Selasa, 02 Agustus 2011

Review: Rumah Makan OLAN-OLAN :)



Wah, sekarang sudah masuk bulan puasa ya? Gimana puasanya teman-teman bloggers? Sudah ada yang bolong? Mudah-mudahan belum, ya, hihihi. Sekalian, aku mau ucapin selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang Muslim dan mohon maafkan kalau aku ada kesalahan selama ini :)


Tanggal 31 Juli lalu aku diundang ke RM. Olan-Olan. Rumah Makan ini termasuk baru di Bandung karena baru terbuka untuk umum tanggal 22 Juli lalu. So, aku jadi orang yang beruntung dong karena berkesempatan untuk icip-icip di sana, hihihihi. Makanya aku semangat banget, jam 2 siang sudah mandi meski undangannya jam 4 sore :p
Aku pergi diantar Ray. Jarak rumahku ke RM. Olan-Olan lumayan jauh, sepanjang perjalanan perutku sudah sibuk bernyanyi, padahal aku belum bisa bayangin lho mau makan apa disana :D

Jam 4 lewat sedikit kami akhirnya sampai. Nggak perlu pakai muter-muter dulu di jln. Juanda (yang luas banget itu) karena tempatnya gampang dicari. Rumah Makannya catchy banget, sih, warnanya orange menyala dengan tulisan "OLAN-OLAN" yang berwarna hitam. Buatku ini sebuah poin bagus, soalnya aku sering bosan duluan kalau harus cari-cari tempat yang dimaksud. Kalau begini kan mood makan jadi terjaga :)





"Wah, ini rumah makan iga ya ternyata...". itu yang ada di benakku waktu lihat banner di pintu masuk. Sempet dag-dig-dug nggak karuan nih, soalnya aku kan vegetarian. Masa iya nanti aku bakal icip-icip bumbunya doang ditemani nasi putih, hiks. Tapi ternyata menu di sini beragam, aku sampai bingung waktu ditawari banyak pilihan menu (ih, serba salah deh si Indi, banyak menu masih bingung, nggak ada pilihan protes, lol). Akhirnya aku pilih Tomyam tanpa iga, Kangkung Cah bawang putih (non spicy), Tahu Pletok dan Cendol Elizabeth Premium. Rakus ya gue? Biarin! Suruh siapa menunya banyak yang menggiurkan, hehehe.

Menu yang pertama datang itu "Tomyam tanpa iga". Sebetulnya menu untuk 2 orang ini aslinya isinya macam-macam, ada udang, segala macam seafood, jamur dan daging-dagingan segala. Tapi aku pesan yang polos saja.
Kesan pertama waktu lihat tampilannya, aku pikir banyak banget ya... Aku nggak yakin 2 orang bisa habisin semua. Tapi waktu aku cium aromanya, hmm, harum banget! Aku langsung yakin kalau bisa makan banyak, dan setelah aku makan suapan pertama, yumm! Kayaknya aku sanggup habisin sampai tetes kuah terakhir, deh! Lol. Ray sampai bilang aku mirip Eris yang lagi begging minta makan. Tahu siapa Eris? She's my dog. Dasar Ray! Hihihi...
Tom yam ini bumbunya pas banget di lidah, gak terlalu asam dan pedas, tapi cukup gurih sampai pengen lagi dan lagi. Olan-Olan juga nggak pelit kasih "isian" tom yam, lho. Banyaknya nggak nanggung! :)



Tom yam tanpa iga.


Sampai merem-melek saking enaknya :D


Yang kedua datang dan yang paling ditunggu-tunggu adalah "Tahu Pletok". I'm a fans of all kinds of  'tahu gaul', hahahaha. Hampir tiap jalan ke mall aku sering jajan yang kayak begini. Eh, tapi yang ini beda lho. Tampilannya lebih 'kinclong' dibandingkan tahu-tahu gaul yang lain. Tepungnya juga keliatan rapi dan waktu digigit dalamnya kering dan lembut. Beda banget dengan yang sering aku makan. Biasanya kan ada sisa-sisa minyak gitu di dalamnya (eww). Saking bersihnya, aku sampai keluarin pernyataan bodoh, "Ini minyaknya diserap pakai tisu, ya?", yang langsung dijawab "Nggak" sama ownernya, hihihihi, silly me!
Oya, "Tahu Pletok" ini punya 3 pilihan saus: simadu (manis), pedas dan berbeque. Gue pilih barbeque soalnya nggak terlalu suka pedas dan bosan sama rasa manis. Dan ternyata aku nggak salah pilih, rasanya enak banget! The best Tahu Pletok (--or tahu gaul--) ever, lah! Hehehe...


Tahu pletok saus BBQ.



Nah, "Kangkung Cah" jadi menu yang terakhir. Jujur saja, perutku sudah mulai kekenyangan soalnya sudah habisin 1 piring tahu pletok dan bermangkuk-mangkuk tomyam! Tapi aku pikir sayang kan kalau sudah jauh-jauh ke sini tapi nggak icip-icip semua... Apalagi kangkungnya kelihatan "menggiurkan" banget. Hijau dan fresh, kontras dengan piring orange'nya, hihihi. Waktu suapan pertama masuk ke mulutku, rasanya "gampang" banget, soalnya kangkungnya tetep "kriuk" meski kerendam kuah. Maklumlah aku paling jengkel kalau makan kangkung yang tiba-tiba lembek, pas dikunyah tahu-tahu nyangkut di tenggorokan. Ganggu banget! (Ah, siapa sih yang nggak terganggu dengan itu? Lol).
Pokoknya salut banget dengan juru masaknya Olan-Olan, meski aku makannya lamaaaa banget (saking menikmatinya), tapi rasa kangkung dan teksturnya nggak berubah meski sudah dingin. Hebat! :D


Kangkung cah bawang putih.




Akhirnya ludes juga 3 menu makanan ditambah 2 gelas cendol di hadapanku dan Ray. Begini nih yang namanya makan puas, sudah kenyang, enak lagi. Bukan kenyang gara-gara terpaksa, hehehe. Apalagi waktu kami tahu bahwa untuk mendapatkan menu-menu seenak ini nggak perlu merogoh dompet sampai jebol! Hihihi...
Ini dia detailnya:
- Tom Yam tanpa iga porsi 2 orang: Rp. 22. 000.
- Tahu Pletok saus BBQ: Rp. 5.000.
- Kangkung Cah Bawang Putih: Rp. 5.000.
- Cendol Elizabeth Premium: Rp. 4.000.



Menunya!



Tuh, betulan hemat, kan? :) Oya, daritadi kok ngomongin menu non daging terus ya? (vegetarian egois ya aku, hehehe). Di sini juga ada menu lain (yang aku yakin) nggak kalah yummynya, seperti "Iga Bakar dengan 3 pilihan saus" (Rp. 18.000), "Mie Tek-tek Telur+Ayam" (Rp. 12.000), "Nasi Ayam Cah Jamur" (Rp. 9.000), "Iga Goreng Tepung Super JUMBO" (Rp. 27.000)" dan masih banyaaaaaaaaaak lainnya! :)


Nasgor seafood geremes.

Iga bakar saus simadu.


Istimewanya lagi, selama bulan puasa ada paket-paket hemat dengan tajil gratis, lho! Jadi buat teman-teman yang berpuasa nggak perlu bingung lagi untuk berbuka puasa di mana, kan :)
Oya, poin plus lagi nih buat Olan-Olan, servis di sini cepat banget, juru masaknya betul-betul profesional jadi kita nggak perlu nunggu bermenit-menit untuk 1 menu makanan/minuman. Tempatnya juga bersih, dan bocoran dari ownernya nih, iga yang dipakai selalu terjamin karena masih segar, begitu juga dengan daging ayamnya yang pejantan asli!
Gue betul-betul puas dengan RM. Olan-Olan, they're deserve 5 out of 5 stars, deh! (Ketauan banget aku kebanyakan baca review film, hehehe). Pokoknya terima kasih sudah mengundangku (dan Ray) ke sini dan menjamuku layaknya tuan puteri kekenyangan. Bener-bener sesuai deh dengan slogan Olan-Olan, "Kepuasan Anda, Kebahagiaan Kami" :D




Rumah Makan OLAN-OLAN
Jl. Ir. H. Djuanda no. 244 – Bandung
Buka pukul 10.00-24.00, kecuali selama bulan puasa buka pukul 16.00-02.00 (Libur hari Senin).
Reservasi dan delivery order: 022 – 9143.8152 (Ipey)
More Info about the restaurant, click HERE.

Kamis, 28 Juli 2011

I welcome Sponsorship on My Blog! :D










I welcome sponsorship on my blog!





Bentuk sponsor ada dua pilihan:

1. Sponsored Item/Review

Jika anda memiliki toko, produk atau jasa dan ingin saya mengiklankannya di blog saya, anda dapat mengirimkan produk anda dan saya akan mereview'nya di blog saya. Review akan bertahan di post selama 1 minggu sebelum post berikutnya.


2. Sponsored Giveaway

Saya akan membuat giveway (kuis) dengan produk anda sebagai hadiahnya.


(Saya menerima produk makanan plant based, kecantikan/kosmetik/salon cruelty free, gadgets dan semua produk fashion KECUALI pakaian yang serupa/sejenis dengan Toko Kecil Indi).


Kelebihan menjadi sponsor di blog saya:

- Blog saya dikunjungi oleh ribuan pengunjung.

- Blog saya memiliki +500 followers hanya dalam hitungan bulan.

- Blog saya sering mendapatkan award dan direview oleh blogger lain.

- Blog saya sering dipromosikan di acara TV, majalah, fans page (dengan jumlah +20.000 orang fans) dan twitter (dengan jumlah +1.000 orang followers)

- IT'S AFFORDABLE AND EFFECTIVE!


Tarif:

Anda memberikan produk atau jasa kepada saya termasuk akomodasi (jika ada tempat yang harus dikunjungi).
Jika produk tidak memungkinkan untuk dikirim/tempat tidak memungkinkan untuk dikunjungi, anda dikenakan tarif Rp.50.000 untuk satu minggu penuh.


Jika tertarik silakan email saya di namaku_indikecil@yahoo.com.


Indi

Selasa, 26 Juli 2011

Dork is a New Cool (and "Hello Stranger" Photoshoot with My Brother) :D

Waktu kecil sampai awal remaja, aku sering dipanggil si kutu-buku, geek, nerd bahkan dork. Semua panggilan itu datang berkat penampilanku yang berkaca mata tebal dan berback-brace. Bayangkan saja sejak masih SD mataku sudah minus dan semakin bertambah parah beberapa tahun kemudian (sampai sekarang). Dan di waktu aku SMP "aksesoris" ku nambah lagi karena aku divonis scoliosis. I wore a back brace throughout my teenage years. Am I a nerd?


Nerd. n Slang: unattractive person (Free Dictionary by Farlex).


Dengan penampilan seperti itu (dulu) aku sering dianggap lemah. Berteman denganku dianggap "kurang keren" dan nggak asyik untuk diajak hangout. Gue ingat waktu SMP ada sekelompok anak perempuan yang berpendapat bahwa aku nggak menarik. Salah satu dari mereka pernah bilang kalau aku mungkin nggak akan pernah punya pacar. Laki-laki suka perempuan yang seksi dan menarik. Bukan yang wajahnya hampir nggak kelihatan karena terlalu banyak "aksesoris". Begitu.
Waktu itu aku pikir, bagaimana mereka mengerti soal seksi dan apa yang disukai laki-laki? Seriously, they're only 13...

Bukannya aku nggak peduli, aku juga terkadang nangis dan mengadu sama Ibu. Tapi nggak sering karena meski Ibu pernah remaja (of course! Hehe), aku yakin situasi sekarang pasti berbeda dengan dulu. Aku lebih nyaman cerita sama buku harian dan sometimes I cried until I fell asleep, berharap besok lebih baik.
I don't know what's wrong with me. I love myself, aku nggak pernah membenci apapun dari diriku. Aku bahkan suka kaca mata dan braceku. Aku baru tahu artinya "minder" setelah ada yang mengejek habis-habisan. Di luar itu, ya aku nyaman.

Aku terus berkaca mata sampai kelas 3 SMA. Semakin tebal tetapi semakin percaya diri. Aku duduk satu bangku dengan Dhian, perempuan yang juga berkaca mata ---note this--- tebal. Tanpa sadar kami membuat satu sama lain lebih kuat. Waktu SMP aku selalu takut untuk pergi ke perpustakaan meski sebetulnya itu tempat kesukaanku. Tapi di SMA aku nggak perlu takut diganggu kakak kelas "seksi" (yes, seksi dalam tanda kutip dalam artian minim --pakaian dan cara berpikirnya--, they're shallow, sorry) karena Dhian selalu bersamaku. Kami, dua kutu buku pun akhirnya bertambah menjadi 3, lalu 4 orang dan seterusnya, karena rupanya ada beberapa murid yang hampir sama dengan kami: berpenampilan "berbeda", lebih suka ke perpustakaan daripada ke kantin tapi sayangnya takut untuk menunjukan siapa diri sendiri.


Terkadang mereka harus pura-pura menjadi sama supaya aman dari ejekan dan "label-label" dangkal dari teman-teman sekolah. Mereka bahkan harus menolak "ranking" karena nggak mau itu jadi "masalah"...


Aku rasa kata "berbeda" artinya tergantung dari sudut pandang orang yang mengatakan. Bagi seorang yang besar dari keluarga yang mempunyai kebiasaan makan di meja, makan di lantai atau lesehan akan dikatakan berbeda. Padahal begitu pula bagi yang terbiasa lesehan: orang yang terbiasa makan di meja itu berbeda.
Aku nggak suka kalau harus membenci sesuatu/sesorang dengan alasan "berbeda", malah deep inside aku juga berharap orang-orang yang mengganggapku berbeda dan mempermasalahkannya akan berhenti dan sadar bahwa kami bisa berteman.

Menjadi bangga itu kan hak semua orang. Bangga dengan pakaian seksi dan kemampuan hangout 24 jam boleh saja, nggak perlu menghina yang nggak "begitu". Begitu juga menjadi kutu buku, atau yang biasa kakak kelas-kakak kelas gue sebut dengan geek, dork atau nerd (meski sebetulnya ketiga kata itu mempunyai perbedaan arti. I read the dictionary, lol), tentu saja boleh bangga dan "berbaur" dengan seluruh penghuni dunia.
Love your self, nggak ada salahnya menjadi diri sendiri selama itu nggak menyakiti.

Hari ini aku nggak berkaca mata karena digantikan lensa kontak. Aku juga sudah 3 kali diundang ke acara fashion di TV untuk menjadi pembicara. Aku sekarang jadi fashion designer. Ya, I‘m so proud :) Tapi aku masih orang yang sama dengan yang dulu dipanggil... "you know what" (terlalu banyak pengulangan kalau disebutkan satu persatu lagi, hehe). Aku bangga menjadi diriku apa adanya. Aku nggak menyesal ataupun 'malu' karena dulu aku nggak populer dan sering jadi korban "ejekan". This is me, and I think “they” should also be proud to be themselves, so they can stop making fun of other people :)

Sekarang banyak yang nggak percaya kalau aku dulu berkaca mata dan berback brace. Well, the scoliosis is still here (sampai selamanya), tapi tulangku berhenti tumbuh jadi kemungkinan kalian nggak akan lihat aku pakai brace lagi (amen...). Tapi aku masih berkaca mata untuk beberapa kesempatan, seperti hari ini. Aku dan Puja (my brother) do some silly photoshoot dengan tema "Hello Stranger". These glasses are real. Aku minus 4 dan Puja minus 1 (ya, kami beruntung bisa dapat kaca mata yang stylish, lol). Ini dia, I hope you enjoy it! :)

Red roses dress by Toko Kecil Indi.



Versi “cover” dari poster filmnya, lol.




Gesture yang sering nampak di Hello Stranger. Di sana diceritakan kalau yang begini itu alay, bukan sweet, lol.



Patung ini ternyata ada betulan, heran, hahahaha.





Dork: someone who does things that are kinda silly and not neccessarily cool but always cute (Urban Dictionary.






Hello Stranger quick review: Dua orang asing bertemu waktu menjadi turis di Korea. Film ini banyak sindiran mengenai betapa "meng-Korea"nya manusia sekarang sampai-sampai lupa dengan budaya sendiri. Padahal budaya Korea juga belum tentu pantas dengan negara lain. Malah akan terasa "silly" seperti foto-foto diatas. (movie, 2010).

Senin, 18 Juli 2011

"Inspiration Award" and Show Me Your Room! :D


Waaah, senang rasanya selama 2 bulan ini aku dapat banyak award :D Lebih senang lagi award'nya macam-macam, nggak melulu soal fashion. Seperti kali ini aku dapat "Inspiration award" dari Dina dan Dici (punya Dici desain awardnya sendiri, lho. Cute ya?). Betul-betul nggak nyangka, soalnya aku masih "segini-segini" saja, belum bisa memberikan banyak hal untuk diri sendiri apalagi teman-teman disini (apalagi sama dunia coba. Nah, lho! Lol). Makanya aku bingung, sebelah mana menginspirasinya, ya?... Meski begitu aku ucapkan terima kasih banyak-banyak untuk Dina dan Dici yang berbaik hati memberikan award ini. It means so much to me, girls! Semoga saja award kalian ini "doa" supaya aku bisa berkarya lebih baik lagi ya. Amen...

Nah, berhubung awardnya soalnya menginspirasi (haduh selalu nggak enak setiap mengucapkan --ngetik-- kata ini T__T ), aku mau tunjukin kamarku yang siapa tahu (mudah-mudahan, ya... Hehehe) bisa menginspirasi teman-teman blogger. Aku mungkin nggak punya prestasi yang hebat, tapi rasanya ada yang patut dibanggakan dari aku: I'm a tidy girl! Iya, meski kamarku sempit dan nggak punya perabot bagus, aku selalu mengusahakan supaya rapi dan bersih. Soalnya kamar itu tempatku beristirahat setelah seharian berkegiatan. Bukan itu saja, karena aku masih tinggal sama ortu, kamar itu kadang terasa seperti "rumah kecil" :)

Tempat aku menonton film.


Dua foot warmer favorit untuk di kamar :)


















So, what do you think guys, am I tidy enough? :D Mudah-mudahan ini bisa menginspirasi kalian untuk beres-beres kamar setiap hari ya, hihihihi.
Oh, iya hampir lupa. Inspiration award ini juga mau aku kasih sama teman-teman yang sudah menginspirasiku, yaitu: Amel, Gaphe, Grace, Fitria. Pajang award'nya di blog masing-masing yaaa. Terserah mau ambil award yang dari Dina atau Dici, hihihi. Dan jangan lupa.... SHOW ME YOUR ROOM, guys! :D



hugskisses,
INDI



Special thanks untuk Dita, thanks sudah kasih "keberanian" untuk ubah "award rules", lol. *kiss-kiss*


Jumat, 15 Juli 2011

Pelajaran Baru :)

It's weekend already? Ya, ampuuun... Nggak terasa ya teman-teman blogger sekarang sudah akhir minggu lagi! :D So how's your weekdays going? Aku harap fun and fine, ya... Aku sendiri berjalan seperti biasa, masih dengan kerjaan yang sama, kesibukan yang sama, kesantaian (ini betul nggak sih dalam Bahasa Indonesia? Lol) yang sama, juga ke'asyik'an yang sama. So far so good :)

Sekarang aku mau cerita soal kemarin, tepatnya hari Kamis tanggal 14 Juli lalu. Jadi sejak 2 bulan lalu aku ganti tempat terapi (aku mengidap scoliosis 55 derajat). Yang tadinya di Canadian Chiropractic jadi di Japanese Chiropractic. Alasannya sih sederhana, aku ingin terapi yang lebih ringan (It was so tiring, badly...) tapi dengan hasil yang optimal. Akhirnya setelah googling sana-sini dan dapet rekomendasi dari salah satu acara TV, aku memutuskan untuk mencoba Japanese Chiropractic. Dan seperti biasa, aku kemarin diantar Bapak untuk terapi. Di perjalanan aku mau dengar CD, tapi tanpa sengaja yang menyala malah DVD player. Heran, siapa yang masukin DVD kesini, apalagi ini DVD film "Hachiko"... Waktu aku tanya Bapak, katanya tadi pagi ada yang servis DVD player mobil, nah waktu Bapak diminta cobain sudah betul atau belum, secara random Bapak ambil DVD "Hachiko"! Duh, duh... padahal aku mencoba hindari film ini, soalnya meski sudah 3 kali nonton tetap saja nangisnya sampai banjir, huhuhu...

Terpaksa aku dan Bapak nonton Hachiko sepanjang perjalanan yang lumayan jauh (baca: Bapak curi-curi nonton karena sambil nyetir, hahaha), soalnya kotak CD tertinggal di garasi dan film ini cuma satu-satunya yang ada di mobil. Lama-lama kami menikmati juga, ya kami coba lihat sisi baiknya saja, seenggaknya versi Richard Gere ini nggak se "menyiksa" versi Jepang (aku trauma 3 hari 3 malam gara-gara film itu, inget terus sama si Veggie anjingku yang ada di surga, hiks...), lol. Bapak bilang, beliau kagum sekali dengan si Hachi, soalnya selain bisa melindungi tuannya dia juga anjing yang loyal. Aku sih cuma manggut-manggut saja. Setuju, juga nahan senyum teringat Eris, adiknya Veggie yang loyal tapi sayangnya penakut, hihihi.


Hachi lagi tiduran gara-gara ditinggal tuannya pergi, hiks.


Japanese Chiropractic di Jl. Cihampelas Bandung.



Nggak terasa perjalanan satu jam selesai juga, kami sampai di tempat terapi dengan tepat waktu (terlambat 10 menit, sih, tapi nggak apa, lol). Aku keluar mobil dengan sedikit malu-malu, pasalnya ini percobaan pertama aku pakai dress dipadukan dengan kaos kaki, hihihi. Sebetulnya aku nggak maksud eksperimen, sih. Tapi di tempat terapi ini memang diwajibkan pakai kaos kaki supaya mempermudah sesi terapi. Aku sempat ngaca sebentar di spion mobil, dress Greeny  Day dipadukan dengan kaos kaki hadiah dari Ray (khusus dalam rangka "selamat terapi di tempat baru", lho) ternyata OK juga. Ini juga didukung dengan komentar Bapak yang bilang, "Bagus, kok" begitu melihat wajah pede nggak pedeku, hehehe :D


Dress Greeny Day dari Toko Kecil Indi.





Terapisku ini orang Indonesia, btw. Iya, lokal nggak seperti kebanyakan chiropractor yang biasanya "impor", lol. Tapi tetap dia kuliah chiropractic di Jepang, bukan abal-abal karena di ruang prakteknya tergantung ijasah diploma, hehehe.
Kali ini sesi terapi nggak berjalan seperti biasanya, kami banyak sekali mengobrol. Aku bercerita kalau di perjalanan kami menonton "Hachiko" lagi untuk keempat kalinya. Dari situ dengan cepat cerita berkembang, terapisku menceritakan pengalamannya selama bertahun-tahun di Jepang. Di sana, dia hidup sangat sederhana karena menjadi satu-satunya mahasiswa yang berasal dari Indonesia. Jangankan keluarga, teman satu negarapun nggak ada yang bisa "membantunya" di sana. Suatu hari, terapisku bertemu dengan anjing Akita yang sangat besar (Akita itu jenis anjing seperti Hachiko), meski dia tahu bahwa Akita adalah anjing yang bertempramen nggak begitu baik (they’re not a family dog seperti Golden Retriever, dll), tapi dia penasaran dan mencoba memanggilnya. Ternyata seiring berjalannya waktu mereka mulai bersahabat, malah pemilik anjing Akita tersebut mengizinkan terapisku untuk membawanya pulang dan memeliharanya. Sayang, karena keterbatasan tempat dan biaya untuk makan (anjing sebesar itu butuh 4 cup dog food perhari sepertinya, hehehe) dia pun menolak untuk mengadopsinya.

Aku selama ini nggak pernah tertarik dengan Jepang, menurutku, aku belum terlalu mengenal negara sendiri jadi buat apa aku mempelajari negara lain? Aku sudah cukup puas menjadi warga negara Indonesia meskipun nggak tulen-tulen amat (yes, my grandma has Chinese blood, that’s why my skin is so pale and my eyes are so small, lol). Pengetahuanku tentang Jepang cuma satu: di sana ada sekelompok orang yang suka cosplay dan aku BENCI kalau terus-terusan ditanya, "Kamu suka cosplay, ya?" cuma gara-gara aku sering pakai dress+stocking (baru tahu aku kalau Ksatria Baja Hitam suka pakai kostum kayak aku, hahaha).
Tapi ternyata dengan mengenal aku bisa belajar. Contoh sederhananya saja Hachiko, aku jadi bisa belajar soal kesetiaan. Well, mungkin kalian pikir setiap anjing itu loyal, they will do anything for her/his man, gitu kan? Eits, ini Akita lho! Ada yang tahu tempramennya? Please googling dulu dan kalian akan surprise betapa "manis"nya si Hachiko ini dibanding teman-teman satu rasnya. Ternyata Akita yang sebegitu kerasnya juga bisa turunin egonya demi tuan tersayang. Kenapa kita yang manusia nggak bisa seperti dia? :)

Cerita berlanjut ke soalnya lain, masih inget aku sempat (sering, ding! Lol) mengeluhkan tentang minimnya fasilitas difabel di Indonesia? Nah, terapisku cerita kalau di Jepang banyak sekali aturan "nggak tertulis" yang memudahkan para difabel (different ability people, iya, termasuk aku). Jadi di stasiun kereta (asik amat ya di Shibuya ada patung Hachiko, mau dong difotoooo) di sana ada banyak eskalator, nah secara nggak tertulis masyarakat di sana sudah bikin aturan kalau pegangan sebelah kiri berlaku untuk orang-orang yang lagi nggak terburu-buru (hanya berdiri diam di atas eskalator), nah pegangan yang kanan khusus untuk orang-orang yang memang memutuskan berjalan meski di atas eskalator. Keren, kan? Jadi nggak akan ada lagi yang "tabrakan" dan yang nggak bisa jalan cepat nggak perlu merasa "diteror" dari belakang (pengalaman pribadi aku ini mah, hahaha). Sederhana, tapi efektif. Padahal kalau Indonesia niat, mudah banget kan menirunya? Ayok ditiru (dimulai dari aku, semoga nggak ada yang protes dan teriak "Woi, minggir-minggir" dari belakang).
Hebatnya lagi, eskalator tangganya bisa berubah jadi flat, lho (itu kayak yang di mall-mall, hehehe). Jadi kalau ada berkursi roda mau lewat situ, operator tinggal pencet 1 tombol dan tadaaaa, eskalator seketika bisa jadi wheelchair access! :D Kalau sudah gitu, konon katanya orang lain yang kakinya masih sehat pasti langsung pindah ke tangga tanpa dikomando. Waw, hebat! Disiplin dan toleransi sekali ya :)

Keasyikan cerita, sesi terapi yang harusnya memakan waktu 2 jam ini pun melar jadi 3 jam, hihihi. Tapi ini nggak masalah karena aku pasien terakhir. Masih banyak sebetulnya cerita yang terapisku bagi soal Jepang (soal pasar tradisionalnya, tempat potong rambutnya, kampusnya, dll), tapi dua cerita ini saja aku rasa sudah cukup "menjelaskan" kenapa aku bisa belajar sesuatu dari mengenal. Aku rasa inilah yang disebut open minded. 

Kita jangan menjudge sesuatu sebelum mengenal terlebih dahulu. Kita harus coba meluangkan waktu sebentaaaar saja untuk berkenalan dengan sesuatu atau at least mengintip karena dari situ kita dapat belajar.

Seperti sesi terapi kali ini, siapa yang sangka dari terapi rutin ini aku bisa mendapat ilmu baru? *wink*



nb: Ada yang pernah perhatikan nggak kalau snack Tao Kae Noi (nori alias rumput laut) ini unik banget? Dari namanya memang Hokkien abis, tapi bahan-bahannya dari Jepang (nori kan ada di hampir semua masakan Jepang) tapi produksinya di Thailand! Hahaha, just found out. Ternyata selama ini aku sering makan tanpa baca kemasannya :D

sweetest smile,

INDI



do not copy any design by toko kecil indi. thanks :)

Senin, 11 Juli 2011

Go to Bed Early. Good Night, Pals :)







Hari ini aku masuk ke dalam 'Neverland' lebih awal.
Neverland, itu adalah nama untuk kamar tidurku.

Biasanya aku baru naik ke atas tempat tidur di atas jam 11 malam, tapi malam ini berbeda, aku mau istirahat lebih awal supaya bisa bangun lebih awal.

Besok aku akan masuk kelas bahasa Inggris lagi setelah 1,5 bulan cuti. Aku nggak punya clue siapa saja teman sekelasku sekarang.
Bit nervous, tapi aku percaya istirahat lebih awal membuat aku lebih tenang :)






So... wish me luck, guys! Good night...





nb: aku suka lihat langit-langit kamarku sampai terlelap. They're glow in the dark dan punya keajaiban mengantarkanku ke mimpi indah. Ke Neverland sesungguhnya...

sweetest lullaby,
INDI