Tampilkan postingan dengan label Dokter Hewan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dokter Hewan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Juli 2024

Operasi Steril yang Gagal Membuat Kami Hampir Kehilangan Kitty! :(

Seharusnya setelah anjing atau kucing menjalani prosedur steril mereka akan semakin sehat, semakin tenang, semakin gembul...

Tapi apa yang salah sehingga hasilnya malah sebaliknya dan bahkan hampir menghilangkan nyawa?!




Kejadian ini menimpa Kitty, kucingku dan Shane. Sejak aku come back menulis di sini sudah langsung ada niat untuk bercerita sebenarnya, tapi maju-mundur karena hati ini rasanya nggak kuat. Setiap melihat foto atau nggak sengaja punya percakapan yang mengarah ke cerita sterilnya Kitty, pasti mataku berkaca-kaca. Bayangkan saja, niatku dan Shane adalah memberi yang terbaik untuknya tapi malah berujung hampir kehilangannya. Tapi sekarang kuputuskan untuk berani, karena mungkin saja cerita pengalaman buruk kami ini bisa membantu teman-teman yang punya hewan peliharaan.


Sejak aku dan Shane menemukan Kitty di halaman belakang rumah, kami berjanji untuk merawatnya dengan sepenuh hati. Ia diberi pakan yang berkualitas, tempat tidur yang nyaman, semua jamur dan kudisnya diobati, ---termasuk merencanakan operasi steril karena sudah cukup usia. Aku sengaja mencari klinik yang agak besar, yang letaknya bukan di dalam perumahan kami dengan pertimbangan kelengkapan alat dan jumlah staff (---untuk berjaga-jaga jika ada kondisi darurat saat dokter utama nggak di tempat). Dengan bantuan Google karena aku dan Shane masih sangat asing dengan tempat ini, aku menemukan sebuah klinik besar yang merangkap pet shop dan memiliki beberapa dokter hewan jaga. Kupikir sempurna sekali, jadi tanpa menunggu lama langsung menghubungi klinik via Whatsapp. Setelah ada balasan aku langsung menceritakan tentang kondisi Kitty yang sudah mengalami "heat" atau birahi pertama dan bermaksud untuk melakukan steril. Aku juga meminta untuk berbicara langsung dengan dokter yang nantinya akan menangani Kitty karena asumsiku aku sedang chatting dengan admin klinik. 


Nggak ada satu menit handphone-ku bergetar, ternyata dari dokter di klinik. (---Di sini aku akan memanggilnya drh. R saja ya, nama aslinya akan aku keep sendiri. Karena mana tahu malah aku yang dituduh mencemarkan nama baik meski kucingku hampir mati :/ ). Sebelum aku mengenalkan diri drh. R berkata bahwa ia adalah yang memegang nomor WhatsApp klinik, bukan admin. Jadi sejak awal aku memang sedang berbicara dengan dokter yang nantinya akan membedah Kitty. Well... sedikit canggung, tapi syukurlah jadi aku nggak perlu menjelaskan dua kali tentang kondisi Kitty dan juga sangat lega bisa bicara langsung dengannya. Ia menjelaskan secara singkat tentang prosedur dan efek setelah steril, bahwa Kitty mungkin masih akan "heat" di cycle berikutnya karena masih ada sisa-sisa hormon meskipun sedikit. Tapi nantinya akan berhenti dan nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku mengerti, pengalamanku merawat Eris anjingku selama belasan tahun ditambah cerita Shane merawat kucing-kucingnya membuatku nggak awam tentang steril. Sebelum mengakhiri percakapan aku mengucapkan terima kasih karena bersedia membantuku, dan mengingatkannya untuk nggak melakukan ear tip (telinga diberi sayatan sebagai tanda telah steril/kebiri) karena Kitty akan kupelihara dan dijadikan kucing full indoor.



Operasi Steril dan Menginap di Klinik


Pagi hari di tanggal 25 Januari 2023, dua orang staff dari klinik datang untuk menjemput Kitty. Mereka nggak memberiku keterangan apa-apa dan memintaku untuk menghubungi dokter jika aku ada pertanyaan. Sedikit khawatir, tapi juga excited membayangkan segala hal baik yang telah menanti Kitty. Sterilisasi pada kucing betina punya banyak sekali manfaat, termasuk mencegah tumor payudara dan pyometra. ---Iya, pyometra alias infeksi rahim! Mendengar namanya saja sudah bikin aku merinding, terbayang betapa mengerikannya penyakit tersebut. Eris pernah mengalaminya dan itu menjadi pengalaman traumatis untukku. Makanya aku lega karena YAKIN salah satu hal yang kutakuti nggak akan menimpa Kitty :) 


Sorenya aku mendapat kabar dari klinik kalau Kitty sudah siuman. Thank God, operasinya berjalan lancar. Aku senang bukan main dan segera menunjukkan foto-foto Kitty pada Shane yang sudah nggak sabar menanti kabar sejak siang. Poor baby, tubuh mungilnya terlihat semakin mungil dari balik jeruji kandang klinik :') Ketika melihat foto luka jahitan di samping tubuh Kitty Shane bereaksi, "Semua kucing-kucingku dibedah di tengah, aku belum pernah melihat yang seperti ini!" ---Well, sejujurnya ini juga hal baru buatku, tapi aku nggak menunjukkan reaksi apa-apa karena nggak mau membuatnya panik. Alih-alih aku membuka halaman Google di handphone dan mencari tahu tentang "steril samping". Rupanya metode ini sering dilakukan dilakukan pada kucing-kucing liar karena prosesnya lebih cepat dibandingkan metode "steril perut tengah". Pertimbangannya karena pada saat steril gratis atau subsidi operasi dilakukan pada banyak kucing sekaligus, dan supaya luka jahitan lebih mudah terlihat (untuk observasi). Sedikit kecewa karena aku sudah mengingatkan dokter bahwa Kitty BUKAN LAGI kucing liar, ia peliharaan kami. Memang yang steril samping ini bukan selalu untuk kucing liar, tapi aku sangat berharap dokter menghabiskan waktu ekstra untuk Kitty, ---nggak perlu metode cepat. Lagi, kekecewaan ini kusimpan sendiri karena aku tahu Shane khawatir. Aku menenangkannya dengan bilang kalau metode ini aman, at least itu yang tertulis di internet.


Foto yang dikirim drh. R setelah Kitty selesai dioperasi.

Kitty sudah siuman.


Keesokan harinya, tanggal 26 Januari 2023 Kitty diantar pulang ke rumah kami. Dua orang staff klinik memberi obat untuk diminum semasa pemulihan dan memberi tahu aturan pakainya. Juga, tentu saja, tagihan dari operasi steril Kitty. Kami membayar Rp. 812.000, ---yang sedikit lebih mahal dibandingkan biaya steril kucing betina di dokter hewan tempat tinggalku sebelumnya. Which is totally okay, aku mengerti. Setiap dokter dan daerah pasti punya standar yang berbeda, dan yang terpenting Kitty pulang dalam keadaan tanpa komplikasi apapun. Setelah dikeluarkan dari cargo Kitty terlihat masih lemas tapi semuanya normal, ---nafsu makannya baik dan nggak ada tanda-tanda kalau ia merasa sakit. Aku dan Shane berusaha membuat rumah menjadi nyaman untuknya, kami menggeser tempat tidurnya ke depan TV supaya ia bisa beristirahat sambil nonton TV, hehe :D 


Kitty sedang menonton serial favoritnya, "Bajaj Bajuri" :D

Masih banyak tidur karena pengaruh obat.


Biasanya setelah operasi kucing atau anjing harus memakai elizabethan collar (kalung corong) untuk mencegah mereka menjilat bekas lukanya. Tapi berbeda dengan Kitty, ia begitu tenang dan manis, ---saking manisnya sampai followersku di Instagram bilang ia too good to be true, hehe. Tapi begitulah kenyataannya, Kitty hampir nggak menyentuh perban atau menggaruk lukanya. Sempat aku coba pasangkan e-collar tapi ternyata memang nggak perlu, lukanya sudah kering duluan. Pun untuk acara minum obat, nggak pakai drama cukup dikepit di antara kaki Shane dan tadaaa, Kitty meminum semua obat sirup dari spuit! Proses recovery Kitty berjalan mulus dan cepat, ---tapi bohong kalau kubilang hatiku nggak merasa was-was... Aku mengirimkan foto Kitty pada tanteku yang memiliki banyak kucing. Beliau mempertanyakan keputusan dokter yang melakukan "steril samping" pada Kitty, karena menurut dokter hewan langganannya posisi operasi seperti itu "kurang bagus". Lalu reaksi yang sama datang dari ibu mertuaku alias ibunya Shane, beliau juga merasa heran mengapa Kitty nggak dioperasi dengan "conventional way" saja. Aku dan Shane berusaha nggak terlalu memikirkannya, "Kitty sembuh dengan baik, ia nggak apa-apa kok," begitu kataku menenangkan diri sendiri.



Kecurigaan Dokter Lain dan Parasit


Karena klinik drh. R hanya menyediakan layanan antar-jemput, jadi aku mencari dokter lain yang bisa datang ke rumah (home visit) untuk memeriksa bekas luka operasi Kitty. Kupikir akan lebih baik untuk mental Kitty jika dokter saja yang menghampiri dibandingkan harus mengalami stres di kendaraan. Setelah mencari dengan banyak kata kunci akhirnya aku menemukan drh. Z, ---yang namanya sengaja kusamarkan supaya nggak terjadi "keributan" (akan kuceritakan nanti, di akhir tulisan). Drh. Z ini praktek di perumahan sebelah, jadi ia nggak keberatan untuk datang ke rumah kami. Pada tanggal 3 Februari 2023, dengan seksama ia memeriksa luka Kitty dan katanya sudah sembuh dengan baik. Hanya saja karena Kitty dulunya kucing liar yang belum pernah mendapatkan perawatan apa-apa, ia ingin membawa sample kotoran Kitty untuk dicek. Untung saja litter box belum dibersihkan karena Kitty baru pup sebelum dokter datang. Dengan menggunakan kantung plastik kecil drh. Z membawa sample ke kliniknya dan akan kembali lagi setelah selesai diperiksa. Kesan pertamaku tentangnya, ia sangat friendly, sangat "mendengarkan", dan teliti sebelum memberikan diagnosis. 


Drh. Z melakukan home visit untuk memeriksa Kitty.


Siang harinya drh. Z kembali ke rumah kami dengan membawa hasil tes. Di kotoran Kitty ada cacing dan parasit protozoa, ---yang mengerikan tapi juga bukan hal yang terlalu mengejutkan karena dulu Kitty makan "apa saja" untuk bertahan hidup. Dengan sigap dokter menyuntik Kitty dan memberinya obat untuk nantinya diminumkan setiap hari sampai habis. Dokter berharap dengan obat-obatan maka "hal buruk" akan keluar bersamaan dengan pup Kitty. Setelah selesai drh. Z nggak langsung pulang, ia mengakrabkan diri dengan Kitty sambil kami berbincang santai. Tiba-tiba saja perhatiannya kembali tertuju ke bekas jahitan Kitty yang sudah menyatu dengan kulit. Katanya ia prefer melakukan operasi steril di tengah karena minim resiko dan lebih bersih (---kelak aku akan mengerti maksudnya). Tapi tentu ia berharap nggak ada hal buruk yang terjadi dengan Kitty. Katanya lagi, kalau ada kecurigaan dan ingin memastikan kalau operasinya "benar" lebih baik dilakukan USG. Untuk sekarang seenggaknya dari luar Kitty terlihat baik-baik saja, ---selain masalah cacing dan parasitnya tentu saja.


Tiga hari kemudian orangtuaku, Ali, nenekku dan tanteku datang ke rumah untuk melihat Kitty dan memberinya hadiah "selamat datang". ---Ya, mereka memang sudah sering melihat Kitty di foto dan video tapi baru berkesampatan bertemu langsung setelah ia dua bulan diadopsi. Alasannya tentu saja karena setelah steril aku ingin Kitty pulih dengan baik dulu sebelum dikunjungi :) Kehadiran mereka membuat rasa cemasku dan Shane mereda. Apalagi karena tanteku, yang biasa dipanggil "Cat Lady" oleh Shane bilang betapa terlihat sehatnya Kitty. Siapa yang tahu setelah itu kehawatiran kami akan kehilangan Kitty pun dimulai...


Hadiah selamat datang dari tanteku isinya mangkuk makan dan minum untuk Kitty. 

Kitty kelelahan setelah menerima banyak tamu :)



Kitty Muntah-Muntah, Tes Panleu Negatif dan Dokter yang Nggak Mendengarkan


Selama dua bulan Kitty baik-baik saja, ia makan dengan normal dan aktif selayaknya kucing remaja. Masalah cacing dan parasitnya pun selesai, hasil tes lanjutan menunjukkan kalau kotoran Kitty hampir bersih. Shane memang pernah beberapa kali berkata padaku kalau perut Kitty terasa kencang ketika diraba, tapi baik aku mau pun Shane nggak menganggapnya big deal karena kami pikir itu disebabkan perubahan pola makan Kitty (dari makan sembarangan di luar jadi makan cat food di rumah). Sampai di pagi hari, di tanggal 6 Maret 2023. Kitty mendadak muntah-muntah dan berperilaku "aneh". Ia tampak linglung sampai naik ke atas meja dan kursi bergantian, ---padahal di hari normal Kitty tahu kalau itu hal yang dilarang. Aku dan Shane ketakutan bukan main, cepat aku menelepon drh. Z agar ia bisa segera memeriksa Kitty. Sayangnya drh. Z sedang nggak ada di tempat dan aku pun langsung menghubungi klinik drh. R, ---yang sebelumnya mengoperasi Kitty. Aku menceritakan keadaan Kitty secara singkat dan meminta agar ada staff klinik yang menjemput karena cargo Kitty entah di mana (kami nggak bisa membawa Kitty di mobil tanpa cargo).


Aku dan Shane nggak mau membiarkan Kitty sendirian di klinik, setelah berganti baju sekenanya kami pun menyusulnya. Setiba di klinik, Kitty sedang diinfus di ruang periksa. Untuk pertama kalinya aku dan Shane bertatap muka dengan drh. R dan beberapa asistennya (aku asumsikan dua di antaranya dokter hewan juga). Dengan khawatir aku bercerita kembali dengan lebih detail apa yang terjadi di rumah; Muntah Kitty berwarna gelap dan muntahnya sampai tujuh kali hanya selang beberapa detik. Drh. R mendiagnosis Kitty terkena iritasi usus dan meresepkan obat anti muntah, diare dan antibiotik. Waktu aku bertanya apa penyebabnya ia berkata kalau bisa saja akibat "salah makan" dan diberi makan terlalu banyak. Aku akui sebelum Kitty muntah memang ada miskomunikasi dengan Shane, jadi kami memberinya makan dua kali. Tapi apakah mungkin akibatnya bisa sefatal ini? Jujur aku sangsi dan firasatku mengatakan ada sesuatu yang terlewat. 


Di kinik drh. R. Bibirku tersenyum tapi sebenarnya hatiku terasa nggak karuan :/


Enggan rasanya untuk keluar dari ruang dokter. Aku pun memintanya untuk memeriksa Kitty sekali lagi, dan jika perlu dilakukan USG. Nggak lupa aku juga menambahkan detail tentang perut Kitty (yang menurut Shane) keras. Drh. R berkata bahwa aku terlalu khawatir dan ia hanya bisa menawarkan tes Panleu. ---Sedikit heran karena aku merasa Kitty nggak punya ciri-ciri terkena virus Panleukopenia, tapi aku iyakan karena at least jika hasilnya negatif rasa khawatirku akan berkurang... Sesuai dugaan, Kitty negatif Panleu. Dokter lalu memintaku untuk membawa Kitty dan membeli Royal Canin Gastrointestinal di Pet Shop yang terletak di lantai dasar. ---Well, ya... aku mengerti, secara halus ia berkata bahwa aku sudah terlalu lama di ruang periksa, hehe. Aku, Shane dan Kitty pun keluar dari ruangan setelah sebelumnya membayar biaya sebesar Rp. 425.000. Itu masih di luar biaya penjemputan, Royal Canin dan cargo baru dari pet shop karena kami membawa Kitty pulang dengan menggunakan mobil. Sepanjang perjalanan pulang nggak henti-hentinya aku berdoa semoga apa yang dokter katakan benar. Kitty baik-baik saja, hanya aku yang terlalu khawatir.


Hasil tes Panleu Kitty negatif.


Cat food yang diresepkan drh. R.



Kengerian di Pagi Hari, Pyometra dan Operasi Darurat! 


Morning routine kami di tanggal 21 Mei 2023 sama seperti pagi-pagi yang lain. Aku dan Shane bersantai sehabis sarapan sementara Kitty melakukan panggilan alamnya di litter box. Aku perhatikan Kitty menghabiskan waktu agak lama di sana, ia menggali pasirnya berkali-kali lalu keluar dari box untuk kembali beberapa saat kemudian. Khawatir, aku memanggil Shane yang segera membawa Kitty ke halaman belakang karena kami pikir ia nggak nyaman dengan litter box-nya. Tapi ternyata nihil, Kitty tetap melakukan gerakan yang sama tanpa ada pee atau poo yang keluar. Lalu sesuatu yang membuat kami memekik pun terjadi. ---Kitty mengejan kencang dan dari alat kelaminnya keluar darah! Segera aku ke dalam rumah untuk mengambil handphone dan menghubungi drh. Z. Dengan terburu-buru aku menceritakan apa yang baru saja terjadi padanya. "Sepertinya Kitty terkena infeksi saluran kencing," kataku. Bersyukur sekali drh. Z sedang di kliniknya dan segera menuju rumah kami.


"Sepertinya bukan kemihnya, kalau diraba ini yang bengkak rahimnya. ---Sepertinya Kitty kena infeksi rahim." Aku dan Shane saling pandang ketika mendengar perkataan drh. Z. Infeksi rahim? Bagaimana bisa? Kitty kan sudah disteril! Benakku merasa denial, prosedur steril seharusnya untuk menghindari penyakit ini, bukan sebaliknya. Di tengah kepanikan drh. Z berkata bahwa bisa saja ia salah, karena untuk diagnosis tepat harus dilakukan USG. Ia juga mengingatkan kalau semisal Kitty memang mengalami pyometra, ---infeksi rahim, maka harus dilakukan operasi DARURAT karena jika terlambat akibatnya bisa fatal, sefatal menghilangkan nyawa... Tanpa membuang waktu aku dan Shane sepakat agar drh. Z segera membawa Kitty ke klinik. Kubilang, lakukan apa saja selama itu yang terbaik untuk Kitty. Aku nggak ingin kehilangannya. Luka hatiku akibat ditinggalkan Eris belum juga sembuh dan aku nggak sanggup kalau harus kehilangan si pengobat hatiku ini...


Shane mengucapkan sampai jumpa pada Kitty.


Dengan cemas aku dan Shane menunggu kabar dari drh. Z. Setelah rasanya hampir seharian, akhirnya aku mendapatkan kabar via WhatsApp darinya. Isinya cukup panjang dan membuatku seketika menangis. Sebuah foto hasil USG dari rahim Kitty terlampir dengan keterangan nomor satu sampai empat. Nomor-nomor itu menunjukkan letak nanah di rahim akibat masih ada bagian kecil ovari yang tertinggal. ---Ya, kekhawatiran dr. Z, tanteku, juga ibunya Shane benar, operasi rahim Kitty nggak bersih alias gagal... :'( Tangisku lama-lama berubah jadi kemarahan. Ini semua SANGAT BISA DICEGAH seandainya drh. R dan staff nya mendengarku. Seandainya saja mereka mengikuti kemauanku untuk USG dan cek darah, tindakan nggak harus menunggu sampai nanah di perut Kitty sebanyak ini! Kenapa mereka nggak mendengarkanku waktu kubilang perut Kitty keras? Kenapa mereka malah mengirim Kitty pulang sementara aku (dan Shane) sudah jelas bersedia membayar berapa pun asalkan Kitty diperiksa lagi?! 


Ah, seandainya saja drh. R mengiyakan ketika aku meminta Kitty diperiksa lagi :(


Alasan mengapa banyak dokter hewan (ini sumbernya web UK ya) prefer “steril perut tengah”. Juga, BELUM ADA bukti bahwa “steril samping” lebih minim nyeri pada kucing dan anjing.

Kemarahanku nggak berguna tentu saja... Semuanya sudah terjadi dan yang bisa aku lakukan hanya berdoa dan mengusahakan yang terbaik untuk Kitty. Apapun, asalkan Kitty bisa kembali pulih. Dengan pertimbangan kelengkapan alat dan dibutuhkannya tim untuk melakukan pembedahan, Kitty dibawa ke Klinik (berinisial) "SS" di Lembang. ---Iya, Lembang yang jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggal kami. Kitty my poor baby... ia pasti kebingungan akan dibawa ke mana dan bisa saja berpikir kalau aku dan Shane menelantarkannya. Tapi ini semua demi kebaikan Kitty, harus "tega", harus "rela"... 



Kitty Selesai Dioperasi dan Waktu Penyembuhan yang Di Luar Perkiraan


Di malam harinya, sekitar jam delapan aku mendapat kabar kalau Kitty sudah sadar. Operasi berjalan lancar hanya saja lebih lama dari perkiraan karena pembuluh darah Kitty sudah membesar akibat peradangan. Salah langkah sedikit saja bisa... amit-amit! :( Kepalaku menjadi pening ketika melihat foto sisa rahim Kitty yang sangat membengkak. Otakku nggak bisa mencerna bagaimana massa sebesar ini bisa muat di tubuhnya yang mungil. Pantas saja perut Kitty terasa keras, ---nggak terbayang sehebat apa rasa sakit yang ia rasakan selama beberapa bulan ini... Tapi dokter bilang Kitty kucing yang kuat. Jika sebelum bertemu denganku saja ia bisa bertahan di dunia luar, bukan nggak mungkin bisa melewati masa rawan setelah operasi dengan baik. Drh. Z positif dalam waktu tiga hari saja Kitty sudah bisa pulang ke pelukanku dan Shane. Well... semoga saja benar begitu.


Lihat ukurannya. Bandingkan dengan tubuh mungil Kitty... :(


Pasti ia kebingungan :( Tapi aku sangat lega Kitty berhasil melewati operasi besar.


Dua hari kemudian ternyata Kitty masih belum bisa dipindahkan ke klinik terdekat. Kondisi Kitty masih lemas dan lukanya masih basah. Drh. Z curiga jika Kitty mengidap autoimun dan kecurigaannya tentu bukan tanpa sebab. Setiap Kitty kondisinya drop, pasti wajahnya penuh ruam. Aku dan Shane pun menyadarinya, tapi kami nggak pernah benar-benar membicarakannya karena kami pikir itu hal yang wajar. ---Kami menyebutnya "ruam stres setelah bertemu dokter", hehe :') Tapi dokter mengatakan kalau ini bukan hal yang urgent, lebih baik fokus dulu dengan observasi dan proses penyembuhan Kitty. Nanti jika kami ingin melakukan tes yang proper sebaiknya satu bulan kemudian agar kondisi Kitty pulih dulu. Selama Kitty nggak mengalami sakit lagi dan nggak disuntik vaksin dulu seharusnya ia aman-aman saja, begitu katanya lagi.


Kitty sudah pindah ke kandang biasa tapi masih jauh dari rumah.



Kitty Akhirnya Pulang!


Kabar baik akhirnya datang di tanggal 25 Mei 2023 Kitty sudah bisa dipindahkan ke klinik terdekat! :') Ia sudah bisa makan sendiri meskipun sedikit-sedikit. Bahagia rasanya waktu drh. Z mengirimiku video Kitty yang sedang makan ayam rebus sendiri. Ia terlihat begitu hidup meski wajahnya penuh dengan ruam. Satu hari kemudian hari yang ditunggu pun tiba, aku dan Shane sudah bisa menjemput Kitty. Perasaanku begitu gembira sehingga dadaku terasa penuh dan ingin menangis terus menerus. Saat sedang bersiap-siap nggak henti-hentinya aku bertanya pada Shane apa Kitty akan benci denganku karena membiarkannya sendirian selama lima hari. Shane tertawa, katanya ia mungkin saja marah tapi juga sadar kalau perasaannya sudah lebih baik sekarang, ---nggak ada lagi rasa sakit.


Kitty sudah bisa makan sendiri. Sebelumnya aku sangat khawatir karena Kitty nggak nafsu makan.


Aku bisa mendengar suara tangisan Kitty segera setelah kami tiba di klinik, ---sepertinya ia bisa merasakan kedatangan kami! :') Kitty masih berada di dalam kandang pemulihan dan terlihat sangat nggak sabar untuk keluar dari sana. Dengan hati-hati aku menggendongnya, memberinya banyak pelukan dan ciuman penuh suka cita. Kebahagiaan pun sangat terlihat di wajah Shane. Ia tersenyum nakal sambil mengeluarkan satu bungkus cat treat dari saku celananya lalu melirik dokter yang dibalas dengan anggukan, ---tanda kalau ia mengizinkan Shane memberi Kitty treat pertamanya semenjak operasi :) Kitty melahapnya dengan bersemangat, telinganya maju mundur seperti sayap kupu-kupu. Aku menyadari kalau ia sedikit kurusan, dan benar saja beratnya berkurang dari 3,5 Kg menjadi 3 Kg. Tapi itu bukan masalah, Kitty sudah dinyatakan sehat! :))


Dari foto saja sudah bisa terbayang kan sekencang apa tangisan Kitty.

Lima detik sebelum menangis, ---mataku sudah berkaca-kaca. Terlalu bahagia bertemu dengan Kitty lagi! <3

Shane memberi treat pertama untuk Kitty setelah lima hari nggak bertemu.

Mungilku semakin mungil :')


Sebelum pamit pulang aku mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada drh. Z karena telah menyelamatkan Kitty. Nggak lupa aku pun meminta bill biaya operasi dan perawatan Kitty selama lima hari. Tapi drh. Z berkata ia belum menghitungnya dan nanti akan mengirimkannya kepadaku. ---Fast forward dua minggu kemudian aku menerima tagihannya disertai pesan supaya aku dan Shane nggak perlu terburu-buru membayarnya, bahkan bisa dicicil. Saat menulis ini screenshot tagihannya sudah terhapus tapi aku ingat totalnya sekitar Rp. 2.000.000. Bless his heart, sungguh terlihat kalau ia bekerja karena cintanya terhadap sesama makhluk hidup :')


Satu hari setelah Kitty pulang ke rumah. Wajahnya penuh ruam tapi semangatnya pelan-pelan kembali. Aku anggap ini kejaiban karena di hari yang sama Eris, anjingku yang sudah di surga berulang tahun :)


Nggak ada yang tahu kapan Kitty dilahirkan. Jadi kami membuat "pesta" ulang tahun untuknya, ---sekaligus untuk merayakan kesembuhannya :)

We love you Kitty girl <3



Pesanku Untuk Dokter Hewan


Kasus yang menimpa Kitty sangat jarang. Saking jarangnya jika kita mencari di Google hanya ada satu artikel berbahasa Indonesia yang membahas tentang ini. Itu pun ternyata terjemahan dari artikel berbahasa Inggris di website PetMD. Tapi jika mencari dalam bahasa Inggris akan keluar banyak hasil yang sangat membantuku dalam mengedukasi diri tentang kondisi Kitty. Stump pyometra atau infeksi rahim setelah sterilisasi terjadi karena tertinggalnya sejumlah jaringan tissue saat operasi. Jarang, tapi sangat BISA terjadi yang seharusnya menjadi perhatian dokter hewan saat melakukan operasi steril pada kucing dan anjing betina.


"Aku mengerti kondisi Kitty nggak bisa direverse, yang sudah terjadi hanya bisa dihadapi dan aku bersyukur Kitty masih diberi kesempatan untuk hidup. Tapi kasus seperti ini sangat bisa dicegah sebelum menjadi sangat buruk seperti kasus Kitty. Ya, aku, kami (pemilik hewan peliharaan lainnya) memang awam soal medis, TAPI kami tetap punya hak untuk didengarkan. Jika kami berbicara tentang perasaan, firasat atau hati yang nggak nyaman mungkin terdengar konyol. Tapi ingat bahwa kamilah yang menghabiskan waktu paling banyak dengan hewan-hewan kami. Kamilah yang melihat perubahan perilaku mereka, dan kami pula yang pertama "diberitahu" oleh mereka jika merasa sakit. Maka, ---sekali lagi, tolong dengarkan.


Percayalah saat kami meminta untuk USG atau tes darah bukan karena kami nggak percaya dengan dokter hewan, justru karena kami TAHU hanya kalian yang bisa membantu hewan-hewan kesayangan kami. Jangan abaikan, ---biarkan kami menjadi juru bicara untuk hewan-hewan yang sudah kami anggap anggota keluarga ini..."


Dan untuk teman-teman, tolong belajar dariku. Jika perasaan kalian mengatakan ada yang salah dengan hewan peliharaan kalian meskipun dokter bilang semua baik-baik saja, please trust your instict. Carilah opini kedua dan jangan lelah memperjuangkan kesehatan mereka. Aku nggak ingin apa yang menimpa Kitty terjadi pada kucing atau anjing kalian karena semua nyawa itu berharga! <3



yang selalu sayang sama kitty,


INDI



Catatan: 

- Alasan mengapa aku nggak menyebutkan nama asli drh. Z karena aku nggak mau ada keributan. Jadi beberapa waktu lalu Kitty sakit lagi dan harus melakukan USG segera. Drh. Z lalu membawa Kitty ke klinik drh. R karena klinik/LAB tempat ia bekerja sedang tutup (weekend). Di sana drh. Z memberitahu pihak drh. R tentang kondisi Kitty pasca steril dan menjelaskan kalau operasi pemotongan yang dilakukan "terlalu pendek" sehingga menyebabkan Kitty sakit-sakitan. Tujuan drh. Z sebenarnya hanya ingin pihak drh. R tahu dan di kemudian hari bisa lebih hati-hati agar nggak terjadi hal yang sama. Tapi yang terjadi malah debat tanpa ujung karena pihak klinik (ternyata yang mengoperasi Kitty adalah rekan drh. R, drh. M) merasa kalau yang dilakukan sudah sesuai prosedur. 


- Baik drh. Z maupun aku dan Shane sama sekali nggak ada tujuan untuk memojokkan klinik drh. R dalam soal steril. Kami sudah anggap itu musibah, mungkin kebetulan Kitty yang apes, IDK... Kami hanya menyayangkan tanggapan mereka saat aku minta untuk dilakukan pemeriksaan ulang dan USG pada Kitty di tanggal 6 Maret 2023.


- Aku dan Shane sudah memaafkan. Kami sudah ihklas dengan kesehatan Kitty yang mengalami beberapa long term side effect setelah operasi pyometra, termasuk sekarang terkena UTI (ya, ada hubungannya dan jurnal tentang itu bisa diakses di website AVMA). Harapan kami sekarang cuma satu, semoga kami dimampukan baik dari segi mental dan finansial.


Keywords: pengalaman operasi pyometra kucing, steril kucing betina, kucing domestik.



----------------------------------------------------------------

Instagram: @indisugarmika | Youtube: Indi Sugar Taufik | Novelku, Waktu Aku sama Mika: di sini (Shira Media) dan di sini (Gramedia)

Minggu, 22 Juli 2018

Catatan Operasi Angkat Rahim Eris: It's a Miracle! :)

Aku memang bukan orang paling positif sedunia, tapi aku selalu berusaha mencari sisi baik dari setiap kejadian. Tapi apa yang terjadi sama aku beberapa hari lalu susaaaah sekali membuatku tegar. Saking takutnya aku sampai mikir yang “nggak-nggak”. Not my character, tapi ini beneran terjadi! Baru sekaranglah saat aku menulis ini hati sudah tenang kembali. Dan aku bisa belajar kalau hal yang kupikir “terburuk” pun kalau dijalani dengan kepala dingin, ---at least aku berusaha begitu, akan bisa dilalui.
Kejadian ini menimpa Eris, anjing golden retriever kesayanganku. Tanpa harus disebut, mungkin sudah banyak yang tahu betapa berartinya dia untukku. Dia pelipur laraku di masa-masa sulit, juga literally pernah menyelamatkan nyawaku dari tumor payudara di tahun 2013 lalu. She’s my baby, dan saat tahu ada yang salah dengannya aku ketakutan setengah mati. 


14-15 Juli 2018
Awalnya, 13 Juli 2018 Eris mendadak nggak nafsu makan. Pupnya cair dan badannya juga lemas. Memang sejak beberapa waktu sebelumnya Eris nggak seenergik biasanya, tapi aku nggak anggap serius. She’s an older dog, dan dokter bilang itu normal. Untuk pertolongan pertama aku beri dia Norit, obat diare dan keracunan untuk manusia yang relatif aman untuk hewan, juga kaldu ayam yang aku campur dengan makanannya. Rasanya khawatir, tapi hanya sebentar karena malamnya nafsu makan Eris kembali dan dia bertingkah normal.

Keesokan harinya, pagi-pagi, Eris kembali terlihat lemas. Malah menurutku terlihat lebih lemas dari kemarin. Nafsu makannya kembali hilang, pupnya cair dan vaginanya mengeluarkan darah. Seperti darah loop (menstruasi), tapi aku yakin itu bukan karena Eris baru selesai loop 2 bulan yang lalu. Karena khawatir, aku, Bapak dan Shane langsung membawanya ke klinik 24 jam. Di sana Eris di USG, diberi suntikan untuk menghentikan pendarahan, tes lab untuk pup dan darah vaginanya juga diresepkan obat. Hasil sementara kemungkinan terkena infeksi rahim atau Pyometra karena dari hasil USG terlihat ada kantung besar di perutnya. Kenapa hanya kemungkinan? Karena untuk memastikan masih harus tes darah dan ronsen. Aku agak heran dan sempat ngotot juga, nggak terima! Di bulan Mei Eris sudah cek darah dan hasilnya NORMAL. Aku pikir mana mungkin bisa mendadak sakit? Akhirnya kami pulang dan memutuskan akan kembali keesokan harinya untuk cek darah dan rawat inap untuk persiapan operasi angkat rahim, ---jika memang betul ternyata Eris terkena infeksi.


Tiba di rumah Eris ternyata semakin lemas dan darah yang keluar semakin banyak, padahal waktu di klinik dia masih lari-lari sambil sesekali mengganggu pasien lain. Panik! Aku langsung minta nasehat dokter langganan yang kebetulan sedang di luar kota. Aku disarankan untuk menelepon ke klinik dan bilang bahwa ini EMERGENCY. Thank God, pihak klinik sangat tanggap dan langsung menangani Eris ketika kami membawanya kembali ke sana. Padahal kabarnya ruang rawat inap penuh. Tapi yang terpenting Eris memang ditangani dulu, soal tidur di lantai biarlah, yang penting nggak terlantar. Perasaanku sudah nggak karuan. Sempat nangis sesenggukan di pelukan Shane, lalu marah dan kecewa sama diri sendiri. Pokoknya kacau... Hasilnya Eris positif terkena infeksi rahim dan harus segera dioperasi. Waktu sudah malam, dan rencananya operasi akan dilakukan jam 9. Rasanya waktu untuk mengucapkan "See you" saja belum cukup saking cepatnya. Tapi aku harus tegar, nggak boleh bikin Eris jadi ketakutan karena malah memperburuk keadaan. Setelah Eris dipasangi infus, aku, Shane dan Bapak yang mengantar ke sana pamit pulang. Aku sempat ngobrol dulu dengan dokter yang akan mengoperasinya. Katanya kemungkinan keberhasilannya 50-50 karena Eris sudah masuk usia tua. Tapi aku percaya Tuhan, aku berdoa, ---dan yang terpenting aku berusaha untuk kesembuhan Eris…

16 Juli 2018
Pagi-pagi aku dapat kabar kalau Eris sudah sadar dan mau disuapi dog food favoritnya! Perasaanku legaaaaa sekali. Semalaman yang aku pikir hanya Eris dan kabar baik ini rasanya bikin hatiku meledak, hehehe. Aku, Bapak dan Shane menjenguknya di siang hari. Kondisi Eris meski masih kesakitan tapi terlihat jauh lebih alert dibandingkan dengan sebelum operasi yang sempat nabrak-nabrak saking lemasnya. Matanya awas dan yang bikin pangling perutnya kempes karena rahimnya sudah diangkat. Kardus yang dijadikan alas kering sama sekali, nggak ada lagi darah yang keluar dari vaginanya. Praise the Lord… operasinya berhasil! :)


Kami nggak banyak melakukan apa-apa. Eris hanya dibelai-belai karena masih lemas belum bisa berdiri terlalu lama. Menurut dokternya operasi Eris cukup memakan waktu dan menghabiskan banyak benang karena jahitannya panjang. Aku nggak bisa benar-benar melihatnya karena tertutup perban, tapi melihat foto-foto pasien sebelumnya aku tahu kalau ini operasi besar. Karena belum bisa makan sendiri Eris disuapi dan diinfus. Aku sama sekali nggak berharap banyak, melihat Eris terbangun dari tidurnya saja membuatku senang, sesenang senangnya! :)

17 Juli 2018
Waktu kami menjenguknya, Eris lagi tiduran. Masih pakai infus dan kabarnya makan pun masih harus disuapi. Begitu aku panggil namanya dia langsung bangun dan excited sekali. Iseng-iseng aku dekatkan mangkuk makanannya, eh rupanya langsung dimakan habis! Dokter dan staff di klinik pun langsung kaget. Katanya Eris mungkin maunya makan sama aku, hahaha.


Dari hasil tanya-tanya sama dokternya katanya perkembangan Eris baik. Pee dan pup normal, makan pun porsinya cukup despite of belum mau sendiri (bisa juga gara-gara manja sih, lol). Oh iya Eris akhirnya nggak diinapkan di ruang inap karena size dia yang cukup besar, jadi di ruang operasinya saja sampai cukup kuat untuk dibawa pulang. Aku sih malah lega, karena kelihatannya staff rajin bersih-bersih setiap ada hewan yang buang kotoran (---di sana hanya ada Eris dan seekor kucing yang baru melahirnya plus baby-baby lucunya).
Soal makanan untuk Eris dokter membebaskan, pilihannya ada dua: dog food yang sudah disediakan klinik atau aku bawa sendiri. Aku pilih yang kedua karena khawatir Eris bosan (kaya aku yang ogah makan makanan RS, hahaha). Kecuali kalau dog food yang kubawakan habis, aku sudah titip agar Eris dibelikan dog food favoritnya dari pet shop di lantai dasar. 

18 Juli 2018
Begitu aku dan Shane datang untuk menjenguk kami langsung dipersilakan masuk ke ruang operasi. Sepertinya staff di sana sudah hapal dengan kami karena datang setiap hari :D Berhubung kemarin Eris masih tiduran waktu kami datang, jadi kami buka pintu pelan-pelan. Eh, tapi ternyata sama sekali di luar dugaan! Di balik pintu Eris sedang berdiri tegang dengan wajah badung! Di sekelilingnya ada serpihan kemasan makanan kucing. Ya ampun… Eris makan jatah pasien lain :O *TEPOK JIDAT*

Aku jadi serba salah, antara marah tapi pengen ketawa juga. Eris is back! Kalau nggak bandel bukan Eris namanya. Aku langsung minta maaf sama dokternya, tapi dokter dan staff di sana memang baik-baik, katanya memang salah mereka yang "lupa" kalau Eris bisa jangkau makanan kemasan. Syukurlah Eris makan sedikit saja, karena jika kebanyakan makanan kucing nggak baik untuk anjing.


Eris memang jauh lebih aktif, jalan ke sana-kemari dan sangat waspada. Infusnya sudah dilepas, luka bekas jahitan kering dan rapi! Aku bawa sisir dari rumah untuk merapikan bulu Eris biar makin kece, siapa tahu ada pasien anjing jantan yang ganteng di sana, hehehe. Nggak lupa aku juga bawakan makanan kesukaannya yang langsung habis dilahap padahal belum sempat dipindahkan ke mangkuk :’D Melihat Eris “kembali” rasanya semakin berat buat bilang "see you”. Maunya aku menginap saja atau bawa Eris pulang. Tapi dokternya meyakinkan aku kalau Eris dirawat dengan baik dan memang sebaiknya nggak pulang dulu meski sudah aktif (baca: bandel). Perkiraan Eris harus dirawat selama satu minggu, tapi my gut felling says dia akan lebih cepat pulih dari waktu yang diperkirakan ;)

19 Juli 2018
Pagi-pagi aku ditelepon sama klinik. Tumben, biasanya mereka hanya mengabariku via WhatsApp. Agak khawatir, takutnya ada sesuatu yang nggak diinginkan aku langsung menjawab teleponnya. Eh, rupanya mereka hanya mau minta izin untuk memberi Eris dog food dengan jenis lain karena dog food yang aku bawakan habis! Hahaha, Eris rupanya kelaparan. Tanpa pikir panjang aku langsung iyakan. Perasaanku bilang, nafsu makan Eris sudah kembali. Jadi diberi dog food dalam bentuk kibbles pun rasanya dia akan mau meski biasanya dia makan yang kalengan.

Sekitar dua jam kemudian aku ditelepon lagi. Sumpah, rasanya seram banget, “ada apa ya sampai ditelepon dua kali dalam satu pagi?” begitu pikirku. Tapi rupanya mereka mau menyampaikan kabar super baik. Dokter menyatakan Eris sudah aman untuk dibawa pulang! Ya ampun, bahagia sekali! Sampai-sampai aku nggak bisa kembali tidur padahal semalaman begadang :D

Malamnya, aku, Shane, dengan diantar Bapak menjemput Eris di klinik. Maunya sih memang langsung di pagi harinya. But honestly waktu pulang Eris yang lebih cepat membuat aku nggak siap dalam segi finansial. Biaya yang dihabiskan sejak awal Eris sakit sekitar empat juta rupiah, jumlah yang nggak sedikit buatku. Bersyukur akhirnya ada solusi meskipun masih harus aku selesaikan di kemudian hari. Yang terpenting kan Eris sudah sehat dan bisa pulang ke rumah :)
Waktu kami datang Eris sedang main dengan pasien lain. Aku sampai cekikikan, ajaib saja rasanya melihat Eris bisa ramah sama anjing lain, hahaha. Dan Eris sama sekali nggak seperti anjing sakit. Bandelnya sudah 100% kembali dan pakai drama nggak mau pulang segala, lol.

Sebelum pulang aku diajari untuk mengganti perban oleh dokter dan diingatkan untuk memberi Eris obat 2 kali sehari. Obat olesnya sih sama seperti obat manusia pasca operasi. Tapi untuk obat oralnya aku kurang paham, sepertinya antibiotik dan vitamin penambah nafsu makan. Terharu sama Eris yang kooperatif, nggak grusak-grusuk waktu diganti perban. Mungkin karena dokter dan staffnya sabar-sabar. Terlihat banget mereka kerjanya pakai hati. Jujur awalnya aku ragu untuk ke klinik ini karena review di Google banyak yang negatif. Tapi ternyata ini klinik yang super helpful, selain buka 24 jam, dokter pun selalu stand by karena yang bertugas di sana nggak satu dokter saja, tapi tujuh. Sekedar share, nama kliniknya “MUTIARA”. Bertempat di ruko (lantai 2) Metro Trade Center, Jl. Soekarno Hatta Bandung


Meski sudah kembali ke rumah bukan berarti Eris sudah bisa kembali beraksi secara full. Bandelnya harus direm sedikit karena khawatir akan merusak jahitannya. Dia sepertinya kangen rumah, excitednya super sekali sampai seluruh sudut dijelajahi, hahaha. Meski dokter bilang Eris pee dan pupnya sudah normal, tapi aku tetap mengawasi dan bersiap memberikan obat jika memang diare kembali. Tapi sejauh ini baik-baik saja. Nafsu makan pun sudah setara dengan seekor kuda aka rakus sekali :D Mengganti perban Eris agak tricky karena plesternya susah sekali melekat, tapi jika diganti dengan plester biasa malah terlalu susah dilepas dan bikin dia kesakitan. Sekarang aku sudah semakin lihai sih, mudah-mudahan saja aku bisa merawatnya dengan benar dan nggak terjadi infeksi, amen…

Well, aku harap teman-teman, terutama yang memelihara anjing bisa belajar dari pengalamanku. Kondisi kesehatan, terutama pada older dog bisa berubah dengan cepat. Jadi jika sudah mendapat pertolongan pertama belum membaik, segera larikan ke dokter hewan! Mencegah tentu lebih baik daripada mengobati, tapi kesiapan juga penting. Susah untuk bilang sama diri sendiri untuk nggak panik, but trust me, it’s worth it. Dengan ketenangan kita, anjing juga bisa merasakan. Melepas Eris untuk rawat inap itu nggak mudah karena dia nggak mengerti. Salah-salah dia bisa mengira kalau aku menelantarkannya. Jadi aku berusaha acting kalau ini cuma vacation, ---no sad face dan tunjukan kalau aku juga excited dia bakal ada yang jagain dan bisa makan enak (padahal dalam hati sih tetap, nangis).

Aku bersyukur mendapat banyak dukungan untuk melalui ini. Terutama dari followers Instagramku yang komentar-komentarnya menenangkan. Juga dari Tante dan dokter hewan langganan Eris yang sebenarnya nggak terlibat dalam operasi Eris (karena dari klinik berbeda) tapi tetap rajin bertanya tentang kondisi Eris. Dokter-dokter dan para staff di klinik “Mutiara” yang merawat Eris (plus direpotin), terima kasih banyak, tanpa mereka mungkin Eris sudah nggak bersamaku lagi sekarang karena infeksi rahim itu harus ditangani segera. Dan tentu, untuk keluargaku, terutama Bapak yang selalu setia mengantar. Termasuk Shane, you’re such an angel to me! Terima kasih sudah membantu dari awal sampai sekarang, dari mulai cuci mobil setelah terkena darah Eris yang baunya minta ampun sampai menenangkanku secara mental setiap malam.

Tulisan panjang lebarku ini mungkin ada yang menganggap lebay. But trust me guys, family is a family, mau apapun bentuknya. Dan Eris, dia telah menjadi anggota keluargaku sejak pertama kami bertemu dengannya! :)




kisses,

Indi


(Diedit 5/3/2024. Akhirnya ibunya Shane, calon ibu mertuaku saat itu menanggung sisa pengobatan Eris sebanyak dua juta rupiah. Bless her heart).
_______________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Selasa, 05 April 2016

Uh oh, Musim Hujan! Takut Hot Spot? Jangan Khawatir, Ada Cara Mengatasinya ;)

Musim hujan lagi! Yay! Aku suka sekali dengan hujan karena membuat film horor lebih seram dari seharusnya dan makanan jadi lebih nikmat dari biasanya, hihihi. Pokoknya kalau hujan tiba, ---dan kebetulan sedang ada waktu luang, bisa dipastikan aku sedang tenggelam di balik buku, film atau, --of course pizza :D Tapi di balik ke-happy-anku, hujan juga membuatku harus memberikan perhatian ekstra pada Eris, ---my super cute golden retriever. Pasalnya saat hujan anjing dengan bulu panjang dan tebal seperti Eris jadi rentan terhadap berbagai penyakit kulit. Apalagi karena exercise di luar rumah (baca: jalan-jalan sore) nggak memungkinkan, daya tahan tubuh pun otomatis jadi nggak se-fit biasanya. Terbukti beberapa waktu yang lalu Eris terkena flu. Tubuhnya panas dan nafsu makannya menurun karena penciumannya ikut terganggu (anjing selalu mengendus makanannya terlebih dulu, btw). Untung saja hanya dalam waktu 2 hari kondisinya membaik, ---pasti berkat disuntik Pak Dokter nih, hihihi. Tapi aku belum bisa lega karena Eris juga terkena hot spot di beberapa bagian tubuhnya. Aww, poor baby :D


Teman-teman yang memiliki anjing pasti akrab dengan istilah hot spot, ---atau tepatnya dipaksa akrab, karena terkadang meski sudah dicegah sedemikian rupa tetap saja ia punya cara untuk sok akrab sama sahabat kaki empat kita :p Untuk yang belum tahu, aku akan jelaskan sedikit tentang hot spot. Meski namanya kece dan terdengar seperti BFF nya wifi, hot spot yang ini nggak ada hubungannya sama internet, lho. Tapi ini adalah infeksi kulit atau reaksi alergi terhadap bakteri yang disebabkan oleh luka pada anjing. Penyebabnya macam-macam, bisa karena cuaca, kutu, cara mandi yang nggak betul (masih ada sisa sampo atau masih basah), parasit dan lain sebagainya. Sama seperti namanya, area kulit yang terkena hot spot memang terasa panas jika disentuh, warnanya kemerahan dan di bagian yang terinfeksi bulunya akan rontok alias pitak. Karena rasanya panas dan gatal, anjing akan terus menggaruk, ---atau bahkan menggigiti bagian yang sakit tanpa henti. Kalau sudah begitu masalah pun jadi nggak "se-simple" sakit kulit. Karena jika lama dibiarkan anjing bisa stress dan memicu munculnya penyakit lain. Makanya sebisa mungkin hot spot harus langsung diobati sebelum bertambah parah.

Eris sendiri sudah beberapa kali terkena hot spot. Aku ingat waktu pertama kali menemukan spot kecil di bagian punggungnya, awalnya kukira hanya luka biasa. Setelah beberapa hari bukannya membaik, tapi luka Eris malah semakin meluas! Lukanya pun berair dan mengeluarkan bau lembap, ---seperti cucian yang belum kering plus agak amis. Bingung dan sedikit panik, aku membawanya ke dokter hewan, ---dan dari sanalah aku mengenal istilah hot spot. Dengan obat suntik dan salep yang dokter berikan Eris pun berangsur-angsur sembuh. Karena penasaran dan nggak mau kejadian yang sama terulang lagi, ---well, at least berusaha, ---aku mencari tahu lebih banyak tentang hot spot dari internet juga dari teman-teman yang lebih perpengalaman. Semenjak itu aku jadi lebih tenang karena sudah bisa meng-handle sendiri jika si sok akrab ini kembali lagi, hihihi. Dan karena cara-cara yang aku lakukan selalu berhasil untuk menyembuhkan hot spot Eris, aku pikir nggak ada salahnya untuk membaginya di sini, siapa tahu bermanfaat :) 
Disclaimer; Aku bukan expert dalam masalah kesehatan anjing. Metode yang  kulakukan sebisa mungkin natural dan minim efek samping. Silakan koreksi atau beri masukan jika ada yang salah :)

1. Jaga kebersihan 
Mencegah lebih baik daripada mengobati. Well, cara ini memang nggak benar-benar menghindari hot spot. Tapi lingkungan yang bersih tentu membantu menjaga kesehatan anjing dan hewan peliharaan lain di rumah. Aku biasanya membersihkan lantai dengan menggunakan air, pembersih lantai dan sedikit antiseptik secara terpisah. Setelah itu dikeringkan sampai benar-benar kering. Kalau perlu Eris dimasukkan ke dalam kandang terlebih dahulu karena lantai yang basah memang sangat mengundang sekali untuk dipakai selonjoran, terutama saat cuaca panas. Bulu yang lembap akan mengundang bakteri dan yup, itu akan terasa semakin gatal dan merangsang anjing untuk menggaruknya lebih hebat lagi.

2. Ganti makanannya
Sama seperti manusia, beberapa jenis makanan juga bisa memicu gatal-gatal pada anjing. Eris biasanya aku hindarkan dari makanan beragi (tahu, tempe, roti, dll) dan telur. Aku juga mengganti dog food nya dari jenis basah ke jenis kering karena menurut pengalamanku makanan basah membuat gatalnya semakin parah. Kalau diperlukan aku juga mengganti jenis (merk) dog food atau mengganti menu yang dimasak sendiri. Sebagai camilan aku memberi Eris ubi yang direbus atau dikukus karena ubi alias sweet potato sangat bagus untuk bulu anjing. Terkadang bulu yang tumbuh di bekas pitak karena hot spot jadi agak kasar jika dibandingkan dengan yang lain. Nah, ubi membantu agar bulu yang tumbuh menjadi mengkilap dan tebal :)



3. Gunakan bawang putih
Bawang putih berguna sebagai antibiotik alami. Kandungannya bisa membersihkan hot spot dari dalam darah (sumber: anjingkitadotcom). Meski di berbagai situs disebutkan bahwa dosis yang tepat untuk anjing berbadan besar adalah 2 potong bawang, tapi aku hanya memberi Eris seujung kuku saja dan nggak setiap hari. Alasannya karena bawang putih (dan bawang-bawang jenis lainnya) bisa membuat anjing anemia. Caplak (salah satu penyebab luka hot spot) tentu akan malas menempel pada anjing yang anemia, tapi salah-salah malah anjingnya yang sakit karena kekurangan darah. Cara lain untuk mengobati hot spot yaitu dengan mencampur bawang putih yang sudah dihaluskan ke dalam air mandi. Aku sendiri belum pernah mencoba cara yang kedua ini karena takut baunya menempel. Tapi jika teman-teman khawatir dengan keamanan mengkonsumsi langsung, cara ini bisa dicoba.

4. Mandikan dengan benar
Aku beruntung karena Eris sangat super-duper chill ketika dimandikan, jadi memperkecil kemungkinan adanya sisa sampo yang tertinggal. Tapi tetap saja mandi menjadi kegiatan yang tricky, karena saking chill nya Eris lebih suka duduk ketika bulunya dikeringkan, hihihi. Cute sih kelihatannya, tapi bulu yang nggak kering sempurna itu bisa memicu hot spot. Untuk mengatasinya aku meminta Eris untuk "bobo", ---atau anjing lain mengenalnya dengan istilah "lay down", lol, ---lalu aku mengeringkan sisi kanan dan kiri tubuhnya bergantian. Dengan cara ini bagian-bagian sulit seperti bokong dan sela-sela jari pun bisa lebih mudah dikeringkan. Jika sudah terlanjur terkena hot spot aku menggunakan sampo khusus untuk perawatan kulit anjing. Sampo jenis ini bisa ditemukan di berbagai pet shop, merknya juga beragam hanya pastikan saja nggak membeli yang tanpa label alias abal-abal. Kalau ragu bisa dikonsultasikan pada dokter hewan.


5. Gunakan tembakau
Okay, mungkin reaksi kalian sama sepertiku ketika pertama kali mendengar cara yang ini. Waktu itu kupikir, "Whaaaat, masa anjing disuruh merokok???", hihihi :O Tapi tenang, tembakaunya bukan untuk dihisap kok, tapi untuk disemprotkan ke kulitnya yang sakit. Resep ini aku dapatkan dari Om Paul Sing, pemilik Golden Top Kennel. Pengalamannya merawat banyaaaaak sekali golden retriever membuat Om Paul pandai untuk mengatasi banyak masalah kesehatan pada anjing tanpa menggunakan obat-obatan kimia, termasuk untuk hot spot. Resep yang aku gunakan sudah disederhanakan dari aslinya karena perawatan Eris dibarengi dengan cara-cara yang aku sebutkan di atas. Aku menggunakan tembakau dari satu batang rokok kretek dan mencampurnya dengan bawang putih yang sudah diulek halus. Setelah itu campur kedua bahan dengan 2 gelas air dan didihkan, ---atau kalau malas boleh juga dimasukkan ke dalam microwave selama 2 menit. Tuangkan "ramuan ajaib" ke dalam botol sempot, dan setelah dingin semprotkan ke kulit yang sakit. Hindari bagian mulut ya, karena tembakau bisa menjadi racun jika tertelan. Untuk resep Om Paul yang asli, teman-teman bisa lihat di sini: http://anjingkita.com/wmview.php?ArtID=24043.

6. Pakaikan Elizabethan collar
Elizabethan collar adalah kalung berbentuk corong yang berguna untuk mencegah anjing menjilat atau mengigiti bagian tubuhnya. Kalau dulu aku menjadikan cone of shame ini sebagai opsi pertama, sekarang malah menjadikannya opsi terakhir. Dulu proses penyembuhan hot spot Eris lebih lambat karena belum menggunakan cara-cara di atas. Lukanya sulit sekali mengering karena Eris terus-terusan menjilatinya. Yang paling seram kalau salep dari dokter juga ikut dijilat! O... ow... not good, kan? Makanya meski nggak tega (---dan aku harus menahan ketawa karena Eris nampak lucu, hehehe) tapi aku tetap pakaikan setiap hari, termasuk saat tidur agar lukanya cepat kering. Mungkin teman-teman juga nggak tega kalau harus memakaikan Elizabethan collar pada si kesayangan. Tapi trust me, ini lebih baik daripada membiarkan mereka menyakiti diri sendiri, kan? ;) Apalagi sekarang modelnya sudah beragam dan ada yang diberi busa juga, jadi kalau malam tetap bisa tidur nyenyak :)

7. Alihkan perhatiannya
Aku juga punya alergi dan kalau kambuh saat aku sedang nggak melakukan apa-apa rasanya.... gatalnya jadi berkali-kali lipat! Padahal kalau kambuhnya saat jalan-jalan di mall rasanya nggak terlalu parah, hihihi. Eris juga rupanya merasakan hal yang sama, saat sendirian ia menggaruk, menjilat, bahkan mengigiti tubuhnya dengan gemas. Tapi saat diajak melakukan kegiatan ia menjadi lupa dengan perasaan gatal dan panasnya. Berhubung sedang musim hujan kegiatan jalan-jalan sore kuganti dengan bermain bola di garasi. Menurutku ini adalah cara bagus karena garasi tentu lebih aman dibandingkan dengan bermain di jalan yang banyak sisa genangan hujan, ---dan setelah kelelahan Eris tentu akan tidur dengan sangat nyanyak, hihihi :) Kalau bosan dengan kegiatan fisik biasanya Eris aku ajak bicara atau menonton video di handphone. Pokoknya jangan sampai Eris terfokus dengan hot spot di tubuhnya.


Tapi selain cara-cara di atas menurutku yang terpenting adalah menjaga agar Eris tetap happy. Karena anjing yang happy berarti anjing yang "sehat". Aku memang nggak (---belum bisa) membelikan Eris dog food yang mahal, jalan-jalan ke tempat keren atau membelikannya banyak aksesoris untuk mendukung kecentilannya. Tapi aku percaya bahwa happy juga bisa didapat jika kita memberikan kasih sayang yang tulus pada hewan peliharaan kita. I love Eris soooo much, dan aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya. Love is free, love heals everything. Jadi kenapa nggak kita berikan juga untuk sahabat berbulu dan berekor kita? ;)
Okay, sekian tulisanku kali ini. Semoga bermanfaat untuk menghadapi musim hujan yang nikmat-nikmat tricky, hihihi. By the way, apa teman-teman juga punya hewan peliharaan? Share dong di kolom komentar :)

cheers,

Indi

___________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469