Tampilkan postingan dengan label Indi Sugar Taufik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indi Sugar Taufik. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Januari 2021

Tahun Baru: Waktunya untuk Pulang :)

Selamat tahun baru! Hore, 2021! Kita semua berhasil melalui 2020, teman-teman! :) *peluk*

I know, I know, tahun berganti bukan berarti semuanya otomatis menjadi lebih baik. Tapi aku hanya ingin memberikan vibes positif, meski hanya sedikit di tahun baru ini :) Tahun 2020 terasa berat untuk kita semua. Banyak di antara kita (termasuk aku) yang harus kehilangan pekerjaan. Bahkan nggak sedikit yang harus ditinggalkan oleh orang-orang tersayang. Sedikit optimis sepertinya bisa memberi harapan, dan membuat perasaan (suasana hati) menjadi lebih baik. Betul, kan? ;)


Orangtuaku selalu bilang, tahun baru itu waktunya untuk membuat harapan dan semangat baru. Meski sebetulnya kapan saja bisa, tapi saat tahun baru hampir semua orang melakukannya. Mereka percaya doa menjadi lebih kuat saat dipanjatkan bersama-sama, ---dan aku pun begitu. Makanya aku selalu merasa tahun baru itu istimewa, jadi dalam keadaan apapun aku dan Shane selalu usahakan untuk datang ke rumah orangtua aku. Termasuk tahun ini, sejak akhir Desember 2020 Ibu sudah sibuk bertanya padaku dan Shane ingin makan apa di sana. Request kami sih sederhana, hanya ingin lumpia buatan Ibu dan jagung bakar, hehe. Sudah tradisi sejak aku kecil, terutama jagung bakar. Mungkin karena itu satu-satunya menu yang netral, bisa dimakan oleh semua, ---bahkan saat aku masih jadi pemakan segala, lalu vegetarian, sampai vegan sekarang, hahaha (sejak 4 tahun lalu) :p


Aku dan Shane lagi total nggak kemana-mana, terakhir ke luar ya di bulan Oktober 2020 lalu. Itu pun (lagi-lagi) hanya ke rumah ortu untuk Halloween lalu dilanjutkan ke hotel karena berdekatan dengan ulang tahun pernikahan kami. Selebihnya kami hanya di rumah saja. Sempat bingung juga mau beli hadiah tahun baru di mana karena, seriuosly, kami malas banget ke mana-mana :D Akhirnya kami putuskan berbelanja online. Untuk Ibu, Bapak dan Nenek kami pesan jam dinding customize gitu, ada foto kami sekeluarga. Khusus untuk Nenek, kami pilih foto yang ada beliau dan Ibu Mertua? Kenapa? Karena mereka BFF, hahaha. Jadi kami pikir beliau akan senang. Meskipun pasti kadonya akan diterima terlambat, karena Nenek merayakan tahun baru di vilanya, di Purwakarta. Untuk dua keponakanku, Ali dan Abi Cody, aku dan Shane hanya membeli cokelat karena mereka sudah punya banyak mainan. Lagian, mereka sih lebih happy kalau dapat makanan dibandingkan barang xD


Di malam tahun baru aku dan Shane akan berangkat ke rumah orangtua. Kami putuskan untuk memakai Gocar agar lebih praktis. Barang-barang perbekalan menginap sudah diturunkan ke lobby waktu kami sadar kalau kami kesorean. Uh oh, baru ingat kalau jalan di daerah kami akan ditutup jam 6 sore nanti. Nggak ada Gocar dan taksi yang kosong waktu kami memesannya via aplikasi, huhu. Untung saja Ibu memang akan keluar rumah, jadi bisa sekalian menjemput kami. Agak malu juga sih, niatnya mengunjungi eh malah merepotkan, hehehe. Tapi yaaa mau bagaimana lagi, malam tahun baru macet, makanya kami malas pakai mobil sendiri :D


Ketika tiba kami langsung disambut sama dua keponakan yang kupanggil "the babies", ---yang kata Shane mending dipanggil "the boys" saja karena sudah pada besar, hahaha. Mereka ini nggak selalu ada di rumah ortu, kadang ya di rumah mereka sendiri yang jaraknya nggak jauh dari rumah ortu, atau malah di rumah Nenek mereka (dari pihak bundanya). Tapi kalau saat istimewa seperti ini pasti berkunjung dan menginap, bikin rumah makin ramai. Karena mereka sedang main, jadi aku ikutan. Padahal niatnya begitu tiba mau santai di depan TV sambil rebahan di sofa. Eh, ternyata realitanya sofa penuh dengan mainan dan malah ada kolam renang karet di tengah ruangan, hahaha.


Biasanya aku rebahan di sini, eh sama the babies malah dipakai gelaran kolam karet T_T hahaha.

Aku sih ikut saja pokoknya, gak ngerti juga ini main apaan xD


Seperti biasa kalau ada Ibu, aku dan Shane bisa makan sampai 5 kali sehari soalnya beliau hobi masak. Ketika aku sibuk bermain dengan the babies, Ibu langsung menyiapkan lumpia istimewa request dari kami. Sengaja, aku dan Shane memang belum makan dari rumah, hihi. Saking banyaknya lumpia yang kami makan, kami sampai minta break dulu sebelum lanjut makan jagung bakar. Padahal Ali sudah semangat untuk bakar jagung sendiri. "Sekarang kan kita lagi pesta," begitu katanya :D Dan dipikir-pikir memang baiknya kami bakar jagung segera sih, soalnya kalau nggak pasti Ali dan Cody keburu ngantuk. Mereka kan balita, masa iya mau ikut begadang sampai tengah malam :D Akhirnya, kami pun berusaha sekeras mungkin memberi ruang di perut untuk jagung bakar buatan Ali, ---yang ternyata bumbunya pure saos tomat doang, hahaha. Tapi enak kok :D


Ini anak celananya kemana coba? :’D Bener-bener gak karuan, bandoku saja sampai pindah ke kepala Ali T_T

Ali bangga dengan jagung bakar buatannya :)


Aku senang Ibu dan Bapak menyukai kado kami. Saking bersemangatnya mereka langsung pasangkan jarum dan baterainya. Sekalian yang punya Nenek juga dipasangkan supaya ketika beliau tiba di Bandung bisa langsung dipajang. Kalau the babies sih nggak perlu ditanya, mereka sudah pasti terobsesi dengan kado tahun barunya, hahaha. Nggak sampai 5 menit mereka langsung lahap cokelatnya plus berebutan pula karena cokelat Cody habis duluan :D Ya, begitulah... heboh dan hangat. Kalau ada mereka tiap hari aku nyerah, tapi juga kangen kalau lama nggak bertemu, hehehe.


My family :)

Dengan kado-kado dariku dan Shane :)


Oya, berhubung aku dan Shane nggak ke mana-mana untuk membeli kado, kami nggak bawa apa-apa untuk Eris, anjing kesayangan kami :( Sebetulnya kalau ada Gocar yang sih kami mau mampir dulu di petshop, tapi ternyata nggak seperti yang direncanakan. Sebagai gantinya, aku cuci tempat tidur Eris sampai cling. Biar tahun baru tidurnya nyenyak :D


Foto waktu Eris aku ajak ke halaman rumah, eh gak mau balik dia :D


(Edit: Saat tulisan ini dibuat kami sudah beli kado untuk Eris, hehehe).


Betul saja seperti perkiraanku, sebelum tengah malam Ali dan Cody sudah tidur. Aku jadi leluasa buat nonton TV di sofa. Iya, di sofa! Finally xD Banyak film seru yang diputar. Rasanya seperti dapat kado tahun baru dari TV kabel karena sampai 2 hari ke depan ada beberapa channel yang gratis. Aku benar-benar manfaatkannya sampai-sampai begadang. Mata sepet pun nggak terasa, hahaha. Tapi tentu kerjaanku nggak cuma makan dan nonton TV saja dong. Aku ngobrol-ngobrol sama Ibu dan Bapak sampai puas (asli, ngalor-ngidul, dari mulai ngomongin tetangga sampai acara TV, lol). Dan yang paling seru aku juga menemukan banyak album foto lama. Bapak menunjukkan foto-foto almarhum Kakek dan Nenek, yang ternyata mereka dulu keren sekali. Jadi terharu, huhu. Maklumlah aku masih kecil waktu mereka meninggal, jadi memoriku dengan mereka hanya sedikit :') Shane juga nggak kalah amazenya melihat foto-foto masa kecilku. Katanya nggak kebayang dulu aku kecilnya sebandel Ali dan Cody, hahaha. Eh, padahal nggak lho, dulu aku manis kok :p


Masakan Ibu. Semuanya enak, tapi favoritku dan Shane tentu lumpia vegan. Yummy! :p

Menunjukkan foto-foto masa kecilku sama Shane, hahaha.


Saking happynya aku di rumah ortu, kamar tidur yang sudah disiapkan jadi jarang banget ditempati. Seringnya aku di ruang TV, ---dan ruang makan, hehe. Rasanya kalau tidur tuh sayang, takutnya missing out. Meski aku sangat menikmati tinggal berdua saja dengan Shane di rumah mungil kami, tapi ada lho hari-hari di mana aku mikir, "Kayanya enak ya tinggal satu rumah tumplek-tumplek gitu." Tapi aku sadar, untukku (dan Shane) itu bukan kondisi ideal. Buat kami lebih fair untuk tinggal terpisah, karena Shane juga kan tinggal berjauhan sekali dengan orangtuanya, dan dia rela tinggal di mana saja asalkan aku happy. (Sebetulnya Ibu Mertua ingin aku tinggal di Amerika, btw, tapi berhubung aku lebih happy di sini, Shane bilang dia saja yang ikut aku). Juga dari sisi ortuku, mereka sudah membesarkanku sampai segini besarnya (hahaha), rasanya lebih fair jika memberi mereka ruang untuk menikmati masa tua mereka :)


Lagipula aku jadi punya tempat untuk "pulang", ada rasa rindu dan alasan untuk kembali ke rumah masa kecilku karena ada Ibu dan Bapak di sana :)

Kami menginap selama 2 malam. Di perjalanan ke rumah kami aku sudah kangen lagi sama mereka (termasuk sama the babies dan Eris juga). Lucunya dulu aku suka berpikir kalau kangen itu hanya berlaku untuk yang tinggalnya berjauhan. Tapi setelah 2 tahun tinggal terpisah, aku jadi sadar kalau kangen itu bukan soal tempat, tapi soal dengan siapa dan dengan suasana yang melekat di hati. Semoga saja keadaan cepat membaik ya biar aku bisa sering-sering menginap di sana lagi. Sekali lagi, selamat tahun baru, semuanya! :)


(virtual) kisses,


Indi


-----------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Selasa, 01 September 2020

Menang atau Kalah? :) Update dari Kompetisi Kejar Mimpi!

Dengan sertifikat dari kompetisi musik “Kejar Mimpi”.

Aku berada di urutan 25 dari ratusan peserta :)


Haiiiii, kali ini aku mau post singkat saja. Aku mau ucapkan terima kasih banyak banyak banyaaaak untuk teman-teman di sini yang sudah mendukung waktu aku ikutan kompetisi cover lagu di "Kejar Mimpi" (gerakan sosial yang diinisiasi oleh CIMB Niaga). Aku berada di urutan 25. Secara tekhnis aku kalah karena nggak berada di 10 besar, tapi aku tetap merasa menang karena berhasil mengalahkan rasa takutku :)

"Apa kemampuan bermusikku terlalu biasa?"

"Apa aku terlalu 'tua' untuk belajar sesuatu yang baru?"

"Bagaimana nanti dengan komentar orang-orang?"


Siapa peduli? Yang penting aku mencoba, lakukan yang terbaik dan bersenang-senang. Deg-degan karena menunggu hasil lomba itu lebih asyik daripada nggak berusaha melakukan apa-apa ;) 

Aku juga mau ucapkan selamat kepada para pemenang dan semua yang berpartisipasi. Kalian hebat! :)


Video cover "Ibu Pertiwi", lagu wajib untuk kompetisi. Aku bernyanyi dan bermain ukulele di sini. Sementara Shane, suamiku, bermain gitar dan jadi cameraman :p



yay!

Indi


---------------------------------

Dapatkan novel "Waktu Aku sama Mika" di: 0878 43333019 (WhatsApp Shira Media),

dan dapatkan novel "Guruku Berbulu dan Berekor" di 0877 81930045 (WhatsApp Haura Publishing).

-------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com


Senin, 27 Juli 2020

"Waktu Aku sama Mika" Kembali! :)

Hai bloggies! Apa kabarnya? Semoga semuanya baik-baik saja, ya. Kelihatannya sih di daerahku hampir semuanya sudah beraktivitas seperti biasa, kantor sudah banyak yang buka, pertokoan jam operasionalnya kembali seperti dulu, ---hanya sekolah saja yang masih dari rumah. Aku dan Shane juga termasuk yang masih bekerja dari rumah, jadi harus kreatif supaya nggak jenuh, hehe. Apalagi sekarang sudah masuk musim kemarau yang artinya matahari sedang teriiiiik sekali. Bawaannya kepengen main di luar, kalau bisa sih berenang atau minimal jalan-jalan di mall sambil makan es krim :D Tapi jangan dulu deh, aku dan Shane memilih untuk membatasi keluar rumah karena lebih aman. Apalagi tante dan saudaranya kakak ipar yang di Amerika juga terkena covid, ---better hati-hati daripada menyesal kan :)

Selama keabsenanku di blog ini sebenarnya banyak yang terjadi, dan rasanya ingin menebus buat cerita semuanya setelah mood (haha) dan laptopku kembali. Tapi 2 minggu lalu ternyata laptopku ada yang meminjam, jadi keinginanku harus tertunda. Saat seperti ini laptop dan internet memang jadi esensial sih, ya. Apa-apa kebanyakan dikerjakan lewat internet :'D Saat aku "hilang" itu, ada kabar yang menggembirakan. Aku memang sempat menyentilnya sekilas di sini, tapi belum pernah menceritakan secara lengkap. "Waktu Aku sama Mika", novel karyaku kembali dipinang oleh penerbit. Kisahku dan mendiang Mika kali dihidupkan kembali oleh penerbit Shira Media dengan konsep yang lebih segar dan manis :) Kontrakku dengan penerbit sebelumnya memang sudah habis. Sempat ada keinginan buat menerbitkannya secara indie, tapi rupanya seperti jodoh, di saat yang tepat Shira Media menghubungiku untuk menawarkan kontrak.

"Waktu Aku sama Mika".

"Waktu Aku sama Mika" adalah kisah yang nggak pernah aku rencanakan untuk menjadi novel. Bahkan tulisanku dibaca orang lain pun sebelumnya nggak pernah terbayangkan. Dulu aku menulis kisah cinta masa SMA murni demi "melegakan" perasaanku. Sama sekali nggak ada alur, sama sekali nggak ada konsep. Bisa dibilang sekedar curahan hati. Orang mungkin menyebutnya cinta monyet. Tapi buatku jatuh cinta dengan Mika adalah salah satu bagian dari pengalaman berharga, yang membantu proses penerimaan diri dan mengubah cara pandangku terhadap dunia menjadi lebih positif :) Waktu itu aku berusia 15 tahun, serba kebingungan dengan dunia remaja yang entah mengapa aku selalu nggak bisa berbaur. Sebanyak apapun aku mencoba, aku selalu asing. Aku pikir scoliosis membuatku berbeda, ---bukan dalam arti yang positif. Brace, atau penyangga punggungku terlalu visible dan mungkin membuat orang lain nggak nyaman untuk bergaul denganku. Lalu datang Mika, yang membuktikan padaku bahwa manusia itu seperti apel. Dari luar mungkin tampak berbeda, seperti kulit apel yang berwarna-warni. Tapi dalamnya sama saja. We are all human. Untuk pertama kalinya aku merasa diterima dan mulai belajar untuk melihat sesuatu seperti sudut pandang Mika. Bagiku Mika adalah sosok laki-laki yang sempurna, dia bagai malaikat untukku, ---terlepas dia adalah seorang ODHIV, orang dengan HIV.




Lebih Personal
Waktu penerbit memberi tahu kalau akan ada edisi istimewa terbatas "Waktu Aku sama Mika", aku senang sekali. Aku pikir setelah sekian lama kisahku dan Mika "hidup", sekarang adalah waktu yang tepat untuk memiliki penanda atau kenang-kenangan yang bisa kusimpan sampai nanti :) Ada 500 paket novel bertanda tangan dan totebag bergambar serasi dengan sampul "Waktu Aku sama Mika". Iya, aku benar-benar menandatangani semuanya, satu persatu. Lumayan pegal, tapi aku sangat bersemangat meskipun sempat jatuh sakit. (---Bukan sakit karena kelelahan tanda tangan lho, ya, memang kebetulan saja waktunya bersamaan, hehehe). Selain perasaan senang, sebenarnya aku juga merasa cemas. Soalnya 500 itu bukan jumlah yang sedikit. Apa mungkin pembacaku sebanyak itu? Hehe. Tapi berkat dukungan ortu dan Shane aku bisa menepis pikiran yang kurang positif. There's no such thing as a bad book. Setiap buku istimewa, hanya harus menemukan hati yang tepat untuk ditempati. Iya, kan? ;)

Menandatangani 500 halaman pertama novel "Waktu Aku sama Mika"! :D

Totebag yang bisa didapatkan di paket istimewa.


Akhirnya di Toko Buku!
Entahlah kenapa, aku punya kebiasaan malu-malu dan cemas nggak jelas (---mungkin related sama diagnosis OCD ku? IDK). Waktu tahu novelku sudah ada di toko buku (offline dan online), aku ingin sekali melihatnya sendiri. Tapi aku malu kalau ke toko buku dan mencari-cari novelku di sana. Padahal kalau dipikir, siapa juga yang akan memperhatikan ya? Huhu. Setelah ada beberapa teman pembaca yang membeli novel "Waktu Aku sama Mika" di toko buku memention ku di medsos, akhirnya akupun membulatkan tekad untuk melihatnya sendiri. Toko buku pertama yang aku kunjungi dengan Shane adalah Gramedia cabang Merdeka Bandung. Waktu itu kami habis dari bioskop bersama teman-teman kerja. Aku pikir sekalian saja ke toko buku. Ternyata benar ada, di rak paling besar! :'D Jujur, rasanya overwhelming. Aku sampai beberapa kali meremas lengan Shane supaya bisa menahan diri untuk nggak memekik, hahaha. Nggak lupa aku mengambil foto, ---setelah nengok kanan-kiri takut ada yang memperhatikan :p

Menemukan "WASM" di rak Gramedia Merdeka Bandung!

"Waktu Aku sama Mika" di rak Togamas Supratman Bandung.

Selain Gramedia, novel "Waktu Aku sama Mika" juga ada di toko buku-toko buku lainnya seperti Togamas, Jendela dan lain-lain. Di toko online juga ada. Mudahnya sih tinggal mengetik judulnya saja di Shopee, Tokopedia atau medsos seperti Instagram dan Twitter. Nanti akan muncul nama-nama toko yang menjual novelku :) Oh iya, tapi khusus edisi bertanda tangan dan totebag hanya dijual di toko online saja (termasuk di website resmi Shira media) karena jumlahnya terbatas.

Menjadi Best Seller
Dulu aku nggak pernah membayangkan tulisanku dibaca oleh orang lain. Bisa menerbitkan buku rasanya seperti mimpi, ---apalagi waktu tahu kalau karyaku dipajang di rak "Paling Laris". Rasanya lebih indah dari mimpi! :') Apalagi aku tahunya bukan karena dapat kabar dari penerbit atau teman pembaca, tapi aku melihatnya dengan mata kepala sendiri. Waktu itu aku dan Shane baru saja selesai dari dokter, karena lapar kami mampir ke tempat pizza dulu. Di dekat sana ada toko buku, lalu iseng-iseng kami mencari novelku. Sepuluh menit pencarian, kami nggak menemukannya dan akupun menyerah. Tapi suamiku rupanya masih penasaran dan memintaku untuk bertanya pada petugasnya. Mulai deh aku cemas karena setelah waktu lumayan lama dia belum juga menemukan dimana novelnya. Rasanya aku sudah mau kabur saja, hehe. Sampai akhirnya ada petugas lain yang tahu dan ternyataaaa... aku dan Shane sudah melewati tempat yang dimaksud berkali-kali! Kami memang sama sekali nggak terpikir untuk mengecek ke sana karena itu rak best seller. Aku pikir too good to be true saja kalau sampai ada di sana. Setelah petugasnya pergi baru deh aku bisa heboh-heboh sedikit. Terharu, nggak menyangka, bahagia, semua jadi satu. Novelku best seller! :')

Satu-satunya foto yang Shane ambil karena waktu kami di sana tokonya sedang mati lampu, hahaha.

Ekspresi bahagiaku waktu tahu novel "WASM" ada di jajaran buku laris :)

Bersama Shane yang selalu mendukung dan siap sedia mengantarku ke toko buku :)

Terbitnya (lagi) "Waktu Aku sama Mika" adalah salah satu hal terindah yang terjadi padaku di masa "nggak mudah" sekarang ini. Aku bersyukur memiliki keluarga dan tempat tinggal yang membuatku nyaman. Tapi jujur ada kalanya aku merasa stuck karena harus diam di rumah. Meski istilahnya WFH alias work from home, tetap saja rasanya berbeda. Apalagi karena sebelumnya aku terbiasa berinteraksi langsung dengan orang-orang di tempatku bekerja paruh waktu. Nah, membaca komentar-komentar pembaca tentang novel "Waktu Aku sama Mika" ternyata bisa mengobati kerinduanku. Terkadang aku sempatkan untuk sedikit mengobrol, apalagi jika mereka merasa related dengan kisahku dan Mika.
Ungkapan perasaanku di sini rasanya nggak sebanding dengan apa yang sebenarnya kurasakan, no words can dercribe how happy and grateful I am. Kisah cintaku dan Mika memang nggak sempurna, ---seenggak sempurna kondisi fisik kami. Tapi melihat apa yang novel ini capai rasanya aman untuk bilang, "Terima kasih telah melihat aku dan Mika ‘melampaui’ kondisi kami. Terima kasih!" :)




selalu sugarpie-nya Mika,

Indi




Dapatkan "Waktu Aku sama Mika" di toko buku seluruh Indonesia (Togamas, Gramedia, dll), www.shiramedia.com (WhatsApp: 087843333019) dan di berbagai toko buku online (gunakan keywords: 'Waktu Aku sama Mika' di Instagram, Facebook, Twitter, Shopee, Bukalapak dan Tokopedia).

--------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com



Minggu, 13 Maret 2016

Datang sebagai Inspirator, Pulang dengan Membawa Inspirasi! (Kelas Inspirasi Bandung)

Haloooo, howdy-do bloggies?! Aduh, rasanya malu-malu gimana gitu untuk bilang kalau sekarang aku mengetik ini dalam keadaan kurang enak badan. Padahal di post sebelumnya aku bilang akan kembali update kalau sudah sehat. Tapi ternyata... tenggorokanku kembali nggak enak sekarang, huhuhu :( Mudah-mudahan saja nanti pagi sudah baikan karena hari senin aku perlu suara gue untuk, ---ehm,--- sebuah surprise yang baru saja aku dapat (ceritanya next time, ya, hihihi). Anyway, meski begitu aku akan menepati janji untuk bercerita tentang pengalaman menjadi inspirator pengajar di Kelas Inspirasi Bandung. Tulisan kali ini mungkin nggak akan sedetail biasanya (menghemat tenaga, hihihi), tapi aku janji akan berusaha sebaik mungkin ;)

Seperti yang aku sebutkan sebelumnya di tulisan tentang pengalaman mengikuti briefing, ini adalah kali pertama aku mengikuti Kelas Inspirasi. Sebenarnya sudah sejak beberapa tahun yang lalu teman-teman pembaca mendukungku untuk mengikuti Kelas Inspirasi, tapi aku selalu ragu. Pasalnya aku merasa belum pantas disebut sebagai “profesional”. Memang aku sudah sudah menulis sejak usia 7 tahun, tapi  hasilnya hanya belasan buku harian (---aku mungkin penulis buku harian profesional, lol). Baru ketika dewasa aku lebih serius menulis dan menghasilkan beberapa buku yang diterbitkan. Tapi tetap, aku merasa masih harus banyak belajar :) Sampai akhirnya tahun ini aku mendapat dukungan semakin banyak, termasuk dari Ray. Rasanya aku jadi lebih percaya diri. Dan setelah dipikir mengapa aku harus menunggu lebih lama? Lebih baik aku berbagi apa yang dimiliki sekarang, karena ilmu tentu akan semakin bertumbuh jika nggak disimpan sendiri.




Singkat cerita aku ditempatkan di SDN Griba 13 Bandung bersama belasan orang lainnya dari kelompok 50. Perasaan deg-degan terasa ketika aku memasuki kelas pertama, yaitu kelas 1-C. Tapi aku yakin pengalaman sebagai guru di sebuah preschool internasional selama 3 tahun sedikit banyak akan membantu. Segera setelah aku menyapa anak-anak, —atau “adik-adik” karena mereka ngotot memanggilku “Kakak”, hehehe, —perasaan deg-degan pun segera berganti dengan semangat. Mereka begitu welcome dan antusias dengan kedatanganku. Karena waktu ajar perkelas dipukul rata menjadi hanya 30 menit, aku langsung memperkenalkan diri dan bercerita tentang profesiku. Istilah “penulis” rupanya belum akrab di telinga mereka, bahkan ada yang mengira bahwa penulis adalah kata lain dari pelukis. Tapi setelah aku menjelaskan tentang peran penulis dalam kehidupan sehari-hari mereka langsung mengerti. Sengaja aku nggak menjelaskan secara mendetail karena yang menjadi tujuan hanya untuk mengenalkan bahwa di dunia ada berbagai macam profesi yang menyenangkan, dan penulis adalah salah satunya. Dalam proses perkenalan ini aku usahakan agar berlangsung dengan fun. Misalnya saja ketika aku menjelaskan tentang alur, latar dan tokoh dari sebuah cerita, aku tanyakan pada mereka cerita apa yang ingin dijadikan contoh. Adik-adik di kelas 1 kompak menjawab SpongeBob Squarepants, sementara di kelas yang lebih tua jawabannya lebih bervariasi; Upin-Ipin dan Frozen! Dengan mengikuti apa yang mereka sukai, istilah-istilah dalam dunia menulis pun lebih mudah dipahami. Aku amaze sekali dengan adik-adik di kelas 1 yang sudah tahu beda alur maju dan mundur lewat salah satu episode Spongebob.





Penulis nggak selalu identik dengan buku, karena yang menulis naskah film atau lagu pun sama-sama disebut penulis. Lagi-lagi dengan mengikuti apa yang mereka sukai aku menyebutkan contoh-contohnya (—dan wow, aku jadi sadar kalau lagu “Sambalado” begitu terkenal di kalangan anak-anak, hehehe). Ada moment lucu tapi juga cerdas yang gue alami di kelas 3. Yaitu ketika ada seorang anak dengan wajah terkejut berkomentar,“Jadi film horor itu ditulis orang ya, Kak? Hantunya juga pura-pura dong, kaya cerita Spongebob!” Sontak aku tertawa mendengarnya, apalagi ketika ia menambahkan bahwa suatu hari ia akan membuat cerita yang lebih bagus agar bisa bekerja di Hollywood. Semoga berhasil, kiddo!  





Karena sebagian besar dari mereka adalah penggemar berat Spongebob, aku pun menamai alat peraga mengajar dengan “kotak imajinasi”, —seperti permainan kesukaan Spongebob dan Patrick. Menjadi seorang penulis terkadang harus menjelaskan sesuatu yang nggak terlihat, —yang sifatnya imajinatif. Jadi aku mengajak adik-adik untuk menebak benda-benda yang berada di dalam kotak tanpa harus melihatnya. Nggak disangka semangat mereka untuk maju ke depan kelas besar sekali, meski beberapa dari mereka minta dibisiki bocoran viariasi kata agar teman-temannya bisa membayangkan benda yang mereka pilih dari dalam kotak, hihihi. Sepertinya ini adalah aktivitas favorit mereka ketika bersamaku di kelas, adik-adik di kelas 6 bahkan meminta waktu ekstra 5 menit agar bisa bermain lebih lama. By the way, kelas 6 adalah kelas yang paling heboh sekaligus polite. Mereka nggak segan untuk menunjukan ketertarikan terhadap outfit yang aku pakai. Dan waktu melihatku kegerahan 2 adik laki-laki di sana langsung sigap naik ke atas meja untuk menyalakan kipas angin! Hahaha, how cute! :D

Pertemuan di kelas aku tutup dengan mengajak mereka bernyanyi bersama. Sengaja aku membawa ukulele dari rumah, sekaligus sebagai contoh dari profesi penulis lagu. Lagu yang kami nyanyikan berjudul “Raihlah Cita-Cita”, liriknya ditulis olehku dengan nada sederhana yang mirip seperti lagu “ABC”.

“Ayo kawan kita bersama
Raihlah Cita-Cita
Jadilah apa saja
Semua yang kau suka.”





Menjadi inspirator pengajar adalah pengalaman yang sangat berharga. Banyak moment mengharukan dan mengejutkan yang aku alami. Seorang anak bernama Damian masuk ke kelasku sebanyak 2 kali, padahal teman-temannya sudah pulang (kelas 1 dan 2 pulang lebih awal). Ketika ditanya alasannya rupanya ia ingin mendengarku bermain ukulele lagi, katanya dulu ia hanya tahu bahwa itu adalah ‘gitar kecil yang dibawa pengamen’, hihihi. Atau ketika adik-adik dari kelas 6 mengajak aku selfie agar mereka nggak lupa bahwa kami pernah bertemu. Rasanya aku ingin memeluk mereka satu persatu dan mengucapkan terima kasih karena telah membuat hari itu menjadi salah satu hari terbaik di hidupku. Bertemu dengan adik-adik di SDN. Griba 13 mengingatkan aku bahwa terwujudnya cita-cita berawal dari semangat yang besar dan tanpa rasa takut.
Aku datang untuk menginspirasi, tapi aku pulang dengan membawa sejuta inspirasi dari mereka! Thanks a lot untuk kesempatannya, Kelas Inspirasi :)







yang dibilang lebih cocok dipanggil 'kakak' daripada 'teteh' sama adik-adik, lol,

Indi

_______________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 11 Mei 2014

Datang Yuk ke Workshop "Dari Menulis Jadi Buku" :)



Hai teman-teman! Gue punya kabar yang menyenangkan, nih. Tanggal 18 Mei nanti gue diundang sebagai bintang tamu di workshop "Dari Menulis Jadi Buku". Acaranya akan diadakan di Cafe Celebrate Bandung. Selain bisa ngobrol-ngobrol seru dan berbagi cerita tentang bagaimana gue bisa menerbitkan buku, teman-teman yang hadir juga akan mendapatkan ilmu kepenulisan dari Bunda Herafi Zaskia :) Buat yang kangen dengan duet gue dan Ray juga boleh, karena di acara ini Ray kembali menjadi MC, hehehe.

Pokoknya selain seru acara ini juga dijamin kaya manfaat, hihihi. Yuk ditunggu kehadirannya, jangan lupa ajak teman-teman yang lain. Workshop ini untuk umum. Pelajar, mahasiswa, bahkan yang sudah bekerja pun boleh ikut, karena meski judulnya 'belajar' tapi tetap santai dan fun :)
Untuk pendaftaran silakan SMS atau whatsapp ke 081312027870/085720521903 (Dipo). Secepatnya, ya, karena tempatnya terbatas ;)

Sampai ketemu tanggal 18 Mei nanti! :)

sugarpie honey girl,

Indi




"Dari Menulis Jadi Buku" dipersembahkan oleh Buttermint dan disponsori oleh Celebrate Cafe, Papyrus Photo dan JKT 66


 ______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Contact person: 081322339469

Kamis, 20 Maret 2014

Tentang "Waktu Aku sama Mika" :)




"Mika itu malaikat, tapi dia pelupa.
Sekarang Mika lagi ambil sayapnya...
Di surga..."

Siapa sangka bahwa puisi singkat itu mengubah banyak hal? Ya, sejak pertama kali bertemu, Mika memang mengubahku menjadi lebih hidup dan percaya diri, tapi aku nggak pernah menyangka bahwa tribute sebanyak 13 kata itu kelak mengubah hidupku dan mempengaruhi orang lain...

Pada tahun 2009, ketika sebuah penerbit menemukan puisi singkat itu di shoutout Friendster, aku nggak menyangka bahwa mereka benar-benar serius menawariku untuk membuat sebuah novel. Mereka hanya mengenalku dari 13 kata dan aku belum pernah membuat tulisan panjang sebelumnya. Tapi nggak lama kemudian aku langsung disodori kontrak dan terbitlah novel "Waktu Aku sama Mika" :)





Sampai beberapa bulan novel itu terbit, aku masih malu-malu jika tanpa sengaja melihat novel itu dipajang di rak toko buku. Ada juga perasaan haru karena "Waktu Aku sama Mika" merupakan adaptasi dari buku harianku ketika berpacaran dengan Mika, laki-laki luar biasa yang aku kenal sejak usia 15 tahun sampai 3 tahun berikutnya karena ia mengalah dengan AIDS...
Lambat laun Mika yang sudah di surga rasanya seperti kembali menguatkanku dan kembali hidup meski lewat kisahnya. Aku mendapatkan banyak teman baru ---mereka yang mengaku terinspirasi dari Mika--- :) 

Novel yang berasal dari 13 kata itu pun sekarang sudah dicetak berulang kali. Tahun ini sudah kali ke 12 (kalau aku nggak salah mengingat) dan sudah difilmkan dengan judul MIKA (Mika diperankan oleh Vino Bastian, dan aku diperankan oleh Velove Vexia). 
Hampir 5 tahun sejak "Waktu Aku sama Mika" diterbitkan dan aku masih tetap terharu jika membaca komentar-komentar tentang novel tersebut. Rasanya seperti recharge semangat setiap hari, berkah setiap hari :)




"Ngena banget. Nggak kebayang gimana sosok Mika yang asli. Seorang penyayang, motivator juga PAHLAWAN. Banyak kutipan menarik dari novel ini."
(Dinata Ain)

"Kedalaman karakter Indi mengenai bagaimana merananya ia ditinggal Mika. Cara dia menyusun kata-kata, sangat jelas menggambarkan keadaan hati yang realistis. Saya tidak tahu, ini kisah nyata atau tidak, tetapi saya merasa setiap kata-katanya sangat bernyawa."
(Yohanes Octa)

"Ceritanya bagus, apalagi ini berdasarkan real story."
(Leila Husna)

"WAKTU AKU SAMA MIKA itu buku yang bagus banget. Layak dibeli deh. Gaya penceritaannya menarik, pula diksinya. Sepertinya jarang ada penulis - Indonesia atau mungkin non-Indonesia - yang menulis dengan gaya penceritaan seperti yang ditulis Mbak Indi ini. Bukunya memang tipis, namun isinya sangat luar biasa."
(Immanuel)

"Gak ngerti lagi sama buku ini. Bagus banget, keliatan banget penulisnya hatinya lembut banget, tulus banget :')"
(Febriana Giofanny)

"It did not take a long time for me to read this book. It’s a small 145 pages book with a very simple words used to form the story in it. But in that short time of reading, between those simple words, it delivers nicely a message about one of the most important aspects in life: love.
The book reminds me to love sincerely. To be grateful about life. To appreciate what you have. To share kindness no matter what condition you are in. To give people chances to show who they really is."
(Acago)


Setiap kali ada yang memuji tentang novel "Waktu Aku sama Mika" aku selalu bilang bahwa yang hebat itu Mika, bukan aku. Karena kenyataannya memang begitu. Meskipun ia sudah nggak di sini lagi, tapi Mika selalu jadi pahlawan dan membuat hidupku lebih hidup :)

sugar pie-nya Mika,

Indi



***

Novel "Waktu Aku sama Mika" bisa didapatkan di toko buku Gramedia dan Togamas (biasanya ada di rak novel, best seller atau psikologi remaja). 



(Diedit 2/3/2024. “Waktu Aku sama Mika” kembali diterbitkan oleh Shira Media dan tersedia di berbagai toko buku online dan offline.
__________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Sabtu, 29 Mei 2010

I'm Pretty and Can Read Maps Too



Post ku kali ini mungkin nggak terlalu penting (emang biasanya penting? hehe..). Tapi aku mau ngajak semuanya, terutama perempuan buat baca tulisanku.

Belakangan banyak perempuan dengan semangat membara cerita tentang girl power, inner beauty, smart is a new sexy, kepribadian OK, ini itu, ini itu... Aku perhatiin semakin jarang yang bahas tentang pentingnya kecantikan atau keindahan fisik seorang perempuan, bahkan di majalah dengan segmen perempuan sekalipun.

Well, aku sendiri MEMANG perempuan yang menjaga penampilan, menyukai keindahan fisik, tapi juga cerdas sekaligus (yes, nggak bermaksud untuk sombong, tapi aku memang cerdas, at least berusaha begitu dengan terus belajar). Bukan berarti aku sempurna, tapi aku mencintai diri sendiri segitu banyaknya dan menganggap dua hal tersebut sama pentingnya. Buatku keduanya saling mendukung, dan faktanya seseorang dengan kecantikan saja nggak akan menjadikannya cerdas. Begitu juga dengan seseorang dengan otak super. Itu nggak akan bikin dia "cantik", kalau dia lupa kapan terakhir kali pake conditioner sampe-sampe rambutnya sekering gurun pasir.

Oh, ya hampir lupa. Aku mau ingetin kalau apa yang aku maksud dengan kecantikan bukan tentang badan langsing, rambut lurus alami tanpa cela dan gigi rapi tanpa behel, ya! Tapi ini tentang jadi diri sendiri dan memaksimalkan apa yang diberikan Tuhan (baca: MERAWAT).





Me :)



LIVING BARBIE?

Okay, balik lagi ke topik awal. Dulu, ada beberapa laki-laki yang menganggapku sebagai living barbie (kedengerannya porno, ya? Lol). Mereka bilang that I look so cute dan mereka suka untuk lihat aku seharian. Tapi buat jadiin aku pacar? It's a BIG NO! Beberapa dari mereka terang-terangan bilang kalo cewe macem aku pasti cuma bisa ngabisin duit buat biaya ke salon. Ibaratnya punya mobil antik yang harus dirawat terus-terusan, tiap minggu pasti harus dibawa ke bangkel. Itu katanya. Terus terang perkataan mereka bikin aku sedikit sakit hati dan pengen buktiin kalo mereka salah. Tapi setelah dipikir, untuk apa? Lebih baik aku hanya menanggapi laki-laki yang nggak berotak shallow :)



YES, I LOVE MY BRAIN AND I LOVE MY SKIN TOO :)

Apa alasan kalian sekolah, ikut les dan baca banyak buku? Supaya cerdas? Kenapa? Aku yakin beberapa kalian pasti ingin menjadi cerdas sebagai bentuk dari penghargaan diri. Dengan kecerdasan, itu bisa membuat kalian merasa berharga, dihargai dan keberadaan kalian dibutuhkan untuk orang lain. Siapa yang akan diterima diperusahaan A? Siapa yang akan jadi editor di majalah B? Si cerdaslah jawabannya.
Ya, banyak pekerjaan yang nggak membutuhkan kecantikan. Kalau aku jadi seorang camera person, tim kreatif atau CS dibalik telepon yang masuk pagi buta dan pulang malem sampe nggak ada yang liat, buat apa aku tampil cantik? Jawabannya: Buat AKU sendiri! Aku lakuin itu sebagai penghargaan diri. Setelah aku kelelahan bekerja rasanya nggak berlebihan kalau aku kasih my lovely body sedikit perawatan.
If you feed your brain, feed your skin too!



AYO SEIMBANGKAN DAN KITA DAPATKAN KEDUANYA :)

Berapa banyak waktu yang kalian habisin untuk baca buku pelajaran, diem didalem kelas, cari bahan untuk skripsi atau bekerja untuk perusahaan tersayang? 6 jam perhari, 8 jam perhari, atau malah lebih? Menyisihkan waktu 2 jam aja perhari untuk rawat tubuh lelahmu, it won't hurt you, promise :) Aku juga janji kalau kalian lakukan ini, kalian akan menghargai diri kalian lebih banyak lagi. Sekarang aku mau share caranya. Ini cepat, mudah dan murah (simpan penghasilan kalian untuk sesuatu yang lebih penting. I love to look beauty tapi nggak suka habisin duit ratusan ribu cuma buat spa. Lol).

~ Rambut, wajah, bibir dan ketiak (yes, YOUR armpit. Lol) sekaligus.
Hehehe, kedengerannya ribet, ya? Nggak, kok. it's super easy dan nggak lebih dari 15 menit. Pertama, siapkan handuk, krim krimbat instan atau buatan sendiri (untuk rambut), masker instan atau buatan sendiri (untuk wajah), madu asli tanpa zat perasa, gula (untuk bibir) dan irisan lemon (untuk ketiak). Setelah lengkap, lakukan hal dibawah ini secara berurutan (ingat, ya berurutan, untuk mempermudah dan timingnya pas):

1. Dalam keadaan rambut bersih, oleskan krim krimbat sampai rata di kepala. Kalau nggak ada bisa pake ramuan sendiri, misalnya alpukat, strawberry atau lidah buaya yang diblender (nggak usah takut untuk mengoleskan dikepala, yang alami tanpa efek samping, kok. Lol). Pijat sampai rata dan relaxx, lalu bungkus kepala dengan handuk hangat. Cara "bikin" handuk hangat gampang, kok. Lo nggak perlu steamer, cukup celupin handuk kedalam air panas dari dispenser atau water heater kamar mandi, peras, jadi deh :) Proses ini habisin waktu sekitar 15 menit, sambil nunggu lalukan perawatan selanjutnya.
2. Berbaring. Oleskan masker diwajah, atau kalau nggak ada pakai buatan sendiri dari buah-buahan yang sesuai dengan jenis kulit lo. Cukup dihancurkan dengan blender. Ada tips cepat: Oleskan aja madu di wajah. Cocok untuk semua jenis kulit dan murah. Asal inget, pakai madu alami, bukan madu yang dicampur zat perasa atau buah.
3. Kalau madu yang dipilih untuk masker, it's much easier. Sekalian aja olesin ke bibir. Kalau bibir lo kering dan pecah-pecah, tempelin aja telunjuk lo di madu dan gula (gula pasir biasa, kok), terus gosok perlahan di bibir. Gula berfungsi sebagai scrub alami dan madu untuk melembabkan. Nggak perlu khawatir kalau tertelan. Lol.
4. Ambil 1 iris lemon pake tangan kiri dan 1 iris lagi pake tangan kanan, tempelkan di kedua ketiak untuk mengurangi stres dan mencerahkan warnanya (itulah kenapa aku bilang "berbaring", hehe). Selesai!
Tunggu aja sampai waktunya krim krimbatnya dibilas. Yang lainnya (wajah, bibir dan ketiak) bisa dibilas dengan waktu yang sama. Nggak ribet, kan? :)

~ Seluruh tubuh dan private area yang sering terlewatkan.
Ini termasuk pangkal paha, belakang telinga dan sela-sela jari, lho. Kira-kira ngabisin waktu 15-20 menit (nggak lama, kok mengingat tempat yang harus dibersiin banyak. Lol). Yang perlu disiapkan scrub tubuh, scrub kaki, loofah (atau sponge juga nggak apa-apa) dan nail brush. Langkahnya nggak perlu berurutan, asalkan srcub tubuh yang dilakukan pertama:

1. Oleskan scrub keseluruh tubuh dalam keadaan kering, pijat perlahan. Termasuk daerah armpit dan yang tersembunyi lainnya. Mafaatin waktu lo baik-baik, jangan sampai ada yang terlewat dan lakukan dengan teliti. Khusus untuk daerah perut, paha dan bokong perlu perhatian khusus, soalnya rawan stretch mark. Pijat daerah-daerah tersebut dengan gerakan memutar, jangan digosok terlalu keras. Kalau sudah terlanjur punya garis-garis putih (hihihihi), pilih scrub yang mengandung virgin coconut oil. Kalau nggak ada, lo bisa pake minyak kelapa yang dihangatkan atau kopi bubuk. Cara pakenya? Sama aja dengan scrub biasa, kok :) 
2. Sambil menunggu scrub mengering, oleskan kaki dengan foot scrub, kalau nggak ada pakai yang untuk tubuh atau pakai buatan sendiri (madu+gula juga masih bisa dipake kalo ada sisa. Lol). Lalu gosok kuku dan sela-selanya dengan nail brush. Lakukan hal yang sama untuk tangan juga.
3. Bilas seluruh tubuh dengan air hangat. Pastiin nggak ada yang terlewat. Pakai loffah untuk mengikis sisa-sisa scrub. Pakai sponge kalau nggak ada. Selain tubuh jadi bersih, loofah dan sponge bisa melancarkan peredaran darah juga, lho :)

~ Relaxing :)
Semuanya udah selesai, tapi jangan lupa sentuhan akhir. Oleskan lotion diseluruh tubuh. Termasuk daerah tersembunyi seperti pangkal paha, leher dan bokong. Tapi jangan oleskan disela-sela jari kaki dan belakang telinga. Setelah itu terserah. Mau baca majalah atau minum teh untuk santai juga boleh. Tapi yang terpenting, coba itung berapa waktu yang kalian habisin buat seluruh perawatan tadi. Surprise? Hehehe, yes, memang sesebentar itu, kok ;)


Lotion


Foot Scrub




Peel off mask



SO, WHAT DO YOU THINK?

Apa yang kalian rasain sehabis perawatan itu? Lebih cantik? Bersih? Sehat? Penghargaan diri yang lebih? Well, jawabanku adalah semuanya. Setiap kali aku habis scrubbing atau krimbat, aku pasti ngerasa cantik dan ngerasa berhasil memperhatikan tubuhku (setelah sebelumnya sibuk kuliah atau bekerja). Aku juga ngerasa lebih percaya diri dan punya "sesuatu" selain otakku. Aku bisa dengan percaya dirinya pake blazer pink dan rambut terurai disaat harus presentasi didepan kelas tanpa harus khawatir dosen akan membahas penampilanku. Itu karena aku tau aku BISA presentasi dengan baik dan dosen nggak punya alasan untuk mencelaku.

Apapun jawaban kalian untuk pertanyaanku, aku cuma mau sampaiin kalau kecerdasan dan kecantikan sama-sama penting. Dan keduanya bentuk dari penghargaan diri. Masih ragu? Coba nonton Freedom Writer, Legally Blonde atau Devil Wears Prada. They're smart and pretty. So nobody's want to mess with them! :)


n.b: Doain seminar skripsi aku berhasil, ya. Thanks, pals :)