, dan mempunyai moment untuk melakukannya dengan orang-orang tersayang nggak ternilai harganya. So, why not? Aku lega Ibu dan Bapak melarangku untuk mencorat-coret seragam saat kelulusan dan bukannya melarangku untuk ber-Halloween. Thank you so much for your super awesome parenting style, Ibu dan Bapak. I love you both :)


yang setiap tahun dibuatkan kostum halloween oleh ibu dan bapak,

Indi 


___________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Kamis, 19 Februari 2015

Satisfied My Sweet Tooth: The Dream's Cake :)

Yay! Akhirnya aku bisa update lagi di sini. Belakangan kayanya gue sering baca blogger yang lagi ikutan tantangan untuk post 1 tulisan setiap hari. Rasanya langsung bikin cengar-cengir, soalnya kalau aku bisa post satu tulisan saja perminggu itu sudah masuk kategori rajin ---menurut standar sendiri, hehehe :D Sebenarnya aku juga ingin lebih sering berbagi cerita di sini, apalagi belakangan dapat banyak pengalaman baru. Tapi aku ternyata memang nggak ‘segesit’ blogger-blogger yang bisa bikin blog post sambil melakukan aktivitas lain. Jadi sepertinya aku akan tetap dengan ‘ritme berantakan’ seperti sekarang dan berusaha menceritakan pengalaman-pengalaman saat ada waktu luang saja meskipun jadinya sudah nggak baru lagi, hihihi. Daripada memaksakan dan tulisanku yang sering sekenanya ini jadi semakin berantakan, kan ;)

Salah satu pengalaman yang ingin aku ceritakan adalah ketika aku ke (kinda late) opening cabang barunya The Dream’s Cake. Jadi minggu ada kabar, katanya aku diundang Dara (owner The Dream’s Cake) untuk mampir ke tempatnya dan mencicipi menu-menu barunya. As a sweet tooth, tentu saja aku langsung mengiyakan untuk datang di hari minggu (15 Februari 2015 lalu). Rupanya cabang baru ini sudah dibuka sekitar 10 hari yang lalu, tapi karena Dara kehilangan kontakku jadi ia baru bisa mengundangku belakangan. Padahal saat grand opening kabarnya banyak food blogger yang diundang, lho. Wah, bisa sekalian kenalan dan berbagi pengalaman, tuh. Tapi nggak apa-apa, deh soalnya kalau waktunya terpisah malah leluasa, hihihi.

Aku mengenal The Dream’s Cake sudah lumayan lama, bahkan sejak mereka belum memiliki toko/cafe sendiri. 100 thumbs up untuk kemajuan mereka, bukan hanya karena sudah menambah cabang baru saja (yang terdahulu ada di Jl. Trunojoyo dan Jl. BKR), tapi juga karena mereka sangat inovatif. Aku biasanya nggak pernah ketinggalan untuk mencicipi menu-menu baru The Dream’s Cake, tapi berhubung di akhir tahun kemarin cukup banyak kesibukan jadi hanya bisa melihat foto-fotonya di media sosial. Pokoknya setiap aku intip Twitter atau Instagramnya The Dream’s Cake, aku pasti kedip-kedip. Sudah nggak sabar pengen mencicipi, hihihi.

Di sore hari aku tiba di cabang baru The Dream’s Cake yang letaknya di Dipa Junction Jl. Aria Jipang no. 1-3 Bandung. Kesan pertamaku waktu masuk ke cafenya, clean dan cute ---tapi nggak over cute jadi cocok juga untuk hangout sama keluarga dan guy friends. Minimalis dengan dekorasi yang bikin betah foto-foto (aku ini mah, hehehe). Untuk mejanya ada beberapa pilihan, di pintu masuk ada meja dengan 2 buah tempat duduk, pas buat yang lagi ngedate dan di dalamnya lagi ada meja-meja yang lebih besar, cocok untuk teman-teman se-gang, keluarga atau couple yang kalau makanannya banyak banget sampai nggak muat di meja kecil ---seperti aku ini, hehehe.





Aku memilih untuk menempati meja yang paling pojok, supaya kalau Dara datang kami bisa langsung melihatnya. Beberapa saat kemudian aku menerima pesan dari Dara agar aku langsung order karena ia masih on the way. Setelah aku melihat daftar menunya, ternyata benar banyak yang baru. Malah sepertinya sebagian besar belum pernah aku coba, hihihi. Langsung saja aku memilih ‘Dessert Tower’ dengan es krim vanila chip, risoles keju dan veggies, dan ‘Cococi’. Oh, iya meskipun The Dream’s Cake terkenal dengan dessert atau makanan manisnya, tapi untuk yang ingin comfort food juga tersedia menu seperti mac and cheese, fried fries dan lain-lain, lho :)


Holly molly! Check out my Dessert Tower! :O

Rissole nya ada banyak varian, kalau mau tanpa daging bisa pesan yang cheese. Enak bangeeeet T_T

Cococi dan air kelapanya yang tertutup cotton candy! :D


Nggak menunggu lama pesananku pun datang. Akhirnya aku bisa melihat langsung foto-foto yang sering adminnya The Dream’s Cake retweet di Twitter :p Dessert Tower ku ternyata benar-benar seperti tower, tinggi! :D Kalau ada yang pernah melihat cotton candy tower, nah bentuknya mirip seperti itu. Bedanya Dessert Tower lebih puffy karena di dalamnya ada 2 scoop es krim, cake and cream cheese! Yang bikin makin segar di dasar gelasnya diisi oleh lemon sparkling. Nggak perlu bingung dengan bagaimana cara menikmati Dessert Tower ini, free style saja. Mau pakai sendok boleh, mau pakai tangan boleh... atau seperti aku yang menikmati cotton candy nya dengan langsung di-hap juga boleh, hehehe. Tapi hati-hati saja nanti rambut ikutan lengket. Oops :D Cococi juga kucicipi. Sepertinya The Dream’s Cake membawa ‘es campur’ to the another level. Mochi isi cake (I Mochi You), es krim dan toppingnya disajikan di mangkuk yang terbuat dari kelapa bangkok, sementara air kelapanya disajikan terpisah. Rasanya unik, rasa manisnya cocok banget dengan daging kepalanya yang gurih dan lembut. Yummy! Risolesnya pun nggak kalah menarik, lho. Meskipun menu ini ada di mana-mana, tapi penyajiannya yang dilengkapi mayo membuat rasanya lebih nikmat. Apalagi dengan varian isian yang macam-macam. Paling happy kalau menemukan menu kesukaan yang biasanya mengandung daging divariasikan dengan isian yang lain (curhatan pesco-vegetarian, lol).


Siapa yang perlu sendok? Lol.


Dara datang ketika aku masih makan, katanya ia sedang sibuk karena hari ini bertepatan dengan hari terakhir food festival di Paris Van Java. Mumpung bisa bertemu langsung dengan ownernya, aku jadi bisa sekalian tanya-tanya, deh ;) Dari ceritanya aku jadi tahu kalau cafe ini konsepnya ‘semi resto’, maksudnya costumer bisa memesan langsung di kasir atau bisa juga dari meja langsung seperti yang aku lakukan. Jadi tergantung kita mau pilih mana yang lebih nyaman buat kita. Hihi, asyik ya ;) Karena menu utamanya dessert, The Dream’s Cake ini selalu ramai di siang hari. Menurutku sih mau datang siang atau sore sama asyiknya, cuma kalau takut kehabisan lebih baik memang siang-siang, apalagi weekend. Soalnya aku pun mau pesan es krim green tea tapi sudah habis, huhuhu :’)




Lho aku salah kostum? XD


Nggak terasa waktu sudah semakin larut, aku pun pamit pulang. Secara keseluruhan buatku The Dream’s Cake ini keren banget. Selain menunya enak-enak, pelayanannya juga cukup cepat. Recomended banget untuk yang suka dessert tapi bosan dengan rasa yang itu-itu saja (di sini variannya banyak pilihan). So, thanks a lot ya The Dream’s Cake, especially buat Dara yang sudah memuskan sweet tooth-ku, hihihi. Kapan-kapan mau mampir lagi sambil ajak keluarga, ah ;)

The Dream’s Cake
Dipa Junction, Jl. Aria Jipang no. 1-3
Bandung
Kontak: 081286250907 (SMS dan whatsapp) thedreamscake (line)

sweet tooth girl,


Indi 

  ___________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469