Selasa, 03 November 2020

Cerita Halloween Tahun Ini yang "Berbeda" :)





Halloween... Halloween... nggak pakai malu-malu aku bilang kalau ini adalah salah satu musim liburan (eh di sini nggak libur, ya, lol) favoritku, hahaha. Dari waktu kecil sampai sudah menikah sekarang, aku selalu menikmati hujan dari balik jendela kamar, film-film seram, berkumpul dengan keluarga... dan tentu saja segala macam dekorasi dan kostumnya. Tentu karena aku lahir dan besar di Indonesia, Halloween yang aku kenal itu nggak seperti yang di film-film. Nggak ada trick or treat (kecuali di tempat terbatas, misal sekolah, perumahan, kantor atau mall), dan dekorasi sampai ke pekarangan. Apalagi dengan originnya, meski tahu, mengerti dan menghormati tapi di sini lebih seperti di Amerika. Halloween nggak melulu harus seram dan dikaitkan dengan kepercayaan tertentu. Mau pakai kostum Superman atau Mickey Mouse pun boleh-boleh saja, hahaha.


Meski spiritku tetap sama (bahkan lebih, lol) tapi nggak bisa dihindari kalau kondisi sekarang harus membuatku bikin beberapa penyesuaian. Dulu biasanya Ibu membuatkanku kostum, ---nggak harus baru, kadang dress lama dirombak kembali atau menggunakan kain-kain yang sudah ada. Bapak juga dulu selalu membantuku untuk membuat dekorasi dan pelengkap kostum, seperti waktu membuatkanku sayap tinkerbell dari gantungan baju. Tapi karena sekarang sudah tinggal terpisah, berkunjung ke rumah mereka lalu nonton film horor saja sudah cukup, kok :) Justru malah menantangku untuk lebih kreatif, ---lebih kreatif dari dulu karena sekarang apa-apa hanya dikerjakan olehku dan Shane saja. 


Punya tanggal pernikahan yang dekat dengan Halloween itu semacam berkah tapi rempong. Kenapa? Soalnya kalau mau rayain anniversary harus benar-benar diatur biar nggak tabrakan sama Halloween yang biasanya sudah ditunggu-tunggu (baca: ditagih terus) sama keponakanku, Ali. Hahaha. Untungnya, karena ini sudah tahun ketigaku dan Shane merayakan Halloween bersama, kami jadi sudah makin pro :p Caranya dari jauh-jauh hari, alias awal bulan Oktober kami cicil apa saja yang dibutuhkan untuk Halloween. Termasuk diatur budgetnya juga supaya nggak berlebihan dan tiba-tiba ada pengeluaran nggak terduga. Dimulai dari yang Ali inginkan. Dia bilang ingin menjadi bajak laut, jadi kami belikan topi bajak laut saja tanpa kostum. Karena menurut kami dengan memakai topinya saja sudah cukup menunjukkan bahwa dia bajak laut :D Ali juga ingin mengukir labu karena tahun kemarin nggak sempat ikutan dan membuat kue lumpur (mud cake). Jadi Shane siapkan budget untuk membeli itu semua ketika hari H, plus budget untuk pengganti trick or treatin’ yang nggak diadakan tahun ini karena sekolah libur. 


Sedangkan untuk kami berdua sih, dibanding segala macam sweets kami lebih peduli dengan film-film horror dan dekorasi yang membuat suasana rumah lebih hangat. Kami membeli kaos bertama Halloween kompakan yang hanya berbeda warna. Nggak pakai kortum untuk hari H karena sebelumnya ternyata ada event di salah satu coffee shop dekat rumah kami, jadi mending dipakai untuk ke sana saja. Selebihnya kami membeli sarung bantal sofa dengan pertimbangan bisa dipakai untuk jangka waktu lama dan memang butuh (maklum pengantin baru, di rumah baru punya satu pasang, hahaha). Juga ember permen untuk Ali hunting pura-pura trick or treatin’ di supermarket, dan balon-balon digunakan sebagai dekor yang nantinya bisa digunakan Ali untuk bermain (two in one kan jadinya, hehe). Kebetulan rumah kami memang temanya Halloween sepanjang tahun. Jadi segitu saja sudah cukup. Bersenang-senang boleh, tapi harus tetap ingat buat bijak ;)



Pra Halloween.


Halloweennya sih memang cuma satu hari. Tapi sejak masuk bulan Oktober biasanya Halloween vibes sudah terasa. Tahun-tahun kemarin aku dan Shane marathon film horror (hampir) setiap malam sampai mata sepet, hahaha. Sedangkan tahun ini, karena stock film sudah menipis jadi film yang kami tonton nggak terlalu banyak. Kebanyakan sih ketika menginap di rumah orangtua karena di sana ada TV kabel (---iya, kami nggak/belum punya, masih mempertimbangkan perlu atau nggak). Kadang nontonnya kepotong-potong juga karena kebetulan ada 2 keponakanku yang sedang menginap di sana. Mereka lebih tertarik dengan kostum-kostum Halloween daripada film. Jadi yaaa aku mengalah untuk mendandani mereka sambil tetap aku sounding kalau Halloween masih akhir bulan nanti, hahaha.


Keponakanku ada 2, namanya Ali dan Abi Cody. Mereka sih biasanya cuek, mau pakai apa saja asal kostum sudah happy. Ali yang lebih tua saja baru tahun ini punya keinginan jadi bajak laut. Tahun-tahun kemarin dia akan pakai apapun yang dipilihkan bundanya atau bahkan aku. Jadi aku dandani saja mereka menjadi R. L Stine dan Slappy. Lol, yup, kalau sudah mengenalku cukup lama pasti tahu kalau aku adalah fans berat karya-karya R. L Stine, terutama Goosebumps :D Aku tunjukkan dulu foto-fotonya pada mereka, dan mereka mau. Kebetulan Cody anak aktif dan cerewet sekali, jadi kupikir cocok untuk didandani seperti Slappy, si boneka hidup beraksi dari Goosebumps. Ketika mau  kufoto saja dia nggak mau diam, hahaha. Untung saja aku sempat mengambil beberapa foto jadi bisa disimpan untuk kenang-kenangan :)


Boneka hidup beraksi versi cute :D


Sedangkan Ali, dia sih nggak didandani juga sudah "mirip" dengan R. L Stine, hahaha. Ini menurutku lho, kalau pembaca di sini anggap nggak mirip ya nggak apa-apa :p Mata mereka sama-sama teduh. Belum lagi dia anaknya imajinatif, nggak akan kaget kalau suatu hari bakal jadi penulis hebat, hahaha (Amin...). Tinggal aku kasih tahilalat palsu, sudah deh jadi R. L Stine.


Benar mirip, kan? :D

 

Dan ternyata 2 bocah ini dapat kejutan pra Halloween dari R. L Stine! Beliau melihat foto mereka dan memutuskan untuk me-retweet foto Ali! Hahaha, beliau bahkan memberi komentar. "Looking good!" katanya, dan langsung dishare oleh puluhan fansnya. Cody juga dapat reaksi dari R. L Stine, dua kali beliau memberi "heart" pada fotonya. Aku sebagai tantenya jadi senyum-senyum sendiri, hehe. Sudah puluhan tahun jadi fansnya akhirnya dinotice juga gara-gara keponakan :D


Aku yang sebenarnya hanya terfokus dengan hari H dan hanya nonton film sambil menunggu Halloween, ternyata malah ikutan "perayaan" pra Halloween juga. Gara-garanya sih di Kopi Q, coffee shop dekat rumahku (dekat banget, masih satu komplek) ngadain event lucu gitu. Mereka ada free meals buat pengunjung yang datang pakai kostum Halloween. Nah, kebetulan aku lagi mau ke rumah ortu (LAGI, hahaha) jadi sekalian saja aku mampir ke Kopi Q dengan kostum Snow White ku. Dapatnya plus-plus kan, seru ber Halloween sekaligus perut kenyang :D Ini juga nih bisa jadi salah satu alasan kenapa aku suka banget Halloween, soalnya banyak promo dan freebies :p


Snow White bersepatu keds :p


Snow White dan rakyat jelata xD Eh, becanda, ini pangeranku, dong. Cuma lagi nyamar gak pakai baju kerajaan :p




Akhirnya, Halloween!


Ketika hari yang dinanti-nanti tiba aku malah sakit! Hahaha, pantas saja sih karena tanggal 28 dan 29 nya aku dan Shane merayakan ulang tahun pernikahan kami dan ada sedikit insiden (kapan-kapan kuceritakan). Tapi di pagi hari tetap saja aku bangun dengan semangat dan memaksakan untuk mandi. Di luar hujan deraaaas sekali, rasanya bikin badanku makin meriang. Untung saja Shane langsung sigap membelikanku obat dan pelega tenggorokan. Syukurlah di siang hari aku merasa membaik dan siap menjemput Ali untuk ber Halloween bersama :) 


Balon-balon itu Shane yang tiup. Lumayan penuh perjuangan :p


Tahun ini kami gak pakai kostum, cukup matching T shirt bertema Halloween saja :)


Ali rupanya sudah sangat siap, ketika aku dan Shane tiba dia sudah memakai jaket dan masker. Sebenarnya Cody juga ingin ikut, tapi karena dia sangat aktif rasanya nggak mungkin aku dan Shane handle apalagi keadaanku sedang kurang fit. Rasanya nggak enak banget :( Tapi Ibu juga memang menyarankan agar Cody di rumah saja bersamanya dan berjanji dia tetap akan bersenang-senang meski nggak ikut bersama kami. Akhirnya setelah berpamitan singkat kami bertiga pergi ke supermarket. Iya, supermarket! Hahaha. Biasanya sih orang-orang membeli labu di pumpkin patch ya supaya Halloweennya lebih terasa. Tapi kami nggak mau memaksakan, supermarket adalah lokasi terdekat dan di sana juga serba ada. Sempurna bagi kami ;)


Hujan sempat berhenti sebentar ketika kami tiba di supermarket. Bahkan sebelum Shane mendapat troli, Ali sudah berlari ke tempat sayur-sayuran untuk mengambil labu, hahaha. Seketika badanku rasanya jadi sehat walafiat! Mata Ali berkilat-kilat ketika dia menemukan labu yang menurutnya "besar dan bagus". Semangat Ali benar-benar membawa vibes positif :D Sengaja aku membiarkan Ali mengambil labu mana pun yang dia mau agar pengalaman mengukir labu pertamanya berkesan. Sebenarnya Shane sempat memberi saran untuk mengambil labu yang lebih besar dan bentuknya lebih simetris. Tapi setelah melihat ekspresi Ali, dia pun setuju untuk mengikuti "besar dan bagus" versi Ali. (---Pssst, menurut kami labunya terlalu kecil).


Kami juga sudah menyiapkan ember permen berbentuk labu untuk Ali. Sebagai ganti trick or treat, kami izinkan Ali untuk berkeliling di lorong-lorong supermarket dan mengambil permen apapun yang dia inginkan selama muat masuk ke dalam ember. Manisnya, ternyata Ali tetap ingat dengan adiknya di rumah. Dia juga ingin memberi Cody permen karena khawatir di rumah Uti (Nenek, ibuku) nggak ada permen, hahaha. Aw, tentu saja aku dan Shane sudah siapkan oleh-oleh untuk adiknya juga. Semua yang kami beli double agar adil. Aku sih berharap tahun depan Cody bisa ikut, karena meski Ibu memastikan dia bersenang-senang di rumahnya tetap saja aku merasa ada yang kurang :')


Hasil “buruan” Ali di supermarket.

Tepat ketika hujan kembali lebat (baca: angin kencang, petir, bikin seram) kami selesai berbelanja. Udara yang dingin rupanya membuat Ali sedikit mengantuk. Di mobil, aku bisa melihat Ali terkantuk-kantuk di kursi belakang. Tapi setiap sadar dia sedang diperhatikan, dia pasti langsung tersenyum lagi dan bilang, "Ali nggak tidur kok." :D

Aku bisa maklum, Ali masih kecil jadi acara Halloweennya pun harus dibuat singkat, family friendly (no seram-seram) dan nggak melewati waktu tidurnya. Jadi ketika kami tiba di rumah, tanpa membuang-buang waktu aku langsung bertanya apa yang ingin Ali lakukan lebih dulu. Ali ingin membuat kue lumpur, saking siapnya dia memilih 2 bungkus permen cacing ketika di supermarket. Supaya lebih seram katanya, hahaha. Aku dan Shane sebenarnya ingin membuat semua treats vegan friendly, tapi berhubung Ali bukan vegan jadi kami izinkan untuk memakai permen-permennya sebagai hiasan (dan tentu dia sendiri yang menghabiskan).


Ali, the cutest bajak laut :)


Kue lumpur, “tradisi” Halloween kami. Cakenya vegan friendly, tapi gak begitu dengan cacing-cacingnya :’D


Saking semangatnya Ali nggak mau dibantu, dari mulai menghancurkan Oreo sampai memasukkan loyang ke oven dia lakukan sendiri. Aku dan Shane hanya membantu sedikit-sedikit. Dia bahkan punya ide untuk memberi "batu nisan" di kuenya, hahaha, totalitas sekali ini bocah :D Aku sempat tanya, darimana dia bisa tahu tentang batu nisan. Ternyata dari ortuku, katanya mereka menunjukkan makam Veggie, anjing kami dulu dan di sana ada batu nisannya. Aww... :') By the way, aku happy banget pengalaman pertama Ali bikin mud cake berhasil. Maklum lah, aku dan Shane sama-sama ngaco kalau soal baking, hahaha. Harus panggang berapa menit saja pakai kira-kira. Malah kami sempat mikir kalau kuenya nggak bisa keluar loyang karena lengket, eh ternyata bisa :p


Setelah itu, tentu saja yang paling ditunggu-tunggu; Mengukir labu! Dulu, waktu aku kecil setiap Halloween hanya ada film, kostum dan permen. Labu hanya jadi sesuatu yang kulihat di film atau di kolak pisang, hahaha. Saat diajak ke Lembang untuk melihat pumpkin patch langsung pun nggak pernah terpikir buat mengukirnya. Pokoknya aku sama sekali nggak tertarik untuk ribet-ribet :p Baru setelah dewasa aku mulai sadar kalau aktivitas ini sebenarnya bermanfaat juga buat bersenang-senang sekaligus mengasah kreativitas (cieeee...). Toh, nggak bisa dibilang "buang-buang" juga karena biji labunya bisa dijadikan kuaci. Nah, kebetulan suamiku juga ternyata sesuka itu sama Halloween, 11-12 sama aku. Jadi semenjak tahun kemarin kami mulai menjadikan mengukir labu sebagai "tradisi" Halloween kami.


Ali menggambar di labu pertamanya.


Shane mengukir labu dengan super serius.


Meski aku belum izinkan Ali untuk memegang pisau, tapi aku bebaskan Ali untuk menggambar pola di labu lalu Shane yang akan mengukirnya. Awalnya dia menggambar mata, lalu gagal. Akhirnya dia menggambar mulut dengan sangaaaaat lebar, hahaha. Hasilnya ternyata bagus sekali, apalagi setelah ditambahkan lilin elektrik di dalamnya. Ali bangga. Aku dan Shane juga bangga dengan karya Ali :) Kami tinggal di apartemen, jadi nggak punya halaman. Sebagai gantinya kami pajang saja labunya di balkon. Entahlah apa orang bisa lihat karena kami di lantai 15 :p


Aku dan labu yang digambar oleh Ali.


Ali bangga dengan labu pertamanya, dan aku bangga dengan kue lumpur yang gak gagal :D


Seram atau imut nih? :D


Malam semakin larut, Ali tampaknya masih sangat betah. Tapi dengan berat hati kubilang padanya kalau dia harus kami antarkan pulang :') Di perjalanan pulang Ali terus-terusan bercerita tentang betapa bahagianya dia bisa menghabiskan Halloween bersama kami dan nggak sabar untuk merayakan lagi tahun depan. Aku dan Shane juga bahagia sekali, apalagi ini jadi Halloween pertamanya yang nggak dirayakan di rumah ortuku. Bayangkan saja, sejak usia dia 11 bulan Ali selalu ber Halloween bersamaku dan keluarga di rumah kakek neneknya. Jadi ini pasti pengalaman yang berkesan buatnya. Juga buat kami yang pertama kalinya kedatangan "tamu" Halloween di rumah sendiri. 

Sebelum berpisah aku memeluk Ali erat. Nggak lama adiknya langsung menyambut Ali dan menagih permen hasil (pura-pura) trick or treat nya :)


Setiba di rumah aku dan Shane langsung beristirahat karena kami kelelahan. Rumah kami berantakan tapi kami senang sekali, biarlah beres-beresnya besok saja, hahaha. Setiap tahun Halloween selalu meninggalkan cerita berkesan buatku, ---cerita yang berbeda-beda tapi semuanya sama-sama berkesan. Apa aku rindu untuk ber Halloween di rumah orangtua? Apa aku rindu pergi ke rumah hantu dan memakai kostum? IYA. Tapi biarlah kerinduanku itu menjadi kejutan. Lihat saja tahun depan, pasti ada cerita baru lagi. Yang lebih seru! :)


Selamat Halloween semuanya. Merayakan atau nggak merayakan, semoga hari kalian menyenangkan bersama keluarga ;)


Happy Halloween! ;) 


Vlog halloween kami. Jika kalian membaca ini dari mobile mode, silakan cari channel "Indi Sugar Taufik" di Youtube atau klik di sini :)


treat or TREAT, lol,


Indi


Selasa, 06 Oktober 2020

Ketika Indi (Akhirnya) Menjadi Annie


Pernah nggak sih kalian punya cita-cita masa kecil yang nggak kesampaian sampai dewasa?

Aku pernah, ---dan akhirnya berhenti karena usia. Bukan, bukan karena menyerah, tapi apa yang aku cita-citakan itu hanya bisa dilakukan oleh anak-anak. Jadi begitu menginjak usia 18, aku tahu kalau harus say good bye sama cita-cita ku itu. Bukan melupakan, tapi lebih tepatnya mengikhlaskan, hehe :) 


Annie, Disney (1999).


Aku masih ingat waktu pertama kali menonton film musikal "Annie" versi Disney yang dirilis tahun 1999 lalu (---iya, sudah lama sekali). Mata dan telingaku sama sekali nggak bisa beranjak dari adegan demi adegan, lagu demi lagu... tarian demi tarian. Padahal, jauh sebelumnya aku sudah pernah menonton film berjudul sama dengan versi yang lain. Tapi entah mengapa versi Disney ini sangat melekat di hati. Mungkin saja karena Alicia Morton, gadis yang memerankan Annie berambut lurus sepertiku. Sementara di semua versi lain Annie, si gadis yatim piatu selalu digambarkan berambut keriting menggemaskan seperti versi versi comic stripnya (yang ada sebelum versi broadway apalagi filmnya)


Aku yang pemalu, ---jauh lebih pemalu dari sekarang, hehe, ---mulai berani mencoba menyanyikan lagu-lagunya. Silently, hanya sekedar lip sync sampai akhirnya berani mengeluarkan suara. Di duniaku, aku adalah Annie. Tapi aku nggak berani memberitahu siapapun. Hanya Tuhan dan boneka-boneka di kamar lah yang menjadi penonton pertunjukan musikalku. Beranjak remaja aku mulai memberitahu cita-citaku pada orang-orang terdekat. Orangtua, terutama. Reaksi mereka? Ternyata tanpa kuberitahu pun mereka sudah tahu, hehe. Terutama Ibu. Mungkin karena sudah terlihat jelas. DVD "Annie" saja aku putar berulang-ulang, lalu inspirasi style untuk dressku pun kebanyakan diambil dari film itu. Jadi mereka nggak terkejut lagi. Kalau sama teman-teman, aku memang nggak terang-terangan karena of course, ---aku tahu diri. Usiaku sudah mulai ketuaan untuk memerankan Annie, dan aku juga nggak bisa bernyanyi. Apa kata meraka kalau tiba-tiba saja aku bilang ingin muncul di pertunjukan musikal? Mau jadi peran utama lagi! Pasti mereka bingung, hahaha.


Tapi aku pikir kalau kesempatan menjadi pemeran utama terlewat, at least aku masih bisa menjadi Annie "ramai-ramai". Lalu mulailah aku menghasut pelatih paduan suaraku untuk membawakan lagu-lagu "Annie". ---Namanya Kak Immanuel, hampir tiap latihan aku bujuk terus sambil memaksanya mendengar lagu-lagunya. Berhasil? Hampir! Karena justru ketika Kak Immanuel dan teman-teman padus setuju, datanglah berita buruk. Dana untuk membuat konser mini kurang, padahal kami sudah berlatih bahkan siap dengan konsep kostumnya. Paduan suara dibubarkan... begitu juga dengan cita-citaku, huhuhu...


Dulu aku ikut paduan suara bukan karena merasa bisa bernyanyi. Bernyanyi di kamar mandi saja jarang, apalagi di depan umum, hehe. Tujuanku ikut karena aku ingin bernyanyi tapi nggak mau menonjol. Aneh kan? Maunya dapat peran Annie tapi pemalunya setengah mati :D Waktu di penghujung usia remaja aku masih mikir mungkin suatu hari aku akan berani untuk ikut audisi musikal, mungkin aku masih bisa "paksa" usiaku untuk dapatkan peran Annie. Tapi beranjak dewasa aku tahu kalau mustahil untuk memerankan anak usia 10-11 tahun (Alicia Morton berusia 12 tahun waktu memerankan Annie). Tubuhku semakin tinggi, belum lagi suaraku nggak senaif dulu karena sudah mengenal pahit manis kehidupan, ahahaha (becanda!)


Akhirnya aku sampai di titik benar-benar ikhlas bahwa aku nggak bisa memerankan Annie. Tapi tetap, aku menjadikan film musikal itu sebagai inspirasi. Filmnya masih kuputar here and there. Bahkan waktu aku punya film layar lebar sendiri yang berjudul Mika, aku minta Ibu membuatkan dress istimewa untuk dipakai ke pemutaran perdana. Dress berwarna merah dengan pita putih di pinggang, seperti Annie :) Aku kembali menjadi Annie di my own world saja. Hampir nggak pernah aku menyebut namanya lagi kecuali saat keluarga atau teman-teman dekat bertanya (ada satu orang teman yang dari dulu sampai sekarang selalu memanggilku dengan sebutan 'Kakak Annie', namanya Wilson). Bahkan suami pun nggak tahu kalau dulu aku punya obsesi untuk memerankan Annie. Ia tahu aku punya dress merah, tapi ia sama sekali nggak menyangka kalau dress itu punya nilai historis sampai akhirnya aku ceritakan :)


Aku memakai dress “Annie” di pemutaran perdana filmku sendiri, “Mika”. Somehow dress ini membuatku less deg-degan :D


Aku punya teman yang berada jauh dari sini, di Jepang. Namanya John Pak. Beliau usianya jauh di atasku, mungkin seusia dengan Bapak. Kami bisa berteman karena sama-sama bermain ukulele. Bisa dibilang aku adalah fansnya karena saat mengikuti channel musiknya, aku masih sangat baru di dunia ukulele. Diawali dengan saling bertukar komentar, kartu pos, lalu kami pun berkolaborasi. Sudah cukup lama terakhir kami bermain musik bersama, mungkin karena sama-sama sibuk, ---setahuku John memang nggak banyak melakukan kolaborasi belakangan. Bulan lalu, entah dapat ilham darimana, aku tiba-tiba saja berkomentar di salah satu videonya, "Seharusnya kamu bikin kolaborasi ala karantina, pasti seru!". Eh, malamnya aku dapat pesan dari beliau yang ternyata memintaku untuk mengisi satu line di lagu yang sedang dikerjakannya. Rasanya senang sekali, karena aku memang rindu berkolaborasi dengannya (---iya, meskipun aku cuma mengisi beberapa detik saja). Tapi rasa senangku rupanya belum apa-apa, karena setelahnya John menginginkan kolaborasi yang lebih imbang, dan aku mendapat kehormatan untuk memilih lagunya! Bisa tebak kan lagu apa yang aku pilih?! :D


Tentu saja aku memilih salah satu lagu dari musikal "Annie". Aku bahkan sudah tahu lagu yang mana yang cocok untuk kami. Tapi sebelum aku beritahu John, aku beritahu Shane lebih dulu tentang siapa itu Annie. Saking senangnya aku sampai berkaca-kaca menceritakan tentang obsesi masa kecil aku (ahahaha...). Dan dengan lantangnya kubilang, "AKU AKHIRNYA JADI ANNIE! CITA-CITAKU AKHIRNYA TERCAPAIIIIII!" Shane mungkin bingung, tapi aku mana peduli, aku terlalu bahagia! Bahkan saking bahagianya aku langsung WhatsApp Ibu untuk minta dikirimi dress Annie buatannya. Nggak lupa aku juga bilang tentang rencana kolaborasiku dengan John Pak, yang ternyata membuat Ibu terharu. Katanya beliau bangga sama aku karena akhirnya mendapat apa yang sudah lama diimpikan :')

... Dan di sini aku baru sadar kalau John belum tentu setuju dengan pilihan laguku. Lah, aku bilang saja belum, kok :'D


Syukurlah, ternyata John setuju dan menganggap lagu "I Don't Need Anything But You" adalah pilihan yang bagus :) Aku bersemangat sekali, ---bisa dibilang agak over, huhu. Masih di malam yang sama aku langsung mengirimkan video lagu asli, chords dan lirik lagunya agar John bisa mengerjakan bagiannya. Sedangkan bagianku? Sudah beres! Iya, sesemangat itu coba. Rasanya ada yang memacu adrenalinku sampai-sampai aku tahan nggak tidur semalaman demi 'menjadi Annie'. Aku sampai meminta maaf berkali-kali pada John karena aku khawatir membuatnya terburu-buru. Tapi John bisa mengerti, katanya beliau tahu betapa aku sangat menyukai Annie, dan ia senang karena bisa menjadi bagian dari apa yang sangat berarti untukku. Oh, my... aku terharu banget sampai-sampai sedikit menangis waktu mengetik balasan pesannya. Lalu akhirnya tangisanku yang 'sedikit' pun berubah menjadi menangis betulan, ---karena Shane ternyata ingin menjadi bagian dari cita-cita masa kecilku juga. Ia setuju untuk bermain gitar untuk mengiringi kolaborasi kami!


Sudah sangat siap untuk bernyanyi dan bermain ukulele! :)


Dress Annie ku, yang selalu terasa magical saat aku memakainya :)


Proses rekaman musik dan videonya terasa seperti mimpi, semuanya berjalan dengan cepat. Tahu-tahu saja video clipnya sudah tayang. Dan rasa bahagiaku jadi berlipat-lipat karena Ibu dan Bapak terus-terusan mengirimiku pesan tentang betapa bangganya mereka. Mungkin saat membaca tulisan ini ada di antara kalian yang menganggap kalau aku dan keluarga bereaksi berlebihan. "Masa nyanyi di YouTube doang bangga," begitu mungkin di benak kalian. Hehehe, itu nggak apa-apa, kok dan sangat wajar. Karena apa yang menjadi 'prestasi' bagi setiap orang kan berbeda. Dan belum tentu orang lain juga punya perasaan yang sama (kecuali kalau suatu hari internet bisa punya virtual feeling, jadi saat membaca tulisan kalian juga bisa sekalian merasakan perasaan si penulis, lol). Buatku berhasil membawakan salah satu lagu dari musikal Annie ini adalah pengingat bahwa nggak ada kata terlambat dalam menggapai sesuatu. Apa yang kita cita-citakan mungkin nggak bisa terwujud di saat itu juga, tapi bukan berarti mustahil, ---bisa saja nanti :)


Video clip "I Don't Need Anything But You" dengan aku sebagai Annie. Yay! :)

Untuk yang membuka blog ini di mobile mode, klik DI SINI untuk menonton video clipnya.


Aku pikir 'cerita Annie' hanya sampai di sini, tapi ternyata masih ada kejutan lain. Tengah malam ketika mengecek notifikasi di instagram, aku menerima komentar yang menurutku... aneh. Dari seseorang yang bernama Sacha Charnin Morrison. Isinya seperti ini;

"Dari semua versi TV dan film, Annie 1999 lah yang paling mirip dengan versi panggungnya. Ayah saya adalah yang mengubah dari kartun menjadi musikal (dengan bantuan banyak orang). Teruslah bernyanyi, di suatu tempat ayahku bisa mendengarnya." ---Komentar diakhiri dengan emoji tepuk tangan dan hati berwarna merah. 

Nggak cukup satu kali aku membaca komentarnya agar yakin dengan maksudnya. Ayah? Siapa yang ia sebut Ayah? Karena penasaran aku ketik namanya di mesin pencari Google. Dan hasilnya benar-benar membuatku kena mini heart attack. Sacha adalah putri dari mendiang Martin Charnin, ---konseptor dari musikal Annie!


Dapat komentar dari putri konseptor musikal “Annie” :’)


Keesokan harinya aku dan Shane menginap di rumah Ibu dan Bapak, bisa ditebak dong aku langsung bersemangat untuk bercerita tentang komentar manis yang kuterima. Aku bilang, aku merasa sangat diberkahi karena kejutan datang bertubi-tubi. Aku pikir waktu akhirnya bisa membawakan salah satu lagu Annie saja sudah lebih indah dari apa yang pernah kuimpikan, tapi rupanya masih ada kejutan lain. Ibu dan Bapak menggoda dengan bilang kalau aku pasti salah lihat, atau yang berkomentar itu akun palsu. Lalu kami tertawa sampai perut kami sakit, hahaha :D Aku bilang, "Lihat saja sendiri kalau nggak percaya," sambil menyerahkan handphonenya pada Ibu. Tapi aku lupa kalau untuk membuka layarnya dibutuhkan password, jadi aku ambil kembali handphonenya. Dan saat itulah aku melihat ada notifikasi yang masuk. Seseorang baru saja memfollowku di Instagram.


Alicia Morton.


Aku difollow oleh ALICIA MORTON!


---Itu Annie sungguhan!!


OMG!


Annie sungguhan :’D



yang akhirnya menjadi Annie,


Indi



------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Selasa, 01 September 2020

Menang atau Kalah? :) Update dari Kompetisi Kejar Mimpi!

Dengan sertifikat dari kompetisi musik “Kejar Mimpi”.

Aku berada di urutan 25 dari ratusan peserta :)


Haiiiii, kali ini aku mau post singkat saja. Aku mau ucapkan terima kasih banyak banyak banyaaaak untuk teman-teman di sini yang sudah mendukung waktu aku ikutan kompetisi cover lagu di "Kejar Mimpi(gerakan sosial yang diinisiasi oleh CIMB Niaga). Aku berada di urutan 25. Secara tekhnis aku kalah karena nggak berada di 10 besar, tapi aku tetap merasa menang karena berhasil mengalahkan rasa takutku :)

"Apa kemampuan bermusikku terlalu biasa?"

"Apa aku terlalu 'tua' untuk belajar sesuatu yang baru?"

"Bagaimana nanti dengan komentar orang-orang?"


Siapa peduli? Yang penting aku mencoba, lakukan yang terbaik dan bersenang-senang. Deg-degan karena menunggu hasil lomba itu lebih asyik daripada nggak berusaha melakukan apa-apa ;) 

Aku juga mau ucapkan selamat kepada para pemenang dan semua yang berpartisipasi. Kalian hebat! :)


Video cover "Ibu Pertiwi", lagu wajib untuk kompetisi. Aku bernyanyi dan bermain ukulele di sini. Sementara Shane, suamiku, bermain gitar dan jadi cameraman :p



yay!

Indi


---------------------------------

Dapatkan novel "Waktu Aku sama Mika" di: 0878 43333019 (WhatsApp Shira Media),

dan dapatkan novel "Guruku Berbulu dan Berekor" di 0877 81930045 (WhatsApp Haura Publishing).

-------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com


Selasa, 18 Agustus 2020

Memperingati Hari Kemerdekaan RI ala Indi dan Shane di Rumah Saja

Di pengingat kenangan Facebookku muncul foto dari tahun kemarin. Aku, Shane dan Ali, berpegangan tangan di depan depan tiang canopi yang dihiasi bendera merah putih. Aku memakai kebaya merah, Shane yang memakai batik tampak mengernyit karena teriknya cahaya matahari. Sementara Ali memakai baju pangsi Sunda tersenyum nakal ke arah kamera, ---yang anehnya terlihat lebih mungil dari yang aku ingat (sepertinya setiap berganti tahun aku terus-terusan merasa Ali tumbuh dengan cepat, hahaha). Ya, kami baru saja selesai merayakan hari kemerdekaan Indonesia waktu foto itu diambil. Saking lamanya berdiam di rumah aku jadi terkejut sendiri kalau itu BARU satu tahun yang lalu. Tahun kemarin aku masih ikut pawai bersama Ali dan Shane di sekitar sekolah, juga masih menonton pawai dari RT dan RW lain dari balik pagar rumah orangtuaku. Somehow mengingat semua itu jadi terasa janggal. Jangankan untuk berdesakan di pawai, untuk antri di kasir supermarket saja sekarang rasanya "salah".


Shane, aku dan Ali. Waktu itu mataharinya memang sedang super terik :D


16 Agustus 2020

Kalau saja kemarin aku nggak membuka Facebook, mungkin aku akan lupa kalau besok adalah hari jadinya Indonesia. Gak ada kemeriahan di luar, bendera juga nggak kelihatan dari balkon rumah kami. Memang tinggal di apartemen itu terkadang terasa terasing. Apa yang terjadi di bawah, yang sebenarnya jaraknya dekat saja kadang kami nggak tahu. Suasana festive nggak akan terasa kalau bukan aku dan Shane sendiri yang ciptakan, ---paling-paling kalau ada kembang api saja kami jadi punya clue kalau sedang ada perayaan di luar sana, hehe.

Aku bilang sama Shane kalau kami bahkan nggak punya bendera di sini, sementara aku rindu dengan suasana tujuh belasan :') Shane pun menenangkanku. Katanya mungkin kami bisa menemukan bendera kecil untuk dipajang di balkon, nanti malam saat kami ke supermarket untuk berbelanja keperluan dapur. Aku yang tadinya mellow langsung semangat berganti baju dan mulai memikirkan apa saja yang akan kubeli untuk besok :)

Aku pikir akan seru jika kami bisa punya "Hari Indonesia", ---pokoknya seharian serba Indonesia, dari mulai makanan, pakaian sampai tontonan. Jadi akupun mulai memenuhi keranjang dengan apapun yang khas Indonesia, ---selama itu vegan, hehe. Nasi tutug oncom, nasi kuning, kacang koro, teh botol, cokelat Bali, air kelapa, mi lidi, dan segala macam produk makanan lokal lainnya. Sampai-sampai aku baca satu persatu lho labelnya, supaya yakin kalau produknya memang asli buatan sini :p Di sela-sela berbelanja nggak lupa aku kirim pesan sama Ibu agar mengirimkan beberapa kebaya untuk dipakai besok. Meski nggak kemana-mana nggak ada salahnya kan untuk tetap merayakan hari kemerdekaan :)


17 Agustus 2020

Aku bangun tidur kesiangan. Mungkin karena malamnya terlalu excited sampai-sampai susah tidur, hehehe. Waktu aku membuka mata Shane langsung bertanya aku mau makan apa. "Mau nasi tutug oncom," jawabku. Dan ternyata itu cukup membuat suamiku heran, karena saat aku tidur dia sudah sarapan sereal dan pisang sementara aku langsung minta makan nasi :p Tapi dia setuju, karena sebelumnya dia belum pernah mengenal "oncom". Jadi sekalian saja dijadikan menu makan siang untuknya, dan menu sarapan untukku, hehe. 

Nasi tutug yang kami makan itu tipe instan, cukup dimasukkan ke rice cooker lalu diberi bumbu. Tertarik membeli karena ada tulisan "100% Indonesia" nya. Menurutku rasanya berbeda dengan buatan sendiri atau membeli di restoran. Nasinya sedikit kering dan oncomnya kurang nendang. Tapi rasanya cukup enak, kok. Sampai-sampai aku nambah dua kali :) Lain dengan lidah Shane, katanya rasanya terlalu pedas dan dia nggak akan makan nasi tutug ini kalau saja aku nggak minta xD Yaaa, selera orang beda-beda sih ya, dan karena yang dicoba pertama kali adalah versi instan, menurutku sih itu bukan perkenalan yang tepat :p Tapi jangan khawatir, masih ada nasi kuning. Shane suka sekali nasi kuning. Dulu, waktu masih pacaran kalau di rumah orangtua kami selalu disediakan nasi kuning untuk sarapan. Lengkap pakai bihun, timun dan kerupuk. Nikmat sekali :D


Nasi tutug oncom dari supermarket, yang sayangnya rasanya kurang “nendang” (tapi tetap aku nambah 2 kali, hahaha).


Setelah perut kenyang, aku mencoba kebaya-kebaya yang dikirim Ibu. Ada 4 kebaya, dan semuanya bagus-bagus. Bikin aku bingung memilihnya. Akhirnya setelah fashion show dadakan di depan Shane, pilihan jatuh ke kebaya merah berlengan panjang. Ukurannya paling pas di badanku dan modelnya juga aku suka karena simple dan manis. Aku nggak punya kain samping, jadi aku padukan kebayanya dengan dress batik yang aku "sulap" jadi rok, hehehe. Cocok juga ternyata. Sedangkan Shane memakai kemeja batik merah yang dulu dibuat dalam rangka Chinese New Year. Yang penting serasi, kami nggak perlu pakai serba baru ;)


OOTD Agustusan kami. Shane pakai batik CNY sedangkan aku pakai kebaya punya Ibu :D

Aku pakai pita rambut 2 sekaligus, merah dan putih supaya seperti bendera Indonesia :D

Aku memang sengaja pilih kebaya. Kenapa nggak simply pakai baju merah-putih saja yang jelas-jelas warna bendera Indonesia? Karena menurutku kebaya itu istimewa dan somehow selalu membuatku merasa "cantik". Bukan hanya merasa cantik secara fisik (it's not a bad thing, love yourself, gurl!) tapi juga secara mental. Nggak ada yang salah kalau kita itu jumpalitan, ikut panjat pinang, betulin genteng, ikutan ngejar layangan, dst, etc. Tapi dengan sesekali memakai kebaya bisa jadi pengingat kalau aku (kita) adalah perempuan Indonesia yang kuat, ---yang juga tetap bisa santun dan lembut :)


OOTD: Pita rambut: Dari Ibu Mertua | Kebaya: Punya Ibu by Hetik Collection | Dress: Batik Keris | Slippers: Dari Ibu Mertua.

Oh iya aku itu punya kebiasaan buat pakai pita rambut yang match dengan baju yang kupakai. Dan spesial untuk hari ini aku pakai pita merah dan putih. Agak ketutupan rambut sih, tapi semoga tetap kelihatan di foto, hehehe. Ini idenya Shane, katanya daripada pakai yang warna merah saja mending dibuat seperti bendera :D


What do you think, guys? :)

Untuk pilihan film Indonesia ternyata nggak semudah memilih makanan dan kebaya, hehehe. Pilihan judulnya memang banyak, tapi sayang nggak semuanya punya teks terjemahan bahasa Inggris :') Shane memang nggak keberatan menonton film berbahasa Indonesia tanpa teks. Asal ceritanya simple biasanya dia bisa menerka-nerka alurnya dari awal sampai akhir. Tapi aku mau hari ini istimewa, aku dan suamiku harus sama-sama bisa menikmati filmnya. Dan... akhirnya pilihan jatuh ke "Reuni Z" karena kami sudah kehabisan ide mau cari film dimana lagi :p Film ini diputar di Iflix, reviewnya sangat meragukan (kebanyakan review negatif, huhu) tapi kami mau kasih kesempatan.

Dan ternyata kami sama sekali nggak menyesal. Filmnya nggak bisa dibilang jelek. Iya sih lack of logic, dan ada beberapa jokes yang cringing dan keterluan karena ditujukan ke anak SMA, tapi secara keseluruhan kami terhibur dan kagum karena film Zombie lokal masih jarang. 


Nonton “Reuni Z” film Indonesia yang lumayan.


Kalau dipikir seharusnya hari terasa lebih pendek karena aku bangun kesiangan. Tapi entah kenapa hari ini terasa lebih panjang dibandingkan kemarin (in a good way). Rasanya aku bisa merasakan setiap detiknya dengan maksimal. Bahkan Shane pun yang biasanya tidur awal barusan tidur lebih larut. Kalau kalian, bagaimana Agustusannya? Di rumah saja seperti kami? Atau di daerahnya ada lomba-lomba seperti biasanya? Apapun itu, semoga menyenangkan ya :) Di waktu yang sedang nggak mudah seperti ini gak ada salahnya untuk sedikit loosen up. Biar hari ini jadi pengingat kalau kita kuat, kalau dulu kita menang. Dan sekarang kita tetap berjuang meski untuk hal yang berbeda. Get well soon, Indonesia! :)


yang suka pakai kebaya,


Indi


-------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com


Senin, 27 Juli 2020

"Waktu Aku sama Mika" Kembali! :)

Hai bloggies! Apa kabarnya? Semoga semuanya baik-baik saja, ya. Kelihatannya sih di daerahku hampir semuanya sudah beraktivitas seperti biasa, kantor sudah banyak yang buka, pertokoan jam operasionalnya kembali seperti dulu, ---hanya sekolah saja yang masih dari rumah. Aku dan Shane juga termasuk yang masih bekerja dari rumah, jadi harus kreatif supaya nggak jenuh, hehe. Apalagi sekarang sudah masuk musim kemarau yang artinya matahari sedang teriiiiik sekali. Bawaannya kepengen main di luar, kalau bisa sih berenang atau minimal jalan-jalan di mall sambil makan es krim :D Tapi jangan dulu deh, aku dan Shane memilih untuk membatasi keluar rumah karena lebih aman. Apalagi tante dan saudaranya kakak ipar yang di Amerika juga terkena covid, ---better hati-hati daripada menyesal kan :)

Selama keabsenanku di blog ini sebenarnya banyak yang terjadi, dan rasanya ingin menebus buat cerita semuanya setelah mood (haha) dan laptopku kembali. Tapi 2 minggu lalu ternyata laptopku ada yang meminjam, jadi keinginanku harus tertunda. Saat seperti ini laptop dan internet memang jadi esensial sih, ya. Apa-apa kebanyakan dikerjakan lewat internet :'D Saat aku "hilang" itu, ada kabar yang menggembirakan. Aku memang sempat menyentilnya sekilas di sini, tapi belum pernah menceritakan secara lengkap. "Waktu Aku sama Mika", novel karyaku kembali dipinang oleh penerbit. Kisahku dan mendiang Mika kali dihidupkan kembali oleh penerbit Shira Media dengan konsep yang lebih segar dan manis :) Kontrakku dengan penerbit sebelumnya memang sudah habis. Sempat ada keinginan buat menerbitkannya secara indie, tapi rupanya seperti jodoh, di saat yang tepat Shira Media menghubungiku untuk menawarkan kontrak.

"Waktu Aku sama Mika".

"Waktu Aku sama Mika" adalah kisah yang nggak pernah aku rencanakan untuk menjadi novel. Bahkan tulisanku dibaca orang lain pun sebelumnya nggak pernah terbayangkan. Dulu aku menulis kisah cinta masa SMA murni demi "melegakan" perasaanku. Sama sekali nggak ada alur, sama sekali nggak ada konsep. Bisa dibilang sekedar curahan hati. Orang mungkin menyebutnya cinta monyet. Tapi buatku jatuh cinta dengan Mika adalah salah satu bagian dari pengalaman berharga, yang membantu proses penerimaan diri dan mengubah cara pandangku terhadap dunia menjadi lebih positif :) Waktu itu aku berusia 15 tahun, serba kebingungan dengan dunia remaja yang entah mengapa aku selalu nggak bisa berbaur. Sebanyak apapun aku mencoba, aku selalu asing. Aku pikir scoliosis membuatku berbeda, ---bukan dalam arti yang positif. Brace, atau penyangga punggungku terlalu visible dan mungkin membuat orang lain nggak nyaman untuk bergaul denganku. Lalu datang Mika, yang membuktikan padaku bahwa manusia itu seperti apel. Dari luar mungkin tampak berbeda, seperti kulit apel yang berwarna-warni. Tapi dalamnya sama saja. We are all human. Untuk pertama kalinya aku merasa diterima dan mulai belajar untuk melihat sesuatu seperti sudut pandang Mika. Bagiku Mika adalah sosok laki-laki yang sempurna, dia bagai malaikat untukku, ---terlepas dia adalah seorang ODHIV, orang dengan HIV.




Lebih Personal
Waktu penerbit memberi tahu kalau akan ada edisi istimewa terbatas "Waktu Aku sama Mika", aku senang sekali. Aku pikir setelah sekian lama kisahku dan Mika "hidup", sekarang adalah waktu yang tepat untuk memiliki penanda atau kenang-kenangan yang bisa kusimpan sampai nanti :) Ada 500 paket novel bertanda tangan dan totebag bergambar serasi dengan sampul "Waktu Aku sama Mika". Iya, aku benar-benar menandatangani semuanya, satu persatu. Lumayan pegal, tapi aku sangat bersemangat meskipun sempat jatuh sakit. (---Bukan sakit karena kelelahan tanda tangan lho, ya, memang kebetulan saja waktunya bersamaan, hehehe). Selain perasaan senang, sebenarnya aku juga merasa cemas. Soalnya 500 itu bukan jumlah yang sedikit. Apa mungkin pembacaku sebanyak itu? Hehe. Tapi berkat dukungan ortu dan Shane aku bisa menepis pikiran yang kurang positif. There's no such thing as a bad book. Setiap buku istimewa, hanya harus menemukan hati yang tepat untuk ditempati. Iya, kan? ;)

Menandatangani 500 halaman pertama novel "Waktu Aku sama Mika"! :D

Totebag yang bisa didapatkan di paket istimewa.


Akhirnya di Toko Buku!
Entahlah kenapa, aku punya kebiasaan malu-malu dan cemas nggak jelas (---mungkin related sama diagnosis OCD ku? IDK). Waktu tahu novelku sudah ada di toko buku (offline dan online), aku ingin sekali melihatnya sendiri. Tapi aku malu kalau ke toko buku dan mencari-cari novelku di sana. Padahal kalau dipikir, siapa juga yang akan memperhatikan ya? Huhu. Setelah ada beberapa teman pembaca yang membeli novel "Waktu Aku sama Mika" di toko buku memention ku di medsos, akhirnya akupun membulatkan tekad untuk melihatnya sendiri. Toko buku pertama yang aku kunjungi dengan Shane adalah Gramedia cabang Merdeka Bandung. Waktu itu kami habis dari bioskop bersama teman-teman kerja. Aku pikir sekalian saja ke toko buku. Ternyata benar ada, di rak paling besar! :'D Jujur, rasanya overwhelming. Aku sampai beberapa kali meremas lengan Shane supaya bisa menahan diri untuk nggak memekik, hahaha. Nggak lupa aku mengambil foto, ---setelah nengok kanan-kiri takut ada yang memperhatikan :p

Menemukan "WASM" di rak Gramedia Merdeka Bandung!

"Waktu Aku sama Mika" di rak Togamas Supratman Bandung.

Selain Gramedia, novel "Waktu Aku sama Mika" juga ada di toko buku-toko buku lainnya seperti Togamas, Jendela dan lain-lain. Di toko online juga ada. Mudahnya sih tinggal mengetik judulnya saja di Shopee, Tokopedia atau medsos seperti Instagram dan Twitter. Nanti akan muncul nama-nama toko yang menjual novelku :) Oh iya, tapi khusus edisi bertanda tangan dan totebag hanya dijual di toko online saja (termasuk di website resmi Shira media) karena jumlahnya terbatas.

Menjadi Best Seller
Dulu aku nggak pernah membayangkan tulisanku dibaca oleh orang lain. Bisa menerbitkan buku rasanya seperti mimpi, ---apalagi waktu tahu kalau karyaku dipajang di rak "Paling Laris". Rasanya lebih indah dari mimpi! :') Apalagi aku tahunya bukan karena dapat kabar dari penerbit atau teman pembaca, tapi aku melihatnya dengan mata kepala sendiri. Waktu itu aku dan Shane baru saja selesai dari dokter, karena lapar kami mampir ke tempat pizza dulu. Di dekat sana ada toko buku, lalu iseng-iseng kami mencari novelku. Sepuluh menit pencarian, kami nggak menemukannya dan akupun menyerah. Tapi suamiku rupanya masih penasaran dan memintaku untuk bertanya pada petugasnya. Mulai deh aku cemas karena setelah waktu lumayan lama dia belum juga menemukan dimana novelnya. Rasanya aku sudah mau kabur saja, hehe. Sampai akhirnya ada petugas lain yang tahu dan ternyataaaa... aku dan Shane sudah melewati tempat yang dimaksud berkali-kali! Kami memang sama sekali nggak terpikir untuk mengecek ke sana karena itu rak best seller. Aku pikir too good to be true saja kalau sampai ada di sana. Setelah petugasnya pergi baru deh aku bisa heboh-heboh sedikit. Terharu, nggak menyangka, bahagia, semua jadi satu. Novelku best seller! :')

Satu-satunya foto yang Shane ambil karena waktu kami di sana tokonya sedang mati lampu, hahaha.

Ekspresi bahagiaku waktu tahu novel "WASM" ada di jajaran buku laris :)

Bersama Shane yang selalu mendukung dan siap sedia mengantarku ke toko buku :)

Terbitnya (lagi) "Waktu Aku sama Mika" adalah salah satu hal terindah yang terjadi padaku di masa "nggak mudah" sekarang ini. Aku bersyukur memiliki keluarga dan tempat tinggal yang membuatku nyaman. Tapi jujur ada kalanya aku merasa stuck karena harus diam di rumah. Meski istilahnya WFH alias work from home, tetap saja rasanya berbeda. Apalagi karena sebelumnya aku terbiasa berinteraksi langsung dengan orang-orang di tempatku bekerja paruh waktu. Nah, membaca komentar-komentar pembaca tentang novel "Waktu Aku sama Mika" ternyata bisa mengobati kerinduanku. Terkadang aku sempatkan untuk sedikit mengobrol, apalagi jika mereka merasa related dengan kisahku dan Mika.
Ungkapan perasaanku di sini rasanya nggak sebanding dengan apa yang sebenarnya kurasakan, no words can dercribe how happy and grateful I am. Kisah cintaku dan Mika memang nggak sempurna, ---seenggak sempurna kondisi fisik kami. Tapi melihat apa yang novel ini capai rasanya aman untuk bilang, "Terima kasih telah melihat aku dan Mika ‘melampaui’ kondisi kami. Terima kasih!" :)




selalu sugarpie-nya Mika,

Indi




Dapatkan "Waktu Aku sama Mika" di toko buku seluruh Indonesia (Togamas, Gramedia, dll), www.shiramedia.com (WhatsApp: 087843333019) dan di berbagai toko buku online (gunakan keywords: 'Waktu Aku sama Mika' di Instagram, Facebook, Twitter, Shopee, Bukalapak dan Tokopedia).

--------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com