Minggu, 16 Juli 2023

Ketika Woody, Jessie, Buzz dan Little Green Man Masuk Rumah Hantu :D

Ah, akhirnya bisa kembali lagi menulis di blog ini :'D Nggak, aku nggak malas nulis, lupa password atau kehilangan laptop, kok. Tapi kemarin-kemarin aku dan Shane sedang proses pindah rumah dan laptopku KETINGGALAN di rumah lama! Ahahaha, entahlah kenapa bisa kelupaan, ---dua-duanya pula, laptopku dan laptop Shane. Padahal pekerjaan kami lumayan bergantung sama laptop :') Untungnya selama proses pindah kami tinggal di rumah ortuku, jadi tetap punya akses internet untuk pekerjaan kami meski jadi menggunakan handphone :) 

Kepindahan kami memang mendadak, hanya diputuskan dalam beberapa minggu saja tapi kami sepakat kalau alasannya sangat masuk akal. Tiga bulan setelah menikah kami memutuskan untuk membeli satu unit apartemen, dan sampai (hampir) 4 tahun pernikahan kami tinggal di sana. Meski mungil tapi kami betah dan bahagia di sana. Kami mendapatkan privasi dan kemudahan akses ke tempat dan fasilitas yang kami butuhkan. Intinya, rumah lama kami nyaris sempurna. Lalu kenapa kami memutuskan pindah? Karena sadar kalau dengan tinggal di rumah tapak, yang masih di kota yang sama, bisa lebih hemat dan kami bisa punya lebih banyak space. Jujur, kepergian Eris, anjingku bulan Maret 2022 lalu, bikin mentalku terguncang. Hampir tiap malam aku menangis dan terus menyalahkan diri sendiri kenapa malah tinggal di apartemen sementara Eris perlu tempat yang luas. Seandainya saja sejak awal aku dan Shane tinggal di rumah tapak, aku bisa di samping Eris ketika ia pergi... Kepindahan kami memang nggak bisa mengembalikan Eris, tapi kurasa ini cara membuka lembaran baru yang baik; untuk kesehatan mentalku dan juga Shane, ---di tempat luas dan berjauhan dengan tetangga aku yakin ia bisa leluasa dalam proses membuat musik.


Kami tinggal di rumah ortuku selama kurang lebih 4 bulan. Selama itu pula kami menyicil renovasi tempat tinggal baru dan membawa barang-barang dari apartemen (yang somehow kelupaan melulu untuk membawa laptop, hahaha). Perasaanku campur aduk, di satu sisi happy banget bisa dekat-dekat dengan Ibu, Bapak, juga Ali, tapi di sisi lain ada perasaan rindu bisa berdua saja dengan Shane. Apalagi ada moment-moment yang biasanya dirayakan dengan 'cara kami' jadi harus disesuaikan kembali karena sedang nggak tinggal di rumah sendiri. Tapi kami nggak anggap ini big deal sih, aku dan Shane sadar betul kalau situasi ini hanya sementara, jadi better enjoy saja jadi 'bayi-bayi' Ibu dan Bapak selama kami tinggal di rumah mereka :p


Penyesuaian juga kami lakukan di moment anniversary pernikahan dan Halloween. Tahun kemarin kami nggak menginap di hotel atau makan di restoran, tapi cukup dengan delivery order saja untuk makan bersama Ibu, Bapak dan Ali. Rasanya gimanaa gitu kalau kami harus bersenang-senang di luar. Meskipun Ibu dan Bapak pasti nggak keberatan dan malah ikut senang, tapi rasanya tetap stay di rumah jadi keputusan lebih bijak :) Begitu juga dengan Halloween, meskipun sudah pasti diizinkan untuk mendekor rumah (---kan dulu sebelum menikah juga begitu, hehe), tapi aku dan Shane lebih memilih untuk merayakannya di luar saja supaya rumah nggak berantakan. Dengan mengajak mereka tentunya, lengkap dengan membelikan kostum bertema sama supaya kompak, hehehe.


Foto Halloween kami yang sayangnya tanpa Ibu :')


Setelah tahun sebelumnya aku dan Shane memakai kostum Squid Game, ---yang mana kurang family friendly (serialnya maksudnya, kostumnya sih biasa saja), Halloween tahun 2022 kami putuskan untuk mengambil tema yang netral. Toy Story! Karena semua orang suka, termasuk Ibu dan Bapak. Apalagi Ali belakangan lagi suka banget nonton ulang serinya di Disney+. Sudah deh, nggak perlu mikir lama ia mau pakai kostum Buzz Lightyear, hehehe. Aku dan Shane memilih kostum Jessie dan Woody, yang meski di film diceritakan bukan pasangan tapi bagi Ali harusnya begitu, karena cowboy dan cowgirl katanya :D Sementara Ibu dan Bapak mereka sih bebas, ngikut saja karena memang rencananya pun nggak akan pakai full kostum, cukup kaus saja asalkan bisa represent tokohnya. Aku dan Ali pikir Mr. dan Mrs. Potato Head akan jadi kostum buat mereka. Tapi ternyata mendekati Halloween Ibu nggak bisa ikutan karena Nenek meminta beliau untuk mengantarnya ke makam Kakek, ---dan menginap di villa keluarga. Rencana kostum pun harus diubah, karena aku merasa janggal kalau Bapak jadi Mr. Potato Head sendirian, kan, hehehe. Akhirnya aku putuskan untuk membeli kaos Little Green Man. Dari segi warna akan serasi dengan kostum Ali dan kebetulannya ketiga alien mungil itu diceritakan diadopsi Mr. dan Mrs. Potato Head kan, jadi nggak jauh-amat dari rencana awal :p (Lah, maksa, hueheee).


Surprisingly, mencari kostum untukku dan Shane itu nggak sulit. Kupikir awalnya aku bakal harus pesan dari luar negeri karena kami pakai size besar. Tapi ternyata ada store lokal yang bisa membuat kostum custome made Jessie dan Woody ukuran dewasa! Mereka hanya menjual atasannya saja, dan memang cuma itu kok yang kami butuhkan. Karena meski aku pakai kostum Jessie aku tetap ingin terlihat seperti aku alias pakai rok, hahaha. Jadi daripada memakai celana bermotif kulit sapi, aku ganti saja dengan rok tutu. Aksen kulit sapinya tetap ada, tapi di kaus kaki :D Sedangkan Shane ia punya banyak celana jeans jadi nggak perlu membeli yang baru. ---As always, Halloween kami selalu sebisa mungkin nggak boros. Karena di situ serunya, memanfaatkan apa yang ada jadi hasil yang kreatif ;)

Nah, kostum Ali justru jadi yang tersulit. Di luar dugaan kan, padahal biasanya cari kostum bocil gampang T_T Kostum Buzz Lightyear nya sih banyak, tapi susaaah banget nemu ukuran yang pas. Kostum Buzz yang lucu-lucu, yang punya detail seperti aslinya, pasti ukurannya kecil-kecil, buat usia balita gitu. Sedangkan yang besar cuma bersablon di bagian dada doang tanpa detail di lengan dan celana. Yang ada malah mirip piama kan, uhuhu x'D Mungkin usia 7 tahun sudah nanggung ya, sudah masuk SD dan di sini biasanya kebanyakan yang merayakan Halloween dengan kostum sampai usia TK saja. Ali sampai bilang kalau ia nggak keberatan pakai kostum kesempitan karena kepengen mirip sama Buzz. Tapi of course nggak aku kasih. Sangat bertentangan dengan pedoman Halloween ku yang kostumnya HARUS bisa dipakai lagi buat sehari-hari, jangan mubazir, hehe. Aku nggak mau nyerah, setiap malam jari-jariku mengetik segala macam kata kunci di Google, bahkan menghubungi seller-seller yang jelas di tokonya nggak jualan kostum Buzz. ---Ya, kali aja kan punya kenalan penjual lain, hehe xD Daaaan, akhirnya! Aku beruntung juga! Ada seorang seller yang pernah menjual kostum Buzz ukuran Ali tapi ia nggak yakin apa masih ada atau nggak. Stoknya tinggal 2 potong dan aku berharap banget salah satunya ukuran Ali. Saat itu ia nggak ada di tempat, jadi minta tolong orang lain untuk mengecek ukurannya. Menurut info dari yang dimintai tolong, keduanya bukan ukuran Ali. Yang satu kekecilan dan satu kebesaran BANGET. Aku sempat pasrah bilang sama Ali kalau ia harus pilih kostum tokoh lain atau pakai kostum Buzz yang detailnya sedikit. Tapi entah kenapa keesokan harinya aku penasaran dan minta sellernya (sambil minta maaf berkali-kali kaya Mpok Minah) untuk ukur secara manual. Syukurlah ia baik banget :') Ia ukur satu-satu, dan ternyata salah satunya PAS ukuran Ali! Huaaaa, aku sampai lompat-lompat, tendang-tendang, teriak-teriak histeris (yang lalu diikuti Ali) saking senangnya! Hahaha, Akhirnya kostum kami lengkap! Termasuk Bapak yang pas 2 malam sebelum Halloween kaus Little Green Mannya tiba :)


Gimana, keren kan kostum Buzz Lightyear Ali? ;)


Kostum aku, Shane dan Ali. Waktu foto ini diambil aku belum punya boneka Jessie xD


Di malam Halloween kami membuat foto Halloween, ---karena kami tahu kalau di hari H nya nggak akan sempat. Sekalian kami juga mencoba kostum kami yang sudah dicuci dan make sure nggak ada kekurangan. Thank God semuanya pas (ya, rokku kebesaran sih tapi bisa diakali dengan ditarik ke atas pakainya). Rencananya kami akan ke rumah hantu, jadi kami tidur lebih cepat supaya bisa datang nggak terlalu siang. Paginya, tiba-tiba saja aku punya ide buat cat rambut jadi warna merah. Ceritanya biar mirip sama Jessie gitu, hahaha. Padahal untuk proses pengecatan, keramas sampai dikeringkan kan nggak cukup satu-dua jam ya, tapi entahlah kepengen saja :p Untung Shane sigap membantu, dengan cat rambut yang sudah ada (lupa waktu itu beli buat apa, hehe) ia mengecat rambutku serapi dan secepat mungkin. Hasilnya bagus , aku suka! Yaaa, meskipun rambutku nggak panjang kaya Jessie, yang penting warnanya mirip dan sama-sama ada kepangnya. ---Maksudnya aku pakai bando model kepang yang dibelikan Ibu beberapa waktu lalu :p


Rokku ketara banget ya kebesaran (lihat lipatannya sampai perut, ahahaha).


Jessie and Woody (Woody nya pakai sandal Swallow).



Karena Halloween jatuh di hari Senin dan nggak masuk sebagai holiday di sini, jadi kami pergi ke rumah hantu yang berada di Trans Studio sepulang Ali dari sekolah. Sebenarnya at least ada 3 mall lain di Bandung yang juga punya event Halloween, tapi setelah scrolling di akun Instagram mereka kayanya cuma Trans Studio yang paling nyaman dan family friendly. Soalnya jujur nih, aku kurang sreg kalau Halloween jadi ajang cosplay khusus genre tertentu dan yang datang kostumnya banyak yang nggak age appropriate T_T Anyway, waktu kami tiba ternyata suasana nggak begitu ramai. Mungkin karena itu tadi, bukan di hari libur. Dekorasinya juga sangat minim, hanya ada satu pohon raksasa yang terbuat dari rangkaian labu-labu Jack O'Lantern. Selebihnya sama seperti hari-hari biasa, bahkan di tempat yang seharusnya menjual topeng Halloween pun kosong. Agak kecewa sebenarnya karena Ali sudah bersemangat membawa ember labunya tapi ternyata nggak ada yang bagi-bagi permen, hehe :'D Dulu, waktu Trans Studio baru dibuka, Halloween jadi waktu yang lebih menyenangkan. Ada dekorasi di setiap sudut, seluruh pegawainya memakai kostum, ada diskon untuk yang datang memakai kostum dan tentu ada acara bagi-bagi permen. Sayang ya Ali nggak sempat mengalami karena ia belum lahir waktu itu :'D Tapi aku ingat kalau moment berharga itu bisa diciptakan, bukan bergantung pada tempat. Jadi aku putuskan untuk menerima segala perubahan dan bersenang-senang :) 


Satu-satunya dekorasi Halloween di TSB. Beda banget ya dibanding waktu dulu :')


Waktu kami mau masuk wahana rumah hantu rupanya hanya aku yang ketakutan, hahaha. Sepanjang lorong antrian aku memegang tangan Shane kuat-kuat. Mungkin karena suasananya gelap dan sepi ya, ---hanya ada satu keluarga lain yang mengantri di depan kami. Sementara Ali, di luar dugaan ia santai-santai, bahkan dengan bersemangat melihat-lihat suasana sekitar yang disetting menyeramkan dengan batu nisan, lukisan dan lampu gantung. Karena satu kereta yang digunakan di wahana hanya untuk empat orang saja, jadi kami harus menunggu dulu sebentar. Ketika kereta tiba aku langsung bimbang antara mau duduk di barisan depan atau belakang. Aku merasa duduk dimana pun nggak aman. ---Kalau di belakang aku takut ada yang nyolek-nyolek punggungku, sementara kalau di depan aku bakal jadi orang pertama yang melihat "hantu", hahaha T_T Belum juga aku memutuskan, eh, Ali dan Bapak sudah duduk di belakang. Ya.. terpaksa deh aku yang di depan, hahaha :')


Selama di dalam rumah hantu aku kebanyakan tutup mata, tapi tanganku tetap berusaha arahkan handphone ke "para hantu" untuk merekam. Pikirku kalau pun pas di wahana nggak lihat apa-apa, minimal aku bisa lihat rekamannya nanti, hahaha. Agak aneh memang, Halloween adalah holiday favoritku dan aku hobi banget nonton film horor, tapi masuk rumah hantu family friendly saja takut xD Menurut Shane itu karena imajinasiku terlalu besar, aku jadi suka membayangkan hal-hal mengerikan yang sebenarnya nggak mungkin terjadi. Yaaa, betul juga sih, bahkan kalau lagi nonton film horor saja kadang imajinasiku malah lebih seram dan ujung-ujungnya malah ngarang cerita sendiri yang lalu aku ceritakan sama Shane setelah filmnya selesai :p (Ini alasan kenapa kami kalau habis nonton nggak langsung keluar dari bioskop, ---ngobrol dulu, hahaha).


Keluar dari rumah hantu kami langsung membahas pengalaman kami, dan kesimpulannya ternyata memang hanya aku yang takut -_-"  Bapak bilang wahananya seru dan lumayan menyeramkan karena ada hantu kepala terpenggal (haha), sementara Shane dan Ali, mereka bilang nggak seram sama sekali. (Seketika aku merasa menyesal kebanyakan tutup mata). Tapi kami setuju kalau rumah hantu jadi pengalaman yang menyenangkan dan berkesan. Bapak bahkan sampai punya ide buat berfoto di depan rumah hantu untuk bukti kalau kami berani masuk ke sana lho. Sekalian supaya Halloweennya terasa katanya :D Rumah hantu juga jadi satu-satunya wahana yang Halloween related karena Trans Studio nggak punya wahana spesial Halloween seperti Escape Room di tahun 2018 lalu yang bertepatan dengan rilisnya film Goosebumps: Haunted Halloween. Setelah itu kami ya main wahana-wahana biasa saja, seperti Dragon Riders (naga terbang), Sky Pirates (balon udara) dan lain-lain. Oh iya, waktu Ali sedang bermain di play ground khusus anak, aku dan Shane pergi berdua untuk memesan makan siang. Ternyata ada flashmob dance Thrillernya Michael Jackson dari para zombie yang entah datang dari mana xD Kami sempat diajak, tapi kami menolak karena sedang buru-buru dan... nggak bisa menari! :p 


Bukti kalau kami masuk Rumah Hantu :p


Makan siang dengan mie jamur. Gak banyak pilihan di TSB, tapi yang penting perut jangan sampai kosong :D


Setelah perut kenyang dan puas dengan wahana-wahana menegangkan, kami menghabiskan sisa waktu di Trans Studio dengan bermain di "Kids Friendly Zone". Well, tepatnya Ali sih yang main sementara aku, Shane dan Bapak kebanyakan duduk-duduk saja sambil beristirahat. Di zona ini wahananya memang dibuat versi mini karena diperuntukan untuk anak-anak. Aku sempat  mendampingi Ali di dua wahana, itu pun karena Ali yang minta dan setelah izin petugasnya. Kalau nggak izinin aku sih malah nggak apa-apa, karena TBH aku ngerasa janggal jadi yang paling gede sendirian pas naik kereta mini, haha xD 

Meski masih ada waktu sebelum closing tapi kami putuskan untuk nggak naik wahana apa-apa lagi. Kami menonton parade penutupan dan kami keluar area Trans Studio dengan hati yang sangat senang dan puas :)


Kudanya mungil, jadi aku gak berani naik, hahaha.


Selesai parade kami berfoto dulu dengan marching band.


Mermaid cantik :)


Please aku penasaran ini kostum apa. Zebra laut gak sih? xD


Rencana kami selanjutnya adalah makan malam sebelum pulang. Waktu kami turun menuju area mall, aku mampir ke toilet dulu untuk buang air dan sedikit touch up (sisiran maksudnya, huehe...). Waktu keluar dari toilet aku langsung disambut oleh Shane yang super excited karena melihat poster Toy Story! Rupanya Miniso menjual merchandise Disney khususnya Toy Story. Sungguh kebetulan yang manis karena sama dengan tema Halloween kami :') Langsung saja kami masuk untuk melihat-lihat dan berakhir dengan membawa pulang satu phone charm Little Green Man dan satu gantungan tas berbentuk hati yang Ali pilih untuk Yeyer, boneka kucingnya :D


Pojok kanan atas foto di depan poster yang Shane tunjukkan.


Karena ide Shane kami akhirnya makan malam di restoran pizza, ---tepatnya di Pizza Hut Buah Batu, yang waktu tulisan ini dibuat sudah tutup karena kontraknya habis :') Lagi-lagi kebetulan yang manis, kami jadi seperti di dunia Toy Story sungguhan. Bedanya hanya di nama restoran saja, Pizza Hut alih-alih Pizza Planet! Hehehe. Kalau dipikir lucu juga sih, kami jadi seperti punya dunia sendiri. Waktu kami duduk berempat, makan sambil mengobrol, kami sedang menikmati Halloween yang super menyenangkan. Tapi waktu aku berdiri untuk ke wastafel atau mengambil salad dan melihat sekitar aku jadi sadar kalau untuk orang lain Halloween hanya hari Senin biasa. Keluarga memang ajaib. Bersama mereka aku merasa "normal" dan "aman", ---bahkan saat menjadi yang satu-satunya memakai kostum.


Akhirnya ada foto berempat. Difotoin Mbak Pizza Hut :D


Ali dan Bapak alias si kembar.


Kami pulang dengan perasaan bahagia dan kelelahan. Aku dan Shane langsung masuk ke dalam kamar untuk beristirahat sementara Ali dengan bersemangat (tapi mengantuk) bercerita tentang Halloween kami pada Ibu yang sudah berada di rumah :D Keesokan harinya kami melanjutkan Halloween movie marathon yang sudah berlangsung sejak awal Oktober. Ada banyak judul yang kami tonton, selain Toy Story (tentu saja!) kami juga menonton Hocus Pocus. Aku dan Ali "agak" terobsesi dengan film itu, baik versi original maupun sekuelnya. Kami menontonnya berulang-ulang, bahkan di hari yang sama kami bisa menontonnya dua kali xD Selain itu kami juga membuat kue lumpur alias mud cake yang selalu kami buat di setiap Halloween. Nggak seramai biasanya, of course, karena kami menyesuaikan dengan keadaan. Tapi tetap, kuenya membawa senyuman untuk kami karena meski Halloween 2022 ini "berbeda" tapi kami punya bagian yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya :)


Sekuel Hocus Pocus dapat review jelek? Ah, gak ngaruh buat kami. Tetap suka! xD


Mud cake sederhana yang dibuat dengan penuh cinta :p


Sekarang baru pertengahan tahun 2023, tapi aku (dan Shane) sudah kembali rindu dengan Halloween. Sesekali kami menonton film horor yang fun juga membicarakan rencana kostum apa yang akan dipakai di Halloween pertama di rumah baru kami. Kalau sedang di dalam rumah dan mencium aroma lilin aroma pumpkin yang dibakar, kadang aku lupa kalau sekarang masih musim kemarau, hehehe. Aku sering bilang kalau Halloween itu waktunya untuk kreatif dan family time, ---dan itu betul karena kami bisa berdiskusi tentang ide-ide kami dan mewujudkannya bersama :) Juga, embrace every moment, ---sampai kapan Ali akan mau ber Halloween dengan kami? Gak ada yang tahu. Karena suatu hari ia akan dewasa dan mungkin lebih memilih untuk hangout dengan teman-temannya. Jadi selama kami bisa, kami nggak akan menyia-nyiakan waktu bersama :) 


Kalau kalian, adakah yang merayakan Halloween? Kalau ada, share ya ceritanya di kolom komentar! :) (atau drop link vlog dan blognya juga boleh, ahahaha).


Vlog Halloween 2022/reaksi masuk Rumah Hantu :p


Skit kami, Toy Story di dunia nyata :D



boo!


INDI


----------------------------------------------

Kontak Indi:

namaku_indikecil@yahoo.com (email)

@indisugarmika (Instagram)

Sabtu, 16 Juli 2022

Cerita Ulang Tahun dan Rambut Baru



Huaaa, nggak terasa ya sudah tengah tahun lagi. Padahal rasanya aku baru saja merayakan tahun baru dengan keluarga, ---aku dan Shane menginap di rumah Ibu Bapak, bikin bola-bola cokelat sama Ali, bawa Eris ke salon hewan... Eh, waktu lihat seisi rumah ternyata masih terpajang dekorasi warna-warni dan bungkus kado bekas, yang tandanya sudah lewat bulan Juni, ---bulan ulang tahunku :') 

Entahlah apa yang membuat waktu terasa begitu cepat. Padahal rasanya aku nggak sibuk-sibuk amat. Mungkin karena aku sudah bisa lebih "menerima" dibandingkan saat-saat awal ada Corona, ya. Jadi semuanya terasa lebih "normal" meskipun sebenarnya hanya karena terbiasa, haha.


Tapi nggak bisa dipungkiri sih, sampai sebesar (---atau setua? Lol) ini pun masih nggak sabaran buat bisa cepat-cepat berulang tahun. Begitu masuk bulan Mei pasti langsung terbayang-bayang serunya merayakan ulang tahun bersama keluarga. Apalagi ulang tahun Shane juga cuma 10 hari lebih awal saja dariku, jadi pasti dirayakan bersama. ---Makin ramai makin seru, kan :D Mungkin ini juga jadi salah satu yang punya andil dalam membuat waktu terasa cepat, ya, hahaha. Soalnya fokusnya jadi ke situ melulu, meski kalau dipikir-pikir tiap tahun juga ulang tahunku ya begitu-begitu saja. Tiup lilin, buka kado, ---kaya sudah ada templatenya xD Tapi moment berkumpul dengan keluarga buatku adalah sesuatu yang istimewa. Karena aku tahu dalam beberapa situasi berkumpul itu bisa jadi sebuah "kemewahan" :)


Kalau tahun lalu ulang tahunku sengaja dibuat bertema (---Harry Potter, lumayan niat, hehe), kali ini aku memilih untuk "apa adanya" saja, alias memakai apa yang sudah ada di rumah. Nggak ada outfit khusus, kue custom made, dll. Aku dan Shane tetap akan memakai matching outfits, tapi yang sudah ada saja karena yang penting terlihat kompakan seperti Upin-Ipin xD Dekorasi pun nggak ada yang baru, semuanya berasal dari tahun lalu. ---Bahkan beberapa diantaranya bukan dekorasi ultah lho, tapi Halloween. hahaha. Termasuk cangkir-cangkir plastik yang kalau diperhatikan ada tulisan "Happy Halloween" nya. Yaaa, daripada mubazir kan. Sayang kalau cuma gara-gara tulisan jadi cuma bisa dipakai sekali saja :D


Terus apa dong yang baru? Yaaa, selain umur baru (iya lah kan tambah tua, lol), rambutku juga "baru". Spesial ulang tahun, aku minta Shane untuk mengecat rambutku dan aku memotong poniku sendiri! Bukannya sok jagoan, ya. Tapi aku memang nggak punya pilihan. Ryan, pemilik salon sekaligus stylish langgananku sejak kecil meninggal tahun lalu :'( Selain dia, aku belum menemukan salon lain yang cocok. Setelah dapat pengalaman kurang mengenakan dengan salon yang baru (padahal aku sudah menunjukkan foto poni yang aku mau), akhirnya kuputuskan saja untuk mencoba sendiri. Jadi kalau pun gagal nggak merasa rugi, karena gratis dan, ---salahku sendiri, hahaha. Nah, kalau soal Shane dipercayakan untuk mengecat rambutku, itu karena aku sudah lebih pede dengan keadaan rambutku. Semenjak ditinggal oleh stylish kesayangan rambutku lumayan mengenaskan. Kadang kering banget, kadang lepek banget. Yang biasanya rutin trimming dan treatment jadi nggak terawat karena bingung harus kemana T_T  Untung saja akhirnya aku nemu hair care yang cocok dan bisa bikin kondisi rambutku membaik, yaitu Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo and Conditioner! :D



Yang namanya cat rambut boks pasti beda banget dengan cat rambut profesional ya. Kalau nggak dirawat, rambut langsung kering dan rontok. Makanya keputusan mengecat rambut di rumah ini nggak instan, sudah lewat research kecil-kecilan alias banyak googling, hahaha. Katanya selama rambut sehat, bakal aman-aman saja pakai cat rambut boks. Aku baru tahu lho kalau salah satu penyebab warna cat susah keluar dan nggak rata ternyata karena kondisi rambut yang terlalu kering :/ Makanya sebelum minta Shane jadi stylish pribadi, aku kencengin dulu perawatannya. Kebetulan waktu aku scroll-scroll Instagram nemu postingan tentang Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo and Conditioner. Nah, tanpa ragu aku langsung pesan supaya bisa segera mencoba produknya. Ini nggak gambling lho, ya. Karena aku memang sudah pakai  dan cocok dengan produk-produk Scarlett untuk kulit wajah dan tubuh sebelumnya. Jadi kupikir kemungkinan besar hair carenya juga bakal cocok.


Waktu paketnya diterima, aku langsung salfok sama warnanya. Kok kayanya seger, ya? ---Untung saja nggak lagi puasa, hahaha xD Meskipun sebelum sudah lihat fotonya, ternyata aslinya lebih gemas! Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo warnanya biru transparan, seperti laut. Sedangkan Scarlett Yordanian Sea Salt Conditioner warnanya pink, seperti permen kapas *insert emoji gemoy di sini* Aaaah, aku memang paling lemah kalau sama produk yang warna dan kemasannya menggemaskan. Botol flip topnya kelihatan mewah banget (tapi cute, wkwk). Beda sama model-model botol produk lain yang sama-sama nge-aim remaja-dewasa muda juga, ini tuh desainnya terniat. Kayanya aku belum pernah deh nemu desain yang mirip ;)





Sebelum dipakai aku cium-cium dulu aromanya (----kebiasaan, siapa yang samaan?). Yordanian Sea Salt Shampoo punya wangi Magnolia yang fresh tapi nggak terlalu tajam. Sedangkan conditionernya punya wangi yang lebih soft, wangi evening primrose alias sedap malam. Aku langsung in love, soalnya menurutku dua aroma ini perfect match banget, ---beda tapi cocok. Biasanya kan pasangan shampoo sama conditioner punya aroma yang sama. Salut banget sama Scarlett yang berani beda (dan benar-benar works!). Duo Yordanian Sea Salt ini punya kandungan yang bisa menyerap minyak berlebih di kulit kepala, membantu mengatasi penumpukan kotoran yang melekat di kulit kepala (---cocok nih buatku yang segala produk ditumplekin di rambut, hehe), dan membantu membuka kutikel rambut sehingga perawatan selanjutnya bisa menyerap dengan lebih baik. 





Manfaatnya juga nggak main-main, pas banget sama yang aku cari, ---yang mirip-mirip sama treatment di salon :D Keduanya bisa mengontrol kadar minyak pada kulit kepala, membersihkan kulit kepala, menguatkan akar rambut, memberikan volume pada rambut, mencegah rambut rontok dan bercabang (pas banget yang aku alami, huhu), menyehatkan folikel rambut dan kulit kepala, dan membuat rambut lebih berkilau, Karena aku belum mandi waktu menerima paketnya (hueheee), jadi langsung saja aku coba. Aku pakai Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo dengan cara yang sama seperti ketika menggunakan sampo pada umumnya. Aku tuangkan secukupnya ke akar rambut, lalu aku pijat kulit kepalaku dengan lembut dan perlahan. Setelah itu aku bilas sampai bersih. 


Setelah yakin semua busa hilang, aku lanjutkan dengan memakai Scarlett Yordanian Sea Salt Conditioner. Aku oleskan ke batang rambutku (dari tengah sampai bawah, karena rambutku pendek) sampai rata. Setelah itu aku diamkan beberapa menit. Karena aku nggak bawa timer (ya iya lah, hahaha), Jadi aku kira-kira saja sampai 2-3 menit dengan cara berhitung dalam hati :p Terakhir, tinggal dibilas. Wah, rasanya segar sekali. Kulit kepalaku rasanya jadi bersih, ringan. Helai-helai rambutku juga terasa halus segera setelah pakai conditioner. Padahal biasanya suka nyangkut-nyangkut kalau rambut masih dalam keadaan basah :O





Aku rasakan manfaat maksimalnya setelah kurang lebih 2 minggu pemakaian. Rambutku rasanya benar-benar lebih sehat dan siap untuk diwarnai sendiri (---oleh Shane maksudnya, lol). Di cat rambut boks yang kubeli ada tambahan conditionernya, tapi nggak kupakai dan kuganti dengan conditioner Scarlett. Hasilnya ternyata rambutku jadi halus, no kasar-kasar seperti kalau biasanya habis dicat. Aku cat rambut sehari setelah keramas btw, jadi kulit kepalaku masih ada minyak alaminya. Katanya sih bagusan gitu daripada langsung. Oya, lupa bilang. Aku pesan Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo and Conditioner ini dari whatsappnya official Scarlett di 0877-0035-3000. Lewat Shopeenya juga bisa, di Scarlett Whitening Official Shop. Yang bikin aku tenang nih, produk Scarlett sudah pasti nggak diujicobakan sama hewan dan teregistrasi di BPOM. Jadi kita bisa cantik tanpa harus menyakiti, hihi. Remaja mulai usia 13 tahun sudah boleh pakai, lho. Juga aman untuk dipakai ibu hamil dan menyusui :)



Di hari ulang tahunku, ---yang juga jadi harinya Shane karena dirayakan barengan, aku merasa cantik :) Tiap ngaca rasanya seperti habis dari salon, rambutku wangi dan warna cat rambutnya vibrant banget. (---Maksudnya sesuai dengan warna di boksnya, ya). Shane juga setuju, katanya rambutku kelihatan sempurna, hahaha. Padahal bertepatan dengan hari sekolahnya Ali, lho, yang pastinya bikin aku sibuk bolak-balik siapkan segala keperluannya dan juga nahan emosi (siapa yang relate dengan drama sekolah daring? xD ). Karena Ibu dan Bapak akan datang setelah Ali selesai sekolah, jadi aku dan Shane curi-curi waktu untuk mempersiapkan ruang TV di saat Ali sekolah. Dekorasinya sih sudah dipasang di malam hari. Jadi kami hanya perlu memesan burger plant based untuk dimakan ramai-ramai dan rapi-rapi. Seperti yang kubilang sebelumnya, tahun ini ulang tahunnya tanpa tema. Jadi kue yang kupesan pun benar-benar nggak ada desain khususnya. Persegi tok, yang penting bisa dikasih lilin dan hiasan sederhana. Eits, dan juga VEGAN tentunya. Jadi bisa dinikmati bersama.



Right on time, setelah Ali selesai sekolah, Shane sudah berganti baju dengan kemeja yang match dengan dressku (yang penting motifnya sama, hahaha), Ibu dan Bapak datang! :) Wajah-wajah sumringah mereka membuat hatiku sangat gembira. Entah kenapa setiap ulang tahun aku selalu merasa jadi anak kecil kembali instead of merasa jadi tua :p Pokoknya bawaannya ceriaaaa terus. Ali berantakin rumah pun bodo amat, aku happy pokoknya, hahaha. Ngomonng-ngomong soal Ali, dia lho yang pertama memberi aku dan Shane kado. Kadonya bikin aku meleleh seperti Olaf di musim panas. Dia bikinin kami heart dari permen-permen yang dia susun dong T_T Kata Ibu Ali bikinnya semalaman.,, Huaaa, mantan-mantan pacarku juga nggak ada yang sesweet itu T_T Saking sweetnya aku sampai nggak tega makan permennya, dan sampai saat aku mengetik tulisan ini, heartnya masih aku pajang di ruang TV :')




Ibu dan Bapak juga memberi kado yang nggak kalah sweetnya. ---Sweet tapi kocak, karena kata Bapak kadonya ini untuk menemani kami yang suka makan mi instan tengah malam, hahaha. (Duh, ketahuan!). Satu set mangkuk dan satu set cangkir yang jelas sekali dipilih mereka dengan penuh cinta. Cangkirnya bergambar ayam jago, kesukaanku dan Shane! Melihat mereka meluangkan waktu untuk mencari sesuatu yang kami sukai membuatku terharu :') Sampai sedetail itu coba, padahal kan bisa saja mereka membeli motif random yang asal bagus karena mencari motif ayam jago itu nggak mudah :') Dan ternyata itu bukan kejutan terakhir. Masih ada kado titipan dari Emah (nenek) untukku dan Shane. Beliau memberi kami satu boks penuh jajanan pasar! Ya, ampun Emah, kok bisa kepikiran T_T Katanya semuanya dijamin vegan, jadi aku dan Shane nggak perlu milih-milih lagi kalau mau ngemil. Punya keluarga kaya gini, sweetnya ngalahin gula :')






Setelah buka kado, kami lanjut tiup lilin dan potong kue, ---yang kata Shane urutannya salah karena harusnya buka kado paling akhir. (Iya sih, lol). Aku lega banget kuenya sukses, rasanya cocok buat kami semua meskipun vegan, gluten free dan sugar free. Ibu sampai amaze, katanya rasanya seperti brownies pada umumnya (yay!). Pas aku potong kue ada insiden kecil yang kocak. Ali nggak rela kalau potongan pertama aku kasih sama Ibu. Katanya harusnya buatku karena aku yang berulang tahun, hahaha. Dia ngotot banget dan akhirnya diambil jalan tengah, aku jadi dapat potongan kedua. Syukurlah Ali setuju meski jadinya dia mau kue sehabis aku, dan Shane  jadi yang paling akhir meskipun dia birthday boy nya xD Burger-burger yang kusediakan juga sukses, semuanya suka. Buat Ibu dan Bapak, ini kali pertama mereka menyantap burger plant based. Mereka suka rasanya dan nggak menyangka kalau pattynya terbuat dari tumbuhan. Kata Ibu rasanya seperti daging dan bikin beliau berpikir buat mulai makan vegan. Hmm, kira-kira bisa nggak ya? xD



Kami menghabiskan sisa siang dengan mengobrol sana-sini dan bercanda. Remah-remah makanan ada di seluruh penjuru rumah mungilku. Tapi aku nggak peduli, moment seperti ini terlalu berharga untuk direcoki oleh OCD ku (---yes, aku OCD dan bukan self diagnosed). Ketika waktunya Ibu, Bapak dan Ali pulang rasanya berat sekali. Aku sampai mengucapkan dadah berkali-kali berharap mereka berbalik dan nggak jadi pulang, haha. Nggak lama setelah mereka pulang, saat aku sedang beres-beres, HP ku bergetar. Ibu mengirimiku video ulang tahun dan menguplod foto kami di instagramnya. Aaaah, rasanya pengen ulang tahun lagi besok, huhu T_T 


Aku sangat mencintai keluargaku. Moment-moment seperti ulang tahun, hari besar dan hari raya selalu ingin kuhabiskan bersama mereka. Kami nggak sempurna, tentu saja. Tapi aku tahu pasti bahwa aku memiliki keluarga yang hangat. ---Dan rasanya itu salah satu alasan mengapa aku bisa tetap "hidup". Mereka yang menjadikanku "aku". Doaku setiap berulang tahun selalu sama, yaitu supaya kami bisa menikmati moment-moment seperti ini di tahun-tahun berikutnya sampai... selamanya. Termasuk dengan keluarga Shane yang sekarang jadi bagian keluargaku, tentu saja. Aku bersyukur karena mereka juga sangat hangat meskipun nggak bisa sering-sering bertemu (---karena beda negara, huhu). Terutama Ibu Mertua yang selalu membuatku merasa menjadi Tuan Puteri saat berulang tahun xD Semoga doaku menjadi kenyataan. Karena meski kesannya klise, tapi keluarga memang kado terbaik yang Tuhan berikan padaku :)


lucky birthday girl,


Indi

Senin, 14 Februari 2022

Cerita Christmas Kami yang Super Slow :D

Selamat tahun baruuuuuu! *tiup terompet*

Ada yang bilang kalau ngucapin selamat tahun baru setelah tanggal 8 Januari itu terlambat. Tapi buat aku sih selama belum masuk tengah tahun ya masih tahun baru, hahaha :D ---Teman-teman gimana nih tahun barunya? Kemana dan ngapain saja? Cerita-cerita, dong! Aku senang banget setiap baca/dengar cerita seru tahun baruan. Sampai minggu kemarin aku betah banget lihat-lihat IGS sama status WA di contact list, soalnya jadi berasa ikut jalan-jalan atau kumpul-kumpul xD 

Kalau aku (dan Shane) menghabiskan sepanjang bulan Desember 2021 dengan sangaaaat slow. Nggak kemana-mana, even buat belanja bahan makanan sehari-hari kami milih via delivery saja. Christmas pun dilalui dengan santai, ---nggak ada belanja dekor, baju baru, kado buat Shane (huehehehe) atau masak khusus. Alasannya karena aku ingin menikmati waktu “apa adanya” sebaik mungkin. Di tahun 2021 aku belajar kalau punya tujuan atau goal itu bagus, TAPI kalau semuanya pakai patokan waktu justru bikin aku nggak maju-maju karena terus berkutat sama yang belum tercapai. Jadi aku putuskan untuk appreciate setiap pencapaian sambil terus mengerjakan yang lain. Rasanya? Nikmat banget beneran :D 


Anyway, balik lagi ke bulan Desember aku yang super slow, hari-hari aku dan Shane kebanyakan dihabiskan dengan bersantai sambil mengerjakan hobi masing-masing. Kalau ada yang dikerjakan berdua paling nonton film. Itu pun nggak kaya tahun-tahun kemarin yang harus banget marathon film-film tema natal. Se-mood-nya saja, kami nggak bikin list film apa saja yang harus ditonton. Kalau tahun kemarin aku sampai bikin IGS kan, minta rekomendasi Holiday movie yang seru dan SEMUANYA ditonton, hahaha x'D Kemarin sih satu-satunya film khas natal yang kami tonton cuma Home Alone (---kalau nggak nonton nggak berasa natal, ya, lol). Kami nonton Home Alone Holiday Heist yang diputar di RCTI dan Home Sweet Home Alone yang diputar di Disney+. Tadinya sih mau lanjut Home Alone pertama dan kedua juga, karena tahu lah, si Kevin itu kan the real OG. Tapi entah kenapa aku lupa dan tahu-tahu saja Desember sudah habis :p 

Eh, ada yang nonton Home Sweet Home Alone nggak, nih? Ada yang kasih tahu aku katanya filmnya jelek, jadi mendingan aku nggak usah nonton. Pas nonton trailernya setuju sih, kayanya nggak ada yang baru. Satu-satunya yang bikin penasaran cuma dengan come back nya Buzz, kakaknya Kevin yang jadi petugas Polisi. Tapi pas filmnya ditonton menurut aku lumayan kok, ada moment-moment yang bikin aku ketawa ngakak. Yang aku sayangin cuma ceritanya yang nggak sekuat Home Alone yang sebelum-sebelumnya. Nggak ada penjahat "sungguhan" di sana. ---Aku nggak mau spoiler, yang pasti filmnya layak ditonton kok, asal jangan berharap terlalu banyak, ya! :D




Aku tadinya mau nonton Home Sweet Home Alone sama Ali juga (keponakan). Tapi pas dipikir lagi kayanya dia belum tertarik sama film yang bukan kartun (---masih ingat kan Halloween kemarin dia maunya nonton Luca sama Toy Story diulang-ulang, huhu). Jadi pas dia datang berkunjung aku siapin aktivitas lain saja. ---Um, nggak "siapin" juga sih sebenarnya, cuma ide spontan yang nggak butuh persiapan, hahaha. Ali ini suka banget sama "bebikinan", kalau aku lagi nggak malas dan aku ajak masak pasti mau. Katanya dia mau bikin Christmas cookies, jadi aku ajak dia ke Indomaret di lantai bawah buat beli Oreo. Setelah itu aku kasih dia meses sama icing yang sudah ada di rumah buat hias-hias Oreonya. Simple tapi seru banget. Saking serunya setelah Oreonya habis, dia masih hias piringnya, hahaha. Aku juga ikutan karena dilihat-lihat kok seru juga. Ada rencana baking cookies beneran sih, tapi nanti saja berdua sama Shane. Itu pun yang sederhana dan (maunya) mess free karena kami sedang "super slow" :p 




Kebetulan sekolah Ali libur beberapa hari sebelum natal, jadi menjelang tanggal 25 Desember cuma ada aku dan Shane saja di rumah. Kami nggak buru-buru pasang dekorasi, soalnya masih menunggu paket hadiah dari Ibu Mertua yang berisi Christmas tree mini dan pernak-pernik. Satu-satunya dekorasi di rumah yang dipasang dari awal bulan Desember cuma kaos kaki, yang lalu ditambah snow flakes buatan Ali (---eh, aku bantuin juga sih bikinnya, hehe). Yang sudah-sudah paket dari US selalu terlambat datang ke sini meski sudah dikirim 2 bulan sebelumnya. Jadi kami nggak terlalu berharap datang tepat waktu, seadanya saja yang penting menikmati waktu. Dekorasi, kado, ect aku anggap cuma bonus :)




Baru pas Christmas eve kami putuskan untuk baking. Hahaha, akhirnya ya :p Itu pun nggak yang ribet-ribet. Hanya peanut butter cookies favorit kami karena mudah dan of course vegan friendly. Meski nggak kemana-mana kami juga tetap berusaha terlihat festive. Aku dressed up lengkap dengan pakai pita merah di rambut (biasanya kan kalau di rumah aku piamaan doang, lol). Sedangkan Shane, ---ya dia pakai kaos yang warnanya ngikut dress aku saja :p Aku juga putuskan buat beli bahan-bahannya di mini market komplek apartemen, jadi biar pun cuma beberapa langkah tapi bisa dibilang aku keluar rumah juga kan xD Btw, cookies yang aku dan Shane buat ini bahan-bahannya sedikit, cocok banget sama kondisi minimarket sini yang isinya nggak lengkap, hahaha. Siapa tahu ada yang mau coba, aku share resepnya di sini ya. Ini tuh dijamin anti gagal, ---nggak mungkin nggak enak, kecuali kalau memang nggak doyan/alergi selai kacang ya :D



Vegan Peanut Butter Cookies


Bahan-bahan:

- 100 gram tepung terigu serbaguna.

- 60 gram selai kacang. Mereknya bebas, tapi kalau yang non sugar berarti tambahin lagi gula sendiri.

- Minyak sayur (kira-kira 2 Sdm).

- Koko crunch dan plant mylk (opsional).


Cara membuat: 

Masukkan tepung, selai kacang dan minyak sayur ke dalam wadah. Aduk sampai rata dan nggak lengket. Kalau tekstur masih crumbly boleh ditambahkan minyak atau sepercik plant mylk (aku biasanya pakai almond atau kedelai). Setelah ambil adonan sedikit dan bulatkan. Terus lakukan sampai adonan di wadah habis. 

Gepengkan bola-bola adonan dengan menggunakan garpu, criss cross ya biar kece, hehehe. Terakhir, hias sesuka hati dengan Koko Crunch. Sebenarnya boleh sereal apa saja kok, cuma di lidah aku perpaduan selai kacang sama cokelat itu rasanya paling pas :p


Sebelum dibaked, masukkan adonan cookies ke dalam kulkas selama 5 menit. Sambil menunggu bisa preheat ovennya dulu. Tapi kalau aku sih nggak, ya. Langsung saja panggang di suhu 175 derajat selsius selama 10 menit dengan panas atas dan bawah. 



Aku dan Shane lumayan sering bikin cookies ini. Karena bahan utamanya cuma tepung terigu dan selai kacang, jadi kunci rasanya ada di selainya. Pastikan kalian memang suka dengan merek yang dipakai. Aku sendiri suka pakai selai kacang yang sudah mengandung gula dan garam, bikin hasilnya guriiiiih :p Di grup vegan ada yang bilang pakai selai kacang organik tanpa gula juga enak. Tapi ya balik lagi ke selera masing-masing. Yang pasti selai apapun yang dipilih jangan lupa untuk tunggu cookiesnya sedikit dingin dulu sebelum dimakan. Karena kalau masih panas gampang hancur, ---dan itu sering terjadi sama kami karena nggak sabar makan, hahaha xD




Terus pas Christmas day nya aku ngapain? Masa nggak ada yang istimewa? Ya ada dong! :D Beberapa waktu yang lalu aku order (lagi, entah untuk keberapa kalinya saking cintanya) body scrub, shower scrub dan body lotion Scarlett dari akun official Shopee mereka. Aku ingin self pampering sebagai hadiah buat diri sendiri. Memang sih bisa kapan saja karena Scarlett selalu ada di rak kamar mandi, kamar dan tas aku, tapi kali ini aku benar-benar mau enjoy setiap stepnya, ---benar-benar berurutan dan take my time, supaya di hari istimewa ini aku merasa cantik meskipun nggak pakai baju baru :D



Begitu bangun tidur aku langsung semangat buat mandi, padahal biasanya mager dulu sambil scroll-scroll feed di handpone kan :p Sebelum nyalain shower, dalam keadaan kulit masih kering, aku pakai body scrub Scarlett yang varian Pomegrante dulu. Huaaa, begitu tutupnya dibuka wanginya langsung tercium. Aku suka sih dengan semua aroma body scrubnya Scarlett, tapi aroma floral-fruity gourmand dari Pomegrante ini menurut aku paling segar dan cocok sama karakter aku yang ceria, hehehe. Selain aromanya, yang aku suka dari body scrub Scarlett ini tekstur buliran scrubnya yang halus, jadi nggak sakit waktu diapply ke kulit. Dulu sebelum kenal Scarlett aku sempat trauma pakai body scrub, soalnya rasanya kaya diwaxing, ahahaha :'D Aku serius lho ini. Jadi kulit aku memang tipe berbulu halus lumayan panjang. Nah, pas scrubbing bulu-bulu aku ikut kecabut. Inget banget deh aku sampai curhat sama sepupu sambil nangis-nangis campur ngambek xD



Kulit tubuh aku sensitif, terus ada spot-spot kasarnya juga akibat gesekan dari baju atau terlalu lama diam di satu posisi (---ehm, mager). Nah, body scrub Scarlett ini ampuh banget buat mengangkat sel-sel kulit mati di tubuh aku. Tiap habis scrubbing efeknya langsung terasa. Kulit aku haluuuuus banget. Nggak ada tuh drama bulu lengan tercabut, hahaha. Dan manfaat lainnya juga masih banyak, seperti mengembalikan kelembapan kulit tubuh (please ini penting karena kulit aku gampang kering), membantu mencerahkan kulit tubuh, membantu melancarkan peredaran darah, sebagai sarana rileksasi tubuh seperti yang sedang lakukan :D Membantu meregenerasi kulit setelah eksfoliasi, dan meningkatkan kadar hidrasi yang dibutuhkan kulit tubuh. 


Yang aku rasakan nih ya, manfaatnya itu terasa segera setelah selesai scrubbing. Kulitku lebih moist dan terlihat lebih cerah. ---Ingat ya, CERAH, bukan bikin warna kulit aku pucat atau abu-abu. Aku bahkan pernah tanya Shane apa kulitku memang cerahan atau perasaanku doang, dan dia jawab kalau kulitku memang terlihat lebih segar. Kalau dia yang ngomong percaya dong, soalnya dia si anti sugar coating apapun, hahaha. Goalku memang bukan untuk mengubah warna kulit, ---aku suka warna kulitku apa adanya. Tapi aku ingin kulit sehat dan nggak kusam.  Body scrub Scarlett ini jelas membantu mencapai goalku karena mengandung vitamin E dan glutathione ;)


Satu jar body scrub ini lumayan lama lho habisnya, soalnya isinya 250 ml dan sekali pakai juga nggak yang banyak-banyak amat karena mudah diaplikasikan. (Kan ada tuh tipe body scrub "boros" karena tiap dioles pasti jatuh-jatuh karena nggak lekat di kulit). Beberapa minggu lalu aku juga sempat kasih body scrub ini ke Bapak (---iya BAPAK, hehe). Soalnya body scrub Scarlett bisa dipakai di semua jenis kulit. Formulanya aman, bahkan untuk ibu hamil dan menyusui sekalipun. ---Dianjurkan untuk konsultasi dengan dokter dulu ya ;)


Selesai scrubbing, waktu mau bilas dan pakai body shower, aku kaget dong ada body shower Scarlett varian Jolly di rak kamar mandi! Perasaan punya aku sudah dipakai setengah botol, lah ini kok ada yang baru :O Spontan aku langsung teriak, nanya ini punya siapa. Dan ternyata ini hadiah Natal dari Shane, dong! Hahaha, ya ampuuuun, so sweet sekali :') Terharu aku, karena rupanya dia ingat betapa sukanya aku dengan si Jolly ini. Sebelum ada shower scrubnya aku pakai lotionnya dulu dan langsung in love sama aromanya. Makanya happy banget waktu tahu Scarlett ngeluarin shower scrub dengan varian Jolly. Aromanya sama kaya lotionnya, awet banget (---menurut aku paling awet dibandingkan varian yang lain). Jadi kalau dipakai barengan tubuhku wanginya berlipat ganda, huehehe... 



Aku busakan shower scrub Scarlett ini di shower puff supaya busanya lebih banyak dan aromanya lebih keluar. Tapi kalaupun nggak (biasanya kalau aku lagi buru-buru), sama sekali nggak mengurangi keefektifan fungsinya kok. Beads nya yang banyak sudah cukup membantu memaksimalkan saat membersihkan kulit dan mengangkat sel kulit mati. Kandungan vitamin E, glutathione dan colagennya bermanfaat untuk membuat kulit lebih halus setelah eksfoliasi, mengembalikan kelembapan kulit, dan membantu mencerahkan kulit tubuh. Sama seperti body scrubnya, ini juga bisa digunakan di semua jenis kulit (Shane juga kadang pakai, BTW) dan aman digunakan oleh ibu hamil dan menyusui. Tapi as always, dianjurkan untuk dikonsultasikan dulu dengan dokter ;)



Oya, aku suka banget sama desain botolnya yang ringkas dan praktikal. Meski isinya 300 ml alias lumayan besar size botolnya, tapi tetap nyaman buat dibawa kemana-mana. Soalnya tutupnya benar-benar anti tumpah dan gampang banget dibuka-tutup karena modelnya flip top. Botolnya juga kokoh tapi nggak bikin shower scrubnya susah keluar. Jadi aku selalu bisa pakai isinya sampai habis bis bis, ---tanpa ada yang nempel-nempel di dinding botol. Menurutku sih ini better than botol dengan pump ya, soalnya aku selalu nemu problem masih ada isinya yang tersisa. 


Selesai mandi dan say thank you lagi sama Shane (sebelumnya say thank you dari kamar mandi, hahaha), aku masuk ke kamar. Bukan buat balik tidur lagi lho, tapi buat pakai body lotionnya Scarlett. Tahu dong pakai varian apa?! Yup, Jolly! Saking sukanya aku sampai bawa kemana-mana. Sebelum libur saja aku sempat fisioterapi dan sengaja bawa si Jolly ke dalam ruangan klinik supaya sesi terapinya jadi lebih fun :D

Waktu duduk di depan meja rias, siap-siap mau pakai lotion, ternyata ada kejutan lain yang menantiku! Ada satu botol baru body lotion Scarlett varian Jolly! Aaaa, ----mumpung belum lepas handuk aku buru-buru keluar kamar lagi buat bilang terima kasih sama Shane, hahaha. Suamiku ini memang baik, tapi dia nggak romantis. Makanya aku selalu amaze kalau dia kasih kado-kado gini meski nggak pakai kata-kata xD



Jolly ini aromanya terinspirasi dari YSL Black Opium. Jadi wangi floriental gourmand gitu, persis kaya body showernya. Meski bisa dipakai kapan saja, body lotion ini paling pas kalau dipakai sehabis pakai body scrub dan body shower, ada efek relaksasinya gitu deh. Botolnya pump, jadi nggak messy. Konsistensinya agak thick ya, makanya kemasannya nggak disamain dengan body showernya yang lebih cair dan cenderung seperti gel ringan. Isinya sama 300 ml, sama dengan body showernya. Makanya lumayan awet, padahal sehari minimal aku pakai dua kali karena kulit aku kering.


Kandungannya nggak main-main, lengkap banget. Ada glutathione, vitamin E, kojic acid dan niacinamide. Bermanfaat untuk membantu mengembalikan kelembapan kulit tubuh, membantu mencerahkan kulit tubuh, menutrisi kulit tubuh dengan kandungan terbaiknya, dan menyegarkan juga memberi keharuman tahan lama. Seperti yang lainnya, body lotion Scarlett ini juga dapat digunakan di semua jenis kulit dan aman digunakan oleh ibu dan menyusui (dianjurkan untuk konsultasi dengan dokter terlebih dahulu, yaaa). Shane juga kadang ikut pakai untuk di bagian kulitnya yang bertato karena (katanya) suka kering. 


Ketiga produk Scarlett ini sudah teregistrasi di BPOM, jadi berasa tenang gitu deh pakainya. Aku dari dulu memang selalu cari aman karena kulitku sensitif. Daripada pakai produk yang "katanya, katanya, katanya...", aku sih milih yang sudah jelas saja. Juga yang nggak kalah pentingnya semuanya sudah bersertifikat halal dan nggak diujicobakan pada hewan. Body care yang berlabel "not tested on animals" memang masih jarang di sini, banyaknya produk dari luar. Bangga banget sama Scarlett yang peduli nggak cuma sama kita tapi juga sama hewan :) Dan produk sebagus ini harganya terjangkau banget. Setiap produknya masing-masing Rp. 75.000! Buatku membantu banget supaya bisa konsisten pakainya karena nggak khawatir nggak terbeli, hahaha :D (Hemat, guys, lol).


Ngomong-ngomong soal hemat, Scarlett ada paket hematnya juga, lho. Harganya Rp. 300.000 dan sudah dapat 5 item plus dapat box exclusive dan free gift! Aku belum pernah, sih, tapi next pas lotion etc aku habis pasti beli yang paket hemat ini. Teman-teman yang mau beli (---masih belum telat buat beliin aku kado tahun baru, lhooo, huehe, maksa ya) bisa langsung melalui link yang tertera di bio instagramnya Scarlett, @scarlett_whitening.



Setelah selesai memanjakan diri, aku hangout di ruang TV sama Shane, eat more cookies dan begitu terus sampai malam lalu kami ketiduran :D Tahu apa yang bikin aku semakin happy? Literally pas kami bangun kado Natal dari Ibu Mertua tiba! Waaa, aku dan Shane langsung kaya bocah lagi xD Isinya macam-macam, dari mulai pernak-pernik sampai baju kembaran. Duh nggak Ibu Mertua, nggak Ibu, dua-duanya kalau kasih kado pasti isinya dua dan kembar supaya nggak berebutan, hahaha. Tapi kado-kado ini bukan berarti yang terpenting, seperti yang aku bilang sebelumnya, kado yang terindah adalah keluarga dan kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama mereka. Aku beruntung dan bahagia memiliki mereka. Meski aku sekarang tinggal berdua saja dengan Shane, tapi bukan berarti kami berjauhan di hati. Kami tetap "berkumpul" meski lewat telepon dan internet :)




Sekali lagi, Merry Christmas and happy new year! (Masih Februari kan, hehe!).


xx,


Indi