Tampilkan postingan dengan label Brace Skoliosis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Brace Skoliosis. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 April 2017

Cara Melepas SpineCor dan BERITA BAIK! :) #indisscoliosislife



Waaa, liburnya sudah habis! Hihihi :D Bagaimana liburannya nih, teman-teman? Mudah-mudahan seru ya. Dan untuk yang merayakan, have a blessed Easter! :) Aku sendiri sih merasa long weekend kali ini terasa kurang long, alias pendek. Mungkin karena sedang semangat-semangatnya mencoba hal baru, ---tapi sekaligus ingin bersantai :p Padahal kalau diingat liburan kali ini cukup lengkap buatku; relax dengan spa sudah, being creative dengan membuat lagu baru sudah, jalan-jalan dengan keluarga juga sudah. Well, manusia terkadang nggak ada puasnya ya, hehehe. Padahal seharusnya aku bersyukur karena sempat melakukan banyak hal, dan lagipula 'sebentar' lagi juga another weekend tiba ;)

Soal relax dengan spa, sebetulnya libur kemarin aku nggak niat untuk pijat spa. Awalnya aku ingin pijat terapi untuk scoliosis seperti yang biasa aku dapat di tempat fisioterapi. Tapi karena salah paham dengan terapis pijatnya, jadilah aku dapat "rezeki santai" tak terduga, hahaha. Eh, tapi bukan berarti selama libur aku jadi cuek dengan kesehatan my spine ya. Semalas apapun aku selalu usahakan untuk exercise ringan, ---meski terkadang dengan mata terpejam :p Dan ngomong-ngomong soal scoliosis, di blog ini ternyata tema itu jadi salah satu semakin lama semakin banyak di klik, lho. Perasaanku jadi campur aduk, nih. Antara prihatin karena artinya jumlah scolioser sangat banyak, tapi juga senang karena artinya awareness pengguna internet terhadap scoliosis semakin tinggi :) 

Jadi hari ini aku mau share sesuatu yang berkaitan erat dengan scoliosis, ---yang juga cukup sering di-request sama teman-teman pembaca di sini. Yaitu cara mudah untuk melepas SpineCor. Banyak scolioser, terutama yang kurvanya sedang sampai tinggi harus memakai brace (penyangga) untuk membantu menjaga kestabilan kurvanya. Tipe brace sangat beragam, apa yang dipilih biasanya berdasarkan beberapa pertimbangan dan anjuran dokter. Aku sendiri sejak (lebih) dari 2 tahun lalu memakai SpineCor, brace tipe soft karena lebih nyaman dan efektifitasnya jauh di atas brace tipe lain (hard brace). Meski aku super betah dengan brace ini tapi nggak bisa dipungkiri kalau cara penggunaannya memakan waktu ekstra jika dibandingkan dengan brace tipe hard karena terdiri dari 2 pieces. Untuk pengguna baru pasti merasa kebingungan, ---lihat tali-talinya saja sudah bikin seram, hahaha. Padahal sebenarnya dengan sedikit latihan kita bisa melakukannya dengan mudah, lho :)


SpineCor terdiri dari 2 bagian, yaitu rompi dan short. Di rompi terdapat 4 tali, sedangkan di short terdapat 2 tali. Meski kelihatannya membingungkan (apalagi kalau dalam keadaan dilepas, OMG) tapi sebenarnya fungsi tali-tali itu untuk memudahkan penggunanya, lho. Aku akan coba jelaskan step by stepnya dengan singkat;
1. Di rompi terdapat tali-tali dengan nomor 1, 2, 3 dan 4. Supaya nggak bingung, lepas tali satu persatu dengan urutan terbalik, dari 4 sampai 1.
2. Saat melepas tali lipat ujungnya agar velcro nggak melekat ke bagian rompi yang lain. 
3. Untuk melepas celananya, doesn't matter sih mau tali nomor 1 atau 2 dulu. Yang terpenting make sure lipat talinya agar nggak melekat ke bagian celana lain. Lalu setelah itu lepaskan celana seperti biasa.
4. Lakukan hal yang sama saat akan mencuci atau menyimpan SpineCor untuk mencegah agar velcro nggak cepat "gundul", terutama karena proses pencucian.

Kalau masih bingung kalian bisa menonton video di salah satu episode "Indi's Scoliosis Life" di sini. Aku juga punya video cara memakai SpineCor dan tips untuk ke toilet tanpa harus melepas keseluruhan SpineCor di playlist. Oh iya, aku juga mau share good news nih. Keponakanku, Fithri baru saja menjalani operasi scoliosis (yup, aku bukan satu-satunya scolioser di keluarga). Kurva sebelumnya sedikit lebih tinggi dari aku dan setelahnya scoliosisnya banyak terkoreksi! Aku sampai surprise melihat fotonya karena ia terlihat super tegap :) Operasi koreksi yang dilakukan menggunakan MAGEC Rod System, ---yang sebelumnya aku belum pernah dengar. Sepertinya di Indonesia memang belum ada (at least itu hasilnya ketika aku googling), karena di rumah sakit tempat Fithri melakukan operasi pun (di Belanda) ini baru kali keduanya dilakukan. News ini membuat aku super happy karena setelah koreksi mobilitas Fithri pasti akan lebih tinggi (she's a wheelchair user) dan juga semakin positif karena artinya perkembangan dunia kedokteran semakin maju! :)


Luar biasa rasanya kalau mengingat dulu aku masih memakai hard brace dan pilihan untuk terapi scoliosis masih sedikit. Siapa yang mengira kalau sekarang ada SpineCor atau MAGEC Rod System, ---dan teknologi-teknologi lain yang nantinya akan menyusul. Fakta kalau ada orang-orang di luar sana yang melakukan berbagai macam penelitian untuk membantu orang-orang sepertiku dan Fithri membuatku merasa terharu! I can't wait to see what future brings, ini baru awalnya :)
Well, aku sih nggak bisa (---belum) bisa membantu dalam bidang science, tapi mudah-mudahan apa yang aku share di sini dan di series "Indi's Scoliosis Life" bisa membantu, ---at least membuat teman-teman scolioser ingat kalau kalian nggak sendirian. Saat sedih, down atau in pain, jangan lupa kalau di sini ada aku yang "menemani" ;)


smile,
Indi

nb: Rupanya banyak yang belum tahu kalau Spine Body Center, tempat gue memasang SpineCor sudah berubah nama dan alamat. Ini yang baru: Indo Sehat Utama. Ruko Garden Shopping Arcade, Blok B-09 BB Kawasan Podomoro City, Jl. Podomoro Avenue - Tanjung Duren Selatan jakarta Barat 11470. Phone: 021 2940 8696.


(Update: Fithri keponakanku meninggal di tahun 2022. Kami sangat merindukan senyumannya, may she rest in peace…).

____________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Rabu, 16 November 2016

Indi's Scoliosis Life: Kulit Sehat dan Tetap Bersih saat pakai Brace? Bisa, dong! ;)

*Scroll ke atas*
*Scroll ke bawah*

Rupanya sudah 5 bulan ya sejak aku menulis tentang scoliosis di sini :O Padahal tujuan membuat series "Indi's Scoliosis Life" di YouTube sebenarnya untuk melengkapi post ku di blog "Dunia Kecil Indi", bukan untuk menggantikan. Jadi kalau di sini versi tulisannya, di series ISL versi videonya karena terkadang kata-kata atau foto saja nggak cukup untuk menjelaskan apa ingin aku sampaikan, terutama kalau berkaitan soal brace. Eh, tapi pada kenyataannya aku malah lupa untuk share di sini, huhuhu. Maaf ya, terutama untuk teman-teman scolioser (---pengidap scoliosis; kondisi tulang belakang yang melengkung ke arah samping) yang tetap rajin untuk mampir ke sini dan meninggalkan komentar :) Mulai sekarang aku akan berusaha untuk lebih konsisten dan berusaha untuk membagi apa saja yang sudah aku share di YouTube, ---mumpung belum ketinggalan banyak, hihihi. Kalau aku mangkir lagi, tolong jewer ya :p


Kali ini aku akan membahas sesuatu yang relatable banget dengan para scolioser, ---tapi ajaibnya justru jarang sekali dibahas (serius, aku sampai research dengan googling sana-sini)
Tentang masalah kulit! 
Yup, banyak sekali scolioser yang mengalaminya, terutama jika harus menggunakan brace dalam jangka waktu yang lama. Masalah kulit yang dihadapi biasanya gatal-gatal, kemerahan atau berbagai macam alergi kulit lainnya. Meski kesannya seram tapi sebenarnya itu wajar, kok. Karena sekeren-kerennya teknologi brace terbaru, tetap saja menghambat kulit kita untuk bernapas, hehehe. Problem lain yang biasa dihadapi juga soal kurang maksimalnya saat kita membersihkan tubuh. Scoliosis jika sudah severe (berat) biasanya kelenturan tubuhnya berkurang dan membuat kita kesulitan menjangkau beberapa bagian tubuh. Tapi no worry, aku akan share solusinya. Meskipun nggak 100% menghilangkan masalah (---maaf, aku bukan si Jinny, hihihi), mudah-mudahan cara di bawah ini bisa mengatasi ;)

1. Relaxing bath every once in awhile!
Meski aku exercise dan stretching secara rutin tapi tetap kurva scoliosis yang besar membuat kelenturan tubuhku terbatas. Mandi bisa menjadi kegiatan yang cukup menantang, terutama untuk menjangkau punggung dan sela-sela jari kaki. Supaya urusan membersihkah tubuh tetap maksimal, aku biasanya berendam dengan air hangat sebanyak satu kali seminggu. Selain bermanfaat untuk membersihkan seluruh anggota tubuh, ini juga membantu mengurangi back pain dan pegal-pegal. Kalau perlu gunakan bubble bath atau aroma therapy supaya tubuh semakin relax :)


2. Kurangi "brace mark" dengan scrub buatan sendiri
Banyak scolioser yang harus memakai brace dalam waktu yang lama setiap harinya. Atau... bisa dibilang sepanjang hari, karena biasanya brace harus dipakai 23 jam per hari, hihihi. Baik itu brace dengan tipe hard atau brace dengan tipe soft, keduanya berpotensi meninggalkan bekas di kulit kita. Aku sendiri selalu memakai tank top di baliknya, tapi tetap saja si "special mark" ini tetap ada terutama di daerah bawah lengan, dada dan perut. Meski kita nggak perlu malu with those marks, tapi jika bisa dikurangi kan kenapa nggak ;) Aku biasanya membuat simple scrub dari minyak zaitun (atau bisa diganti dengan minyak kelapa), gula dan sedikit perasan lemon. Campurkan ketiga bahan tersebut, lalu aku gosok memutar ke tempat-tempat yang memiliki brace mark. Hasilnya memang nggak instan, tapi pelan-pelan warna kehitamannya akan memudar, kok.



3. Mousturize is a MUST!
Kulit tubuhku sangat kering dan sensitif. Jangankan brace, kaus yang ketat saja bisa meninggalkan bekas di kulit. Dari mulai bekas kemerahan, kehitaman karena dibiarkan terlalu lama, sampai yang paling parah lecet! Huhuhu. Untuk mencegahnya aku selalu mengoleskan pelembab kulit dulu sebelum memakai brace. Seringnya aku memakai body lotion, tapi kalau sedang membutuhkan perlindungan ekstra aku menggantinya dengan minyak kelapa (coconut oil). Bahan alami ini bagus sekali untuk melembabkan kulit, termasuk membantu menghaluskan kembali luka parut/lecet akibat brace. Supaya praktis dan nggak tumpah-tumpah, aku masukkan minyak kelapa ke dalam jar lalu disimpan di dalam kulkas selama 30 menit. Suhu yang dingin mengubah minyak menjadi solid dan kalau dibiarkan akan lembut seperti Vaseline. Kalau nggak mau cepat mencair campurkan minyak kelapa dengan bahan lain, misalnya essential oil (aku pakai lavender). Tapi setelah memakai pelembab jangan langsung pakai brace, ya. Biarkan dulu sampai meresap, and... you're ready to go! :)


Simple banget ya tips nya? Hehehe. Meski begitu mudah-mudahan tetap bermanfaat. Dan buat yang masih speechless karena baru dapat vonis dan merasa scoliosis itu kaya kiamat mini terutama karena harus pakai brace, please ingat kalau fungsi brace itu untuk membantu kita, ---bukan menyiksa :) Jadi sedihnya sebentar saja dan jangan lupa senyum kembali. Seperti kata Stephen Hawking (sok kenal, hehe), pasti akan selalu ada jalan dan kalau buntu cari jalan yang lain, hihi. Aku juga sempat merasa nggak sanggup dengan urusan bracing ini. Tapi lihat, 7 years with my BFF brace and keep going! Hambatan-hambatan yang aku hadapi dulu pelan-pelan ada solusinya, termasuk soal kesehatan kulit :)

Untuk teman-teman non scolioser, thank you so much ya sudah menyempatkan membaca. Meski mungkin ini nggak practical buat kalian, tapi mudah-mudahan bisa meningkatkan scoliosis awareness. Atau kalau mengenal teman atau kerabat yang mengidap scoliosis, boleh banget lho di-share :) Dan oh, by the way untuk episode "Indi's Scoliosis Life" selanjutnya aku akan membahas tentang "Scoliosis Stereotype". Menurut kalian stereotype apa sih yang sering melekat sama scolioser? Coba tulis dalam 1 atau 2 kalimat stereotype atau image apa yang ingin kalian patahkan. Nanti akan aku bacakan satu persatu di video ;) Okay, sampai bertemu lagi. Ingat ya, kalau aku mangkir lagi tolong jewer, ---tapi pelan-pelan saja, hihihi :)



yang pernah mimpi menang tanding catur sama stephen hawking,

Indi

Get your own SpineCor (soft brace)
Indo Sehat Utama
Ruko Garden Shopping Arcade, Blok B-09 BB Kawasan Podomoro City, Jl. Podomoro Avenue - Tanjung Duren Selatan jakarta Barat 11470. 
Phone: 021 2940 8696

_______________________________


Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Kamis, 04 Februari 2016

Indi's Scoliosis Life: Pakai Brace? No Worry! :)


Howdy do, bloggies? Wah, nggak terasa ya sudah bulan Februari lagi, hihihi. Padahal rasanya aku baru saja mengucapkan happy new year sama kalian :D Ngomong-ngomong soal tahun baru, aku memang belum share soal resolusiku di sini. Tapi yang (mudah-mudahan) terlihat tanpa perlu disebutkan adalah keinginanku untuk lebih merawat kesehatan, terutama untuk scoliosis. Kalau teman-teman subscribe channel YouTube ku, "Indi Sugar Taufik" pasti tahu kalau aku memulai seri "Indi's Scoliosis Life" yang episode-episodenya berisi tentang kehidupanku sebagai seorang scolioser, ---pengidap scoliosis. Nggak hanya bercerita soal pengalaman, aku juga share tips-tips yang mudah-mudahan bermanfaat bagi sesama scolioser. Misalnya saja tips mengenai brace dan latihan-latihan ringan yang baik untuk tulang belakang. Selain untuk berbagi hal-hal bermanfaat, dibuatnya seri ini juga memacuku untuk hidup lebih sehat. Bagaimana nggak, soalnya aku dipaksa untuk membuat episode baru seiap minggu. Jadinya sambil menyelam minum air, kan, hihihi.

Seri "Indi's Scoliosis Life" dibuat dengan Bahasa Indonesia dan disertai subtitle Bahasa Inggris yang muncul secara otomatis. Ini karena viewers channel YouTube nomor satuku ternyata berasal dari Amerika, sedangnya Indonesia menduduki peringkat kedua atau malah kadang-kadang ketiga, hihihi. Ini juga aku lakukan agar channelku lebih universal, karena scolioser tentu bukan berasal dari Indonesia saja. By the way aku nggak random begitu saja menggunakan media YouTube, lho. Meski selama ini aku (berusaha) aktif di blog untuk berbagi, ide untuk merambah ke YouTube muncul setelah melihat jumlah viewersku di sana. Begitu sadar kalau memiliki cukup banyak viewers, ---lebih dari 100.000, aku merasa kalau channel "Indi Sugar Taufik" harus digunakan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat selain untuk berbagi video-video saat aku bermain ukulele. Tapi tentu aku nggak akan meninggalkan blog Dunia Kecil Indi untuk berbagi, karena nggak semua teman-teman di sini akrab dengan YouTube (---dan membuka blog ini tentu lebih ringan dibandingkan dengan video). Jadi aku akan mencoba untuk membuat episode-episode "Indi's Scoliosis Life" dalam bentuk tulisan di sini.

Sekarang aku akan berbagi tips nyaman saat memakai scoliosis brace atau SpineCor, yang merupakan episode ketiga dari "Indi's Scoliosis Life". Sebagai scolioser yang sudah memakai brace sejak usia 13 tahun, ---23 jam setiap hari, aku sudah mengalami pahit manis bersama si rompi warrior ini, hihihi. Meski brace berfungsi untuk membantu scolioser, tapi memakainya dalam jangka waktu lama bisa menjadi nggak nyaman. Terutama jika dipakai saat beraktivitas dan di udara yang panas. Uh, kulit bisa gatal-gatal dan sulit sekali digaruk :D Untung saja pengalaman membuatku semakin expert (lol) dalam mengatasinya. Well, memang nggak akan senyaman saat sama sekali nggak menggunakan brace, sih. Tapi kujamin langkah-langkah kecil ini membuat lebih brace jadi lebih terasa acceptable ;)



1. Keep your brace clean!
Tahukah teman-teman bahwa brace bisa dicuci? Well, aku yakin dokter juga sudah memberitahu soal ini. Tapi in case kalian nggak paid attention (lol), brace tipe Boston dan SpineCor itu bisa banget dijaga kebersihannya, lho. Untuk Boston bisa dibersihkan menggunakan rubbing alcohol, sedangkan untuk SpineCor bisa dicuci menggunakan tangan atau menggunakan mesin cuci dengan cara dimasukkan ke dalam laundry bag terlebih dahulu. Brace yang bersih mencegah kulit kita terserang alergi dan iritasi. Dan jika yang digunakan adalah tipe SpineCor sepertiku, mencuci dengan rutin tentu membantu melembutkan ujung-ujungnya sehingga lebih nyaman untuk dipakai.

2. You need to go? Then GO!
Okay, yang ini memang membuat dilema, tapi trust me, saat teman-teman merasa ingin ke kamar kecil, then go, jangan ditahan! Melepas brace dan memasang kembali brace memang nggak mudah, dan kadang cukup memakan waktu terutama kalau sedang di sekolah atau kampus. Tapi menahan keinginan buang air kecil mungkin malah membuat kalian sakit. Lebih baik sempatkan saat jam istirahat untuk mampir ke kamar kecil meskipun rasanya nggak mau-mau amat. Untuk yang menggunakan SpineCor sebenarnya ada cara agar nggak perlu melepaskan seluruh brace tapi tetap bisa buang air dengan nyaman. Next time aku akan share tipsnya, ya ;)

3. Jangan lupakan kaus dalam
Brace yang menempel langsung dengan kulit tentu beresiko memberikan gesekan. Bukan nggak mungkin kita terkena biang keringat dan lebih ekstrimnya lagi luka-luka kecil yang gatalnya minta ampun. Karena kulitku super sensitif, waktu masih menggunakan Boston Brace luka-luka itu jadi langganan dan meninggalkan bekas sampai sekarang. Syukurlah sekarang aku menggunakan SpineCor yang jauh lebih lembut. Tapi sebenarnya biang keringat dan luka-luka itu bisa diminimalisir dengan penggunaan kaus dalam yang baik, lho. Sebelum memakai brace, gunakan kaus dalam atau tank top yang berbahan katun. Make sure kaus dalamnya cukup menutupi daerah dada dan bawah ketiak karena di bagian-bagian itulah kita rawan berkeringat.

4. Bye bye push up bra ;)
Ada beberapa tipe brace yang modelnya menutupi dada, atau menyilangi dada seperti SpineCor yang aku pakai. Untuk perempuan pasti rasanya kurang nyaman. Untuk mengatasinya selalu gunakan bra tanpa kawat, atau sports bra agar bisa menyangga dada kita tanpa perasaan tertekan. Kalau teman-teman ngotot tetap ingin memakai bra berkawat... well, jangan bilang aku nggak kasih tahu soal ini, ya, hihihi :p

5. Jaga kelembaban kulit
Kulit yang kering tentu akan lebih mudah untuk terkena iritasi. Merawat kulit yang tertutup brace memang sedikit tricky, tapi tentu, selalu ada solusi ;) Gunakan lotion setiap habis mandi dan biarkan meresap terlebih dahulu sebelum memakai brace. Krim yang mengandung aloe vera dan vitamin E juga sangat membantu untuk mengurari rasa gatal dan kemerahan. Aku memilih perawatan double dari luar dan dalam, yaitu menggunakan lotion sekaligus mengkonsumsi kapsul vitamin E. Air putih juga bisa menjaga kulit kita tetap lembap, minimal minum 8 gelas sekali dan you good to go! :)


Nah, itu dia 5 tips dariku untuk menjaga hari-hari scolioser yang menggunakan brace agar tetap nyaman. Menggunakan brace kadang memang nggak nyaman dan butuh waktu untuk beradaptasi. Tapi jangan takut, perasaan nggak nyaman di awal itu hanya fase. Begitu teman-teman beradaptasi brace akan terasa seperti sahabat, hihihi. Eh, aku nggak main-main, lho, jangan pernah mengganggap brace sebagai musuh. You might hate it, tapi jangan lupa bahwa brace diciptakan untuk membantu kita. Untuk membuat kita beraktivitas lebih lama tanpa rasa sakit, untuk menjaga agar kurva kita nggak bertambah, dan tentu untuk mengingatkan bahwa kita adalah scoliosis warrior. Jadi kalau setelah melakukan tips-tips ini kalian masih merasa nggak nyaman, just remember; saat kita nggak bisa menjaga punggung kita tetap tegak, brace always keep your back straight! :D 


embrace your brace,

Indi

_____________
Get your own SpineCor here: Spine Body Center/Indo Sehat Utama APL Tower Lt. 25/T3. Podomoro City. Jl. S. Parman Kav. 28 Jakarta Barat 11470, telepon: (021) 29339295.

__________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Rabu, 16 Desember 2015

My Scoliosis Daily Care :)

Scoliosis, ---atau skoliosis. Sejak berusia 13 tahun aku sudah nggak asing dengan kata yang satu itu. Kami, ---aku dan scoliosis berteman dengan akrab karena dokter bilang ia akan bersamaku selamanya. Bahkan saking akrabnya kami menjadi sebuah kesatuan, hihihi. Bagaimana nggak, setiap masuk kelas atau sekolah baru aku harus ikut memperkenalkan si scoliosis ini pada pihak sekolah. Karena kalau nggak bisa-bisa akan berakibat nggak baik untuk kesehatanku. Lama-lama bukan cuma aku saja yang akrab dengan scoliosis, tapi teman-teman dan guru-guru yang tadinya nggak tahu pun mulai berkenalan dengan soulmateku ini :D 

Scoliosis, atau kelainan tulang belakang ke arah samping ini penyebabnya bermacam-macam. Dari mulai idiofatik (nggak diketahui sebabnya) sampai efek samping dari beberapa sindrom. Karena itulah nggak ada seorang pun yang terjamin bebas dari scoliosis, dari mulai bayi sampai orang lanjut usia. Biasanya begitu seseorang terdiagnosis mengidap scoliosis dokter akan meminta anggota keluarganya untuk melakukan pemeriksaan fisik, karena scoliosis juga bisa diturunkan. Aku sendiri adalah satu-satunya yang mengidap scoliosis di keluarga, ---well itu kalau Bapak nggak dihitung, sih, hehehe. Kata dokter tulang Bapak juga agak bengkok, tapi hanya scoliosis ringan dan nggak berbahaya. Begitu juga Ibu dan Adik, mereka sama-sama nggak mengidap scoliosis :) 

Karena aku satu-satunya scolioser, ---pengidap scoliosis di keluarga, awalnya kami sama sekali nggak tahu harus berbuat apa. Aku hanya memakai boston brace (penyangga) selama 23 jam perhari sesuai anjuran dokter. Tapi semakin lama ilmuku dan keluarga semakin bertambah karena mulai berkenalan dengan scolioser lain dan of course internet! ;) Semenjak itu aku nggak hanya memakai brace, tapi mulai fisioterapi dan melakukan latihan ringan di rumah. Sampai sekarang pun, di usia di mana tulang sudah berhenti tumbuh, aku tetap rutin merawat scoliosis. Karena selain scoliosis akan ada berada bersamaku selamanya, seiiring bertambahnya usia tentu kurvaku juga akan tetap bertambah meskipun hanya sedikit-sedikit :)

Pengidap scoliosis itu banyak, terutama perempuan karena tubuh perempuan lebih mudah terkena scoliosis idiofatik, ---dan lebih memerlukan treatment daripada laki-laki. Itulah mengapa aku mencoba sesering mungkin berbagi tentang scoliosis di media sosial yang aku punya. Selain untuk mengenalkan scoliosis kepada banyak orang, tentu aku ingin sharing dengan teman-teman sesama scolioser tentang terapi atau brace apa yang pernah atau sedang aku gunakan sekarang. Berbagi itu menambah ilmu, kan? Aku senang mendapatkan banyak tanggapan positif dari post yang aku share ;) Eh, tapi ada saja lho orang yang berkomentar negatif, ---cenderung 'menggampangkan' malah. Karena memakai SpineCor, soft brace yang harganya lebih mahal dibandingkan brace tipe lain, aku beberapa kali dikomentari seperti ini; "Nggak heran bisa beli brace mahal, orangtuamu uangnya banyak." Atau dikomentari, "Kamu sih enak orangtua peduli, kalau aku apa-apa urus sendiri," saat aku mengupload foto Ibu atau Bapak. Sebenarnya aku malas mengomentari ini, tapi kalau diam mungkin yang berkomentar akan mengira aku mengiyakan mereka. Yang pasti I know that I'm a lucky girl, dan aku sangat-sangat-sangat bersyukur. Aku sangat berusaha keras untuk masalah kesehatan, termasuk scoliosis. Dengan bangga aku bilang bahwa sejak kuliah nggak memakai uang orangtua sepeser pun untuk perawatan scoliosis. Dari mulai fisioterapi sampai untuk bolak-balik Bandung-Jakarta-Bandung saat harus adjustment SpineCor. Yup, memang ada yang aku korbankan dengan jadi nggak bisa sering hangout/belanja seperti teman-teman lain, tapi ini adalah pilihan aku :) Dan soal orangtua yang peduli, ---well mereka awalnya juga blank dengan kondisiku, sampai-sampai disalah artikan sebagai nggak peduli. Jadi aku, sebagai seorang anak mungkin bisa memberi masukan pada teman-teman yang bilang kalau orangtuanya nggak peduli, bahwa terkadang mereka juga sama seperti kita, clueless, nggak tahu harus berbuat apa. Daripada melabeli orangtua sebagai "nggak peduli", kenapa nggak sedikit-sedikit memperkenalkan tetang scoliosis saja? Atau... cobalah mulai taking care diri sendiri, karena kalau bukan kita siapa lagi yang bisa mengenal tubuh kita lebih baik? ;)

Soal merawat scoliosis aku nggak setuju kalau harus selalu dikaitkan dengan biaya yang banyak. Karena sebenarnya banyak kok yang bisa dilakukan sendiri di rumah. Modalnya hanya meluangkan waktu dan jangan malas, ---karena mampu membeli brace paling mahal sedunia pun nggak akan membuat scoliosis terkoreksi kalau nggak dipakai, hihihi. Aku bukan dokter atau ahli kesehatan, tapi seperti biasa aku akan berbagi berdasarkan pengalaman. Ada beberapa rutinitas yang menurutku membantu memperbaiki kondisi scoliosis gue :)

1. Stretching
Hal pertama yang aku lakukan ketika bangun tidur adalah stretching atau peregangan. Aku sangat menikmati saat-saat bangun dari tempat tidur dan dalam beberapa menit saja tubuh menjadi lebih segar. Nggak ada gerakan khusus, scolioser atau bukan, siapapun cocok untuk melakukan ini. Buka kaki selebar bahu, lalu angkat tangan ke atas dan rentangkan dengan jarak sedikit melebihi bahu. Selanjutnya tinggal posisi tangan dan tubuh saja yang diubah-ubah, sementara kaki tetap di tempat yang sama. Untuk jelasnya aku sertakan foto ketika aku sedang stretching dengan dibantu oleh tali skipping. Kalau nggak punya, tali skipping bisa diganti dengan handuk kecil atau benda lain yang cukup kuat untuk ditarik. Stretching baik untuk membuat tubuh menjadi relax dan mengurangi rasa kaku. Meski nggak membuat kurva scoliosis berkurang, tapi trust me, nggak ada salahnya jika dilakukan secara rutin. At least aktivitas ini jauh lebih baik daripada langsung menatap layar handphone ketika bangun tidur, kan? Ups! Hihihi :)



2. Bracing
Nggak semua scolioser butuh brace/penyangga. Aku sendiri berhenti menggunakan boston brace setelah 5 tahun karena tulangku sudah berhenti tumbuh. Tapi satu tahun belakangan ini aku memutuskan untuk memakai SpineCor, brace dengan tipe yang lentur (soft). Pertimbanganku memakai SpineCor adalah karena dibandingkan jenis yang lain brace ini lebih efektif dalam mengurangi kurva dan menghindari operasi. SpineCor juga membantuku untuk lebih aktif karena mengurangi rasa nyeri yang biasanya mengganggu aktivitas. Well, brace ini memang nggak murah tapi karena bisa dicicil di Spine Body Center, APL Tower lt. 25 Jakarta (021-2933 9295), kenapa nggak dipertimbangkan? :)



3. Exercise
Kalau anak sekolah sih kebanyakan rutin berolahraga ya karena ada pelajarannya, hihihi. Eh, tapi nggak semua, lho. Banyak scolioser yang nggak boleh berlari atau melompat, terutama di masa pertumbuhan karena menyebabkan kurva semakin cepat bertambah. Sebagai gantinya aku hanya mengikuti pelajaran berenang di sekolah karena itu bagus untuk tulang belakang. Meski di rumah nggak ada kolam renang bukan berarti aku diam. Setiap sore aku rutin berjalan-jalan di sekitar rumah bersama Eris, my super cute dog :D Dengan berjalan kaki tubuhku jadi terbiasa untuk bergerak dan semakin kuat. Selain menjadi teman, Eris juga berguna lho untuk melatih otot. Sudah naluri seekor anjing kalau lihat kucing pasti penasaran. Nah, kalau Eris mulai tarik-tarik leash sebagai human yang baik aku harus tarik balik. Kebayang dong bagaimana kuatnya anjing golden retriever? Hihihi :p 
Jalan-jalan sore tentu bukan satu-satunya exercise gratis yang bisa dilakukan di rumah, tapi untuk sekarang baru ini yang aku lakukan. Aku sedang mencari jenis exercise lain yang menyenangkan tapi juga aman untuk scoliosis :)



4. Healthy Meals
Masih ingat dengan 4 sehat 5 sempurna? Hehehe, old school banget ya kedengerannya :D Tapi menurutku itu adalah cara yang paling sederhana untuk memenuhi gizi seimbang kita. Meskipun aku seorang pesco-vegetarian, tapi aku selalu berusaha variatif dan seimbang dalam menu sehari-hari. Biasanya scolioser memiliki digest problem, ---termasuk aku, jadi menu sayur kaya serat jangan sampai ketinggalan. Dokterku, dr. Natalie menyarankan untuk minum prune juice agar terhindar dari sembelit. Tapi karena di supermarket susah dapat aku menggantinya dengan minuman prebiotic. Yang murah meriah itu Yakult, tapi lumayan ampuh apalagi kalau sehari minum 2. Ini bukan iklan lho, ya :D



Well, segitu saja daily care scoliosis yang aku bagi sekarang. Lain kali akan aku share lagi hal-hal yang berkaitan dengan my super best friend ini (---iya, dong masa mau musuhan sama scoliosis? Hihihi). Mungkin nanti aku juga akan membuat episode khusus tentang scoliosis di channel YouTube Indi Sugar Taufik. Masih agak bingung sih harus memulai dari mana, tapi let's see ;) Kalau teman-teman ada saran atau ada pertanyaan seputar scoliosis juga boleh. Nanti akan aku jadikan masukan untuk tulisan atau video selanjutnya. 
"Jadi scolioser memang menantang, tapi hey tanpa scoliosis pun hidup memang harus up and down, kan? Yang pernah sakit punggung bukan cuma scolioser, tapi semua orang. Yang pernah cepat lelah juga bukan cuma scolioser, tapi semua orang, hihihi. Tubuh kita dirancang Tuhan sudah yang paling tepat. Don't always blame scoliosis lah, ya! :)"
video daily care scoliosisku


cheers,

Indi

___________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Sabtu, 17 Oktober 2015

Scoliosis? Jangan Sampai Diabaikan! ;)

Teman-teman, sudah tahu belum scoliosis itu apa? Nah, hari ini aku akan mengenalkan kalian dengan sesuatu yang sudah menemaniku selama bertahun-tahun. Yup, aku sudah bersama scoliosis sejak berusia 13 tahun :) Scoliosis adalah kondisi kesehatan tulang belakang yang memiliki kelainan 3 dimensi dengan struktur yang nggak simetris. Meskipun 3 dimensinya rumit, tapi ketika dirontgen kelainan tulang belakang yang berbentuk S atau C ini akan terlihat lurus, lho!

Ada 3 etiologi scoliosis (penyebab), yang pertama adalah idopatik, atau nggak diketahui penyebabnya. Ini terjadi sebanyak 80-85% dari kasus scoliosis yang ditemukan, termasuk scoliosis yang aku idap. Yang kedua adalah kongenital, atau kelainan dalam pertumbuhan. Dan yang ketiga adalah neoromuskeletal, atau kondisi syaraf dan otot yang bisa menyebabkan scoliosis. Secara umum ada 2 jenis pengobatan untuk scoliosis, yaitu bedah dan intervensi non bedah, juga perawatan non bedah seperti latihan, rehabilitasi dan beberapa teknik konservatif lainnya.

Tapi tahukah kalian, sejak tahun 2007 (sesuai J. Paed Ortho) SpineCor ditemukan sebagai pengobatan non bedah yang paling efektif untuk scoliosis! :D Cara kerja soft brace (penyangga) yaitu dengan "mengajarkan" tubuh kita untuk kembali ke biomekanik normal. Keren, kan? ;) 
Mungkin kalian bertanya-tanya, karena baru ada 8 tahun kira-kira banyak nggak sih yang sudah memakai SpineCor? Jawabannya, tentu saja! Selain aku yang sudah memakainya selama 11 bulan belakangan, di bawah ini aku share foto-foto before dan after pengidap scoliosis yang juga menggunakan SpineCor.

Hasil rontgen pasien berusia 21 tahun setelah memakai SpineCor :)

Hasil rontgen pasien besusia 14 tahun setelah memakai SpineCor :)

Meskipun sama-sama melengkung, setiap jenis scoliosis itu unik lho, teman-teman. Tindakan yang diambil pun tentu harus berbeda-beda. Hasil riset membuktukan bahwa SpineCor terbukti efektif 89% untuk menstabilisasi dan memperbaiki scoliosis. Dan hasil riset terhadap 400 pengidap scoliosis selama 10 tahun, SpineCor ternyata hasilnya konsisten! Cool! Aku makin semangat deh untuk memakai brace yang super keren ini ;)

Di balik dress merah ini aku memakai SpineCor, lho. Nggak terlihat, kan? ;)

Adakah di antara teman-teman yang mengidap scoliosis? Jika kalian sudah mencoba bermacam-macam terapi dan pengobatan tapi hasilnya kurang berkenan (---well, seperti aku dulu), SpineCor ini sangat pantas untuk dicoba. Aku dan banyak scolioser lain sudah banyak terbantu, dan aku harap semakin banyak yang merasakan "keajaiban" SpineCor, hihihi. Kalau ingin tahu lebih banyak tentang SpineCor, kalian bisa membuka situs Spine Body Center di www.spinebodycenter.com. Alamatnya di APL Tower, Lt. 25 Jakarta, atau hubungi langsung ke 021 29339295. Dr. Anthony Fong konsultan mereka, pasti dengan senang hati membantu kalian.

Saranku, jika merasa ada yang "salah" dengan tulang belakang kalian, segera periksakan ya. Karena mencegah itu tentu lebih baik daripada mengobati. Tapi jika sudah terlanjur terkena scoliosis, don't be sad... yuk kita lawan sama-sama dengan SpineCor! ;)

cheers,

Indi

__________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Selasa, 10 Maret 2015

Tentang SpineCor (Q&A) :)


Yay, finally aku bisa cerita-cerita lagi di sini, setelah kemarin-kemarin nggak bisa tidur gara-gara memory card camera digitalku kena virus. Video-video dan foto-foto pada kehapus dong, hahaha :'D Sudahlah, yang penting memory-ku tentang moment-moment tersebut nggak ikut hilang, ya :p So, apa kabar bloggies? Semoga semuanya dalam keadaan baik-baik saja, ya. Aku sendiri juga baik, hanya kurang tidur dan kurang sinar matahari karena Bandung hujan terus (kangen jalan-jalan sore sama Eris, nih, hihihi).

Sekarang aku mau cerita tentang sesuatu yang belakangan sering direquest sama teman-teman pembaca, nih. Terutama teman-teman yang juga scolioser (pengidap scoliosis; kelainan tulang belakang yang bengkok ke arah samping) sepertiku :) Mereka memintaku untuk sharing lebih banyak lagi tentang SpineCor, soft brace yang 7 bulan belakangan kupakai untuk mengoreksi scoliosisku. Supaya tulisanku bisa sesuai dengan permintaan mereka, beberapa hari yang lalu aku membuat post di Facebook dan memberikan kesempatan kepada teman-teman untuk menyebutkan tentang apa saja yang mereka ingin tahu. Ternyata macam-macam, dan sekarang aku akan mencoba menjawabnya satu-persatu. Eh, tapi aku hanya akan menjawab berdasarkan pengalamannya. Karena untuk masalah medis bertanya pada dokter pasti lebih baik ;)




1) "SpineCor itu apa, sih?" (Sofia)
SpineCor itu salah satu jenis brace (penyangga) seperti halnya Boston atau Milwaukee. Bedanya, kalau yang aku sebutkan sebelumnya adalah tipe hard brace (keras), SpineCor ini bertipe soft brace atau lembut/fleksibel. Fungsinya untuk merawat kelainan tulang belakang bagi anak-anak dan dewasa (yup, jadi bisa dipakai juga untuk yang usianya sudah mature) dengan menstabilkan, mengoreksi, meringankan rasa sakit, memperbaiki bentuk postur tubuh, dan meminimalkan agar scoliosis nggak berkembang menjadi lebih buruk.


SpineCor itu pas di badan. Maaf patungnya kurus, hihihi :)


2) "Cara pakainya bagaimana? Kok kelihatannya ribet?" (dari beberapa penanya, maaf aku lupa siapa saja, hehehe)
Awalnya kupikir juga begitu karena jika dipakai terlihat melilit-lilit. Tapi setelah melihat langsung ternyata sama sekali nggak ribet.
SpineCor terbagi menjadi 2 bagian, yaitu short (celana pendek) dan bolero (rompi). Cara pakainya seperti memakai rompi dan celana pendek biasa. Yang berbeda di rompinya menempel 4 buah tali dengan velcro di ujung-ujungnya. Nah, velcro ini lalu direkatkan ke celana. Merekatkannya pun nggak perlu bingung, karena ada label angkanya. Kita tinggal merekatkannya sesuai urutan, dari 1 sampai 4. Setelah itu selesai! Mau pakai jeans, dress, kemeja, dll nggak masalah karena SpineCor ini discreet  ;)


Step by step pemasangan SpineCor. Tinggal rekatkan sesuai angka yang tertera :)


3) "Pakai SpineCor apa masih bebas gerak-gerak? Bisa dipakai buat dance juga?" (Eiia Novita Sari)
Well, menurutku perbedaan yang paling besar antara saat aku masih memakai Boston brace dan sekarang memakai SpineCor adalah aktivitas yang menjadi lebih lancar. SpineCor sama sekali nggak menghalangi gerak tubuh karena fleksibel. Aku bisa memakainya saat sedang berjalan-jalan dengan Eris anjingku, ke sana-ke mari mengejar anak-anak di preschool, juga saat menulis seperti sekarang ini. Kebetulan Asa, seorang teman scolioser juga memakai SpineCor. Tanpa masalah ia bisa mendaki gunung seperti teman-temannya yang lain. Dan di YouTube aku melihat ada seorang balerina yang balet sambil memakai SpineCor. Jadi tentu saja sama bisa dipakai sambil dance.




4) "Kalau mau pakai SpineCor harus datang langsung atau cukup pesan?" (Zalfa Putry)
Sama seperti brace pada umumnya, sebelum memakai SpineCor harus melalui proses x ray dan fitting dulu. Menurut pengalamanku fittingnya jauh lebih sebentar dibandingkan waktu membuat Boston brace dulu. Ini hanya memakai waktu beberapa jam saja :)

5) "Kalau mau pakai SpineCor harus kemana?" (Angie Deviyanti, Iwan Kal Sel, Vinna Canny)
Penyedia SpineCor yang resmi ada di Spine Body Center. Alamatnya di APL Tower, Lt. 25, Jakarta Barat (samping Central Park Mall). No teleponnya (021) 2933 9295. Aku ditangani oleh Dr. Natalie Liem, MSc, PhD :)


Sebenarnya masih ada pertanyaan-pertanyaan lain yang belum kujawab di sini. Tapi apa daya, panjang halamanlah yang memisahkan kita, hehehe. Lain kali akan aku coba untuk jawab sisanya. Dan jika ada teman-teman yang juga ingin bertanya tentang pengalamanku dengan SpineCor atau scoliosis (pada umumnya), silakan tulis di kolom komentar atau email aku di namaku_indikecil@yahoo.com. Semoga apa yang aku bagi di sini bisa membantu, atau at least saling mengingatkan bahwa kita nggak pernah sendirian. Cheers! ;)

proud scolioser,

Indi

Keywords: terapi skoliosis, pengobatan skoliosis, back up clinic jakarta, indo sehat utama, bandung.


 _________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Selasa, 20 Mei 2014

My "Super Awesome" New Scoliosis Brace :D

Howdy do, bloggies! It's been awhile ya aku nggak cerita tentang scoliosis? Well, meskipun nggak cerita bukan berarti aku nggak peduli, dan tentu saja bukan berarti scoliosisku hilang, hihihi. Sesuai dengan slogan para scolioser "Sekali scoliosis tetap scoliosis", tentu saja sampai kapanpun aku akan merawat my lovely spine, karena kami akan bersama-sama selamanya :D 

Mungkin teman-teman sudah ada yang tahu tentang perjalanan scoliosisku lewat novel "Waktu Aku sama Mika", "Karena Cinta itu Sempurna" atau pun film "Mika". Tapi jika belum, singkatnya bisa diceritakan seperti ini: Waktu usiaku 13 tahun aku menyadari bahwa tulang punggungku terlihat menonjol sebelah. Bukan itu saja, payudara sebelah kananku pun terlihat agak masuk ke dalam. Langsung saja aku bilang pada Ibu dan Bapak. Di hari yang sama, aku dibawa ke dokter spesialis tulang, dan di sana ketahuan bahwa aku scoliosis dengan kurva 35 derajat (tingkat sedang). Dokter menjelaskan bahwa scoliosis bukan penyakit, tapi kelainan tulang belakang. Jadi nggak ada obatnya, tapi bisa dikoreksi dengan jalan bracing atau operasi. Berhubung aku masih tahap pertumbuhan, jadi dokter menyarankan untuk bracing. Waktu itu brace yang kupakai tipe Boston.

Setelah pemakaian brace, bukan berarti tanpa masalah. Proses adaptasinya lumayan mengharu-biru, hehehe. Pasalnya brace yang kaku dan tertutup itu harus dipakai setiap hari selama 23 jam. Yup, termasuk tidur dan sekolah. Aku hanya melepas brace ketika mandi dan terapi berenang. Dokter bilang brace ini harus dipakai sampai aku berusia 18 tahun alias sampai tulangku berenti tumbuh. Di usiaku yang masih 13 tahun menunggu tulang berhenti tumbuh itu rasanya seperti selamanya, hehehe. Meski reaksi scolioser terhadap brace berbeda-beda (ada yang mau patuh memakainya, dan ada juga yang menolak) tapi aku yakin mereka pasti setuju kalau brace menimbulkan perasaan sesak dan pegal. Dan bonus karena kulitku sensitif, brace meninggalkan tato permanen di beberapa bagian (saingan sama Mika, hehehe).

Aku di film Mika, diperankan oleh Velove Vexia

Karena bentuknya yang bulky dan kaku Boston brace ini susah sekali disembunyikan di balik baju. Well, bukannya aku malu. Aku bangga kok sebagai scolioser karena seperti itulah Tuhan menciptakanku :) Tapi terkadang aku ingin diperlakukan sama tanpa orang melihat terlebih dulu tampilan fisikku. Sekalipun aku memakainya di balik baju, rasanya nggak nyaman. Tank top atau kaos dalam yang tipis nggak bisa melindungi gesekan brace di kulitku. Aku yakin nggak setiap scolioser merasa seperti ini, tapi sekali lagi, mungkin ini karena kulitku super sensitif. Itulah kenapa aku sering memakainya di luar baju. Jadi kalau ada yang pernah menonton film Mika dan berkomentar "style" ku (diperankan oleh Velove Vexia) itu aneh, kenyataannya memang begitu. Bukan filmnya yang mengada-ada, hihihi :)

Waktu aku berusia 18 tahun dan akhirnya boleh lepas brace ternyata scoliosisku belum juga jinak. Kurvaku bertambah menjadi lebih dari 40 derajat (tingkat tinggi) dan sekarang sudah sekitar 52 derajat (sangat tinggi). Keberhasilan Boston brace memang berbeda-beda pada setiap scolioser. Ada yang berhasil atau seenggaknya menjaga kurva agar nggak bertambah, ada juga yang mengalami sepertiku. Tapi aku nggak merasa 5 tahun bracing sia-sia karena aku sudah berusaha, bukannya membiarkan :) 
Karena tulangku sudah mature, bracing sudah nggak ada gunanya lagi. Tapi kemungkinan bertambahnya kurva juga semakin kecil. Aku diberikan 2 pilihan oleh dokter: operasi (yup, kurva di atas 40 biasanya disarankan begitu) atau dirawat dengan terapi agar aku tetap fit sampai tua (lol) dan mengurangi rasa sakit. Aku pilih untuk nggak operasi dan mencari jalan agar scoliosisku membaik. Aku yakin sebagai scolioser aku tetap bisa hidup produktif :)

My lovely spine :)

Lalu datanglah hari itu, hari di mana aku melihat foto yang mengubah hidupku (lebay, hahaha). Entah darimana awalnya, tapi aku menemukan foto Lourdes, anaknya Madonna yang katanya mengidap scoliosis! Di keterangan foto ditulis bahwa ia menggunakan spinecor alias soft brace. Eh, wait! Brace? Aku nggak melihat ada yang bulky di balik baju Lourdes. Langsung saja aku memperhatikan dengan seksama dan menemukan bahwa ada sabuk yang mengintip di balik T shirt nya. Hmm, inikah yang dinamakan spinecor? Brace macam apa ituuuuuuu? *camera zoom in-zoom out ala sinetron, lol*

Lourdes dengan brace nya yang bikin iri, hihihi :)

Dari hasil googling sana-sini, aku jadi tahu bahwa spinecor adalah soft brace untuk pengidap scoliosis. Iya, sesuai namanya, brace yang ini benar-benar halus dan elastis, jadi nggak terlihat di balik baju dan yang terpenting sama sekali nggak mengganggu aktivitas sehari-hari. Berbeda dengan Boston Brace, spinecor tetap efektif untuk dipakai oleh scolioser dewasa dan berkurva besar. Wah, aku jadi ingin mencoba! Syukurlah lewat bantuan internet aku jadi tahu bahwa spinecor sekarang juga sudah ada di Indonesia. Tepatnya di Spine Body Center Jakarta :)

Ditemani oleh Bapak aku langsung membuat janji dengan Dr. Natalie di Spine Body Center. Berhubung dulu sudah pernah memakai brace, aku langsung siap-siap untuk proses panjang yang nggak nyaman. Tapi ternyata ini berbeda. Aku memang melewati proses pembacaan X Ray dan pengukuran dulu, tapi prosesnya cepat, seperti sedang fitting baju :D Sekitar 2 jam semuanya selesai dan aku langsung dapat bekal untuk exercise di rumah dan panduan gambar kalau-kalau aku lupa cara memasang spinecor nya (tenang, semuanya diberi label nomor, kok *wink*). Asyiknya lagi aku nggak harus nostalgia dengan pemakaian 23 jam sehari, tapi ini cukup 6 jam sehari dengan waktu yang bisa dipisah dan seminggu hanya 4 kali. Tentu saja setiap scolioser akan berbeda, tapi Dr. Natalie menjamin spinecor tentu jauh lebih nyaman dari Boston brace :)

Back Up Clinic, sekarang menjadi Spine Body Center

Begitu dipakai “punuk” ku langsung "hilang" :)

Asyik, aku sama Lourdes brace nya kembaran, hahaha :p

Selama perjalanan pulang Bandung-Jakarta yang macet aku memakai spinecor. Aku dan Bapak hampir nggak percaya karena sebelumnya kami juga pernah mengalami ini, waktu pulang sehabis membuat Boston brace dulu. Bedanya kali ini aku duduk di mobil tanpa keluhan dan benar-benar happy. Nggak ada perasaan gatal di kulit apalagi pegal. Rasanya hampir sama seperti memakai baju renang. Ada perasaan ketat tapi nggak mengganggu. Lucunya waktu sampai di rumah Ibu bertanya mengapa aku nggak pakai brace. Hehehe, rupanya spinecor ini memang nggak terlihat di balik baju :D

Tipis banget kan? Benar-benar nggak nampak di balik baju :D


Ini adalah hari ke dua pemakaian spinecor. Aku masih tetap merasa nyaman dan sama sekali nggak terganggu untuk beraktivitas. Tadi siang aku menjadi bintang tamu di acara workshop menulis dan nggak ada seorang pun yang sadar bahwa di balik dress centil ku ada brace, hihihi. Aku bahkan sekarang mengetik tulisan ini sambil memakai spinecor, padahal dulu brace lamaku benar-benar musuhan sama komputer :p 
Menurut Dr. Natalie spinecorku harus dipakai selama 18 bulan (yup, bukan 5 tahun, lol) dan setelah itu hanya dipakai sesekali. Aku optimis bahwa spinecor bisa meningkatkan kualitas hidupku dengan mengoreksi scoliosisku. So, wish me luck, guys. Selalu ingat, bahwa scoliosis memang nggak bisa disembuhkan tapi BISA dikoreksi. Go scolioser go! :D

Oh, iya untuk teman-teman scolioser yang ingin tahu lebih banyak tentang spinecor, silakan ke Spine Body Center di APL Tower lantai 25 (sebelah Central Park Mall). Nggak perlu khawatir masalah waktu, mereka buka setiap hari kok. Untuk yang di luar kota bisa telepon dulu ke 021-2933 9295. Atau kontak saja mereka lewat twitter dan facebook ;)


yang dibilang spesial sama Mika,

Indi


Keywords: pengobatan skoliosis, terapi skoliosis Bandung Jakarta, selebriti dengan skoliosis.


_________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469