Hore! Ini Jumat malam! :D
Artinya, begitu aku bangun dari tidur sudah masuk hari libur, hihihi. Siapa senang, ayo tunjuk jari :p
Di post-post sebelumnya aku sudah janji akan menceritakan tentang pekerjaan baruku, tapi seperti biasa, alasan klise: aku belum bisa share karena belum ada waktu, hiks. Eits, klise bukan berarti nggak benar, lho. Aku memang benar-benar sibuk, dan sekarang, thank God, aku punya waktu untuk bercerita ;)
Suatu hari, sepulang aku kuliah langit tiba-tiba mendung. Karena jadwal pulang dimajukan, aku putuskan untuk ke restoran cepat saji depan kampus sambil menunggu dijemput. Aku nggak beli apa-apa, hanya duduk dan mengobrol dengan beberapa teman yang dengan baik hatinya menungguku dijemput. Tapi ternyata, setelah bermenit-menit menunggu Bapak nggak juga datang, tapi justru Bu Dewi, kepala koordinator kampus yang datang menghampiri. Katanya, beliau ada keperluan ke TK di cabang lain, tapi berhubung hujan mulai turun jadi memutuskan untuk berteduh dulu di sini. Nggak terasa hampir satu jam berlalu, beliau mentraktir kami es krim sambil mengobrol seru. Dan setelah lebih dari satu jam Bapak akhirnya datang. Hujan masih belum reda, jadi aku tawarkan Bu Dewi untuk ikut karena arah rumahku dan TK yang akan beliau kunjungi satu arah. Bu Dewi setuju dan kami pun menempuh perjalanan sambil menembus hujan yang semakin deras.
Tanpa rencana, sekali lagi, tanpa rencana. Setiba di TK aku ikut turun untuk mengantarkan Bu Dewi masuk. Di sana tenyata ada Bu Neni, kepala sekolah TK. Dan, tanpa basa-basi, beliau menawariku untuk menjadi guru pendamping di tempatnya! Aku kaget, tentu saja. Di kampus aku baru belajar selama 1 bulan lebih, dan untuk terjun langsung ke TK dibutuhkan waktu minimal 3 bulan perkuliahan. Tapi Bu Dewi menguatkanku untuk mencoba, katanya syarat 3 bulan itu memang ketentuan yayasannya, tapi kalau aku bisa kenapa nggak. Lagipula ada seorang guru di TK yang izin selama 10 hari untuk umroh, jadi mereka membutuhkan guru pengganti. Akhirnya, tanpa bertanya dulu pada Bapak aku mengiyakan. Satu-satunya yang menjadi keyakinan bahwa aku bisa adalah: I love kids, and I can deal with them (err, hope so, lol).
Artinya, begitu aku bangun dari tidur sudah masuk hari libur, hihihi. Siapa senang, ayo tunjuk jari :p
Di post-post sebelumnya aku sudah janji akan menceritakan tentang pekerjaan baruku, tapi seperti biasa, alasan klise: aku belum bisa share karena belum ada waktu, hiks. Eits, klise bukan berarti nggak benar, lho. Aku memang benar-benar sibuk, dan sekarang, thank God, aku punya waktu untuk bercerita ;)
Suatu hari, sepulang aku kuliah langit tiba-tiba mendung. Karena jadwal pulang dimajukan, aku putuskan untuk ke restoran cepat saji depan kampus sambil menunggu dijemput. Aku nggak beli apa-apa, hanya duduk dan mengobrol dengan beberapa teman yang dengan baik hatinya menungguku dijemput. Tapi ternyata, setelah bermenit-menit menunggu Bapak nggak juga datang, tapi justru Bu Dewi, kepala koordinator kampus yang datang menghampiri. Katanya, beliau ada keperluan ke TK di cabang lain, tapi berhubung hujan mulai turun jadi memutuskan untuk berteduh dulu di sini. Nggak terasa hampir satu jam berlalu, beliau mentraktir kami es krim sambil mengobrol seru. Dan setelah lebih dari satu jam Bapak akhirnya datang. Hujan masih belum reda, jadi aku tawarkan Bu Dewi untuk ikut karena arah rumahku dan TK yang akan beliau kunjungi satu arah. Bu Dewi setuju dan kami pun menempuh perjalanan sambil menembus hujan yang semakin deras.
Tanpa rencana, sekali lagi, tanpa rencana. Setiba di TK aku ikut turun untuk mengantarkan Bu Dewi masuk. Di sana tenyata ada Bu Neni, kepala sekolah TK. Dan, tanpa basa-basi, beliau menawariku untuk menjadi guru pendamping di tempatnya! Aku kaget, tentu saja. Di kampus aku baru belajar selama 1 bulan lebih, dan untuk terjun langsung ke TK dibutuhkan waktu minimal 3 bulan perkuliahan. Tapi Bu Dewi menguatkanku untuk mencoba, katanya syarat 3 bulan itu memang ketentuan yayasannya, tapi kalau aku bisa kenapa nggak. Lagipula ada seorang guru di TK yang izin selama 10 hari untuk umroh, jadi mereka membutuhkan guru pengganti. Akhirnya, tanpa bertanya dulu pada Bapak aku mengiyakan. Satu-satunya yang menjadi keyakinan bahwa aku bisa adalah: I love kids, and I can deal with them (err, hope so, lol).
![]() |
| OOTD: Headband: Bunga | Tea Time Dress by Toko Kecil Indi | Shoes: Nevada for kids |
Hari pertama di TK, I was really stunned. (-___- )#
Anak-anak melihatku dengan tertarik, tapi aku malah diam dan sesekali tersenyum. Waktu kepala sekolah memperkenalkanku mereka langsung ribut memanggil-manggilku. Tapi sayangnya bukan dengan namaku, tapi dengan nama-nama julukan yang ajaib. Ada yang memanggilku 'Miss Cherrybelle', ada juga yang memanggil 'Miss Barbie'. Aku ulang namaku sekali lagi tapi mereka nggak dengar dan tetap memanggilku dengan nama-nama dari imajinasi mereka sendiri. Aduh, sampai frustasi, hahaha...
Untunglah waktu di kelas keadaan lebih terkendali, aku bisa memperkenalkan diri dengan baik. Anak-anak juga mulai memanggilku dengan nama 'Miss Indi' (apalagi setelah mereka ditegur kepala sekolah karena memanggil seseorang dengan nama julukan, lol). Lama kelamaan aku mulai mengenali beberapa dari mereka. Ingat waktu aku mengisi event sebagai MC dan sedikit menari? Nah, ternyata beberapa anak di event itu ada di kelas ini. Bahkan anak yang waktu itu hobi sekali menggelayutiku juga ada di kelas ini! Ya, ampun.... hahaha :D Anak itu ternyata bernama Fadlan dan masih mengenaliku dengan baik. Katanya, "Miss, aku mau digendong lagi, boleh?". Aku pun menjawab, "Digendong cuma untuk bayi, kamu kan anak besar, bolehnya peluk". Dan ia pun memelukku dengan canggung. That was my first “aww” moment in kindergarten :')
Hari kedua aku sudah sedikit relax meski masih don't know what to do. Selama ini di kampus aku diajarkan teori dan sangat sedikit sekali praktek. Di teori nggak pernah disebutkan bahwa anak-anak TK ini akan muntah di pangkuanku atau ada yang belum sukses toilet training-nya. Aku meng-handle mereka sebisa mungkin dan mendapat bantuan dari guru-guru senior. Untunglah di TK ini setiap hari ditempel tema-tema yang akan dipelajari, jadi aku bisa mengikuti dengan baik dan mempersiapkan diri sebelum masuk kelas. Oya, di hari kedua sudah terlihat siapa saja anak-anak yang bisa langsung dekat denganku. Meski awalnya malu-malu (well, saling malu tepatnya karena aku juga masih malu, hihihi), tapi ada seorang anak perempuan manis yang setiap ketemu aku pasti minta sun tangan 2 kali. Katanya, "Tangan Miss wangi". Atau ada juga anak laki-laki yang sudah bisa ke toilet sendiri tapi untuk memakai celananya ia selalu bilang, "Aku mau sama Miss Indi saja!", hihihi. Ada juga anak-anak yang selalu minta dipeluk ketika berpapasan denganku, dan yang paling unik adalah... anak yang mendadak manja ketika dekat-dekat aku. Tangannya langsung dimasukan ke mulut dan minta dipangku (biasanya ini karena ia melihatku dekat dengan anak-anak playgroup), padahal ia sudah kelas TK B, lho! Tsk, tsk, tsk :D
Anak-anak melihatku dengan tertarik, tapi aku malah diam dan sesekali tersenyum. Waktu kepala sekolah memperkenalkanku mereka langsung ribut memanggil-manggilku. Tapi sayangnya bukan dengan namaku, tapi dengan nama-nama julukan yang ajaib. Ada yang memanggilku 'Miss Cherrybelle', ada juga yang memanggil 'Miss Barbie'. Aku ulang namaku sekali lagi tapi mereka nggak dengar dan tetap memanggilku dengan nama-nama dari imajinasi mereka sendiri. Aduh, sampai frustasi, hahaha...
Untunglah waktu di kelas keadaan lebih terkendali, aku bisa memperkenalkan diri dengan baik. Anak-anak juga mulai memanggilku dengan nama 'Miss Indi' (apalagi setelah mereka ditegur kepala sekolah karena memanggil seseorang dengan nama julukan, lol). Lama kelamaan aku mulai mengenali beberapa dari mereka. Ingat waktu aku mengisi event sebagai MC dan sedikit menari? Nah, ternyata beberapa anak di event itu ada di kelas ini. Bahkan anak yang waktu itu hobi sekali menggelayutiku juga ada di kelas ini! Ya, ampun.... hahaha :D Anak itu ternyata bernama Fadlan dan masih mengenaliku dengan baik. Katanya, "Miss, aku mau digendong lagi, boleh?". Aku pun menjawab, "Digendong cuma untuk bayi, kamu kan anak besar, bolehnya peluk". Dan ia pun memelukku dengan canggung. That was my first “aww” moment in kindergarten :')
Hari kedua aku sudah sedikit relax meski masih don't know what to do. Selama ini di kampus aku diajarkan teori dan sangat sedikit sekali praktek. Di teori nggak pernah disebutkan bahwa anak-anak TK ini akan muntah di pangkuanku atau ada yang belum sukses toilet training-nya. Aku meng-handle mereka sebisa mungkin dan mendapat bantuan dari guru-guru senior. Untunglah di TK ini setiap hari ditempel tema-tema yang akan dipelajari, jadi aku bisa mengikuti dengan baik dan mempersiapkan diri sebelum masuk kelas. Oya, di hari kedua sudah terlihat siapa saja anak-anak yang bisa langsung dekat denganku. Meski awalnya malu-malu (well, saling malu tepatnya karena aku juga masih malu, hihihi), tapi ada seorang anak perempuan manis yang setiap ketemu aku pasti minta sun tangan 2 kali. Katanya, "Tangan Miss wangi". Atau ada juga anak laki-laki yang sudah bisa ke toilet sendiri tapi untuk memakai celananya ia selalu bilang, "Aku mau sama Miss Indi saja!", hihihi. Ada juga anak-anak yang selalu minta dipeluk ketika berpapasan denganku, dan yang paling unik adalah... anak yang mendadak manja ketika dekat-dekat aku. Tangannya langsung dimasukan ke mulut dan minta dipangku (biasanya ini karena ia melihatku dekat dengan anak-anak playgroup), padahal ia sudah kelas TK B, lho! Tsk, tsk, tsk :D
![]() |
| Bag: Farrel |
Akhirnya diputuskan bahwa aku mengajar di playgroup saja bersama 2 orang guru lainnya. Jika aku mengajar anak-anak TK (terutama TK B) dikhawatirkan mereka lebih mengganggapku sebagai teman dibandingkan sebagai guru. Well, itu hal bagus sebenarnya, tapi mengajakku bermain ayunan atau berbagi bekal? Haha, lebih baik aku menjaga jarak dulu dengan mereka sampai mereka mengerti bahwa aku hanya bisa diajak bermain ketika jam pelajaran selesai.
Sekarang sudah memasuki minggu ketiga aku mengajar. Meski statusku sebagai guru pendamping, tapi itu cukup membuat aku mengenal karakter dari masing-masing anak. Hari-hariku kadang lancar, dan kadang-kadang diwarnai insiden-insiden kecil khas anak-anak. Tapi semuanya menyenangkan karena aku menikmatinya. Dan semenjak aku di playgroup (untuk TK A dan B aku khusus mengajar kelas komputer), berkompromi dengan mereka tentu saja berbeda dengan cara menghadapi anak-anak usia TK. Peran sebagai guru pun kadang merangkap sebagai helper mereka, karena ada yang masih kesulitan memegang sendok atau malah memegang krayon. Proses adaptasinya juga lebih lama dibandingkan dengan anak-anak di TK, karena mereka cenderung takut ketika berhadapan dengan orang baru. Tapi syukurlah, sekarang aku sudah bisa akrab dengan mereka. Dan yang terpenting mereka merasa aman dekat denganku. Ketika ada seorang anak yang bicaranya belum jelas dan bertanya pada guru lain, "Miss Indi ke mana?", itu adalah penghargaan terbesar yang aku terima, rasanya bahkan lebih menyenangkan dibandingkan dengan menerima es krim dari tangan John Frusciante langsung! :D (ehm, aku belum pernah mengalami, sih, tapi aku yakin es krim dari John nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan wajah-wajah manis anak-anak ini, hihi).
Banyak yang bertanya pada gue (termasuk kepala sekolah, keluarga dan banyaaaak yang lainnya) kenapa aku ingin jadi guru TK, padahal aku memiliki gelar S1 dari jurusan Hubungan Internasional dengan IPK yang memuaskan dan aku bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih menjanjikan dan, tentu saja gaji yang lebih besar. Alasannya cuma satu: karena itu cita-citaku sejak lama. Aku selalu yakin bahwa tujuan dari cita-cita adalah untuk dicapai, bukannya diganti ketika dewasa. Dan selama itu baik, bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, ya kenapa nggak :) Sama seperti menulis yang sudah menjadi hobiku sejak kecil, ketika akhirnya bisa menjadi penulis sungguhan, aku merasa sangat senang dan sukses karena bisa mewujudkan cita-cita. Aku melakukannya dengan sepenuh hati dan bahagia. Begitu juga dengan menjadi guru, ini yang aku sukai dan ini yang aku inginkan. Penghasilan memang penting, tapi itu bukan yang utama. Aku masih punya pekerjaan lain sebagai penulis dan fashion designer untuk online shopku. Nggak banyak, tapi yang terpenting masih ada lebihnya untuk menabung. Dan seperti yang kubilang sebelumnya, menerima banyak pelukan, banyak ciuman dan banyak sapaan hangat dari anak-anak merupakan penghargaan yang nggak bisa ditukar dengan uang. Itu terlalu berharga! :)
hug and kiss,
Miss. Indi :D
hug and kiss,
Miss. Indi :D
__________________________________________
Dan, ada kabar baik yang menyenangkan. Aku masuk sebagai salah satu dari 365 anak muda yang berpengaruh di Indonesia versi Adalahkita.com. Aku nggak bisa bilang apa-apa lagi selain, terima kasih, thank God, dan semoga aku bisa berkarya lebih baik lagi. (Bisa aku minta 'amen' dari kalian? :) ).
Cek web-nya di sini.
Cek web-nya di sini.



















































