Sabtu, 28 November 2015

Berkenalan dengan Mbak Tri Wahyuni Zuhri yang Inspiratif :)


Hai bloggies, tulisanku kali ini agak berbeda dari biasanya, nih. Kali ini aku akan melakukan wawancara dengan seseorang yang sangat inspiratif, Tri Wahyuni Zuhri atau aku biasa memanggilnya Mbak Tri :) Kami berkenalan di ajang Kartini Next Generation Award 2015 karena sama-sama menjadi finalis di sana. Setelah acaranya selesai kami nggak lost contact, tapi tetap rutin mengobrol via whatsapp juga Facebook. Teman-teman mungkin mengenalnya sebagai penulis buku "Kanker Bukan Akhir Dunia". Tapi ternyata banyak hal menarik lain lho tentang Mbak Tri. Mau tahu apa saja? Simak wawancaranya berikut, ya :)


Saat penjurian tahap akhir Kartini Next Generation Award, aku dan Mbak Tri berdiri bersebelahan :)




***





~ Sekarang kesibukan Mbak Tri apa saja? Bisa diceritakan pada Indi's Friends?

Kesibukan saya sekarang masih berkutat dalam dunia penulisan saja. Trus juga masih aktif mengedukasi mengenai kanker. Berhubung saya masih terus pengobatan kanker dan agak sulit untuk mobile kemana-mana, jadi saya memanfaatkan media online untuk edukasi kanker. Selain itu ya saya lebih asyik menikmati waktu berkumpul dengan keluarga :)


~ Sebelumnya aku dan Mbak Tri kan pernah bertemu di Kartini Next Generation Awards 2015 karena sama-sama menjadi finalis. Nah, di sana aku jadi tahu bahwa Mbak adalah sosok yang istimewa :) Boleh diceritakan sebenarnya apa sih hubungan Mbak Tri dan kanker?

Jujur nih, saya tuh tidak menyangka sekaligus bahagia banget bisa jadi salah satu finalis Kartini Next Generation Award 2015. Apalagi saya bisa bertemu dengan Indi dan para perempuan luar biasa lainnya.

Saya sendiri memang seorang survivor kanker tiroid. Kanker tiroid yang saya derita sudah masuk stadium lanjut yaitu telah menyebar ke tulang belakang dan paru paru. Saya akui, memang saya telat mendeteksi kanker dalam tubuh saya. Sehingga begitu tahu vonis kanker, ternyata kankernya sudah menyebar. Saya bersyukur kondisi saya semakin banyak kemajuan setelah melakukan berbagai pengobatan.

Berawal dari pengalaman saya pribadi tersebut, saya jadi aktif memberikan informasi dan edukasi kanker kepada masyarakat. Saya sangat menganjurkan masyarakat khususnya para perempuan untuk lebih care terhadap kesehatan. Selain itu melakukan deteksi dini kanker agar tidak terlambat seperti yang terjadi dalam diri saya.

Saya berharap, di sisa sisa usia ini,saya bisa banyak melakukan berbagai kebaikan. Salah satunya dengan berbagi informasi dan edukasi mengenai kanker.  Selain itu bisa saling mendukung dan menguatkan kepada sesama survivor kanker.


~ Bagaimana perasaan Mbak ketika mendengar vonis dokter dan apa yang membuat Mbak bangkit seperti sekarang?

Waktu awal mendengar vonis kanker, tentu saja syok, stress, sedih, kecewa, takut. Pokoknya rasa gado gado deh perasaan ini. Saya tidak menyangka bisa menerima vonis kanker, apalagi kanker saya sudah menyebar ke tulang belakang waktu itu. Saat itu saya sempat merasa menjadi perempuan paling sedih sedunia hehehheeh..  Kayanya memang lebay banget ya... tapi itulah perasaan saya saat awal kena kanker.

Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu saya menjadi sadar untuk segera bangkit berjuang melawan kanker.  Saya beruntung di kelilingi oleh banyak orang yang benar benar mencintai dan peduli sama saya.  Keluarga, sahabat dan teman teman memberikan support dukungan luar biasa yang membantu saya untuk bangkit berjuang melawan kanker.


~ Mengenai buku yang Mbak tulis, "Kanker Bukan Akhir Dunia," bagaimana kisah awalnya memutuskan untuk menuangkan kisah Mbak dalam sebuah buku?

Jadi sebenarnya buku Kanker Bukan Akhir Dunia ini saya tulis saat saya awal berjuang melawan kanker. Saya ingat sekali menuliskan buku ini pun butuh perjuangan luar biasa. Waktu itu saya lebih banyak baring di tempat tidur karena rasa nyeri hebat akibat penyebaran kanker di rulang belakang. Saya menuliskan draf buku itu lebih banyak dalam posisi berbaring hehehe.

Inspirasi menulis buku itu sebenarnya lebih pada terapi diri dan niat untuk berbagi informasi pengalaman dan edukasi mengenai kanker kepada masyarakat.  Menulis saya anggap sebagai salah satu terapi diri saya untuk bisa bangkit dan berjuang melawan kanker. Dengan menulis, saya merasakan kekuatan dan semangat luar biasa.

Selain itu, saya ingin  buku Kanker Bukan Akhir Dunia akan bisa bermanfaat bagi masyarakat, walaupun kelak saya sudah tidak ada di dunia ini. Semuanya ini pun bisa terwujud dari para sahabat yang terus mendukung saya untuk menyelesaikan buku ini.


 ~ Selain "Kanker Bukan Akhir Dunia" adakah karya-karya Mbak yang lain?

Ya, selain buku Kanker Bukan Akhir Dunia, saya sudah menghasilkan beberapa karya buku dan masih aktif menulis di berbagai media cetak.  Dua buku terakhir yang baru terbit yaitu buku tentang bisnis, judulnya Pantangan dalam Bisnis terbitan PT. Gramedia Pustaka Utama serta Buku Cerita Anak yang berjudul Kiki si Kijang Kuning terbitan Andi Publisher.


~ Sebagai orang awam aku hanya tahu kanker dari film dan cerita di buku. Apakah menurut Mbak apa yang digambarkan di sana cukup realistis atau malah melenceng dari fakta? Dan jika ada yang nggak sesuai, stereotype apa sih yang ingin Mbak ubah dari penggambaran kanker di film dan buku fiksi?

Kalau berbicara mengenai gambaran kanker di film atau buku, sebenarnya kurang lebih begitu lah. Hanya saja, ada beberapa film atau buku yang menggambarkan tokoh yang kena kanker itu terlihat sedih ataupun kesakitan terus. Mungkin hal ini yang menjadi salah satu pandangan sebagian masyarakat menjadi takut untuk mengenal lebih dalam  masalah kanker.

Contoh sederhana, mengenai pengobatan kanker. Saya sering sekali bertemu dengan sesama survivor atau keluarganya yang terlambat menjalani pengobatan kanker karena takut. Bayangan mereka pengobatan kanker itu sangat menakutkan karena pernah melihat cerita di televisi atau dengar informasi dari orang lain. Sehingga ada saja yang tidak berani lebih lanjut untuk berobat. Nah, biasanya kalau begini, saya akan coba membantu menjelaskan bagaimana pengobatan kanker itu. Atau saya biasanya menyarankan mereka untuk bertanya lebih detail mengenai pengobatan kanker kepada dokter yang menangani mereka. Biar tidak menebak nebak dan bingung sendiri.


~ Sebagai seorang scolioser aku tahu betul bahwa masih banyak orang yang percaya dengan mitos seputar kelainan tulang belakangku ini. Nah, apakah dalam kanker juga berlaku? Jika iya, mitos apa sih yang biasa beredar dan bagaimana fakta yang sebenarnya?

Wah sama dong.. pada penyakit kanker juga banyak mitos mitos kanker yang beredar di masyarakat. Dalam buku Kanker Bukan Akhir Dunia, saya jelaskan pula mengenai mitos-mitos penyakit kanker.
Mitos-mitos mengenai kanker itu antara lain tidak ada harapan hidup untuk pasien kanker. Dalam mitos ini, seakan akan orang yang tervonis kanker tidak punya harapan hidup. Padahal banyak lho, pasien kanker yang bisa sehat sampai lama sejak tervonis kanker.

Selain itu ada pula mitos yang berpandangan kalau kanker itu penyakit menular dan akibat banyak dosa. Nah, karena mitos begini, akhirnya banyak pasien kanker yang enggan berobat karena malu atau sedih dianggap banyak dosa.  Padahal untuk urusan dosa itu sudah masuk antara hubungan manusia dengan Allah saja. Kita sebagai sesama manusia tidak baik memvonis orang lain mengenai dosa dosanya.

Kalau saya pribadi menganggap kanker ini sebagai hikmah dan intropeksi diri saja.  Allah memberikan saya kesempatan berbenah diri melalui penyakit ini. Jadi saya berusaha lebih mendekatkan diri kepada Allah.


~ Apa yang ingin Mbak sampaikan tentang kanker dan apa pesan-pesan Mbak untuk Indi's friends?

Untuk Indi's friends, saya ingin menyampaikan untuk terus menjaga kesehatan. Seandainya tubuh sudah memberikan sinyal sinyal tidak nyaman, ada baiknya segera di periksakan ke dokter.
Selain itu, bisa juga melakukan deteksi dini dari awal.  Misalnya bila menemukan.gejala gejala yang aneh contohnya benjolan yang tumbuh tiba tiba, pendarahan yang tidak biasanya, dan lain.lain, maka segera  di periksakan saja

Oh ya, bagi teman teman.perempuan, jangan lupa rajin untuk SADARI atau pemeriksaan payudara sendiri. Ini untuk mencegah kanker payudara. Atau juga melakukan papsmear bagi perempuan yang sudah pernah aktif melakukan melakukan hubungan seksual, ini terkait untuk pencegahan kanker servix.


~ Jika ada yang mau berkenalan dengan Mbak Tri, kemana Indi's Friends bisa menghubungi? (blog, twitter, dll) Dan di mana bisa mendapatkan karya-karya Mbak?


Oke, terima kasih banyak ya Mbak atas waktunya. Aku yakin kisah Mbak akan menginspirasi siapapun yang membacanya :) Dan semoga kolaborasi kita menjadi langkah kecil untuk mengenalkan kanker dan scoliosis. Amen. Sampai bertemu lagi di lain kesempatan, Mbak Tri! :)  

***

Begitulah wawancara santai kaya manfaat antara aku dengan Mbak Tri. Semoga ini juga bisa menginspirasi teman-teman untuk terus semangat, ya. Oya, Mbak Tri juga mewawancaraiku untuk blognya, lho. Kalian bisa membacanya di sini :)

baca di sini



Update: Mbak Tri meninggal dunia pada bulan Juni 2017. Banyak yang merasa kehilangan dengan kepergiannya, termasuk aku. Semoga Mbak Yuni mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan YME. Dan keluarga yang ditinggalkannya diberikan kekuatan. Mbak Yuni adalah sosok yang sangat menginspirasi, semoga legacynya terus berjalan <3 


_________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

13 komentar:

  1. salam kenal untuk mbak tri wahyuni...dan salam hangat di pagi yang indah untuk mbak ini. :)

    BalasHapus
  2. inspiratif.. setelah menjadi survivor bergerak membantu mengedukasi yg lain.. sehingga tetap semangat berjuang,, salam buat mbak tri

    BalasHapus
  3. Tulisan yang menginspiratif.... keren..
    Salam untu mbak tri wahyuni, semoga kedepannya proses pengobatannya lebih membawa hasil yang positif lagi...

    Hehehe

    BalasHapus
  4. Meskipun mbak tri sakit dia tetap berkarya lewat tulisan ya,,,,salut sama semangatnya...salam buat mbak tri ya mbak indi

    BalasHapus
  5. Keren, sangat meninspirasi teh, tetep semangat dan berkarya untuk mba tri, sama teh indi :D

    BalasHapus
  6. nice!

    www.bstylevoyage.blogspot.com

    BalasHapus
  7. Wah sedih ya kalau dibilang sakit kanker atau apalah gara-gara dosa kita. Aku lebih suka meresponnya kalau sakit itu bisa menggugurkan dosa kita kalau sabar menjalaninya. Apa berarti yang sehat walafiat bebas dari dosa? Kan Enggak juga.

    BalasHapus
  8. wah keren mbak dibalik semuanya selalu ada hikmah.....

    BalasHapus
  9. wih, asik ya mbak indi, kalo begituh kenalin saya dunks sama mbak tri wahyuni mb ?

    BalasHapus
  10. Selalu bahagia melihat survivor yang fight seperti ini,, sangat inspiratif. Sehat selalu ya Teh Indi dan Mbak Tri

    #BigHug

    BalasHapus
  11. keren saya kagum, sama dua wanita hebta dan inspiratif. Kalian seolah mengajarkan untuk melihat sisi lain dari diri kalian. Saya sudah punya bukunya :) bagus banget bukunya Cinta,Harapan,Keajaiban :) itu semua nyata
    Kak indy dan kak Tri semoga Tuhan selalu memberikan waktu untuk selalu berbuat baik dan terus memotifasi orang-orang sekitar.

    Bangga sekali saya bisa menikmati karya kalian semoga saya bisa mengenal kalian lebih nyata :)

    BalasHapus
  12. selalu kagum sama survivor kanker :)

    BalasHapus
  13. Now, because of this myth, finally, many cancer patients who are reluctant to seek treatment because of shame or sadness are considered many sins.

    BalasHapus

Terima kasih untuk komentarnya, it's really nice to hear from you :)