Jumat, 18 Juni 2021

Scarlett Face Care. Apakah Sebagus Body Carenya? ;) (No Animal Testing Product)

Yuhuuuu, teman-teman! Happy banget dong aku sekarang lagi duduk di kamarnya si Ali (---iya, aku dan Shane membuat kamar untuknya di rumah kami) yang merangkap jadi kamar kerjaku buat menulis di blog! Haha xD Aku pernah cerita kalau salah satu resolusi tahun 2021 ini untuk kembali aktif di blog. Yang ingin diceritakan sih banyak, tapi yang susah itu justru mengumpulkan tekad :') Makanya aku merasa ini sebuah prestasi karena sejak masuk tahun 2021 bisa rutin menulis satu bulan sekali di sini. Yang absen hanya bulan Februari saja. Aku lupa alasannya, tapi kayanya karena aku dan Shane lumayan lama menginap di rumah orangtua, deh. Kalau menginap aku memang sengaja nggak bawa laptop, biar bisa fokus makan masakan Ibu :p Maunya sih nanti ditinggkatkan jadi sebulan dua kali, lalu tiga kali, dan... seterusnya sampai bisa kembali lagi seperti dulu. Soalnya apa pantas mengaku hobi menulis tapi menulisnya saja jarang? *sentil diri sendiri. Kondisi kulit aku sempat menurun lumayan banyak, dan sebabnya bukan sekedar aging yang amat sangat wajar dialami manusia. Tapi juga gaya hidup! Duh... semenjak WFH tahun kemarin aku dan Shane kerjaannya delivery order melulu. Awalnya sih dengan alasan biar nggak banyak cucian dan bagi-bagi rezeki sama abang G*food, eh ujung-ujungnya malah kebanyakan pesan vegan junk food. Belum lagi tiap break kerja aku cuma rebahan atau ngemil, sementara Shane mojok dengan gamenya. Apa itu ngegym? Duh, lupa, hahaha. Kesannya kaya sepele, tapi kebiasaan kaya gini bikin kulitku lama-lama bermasalah. Pipi yang dulu jadi bagian wajah paling mulus sekarang mulai jerawatan (---ya iya lah, orang seharian nempel di bantal melulu, hiks). Kening dan garis rahang juga sama nggak amannya. Muncul bruntusan kecil-kecil yang kalau tersentuh agak keras, ampuuuun perihnya. Pokoknya aku sampai curhat sama Shane, kok nggak fair ya kulit dia tetap mulus meski jarang mandi dan makan "sampah", sementara aku  langsung porak poranda, bhahahahaaa x'D


Untuk kulit tubuh sih nggak gitu kentara ya, dan seperti yang pernah aku ceritakan di post sebelumnya, aku sudah menemukan solusi dari kulit belang plus bekas luka di sikutku. Sekarang tinggal kulit wajahku, nih. ---Oh iya, keinginan aku untuk merawat kulit bukan semata tentang look, ya. Tapi karena aku ingin memperbaiki kesehatan kulitku yang memburuk. Salah satu bentuk self love, ---aku sadar kemarin sudah abai ;)


Akupun mulai mencari-cari face care yang cocok untuk kulit berjerawat. As always sumber pencarian utamaku dari internet dan dari teman-teman sendiri yang punya masalah kulit yang mirip. Aku mencari rekomendasi dan membaca review berbagai produk supaya ada gambaran. Nah, di tengah pencarian tiba-tiba aku menemukan brand yang sudah sangat familiar (aku pakai body carenya!), yaitu Scarlett. Awalnya aku pikir salah baca atau malah ini ada brand yang namanya mirip-mirip. Tapi setelah baca reviewnya sampai tuntas, aku yakin ini memang Scarlett yang aku kenal! :D Happy banget dong aku. Biasanya kan kalau dari brand yang sama kualitas produknya juga bakal sama. Langsung saja aku mampir ke akun instagram official Scarlett dan lihat-lihat produk face carenya. Ternyata mereka punya produk baru dalam bentuk krim wajah, serum dan facial wash. Lengkap banget! Dan kerennya ada dua varian, yaitu acne dan brightening. Jadi bisa dipakai sesuai dengan kebutuhan kulit wajahku.


Nggak pakai nunggu lama, aku langsung saja order Scarlett Acne Day and Night Cream sekaligus dengan Brightening Facial Washnya. Harga per produknya Rp. 75.000, ---yang menurutku sangat terjangkau (mengingat brand ini bagus tapi affordable, nilai plus banget kan). Aku order dari Shopee Mall nya, Scarlett Whitening Official Shop. Ini membantu banget karena di sana aku bisa lihat foto produknya sekaligus daftar kandungan dan cara pakainya. Lengkap dan bikin yakin nggak salah milih produk yang cocok buatku. Tahu dong aku kadang suka agak canggung kalau harus nanya-nanya, jadi mendingan baca deh, hehe. Selain dari Shopee Mall kita juga bisa order lewat Line @scarlett_whitening dan WhatsApp di 087700353000, lho. Jadi kalau nggak punya akun Shopee pun bisa tetap mudah berbelanja. Yay :D


Waktu paketnya datang, aku langsung nggak sabar untuk buka dan coba semuanya. Berasa bocah yang lagi ultah xD Isinya aman sentosa, nggak ada bocor atau bahkan penyok (iya, termasuk dus-dus kecil buat creamnya juga). Tadinya aku sempat khawatir kalau facial washnya bakal bocor, soalnya waktu lihat fotonya di Instagram kemasannya pakai botol flip top gitu. Eh, tapi ternyata nggak sama sekali. Di bagian kepala botolnya dililit pakai bubble wrap. Kesan pertama waktu lihat secara langsung packaging produk-produknya aku langsung "aww" ing, ---cute parah dong! Hahaha. Warna-warnanya aku banget, ungu dan pink gitu. Langsung kebayang bakal cocok banget di pajang di meja riasku. *Lho kok?? xD





Terus soal kualitas produknya gimana? Ternyata sesuai ekspektasiku, dong, bagus banget :') Bakal panjang kalau diceritain, pokoknya belum 2 minggu sudah terlihat perkembangan dan bikin aku kembali pede untuk berfoto dari dekat lagi :') ---Eh, tapi kayanya mending aku review lengkap saja kali, ya? Siapa tahu ada yang sedang mengalami masalah kulit yang sama denganku. Toh aku juga tahu Scarlett dari review blogger kan awalnya, hehehe.




Scarlett Brightening Facial Wash

Jujur dari awal si facial wash ini lah yang paling menarik perhatianku. Soalnya packagingnya ramping dan unik gitu. Isinya 100 ml di botol flip top yang aman (pernah aku masukkan pouch untuk menginap dan ternyata nggak tumpah kok sampai tujuan). Dari luar sudah terlihat isinya yang kelihatan cantik dan mewah. Gimana enggak, dilihat sekilas saja langsung ketahuan ada rose petal di dalamnya. Bikin penasaran seperti apa rasanya kalau dipakai! Waktu aku tuangkan ke tangan yang pertama aku notice itu aromanya. Lembut dan sweet banget, bikin moodku jadi bagus, hehe. Teksturnya nggak sekental yang aku kira (---aku pikir bakal seperti gel gitu). Agak cair dan ada butiran-butiran gel yang lembut gitu. Rose petalnya bikin gemeees. Aku nggak langsung dapat di pemakaian pertama, tapi sekalinya dapat langsung bikin penasaran dan pengen mainin dulu, hahaha. 




Jadi di Scarlett Brightening Facial Wash ini terdapat kandungan glutathione, vitamin E, rose petals dan aloe vera. Manfaatnya untuk kulit adalah untuk membantu mencerahkan, membantu menutrisi serta mengecilkan pori-pori di wajah, membantu mengontrol kadar minyak berlebih, membantu menghilangkan bruntusan/jerawat dan membantu meregenerasi kulit wajah agar tampak lebih fresh. ---Yup, sangat cocok dengan keadaan kulitku, kan :')



Baru kali ini aku pakai facial wash yang punya efek nenangin. Waktu aku aplikasikan ke wajah, aromanya enak banget. Dan lembut banget juga! :') Lagi jerawatan dan bruntusan gini kulitku jadi terasa sensitif, kena sarung bantal saja nggak nyaman apalagi waktu cuci muka, kan. Tapi ini tuh nggak sakit sama sekali, yang ada malah terasa segar. Tipe kulitku ini sebenarnya kombinasi, di kening dan dagu (hampir) selalu berminyak, tapi ada spots keringnya juga di bagian pipi akibat gesekan dari pemakaian kacamata selama belasan tahun. Nah, sehabis cuci muka pakai Scarlett facial wash kulitku langsung terasa lembap, termasuk di tempat yang biasanya kering. Lembap lho, ya bukan berminyak. Jadi terasa terhidrasi gitu, ---halus, kenyal. Bikin aku mikir jangan-jangan selama ini aku salah milih facial wash ya? Buktinya ini bisa kok dry spots aku terasa halus. 


Nyaman waktu lagi jerawatan dan bruntusan buatku adalah suatu kemewahan, hahaha, dan yes, Scarlett facial wash berhasil menenangkan wajahku yang lagi ngambek ;)


Scarlett Acne Day Cream

Jujur nih, ini baru kali pertama aku pakai cream wajah yang ada day and night nya. Biasanya sih aku pakai cream yang sama baik siang atau malam. Soalnya dulu goal aku cuma supaya kulit jadi lembap. Tapi pas jerawatan gini baru terasa kalau aku harus perlakukan kulit wajah dengan sedikit ekstra :') Scarlett Acne Day Cream ini dikemas di jar 20 gr. Pas banget lah nggak terlalu besar tapi juga nggak yang mungil-mungil banget. Warna labelnya ungu, sama dengan night creamnya. Bedanya yang day cream ini ada variasi warna putihnya. Jadi gampang buat dibedakan, nggak mungkin tertukar. 




Kandungannya Scarlett Acne Day and Night Cream ini terdiri dari CM Acnatu, poreway, double action salicylic acid, natural vitamin C, natural squalane, hexapeptide-8, aqua peptide glow dan triceramide. Yang semuanya itu bermanfaat untuk melembabkan dan menghidrasi kulit, menyamarkan pori-pori dan garis halus pada wajah, juga membantu meredakan peradangan jerawat dan menyembuhkan jerawat. 


Soal peradangan ini nih yang bikin aku concern. Seumur-umur belum pernah rasain punya jerawat sampai meradang gini :') Bikin kepikiran, huhu. Aku pakai Scarlett day cream ini setelah mandi pagi dan mencoba nggak sering-sering ngecek cermin (---selain kepikiran, aku juga gemes pengen mencetin). Ternyata efek creamnya langsung terasa, dong. Jerawatku memang nggak langsung kempes, tapi merahnya berkurang banyak. Aku sampai bilang sama Shane kalau ternyata ada harapan buat jerawatku, hahaha. Tekadku untuk memperbaiki pola hidup (termasuk rajin mandi, lol) jadi semakin bulat. Aku bilang sama diri sendiri, "Indi, pasti bisa! Please cuci muka minimal 2 kali sehari dan pakai creamnya. Pasti mulus lagi!" xD




Tapi memang si Scarlett Day Cream ini bikin semangat lho. Begitu jar dibuka ada scent yang bikin aku awake dan pengen buru-buru oleskan creamnya di wajah. Aku nggak bisa jelasin kaya apa scentnya, yang pasti memang cocok buat pagi/siang hari. Oya, tekstur day cream ini bukan yang berat gitu, jadi benar-benar ringan. Bahkan hampir cair gitu, yang kalau jarnya digoyang-goyang creamnya bakal ngikut (---apaan sih, ahahaha). Dan itu aku suka banget karena aku kurang suka kalau wajah terasa berat. Jadi kalau harus keluar rumah dan ngerasa kepengen bedakan (jarang-jarang :p ), nah Scarlett Day Cream ini sama sekali nggak bikin lengket atau berasa pakai topeng :)


Scarlett Acne Night Cream

Setelah pakai night cream ini nih, aku jadi ngerti kenapa siang dan malam cream wajahnya harus beda. Dari scent dan teksturnya saja sudah beda. Yang ini scentnya lebih soft daripada day cream, cocok banget buat menjelang tidur, hahaha. Teksturnya lebih thick, tapi sama-sama nggak lengket dan bikin kulit terasa berminyak. Lembap saja gitu. Pas aku bangun tidur ternyata efek lembapnya nggak hilang. Kulit rasanya lembut dan kenyal. Efek seperti ini nih aku belum pernah rasakan di cream wajah terdahulu. Jadi jujur aku surprised, nggak nyangka bakal seenak ini efeknya x'D Menurut analisa sotoyku, mungkin saja alasan kenapa tekstur night cream lebih thick daripada day cream supaya bisa "mengunci" kelembapan lebih lama. Soalnya kan kita tidur bisa sampai 8 jam sehari (---kecuali Shane yang bisa 11 jam, hahaha) dan selama itu pula kita nggak bisa apply ulang creamnya. Eh, tapi entah deh, yang pasti aku suka banget. Aku tidur dengan AC menyala tiap hari dan kulitku aman-aman saja :D






Conclusion

AKU COCOK BANGET pakai rangkaian face care Scarlett! *mo nangis. Kulit wajahku benar-benar membaik selama hampir 2 minggu ini. Bruntusan hilang sama sekali. Kening dan garis rahangku sudah nggak bertekstur lagi. Padahal tadinya aku sampai pesimis nggak bisa hilang lho. Jerawat yang tersisa tinggal 2 dan lumayan besar, di garis rahang kanan dan pelipis kiri. Mudah-mudahan sih minggu ini hilang, soalnya aku harus kondangan, hahaha. PR ku sekarang tinggal hilangin bekas noda jerawatnya. Aku janji bakal berusaha rutin pakai Scarlett face care. Semalam apapun aku sampai rumah, sederas apapun hujan di luar sampai bikin mager, aku HARUS cuci muka pakai Scarlett brightening facial wash terus dilanjutkan dengan acne day and night creamnya xD Kalau tiba-tiba malas, aku ingat saja kalau menderitanya pas jerawat aku masih meradang, hahaha.


Sampai sejauh ini nggak ada alasan bagiku untuk berpaling dari Scarlett. Soalnya sudah teruji bebas merkuri dan hydroquinon, teregistrasi BPOM, dan tentu saja nggak diujicobakan pada hewan. Bikin hati nggak was-was, kan? ;)





Kalau teman-teman gimana nih? Adakah yang punya masalah kulit berjerawat juga semenjak WFH? Sudah coba pakai Scarlett face care? Semangat terus ya untuk para acne fighter supaya kulitnya kembali sehat. Pasti bisa! ;)


smile,


Indi








Selasa, 18 Mei 2021

Traktiran yang Gagal :D

Teman-teman, ada yang merasa jenuh karena "belum bisa kemana-mana" kah?

Jujur, meski aku tipe orang yang bisa menikmati waktu di rumah tapi terkadang ada rasa jenuh dan "stuck" datang juga. Meski mall, kantor dan banyak tempat umum lainnya sudah dibuka tapi tetap sih aku merasa vibesnya beda. Aku rindu hal-hal kecil macam ngemall pulang kerja, sekedar makan di kantin sehabis menjemput Ali atau bahkan bolak-balik dari rumahku dan Shane ke rumah Ibu-Bapak tanpa takut "menyakiti" mereka. ---Terutama Bapak, karena usianya sudah di atas 60 tahun. Amit-amit deh kalau aku dan Shane tanpa sadar menjadi carrier :S Jadi untuk sekarang ini kami masih setuju dengan sesedikit mungkin keluar rumah. 


Seperti yang teman-teman tahu (---kalau mengikuti blog ini, hahaha), terakhir kali aku dan Shane pergi agak jauhan dan agak lamaan ya bulan Oktober tahun lalu. Itu pun karena anniversary pernikahan kami. Seandainya nggak ada yang dirayakan, tentu kami nggak akan kemana-mana. Awal tahun 2021 melihat teman-temanku liburan bareng keluarga atau teman-temannya membuat hatiku hampir goyah, ingin rasanya berlibur juga. Tapi aku tahan-tahan. Karena awal tahun rasanya waktu yang "paling buruk" untuk meninggalkan rumah. Kerumunan di mana-mana, banyak orang mudik, dsb...

Sampai akhirnya bulan Maret kemarin aku utarakan juga keinginanku sama Shane. Aku butuh liburan, aku butuh menghabiskan waktu dengan keluarga di tempat "baru", bukan sekedar makan-makan di rumah lalu nonton TV seharian. Aku butuh, bukan hanya ingin. Satu tahun rasanya sudah cukup, ---I deserve it, Ibu Bapak deserve it too. Kami BOLEH bersenang-senang di luar rumah dan aku yakin ini waktu yang tepat. Rasanya dada seperti hampir meledak karena akhirnya mengeluarkan perasaan yang sudah kelamaan aku tahan, hahaha. Dan... Shane juga ternyata setuju.


Aku juga punya satu keinginan lagi. Aku ingin staycation kali ini (---karena masih di Bandung juga liburannya) aku yang bayar. Semenjak menikah segalanya selalu dari Shane. Iya, aku mengerti bahwa uang suami adalah uang istri juga. Tapi sesekali aku ingin dong memberi dari kantongku sendiri, ---meskipun nggak seberapa. Meski sempat ragu, Shane akhirnya mengerti dengan keinginanku. Segera aku kabari Ibu dan Bapak, dan mereka senang sekali :) Mereka juga sudah rindu untuk bersenang-senang bersama kami, tentu saja. Aku jelaskan bahwa staycation ini murni ideku, dengan budget yang nggak banyak. Ada rasa khawatir mereka nggak akan menikmati kamar hotel sederhana dan suasananya. ---Terutama Shane yang sejauh ini belum pernah menginap di hotel di bawah bintang 4. Tapi mereka meyakinkanku kalau kami semua pasti akan bersenang-senang, dan itu bukan tergantung tempat. Aku pun menjadi lega dan nggak sabar untuk segera pergi bersama mereka!


Ada 3 pilihan hotel yang sesuai dengan budgetku. Ketiganya nggak terlalu jauh dari rumah kami dan rumah orangtua. Aku biarkan Ibu yang memilih karena inginnya sih selain menginap kami juga bisa sedikit jalan-jalan. Pilihan Ibu jatuh ke POP Hotel yang berada di Festival Citylink. ---Iya, di dalam mall! Hahaha, ide bagus juga, jadi kami nggak perlu jauh-jauh dari tempat menginap kalau mau main :D Waktu aku cek foto-foto kamar hotelnya di internet sebenarnya agak ragu, sih. Soalnya baru kali ini lihat kamar hotel yang begitu plain dan fasilitasnya "seadanya". Bahkan Shane sempat bergurau kalau kamarnya terlihat seperti sel tahanan, hahaha. Tapi aku mengerti kok, namanya juga hotel budget. Kalau nggak suka ya salah aku dong kenapa nekat mau bayar sendiri :p Jadinya sehari sebelum kami menginap aku berdoa terus semoga semuanya happy. Jangan sampai niatku mau ngajak senang-senang malah jadi sebaliknya :D


Supaya perginya bareng-bareng, Ibu dan Bapak menjemputku dan Shane di rumah kami. Ali juga ikut karena dia memang sering menghabiskan waktu dengan orangtuaku (---semacam anak bungsu lah dia jadinya, hahaha). Sempat ada "insiden". Karena aku sudah siap, jadi aku turun duluan ke lobby (kami tinggal di apartemen) untuk menunggu jemputan ortu. Eh, waktu Shane turun dia cuma bawa badan doang dong! Nggak bawa tas atau apalah. Dia cuma pakai kemeja yang didouble, ---yang warnanya sudah dia sesuaikan dengan dress yang aku pakai. Mau ngambek tapi kocak juga, bhahaha. Apalagi ortu sudah terlanjur jemput, lama lagi kalau naik ke atas jadi sudah lah xD Shane masih belum ngeh kalau hotel yang mau kami inapi nggak menyediakan amenities seperti hotel pada umumnya. Ya... ada sih sabun mandi kecil sebatang, sikat gigi juga cuma satu. Masa mau dipakai berdua? Hahahaha xD


Ketika tiba ternyata benar, hotel berada di satu gedung dengan mall. Tampilan lobbynya berwarna-warni dan simple. ---Lebih mirip warnet sih kalau dibandingkan lobby hotel. Ada dua buah komputer yang bisa dipakai umum dan banyak meja-kursi model kafetaria. Benar-benar "lain", dan aku excited sekali untuk melihat kamar hotelnya!

Sengaja, aku minta agar kamar orangtua bersebelahan dengan kamarku dan Shane. Supaya kalau mau apa-apa mudah. Aku dan Shane antar dulu Bapak dan Ali ke kamar mereka, ---sementara Ibu pulang kembali ke rumah karena masih ada pekerjaan dan menyusul kemudian. Persis seperti di gambar, desain kamar sangat simple dan amenitiesnya sangat terbatas (satu buah kasur besar plus ekstra bed tapi hanya ada perlengkapan mandi untuk satu orang). Tapi melihat reaksi Bapak dan Ali kekhawatiranku 100% sirna! Mereka benar-benar gembira. ---Terutama Ali yang langsung sibuk mengecek semua benda di kamar. Dari mulai lampu, TV, sampai kamar mandi, hahaha. 


Bapak dan Ali bersantai setelah tiba di kamar hotel.

Foto bersama yang kami ambil menggunakan timer. Handphone kami senderkan ke wastafel, hahaha.


Aku dan Shane lalu pamit untuk ke kamar kami yang tepat berada di sebelah kanan kamar Bapak. Isinya sama, tentu saja. Yang berbeda hanya letak furniturnya saja yang berlawanan (mirroring dengan yang di kamar Bapak). Dan... di sinilah kami baru ngeh kalau ada yang kocak dengan desain kamar mandinya. Saking kocaknya aku sampai kembali ngakak waktu menulis ini xD Jadi kalau biasanya di hotel ada kamar mandi dalam artian sebenarnya (benar-benar KAMAR), nah di sini modelnya seperti kapsul. Hanya berdinding kaca dengan pintu dorong! Ya, kalau di kamar sendiri nggak apa-apa lah ya. Tapi kalau seandainya menginap dengan teman, aku sih ogah pas lagi mandi teman bisa lihat siluet badanku, hahaha. Aku sempat rekam Shane yang sengaja joged-joged gitu di kamar mandi, buat buktiin kalau orang di luar memang bisa lihat dia dengan jelas xp (Vlog ada di channel YouTube "Indi Sugar Taufik").


Matching outfit kami. Shane benar-benar cuma bawa baju yang nempel di badan, dia rangkap 2 kemeja sekaligus xD

Aku dan Onci, boneka kelinciku. Kami gak terpisahkan sejak aku berusia 8 tahun.


Berada di satu gedung dengan mall manfaatnya baru terasa saat malam tiba. Perut lapar nggak perlu khawatir karena tinggal jalan saja ke supermarket :D Di hotelnya sendiri memang nggak banyak pilihan makanan. Semuanya modelan ready to eat gitu yang disajikan di dalam kotak. Gak bisa customize jadi tentu saja nggak cocok untukku dan Shane yang vegan. Bapak pun memilih untuk makan malam dari luar saja. Yang beli makanan dari hotel cuma si Ali, hahaha. Dia kepengen es krim yang ternyata waktu aku cek harganya di supermarket (yang jaraknya literally beberapa langkah saja) cuma setengah dari harga yang dibayarkan, hahaha. Aku sih nggak makan berat, karena selain nggak lapar-lapar amat, Shane juga sedang sakit kepala. Jadi kami memilih untuk kumpul-kumpul lagi di kamar Bapak sambil ngobrol ke sana-ke mari. Duh, rasanya kepengen nangis saking happynya. Rasanya masih kaya mimpi bisa main sama keluarga di tengah pandemi kaya gini. Pokoknya tiap detik aku nikmati banget. Ngantuk juga aku tahan-tahan, soalnya entah kapan lagi kami bisa main bareng di tempat umum :')


Sekitar jam 9 malam, aku dan Shane kembali ke kamar kami. Aku sih langsung cuci muka dan ganti baju pakai piama sementara Shane cemal-cemil sambil bersantai di tempat tidur. TV menyala, dan ada beberapa film yang kami sukai. Tapi gak benar-benar kami tonton sih karena lama-lama mengantuk juga, hehehe. Kesan seperti sel tahanan ternyata nggak terasa setelah kami benar-benar menghabiskan waktu di kamar. Kebersihannya cukup bagus dan tempat tidurnya terasa nyaman. Kami pun nggak ada masalah untuk terlelap seperti bayi :) 

Oh, by the way, ternyata niat aku untuk "staycation kali ini disponsori oleh AKU" digagalkan oleh Ibu Mertua, hahaha. Sepertinya Shane diam-diam bilang sama ibunya kalau kami sedang berada di hotel. Soalnya beliau tiba-tiba saja bilang kalau kami boleh menggunakan kartu kreditnya untuk membeli apa saja yang kami mau :/ Aduuuh, rasanya jadi campur aduk, deh. Antara "malu" karena aku kekeuh banget pengen liburan, sama senang karena punya mertua murah hati, hahaha.


Tapi yang namanya orangtua memang begitu, deh. Bapak saja yang sudah jelas tahu kalau aku SANGAT ingin mentraktirnya tetap saja berusaha menyelipkan uang ke tanganku saat akan mengajak Ali makan es krim. Huaaa, bikin terharu T_T Padahal aku sama Shane juga nggak muda-muda amat. Lah, yang seumurku sudah punya cucu saja ada :p Maaf nih kalau pembahasannya jadi ngelantur-lantur... Sejak hari pertama aku dan Shane menikah kami memang bertekad untuk hidup mandiri. Langsung move out dan memiliki rumah sendiri meskipun super mungil. Sebisa mungkin kalau ada apa-apa berusaha berdua dulu sebelum meminta bantuan orangtua (---baik ortuku atau mertua). Kadang aku merasa kalau mereka terlalu khawatir sama kami. Khawatir lapar lah, atau khawatir nggak pernah belanja lah. Padahal kaminya nggak kenapa-napa :') 


Anyway, kami tidur nyenyak. Kabarnya sih si Ali baru tidur tengah malah saking senangnya, hahaha :D Kami nggak sarapan di hotel dan memilih membeli sendiri saja. Aku mandi juga akhirnya, meskipun kesyel banget karena pintunya transparan :p Shane sih memilih menggosok gigi saja dan mengganti kemejanya dengan yang (again) match sama dressku. Dari wajahnya dia kelihatan lebih segar, yang mana bagus karena artinya sakit kepalanya sudah membaik. Ibu membawakan kami obat sih sebenarnya, tapi Shane nggak mau minum obatnya karena takut terlalu sering. Tadinya aku sudah deg-degan saja kalau dia sakit, ---bisa-bisa liburan kami gagal. (Segagal traktiranku, lol).




Morning selfies, sambil menunggu Shane yang sedang siap-siap :)


Dari kemarin Ali sudah request untuk berenang dan bermain di Kids Club, tapi batal karena fasilitas hotel tutup lebih cepat dengan alasan keamanan. Jadi kami beramai-ramai ke kolam renang yang letaknya ternyata berada di Hotel Harris (---mereka satu management, dan POP nggak punya kolam renang sendiri). Yang nyemplung cukup Ali. Sisanya menunggu di pinggir kolam. Kenapa? Ya iyalah, masih pagi dingin banget kan xD Ali meski gemetaran tetap saja semangat ciprat-ciprat. Mungkin karena dingin dia jadi lupa caranya berenang, haha. Nggak apa-apa, ya, yang penting happy :) Nggak terasa matahari semakin naik. Yang tadinya kedinginan lama-lama kami malah ingin berlindung dari teriknya matahari. Untung ada area untuk berteduh dan duduk-duduk. Kami istirahat dulu di sana sebentar sebelum ke Kids Club, ---yang rupanya kosong melompong. Mungkin karena sedang pandemi jadi tamu hotel lebih memilih di kamar saja. Ali cuma menghabiskan waktu sebentar saja di sana, lalu kami kembali ke kamar hotel sambil berpikir mau ngapain lagi :D






Ali dan Bapak menikmati kolam renang berdua saja :D


Kids Club yang serasa milik Ali sendiri, hahahaha.



Lumayan banget, lho. Meski hotelnya sederhana tapi ada area terbuka buat duduk-duduk gini. Bapak seneng banget di area ini :)


Seperti kemarin, kami ngumpul-ngumpul lagi di kamar Bapak. Ngemil-ngemil, mulai beres-beres sambil menunggu Ibu yang sedang ke Panti Asuhan untuk Jumat Berkah. Perut aku sudah lumayan lapar (lagi), tapi belum tahu mau makan dimana. Jam 10 pagi restoran di mall juga belum banyak yang buka, jadi pilihan mungkin terbatas. Akhirnya kami putuskan untuk check out awal saja begitu Ibu datang. Soalnya memang sudah nggak ada aktivitas lagi yang bisa dilakukan di hotel. Pilihan Ibu memang nggak salah ya, kami jadi nggak mati gaya karena bisa jalan-jalan ke mall, hehehe. Eh, tapi bukan berarti di hotel membosankan lho. Ini pendapat pribadiku, yang 100% jujur. Kalau bisa kasih nilai, aku kasih POP Hotel ini 4 dari 5 bintang! Desain boleh sederhana dan wifi sering macet, tapi kamarnya nyaman dan bersih. Untuk teman-teman yang ada rencana ke Bandung dan on a budget tapi mau tetap nyaman, aku rekomendasikan hotel ini (---catat, bukan untuk yang suka dengan "kemewahan" hotel pada umumnya ya, ini hotel murah). Nggak endorse lho aku, ini murni pendapatku xD


Setelah checkout sambil menunggu Ibu. Ali langsung angkat kamera seperti ini ketika tahu akan aku foto. Katanya dia mau foto juga :D


Kalau mau ngikut budgetku, seluruh keluarga paling aku traktir pizza, lol. Tapi Shane bilang supaya aku bilang sama orangtuaku untuk memilih restoran yang mereka suka. Mall masih sepi banget, dan ini jadi punya sisi baik karena artinya kami lebih leluasa memilih. Mau pilih apapun bakal berasa punya pribadi, hehe. Ortu tentu menyerahkan pada kami karena mereka ingin tempat yang netral, yang punya menu ramah vegan dan punya pilihan non vegan juga. Akhirnya kami memilih Ta Wan, yang hanya ada menu vegetarian tapi lumayan lah masih bisa special request agar jadi vegan :) Ajaibnya, setelah 2 hari 1 malam bersama, justru moment di restoran inilah yang menurutku menjadi highlight staycation kami. Suasana begitu hangat dan menyenangkan. Karena sambil makan masker pun ditanggalkan, dan berbincang sambil saling menatap wajah-wajah yang aku cintai rasanya luar biasa sekali. Aku sampai lupa kalau keadaan sedang nggak baik-baik saja. Aku merasa ini adalah moment ternormal yang aku rasakan semenjak tahun lalu. Kalau ada kata untuk "amat sangat bahagia, bahkan lebih bahagia dari bahagia", maka itulah yang aku rasakan.


Sambil menunggu pesanan kami datang semua, kami minta tolong untuk diambilkan foto bersama :D


Selesai makan aku sadar kalau waktunya berpisah semakin dekat. Tapi ternyata Shane mengajak kami berbelanja dulu. ---Lagi-lagi ada pesan dari Ibu Mertua yang berpesan agar kami membeli apa yang kami inginkan :') Mumpung sedang di mall katanya. Meski rasanya nggak enak, karena semakin gagal lah traktiranku (ini malah aku yang ditraktir terus, hahaha) tapi deep inside aku senang karena jadi punya waktu lebih lama lagi buat jalan-jalan keliling mall sama Ibu, Bapak dan Ali :"D 

Klasik, tapi benar adanya. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Mau dilama-lamain kaya apa juga kami harus pulang ke rumah masing-masing T_T Karena Ibu yang membawa mobil, jadi aku dan Shane diantarkan dulu ke rumah kami. Hanya sampai lobby dan rasanya jadi "dadah" terberatku sepanjang sejarah (---maaf lebay, hehe). Waktu kami naik ke atas rasanya masih surreal, kaya nggak nyata saja gitu. Untuk dua hari rasanya hidup kami normal kembali. Dan ini membuat hatiku sedikit mencelos. Kapan ya kami bisa benar-benar seperti ini tanpa harus menunggu moment istimewa? Karena meski sudah satu tahun tetap saja kami nggak bisa (dan nggak mau!) terbiasa dengan kehidupan yang seperti ini. Kami kangen "hidup lama" kami. 


Ah, tapi aku nggak mau kerinduanku mendistraksi aku dari rasa syukur. Mau seperti apapun keadaan dunia saat ini, nggak akan mengubah fakta kalau 2 hari yang kami habiskan bersama sangat LUAR BIASA. 

Meski aku gagal mengtraktir!

Karena setelah dipikir-pikir aku malah sangat bersyukur. Kalau saja Ibu Mertua nggak maksa traktir pasti waktu bertemu kami lebih singkat. 


Everything happen for a reason ;)


Vlog kami. Jangan lupa nonton ya :) Untuk pengguna mobile klik di sini.


Edit: Berhubung ada 2 komentar yang bilang kalau kolam renangnya nggak besar (—-karena sebelumnya aku hanya post bagian kiddy pool). Tuh, aku sudah tambahkan foto kolam renang yang mudah-mudahan bisa jadi gambaran sebesar apa ukuran sebenarnya xD Lumayan besar kok ini, sesuai saja dengan kapasitas tamu hotel yang nggak terlalu banyak ;)


blessed girl,


Indi

---------------------------------------------------------------

Kontak email: namaku_indikecil@yahoo.com | Facebook: Indi Sugar | Instagram/Twitter: Indisugarmika | YouTube: Indi Sugar Taufik

Selasa, 27 April 2021

Scarlett Whitening, Not tested on Animals, Halal, —-Kira-kira Sebagus Apa, ya? ;)

Yuhuuuu, gimana nih puasanya, teman-teman? :D Nggak terasa ya tahu-tahu sudah Ramadan. Padahal rasanya baru kemarin aku cerita tentang tahun baru. ---Eh, itu sih gara-gara aku nya saja yang sering absen cerita, ya :p Kebanyakan absen sampai-sampai waktu aku cek kolom komentar di postinganku kemarin, banyak yang baru tahu kalau aku sudah menikah. Astagaaa, sudah masuk tahun ketiga iniiiih, hahaha. Maafkan :p Salah satu goalsku tahun ini adalah supaya balik rajin menulis lagi di sini. Masih angin-anginan, tapi aku janji nggak bakal terlalu manjain kebiasaan "mager" ku. (Buat teman-teman silakan banget lho kalau mau sentil aku secara online kalau tiba-tiba semangatku kendor lagi, hahaha)
Tapiiiiii, ada lho salah satu resolusi tahun ini yang sudah mulai jalani dan sudah mulai kelihatan hasilnya. Aku mau punya kulit lebih sehat! Yang mengikuti aku di instagram mungkin tahu lah ya kalau sejak tahun kemarin aku mendampingi Ali les berenang. Kulitku jadi belang dong, terutama bagian lengan :') 

Jadi sejak awal tahun 2021 aku langsung mencari-cari body care yang pas. (Ya, siapa tahu pas Lebaran kulitku sudah mendingan gitu, hoho). Nggak cuma yang "sekedar" bisa bikin kulitku cerah dan kelihatan fresh, tapi aku juga secara spesifik mencari produk yang nggak diujicobakan sama hewan. Ya masa dong aku sudah nggak mengkonsumsi hewan tapi tetap menyakiti hewan demi cantik :') Akhirnya pilihanku jatuh kepada Scarlett Whitening. Selain yang sudah aku sebutkan barusan, pertimbangan lainnya juga karena sudah banyak yang mereview. Bahkan temanku (haloooo Angie!) juga pakai, jadi setelah sedikit tanya-tanya aku mantap semantap-mantapnya untuk ikutan pakai Scarlett.



Aku pesan melalui Instagram officialnya, @scarlett_whitening. Tiga produk sekaligus, yaitu body scrub Romansa, shower scrub Pomegrante dan body lotion Freshy. Harga satuannya Rp. 75.000, ---yang aku pikir sepadan banget, secara lotion dan body showernya saja isinya 300 ML, dan body scrubnya 250 ML :) Waktu paketnya datang sejujurnya aku sempat khawatir, soalnya produk perawatan kulit gini biasanya bocor di perjalanan. Terutama di bagian tutupnya gitu. Pengalaman banget soalnya pas ke Singapore 2 tahun lalu aku sempat nangis kejer karena lotion yang baru aku beli porak poranda pas dititip di ransel Shane, hahaha. Tapi ternyataaaaaa... aman, saudara-saudara! Paketnya selamat luar dalem banget (apaan sih, hahaha). Soalnya dikemas pakai kardus coklat tebal (yang sekarang aku pakai untuk menyimpan kartu pos) dan tiap produknya dilapisi bubble wrap (kecuali body scrub karena kemasannya beda, bukan botol). Lega dan happy banget deh rasanya :') 



Eh, by the way, by the way... gimana kalau sekarang sekalian aku review saja produk Scarlett nya? Kan sudah lumayan lama juga tuh aku nggak review body care di sini karena kemarin-kemarin belum nemu yang cocok. Apalagi sejauh ini aku beneran cocok banget sama produk-produknya. Siapa tahu ada yang punya problem kulit sepertiku juga atau at least penasaran.
Setuju dong, ya? Iya. (---Lah, jawab sendiri, lol).

Tentang Scarlett Whitening
Jadiiii seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, sebelum memilih Scarlett aku sempat cari tahu dulu tentang produk-produknya. Begitu aku ketik di internet langsung muncul banyaaaak banget testimoni dari yang sudah pernah memakainya. Nah, selain nggak diujicobakan pada hewan (not tasted on animals), yang nggak kalah pentingnya Scarlett ini ternyata sudah teregistrasi di BPOM dan halal. Nggak cuma halal katanya-katanya doang, tapi pas aku cek memang sudah ada logo MUI nya. Ketiga produknya (body scrub, shower scrub dan body lotion) mengandung glutathione dan vitamin E yang berfungsi untuk mencerahkan, melembabkan dan menutrisi kulit. Pas banget sama yang sedang aku butuhkan!



Body Scrub Romansa
Jujur waktu pertama kali aku buka paketnya, body scrub nya lah yang paling mencuri perhatian. Kemasannya cute banget (tahu lah aku paling lemah kalau soal kemasan cute, hahaha). Warnanya putih dengan bunga-bunga pink yang cantik. Ketika dibuka ada segel hologramnya yang menurutku memberi kesan ekslusif dan mewah. Aroma lembut nan romantis langsung tercium begitu aku melepas segelnya. Asli bikin relaks banget, padahal belum juga aku pakai lho xD Aku cukup akrab dengan produk body scrub. Maklum pengguna scoliosis brace senior pasti harus sering-sering scrubbing. kalau nggak bisa kapalan :p Nah, body scrub nya Scarlett ini berbeda. Teksturnya lebih halus dibanding scrub lain, jadi waktu diaplikasikan sama sekali nggak bikin sakit dan pedih (---you know, perasaan itu lho waktu bulu-bulu halus kita ikut ketarik gara-gara scrub, haha). Bisa dibilang effortless, karena aku tinggal oles-oles sampai rata ke seluruh tubuh (dalam keadaan tubuh kering), tunggu 2 sampai 3 menit, gosok-gosok, terus dibilas deh. 







Nggak harus yang gosok-gosok pakai penuh tenaga gitu. Meski teksturnya lembut tapi tetap efektif kok untuk menganggat kotoran. Aku sampai puas banget lihatnya daki sama sel kulit mati (eh, ini sama nggak sih?) rontok dari badanku, huehehe... xD Apalagi dengan wanginya yang lembut-lembut gitu bikin aku berasa lagi di spa. Nggak perlu pakai lilin-lilin aromaterapi lagi di kamar mandi deh, pakai ini juga cukup, hoho...
Waktu pertama kali nyoba, aku masih inget banget Shane langsung komentar kalau kulitku jadi kelihatan makin fresh! Dan aku sih percaya banget kalau dia yang ngomong. Soalnya dia kan jarang banget kasih komentar, tapi sekalinya bersuara pasti jujur, hahaha.

Brightening Shower Scrub Pomegrante
Ini nih yang botolnya aku khawatirkan bakal bocor selama di perjalanan tapi ternyata aman :D Kesan pertama waktu melihat produknya kok lucu amat sih kaya slime mainan punya Ali. Bikin aku nggak sabar mau pakai :D Kemasannya botol plastik transparan dengan tutup flip top. Bisa terlihat dari luar kalau isinya berwarna ungu dengan bintik-bintik (---yang ternyata bulir-bulir scrub) berwana biru. Berbeda dengan body scrub nya yang beraroma kalem, yang ini sedikit lebih strong dan playful. Tapi nggak menyengat ya, justru segar. Bikin semangat kalau dipakai mandi pagi. Sebelum aku coba pakai shower puff, aku coba dulu tuangkan shower scrubnya ke telapak tangan. Modelnya ternyata gel gitu, sedikit kental tapi nggak susah untuk dikeluarkan dari botol. Aku selalu mandi pakai puff, dan itu bikin busanya banyaaak banget. Padahal aku pakainya sedikit lho. Efeknya setelah pemakaian pertama, kulitku langsung terlihat dan terasa segar. Mungkin karena ada bulir scrub yang bikin proses membersihkan tubuh jadi maksimal, ya. Meski begitu bukan berarti bikin kulitku jadi kering, justru malah terasa semakin lembap. Oya aku juga minta Shane untuk mencoba shower scrubnya (karena aku istri yang baik dan suka berbagi, hehe). Sejauh ini dia pun cocok. Jadi aman dong untuk bilang kalau produk ini bisa dipakai tipe kulit kering sepertiku dan berminyak seperti Shane ;)









Fragrance Brightening Body Lotion Freshy
Waktu aku lihat kemasan botolnya, seketika aku langsung teringat insiden lotionku yang porak-poranda di ransel Shane, hahaha. Seandainya saja dulu aku sudah kenal dengan lotion Scarlett pasti nggak akan terjadi :'D Botolnya model pump yang kerennya ada option open dan stopnya. Ini sih game changer banget, astagaaa. Soalnya dari sekian banyak produk body care, lotion adalah produk PASTI yang selalu aku bawa kalau traveling. Aku surprise banget sama aromanya yang mewah. Kayanya sejauh ini belum pernah deh nemu lotion dengan aroma seperti ini. ---Seperti wangi Jo Malone English Pear & Freesia eau de cologne! Nggak perlu pakai parfum lagi pun tubuhku sudah wangi maksimal. 
Konsistensi lotionnya cukup thick. Juga nggak lengket di kulit karena cepat banget meresap. Pernah nggak sih pas buru-buru, badan sudah pakai lotion tapi nggak bisa langsung pakai baju karena takut nempel-nempel? Nah, ini sih nggak. Beberapa saat setelah pakai lotion yang ditinggalkan hanya wangi mewah dan perasaan nyaman di kulit saja, no lengket-lengket club :D Sama seperti ketika habis memakai body scrubnya, setelah memakai Scarlett body lotion Freshy ini aku juga bisa langsung melihat kalau kulitku cerahan. Dan ini tuh nggak yang bikin kulit pucat ya atau malah jadi terlihat seperti habis pakai foundation. Tapi cerah yang alami dan segar. Susah sih kalau dijelaskan pakai kata-kata. Lihat saja fotonya biar kalian yang menilai, hehe :D






Kesimpulannya, aku puas dan happy banget sama Scarlett Whitening ini. Kayanya resolusi kulit sehat dan no belang-belang aku sukses nih sebelum Lebaran (Amin...) xD 
Aku sih nggak ada niatan mengubah warna asli kulitku. Yang terpenting sehat, complexionnya rata dan terlihat cerah. Cerah dalam artian nggak kusam ya, bukan kulit putih seperti dibleach gitu karena itu mah nggak alami. Kalau tampilan kulitku bisa lebih baik kan why not? Iya nggak ;)
Teman-teman yang penasaran sama Scarlett aku saranin buat langsung meluncur (---aih, bahsanya ketahuan umur, lol) ke Instagram mereka di @scarlett_whitening. Oya, aku juga baru tahu kalau selain via DM Instagram kita juga bisa pesan produknya melalui nomor whatsapp 087700353000, akun Shopee @scarlett_whitening dan Line @scarlett_whitening. Tapi pilih salah satu saja ya, jangan kirim pesan ke semuanya sekaligus, hehehe. Aku kemarin sih beli satuan (@ Rp. 75.000, seperti yang sudah aku sebutkan). Kalau mau lebih hemat tersedia juga paket berisi 5 item dengan box exclusive dan free gift dengan harga Rp. 300.000. Rencananya kalau yang aku punya ini sudah habis mau pesan paket hematnya saja. Biar sekalian buat stock dan buat bawa ke rumah orangtua juga, supaya Ibu bisa cobain :D

Teman-teman ada yang punya resolusi 2021 sama kaya aku juga nggak, nih? Kalau ada, ---atau apapun resolusinya, semoga tercapai ya! Selamat berpuasa! :)



 

Minggu, 14 Maret 2021

Wedding Anniversary Kedua di Crowne Plaza Hotel: Sempat Lupa dan Penuh Kejutan!



Yuhuuu! Di tulisan sebelumnya aku cerita soal Halloween yang berdekatan dengan hari jadi pernikahanku dan Shane. Sedekat apa? Dekat banget, hahaha :') Dan sekarang aku mau bercerita tentang keseruannya, ---atau, um.. "keribetannya" :D


Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, aku dan Shane menginap di rumah orangtua beberapa hari sebelum Halloween. Selama di sana, as always, aku cuma mager, sampai-sampai lupa hari. Apalagi aku juga lagi mens, jadi bawaannya malas mikir, hahaha. Sebelum pulang, pas aku bangun tidur Shane nanya, "Kamu pengen main ke suatu tempat nggak? ---Eh, tapi kalau lagi sakit perut kamu nggak mau ke mana-mana, ya?" Aku, yang saat itu nggak ngeh cuma jawab, "Iya." Mana tahu kalau maksud pertanyaan suamiku itu adalah kode... HARI JADI PERNIKAHAN KAMI YANG KEDUA! Ahahaha :')


In my defense, aku lupa bukan tanpa alasan. Pernikahan kami diselenggaran secara humble dan hanya dihadiri keluarga inti. Nggak banyak orang tahu kalau kami menikah waktu itu. Bukan ditutupi, tapi kami ingin pernikahan menjadi moment yang intim. Nggak pakai milih tanggal dan lain sebagainya. Setelah punya cincin, besok paginya kami langsung ke KUA. Sudah, begitu saja. Jadi kami nggak menganggap tanggal itu hal penting, tapi moment pernikahannya lah yang dikenang :) 


Entah gimana awalnya, ketika sampai di rumah aku baru ingat kalau 26 Oktober dua tahun yang lalu kami menikah. Otak ku pun langsung ber "ooooh.... oooooh pantesan" ria. Langsung saja aku minta maaf sama Shane karena nggak mengerti kode dia, hahaha. Tapi seperti yang kuduga, dia sih cuek. Katanya kalau di selimut pemberian mertuaku nggak ada tanggal pernikahan kami dia pun nggak ingat. Dan menurutnya tanggal berapapun kami merayakan nggak penting. Yang penting setiap tahun diperingati, ---istilahnya cherish the memories :) Kubilang, aku nggak keberatan kalau besoknya kami pergi jalan-jalan, atau menginap di suatu tempat. Aku yakinkan Shane kalau sakit perutku pasti segera baikan. Kami pun mulai survey tempat mana saja yang bisa dibooking dan nggak terlalu jauh dari rumah kami.


Setelah scroll atas bawah di laptop selama 10 menit, entah kenapa aku tiba-tiba pengen menginap di The Trans Luxury Hotel. Kepengennya itu nggak main-main, aku sampai nonton video reviewnya segala, hahaha. Shane sih menyerahkan padaku, katanya kalau aku suka tempatnya dia juga pasti suka. Senang banget dong aku dapat restu :D Nggak pakai nunggu lama aku langsung buka websitenya dan cantumkan tanggal rencana menginap. 27 Oktober 2020. ---Masih loading... 1... 2... Oh no! Ternyata penuh. Oke, oke, aku coba 28 Oktober 2020. 1... 2... 3... ---dan ternyata masih penuh juga! Huhu, kecewa dong aku... Tapi aku nggak kehabisan akal, aku whatsapp langsung saja hotelnya. Siapa tahu kalau bilang buat anniversary bisa "diada-adain" :p 

Jawaban pertama adminnya bilang kalau kamar hotel yang include tiket bermain di Trans Studio sudah penuh. Di pikiranku, oh okelah berarti yang non paket masih ada. Jadi aku bilang nggak apa-apa. ---Meski sebenarnya ingin sambil main, tapi kupikir better than nothing lah ya... :') Tapi setelah ditunggu-tunggu ternyata jawabannya masih sama, nggak ada kamar kosong. Ngerasa sia-sialah aku nunggu. Harapan terakhir aku cuma bilang gini sama adminnya, "Mas, Mbak, kalau ada yang cancel tolong kasih tahu ya. Terserah deh kamarnya kaya gimana juga." (Aku ngetik sambil berkaca-kaca, bhahahaaa...).


Dan akhirnyaaaaaa... sekitar satu jam handphoneku bunyi. Ada kamar kosong!

Tapi...


Yang kasurnya dua!


Ahahahahahahahahahahahahaha... hahahahaha... hahahahaaaa T_T


Ya aku nggak maulah :(


Masa anniversary pisah-pisahan kaya lagi backstreet:(


Karena sadar terlalu mepet kalau mau booking buat besok, akhirnya aku googling hotel yang bisa buat lusanya, 28 Oktober. Tetap susah ternyata, di mana-mana penuh karena musim liburan. Beruntung banget akhirnya aku buka instagram dan nemu hotel yang namanya Crowne Plaza Bandung. Dari foto-fotonya sih kelihatan sederhana meskipun bintang lima (maksudnya beda dengan hotel sekelas lain yang pernah aku inapi, ---halah istilah apa itu, hahaha). Aku sih suka-suka saja. Karena buatku tampilan nggak penting. Asal bersih, wifi kenceng, ada bathup, udah deh aku bisa tidur nyenyak. Nggak pakai pertimbangan lagi, aku langsung klik "booking". Soalnya kalau ditunda-tunda lagi takutnya nanti malah keburu ada yang ambil :p


28 Oktober 2020

Kami harusnya check in jam 2 siang, tapi karena aku orangnya "sok sibuk", sebelum pergi aku malah ribet sendiri sama rumah yang sebenarnya sudah kubereskan. Rasanya adaaa saja yang kurang. Iya, aku memang OCD (begitu kata psikiater), tapi ada juga saat-saat di mana aku tahu kalau akunya saja yang lebay, seperti pas lagi gini nih. Dilawan sebenarnya bisa, tapi aku kadang terlalu baik sama diri sendiri, hahaha. Akhirnya kami tiba di hotel sekitar jam 3 sore. Perasaanku langsung nggak enak, ---kok penuh amat ya? :O Parkirnya sih lancar, nggak pakai putar-putar kami langsung dapat tempat. Tapi begitu masuk lobby kami disambut sama antrian yang panjangnya dari pintu masuk sampai ke meja lobby T_T Cukup lama sampai kami akhirnya kami tiba di front desk, ---yang sayangnya bukan tanda kami bisa cepat-cepat masuk kamar. Kami tiba 1 jam lebih lambat dari waktu check in, tapi ternyata kamar belum siap. Kenapa? Asli, nggak ngerti. Mau berlama-lama bertanya pun aku nggak enak karena antrian masih panjang. Aku pikir, ya sudah lah, semua tamu juga mengalami. Lagipula, ini anniversary aku dan Shane. Jangan sampai kami jadi bad mood "cuma" gara-gara terlambat dapat kamar. Kami putuskan saja untuk makan siang (tapi sore, lol) dulu. Sekalian menghindari kerumunan. Aku dan Shane memang nggak yang parno sampai gimana-gimana, tapi sebisa mungkin kami berusaha melindungi diri. Masker selalu dipakai, rajin cuci tangan, ...dan kalau di tempat ramai mending mojok berdua saja lah, hahaha.


Aku merasa beruntung kami memutuskan untuk menginap di Crowne Plaza. Lokasinya dekat sekali dengan Jalan Braga. Jadi aku dan Shane nggak perlu ke parkiran lagi untuk ambil mobil, tapi cukup jalan kaki. 10 menit saja kami sudah tiba di Braga Permai. ---Iya, restoran yang sama yang kami kunjungi di ulang tahunku, Juni 2019 lalu. Kami suka restoran ini. Meski pilihan menu vegannya nggak banyak (mereka hanya punya menu vegetarian yang harus direquest kalau ingin vegan), tapi tempatnya nyaman. Live bandnya juga keren-keren. Seperti kali ini, yang gitarisnya total banget, hehehe xD Kami pesan pizza vegetarian dan lumpia sayur seperti biasa. Aku paling kalap kalau makan lumpia, apalagi di Braga Permai bumbu kacangnya enak banget. Beda sama restoran lain, light gitu nggak bikin enek :')


Menunggu makanan sambil diiringi home band yang gitarisnya ngalah-ngalahin John Frusciante T_T hehehe.


Vegetable pizza dan lumpia yang selalu bikin aku kalap :p


Setelah makan kami kembali lagi ke hotel. Langit Bandung sangat bersahabat, cerah dan hangat padahal sedang musim hujan. Ini bikin suasana hatiku makin happy karena awalnya aku khawatir bakal kehujanan, tapi ternyata hujan hanya mengguyur ketika aku dan Shane sedang di dalam mobil. Sungguh pengertian ya :') Hehe.


Di lobby, antrian masih tetap panjang ternyata. Sepertinya semakin sore semakin banyak tamu yang datang. Beruntung ada Ibu baik hati (tamu hotel juga) yang tahu kami sudah menunggu lama. Beliau memberikan tempatnya agar kami nggak mengantri lagi bersama orang-orang yang baru datang (---hatur nuhun pisan, Ibu, maaf lupa nanya namanya). Eh, sudah sampai di depan ada tamu yang nyelak dong, alasannya dia cuma mau ngambil kunci doang -_- Di luar dugaan, Shane langsung tegur tamu itu padahal dia orangnya pendiam, lho. Mungkin karena kesal dan ditambah perut sudah terisi ya, dia jadi penuh energi, hahaha. Jujur, aku senang sih. Soalnya dalam hati aku juga kesal tapi malas kalau harus berargumen dengan orang seperti itu. Btw, tapi aku jadi belajar sesuatu... Orang yang menyela antrian itu punya perfect English padahal, jauhlah sama aku yang Bahasa Indonesia saja belepotan. Tapi ternyata cerdas itu belum tentu mengerti (atau mau menerapkan) sopan santun.


Diselak saat antri itu rupanya jadi satu-satunya kejadian yang kurang menyenangkan yang kami alami. Sisanya bisa dibilang jadi salah satu pengalaman TERBAIK saat menginap di hotel bagi aku dan Shane :) Saat booking kamar aku sama sekali nggak meminta special request, bahkan sama sekali nggak menyebutkan kalau kami datang dalam rangka anniversary. Tapi pihak Crowne Plaza sendiri yang berinisiatif memberi kami complimentary dinner dan wine. Petugas yang sedang bertugas di front desk bilang, "Sudah pasti jauh-jauh kemari karena ada moment istimewa yang dirayakan." Padahal rumah kami masih di Bandung juga, hehe :'D Bukan itu saja, dia juga bilang bahwa kami boleh check out di sore hari, instead of jam 12 siang! Untuk kami ini adalah tindakan yang sangat manis dan kami sangat menghargainya. Kami bukan siapa-siapa (baca: bukan selebriti atan influencer). Jadi kalapun ada kejadian buruk (yang mana aku dan Shane sama sekali nggak merasa begitu), nggak akan lah dibaca sama jutaan followerku. Juga misalnya aku mendapat complimentary dari mereka, siapa juga yang akan tahu selain sejumput (lol, saking sedikitnya) pembaca di sini, kan? Jadi kami yakin tindakannya pure untuk menghormati kami sebagai tamu. Kalau nggak salah ingat yang melayani kami namanya Mr. Julius. (If you read this, thank you!)


Sebelum dinner sisiran dulu biar kece. Iya, ini foto di kamar mandi biar lightingnya bagus :D


Aku dan Shane sama sekali nggak menyangka akan mendapatkan hadiah seperti ini (---dari pengalaman kami, biasanya hotel "hanya" memberi kami cokelat, itu  pun dengan special request).

Karena ini anniversary, sudah pasti Shane menyiapkan budget untuk dinner istimewa kami. Tapi siapa sangka ternyata hotel malah memberi kami dengan cuma-cuma :') Kami jadi semakin merasa istimewa karena saat dinner di lounge hanya ada kami dan seorang tamu lain (yang kebetulan hanya mampir sebentar). Jadi berasa private dinner, hahaha. Staff hotel memperlakukan kami dengan sangat baik dan profesional. Mereka beberapa kali bertanya tentang makanan yang disajikan. The food was good (mereka punya vegan option!), perut kami kenyang, hati kami bahagia. 


Kentang goreng dan spageti vegetarian, yumyum :p


Bagiku sampai di lounge dapat complimentary, gak pakai nanya langsung dilahap. Eh ternyata mengandung tuna! Shane auto hoek hoek xD


Karena jarak lunch dan dinner yang berdekatan (makan siang kesorean, lol), kami baru benar-benar menikmati kamar setelah waktu dinner. Sebelumnya kami hanya menyimpan barang bawaan kami, sedikit touch up, lalu ke lounge. Kamar kami posisinya di pojokan, yang mana bikin kami (tambah) happy. Ada dua jendela di dua sisi berbeda yang membuat kamar terasa lapang (kerena sebenarnya ukuran kamar termasuk kecil kalau dibandingkan hotel lain yang pernah kami inapi). Begitu di kamar as always Shane langsung rebahan sambil main game, sedangkan aku langsung berendam di bathup. Semanjak menikah dan tinggal di rumah sendiri, berendam itu jadi hal yang mewah lho bagiku. Soalnya di rumah mungil kami hanya ada shower, nggak ada tub. Jadi harus menunggu ke hotel dulu kalau mau berendam, hahaha :D

Setelah badan kena air hangat dan pakai piyama, aku auto mengantuk. Di TV diputar film "Ma", salah satu film favorit kami. Meski mata sudah dipaksa melek, akhirnya aku dan Shane tidur sebelum film selesai :p


Yang mau bawa ukulele aku, tapi tetap saja Shane yang sering mainkan :p


Gak lupa bawa bath bombs biar berendamnya lebih seru.


29 Oktober 2020

Paginya, rasanya berat sekali buat bangun. Satu-satunya yang jadi motivasikubuat bangun ya sarapan (dasar rakus! Hehe). Dengan alasan keamanan, sekarang sarapan nggak disajikan dalam bentuk prasmanan yang bisa ngambil sendiri gitu. Meski begitu staff di sana cukup helpful kok. Aku bolak-balik beberapa kali buat minta nambah pun pelayanannya tetap baik. Apalagi aku cukup "cerewet" karena selalu bertanya menu mana saja yang vegan friendly :p Menurutku, kalau untuk menu sarapan vegetarian sih mereka punya banyak pilihan ya. Tapi untuk vegan memang limited, beda dengan ketika makan malam yang memang ada option non dairynya. 


Morning tea.


Sehabis sarapan jalan-jalan ke area kolam renang.


Sehabis makan aku tergiur untuk berendam di jacuzzinya. Tapi niatku urung setelah sadar kalau aku sedang menstruasi, hahaha. Ya sudah lah, lebih "aman" berendam di bathup lagi. Berhubung kami membawa ukulele jadi kami juga nggak mati gaya. Sekalian saja kami bikin video clip untuk lagu original terbaru kami. ---Sambil menyelam minum air lah ya xD Beruntung sekali kamar kami di pojokan, jadi bisa bebas main musik tanpa khawatir mengganggu tamu lain. Kalau dipikir, seringnya kami memang dapat kamar yang di pojokan ya. Bahkan waktu menginap di Singapore tahun 2018 lalu pun kami dapat kamar di pojok, dan selama 4 hari di sana kami main ukulele tiap hari, hahaha. Oya, tapi bukan berarti kami nggak cek-cek dulu. Biasanya Shane akan berdiri di luar, di depan pintu sementara aku di dalam genjrang-genjreng. Buat make sure suaranya nggak terdengar ke luar. Juga, yang nggak kalah penting jangan sampai kamar yang pas banget sebelah kami ada isinya (---isi manusia, kalau yang lain mah gak apa-apa, lol)


Bikin video clip ternyata bikin waktu terasa cepat sekali berlalu. Mungkin saking sangat menikmatinya, ya (---serius, aku nggak sabar untuk edit dan post videonya, soalnya lagu dan konsepnya istimewa sekali untukku dan Shane). Tadinya aku pikir masih cukup waktu buat tidur siang sebentar, eh tahu-tahu sudah sore saja :p Kami pun mengemasi barang-barang kami dan bersiap pulang. Perpaduan mood kami yang bagus dan pelayanan yang baik bikin kami betah. Bahkan Shane bilang dia suka dengan hotel ini dan ingin kembali lagi. Pas aku tanya alasannya, katanya dia pun nggak tahu, ---pokoknya atmosfirnya enak. Aku setuju. Dan ini bukan karena kami dapat "hadiah", tapi tempatnya memang nyaman :)


Salah satu adegan untuk video clip baru kami, “Angry Love Song”.


Bawa ukulele = anti mati gaya.


Onci sepertinya enggan pulang :p


Di perjalanan pulang kami mampir dulu ke "Kitchen Veggie" untuk makan siang (yang lagi-lagi kesorean, hahaha). Restoran vegan-vegetarian kecil favorit kami sejak tahun 2018, ---iya awal kami menikah :D Kami memang punya kebiasaan untuk kembali ke tempat yang sudah cocok, terutama soal makanan karena lidah vegan kami ini sedikit picky, hehe. Dan tempat ini lah salah satunya. Shane suka banget dengan hot dog vegan mereka. Harganya murah meriah, tapi soal rasa nggak ada yang bisa menandingi. Buktinya dibandingkan dengan hot dog yang lebih mahal pun, Shane pasti lebih memilih yang ini, hahaha. (Sedikit OOT, tapi kalau kalian vegan dan berada di Bandung, restoran ini layak banget untuk dicoba).


Ketika kami tiba di rumah hari sudah gelap. Perut sudah kenyang dengan senyum yang sangat awet (---meski disambut dengan setumpuk cucian, haha). Rasanya sempurna, dua hari dihabiskan bersama, di tempat yang membuat kami bahagia dan melakukan hal-hal yang juga membuat kami bahagia, ---bermain musik dan membuat video clip bersama. Dua tahun berlalu dan kadang masih terasa seperti mimpi. Di tahun 2017 aku masih nggak mengira bisa berteman dengan Shane, satu tahun kemudian ternyata kami malah menikah. Hidup memang semisterius itu, guys. Orang yang awalnya aku idolakan, lalu menjadi sahabat ternyata menjadi suamiku. ---Iya, secepat dan setanpa basa-basi itu. Tahu-tahu dekat, tahu-tahu menghampiri ke Indonesia, ...tahu-tahu menikah :)


Doaku dan Shane di anniversary kedua ini sederhana. Semoga kami bisa selalu bersama untuk selamanya. Alasan mengapa kami selalu menyebut diri kami "sahabat", karena sahabat mungkin saja berselisih tapi akan selalu kembali. Seperti orang bilang, sahabat adalah selamanya, ---bestfriend forever. And I love you forever, Shane, buddy! :)




yang sedang dan (semoga) selalu bahagia,


INDI


____________________________________

Kontak: namaku_indikecil@yahoo.com | Facebook: Indi Sugar | Instagram & Twitter: @indisugarmika | Youtube (Vlog & Musik): Indi Sugar Taufik