Tampilkan postingan dengan label kehidupan penulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehidupan penulis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Maret 2016

Datang sebagai Inspirator, Pulang dengan Membawa Inspirasi! (Kelas Inspirasi Bandung)

Haloooo, howdy-do bloggies?! Aduh, rasanya malu-malu gimana gitu untuk bilang kalau sekarang aku mengetik ini dalam keadaan kurang enak badan. Padahal di post sebelumnya aku bilang akan kembali update kalau sudah sehat. Tapi ternyata... tenggorokanku kembali nggak enak sekarang, huhuhu :( Mudah-mudahan saja nanti pagi sudah baikan karena hari senin aku perlu suara gue untuk, ---ehm,--- sebuah surprise yang baru saja aku dapat (ceritanya next time, ya, hihihi). Anyway, meski begitu aku akan menepati janji untuk bercerita tentang pengalaman menjadi inspirator pengajar di Kelas Inspirasi Bandung. Tulisan kali ini mungkin nggak akan sedetail biasanya (menghemat tenaga, hihihi), tapi aku janji akan berusaha sebaik mungkin ;)

Seperti yang aku sebutkan sebelumnya di tulisan tentang pengalaman mengikuti briefing, ini adalah kali pertama aku mengikuti Kelas Inspirasi. Sebenarnya sudah sejak beberapa tahun yang lalu teman-teman pembaca mendukungku untuk mengikuti Kelas Inspirasi, tapi aku selalu ragu. Pasalnya aku merasa belum pantas disebut sebagai “profesional”. Memang aku sudah sudah menulis sejak usia 7 tahun, tapi  hasilnya hanya belasan buku harian (---aku mungkin penulis buku harian profesional, lol). Baru ketika dewasa aku lebih serius menulis dan menghasilkan beberapa buku yang diterbitkan. Tapi tetap, aku merasa masih harus banyak belajar :) Sampai akhirnya tahun ini aku mendapat dukungan semakin banyak, termasuk dari Ray. Rasanya aku jadi lebih percaya diri. Dan setelah dipikir mengapa aku harus menunggu lebih lama? Lebih baik aku berbagi apa yang dimiliki sekarang, karena ilmu tentu akan semakin bertumbuh jika nggak disimpan sendiri.




Singkat cerita aku ditempatkan di SDN Griba 13 Bandung bersama belasan orang lainnya dari kelompok 50. Perasaan deg-degan terasa ketika aku memasuki kelas pertama, yaitu kelas 1-C. Tapi aku yakin pengalaman sebagai guru di sebuah preschool internasional selama 3 tahun sedikit banyak akan membantu. Segera setelah aku menyapa anak-anak, —atau “adik-adik” karena mereka ngotot memanggilku “Kakak”, hehehe, —perasaan deg-degan pun segera berganti dengan semangat. Mereka begitu welcome dan antusias dengan kedatanganku. Karena waktu ajar perkelas dipukul rata menjadi hanya 30 menit, aku langsung memperkenalkan diri dan bercerita tentang profesiku. Istilah “penulis” rupanya belum akrab di telinga mereka, bahkan ada yang mengira bahwa penulis adalah kata lain dari pelukis. Tapi setelah aku menjelaskan tentang peran penulis dalam kehidupan sehari-hari mereka langsung mengerti. Sengaja aku nggak menjelaskan secara mendetail karena yang menjadi tujuan hanya untuk mengenalkan bahwa di dunia ada berbagai macam profesi yang menyenangkan, dan penulis adalah salah satunya. Dalam proses perkenalan ini aku usahakan agar berlangsung dengan fun. Misalnya saja ketika aku menjelaskan tentang alur, latar dan tokoh dari sebuah cerita, aku tanyakan pada mereka cerita apa yang ingin dijadikan contoh. Adik-adik di kelas 1 kompak menjawab SpongeBob Squarepants, sementara di kelas yang lebih tua jawabannya lebih bervariasi; Upin-Ipin dan Frozen! Dengan mengikuti apa yang mereka sukai, istilah-istilah dalam dunia menulis pun lebih mudah dipahami. Aku amaze sekali dengan adik-adik di kelas 1 yang sudah tahu beda alur maju dan mundur lewat salah satu episode Spongebob.





Penulis nggak selalu identik dengan buku, karena yang menulis naskah film atau lagu pun sama-sama disebut penulis. Lagi-lagi dengan mengikuti apa yang mereka sukai aku menyebutkan contoh-contohnya (—dan wow, aku jadi sadar kalau lagu “Sambalado” begitu terkenal di kalangan anak-anak, hehehe). Ada moment lucu tapi juga cerdas yang gue alami di kelas 3. Yaitu ketika ada seorang anak dengan wajah terkejut berkomentar,“Jadi film horor itu ditulis orang ya, Kak? Hantunya juga pura-pura dong, kaya cerita Spongebob!” Sontak aku tertawa mendengarnya, apalagi ketika ia menambahkan bahwa suatu hari ia akan membuat cerita yang lebih bagus agar bisa bekerja di Hollywood. Semoga berhasil, kiddo!  





Karena sebagian besar dari mereka adalah penggemar berat Spongebob, aku pun menamai alat peraga mengajar dengan “kotak imajinasi”, —seperti permainan kesukaan Spongebob dan Patrick. Menjadi seorang penulis terkadang harus menjelaskan sesuatu yang nggak terlihat, —yang sifatnya imajinatif. Jadi aku mengajak adik-adik untuk menebak benda-benda yang berada di dalam kotak tanpa harus melihatnya. Nggak disangka semangat mereka untuk maju ke depan kelas besar sekali, meski beberapa dari mereka minta dibisiki bocoran viariasi kata agar teman-temannya bisa membayangkan benda yang mereka pilih dari dalam kotak, hihihi. Sepertinya ini adalah aktivitas favorit mereka ketika bersamaku di kelas, adik-adik di kelas 6 bahkan meminta waktu ekstra 5 menit agar bisa bermain lebih lama. By the way, kelas 6 adalah kelas yang paling heboh sekaligus polite. Mereka nggak segan untuk menunjukan ketertarikan terhadap outfit yang aku pakai. Dan waktu melihatku kegerahan 2 adik laki-laki di sana langsung sigap naik ke atas meja untuk menyalakan kipas angin! Hahaha, how cute! :D

Pertemuan di kelas aku tutup dengan mengajak mereka bernyanyi bersama. Sengaja aku membawa ukulele dari rumah, sekaligus sebagai contoh dari profesi penulis lagu. Lagu yang kami nyanyikan berjudul “Raihlah Cita-Cita”, liriknya ditulis olehku dengan nada sederhana yang mirip seperti lagu “ABC”.

“Ayo kawan kita bersama
Raihlah Cita-Cita
Jadilah apa saja
Semua yang kau suka.”





Menjadi inspirator pengajar adalah pengalaman yang sangat berharga. Banyak moment mengharukan dan mengejutkan yang aku alami. Seorang anak bernama Damian masuk ke kelasku sebanyak 2 kali, padahal teman-temannya sudah pulang (kelas 1 dan 2 pulang lebih awal). Ketika ditanya alasannya rupanya ia ingin mendengarku bermain ukulele lagi, katanya dulu ia hanya tahu bahwa itu adalah ‘gitar kecil yang dibawa pengamen’, hihihi. Atau ketika adik-adik dari kelas 6 mengajak aku selfie agar mereka nggak lupa bahwa kami pernah bertemu. Rasanya aku ingin memeluk mereka satu persatu dan mengucapkan terima kasih karena telah membuat hari itu menjadi salah satu hari terbaik di hidupku. Bertemu dengan adik-adik di SDN. Griba 13 mengingatkan aku bahwa terwujudnya cita-cita berawal dari semangat yang besar dan tanpa rasa takut.
Aku datang untuk menginspirasi, tapi aku pulang dengan membawa sejuta inspirasi dari mereka! Thanks a lot untuk kesempatannya, Kelas Inspirasi :)







yang dibilang lebih cocok dipanggil 'kakak' daripada 'teteh' sama adik-adik, lol,

Indi

_______________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Sabtu, 03 Januari 2015

My 2014 Moments :)

Gue ingat pernah menulis di sini tentang resolusi di tahun 2014, Eh, tahu-tahu sekarang sudah tahun 2015 :D Kata Ibu sih itu artinya gue sangat menikmati hari-hari gue, makanya waktu jadi terasa cepat, hihihi. Untuk gue 2014 merupakan tahun yang berwarna-warni. Gue banyak belajar hal-hal baru, bertemu orang-orang baru dan tentunya belajar untuk tumbuh menjadi semakin dewasa. Tapi menikmati bukan berarti tanpa hambatan, lho. Gue juga mengalami saat-saat "turun" di tahun 2014. Di awal tahun buku terbaru gue terbit dan berniat langsung melanjutkan dengan buku kelima. Tapi pada kenyataanya sampai hari ini buku baru gue masih dalam tahap penulisan. Gue juga berhenti bekerja di preschool yang cukup membuat gue bersedih. Tapi well, gue berhenti demi kebaikan, agar bisa lebih fokus dengan kesehatan dan project-project gue. Setiap pilihan yang diambil memang selalu ada resikonya, dan itu juga merupakan salah satu cara agar gue semakin dewasa. Makanya gue sebut "turun" dalam tanda kutip, karena gue percaya dalam perjalanan hidup semua yang dialami pasti ada maksudnya :)

Sekarang gue akan menuliskan apa saja yang sudah terjadi pada gue di tahun 2014. Well, of course nggak semua, hihihi. Tapi gue akan menuliskan beberapa yang berkesan ---atau yang gue sebut sebagai "pencapaian". Menulisnya di sini membuat gue senantiasa untuk ingat dan bersyukur dengan hidup gue yang penuh berkah. Juga membuat gue semakin bersemangat untuk melakukan banyak hal dan membuat rencana di tahun 2015 :) Sebenarnya setiap hari, ketika bangun tidur gue anggap sebagai kesempatan baru dari Tuhan untuk membuat hari yang lebih baik, nggak perlu menunggu tahun baru. Tapi 1 tahun merupakan jarak waktu yang tepat untuk "mengukur" sejauh mana yang sudah gue capai :)

1. Menulis buku "Conversation for Preschoolers"
Setelah menulis 3 buah novel akhirnya gue menulis buku dengan genre lain. Super excited, karena meskipun pengetahuan gue masih belum seberapa di bidang pendidikan, tapi gue sangat mencintai dunia anak-anak. Buku "Conversation for Preschoolers" berisi pelajaran Bahasa Inggris sederhana untuk anak-anak usia pra sekolah. Diterbitkan di bulan Januari oleh Idea World Kidz, buku ini menjadi pembuka tahun 2014 :)




2. Eris, anjing kesayangan gue menjadi bintang!
Setelah menemukan tumor di payudara kiri gue pada bulan November 2013, kisah Eris mulai tercium oleh beberapa media. Yang pertama kisahnya diliput oleh Vemale.com pada bulan Maret dengan judul "Nyawaku Selamat, Anjing Kesayanganku Mendeteksi Tumor Payudara di Tubuhku", dan yang kedua diliput oleh program Spotlite Trans 7 dengan judul segmen "Aksi Hebat Manusia dan Hewan". Ini benar-benar mengejutkan karena waktu acaranya tayang gue sedang bekerja dan baru nonton justru setelah ada yang mengupload videonya ke YouTube! Sejak pertama kali bertemu dengan Eris gue tahu bahwa ia sayang sekali sama gue, tapi nggak menyangka ia bisa sampai menyelamatkan nyawa gue :)




3. Muncul di majalah GoGirl lagi
Gue ingat kemunculan pertama gue di media adalah di majalah GoGirl lewat tulisan singkat di rubrik "You Say So" pada tahun 2007. Lalu 1 tahun kemudian gue diinterview untuk edisi ulang tahun mereka untuk edisi ulang tahun GoGirl. Nah, di bulan Maret 2014 gue kembali mucul di rubrik "Post Anything". Di sana gue membuat list dengan judul "5 2D Cartoon Movie". Rata-rata judul yang gue masukan film Disney, hihihi.



4. Menjadi bintang tamu di workshop "Dari Menulis Menjadi Buku"
Selain ini adalah pengalaman pertama gue mengisi acara workshop, ini juga jadi acara pertama dari event organizer nya Ray. Selalu senang kalau Ray bisa menjadi MC untuk acara gue, bikin suasana jadi lebih relax. Banyak pelajaran berharga yang gue ambil dari event ini, dan bonusnya banyak bertemu dengan teman baru yang ber-passion sama seperti gue! :)




5. Jadi Puteri Salju (hihihi)
Lagi-lagi ini juga jadi moment pertama, di tahun-tahun sebelumnya gue belum pernah menulis naskah drama :D Kebetulan Starbright, preschool tempat gue mengajar akan ada acara school leavers' alias kelulusan. Gue dipercaya sebagai scrip writer sekaligus menjadi pemeran utama! Wah, rasanya sungguh nggak terlupakan. Setelah begadang bikin naskah gue juga harus latihan ekstra karena dapat part lebih banyak dari pemain lain. Karena bekerja dengan para balita gue juga merangkap sebagai "pemberi clue" waktu di atas panggung supaya mereka tahu kapan harus turun dan naik panggung. Priceless! :)




6. Menjadi bintang tamu di Yayasan AIDS Indonesia Roadshow to School
Gue terdaftar sebagai relawan di Yayasan AIDS Indonesia sejak tahun 2007. Alasan gue mendaftar karena pacar gue semasa SMA adalah ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) dan gue ingin membagikan informasi yang benar pada anak-anak usia sekolah tentang HIV/AIDS. Gue menjadi bintang tamu di SMPN 179 Jakarta dan ditemani oleh Sheryl Sheinafia (penyanyi). Selain talk show juga diputar film MIKA, yang diinspirasi oleh novel pertama gue yang berjudul "Waktu Aku sama Mika". 




7. Bintang tamu di acara kopi darat ODHA Berhak Sehat di Cibeunying Park
Baru kali ini gue diundang ke acara yang konsepnya piknik, hihihi. Ternyata seru juga karena bisa lebih santai akrab :) ODHA Berkah Sehat adalah komunitas yang mengajak anak muda untuk memahami isu HIV/AIDS dengan cara yang fun. Di acara ini gue berbagi pengalaman ketika berpacaran dengan Mika yang juga seorang ODHA. Pesertanya beragam, ada anak sekolah, guru, ibu rumah tangga sampai pengusaha. Semuanya sangat antusias untuk mendapatkan dan berbagi ilmu. Di acara ini pula gue pertama kali berkenalan dengan D-100 Community :)




8. Pembicara di HIV/AIDS Awareness 
Mendekati bulan Desember yang diperingati sebagai hari AIDS sedunia semakin banyak event yang berkaitan dengan isu HIV/AIDS. Gue juga mendapat kesempatan untuk menjadi pembicara di Politeknik Bandung pada bulan November terkait isu tersebut :) Di sini gue ditemani oleh Kak Taufik dari Rumah Cemara yang menjadi narasumber. It was super fun, semenjak hari itu gue berteman dengan Kak Taufik dan mendapatkan banyak ilmu baru. Mahasiswa di Polban juga diajak untuk menonton film Mika. Sejauh sejarah nobar, di sinilah yang sambutannya paling "meriah". Suara mereka yang sedang menonton di dalam ruangan sampai terdengar keluar meskipun pintu ditutup rapat! :D




9. Live interview di I-Radio Jakarta
Aww, this is the sweetest interview so far :))) Andrew, produser I-Radio yang mengundang gue ternyata adalah pembaca dari novel-novel gue. Pertanyaan yang diajukan oleh penyiar Kamal dan Feli sangat santun dan ramah. Isu yang diangkat adalah HIV/AIDS dan mereka sama sekali nggak memberikan pertanyaan "kepo" seperti kebanyakan yang sudah-sudah, hihihi. Interview nya berlangsung selama 1 jam lebih dan selama itu gue harus menahan kedinginan. Ya, ampun ternyata AC studionya dingiiiiin sekali. Menurut Bapak yang mengantar gue saat itu, ini adalah salah satu dari radio yang berkesan selain Global radio yang mewawancara kami tentang Aerosmith di tahun 2013 lalu, hihihi.




10. Nonton Bareng film Mika bersama D-100 Community
Seperti yang gue sebutkan sebelumnya, gue mengenal sebagian dari anggota D-100 Community saat gue diundang ke acara Kopi darat ODHA Berhak Sehat. Setelah itu gue mulai berkenalan dengan seluruh anggotanya dan membantu mereka mengadakan event gathering. D-100 Community adalah komunitas ODHA dari RS. Borromeus, mereka ingin berkumpul sekaligus mengajak masyarakat agar mengenal apa itu HIV/AIDS. Dipilihlah film Mika untuk diputar di Taman Film Bandung pada tanggal 7 Desember. Hasilnya sangat nggak diduga, ternyata ratusan warga Bandung banyak yang ikut menonton bersama kami! Benar-benar pengalaman nggak terlupakan yang menutup tahun 2014 :D



Wah, serius lho, gue menulis 10 moment di atas sambil agak berkaca-kaca, hihihi. Gue benar-benar menikmati tahun 2014 rupanya sampai-sampai semuanya terasa masih fresh dalam ingatan. Gue ingat menulis resolusi tahun 2014 di sini seperti ini; Gue ingin bisa bermain cup song dan belajar American Sign Language alias bahasa isyarat Amerika! Ternyata gue benar-benar mewujudkannya, bahkan sempat merekam aksi keduanya dan diupload ke YouTube :D Well, untuk bahasa isyaratnya memang masih perlu banyak latihan, but I want to congrats my self (lol) karena sudah berani mencoba. Beneran deh, memulai itu jauh lebih sulit daripada menjalaninya, lho, hihihi.


Berhasil bermain "cup song" dan belajar bahasa isyarat Amerika :)

Masih ada beberapa hal berkesan lain yang mungkin akan gue tulis di post terpisah. Kalau di sini semua takutnya teman-teman bosan membacanya, hehehe. Ada yang bilang, buat apa kita membuat resolusi karena yang terpenting jalani saja setiap hari sebaik mungkin. Well, itu memang nggak ada salahnya, dan dulu gue juga begitu. Tapi mempunyai resolusi justru membuat gue bangun setiap hari dengan perasaan lebih semangat. Begitu membuka mata rasanya nggak sabar untuk melakukan hal-hal yang sudah gue rencanakan. Di akhir tahun ketika sadar resolusi yang sudah gue buat tercapai, rasanya priceless... Waktu membuat mungkin ada perasaan nggak yakin, tapi setelah dijalani rasanya akan semakin mudah. Kalau pun sampai akhir tahu masih belum tercapai atau kurang sempurna, at least sudah mencoba. And you should congrats your self for that! :D
So, selamat datang tahun 2015, semoga gue bisa menjadi pribadi yang lebih baik! :)

happy girl,

Indi



_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 30 November 2014

Warna-Warni HIV/AIDS Awareness 2014: Ada Haru, Ada Tawa, Ada Teman-Teman Baru :)


Hai my beloved bloggies friends! Kemarin, 28 November 2014 gue mendapat (another) awesome experience. Gue mengisi acara talk show "HIV/AIDS Awareness 2014" di Kampus Politeknik Bandung Program Studi Usaha Pejalanan Wisata. Untuk gue ini adalah pengalaman yang kedua mengisi acara dalam rangka memperingati hari AIDS sedunia dengan audience mahasiswa. Tahun lalu gue berbicara di hadapan mahasiswa-mahasiswa Universtitas Diponegoro Semarang, meski begitu tetap nggak mengurangi perasaan excited gue :)

Kali ini gue nggak sendirian, tapi ditemani oleh Kak Taufik dari Rumah Cemara. Di pertemuan pertama kami ini langsung akrab, lho meskipun sebelumnya hanya berkomunikasi lewat SMS, hihihi. Dan untuk MC nya, guess who? Pasti yang sering mampir ke sini bisa menebak, ya; the one and only Ray ;)
Acara dimulai jam 1 siang dan dibuka dengan sesi sharing bersama Kak Taufik. Nah, waktu sesi ini gue belum datang karena rencananya memang dibagi menjadi 2 sesi sharing, yaitu bersama Kak Taufik lalu bersama gue. Menurut Ray ada banyak sekali yang datang, ia bahkan mengirimi gue foto suasana di ruangan yang membuat gue semakin ingin cepat-cepat tiba, hihihi. Akhirnya, sekitar jam 2.30 sore gue yang diantar Bapak tiba dengan selamat meskipun sempat terjebak macet dan hujan lebat. Sesi bersama Kak Taufik sudah selesai dan audience sedang nonton bareng film Mika. Sambil menunggu gue sempatkan dulu mengobrol sana-sini dengan Ray dan Kak Taufik. Lumayan, masih punya banyak waktu karena durasi filmnya 1 jam lebih :)



Bersama Kak Taufik Rumah Cemara sambil berpose dengan karya-karya gue :) 

Dari luar ruangan, meskipun pintu tertutup tapi gue bisa mendengar reaksi teman-teman audience di dalam. Wah, benar-benar bikin merinding. Waktu ada adegan lucu mereka kompak tertawa, waktu ada adegan yang bikin gemas gue nggak bisa menahan tawa karena komentar-komentar mereka cukup jelas tedengar. Dan waktu mendekati ending film tiba-tiba ruangan sangat sepi, samar-samar gue mendengar suara isak tangis yang diakhiri dengan tepuk tangan seru ketika film selesai. Wah, kalau saja gue nggak harus mengisi acara kemungkinan besar gue sudah ikut menangis saking terharunya :') Film Mika yang diinspirasi oleh kisah hidup gue yang dinovelkan dengan judul "Waktu Aku sama Mika" dipilih untuk diputar di hari AIDS sedunia karena menceritakan kisah hidup Mika, seorang ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) yang berpacaran dengan gue selama 3 tahun terakhir hidupnya. Melalui film ini audience bisa "mengenal" Mika dan melihat seperti apa kehidupan kami yang (sebenarnya) nggak jauh berbeda dengan orang lain.



Ada yang masih menangis haru ketika gue masuk ruangan :')

Ray dan Kak Taufik masuk ke dalam ruangan lebih dulu, lalu disusul oleh gue yang langsung disambut tepuk tangan meriah. Rasa haru gue jadi semakin bertambah, hihihi :'D Rupanya profile gue sudah dibacakan sebelum gue tiba, jadi audience sudah cukup mengenal gue, seenggaknya mereka tahu bahwa gue adalah "Indi nyata" dari film yang baru saja mereka tonton :) Hanya dalam beberapa detik gue menyadari bahwa beberapa dari mereka masih ada yang bermata sembab karena menonton film Mika. Untung saja suasanya santai, jadi alih-alih sedih berlarut-larut kami dengan cepat tertawa karena Ray juga tanpa ragu melontarkan lelucon.

Ray membawakan acara talk show dengan santai :)

Di sesi sharing ini gue bercerita tentang tentang latar belakang novel "Waktu Aku sama Mika" yang lalu menjadi film Mika. Gue juga bercerita tentang hal-hal yang bisa dilakukan untuk melindungi diri dari HIV/AIDS. Pokoknya gue bercerita tentang hal-hal yang memang sudah akrab tapi sebenarnya bisa dilakukan untuk melindungi diri, misalnya saja dengan mencari informasi yang benar tentang HIV/AIDS. Setelah itu giliran audience yang diberikan kesempatan untuk bertanya pada gue. Boleh tanya apa saja, asalkan masih sesuai tema dan jika bertanya tentang Mika nggak ke hal yang terlalu sensitif/pribadi ;) Pertanyaan yang gue dapat beragam sekali dan semuanya sangat antusias. Well, sejauh ini gue memang blessed bertemu dengan teman-teman baru yang selalu antusias, tapi kali ini antusiasnya super sekali, hehehe. Ada yang bertanya tentang kegiatan gue di yayasan AIDS, ada yang bertanya tentang hal-hal mengesankan bersama Mika yang nggak diceritakan di film, ada juga yang bertanya tentang proses penulisan naskah dan lain-lain. Terlihat sekali ya mereka tertarik dengan banyak hal, salut :) Tentang Mika gue jawab bahwa ia istimewa bukan karena ia ODHA. Mika istimewa karena bagaimana cara ia memperlakukan gue dan tentu saja kepribadiannya. Karena menurut gue semua orang itu sama, apapun yang ia idap nggak perlu dijadikan label. Gue sebagai seorang scolioser (pengidap scoliosis) nggak mau hanya dikenal karena apa yang gue idap, dan gue yakin Mika juga begitu :)




Pengetahuan gue tentang HIV/AIDS sudah pasti masih kalah dengan Kak Taufik, tapi setiap ada yang bertanya gue selalu mencoba menjawab sebaik mungkin. Karena menurut gue nggak perlu jadi seorang expert untuk stop diskriminasi dan stigma. Mulailah memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan, siapapun itu. Dan untuk menjadi seseorang yang peduli dengan isu HIV/AIDS bukan berarti harus menjadi relawan di sebuah yayasan atau organisasi. Menurut gue dengan membantu menyebarkan info yang benar di kalangan kecil seperti teman atau keluarga sudah merupakan bentuk untuk menunjukan rasa peduli. Hal kecil jika dilakukan terus menerus tentu akan menjadi besar, kan? ;)

Setelah semuanya puas memberikan pertanyaan giliran gue dan Kak Taufik yang bertanya kepada audience. Untuk yang bisa menjawab pertanyaan kami dapat hadiah, lho. Hadiahnya adalah novel charity "Guruku Berbulu dan Berekor" karya gue (yang dibantu oleh beberapa volunteer) dan sebuah stiker dari Tiloe, event organizer yang menyelenggarakan acara ini. Pertanyaannya mudah-mudah, kok. Kak Taufik bertanya tentang hal apa saja yang bisa menularkan HIV/AIDS sedangkan gue bertanya tentang hal apa saja yang nggak bisa menularkan HIV/AIDS. Semuanya bisa dijawab dengan cepat, sampai-sampai hampir berebutan, hihihi. Eh, tapi ada lho satu pertanyaan yang cukup tricky, yaitu 'Apakah ODHA bisa memiliki anak yang negatif? Jika bisa bagaimana caranya?' Setelah beberapa audience gagal menjawab akhirnya ada juga yang berhasil. Congratulations! :D Btw, kalau-kalau diantara pembaca ada yang penasaran, nih gue kasih bocoran; ODHA bisa kok punya anak yang berstatus negatif :)

Acara ditutup dengan sesi foto dan book signing. Luar biasa sekali sampai akhir acara energi audience sepertinya sama sekali belum berkurang, hihihi. Sampai-sampai ada yang mengajak selfie segala :'D Oya, salut deh dengan mereka, soalnya selain antusias, open minded juga sangat helpful. Mereka sudah menyiapkan selembar kertas yang bertuliskan nama masing-masing, jadi gue nggak harus bertanya lagi nama yang ingin ditulis di buku yang akan ditandatangi. Simpel tapi manis sekali, hihihi :) Gue sangat senang dan bersyukur acara ini berjalan dengan sangat lancar (dan ramai, lol). Bisa berbagi ilmu dan mendapatkan teman-teman baru sungguh pengalaman yang berharga buat gue. Terima kasih banyak untuk Polban, Ray, Tiloe, Kak Taufik dari Rumah Cemara dan Homerian Pustaka yang membuat acara ini terwujud. Gue harap akan ada semakin banyak orang peduli bukan hanya karena ada saudara atau teman mereka yang mengidap HIV/AIDS. Peduli datangnya dari hati dan nggak pernah ada kata terlalu cepat untuk memulai :)





Sampai bertemu lagi, teman-teman! :)




keep fighting,

Indi

nb: 
*Senin, 1 Desember 2014 gue akan live interview di I-radio 89.6 FM Jakarta jam 5 sore. Jika kebetulan ada waktu luang, yuk stay tuned! ;)
*Minggu, 7 Desember 2014 film MIKA akan diputar di Taman Film Bandung (Terusan Taman Pasupati) pukul 4 sore. Gue dan D-100 Community akan hadir di sana. Yuk, kita nobar. Gratis! :)


_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Selasa, 27 Juli 2010

Plagiator Oh Plagiator...

It’s me, Indi :)



Halo aku Indi!
Hehehe, pernah ada yang penasaran nggak sih kenapa aku sering banget "mengenalkan diri" sebelum menulis sesuatu? Sebenernya sih alasannya sederhana aja. Ini kebiasaan sejak kecil karena di sekolah dulu aku bukan tipe anak yang dikenal. Dengan kata lain, "I'm no body".
Sejauh yang aku ketahui, nggak ada seorang anakpun yang ingin sepertiku. Aku tipe anak clumsy dan rada dorky. Setiap hari diantar jemput dan kalau jam istirahat duduk manis di kelas, bawa bekal makanan dan novel tebal (aku satu-satunya anak yang baca novel Harry Potter di SMP, hahaha). Banyak orang yang keliru panggil namaku. Harusnya "Indi", tapi malah jadi "Indri".

Jadi, suatu hari, waktu aku temuin ada orang-orang yang ingin sepertiku... Aku terkejut!


***

Waktu itu aku masih di tahun awal kuliah dan baru 1 tahun belajar jadi blogger. Aku punya 2 buah blog. Yang pertama "Dunia Indian Kecil" dan yang kedua "Dari Mika di Surga". Jangan bayangin blogku itu berisi kata-kata cerdas nan bermanfaat. Kedua blogku isinya cuma curahan hati pribadi yang sederhana dan apa adanya. Khusus di blog kedua, aku bercerita tentang Mika, pacarku semasa SMA yang meninggal dunia karena AIDS.
Aku senang menulis tentang Mika. Karena buatku dia lebih dari sekedar pacar, tapi juga pahlawan. Banyak pelajaran yang aku dapat dari dia. Terutama tentang "cinta tanpa syarat". Sederhana dan bikin aku berbesar hati sebagai seseorang yang "bukan siapa-siapa".

Tapi sayangnya surat-surat pribadiku untuk Mika yang dipublish di blog mulai diambil orang. Yang pertama, tanpa sengaja aku baca sebuah puisi dengan judul yang sama seperti postinganku. Karena nggak mau berburuk sangka, (I'm nobody remember? Nggak mungkin ada orang yang mau sepertiku) aku putusin buat baca puisinya secara utuh. Lalu, ah.. air mataku segera meleleh. Puisi itu sama persis seperti yang aku tulis. Setiap kata, setiap rima yang dipakai. Bedanya cuma nama "Mika" diganti menjadi "kamu".
Ya, aku sadar, aku cuma pemula yang karyanya masih biasa-biasa aja. Tapi aku menangis karena jerih payahku membuat puisi spesial untuk almarhum tersayang malah dipakai sama orang yang belum tentu merasakan apa yang aku rasain. Begitu tega. Begitu mudah dia mengcopy lalu paste sesuatu tanpa melalui proses berpikir...

Aku kebingungan dan nggak tau harus melapor kemana. Teman-teman bloggerku yang prihatin malah memaki-maki di blog sang plagiator. Aku kurang suka dengan cara itu, karena semarah apapun, aku nggak setuju untuk menggunakan kata-kata kasar yang malah menunjukan betapa "liar" dan "tidak tahu sopan-santunnya" seseorang.
Akhirnya, seorang teman--blogger senior-- memberikan no HP admin blog tersebut. Di hari yang sama aku langung SMS dan menceritakan semuanya. Butuh waktu berminggu-minggu sampai postingan itu menghilang dari blog si plagiat...


Ternyata kejadian itu bukan untuk terakhir kalinya. Di akhir taun 2008 aku dapat kabar gembira dari sebuah penerbit. Mereka berminat untuk menerbitkan novel pertamaku yang diberi judul "Waktu aku Sama Mika". Ya, itu adalah novel yang aku dedikasikan untuk Mika. Sangat spesial dan aku tulis dengan sepenuh hati.
Aku sangat excited menunggu novel itu terbit. Sampai-sampai setelah mendapat kabar kalau novelku siap terbit, aku langung googling sana-sini untuk cari tau (hihihihi, jadi malu). Dan ternyata memang betul, novelku sudah masuk list "coming soon" di website penerbitnya :)

Tapi semakin dekat ke tanggal terbit (waktu itu Maret 2009), aku menemukan sesuatu yang aneh di blog "seseorang" (he used to be my friend!). Awalnya aku pikir dia bikin tulisan untuk promosi novelku. Tapi ternyata dia pakai tulisan-tulisanku untuk ikut lomba!
Aku kaget, sekaget-kagetnya karena nggak nyangka tulisanku malah dipakai untuk sesuatu yang bersifat komersil. Aku coba untuk sabar dan mengingatkan dia secara halus. Aku bilang, lebih baik pakai karya sendiri karena kalaupun menang atau kalah nantinya, pasti rasanya lebih memuaskan daripada pakai karya orang lain.
Dan... Kalian tau apa balasannya?


"Enak aja nuduh gue plagiat! Gue tuh udah email lo buat minta izin, tapi nggak dibales. Lagian tulisan gitu doang dipermasalahin. Ogah gue minta maaf sama lo!"



Hmm, agak aneh ya jawabannya? Masa sudah jelas meniru tapi nggak mau disebut plagiat? Lagipula meminta izin tapi nggak dapat izin kan artinya memang nggak dapat izin. Itu sangat menyakitiku. Terutama di part "tulisan gitu doang". Karena seburuk-buruknya tulisanku, itu tetap hasil pemikiran otakku. Nggak sepantasnya dia bilang seperti itu. Kalau memang buruk, kenapa dia meniru coba?...

Kasus ini nggak ada ujungnya. Si teman entah kemana dan sampai detik ini dia nggak pernah minta maaf. Tapi setidaknya karya dia batal dilombakan. Oh, ya hanya untuk meluruskan imajinasi kalian. Mungkin kalian membayangkan kalau orang yang meniru karyaku ini masih remaja, ya? Salah! Dia hampir seumur dengan bokapku.


Novelku akhirnya terbit 1 bulan kemudian. Bangga rasanya waktu copy pertamanya dikirim ke rumah. Sampai-sampai aku buka halamannya pelan-pelaaaaan banget. Takut sobek, hihihihi.
Masih ada sedikit kekhawatiran ceritaku  dicopy orang lagi. Tapi dengan berbekal kontrak & ISBN, rasanya nggak mungkin masih ada orang yang bakal nekat meniru.

Tapi ternyata aku salah...
Lewat Facebook aku berkenalan dengan anak ini. Ya, anak. Dia masih SMA. Awalnya dia mengaku sebagai pembaca "Waktu aku Sama Mika". Lalu suatu hari, dia meminta izin untuk post kutipan dari novelku ke note'nya. Aku bilang nggak apa-apa asalkan dicantumkan aja sumbernya.
Minggu-minggu berlalu, aku hampir lupa kalau ada anak yang mau post tulisanku. Iseng-iseng ku intip page'nya. Dan... alangkah kagetnya aku karena dia bukan cuma "mengutip" tapi mempost 4 puisi untuh tanpa menyebutkan sumber. Lebih menjengkelkannya lagi, dia ganti nama Mika dengan nama lain yang menurut pengakuannya adalah nama dari mantan pacarnya yang sudah meninggal.
Sebagai manusia biasa, aku bisa berempati. Aku tau gimana rasanya kehilangan. Mungkin aja dia mau bikin sesuatu yang spesial untuk mantannya tapi nggak tau caranya. Tapi ini nggak bisa aku biarin. Anak itu mengaku kalau puisiku adalah karyanya. Jerih payah dia sendiri. Sampai-sampai di wall dan komen note'nya, dia sering sekali bilang, "Iya, itu karya aku. Aku memang suka nulis, tapi baru kali ini dipublish. Terima kasih ya sudah suka tulisan aku,"
What the... Oops, aku harus tetep sabar. Dengan bahasa sehalus mungkin aku kirim pesan sama dia. Isinya sederhana dan pendek, cuma meminta supaya di note ditambahkan nama penulis aslinya.
Tapi saudara-saudara... Tau apa yang aku dapet kemudian?
Dia remove dan block FB ku!
Beberapa teman dan pembaca yang prihatin turut menasehati anak itu. Yang didapat nggak beda jauh denganku. Pesan-pesan mereka dihapus dan mereka diremove. *sigh*
(Dasar anak zaman sekarang, ckckck... Lol)


Beberapa bulan lalu tulisanku juga dicopy sama seorang mahasiswa dari universitas terkenal berinisial "G". Setelah sebelumnya aku selalu menegur langung penjiplaknya, kali ini aku memutuskan untuk lebih serius (sudah 4 kali, lama-lama bikin kesel juga...). Aku laporkan anak ini ke polisi. Aku nggak peduli ditanggapi dengan serius atau nggak, yang penting aku mencoba.
Ternyata prosesnya cukup sulit dan berbelit-belit. Apalagi polisi sempet salah pengertian dan mengira aku ini siswa SMA yang tugas karangannya dicontek teman sekelas (Oh, come on!). Akhirnya karena nggak ada ujungnya aku langung menghubungi kampus tempat mahasiswa itu kuliah. Dua hari, akhirnya aku dapat tanggapan. Pihak kampus memohon maaf dan berjanji akan mencabut nilai untuk mata kuliah tertentu. Ternyata tulisanku dipakai buat tugas kuliahnya. Gosh...
Aku nggak mempermasalahkan lebih lanjut. Aku bilang nggak apa-apa selama nggak diulang lagi. Meskipun, ya... ada tulisan di bawah copy'an mahasiswa itu yang bikin aku agak bete. Katanya, "Jangan dicopy, yaaa... Karena itu namanya plagiat,"
*nah itu tau...*


Sebetulnya ceritaku nggak habis sampai di sini. Masih ada 1 kasus lagi yang mau aku ceritain. Tapi berhubung anaknya masih 13 tahun, jadi aku tunda dulu "tegurannya". Tapi bukan berarti aku cuek, lho. Aku cuma nunggu saat yang tepat aja. Lagian, dia blogger disini juga, kok. Siapa tau aja dia kebetulan baca tulisanku. Dan seandainya dia baca, aku mau sampaikan ini sama dia,

"De, makasih ya sudah baca novel 'Waktu aku Sama Mika'. Aku lihat blog kamu, sepertinya kamu pandai menulis. Tulisanmu bagus, halus dan bahasanya baik. Saranku, teruslah menulis, siapa tau bisa berguna untuk yang membaca.
Oh, ya makasih juga sudah post tulisanku di blog kamu. Tapi jangan kamu tambah-tambahkan, ya, dear? Mika itu memang ada. Dia pasti sedih kalau tau kamu tulis cerita yang nggak betul kaya gitu..."

Salam,
Indi


Ps: Bloggers yang baik. Aku selalu yakin jadi diri sendiri lebih baik daripada meniru. Meskipun tulisan aku biasa-biasa aja, tapi memang beginilah aku. Dan aku bangga dengan ini. Jadi diri sendiri itu indah. Aku rasa ini cara sederhana untuk memaksimalkan potensi yang diberi oleh Tuhan :)