Tampilkan postingan dengan label Festival Citylink. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Festival Citylink. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Mei 2021

Traktiran yang Gagal :D

Teman-teman, ada yang merasa jenuh karena "belum bisa kemana-mana" kah?

Jujur, meski aku tipe orang yang bisa menikmati waktu di rumah tapi terkadang ada rasa jenuh dan "stuck" datang juga. Meski mall, kantor dan banyak tempat umum lainnya sudah dibuka tapi tetap sih aku merasa vibesnya beda. Aku rindu hal-hal kecil macam ngemall pulang kerja, sekedar makan di kantin sehabis menjemput Ali atau bahkan bolak-balik dari rumahku dan Shane ke rumah Ibu-Bapak tanpa takut "menyakiti" mereka. ---Terutama Bapak, karena usianya sudah di atas 60 tahun. Amit-amit deh kalau aku dan Shane tanpa sadar menjadi carrier :S Jadi untuk sekarang ini kami masih setuju dengan sesedikit mungkin keluar rumah. 


Seperti yang teman-teman tahu (---kalau mengikuti blog ini, hahaha), terakhir kali aku dan Shane pergi agak jauhan dan agak lamaan ya bulan Oktober tahun lalu. Itu pun karena anniversary pernikahan kami. Seandainya nggak ada yang dirayakan, tentu kami nggak akan kemana-mana. Awal tahun 2021 melihat teman-temanku liburan bareng keluarga atau teman-temannya membuat hatiku hampir goyah, ingin rasanya berlibur juga. Tapi aku tahan-tahan. Karena awal tahun rasanya waktu yang "paling buruk" untuk meninggalkan rumah. Kerumunan di mana-mana, banyak orang mudik, dsb...

Sampai akhirnya bulan Maret kemarin aku utarakan juga keinginanku sama Shane. Aku butuh liburan, aku butuh menghabiskan waktu dengan keluarga di tempat "baru", bukan sekedar makan-makan di rumah lalu nonton TV seharian. Aku butuh, bukan hanya ingin. Satu tahun rasanya sudah cukup, ---I deserve it, Ibu Bapak deserve it too. Kami BOLEH bersenang-senang di luar rumah dan aku yakin ini waktu yang tepat. Rasanya dada seperti hampir meledak karena akhirnya mengeluarkan perasaan yang sudah kelamaan aku tahan, hahaha. Dan... Shane juga ternyata setuju.


Aku juga punya satu keinginan lagi. Aku ingin staycation kali ini (---karena masih di Bandung juga liburannya) aku yang bayar. Semenjak menikah segalanya selalu dari Shane. Iya, aku mengerti bahwa uang suami adalah uang istri juga. Tapi sesekali aku ingin dong memberi dari kantongku sendiri, ---meskipun nggak seberapa. Meski sempat ragu, Shane akhirnya mengerti dengan keinginanku. Segera aku kabari Ibu dan Bapak, dan mereka senang sekali :) Mereka juga sudah rindu untuk bersenang-senang bersama kami, tentu saja. Aku jelaskan bahwa staycation ini murni ideku, dengan budget yang nggak banyak. Ada rasa khawatir mereka nggak akan menikmati kamar hotel sederhana dan suasananya. ---Terutama Shane yang sejauh ini belum pernah menginap di hotel di bawah bintang 4. Tapi mereka meyakinkanku kalau kami semua pasti akan bersenang-senang, dan itu bukan tergantung tempat. Aku pun menjadi lega dan nggak sabar untuk segera pergi bersama mereka!


Ada 3 pilihan hotel yang sesuai dengan budgetku. Ketiganya nggak terlalu jauh dari rumah kami dan rumah orangtua. Aku biarkan Ibu yang memilih karena inginnya sih selain menginap kami juga bisa sedikit jalan-jalan. Pilihan Ibu jatuh ke POP Hotel yang berada di Festival Citylink. ---Iya, di dalam mall! Hahaha, ide bagus juga, jadi kami nggak perlu jauh-jauh dari tempat menginap kalau mau main :D Waktu aku cek foto-foto kamar hotelnya di internet sebenarnya agak ragu, sih. Soalnya baru kali ini lihat kamar hotel yang begitu plain dan fasilitasnya "seadanya". Bahkan Shane sempat bergurau kalau kamarnya terlihat seperti sel tahanan, hahaha. Tapi aku mengerti kok, namanya juga hotel budget. Kalau nggak suka ya salah aku dong kenapa nekat mau bayar sendiri :p Jadinya sehari sebelum kami menginap aku berdoa terus semoga semuanya happy. Jangan sampai niatku mau ngajak senang-senang malah jadi sebaliknya :D


Supaya perginya bareng-bareng, Ibu dan Bapak menjemputku dan Shane di rumah kami. Ali juga ikut karena dia memang sering menghabiskan waktu dengan orangtuaku (---semacam anak bungsu lah dia jadinya, hahaha). Sempat ada "insiden". Karena aku sudah siap, jadi aku turun duluan ke lobby (kami tinggal di apartemen) untuk menunggu jemputan ortu. Eh, waktu Shane turun dia cuma bawa badan doang dong! Nggak bawa tas atau apalah. Dia cuma pakai kemeja yang didouble, ---yang warnanya sudah dia sesuaikan dengan dress yang aku pakai. Mau ngambek tapi kocak juga, bhahaha. Apalagi ortu sudah terlanjur jemput, lama lagi kalau naik ke atas jadi sudah lah xD Shane masih belum ngeh kalau hotel yang mau kami inapi nggak menyediakan amenities seperti hotel pada umumnya. Ya... ada sih sabun mandi kecil sebatang, sikat gigi juga cuma satu. Masa mau dipakai berdua? Hahahaha xD


Ketika tiba ternyata benar, hotel berada di satu gedung dengan mall. Tampilan lobbynya berwarna-warni dan simple. ---Lebih mirip warnet sih kalau dibandingkan lobby hotel. Ada dua buah komputer yang bisa dipakai umum dan banyak meja-kursi model kafetaria. Benar-benar "lain", dan aku excited sekali untuk melihat kamar hotelnya!

Sengaja, aku minta agar kamar orangtua bersebelahan dengan kamarku dan Shane. Supaya kalau mau apa-apa mudah. Aku dan Shane antar dulu Bapak dan Ali ke kamar mereka, ---sementara Ibu pulang kembali ke rumah karena masih ada pekerjaan dan menyusul kemudian. Persis seperti di gambar, desain kamar sangat simple dan amenitiesnya sangat terbatas (satu buah kasur besar plus ekstra bed tapi hanya ada perlengkapan mandi untuk satu orang). Tapi melihat reaksi Bapak dan Ali kekhawatiranku 100% sirna! Mereka benar-benar gembira. ---Terutama Ali yang langsung sibuk mengecek semua benda di kamar. Dari mulai lampu, TV, sampai kamar mandi, hahaha. 


Bapak dan Ali bersantai setelah tiba di kamar hotel.

Foto bersama yang kami ambil menggunakan timer. Handphone kami senderkan ke wastafel, hahaha.


Aku dan Shane lalu pamit untuk ke kamar kami yang tepat berada di sebelah kanan kamar Bapak. Isinya sama, tentu saja. Yang berbeda hanya letak furniturnya saja yang berlawanan (mirroring dengan yang di kamar Bapak). Dan... di sinilah kami baru ngeh kalau ada yang kocak dengan desain kamar mandinya. Saking kocaknya aku sampai kembali ngakak waktu menulis ini xD Jadi kalau biasanya di hotel ada kamar mandi dalam artian sebenarnya (benar-benar KAMAR), nah di sini modelnya seperti kapsul. Hanya berdinding kaca dengan pintu dorong! Ya, kalau di kamar sendiri nggak apa-apa lah ya. Tapi kalau seandainya menginap dengan teman, aku sih ogah pas lagi mandi teman bisa lihat siluet badanku, hahaha. Aku sempat rekam Shane yang sengaja joged-joged gitu di kamar mandi, buat buktiin kalau orang di luar memang bisa lihat dia dengan jelas xp (Vlog ada di channel YouTube "Indi Sugar Taufik").


Matching outfit kami. Shane benar-benar cuma bawa baju yang nempel di badan, dia rangkap 2 kemeja sekaligus xD

Aku dan Onci, boneka kelinciku. Kami gak terpisahkan sejak aku berusia 8 tahun.


Berada di satu gedung dengan mall manfaatnya baru terasa saat malam tiba. Perut lapar nggak perlu khawatir karena tinggal jalan saja ke supermarket :D Di hotelnya sendiri memang nggak banyak pilihan makanan. Semuanya modelan ready to eat gitu yang disajikan di dalam kotak. Gak bisa customize jadi tentu saja nggak cocok untukku dan Shane yang vegan. Bapak pun memilih untuk makan malam dari luar saja. Yang beli makanan dari hotel cuma si Ali, hahaha. Dia kepengen es krim yang ternyata waktu aku cek harganya di supermarket (yang jaraknya literally beberapa langkah saja) cuma setengah dari harga yang dibayarkan, hahaha. Aku sih nggak makan berat, karena selain nggak lapar-lapar amat, Shane juga sedang sakit kepala. Jadi kami memilih untuk kumpul-kumpul lagi di kamar Bapak sambil ngobrol ke sana-ke mari. Duh, rasanya kepengen nangis saking happynya. Rasanya masih kaya mimpi bisa main sama keluarga di tengah pandemi kaya gini. Pokoknya tiap detik aku nikmati banget. Ngantuk juga aku tahan-tahan, soalnya entah kapan lagi kami bisa main bareng di tempat umum :')


Sekitar jam 9 malam, aku dan Shane kembali ke kamar kami. Aku sih langsung cuci muka dan ganti baju pakai piama sementara Shane cemal-cemil sambil bersantai di tempat tidur. TV menyala, dan ada beberapa film yang kami sukai. Tapi gak benar-benar kami tonton sih karena lama-lama mengantuk juga, hehehe. Kesan seperti sel tahanan ternyata nggak terasa setelah kami benar-benar menghabiskan waktu di kamar. Kebersihannya cukup bagus dan tempat tidurnya terasa nyaman. Kami pun nggak ada masalah untuk terlelap seperti bayi :) 

Oh, by the way, ternyata niat aku untuk "staycation kali ini disponsori oleh AKU" digagalkan oleh Ibu Mertua, hahaha. Sepertinya Shane diam-diam bilang sama ibunya kalau kami sedang berada di hotel. Soalnya beliau tiba-tiba saja bilang kalau kami boleh menggunakan kartu kreditnya untuk membeli apa saja yang kami mau :/ Aduuuh, rasanya jadi campur aduk, deh. Antara "malu" karena aku kekeuh banget pengen liburan, sama senang karena punya mertua murah hati, hahaha.


Tapi yang namanya orangtua memang begitu, deh. Bapak saja yang sudah jelas tahu kalau aku SANGAT ingin mentraktirnya tetap saja berusaha menyelipkan uang ke tanganku saat akan mengajak Ali makan es krim. Huaaa, bikin terharu T_T Padahal aku sama Shane juga nggak muda-muda amat. Lah, yang seumurku sudah punya cucu saja ada :p Maaf nih kalau pembahasannya jadi ngelantur-lantur... Sejak hari pertama aku dan Shane menikah kami memang bertekad untuk hidup mandiri. Langsung move out dan memiliki rumah sendiri meskipun super mungil. Sebisa mungkin kalau ada apa-apa berusaha berdua dulu sebelum meminta bantuan orangtua (---baik ortuku atau mertua). Kadang aku merasa kalau mereka terlalu khawatir sama kami. Khawatir lapar lah, atau khawatir nggak pernah belanja lah. Padahal kaminya nggak kenapa-napa :') 


Anyway, kami tidur nyenyak. Kabarnya sih si Ali baru tidur tengah malah saking senangnya, hahaha :D Kami nggak sarapan di hotel dan memilih membeli sendiri saja. Aku mandi juga akhirnya, meskipun kesyel banget karena pintunya transparan :p Shane sih memilih menggosok gigi saja dan mengganti kemejanya dengan yang (again) match sama dressku. Dari wajahnya dia kelihatan lebih segar, yang mana bagus karena artinya sakit kepalanya sudah membaik. Ibu membawakan kami obat sih sebenarnya, tapi Shane nggak mau minum obatnya karena takut terlalu sering. Tadinya aku sudah deg-degan saja kalau dia sakit, ---bisa-bisa liburan kami gagal. (Segagal traktiranku, lol).




Morning selfies, sambil menunggu Shane yang sedang siap-siap :)


Dari kemarin Ali sudah request untuk berenang dan bermain di Kids Club, tapi batal karena fasilitas hotel tutup lebih cepat dengan alasan keamanan. Jadi kami beramai-ramai ke kolam renang yang letaknya ternyata berada di Hotel Harris (---mereka satu management, dan POP nggak punya kolam renang sendiri). Yang nyemplung cukup Ali. Sisanya menunggu di pinggir kolam. Kenapa? Ya iyalah, masih pagi dingin banget kan xD Ali meski gemetaran tetap saja semangat ciprat-ciprat. Mungkin karena dingin dia jadi lupa caranya berenang, haha. Nggak apa-apa, ya, yang penting happy :) Nggak terasa matahari semakin naik. Yang tadinya kedinginan lama-lama kami malah ingin berlindung dari teriknya matahari. Untung ada area untuk berteduh dan duduk-duduk. Kami istirahat dulu di sana sebentar sebelum ke Kids Club, ---yang rupanya kosong melompong. Mungkin karena sedang pandemi jadi tamu hotel lebih memilih di kamar saja. Ali cuma menghabiskan waktu sebentar saja di sana, lalu kami kembali ke kamar hotel sambil berpikir mau ngapain lagi :D






Ali dan Bapak menikmati kolam renang berdua saja :D


Kids Club yang serasa milik Ali sendiri, hahahaha.



Lumayan banget, lho. Meski hotelnya sederhana tapi ada area terbuka buat duduk-duduk gini. Bapak seneng banget di area ini :)


Seperti kemarin, kami ngumpul-ngumpul lagi di kamar Bapak. Ngemil-ngemil, mulai beres-beres sambil menunggu Ibu yang sedang ke Panti Asuhan untuk Jumat Berkah. Perut aku sudah lumayan lapar (lagi), tapi belum tahu mau makan dimana. Jam 10 pagi restoran di mall juga belum banyak yang buka, jadi pilihan mungkin terbatas. Akhirnya kami putuskan untuk check out awal saja begitu Ibu datang. Soalnya memang sudah nggak ada aktivitas lagi yang bisa dilakukan di hotel. Pilihan Ibu memang nggak salah ya, kami jadi nggak mati gaya karena bisa jalan-jalan ke mall, hehehe. Eh, tapi bukan berarti di hotel membosankan lho. Ini pendapat pribadiku, yang 100% jujur. Kalau bisa kasih nilai, aku kasih POP Hotel ini 4 dari 5 bintang! Desain boleh sederhana dan wifi sering macet, tapi kamarnya nyaman dan bersih. Untuk teman-teman yang ada rencana ke Bandung dan on a budget tapi mau tetap nyaman, aku rekomendasikan hotel ini (---catat, bukan untuk yang suka dengan "kemewahan" hotel pada umumnya ya, ini hotel murah). Nggak endorse lho aku, ini murni pendapatku xD


Setelah checkout sambil menunggu Ibu. Ali langsung angkat kamera seperti ini ketika tahu akan aku foto. Katanya dia mau foto juga :D


Kalau mau ngikut budgetku, seluruh keluarga paling aku traktir pizza, lol. Tapi Shane bilang supaya aku bilang sama orangtuaku untuk memilih restoran yang mereka suka. Mall masih sepi banget, dan ini jadi punya sisi baik karena artinya kami lebih leluasa memilih. Mau pilih apapun bakal berasa punya pribadi, hehe. Ortu tentu menyerahkan pada kami karena mereka ingin tempat yang netral, yang punya menu ramah vegan dan punya pilihan non vegan juga. Akhirnya kami memilih Ta Wan, yang hanya ada menu vegetarian tapi lumayan lah masih bisa special request agar jadi vegan :) Ajaibnya, setelah 2 hari 1 malam bersama, justru moment di restoran inilah yang menurutku menjadi highlight staycation kami. Suasana begitu hangat dan menyenangkan. Karena sambil makan masker pun ditanggalkan, dan berbincang sambil saling menatap wajah-wajah yang aku cintai rasanya luar biasa sekali. Aku sampai lupa kalau keadaan sedang nggak baik-baik saja. Aku merasa ini adalah moment ternormal yang aku rasakan semenjak tahun lalu. Kalau ada kata untuk "amat sangat bahagia, bahkan lebih bahagia dari bahagia", maka itulah yang aku rasakan.


Sambil menunggu pesanan kami datang semua, kami minta tolong untuk diambilkan foto bersama :D


Selesai makan aku sadar kalau waktunya berpisah semakin dekat. Tapi ternyata Shane mengajak kami berbelanja dulu. ---Lagi-lagi ada pesan dari Ibu Mertua yang berpesan agar kami membeli apa yang kami inginkan :') Mumpung sedang di mall katanya. Meski rasanya nggak enak, karena semakin gagal lah traktiranku (ini malah aku yang ditraktir terus, hahaha) tapi deep inside aku senang karena jadi punya waktu lebih lama lagi buat jalan-jalan keliling mall sama Ibu, Bapak dan Ali :"D 

Klasik, tapi benar adanya. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Mau dilama-lamain kaya apa juga kami harus pulang ke rumah masing-masing T_T Karena Ibu yang membawa mobil, jadi aku dan Shane diantarkan dulu ke rumah kami. Hanya sampai lobby dan rasanya jadi "dadah" terberatku sepanjang sejarah (---maaf lebay, hehe). Waktu kami naik ke atas rasanya masih surreal, kaya nggak nyata saja gitu. Untuk dua hari rasanya hidup kami normal kembali. Dan ini membuat hatiku sedikit mencelos. Kapan ya kami bisa benar-benar seperti ini tanpa harus menunggu moment istimewa? Karena meski sudah satu tahun tetap saja kami nggak bisa (dan nggak mau!) terbiasa dengan kehidupan yang seperti ini. Kami kangen "hidup lama" kami. 


Ah, tapi aku nggak mau kerinduanku mendistraksi aku dari rasa syukur. Mau seperti apapun keadaan dunia saat ini, nggak akan mengubah fakta kalau 2 hari yang kami habiskan bersama sangat LUAR BIASA. 

Meski aku gagal mengtraktir!

Karena setelah dipikir-pikir aku malah sangat bersyukur. Kalau saja Ibu Mertua nggak maksa traktir pasti waktu bertemu kami lebih singkat. 


Everything happen for a reason ;)


Vlog kami. Jangan lupa nonton ya :) Untuk pengguna mobile klik di sini.


Edit: Berhubung ada 2 komentar yang bilang kalau kolam renangnya nggak besar (—-karena sebelumnya aku hanya post bagian kiddy pool). Tuh, aku sudah tambahkan foto kolam renang yang mudah-mudahan bisa jadi gambaran sebesar apa ukuran sebenarnya xD Lumayan besar kok ini, sesuai saja dengan kapasitas tamu hotel yang nggak terlalu banyak ;)


blessed girl,


Indi

---------------------------------------------------------------

Kontak email: namaku_indikecil@yahoo.com | Facebook: Indi Sugar | Instagram/Twitter: Indisugarmika | YouTube: Indi Sugar Taufik

Selasa, 08 Januari 2019

We've Made It!



Selamat tahun baruuuuuuu! :) Eh, boleh ngucapin nggak sih? Hehehe. Jujur sekarang aku takut salah kalau bikin ucapan (---ntar ada yang balas 'aku nggak rayain'). Soalnya di grup whatsapp unfaedah aku ramai banget soal ngebanned terompet dan segala macam atribut yang pas aku kecil identik banget dengan tahun baru. Di satu sisi aku senang soalnya suasana di komplek rumah jadi lebih senyap, nggak ada yang niup terompet. Di sisi lain aku sedih dong lihat penjaja terompet dst etc di jalanan yang sepi pembeli :( Aku sih no comment kalau ada yang bikin argumen tentang agama, tapi buat aku sendiri selama dilakukan dengan tertib dan nggak berlebihan ya why not? Kita tinggal di Indonesia kok, dan tahun memang berganti, ---buktinya saja kalendernya ganti angka, kan, hehehe. Aku sendiri nggak punya tradisi khusus tiap tahun baru, yang penting kumpul dengan keluarga dan buatku itu positif. Kalau ada yang bilang, "Kumpul keluarga mah bisa tiap hari kali!", well, lucky you then. Manusiawi kok kalau ingin sesuatu yang istimewa sesekali. Dan tahun baru itu cuma "moment" alias penanda kalau 365 hari sudah dilalui. Melewatinya dengan sedikit perayaan bersama keluarga sambil bersyukur buat aku nggak ada yang salah :)

Buatku dan Shane ini adalah tahun baru pertama yang kami lalui bersama secara langsung. ---Maksudnya kami berada di tempat yang sama, gitu :p Soalnya tahun baru 2018 lalu, waktu kami masih sahabatan dilalui dengan makan pizza bersama tapi lewat telepon. Aku di Indonesia dan dia di Amerika. Perbedaan waktu kami juga 13 jam, jadi pas pergantian hari aku doang yang heboh sendiri, hehehe. Aku dan Shane excited sekali, tapi lebih fokus ke quality timenya sih karena kami nggak ada rencana bakal ngapain. Yang penting barengan. We can do whatever we want, mau melek sampai pagi juga boleh. Karena meski kami nggak kerja kantoran, tapi break tahun baru ini memang bertepatan dengan selesainya salah satu projectku. Shane sih bilangnya kepengen nonton film bareng saja, mungkin kami bisa cari speaker yang agak bagusan karena punyaku yang lama sudah rusak. Aku setuju, dan berhubung ada dua keponakanku di rumah jadi kami juga mau sekalian cari kembang api biar mereka ikut happy. Jadilah siang harinya di malam tahun baru aku dan Shane ke mall terdekat buat cari speaker dan kembang api. Dan berhubung tahun lalu kami makan pizzanya terpisah sepuluh ribu miles lebih (lol), jadi kami putuskan buat beli bahan-bahannya sekalian. Mau masak berdua ceritanya, hehe.

Menunggu makanan datang di Solaria Festival Citylink sehabis berbelanja.

Oh iya, beberapa hari sebelumnya aku dan Shane sudah beli kado buat Ibu, Bapak dan dua keponakan. Kami sebenarnya sudah rencanakan ini jauh-jauh hari, cuma karena aku sedang nggak enak badan jadi belanjanya rada mepet. Eh, bukan "rada" lagi sih, tapi memang mepet. Mall sudah mau tutup sampai kami diusir halus gitu, tapi apa daya kami pura-pura nggak dengar saja karena memang butuh :p I'm sure we could have picked something better if we'd had more time, tapi nggak apalah, anggap saja ini sebagai kenang-kenangan karena sudah melalui tahun 2018. Ini semacam kebiasaan bagiku untuk bagi-bagi kado (---meski nggak bisa dibilang "tradisi" karena ada kalanya aku bokek, hehe). Buat seru-seruan saja, biasanya aku taruh kado-kadonya di ruang TV waktu orangtuaku tidur, jadi pas bangun mereka kaget, hehehe :D Kalau sedang ada rezeki lebih kadang aku juga belikan sesuatu buat karyawan yang bekerja untuk Ibu, termasuk untuk hewan-hewan peliharaanku juga (mudah-mudahan tahun depan, ya!). Dan berhubung keponakan-keponakanku itu masih bayi-bayi, jadi timing bagi kadonya agak diubah sedikit, ---di sore hari biar masih pada segar bugar!

Sepulang dari mall aku dan Shane langsung panggil the boys, Ali dan Abi Cody yang lagi sibuk berantakin ruang TV. Orangtua mereka harus lembur di bank karena akhir tahun, jadi kami kebagian dikunjungi sampai malam. Usia mereka 3 dan 1,5 tahun alias usia-usia yang bikin dilema; jauh kangen, tapi kalau dekat kadang bikin pusing, hahaha. Ali sudah mengerti dengan konsep kado. Jadi dia excited sekali untuk buka pembungkusnya, termasuk yang punya adiknya. Kalau diingat-ingat Ali itu memang selalu antusias dengan "hari besar". Entah karena dulu sering menghabiskan waktu sama aku, atau memang dia terlahir kaya gitu :p Ingatannya kuat sekali, meski baru 3 kali merayakan Halloween tapi dia ingat dengan 2 yang terakhir, termasuk kostum dan makanannya. Hampir tiap hari dia bertanya kapan Halloween lagi. Lucunya dia juga mengerti kalau hantu pas Halloween itu bohongan semua, jadi dia malah semangat buat lihat bukannya takut, hehehe. Juga dengan moment tahun baru ini, dia semangat untuk main kembang api sampai-sampai ruang TV dia beresin sehabis dapat kado supaya bisa cepat-cepat ke halaman rumah :D

Aww, Ali memeluk Shane setelah dapat kado :’)

Cody pun bahagia dengan kadonya (meski masih agak bingung, hehehe).

Seperti kedua keponakanku, Ibu dan Bapak juga dapat kado lebih cepat. Ya, kalau nunggu sampai malam aku takut mereka pikir aku lupa buat kasih kado, lol. Reaksi mereka sungguh overwhelming. Masih merinding kalau aku bayanginnya, padahal kadonya sederhana banget; sandal buat Ibu dan termos elektrik buat Bapak. Beruntung aku sempat abadikan reaksi mereka lewat kamera handphone jadi bisa aku lihat berulang-ulang. Memang ya, namanya kado itu sekecil apapun pasti bikin senang. Aku juga dapat kado lho, dari Shane, ---ada makanan, piyama dan baju baru. Sampai hari ini bajunya belum aku terima karena dia pesan online gitu. Tumben banget aku pilih model overall celana padahal biasanya pakai dress. Soalnya desainnya lucu banget sih gambar mangkuk ayam ala-ala penjual mie. Jadi nggak sabar dan juga penasaran aku kaya apa kalau pakai celana, hehehe. Ibu mertuaku juga kirim kado yang harus kami jemput ke kantor pos karena terkena bea cukai, sniff... Isinya banyak banget, ada pernak-pernik Hello Kitty buatku dan The Beatles buat Shane. Senang sekali, karena aku juga dapat sekantung pita rambut dengan berbagai warna. Secara aku punya kebiasaan pakai matching hair bow dengan baju, hahaha (Jojo Siwa mah lewat). By the way, aku bilang "sniff" bukan karena aku kecewa harus bayar bea cukai, ya. Namanya kado, itu pasti tanggungan si pemberi. Tapi jujur aku memang agak bete karena urusan bea cukai ini merusak kejutan. Soalnya jika harga barang di atas 100USD pasti dikirimi email dengan pertanyaan isi barang. Niatnya mau bikin kejutan tapi aku jadi harus nanya-nanya sama Ibu Mertua apa isinya, haduh :( Ini bukan pengalaman pertama, waktu aku dan Shane masih temenan (ecieeeeh...) dia sempat kirim hadiah natal ke sini. Setelah melewati proses bea cukai yang habis 2 jutaan rupiah, rupanya paketnya dibuka dulu dan ada 1 barang (cover CD) yang hilang. Ditambah bonus ada jejak sepatu pula di suratnya. Aku mengerti sih, itu aturan. Tapi aku harap petugasnya bisa lebih hati-hati lagi, kan namanya hadiah pasti ingin diberikan dengan kondisi terbaik, dong.

Reaksi Ibu yang so sweet waktu menerima kado :’D

Bapak dan Ibu membaca notes dari kami.

Jadi aku bersyukur banget, aku dan Shane sudah tinggal bersama. Nggak perlu lagi ada masalah dalam "kado-kadoan". Lagian bukannya aku gombal, TBH ada dia di sini saja sudah jadi kado terbaik buatku. Keluargaku tumbuh, kalau dulu hanya Ibu dan Bapak, sekarang ada dia juga :) Dan apa kado yang aku kasih buat Shane? Well, sampai tulisan ini dibuat aku belum kasih apa-apa, lol. Aku belum pro nih sebagai seorang istri, jadi mau ngasih juga bingung soalnya ntar pakai duit dia juga kan, hahaha. Just kidding. Rencananya aku akan belikan dia kaset kosong untuk dipakai merekam musik-musik buatannya. Agak susah carinya di sini, nggak seperti di negaranya yang penggunaannya masih populer. Kalau ada yang punya rekomendasi seller boleh lah kontak aku :p *Lah, tulisanku jadi ke mana-mana ya.
Setelah acara buka kado yang super menghangatkan hati, kami pindah ke halaman rumah untuk main kembang api. Sebenarnya yang main aku sama Shane saja sih, para bocah cuma nonton :D Mau aku kasih pegang tapi khawatir sama percikannya, lumayan pedih juga lho. Pssst, dulu waktu aku kecil paling takut kalau disuruh pegang kembang api sendiri, di otakku sudah kaya pegang dinamit saja. Tapi syukurlah semakin besar semakin berani karena kalau nggak kan malu di depan para bocah :p Ali beberapa kali pengen coba pegang, what a brave boy, dia kayanya gak takut meski jarak pegangan ke belerangnya dekat sekali. Yang aku beli ini jenis kembang apinya pendek-pendek, cuma berapa detik sudah habis. Lebih aman, tapi lumayan nyebelin karena lebih lama usaha bakarnya daripada nyalanya, hahaha. Ada celetukan kocak dari Ali, aku kan bikin bentuk-bentuk gitu dari kembang api, waktu aku tanya dia mau bentuk apa, dia jawab, "BRI." Spontan aku dan Shane ngakak. Entah dia cuma nyebut huruf-huruf random, atau dia memang bermaksud bilang nama bank. Ini bocah memang nggak terduga :D

Ali minta aku membuat “tulisan” BRI dari kembang api xD

Aku dan Shane menikmati bermain kembang api.

Di tengah acara kembang api iparku datang buat jemput the boys. Dia juga bawa bola yang bisa nyala-nyala gitu. Sudah pasti mereka girang, tapi karena berebutan bolanya nggak berumur panjang. Suara petasan di luar pun kalah sama tangisan mereka, hahaha. Aku sih nggak lihat gimana kejadiannya, yang pasti Ali jadi ngambek sama adiknya dan dia menolak ikut pulang. Setelah itu dia kelelahan dan tertidur sambil memeluk boneka doggynya. ---Well, rupanya bukan cuma dia saja yang lelah. Nggak lama setelah Ali, aku dan Shane pun menyusul. Nggak tahu kenapa badan rasanya lelah padahal masih jauh ke tengah malam. Rencana bikin pizza dan cookies bareng pun batal karena kami langsung ke alam mimpi. Kami baru terbangun karena Eris, anjingku kaget dengan suara petasan. Waktu lihat jam ternyata sudah tahun baru! (---mau ngejokes soal "tidur setahun" tapi basi, ah, lol). Apa ada yang terasa beda? Nop. Semua masih terasa sama seperti tahun kemarin. Tapi kami saling senyum, "We've made it." Kami berhasil melewati tahun 2018 dengan pahit manisnya. Aku dan Shane berhasil melewati fase persahabatan kami dan memutuskan untuk naik ke level yang lebih tinggi. Aku dan Shane berhasil tetap "waras" meski income terbesar kami terhenti dan terus bangkit. Aku dan Shane berhasil menghandle OCD ku dan stop dengan segala macam terapi obat. Aku dan Shane keluar dari zona nyaman dan nggak ada sedikit keinginan pun untuk kembali. Dan yang terpenting aku dan Shane berhasil mengalahkan ketakutan kami sendiri yang pernah bilang kalau hubungan kami "mustahil". Lihat di mana kami sekarang! We've made it... We've made it! Kami berhasil bertahan dan melihat ke belakang membuat yakin kalau kami pasti bisa melewati tahun-tahun yang akan datang. 

Baru bikin pizza keesokan harinya. Kami suka pizza vegan pakai nanas :p

Dan ini vegan cookiesnya. Agak-agak gosong tapi keren juga kami (ternyata lumayan) bisa baking xD


Well, selamat tahun baru untuk semuanya, ---yang merayakan atau tidak, yang pro kembang api atau tidak :p 
Suka atau nggak, here we are now. Why being so negative, tahun baru bisa menjadi penanda untuk melihat apa yang sudah kita lalui dan lalukan. Tahun baru juga bisa digunakan untuk break sejenak, "puji" diri sendiri atas pencapaian sekecil apapun. Bukannya narsis, terlalu keras sama diri sendiri kadang membuat kita terus membanding-bandingkan dan lupa kalau kita juga "hebat". We are worthy. Kalau kalian merasa down, pssst lihat kalendernya sudah ganti lho. Masih ada kesempatan ;)






that sleepy girl,

Indi


----------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Kamis, 05 Mei 2016

Jadi Juara 2 di Unstoppable Fashion Styling Competition. Loh, Kok Bisa? :D

Hey bloggies, hey! Apa kabar semuanya? Semoga semuanya baik, ya. Dan... sedikit irrelevant, kali ini aku posting bukan di waktu weekend, hehehe. Well, sebenarnya sih aku ingin menulis sejak hari minggu lalu. Tapi berhubung agak kelelahan dan ada "meltdown moment" (sniff...) jadi baru bisa sekarang :) Ngomong-ngomong kalian pernah nggak sih akan melakukan sesuatu untuk pertama kalinya dan waktu moment nya tiba baru sadar kalau, ---"OMG, what the heck am I doing here??" ---dan yang kalian inginkan hanya kabur karena benar-benar blank dengan apa yang harus dilakukan? Ehmm, aku pernah. Sering kali tepatnya, lol. Terkadang aku memang terlalu spontan, setuju untuk melakukan sesuatu padahal belum punya pengalaman. Seperti yang kualami 1 Mei 2016 kemarin...

Beberapa waktu sebelumnya aku melihat iklan "Unstoppable Fashion Styling Competition" di Facebook. Murni karena penasaran aku klik page iklannya dan membaca persyaratannya. Untuk usia sih memenuhi syarat, tapi soal jago mix and match dan punya style unik tentu diragukan, hehehe. Kemampuanku untuk memadukan warna lebih cocok dibilang random daripada 'kreatif' (lol) dan styleku sejak dulu juga sepertinya begini-begini saja, not so unique lah. Tapi entah keberanian dari mana, aku akhirnya mendaftar! Waktu itu aku pikir lihat saja nanti, kalau takut tinggal kabur, hehehe. Lagipula acaranya juga di salah satu mall Bandung, jadi bisa sambil berjalan-jalan mumpung weekend. Di luar dugaan waktu hari H tiba cerita tentang "Si Indi mau ikut fashion show" ternyata sudah menyebar dari mulut Ibu (aduh!). Yang tadinya mau pergi diam-diam berubah jadi beramai-ramai. Tante, Ray, adik, ipar, keponakan dan Ibu semuanya ikut. Nggak bisa mundur lagi deh kalau gini ceritanya, hehehe.


Unstoppable Fashion Styling Competition by Laurier yang aku ikuti ini merupakan rangkaian dari Fimela Fest 2016 yang diadakan di beberapa kota besar. Untuk di Bandung diadakan di mall Festival Citylink yang jaraknya nggak terlalu jauh dari rumahku. Cukup santai, jam 12 siang kami sudah sampai di lokasi dan aku langsung registrasi ulang. Rupanya untuk Unstoppable Fashion Styling baru akan berlangsung jam 3 sore, jadi kami bisa bersantai sambil makan donat, hehehe. Ehm, jujur nih aku lumayan pesimis karena waktu melihat peserta lain yang mulai berdatangan, mereka kebanyakan memakai makeup dan well prepared. Sedangkan aku, ---ya just being me, nggak ada yang istimewa. Bahkan Tante sempat becanda kalau aku bisa-bisa kalah karena sepatuku sudah kelewat kumal! :D Tapi akhirnya kuputuskan untuk que sera, sera, ---whatever will be, will be. Lebih baik aku menikmati saja. Nggak perlu khawatir dengan noda kecil karena ketumpahan topping donat atau lupa bawa sisir. Sayang kan kalau moment jarang bisa ditemani sama 1 rombongan gini malah dihabiskan dengan deg-degan ;)


Mungkin karena enjoy aku jadi lebih relax dan "tanpa beban". Sementara yang lain touch up, aku baru menyusul ke backstage di menit-menit terakhir. Setelah berada di sana aku malah ingin cepat-cepat dipanggil karena mendadak excited dan... kakiku pegal! :D Setelah sekitar 10 menit akhirnya pintu backstage ditutup dan seluruh peserta yang jumlahnya sekitar 30 orang dan diberikan sedikit pengarahan. Ada koreografi standar yang harus diikuti, tapi dasar mantan model abal-abal, aku malah lupa 5 menit kemudian, hahaha. Oh, by the way, aku lupa menyebutkan. Sebelum pergi aku mendadak ingin membawa serta si ukulele kesayangan padahal agak fals karena belum distel. Tapi Bapak bilang it's okay, yang penting aku bisa melihat sesuatu yang "akrab" kalau-kalau aku nervous. Dan berhubung ukulelenya terlanjur ikut ke backstage, nanti akan kuajak sekalian saja ke panggung. Akan diapakan? Well... aku juga nggak tahu sampai aku benar-benar berada di atas panggung.

Nomor urutku dipanggil dan dengan "not so model like" aku melangkah di atas catwalk. Salah satu MC menyebutku sebagai "Peserta nomor 15 dan ukulelenya", dan AHA! Tiba-tiba aku mendapatkan ide. Aku gunakan ukelele lebih dari sekedar pelepas nervous tapi juga sebagai penunjang penampilan. Jadi alih-alih berpose aku memainkannya di setiap sudut panggung termasuk untuk menyapa para juri! Untung saja suara musiknya sangat kencang jadi aku nggak perlu khawatir dengan ukulele yang belum distel, hehehe. Ukulele always brings happiness. Aku jadi nggak bisa berhenti tersenyum, ---mungkin terdengar aneh tapi aku benar-benar menikmati berlenggak-lenggok sambil menggenjreng si ukulele smiley ini di atas catwalk! Seolah aku sudah terbiasa melakukannya, padahal setelah diingat ini adalah tepat 10 tahun sejak terkahir kali aku berjalan di catwalk.



Aku turun dari atas panggung dengan riang dan langsung menemui para suporter alias keluargaku yang menunggu di bangku penonton. Ray dan Tante rupanya berusaha mengabadikan aksiku, sayang Tante salah menekan tombol di handphonenya dan gagal merekamku, hehehe. Untung saja Ray berhasil mengambil beberapa fotoku, ---kan aku penasaran ingin lihat seperti apa kalau aku sedang beraksi :p Menurut salah satu peserta pemenang akan diumumkan setelah juri siap, jadi bisa cepat bisa lambat, ---seperti di kategori sebelumnya yang ada beberapa break. Karena khawatir terlalu lama jadi aku minta keluarga adik, Tante dan Ibu untuk lebih dulu pulang sementara aku menunggu bersama Ray. Toh, rasanya agak too good to be true kalau aku menang, hehehe. Tapi rupanya Ibu dan Tante agak penasaran dengan pemenangnya jadi memutuskan untuk stay. Di panggung duo MC sibuk berbicara tentang sesuatu, aku nggak memperhatikan karena asyik mengobrol dengan Ray dan sesekali mengobrol dengan peserta lain. Aku lupa tepatnya berapa menit, yang pasti rasanya memang cukup lama sampai-sampai keningku basah dengan peluh. Lalu tahu-tahu saja MC menyebutkan nomor-nomor peserta secara acak. Ada 10 nomor yang disebut dan yang terakhir adalah nomorku, 15, ---yang ditambahkan panggilan "si ukulele" oleh salah satu MC. Dengan kebingungan aku berdiri diiringi dengan suara tepuk tangan yang cukup riuh. Ada apa ini? Apa aku nggak salah dengar? Aku harus ke mana? ---Untung saja ada peserta lain yang menarik tanganku. Rupanya kami harus ke atas panggung lagi.


Di atas panggung pelan-pelan aku mengerti dengan apa yang sebenarnya sedang menimpa ku, lol. ---Ternyata aku masuk ke dalam 10 besar finalis Unstoppable Fashion Styling! Ya ampun, IT REALLY IS yang namanya too good to be true :O Dari atas aku bisa melihat wajah Ibu dan Tante juga tampak sama bingungnya denganku (tapi Tante gaya bingungnya heboh banget, sambil ngacung-ngacungin handphone, lol). Aku bersyukur, tentu. Tapi bisa masuk ke top 10 saat di pengalaman pertama benar-benar surprise yang besar untukku. MC menyebutkan bahwa kami dipilih karena juri suka dengan style kami, dan yang terpenting kami terlihat nyaman. Untuk menyaring menjadi 3 pemenang, kami diberi tantangan untuk mix and match outfit yang telah disediakan. Aku pikir, 'well ini mah gampil', tapi ternyata kami hanya diberi waktu 90 detik dan jumlah outfitnya sangat terbatas. Item wajib yang sudah ditentukan juri adalah scarf, yang mana itu adalah item yang jaraaaaaang banget aku pakai. Tapi ya sudah lah, yang terpenting aku have fun di sini. Kapan lagi bisa coba-coba outfit keren gini, hehehe. Pilihanku jatuh pada sebuah rok pink lebar dan tanktop bermotif. Untuk scarf aku, ehm, ambil saja satu-satunya yang nggak diambil oleh finalis lain. Soalnya, sumpah, aku benar-benar blank, hehehe. Setelah itu kami dipersilakan ke belakang panggung dan memadukan item-item yang sudah dipilih.



Aku sangat jatuh cinta dengan roknya. Menurutku warna dan modelnya cute banget, ---sangat styleku. Tapi ketika dicoba... uh oh, kesempitan! Untuk melewati pantatku saja butuh kerja keras, dan waktu akhirnya sampai di pinggang ternyata nggak bisa dikancingkan! Aku langsung lapor pada panitia dan katanya semua item hanya ada 1 ukuran karena disediakan oleh sponsor. Tadinya mau diakali dengan peniti, tapi saking sempitnya peniti pun nggak sampai untuk menghubungkan titik A dengan titik B, hahaha. Aku coba tutupi bagian resleting dengan tank top yang asalnya mau kupakai dengan dimasukkan ke dalam rok. Berhasil, sih. Tapi aku nggak tahu perlu berapa langkah sampai rok ini melorot :p Yang paling membingungkan tentu saja untuk memadukan scarf. Selain warnanya nggak cocok, aku juga bingung akan dipakai apa. Mau dijadikan bando kok malah mirip pocong :( Akhirnya di detik-detik terakhir (---sudah dipanggil-panggil mbak panitia) aku lilitkan scarf ke leher tanpa tahu bagaimana kelihatannya. Salah satu peserta membantuku memperbaiki hasil ikatanku yang berantakan dan 10 detik kemudian kami sudah berada di panggung lagi.

Sekali lagi, aku berlenggak-lenggok di catwalk. Feel a bit weird karena kali ini tanpa ukulele, ---bingung tanganku mau diletakan di pinggang atau diayun sekalian :p Aku mencoba senatural mungkin, berjalan biasa saja hanya nggak terlalu cepat. Setelah itu sambil menunggu juri yang sedang memberi nilai MC memberikan beberapa pertanyaan pada para finalis. Well, hanya 4 dari kami saja sih yang ditanya karena juri sudah mendapat hasilnya. Salah satunya adalah aku yang ditanya mengapa memilih outfit yang dipakai sekarang. Aku jawab ini karena mewakili kepribadianku yang girly dan cheerful. Apalagi roknya memang sudah aku incar sejak panitia membawa satu deret baju ke atas panggung. Untung saja finalis lain kayanya nggak ada yang tertarik dengan rok pink yang super mengembang ini :D
Daaaan yang ditunggu-tunggu pun tiba; pengumuman pemenang! Nggak pakai berlama-lama, host langsung membacakan kertas yang berisi hasilnya. Pemenang ketiga jatuh kepada nomor 11, gadis berhijab yang waktu di backstage membantuku memasang scarf. Pemenang kedua jatuh kepada... OH. MY. GOD. Aku!!! Hahaha, aku sampai pikir MC salah membaca nomor karena... it just feel so unreal :'D Dan pemenang kesatu jatuh kepada nomor 31. She's totally deserved it :)



Aku dan pemenang lainnya menerima sejumlah hadiah yang terdiri dari piala, sertifikat, sejumlah uang dan produk dari Laurier. Yang berbeda pemenang kesatu mendapatkan hadiah tambahan berupa tas Kate Spade (cool!). Juri berkata bahwa sesudah dan sebelum tantangan mix and match aku tetap terlihat "Indi banget", dan itulah salah satu alasan mengapa mereka memilihku. Hehehe, masa sih :)) Ketika turun dari panggung aku nggak bisa menahan perasaan haru. Tante heboh sekali dan terus memuji-mujiku. Sementara Ibu lebih kalem dan berkata bahwa beliau sangat bangga denganku (aduh, sambil ngetik ini jadi terharu lagi, huhuhu). Ray juga nggak kalah ekspresif, gayanya sudah seperti fotografer profesional yang terus mengambil fotoku, hehehe. Aku anggap ini adalah kemenangan bersama. Ibu yang mendesain dressku, Tante yang menjadi suporter terbesarku dan Ray yang mengabadikan moment sangat berkesan ini. Tanpa kehadiran mereka mungkin aku nggak akan jadi juara. Jadi dengan uang hadiah Unstoppable Fashion Styling aku mentraktir mereka makan-makan dan membelikan anggota keluarga lain hadiah. ---Sisanya tentu saja ditabung :)

Rasanya ajaib aku memenangkan lomba hanya dengan modal menjadi diri sendiri. Tapi setelah dipikir kita memang harus be the best version of ourselves to win, dalam bidang apapun. Saat menjadi diri sendiri pasti terasa nyaman dan nggak 'setengah-setengah'.---Dan yang paling penting akan tanpa beban :) Aku lega, senang dan bersyukur karena berani mencoba hal baru. Deg-degan wajar. Tapi aku nggak perlu takut. Lagipula kalau nggak melakukan hal baru, kita nggak akan tahu sejauh mana kemampuan kita kan? ;) 
Pernah mengalami hal baru dan nggak tahu harus melakukan apa? Share me! :)




yang temenan akrab sama ukulele,

Indi

_________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: 081322339469