Selasa, 08 Mei 2012

Minggu Santai dan Sponsored Review: Raisy Tasthy :D


OOTD Headband: Unick, Dress: Toko Kecil Indi | Hobo Bag: Raisy Tasthy | Shoes: Kameli




Wah, sudah hari selasa lagi rupanya. Thank God, awal minggu yang menyenangkan. Libur di hari sabtu dan minggu berhasil me-refresh tenagaku setelah 5 hari beraktivitas. Bagaimana dengan kalian? Semoga sudah segar kembali dan tetap segar sampai akhir minggu, ya! Hihihihi *amen* :D

Di hari sabtu dan minggu, aku memutuskan untuk diam di rumah. Selain karena tubuhku cukup lelah dan sudah membutuhkan perawatan rutin (yup, aku selalu luluran, maskeran dan creambath setiap minggu sendirian, bukan ke salon ;)), keuanganku (dan Ray) juga sedang nggak mengizinkan, hihihi. Tapi, seperti yang sudah-sudah, meskipun di rumah aku mengalami hal-hal yang menyenangkan. Aku suka sekali berencana melakukan ini-itu untuk mengisi waktu di rumah :)
Rencananya sederhana saja, aku bangun di pagi hari, beres-beres kamar lalu dilanjutkan dengan mengurus pasukan kecilku: Eris si anjing manis, Maksim si kura-kura cerdas dan sekumpulan ikan mas di kolam parit. Lalu di sore hari aku akan mengundang Ray untuk sekedar mengobrol di rumah ;)


 

Raisy Tasthy


Tapi, wow, sebelum sore rencanaku yang menyenangkan tiba-tiba berubah jadi LEBIH menyenangkan! Ada sebuah paket di depan pintu rumah yang dialamatkan untukku. Dengan nggak sabar aku merobek pembungkusnya dan.... ternyata itu dari Shanty owner Raisy Tasthy :) Isinya sebuah tas hobo berwarna coklat dengan tempelan kain yang dijahit sedemikian rupa hingga berbentuk rumah. Wah, senangnya. Langsung saja aku SMS Ray. Aku bilang, "Ayo bersenang-senang, gue punya tas baru", hihihi...

Biasanya, Bapak selalu menjadi fotograferku dalam segala kesempatan. Setiap aku habis mandi dan merasa cantik (hihi), setiap ada acara kumpul keluarga, setiap aku tampil di suatu acara dan setiap moment-moment penting lainnya, termasuk saat aku ingin berfoto dengan barang baru seperti sekarang. Tapi, karena Bapak baru pulang di pertengahan minggu, jadi aku minta Ray saja untuk menggantikan Bapak. Hasilnya memang pasti berbeda, tapi itu nggak penting, yang penting kami bersenang-senang! :)



Raisy Tasthy

Ray datang jam 4 sore, dan sebelum ia sempat membuka sepatu aku sudah tunjukan my newest hobo bag :p Ternyata Ray juga suka dengan tas'nya. Katanya imut dan berguna banget buatku karena bisa memuat banyak barang. Hehehe, tahu saja kalau aku suka bawa banyak barang *blush*
Memang betul, desainnya super cute dan mengingatkanku dengan masa kecil. Ingat dengan boneka perca berbentuk beruang yang antara wajah dan badannya berbeda warna? Nah, seperti itulah aku melihat tas ini. It brings happiness :) Aku juga suka karena bahannya kain jadi mudah dicuci dan dilipat, nggak perlu space besar di dalam lemari atau kotak penyimpanan. Pakai tas ini juga menghemat penggunaan aksesoris, lho. Lihat tali tas-nya yang dijalin sehingga membentuk little bow, memberi aksen manis dipadukan dressku yang polos, kan? ;)


Check Raisy Tasthy collections here :)


Oh, iya aku belum cerita soal Raisy Tasty, ya? Terlalu semangat cerita soal ke-imutan tas baru, sih, hihihi... Jadi produk Raisy Tasty itu semuanya handmade. Setiap barang stock-nya limited, jadi dijamin kalau dipakai nggak akan bertemu kembaran :p Gambar dan teknik sulam yang digunakan pun berbeda dari kebanyakan produk yang beredar di pasaran, karena lebih konteporer dan nge-pop. Pokoknya, sangat-sangat mencerminkan jiwa muda, deh :D
Produk yang tersedia pun nggak hanya hobo bag, tapi juga ada backpack dan bookmark. Untuk melihat koleksi lengkapnya bisa cek facebooknya di sini atau blog-nya di sini. Dan untuk memesan, nggak perlu khawatir dihambat oleh jarak, karena Raisy Tasthy akan mengantarkan pesanan kalian sampai selamat ke rumah masing-masing, hihihi. Tinggal SMS saja ke nomor 087.822.887.605, atau invite pin blackberry-nya 27D351B5, atau bisa juga langsung mention di twitternya @Raisy_Tasthy :)


 


Sesorean Ray menjadi fotograferku. Ia semangat sekali mengatur poseku dan menyuruhku untuk berpindah-pindah tempat. Apalagi si kecil Eris tiba-tiba mengintip dari balik pagar garasi dan ingin ikut bergabung dengan kami. Makin cerialah suasana di halaman rumah :) Baru setelah hari menjadi gelap kami masuk ke dalam rumah, dan ternyata ada kejutan lainnya. Sudah berminggu-minggu aku mengidamkan rainbow cake, dan ternyata Ray memutuskan membelikannya untukku! :D Ray pergi menggunakan motor ke toko kue terdekat dan kembali dengan membawakan satu slice kue idaman. Waktu aku buka kotaknya, ternyata hancur, hihihi, sepertinya ia ngebut waktu di jalan, lol. Meski begitu, ini hadiah termanis yang aku terima. Ray sedang harus berhemat bulan ini, tapi ia tetap ingin membahagiakanku. Thanks a lot my goldensun :) Dan, terima kasih juga Raisty Tasthy! You really made my day, —-as cheerful as your design :D



Sweetest rainbow cake, karena diberikan dengan rasa sayang, hihihi :)

cutest hobo bag, ever :)







Raisy Tasyhy
HP dan pin BB: 087.822.887.605/27D351B5



colorful spirit,

INDI

_________________________________
Contact Me? HERE and HERE. Sponsorship? HERE.

Sabtu, 05 Mei 2012

Ayo Kartinian! :)




OOTD Headband: Bunga | Kebaya: Belong to my Aunt | Dress: Toko Kecil Indi | Bag: Kalimantan (gift from Granny) | Shoes: Fladeo


Howdy-do, world! Welcome, May! :D

So, how was your April, guys? It's been a hot-hot-heat month in here. Tapi nggak apa, karena itu artinya es krim dan minuman dingin jadi terasa seribu kali lipat lebih enak daripada biasanya, hihihi... :)
Meskipun sekarang sudah bulan Mei, tapi ada cerita dari bulan April yang belum sempat aku share. It's about Kartini's day, atau hari Kartini, atau singkatnya sering disebut "Kartinian".
It's been a zillion years sejak terakhir kali aku ikut Kartinian, aku lupa kapan tepatnya, tapi rasanya waktu itu aku masih SD. Aku berkebaya lengkap dengan sanggulnya dan diantar Ibu pakai becak menuju sekolah, hihihi. What a sweet memory :)

Nah sekarang, di usiaku yang sudah dewasa, nggak disangka-sangka aku dapat kesempatan ikutan lagi acara Kartinian! Well, sebenarnya bukan sebagai peserta lomba busana, sih, tapi aku sebagai MC di TK tempatku mengajar, hihihi. Meski begitu aku sangat senang karena bisa memunculkan nostalgia manis ;) Dan tentu saja aku senang karena murid-muridku bisa dapat kesempatan seperti ini, soalnya sekarang semakin jarang sekolah yang mengadakan Kartinian. Kalau dulu, waktu aku masih TK pasti satu minggu sebelumnya sekolah sudah sibuk mendekor dan menyewa andong untuk pawai keliling komplek. Tapi sekarang, meski di sekitar rumah ada tiga TK, nggak satupun yang mengadakan Kartinian. So sad... :(


With miss. Tri and the kids :)

Indi and Niknik


Memang sih, bukan tanpa alasan juga kenapa Kartinian sekarang jarang dirayakan dengan pawai dan ramai-ramai pakai baju daerah (sama dengan acara tujuh-belasan yang juga semakin jarang). Alasannya beragam, dari yang aku dengar ada orangtua murid yang keberatan jika harus mengelurkan uang untuk setengah hari perayaan, katanya mubazir, lebih baik digunakan untuk yang lain. Dan ada juga yang beranggapan bahwa Kartinian nggak harus dirayakan, mengenang dan menghargai jasa-jasanya saja sudah cukup.


Ya... itu memang nggak salah, sih... Tapi apakah para orangtua lupa dengan bagaimana asyiknya mengikuti acara Kartinian waktu mereka kecil dulu? Aku harap sih nggak, karena jika mereka dulu senang, maka anak-anak mereka pun akan senang jika mengikutinya sekarang. Zaman memang selalu berubah, tapi aku yakin anak-anak akan selalu sama dari masa ke masa :)


Makanya aku bersyukur sekali bisa bekerja di TK ini. Meski sederhana, tapi satu minggu sebelum Kartinian pihak sekolah, para orangtua dan murid-murid sudah sibuk sekali. Semuanya terlibat, semua bekerja sama. Bahkan murid-murid playgroup pun sangat semangat berlatih untuk mengikuti lomba peragaan busana daerah dan membaca poem. Senang rasanya selama satu minggu aku mendengar celotehan anak-anak tentang busana yang akan mereka pakai. Meski kebanyakan dari mereka belum mengerti apa itu arti busana daerah. Misalnya saja waktu aku bertanya pada seorang anak tentang busana yang akan dipakainya, ia menjawab, "Aku pakai baju Kartini nanti." Hihihi, so cute :)






Cute little pilot :)

Everyone says this little girl is a little version of me, hahaha :)

Aku dikabari untuk menjadi MC cuma semalam sebelum hari H. Sangat mendadak, dan hampir saja menolak karena nggak punya kebaya. Tapi berhubung aku sangat-sangat ingin mengikuti Kartinian, aku langsung hubungi Tante dan bertanya tentang sebuah kebaya yang ia miliki sejak lama. Beruntunglah kebaya yang dimaksud masih ada di Bandung, karena kalau sudah dibawa pulang artinya aku harus menyusul kebaya itu ke Jakarta, hihihi. Oh, iya kebayanya sebelumnya pernah aku pakai untuk prom night, lho. Ternyata badanku nggak berubah banyak karena setelah bertahun kemudian masih muat :) Untuk padanannya aku pakai rok batik yang sayangnya harus dibatalkan karena kesempitan, dan waktu dirombak ternyata malah kebesaran, hihihi. Ya sudah aku pakai saja dress hitam polos supaya berkesan sedikit resmi. 


Rebutan microphone, hahaha :D


Meskipun acara dimulai jam 9 pagi, tapi anak-anak dan para orangtua sudah berkumpul sejak jam 8 pagi. Semuanya tampak ceria dan cantik. Ibu gurunya ---aku--- kalah nih, karena cuma pakai bedak dan lip gloss, hihihi. 

Anak-anak sudah nggak sabar ingin segera menunjukan kebolehannya, setiap kali berpapasan denganku pasti saja ada yang bertanya, "Miss, acaranya dimulai kapan?". Wah, sampai terharu rasanya dengan semangat mereka :) Dan waktu acara dimulai, benar saja mereka begitu antusias. Bahkan ada beberapa dari mereka yang naik panggung meski belum gilirannya, atau ingin tampil dua kali, hihihi. Acara pun harus berlangsung lebih lama dari yang dijadwalkan karena setiap kali ada jeda pasti anak-anak bertanya, "Miss, aku mau nyanyi. Boleh naik panggung?". Hihihi, tentu saja aku izinkan mereka semua. Lelah, sih, tapi senang! :) Dan waktu pemenang diumumkan justru jadi saat yang paling menyenangkan. Anak-anak nggak peduli mereka menjadi juara keberapa, karena yang terpenting adalah mereka diizinkan naik ke atas panggung, menjadi bintang selama setengah hari dan pulang membawa bingkisan. Malah, mereka lebih tertarik dengan balon-balon yang menjadi dekor panggung lho daripada dengan piala. Buktinya piala-piala itu ada di genggaman para orangtua, sedangkan anak-anak berebutan mengambil balon, hihihi.


This polite girl asked me, "Miss, boleh foto sama Miss?". Awww :')

With the winners :)



Begitulah. Menyenangkan. Sangat menyenangkan. Jadi akankah tradisi Kartinian ini semakin menghilang? Aku harap nggak. Mungkin anak-anak TK ini belum terlalu mengerti siapa itu Kartini, tapi dengan diadakan tradisi seperti ini mereka secara nggak langsung bisa merasakan semangatnya. Dan yang terpenting mereka bisa bersenang-senang, bisa berekspresi dan menjadi bintang selama setengah hari. Jadi kalau suatu hari aku jadi orangtua atau seorang tante, dan pihak sekolah bertanya apakah aku bersedia untuk berpartisipasi untuk acara Kartinian, dengan yakin aku akan jawab, "Ya, tentu saja" :)


girl power,


INDI


Foto-foto oleh Della. 




___________________________________________

Contact Me? HERE and HERE | My Shop? HERE. Sponsorship? HERE. 

Jumat, 27 April 2012

Namanya Onci: Tini Boneka Kelinci ;)

Buatku sahabat itu nggak harus manusia, tapi bisa juga hewan peliharaan, tanaman kesayangan atau bahkan sebuah benda.



Tujuh belas tahun yang lalu aku pergi ke sebuah mall bersama Ibu dan Bapak. Seperti biasa, aku mengintip ke bagian "mainan anak-anak" dan memperhatikan setiap mainan yang ada di sana. Iya, memperhatikan, saja. Aku sangat jarang minta dibelikan mainan. Bukan karena aku takut Ibu dan Bapak nggak membelikan, tapi aku memang nggak mau. Aku sudah punya banyak mainan, lungsuran dari para sepupu, kado dari Om dan Tante dan tentu saja dari orangtua tanpa aku harus meminta. Memperhatikan mainan yang berada di rak-rak toko membuatku merasa seperti di dunia dongeng, membuatku pulang ke rumah dengan perasaan senang dan mempunyai cerita baru yang bisa aku tulis di buku harian sebelum tidur.
Tapi hari itu ada yang lain. Aku melihat sebuah boneka kelinci dan langsung jatuh cinta begitu melihatnya. Bulunya begitu halus, pakaiannya indah, berwarna pink sepeti warna kesukaanku. Aku menyentuhnya sekilas dan segera meninggalkannya tanpa mengatakan pada Ibu atau Bapak bahwa aku menginginkan boneka itu. Aku pikir, "ah, di rumah pun masih banyak boneka yang lain".
Ketika kami bersiap pulang pikiranku tetap berada di boneka itu. Aku menunda-nunda saat Bapak memintaku masuk ke dalam mobil. Hingga akhirnya aku duduk dengan aman di kursi belakang mobil, dengan sabuk pengaman dan mobil yang segera dihidupkan, aku memutuskan untuk... menangis. Entahlah, haha, waktu itu aku ingin mengatakan yang sebenarnya tapi malah tangisanlah yang keluar :D
Setelah beberapa menit yang membingungkan, akhirnya aku bercerita bahwa aku menginginkan sebuah boneka. Ibu dan Bapak tertawa, mereka berkata mengapa aku nggak bilang saja, toh aku sangat jarang minta dibelikan mainan.
Hari itu pun berakhir bahagia. Kami kembali lagi ke mall dan pulang dengan sebuah boneka kelinci di pelukanku...

Aku dan boneka kelinci segera tak terpisahkan. Kemana pun aku pergi, boneka lembut itu selalu ada di pelukanku. Bahkan aku selalu berusaha membawanya ke sekolah meski Ibu pasti marah. Boneka itu aku beri nama "Tini Boneka Kelinci", nama yang panjang dan selalu aku sebutkan lengkap ketika ada yang menanyakan namanya. Lalu atas saran Puja, adikku, "Tini Boneka Kelinci" diberi nama panggilan "Onci" :)
Onci melewatkan banyak hal denganku. Di saat aku bersedih dan aku terlalu malu untuk bercerita, aku pasti langsung memeluk Onci sambil menangis. Menenangkan rasanya ketika air mataku menyerap di bulu-bulunya yang halus seolah semua kesedihan ikut terserap di sana. Onci juga menjadi my very best roommate. Setiap malam aku menghabiskan waktu dengannya. Tangan kiriku memegang botol susu dan tangan kanan memeluk Onci, begitu sampai aku benar-benar terlelap...

Pernah suatu ketika aku dan keluarga pergi ke luar kota. Di tengah perjalanan aku baru sadar bahwa Onci tertinggal di kamar. Aku langsung histeris dan meminta untuk kembali. Syukurlah Ibu dan Bapak mengiyakan, kami kembali lagi untuk menjemput Onci dan melanjutkan perjalanan. Tapi itu cuma satu kali. Lain waktu Onci tertinggal lagi dan orangtuaku memutuskan melanjutkan perjalanan meski aku menangis terus. Setelah sampai di tujuan aku malah sakit dan memanggil-manggil Onci. Ibu membujuk aku akan diberikan boneka baru. Tapi aku tetap menginginkan Onci, dan obat penurun panas pun nggak berhasil menurunkan demamku. I miss my Onci so much :(



+


 =

 


Begitulah, aku dan Onci nggak terpisahkan. Saat aku berantem dengan Puja, Onci selalu menjadi senjataku. Telinganya aku pegang erat dan badannya aku pukul-pukulkan ke punggung Puja. Bukan senjata yang berbahaya memang, tapi aku merasa nggak terkalahkan kalau bersama Onci, hehehe.
Fisik Onci pun semakin lama semakin menurun. Bajunya koyak dan busa-busanya keluar. Ibu terlalu rajin mencuci Onci, alasannya Onci sering terkena tumpahan susu dari botolku. Dan, well, ya perlakuan 'kasar' ku juga menjadi salah satu penyebab Onci rusak :(
Sudah nggak terhitung berapa kali banyaknya Onci dijahit dan ditambal. Lama-kelamaan baju aslinya nggak nampak lagi. Seingatku Onci pernah berubah menjadi motif strawberry, lalu bunga-bunga, lalu... ah, aku nggak ingat lagi. Terlalu banyak, hehehe.







Beranjak remaja, aku sempat agak meninggalkan Onci. Boneka yang berada di atas tempat tidur bukan lagi hanya Onci, tapi ada boneka-boneka lain yang lebih baru, yang lebih modern, yang aku peluk bergantian setiap malam. Tapi lalu datang satu moment yang mengingatkan bahwa Onci sangat spesial, Onci telah menemaniku melewati banyak hal. Bulu putihnya yang berubah kecoklatan karena usia seharusnya nggak membuat aku lupa bahwa sebelumnya ia adalah boneka termanis yang pernah kulihat.
Oh iya, warna Onci yang telah berubah ini sempat menjadi masalah, lho. Suatu hari, di usia dewasaku, tepatnya 4 tahun yang lalu, aku harus dirawat di rumah sakit karena terkena demam berdarah dan tipus. Onci yang saat itu bersamaku bahkan ketika masih di unit gawat darurat diusir dari kamar inap oleh seorang suster. Terang saja aku marah dan memilih pulang ke rumah daripada harus berpisah dengan Onci. Untung saja ada dokter yang memeriksa kebersihan Onci. Rupanya karena warnanya kumal, suster itu mengira Onci sudah kotor. Huhu... poor Onci :(



OOTD Hair clip: Kreasi CantiQ | Shirt & Skirt: Toko Kecil Indi | Foot warmer: Pasar Baru






Dan sekarang, di usia Onci yang ke tujuh belas keadaannya semakin menyedihkan. Nggak peduli seberapa sering ia dicuci dan ditambal, Onci pasti kembali kumal dan koyak. Kain yang membungkusnya semakin tipis karena setiap malam aku masih (dan sepertinya untuk jangka waktu yang sangat sangaaaaat lama) memeluknya erat sampai aku terlelap. Aku hampir saja memilih untuk menyimpan Onci di lemari kaca kalau saja 2 hari yang lalu aku nggak menemukan 3 lembar kain flanel kiriman dari Bunda Dien waktu aku beres-beres kamar. Kain flanel teksturnya lebih tebal daripada kain katun, aku pikir pasti akan lebih kuat untuk menambal Onci :) Jadilah selama 2 hari Onci diinapkan di tempat Bi Ade untuk dibuatkan baju baru sekaligus ditambal. Meski aku agak uring-uringan karena 2 malam nggak bersama Onci, tapi aku senang sekali waktu melihat hasilnya. Onci tambah cantik! :D


Aku sadar, aku akan semakin dewasa dan suatu hari mungkin rasa tergantungku dengannya akan berkurang. Aku akan mempunyai keluarga kecil, dan Onci mungkin akan menjadi teman anakku juga kelak. Tapi aku berjanji akan menjaga Onci selama aku bisa. Aku akan merawatnya dan memperlakukannya dengan baik. Juga menjaga kenangan-kenangan bersamanya agar selalu tersimpan manis di hati. Sepertiku bilang, Onci bukan sekedar boneka. She's my best friend. Forever! :)



 



 :) :) :)

Indi

*Sorry for my super oily and pale face. Aku baru saja pulang kuliah dan cuci muka. Jadi inilah wajahku tanpa bedak, lipstik, dan bahkan tanpa lipgloss :p

_____________________________________
Contact Me? HERE and HERE. Sponsorship? HERE.

Jumat, 20 April 2012

Hug Receiver

Hore! Ini Jumat malam! :D
Artinya, begitu aku bangun dari tidur sudah masuk hari libur, hihihi. Siapa senang, ayo tunjuk jari :p
Di post-post sebelumnya aku sudah janji akan menceritakan tentang pekerjaan baruku, tapi seperti biasa, alasan klise: aku belum bisa share karena belum ada waktu, hiks. Eits, klise bukan berarti nggak benar, lho. Aku memang benar-benar sibuk, dan sekarang, thank God, aku punya waktu untuk bercerita ;)

Suatu hari, sepulang aku kuliah langit tiba-tiba mendung. Karena jadwal pulang dimajukan, aku putuskan untuk ke restoran cepat saji depan kampus sambil menunggu dijemput. Aku nggak beli apa-apa, hanya duduk dan mengobrol dengan beberapa teman yang dengan baik hatinya menungguku dijemput. Tapi ternyata, setelah bermenit-menit menunggu Bapak nggak juga datang, tapi justru Bu Dewi, kepala koordinator kampus yang datang menghampiri. Katanya, beliau ada keperluan ke TK di cabang lain, tapi berhubung hujan mulai turun jadi memutuskan untuk berteduh dulu di sini. Nggak terasa hampir satu jam berlalu, beliau mentraktir kami es krim sambil mengobrol seru. Dan setelah lebih dari satu jam Bapak akhirnya datang. Hujan masih belum reda, jadi aku tawarkan Bu Dewi untuk ikut karena arah rumahku dan TK yang akan beliau kunjungi satu arah. Bu Dewi setuju dan kami pun menempuh perjalanan sambil menembus hujan yang semakin deras.

Tanpa rencana, sekali lagi, tanpa rencana. Setiba di TK aku ikut turun untuk mengantarkan Bu Dewi masuk. Di sana tenyata ada Bu Neni, kepala sekolah TK. Dan, tanpa basa-basi, beliau menawariku untuk menjadi guru pendamping di tempatnya! Aku kaget, tentu saja. Di kampus aku baru belajar selama 1 bulan lebih, dan untuk terjun langsung ke TK dibutuhkan waktu minimal 3 bulan perkuliahan. Tapi Bu Dewi menguatkanku untuk mencoba, katanya syarat 3 bulan itu memang ketentuan yayasannya, tapi kalau aku bisa kenapa nggak. Lagipula ada seorang guru di TK yang izin selama 10 hari untuk umroh, jadi mereka membutuhkan guru pengganti. Akhirnya, tanpa bertanya dulu pada Bapak aku mengiyakan. Satu-satunya yang menjadi keyakinan bahwa aku bisa adalah: I love kids, and I can deal with them (err, hope so, lol).


OOTD: Headband: Bunga | Tea Time Dress by Toko Kecil Indi | Shoes: Nevada for kids


Hari pertama di TK, I was really stunned. (-___- )#
Anak-anak melihatku dengan tertarik, tapi aku malah diam dan sesekali tersenyum. Waktu kepala sekolah memperkenalkanku mereka langsung ribut memanggil-manggilku. Tapi sayangnya bukan dengan namaku, tapi dengan nama-nama julukan yang ajaib. Ada yang memanggilku 'Miss Cherrybelle', ada juga yang memanggil 'Miss Barbie'. Aku ulang namaku sekali lagi tapi mereka nggak dengar dan tetap memanggilku dengan nama-nama dari imajinasi mereka sendiri. Aduh, sampai frustasi, hahaha...
Untunglah waktu di kelas keadaan lebih terkendali, aku bisa memperkenalkan diri dengan baik. Anak-anak juga mulai memanggilku dengan nama 'Miss Indi' (apalagi setelah mereka ditegur kepala sekolah karena memanggil seseorang dengan nama julukan, lol). Lama kelamaan aku mulai mengenali beberapa dari mereka. Ingat waktu aku mengisi event sebagai MC dan sedikit menari? Nah, ternyata beberapa anak di event itu ada di kelas ini. Bahkan anak yang waktu itu hobi sekali menggelayutiku juga ada di kelas ini! Ya, ampun.... hahaha :D Anak itu ternyata bernama Fadlan dan masih mengenaliku dengan baik. Katanya, "Miss, aku mau digendong lagi, boleh?". Aku pun menjawab, "Digendong cuma untuk bayi, kamu kan anak besar, bolehnya peluk". Dan ia pun memelukku dengan canggung. That was my first “aww” moment in kindergarten :')

Hari kedua aku sudah sedikit relax meski masih don't know what to do. Selama ini di kampus aku diajarkan teori dan sangat sedikit sekali praktek. Di teori nggak pernah disebutkan bahwa anak-anak TK ini akan muntah di pangkuanku atau ada yang belum sukses toilet training-nya. Aku meng-handle mereka sebisa mungkin dan mendapat bantuan dari guru-guru senior. Untunglah di TK ini setiap hari ditempel tema-tema yang akan dipelajari, jadi aku bisa mengikuti dengan baik dan mempersiapkan diri sebelum masuk kelas. Oya, di hari kedua sudah terlihat siapa saja anak-anak yang bisa langsung dekat denganku. Meski awalnya malu-malu (well, saling malu tepatnya karena aku juga masih malu, hihihi), tapi ada seorang anak perempuan manis yang setiap ketemu aku pasti minta sun tangan 2 kali. Katanya, "Tangan Miss wangi". Atau ada juga anak laki-laki yang sudah bisa ke toilet sendiri tapi untuk memakai celananya ia selalu bilang, "Aku mau sama Miss Indi saja!", hihihi. Ada juga anak-anak yang selalu minta dipeluk ketika berpapasan denganku, dan yang paling unik adalah... anak yang mendadak manja ketika dekat-dekat aku. Tangannya langsung dimasukan ke mulut dan minta dipangku (biasanya ini karena ia melihatku dekat dengan anak-anak playgroup), padahal ia sudah kelas TK B, lho! Tsk, tsk, tsk :D




Bag: Farrel



Begitulah hari-hari pertamaku di TK, aku masih sering dipindah dari TK A, ke TK B lalu ke playgroup untuk melihat dimana 'bagusnya' aku. Semakin akrab dengan anak-anak, semakin serulah setiap hari. Ketika aku berada di playgroup anak-anak TK B langsung sibuk memanggil-manggilku ke kelas mereka. Malah pernah sekali waktu 2 orang anak menarik tanganku secara paksa sehingga mereka berhasil menyeretku ke dalam kelas! Di sana mereka ternyata hanya bertanya, "Miss, ini nulisnya sudah betul atau belum?". Dan waktu aku cek buku salah satu dari mereka, aku langsung bingung harus marah atau tertawa. Karena itu adalah soal hari sebelumnya yang sudah dikoreksi, mereka sudah menguasai dan aku pula yang memberi nilai. Ya, ampun....
Akhirnya diputuskan bahwa aku mengajar di playgroup saja bersama 2 orang guru lainnya. Jika aku mengajar anak-anak TK (terutama TK B) dikhawatirkan mereka lebih mengganggapku sebagai teman dibandingkan sebagai guru. Well, itu hal bagus sebenarnya, tapi mengajakku bermain ayunan atau berbagi bekal? Haha, lebih baik aku menjaga jarak dulu dengan mereka sampai mereka mengerti bahwa aku hanya bisa diajak bermain ketika jam pelajaran selesai.

Sekarang sudah memasuki minggu ketiga aku mengajar. Meski statusku sebagai guru pendamping, tapi itu cukup membuat aku mengenal karakter dari masing-masing anak. Hari-hariku kadang lancar, dan kadang-kadang diwarnai insiden-insiden kecil khas anak-anak. Tapi semuanya menyenangkan karena aku menikmatinya. Dan semenjak aku di playgroup (untuk TK A dan B aku khusus mengajar kelas komputer), berkompromi dengan mereka tentu saja berbeda dengan cara menghadapi anak-anak usia TK. Peran sebagai guru pun kadang merangkap sebagai helper mereka, karena ada yang masih kesulitan memegang sendok atau malah memegang krayon. Proses adaptasinya juga lebih lama dibandingkan dengan anak-anak di TK, karena mereka cenderung takut ketika berhadapan dengan orang baru. Tapi syukurlah, sekarang aku sudah bisa akrab dengan mereka. Dan yang terpenting mereka merasa aman dekat denganku. Ketika ada seorang anak yang bicaranya belum jelas dan bertanya pada guru lain, "Miss Indi ke mana?", itu adalah penghargaan terbesar yang aku terima, rasanya bahkan lebih menyenangkan dibandingkan dengan menerima es krim dari tangan John Frusciante langsung! :D (ehm, aku belum pernah mengalami, sih, tapi aku yakin es krim dari John nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan wajah-wajah manis anak-anak ini, hihi).





Banyak yang bertanya pada gue (termasuk kepala sekolah, keluarga dan banyaaaak yang lainnya) kenapa aku ingin jadi guru TK, padahal aku memiliki gelar S1 dari jurusan Hubungan Internasional dengan IPK yang memuaskan dan aku bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih menjanjikan dan, tentu saja gaji yang lebih besar. Alasannya cuma satu: karena itu cita-citaku sejak lama. Aku selalu yakin bahwa tujuan dari cita-cita adalah untuk dicapai, bukannya diganti ketika dewasa. Dan selama itu baik, bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, ya kenapa nggak :) Sama seperti menulis yang sudah menjadi hobiku sejak kecil, ketika akhirnya bisa menjadi penulis sungguhan, aku merasa sangat senang dan sukses karena bisa mewujudkan cita-cita. Aku melakukannya dengan sepenuh hati dan bahagia. Begitu juga dengan menjadi guru, ini yang aku sukai dan ini yang aku inginkan. Penghasilan memang penting, tapi itu bukan yang utama. Aku masih punya pekerjaan lain sebagai penulis dan fashion designer untuk online shopku. Nggak banyak, tapi yang terpenting masih ada lebihnya untuk menabung. Dan seperti yang kubilang sebelumnya, menerima banyak pelukan, banyak ciuman dan banyak sapaan hangat dari anak-anak merupakan penghargaan yang nggak bisa ditukar dengan uang. Itu terlalu berharga! :)


hug and kiss,


Miss. Indi :D

__________________________________________
Dan, ada kabar baik yang menyenangkan. Aku masuk sebagai salah satu dari 365 anak muda yang berpengaruh di Indonesia versi Adalahkita.com. Aku nggak bisa bilang apa-apa lagi selain, terima kasih, thank God, dan semoga aku bisa berkarya lebih baik lagi. (Bisa aku minta 'amen' dari kalian? :) ).
Cek web-nya di sini.




________________________________________
Contact Me? HERE and HERE. Sponsorship? HERE.