Minggu, 14 Maret 2021

Wedding Anniversary Kedua di Crowne Plaza Hotel: Sempat Lupa dan Penuh Kejutan!



Yuhuuu! Di tulisan sebelumnya aku cerita soal Halloween yang berdekatan dengan hari jadi pernikahanku dan Shane. Sedekat apa? Dekat banget, hahaha :') Dan sekarang aku mau bercerita tentang keseruannya, ---atau, um.. "keribetannya" :D


Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, aku dan Shane menginap di rumah orangtua beberapa hari sebelum Halloween. Selama di sana, as always, aku cuma mager, sampai-sampai lupa hari. Apalagi aku juga lagi mens, jadi bawaannya malas mikir, hahaha. Sebelum pulang, pas aku bangun tidur Shane nanya, "Kamu pengen main ke suatu tempat nggak? ---Eh, tapi kalau lagi sakit perut kamu nggak mau ke mana-mana, ya?" Aku, yang saat itu nggak ngeh cuma jawab, "Iya." Mana tahu kalau maksud pertanyaan suamiku itu adalah kode... HARI JADI PERNIKAHAN KAMI YANG KEDUA! Ahahaha :')


In my defense, aku lupa bukan tanpa alasan. Pernikahan kami diselenggaran secara humble dan hanya dihadiri keluarga inti. Nggak banyak orang tahu kalau kami menikah waktu itu. Bukan ditutupi, tapi kami ingin pernikahan menjadi moment yang intim. Nggak pakai milih tanggal dan lain sebagainya. Setelah punya cincin, besok paginya kami langsung ke KUA. Sudah, begitu saja. Jadi kami nggak menganggap tanggal itu hal penting, tapi moment pernikahannya lah yang dikenang :) 


Entah gimana awalnya, ketika sampai di rumah aku baru ingat kalau 26 Oktober dua tahun yang lalu kami menikah. Otak ku pun langsung ber "ooooh.... oooooh pantesan" ria. Langsung saja aku minta maaf sama Shane karena nggak mengerti kode dia, hahaha. Tapi seperti yang kuduga, dia sih cuek. Katanya kalau di selimut pemberian mertuaku nggak ada tanggal pernikahan kami dia pun nggak ingat. Dan menurutnya tanggal berapapun kami merayakan nggak penting. Yang penting setiap tahun diperingati, ---istilahnya cherish the memories :) Kubilang, aku nggak keberatan kalau besoknya kami pergi jalan-jalan, atau menginap di suatu tempat. Aku yakinkan Shane kalau sakit perutku pasti segera baikan. Kami pun mulai survey tempat mana saja yang bisa dibooking dan nggak terlalu jauh dari rumah kami.


Setelah scroll atas bawah di laptop selama 10 menit, entah kenapa aku tiba-tiba pengen menginap di The Trans Luxury Hotel. Kepengennya itu nggak main-main, aku sampai nonton video reviewnya segala, hahaha. Shane sih menyerahkan padaku, katanya kalau aku suka tempatnya dia juga pasti suka. Senang banget dong aku dapat restu :D Nggak pakai nunggu lama aku langsung buka websitenya dan cantumkan tanggal rencana menginap. 27 Oktober 2020. ---Masih loading... 1... 2... Oh no! Ternyata penuh. Oke, oke, aku coba 28 Oktober 2020. 1... 2... 3... ---dan ternyata masih penuh juga! Huhu, kecewa dong aku... Tapi aku nggak kehabisan akal, aku whatsapp langsung saja hotelnya. Siapa tahu kalau bilang buat anniversary bisa "diada-adain" :p 

Jawaban pertama adminnya bilang kalau kamar hotel yang include tiket bermain di Trans Studio sudah penuh. Di pikiranku, oh okelah berarti yang non paket masih ada. Jadi aku bilang nggak apa-apa. ---Meski sebenarnya ingin sambil main, tapi kupikir better than nothing lah ya... :') Tapi setelah ditunggu-tunggu ternyata jawabannya masih sama, nggak ada kamar kosong. Ngerasa sia-sialah aku nunggu. Harapan terakhir aku cuma bilang gini sama adminnya, "Mas, Mbak, kalau ada yang cancel tolong kasih tahu ya. Terserah deh kamarnya kaya gimana juga." (Aku ngetik sambil berkaca-kaca, bhahahaaa...).


Dan akhirnyaaaaaa... sekitar satu jam handphoneku bunyi. Ada kamar kosong!

Tapi...


Yang kasurnya dua!


Ahahahahahahahahahahahahaha... hahahahaha... hahahahaaaa T_T


Ya aku nggak maulah :(


Masa anniversary pisah-pisahan kaya lagi backstreet:(


Karena sadar terlalu mepet kalau mau booking buat besok, akhirnya aku googling hotel yang bisa buat lusanya, 28 Oktober. Tetap susah ternyata, di mana-mana penuh karena musim liburan. Beruntung banget akhirnya aku buka instagram dan nemu hotel yang namanya Crowne Plaza Bandung. Dari foto-fotonya sih kelihatan sederhana meskipun bintang lima (maksudnya beda dengan hotel sekelas lain yang pernah aku inapi, ---halah istilah apa itu, hahaha). Aku sih suka-suka saja. Karena buatku tampilan nggak penting. Asal bersih, wifi kenceng, ada bathup, udah deh aku bisa tidur nyenyak. Nggak pakai pertimbangan lagi, aku langsung klik "booking". Soalnya kalau ditunda-tunda lagi takutnya nanti malah keburu ada yang ambil :p


28 Oktober 2020

Kami harusnya check in jam 2 siang, tapi karena aku orangnya "sok sibuk", sebelum pergi aku malah ribet sendiri sama rumah yang sebenarnya sudah kubereskan. Rasanya adaaa saja yang kurang. Iya, aku memang OCD (begitu kata psikiater), tapi ada juga saat-saat di mana aku tahu kalau akunya saja yang lebay, seperti pas lagi gini nih. Dilawan sebenarnya bisa, tapi aku kadang terlalu baik sama diri sendiri, hahaha. Akhirnya kami tiba di hotel sekitar jam 3 sore. Perasaanku langsung nggak enak, ---kok penuh amat ya? :O Parkirnya sih lancar, nggak pakai putar-putar kami langsung dapat tempat. Tapi begitu masuk lobby kami disambut sama antrian yang panjangnya dari pintu masuk sampai ke meja lobby T_T Cukup lama sampai kami akhirnya kami tiba di front desk, ---yang sayangnya bukan tanda kami bisa cepat-cepat masuk kamar. Kami tiba 1 jam lebih lambat dari waktu check in, tapi ternyata kamar belum siap. Kenapa? Asli, nggak ngerti. Mau berlama-lama bertanya pun aku nggak enak karena antrian masih panjang. Aku pikir, ya sudah lah, semua tamu juga mengalami. Lagipula, ini anniversary aku dan Shane. Jangan sampai kami jadi bad mood "cuma" gara-gara terlambat dapat kamar. Kami putuskan saja untuk makan siang (tapi sore, lol) dulu. Sekalian menghindari kerumunan. Aku dan Shane memang nggak yang parno sampai gimana-gimana, tapi sebisa mungkin kami berusaha melindungi diri. Masker selalu dipakai, rajin cuci tangan, ...dan kalau di tempat ramai mending mojok berdua saja lah, hahaha.


Aku merasa beruntung kami memutuskan untuk menginap di Crowne Plaza. Lokasinya dekat sekali dengan Jalan Braga. Jadi aku dan Shane nggak perlu ke parkiran lagi untuk ambil mobil, tapi cukup jalan kaki. 10 menit saja kami sudah tiba di Braga Permai. ---Iya, restoran yang sama yang kami kunjungi di ulang tahunku, Juni 2019 lalu. Kami suka restoran ini. Meski pilihan menu vegannya nggak banyak (mereka hanya punya menu vegetarian yang harus direquest kalau ingin vegan), tapi tempatnya nyaman. Live bandnya juga keren-keren. Seperti kali ini, yang gitarisnya total banget, hehehe xD Kami pesan pizza vegetarian dan lumpia sayur seperti biasa. Aku paling kalap kalau makan lumpia, apalagi di Braga Permai bumbu kacangnya enak banget. Beda sama restoran lain, light gitu nggak bikin enek :')


Menunggu makanan sambil diiringi home band yang gitarisnya ngalah-ngalahin John Frusciante T_T hehehe.


Vegetable pizza dan lumpia yang selalu bikin aku kalap :p


Setelah makan kami kembali lagi ke hotel. Langit Bandung sangat bersahabat, cerah dan hangat padahal sedang musim hujan. Ini bikin suasana hatiku makin happy karena awalnya aku khawatir bakal kehujanan, tapi ternyata hujan hanya mengguyur ketika aku dan Shane sedang di dalam mobil. Sungguh pengertian ya :') Hehe.


Di lobby, antrian masih tetap panjang ternyata. Sepertinya semakin sore semakin banyak tamu yang datang. Beruntung ada Ibu baik hati (tamu hotel juga) yang tahu kami sudah menunggu lama. Beliau memberikan tempatnya agar kami nggak mengantri lagi bersama orang-orang yang baru datang (---hatur nuhun pisan, Ibu, maaf lupa nanya namanya). Eh, sudah sampai di depan ada tamu yang nyelak dong, alasannya dia cuma mau ngambil kunci doang -_- Di luar dugaan, Shane langsung tegur tamu itu padahal dia orangnya pendiam, lho. Mungkin karena kesal dan ditambah perut sudah terisi ya, dia jadi penuh energi, hahaha. Jujur, aku senang sih. Soalnya dalam hati aku juga kesal tapi malas kalau harus berargumen dengan orang seperti itu. Btw, tapi aku jadi belajar sesuatu... Orang yang menyela antrian itu punya perfect English padahal, jauhlah sama aku yang Bahasa Indonesia saja belepotan. Tapi ternyata cerdas itu belum tentu mengerti (atau mau menerapkan) sopan santun.


Diselak saat antri itu rupanya jadi satu-satunya kejadian yang kurang menyenangkan yang kami alami. Sisanya bisa dibilang jadi salah satu pengalaman TERBAIK saat menginap di hotel bagi aku dan Shane :) Saat booking kamar aku sama sekali nggak meminta special request, bahkan sama sekali nggak menyebutkan kalau kami datang dalam rangka anniversary. Tapi pihak Crowne Plaza sendiri yang berinisiatif memberi kami complimentary dinner dan wine. Petugas yang sedang bertugas di front desk bilang, "Sudah pasti jauh-jauh kemari karena ada moment istimewa yang dirayakan." Padahal rumah kami masih di Bandung juga, hehe :'D Bukan itu saja, dia juga bilang bahwa kami boleh check out di sore hari, instead of jam 12 siang! Untuk kami ini adalah tindakan yang sangat manis dan kami sangat menghargainya. Kami bukan siapa-siapa (baca: bukan selebriti atan influencer). Jadi kalapun ada kejadian buruk (yang mana aku dan Shane sama sekali nggak merasa begitu), nggak akan lah dibaca sama jutaan followerku. Juga misalnya aku mendapat complimentary dari mereka, siapa juga yang akan tahu selain sejumput (lol, saking sedikitnya) pembaca di sini, kan? Jadi kami yakin tindakannya pure untuk menghormati kami sebagai tamu. Kalau nggak salah ingat yang melayani kami namanya Mr. Julius. (If you read this, thank you!)


Sebelum dinner sisiran dulu biar kece. Iya, ini foto di kamar mandi biar lightingnya bagus :D


Aku dan Shane sama sekali nggak menyangka akan mendapatkan hadiah seperti ini (---dari pengalaman kami, biasanya hotel "hanya" memberi kami cokelat, itu  pun dengan special request).

Karena ini anniversary, sudah pasti Shane menyiapkan budget untuk dinner istimewa kami. Tapi siapa sangka ternyata hotel malah memberi kami dengan cuma-cuma :') Kami jadi semakin merasa istimewa karena saat dinner di lounge hanya ada kami dan seorang tamu lain (yang kebetulan hanya mampir sebentar). Jadi berasa private dinner, hahaha. Staff hotel memperlakukan kami dengan sangat baik dan profesional. Mereka beberapa kali bertanya tentang makanan yang disajikan. The food was good (mereka punya vegan option!), perut kami kenyang, hati kami bahagia. 


Kentang goreng dan spageti vegetarian, yumyum :p


Bagiku sampai di lounge dapat complimentary, gak pakai nanya langsung dilahap. Eh ternyata mengandung tuna! Shane auto hoek hoek xD


Karena jarak lunch dan dinner yang berdekatan (makan siang kesorean, lol), kami baru benar-benar menikmati kamar setelah waktu dinner. Sebelumnya kami hanya menyimpan barang bawaan kami, sedikit touch up, lalu ke lounge. Kamar kami posisinya di pojokan, yang mana bikin kami (tambah) happy. Ada dua jendela di dua sisi berbeda yang membuat kamar terasa lapang (kerena sebenarnya ukuran kamar termasuk kecil kalau dibandingkan hotel lain yang pernah kami inapi). Begitu di kamar as always Shane langsung rebahan sambil main game, sedangkan aku langsung berendam di bathup. Semanjak menikah dan tinggal di rumah sendiri, berendam itu jadi hal yang mewah lho bagiku. Soalnya di rumah mungil kami hanya ada shower, nggak ada tub. Jadi harus menunggu ke hotel dulu kalau mau berendam, hahaha :D

Setelah badan kena air hangat dan pakai piyama, aku auto mengantuk. Di TV diputar film "Ma", salah satu film favorit kami. Meski mata sudah dipaksa melek, akhirnya aku dan Shane tidur sebelum film selesai :p


Yang mau bawa ukulele aku, tapi tetap saja Shane yang sering mainkan :p


Gak lupa bawa bath bombs biar berendamnya lebih seru.


29 Oktober 2020

Paginya, rasanya berat sekali buat bangun. Satu-satunya yang jadi motivasikubuat bangun ya sarapan (dasar rakus! Hehe). Dengan alasan keamanan, sekarang sarapan nggak disajikan dalam bentuk prasmanan yang bisa ngambil sendiri gitu. Meski begitu staff di sana cukup helpful kok. Aku bolak-balik beberapa kali buat minta nambah pun pelayanannya tetap baik. Apalagi aku cukup "cerewet" karena selalu bertanya menu mana saja yang vegan friendly :p Menurutku, kalau untuk menu sarapan vegetarian sih mereka punya banyak pilihan ya. Tapi untuk vegan memang limited, beda dengan ketika makan malam yang memang ada option non dairynya. 


Morning tea.


Sehabis sarapan jalan-jalan ke area kolam renang.


Sehabis makan aku tergiur untuk berendam di jacuzzinya. Tapi niatku urung setelah sadar kalau aku sedang menstruasi, hahaha. Ya sudah lah, lebih "aman" berendam di bathup lagi. Berhubung kami membawa ukulele jadi kami juga nggak mati gaya. Sekalian saja kami bikin video clip untuk lagu original terbaru kami. ---Sambil menyelam minum air lah ya xD Beruntung sekali kamar kami di pojokan, jadi bisa bebas main musik tanpa khawatir mengganggu tamu lain. Kalau dipikir, seringnya kami memang dapat kamar yang di pojokan ya. Bahkan waktu menginap di Singapore tahun 2018 lalu pun kami dapat kamar di pojok, dan selama 4 hari di sana kami main ukulele tiap hari, hahaha. Oya, tapi bukan berarti kami nggak cek-cek dulu. Biasanya Shane akan berdiri di luar, di depan pintu sementara aku di dalam genjrang-genjreng. Buat make sure suaranya nggak terdengar ke luar. Juga, yang nggak kalah penting jangan sampai kamar yang pas banget sebelah kami ada isinya (---isi manusia, kalau yang lain mah gak apa-apa, lol)


Bikin video clip ternyata bikin waktu terasa cepat sekali berlalu. Mungkin saking sangat menikmatinya, ya (---serius, aku nggak sabar untuk edit dan post videonya, soalnya lagu dan konsepnya istimewa sekali untukku dan Shane). Tadinya aku pikir masih cukup waktu buat tidur siang sebentar, eh tahu-tahu sudah sore saja :p Kami pun mengemasi barang-barang kami dan bersiap pulang. Perpaduan mood kami yang bagus dan pelayanan yang baik bikin kami betah. Bahkan Shane bilang dia suka dengan hotel ini dan ingin kembali lagi. Pas aku tanya alasannya, katanya dia pun nggak tahu, ---pokoknya atmosfirnya enak. Aku setuju. Dan ini bukan karena kami dapat "hadiah", tapi tempatnya memang nyaman :)


Salah satu adegan untuk video clip baru kami, “Angry Love Song”.


Bawa ukulele = anti mati gaya.


Onci sepertinya enggan pulang :p


Di perjalanan pulang kami mampir dulu ke "Kitchen Veggie" untuk makan siang (yang lagi-lagi kesorean, hahaha). Restoran vegan-vegetarian kecil favorit kami sejak tahun 2018, ---iya awal kami menikah :D Kami memang punya kebiasaan untuk kembali ke tempat yang sudah cocok, terutama soal makanan karena lidah vegan kami ini sedikit picky, hehe. Dan tempat ini lah salah satunya. Shane suka banget dengan hot dog vegan mereka. Harganya murah meriah, tapi soal rasa nggak ada yang bisa menandingi. Buktinya dibandingkan dengan hot dog yang lebih mahal pun, Shane pasti lebih memilih yang ini, hahaha. (Sedikit OOT, tapi kalau kalian vegan dan berada di Bandung, restoran ini layak banget untuk dicoba).


Ketika kami tiba di rumah hari sudah gelap. Perut sudah kenyang dengan senyum yang sangat awet (---meski disambut dengan setumpuk cucian, haha). Rasanya sempurna, dua hari dihabiskan bersama, di tempat yang membuat kami bahagia dan melakukan hal-hal yang juga membuat kami bahagia, ---bermain musik dan membuat video clip bersama. Dua tahun berlalu dan kadang masih terasa seperti mimpi. Di tahun 2017 aku masih nggak mengira bisa berteman dengan Shane, satu tahun kemudian ternyata kami malah menikah. Hidup memang semisterius itu, guys. Orang yang awalnya aku idolakan, lalu menjadi sahabat ternyata menjadi suamiku. ---Iya, secepat dan setanpa basa-basi itu. Tahu-tahu dekat, tahu-tahu menghampiri ke Indonesia, ...tahu-tahu menikah :)


Doaku dan Shane di anniversary kedua ini sederhana. Semoga kami bisa selalu bersama untuk selamanya. Alasan mengapa kami selalu menyebut diri kami "sahabat", karena sahabat mungkin saja berselisih tapi akan selalu kembali. Seperti orang bilang, sahabat adalah selamanya, ---bestfriend forever. And I love you forever, Shane, buddy! :)




yang sedang dan (semoga) selalu bahagia,


INDI


____________________________________

Kontak: namaku_indikecil@yahoo.com | Facebook: Indi Sugar | Instagram & Twitter: @indisugarmika | Youtube (Vlog & Musik): Indi Sugar Taufik

Senin, 25 Januari 2021

Tahun Baru: Waktunya untuk Pulang :)

Selamat tahun baru! Hore, 2021! Kita semua berhasil melalui 2020, teman-teman! :) *peluk*

I know, I know, tahun berganti bukan berarti semuanya otomatis menjadi lebih baik. Tapi aku hanya ingin memberikan vibes positif, meski hanya sedikit di tahun baru ini :) Tahun 2020 terasa berat untuk kita semua. Banyak di antara kita (termasuk aku) yang harus kehilangan pekerjaan. Bahkan nggak sedikit yang harus ditinggalkan oleh orang-orang tersayang. Sedikit optimis sepertinya bisa memberi harapan, dan membuat perasaan (suasana hati) menjadi lebih baik. Betul, kan? ;)


Orangtuaku selalu bilang, tahun baru itu waktunya untuk membuat harapan dan semangat baru. Meski sebetulnya kapan saja bisa, tapi saat tahun baru hampir semua orang melakukannya. Mereka percaya doa menjadi lebih kuat saat dipanjatkan bersama-sama, ---dan aku pun begitu. Makanya aku selalu merasa tahun baru itu istimewa, jadi dalam keadaan apapun aku dan Shane selalu usahakan untuk datang ke rumah orangtua aku. Termasuk tahun ini, sejak akhir Desember 2020 Ibu sudah sibuk bertanya padaku dan Shane ingin makan apa di sana. Request kami sih sederhana, hanya ingin lumpia buatan Ibu dan jagung bakar, hehe. Sudah tradisi sejak aku kecil, terutama jagung bakar. Mungkin karena itu satu-satunya menu yang netral, bisa dimakan oleh semua, ---bahkan saat aku masih jadi pemakan segala, lalu vegetarian, sampai vegan sekarang, hahaha (sejak 4 tahun lalu) :p


Aku dan Shane lagi total nggak kemana-mana, terakhir ke luar ya di bulan Oktober 2020 lalu. Itu pun (lagi-lagi) hanya ke rumah ortu untuk Halloween lalu dilanjutkan ke hotel karena berdekatan dengan ulang tahun pernikahan kami. Selebihnya kami hanya di rumah saja. Sempat bingung juga mau beli hadiah tahun baru di mana karena, seriuosly, kami malas banget ke mana-mana :D Akhirnya kami putuskan berbelanja online. Untuk Ibu, Bapak dan Nenek kami pesan jam dinding customize gitu, ada foto kami sekeluarga. Khusus untuk Nenek, kami pilih foto yang ada beliau dan Ibu Mertua? Kenapa? Karena mereka BFF, hahaha. Jadi kami pikir beliau akan senang. Meskipun pasti kadonya akan diterima terlambat, karena Nenek merayakan tahun baru di vilanya, di Purwakarta. Untuk dua keponakanku, Ali dan Abi Cody, aku dan Shane hanya membeli cokelat karena mereka sudah punya banyak mainan. Lagian, mereka sih lebih happy kalau dapat makanan dibandingkan barang xD


Di malam tahun baru aku dan Shane akan berangkat ke rumah orangtua. Kami putuskan untuk memakai Gocar agar lebih praktis. Barang-barang perbekalan menginap sudah diturunkan ke lobby waktu kami sadar kalau kami kesorean. Uh oh, baru ingat kalau jalan di daerah kami akan ditutup jam 6 sore nanti. Nggak ada Gocar dan taksi yang kosong waktu kami memesannya via aplikasi, huhu. Untung saja Ibu memang akan keluar rumah, jadi bisa sekalian menjemput kami. Agak malu juga sih, niatnya mengunjungi eh malah merepotkan, hehehe. Tapi yaaa mau bagaimana lagi, malam tahun baru macet, makanya kami malas pakai mobil sendiri :D


Ketika tiba kami langsung disambut sama dua keponakan yang kupanggil "the babies", ---yang kata Shane mending dipanggil "the boys" saja karena sudah pada besar, hahaha. Mereka ini nggak selalu ada di rumah ortu, kadang ya di rumah mereka sendiri yang jaraknya nggak jauh dari rumah ortu, atau malah di rumah Nenek mereka (dari pihak bundanya). Tapi kalau saat istimewa seperti ini pasti berkunjung dan menginap, bikin rumah makin ramai. Karena mereka sedang main, jadi aku ikutan. Padahal niatnya begitu tiba mau santai di depan TV sambil rebahan di sofa. Eh, ternyata realitanya sofa penuh dengan mainan dan malah ada kolam renang karet di tengah ruangan, hahaha.


Biasanya aku rebahan di sini, eh sama the babies malah dipakai gelaran kolam karet T_T hahaha.

Aku sih ikut saja pokoknya, gak ngerti juga ini main apaan xD


Seperti biasa kalau ada Ibu, aku dan Shane bisa makan sampai 5 kali sehari soalnya beliau hobi masak. Ketika aku sibuk bermain dengan the babies, Ibu langsung menyiapkan lumpia istimewa request dari kami. Sengaja, aku dan Shane memang belum makan dari rumah, hihi. Saking banyaknya lumpia yang kami makan, kami sampai minta break dulu sebelum lanjut makan jagung bakar. Padahal Ali sudah semangat untuk bakar jagung sendiri. "Sekarang kan kita lagi pesta," begitu katanya :D Dan dipikir-pikir memang baiknya kami bakar jagung segera sih, soalnya kalau nggak pasti Ali dan Cody keburu ngantuk. Mereka kan balita, masa iya mau ikut begadang sampai tengah malam :D Akhirnya, kami pun berusaha sekeras mungkin memberi ruang di perut untuk jagung bakar buatan Ali, ---yang ternyata bumbunya pure saos tomat doang, hahaha. Tapi enak kok :D


Ini anak celananya kemana coba? :’D Bener-bener gak karuan, bandoku saja sampai pindah ke kepala Ali T_T

Ali bangga dengan jagung bakar buatannya :)


Aku senang Ibu dan Bapak menyukai kado kami. Saking bersemangatnya mereka langsung pasangkan jarum dan baterainya. Sekalian yang punya Nenek juga dipasangkan supaya ketika beliau tiba di Bandung bisa langsung dipajang. Kalau the babies sih nggak perlu ditanya, mereka sudah pasti terobsesi dengan kado tahun barunya, hahaha. Nggak sampai 5 menit mereka langsung lahap cokelatnya plus berebutan pula karena cokelat Cody habis duluan :D Ya, begitulah... heboh dan hangat. Kalau ada mereka tiap hari aku nyerah, tapi juga kangen kalau lama nggak bertemu, hehehe.


My family :)

Dengan kado-kado dariku dan Shane :)


Oya, berhubung aku dan Shane nggak ke mana-mana untuk membeli kado, kami nggak bawa apa-apa untuk Eris, anjing kesayangan kami :( Sebetulnya kalau ada Gocar yang sih kami mau mampir dulu di petshop, tapi ternyata nggak seperti yang direncanakan. Sebagai gantinya, aku cuci tempat tidur Eris sampai cling. Biar tahun baru tidurnya nyenyak :D


Foto waktu Eris aku ajak ke halaman rumah, eh gak mau balik dia :D


(Edit: Saat tulisan ini dibuat kami sudah beli kado untuk Eris, hehehe).


Betul saja seperti perkiraanku, sebelum tengah malam Ali dan Cody sudah tidur. Aku jadi leluasa buat nonton TV di sofa. Iya, di sofa! Finally xD Banyak film seru yang diputar. Rasanya seperti dapat kado tahun baru dari TV kabel karena sampai 2 hari ke depan ada beberapa channel yang gratis. Aku benar-benar manfaatkannya sampai-sampai begadang. Mata sepet pun nggak terasa, hahaha. Tapi tentu kerjaanku nggak cuma makan dan nonton TV saja dong. Aku ngobrol-ngobrol sama Ibu dan Bapak sampai puas (asli, ngalor-ngidul, dari mulai ngomongin tetangga sampai acara TV, lol). Dan yang paling seru aku juga menemukan banyak album foto lama. Bapak menunjukkan foto-foto almarhum Kakek dan Nenek, yang ternyata mereka dulu keren sekali. Jadi terharu, huhu. Maklumlah aku masih kecil waktu mereka meninggal, jadi memoriku dengan mereka hanya sedikit :') Shane juga nggak kalah amazenya melihat foto-foto masa kecilku. Katanya nggak kebayang dulu aku kecilnya sebandel Ali dan Cody, hahaha. Eh, padahal nggak lho, dulu aku manis kok :p


Masakan Ibu. Semuanya enak, tapi favoritku dan Shane tentu lumpia vegan. Yummy! :p

Menunjukkan foto-foto masa kecilku sama Shane, hahaha.


Saking happynya aku di rumah ortu, kamar tidur yang sudah disiapkan jadi jarang banget ditempati. Seringnya aku di ruang TV, ---dan ruang makan, hehe. Rasanya kalau tidur tuh sayang, takutnya missing out. Meski aku sangat menikmati tinggal berdua saja dengan Shane di rumah mungil kami, tapi ada lho hari-hari di mana aku mikir, "Kayanya enak ya tinggal satu rumah tumplek-tumplek gitu." Tapi aku sadar, untukku (dan Shane) itu bukan kondisi ideal. Buat kami lebih fair untuk tinggal terpisah, karena Shane juga kan tinggal berjauhan sekali dengan orangtuanya, dan dia rela tinggal di mana saja asalkan aku happy. (Sebetulnya Ibu Mertua ingin aku tinggal di Amerika, btw, tapi berhubung aku lebih happy di sini, Shane bilang dia saja yang ikut aku). Juga dari sisi ortuku, mereka sudah membesarkanku sampai segini besarnya (hahaha), rasanya lebih fair jika memberi mereka ruang untuk menikmati masa tua mereka :)


Lagipula aku jadi punya tempat untuk "pulang", ada rasa rindu dan alasan untuk kembali ke rumah masa kecilku karena ada Ibu dan Bapak di sana :)

Kami menginap selama 2 malam. Di perjalanan ke rumah kami aku sudah kangen lagi sama mereka (termasuk sama the babies dan Eris juga). Lucunya dulu aku suka berpikir kalau kangen itu hanya berlaku untuk yang tinggalnya berjauhan. Tapi setelah 2 tahun tinggal terpisah, aku jadi sadar kalau kangen itu bukan soal tempat, tapi soal dengan siapa dan dengan suasana yang melekat di hati. Semoga saja keadaan cepat membaik ya biar aku bisa sering-sering menginap di sana lagi. Sekali lagi, selamat tahun baru, semuanya! :)


(virtual) kisses,


Indi


-----------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Kamis, 31 Desember 2020

Our Christmas Story :)


Waaa, besok sudah tahun baru lagi guys! :') Setelah tulisan Halloween kemarin, sebenarnya aku langsung nulis tentang anniversary pernikahan, lho. Tapi karena kepotong-potong sama mager dan aktivitas sehari-hari (apaan, sih, hahaha), jadi baru selesai setengah. Tadinya sih mau aku lanjutin sekarang mumpung lagi buka laptop (di window lain aku lagi nonton film horor, lol), tapi rasanya bakal lebih relevan kalau aku nulis tentang Christmas kemarin. Iya nggak sih, mumpung baru lewat beberapa hari :D

Mele Kalikimaka!


Kalau lihat status teman-teman di Whatsapp dan Instagram, kemarin-kemarin itu lagi warna-warni banget. Ada yang main ke villa, ke luar kota, ke tempat wisata, bahkan yang ngemall juga ada. Aku sempat ngiler dan bilang soal ini sama Shane. Maunya kemana gitu di libur Natal ini. Tapi kok setelah dipikir-pikir lagi nggak wise ya... Mungkin orang lain bisa disiplin menjaga protokol kesehatan. Tapi bagi aku dan Shane, meski sudah maskeran dan selalu bawa hand sanitizer, somehow masih was was. Yaaa... daripada malah kepikiran yang nggak-nggak dan jadi nggak menikmati liburan, diputuskanlah untuk stay di rumah saja. Sampai detik ini kami memang masih melakukan apa-apa dari rumah. Dari mulai bekerja, berbelanja sampai untuk hal hiburan (membeli film, musik, dll). Kecuali kalau nggak bisa dihindari, seperti mengurus KITAS, ---izin tinggalnya Shane atau ke dokter. Syukurnya sih di tahun 2020 ini kesehatan kami baik, jarang sekali ke dokter dan nggak ada masalah yang serius. Semoga sih tahun depan dan berikutnya juga begitu ya :) Amin...


Gak pakai rencana juga sampai bikin to do list gitu, tapi kami lebih let it flow sih. Kalau mau ngapain ya lakukan saja, asal terasa suasana Christmasnya. Dan masih sama seperti tahun kemarin, rumah kami masih sepi ornamen, hehehe. Padahal Ibu Mertua sudah mau mengirimi kami pohon Natal mungil, lho. Tapi terpaksa batal karena setelah dihitung biaya kirimnya hampir 10 juta, belum termasuk bea cukainya. Mending beli di sini saja lah, bisa dapat pohon sama makan buat sekomplek kalau segitu :'D 

Jauh-jauh hari aku sudah ditanyain kepengen hadiah apa dari Ibu Mertua. Jujur tiap ditelepon aku selalu menolak, ---bukannya apa-apa tapi aku masih trauma sama ribetnya proses mengambil kado Natal sejak tahun 2018-2019. Kalau aku ceritakan bisa nggak lanjut nih cerita Natalku saking panjangnya. Pokoknya ribet, ribet, ribet dan MAHAL :( Akhirnya kami sepakat untuk membeli kadonya di Indonesia saja. Jadi aku tinggal bikin list apa saja yang aku mau dari toko lokal, lalu tinggal bilang sama Ibu Mertua.


Eh tapi ternyata...

Sepakatnya batal, hahaha. Namanya ibu-ibu ya di mana saja sama. Beliau merasa bukan Christmas kalau aku dan Shane nggak menerima kado secara langsung. Jadi setelah aku bikin list hadiah untuk dibeli di sini, beliau masih "maksa" untuk bikin list lain yang nanti akan dikirim dari Amerika. Mau nolak sudah nggak bisa, salah-salah aku malah menyinggung. Jadi aku pun setuju dan secara khusus hanya menulis benda-benda kecil di wish list kami. Harapan aku sih biar mertuaku nggak harus keluar biaya terlalu banyak untuk menebus hadiahnya di sini. Karena aku tahu beliau pasti nggak akan membiarkan kami membayar biaya bea cukai sendiri meskipun sebenarnya "tugas" beliau untuk proses mengirim hadiah sudah selesai. 


Hadiah-hadiah dari Ibu Mertua dan kartu Natal (tapi disembunyikan karena ada fotonya, hihi).


Aku dapat kado dari Shane xD


Aku dan Shane menerima kado Natal kami tepat waktu. Untuk prosesnya sengaja nggak aku ceritakan di sini karena pasti mengganggu mood, ---baik moodku dan juga yang membaca, hahaha. Di luar keribetannya, aku dan Shane senang sekali karena bisa menerima kado secara tradisional. Maksudnya, kado yang di dalam boks, dan kami bisa merobek kertas pembungkusnya :) Yang kupinta hanya piyama, the Body Shop, cat kuku, sarung bantal guling warna coklat, ditraktir ke salon (lol) dan lensa kontak karena mataku minus. Tapi ternyata Ibu Mertua juga mengirimi hadiah lain. Aku dapat bando berwarna-warni yang bikin aku senyum-senyum. Rasanya lucu dan manis saja karena beliau mengerti sekali betapa aku suka pakai aksesoris rambut (dua tahun lalu malah dikirimi satu kantung pita rambut, hahaha). Kadang aku berpikir, kalau menikahnya bukan dengan Shane mungkin siapapun mertuaku itu nggak akan segini mendukungnya dengan penampilanku yang kata orang kaya anak kecil :p Aku juga dapat chopper untuk sayuran yang seriusan, begitu bungkusnya dibuka langsung aku cuci dan pakai saking senangnya. Jadi aku sudah lama ingin dan BUTUH banget benda ini. Tapi somehow nggak pernah jadi prioritas kalau belanja (---prioritas aku makanan, astaga). Yang bikin aku cengar-cengir ternyata candaan kepengen printilan macam pengharum ruangan saja beneran dibeliin dong, sampai 4 biji dan sekarang sambil nulis aku agak-agak pusing karena semua kemasannya sudah dibuka SEMUA sama pihak bea cukai. Wanginya jadi tabrakan, bhahahaha... 


Dari semua kado itu ada yang sangat istimewa buatku. Dress batik. Iya, batik Indonesia. Tapi yang bikin istimewa justru bukan batiknya, melainkan alasan Ibu Mertua kenapa beliau membelinya. Katanya karena ia tahu aku sangat suka batik. Jadi waktu beliau nggak sengaja melihatnya di toko, ia bilang harus membelinya untukku. Aww, bless her heart :') Aku harap suatu hari bisa membalas kebaikannya. Tahun ini aku nggak bisa memberi apa-apa untuknya (katanya tas dari kami tahun kemarin pun masih bagus dan masih sering dipakai). Aku tahu beliau pasti nggak mengharapkan apa-apa, but still... :)


Berfoto di balkon. Langit saking gelapnya jadi mirip backdrop hitam :’D


Suka banget sweater ini. Pas aku pos foto ini di Instagram Ibu pun langsung memuji sweaternya ;D


Setelah kado-kado yang menghangatkan hati, masih ada hangat-hangat yang lain dalam arti sesungguhnya. Aku dan Shane mencoba baking! :p Ya... kalau sekedar bikin kukis sama kue Oreo sih sering, ya meski hasilnya begitulah (nggak usah dibahas, lol). Tapi untuk pertama kalinya entah apa yang merasuki (cieh sosisssonais), aku ingin membuat cinnamon rolls sendiri :D Meski kami vegan tapi kami menolak missing out. Prinsip kami sih nggak ada makanan apapun yang nggak bisa "divegankan" :p

Kebetulan di dapur ada stok kayu manis bubuk yang tadinya mau aku gunakan untuk memasak kari. Tapi lalu aku ingat kalau aku itu nggak bisa masak, hahaha. Setelah googling ditambah mengarang bebas, akhirnya kami baking dengan alat seadanya. Bangga sekali, tanpa membuat dapur terlalu berantakan (biasanya sampai pecaaaaah ke ruang TV), akhirnya kami berhasil membuat cinnamon rolls pertama kami :'D Rasanya? Enak banget dong! Bentuknya jelek? Biarin! Hehehe. Eh, ini seriusan enak lho. Seenggaknya cukup enak lah sampai aku pede buat share resepnya. Ini aku SS dari Instagramku. Siapa tahu ada yang mau coba. Eggless dan dairy free. Yang nggak vegan tapi alergi bisa banget coba :)


Cinnamon rolls vegan ala-ala. Bentuk boleh gak jelas, tapi rasanya jelas enak :p


Resep ala aku :p


Ada tradisi nggak tertulis yang aku yakin dilakukan oleh banyak orang di seluruh dunia di bulan Desember; Menonton film Home Alone. Hahaha.

Ayo ngaku! :D

Tapi tahun ini ternyata kami melewatkannya. Padahal jauh-jauh hari aku sudah request untuk nonton film Home Alone 2 karena ada kenangan tersendiri dengan film itu (---yang pernah membaca "Waktu Aku sama Mika" mungkin ingat). Kenyataannya kami malah menonton film yang terduga sama sekali; Sister Act 1-2 dan Christmas Carol! Sister Act adalah film yang di masa kecil yang sering diputar ulang oleh aku dan Puja, adikku. Menontonnya kembali setelah entah berapa tahun, apalagi bersama Shane terasa begitu menyenangkan. Ada perasaan nostagic juga bahagia karena bisa berbagi film kesukaanku dengan orang yang sangat berarti. Juga Christmas Carol yang selalu mengingatkanku dengan rumah orangtua. Aku masih punya VCD nya di sana, di suatu tempat. 


Menonton Christmas Carol.


Sisanya, aku dan Shane menjalani bulan Desember seperti hari-hari biasa. Ada hari-hari di mana kami memakai outfit Christmas kami, menonton film-film bertema Christmas, ---tapi ada juga hari-hari di mana kami menonton film horror atau bahkan nggak melakukan apa-apa seharian. Seperti yang sudah kubilang, just let it flow, karena justru itulah yang membuat kami sangat menikmati waktu :)

Sekarang Natal sudah selesai dan kami bersiap menyambut tahun baru. Rencananya kami akan menginap di rumah orangtua bersama dua keponakan, Ali dan Abi Cody. Perasaanku dengan datangnya tahun 2021 masih campur aduk, you know what I mean... Tapi bukan berarti aku pesimis, karena tahun yang baru adalah simbolis bagi awal yang baru. Jadi nggak ada alasan untuk khawatir berlebihan, kan :)



Soooo, bagaimana dengan Natal kalian? Semoga semuanya menyenangkan ya. Dan untuk yang harus menghabiskan Natal dan tahun baru nanti sendirian... peluk virtual dari aku dan Shane di sini. Things will get better. Amin :)


(Video musik terakhir aku dan Shane di tahun 2020. Pengguna mode Mobile klik di sini )



cheers,


Indi


---------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Selasa, 03 November 2020

Cerita Halloween Tahun Ini yang "Berbeda" :)





Halloween... Halloween... nggak pakai malu-malu aku bilang kalau ini adalah salah satu musim liburan (eh di sini nggak libur, ya, lol) favoritku, hahaha. Dari waktu kecil sampai sudah menikah sekarang, aku selalu menikmati hujan dari balik jendela kamar, film-film seram, berkumpul dengan keluarga... dan tentu saja segala macam dekorasi dan kostumnya. Tentu karena aku lahir dan besar di Indonesia, Halloween yang aku kenal itu nggak seperti yang di film-film. Nggak ada trick or treat (kecuali di tempat terbatas, misal sekolah, perumahan, kantor atau mall), dan dekorasi sampai ke pekarangan. Apalagi dengan originnya, meski tahu, mengerti dan menghormati tapi di sini lebih seperti di Amerika. Halloween nggak melulu harus seram dan dikaitkan dengan kepercayaan tertentu. Mau pakai kostum Superman atau Mickey Mouse pun boleh-boleh saja, hahaha.


Meski spiritku tetap sama (bahkan lebih, lol) tapi nggak bisa dihindari kalau kondisi sekarang harus membuatku bikin beberapa penyesuaian. Dulu biasanya Ibu membuatkanku kostum, ---nggak harus baru, kadang dress lama dirombak kembali atau menggunakan kain-kain yang sudah ada. Bapak juga dulu selalu membantuku untuk membuat dekorasi dan pelengkap kostum, seperti waktu membuatkanku sayap tinkerbell dari gantungan baju. Tapi karena sekarang sudah tinggal terpisah, berkunjung ke rumah mereka lalu nonton film horor saja sudah cukup, kok :) Justru malah menantangku untuk lebih kreatif, ---lebih kreatif dari dulu karena sekarang apa-apa hanya dikerjakan olehku dan Shane saja. 


Punya tanggal pernikahan yang dekat dengan Halloween itu semacam berkah tapi rempong. Kenapa? Soalnya kalau mau rayain anniversary harus benar-benar diatur biar nggak tabrakan sama Halloween yang biasanya sudah ditunggu-tunggu (baca: ditagih terus) sama keponakanku, Ali. Hahaha. Untungnya, karena ini sudah tahun ketigaku dan Shane merayakan Halloween bersama, kami jadi sudah makin pro :p Caranya dari jauh-jauh hari, alias awal bulan Oktober kami cicil apa saja yang dibutuhkan untuk Halloween. Termasuk diatur budgetnya juga supaya nggak berlebihan dan tiba-tiba ada pengeluaran nggak terduga. Dimulai dari yang Ali inginkan. Dia bilang ingin menjadi bajak laut, jadi kami belikan topi bajak laut saja tanpa kostum. Karena menurut kami dengan memakai topinya saja sudah cukup menunjukkan bahwa dia bajak laut :D Ali juga ingin mengukir labu karena tahun kemarin nggak sempat ikutan dan membuat kue lumpur (mud cake). Jadi Shane siapkan budget untuk membeli itu semua ketika hari H, plus budget untuk pengganti trick or treatin’ yang nggak diadakan tahun ini karena sekolah libur. 


Sedangkan untuk kami berdua sih, dibanding segala macam sweets kami lebih peduli dengan film-film horror dan dekorasi yang membuat suasana rumah lebih hangat. Kami membeli kaos bertama Halloween kompakan yang hanya berbeda warna. Nggak pakai kortum untuk hari H karena sebelumnya ternyata ada event di salah satu coffee shop dekat rumah kami, jadi mending dipakai untuk ke sana saja. Selebihnya kami membeli sarung bantal sofa dengan pertimbangan bisa dipakai untuk jangka waktu lama dan memang butuh (maklum pengantin baru, di rumah baru punya satu pasang, hahaha). Juga ember permen untuk Ali hunting pura-pura trick or treatin’ di supermarket, dan balon-balon digunakan sebagai dekor yang nantinya bisa digunakan Ali untuk bermain (two in one kan jadinya, hehe). Kebetulan rumah kami memang temanya Halloween sepanjang tahun. Jadi segitu saja sudah cukup. Bersenang-senang boleh, tapi harus tetap ingat buat bijak ;)



Pra Halloween.


Halloweennya sih memang cuma satu hari. Tapi sejak masuk bulan Oktober biasanya Halloween vibes sudah terasa. Tahun-tahun kemarin aku dan Shane marathon film horror (hampir) setiap malam sampai mata sepet, hahaha. Sedangkan tahun ini, karena stock film sudah menipis jadi film yang kami tonton nggak terlalu banyak. Kebanyakan sih ketika menginap di rumah orangtua karena di sana ada TV kabel (---iya, kami nggak/belum punya, masih mempertimbangkan perlu atau nggak). Kadang nontonnya kepotong-potong juga karena kebetulan ada 2 keponakanku yang sedang menginap di sana. Mereka lebih tertarik dengan kostum-kostum Halloween daripada film. Jadi yaaa aku mengalah untuk mendandani mereka sambil tetap aku sounding kalau Halloween masih akhir bulan nanti, hahaha.


Keponakanku ada 2, namanya Ali dan Abi Cody. Mereka sih biasanya cuek, mau pakai apa saja asal kostum sudah happy. Ali yang lebih tua saja baru tahun ini punya keinginan jadi bajak laut. Tahun-tahun kemarin dia akan pakai apapun yang dipilihkan bundanya atau bahkan aku. Jadi aku dandani saja mereka menjadi R. L Stine dan Slappy. Lol, yup, kalau sudah mengenalku cukup lama pasti tahu kalau aku adalah fans berat karya-karya R. L Stine, terutama Goosebumps :D Aku tunjukkan dulu foto-fotonya pada mereka, dan mereka mau. Kebetulan Cody anak aktif dan cerewet sekali, jadi kupikir cocok untuk didandani seperti Slappy, si boneka hidup beraksi dari Goosebumps. Ketika mau  kufoto saja dia nggak mau diam, hahaha. Untung saja aku sempat mengambil beberapa foto jadi bisa disimpan untuk kenang-kenangan :)


Boneka hidup beraksi versi cute :D


Sedangkan Ali, dia sih nggak didandani juga sudah "mirip" dengan R. L Stine, hahaha. Ini menurutku lho, kalau pembaca di sini anggap nggak mirip ya nggak apa-apa :p Mata mereka sama-sama teduh. Belum lagi dia anaknya imajinatif, nggak akan kaget kalau suatu hari bakal jadi penulis hebat, hahaha (Amin...). Tinggal aku kasih tahilalat palsu, sudah deh jadi R. L Stine.


Benar mirip, kan? :D

 

Dan ternyata 2 bocah ini dapat kejutan pra Halloween dari R. L Stine! Beliau melihat foto mereka dan memutuskan untuk me-retweet foto Ali! Hahaha, beliau bahkan memberi komentar. "Looking good!" katanya, dan langsung dishare oleh puluhan fansnya. Cody juga dapat reaksi dari R. L Stine, dua kali beliau memberi "heart" pada fotonya. Aku sebagai tantenya jadi senyum-senyum sendiri, hehe. Sudah puluhan tahun jadi fansnya akhirnya dinotice juga gara-gara keponakan :D


Aku yang sebenarnya hanya terfokus dengan hari H dan hanya nonton film sambil menunggu Halloween, ternyata malah ikutan "perayaan" pra Halloween juga. Gara-garanya sih di Kopi Q, coffee shop dekat rumahku (dekat banget, masih satu komplek) ngadain event lucu gitu. Mereka ada free meals buat pengunjung yang datang pakai kostum Halloween. Nah, kebetulan aku lagi mau ke rumah ortu (LAGI, hahaha) jadi sekalian saja aku mampir ke Kopi Q dengan kostum Snow White ku. Dapatnya plus-plus kan, seru ber Halloween sekaligus perut kenyang :D Ini juga nih bisa jadi salah satu alasan kenapa aku suka banget Halloween, soalnya banyak promo dan freebies :p


Snow White bersepatu keds :p


Snow White dan rakyat jelata xD Eh, becanda, ini pangeranku, dong. Cuma lagi nyamar gak pakai baju kerajaan :p




Akhirnya, Halloween!


Ketika hari yang dinanti-nanti tiba aku malah sakit! Hahaha, pantas saja sih karena tanggal 28 dan 29 nya aku dan Shane merayakan ulang tahun pernikahan kami dan ada sedikit insiden (kapan-kapan kuceritakan). Tapi di pagi hari tetap saja aku bangun dengan semangat dan memaksakan untuk mandi. Di luar hujan deraaaas sekali, rasanya bikin badanku makin meriang. Untung saja Shane langsung sigap membelikanku obat dan pelega tenggorokan. Syukurlah di siang hari aku merasa membaik dan siap menjemput Ali untuk ber Halloween bersama :) 


Balon-balon itu Shane yang tiup. Lumayan penuh perjuangan :p


Tahun ini kami gak pakai kostum, cukup matching T shirt bertema Halloween saja :)


Ali rupanya sudah sangat siap, ketika aku dan Shane tiba dia sudah memakai jaket dan masker. Sebenarnya Cody juga ingin ikut, tapi karena dia sangat aktif rasanya nggak mungkin aku dan Shane handle apalagi keadaanku sedang kurang fit. Rasanya nggak enak banget :( Tapi Ibu juga memang menyarankan agar Cody di rumah saja bersamanya dan berjanji dia tetap akan bersenang-senang meski nggak ikut bersama kami. Akhirnya setelah berpamitan singkat kami bertiga pergi ke supermarket. Iya, supermarket! Hahaha. Biasanya sih orang-orang membeli labu di pumpkin patch ya supaya Halloweennya lebih terasa. Tapi kami nggak mau memaksakan, supermarket adalah lokasi terdekat dan di sana juga serba ada. Sempurna bagi kami ;)


Hujan sempat berhenti sebentar ketika kami tiba di supermarket. Bahkan sebelum Shane mendapat troli, Ali sudah berlari ke tempat sayur-sayuran untuk mengambil labu, hahaha. Seketika badanku rasanya jadi sehat walafiat! Mata Ali berkilat-kilat ketika dia menemukan labu yang menurutnya "besar dan bagus". Semangat Ali benar-benar membawa vibes positif :D Sengaja aku membiarkan Ali mengambil labu mana pun yang dia mau agar pengalaman mengukir labu pertamanya berkesan. Sebenarnya Shane sempat memberi saran untuk mengambil labu yang lebih besar dan bentuknya lebih simetris. Tapi setelah melihat ekspresi Ali, dia pun setuju untuk mengikuti "besar dan bagus" versi Ali. (---Pssst, menurut kami labunya terlalu kecil).


Kami juga sudah menyiapkan ember permen berbentuk labu untuk Ali. Sebagai ganti trick or treat, kami izinkan Ali untuk berkeliling di lorong-lorong supermarket dan mengambil permen apapun yang dia inginkan selama muat masuk ke dalam ember. Manisnya, ternyata Ali tetap ingat dengan adiknya di rumah. Dia juga ingin memberi Cody permen karena khawatir di rumah Uti (Nenek, ibuku) nggak ada permen, hahaha. Aw, tentu saja aku dan Shane sudah siapkan oleh-oleh untuk adiknya juga. Semua yang kami beli double agar adil. Aku sih berharap tahun depan Cody bisa ikut, karena meski Ibu memastikan dia bersenang-senang di rumahnya tetap saja aku merasa ada yang kurang :')


Hasil “buruan” Ali di supermarket.

Tepat ketika hujan kembali lebat (baca: angin kencang, petir, bikin seram) kami selesai berbelanja. Udara yang dingin rupanya membuat Ali sedikit mengantuk. Di mobil, aku bisa melihat Ali terkantuk-kantuk di kursi belakang. Tapi setiap sadar dia sedang diperhatikan, dia pasti langsung tersenyum lagi dan bilang, "Ali nggak tidur kok." :D

Aku bisa maklum, Ali masih kecil jadi acara Halloweennya pun harus dibuat singkat, family friendly (no seram-seram) dan nggak melewati waktu tidurnya. Jadi ketika kami tiba di rumah, tanpa membuang-buang waktu aku langsung bertanya apa yang ingin Ali lakukan lebih dulu. Ali ingin membuat kue lumpur, saking siapnya dia memilih 2 bungkus permen cacing ketika di supermarket. Supaya lebih seram katanya, hahaha. Aku dan Shane sebenarnya ingin membuat semua treats vegan friendly, tapi berhubung Ali bukan vegan jadi kami izinkan untuk memakai permen-permennya sebagai hiasan (dan tentu dia sendiri yang menghabiskan).


Ali, the cutest bajak laut :)


Kue lumpur, “tradisi” Halloween kami. Cakenya vegan friendly, tapi gak begitu dengan cacing-cacingnya :’D


Saking semangatnya Ali nggak mau dibantu, dari mulai menghancurkan Oreo sampai memasukkan loyang ke oven dia lakukan sendiri. Aku dan Shane hanya membantu sedikit-sedikit. Dia bahkan punya ide untuk memberi "batu nisan" di kuenya, hahaha, totalitas sekali ini bocah :D Aku sempat tanya, darimana dia bisa tahu tentang batu nisan. Ternyata dari ortuku, katanya mereka menunjukkan makam Veggie, anjing kami dulu dan di sana ada batu nisannya. Aww... :') By the way, aku happy banget pengalaman pertama Ali bikin mud cake berhasil. Maklum lah, aku dan Shane sama-sama ngaco kalau soal baking, hahaha. Harus panggang berapa menit saja pakai kira-kira. Malah kami sempat mikir kalau kuenya nggak bisa keluar loyang karena lengket, eh ternyata bisa :p


Setelah itu, tentu saja yang paling ditunggu-tunggu; Mengukir labu! Dulu, waktu aku kecil setiap Halloween hanya ada film, kostum dan permen. Labu hanya jadi sesuatu yang kulihat di film atau di kolak pisang, hahaha. Saat diajak ke Lembang untuk melihat pumpkin patch langsung pun nggak pernah terpikir buat mengukirnya. Pokoknya aku sama sekali nggak tertarik untuk ribet-ribet :p Baru setelah dewasa aku mulai sadar kalau aktivitas ini sebenarnya bermanfaat juga buat bersenang-senang sekaligus mengasah kreativitas (cieeee...). Toh, nggak bisa dibilang "buang-buang" juga karena biji labunya bisa dijadikan kuaci. Nah, kebetulan suamiku juga ternyata sesuka itu sama Halloween, 11-12 sama aku. Jadi semenjak tahun kemarin kami mulai menjadikan mengukir labu sebagai "tradisi" Halloween kami.


Ali menggambar di labu pertamanya.


Shane mengukir labu dengan super serius.


Meski aku belum izinkan Ali untuk memegang pisau, tapi aku bebaskan Ali untuk menggambar pola di labu lalu Shane yang akan mengukirnya. Awalnya dia menggambar mata, lalu gagal. Akhirnya dia menggambar mulut dengan sangaaaaat lebar, hahaha. Hasilnya ternyata bagus sekali, apalagi setelah ditambahkan lilin elektrik di dalamnya. Ali bangga. Aku dan Shane juga bangga dengan karya Ali :) Kami tinggal di apartemen, jadi nggak punya halaman. Sebagai gantinya kami pajang saja labunya di balkon. Entahlah apa orang bisa lihat karena kami di lantai 15 :p


Aku dan labu yang digambar oleh Ali.


Ali bangga dengan labu pertamanya, dan aku bangga dengan kue lumpur yang gak gagal :D


Seram atau imut nih? :D


Malam semakin larut, Ali tampaknya masih sangat betah. Tapi dengan berat hati kubilang padanya kalau dia harus kami antarkan pulang :') Di perjalanan pulang Ali terus-terusan bercerita tentang betapa bahagianya dia bisa menghabiskan Halloween bersama kami dan nggak sabar untuk merayakan lagi tahun depan. Aku dan Shane juga bahagia sekali, apalagi ini jadi Halloween pertamanya yang nggak dirayakan di rumah ortuku. Bayangkan saja, sejak usia dia 11 bulan Ali selalu ber Halloween bersamaku dan keluarga di rumah kakek neneknya. Jadi ini pasti pengalaman yang berkesan buatnya. Juga buat kami yang pertama kalinya kedatangan "tamu" Halloween di rumah sendiri. 

Sebelum berpisah aku memeluk Ali erat. Nggak lama adiknya langsung menyambut Ali dan menagih permen hasil (pura-pura) trick or treat nya :)


Setiba di rumah aku dan Shane langsung beristirahat karena kami kelelahan. Rumah kami berantakan tapi kami senang sekali, biarlah beres-beresnya besok saja, hahaha. Setiap tahun Halloween selalu meninggalkan cerita berkesan buatku, ---cerita yang berbeda-beda tapi semuanya sama-sama berkesan. Apa aku rindu untuk ber Halloween di rumah orangtua? Apa aku rindu pergi ke rumah hantu dan memakai kostum? IYA. Tapi biarlah kerinduanku itu menjadi kejutan. Lihat saja tahun depan, pasti ada cerita baru lagi. Yang lebih seru! :)


Selamat Halloween semuanya. Merayakan atau nggak merayakan, semoga hari kalian menyenangkan bersama keluarga ;)


Happy Halloween! ;) 


Vlog halloween kami. Jika kalian membaca ini dari mobile mode, silakan cari channel "Indi Sugar Taufik" di Youtube atau klik di sini :)


treat or TREAT, lol,


Indi