Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 September 2020

Menang atau Kalah? :) Update dari Kompetisi Kejar Mimpi!

Dengan sertifikat dari kompetisi musik “Kejar Mimpi”.

Aku berada di urutan 25 dari ratusan peserta :)


Haiiiii, kali ini aku mau post singkat saja. Aku mau ucapkan terima kasih banyak banyak banyaaaak untuk teman-teman di sini yang sudah mendukung waktu aku ikutan kompetisi cover lagu di "Kejar Mimpi(gerakan sosial yang diinisiasi oleh CIMB Niaga). Aku berada di urutan 25. Secara tekhnis aku kalah karena nggak berada di 10 besar, tapi aku tetap merasa menang karena berhasil mengalahkan rasa takutku :)

"Apa kemampuan bermusikku terlalu biasa?"

"Apa aku terlalu 'tua' untuk belajar sesuatu yang baru?"

"Bagaimana nanti dengan komentar orang-orang?"


Siapa peduli? Yang penting aku mencoba, lakukan yang terbaik dan bersenang-senang. Deg-degan karena menunggu hasil lomba itu lebih asyik daripada nggak berusaha melakukan apa-apa ;) 

Aku juga mau ucapkan selamat kepada para pemenang dan semua yang berpartisipasi. Kalian hebat! :)


Video cover "Ibu Pertiwi", lagu wajib untuk kompetisi. Aku bernyanyi dan bermain ukulele di sini. Sementara Shane, suamiku, bermain gitar dan jadi cameraman :p



yay!

Indi


---------------------------------

Dapatkan novel "Waktu Aku sama Mika" di: 0878 43333019 (WhatsApp Shira Media),

dan dapatkan novel "Guruku Berbulu dan Berekor" di 0877 81930045 (WhatsApp Haura Publishing).

-------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com


Selasa, 18 Agustus 2020

Memperingati Hari Kemerdekaan RI ala Indi dan Shane di Rumah Saja

Di pengingat kenangan Facebookku muncul foto dari tahun kemarin. Aku, Shane dan Ali, berpegangan tangan di depan depan tiang canopi yang dihiasi bendera merah putih. Aku memakai kebaya merah, Shane yang memakai batik tampak mengernyit karena teriknya cahaya matahari. Sementara Ali memakai baju pangsi Sunda tersenyum nakal ke arah kamera, ---yang anehnya terlihat lebih mungil dari yang aku ingat (sepertinya setiap berganti tahun aku terus-terusan merasa Ali tumbuh dengan cepat, hahaha). Ya, kami baru saja selesai merayakan hari kemerdekaan Indonesia waktu foto itu diambil. Saking lamanya berdiam di rumah aku jadi terkejut sendiri kalau itu BARU satu tahun yang lalu. Tahun kemarin aku masih ikut pawai bersama Ali dan Shane di sekitar sekolah, juga masih menonton pawai dari RT dan RW lain dari balik pagar rumah orangtuaku. Somehow mengingat semua itu jadi terasa janggal. Jangankan untuk berdesakan di pawai, untuk antri di kasir supermarket saja sekarang rasanya "salah".


Shane, aku dan Ali. Waktu itu mataharinya memang sedang super terik :D


16 Agustus 2020

Kalau saja kemarin aku nggak membuka Facebook, mungkin aku akan lupa kalau besok adalah hari jadinya Indonesia. Gak ada kemeriahan di luar, bendera juga nggak kelihatan dari balkon rumah kami. Memang tinggal di apartemen itu terkadang terasa terasing. Apa yang terjadi di bawah, yang sebenarnya jaraknya dekat saja kadang kami nggak tahu. Suasana festive nggak akan terasa kalau bukan aku dan Shane sendiri yang ciptakan, ---paling-paling kalau ada kembang api saja kami jadi punya clue kalau sedang ada perayaan di luar sana, hehe.

Aku bilang sama Shane kalau kami bahkan nggak punya bendera di sini, sementara aku rindu dengan suasana tujuh belasan :') Shane pun menenangkanku. Katanya mungkin kami bisa menemukan bendera kecil untuk dipajang di balkon, nanti malam saat kami ke supermarket untuk berbelanja keperluan dapur. Aku yang tadinya mellow langsung semangat berganti baju dan mulai memikirkan apa saja yang akan kubeli untuk besok :)

Aku pikir akan seru jika kami bisa punya "Hari Indonesia", ---pokoknya seharian serba Indonesia, dari mulai makanan, pakaian sampai tontonan. Jadi akupun mulai memenuhi keranjang dengan apapun yang khas Indonesia, ---selama itu vegan, hehe. Nasi tutug oncom, nasi kuning, kacang koro, teh botol, cokelat Bali, air kelapa, mi lidi, dan segala macam produk makanan lokal lainnya. Sampai-sampai aku baca satu persatu lho labelnya, supaya yakin kalau produknya memang asli buatan sini :p Di sela-sela berbelanja nggak lupa aku kirim pesan sama Ibu agar mengirimkan beberapa kebaya untuk dipakai besok. Meski nggak kemana-mana nggak ada salahnya kan untuk tetap merayakan hari kemerdekaan :)


17 Agustus 2020

Aku bangun tidur kesiangan. Mungkin karena malamnya terlalu excited sampai-sampai susah tidur, hehehe. Waktu aku membuka mata Shane langsung bertanya aku mau makan apa. "Mau nasi tutug oncom," jawabku. Dan ternyata itu cukup membuat suamiku heran, karena saat aku tidur dia sudah sarapan sereal dan pisang sementara aku langsung minta makan nasi :p Tapi dia setuju, karena sebelumnya dia belum pernah mengenal "oncom". Jadi sekalian saja dijadikan menu makan siang untuknya, dan menu sarapan untukku, hehe. 

Nasi tutug yang kami makan itu tipe instan, cukup dimasukkan ke rice cooker lalu diberi bumbu. Tertarik membeli karena ada tulisan "100% Indonesia" nya. Menurutku rasanya berbeda dengan buatan sendiri atau membeli di restoran. Nasinya sedikit kering dan oncomnya kurang nendang. Tapi rasanya cukup enak, kok. Sampai-sampai aku nambah dua kali :) Lain dengan lidah Shane, katanya rasanya terlalu pedas dan dia nggak akan makan nasi tutug ini kalau saja aku nggak minta xD Yaaa, selera orang beda-beda sih ya, dan karena yang dicoba pertama kali adalah versi instan, menurutku sih itu bukan perkenalan yang tepat :p Tapi jangan khawatir, masih ada nasi kuning. Shane suka sekali nasi kuning. Dulu, waktu masih pacaran kalau di rumah orangtua kami selalu disediakan nasi kuning untuk sarapan. Lengkap pakai bihun, timun dan kerupuk. Nikmat sekali :D


Nasi tutug oncom dari supermarket, yang sayangnya rasanya kurang “nendang” (tapi tetap aku nambah 2 kali, hahaha).


Setelah perut kenyang, aku mencoba kebaya-kebaya yang dikirim Ibu. Ada 4 kebaya, dan semuanya bagus-bagus. Bikin aku bingung memilihnya. Akhirnya setelah fashion show dadakan di depan Shane, pilihan jatuh ke kebaya merah berlengan panjang. Ukurannya paling pas di badanku dan modelnya juga aku suka karena simple dan manis. Aku nggak punya kain samping, jadi aku padukan kebayanya dengan dress batik yang aku "sulap" jadi rok, hehehe. Cocok juga ternyata. Sedangkan Shane memakai kemeja batik merah yang dulu dibuat dalam rangka Chinese New Year. Yang penting serasi, kami nggak perlu pakai serba baru ;)


OOTD Agustusan kami. Shane pakai batik CNY sedangkan aku pakai kebaya punya Ibu :D

Aku pakai pita rambut 2 sekaligus, merah dan putih supaya seperti bendera Indonesia :D

Aku memang sengaja pilih kebaya. Kenapa nggak simply pakai baju merah-putih saja yang jelas-jelas warna bendera Indonesia? Karena menurutku kebaya itu istimewa dan somehow selalu membuatku merasa "cantik". Bukan hanya merasa cantik secara fisik (it's not a bad thing, love yourself, gurl!) tapi juga secara mental. Nggak ada yang salah kalau kita itu jumpalitan, ikut panjat pinang, betulin genteng, ikutan ngejar layangan, dst, etc. Tapi dengan sesekali memakai kebaya bisa jadi pengingat kalau aku (kita) adalah perempuan Indonesia yang kuat, ---yang juga tetap bisa santun dan lembut :)


OOTD: Pita rambut: Dari Ibu Mertua | Kebaya: Punya Ibu by Hetik Collection | Dress: Batik Keris | Slippers: Dari Ibu Mertua.

Oh iya aku itu punya kebiasaan buat pakai pita rambut yang match dengan baju yang kupakai. Dan spesial untuk hari ini aku pakai pita merah dan putih. Agak ketutupan rambut sih, tapi semoga tetap kelihatan di foto, hehehe. Ini idenya Shane, katanya daripada pakai yang warna merah saja mending dibuat seperti bendera :D


What do you think, guys? :)

Untuk pilihan film Indonesia ternyata nggak semudah memilih makanan dan kebaya, hehehe. Pilihan judulnya memang banyak, tapi sayang nggak semuanya punya teks terjemahan bahasa Inggris :') Shane memang nggak keberatan menonton film berbahasa Indonesia tanpa teks. Asal ceritanya simple biasanya dia bisa menerka-nerka alurnya dari awal sampai akhir. Tapi aku mau hari ini istimewa, aku dan suamiku harus sama-sama bisa menikmati filmnya. Dan... akhirnya pilihan jatuh ke "Reuni Z" karena kami sudah kehabisan ide mau cari film dimana lagi :p Film ini diputar di Iflix, reviewnya sangat meragukan (kebanyakan review negatif, huhu) tapi kami mau kasih kesempatan.

Dan ternyata kami sama sekali nggak menyesal. Filmnya nggak bisa dibilang jelek. Iya sih lack of logic, dan ada beberapa jokes yang cringing dan keterluan karena ditujukan ke anak SMA, tapi secara keseluruhan kami terhibur dan kagum karena film Zombie lokal masih jarang. 


Nonton “Reuni Z” film Indonesia yang lumayan.


Kalau dipikir seharusnya hari terasa lebih pendek karena aku bangun kesiangan. Tapi entah kenapa hari ini terasa lebih panjang dibandingkan kemarin (in a good way). Rasanya aku bisa merasakan setiap detiknya dengan maksimal. Bahkan Shane pun yang biasanya tidur awal barusan tidur lebih larut. Kalau kalian, bagaimana Agustusannya? Di rumah saja seperti kami? Atau di daerahnya ada lomba-lomba seperti biasanya? Apapun itu, semoga menyenangkan ya :) Di waktu yang sedang nggak mudah seperti ini gak ada salahnya untuk sedikit loosen up. Biar hari ini jadi pengingat kalau kita kuat, kalau dulu kita menang. Dan sekarang kita tetap berjuang meski untuk hal yang berbeda. Get well soon, Indonesia! :)


yang suka pakai kebaya,


Indi


-------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com


Jumat, 09 Januari 2015

Sebelum Kita Klik "Post"...

Menulis sesuatu di internet itu layaknya memajang poster di depan rumah. Well, at least menurut gue begitu. Siapapun bisa membaca tulisan kita, bisa memberi komentar, atau malah menggandakan posternya untuk disebar luaskan. 
Gue ingat waktu pertama kali mengenal internet. Waktu itu gue masih SMP, dan untuk online harus menyambungkan kabel telepon rumah ke komputer. Namanya sih Telkomnet Instan, tapi caranya nggak seinstan sekarang. Gue harus menunggu beberapa menit untuk tersambung, bahkan terkadang terputus di tengah jalan, hehehe.

Yang pertama gue lakukan di dunia maya adalah bikin akun email dan akun blog. Hehe, agak nggak biasa untuk anak seumuran gue waktu itu, karena media sosial macam My Space dan Friendster sedang populer-populernya. Tapi dulu berhubung untuk online saja waktunya sangat terbatas (dan mahal) jadi hanya gue gunakan untuk keep in touch dengan keluarga gue yang berada di luar negeri dan berbagi tulisan gue di blog. Meskipun gak punya akun, kadang-kadang gue mengintip profile teman-teman gue untuk melihat-lihat isinya. Sama seperti di blog mereka juga memajang foto dan bertukar komentar. Bedanya tulisan yang di share nggak bisa sepanjang di blog.

Kalau ingat saat-saat itu, rasanya kaya sudah berabad-abad lalu (lol), soalnya beda sekali dengan sekarang. Padahal kalau dipikir-pikir jaraknya nggak terlalu lama juga, ya, tapi sudah banyak yang berubah. Kalau dulu status di My Space atau Friendster (dulu namanya shoutbox kalau nggak salah) isinya sekedar menyapa atau memberikan informasi umum, sekarang status layaknya buku harian mini. Isinya (terkadang) panjang dan beragam, dari mulai sharing keseharian, sedang makan apa, dimana, sedang senang, sedang sedih, sampai sedang marah tingkat tinggi pun ada. Sebagai pengguna Facebook dan Twitter, gue cukup rajin membaca timeline meskipun sedang nggak meng-update apa-apa. Dari sana gue bisa mendapatkan banyak informasi yang berguna, misalnya saja dari link-link yang ditautkan oleh teman-teman gue di status mereka. Sering lho gue membaca artikel seru yang sepertinya nggak akan pernah gue temukan kalau teman gue nggak share. Tapi ada juga post yang membuat gue sakit mata dan hati. Yang isinya sepertinya nggak disaring terlebih dahulu, apa yang terpikir langsung diketik dan klik "post"...

Timeline itu seperti halaman rumah, siapa saja yang berada di daftar teman dan follower bisa melihat. Well, we can simply click "block" atau "unfriend" kalau ada sesuatu yang nggak suka kita baca, tapi memutuskan pertemanan karena status yang bikin sepet juga nggak begitu bijak. Sama seperti di kehidupan nyata, di dunia maya pun meskipun teman bisa saja berbeda pendapat. Cuma bedanya di internet kita punya waktu ekstra untuk memutuskan apakah 'opini' kita layak untuk dibagi atau disimpan saja sendiri. 'Waktu' yang gue maksud adalah jeda setelah kita selesai mengetik tulisan dan sebelum kita klik "post". Membaca ulang paling hanya perlu beberapa detik saja, tapi sayangnya masih saja ada yang menyepelekan langkah tersebut. 

Kadang gue suka shock sendiri kalau ada yang menulis tentang pendapat atau kritik dengan kata-kata kasar di timeline. Meskipun bukan ditujukan untuk gue, tapi itu sudah cukup membuat gue meringis. Temanya bisa apa saja, dari mulai yang ringan seperti film atau selebriti sampai yang menyinggung SARA. Gue heran, jika ingin menyampaikan sesuatu pada seseorang atau lembaga, kenapa harus ditulis di status? Padahal di zaman sekarang hampir semua punya website atau minimal email official. Sampaikan saja di sana, langsung pada pihak yang terkait, nggak perlu seluruh tetangga tahu. Dan apa sulitnya menggunakan bahasa yang sopan? Gue tahu jika sedang emosi memang segala rasanya panas, maunya meledak-ledak. Itulah kenapa lebih baik tenangkan diri sejenak, baca ulang. Karena kita nggak pernah tahu apa efek dari tulisan kita pada orang yang membaca, kan? 

Gue punya idola, ia seorang musisi berbakat yang kebetulan mengidap masalah mental. Jika sedang menikmati video-video musiknya gue selalu menyempatkan untuk membaca kolom komentar. Diantara komentar-komentar positif kadang gue menemukan komentar-komentar yang isinya keterlaluan. Well, jika kritik baik-baik tentu saja itu nggak dihitung, karena setiap manusia tentu nggak ada yang sempurna dan memang 'tugas' penggemar untuk mengingatkan jika ada yang salah dengan idolanya. Tapi komentar yang menghina fisik, melontarkan kata-kata kasar dan menjatuhkan menurut gue itu sangat nggak pantas. Karena selain irrelevant dengan musiknya atau apapun yang sedang ia tampilkan, itu juga nggak sopan.

Mungkin orang-orang yang menulis komentar negatif (maksud gue komentar kasar, ya, bukan dalam artian kritik membangun) pikir jika seseorang yang sudah terkenal nggak akan peduli dengan hal-hal seperti itu atau bahkan nggak punya waktu untuk membaca ratusan bahkan ribuan komentar yang masuk. Tapi siapa yang tahu? Dibalik penampilan tangguhnya dengan rambut yang nampak lebih powerful daripada Samson, idola juga seorang manusia, sama seperti kita. Mungkin saja di waktu luangnya mereka membaca komentar-komentar dari kita. Adakah yang mempunyai kebiasaan sama seperti gue, sebelum tidur jempol scroll up and down di handphone untuk membaca timeline? Well, mungkin idola kita juga membaca tulisan kita. Sekali lagi, siapa tahu. 

Gue jadi ingat kejadian beberapa waktu yang lalu. Timeline gue isinya beragam, dari yang inspiratif sampai yang isinya penuh keluh kesah. Salah satu penghuni yang inspiratif adalah Nuno Bettencourt. Yup, that Nuno, yang gitaris dari band Extreme, yang pernah menjadi partner Rihanna dan yang baru-baru ini berkolaborasi dengan Steven Tyler di tur King of Chaos :) Menurut gue ia inspiring karena selain mempunyai sense of humor yang bagus, ia juga sangat humble. Gue suka karena Nuno bertanggung jawab sekali dengan yang ia tulis. Despite bahwa ia seorang rockstar ya, sebagai manusia (sama seperti kita) ia sadar betul bahwa tulisannya bisa dibaca banyak orang. Dan believe it or not, ternyata juga sebaliknya! Di timeline nya Nuno repost sebuah foto dari penggemarnya, lengkap dengan komentar betapa tersanjungnya ia. Padahal penggemarnya itu sama sekali nggak tag Nuno. So, yup, the scroll up and down thingy sebelum tidur bukan hanya kita saja yang melakukannya.

Kenapa gue menjadikan Nuno sebagai contoh? Ya, karena ia seorang selebriti. Jika ia saja masih punya waktu untuk melihat timeline, bagaimana dengan teman kita, keluarga atau bahkan orang asing? Respon Nuno yang merepost penggemarnya jelas sekali sebagai reaksi bahwa simple post bisa membuat perasaannya menjadi lebih baik. His fans just made his day, begitu juga sebaliknya, Nuno telah membuat hati penggemarnya berbunga-bunga karena ia meluangkan waktunya untuk mengklik 'share'. Sekarang coba bayangkan jika yang hal yang sama terjadi pada kita. Pasti menyenangkan, kan? :) Tapi bagaimana jika yang terjadi adalah hal sebaliknya? Gue rasa siapapun nggak akan suka. Mungkin kesannya sepele, hanya tulisan dan sebuah klik. Tapi jika 2 hal kecil itu sangat powerful maka hasilnya ada 2; bisa membuat seseorang bahagia atau... down.

Di dunia maya saat kita mengatur akun media sosial dengan setting 'public' itu artinya curhatan, komentar dan segala macam yang kita post sudah kita aminkan untuk dibaca siapa saja. Keluarga, teman, pasangan, rekan kerja bahkan pihak-pihak yang kita pikir impossible untuk melihat akun kita. Teman-teman sudah tahu tentang novel pertama gue, "Waktu Aku sama Mika"? Sampai sekarang novel itu sudah dicetak belasan kali dan bahkan sudah difilmkan dengan judul "Mika". Jika saja gue nggak menulis status tentang Mika, mungkin novel itu nggak akan pernah ada. Yup, novel best seller gue diawali dari status pendek yang sama sekali nggak disangka akan dibaca oleh siapapun selain teman gue. Tapi ternyata sebuah penerbit membacanya dan langsung menawari gue kontrak. Lalu ketika gue terbang ke Singapore untuk meet and greet ekslusif bersama Aerosmith, siapa yang menyangka bahwa itu karena tulisan di blog ini? Gue menulis tentang Aerosmith yang menginspirasi gue sejak berusia 7 tahun dan sebuah promotor membacanya! Bagaimana cara mereka menemukan blog ini? Sampai sekarang masih jadi misteri. Tapi ini internet, siapa saja bisa membacanya, dan kadang hanya butuh beberapa klik "share" sebelum ditemukan orang yang tepat.

Berkat status yang gue tulis jadilah novel "Waktu Aku sama Mika" dan film "Mika" :)

Siapa sangka tulisan gue di blog mengantarkan ke Singapore untuk bertemu secara langsung dengan Aerosmith? :)

Jadi teman-teman, kira-kira siapa saja yang sudah membaca timeline atau blog post kalian selama ini? Siapa tahu di suatu tempat, seseorang yang sama sekali nggak kalian kenal sedang melihat-lihat poster yang di pajang di depan rumah kalian. Terpengaruh dengan isinya, terinspirasi dan merubah harinya menjadi lebih cerah. Atau mungkin ada seorang sutradara sedang membaca cerita yang kalian tulis di blog dan berniat menjadikannya film layar lebar. Siapa yang tahu? Yang pasti pengaruh apapun yang kita sebarkan, positif atau negatif, semuanya tergantung pada keputusan kita buat sebelum mengklik "post"! :)

the girl who's thanking internet so much,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 30 November 2014

Warna-Warni HIV/AIDS Awareness 2014: Ada Haru, Ada Tawa, Ada Teman-Teman Baru :)


Hai my beloved bloggies friends! Kemarin, 28 November 2014 gue mendapat (another) awesome experience. Gue mengisi acara talk show "HIV/AIDS Awareness 2014" di Kampus Politeknik Bandung Program Studi Usaha Pejalanan Wisata. Untuk gue ini adalah pengalaman yang kedua mengisi acara dalam rangka memperingati hari AIDS sedunia dengan audience mahasiswa. Tahun lalu gue berbicara di hadapan mahasiswa-mahasiswa Universtitas Diponegoro Semarang, meski begitu tetap nggak mengurangi perasaan excited gue :)

Kali ini gue nggak sendirian, tapi ditemani oleh Kak Taufik dari Rumah Cemara. Di pertemuan pertama kami ini langsung akrab, lho meskipun sebelumnya hanya berkomunikasi lewat SMS, hihihi. Dan untuk MC nya, guess who? Pasti yang sering mampir ke sini bisa menebak, ya; the one and only Ray ;)
Acara dimulai jam 1 siang dan dibuka dengan sesi sharing bersama Kak Taufik. Nah, waktu sesi ini gue belum datang karena rencananya memang dibagi menjadi 2 sesi sharing, yaitu bersama Kak Taufik lalu bersama gue. Menurut Ray ada banyak sekali yang datang, ia bahkan mengirimi gue foto suasana di ruangan yang membuat gue semakin ingin cepat-cepat tiba, hihihi. Akhirnya, sekitar jam 2.30 sore gue yang diantar Bapak tiba dengan selamat meskipun sempat terjebak macet dan hujan lebat. Sesi bersama Kak Taufik sudah selesai dan audience sedang nonton bareng film Mika. Sambil menunggu gue sempatkan dulu mengobrol sana-sini dengan Ray dan Kak Taufik. Lumayan, masih punya banyak waktu karena durasi filmnya 1 jam lebih :)



Bersama Kak Taufik Rumah Cemara sambil berpose dengan karya-karya gue :) 

Dari luar ruangan, meskipun pintu tertutup tapi gue bisa mendengar reaksi teman-teman audience di dalam. Wah, benar-benar bikin merinding. Waktu ada adegan lucu mereka kompak tertawa, waktu ada adegan yang bikin gemas gue nggak bisa menahan tawa karena komentar-komentar mereka cukup jelas tedengar. Dan waktu mendekati ending film tiba-tiba ruangan sangat sepi, samar-samar gue mendengar suara isak tangis yang diakhiri dengan tepuk tangan seru ketika film selesai. Wah, kalau saja gue nggak harus mengisi acara kemungkinan besar gue sudah ikut menangis saking terharunya :') Film Mika yang diinspirasi oleh kisah hidup gue yang dinovelkan dengan judul "Waktu Aku sama Mika" dipilih untuk diputar di hari AIDS sedunia karena menceritakan kisah hidup Mika, seorang ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) yang berpacaran dengan gue selama 3 tahun terakhir hidupnya. Melalui film ini audience bisa "mengenal" Mika dan melihat seperti apa kehidupan kami yang (sebenarnya) nggak jauh berbeda dengan orang lain.



Ada yang masih menangis haru ketika gue masuk ruangan :')

Ray dan Kak Taufik masuk ke dalam ruangan lebih dulu, lalu disusul oleh gue yang langsung disambut tepuk tangan meriah. Rasa haru gue jadi semakin bertambah, hihihi :'D Rupanya profile gue sudah dibacakan sebelum gue tiba, jadi audience sudah cukup mengenal gue, seenggaknya mereka tahu bahwa gue adalah "Indi nyata" dari film yang baru saja mereka tonton :) Hanya dalam beberapa detik gue menyadari bahwa beberapa dari mereka masih ada yang bermata sembab karena menonton film Mika. Untung saja suasanya santai, jadi alih-alih sedih berlarut-larut kami dengan cepat tertawa karena Ray juga tanpa ragu melontarkan lelucon.

Ray membawakan acara talk show dengan santai :)

Di sesi sharing ini gue bercerita tentang tentang latar belakang novel "Waktu Aku sama Mika" yang lalu menjadi film Mika. Gue juga bercerita tentang hal-hal yang bisa dilakukan untuk melindungi diri dari HIV/AIDS. Pokoknya gue bercerita tentang hal-hal yang memang sudah akrab tapi sebenarnya bisa dilakukan untuk melindungi diri, misalnya saja dengan mencari informasi yang benar tentang HIV/AIDS. Setelah itu giliran audience yang diberikan kesempatan untuk bertanya pada gue. Boleh tanya apa saja, asalkan masih sesuai tema dan jika bertanya tentang Mika nggak ke hal yang terlalu sensitif/pribadi ;) Pertanyaan yang gue dapat beragam sekali dan semuanya sangat antusias. Well, sejauh ini gue memang blessed bertemu dengan teman-teman baru yang selalu antusias, tapi kali ini antusiasnya super sekali, hehehe. Ada yang bertanya tentang kegiatan gue di yayasan AIDS, ada yang bertanya tentang hal-hal mengesankan bersama Mika yang nggak diceritakan di film, ada juga yang bertanya tentang proses penulisan naskah dan lain-lain. Terlihat sekali ya mereka tertarik dengan banyak hal, salut :) Tentang Mika gue jawab bahwa ia istimewa bukan karena ia ODHA. Mika istimewa karena bagaimana cara ia memperlakukan gue dan tentu saja kepribadiannya. Karena menurut gue semua orang itu sama, apapun yang ia idap nggak perlu dijadikan label. Gue sebagai seorang scolioser (pengidap scoliosis) nggak mau hanya dikenal karena apa yang gue idap, dan gue yakin Mika juga begitu :)




Pengetahuan gue tentang HIV/AIDS sudah pasti masih kalah dengan Kak Taufik, tapi setiap ada yang bertanya gue selalu mencoba menjawab sebaik mungkin. Karena menurut gue nggak perlu jadi seorang expert untuk stop diskriminasi dan stigma. Mulailah memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan, siapapun itu. Dan untuk menjadi seseorang yang peduli dengan isu HIV/AIDS bukan berarti harus menjadi relawan di sebuah yayasan atau organisasi. Menurut gue dengan membantu menyebarkan info yang benar di kalangan kecil seperti teman atau keluarga sudah merupakan bentuk untuk menunjukan rasa peduli. Hal kecil jika dilakukan terus menerus tentu akan menjadi besar, kan? ;)

Setelah semuanya puas memberikan pertanyaan giliran gue dan Kak Taufik yang bertanya kepada audience. Untuk yang bisa menjawab pertanyaan kami dapat hadiah, lho. Hadiahnya adalah novel charity "Guruku Berbulu dan Berekor" karya gue (yang dibantu oleh beberapa volunteer) dan sebuah stiker dari Tiloe, event organizer yang menyelenggarakan acara ini. Pertanyaannya mudah-mudah, kok. Kak Taufik bertanya tentang hal apa saja yang bisa menularkan HIV/AIDS sedangkan gue bertanya tentang hal apa saja yang nggak bisa menularkan HIV/AIDS. Semuanya bisa dijawab dengan cepat, sampai-sampai hampir berebutan, hihihi. Eh, tapi ada lho satu pertanyaan yang cukup tricky, yaitu 'Apakah ODHA bisa memiliki anak yang negatif? Jika bisa bagaimana caranya?' Setelah beberapa audience gagal menjawab akhirnya ada juga yang berhasil. Congratulations! :D Btw, kalau-kalau diantara pembaca ada yang penasaran, nih gue kasih bocoran; ODHA bisa kok punya anak yang berstatus negatif :)

Acara ditutup dengan sesi foto dan book signing. Luar biasa sekali sampai akhir acara energi audience sepertinya sama sekali belum berkurang, hihihi. Sampai-sampai ada yang mengajak selfie segala :'D Oya, salut deh dengan mereka, soalnya selain antusias, open minded juga sangat helpful. Mereka sudah menyiapkan selembar kertas yang bertuliskan nama masing-masing, jadi gue nggak harus bertanya lagi nama yang ingin ditulis di buku yang akan ditandatangi. Simpel tapi manis sekali, hihihi :) Gue sangat senang dan bersyukur acara ini berjalan dengan sangat lancar (dan ramai, lol). Bisa berbagi ilmu dan mendapatkan teman-teman baru sungguh pengalaman yang berharga buat gue. Terima kasih banyak untuk Polban, Ray, Tiloe, Kak Taufik dari Rumah Cemara dan Homerian Pustaka yang membuat acara ini terwujud. Gue harap akan ada semakin banyak orang peduli bukan hanya karena ada saudara atau teman mereka yang mengidap HIV/AIDS. Peduli datangnya dari hati dan nggak pernah ada kata terlalu cepat untuk memulai :)





Sampai bertemu lagi, teman-teman! :)




keep fighting,

Indi

nb: 
*Senin, 1 Desember 2014 gue akan live interview di I-radio 89.6 FM Jakarta jam 5 sore. Jika kebetulan ada waktu luang, yuk stay tuned! ;)
*Minggu, 7 Desember 2014 film MIKA akan diputar di Taman Film Bandung (Terusan Taman Pasupati) pukul 4 sore. Gue dan D-100 Community akan hadir di sana. Yuk, kita nobar. Gratis! :)


_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 06 Juli 2014

JKT 66 Brasserie: The Best Nutella Blaze in Town! (Review)

Whaaaaat, ini sudah weekend?!! Hehehe, setelah libur selama 2 minggu hari senin sudah waktunya gue kembali bekerja di preschool. Well, nggak benar-benar libur, sih, soalnya waktu 2 minggu benar-benar gue manfaatkan untuk menulis buku ke 5, dan mengingat fakta bahwa senin sebentar lagi datang membuat gue kaget, karena buku terbaru gue belum juga selesai setengahnya, huhuhu :') Meski begitu bukan berarti gue nggak bersenang-senang selama 2 minggu ini, selain menulis gue juga mengisi waktu dengan keluarga, Eris dan datang ke beberapa tempat baru, salah satunya JKT 66 Brasserie.


Kalau teman-teman pernah membaca post gue yang ini, yup, ini adalah JKT 66 yang sama dengan yang pernah gue ceritakan. Waktu gue menerima undangan pembukaan soft openingnya, gue langsung teringat dengan lezatnya martabak Toblerone yang pernah gue cicipi waktu itu, hihihi. Berhubung gue belum pernah datang langsung ke tempatnya dan kabarnya sekarang dengan konsep baru, gue jadi nggak sabar untuk mencoba menu-menu barunya :)

Gue datang ditemani dengan Ray. Kami pikir sudah kemalaman, tapi ternyata JKT 66 buka sampai jam 11 malam. Meski ini yang pertama kali, tapi gue sudah pernah 2 kali melewati tempat ini. Dan benar saja, tempatnya sekarang pangling sekali dengan konsep baru dan suasana yang lebih hommy. Ketika masuk kami langsung disambut dengan dinding berwarna hijau menenangkan yang dihiasi dengan wall sticker lucu. Hmm, sepertinya bakal betah nongkrong di sini berlama-lama, nih, hehehe.


Dengan Anggun, salah satu ownernya :)



Setelah bertemu dengan the owners, Anggun dan Arya yang super ramah kami ditawari untuk memilih menu. Wah, ternyata lebih banyak dari yang sebelumnya. Semakin unik-unik dan kreatif, dan tentu saja semakin bingung untuk memilih :p Setelah beberapa menit penuh pertimbangan dan dapat rekomendasi dari Arya, pilihan jatuh kepada Nutella Blaze (yep, still obsessed with Nutella, lol), Matcha Blaze dan Red Passion. Karena untuk menu berat seperti martabak dan baby martabak kami sudah pernah mencoba sebelumnya.

Waktu pesanan datang gue langsung gemas untuk mengambil kamera, soalnya tampilannya lucu-lucu sekali. Colorful, hihihi. Dan rasanya juga nggak kalah seru! Nutella Blaze rasanya manis dan full sekali di lidah, seperti mengambil segenggam Nutella dan menjilatnya sampai habis, hihihi. Matcha Blaze rasanya ringan dan menyegarkan, nggak terlalu manis tapi juga nggak hambar. Pas diminum setelah makan makanan yang agak berat. Dan yang terakhir, Red Passion rasanya paling ramai. Mix macam-macam berry ditambah es serut bikin gue mau lagi dan lagi. Pasti lebih seru kalau dinikmati siang hari :D

Matcha Blaze dan Nutella Blaze. Dua-duanya enaaaak :D

Cocok nih buat buka puasa :p




Sambil menikmati ketiga minuman segar tersebut, gue dan Ray kembali melihat-lihat menu. Siap-siap buat next time kalau ke sini lagi, hihihi. Topping martabaknya ternyata makin seru, lho. Nggak cuma martabak manis, sekarang juga ada martabak asin. Yang (makin) unik, ada pilihan topping vintage juga. Jadi kalau kangen jajanan zaman dulu seperti coklat Superman a.k.a Superstar, coklat Cap Ayam Jago dan lainnya, sekarang bisa ditambahkan ke atas martabak yang kita pesan. Yumm! Menu Indomie yang disajikan sama seperti kemasannya pun jadi makin beragam, belum lagi ada menu steak dan juga yang super super spesial untuk Harry Potter mania.... Ada Butter Beer! Penasaran sekali mau coba, tapi berhubung yang menghabiskan sebagian besar minuman adalah gue, jadi disimpan untuk lain kali saja, deh, hehehe :D



Semuanya buat gue! Hihihi :D

Menu-menu andalannya JKT 66. Semuanya kelihatan enak, ya :D

Ayo pilih yang mana? Macam-macam topping atau Butter Beer?!! :D

Setelah perut kenyang gue nggak mau langsung pulang. Konsep barunya JKT 66 selain bikin betah buat nongkrong juga betah buat foto-foto, hehehe. Banyak spot-spot lucu yang bisa dipakai. Apalagi seteleh difoto nggak cuma bisa diuplod di sosial media, lho. JKT 66 juga manjain banget pelanggannya yang suka banget foto-foto kaya gue ini :p Di dindingnya sengaja disediakan frame yang bebas ditempeli dengan foto kita. Yup, tinggal foto, cetak dan tempel sendiri. Makanya gue ambil banyak foto supaya kalau ke sini lagi bakal tempel foto terbaik gue, hihihi. Buat yang suka baca juga ada reading corner, lho. Kita bebas ambil buku atau majalah yang ada di sana. Jadi selama menunggu pesanan nggak cuma sibuk main sama gadget saja :D

Salah satu spot cute buat foto-foto :)

Reading spot. Cocok untuk yang suka baca :D

Nggak terasa, waktu sudah menunjukan jam 10 malam. Gue dan Ray pamit pulang dengan hati senang dan perut kenyang. Nggak sabar nih mau coba menu-menu yang lain. Lain kali mau datang sore-sore ah, biar bisa nongkrong lebih lama :D
Buat teman-teman di Bandung atau yang sedang mampir ke Bandung, yuk ke JKT 66 dan jangan lupa cicipi martabak Toblerone nya yang fenomenal juga menu-menu lainnya ;)
Alamatnya di Jl. Terusan Jakarta No. 66 Antapani Bandung. Kalau lagi malas keluar rumah juga nggak perlu khawatir, pesan antar saja lewat nomor ini: 022 7237092.

Hmm, belum apa-apa kok gue sudah kangen dengan Nutella Blaze nya, ya? Hihihi ;)

golden ticket winner,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Jumat, 28 Februari 2014

Edelweiss (Sound of Music~OST) by Me :)



Funny story behind this video:
Yesterday I've finished re-watching "Annie" and today I decided to dressed like Annie the little orphan. I asked my dad to take some pictures, but he suggested to have it recorded. I said I would like to sing, and looked for Annie's original soundtrack on my playlist. But accidentally I found "Edelweiss", a song from "Sounds of Music". I sang it spontaneously and my dad didn't missed to record me. That's why in the end of video I said,
"This song is way too fast. I wanna have another song". Lol :p


Ps: Maria von Trapp, "little girl" yang dulu menginspirasi tokoh Louisa di film musikal Sound of Music meninggal dunia 4 hari yang lalu. Hati gue sangat merasa kehilangan karena waktu kecil gue sangat terobsesi dengan filmnya (literally, gue menontonnya ratusan kali). Tapi di sisi lain gue juga tersenyum karena baru tahu bahwa cucu-cucu Maria (anak-anak dari saudara-saudaranya. Maria tidak menikah) meneruskan jejaknya dalam dunia musik sebagai The von Trapp Children. 

smile,

Indi


***
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Senin, 30 Desember 2013

Semarang, Bagian ketiga: Oleh-oleh, Lawang Sewu dan Perjalanan Pulang :)


Setelah menceritakan perjalanan ke Semarang bagian pertama dan kedua, sekarang gue akan menceritakan bagian yang ketiga, alias yang terakhir. Hihihi, sedih juga rasanya harus meninggalkan Semarang, karena meski sebentar tapi semuanya sangat berkesan :)
Jadi setelah gue mengisi acara "The Long Journey" di E Plaza, teman-teman dari AIESEC menjemput gue ke hotel. Agak kaget juga karena masih terlalu dini, sementara kereta api gue baru berangkat nanti malam. Rupanya mereka mau mengajak gue dan Bapak untuk jalan-jalan dulu. Untung saja kami sudah selesai packing, jadi tanpa membuat mereka menunggu kami sudah siap untuk melihat-lihat kota Semarang ;)

Sepertinya hampir seluruh kru ikut mendampingi kami karena gue lihat jumlah mereka cukup banyak, sampai-sampai harus menggunakan 2 mobil, hehehe. Gue dan Bapak satu mobil dengan Putri dan Dinda, mereka bilang tujuan pertama adalah ke toko oleh-oleh. Gue senang sekali karena tadinya sama sekali nggak terpikir untuk ke sana, gue cuma terpikir akan belanja oleh-oleh di stasiun karena belum mengenal jalan di kota semarang :D 

Kami ke toko oleh-oleh berkonsep all in yang sayangnya gue lupa apa namanya, hehehe. Nih, gue post fotonya, siapa tahu ada teman-teman yang mengenalinya :p


Saking banyaknya pilihan gue sampai bingung mau pilih apa saja, apalagi tokonya juga lumayan ramai jadi nggak bisa berlama-lama nempel ke etalase (kecuali kalau mau diusir, lol). Untung saja Dinda membantu memilihkan oleh-oleh, jadi setelah bingung sejenak akhirnya gue memilih wingko, lunpia dan ikan bandeng. Dan ternyata ini semua ternyata hadiah dari teman-teman AIESEC UNDIP, lho. Sudah dibantu, dapat oleh-oleh untuk dibawa ke Bandung lagi! Yay! Thanks ya, guys :) 

Setelah itu gue dan Bapak dibawa ke Lawang Sewu. Kalau namanya sih sudah sering dengar dari teman-teman yang sering nonton acara-acara horor di TV, tapi melihat bangunannya belum pernah sama sekali. Meskipun (katanya) di sana seram, tapi kami malah hampir nggak bisa berhenti tertawa, karena adaaaa saja kejadian yang lucu. Teman-teman dari AIESEC UNDIP yang memakai seragam kaos merah sering kali saling melontar ejekan, misalnya dengan menyebut bahwa dengan seragam itu mereka tampak seperti rombongan anak-anak pesantren. Atau mereka malah berpura-pura menjadi bodygurad gue dengan memberi jalan jika ada yang menghalangi, hahaha. Ada-ada saja :D




Berhubung waktu gue dan Bapak nggak banyak, jadi kami meminta guide untuk menjelaskan tentang titik-titik yang utama saja di bangunan Lawang Sewu. Ternyata bangunan ini dulu adalah kantor Nederlands-Indische Spoorweg, yang setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (PT. Kereta Api Indonesia). Kami langsung melewati beberapa ruangan tanpa berfoto sambil mendengarkan penjelasan guide. Meskipun gelap karena tanpa lampu tapi nggak seram, kok. Mungkin juga karena malam ini cuacanya panas sekali.


Lalu kami berhenti di ruangan yang desainnya mirip dengan gerbong kereta api. Pintu-pintunya dibuat sejajar sampai entah ada berapa. Kalau dilihat dari ujung kesannya trippy sekali, hehehe. Gue suka sekali dengan desainnya yang unik dan meminta Bapak untuk mengambil foto gue di sana. Bapak mengambil foto berkali-kali dan gue bergaya meskipun sebenarnya nggak bisa melihat dengan jelas karena gelap :p Teman-teman yang lain nggak ada yang ikut berfoto di sini, waktu gue ajak mereka malah menawari untuk mengambil foto. Aneh juga, tapi mungkin mereka sudah sering ke sini sebelumnya.



Waktu kami menuju ruangan lain, perasaan gue jadi aneh. Kok rasanya teman-teman AIESEC UNDIP berjalan agak menjauh dari gue. Karena penasaran langsung saja gue tanyakan, tapi nggak ada yang menjawab. Baru setelah agak jauh dari ruangan yang tadi, Lana, salah seorang yang memegang kamera bertanya apakah gue pernah punya pengalaman supranatural. Meski bingung gue langsung mengangkat bahu dan menjawab, "nggak". Pertanyaan tadi rupanya membuat Dinda khawatir gue ketakutan dan langsung berbisik pada Lana, "Kamu gimana, sih, seharusnya nanti saja bilangnya."
Waaaah, meski gue bukan orang yang penakut dengan hal-hal seperti itu, tapi gue itu selalu penasaran tingkat tinggi (ssst, tapi gue malah takut sama film horror yang hantunya suka loncat di depan kamera, hehehe). Jadi gue terus-terusan mendesak Lana supaya cerita apa yang dia lihat. Sayangnya dia terus tutup mulut :(

Kami ke lantai paling atas yang kata guide nya dulu dipakai untuk menyejukan ruangan di bawahnya, makanya langit-langitnya dibuat tinggi. Ada insiden kecil waktu gue naik tangga, pegangannya lepas karena gue terlalu kuat memegangnya. Akibatnya, waktu mau turun gue kebingungan sendiri dan merepotkan banyak orang untuk memegang tangan gue dan memberikan penerangan dengan cahaya handphone, hehehe. Maaf ya :'p

Confused Indi is confuse... Hahaha, gue baru saja sadar dengan "kekuatan" terpendam gue :p

Meski begitu tetap berpose, hehehe.

Ruangan ini jadi yang terakhir karena kami skip ruang bawah tanah yang pernah masuk di acara Uji Nyali itu. Selain waktu semakin menipis, di sana udaranya ternyata sangat pengap. Nggak tahan deh sepertinya kalau gue sampai masuk, di pintunya saja gue sudah keringetan dan heboh kipas-kipas, hehehe. Kami lalu langsung keluar ruangan dan mencari beberapa spot untuk difoto sebelum gue diantar ke stasiun.

Sambil mencari lokasi yang bagus, gue yang (makin) penasaran bertanya lagi pada Lana tentang apa yang dia lihat. Mungkin karena gue sambil ngotot dan melotot (lol), pertanyaan gue akhirnya dijawab juga. Ternyata sejak di ruang yang mirip gerbong itu gue diikuti oleh sesuatu, yang sampai sekarang masih betah 'berjalan' di belakang gue. Mendengar penjelasannya refleks gue langsung nengok ke arah belakang, tapi nggak menemukan apa-apa. Tadinya gue pikir ini lelucon, tapi melihat wajahnya yang serius gue jadi percaya. Apalagi ditambah Dinda juga merasakan, dan katanya di sini memang sering ada yang 'ngikutin'.





Bersiap ke stasiun dengan wajah (dan seluruh tubuh) keringetan :p

Gue sih nggak takut, toh nggak melihat apa-apa. Tapi khawatir juga, bagaimana kalau 'yang mengikuti' gue ini pengen ikut sampai ke Bandung, hehehe. Syukurlah waktu kami sampai ke halaman Lawang Sewu dan berfoto di kereta api, katanya gue sudah bebas medeka alias no more stalker :p Hehehe, thank God :)
Dan setelah berfoto kami langsung buru-buru menuju stasiun. Kereta satu-satunya yang menuju Bandung akan berangkat 30 menit lagi! Wah, keringet gue semakin bertambah deh karena deg-degan. Apalagi lalu lintas juga sedang kurang bersahabat, huhuhu.

Tapi memang selama di Semarang ini penuh miracle. Keberangkatan kereta api ternyata ditunda selama 30 menit, jadi gue dan Bapak nggak tertinggal kereta. Bayangkan kalau sampai tertinggal, kami harus menunggu sampai besok malam :O 
Gue berpamitan dengan teman-teman AIESEC UNDIP, nggak lupa mengucapkan banyak terima kasih karena telah membuat pengalaman bekerja gue jadi plus jalan-jalan :)

Berpamitan dengan teman-teman AIESEC UNDIP. Haha, silly face :p

Gue dan Bapak langsung duduk di bangku kereta api dengan nyaman setelah gue menyempatkan diri dulu untuk cuci muka di toilet stasiun (ini butuh keahlian khusus, lho, lol). Badan gue terasa sangat lelah tapi juga senang karena sudah mengalami hari-hari yang menyenangkan selama di Semarang. Perjalanan pulang nggak seperti perjalanan ketika pergi, sama sekali tanpa delay dan cuaca sangat bagus. Gue terlelap di tengah film Mr. Bean Holiday yang diputar ulang sampai-sampai terbawa mimpi.
Ketika membuka mata gue sudah sampai di Bandung dan merasa sangat segar karena mendapat tidur yang cukup. 
Ah, benar-benar perjalanan yang menyenangkan. Kapan-kapan gue mau ke Semarang lagi. Kalau kali ini untuk bekerja, mungkin nanti untuk liburan, hihihi. Siapa yang tahu? ;)

Sudah cuci muka dan nyaman duduk di kereta api :)

Begitu tiba langsung sarapan di stasiun :)


twin sister of carol anne,

Indi


_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Contact person: 081322339469