Minggu, 22 Juli 2018

Catatan Operasi Angkat Rahim Eris: It's a Miracle! :)

Aku memang bukan orang paling positif sedunia, tapi aku selalu berusaha mencari sisi baik dari setiap kejadian. Tapi apa yang terjadi sama aku beberapa hari lalu susaaaah sekali membuatku tegar. Saking takutnya aku sampai mikir yang “nggak-nggak”. Not my character, tapi ini beneran terjadi! Baru sekaranglah saat aku menulis ini hati sudah tenang kembali. Dan aku bisa belajar kalau hal yang kupikir “terburuk” pun kalau dijalani dengan kepala dingin, ---at least aku berusaha begitu, akan bisa dilalui.
Kejadian ini menimpa Eris, anjing golden retriever kesayanganku. Tanpa harus disebut, mungkin sudah banyak yang tahu betapa berartinya dia untukku. Dia pelipur laraku di masa-masa sulit, juga literally pernah menyelamatkan nyawaku dari tumor payudara di tahun 2013 lalu. She’s my baby, dan saat tahu ada yang salah dengannya aku ketakutan setengah mati. 


14-15 Juli 2018
Awalnya, 13 Juli 2018 Eris mendadak nggak nafsu makan. Pupnya cair dan badannya juga lemas. Memang sejak beberapa waktu sebelumnya Eris nggak seenergik biasanya, tapi aku nggak anggap serius. She’s an older dog, dan dokter bilang itu normal. Untuk pertolongan pertama aku beri dia Norit, obat diare dan keracunan untuk manusia yang relatif aman untuk hewan, juga kaldu ayam yang aku campur dengan makanannya. Rasanya khawatir, tapi hanya sebentar karena malamnya nafsu makan Eris kembali dan dia bertingkah normal.

Keesokan harinya, pagi-pagi, Eris kembali terlihat lemas. Malah menurutku terlihat lebih lemas dari kemarin. Nafsu makannya kembali hilang, pupnya cair dan vaginanya mengeluarkan darah. Seperti darah loop (menstruasi), tapi aku yakin itu bukan karena Eris baru selesai loop 2 bulan yang lalu. Karena khawatir, aku, Bapak dan Shane langsung membawanya ke klinik 24 jam. Di sana Eris di USG, diberi suntikan untuk menghentikan pendarahan, tes lab untuk pup dan darah vaginanya juga diresepkan obat. Hasil sementara kemungkinan terkena infeksi rahim atau Pyometra karena dari hasil USG terlihat ada kantung besar di perutnya. Kenapa hanya kemungkinan? Karena untuk memastikan masih harus tes darah dan ronsen. Aku agak heran dan sempat ngotot juga, nggak terima! Di bulan Mei Eris sudah cek darah dan hasilnya NORMAL. Aku pikir mana mungkin bisa mendadak sakit? Akhirnya kami pulang dan memutuskan akan kembali keesokan harinya untuk cek darah dan rawat inap untuk persiapan operasi angkat rahim, ---jika memang betul ternyata Eris terkena infeksi.


Tiba di rumah Eris ternyata semakin lemas dan darah yang keluar semakin banyak, padahal waktu di klinik dia masih lari-lari sambil sesekali mengganggu pasien lain. Panik! Aku langsung minta nasehat dokter langganan yang kebetulan sedang di luar kota. Aku disarankan untuk menelepon ke klinik dan bilang bahwa ini EMERGENCY. Thank God, pihak klinik sangat tanggap dan langsung menangani Eris ketika kami membawanya kembali ke sana. Padahal kabarnya ruang rawat inap penuh. Tapi yang terpenting Eris memang ditangani dulu, soal tidur di lantai biarlah, yang penting nggak terlantar. Perasaanku sudah nggak karuan. Sempat nangis sesenggukan di pelukan Shane, lalu marah dan kecewa sama diri sendiri. Pokoknya kacau... Hasilnya Eris positif terkena infeksi rahim dan harus segera dioperasi. Waktu sudah malam, dan rencananya operasi akan dilakukan jam 9. Rasanya waktu untuk mengucapkan "See you" saja belum cukup saking cepatnya. Tapi aku harus tegar, nggak boleh bikin Eris jadi ketakutan karena malah memperburuk keadaan. Setelah Eris dipasangi infus, aku, Shane dan Bapak yang mengantar ke sana pamit pulang. Aku sempat ngobrol dulu dengan dokter yang akan mengoperasinya. Katanya kemungkinan keberhasilannya 50-50 karena Eris sudah masuk usia tua. Tapi aku percaya Tuhan, aku berdoa, ---dan yang terpenting aku berusaha untuk kesembuhan Eris…

16 Juli 2018
Pagi-pagi aku dapat kabar kalau Eris sudah sadar dan mau disuapi dog food favoritnya! Perasaanku legaaaaa sekali. Semalaman yang aku pikir hanya Eris dan kabar baik ini rasanya bikin hatiku meledak, hehehe. Aku, Bapak dan Shane menjenguknya di siang hari. Kondisi Eris meski masih kesakitan tapi terlihat jauh lebih alert dibandingkan dengan sebelum operasi yang sempat nabrak-nabrak saking lemasnya. Matanya awas dan yang bikin pangling perutnya kempes karena rahimnya sudah diangkat. Kardus yang dijadikan alas kering sama sekali, nggak ada lagi darah yang keluar dari vaginanya. Praise the Lord… operasinya berhasil! :)


Kami nggak banyak melakukan apa-apa. Eris hanya dibelai-belai karena masih lemas belum bisa berdiri terlalu lama. Menurut dokternya operasi Eris cukup memakan waktu dan menghabiskan banyak benang karena jahitannya panjang. Aku nggak bisa benar-benar melihatnya karena tertutup perban, tapi melihat foto-foto pasien sebelumnya aku tahu kalau ini operasi besar. Karena belum bisa makan sendiri Eris disuapi dan diinfus. Aku sama sekali nggak berharap banyak, melihat Eris terbangun dari tidurnya saja membuatku senang, sesenang senangnya! :)

17 Juli 2018
Waktu kami menjenguknya, Eris lagi tiduran. Masih pakai infus dan kabarnya makan pun masih harus disuapi. Begitu aku panggil namanya dia langsung bangun dan excited sekali. Iseng-iseng aku dekatkan mangkuk makanannya, eh rupanya langsung dimakan habis! Dokter dan staff di klinik pun langsung kaget. Katanya Eris mungkin maunya makan sama aku, hahaha.


Dari hasil tanya-tanya sama dokternya katanya perkembangan Eris baik. Pee dan pup normal, makan pun porsinya cukup despite of belum mau sendiri (bisa juga gara-gara manja sih, lol). Oh iya Eris akhirnya nggak diinapkan di ruang inap karena size dia yang cukup besar, jadi di ruang operasinya saja sampai cukup kuat untuk dibawa pulang. Aku sih malah lega, karena kelihatannya staff rajin bersih-bersih setiap ada hewan yang buang kotoran (---di sana hanya ada Eris dan seekor kucing yang baru melahirnya plus baby-baby lucunya).
Soal makanan untuk Eris dokter membebaskan, pilihannya ada dua: dog food yang sudah disediakan klinik atau aku bawa sendiri. Aku pilih yang kedua karena khawatir Eris bosan (kaya aku yang ogah makan makanan RS, hahaha). Kecuali kalau dog food yang kubawakan habis, aku sudah titip agar Eris dibelikan dog food favoritnya dari pet shop di lantai dasar. 

18 Juli 2018
Begitu aku dan Shane datang untuk menjenguk kami langsung dipersilakan masuk ke ruang operasi. Sepertinya staff di sana sudah hapal dengan kami karena datang setiap hari :D Berhubung kemarin Eris masih tiduran waktu kami datang, jadi kami buka pintu pelan-pelan. Eh, tapi ternyata sama sekali di luar dugaan! Di balik pintu Eris sedang berdiri tegang dengan wajah badung! Di sekelilingnya ada serpihan kemasan makanan kucing. Ya ampun… Eris makan jatah pasien lain :O *TEPOK JIDAT*

Aku jadi serba salah, antara marah tapi pengen ketawa juga. Eris is back! Kalau nggak bandel bukan Eris namanya. Aku langsung minta maaf sama dokternya, tapi dokter dan staff di sana memang baik-baik, katanya memang salah mereka yang "lupa" kalau Eris bisa jangkau makanan kemasan. Syukurlah Eris makan sedikit saja, karena jika kebanyakan makanan kucing nggak baik untuk anjing.


Eris memang jauh lebih aktif, jalan ke sana-kemari dan sangat waspada. Infusnya sudah dilepas, luka bekas jahitan kering dan rapi! Aku bawa sisir dari rumah untuk merapikan bulu Eris biar makin kece, siapa tahu ada pasien anjing jantan yang ganteng di sana, hehehe. Nggak lupa aku juga bawakan makanan kesukaannya yang langsung habis dilahap padahal belum sempat dipindahkan ke mangkuk :’D Melihat Eris “kembali” rasanya semakin berat buat bilang "see you”. Maunya aku menginap saja atau bawa Eris pulang. Tapi dokternya meyakinkan aku kalau Eris dirawat dengan baik dan memang sebaiknya nggak pulang dulu meski sudah aktif (baca: bandel). Perkiraan Eris harus dirawat selama satu minggu, tapi my gut felling says dia akan lebih cepat pulih dari waktu yang diperkirakan ;)

19 Juli 2018
Pagi-pagi aku ditelepon sama klinik. Tumben, biasanya mereka hanya mengabariku via WhatsApp. Agak khawatir, takutnya ada sesuatu yang nggak diinginkan aku langsung menjawab teleponnya. Eh, rupanya mereka hanya mau minta izin untuk memberi Eris dog food dengan jenis lain karena dog food yang aku bawakan habis! Hahaha, Eris rupanya kelaparan. Tanpa pikir panjang aku langsung iyakan. Perasaanku bilang, nafsu makan Eris sudah kembali. Jadi diberi dog food dalam bentuk kibbles pun rasanya dia akan mau meski biasanya dia makan yang kalengan.

Sekitar dua jam kemudian aku ditelepon lagi. Sumpah, rasanya seram banget, “ada apa ya sampai ditelepon dua kali dalam satu pagi?” begitu pikirku. Tapi rupanya mereka mau menyampaikan kabar super baik. Dokter menyatakan Eris sudah aman untuk dibawa pulang! Ya ampun, bahagia sekali! Sampai-sampai aku nggak bisa kembali tidur padahal semalaman begadang :D

Malamnya, aku, Shane, dengan diantar Bapak menjemput Eris di klinik. Maunya sih memang langsung di pagi harinya. But honestly waktu pulang Eris yang lebih cepat membuat aku nggak siap dalam segi finansial. Biaya yang dihabiskan sejak awal Eris sakit sekitar empat juta rupiah, jumlah yang nggak sedikit buatku. Bersyukur akhirnya ada solusi meskipun masih harus aku selesaikan di kemudian hari. Yang terpenting kan Eris sudah sehat dan bisa pulang ke rumah :)
Waktu kami datang Eris sedang main dengan pasien lain. Aku sampai cekikikan, ajaib saja rasanya melihat Eris bisa ramah sama anjing lain, hahaha. Dan Eris sama sekali nggak seperti anjing sakit. Bandelnya sudah 100% kembali dan pakai drama nggak mau pulang segala, lol.

Sebelum pulang aku diajari untuk mengganti perban oleh dokter dan diingatkan untuk memberi Eris obat 2 kali sehari. Obat olesnya sih sama seperti obat manusia pasca operasi. Tapi untuk obat oralnya aku kurang paham, sepertinya antibiotik dan vitamin penambah nafsu makan. Terharu sama Eris yang kooperatif, nggak grusak-grusuk waktu diganti perban. Mungkin karena dokter dan staffnya sabar-sabar. Terlihat banget mereka kerjanya pakai hati. Jujur awalnya aku ragu untuk ke klinik ini karena review di Google banyak yang negatif. Tapi ternyata ini klinik yang super helpful, selain buka 24 jam, dokter pun selalu stand by karena yang bertugas di sana nggak satu dokter saja, tapi tujuh. Sekedar share, nama kliniknya “MUTIARA”. Bertempat di ruko (lantai 2) Metro Trade Center, Jl. Soekarno Hatta Bandung


Meski sudah kembali ke rumah bukan berarti Eris sudah bisa kembali beraksi secara full. Bandelnya harus direm sedikit karena khawatir akan merusak jahitannya. Dia sepertinya kangen rumah, excitednya super sekali sampai seluruh sudut dijelajahi, hahaha. Meski dokter bilang Eris pee dan pupnya sudah normal, tapi aku tetap mengawasi dan bersiap memberikan obat jika memang diare kembali. Tapi sejauh ini baik-baik saja. Nafsu makan pun sudah setara dengan seekor kuda aka rakus sekali :D Mengganti perban Eris agak tricky karena plesternya susah sekali melekat, tapi jika diganti dengan plester biasa malah terlalu susah dilepas dan bikin dia kesakitan. Sekarang aku sudah semakin lihai sih, mudah-mudahan saja aku bisa merawatnya dengan benar dan nggak terjadi infeksi, amen…

Well, aku harap teman-teman, terutama yang memelihara anjing bisa belajar dari pengalamanku. Kondisi kesehatan, terutama pada older dog bisa berubah dengan cepat. Jadi jika sudah mendapat pertolongan pertama belum membaik, segera larikan ke dokter hewan! Mencegah tentu lebih baik daripada mengobati, tapi kesiapan juga penting. Susah untuk bilang sama diri sendiri untuk nggak panik, but trust me, it’s worth it. Dengan ketenangan kita, anjing juga bisa merasakan. Melepas Eris untuk rawat inap itu nggak mudah karena dia nggak mengerti. Salah-salah dia bisa mengira kalau aku menelantarkannya. Jadi aku berusaha acting kalau ini cuma vacation, ---no sad face dan tunjukan kalau aku juga excited dia bakal ada yang jagain dan bisa makan enak (padahal dalam hati sih tetap, nangis).

Aku bersyukur mendapat banyak dukungan untuk melalui ini. Terutama dari followers Instagramku yang komentar-komentarnya menenangkan. Juga dari Tante dan dokter hewan langganan Eris yang sebenarnya nggak terlibat dalam operasi Eris (karena dari klinik berbeda) tapi tetap rajin bertanya tentang kondisi Eris. Dokter-dokter dan para staff di klinik “Mutiara” yang merawat Eris (plus direpotin), terima kasih banyak, tanpa mereka mungkin Eris sudah nggak bersamaku lagi sekarang karena infeksi rahim itu harus ditangani segera. Dan tentu, untuk keluargaku, terutama Bapak yang selalu setia mengantar. Termasuk Shane, you’re such an angel to me! Terima kasih sudah membantu dari awal sampai sekarang, dari mulai cuci mobil setelah terkena darah Eris yang baunya minta ampun sampai menenangkanku secara mental setiap malam.

Tulisan panjang lebarku ini mungkin ada yang menganggap lebay. But trust me guys, family is a family, mau apapun bentuknya. Dan Eris, dia telah menjadi anggota keluargaku sejak pertama kami bertemu dengannya! :)




kisses,

Indi


(Diedit 5/3/2024. Akhirnya ibunya Shane, calon ibu mertuaku saat itu menanggung sisa pengobatan Eris sebanyak dua juta rupiah. Bless her heart).
_______________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Selasa, 26 Juni 2018

Ngobrol-Ngobrol Tentang Vegan ;)

Wah, masih suasana Lebaran, nih! Maaf lahir batin ya, teman-teman :) Gimana nih, apakah ada yang masih menikmati liburan Lebaran? Atau sudah mulai beraktivitas normal lagi? Aku sendiri sih sudah terasa perubahannya, kue-kue sudah pada habis dan sudah nggak ada "excuse" lagi kalau mau bangun siang, hahaha :p Meski ada sisi senangnya karena toko-toko sudah nggak libur (kemarin-kemarin aku susah cari cemilan tengah malam, doooongs!) tapi aku sudah kembali rindu dengan suasana Lebaran. Soalnya hari-hari biasa susah banget buat bertemu dengan saudara-saudara yang tinggal di luar kota, dan... susah buat makan di luar soalnya nggak bisa pakai alasan "bosan menunya itu-itu lagi", hahaha.

Ngomong-ngomong soal makan di luar, aku ada kenang-kenangan dari bulan puasa kemarin, tepatnya tanggal 4 Juni 2018 yang lalu. Masih ada yang ingatkah dengan postku tentang restoran vegan "Kehidupan Tidak Pernah Berakhir"? Nah, tulisanku rupanya dibaca oleh pihak mereka dan mendapat respon yang positif. Mereka bahkan menghubungi dan mengajakku untuk berbagi pengalaman sebagai seorang vegan. Karena aku (dan juga pacarku, Shane) betulan suka dengan makanan di sana, aku pun mengiyakan. Ditambah karena peningkatan kualitas mereka juga terlihat nyata (---terutama toilet yang sekarang sudah jauh lebih bersih), semakin semangatlah aku untuk diwawancarai.

Meski waktu wawancara dilakukan setelah aku dan Shane memesan makanan, tapi itu sama sekali nggak mengganggu karena kami sedang menunggu waktu berbuka, ---jadi sekalian ngabuburit. Prosesnya juga cepat dan semuanya sopan (nilai plus, aku paling nggak nyaman sama yang grasak-grusuk, lol). Oh iya, wawancara ini untuk ditayangkan di channel dan juga restoran mereka juga, lho. Kalau sudah pernah ke "Kehidupan Tidak Pernah Berakhir" pasti tahu apa yang gue maksud, di sana banyak monitor besar yang menayangkan wawancara, testimoni atau video edukatif tentang vegan lainnya. Waktu tulisan ini dibuat sih videonya sudah bisa ditonton, tapi in case ada yang ingin tahu tapi belum bisa mampir ke Bandung di sini aku copy-kan wawancaranya, ya. Semoga bermanfaat! :)

Q: Sejak kapan jadi vegan?
A: Waktu usia 15, saya mulai menjadi pesco-vegetarian atau masih makan ikan tapi tidak makan daging-dagingan. Saya mulai menjadi vegan sebenarnya masih baru, ---baru Desember 2016 kemarin.

Q: Mengapa menjadi vegan?
A: Waktu itu saya pikir, "Hmm, kenapa saya harus mengorbankan nyawa mahluk hidup lain sementara itu hanya untuk rasa kenyang yang sesaat?" Dan saya berpikir kira-kira ada alternatif apa ya agar saya bisa makan kenyang, happy, tanpa mengkonsumsi hewani. Karena saya ragu, kalau saya makan daging, saya tidak tahu dagingnya berasal dari mana. 'Apa hewan-hewan itu happy sebelum mereka disembelih?', 'Apa manusia memperlakukan mereka dengan baik?' Jadi ya sudah, saya decide saat itu juga untuk stop (makan produk hewani sama sekali) begitu saja.

Q: Apa yang kamu rasakan setelah menjadi vegan?
A: Saya merasa lebih sehat, saya merasa lebih bahagia. Dan yang paling penting hilang perasaan guilty, ---hilang perasaan bersalah karena "tidak harus" worry dengan apa yang terjadi dengan hewan-hewan sebelum saya makan. Karena dengan mengkonsumsi makanan non hewani saya bisa lebih yakin (dengan apa yang masuk ke tubuh saya) karena lebih mudah untuk dimasak di rumah. Jika kita diberi choice antara hewan dan tumbuhan, pasti secara naluriah kita akan memilih tumbuhan dibandingkan harus berburu (menangkap hewan dan memasaknya sendiri). Menurut saya mengkonsumsi sayur-sayuran (menjadi vegan) lebih masuk akal.



***

Aku sih nggak pernah against non-vegan, ya. Orangtuaku juga makan daging kok, bahkan pacarku saja baru jadi vegan sekitar 4 bulan kemarin, setelah pindah ke rumah ortuku (---dulunya sih dia fans berat keju, hahaha). Pernyataanku 100% menurut pengalaman pribadi saja dan nggak menganggap vegan lebih baik dari non vegan apalagi sampai against suatu kepercayaan. Karena aku percaya manusia dan hewan ditakdirkan hidup berdampingan. Jadi selama pemanfaatannya masuk akal dan nggak berlebihan, ya why not? Aku jadi vegan simply karena aku punya pilihan. Ini zaman modern, makan enak nggak harus daging dan kebutuhan giziku juga terpenuhi ;) Jadi silakan wawancaraku ini kalau ada diambil manfaatnya, dan kalau nggak ada lumayanlah buat baca-baca :p

Buat yang nggak bisa lihat langsung juga aku sudah upload videonya di channelku, ---tapi versi edit berhubung si pacar nongol di sebelah dan nggak ngeh kalau dia in frame (---nguap dua kali dong dia, ya ampun, hahaha). Kalau kalian, ada kenang-kenangan apa libur bulan Puasa dan Lebaran? Adakah yang mampir ke resto favorit juga? ;)



yang suka makan enak,

Indi

_____________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Senin, 18 Juni 2018

Lagu untuk Mika: Kado untuk Cinta Pertamaku.

Aku menulis ini di hari ulang tahunku. Iya, biasanya aku memang langsung bikin postingan selebrasi kecil-kecilan bersama keluarga dan teman-teman, ---juga pacar kalau ada, lol--- tapi nggak kali ini. Bukan karena nggak excited. Of course aku selalu excited dan bersyukur masih diberikan usia untuk berkarya dan berbuat kebaikan. Tapi karena ada hal lain yang mau aku ceritakan. Well, sebenarnya bisa dibilang ada hubungannya dengan ultahku juga sih. Soalnya kejadiannya tepat satu malam sebelum hari lahirku itu.



Mungkin orang-orang sudah mulai lupa dengan novel "Waktu Aku sama Mika", atau bahkan film layar "Mika" yang tayang 5 tahun yang lalu. Tapi buatku mendiang Mika mustahil untuk dilupakan, dan aku pun nggak pernah berharap melupakannya meski hidupku terus berjalan. Dia terlalu berharga untuk hidupku, he always be my hero, yang telah memunculkan warna asliku yang tadinya abu-abu dan "seragam". Meski mungkin nggak akan ada lagi novel dan film tentang Mika tapi aku masih sering membuat sesuatu untuknya. Kenapa? Karena "membicarakannya" justru membuatku semakin kuat dan menegingatkanku bahwa seberat apapun hidup selalu ada alasan untuk bersyukur. Juga, sebagai ungkapan rasa terima kasihku padanya.

Aku lupa bagaimana awalnya, kira-kira pertengahan tahun lalu aku membuat lagu untuk Mika. Aku nggak bisa-bisa amat main ukulele tapi tahu-tahu nada dan liriknya mengalir begitu saja. Setelah beberapa lama disimpan sendiri aku akhirnya tunjukan lagu itu pada seseorang. Temanku, namanya Shane, yang tinggalnya 10,000 miles dariku, yang belum pernah bertemu dan kalau ngobrol kadang pakai bahasa isyarat karena dia sama sekali nggak mengerti Bahasa Indonesia. Di luar dugaan ternyata dia suka dengan lagunya dan setuju untuk menambahkan musik dan aransemen karena kebetulan dia seorang musisi. Aku pun merekam permainanku dengan menggunakan kamera saku dan mengirimnya via email. Sayang pertemanan kami goyah (---well, sampai saat ini pun aku nggak tahu kenapa) dan Shane nampaknya lupa dengan lagu itu. Begitu juga aku, yang nggak pernah membuka filenya lagi di komputer, terkubur dengan lagu-lagu cover yang aku rekam juga tulisan-tulisan isengku.

Somehow pertemananku dan Shane kembali, ---dan rencana tentang menggarap lagu untuk Mika pun kembali. Aku masih ingat, waktu itu kami berbaikan dan mulai mengeluarkan ide-ide yang sepertinya nggak ada habisnya, selalu ada yang baru setiap hari. Aku bilang, ingin sekali merilis lagu itu di bulan Desember 2017 karena di bulan yang sama diperingati sebagai hari AIDS sedunia dan juga... bulan yang sama ketika Mika berpulang. Shane setuju dan kami mulai mengerjakan dengan penuh semangat, sampai-sampai telepon bisa menyambung belasan jam agar cepat selesai. Di waktu yang bersamaan perteman kami berubah menjadi persahabatan. Tapi rupanya proses pengerjaan lagu nggak selancar persahabatan kami, entah kenapa adaaaa saja yang kejadian yang nggak bisa aku cerna dengan akal sehat.

Pertama, setengah file original lagu menghilang dan nggak bisa direstore. Meski kesal tapi kami tetap mengusahakan untuk mengakalinya dan hasilnya aku sangat suka. Tapi lalu kami notice sesuatu yang mengganggu! Suara ukuleleku out of sync dengan bagian vocal, terlalu lambat satu detik saja tapi semakin didengar semakin janggal. Gawatnya file sudah terlanjur disimpan dan instrumen musik sudah nggak bisa "digeser". Pilihannya hanya 2; mengulang dari awal atau menerima apa adanya meskipun mengganggu di telinga. Shane nggak yakin bisa membuat efek yang sama dengan yang sudah dia lakukan sebelumnya, tapi kami putuskan untuk ambil resiko. Anehnya sekeras apapun usaha kami untuk melakukan yang terbaik hasilnya selalu "nggak okay". Tapi yang paling aneh ada satu part backing vocal yang sebenarnya diambil dari suaraku sendiri (diputar secara terbalik) yang menghilang. Kami sudah menelusuri dari awal sampai akhir tetap nggak ketemu. Nggak masuk akal, padahal file yang digunakan sama!

Kami putuskan untuk break sampai dengan waktu yang nggak ditentukan (hahaha). Rencana untuk merilis lagu di bulan Desember sudah dilupakan karena tahu-tahu sudah dekat Natal saja. Pokoknya aku semakin pesimis dan bilang sama diri sendiri kalau mungkin lagunya memang baiknya disimpan sendiri saja. Yang kami bicarakan hanya musim salju di sana dan musim hujan di sini, no music talk! Shane mengirimiku kado Natal sebuah ukulele berukuran tenor dan alat rekam digital (Tascam) yang baru tiba satu bulan kemudian karena alasan yang malas aku bahas (kalau ingat lagi rasanya ingin cakar tuh wajah oknumnya! Lol). Iya, kado Natal yang berasa kado tahun baru karena tiba di bulan Januari (akhir, bukan awal) 2018. Aku pun keasyikan dengan "mainan" baru, sibuk utak-atik sana-sini karena biasanya pakai ukulele soprano dan nggak pernah punya alat rekam yang proper.

Kado-kado dari Shane.

Di tengah utak-atik itulah kami kembali ingat dengan lagu untuk Mika. Shane pikir lagunya akan terdengar lebih bagus kalau direkam dengan Tascam. Aku setuju, dan dengan arahan Shane (---yang ehm, sudah mengakui kalau dia menyukaiku) lewat video call, aku pun belajar menggunakan Tascam. Setelah dirasa bisa aku pun langsung mencobanya. Lagunya sederhana, menyanyikannya pun nggak sulit. What could go wrong? Begitu pikirku. Tapi rupanya aku salah... Sampai jam 4 pagi semua percobaan rekaman yang aku lakukan terus-terusan hilang. Sampai akhirnya aku menelepon Shane sambil menangis, memintanya membimbingku (lagi), step by step sampai berhasil merekam. Hanya 1 kali take, karena aku sudah kelelahan. Aku sempat becanda bilang bahwa mungkin ini cara Mika untuk bilang karena dia nggak suka dengan lagunya. Tapi segera Shane tepis, dan bilang kalau aku cuma over thinking.

Setelah partku selesai giliran Shane yang melengkapi lagunya. Kalau aku ceritakan keseluruhan prosesnya nggak bakal cukup seharian karena terlalu banyak yang terjadi. Yang paling berbekas di kepalaku soal drum part yang diambil sampai 15 kali take, dan sampai hari di mana Shane putuskan untuk pindah ke Indonesia (Maret 2018) kami tetap belum bisa memutuskan take mana yang akan dipakai! Mungkin ada yang membaca tulisan ini dan menganggap ceritaku mengada-ada. Tapi percaya deh, nggak ada yang aku lebih-lebihkan. Malah yang ada dikurangi karena terlalu panjang, hehehe. Bisa dibilang lagu buat Mika jadi hal pertama yang aki dan Shane lakukan bersama segera setelah dia pindah ke rumah orangtuaku. Rasanya lebih puas, karena dengan bertatap muka kami bisa lebih saling mengerti dengan apa yang diinginkan. Tapi apa semuanya jadi lancar? Well... not really. Setelah fix bahwa take pertama dari drum part adalah yang terbaik, kami juga harus bikin videonya. Aku nggak akan bohong, meski dengan pacar sendiri awalnya canggung karena baru pertama kali bertemu dan biasanya Bapak yang jadi cameramanku, hahaha. Setelah semua dirasa okay langsung videonya diupload ke channel YouTube ku. Dan... videonya menghilang, dong!

Foto pertama kami ketika Shane di Indonesia. Akhirnya bisa mengerjakan project musik kami secara bertatap muka.

Ah, perasaanku jadi semakin galau. Kalau ada error atau kesalahan waktu proses upload, meski akan kesal tapi akh bisa menerimanya. Tapi nggak ada alasan logis untuk ini. Videonya menghilang begitu saja, *poof! Selalu berusaha aku tepis tapi pikiran "jangan-jangan Mika nggak suka" memang jadi semakin sering mampir :( Aku cuma bisa pasrah, kalau setelah dicoba sekali lagi tetap gagal, fix lagunya akan kusimpan sendiri saja. Singkat cerita somehow videonya kembali appear di channelku dan mendapat komentar yang positif. Aku dan Shane happy dengan itu, tapi lalu oops, kami sadar kalau volumenya terlalu rendah. Bingung, mau dihapus sudah terlanjur ada yang menonton, dan kalau harus mengulang semua proses yang sudah dilalui aku khawatir akan ada "apa-apa" lagi. Jadi untuk sementara videonya kami biarkan dulu sebelum akhirnya kami set menjadi "private" agar hanya kami yang bisa melihatnya. Oh, Mika... We just want to give something special for you :(

Bulan Juni tiba, aku berulang tahun di tanggal 8 dan Shane 10 hari sebelumnya. Tahun lalu kami membuat lagu yang berjudul "One Day" sebagai kado persahabatan. Tahun ini, tentu saja kami ingin membuat hal sama, ---apalagi dengan perubahan status kami yang menjadi sepasang kekasih. "Kalau kita coba lagi lagu Mika bagaimana?" Tanyaku yang langsung dijawab dengan anggukan kepala Shane. Di malam ulang tahun, Shane memperbaiki audionya dan merekam videonya. Prosesnya kami jalani dengan santai dan penuh tawa. Nggak tahu kenapa rasanya lebih hangat dari sebelumnya, padahal semuanya serba sederhana. Ibu dan Bapak sedang nggak di rumah, jadi kami bisa pakai ruang tamu setelah berbuka puasa. Tahu berapa lama kami mengerjakan semuanya? Dua jam saja! Iya, proses berbulan-bulan yang kami lakukan sebelumnya ternyata bisa kami redo hanya dalam waktu 2 jam saja. Ini miracle, ini keajaiban... Proses terakhir adalah mengupload videonya ke YouTube. Setelah berhasil kami set "private" dulu videonya agar bisa dicek kembali sebelum nanti dipublish. Aku pakai handphone Shane dan setelah itu log out untuk memeriksanya di laptopku. Lalu... aku bingung dengan apa yang kulihat. Ada "like" atau jempol di video "Mika's Song". Itu mustahil karena selain masih private, akan muncul warna biru di tombol "like" jika saja aku yang nggak sengaja melakukannya. Aku coba refresh video itu berkali-kali tapi "like"nya tetap ada. Meski nggak yakin dan kebingungan, aku bilang pada Shane kalau mungkin saja ada glitch dari YouTube. Tapi rupanya Shane nggak setuju, dia punya jawaban lain,

"Itu pasti Mika!"

Betul atau nggak, selamanya kami akan menganggapnya sebagai persetujuan dari Mika. ---Akhirnya :)



peluk,

Indi


_______________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Minggu, 06 Mei 2018

Kehidupan Tidak Pernah Berakhir: Lho kok Vegan Makan Telur Ceplok?! :O

Hi bloggies! How's your weekend? Semoga menyenangkan ya! Ngomong-ngomong soal weekend, apa nih aktivitas favorite kalian? Hangout? Atau di rumah sajakah kaya aku? Hihihi. Jujur, aku hampir selalu milih buat menghabiskan waktu di rumah sih. Nulis, bikin musik, masak, kumpul sama keluarga, main sama Eris anjingku, or simply snuggling sama si pacar. Aku cuma ke luar kalau lagi kepengen banget, misalnya saja lagi craving sesuatu. Kaya kemarin nih, aku kepengeeeen banget makan telur ceplok, rendang sama sate! ---Tunggu! Sebelum protes, iya aku masih (dan akan tetap) vegan, kok. Yang aku mau ini bukan menu-menu sungguhan, tapi versi vegannya alias cruelty free! ;)

Sejak beralih dari pesco vegetarian, ke vegetarian lalu ke vegan, selera makanku nggak berubah. Aku masih tetap suka makanan dengan kaya bumbu dan segar. Dulu aku sering ditakut-takuti sama orang sekitar, katanya kalau jadi vegetarian susah cari makan, hahaha. Tapi ternyata buktinya nggak kok, bahkan setelah jadi vegan pun aku bisa makan enak dan sesuai selera. Caranya ya gampang, tinggal masak sendiri. Kalau menunya hewani ya tinggal "divegankan". Sekarang kan apa-apa mudah dicari di internet, dan layanan pesan-antar via aplikasi juga memudahkanku untuk membeli bahan-bahannya. Nah, tapi bagaimana kalau aku lagi malas? Ya, beli saja masakan yang sudah jadi. Memang tempatnya nggak sebanyak restoran biasa, tapi restoran vegan itu ADA kok, dan bukan hal "mewah" :)

Aku tinggal di Bandung. Sejak masih jadi pesco vegetarian (vegetarian yang mengkonsumsi ikan) bertahun-tahun lalu, aku sudah punya restoran favorite. Namanya "Kehidupan Tidak Pernah Berakhir". Aku tahu tempat ini justru dari temanku yang bukan vegan! Dia cerita sama aku kalau ada restoran dengan harga terjangkau yang makanannya enak-enak. Penasaran, aku pun langsung cari alamatnya dan... aku jatuh cinta pada pandangan pertama, hahaha. Waktu dulu sih aku belum berani pesan yang macam-macam di sana, cuma nasi dan sayuran. Padahal aku tahu kalau tersedia menu meat alternative juga, tapi nggak berani pesan karena takut mahal. Maklum masih bocah :D Kalau sekarang sih sudah berani, bukan karena banyak duit tapi karena tahu kalau harganya terjangkau.

Menurutku restoran ini seleranya universal banget, nggak hambar. Seandainya almarhum Kakek makan di sini aku yakin beliau pasti suka karena dulu harus makan menu vegan Rumah Sakit yang rasanya yucky :( Makanya aku sering rekomendasi tempat ini, bahkan sama yang meat eater sekalipun. Dan sumpah aku nggak diendorse lho, hahaha. Termasuk sama pacarku, Shane. Well, singkat cerita tentang dia, dulu dia bukan vegan. Tapi semakin lama kenal dia mulai cerita kalau sebenarnya dia nggak suka masakan dari hewani, terutama telur. Tapi kadang merasa nggak ada pilihan dan rasanya "nggak enak" kalau sudah disediakan makan sama ibunya tapi nggak dimakan. Nah di hari pertama dia tiba di Indonesia (sebelumnya tinggal di Amerika), pola makan Shane berubah. Dia plek mengikuti menu makanku. Awalnya kupikir hanya karena kami tinggal serumah, tapi rupanya saat makan di luar pun selalu menolak daging. Pernyataan "aku vegan" memang nggak pernah keluar dari mulutnya, tapi after one month of being meat and dairy free, rasanya aman untuk menyebut kalau dia juga vegan :)

Salah satu spot foto di "Kehidupan Tidak Pernah Berakhir".

Shane baru berkunjung ke "Kehidupan Tidak Pernah Berakhir" dua kali. Sama sepertiku, dia juga rupanya falling in love at the first sight sampai aku jealous, --JK :D Makannya lahaaaap banget, padahal rasa Indonesia pasti baru buat lidah dia. Nah yang mau aku ceritain sekarang itu tentang kunjungan dia yang kedua (dan ke sekian ratus kali buatku, lol). Jadi ceritanya aku mendadak banget kepengen telur ceplok, rendang dan sate. Kenapa? Aku juga nggak tahu, pokoknya mendadak malas masak (padahal biasanya juga si pacar yang masak, hahaha). Akhirnya menjelang malam kami putuskan ke "Kehidupan" untuk early dinner. Suasana nggak terlalu ramai, kami jadi bisa leluasa memilih tempat. Tanpa ragu aku langsung memilih nasi soto, rendang, terong bumbu cabai dan sayuran. Sedangkan si pacar, dia selalu ragu buat mencoba hal baru. Seperti kunjungan sebelumnya dia memilih nasi goreng ditambah mie keriting setelah kupelototin karena kelamaan milih :p

Tempat duduk yang kami pilih, dekat sekali dengan display makanannya.

Aku ngiler dengan menu rendang karena sempat mencicipi rendang yang iparku pesan beberapa waktu lalu. Rasanya ternyata enak dan pedas. Teksturnya mirip seperti daging sungguhan, meski kalau soal rasa aku lupa-lupa ingat karena sudah lama nggak makan teman, ---eh hewan. Meski kepedesan (karena terong yang aku pesan juga pedas) tapi aku makan sampai ludes termasuk dengan bumbu-bumbunya. Nikmat banget dimakan sama nasi dan sayuran. Kalau soal terongnya sih jangan ditanya. Rasanya setiap makan di sana jadi menu wajib yang aku pesan, hahaha. Alasannya karena aku cukup picky, kalau terongnya benyek biasanya aku nggak suka. Nah, terong "Kehidupan" tuh rasanya fresh dan cabainya juga "nendang". Saking nendangnya aku sampai pesan teh manis plus bonus dapat bibir dower, hahaha.

Rendang, terong cabai, sosin, tahu kecap dan daun pepaya (---atau singkong??).

Nasi soto plus sambal.

Mie keriting dan pangsit punya si pacar. Ah, suka dengan ide sumpit reusable nya :)

Soto, menu lain yang aku incar juga "terinspirasi" dari iparku yang pernah memesan menu ini buat Ali, keponakanku yang masih berusia 2 tahun. Yup, karena tanpa MSG dan santan makanan di sana jadi aman buat anak-anak. Rasanya waktu itu mau nyicip tapi nggak enak kalau nyosor makanan bocah xD Dan akhirnya keinginanku tercapai! Rasanya hampir sama seperti yang kubayangkan, cuma menurut lidahku agak kurang tajam rasanya. Kalau jeruknya ditambah pasti kukasih nilai 10. Nasi, sayur, terong dan rendang membuatku kekenyangan. Bahkan buat membuat piring dan mangkukku cling bersih pun kepayahan, hahaha. Padahal telur ceplok idamanku belum tercapai. Akhirnya kuputuskan untuk tetap pesan nasi goreng plus si sunny side up tapi untuk dibawa ke rumah. Oh iya, meski kekenyangan aku masih sempat mencicipi mie keriting si pacar, lho  :p Next time aku juga harus pesan, soalnya rasa mie nya pas banget sama seleraku. Kuahnya juga gurih dan harum. Cuma bagian pangsitnya agak terlalu "enek" buatku, makan satu saja cukup. Lainnya sih perfect, sampai sambal dan emping pun aku lahap :D

Jadi lagi-lagi aku dan Shane cukup puas dengan "Kehidupan Tidak Pernah Berakhir". Kenapa "cukup"? Karena menurut kami masih ada hal-hal yang perlu dibenahi. Dan dari sudut pandangku yang sudah ke sana sejak zaman bocah, rasanya ada kualitas yang menurun. Misalnya saja menu-menu meat alternative yang hilang juga dekorasi yang berkurang. Dulu aku sempat berfoto di jajaran bunga matahari yang instagramable banget tapi sekarang sudah nggak ada :( Dan yang paling aku soroti masalah kebersihan toiletnya. Rasanya semakin lama semakin nggak terawat. Nah, kemarin itu rasanya paling gawat. Aku sudah kebelet banget dan dari 2 toilet nggak ada satu pun yang mending, banyak tisu di lantai dan berjejalan di lubang toilet (ewww...). Terpaksa aku dan pacar jalan kaki ke resto fast food di ujung jalan buat numpang pipis :( Mudah-mudahan sih tulisanku ini dibaca sama pihak "Kehidupan", karena aku pernah membuat review di YouTube dan mereka merespon. Tapi kalau pun nggak aku tetap akan berusaha menghubungi mereka karena ini demi kebaikan. Kalau kualitas semakin bagus kan semakin banyak yang berkunjung dan tertarik dengan veganism. So, don't take this as a mean comment ya, ini saran :)

Wah, ternyata bertemu teman pembaca. Sayang ya nggak menyapa :(

Take out food packaging nya rapi, suka! :)

Ini foto setelah nasi goreng dan telur ceplok impiannya dihangatkan di microwave. Masih tetap enak! Oya, jangan tertipu dengan tampilannya, ini bukan telur sungguhan ya. Hanya namanya yang sama karena ini 100% VEGAN! :)

Apa aku merekomendasikan restoran ini? Tentu, iya! Buat teman-teman yang membaca post ini dan belum pernah ke sana, ayo datang ke "Kehidupan Tidak Pernah Berakhir" di Jl. Pajajaran No. 63 Pasir Kaliki, Cicendo Bandung. Mereka buka dari pagi sampai jam 9 malam. Jika kalian datang untuk mencari makanan enak tempat ini worth it sekali, tapi ya itu dia dari segi kebersihan memang harus dibenahi. Oh iya, satu lagi yang lupa aku sebutkan. Packaging untuk take out foodnya rapi, lho. Nasi gorengku utuh sampai rumah. Tapi aku nggak yakin apa ini berlaku juga untuk menu sate karena aku pernah pesan via Gofood dan hanya dibungkus plastik :O Well, sekian dulu tulisanku. Meski ada kekurangan tapi restoran ini salah satu bukti kalau jadi vegan itu nggak ribet dan nggak mahal. Nih aku contohnya, sering bokek tapi selalu bisa makan enak! Hahahaha. Cheers! :)




yang kalau foto pacarnya gak boleh ikutan tapi fotonya ada kok di instagram, lol,

Indi

(*Untuk teman-teman vegan di Tangerang, aku juga punya rekomendasi tempat makan enak yang terjangkau lho, klik di sini. Juga yang mau dengar kolaborasi musik baruku dengan si pacar, klik di sini)

______________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Kamis, 26 April 2018

"Guruku Berbulu dan Berekor - bag. 2" Goes To Pet Fest Bekasi! :D


Sepanjang sejarah ngeblog mungkin ini postingan paling pagiku. Bukan karena bangun awal sih, tapi karena belum tidur, hihihi. Barusan rasanya mulai mengantuk tapi ingat kalau ada sesuatu yang mau aku share, jadi tidurnya ditunda dulu, deh :p
Sekitar 3 hari yang lalu aku dapat tag dari Mas Wiweko, pendiri grup pecinta hewan yang namanya "Animals Lovers" di Facebook. Katanya akan ada event Pet Festival di Bekasi. Singkat cerita aku diminta untuk mendukung acaranya, dan langsung aku iyakan. Bukan tanpa sebab, selain karena sudah cukup lama mengikuti grup "Animals Lover", 2 tahun yang lalu aku juga pernah diajak mendukung tapi sayangnya gagal :( Makanya aku super excited karena sekarang akhirnya bisa terlibat, ---meski well... keterlibatanku nggak maksimal! Tepat di hari H nya nanti aku nggak bisa hadir karena ada acara di Jakarta.

Tadinya aku diminta untuk bernyanyi dan bermain ukulele untuk mengiringi MC (rupanya pihak ISPI, ---property development company yang mendukung event--- melihat videoku di YouTube, hihihi, jadi malu!). Tapi sebagai gantinya buku kelimaku saja yang dikirim ke Bekasi. Agak sedih sih, tapi aku yakin tahun depan akan ada kesempatan lagi :)
Sesuai dengan tema acaranya, bukuku juga berkaitan dengan dunia hewan, judulnya "Guruku Berbulu dan Berekor - bagian dua". Iya, "bagian dua" karena bagian yang pertama sudah terbit di tahun 2011 lalu. Buku ini nggak aku tulis sendirian, tapi dibantu juga oleh teman-teman volunteer yang menyumbangkan kisah-kisah inspiratif mereka. Kenapa aku sebut "volunteer" karena mereka (termasuk aku) memang sama sekali nggak mengambil keuntungan dari penjualan buku ini. All proceeds will be donated! Jadi setiap 50% donasi, sisanya langsung digunakan untuk mencetak ulang bukunya kembali. Termasuk kali ini, hasil dari penjualan buku di event akan diserahkan ke "Animals Lovers" :)

Ups, aku sampai lupa cerita soal acaranya. "Pet Festival" ini goalsnya untuk mengenalkan satwa-satwa Indonesia pada masyarakat, khususnya anak-anak. Jadi nanti akan ada atraksi dan juga edukasi dari komunitas-komunitas pecinta hewan. Pokoknya acaranya bakal family friendly karena bukan hanya tentang "pets", tapi juga ada lomba marching band anak, mewarnai dan kompetisi barista. 
Ah, bayanginnya saja sudah seru... Jadi semakin sedih nggak bisa hadir langsung, huhuhu :'D

Jadi buat teman-teman yang di Bekasi, kalau hari Sabtu ini belum tahu mau kemana, ayok deh ke event "Pet Festival". Alamatnya di South Lake Park, Mutiara Gading City, mulai jam 7 pagi sampai selesai. Kalau mau membantu berdonasi lewat buku "Guruku Berbulu dan Berekor - bagian dua", silakan mampir ke booth "Animals Lovers" dan tanyakan tentang bukunya. Yang mau berfoto di sana dan share fotonya juga boleh, pasti sukses bikin aku iri, hahaha.
Sekian informasi yang mau aku share, sekarang aku tidur dulu, ya. Good night! ---Eh, salah, good morning! :p

yang jam setengah tujuh belum bobo,

Indi

__________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Minggu, 01 April 2018

Dan Akhirnya Kami Saling Memaafkan...

Sejak bertahun-tahun yang lalu aku bersahabat dengan Avri, ---kami satu kelas dan kalau hangout selalu bersama meskipun teman-teman kami silih berganti. Setelah lulus, kesibukan kami pun jadi berbeda; aku fokus di kegiatan menulis dan menetap di Bandung, sementara Avri berpindah-pindah di beberapa pulau dan sekarang menjadi seorang dosen. Lama sekali kami nggak bertemu, sampai tiba-tiba saja ia mengajak janjian karena sebentar lagi akan menikah. Aku senang bukan main dan langsung mengiyakan ajakannya. Sampai-sampai aku lupa bertanya dulu sama si pacar apa aku boleh hangout tanpanya (---sementara ia baru satu minggu tiba di Indonesia) dan juga lupa bilang sama Avri kalau aku punya pacar!

Foto aku dan Avri, sahabatku waktu kami kuliah. Selalu satu kelas dan selalu ke mana-mana bersama.

Semakin dekat dengan tanggal janjian, aku malah jadi "lupa-lupa ingat". Bukannya mendadak nggak excited bertemu dengan Avri, tapi karena si pacar baru moving in alias pindah ke rumah orangtuaku, jadi banyak yang harus disesuaikan. Ya, namanya biasa sendirian lalu tinggal seatap otomatis schedule ku jadi berubah, ---termasuk soal mengecek handphone! Bahkan beberapa jam sebelum waktu janjian aku baru tahu kalau Avri mengirim pesan untuk memastikan aku datang, dan itu langsung membuatku galau maksimal... Sambil deg-degan aku ceritakan situasinya sama si pacar dan meminta pengertiannya untuk ditinggal di rumah sementara aku hangout. Dia rupanya oke-oke saja, tapi setelah dipikir kok aku jadi nggak tega ya? Hehehe :'D Dia masih sangat asing dengan situasi di sini, dan meninggalkannya aku rasa bukan hal bijak. Jadi kuputuskan untuk mengajaknya. ---Soal bagaimana reaksi Avri, itu urusan belakangan.

"Vri, gue sudah di jalan, ya. Sekitar 10 menit lagi gue sampai. Eh, iya tapi gue sama pacar. Nggak apa-apa kan, ya?"
Di mobil aku mengetik pesan untuk Avri, nggak lupa diakhiri dengan emoticon senyum yang super lebar.
"Yah, kalau ada pacar kita jadi canggung, dong." Balas Avri. Aku jadi merasa nggak enak, dan cepat-cepat membalasnya;
"Don't worry, pacar gue nggak keberatan kok. Dan dia juga bisa nunggu di tempat lain sementara kita hangout."

Dan giliran sama si pacarlah aku jadi nggak enak...

***

Akhirnya kami tiba di BIP, mall tempat janjian yang saat itu sedang super penuh (---panasnya, ya ampuuuun). Avri katanya menunggu di foodcourt, dekat dengan bioskop. Aku tahu betul di mana tempat yang dimaksud karena kami dulu sering janjian di tempat yang sama. Tapi berhubung sudah lama nggak bertemu dan banyak sekali orang, menemukan Avri bukan jadi hal yang mudah. Aku dan pacar akhirnya malah berdiri linglung di tengah keramaian sambil berharap Avri duluan yang menemukan kami. Lalu,
"Indi!"
Akhirnya, suara yang sangat kukenal memanggil namaku! Avri! Dengan cepat aku berlari ke arahnya dan memeluknya erat. Ah, rindu sekali aku padanya sampai-sampai nggak sadar kalau ada orang lain yang menunggu bersama Avri.
Aku melihatnya, perasaanku campur aduk. Rasanya hatiku akan meledak tapi reaksi yang bisa aku keluarkan hanya menangis...
"Hey, maaf gue nggak bilang sama lo. Tapi ini ada yang mau ketemu sama lo. Sudah ya marahnya... sudah kelamaan..." Avri berkata lirih sementara aku rasanya mau ambruk. 
Sosok di depanku berdiri dan memelukku. ---Aku membalas pelukannya erat. Setengah berbisik dia berkata, "Maafin gue, Indi, maafin, ya."
Dan akhirnya setelah 6 tahun aku menjawab permintaan maafnya sambil terisak, "Gue juga minta maaf... Gue kangen sama lo..."

Manda. Itu namanya. Dulu aku, Avri dan dirinya adalah sahabat yang super dekat. Kemana-mana kami selalu bertiga, saat duduk di kelas pun kami nggak pernah berjauhan. Sampai-sampai teman-teman yang lain memanggil kami dengan sebutan "Ban Becak". Mereka berdua juga seperti bodyguardku, terutama Manda yang selalu "pasang badan" buatku. Aku punya masalah sama cowok, dia ada. Aku belum dijemput sama Bapak, dia ada. Bahkan saat aku sibuk di salon sampai berjam-jam, dia ada, ---menungguku sambil membaca buku koleksinya yang tebal-tebal. Aku menyayangi mereka berdua, tapi Manda memang punya tempat istimewa, bahkan aku sering bercanda dengan bilang, "Having you is better than having a boyfriend." ---Sampai "sesuatu" terjadi. Ada sebuah kejadian yang membuatku sangat marah, sakit, kecewa dan (merasa) nggak bisa memaafkan Manda. Nggak peduli seberapa keras pun dia mencoba, hatiku tetap keras. Selama bertahun-tahun pesan permintaan maafnya yang Manda kirim di semua media sosial yang aku punya selalu aku ignore...

Manda, aku dan Avri waktu dulu. Ke mana-mana kami selalu bertiga sampai dijuluki ban becak :’D


***

Si pacar jelas kebingungan karena ini pertama kalinya bertemu dengan sahabat-sahabat aku dan langsung dibuka dengan tangisan. Aku mencoba menjelaskan dengan cepat sambil menenangkan diri.
Lucu. ---Atau aneh. Selama 6 tahun aku marah sejadi-jadinya tapi dengan sebuah pelukan hatiku terasa hangat. Aku luluh. Aku jadi sadar betapa aku merindukan Manda dan "kegilaan" kami ketika dulu sering berkumpul bertiga. Pelan-pelan suasana menjadi nyaman, air mataku sama sekali hilang digantikan dengan tawa karena kami seru berbicara tentang kenangan-kenangan ajaib yang dulu dilalui. Dan rencana agar pacarku menunggu di tempat lain pun batal karena rupanya kedua sahabatku juga ingin hangout dengannya (---itu bagus karena selain restu orangtua, restu sahabat juga penting, hahaha). Kalau aku menyebutkan hari-hari bersejarah selama hidupku, without a doubt aku akan masukkan hari bertemunya kembali dengan Avri dan Manda ini. Semakin lama kami bicara semakin aku merasa kalau kami sedang berada di kantin saat bubar kelas. Rasanya kemarahanku selama 6 tahun itu sama sekali nggak pernah terjadi...

Setelah saling memaafkan kami seperti dulu lagi :’)

Dua sahabat kesayangan; Avri dan Manda, juga satu-satunya pacar kesayangan, Shane.

Mereka sama sekali nggak berubah, masih Avri yang random dan Manda yang over protective. Aku masih menjadi "baby" di antara mereka. Dengan iseng mereka mengintrogasi pacarku, memastikan aku happy dan dengan "brutal" menceritakan kenakalan-kenalakan ala ABG ku dulu. Aku juga lega karena si pacar get along dengan mereka meski aku kadang bolak-balik jadi penerjemah atau membiarkan dia pakai 'bahasa tubuh'. Malah sepertinya pacarku ini siap menjadi anggota keempat dari "gank" kami karena okay-okay saja saat diisengin. Avri dan Manda meminta dia untuk pesan kopi sendirian, padahal Bahasa Indonesia pacarku terbatas sekali. Ah, I love these crazy peeps, hahaha :D

Di tengah keseruan kami tiba-tiba saja Manda bertanya, "Kalian masih ingat nggak sama impian kita waktu dulu?"
Aku dan Avri menggeleng, lalu disambut tawa Manda sambil mengejek kami, "Dasar pelupa!" 
"Waktu itu kita lagi ngumpul di kantin, gue bilang suatu hari bakal jadi pengusaha. Dan lo Avri, lo bilang suatu hari bakal ngajar, jadi dosen. ---Nah, kalau lo Indi, lo bilang suatu hari buku lo harus jadi film!"

Aku bengong, kaget. Impian kami sekarang sudah menjadi kenyataan. Padahal dulu, saat menyebutkan impian-impian itu kami hanya goofing around seperti biasa. Bahkan impian "iseng" Manda yang bilang kalau dia hanya mau menonton filmku jika pemerannya Vino Bastian pun menjadi kenyataan! Jadi meski aku berhenti bicara kepadanya, selama bertahun-tahun rupanya Manda tetap "mengikuti" ku. Bukan hanya menonton filmku, tapi dia juga "memeriksa" kabarku melalui blog ini. Aku jadi terharu karena sahabat-sahabatku ini benar-benar tanpa syarat. Bahkan di saat aku marah pun mereka tetap peduli dan "ada" meskipun nggak secara fisik.

Terkadang kita harus belajar dengan cara yang "keras", dan saat inilah salah satunya. Tanggal 26 Maret 2018 adalah hari di mana aku belajar bahwa efek dari kemarahan hanya membuatku berfokus dengan hal-hal buruk dan "lupa" bahwa sebelumnya ada hal-hal baik yang pernah terjadi. Kemarahan juga membuatku memutuskan sesuatu yang sebenarnya nggak aku inginkan. Jangan, ---JANGAN pernah memutuskan sesuatu saat sedang marah karena itu hanya akan berakhir dengan penyesalan. Aku bersyukur karena Avri berinisiatif untuk mempertemukanku dengan Manda. Kalau saja aku menolak bertemu, aku akan kehilangan kesempatan untuk belajar memaafkan dan meredam amarah. 


Sebelum kami berpisah untuk pulang Avri membisikkan sesuatu kepada Manda. ---Sejak dulu mereka memang seperti ini, kalau Avri malu-malu pasti Manda yang jadi juru bicaranya.
"Avri penasaran tuh, katanya pacar Indi ngizinin nggak kalau kita hangout lagi kaya dulu?"
Aku melirik si pacar menunggu jawabannya.

"Tentu saja!" jawabnya dengan Bahasa Indonesia yang terdengar canggung.

Ah, aku speechless! :')



yang lagi happy banget,

Indi


(Diedit 5/3/2024. Avri sudah menikah dan memiliki anak, Manda bekerja di Thailand, sementara aku menikah dengan Shane. Kami bertiga tetap keep in touch dan bersahabat. Avri mendukung novel keempatku dan ikut berdonasi. Dan saat Manda ke Indonesia kami juga bertemu lagi, ——dengan Shane sebagai “anggota gang” tambahan).

_____________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Minggu, 04 Maret 2018

Look Beyond What You See: Tentang Disabilitas

Halooooooo, apa kabar semuanya? :D Ya, ampun sekarang sudah masuk bulan Maret 2018 rupanya, dan post terakhirku Desember 2017 *cengar-cengir cari alasan*
Tapi nggak apa-apa ya kalau aku ucapkan selamat tahun barunya sekarang? Hehehe. Oh, by the way, bagaimana tahun 2018 kalian so far? Mudah-mudahan berjalan dengan lancar dan segala resolusi kalian mulai terealisasi satu persatu, ya. Amen :) Aku sendiri so far so good. Banyak hal baru yang terjadi. Selain buku baruku, "Guruku Berbulu dan Berekor - Bagian 2" terbit, aku juga, ---ehm, punya pacar baru. Eh, tapi itu cerita nanti saja ya. Mendingan aku tulis di post khusus karena ada cerita yang ingin aku share.

Di dunia kecil Indi tahun ini dimulai dengan perubahan yang sangat manis dan positif. Tapi nggak begitu dengan "dunia nyata" alias real world. Nampaknya banyak hal kurang menyenangkan yang masih berulang, termasuk soal disability awareness. Kalau aku sendiri sih belakangan ini nggak mengalami karena memang sedang kebanyakan diam di rumah (---soal ini juga akan aku share nanti). Tapi salah seorang teman onlineku, Angkie Yudistia, mengalaminya di bulan Februari lalu. Kejadiannya aku tahu dari akun instagram Angkie, yang kebetulan kami saling follow di sana. Jadi waktu itu ia dan temannya diusir dari "special needs gate" di Bandara! Padahal mereka berdua memiliki disability, lho. Angkie memiliki disabilitas pendengaran, sedangkan temannya disabilitas kaki! Meski sekarang pihak bandara sudah memohon maaf, tapi tetap saja kejadian ini membuatku sedih. Karena artinya masih ada orang yang belum memahami apa itu disability :(

Aku bisa mengerti sih kalau selama ini penyandang disabilitas diidentikkan dengan kursi roda. Karena yang dipakai untuk logo disabilitas saja gambar wheelchair. Jadi "wajar" kalau masih banyak yang menyamaratakan; special needs = yang duduk di kursi roda. Padahal kenyataannya nggak begitu, ---nggak semua disabilitas terlihat secara fisik. Misalnya saja orang yang mengalami disabilitas mental, kebanyakan dari mereka terlihat "baik-baik saja" lho dari luar. Coba deh kalian lihat foto-fotoku. Do I look normal? —-Atau lebih tepatnya, do I look like most people?

Chinese new year kemarin di China Town, Bandung.

Aku yakin kebanyakan dari kalian belum tahu kalau aku mengidap OCD, atau obsessive-compulsive disorder. Bahasa sederhananya, ini adalah kondisi kelainan psikologis di mana pengidapnya memiliki pikiran yang obsesif dan perilaku yang bersifat kompulsif. Gejala tiap orang tentu berbeda-beda, tapi biasanya pikiran pengidap OCD akan dikuasai oleh rasa takut dan kecemasan. Misalnya saja aku yang jika merasa harus melakukan sesuatu (---baca: "ritual") dan nggak dilakukan, maka aku akan cemas secemas-cemasnya. Bahkan sampai aku merasa depresi (yup, aku juga didiagnosis dengan depresi tahun lalu). Dan kalau pun aku lega biasanya hanya sementara saja. Nah, OCD ini kalau sudah parah bisa dikategorikan sebagai disabilitas mental juga.

Sekarang, saat menulis ini, OCD ku sudah membaik meski terkadang ada hari-hari di mana masih terasa sulit dan menghambatku untuk beraktivitas. Jadi jangankan untuk ke luar rumah, untuk ke luar kamar saja aku bisa butuh waktu berjam-jam. Nah, coba bayangkan bagaimana dengan orang-orang yang kondisi OCD nya lebih parah dariku. Bagaimana rasanya jika untuk beraktivitas saja membutuhkan asisten tapi masih dipersulit dengan fasilitas publik yang sebenarnya dibuat untuk mempermudah mereka?

Aku menulis ini bukan karena ingin diistimewakan. Sejak kecil aku terbiasa diperlakukan sama dengan saudara-saudara yang lain oleh keluarga meski secara fisik aku "berbeda" (---mengidap severe scoliosis dan harus memakai brace 23 jam perhari). Jadi soal itu sama sekali not my case, ya. Dan aku yakin teman-teman dengan disabilitas juga nggak berharap begitu :) Maksudku hanya ingin mengingatkan untuk jangan pernah men-judge orang dari penampilan luarnya saja. Please look beyond what you see. Jangan dulu marah jika ada yang meminta kalian untuk berdiri saat duduk di bus, karena bisa saja orang itu lebih membutuhkan meski telihat "sehat". Jangan dulu kesal saat kalian menegur seseorang tapi ia terlihat cuek, karena bisa saja ia nggak bisa mendengar kalian, ---dan lain sebagainya.

Such a fun place, tapi akses wheelchair nya terbatas :(

Begitu juga dengan yang bertugas di fasilitas publik, aku harap mereka bisa mendapatkan proper training, ---dan lebih berempati. Jika memang saat ini "jalur khusus penyandang disabilitas" hanya untuk disabilitas fisik saja maka jelaskan dengan baik-baik. Nggak perlu mempermalukan apalagi sampai mengusir. Dari hasil research kecil-kecilan aku sih, rupanya untuk bandara masih berfokus dengan disabilitas yang menggunakan alat bantu fisik saja, misalnya kursi roda, tongkat atau tabung oksigen. Aku harap peraturan ini bisa segera diubah karena apa yang terlihat di luar nggak selalu mencerminkan apa yang di dalam. Contohnya dengan pengidap autistik, haruskan mereka diperiksa dengan teknik "pat down" sementara itu membuat mereka nggak nyaman?

Well, that's just my two cents, hanya opini pribadiku semata. Mengubah dunia jadi tempat yang nyaman untuk semua orang mungkin mustahil, tapi at least kita bisa mencoba untuk membuatnya lebih baik. Sekali lagi, let's look beyond what we see dan coba untuk lebih berempati. Kalian akan surprise betapa hal-hal sederhana (misalnya memberikan tempat duduk pada seseorang di bus) bisa mengubah hari mereka :) Oh iya, apa kalian tertarik untuk membaca kisah OCD dan depression ku? Kalau iya, silakan tinggalkan komentar di bawah ya, beri tahu apa yang ingin kalian baca supaya aku tahu dari mana harus memulai ceritanya. ---Atau mau baca cerita tentang pacar baruku saja? *eh, hahaha :p

just a normal girl,

Indi

_________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Sabtu, 23 Desember 2017

Guruku Berbulu dan Berekor, ---Sekarang Bagian Dua! :)

Apa arti kehadiran binatang di dunia ini bagi kalian?
Apakah mereka adalah makhluk yang "sekedar ada" demi seimbangnya kehidupan di bumi?
Apakah mereka hanya untuk dikembangbiakkan agar kita sebagai manusia bisa memanfaatkan tubuh dan tenaganya?
Atau, mereka adalah makhluk yang sangat kalian nantikan saat pulang ke rumah setelah mengalami hari yang panjang?

Untukku, ---aku selalu yakin bahwa kehadiran binatang di dunia ini lebih dari sekedar yang aku tulis di atas. Ya, mereka bisa menjadi teman, bisa menjadi penghibur dan sebagainya, ---tapi lebih dari itu mereka juga bisa menjadi panutan alias guru!
Tumbuh dengan dikelilingi berbagai jenis pets, dari mulai tikus, burung sampai anjing membuatku sering menghabiskan waktu bersama mereka. Semakin dewasa, aku menjadi semakin sadar bahwa aku belajar banyak dari mereka. Misalnya saja dari Veggie, anjing Golden Retriever yang sangat full of life di hidupnya yang terbilang pendek. Aku dan Veggie memiliki kesamaan, yaitu sama-sama memiliki kondisi medis seumur hidup yang belum ada obatnya. Rather than mengeluh dan nggak melakukan apa-apa, Veggie menjalani hidupnya dengan suka-cita. Ia memang nggak bisa bicara dengan bahasa yang sama dengan kita, tapi dari tingkah lakunya aku bisa lihat how grateful she was! Aku, yang mengidap severe scoliosis sehingga gerakanku terbatas, selalu tersenyum lebar saat melihat Veggie berlari. Ia terlihat begitu bebas dan live her life like she's really mean it! Nggak peduli setelah itu ia akan kejang-kejang karena kelelahan, ia akan selalu bangkit dan kembali berlari karena itu membuatnya bahagia!

In honor of her spirit, di tahun 2012 lalu aku membuat novel dengan judul "Guruku Berbulu dan Berekor" yang menceritakan pengalamanku bersama Veggie. Tapi aku nggak sendirian, aku juga mengajak orang-orang yang mempunyai pengalaman yang sama denganku. Luar biasa, waktu itu aku menerima banyak sekali cerita. Sampai-sampai aku kebingungan untuk memasukkan yang mana saja ke dalam novel karena hampir semuanya inspiring dan memberikan pelajaran berharga.


Dan di akhir tahun 2017 ini, lima tahun kemudian, aku kembali menerbitkan "Guruku Berbulu dan Berekor", ---bagian dua!
Konsepnya masih tetap sama, dan goalsnya juga masih sama, yaitu: ingin membagikan cerita-cerita inspiring yang menghangatkan hati tentang binatang pada para pembaca, ---bahkan bagi mereka yang bukan animal lovers! Karena bagiku cinta dan belajar itu universal, kita nggak perlu "menyukai" binatang, tapi bukan berarti kita nggak bisa belajar sesuatu dari mereka, kan? Dan siapa tahu saja setelah membaca cerita-cerita di "Guruku Berbulu dan Berekor" akan mengubah pikiran, dari nggak peduli menjadi peduli. Who knows! ;)



Di bagian kedua ini banyak sekali cerita menarik yang membuatku terkagum-kagum. Misalnya saja tentang persahabatan Lovely, seekor kucing jantan dengan seorang ibu yang tadinya nggak menyukai hewan. Dari yang awalnya hanya iseng memberi makan, sampai akhirnya Lovely mengubah hidup ibu itu. Bagaimana ia mengubahnya? Aku nggak mau spoiler ya, yang pasti sangat menyentuh hati meski kisahnya sederhana. Bisa dibilang ini salah satu cerita favoritku di "Guruku Berbulu dan Berekor - bagian kedua" ini.
Tapi bukan berarti yang lain menjadi kurang menarik. Setiap cerita mempunyai kelebihan masing-masing. Malah dibandingkan bagian yang pertama, binatang di bagian kedua ini lebih beragam, lho. Dari mulai sugar glider, ikan Cupang sampai kambing! Dan di akhir novel aku juga memasukkan cerita Eris, anjing Golden Retriever yang menyelamatkan nyawaku, ---literally! Bagaimana ceritanya? Kalian baca saja di novelnya, ya, hihihi ;)

Dan sama seperti yang bagian pertama, hasil penjualan dari novel ini juga akan didonasikan ke penampungan-penampungan hewan. Jadi tujuan dari pembuatan novel ini memang bukan untuk komersil, tapi aku hanya ingin berbagi cerita-cerita luar biasa dari orang-orang yang memiliki pengalaman bersama pets, ---dan tentang royaltinya anggap saja ini adalah bentuk "balas budi" dari kami, manusia yang telah belajar banyak dari para binatang.
Ini memang sederhana, dan mungkin yang aku (dan teman-teman yang telah menyumbang cerita) beri juga nggak banyak. Tapi aku hanya ingin melakukan sesuatu untuk mereka dengan hal yang aku bisa: menulis. 

Jika teman-teman ingin membaca novel "Guruku Berbulu dan Berekor - bagian dua" ini sekaligus berdonasi, kalian bisa memesannya di:
Whatsapp: 083836813558
atau E-mail: namaku_indikecil@yahoo.com
Harganya Rp. 50.000 ditambah dengan ongkos kirim, dan yea, the money goes to charity. Aku akan selalu update di sini kemana saja donasinya disalurkan :)

cheers,

Indi

___________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com