Sabtu, 16 April 2016

Beautypreneurship Tour 2016: Pink Up by Puspita Martha

Halooooo weekend! Gimana kabar teman-teman? Semoga baik, ya. Aku juga baik, cuma semalam ada sedikit "meltdown moment" jadi sekarang mataku agak sepet untuk lihat monitor :D Beberapa hari yang lalu aku sedang jarang di rumah, sempat pergi sama keluarga sampai larut malam sampai kejebak macet (5 jam, dong) dan juga menghadiri sebuah event yang menyenangkan. Sekarang aku akan bercerita tentang event nya saja, ya. Soalnya kalau soal cerita tentang macet pinggangku suka sensi, hihihi. 



Jadi tanggal 12 April 2016 lalu aku mendapatkan undangan untuk menghadiri Beautypreneurship Tour 2016 PINK UP Seminar and Hair Show yang diadakan oleh Puspita Martha. Event ini diadakan di Ballroom The Trans Luxury Hotel Bandung yang jaraknya nggak terlalu jauh dari rumahku. Mumpung lagi ada free time, jadi kuajak juga Ibu dan Ray untuk menemani. Dari email yang aku terima acara dimulai jam 12:30 siang, tapi karena aku terlambat bangun (---nggak ada yang bangunin, ehm) jadi kami baru tiba jam 13:20 siang. Eh, rupanya acaranya memang molor, jadi kami tiba di waktu yang tepat, deh. Pas opening banget, hehehe. Acara dibuka dengan penampilan model-model yang berpakaian serba hitam. Mereka berjalan di atas catwalk sambil membawa payung yang juga berwarna hitam. Cukup sukses juga entrance nya karena berhasil membuat audiences untuk menoleh ke arah mereka. Setelah itu, tanpa jeda langsung disusul oleh penampilan MC nya (OMG, maaf lupa namanya, huhuhu) yang membawakan lagu Corazon Espinado, ---yang membuat aku throwback ke saat menjadi bocah yang keluyuran sampai larut malam untuk mencari kaset Santana, hehehe. Btw, mas-mas MC ini somehow mengingatkan dengan temanku, Daniel. Padahal wajahnya beda banget. Mungkin suaranya? Ah, sudahlah, skip xD




Yang hadir di acara ini bukan hanya aku, Ibu dan Ray (yaiyalaaaaah, lol) tapi juga pihak-pihak yang tertarik dengan dunia kecantikan, khususnya rambut. Dari hasil interview singkatku dengan audiences yang hadir (baca: tanya-tanya waktu coffee break, lol) mereka kebanyakan menggeluti dunia salon. Malah ada juga yang sengaja meliburkan salonnya selama 1 hari demi hadir ke acara ini. Keren! ---Dan itu memang nggak salah, sih, soalnya di sini diberi tips-tips bermanfaat untuk meningkatkan performa dalam menjalankan profesi mereka. Sayang ya Mas Ryan salon langgananku nggak ikutan datang, padahal kan bisa mencuri ilmu, hihihi. Edwin Waas, kepala sekolah dari Puspita Martha International Beauty School dan Henny S. Nugraha dari Salon Pro Indonesia turut hadir di acara ini. Juga ada tamu-tamu penting lainnya dan media yang meliput acara ini. 


Foto: ~ Ikanov Tambunan
~ Alexandra Tilaar

Di sini kami diperkenalkan dengan produk-produk PINK UP yang super keren. PINK UP adalah produk untuk rambut yang berbahan organik dan tanpa residu, jadi aman untuk dipakai sehari-hari. Well, just my two cent nih, aku berterima kasih sekali kalau semakin banyak produk yang menggunakan bahan organik, soalnya untuk orang yang serba sensitif kaya aku produk organik itu udah kaya hero without cape, hehehe. Kami disuguhi pengenalan produk-produk PINK UP yang obviously bikin aku gemas karena warnanya serba pink. Ada Aqua gel, Hold on, Cristal care, Mou Mousse, Push Up, Great Shot, Flex gum, dan masih banyaaaak lagi. Favoritku dan Ibu adalah Push Up karena bisa jadi life saver kalau nggak sempat keramas, hehehe. Kru nya baik-baik, lho. Waktu beberapa produk dikelilingkan supaya kami bisa coba, Ibu request untuk mencoba Push Up. Eh, rupanya benar-benar diberi sample, bahkan dipakaikan segala :D Kami juga bisa melihat demo langsung dari produk-produknya yang dipraktekkan oleh Yudin (hairdressing maestro), Sendy Gothic (Supervisor Tim Artistik PT. Martha Beauty Gallery) dan Rissa Mariana (salah satu lulusan Diploma of Bridal International di Puspita Martha)


Karena terinspirasi dari style para villain di film-film yang glamour pada model didandani sedemikian rupa dengan tatanan rambut yang super unik oleh Yudin, Sendy dan Rissa. Rasanya jadi seperti sedang melihat pertunjukan sulap, hehehe. Meski style mereka berbeda, tapi hasil akhirnya sama-sama keren. Audiences juga dibuat surprise karena awalnya para model hanya didandani "setengah jadi", baru di akhir acara diperlihatkan hasil akhirnya. Yang paling aku kenali adalah style rambut yang terinspirasi Maleficent, karena lengkap dengan horns nya jadi terlihat sangat menonjol. By the way, sambil demo mereka juga memberikan tips-tips bermanfaat dan menjawab beberapa pertanyaan audiences, lho. Yang seru waktu Yudin memberikan tips bagaimana cara menyasak rambut dengan cepat. Ibu sampai serius banget memperhatikannya, hehehe. Pantas saja sih, soalnya tangan Yudin memang secepat Edward the Scissorhand :p






Oh iya, di acara ini juga diperkenalkan Beauty Trend Center, sebuah trend forecast provider berbayar yang baru ada di Indonesia. Pelanggan bisa mendapatkan informasi mengenai perkembangan trend dunia kecantikan, rambut, fashion dan lain sebagainya. Untuk para profesional ini tentu sangat bermanfaat untuk meningkatkan kinerja mereka, ---harus kasih tahu Mas Ryan nih, hehehe. Oleh Tengku Arshyaly Faith (Creative Director Beauty Trend Center) kami juga diberikan informasi tentang tren warna dan style tahun 2016-2017. Waktu Ibu lihat ada warna merah di big screen beliau langsung usap-usap rambutnya. Rupanya warna rambut Ibu sedang tren! Padahal beliau sih cat warna terang karena sudah beruban, hehehe. Tapi berhubung disuguhi warna-warna keren di sini, Ibu langsung berniat mengganti warna rambutnya jadi highlight gray seperti rambutnya Rissa Mariana. Haduh, kalah gaul nih anaknya, hihihi :D


Foto: ~Tengku Arshyaly Faith
~ Dengan Ibu

Acara selesai sekitar jam 5 sore. Meski cukup lama tapi waktu terasa sangat cepat, mungkin karena aku enjoy, ya. Gara-gara hadir di sini aku mendadak jadi lebih tertarik sama dunia hair styling. Tahu sendiri kan, selama ini yang aku tahu hanya sebatas sisir, basic treatment dan cat rambut, hihihi. Apalagi di Puspita Martha International Beauty School ada program study tour ke Italy. Duh, pasti asyik bisa belajar sambil jalan-jalan. Kalau sekarang sih harus menabung dulu, hehehe. Overall, aku happy dapat kesempatan untuk hadir di sini. Begitu juga dengan Ibu yang super excited sepanjang acara. Bagaimana dengan Ray? Well, sebagai fotografer dadakan dia sama sekali nggak komplain, jadi aku anggap dia juga happy :p Untuk teman-teman di Banjarmasin, tanggal 10 Mei 2016 nanti giliran kalian lho yang bisa menikmati Beautypreneurship 2016. Untuk seminar dan hair show price nya Rp. 350.000, sedangkan untuk workshop Rp. 500.000. Info lengkapnya buka saja akun instagram @puspitamarthaid :)



cheers,

Indi
________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Sabtu, 09 April 2016

How to Deal with School Days as a Scolioser? :)



Yaaaaay, weekend! Lol, OMG, sepertinya openingku kurang variatif. Sering banget tulisan dibuka dengan betapa excited nya aku dengan weekend atau hari libur yang tiba. Tapi mau gimana lagi, kesempatanku menulis biasanya memang muncul di hari-hari seperti ini, hihihi. Lagipula, siapa sih yang nggak suka weekend? Well, meski pasti ada yang jawab, "Akuuuu!" sambil mengacungkan tangan, tapi aku yakin kebanyakan dari kita menyukainya. Pekerja kantoran (mostly) libur di hari sabtu dan minggu, begitu juga anak-anak sekolah yang dengan happy dadah-dadah sama pelajaran di kelas, ---tapi welcoming homework, lol :D Pokoknya weekend adalah waktu di mana aku bisa menulis sampai larut tanpa harus dagdigdug karena sadar besok mesti bangun pagi-pagi ;) Ngomong-ngomong soal sekolah, sejak SD sampai sekarang aku selalu merasakan hal yang sama; mixed feeling antara fun sama challenging. Aku sangat menikmati saat-saat berkumpul dengan teman-teman dan belajar hal-hal baru (---well, nggak selalu, sih, lol). Tapi aku juga merasakan beberapa tantangan seperti PR yang super banyak dan terkadang peer pressure. Sekolah memang bukan the easiest thing in the world, aku yakin kita nggak selalu mengalami hal manis. Terkadang pahit, atau minimal kecut, hihihi. Dan sebagai seorang scolioser(---pengidap scoliosis, kelainan tulang belakang yang miring ke arah samping) tantangan di sekolah bisa saja jadi terasa lebih berat. Tanpa bermaksud menganggap scoliosis sebagai beban (it's a bless, trust me), dealing dengan brace atau menghadapi pelajaran olahraga bisa jadi saat-saat yang begitu membingungkan. Aku juga pernah mengalami, ---kebingungan sebagai murid baru di SMP dan baru saja didiagnosis mengidap scoliosis oleh dokter. Tapi seiring dengan berjalannya waktu aku mulai menemukan tricks yang membuat hari-hari di sekolah terasa lebih nyaman :)

"Scoliosis adalah kelainan pada rangka tubuh yang berupa kelengkungan tulang belakang. Sebanyak 75-85% kasus skoliosis merupakan idiofatik, yaitu kelainan yang tidak diketahui penyebabnya."




1. Bagaimana cara memberitahu kepala sekolah dan guru-guru?

Aku mengerti bahwa bagi sebagian scolioser berbicara tentang scoliosis bukan hal yang terlalu nyaman untuk dilakukan. Tapi penting sekali bagi kepala sekolah dan guru-guru untuk mengetahui kondisi kesehatan kita, terutama guru olahraga. Jumlah scolioser yang banyak bukan jaminan pahamnya masyarakat terhadap scoliosis, ---termasuk guru-guru kita. Bawalah surat pengantar dari dokter dan jika perlu ditemani oleh orangtua untuk membantu menjelaskan bahwa kondisi kita bukan hal yang "sementara".
(Yes, scoliosis bisa dikoreksi dengan cara bracing, fisioterapi atau operasi. Tapi ini bukanlah kondisi yang bisa dikoreksi dalam waktu yang cepat).


2. Mintalah tugas pengganti untuk pelajaran olahraga.


Setiap scolioser memiliki kondisi yang berbeda. Jika dokter melarang kita untuk berlari dan melompat, maka manfaatkanlah waktu berenang saat pelajaran olahraga. Gerakan renang sangat baik untuk menguatkan otot, dan itu artinya sangat baik juga untuk menjaga postur tubuh kita. Agar tetap mendapatkan nilai dengan cara yang fair mintalah tugas pengganti, misalnya saja tugas menulis atau mengumpulkan artikel. Well, tanpa berlari dan melompat pun sebenarnya kita tetap bisa masuk ke dalam tim olahraga, kok. Tawarkan diri untuk menjadi "asisten pelatih, aka guru kita", ---tugas apapun yang diberikan itu bukan masalah karena nggak ada yang namanya "peran kecil" di dalam sebuah tim ;)


3. Sesuaikan seragam sekolah.


Jika memakai brace di balik seragam, otomatis kemeja dan rok kita akan terasa lebih sempit. Untuk menyiasatinya kita bisa memakai seragam yang sizenya 1 nomor lebih besar dari biasanya. Aku sendiri lebih nyaman untuk memakai seragam yang lebih besar dibandingkan menutupi brace dengan jaket, karena saat udara panas rasanya cukup menyiksa. Brace + gerah = not good, bisa biang keringat, hihihi.


4. Hadapi bully.


Bullying bisa menimpa siapa saja, termasuk kita. Dan saat dibully kebanyakan dari kita mengira bahwa scoliosis dan brace adalah penyebabnya. Padahal bullying terjadi karena kita sendiri yang "membiarkannya". Bully is just like dogs, they can sniff your fear. Hanya karena tulang kita yang bengkok bukan berarti kita menjadi kurang dibandingkan yang lain. Jadi jangan takut, keep your chin up! Karena nggak ada seorang pun yang pantas untuk dibully. Tapi jika kita sudah merasa terancam (secara mental atau fisik), jangan ragu untuk melaporkannya pada orang dewasa, ---misalnya guru atau orangtua. It doesn't make you a "snitch", because sometimes you need help to defend your self.


5. Sediakan tempat untuk menyimpan brace.


Nggak semua sekolah punya loker dengan space yang cukup besar. Terkecuali jika memakai brace bertipe soft seperti yang SpineCor yang aku pakai, maka tempat penyimpanan nggak menjadi masalah karena bisa dengan mudah dilipat dan dimasukan ke dalam tas. Tapi jika memakai brace dengan tipe hard (seperti boston, dll) yang ukurannya lebih besar, maka gunakan kantung plastik atau kantung parasut untuk tempat penyimpanan. Penting sekali untuk menjaga kebersihan brace meskipun hanya ditinggalkan sebentar untuk pelajaran berenang. Jangan lupa, brace adalah our second skin :D



Dengan atau tanpa scoliosis sekolah memang selalu menantang, ---tapi sekaligus menyenangkan. It's okay untuk mempunyai fase khawatir atau sedikit takut saat menghadapi hal yang baru. Memberi waktu pada diri sendiri untuk terbiasa bukan berarti lemah atau cengeng. Dan seperti fase memakai brace, sekolah juga suatu hari akan selesai. Jadi nikmatilah, because life is good. Life is always good :)


yang paling suka pelajaran olahraga karena bisa ketemu mika,

Indi


Get your own SpineCor here:
Indo Sehat Utama
APL Tower Lt. 25/T3. Podomoro City. Jl. S. Parman Kav. 28 Jakarta Barat 11470

(021) 29339295 / 29339296.
_________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Selasa, 05 April 2016

Uh oh, Musim Hujan! Takut Hot Spot? Jangan Khawatir, Ada Cara Mengatasinya ;)

Musim hujan lagi! Yay! Aku suka sekali dengan hujan karena membuat film horor lebih seram dari seharusnya dan makanan jadi lebih nikmat dari biasanya, hihihi. Pokoknya kalau hujan tiba, ---dan kebetulan sedang ada waktu luang, bisa dipastikan aku sedang tenggelam di balik buku, film atau, --of course pizza :D Tapi di balik ke-happy-anku, hujan juga membuatku harus memberikan perhatian ekstra pada Eris, ---my super cute golden retriever. Pasalnya saat hujan anjing dengan bulu panjang dan tebal seperti Eris jadi rentan terhadap berbagai penyakit kulit. Apalagi karena exercise di luar rumah (baca: jalan-jalan sore) nggak memungkinkan, daya tahan tubuh pun otomatis jadi nggak se-fit biasanya. Terbukti beberapa waktu yang lalu Eris terkena flu. Tubuhnya panas dan nafsu makannya menurun karena penciumannya ikut terganggu (anjing selalu mengendus makanannya terlebih dulu, btw). Untung saja hanya dalam waktu 2 hari kondisinya membaik, ---pasti berkat disuntik Pak Dokter nih, hihihi. Tapi aku belum bisa lega karena Eris juga terkena hot spot di beberapa bagian tubuhnya. Aww, poor baby :D


Teman-teman yang memiliki anjing pasti akrab dengan istilah hot spot, ---atau tepatnya dipaksa akrab, karena terkadang meski sudah dicegah sedemikian rupa tetap saja ia punya cara untuk sok akrab sama sahabat kaki empat kita :p Untuk yang belum tahu, aku akan jelaskan sedikit tentang hot spot. Meski namanya kece dan terdengar seperti BFF nya wifi, hot spot yang ini nggak ada hubungannya sama internet, lho. Tapi ini adalah infeksi kulit atau reaksi alergi terhadap bakteri yang disebabkan oleh luka pada anjing. Penyebabnya macam-macam, bisa karena cuaca, kutu, cara mandi yang nggak betul (masih ada sisa sampo atau masih basah), parasit dan lain sebagainya. Sama seperti namanya, area kulit yang terkena hot spot memang terasa panas jika disentuh, warnanya kemerahan dan di bagian yang terinfeksi bulunya akan rontok alias pitak. Karena rasanya panas dan gatal, anjing akan terus menggaruk, ---atau bahkan menggigiti bagian yang sakit tanpa henti. Kalau sudah begitu masalah pun jadi nggak "se-simple" sakit kulit. Karena jika lama dibiarkan anjing bisa stress dan memicu munculnya penyakit lain. Makanya sebisa mungkin hot spot harus langsung diobati sebelum bertambah parah.

Eris sendiri sudah beberapa kali terkena hot spot. Aku ingat waktu pertama kali menemukan spot kecil di bagian punggungnya, awalnya kukira hanya luka biasa. Setelah beberapa hari bukannya membaik, tapi luka Eris malah semakin meluas! Lukanya pun berair dan mengeluarkan bau lembap, ---seperti cucian yang belum kering plus agak amis. Bingung dan sedikit panik, aku membawanya ke dokter hewan, ---dan dari sanalah aku mengenal istilah hot spot. Dengan obat suntik dan salep yang dokter berikan Eris pun berangsur-angsur sembuh. Karena penasaran dan nggak mau kejadian yang sama terulang lagi, ---well, at least berusaha, ---aku mencari tahu lebih banyak tentang hot spot dari internet juga dari teman-teman yang lebih perpengalaman. Semenjak itu aku jadi lebih tenang karena sudah bisa meng-handle sendiri jika si sok akrab ini kembali lagi, hihihi. Dan karena cara-cara yang aku lakukan selalu berhasil untuk menyembuhkan hot spot Eris, aku pikir nggak ada salahnya untuk membaginya di sini, siapa tahu bermanfaat :) 
Disclaimer; Aku bukan expert dalam masalah kesehatan anjing. Metode yang  kulakukan sebisa mungkin natural dan minim efek samping. Silakan koreksi atau beri masukan jika ada yang salah :)

1. Jaga kebersihan 
Mencegah lebih baik daripada mengobati. Well, cara ini memang nggak benar-benar menghindari hot spot. Tapi lingkungan yang bersih tentu membantu menjaga kesehatan anjing dan hewan peliharaan lain di rumah. Aku biasanya membersihkan lantai dengan menggunakan air, pembersih lantai dan sedikit antiseptik secara terpisah. Setelah itu dikeringkan sampai benar-benar kering. Kalau perlu Eris dimasukkan ke dalam kandang terlebih dahulu karena lantai yang basah memang sangat mengundang sekali untuk dipakai selonjoran, terutama saat cuaca panas. Bulu yang lembap akan mengundang bakteri dan yup, itu akan terasa semakin gatal dan merangsang anjing untuk menggaruknya lebih hebat lagi.

2. Ganti makanannya
Sama seperti manusia, beberapa jenis makanan juga bisa memicu gatal-gatal pada anjing. Eris biasanya aku hindarkan dari makanan beragi (tahu, tempe, roti, dll) dan telur. Aku juga mengganti dog food nya dari jenis basah ke jenis kering karena menurut pengalamanku makanan basah membuat gatalnya semakin parah. Kalau diperlukan aku juga mengganti jenis (merk) dog food atau mengganti menu yang dimasak sendiri. Sebagai camilan aku memberi Eris ubi yang direbus atau dikukus karena ubi alias sweet potato sangat bagus untuk bulu anjing. Terkadang bulu yang tumbuh di bekas pitak karena hot spot jadi agak kasar jika dibandingkan dengan yang lain. Nah, ubi membantu agar bulu yang tumbuh menjadi mengkilap dan tebal :)



3. Gunakan bawang putih
Bawang putih berguna sebagai antibiotik alami. Kandungannya bisa membersihkan hot spot dari dalam darah (sumber: anjingkitadotcom). Meski di berbagai situs disebutkan bahwa dosis yang tepat untuk anjing berbadan besar adalah 2 potong bawang, tapi aku hanya memberi Eris seujung kuku saja dan nggak setiap hari. Alasannya karena bawang putih (dan bawang-bawang jenis lainnya) bisa membuat anjing anemia. Caplak (salah satu penyebab luka hot spot) tentu akan malas menempel pada anjing yang anemia, tapi salah-salah malah anjingnya yang sakit karena kekurangan darah. Cara lain untuk mengobati hot spot yaitu dengan mencampur bawang putih yang sudah dihaluskan ke dalam air mandi. Aku sendiri belum pernah mencoba cara yang kedua ini karena takut baunya menempel. Tapi jika teman-teman khawatir dengan keamanan mengkonsumsi langsung, cara ini bisa dicoba.

4. Mandikan dengan benar
Aku beruntung karena Eris sangat super-duper chill ketika dimandikan, jadi memperkecil kemungkinan adanya sisa sampo yang tertinggal. Tapi tetap saja mandi menjadi kegiatan yang tricky, karena saking chill nya Eris lebih suka duduk ketika bulunya dikeringkan, hihihi. Cute sih kelihatannya, tapi bulu yang nggak kering sempurna itu bisa memicu hot spot. Untuk mengatasinya aku meminta Eris untuk "bobo", ---atau anjing lain mengenalnya dengan istilah "lay down", lol, ---lalu aku mengeringkan sisi kanan dan kiri tubuhnya bergantian. Dengan cara ini bagian-bagian sulit seperti bokong dan sela-sela jari pun bisa lebih mudah dikeringkan. Jika sudah terlanjur terkena hot spot aku menggunakan sampo khusus untuk perawatan kulit anjing. Sampo jenis ini bisa ditemukan di berbagai pet shop, merknya juga beragam hanya pastikan saja nggak membeli yang tanpa label alias abal-abal. Kalau ragu bisa dikonsultasikan pada dokter hewan.


5. Gunakan tembakau
Okay, mungkin reaksi kalian sama sepertiku ketika pertama kali mendengar cara yang ini. Waktu itu kupikir, "Whaaaat, masa anjing disuruh merokok???", hihihi :O Tapi tenang, tembakaunya bukan untuk dihisap kok, tapi untuk disemprotkan ke kulitnya yang sakit. Resep ini aku dapatkan dari Om Paul Sing, pemilik Golden Top Kennel. Pengalamannya merawat banyaaaaak sekali golden retriever membuat Om Paul pandai untuk mengatasi banyak masalah kesehatan pada anjing tanpa menggunakan obat-obatan kimia, termasuk untuk hot spot. Resep yang aku gunakan sudah disederhanakan dari aslinya karena perawatan Eris dibarengi dengan cara-cara yang aku sebutkan di atas. Aku menggunakan tembakau dari satu batang rokok kretek dan mencampurnya dengan bawang putih yang sudah diulek halus. Setelah itu campur kedua bahan dengan 2 gelas air dan didihkan, ---atau kalau malas boleh juga dimasukkan ke dalam microwave selama 2 menit. Tuangkan "ramuan ajaib" ke dalam botol sempot, dan setelah dingin semprotkan ke kulit yang sakit. Hindari bagian mulut ya, karena tembakau bisa menjadi racun jika tertelan. Untuk resep Om Paul yang asli, teman-teman bisa lihat di sini: http://anjingkita.com/wmview.php?ArtID=24043.

6. Pakaikan Elizabethan collar
Elizabethan collar adalah kalung berbentuk corong yang berguna untuk mencegah anjing menjilat atau mengigiti bagian tubuhnya. Kalau dulu aku menjadikan cone of shame ini sebagai opsi pertama, sekarang malah menjadikannya opsi terakhir. Dulu proses penyembuhan hot spot Eris lebih lambat karena belum menggunakan cara-cara di atas. Lukanya sulit sekali mengering karena Eris terus-terusan menjilatinya. Yang paling seram kalau salep dari dokter juga ikut dijilat! O... ow... not good, kan? Makanya meski nggak tega (---dan aku harus menahan ketawa karena Eris nampak lucu, hehehe) tapi aku tetap pakaikan setiap hari, termasuk saat tidur agar lukanya cepat kering. Mungkin teman-teman juga nggak tega kalau harus memakaikan Elizabethan collar pada si kesayangan. Tapi trust me, ini lebih baik daripada membiarkan mereka menyakiti diri sendiri, kan? ;) Apalagi sekarang modelnya sudah beragam dan ada yang diberi busa juga, jadi kalau malam tetap bisa tidur nyenyak :)

7. Alihkan perhatiannya
Aku juga punya alergi dan kalau kambuh saat aku sedang nggak melakukan apa-apa rasanya.... gatalnya jadi berkali-kali lipat! Padahal kalau kambuhnya saat jalan-jalan di mall rasanya nggak terlalu parah, hihihi. Eris juga rupanya merasakan hal yang sama, saat sendirian ia menggaruk, menjilat, bahkan mengigiti tubuhnya dengan gemas. Tapi saat diajak melakukan kegiatan ia menjadi lupa dengan perasaan gatal dan panasnya. Berhubung sedang musim hujan kegiatan jalan-jalan sore kuganti dengan bermain bola di garasi. Menurutku ini adalah cara bagus karena garasi tentu lebih aman dibandingkan dengan bermain di jalan yang banyak sisa genangan hujan, ---dan setelah kelelahan Eris tentu akan tidur dengan sangat nyanyak, hihihi :) Kalau bosan dengan kegiatan fisik biasanya Eris aku ajak bicara atau menonton video di handphone. Pokoknya jangan sampai Eris terfokus dengan hot spot di tubuhnya.


Tapi selain cara-cara di atas menurutku yang terpenting adalah menjaga agar Eris tetap happy. Karena anjing yang happy berarti anjing yang "sehat". Aku memang nggak (---belum bisa) membelikan Eris dog food yang mahal, jalan-jalan ke tempat keren atau membelikannya banyak aksesoris untuk mendukung kecentilannya. Tapi aku percaya bahwa happy juga bisa didapat jika kita memberikan kasih sayang yang tulus pada hewan peliharaan kita. I love Eris soooo much, dan aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya. Love is free, love heals everything. Jadi kenapa nggak kita berikan juga untuk sahabat berbulu dan berekor kita? ;)
Okay, sekian tulisanku kali ini. Semoga bermanfaat untuk menghadapi musim hujan yang nikmat-nikmat tricky, hihihi. By the way, apa teman-teman juga punya hewan peliharaan? Share dong di kolom komentar :)

cheers,

Indi

___________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Rabu, 30 Maret 2016

Pelajaran yang Didapat Ketika Menghadiri Resepsi Pernikahan...

Wedding invitation.
"Uh, lagi?"
Mungkin terdengar kasar---atau aneh, tapi begitulah reaksiku. Sejak kecil sampai sekarang aku nggak pernah excited dengan segala yang berhubungan dengan wedding stuff. Ini bukan karena aku sensi dengan pertanyaan "kapan nyusul", ya. Aku sudah 8 tahun punya serious relationship with Ray, so definitely I’m not a jomlo, hehehe :p Tapi aku adalah girly girl yang orang bilang "not girly enough" karena malas ribet. Konon setiap anak perempuan mempunyai impian untuk menjadi pengantin, tapi untukku membayangkannya saja sudah seram. Pakai makeup, duduk dan berdiri di pelaminan berjam-jam... Uh, pakai bb cream saja aku sudah jerawatan, apalagi kalau harus dibikin "pangling". Pokoknya setiap mendengar tentang wedding, aku langsung teriak "Nooooo... jangan libatkan akuuuu", ---dalam hati. Karena kalau berteriak di depan calon pengantin itu namanya rude, hehehe. Don't get me wrong, tentu suatu hari aku akan menikah. Tapi sambil menunggu waktunya tiba, bukan berarti aku bisa free dari segala makeup dan ini-itu. Terutama ketika yang menikah adalah anggota keluarga...

Aku sangat senang waktu tahu kalau Dani, sepupuku akan menikah dengan his longtime girlfriend, Dila. Kebetulan beberapa tahun yang lalu Dila pernah mewawancariku untuk video dan website Greensmile. Meski nggak begitu mengenalnya, tapi akan memilikinya sebagai ipar membuatku excited karena kami mempunyai passion yang sama di bidang lingkungan hidup :) Sampai aku ingat bahwa keluarga harus memakai seragam dan makeup agar terlihat kece dan berbeda dengan tamu yang lain. Jantungku langsung deg-degan. Why oh why... kenapa di keluargaku ada tradisi seperti ini? Bisakah aku memakai apapun yang ada di lemari dan cukup memakai bedak tipis? Well, jawabannya tentu "tidak". Demi menjaga kekompakan aku harus membuat baju baru dari kain seragam yang sudah disediakan oleh pihak pengantin. Ini mengingatkanku dengan film 28 Dresses. Seperti di film, aku punya banyak dress pengiring pengantin dan semuanya hanya berakhir di lemari karena kebanyakan modelnya nggak cocok untuk dipakai sehari-hari, hehehe. By the way, resepsi pernikahan diadakan di Jakarta sementara aku tinggal di Bandung. Dengan pertimbangan jarak dan waktu karena resepsi diadakan di malam hari, akhirnya diputuskan untuk nggak menyetir mobil sendiri dan kami (aku, Ray dan keluarga adikku) memutuskan memakai jasa sewa mobil sekaligus sopirnya sementara Ibu dan Bapak lebih dulu berangkat satu hari sebelumnya.

Sebenarnya bukan pernikahan yang aku takuti, tapi segala macam prosesi membuatku ingin menjadi anak-anak selamanya saja. Dulu aku pernah bertanya pada Ibu kenapa pengantin harus didandani dan dipajang di pelaminan. Waktu itu Ibu menjawab bahwa semuanya dilakukan agar berkesan, bisa dikenang sampai hari tua nanti, ---dan yang termanis di resepsi pernikahan pengantin bisa merasakan menjadi raja dan ratu selama sehari. Tapi aku nggak mengerti, bukankah berkumpul bersama di satu meja sambil mengobrol seru dengan teman dan keluarga tentang betapa beruntungnya bisa menikahi seseorang yang sangat dicintai akan lebih berkesan dibandingkan dengan menyalami tamu undangan di pelaminan dan makan belakangan? Semakin dewasa aku belajar bahwa versi fun dan berkesan bagi setiap orang itu berbeda-beda. Bagiku makeup dan highheels merupakan nightmare, tapi bagi orang lain bisa saja itu adalah hal yang sangat mereka inginnya. Aku nggak harus seperti itu, of course. Ketika hari itu datang menikmati musik dan kumpul-kumpul would be perfect for me and Ray. Tapi seperti yang sudah aku sebutkan barusan, versi fun setiap orang itu berbeda-beda, jadi di perjalanan aku bolak-balik ingatkan diri sendiri supaya nggak berwajah masam. Berempati, bayangkan jika aku ada di posisi pengantin dan ini adalah hari yang sangat mereka impikan.

Ibu dan Bapak mengerti dengan karakter aku yang 'girly but not so girly' (apaan coba, lol). Mereka selalu mencarikan jalan tengah agar aku happy tapi tetap mengikuti tradisi. Supaya kedua belah pihak senang, dan nggak ada yang (terlalu) memaksakan diri. Seperti di acara-acara pernikahan sebelumnya (OMG, aku benar-benar terdengar seperti film 28 Dresses, hehehe) pihak pengantin selalu memberi kain seragam untuk dipakai anggota keluarga. Biasanya aku menjadi pengiring pengantin, ---literally jalan di belakang mereka, jadi harus kompak dengan sepupu-sepupuku yang lain. Aku yang clumsy ini nggak pantas untuk pakai dress panjang karena bisa-bisa terpeleset dan dikenang seumur hidup oleh tamu undangan. Jadi untukku model dress sengaja dibedakan, tapi tetap dengan kain yang sama. Dan untuk sepatu, karena aku nggak bisa memakai high heels (not good for my back, lah) jadi diganti dengan kitten heels, ---yang menurutku sih tetap nggak nyaman, masih lebih enak flat shoes atau flatform. Nah, biasanya yang susah 'kabur' itu kalau urusan makeup, soalnya orang-orang langsung gemas melihat wajahku yang lebih polos dari adik sepupu yang masih SD. Kalau perlu mereka bakal mengejar-ngejar aku sambil bawa lipstik demi membuat wajahku jadi presentable, hehehe. Syukurlah kali ini aku diizinkan untuk nggak dimakeup oleh mbak-mbak makeup artist karena iparku lumayan akrab dengan lipstik dan kawan-kawannya. Aku hanya dipakaikan bb cream, bulu mata palsu, eye liner, blush on dan lipstik tipis, ---tanpa eye shadow, pensil alis dan lainnya. Lega sekali waktu melihat cermin ternyata wajahku masih dikenali. Soalnya entah karena belum terbiasa, atau memang begitu kenyataannya, makeup selalu membuatku merasa seperti pemeran antagonis, hehehe.

Bersantai dulu di Mall Slipi Jaya sebelum pakai dress dan makeup sederhana.

Resepsi pernikahan diadakan malam, tapi keluarga diharapkan untuk berkumpul pukul 12 siang untuk, ---believe it or not, makeup! Keluarga plus kerabat berkumpul di rumah mempelai dan hotel untuk bergantian dirias. Tadinya aku pikir bakal too early karena acara masih sangat lama, bisa-bisa makeup nya luntur duluan. Tapi rupanya untuk mengerjakan 1 orang membutuhkan waktu lebih dari 1 jam; makeup wajah, rambut, pakaian... Wah, pantas saja Ibu sudah stand by dari pukul 11, hehehe. Berhubung aku nggak menggunakan jasa makeup artist dan untuk rambut hanya perlu dikepang (catok rambutnya pun sendiri, lol) jadi aku punya banyaaaaaak waktu sampai resepsi tiba. Sambil menunggu aku ajak Ray berjalan-jalan ke mall yang lokasinya nggak jauh dari rumah omku. Rupanya mall sedang direnovasi, jadi hanya lantai 1 dan 2 saja yang ramai. Meski begitu kami sangat menikmati our escape date. Setiap lantai kami jelajahi dan berakhir dengan membeli sepatu, kaus kaki dan kaus dalam yang super murah. Setelah berjalan-jalan moodku menjadi semakin bagus, seperti me-refresh tubuh dan pikiran setelah perjalanan dari Bandung ke Jakarta yang melelahkan. Aku tahu setelah ini aku akan kembali ke kenyataan sebagai pengiring pengantin yang harus berdiri sampai larut malam, ---dengan sepatu yang bisa membuat scoliosis ku marah selama 1 minggu. Tapi at least aku akan berusaha melakukannya dengan happy, for my family :)

Dengan dress yang didesain khusus untukku, kitten heels dan simple makeup :)

Oh, satu hal lagi yang belum aku sebutkan tentang tradisi di acara pernikahan keluarga, secara nggak resmi aku dipilih sebagai big sister bagi adik-adik sepupuku, Gaby dan Billa yang usianya 8 dan 10 tahun. Kebiasaan ini sudah berlangsung sejak mereka masih balita sampai-sampai banyak yang mengira bahwa mereka benar-benar adikku. Psst, mudah-mudahan mereka nggak baca tulisan ini, karena mereka selalu protes jika diperkenalkan sebagai sepupu, ---maunya sebagai adik kandung saja, hihihi. Tradisi ini memberikan keuntungan sekaligus "memberi keterbatasan" bagiku. Sisi baiknya tentu karena aku bisa mendapatkan semua hal seru yang mereka dapat dari orang dewasa lainnya. Es krim, happy meal, jalan-jalan ke mall... you named it deh pokoknya. Tapi di sisi lain mereka juga begitu terikat denganku sampai-sampai "me time" jadi hal yang hampir mustahil. Sebenarnya aku bukan satu-satunya sepupu mereka yang sudah dewasa, tapi somehow Gaby dan Billa selalu memilihku. Sampai-sampai namaku sering dijadikan senjata oleh orangtua mereka untuk membujuk kalau mereka malas melakukan sesuatu, hahaha. Dan belakangan "adik" ku bertambah 1, namanya Anissa, anak dari sepupuku, ---si mempelai pria. Well, sebenarnya secara teknis aku adalah tantenya Anissa, tapi karena usianya nggak jauh dari Gaby dan Billa ia ikut-ikutan ingin menjadi adikku. So kali ini aku menjadi big sister bagi mereka bertiga. Sebelum resepsi dimulai aku berharap mereka nggak akan berebutan untuk menggandeng tanganku, karena obviously, ---tanganku hanya dua, hahaha.

Bersama Ibu dan Bapak :)

Pukul 7 malam resepsi pernikahan dimulai. Karena keluarga pengantin harus sudah berada di gedung sebelum acara dimulai, jadi aku harus pandai-pandai mencuri waktu untuk beristirahat. Untunglah ada beberapa kursi di salah satu sudut, jadi aku bisa melepas sepatu dan membiarkan kaki untuk bernapas lega, hihihi. Entah ada apa dengan kakiku, setiap memakai sepatu ber-heels, ---sekalipun kitten heels, pasti ujung-ujung jarinya sakit semua. Sementara para orangtua sibuk beramah-tamah dengan kerabat dan tamu yang mulai berdatangan, para sepupu sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang sekedar mondar-mandir, selfie bahkan ada yang menenangkan anak-anak mereka karena sudah mulai rewel. Sedangkan aku mengobrol random dengan Ray sambil sesekali membalas sapaan kerabat yang melintas. Tapi itu nggak bertahan lama karena Gaby, Billa dan Anissa sudah datang. Belum apa-apa aku sudah ditantang untuk membuat sebuah kursi untuk bisa muat diduduki kami berempat! Padahal kursi yang kosong masih banyak, lho. Tapi mereka berlomba-lomba untuk duduk paling dekat denganku. Cepat-cepat aku berdiri supaya adil karena 3 gadis kecil yang berkelahi saat pernikahan = not good, lol. Setelah berdiri pun rupanya masalah belum selesai, ---seperti yang aku khawatirkan mereka benar-benar berebutan untuk menggandeng tanganku! Hahaha, OMG, that was beyond cute, Billa menggandeng tangan kiriku sementara Gaby dan Anissa menggandeng tangan kananku, ---Anissa menggenggam jempolku kuat sekali, hahaha. Tapi yang paling lucu adalah ketika giliran keluargaku berfoto bersama pengantin, Billa dengan percaya diri mengikutiku ke studio mini dan mengingatkan (lagi) bahwa ia adalah adikku, hahaha. Tentu Billa nggak diizinkan ikut, tapi jujur saja melihat wajah seriusnya membuatku terharu. Awww...

Acara seremonial baru "benar-benar" dimulai setelah sesi foto; doa, pidato, tari-tarian dan lain sebagainya. The girls sangat excited untuk menonton Tari Merak dari jarak dekat dan itu membuat aku cukup kewalahan karena, ---of course--- mereka minta ditemani. Tapi seperti yang sudah aku sebutkan sebelumnya, ada 2 sisi dari menjadi seorang kakak. The bright side is... aku bisa berkeliling dan mencicipi banyak makanan tanpa perlu merasa canggung. Well, akhirnya aku mengerti kenapa Ibu dan Bapak dulu sering menjadikanku alasan. Karena sekarang aku bisa merasakan keuntungannya. "Gaby, mau mau chocolate melt, ya? Yuk, ambil," ---dan aku pun mengambil porsi yang paling besar untukku sendiri, hehehe. Rasa pegal di kaki dan berat di wajah (bahkan makeup ringan pun kalau dipakai lama-lama terasa berat) memang nggak hilang. Aku masih bisa merasakannya tapi at least perhatianku teralih karena ada mereka. Pukul 9 malam, 1 jam sebelum acara selesai aku pamit untuk pulang lebih dulu. Sebenarnya masih ada 1 sesi foto lagi, tapi karena sebelum acara juga sudah jadi aku pikir itu bukan masalah. Berpamitan dengan adik-adikku seperti biasa dibumbui sedikit drama, aku harus mengantar mereka ke pelaminan karena selain bersamaku mereka hanya mau bersama orangtuanya! Hahaha, obviously I'm not ready for kids, ---yet :'D

Billa, Anissa, Gaby dan Kiran, anak dari teman ibuku.

Begitu tiba di mobil aku langsung melepas kitten heels dan menggantinya dengan sepatu yang kubeli di mall sebelumnya. I'm so happy for Dani dan Dilla, tapi aku benar-benar nggak sabar untuk tiba di rest area dan menghapus semua riasan dari wajah. Hatiku masih bertanya-tanya mengapa resepsi pernikahan harus identik dengan berdandan? Mengapa pengantin harus dipajang di pelaminan? Dan lain sebagainya. Tapi setelah kupikir-pikir, memang apa masalahnya dengan semua itu? Yang terpenting adalah kebahagiaan pengantin. Mungkin memang inilah hal yang mereka inginkan, ---yang sejak kecil diimpikan, seperti aku yang bermimpi ingin makan-makan bersama keluarga dengan diiringi konser musik kecil di hari pernikahanku nanti, ---no need to dressed up. Sedikit berkorban seharusnya bukan masalah, ---karena versi fun bagi setiap orang itu beda-beda, dan aku juga pasti bersedih jika ada yang berwajah masam ketika "hariku" tiba. Well, sepertinya nggak berlebihan jika aku menyebut resepsi pernikahan sebagai tempat untuk belajar tentang keberagaman. Aku berlajar bertoleransi, aku belajar menghormati dan aku belajar untuk ikut happy saat orang lain happy. Memang nggak mudah untuk happy saat tumit mulai lecet, tapi bukan berarti nggak bisa :)
By the way sebelum kalian mengira bahwa tulisan tentang pernikahan ini adalah kode. Jawabannya adalah; "Nooooo." Suatu hari aku akan menikah, tapi not very soon lah. Lagipula, ingat pesan Gaby, Billa dan Annisa; "No boyfriend until you're 30, Kak!" 
Oh, kasihan Ray, hahaha :D


yang kakinya masih sakit,

Indi

__________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 13 Maret 2016

Datang sebagai Inspirator, Pulang dengan Membawa Inspirasi! (Kelas Inspirasi Bandung)

Haloooo, howdy-do bloggies?! Aduh, rasanya malu-malu gimana gitu untuk bilang kalau sekarang aku mengetik ini dalam keadaan kurang enak badan. Padahal di post sebelumnya aku bilang akan kembali update kalau sudah sehat. Tapi ternyata... tenggorokanku kembali nggak enak sekarang, huhuhu :( Mudah-mudahan saja nanti pagi sudah baikan karena hari senin aku perlu suara gue untuk, ---ehm,--- sebuah surprise yang baru saja aku dapat (ceritanya next time, ya, hihihi). Anyway, meski begitu aku akan menepati janji untuk bercerita tentang pengalaman menjadi inspirator pengajar di Kelas Inspirasi Bandung. Tulisan kali ini mungkin nggak akan sedetail biasanya (menghemat tenaga, hihihi), tapi aku janji akan berusaha sebaik mungkin ;)

Seperti yang aku sebutkan sebelumnya di tulisan tentang pengalaman mengikuti briefing, ini adalah kali pertama aku mengikuti Kelas Inspirasi. Sebenarnya sudah sejak beberapa tahun yang lalu teman-teman pembaca mendukungku untuk mengikuti Kelas Inspirasi, tapi aku selalu ragu. Pasalnya aku merasa belum pantas disebut sebagai “profesional”. Memang aku sudah sudah menulis sejak usia 7 tahun, tapi  hasilnya hanya belasan buku harian (---aku mungkin penulis buku harian profesional, lol). Baru ketika dewasa aku lebih serius menulis dan menghasilkan beberapa buku yang diterbitkan. Tapi tetap, aku merasa masih harus banyak belajar :) Sampai akhirnya tahun ini aku mendapat dukungan semakin banyak, termasuk dari Ray. Rasanya aku jadi lebih percaya diri. Dan setelah dipikir mengapa aku harus menunggu lebih lama? Lebih baik aku berbagi apa yang dimiliki sekarang, karena ilmu tentu akan semakin bertumbuh jika nggak disimpan sendiri.




Singkat cerita aku ditempatkan di SDN Griba 13 Bandung bersama belasan orang lainnya dari kelompok 50. Perasaan deg-degan terasa ketika aku memasuki kelas pertama, yaitu kelas 1-C. Tapi aku yakin pengalaman sebagai guru di sebuah preschool internasional selama 3 tahun sedikit banyak akan membantu. Segera setelah aku menyapa anak-anak, —atau “adik-adik” karena mereka ngotot memanggilku “Kakak”, hehehe, —perasaan deg-degan pun segera berganti dengan semangat. Mereka begitu welcome dan antusias dengan kedatanganku. Karena waktu ajar perkelas dipukul rata menjadi hanya 30 menit, aku langsung memperkenalkan diri dan bercerita tentang profesiku. Istilah “penulis” rupanya belum akrab di telinga mereka, bahkan ada yang mengira bahwa penulis adalah kata lain dari pelukis. Tapi setelah aku menjelaskan tentang peran penulis dalam kehidupan sehari-hari mereka langsung mengerti. Sengaja aku nggak menjelaskan secara mendetail karena yang menjadi tujuan hanya untuk mengenalkan bahwa di dunia ada berbagai macam profesi yang menyenangkan, dan penulis adalah salah satunya. Dalam proses perkenalan ini aku usahakan agar berlangsung dengan fun. Misalnya saja ketika aku menjelaskan tentang alur, latar dan tokoh dari sebuah cerita, aku tanyakan pada mereka cerita apa yang ingin dijadikan contoh. Adik-adik di kelas 1 kompak menjawab SpongeBob Squarepants, sementara di kelas yang lebih tua jawabannya lebih bervariasi; Upin-Ipin dan Frozen! Dengan mengikuti apa yang mereka sukai, istilah-istilah dalam dunia menulis pun lebih mudah dipahami. Aku amaze sekali dengan adik-adik di kelas 1 yang sudah tahu beda alur maju dan mundur lewat salah satu episode Spongebob.





Penulis nggak selalu identik dengan buku, karena yang menulis naskah film atau lagu pun sama-sama disebut penulis. Lagi-lagi dengan mengikuti apa yang mereka sukai aku menyebutkan contoh-contohnya (—dan wow, aku jadi sadar kalau lagu “Sambalado” begitu terkenal di kalangan anak-anak, hehehe). Ada moment lucu tapi juga cerdas yang gue alami di kelas 3. Yaitu ketika ada seorang anak dengan wajah terkejut berkomentar,“Jadi film horor itu ditulis orang ya, Kak? Hantunya juga pura-pura dong, kaya cerita Spongebob!” Sontak aku tertawa mendengarnya, apalagi ketika ia menambahkan bahwa suatu hari ia akan membuat cerita yang lebih bagus agar bisa bekerja di Hollywood. Semoga berhasil, kiddo!  





Karena sebagian besar dari mereka adalah penggemar berat Spongebob, aku pun menamai alat peraga mengajar dengan “kotak imajinasi”, —seperti permainan kesukaan Spongebob dan Patrick. Menjadi seorang penulis terkadang harus menjelaskan sesuatu yang nggak terlihat, —yang sifatnya imajinatif. Jadi aku mengajak adik-adik untuk menebak benda-benda yang berada di dalam kotak tanpa harus melihatnya. Nggak disangka semangat mereka untuk maju ke depan kelas besar sekali, meski beberapa dari mereka minta dibisiki bocoran viariasi kata agar teman-temannya bisa membayangkan benda yang mereka pilih dari dalam kotak, hihihi. Sepertinya ini adalah aktivitas favorit mereka ketika bersamaku di kelas, adik-adik di kelas 6 bahkan meminta waktu ekstra 5 menit agar bisa bermain lebih lama. By the way, kelas 6 adalah kelas yang paling heboh sekaligus polite. Mereka nggak segan untuk menunjukan ketertarikan terhadap outfit yang aku pakai. Dan waktu melihatku kegerahan 2 adik laki-laki di sana langsung sigap naik ke atas meja untuk menyalakan kipas angin! Hahaha, how cute! :D

Pertemuan di kelas aku tutup dengan mengajak mereka bernyanyi bersama. Sengaja aku membawa ukulele dari rumah, sekaligus sebagai contoh dari profesi penulis lagu. Lagu yang kami nyanyikan berjudul “Raihlah Cita-Cita”, liriknya ditulis olehku dengan nada sederhana yang mirip seperti lagu “ABC”.

“Ayo kawan kita bersama
Raihlah Cita-Cita
Jadilah apa saja
Semua yang kau suka.”





Menjadi inspirator pengajar adalah pengalaman yang sangat berharga. Banyak moment mengharukan dan mengejutkan yang aku alami. Seorang anak bernama Damian masuk ke kelasku sebanyak 2 kali, padahal teman-temannya sudah pulang (kelas 1 dan 2 pulang lebih awal). Ketika ditanya alasannya rupanya ia ingin mendengarku bermain ukulele lagi, katanya dulu ia hanya tahu bahwa itu adalah ‘gitar kecil yang dibawa pengamen’, hihihi. Atau ketika adik-adik dari kelas 6 mengajak aku selfie agar mereka nggak lupa bahwa kami pernah bertemu. Rasanya aku ingin memeluk mereka satu persatu dan mengucapkan terima kasih karena telah membuat hari itu menjadi salah satu hari terbaik di hidupku. Bertemu dengan adik-adik di SDN. Griba 13 mengingatkan aku bahwa terwujudnya cita-cita berawal dari semangat yang besar dan tanpa rasa takut.
Aku datang untuk menginspirasi, tapi aku pulang dengan membawa sejuta inspirasi dari mereka! Thanks a lot untuk kesempatannya, Kelas Inspirasi :)







yang dibilang lebih cocok dipanggil 'kakak' daripada 'teteh' sama adik-adik, lol,

Indi

_______________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Jumat, 04 Maret 2016

Indi's Scoliosis Life: SpineCor Update! :)

Hi bloggies! I'm back! ---Well, not "back" back, sih, karena hari ini rupanya aku belum bisa menulis panjang-panjang. Di post yang sebelumnya aku bercerita tentang pengalaman mengikuti briefing Kelas Inspirasi Bandung, seharusnya sekarang aku bercerita tentang Hari Inspirasinya. Tapi berhubung aku sedang masa pemulihan (flu, batuk dan demam, uh, bukan kombinasi yang bagus), jadi sekarang aku akan bercerita tentang update singkat dari scoliosisku. Bagi yang belum tahu, aku mengidap scoliosis sejak usia 13 tahun dan 1 tahun belakangan memilih SpineCor sebagai treatment untuk tulang belakangku.

Minggu lalu aku bertemu dengan dr. Natalie Liem untuk mereview pemakaian SpineCor ku. Sama seperti brace pada umunya, SpineCor juga harus dicek secara berkala untuk memastikan ukurannya pas dengan tubuh pasien. Meskipun masa pertumbuhan sudah berhenti (biasanya di atas usia 18), tapi bukan berarti tubuh nggak mengalami perubahan, lho. Makanya check up berkala itu sangat perlu, ---reminder untuk diri sendiri karena jadwal check up ku belakangan agak berantakan, hihihi. Biasanya saat pemeriksaan jika diperlukan akan diberikan beberapa perubahan pada SpineCor, dan kali ini ada 2 hal yang berubah dari set up nya, yaitu: ada tambahan band dan pada bagian dada atas menjadi lebih flat. Aku nggak tahu pasti apa alasannya, tapi ini artinya ada perubahan di tubuhku, ---in this case artinya baik :) By the way, ini juga salah satu alasan kenapa aku memilih SpineCor, saat tubuh berubah dokter hanya perlu mengganti/menggeser band saja. Aku nggak perlu mengganti keseluruhan brace karena sifatnya elastis. Yay! Lebih baik dari braceku yang sebelumnya, dong ;)


Aku sangat suka dengan set up yang baru. Meskipun memang SpineCor itu terasa nyaman, tapi sekarang rasanya lebih nyaman lagi. Karena lebih pas di bagian dada atas, keberadaannya semakin tersamar jika aku menggunakannya di balik baju, hihihi. Dan yang terpenting rasanya bisa lebih menyangga tulang belakangku. Lihat saja dari foto-fotonya, sooooo much better than before, kan? ;)
Dr. Natalie nggak bilang apa-apa soal kurvaku, ia hanya bilang kalau tanpa diberitahu pun sangat terlihat bahwa aku disiplin dalam pemakaian SpineCor. Dari wajahnya sih sepertinya ia puas (boleh dong bangga, hihihi). Goal dari pemakaian SpineCor dan segala macam treatment scoliosis sebenarnya untuk mempertahankan kurva dan mengurangi rasa sakit, tapi jika sampai ada pengurangan itu namanya bonus. Dan sejauh ini kurvaku berkurang 12 derajat dari 58 ke 40 derajat dengan pemakaian SpineCor. Tugasku sekarang adalah untuk menjaga agar kurva tetap stabil meskipun tanpa SpineCor.


Dulu karena belum mengerti aku hanya berfokus pada tulang belakang, ---karena scoliosis memang kelainan tulang belakang. Yang aku perhatikan adalah postur tubuh, misalnya cara duduk, dll dan asupan kalsium. Tapi ternyata otot yang kuat akan menyangga tulang dengan lebih baik. Makanya dokter menyarankan aku untuk melatih otot agar bisa menjaga kurva menjadi stabil. Tapi jangan seram, melatih otot nggak perlu angkat beban atau olahraga berat, kok, hehehe. Untuk scolioser cukup dengan exercise rutin dan lebih baik lagi kalau pilates. Tempat pilates sekarang bisa ditemukan hampir di tiap sudut kota, tapi untuk scolioser dengan kurva besar sepertiku disarankan untuk mengikuti pilates khusus scoliosis. Pilates memang baik untuk tubuh secara umum, tapi nggak semua gerakan baik untuk orang dengan severe scoliosis. Jadi sekarang aku sedang mencari kelas pilates yang suitable dengan kondisiku (dan yang jaraknya nggak jauh dari rumah supaya nggak capek di jalan). Kalau teman-teman punya informasi, boleh dong share di sini ;)

Secara keseluruhan hasil reviewku baik. Mulai sekarang aku akan memakainya 12 jam every other day (yup, dokter izinkan aku untuk pakai secara selang-seling). Mungkin bagi awam ini terdengar lama, tapi sebenarnya ini jauh lebih sebentar lho dibandingkan dengan penggunaan Boston brace yang 23 jam perhari, 7 hari selama seminggu, ---nggak pakai libur, hihihi. 
Untuk teman-teman scolioser, aku mau mengingatkan supaya nggak terlalu ngotot dengan kurva. Bracing, fisioterapi, surgery, ---atau apapun treatment yang dipilih, berkurangnya kurva itu bonus (tapi kalau pakai SpineCor bonusnya memang lebih banyak, hihihi). Kalau dapat bonus syukuri, tapi kalau nggak pun please don't be sad karena kualitas hidup ditentukan oleh semangat kita, bukan kurva kita ;)


bent not broken,

Indi

Get your own SpineCor here:
Indo Sehat Utama
APL Tower Lt. 25/T3. Podomoro City. Jl. S. Parman Kav. 28 Jakarta Barat 11470
(021) 29339295 / 29339296.

_________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469