Rabu, 18 Agustus 2021

Cerita Lebaran yang Tertunda dan Penuh Nostalgia.


Tahu nggak sih, kemarin itu aku sempat happy karena kupikir bakal bisa nulis lagi di sini sebelum bulan Juni habis. ---Jadi (rencananya) pengen bikin 2 tulisan dalam sebulan gitu. Kan keren (menurut standarku, hahaha). Tapi ternyata nggak bisa, aku masih harus menerima kenyataan kalau mampunya baru sebulan sekali. Better sih dibanding tahun kemarin, tapi aku tahu kalau bisa lebih baik dari ini. Tujuanku bukan supaya blog ini trafficnya tinggi, karena dari dulu tujuanku punya blog murni untuk berbagi cerita. Tapi ini untuk melatih agar aku punya rutinitas. WFH sudah cukup bikin jadwalku semaunya, at least dengan menulis di sini sebulan dua kali bisa membuatku punya aktivitas terjadwal :)


Waktu Lebaran tiba, 13 Mei 2021 yang lalu, aku nggak sabaaar banget buat bercerita di sini. Maunya sambil blog walking juga, karena pasti seru membaca cerita Lebaran teman-teman yang lain. Lalu ulang tahun Shane datang, disusul ulang tahunku. Aku pun goyah dan bilang, "Ah, mau cerita tentang ulang tahun saja deh, kan lebih relatable karena masih anget." Dan apa yang terjadi? Aku malah kebanyakan pertimbangan dan moment dua-duanya jadi sudah lewat! Hahaha. Ditambah aku dan Shane sempat menginap di rumah ortu (family time, aku nggak pernah bawa laptop), juga sempat sakit kemarin selama satu minggu. Semakin lah aku lupa tentang goalku yang sangat spektakuler ini xD


Anyway, Lebaran tahun ini sama seperti tahun lalu. Aku dan Shane menghabiskan waktu di rumah orangtua dari satu malam sebelum Lebaran. Sekitar jam 6 sore kami baru berangkat karena siangnya sibuk membungkus kado-kado untuk Ibu, Bapak, the babies, Nenek, Eris dan juga beberapa karyawan Ibu dan Nenek. Kami masih belum berani kemana-mana, terakhir keluar ya waktu Mei kemarin itu, ---jadi kado-kado kami beli secara online. Dibandingkan tahun lalu, aku merasa Lebaran kali ini hati lebih damai. Nggak ada mikir pengen bisa ke sana-ke sini, kangen ini-itu, dsb. Aku merasa bisa kumpul dengan keluarga saja sudah suatu privilage, jadi suasana hatiku dan Shane begitu happy sehappy nya ;)

Begitu kami tiba langsung disambut masakan Ibu. Sejak menikah kami memang dapat hak istimewa untuk curi start, bisa makan masakan Lebaran di malam Lebaran, hahaha xD Meski Bapak sedang kurang sehat tapi tetap ada gulai vegan untuk kami. Tahun lalu Bapak buatkan "ayam palsu" (ini istilah Bapak) untuk kami. Berhubung prosesnya cukup berat, jadi isi gulai diganti dengan jamur shiitake, tahu dan kentang saja. Rasanya? Wuiiih, tetap enak dong! Pas menulis ini saja aku jadi lapar, hahaha.



Tradisi nggak tertulis sejak aku kecil adalah setiap malam Lebaran aku boleh begadang. Mungkin teman-teman ada yang tahu kalau aku dulu lahir di malam Lebaran. Karena berpegang pada prinsip birthday girl boleh ngapain saja, ortu membebaskan aku mau tidur jam berapapun. Toh besoknya nggak sekolah juga kan. Biasanya aku bakal di ruang TV semalaman, kalau pun ortu tidur duluan juga nggak masalah. Selama mata belum sepet aku nggak akan masuk kamar :p Nah, tahun ini Ali rupanya ingin ikutan tradisiku, ia ingin begadang. Meski awalnya sempat dicoba untuk ditidurkan beberapa kali, tapi Ali terlalu excited dengan Lebaran, jadi kami izinkan saja. Suasana yang awalnya damai, cuma ada kami dan TV yang menyala, berubah jadi ramai dan... bikin pusing! Ali bermain dengan mikrofon mainannya sampai jam 11 malam. Semua lagu karangannya dia mainkan, ---sesekali mengikuti orang-orang di masjid juga yang sedang takbiran. Aku pun harus bilang bye-bye dengan tradisi begadang yang dulunya identik dengan me time, hahaha. Untungnya cuma setahun sekali, dan sebenarnya aksi Ali menghibur juga, lho. Shane sampai merekam diam-diam waktu Ali bernyanyi lagu karangannya karena ia pikir itu lucu :D



Aku tidur beberapa jam saja. Sesudah Ali (akhirnya) tidur aku putuskan untuk menonton TV dengan Shane karena banyak sekali film bagus diputar di TV kabel. Untung saja besoknya masih bisa bangun nggak siang-siang amat, hehehe. Aku langsung mandi dan dilanjutkan dengan bermaaf-maafan dengan keluarga kecil kami :) Nyaman sekali rasanya, Lebaran selalu punya vibes yang berbeda dengan hari-hari biasa. Dan waktu moment bermaafan aku selalu merasa menjadi anak kecil kembali. Susah dijelaskan dengan kata-kata, ---tapi kalian tahu kan perasaan nostalgic yang bikin kalian merasa sedang berada di waktu ternyaman dan teraman di hidup kalian? ;)

Oya, Lebaran ini nggak ada yang beli baju baru. Rasanya nggak perlu saja. Bajuku dan Shane banyak sekali dan kebanyakan masih bagus-bagus, jadi kami pikir bakal lebih wise kalau pakai yang ada saja. Aku pakai dress yang beberapa waktu lalu dibelikan Shane (sudah dipakai beberapa kali), sementara Shane cukup pinjam baju koko milik Bapak yang kebetulan sizenya cocok. Yang penting sih kami merasa kece (hahaha). Lagian nggak ada yang salah dong dengan pakai baju lama ;)




Setelah bermaafan kami langsung makan bersama, termasuk dengan Puja, adikku yang datang untuk Lebaran. Berhubung gulai vegannya ekslusif untuk aku dan Shane, aku makannya benar-benar dipuas-puasin xD Lupa nambah berapa kali, yang pasti aku kekenyangan sampai mager! Kalau biasanya aku rajin ambil foto menu Lebaran, kali ini cuma gulai vegan yang kufoto. Lumpia, sambal goreng kentang dan lainnya kelupaan karena yang aku ingat cuma makan :D Ibu memang juara kalau soal masak (selain jago mendesain baju juga pastinya). Menu apapun bisa divegankan dan rasanya selalu pas. Bapak juga keren, cuma karena sedang kurang sehat saja beliau jadi nggak berkreasi tahun ini. Aku bersyukur sekali punya keluarga yang hangat dan selalu semangat tiap Lebaran (dan hari-hari penting lain seperti ultah, tahun baru, etc). Padahal jumlah kami cuma sedikit :'D



Tahun ini juga jadi tahun pertama aku dan keluarga bertemu Nenek lagi. Lebaran kemarin kami memang benar-benar sama keluarga inti saja dan nggak keluar rumah. Tapi tahun ini kami beranikan untuk berkunjung. Jarak rumah orangtua dan Nenek itu dekat sekali, beda satu block saja. Dan di sana juga hanya ada Nenek dan bibi yang jaga, jadi kami rasa aman. Nenek, yang aku panggil Emah senang banget pas kami ke sana. Malam Lebaran aku dan Shane sempat kirim cake Harvest kesukaannya via Gojek, jadi beliau nggak mengira kalau kami akan datang :D Saking happynya kami sampai terus ditawari makan, disodori ini-itu, pokoknya terharu :') Meski Shane baru kenal Nenek ketika dia berpacaran denganku tapi dia sudah merasa nyaman di rumahnya. Shane selalu bilang kalau ruangan belakang di rumah Nenek keren, ---entah kenapa, padahal Nenek tinggal di rumah lama. Mungkin karena dia bisa rasakan kalau keluarga kami nyaman berkumpul di sana, ya :D




Siang menjelang sorenya, aku dan Shane memutuskan sesuatu yang lumayan berat. Kami mau ke bioskop! Iya, setelah lebih dari satu tahun nggak menginjak mall apalagi bioskop (---supermarket pun sangat jarang), kami putuskan menonton film untuk pertama kalinya. Bukan tanpa alasan, ada sebuah film yang sangat ingin aku tonton dari sebelum Corona ini ada. Terlebih temanku bermain di sana. Aku sudah janji padanya akan menjadi salah satu penonton pertama, alias nonton saat pemutaran perdana. Filmnya berjudul "Terima Kasih Emak Terima Kasih Abah". Terdengar familiar? Iya, para pemainnya adalah original cast dari sinetron dengan soundtrack yang liriknya seperti judul filmnya. Nggak perlu disebut pun aku yakin kebanyakan dari kalian sudah tahu sinetron apa yang aku maksud. Kenapa judulnya beda? Well, alasannya bisa dengan mudah ditemukan di google dan nggak akan aku sebut di sini karena aku takut salah ;)


Aku dan Shane sengaja memilih bioskop yang kosong, ---nggak di mall dan juga bukan tempat populer. Ortu awalnya khawatir dan hampir nggak mengizinkan, tapi setelah melihat jumlah penontonnya secara online, mereka lega dan merestui kami pergi. Setelah kami tiba pun jumlah penonton ternyata belum bertambah, hanya ada kami dan dua orang lainnya. Untung saja bukan nonton film horor, hahaha. Jadi bisa dibilang kami beruntung, belum lagi kelihatannya petugasnya rajin bersih-bersih kursi di tempat kami menunggu. Semakin merasa tenang, deh :) Sedikit review tentang filmnya, kami sangat menikmati ceritanya. Meski nama-nama pemainnya berbeda dengan nama-nama yang dulu kita kenal, tapi chemistry mereka nggak bisa bohong, dapet banget. Abah sama Emak sudah pasti cocok lah ya, ditambah anak-anaknya, Iis, Rara (dia temanku yang barusan disebut) dan Gigi yang ternyata karakternya masih sama seperti dulu. (Sumpah, cuma namanya saja yang beda). Nostalgia habis-habisan deh aku nonton film ini. Sampai nangis berkali-kali, hehehe. Shane yang nggak mengenal keluarga Emak dan Abah sebelumnya pun tetap bisa enjoy karena ceritanya memang sederhana dan ada subtitle Bahasa Inggrisnya. Keren banget kan!




Filmnya memang nggak sempurna, di beberapa bagian ada audio yang kurang balance. Tapi somehow aku merasa kalau ini justru yang membuat filmnya jadi nostalgic. Jadi ingat waktu kecil menonton sinetronnya setiap pulang sekolah :) Lagipula buatku film ini sudah cukup kuat kok HANYA dengan tokoh-tokohnya. Mereka begitu murni, nggak perlu audio atau visual yang fancy. Filmnya juga menurutku straight to the point, nggak terlalu panjang dan bertele-tele seperti film drama kebanyakan (---inilah salah satu alasan kenapa setelah dewasa aku jadi lebih milih nonton film horor daripada drama, hehehe). Btw, ini bukan film yang "sekali lewat", alias sudah film selesai kami langsung lupa. Ada beberapa konflik di film yang membuat Shane bertanya tentang pendapatku, apakah aku akan menyelesaikan dengan cara yang sama dengan tokoh di film atau nggak. Kami jadi berdiskusi dan berakhir dengan kesimpulan bahwa apa yang kami lihat di film mungkin nggak ideal di mata kami, tapi setiap keluarga pasti punya caranya sendiri dalam menyelesaikan masalah. Setiap langkah yang diambil tentu ada pertimbangannya. Kadang kita harus berkorban untuk menyelamatkan perasaan orang lain, ---dan untuk kami itu adalah pesan yang indah :)


Setelah filmnya selesai kami langsung pulang. Kami nggak mau berlama-lama di luar karena kami merasa lebih aman di rumah. Lagipula setelah menonton film tentang keluarga, aku jadi ingin hangout semalaman dengan Ibu, Bapak dan Ali, hehehe. Kalau Ali mau begadang lagi aku rela deh digangguin :p Jadilah kami begadang bersama, ngobrol sana-sini dan nggak lupa bercerita tentang film yang baru kami tonton juga. Nggak ada rencana apa-apa untuk esok hari, hanya kami menikmati waktu bersama :)


Kalau dulu hari Lebaran kedua kami masih kece, soalnya biasanya ada keluarga atau kerabat yang mampir. Nah berhubung ini Lebarannya covid style, jadi bangun pun siang-siang. Begitu bangun apalagi yang dicari kalau bukan masakan Ibu dan TV kabel :D Rasanya seperti hidup di keabadian, nggak perlu khawatir apa-apa, nggak perlu mikir mau ngapain. Semaunya saja, sampai tidur pun kadang di depan TV. Aku bawa satu dress batik sebenarnya, just for in case. Tapi kenyataannya aku pakai piama seharian, ---begitu saja terus sampai hari keempat, hahaha.


Ngomong-ngomong soal keabadian, di rumah orangtua memang segalanya selalu terasa sama. Seolah seperti aku nggak pernah meninggalkan rumah. Kamarku masih terlihat sama, barang-barangnya terjaga. Bahkan mainan-mainanku pun masih disimpan dengan rapi. Ada kejadian menarik waktu Ali sedang bermain dengan dua bonekanya; Yeye si boneka kucing dan Teddy, boneka beruang yang dulunya milikku. Aku ceritakan pada Ali kalau dulu boneka itu adalah milikku, jadi sebelum Ali lahir Teddy sudah ada lebih dulu. Aku pikir fakta itu akan membuat Ali surprise, tapi ternyata aku juga jadi ikut terkejut! Karena tiba-tiba saja Ibu bilang kalau Teddy, ---yang oleh Ibu dipanggil Brindil, bahkan lebih tua dariku! Ternyata dulunya boneka itu milik Ibu, sebelum aku lahir. Wow... luar biasa ya... Seandainya saja Teddy punya ingatan, pasti yang ia simpan isinya lebih lebih lengkap daripada foto dan video yang kami punya, ya :D 



Saat pulang ke rumah orangtua juga jadi kesempatan buat aku untuk bercerita apaaaa saja yang belum sempat diceritakan selama kami nggak bertemu. Whatsapp-an sih memang setiap hari, video call juga sering, tapi nggak ada yang bisa menggantikan pertemuan langsung. Dari mulai yang serius-serius seperti soal visa, sampai yang nggak jelas seperti cerita tentang jemuran, semuanya puas aku ceritakan :D Aku yang pada dasarnya manja menjadi semakin menjadi saat bertemu Ibu Bapak, hahaha. Aku bersyukur baik ortu maupun suami sangat pengertian dengan sifatku yang sebelas dua belas sama Ali ini. Saat aku sedang asyik dengan ortu pun Shane mengerti. Dia akan memberiku ruang tanpa harus merasa "tersingkir". Biasanya dia akan bermain game atau membuat musik sampai waktunya kami kembali berkumpul. Aku juga melakukan hal yang sama. Saat Shane sedang ingin quality time dengan keluarganya lewat telepon, ---sekali pun itu berjam-jam, dengan senang hati aku memberinya waktu :)


Di hari keempat akhirnya Cody boy, keponakanku yang satu lagi datang. Kabarnya sih dia sempat sakit pilek jadi nggak bisa berkumpul bersama kami di hari Lebaran. Bagaimana suasana rumah ortuku setelah the babies kumpul lengkap? Waduh, jangan ditanya xD Ramainya mengalahkan kelas preschool yang dulu kuajar. Aku mandi dicariin, aku pergi diikutin. Shane mau istirahat sebentar saja langsung dikepoin (baca: diintipin di kamar meski sudah ditegur). Tapi kami menikmati, sih. Apalagi aku dan Shane nggak bisa lama-lama untuk bertemu dengan si Cody boy karena harus pulang. Di rumah kami ada dua ekor ikan yang harus diurus. Kami khawatir kalau ditinggal terlalu lama akan terjadi hal-hal yang nggak diinginkan. 




Sebelum pulang, aku dan Shane puas-puasin dulu untuk bermain dengan the babies dan Eris, ---yang kelihatannya happy dengan baju barunya. Kami juga mampir ke supermarket dulu di perjalanan pulang karena stock makanan di rumah benar-benar kosong. (Selama bulan puasa kami kebanyakan delivery order, jarang sekali masak). Iya, kami pulang diantar ortu plus the babies juga! Jadi ada waktu ekstra untuk nambah quality time meski sedikit :) Kebetulan di supermarket tempat kami berbelanja ada foodcourtnya, jadi setelah selesai kami bisa ngemil-ngemil dulu sambil berpamitan. Hati ini berat sebenarnya. Kalau nggak malu aku  ingin menangis rasanya, hahaha. Tapi aku tahan-tahan sampai ingetin diri sendiri kalau sebentar lagi kami juga pasti bertemu kembali. 









Begitulah cerita Lebaran kami yang "mewah", ---karena bisa berkumpul yang di saat seperti ini :) Doaku masih tetap sama seperti tahun lalu; semoga tahun depan segalanya menjadi lebih baik. Tanpa mengurangi rasa syukur dengan apa yang aku dan Shane dapat di tahun ini, kami berharap dalam waktu dekat bisa kembali berkumpul dengan keluarga Shane juga. Kami sudah membicarakan tentang kemungkinan untuk mereka yang datang ke sini atau aku yang berkunjung ke sana. Tapi dengan situasi sekarang kami belum mendapatkan titik terang. Doakan, ya! :)

Dan mohon maaf lahir batin untuk teman-teman di sini. ---I know, I know, ini sudah bulan Agustus, hahaha. Tapi nggak apa-apa, dong. Untuk memulai sesuatu yang baik waktunya selalu tepat, kan ;)


______________________________

Btw, pas bulan Ramadan, aku dan Shane ikutan kontes musik "Ramadhan Home Recording Competition" yang diadakan oleh IMS Indo Pro Audio, De Sound, Ibanez Indonesia, Korg Indonesia dan Vox Indonesia. Kami membawakan lagu "Tombo Ati" dan berhasil masuk ke Top 20! Haha, nggak nyangka, ya? Sama aku juga :p Sayang kami nggak berlanjut ke 10 besar. Tapi berhubung kontesnya skala nasional dengan peserta yang banyak, jadi aku dan Shane sangat bangga. Lagipula, menang atau kalah yang dihitung itu prosesnya, kan ;)

Kalau penasaran dengan penampilan kami, klik videonya di sini: https://youtu.be/uRq9-slggEU




blessed girl,


Indi



---------------------------------------------------------------

Kontak email: namaku_indikecil@yahoo.com | Facebook: Indi Sugar | Instagram/Twitter: Indisugarmika | YouTube: Indi Sugar Taufik

Jumat, 18 Juni 2021

Scarlett Face Care. Apakah Sebagus Body Carenya? ;) (No Animal Testing Product)

Yuhuuuu, teman-teman! Happy banget dong aku sekarang lagi duduk di kamarnya si Ali (---iya, aku dan Shane membuat kamar untuknya di rumah kami) yang merangkap jadi kamar kerjaku buat menulis di blog! Haha xD Aku pernah cerita kalau salah satu resolusi tahun 2021 ini untuk kembali aktif di blog. Yang ingin diceritakan sih banyak, tapi yang susah itu justru mengumpulkan tekad :') Makanya aku merasa ini sebuah prestasi karena sejak masuk tahun 2021 bisa rutin menulis satu bulan sekali di sini. Yang absen hanya bulan Februari saja. Aku lupa alasannya, tapi kayanya karena aku dan Shane lumayan lama menginap di rumah orangtua, deh. Kalau menginap aku memang sengaja nggak bawa laptop, biar bisa fokus makan masakan Ibu :p Maunya sih nanti ditinggkatkan jadi sebulan dua kali, lalu tiga kali, dan... seterusnya sampai bisa kembali lagi seperti dulu. Soalnya apa pantas mengaku hobi menulis tapi menulisnya saja jarang? *sentil diri sendiri. Kondisi kulit aku sempat menurun lumayan banyak, dan sebabnya bukan sekedar aging yang amat sangat wajar dialami manusia. Tapi juga gaya hidup! Duh... semenjak WFH tahun kemarin aku dan Shane kerjaannya delivery order melulu. Awalnya sih dengan alasan biar nggak banyak cucian dan bagi-bagi rezeki sama abang G*food, eh ujung-ujungnya malah kebanyakan pesan vegan junk food. Belum lagi tiap break kerja aku cuma rebahan atau ngemil, sementara Shane mojok dengan gamenya. Apa itu ngegym? Duh, lupa, hahaha. Kesannya kaya sepele, tapi kebiasaan kaya gini bikin kulitku lama-lama bermasalah. Pipi yang dulu jadi bagian wajah paling mulus sekarang mulai jerawatan (---ya iya lah, orang seharian nempel di bantal melulu, hiks). Kening dan garis rahang juga sama nggak amannya. Muncul bruntusan kecil-kecil yang kalau tersentuh agak keras, ampuuuun perihnya. Pokoknya aku sampai curhat sama Shane, kok nggak fair ya kulit dia tetap mulus meski jarang mandi dan makan "sampah", sementara aku  langsung porak poranda, bhahahahaaa x'D


Untuk kulit tubuh sih nggak gitu kentara ya, dan seperti yang pernah aku ceritakan di post sebelumnya, aku sudah menemukan solusi dari kulit belang plus bekas luka di sikutku. Sekarang tinggal kulit wajahku, nih. ---Oh iya, keinginan aku untuk merawat kulit bukan semata tentang look, ya. Tapi karena aku ingin memperbaiki kesehatan kulitku yang memburuk. Salah satu bentuk self love, ---aku sadar kemarin sudah abai ;)


Akupun mulai mencari-cari face care yang cocok untuk kulit berjerawat. As always sumber pencarian utamaku dari internet dan dari teman-teman sendiri yang punya masalah kulit yang mirip. Aku mencari rekomendasi dan membaca review berbagai produk supaya ada gambaran. Nah, di tengah pencarian tiba-tiba aku menemukan brand yang sudah sangat familiar (aku pakai body carenya!), yaitu Scarlett. Awalnya aku pikir salah baca atau malah ini ada brand yang namanya mirip-mirip. Tapi setelah baca reviewnya sampai tuntas, aku yakin ini memang Scarlett yang aku kenal! :D Happy banget dong aku. Biasanya kan kalau dari brand yang sama kualitas produknya juga bakal sama. Langsung saja aku mampir ke akun instagram official Scarlett dan lihat-lihat produk face carenya. Ternyata mereka punya produk baru dalam bentuk krim wajah, serum dan facial wash. Lengkap banget! Dan kerennya ada dua varian, yaitu acne dan brightening. Jadi bisa dipakai sesuai dengan kebutuhan kulit wajahku.


Nggak pakai nunggu lama, aku langsung saja order Scarlett Acne Day and Night Cream sekaligus dengan Brightening Facial Washnya. Harga per produknya Rp. 75.000, ---yang menurutku sangat terjangkau (mengingat brand ini bagus tapi affordable, nilai plus banget kan). Aku order dari Shopee Mall nya, Scarlett Whitening Official Shop. Ini membantu banget karena di sana aku bisa lihat foto produknya sekaligus daftar kandungan dan cara pakainya. Lengkap dan bikin yakin nggak salah milih produk yang cocok buatku. Tahu dong aku kadang suka agak canggung kalau harus nanya-nanya, jadi mendingan baca deh, hehe. Selain dari Shopee Mall kita juga bisa order lewat Line @scarlett_whitening dan WhatsApp di 087700353000, lho. Jadi kalau nggak punya akun Shopee pun bisa tetap mudah berbelanja. Yay :D


Waktu paketnya datang, aku langsung nggak sabar untuk buka dan coba semuanya. Berasa bocah yang lagi ultah xD Isinya aman sentosa, nggak ada bocor atau bahkan penyok (iya, termasuk dus-dus kecil buat creamnya juga). Tadinya aku sempat khawatir kalau facial washnya bakal bocor, soalnya waktu lihat fotonya di Instagram kemasannya pakai botol flip top gitu. Eh, tapi ternyata nggak sama sekali. Di bagian kepala botolnya dililit pakai bubble wrap. Kesan pertama waktu lihat secara langsung packaging produk-produknya aku langsung "aww" ing, ---cute parah dong! Hahaha. Warna-warnanya aku banget, ungu dan pink gitu. Langsung kebayang bakal cocok banget di pajang di meja riasku. *Lho kok?? xD





Terus soal kualitas produknya gimana? Ternyata sesuai ekspektasiku, dong, bagus banget :') Bakal panjang kalau diceritain, pokoknya belum 2 minggu sudah terlihat perkembangan dan bikin aku kembali pede untuk berfoto dari dekat lagi :') ---Eh, tapi kayanya mending aku review lengkap saja kali, ya? Siapa tahu ada yang sedang mengalami masalah kulit yang sama denganku. Toh aku juga tahu Scarlett dari review blogger kan awalnya, hehehe.




Scarlett Brightening Facial Wash

Jujur dari awal si facial wash ini lah yang paling menarik perhatianku. Soalnya packagingnya ramping dan unik gitu. Isinya 100 ml di botol flip top yang aman (pernah aku masukkan pouch untuk menginap dan ternyata nggak tumpah kok sampai tujuan). Dari luar sudah terlihat isinya yang kelihatan cantik dan mewah. Gimana enggak, dilihat sekilas saja langsung ketahuan ada rose petal di dalamnya. Bikin penasaran seperti apa rasanya kalau dipakai! Waktu aku tuangkan ke tangan yang pertama aku notice itu aromanya. Lembut dan sweet banget, bikin moodku jadi bagus, hehe. Teksturnya nggak sekental yang aku kira (---aku pikir bakal seperti gel gitu). Agak cair dan ada butiran-butiran gel yang lembut gitu. Rose petalnya bikin gemeees. Aku nggak langsung dapat di pemakaian pertama, tapi sekalinya dapat langsung bikin penasaran dan pengen mainin dulu, hahaha. 




Jadi di Scarlett Brightening Facial Wash ini terdapat kandungan glutathione, vitamin E, rose petals dan aloe vera. Manfaatnya untuk kulit adalah untuk membantu mencerahkan, membantu menutrisi serta mengecilkan pori-pori di wajah, membantu mengontrol kadar minyak berlebih, membantu menghilangkan bruntusan/jerawat dan membantu meregenerasi kulit wajah agar tampak lebih fresh. ---Yup, sangat cocok dengan keadaan kulitku, kan :')



Baru kali ini aku pakai facial wash yang punya efek nenangin. Waktu aku aplikasikan ke wajah, aromanya enak banget. Dan lembut banget juga! :') Lagi jerawatan dan bruntusan gini kulitku jadi terasa sensitif, kena sarung bantal saja nggak nyaman apalagi waktu cuci muka, kan. Tapi ini tuh nggak sakit sama sekali, yang ada malah terasa segar. Tipe kulitku ini sebenarnya kombinasi, di kening dan dagu (hampir) selalu berminyak, tapi ada spots keringnya juga di bagian pipi akibat gesekan dari pemakaian kacamata selama belasan tahun. Nah, sehabis cuci muka pakai Scarlett facial wash kulitku langsung terasa lembap, termasuk di tempat yang biasanya kering. Lembap lho, ya bukan berminyak. Jadi terasa terhidrasi gitu, ---halus, kenyal. Bikin aku mikir jangan-jangan selama ini aku salah milih facial wash ya? Buktinya ini bisa kok dry spots aku terasa halus. 


Nyaman waktu lagi jerawatan dan bruntusan buatku adalah suatu kemewahan, hahaha, dan yes, Scarlett facial wash berhasil menenangkan wajahku yang lagi ngambek ;)


Scarlett Acne Day Cream

Jujur nih, ini baru kali pertama aku pakai cream wajah yang ada day and night nya. Biasanya sih aku pakai cream yang sama baik siang atau malam. Soalnya dulu goal aku cuma supaya kulit jadi lembap. Tapi pas jerawatan gini baru terasa kalau aku harus perlakukan kulit wajah dengan sedikit ekstra :') Scarlett Acne Day Cream ini dikemas di jar 20 gr. Pas banget lah nggak terlalu besar tapi juga nggak yang mungil-mungil banget. Warna labelnya ungu, sama dengan night creamnya. Bedanya yang day cream ini ada variasi warna putihnya. Jadi gampang buat dibedakan, nggak mungkin tertukar. 




Kandungannya Scarlett Acne Day and Night Cream ini terdiri dari CM Acnatu, poreway, double action salicylic acid, natural vitamin C, natural squalane, hexapeptide-8, aqua peptide glow dan triceramide. Yang semuanya itu bermanfaat untuk melembabkan dan menghidrasi kulit, menyamarkan pori-pori dan garis halus pada wajah, juga membantu meredakan peradangan jerawat dan menyembuhkan jerawat. 


Soal peradangan ini nih yang bikin aku concern. Seumur-umur belum pernah rasain punya jerawat sampai meradang gini :') Bikin kepikiran, huhu. Aku pakai Scarlett day cream ini setelah mandi pagi dan mencoba nggak sering-sering ngecek cermin (---selain kepikiran, aku juga gemes pengen mencetin). Ternyata efek creamnya langsung terasa, dong. Jerawatku memang nggak langsung kempes, tapi merahnya berkurang banyak. Aku sampai bilang sama Shane kalau ternyata ada harapan buat jerawatku, hahaha. Tekadku untuk memperbaiki pola hidup (termasuk rajin mandi, lol) jadi semakin bulat. Aku bilang sama diri sendiri, "Indi, pasti bisa! Please cuci muka minimal 2 kali sehari dan pakai creamnya. Pasti mulus lagi!" xD




Tapi memang si Scarlett Day Cream ini bikin semangat lho. Begitu jar dibuka ada scent yang bikin aku awake dan pengen buru-buru oleskan creamnya di wajah. Aku nggak bisa jelasin kaya apa scentnya, yang pasti memang cocok buat pagi/siang hari. Oya, tekstur day cream ini bukan yang berat gitu, jadi benar-benar ringan. Bahkan hampir cair gitu, yang kalau jarnya digoyang-goyang creamnya bakal ngikut (---apaan sih, ahahaha). Dan itu aku suka banget karena aku kurang suka kalau wajah terasa berat. Jadi kalau harus keluar rumah dan ngerasa kepengen bedakan (jarang-jarang :p ), nah Scarlett Day Cream ini sama sekali nggak bikin lengket atau berasa pakai topeng :)


Scarlett Acne Night Cream

Setelah pakai night cream ini nih, aku jadi ngerti kenapa siang dan malam cream wajahnya harus beda. Dari scent dan teksturnya saja sudah beda. Yang ini scentnya lebih soft daripada day cream, cocok banget buat menjelang tidur, hahaha. Teksturnya lebih thick, tapi sama-sama nggak lengket dan bikin kulit terasa berminyak. Lembap saja gitu. Pas aku bangun tidur ternyata efek lembapnya nggak hilang. Kulit rasanya lembut dan kenyal. Efek seperti ini nih aku belum pernah rasakan di cream wajah terdahulu. Jadi jujur aku surprised, nggak nyangka bakal seenak ini efeknya x'D Menurut analisa sotoyku, mungkin saja alasan kenapa tekstur night cream lebih thick daripada day cream supaya bisa "mengunci" kelembapan lebih lama. Soalnya kan kita tidur bisa sampai 8 jam sehari (---kecuali Shane yang bisa 11 jam, hahaha) dan selama itu pula kita nggak bisa apply ulang creamnya. Eh, tapi entah deh, yang pasti aku suka banget. Aku tidur dengan AC menyala tiap hari dan kulitku aman-aman saja :D






Conclusion

AKU COCOK BANGET pakai rangkaian face care Scarlett! *mo nangis. Kulit wajahku benar-benar membaik selama hampir 2 minggu ini. Bruntusan hilang sama sekali. Kening dan garis rahangku sudah nggak bertekstur lagi. Padahal tadinya aku sampai pesimis nggak bisa hilang lho. Jerawat yang tersisa tinggal 2 dan lumayan besar, di garis rahang kanan dan pelipis kiri. Mudah-mudahan sih minggu ini hilang, soalnya aku harus kondangan, hahaha. PR ku sekarang tinggal hilangin bekas noda jerawatnya. Aku janji bakal berusaha rutin pakai Scarlett face care. Semalam apapun aku sampai rumah, sederas apapun hujan di luar sampai bikin mager, aku HARUS cuci muka pakai Scarlett brightening facial wash terus dilanjutkan dengan acne day and night creamnya xD Kalau tiba-tiba malas, aku ingat saja kalau menderitanya pas jerawat aku masih meradang, hahaha.


Sampai sejauh ini nggak ada alasan bagiku untuk berpaling dari Scarlett. Soalnya sudah teruji bebas merkuri dan hydroquinon, teregistrasi BPOM, dan tentu saja nggak diujicobakan pada hewan. Bikin hati nggak was-was, kan? ;)





Kalau teman-teman gimana nih? Adakah yang punya masalah kulit berjerawat juga semenjak WFH? Sudah coba pakai Scarlett face care? Semangat terus ya untuk para acne fighter supaya kulitnya kembali sehat. Pasti bisa! ;)


smile,


Indi








Selasa, 18 Mei 2021

Traktiran yang Gagal :D

Teman-teman, ada yang merasa jenuh karena "belum bisa kemana-mana" kah?

Jujur, meski aku tipe orang yang bisa menikmati waktu di rumah tapi terkadang ada rasa jenuh dan "stuck" datang juga. Meski mall, kantor dan banyak tempat umum lainnya sudah dibuka tapi tetap sih aku merasa vibesnya beda. Aku rindu hal-hal kecil macam ngemall pulang kerja, sekedar makan di kantin sehabis menjemput Ali atau bahkan bolak-balik dari rumahku dan Shane ke rumah Ibu-Bapak tanpa takut "menyakiti" mereka. ---Terutama Bapak, karena usianya sudah di atas 60 tahun. Amit-amit deh kalau aku dan Shane tanpa sadar menjadi carrier :S Jadi untuk sekarang ini kami masih setuju dengan sesedikit mungkin keluar rumah. 


Seperti yang teman-teman tahu (---kalau mengikuti blog ini, hahaha), terakhir kali aku dan Shane pergi agak jauhan dan agak lamaan ya bulan Oktober tahun lalu. Itu pun karena anniversary pernikahan kami. Seandainya nggak ada yang dirayakan, tentu kami nggak akan kemana-mana. Awal tahun 2021 melihat teman-temanku liburan bareng keluarga atau teman-temannya membuat hatiku hampir goyah, ingin rasanya berlibur juga. Tapi aku tahan-tahan. Karena awal tahun rasanya waktu yang "paling buruk" untuk meninggalkan rumah. Kerumunan di mana-mana, banyak orang mudik, dsb...

Sampai akhirnya bulan Maret kemarin aku utarakan juga keinginanku sama Shane. Aku butuh liburan, aku butuh menghabiskan waktu dengan keluarga di tempat "baru", bukan sekedar makan-makan di rumah lalu nonton TV seharian. Aku butuh, bukan hanya ingin. Satu tahun rasanya sudah cukup, ---I deserve it, Ibu Bapak deserve it too. Kami BOLEH bersenang-senang di luar rumah dan aku yakin ini waktu yang tepat. Rasanya dada seperti hampir meledak karena akhirnya mengeluarkan perasaan yang sudah kelamaan aku tahan, hahaha. Dan... Shane juga ternyata setuju.


Aku juga punya satu keinginan lagi. Aku ingin staycation kali ini (---karena masih di Bandung juga liburannya) aku yang bayar. Semenjak menikah segalanya selalu dari Shane. Iya, aku mengerti bahwa uang suami adalah uang istri juga. Tapi sesekali aku ingin dong memberi dari kantongku sendiri, ---meskipun nggak seberapa. Meski sempat ragu, Shane akhirnya mengerti dengan keinginanku. Segera aku kabari Ibu dan Bapak, dan mereka senang sekali :) Mereka juga sudah rindu untuk bersenang-senang bersama kami, tentu saja. Aku jelaskan bahwa staycation ini murni ideku, dengan budget yang nggak banyak. Ada rasa khawatir mereka nggak akan menikmati kamar hotel sederhana dan suasananya. ---Terutama Shane yang sejauh ini belum pernah menginap di hotel di bawah bintang 4. Tapi mereka meyakinkanku kalau kami semua pasti akan bersenang-senang, dan itu bukan tergantung tempat. Aku pun menjadi lega dan nggak sabar untuk segera pergi bersama mereka!


Ada 3 pilihan hotel yang sesuai dengan budgetku. Ketiganya nggak terlalu jauh dari rumah kami dan rumah orangtua. Aku biarkan Ibu yang memilih karena inginnya sih selain menginap kami juga bisa sedikit jalan-jalan. Pilihan Ibu jatuh ke POP Hotel yang berada di Festival Citylink. ---Iya, di dalam mall! Hahaha, ide bagus juga, jadi kami nggak perlu jauh-jauh dari tempat menginap kalau mau main :D Waktu aku cek foto-foto kamar hotelnya di internet sebenarnya agak ragu, sih. Soalnya baru kali ini lihat kamar hotel yang begitu plain dan fasilitasnya "seadanya". Bahkan Shane sempat bergurau kalau kamarnya terlihat seperti sel tahanan, hahaha. Tapi aku mengerti kok, namanya juga hotel budget. Kalau nggak suka ya salah aku dong kenapa nekat mau bayar sendiri :p Jadinya sehari sebelum kami menginap aku berdoa terus semoga semuanya happy. Jangan sampai niatku mau ngajak senang-senang malah jadi sebaliknya :D


Supaya perginya bareng-bareng, Ibu dan Bapak menjemputku dan Shane di rumah kami. Ali juga ikut karena dia memang sering menghabiskan waktu dengan orangtuaku (---semacam anak bungsu lah dia jadinya, hahaha). Sempat ada "insiden". Karena aku sudah siap, jadi aku turun duluan ke lobby (kami tinggal di apartemen) untuk menunggu jemputan ortu. Eh, waktu Shane turun dia cuma bawa badan doang dong! Nggak bawa tas atau apalah. Dia cuma pakai kemeja yang didouble, ---yang warnanya sudah dia sesuaikan dengan dress yang aku pakai. Mau ngambek tapi kocak juga, bhahaha. Apalagi ortu sudah terlanjur jemput, lama lagi kalau naik ke atas jadi sudah lah xD Shane masih belum ngeh kalau hotel yang mau kami inapi nggak menyediakan amenities seperti hotel pada umumnya. Ya... ada sih sabun mandi kecil sebatang, sikat gigi juga cuma satu. Masa mau dipakai berdua? Hahahaha xD


Ketika tiba ternyata benar, hotel berada di satu gedung dengan mall. Tampilan lobbynya berwarna-warni dan simple. ---Lebih mirip warnet sih kalau dibandingkan lobby hotel. Ada dua buah komputer yang bisa dipakai umum dan banyak meja-kursi model kafetaria. Benar-benar "lain", dan aku excited sekali untuk melihat kamar hotelnya!

Sengaja, aku minta agar kamar orangtua bersebelahan dengan kamarku dan Shane. Supaya kalau mau apa-apa mudah. Aku dan Shane antar dulu Bapak dan Ali ke kamar mereka, ---sementara Ibu pulang kembali ke rumah karena masih ada pekerjaan dan menyusul kemudian. Persis seperti di gambar, desain kamar sangat simple dan amenitiesnya sangat terbatas (satu buah kasur besar plus ekstra bed tapi hanya ada perlengkapan mandi untuk satu orang). Tapi melihat reaksi Bapak dan Ali kekhawatiranku 100% sirna! Mereka benar-benar gembira. ---Terutama Ali yang langsung sibuk mengecek semua benda di kamar. Dari mulai lampu, TV, sampai kamar mandi, hahaha. 


Bapak dan Ali bersantai setelah tiba di kamar hotel.

Foto bersama yang kami ambil menggunakan timer. Handphone kami senderkan ke wastafel, hahaha.


Aku dan Shane lalu pamit untuk ke kamar kami yang tepat berada di sebelah kanan kamar Bapak. Isinya sama, tentu saja. Yang berbeda hanya letak furniturnya saja yang berlawanan (mirroring dengan yang di kamar Bapak). Dan... di sinilah kami baru ngeh kalau ada yang kocak dengan desain kamar mandinya. Saking kocaknya aku sampai kembali ngakak waktu menulis ini xD Jadi kalau biasanya di hotel ada kamar mandi dalam artian sebenarnya (benar-benar KAMAR), nah di sini modelnya seperti kapsul. Hanya berdinding kaca dengan pintu dorong! Ya, kalau di kamar sendiri nggak apa-apa lah ya. Tapi kalau seandainya menginap dengan teman, aku sih ogah pas lagi mandi teman bisa lihat siluet badanku, hahaha. Aku sempat rekam Shane yang sengaja joged-joged gitu di kamar mandi, buat buktiin kalau orang di luar memang bisa lihat dia dengan jelas xp (Vlog ada di channel YouTube "Indi Sugar Taufik").


Matching outfit kami. Shane benar-benar cuma bawa baju yang nempel di badan, dia rangkap 2 kemeja sekaligus xD

Aku dan Onci, boneka kelinciku. Kami gak terpisahkan sejak aku berusia 8 tahun.


Berada di satu gedung dengan mall manfaatnya baru terasa saat malam tiba. Perut lapar nggak perlu khawatir karena tinggal jalan saja ke supermarket :D Di hotelnya sendiri memang nggak banyak pilihan makanan. Semuanya modelan ready to eat gitu yang disajikan di dalam kotak. Gak bisa customize jadi tentu saja nggak cocok untukku dan Shane yang vegan. Bapak pun memilih untuk makan malam dari luar saja. Yang beli makanan dari hotel cuma si Ali, hahaha. Dia kepengen es krim yang ternyata waktu aku cek harganya di supermarket (yang jaraknya literally beberapa langkah saja) cuma setengah dari harga yang dibayarkan, hahaha. Aku sih nggak makan berat, karena selain nggak lapar-lapar amat, Shane juga sedang sakit kepala. Jadi kami memilih untuk kumpul-kumpul lagi di kamar Bapak sambil ngobrol ke sana-ke mari. Duh, rasanya kepengen nangis saking happynya. Rasanya masih kaya mimpi bisa main sama keluarga di tengah pandemi kaya gini. Pokoknya tiap detik aku nikmati banget. Ngantuk juga aku tahan-tahan, soalnya entah kapan lagi kami bisa main bareng di tempat umum :')


Sekitar jam 9 malam, aku dan Shane kembali ke kamar kami. Aku sih langsung cuci muka dan ganti baju pakai piama sementara Shane cemal-cemil sambil bersantai di tempat tidur. TV menyala, dan ada beberapa film yang kami sukai. Tapi gak benar-benar kami tonton sih karena lama-lama mengantuk juga, hehehe. Kesan seperti sel tahanan ternyata nggak terasa setelah kami benar-benar menghabiskan waktu di kamar. Kebersihannya cukup bagus dan tempat tidurnya terasa nyaman. Kami pun nggak ada masalah untuk terlelap seperti bayi :) 

Oh, by the way, ternyata niat aku untuk "staycation kali ini disponsori oleh AKU" digagalkan oleh Ibu Mertua, hahaha. Sepertinya Shane diam-diam bilang sama ibunya kalau kami sedang berada di hotel. Soalnya beliau tiba-tiba saja bilang kalau kami boleh menggunakan kartu kreditnya untuk membeli apa saja yang kami mau :/ Aduuuh, rasanya jadi campur aduk, deh. Antara "malu" karena aku kekeuh banget pengen liburan, sama senang karena punya mertua murah hati, hahaha.


Tapi yang namanya orangtua memang begitu, deh. Bapak saja yang sudah jelas tahu kalau aku SANGAT ingin mentraktirnya tetap saja berusaha menyelipkan uang ke tanganku saat akan mengajak Ali makan es krim. Huaaa, bikin terharu T_T Padahal aku sama Shane juga nggak muda-muda amat. Lah, yang seumurku sudah punya cucu saja ada :p Maaf nih kalau pembahasannya jadi ngelantur-lantur... Sejak hari pertama aku dan Shane menikah kami memang bertekad untuk hidup mandiri. Langsung move out dan memiliki rumah sendiri meskipun super mungil. Sebisa mungkin kalau ada apa-apa berusaha berdua dulu sebelum meminta bantuan orangtua (---baik ortuku atau mertua). Kadang aku merasa kalau mereka terlalu khawatir sama kami. Khawatir lapar lah, atau khawatir nggak pernah belanja lah. Padahal kaminya nggak kenapa-napa :') 


Anyway, kami tidur nyenyak. Kabarnya sih si Ali baru tidur tengah malah saking senangnya, hahaha :D Kami nggak sarapan di hotel dan memilih membeli sendiri saja. Aku mandi juga akhirnya, meskipun kesyel banget karena pintunya transparan :p Shane sih memilih menggosok gigi saja dan mengganti kemejanya dengan yang (again) match sama dressku. Dari wajahnya dia kelihatan lebih segar, yang mana bagus karena artinya sakit kepalanya sudah membaik. Ibu membawakan kami obat sih sebenarnya, tapi Shane nggak mau minum obatnya karena takut terlalu sering. Tadinya aku sudah deg-degan saja kalau dia sakit, ---bisa-bisa liburan kami gagal. (Segagal traktiranku, lol).




Morning selfies, sambil menunggu Shane yang sedang siap-siap :)


Dari kemarin Ali sudah request untuk berenang dan bermain di Kids Club, tapi batal karena fasilitas hotel tutup lebih cepat dengan alasan keamanan. Jadi kami beramai-ramai ke kolam renang yang letaknya ternyata berada di Hotel Harris (---mereka satu management, dan POP nggak punya kolam renang sendiri). Yang nyemplung cukup Ali. Sisanya menunggu di pinggir kolam. Kenapa? Ya iyalah, masih pagi dingin banget kan xD Ali meski gemetaran tetap saja semangat ciprat-ciprat. Mungkin karena dingin dia jadi lupa caranya berenang, haha. Nggak apa-apa, ya, yang penting happy :) Nggak terasa matahari semakin naik. Yang tadinya kedinginan lama-lama kami malah ingin berlindung dari teriknya matahari. Untung ada area untuk berteduh dan duduk-duduk. Kami istirahat dulu di sana sebentar sebelum ke Kids Club, ---yang rupanya kosong melompong. Mungkin karena sedang pandemi jadi tamu hotel lebih memilih di kamar saja. Ali cuma menghabiskan waktu sebentar saja di sana, lalu kami kembali ke kamar hotel sambil berpikir mau ngapain lagi :D






Ali dan Bapak menikmati kolam renang berdua saja :D


Kids Club yang serasa milik Ali sendiri, hahahaha.



Lumayan banget, lho. Meski hotelnya sederhana tapi ada area terbuka buat duduk-duduk gini. Bapak seneng banget di area ini :)


Seperti kemarin, kami ngumpul-ngumpul lagi di kamar Bapak. Ngemil-ngemil, mulai beres-beres sambil menunggu Ibu yang sedang ke Panti Asuhan untuk Jumat Berkah. Perut aku sudah lumayan lapar (lagi), tapi belum tahu mau makan dimana. Jam 10 pagi restoran di mall juga belum banyak yang buka, jadi pilihan mungkin terbatas. Akhirnya kami putuskan untuk check out awal saja begitu Ibu datang. Soalnya memang sudah nggak ada aktivitas lagi yang bisa dilakukan di hotel. Pilihan Ibu memang nggak salah ya, kami jadi nggak mati gaya karena bisa jalan-jalan ke mall, hehehe. Eh, tapi bukan berarti di hotel membosankan lho. Ini pendapat pribadiku, yang 100% jujur. Kalau bisa kasih nilai, aku kasih POP Hotel ini 4 dari 5 bintang! Desain boleh sederhana dan wifi sering macet, tapi kamarnya nyaman dan bersih. Untuk teman-teman yang ada rencana ke Bandung dan on a budget tapi mau tetap nyaman, aku rekomendasikan hotel ini (---catat, bukan untuk yang suka dengan "kemewahan" hotel pada umumnya ya, ini hotel murah). Nggak endorse lho aku, ini murni pendapatku xD


Setelah checkout sambil menunggu Ibu. Ali langsung angkat kamera seperti ini ketika tahu akan aku foto. Katanya dia mau foto juga :D


Kalau mau ngikut budgetku, seluruh keluarga paling aku traktir pizza, lol. Tapi Shane bilang supaya aku bilang sama orangtuaku untuk memilih restoran yang mereka suka. Mall masih sepi banget, dan ini jadi punya sisi baik karena artinya kami lebih leluasa memilih. Mau pilih apapun bakal berasa punya pribadi, hehe. Ortu tentu menyerahkan pada kami karena mereka ingin tempat yang netral, yang punya menu ramah vegan dan punya pilihan non vegan juga. Akhirnya kami memilih Ta Wan, yang hanya ada menu vegetarian tapi lumayan lah masih bisa special request agar jadi vegan :) Ajaibnya, setelah 2 hari 1 malam bersama, justru moment di restoran inilah yang menurutku menjadi highlight staycation kami. Suasana begitu hangat dan menyenangkan. Karena sambil makan masker pun ditanggalkan, dan berbincang sambil saling menatap wajah-wajah yang aku cintai rasanya luar biasa sekali. Aku sampai lupa kalau keadaan sedang nggak baik-baik saja. Aku merasa ini adalah moment ternormal yang aku rasakan semenjak tahun lalu. Kalau ada kata untuk "amat sangat bahagia, bahkan lebih bahagia dari bahagia", maka itulah yang aku rasakan.


Sambil menunggu pesanan kami datang semua, kami minta tolong untuk diambilkan foto bersama :D


Selesai makan aku sadar kalau waktunya berpisah semakin dekat. Tapi ternyata Shane mengajak kami berbelanja dulu. ---Lagi-lagi ada pesan dari Ibu Mertua yang berpesan agar kami membeli apa yang kami inginkan :') Mumpung sedang di mall katanya. Meski rasanya nggak enak, karena semakin gagal lah traktiranku (ini malah aku yang ditraktir terus, hahaha) tapi deep inside aku senang karena jadi punya waktu lebih lama lagi buat jalan-jalan keliling mall sama Ibu, Bapak dan Ali :"D 

Klasik, tapi benar adanya. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Mau dilama-lamain kaya apa juga kami harus pulang ke rumah masing-masing T_T Karena Ibu yang membawa mobil, jadi aku dan Shane diantarkan dulu ke rumah kami. Hanya sampai lobby dan rasanya jadi "dadah" terberatku sepanjang sejarah (---maaf lebay, hehe). Waktu kami naik ke atas rasanya masih surreal, kaya nggak nyata saja gitu. Untuk dua hari rasanya hidup kami normal kembali. Dan ini membuat hatiku sedikit mencelos. Kapan ya kami bisa benar-benar seperti ini tanpa harus menunggu moment istimewa? Karena meski sudah satu tahun tetap saja kami nggak bisa (dan nggak mau!) terbiasa dengan kehidupan yang seperti ini. Kami kangen "hidup lama" kami. 


Ah, tapi aku nggak mau kerinduanku mendistraksi aku dari rasa syukur. Mau seperti apapun keadaan dunia saat ini, nggak akan mengubah fakta kalau 2 hari yang kami habiskan bersama sangat LUAR BIASA. 

Meski aku gagal mengtraktir!

Karena setelah dipikir-pikir aku malah sangat bersyukur. Kalau saja Ibu Mertua nggak maksa traktir pasti waktu bertemu kami lebih singkat. 


Everything happen for a reason ;)


Vlog kami. Jangan lupa nonton ya :) Untuk pengguna mobile klik di sini.


Edit: Berhubung ada 2 komentar yang bilang kalau kolam renangnya nggak besar (—-karena sebelumnya aku hanya post bagian kiddy pool). Tuh, aku sudah tambahkan foto kolam renang yang mudah-mudahan bisa jadi gambaran sebesar apa ukuran sebenarnya xD Lumayan besar kok ini, sesuai saja dengan kapasitas tamu hotel yang nggak terlalu banyak ;)


blessed girl,


Indi

---------------------------------------------------------------

Kontak email: namaku_indikecil@yahoo.com | Facebook: Indi Sugar | Instagram/Twitter: Indisugarmika | YouTube: Indi Sugar Taufik

Selasa, 27 April 2021

Scarlett Whitening, Not tested on Animals, Halal, —-Kira-kira Sebagus Apa, ya? ;)

Yuhuuuu, gimana nih puasanya, teman-teman? :D Nggak terasa ya tahu-tahu sudah Ramadan. Padahal rasanya baru kemarin aku cerita tentang tahun baru. ---Eh, itu sih gara-gara aku nya saja yang sering absen cerita, ya :p Kebanyakan absen sampai-sampai waktu aku cek kolom komentar di postinganku kemarin, banyak yang baru tahu kalau aku sudah menikah. Astagaaa, sudah masuk tahun ketiga iniiiih, hahaha. Maafkan :p Salah satu goalsku tahun ini adalah supaya balik rajin menulis lagi di sini. Masih angin-anginan, tapi aku janji nggak bakal terlalu manjain kebiasaan "mager" ku. (Buat teman-teman silakan banget lho kalau mau sentil aku secara online kalau tiba-tiba semangatku kendor lagi, hahaha)
Tapiiiiii, ada lho salah satu resolusi tahun ini yang sudah mulai jalani dan sudah mulai kelihatan hasilnya. Aku mau punya kulit lebih sehat! Yang mengikuti aku di instagram mungkin tahu lah ya kalau sejak tahun kemarin aku mendampingi Ali les berenang. Kulitku jadi belang dong, terutama bagian lengan :') 

Jadi sejak awal tahun 2021 aku langsung mencari-cari body care yang pas. (Ya, siapa tahu pas Lebaran kulitku sudah mendingan gitu, hoho). Nggak cuma yang "sekedar" bisa bikin kulitku cerah dan kelihatan fresh, tapi aku juga secara spesifik mencari produk yang nggak diujicobakan sama hewan. Ya masa dong aku sudah nggak mengkonsumsi hewan tapi tetap menyakiti hewan demi cantik :') Akhirnya pilihanku jatuh kepada Scarlett Whitening. Selain yang sudah aku sebutkan barusan, pertimbangan lainnya juga karena sudah banyak yang mereview. Bahkan temanku (haloooo Angie!) juga pakai, jadi setelah sedikit tanya-tanya aku mantap semantap-mantapnya untuk ikutan pakai Scarlett.



Aku pesan melalui Instagram officialnya, @scarlett_whitening. Tiga produk sekaligus, yaitu body scrub Romansa, shower scrub Pomegrante dan body lotion Freshy. Harga satuannya Rp. 75.000, ---yang aku pikir sepadan banget, secara lotion dan body showernya saja isinya 300 ML, dan body scrubnya 250 ML :) Waktu paketnya datang sejujurnya aku sempat khawatir, soalnya produk perawatan kulit gini biasanya bocor di perjalanan. Terutama di bagian tutupnya gitu. Pengalaman banget soalnya pas ke Singapore 2 tahun lalu aku sempat nangis kejer karena lotion yang baru aku beli porak poranda pas dititip di ransel Shane, hahaha. Tapi ternyataaaaaa... aman, saudara-saudara! Paketnya selamat luar dalem banget (apaan sih, hahaha). Soalnya dikemas pakai kardus coklat tebal (yang sekarang aku pakai untuk menyimpan kartu pos) dan tiap produknya dilapisi bubble wrap (kecuali body scrub karena kemasannya beda, bukan botol). Lega dan happy banget deh rasanya :') 



Eh, by the way, by the way... gimana kalau sekarang sekalian aku review saja produk Scarlett nya? Kan sudah lumayan lama juga tuh aku nggak review body care di sini karena kemarin-kemarin belum nemu yang cocok. Apalagi sejauh ini aku beneran cocok banget sama produk-produknya. Siapa tahu ada yang punya problem kulit sepertiku juga atau at least penasaran.
Setuju dong, ya? Iya. (---Lah, jawab sendiri, lol).

Tentang Scarlett Whitening
Jadiiii seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, sebelum memilih Scarlett aku sempat cari tahu dulu tentang produk-produknya. Begitu aku ketik di internet langsung muncul banyaaaak banget testimoni dari yang sudah pernah memakainya. Nah, selain nggak diujicobakan pada hewan (not tasted on animals), yang nggak kalah pentingnya Scarlett ini ternyata sudah teregistrasi di BPOM dan halal. Nggak cuma halal katanya-katanya doang, tapi pas aku cek memang sudah ada logo MUI nya. Ketiga produknya (body scrub, shower scrub dan body lotion) mengandung glutathione dan vitamin E yang berfungsi untuk mencerahkan, melembabkan dan menutrisi kulit. Pas banget sama yang sedang aku butuhkan!



Body Scrub Romansa
Jujur waktu pertama kali aku buka paketnya, body scrub nya lah yang paling mencuri perhatian. Kemasannya cute banget (tahu lah aku paling lemah kalau soal kemasan cute, hahaha). Warnanya putih dengan bunga-bunga pink yang cantik. Ketika dibuka ada segel hologramnya yang menurutku memberi kesan ekslusif dan mewah. Aroma lembut nan romantis langsung tercium begitu aku melepas segelnya. Asli bikin relaks banget, padahal belum juga aku pakai lho xD Aku cukup akrab dengan produk body scrub. Maklum pengguna scoliosis brace senior pasti harus sering-sering scrubbing. kalau nggak bisa kapalan :p Nah, body scrub nya Scarlett ini berbeda. Teksturnya lebih halus dibanding scrub lain, jadi waktu diaplikasikan sama sekali nggak bikin sakit dan pedih (---you know, perasaan itu lho waktu bulu-bulu halus kita ikut ketarik gara-gara scrub, haha). Bisa dibilang effortless, karena aku tinggal oles-oles sampai rata ke seluruh tubuh (dalam keadaan tubuh kering), tunggu 2 sampai 3 menit, gosok-gosok, terus dibilas deh. 







Nggak harus yang gosok-gosok pakai penuh tenaga gitu. Meski teksturnya lembut tapi tetap efektif kok untuk menganggat kotoran. Aku sampai puas banget lihatnya daki sama sel kulit mati (eh, ini sama nggak sih?) rontok dari badanku, huehehe... xD Apalagi dengan wanginya yang lembut-lembut gitu bikin aku berasa lagi di spa. Nggak perlu pakai lilin-lilin aromaterapi lagi di kamar mandi deh, pakai ini juga cukup, hoho...
Waktu pertama kali nyoba, aku masih inget banget Shane langsung komentar kalau kulitku jadi kelihatan makin fresh! Dan aku sih percaya banget kalau dia yang ngomong. Soalnya dia kan jarang banget kasih komentar, tapi sekalinya bersuara pasti jujur, hahaha.

Brightening Shower Scrub Pomegrante
Ini nih yang botolnya aku khawatirkan bakal bocor selama di perjalanan tapi ternyata aman :D Kesan pertama waktu melihat produknya kok lucu amat sih kaya slime mainan punya Ali. Bikin aku nggak sabar mau pakai :D Kemasannya botol plastik transparan dengan tutup flip top. Bisa terlihat dari luar kalau isinya berwarna ungu dengan bintik-bintik (---yang ternyata bulir-bulir scrub) berwana biru. Berbeda dengan body scrub nya yang beraroma kalem, yang ini sedikit lebih strong dan playful. Tapi nggak menyengat ya, justru segar. Bikin semangat kalau dipakai mandi pagi. Sebelum aku coba pakai shower puff, aku coba dulu tuangkan shower scrubnya ke telapak tangan. Modelnya ternyata gel gitu, sedikit kental tapi nggak susah untuk dikeluarkan dari botol. Aku selalu mandi pakai puff, dan itu bikin busanya banyaaak banget. Padahal aku pakainya sedikit lho. Efeknya setelah pemakaian pertama, kulitku langsung terlihat dan terasa segar. Mungkin karena ada bulir scrub yang bikin proses membersihkan tubuh jadi maksimal, ya. Meski begitu bukan berarti bikin kulitku jadi kering, justru malah terasa semakin lembap. Oya aku juga minta Shane untuk mencoba shower scrubnya (karena aku istri yang baik dan suka berbagi, hehe). Sejauh ini dia pun cocok. Jadi aman dong untuk bilang kalau produk ini bisa dipakai tipe kulit kering sepertiku dan berminyak seperti Shane ;)









Fragrance Brightening Body Lotion Freshy
Waktu aku lihat kemasan botolnya, seketika aku langsung teringat insiden lotionku yang porak-poranda di ransel Shane, hahaha. Seandainya saja dulu aku sudah kenal dengan lotion Scarlett pasti nggak akan terjadi :'D Botolnya model pump yang kerennya ada option open dan stopnya. Ini sih game changer banget, astagaaa. Soalnya dari sekian banyak produk body care, lotion adalah produk PASTI yang selalu aku bawa kalau traveling. Aku surprise banget sama aromanya yang mewah. Kayanya sejauh ini belum pernah deh nemu lotion dengan aroma seperti ini. ---Seperti wangi Jo Malone English Pear & Freesia eau de cologne! Nggak perlu pakai parfum lagi pun tubuhku sudah wangi maksimal. 
Konsistensi lotionnya cukup thick. Juga nggak lengket di kulit karena cepat banget meresap. Pernah nggak sih pas buru-buru, badan sudah pakai lotion tapi nggak bisa langsung pakai baju karena takut nempel-nempel? Nah, ini sih nggak. Beberapa saat setelah pakai lotion yang ditinggalkan hanya wangi mewah dan perasaan nyaman di kulit saja, no lengket-lengket club :D Sama seperti ketika habis memakai body scrubnya, setelah memakai Scarlett body lotion Freshy ini aku juga bisa langsung melihat kalau kulitku cerahan. Dan ini tuh nggak yang bikin kulit pucat ya atau malah jadi terlihat seperti habis pakai foundation. Tapi cerah yang alami dan segar. Susah sih kalau dijelaskan pakai kata-kata. Lihat saja fotonya biar kalian yang menilai, hehe :D






Kesimpulannya, aku puas dan happy banget sama Scarlett Whitening ini. Kayanya resolusi kulit sehat dan no belang-belang aku sukses nih sebelum Lebaran (Amin...) xD 
Aku sih nggak ada niatan mengubah warna asli kulitku. Yang terpenting sehat, complexionnya rata dan terlihat cerah. Cerah dalam artian nggak kusam ya, bukan kulit putih seperti dibleach gitu karena itu mah nggak alami. Kalau tampilan kulitku bisa lebih baik kan why not? Iya nggak ;)
Teman-teman yang penasaran sama Scarlett aku saranin buat langsung meluncur (---aih, bahsanya ketahuan umur, lol) ke Instagram mereka di @scarlett_whitening. Oya, aku juga baru tahu kalau selain via DM Instagram kita juga bisa pesan produknya melalui nomor whatsapp 087700353000, akun Shopee @scarlett_whitening dan Line @scarlett_whitening. Tapi pilih salah satu saja ya, jangan kirim pesan ke semuanya sekaligus, hehehe. Aku kemarin sih beli satuan (@ Rp. 75.000, seperti yang sudah aku sebutkan). Kalau mau lebih hemat tersedia juga paket berisi 5 item dengan box exclusive dan free gift dengan harga Rp. 300.000. Rencananya kalau yang aku punya ini sudah habis mau pesan paket hematnya saja. Biar sekalian buat stock dan buat bawa ke rumah orangtua juga, supaya Ibu bisa cobain :D

Teman-teman ada yang punya resolusi 2021 sama kaya aku juga nggak, nih? Kalau ada, ---atau apapun resolusinya, semoga tercapai ya! Selamat berpuasa! :)