Sabtu, 28 Januari 2017

Ikut Menulis bersama Indi di "Guruku Berbulu dan Berekor 2', yuk! :)

Howdy-do bloggies?! Yay, weekend sudah tiba :D Untuk yang sekolah atau bekerja sekarang waktunya untuk santai sejenak sebelum menghadapi hari senin. Eh, untukku juga sih meskipun aku sudah lulus dan nggak bekerja kantoran, hihihi. Bulan ini cukup menyibukkan untukku, selain harus menyelasaikan PR yang tertunda di tahun lalu, aku juga sedang mengerjakan beberapa project. Sepertinya aku akan lebih serius dengan hobi menggenjreng ukulele, di bulan ini ada beberapa musisi (YouTuber) yang mengajakku berkolaborasi. Dan tentu ada project menulis juga yang sedang aku kerjakan, salah satunya adalah "Guruku Berbulu dan Berekor" bagian kedua. Dan aku ingin mengajak kalian untuk terlibat di dalamnya! :)

Mungkin di antara kalian sudah ada yang pernah mendengar tentang "Guruku Berbulu dan Berekor", ---atau mungkin malah sudah pernah membacanya. Novel ketigaku itu terbit di bulan Juli tahun 2012 lalu. Berbeda dengan dua novel terdahulu yang bercerita tentang hubunganku dan cinta pertamaku, ---Mika, "Guruku Berbulu dan Berekor" bercerita tentang hubunganku dengan mahkluk-mahkluk ciptaan Tuhan yang nggak kalah menggemaskannya (eh...) dengan Mika, yaitu para hewan, hihihi. Sebelum ada Eris, anjing golden retriever yang setia menemani sejak 7 tahun yang lalu ada Veggie anjing cantik yang super cerdas. Juga ada Black, anjing gagah yang setia, Mr. Jingles, tikus yang cerdas, Marco, burung nuri yang cerewet dan masih banyaaaaak lagi. Mereka semua mempunyai tempat istimewa di hatiku, dan mereka bukan "sekedar" hewan peliharaan tapi juga guru! 



Nggak bosan-bosannya aku bercerita tentang Veggie yang mengajariku (dan keluarga) banyak hal. Di tahun-tahun terakhir hidupnya Veggie mengidap epilepsi (gangguan syaraf otak) tapi itu nggak menghentikannya untuk menikmati hidup. Saat kondisinya sedang baik ia senang berlari-lari sambil mengejar bayangannya sendiri. Semangat belajarnya pun sangat luar biasa, Veggie mengerti berbagai macam tricks dan dengan bangga menunjukkannya pada seluruh penghuni rumah :) Kehadiran Veggie yang hanya 6 tahun sudah cukup untuk mengubah hidupku menjadi lebih positif. Jika Veggie dengan segala keterbatasannya tetap live the fullest, mengapa aku nggak bisa? Dan aku percaya ini juga dialami oleh teman-teman yang memiliki hewan peliharaan. Well, memiliki pets mungkin memang bukan untuk semua orang, tapi kisah-kisahnya tentu bisa menghangatkan hati siapa saja yang membacanya. Karena itulah novel "Guruku Berbulu dan Berekor" hadir :)

Bukan hanya aku yang berbagi cerita di "Guruku Berbulu dan Berekor" tapi aku juga mengajak para pemilik hewan peliharaan untuk berbagi ceritanya di sana. Amazingly, aku berhasil mengumpulkan 30-an kisah inspiratif yang dikirim dari berbagai penjuru Indonesia! (---Ups, plus satu cerita yang dikirim dari Belanda). Dan para kontributor bukan hanya berasal dari berbagai tempat, tapi juga dari berbagai macam profesi dan usia ---dari mulai anak-anak sampai nenek berusia 70 tahunan. Aku membuat ini sebagai ucapan terima kasih kepada hewan-hewan yang hadir di hidupku, jadi hasilnya pun aku kembalikan pada mereka. Royalti novel digunakan untuk membantu penampungan-penampungan dan hewan-hewan yang membutuhkan (lihat label: Guruku Berbulu dan Berekor). Terakhir, royalti telah disalurkan pada Peduli Kucing, sebuah organisasi yang memperjuangkan hak-hak kucing semua ras.



"Guruku Berbulu dan Berekor" bagian pertama tentu hanya mampu merekam secuil pengalaman luar biasa dari para penyayang hewan. Itulah mengapa aku mengajak kalian untuk membagikan kisah-kisah inspiratif di "Guruku Berbulu dan Berekor" bagian kedua. Sama seperti yang sebelumnya, kalian hanya perlu mengirimkan cerita pengalaman bersama hewan peliharaan atau hewan yang pernah kalian temui. Nggak harus mengharukan, hihihi. Yang penting pengalaman yang dibagi memiliki pelajaran berharga. Kalau masih ragu-ragu untuk menulis, no worry, semua cerita yang terpilih akan aku sunting. Eh, bukan berarti tulisanku bagus, ya... Kita sama-sama belajar :)



Yuk, Ikut Menyumbang Cerita di "Guruku Berbulu dan Berekor" bagian 2! :)



1. Ceritakan pengalaman menarik dan inspiratif kalian bersama hewan peliharaan atau hewan yang pernah ditemui. 
2. Ketik rapi dengan jenis huruf Calibri, spasi 1,2 dan ukuran kertas A4.
3. Kirimkan ke email namaku_indikecil@yahoo.com, sertakan nama, profesi dan domisili kalian.
4. Cerita ditunggu paling lambat Rabu, 28 Februari 2017.
5. Jika punya pertanyaan silakan mention ke twitter atau instagram @indisugarmika.

Aku harap novel "Guruku Berbulu dan Berekor" bagian kedua ini nantinya tetap mendapat tempat istimewa di hati para membaca, ---atau bahkan lebih baik lagi :) Sengaja aku memilih buku sebagai media untuk membantu hewan-hewan yang membutuhkan. Karena selain menulis adalah passionku, lewat royaltinya mereka yang nggak bisa berdekatan dengan hewan pun bisa tetap turut membantu. Jadi tunggu apa lagi? Segera buka laptop, kirimkan cerita kalian dan menjadi bagian dari langkah kecilku, ---kita, "Guruku Berbulu dan Berekor 2" :)

murid dan sahabatnya Eris,

Indi
Dapatkan "Guruku Berbulu dan Berekor" pertama di sini. 
-------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Sabtu, 14 Januari 2017

Scoliosis, HIV/AIDS dan Skripsi

Sore itu aku menunggu Bapak pulang dengan nggak sabar. Gue ada janji dengan seseorang pukul 4 sore sementara waktu sudah menunjukan pukul setengah 4 sore, ---lebih sedikit. Desember selalu menjadi bulan yang sibuk untuk keluargaku. Ibu dan Bapak sibuk dengan pekerjaannya di bidang fashion, sementara aku sibuk dengan kegiatan yang berhubungan dengan hari AIDS sedunia. Tapi hari itu aku berusaha menyempatkan diri untuk bertemu dengan seorang mahasiswi dari salah satu universitas di Bandung. Aku sudah berjanji jauh-jauh hari, jadi meskipun sebentar aku harus bisa.

Menunggu Bapak untuk mengantarkanku wawancara.

Waktu akhirnya Bapak datang aku masih belum bisa lega. Sepanjang jalan sangat macet. Mungkin karena tempat kami janjian berada di pusat kota, mungkin karena banyak yang sedang menghabiskan libur akhir tahun, ---atau mungkin juga karena keduanya. Setelah masuk area parkir aku jadi agak menyesal karena memilih mall sebagai tempat pertemuan. Aku dan Bapak harus memutar beberapa kali sebelum menemukan tempat yang kosong. Uh, 15 menit, lho... Padahal maksudku memilih mall agar tempatnya mudah dijangkau dan jaraknya fair bagi kedua belah pihak, tapi malah begini :'D Kalau dipikir lucu juga ya, seharusnya sebagai warga Bandung aku sadar kalau musim liburan Bandung pasti jadi milik bersama :p

Seperti yang aku duga, Dyah, ---nama mahasiswi itu, sudah menungguku di area food court. Ah, rasanya nggak enak sekali karena sudah membuatnya menunggu selama 15 menit:( Dyah ingin mewawancaraiku sebagai narasumber untuk skripsinya yang bertema scoliosis. Rupanya ia juga seorang scolioser, ---yang kurvanya lebih kecil dariku, dan dulu sempat terapi di tempat yang sama denganku. Tanpa berlama-lama ia langsung mengeluarkan handphonenya untuk merekam dan mengajukan beberapa pertanyaan. Aku sudah sering menjadi narasumber, ---bahkan sebelum skripsiku sendiri selesai, hehehe, ---tapi kali ini agak berbeda karena pertanyaan-pertanyaan Dyah yang unik.

Sama seperti yang sudah-sudah, selalu ada pertanyaan 'standar' seperti, kapan aku tahu mengidap scoliosis dan tentang terapi-terapi apa saja yang sudah pernah aku lakukan. Tapi lalu Dyah bertanya tentang terapi favorite dan least favorite ku. Hahaha, biasanya pertanyaan seperti itu diajukan kalau bicara soal film, musik atau bahkan makanan kan :D Dyah juga bertanya tentang apa yang aku pikirkan jika ada game dengan tema scoliosis. Well, honestly meski aku berusaha 'memasyarakatkan' scoliosis dengan cara menyematkannya di daily basis, tapi soal game sama sekali belum pernah terpikir :O Genius! Rupanya Dyah memang ada rencana untuk membuat game scoliosis. Aku belum tahu seperti apa detailnya, tapi mendengarnya saja sudah membuatku super happy :D

Setelah wawancara selesai aku langsung pamit untuk pulang. Agak terburu-buru, tapi aku pastikan Dyah mendapatkan semua jawaban yang ia butuhkan. Aku berpesan padanya jika masih ada yang kurang bisa mengirimiku email dan akan kujawab kemudian. Fiuh, lega rasanya karena akhirnya ada janji wawancara skripsi di Bulan Desember yang terpenuhi. Sebenarnya di bulan yang sama cukup banyak yang memintaku menjadi narasumber, tapi sayangnya terpaksa harus aku tolak karena waktunya kurang pas. Aku selalu berusaha untuk menyempatkan memenuhi meskipun sebatas via email atau telepon. Kalau ada yang terlewat rasanya 'ganjel' sekali. Mungkin teman-teman heran kenapa aku segitu ngototnya soal skripsi ini. Memang apa untungnya untukku?

Bersama Dyah. Meski sedikit terburu-buru tapi semua pertanyaan sudah terjawab :)



Scoliosis, HIV/AIDS; Dua Hal Berbeda tapi Sama yang Jarang Dibicarakan

Aku didiagnosis mengidap scoliosis ketika berusia 13 tahun dan 2 tahun kemudian mengenal Mika yang ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). Selain saling mencintai, kami juga punya persamaan lain yaitu memiliki 'sesuatu' di tubuh kami yang somehow orang jarang sekali mau membicarakannya. Aku masih ingat dulu ketika awal menggunakan brace (penyangga tulang belakang untuk scoliosis), keluarga besarku enggan sekali membicarakannya. Aku nggak yakin dengan alasan tepatnya. Entah karena denial, berpura-pura brace ku invisible atau malah karena menganggap scoliosis bukan sesuatu hal yang penting. Ibu dan Bapak pun awalnya begitu, mereka hampir nggak pernah membicarakannya kecuali jika memang harus sekali, ---seperti misalnya saat mendaftar ke sekolah baru. 

Karena sudah terbiasa aku pun jadi sempat menganggap apa yang mereka lakukan adalah benar. Aku jadi ikut enggan membicarakannya, bahkan saat ada teman satu kelas yang bertanya tentang kondisiku. Tapi pelan-pelan aku dan orangtua mulai sering membicarakan tentang scoliosis, terutama karena mereka akhirnya sadar bahwa apa yang aku alami bukan sekedar masalah 'kosmetik'. Ini mempengaruhiku 24 jam sehari dan sepanjang hidupku. Kami mulai berinisiatif untuk 'memasyarakatkan' scoliosis pada lingkungan sekitar. Aku di-encourage untuk memakai brace di luar baju dan bahkan menjadi narasumber untuk beberapa acara TV dengan didampingi Ibu dan Bapak.

Tapi jika bicara soal keluarga besar lain lagi ceritanya. Ada salah satu om ku yang nggak setuju jika aku bercerita tentang scoliosis di media, terutama TV. Beliau bahkan sampai mengutarakan keberatannya kepada Bapak. Alasannya sungguh membuatku tersinggung. Beliau berkata bahwa aku nggak perlu melakukan itu, dan dengan jujur soal kondisiku bisa membuat laki-laki 'berpikir dua kali' untuk dekat denganku (---padahal nggak ngaruh ya, yang naksir aku banyak, lol). Aku nggak akan cerita tentang detailnya, yang pasti ini sempat membuat orangtuaku meradang. Apalagi pernyataan om ku itu nggak mendasar; beliau hanya tahu scoliosis sebagai 'masalah' fisik. Syukurlah pada akhirnya om ku meminta maaf. Goal ku adalah agar suatu hari nggak ada lagi yang berpikir seperti beliau. Karena saat aku berbicara tentang scoliosis sebenarnya ada misi penting di dalamnya (---akan aku jelaskan di bawah).

HIV/AIDS mungkin sekilas terkesan jauh berbeda dengan scoliosis. Tapi semenjak mengenal Mika aku jadi sadar bahwa 'kondisi' kami nggak jauh berbeda. Sama seperti scoliosis, orang juga enggan membicarakan tentang HIV/AIDS. ---Bahkan lebih buruk lagi, pengidapnya mendapatkan stigma dan diskriminasi. Aku masih ingat ketika SMA teman-teman dan guru nggak begitu mengganggap Mika. Jika pun ia dibicarakan pasti hanya dari sisi negatifnya saja. Mika bisa melakukan seribu kebaikan dan orang masih juga nggak bisa melihatnya. Orang nggak akan peduli betapa Mika membuatku happy, membuatku lebih percaya diri dan hal-hal baik lainnya. Yang mereka lihat hanya satu: virus yang ia idap. Padahal Mika lebih dari itu. Mika adalah laki-laki tercerdas dengan sense of humor terbaik yang pernah aku kenal!


Speak UP! Raise the awareness!

Semakin dewasa aku semakin sadar bahwa berpura-pura dan menolak membicarakan scoliosis dan HIV/AIDS hanya membuat keadaan semakin buruk. Let's talk about scoliosis first. Berapa banyak orang yang tahu apa itu scoliosis? Berapa banyak orang yang tahu bahwa scoliosis bisa jadi sesuatu yang serius terutama jika kurva pengidapnya sudah besar? Sayangnya masih sedikit. Bahkan memiliki anggota keluarga yang mengidap scoliosis pun bukan jaminan memiliki pengetahuan yang cukup. Aku mengerti bahwa sebagian orang enggan membicarakannya karena dari luar scoliosis hanya terlihat seperti tulang yang bengkok. Padahal scoliosis bisa mempengaruhi kualitas hidup pengidapnya karena, ---of course organ tubuh lainnya pun ikut terpengaruh.

Aku bersyukur karena sekarang semakin banyak media yang bisa digunakan untuk 'bicara'. Dari berbagai macam sosial media, blog sampai situs-situs unggah video gratis. Aku bisa memberikan informasi yang benar (---well, aku berusaha) tentang scoliosis dan berbagi tentang kehidupanku sebagai seorang scolioser. Semakin banyak orang yang tahu tentang scoliosis maka semakin berkurang pula ke ignorant-an orang tentang isu ini. Scoliosis memang bukan hal yang menyenangkan, tapi deteksi dini bisa mempermudah koreksi dan penanganan pengidapnya. Sering kali aku menerima email dari para orangtua yang baru sadar anaknya mengidap scoliosis setelah menonton film Mika! Siapa sangka, hal sesederhana melihat caraku berjalan dan melihat lengkung punggungku di film bisa 'menyelamatkan' anak-anak remaja mereka. Banyak di antara mereka yang ketahuan saat kurvanya masih kecil sehingga belum membutuhkan operasi :)

Dengan berani berbicara juga membuat scolioser lain yang tadinya bersembunyi mulai bermunculan. Banyak di antara mereka yang ragu untuk bicara karena takut dibilang manja atau dikira ingin diistimewakan. Dan itu juga yang terjadi padaku dulu. Betapa takutnya untuk berbicara tentang kondisiku pada guru olahraga karena khawatir dinilai lemah dan menjadi bahan ejekan teman-teman. Dan hal terpenting yang "didapat" dari speak up adalah bisa membuat scolioser sadar bahwa mereka nggak sendirian. Saat sedang berjuang di ruang fisioterapi, saat sedang memakai brace 23 jam setiap hari, saat sedang menunggu di pinggir lapangan sementara teman-teman sekalas mengikuti pelajaran olahraga, ---mereka, kita akan ingat bahwa di suatu tempat ada scolioser lain yang juga sedang merasakan hal yang sama :)

Dan tentang Mika, aku merasa ia bisa mendapatkan lebih banyak kesempatan dalam berbagai hal jika saja orang melihat ia di luar status HIV nya. Menolak untuk membicarakan, berpura-pura nggak ada yang terjadi dan meng-ignore keberadaannya hanya membuat keadaan semakin buruk. Dan yang aku maksud sebagai 'semakin buruk' bukan hanya tentang Mika, tapi juga tentang mereka. Aku berani bilang dengan menolak Mika mereka miss out banyak hal seru dan menarik tentang Mika. Mereka nggak akan pernah tahu betapa cerdas dan betapa hangatnya kepribadian Mika hanya karena mereka 'takut' dengan HIV/AIDS. Aku nggak menyalahkan mereka, karena apa yang sudah melekat selama berpuluh-puluh tahun pasti susah sekali dihilangkan. Saat mendengar HIV/AIDS yang melintas di benak kebanyakan orang pasti kesan seram. Padahal benarkah demikian?

Karena menolak membicarakannya orang terkadang lupa bahwa HIV/AIDS 'sama saja' seperti flu dan virus lainnya. Siapa saja bisa terjangkit dan belum tentu karena apa yang dilakukannya. Tahukah kalian bahwa banyak ibu rumah tangga dan anak-anak yang juga berstatus sebagai ODHA? Dan jika pun ada orang yang terjangkit virus HIV karena lifestyle atau sesuatu yang mereka lakukan... we are all human after all. Kita nggak punya hak untuk men-judge atau berkata hal buruk tentang mereka. Mari kita mencoba menilai seseorang 'melampaui' apa yang ia idap. Perlakukan setiap orang sebagaimana kita ingin diperlakukan. Terdengar klise dan sangat PPKN, ---but it works, haha, trust me. Kenapa kita mengucilkan seseorang sebelum mengenalnya lebih jauh? Padahal kita nggak tahu apa pengaruhnya orang itu terhadap diri kita, ---bahkan orang banyak jika saja diberikan kesempatan.

Aku pakai Mika sebagai contoh kecilnya saja, bahwa banyak orang di sekitarnya yang miss out dengan kepribadian luar biasa Mika (---saat mengetik ini pun aku tiba-tiba teringat dengan aksi ala 'rockstar' nya yang membanting gitar imajiner, hahaha). Kita mungkin pernah membaca berita tentang seorang anak yang dikucilkan atau diusir dari desanya karena ia mengidap HIV. Atau malah pernah menonton video tentang anak yatim piatu yang sulit diadopsi karena ia mengidap HIV. Coba bicarakan tentang HIV/AIDS, speak up, ---edukasi diri sendiri dengan fakta-faktanya maka 2 headline tersebut akan terasa janggal karena tiba-tiba kita nggak lagi melihat ada kata "HIV" di judulnya. Siapa yang tahu di masa depan apa yang terjadi dengan anak-anak itu? Mereka bisa saja calon penemu hebat, calon pemimpin hebat, ---siapa tahu. Dan kita missing out hanya karena menolak kehadiran mereka.


Scoliosis dan HIV/AIDS Sekarang

Things will get better, aku percaya itu. Perjalanan memang masing panjang. Bahkan keluarga besarku belum 100% menerima baik tentang scoliosis (baca: kalau scoliosis itu nggak lebih dari masalah kosmetik a.k.a nggak penting) juga tentang HIV/AIDS. Tapi aku percaya nggak ada hal yang sia-sia, dan yang instan pun belum tentu baik. Aku menikmati perjalananku dalam memasyarakatkan scoliosis dan menghapuskan stigma pada ODHA. Aku nggak akan pernah berhenti speak up dengan cara memanfaatkan setiap kesempatan sekecil apapun itu. Kalau ini film Toy Story, situasi sekarang mirip seperti saat Woody dan teman-teman melihat claws saat hampir dibakar di pembuangan sampah. "I see the light", hehehe (---eh, kok malah film Tangled, lol). Sepupuku yang berusia 10 tahun bisa secara santai berbicara tentang bagaimana HIV bisa menjangkiti tubuh seseorang tanpa di "sssh" oleh orangtuanya karena dianggap tabu. Dan aku pun bisa tersenyum lebar ketika iparku bercerita bertemu dengan seseorang yang menggunakan brace di luar baju dengan penuh percaya diri. 

Sekali lagi, I believe things (will) get better. Berpura-pura nggak melihat apa yang terjadi di sekitar kita nggak membuat situasi menjadi lebih baik. Speak up, ---beritahu dunia bahwa kita ada. Bukan karena ingin diistimewakan tapi karena semua orang punya hak yang sama untuk mendapatkan kesempatan :)


Lagu yang aku ciptakan untuk teman-teman istimewa :) #scoliosisawareness


girl with a cheeky spine,

Indi

___________________________________________
*Ingin mendukungku dengan memiliki karya-karyaku? Klik www.homerianshop.com dan ketik judul novelku (Waktu Aku sama Mika/Karena Cinta Itu Sempurna/Guruku Berbulu dan Berekor) di kolom "cari".
*Ingin berkontribusi untuk novel Guruku Berbulu dan Berekor Part 2? Kirim cerita menarik dan menginspirasi kalian dengan hewan peliharaan ke namaku_indikecil@yahoo.com. Royalti untuk didonasikan ke penampungan hewan.


___________________________________


Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Rabu, 04 Januari 2017

Dream Come True 2016: Berduet dengan Para Idola! :)

Wah, sekarang rupanya sudah tahun 2017! Hihihi. New year's eve aku tertidur sebelum tengah karena kelelahan, jadi rasanya seperti mimpi kalau sudah berganti tahun :D Bagaimana nih dengan malam tahun baru teman-teman? Semoga menyenangkan, ya. Dan kalau ada yang main petasan semoga nggak menganggu lingkungan sekitar. ---Ups, curhat nih, soalnya Eris anjingku yang super imut semalam benar-benar nggak bisa tidur karena kaget dengan suara petasan dan kembang api, hiks :( Lingkungan rumah orangtuaku memang ajaib, kalau siang sepertinya penghuninya orang dewasa semua. Tapi di malam tahun baru, entah dari mana asalnya bocah-bocah itu datang, ---dan orang dewasanya malah hilang, hehehe.

Ah, tapi sudahlah. Aku maklumi saja jika ributnya satu tahun sekali. Asalkan jangan sering-sering karena bisa-bisa yang stress bukan cuma Eris, tapi seisi rumah :D Mungkin saja mereka begitu riuh merayakan pergantian tahun karena sangat happy bisa menjalankan semua resolusi tahun 2016, hehehe. Aku juga pasti supeeeeer happy kalau goals ku tercapai. Ya... meski nggak sampai main-main petasan, sih. Cukup menangis haru sambil berdiri di atas kasur sementara di playlist terdengar lagu "Climb Every Mountain", lol. Teman-teman sendiri bagaimana? Ada yang menulis resolusi kah? Dan bagaimana hasilnya? Well, aku sendiri nggak literally menulisnya lalu menempelnya di tembok. Tapi aku memang punya beberapa hal yang ingin dicapai di tahun 2016. Salah satunya menerbitkan buku kelima yang sayangnya harus tertunda karena masalah 'pribadi' :( Syukurlah meski begitu ada resolusi lain yang tercapai dan gue sangat bangga karenanya! :)

Tahun 2016 adalah tepat satu tahunnya aku mengenal ukulele. Dan sejak pertama kali memainkannya aku langsung jatuh cinta, hihihi. Awalnya aku memainkannya hanya untuk diri sendiri dan sesekali menguploadnya ke YouTube. Tapi komentar-komentar viewers ternyata membuat aku lebih semangat belajar dan, ---ehm berani untuk bernyanyi :p Dalam proses belajar, aku terinspirasi dengan beberapa musisi YouTube senior. Nggak selalu yang sama-sama memainkan ukulele, tapi aku salut dengan kreatifitas dan konsistensi mereka dalam berkarya. Apalagi sampai bisa menghasilkan karya viral. Wah, aku sih ditonton sama 100 viewers yang isinya kalau nggak teman ya saudara saja sudah girang banget, hehehe :p Saat melihat video-video mereka kadang aku berandai-andai bagaimana rasanya kalau bisa berkolaborasi dengan mereka. Aku tahu kesempatan itu nggak akan datang secara ajaib, jadi aku berusaha meningkatkan kemampaun diri dulu agar layak untuk bekerja bersama mereka. Siapa sangka di tahun 2016 impianku terwujud! :D Aku bisa berkolaborasi dengan beberapa dari mereka, ---dan bahkan salah satu dari mereka ingin membawakan lagu original karyaku! Waaaah, saat mengetik ini pun gue masih nggak menyangka :')

1. Berkolaborasi (ramai-ramai) dengan Pockets, si "Legenda" Kazookeylele (Skotlandia)



Aku suka sekali dengan Red Hot Chili Peppers, terutama era John Frusciante dan karya-karya solonya John sendiri. ---Well, kalau sering mampir ke channel "Indi Sugar Taufik" mungkin nggak perlu disebutkan lagi karena sebagian besar yang aku bawakan ya cover lagu mereka, hehehe. Suatu hari di awal tahun 2016, di list rekomendasi YouTube aku melihat judul video yang sangat menarik perhatian; Red Hot Chili Peppers -Can't Stop - Ukulele -Pockets. Tanpa berlama-lama langsung saja aku klik, dan... whoah, aku amaze dengan permainan Pockets, yang nggak hanya memainkan ukulele tapi juga alat musik lain. Saking amazenya, aku sampai langsung menonton videonya dua kali berturut-turut dan setelahnya baru ingat untuk berkomentar, hehehe :p Aku bilang kalau ia "awesome", lalu beberapa menit kemudian Pockets membalas dan kami berbincang sedikit.  Aku pikir, ---well sepertinya timingnya yang tepat karena kami online di waktu bersamaan (waktu itu hampir pukul 2 pagi). Jadi aku 'cuma' lucky bisa kebetulan berbicara dengannya.  

Tapi ternyata bukan kebetulan, nggak lama setelah itu Pockets menjadi salah satu subscribers di channel 'alakadar' ku. Bahkan di salah satu videonya ia menyebut aku sebagai "orang ter happy yang pernah ia lihat" dan meminta fans nya untuk berkunjung ke channel ku! Aww, aku senang sekali, ---plus malu-malu karena rasanya aku nggak ada apa-apanya dibanding ia :'D Sedikit tentang Pockets, kalian mungkin pernah melihat video viral "Skateboarding Lobster", nah lagu yang kalian dengar di latar asalnya dari video Pockets. Pada tahun 2008 ia membuat video cover "The Final Countdown" dari Europe dengan alat musik uniknya yang bernama kazokeylele. Video itu sekarang sudah ditonton sebanyak LEBIH dari tujuh juta kali dengan total channel views sebanyak LEBIH dari 10 juta kali (aku ngetiknya gemeteran, lol). Tapi bukan video itu saja lho yang keren. Coba deh kalian kunjungi channelnya, kemungkinan besar kalian menemukan lagu favorite di sana karena genre musik yang Pockets bawakan luas sekali. Ia bahkan punya beberapa lagu original.

Singkat cerita, di bulan Mei 2016 Pockets mengajak subscribersnya berkolaborasi dengannya. Aku ingin sekali mengikutinya, tapi sayang kemampuan bermain ukuleleku belum 'selumayan' hari ini. Di lagu yang akan dibawakan, "With a Little Help from My Friends" ada beberapa chords yang belum akrab di jari-jariku. Gue berlatih, berlatih dan berlatih, ---tapi sampai hampir deadline permainanku masih juga fals, hahaha (ukulele kalau fals nyakitin telinga, lho). Aku pun berterus terang padanya dan guess what?! Aku diziinkan untuk bernyanyi tanpa harus bermain ukulele :'D Jadilah aku menjadi bagian kecil di "The Biggest Ukulele Collaboration" bersama 12 kolaborator lainnya yang berasal dari berbagai negara. Yang membuat aku semakin terharu, videonya diupload 2 hari saja sebelum aku berulang tahun. Jadi rasanya seperti early birthday present dan ulang tahun aku dirayakan bersama mereka :'D Sampai hari ini, kolaborasi Pockets adalah yang terbesar untukku. Sampai kapanpun akan aku kenang meski mungkin suatu hari ada yang lebih besar lagi. ---Apalagi berkat kolaborasi ini setelahnya aku jadi tahu cara memainkan chord "B", hahaha.




2. Berkolaborasi Membawakan Lagu Ciptaanku dengan Shane Combs, Musisi yang Kreatif (Amerika)



Cerita kolaborasiku dengan Shane agak ajaib. Jika Pockets adalah pribadi yang upbeat dan cepat akrab, Shane justru kebalikannya. Aku menemukannya dari video-video cover John Frusciante yang ia buat. Seperti biasa, aku selalu excited tingkat tinggi jika ada yang membawakan lagu dari idolaku. Apalagi Shane ini berbeda, covernya begitu raw tapi penuh penjiwaan. Hmm, gimana ya menjelaskannya, ---well produce tapi nggak over produce. Aku betah sekali berada di channelnya dan cukup sering juga meninggalkan komentar meski nggak pernah dibalas :p Menurutku  nggak masalah sih mengekspsresikan kekaguman pada idola, nggak perlu berharap apa-apa karena apa yang aku sampaikan itu tulus :) Suatu hari aku menemukan komentarnya di salah satu video Princess Chelsea (check her music, she's amazing). Karena kaget ia mendengarkan musik yang sama denganku, aku pun me-reply nya dengan bilang bahwa aku surprise melihat ia di sini. Dan ternyata yang membuatku lebih surprise lagi adalah jawabannya. Ia bilang ia tahu Princess Chelsea dari video cover yang aku buat! Oh, ya ampun, ternyata diam-diam ia menengok channel aku meskipun nggak meninggalkan komentar! Hahaha, lagi-lagi aku malu :p

Di akhir bulan Oktober aku mengupload lagu ciptaanku yang berjudul "One Day". Lagu ini aku ciptakan di tengah malam waktu tiba-tiba saja ada nada random yang terlintas di kepalaku, hihihi. Lagunya jauh sekali dari "rapi", apa yang aku upload adalah percobaan pertama waktu merekam dan volumenya nggak diubah sama sekali. Tapi rupanya (SURPRISEEEEEE) lagu ini menarik perhatian Shane. Ia meninggalkan beberapa komentar yang isinya antara lain bertanya tentang chords lagu "One Day", bahwa ia play along dengan laguku, bertanya tentang kontakku... dan akhirnya mengajak kolaborasi! Wah, saking senangnya aku sampai laporan sama si Bapak. "Pak, Pak, akhirnya aku di notice dong sama Shane." Huahahaha. Ehm, ---selanjutnya kami pun berkomunikasi via private message. Tadinya Shane ingin kami membawakan lagu "One Day". Tapi menurutku liriknya begitu girly (---tentang perempuan yang berkhayal akan bertemu pangerannya, lol), jadi aku tawarkan saja lagu lain yang aku ciptakan tahun 2015 lalu. Judulnya "Secret Note to John". Aku rasa ini lebih cocok karena lagunya memang kutulis sebagai ucapan terima kasih pada John Frusciante yang musiknya telah membantuku melewati masa-masa sulit ketika ditinggal Alm. Mika. Shane setuju, dan ia ingin lagunya apa adanya tanpa mengubah apa yang aku buat. Ia hanya akan menambahkan gitar, drum, backing vocal dan mixing lagunya agar lebih enak didengar. (Tapi aku putuskan untuk memberikan space agar ia bisa memasukan solo gitarnya yang keren).

Pengerjaannya sangat singkat. Kami hanya begadang 2 malam (perbedaan waktunya besaaaar sekali) dan semuanya selesai. Meski aku much much much smaller YouTuber (account Shane memiliki lebih dari 8 juta viewers!) tapi ia sangat mendengarkan pendapatku, --- dan itu membuatku semakin kagum dengannya. Shane juga membuat artwork khusus untuk lagu ini yang aku gunakan sebagai latar untuk video clip nya. Kehadiran Shane di "Secret Note to John" membuat lagu sederhanaku menjadi lebih berwarna. Sampai-sampai Bapak, sebagai orang pertama yang mendengar lagu ini ketika pertama kali aku ciptakan, kagum karena terdengar pangling, hehehe. Hubunganku dan Shane pun berubah menjadi nggak terlalu canggung setelah kami berkolaborasi. Ia bahkan menyemangatiku untuk membuat album sendiri dan kami berencana untuk membuat lagu bersama. Hmmm, bagaimana teman-teman, apa membuat album bisa  kumasukkan ke dalam list resolusi tahun 2017? Hehehe.



3. Kolaborasi Beda Generasi dengan Ukuleleist Senior, John Pak (Jepang)



Aku sudah lupa bagaimana awalnya menemukan channel John Pak, yang pasti beliau adalah salah satu pemain ukulele pertama yang channelnya aku subscribe. Meski viewersnya sudah lebih dari satu juta (---aku baru dua ratus ribuan, hehe) tapi John cukup rajin membalas komentar-komentar penggemarnya. Selain permainan ukulelenya, aku juga kagum dengan kreatifitasnya dalam membuat video. Lagu apapun yang dibawakan, pasti videonya keren dan cocok. Meski John cukup rajin berkolaborasi, tapi aku merasa nggak pantas untuk satu video dengannya. Bukannya aku merendah, tapi aku tahu diri, hehehe. Terbukti, di akhir 2015 lalu aku terpaksa menolak ketika (akhirnyaaaa) diajak berkolaborasi karena lagunya terlalu sulit :( Aku sedih bukan main, tapi aku dan John tetap berteman baik :) Mungkin karena perbedaan usia kami yang jauh, John jadi sangat care denganku. Bahkan pernah suatu kali ia mengirimiku gantungan handphone Hello Kitty edisi khusus Hawaii karena tahu aku mengoleksi benda-benda bergambar si kucing girly itu. Ibu dan Bapak pun nggak segan untuk menitipkan salam padanya karena aku sering menunjukan video-videonya.

Di penghujung tahun 2016 akhirnya tawaran berkolaborasi datang lagi! OMG, I'm so thrilled!:D Sebagai tribute bagi Charmian Carr, actress yang memerankan Liesl di "The Sound of Music", John ingin kami membawakan lagu "Sixteen Going on Seventeen". Aku tentu langsung saja mengiyakan karena selain kesempatan ini sudah ditunggu-tunggu, Liesl juga tokoh yang paling aku sukai di film! Bahkan sebelum kolaborasi ini pun aku sudah hapal dengan part nya Liesl. Ada cerita konyol, nih, beberapa tahun lalu waktu bekerja di preschool, aku dan Miss. Rifa (lead teacher ku di kelas) sukaaaa banget ngobrolin adegan Liesl waktu dansa terus dicium di tengah hujan. Kami selalu bilang, "Mau dong jadi dia," hahahaha. Nggak kebayang kalau Miss. Rifa tahu sekarang impianku "menjadi" Liesl benar-benar terwujud :p  Oh iya untuk kolaborasi ini John saja yang bermain ukulele, aku hanya bernyanyi. Sebenarnya aku ingin sekali bermain ukulele dengannya. Tapi kata Bapak lebih baik aku ikuti saja karena yang mengajak pun John, dan beliau yakin kesempatan akan datang lagi :)

Waktu part suaraku direkam sebenarnya kondisiku lagi sedikit uhuk-uhuk. Mungkin karena kebanyakan makan yang manis-manis, ---maklum hari curang akhir tahun, hehehe. Aku berusaha sebaik mungkin, tapi tetap hasilnya nggak "selumayan" biasanya. Syukurlah John bilang suaraku bagus, dan itu membuat rasa "bersalah" ku berkurang :') Tepat sebelum tahun baru kolaborasi kami selesai diedit. John sebelumnya sudah memberitahu konsep video clipnya, tapi tetap saja ketika melihatnya langsung aku amaze! Gue seolah-olah sedang berada di dalam frame foto dan bergerak untuk bernyanyi bersama John. Rapi sekali. Siapa yang menyangka kalau semuanya dilakukan di dua negara berbeda :D Dan ternyata kejutannya belum selesai, John bilang di tahun 2017 ini kami harus berkolaborasi lagi dan kali ini idenya diserahkan padaku. Ya, ampun... nggak apa-apa deh kalau kalian mau bilang aku lebay. Tapi reaksiku benar-benar seperti Liesl yang teriak "Wiiiiiii" sambil hujan-hujanan, hahaha :)


Aku benar-benar happy dan bersyukur dengan hal-hal yang terjadi padaku di tahun 2016 kemarin. Iya, semua, ---termasuk beberapa hal yang agak menyedihkan kalau dibahas di sini. Karena aku percaya setiap hal terjadi karena suatu alasan. Aku sudah berusaha keras untuk novelku, tapi ternyata gagal untuk selesai tepat waktu. Tapi hey, lihat sisi baiknya. Ketika mentok ide menghampiri, aku punya lebih banyak waktu luang untuk belajar benyanyi dan bermain ukulele. Dan setelahnya justru inspirasi jadi mengalir lebih lancar :D Di tahun 2016 juga aku (lagi-lagi) belajar bahwa sesuatu yang awalnya dikira nggak mungkin bisa saja terjadi. Mungkin selama ini kita menganggap bahwa idola itu unreachable, padahal mereka juga sama seperti kita; manusia, hehehe. Untuk di notice oleh mereka kita nggak perlu begging atau caper, tapi cukup menjadi diri sendiri dan tunjukan kemampuan kita. Aku tahu, aku masih harus banyaaaaaaak belajar, ---but I'm sure I'm getting better :) Jadi bagaimana bloggies, sudah siap menghadapi tahun 2017? Share rencana kalian di kolom komentar, ya. ---Dan... of course, doa terbaik untuk kita semua. Selamat tahun baruuuu! :)



ukulele girl yang kadang gak main ukulele, lol,

Indi

(Update 7/3/2024. Idolaku yang dari Amerika itu sekarang jadi suamiku, hahaha, plot twist!).


_________________________________


Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Jumat, 23 Desember 2016

Bercerita Tentang Mika di Malang :)

Howdy-do, peeps! Ah, selalu senang kalau bisa kembali ke sini. Rasanya seperti pulang ke rumah, ---rumah di dunia maya maksudnya, hihihi. Kalau ada di antara kalian yang membaca post-postku sebelumnya (atau mengikutiku di Facebook dan Instagram) pasti tahu kalau tanggal 2 Desember lalu aku mengisi sebuah acara Hari AIDS Sedunia di kota Malang. Nah, sekarang aku mau cerita soal pengalaman selama di sana. Dan apa kabar cerita Halloween ku yang ditunda-tunda terus untuk di post? Hehehe, untuk sekarang nonton dulu vlog nya di sini saja, ya. Soalnya karena sebuah alasan (---yang cheessy dan konyol) aku belum bisa menulis ceritanya :p

Di bulan November lalu aku dihubungi oleh Dina, salah satu anggota tim dari Indonesian Future Leaders chapter Malang untuk menjadi pembicara di event peringatan Hari AIDS Sedunia. Aku belum pernah mendengar apa itu IFL, tapi dengan quick search di internet aku jadi tahu kalau itu adalah organisasi non profit yang berfokus pada kegiatan youth empowerment dan social voluntarism. Aku langsung tertarik, ---tapi nggak langsung memutuskan untuk mengiyakan. Alasannya selain tempatnya jauh (tahun lalu aku jadi pembicara di Surabaya dalam keadaan sakit, uhuhu), juga karena sudah jauh-jauh hari ada kelompok dukungan sebaya (group support ODHA dan OHIDA) yang memintaku membantu acaranya di Bandung. Aku meminta waktu untuk berunding dulu dengan Bapak, tapi sebelum kami membuat keputusan dapat kabar kalau acara yang di Bandung batal. Hehehe, tahun ini rupanya aku ditakdirkan untuk memperingati Hari AIDS Sedunia jauh dari rumah :) 

Setiap kali melihat ke belakang aku selalu takjub dan nggak menyangka dengan apa saja yang sudah dilalui... Masih jelas rasanya hari dimana Mika, my forgetful angel, meninggalkanku untuk mengambil sayapnya di surga. Waktu itu rasanya aku sangat terpuruk dan nggak berdaya. Mungkin kesannya berlebihan, tapi memang itulah yang aku rasakan. Aku terlalu terbiasa ada Mika. Selama 3 tahun dengannya aku berubah dari Indi yang pemalu dan nggak nyaman dengan kondisi fisik menjadi Indi yang dengan bangga memakai brace scoliosisnya di luar baju dan merasa 'nggak kurang' dibandingkan remaja-remaja lain. Dengannya aku merasa aman dan percaya kalau aku bisa melakukan 'apapun'. Dan Mika juga lah yang membangkitkan keterpurukanku setelah ia meninggal. Semangatnya membuatku sadar kalau ia nggak akan suka aku terus-terusan murung. Dan berhenti 'membicarakannya' justru membuatku menjadi denial, ---sulit mengiklaskan. Keberanian untuk menghadapi kepergiannya justru malah membuat Mika seolah selalu ada. I face my fears, ---aku berbagi kisah tentang Mika. Dan aku lakukan ini bukan hanya untuknya, tapi juga untukku. 

Jadi pada tanggal 2 Desember lalu, pagi-pagi sekali aku dan Bapak sudah berada di Bandara untuk menuju Surabaya. Penerbangan dari Bandung belum ada yang langsung tiba di Malang, jadi kami harus berangkat sedini mungkin untuk mengejar sesiku yang akan berlangsung pada pukul 14.00 WIB. Aku sebenarnya ditawari untuk berangkat 1 hari sebelumnya, tapi karena aku sedang sedikit demam jadi kupikir lebih baik sedekat mungkin dengan waktu acara. Aku baru tidur 2 jam karena sebelumnya sedang menyelesaikan interview dengan Hunter Kelch (perbedaan waktu 2 negara membuatku harus begadang, hehehe). Aku pikir akan bisa tidur di pesawat, tapi ternyata aku tetap terjaga sampai tiba di Surabaya. Penerbangannya super lancar, dan kami mendapatkan pesawat yang nyaman dan lega. Tapi di sampingku ada perempuan yang "mengkahwatirkan". Ia terus-terusan facetime dengan pacarnya (---atau siapapun itu) sampai ditegur 3 kali oleh pramugari dan sepanjang perjalanan terus-terusan mengecek makeup nya. Ugh, why oh why?!! :p

Waktu tiba di Bandara Juanda.

Meski begitu mood ku dan Bapak tetap super bagus. Kami hanya menunggu sebentar ketika tiba di Bandara Juanda karena Eko dan Rizki dari IFL sudah menjemput dan siap untuk mengantarkan ke Malang. Rasanya seperti de javu, begitu menginjakkan kaki di Surabaya udara langsung terasa hangat (---panas, hehe). Biasanya aku prefer cuaca dingin, tapi rasanya aku rindu Surabaya, teringat keramahan teman-teman di sana, huhuhu, ---jadi mellow :p Tapi 2 teman baru dari Malang ini pun nggak kalah ramah. Sepanjang perjalanan mereka terus bercerita tentang tempat-tempat yang kami lewati. Seperti tour guide, hehe. Dan itu membantuku dan Bapak untuk tetap terhibur di perjalanan yang super macet dan didera hujan deras karena kami banyak tertawa. Sebagai penutup perjalanan sebelum tiba di guesthouse kami juga diajak mampir ke restoran pecel "Kawi". Di sana rasa pecelnya super nikmat! Sayang untuk lidahku terlalu pedas jadi nggak sanggup untuk menghabiskan 1 porsi :p

Pecel “Kawi” yang nikmat tapi pedas :p

Seperti kata Mika, selalu ada yang pertama kali untuk segalanya. Begitu juga dengan pengalaman sebagai speaker kali ini. Kalau biasanya disediakan hotel, kali ini panitia menyediakan sebuah kamar di guesthouse. Ternyata tempatnya nyaman sekali dan homie, ---ada teras untuk bersantai dan kolam ikannya. Lucunya, nama guesthouse nya Bandoeng, cocok sekali dengan kota asalku, hahaha. Yang pertama terpikir olehku ketika tiba adalah tidur, tapi lagi-lagi aku betah terjaga. Mungkin saking lelahnya, plus harus menyiapkan speech ku nanti. Kalau Bapak sih, 5 menit nempel di bantal suara ngoroknya langsung terdengar :p Ya, sudah aku hanya sekedar rebahan sambil memeluk Onci, boneka kelinciku. Sekitar pukul setengah 2 siang handphoneku berdering, rupanya Salsa dan Ferdy dari IFL sudah menunggu di lobby untuk menjemput kami. So excited! Rasanya lelahku langsung hilang seketika :)

Di guesthouse “Bandoeng” setelah berganti baju.

Malang masih diguyur hujan, dan ini membuat perjalanan (lagi-lagi) sedikit terhambat. Butuh waktu lumayan lama untuk tiba di lokasi, padahal jaraknya dekat, lho. Tapi asyiknya aku jadi bisa lihat kiri-kanan dan melihat-lihat taman di kota Malang. By the way, dari sekian banyak tempat yang kukunjungi rasanya di sinilah yang suasana dan udaranya mirip di Bandung. Sejuk dan banyak taman kotanya. Sampai-sampai Bapak bilang kalau difoto dan nggak bilang dimana lokasinya, orang Bandung pasti mengira kami sedang di alun-alun, hihihi. Akhirnya kami tiba juga di Cafe Gembira, lokasi dari event Close the Gap. Sebelum dimulai aku sempat mengobrol dengan Dina dan briefing secara singkat. Berhubung segmenku kebagian sore, jadi aku nggak sempat melihat pengisi acara sebelumnya. Katanya sih ada pameran karya teman-teman ODHA, dan sebagian masih ada di display. Sayang karena lumayan sibuk hanya Bapak yang sempat melihat-lihat.

Tiba di Cafe Gembira untuk event “Close the Gap”.

Nggak menunggu lama, sebelum teh manis hangat yang disediakan habis aku sudah naik ke lantai 2 untuk nonton bareng film Mika. Secara singkat aku mengenalkan diri kepada audiences yang sudah hadir. Kursi-kursi yang disediakan nggak semuanya terisi, tapi menurutku jumlah audiences bukan yang utama tapi antusiasme merekalah yang aku harapkan :) Aku nggak bisa cerita tentang detailnya, ya. Yang pasti menonton kembali "diary" ku bersama Mika selalu membuat perasaan campur aduk. Ada yang bikin tertawa, tapi ada juga yang membuat air mataku jatuh. Ada saat-saat di mana aku merasa nggak sanggup untuk menontonnya kembali, tapi ada juga saat di mana aku merasa "okay". Dan kali ini perasaan gue adalah yang kedua, ---meskipun malam sebelumnya aku baru saja menonton film "Mika" di TV. Ya, air mataku memang sedikit keluar, tapi lebih banyak tersenyumnya. Thank God :)

Film “Mika” diputar di layar besar.

Sepanjang pengalamanku nonton bareng film "Mika", baru kali ini dapat audiences yang 'adem' (baca: sepi). Biasanya, saat adegan lucu mereka tertawa, dan saat adegan sedih ada isak tangis. Minimal ada celetukan-celetukan komentar. Sempat bertanya-tanya juga dalam hati, apakah filmnya kurang seru bagi mereka? Atau apakah mereka bosan? ---padahal kabarnya banyak di antara mereka yang belum pernah menontonnya, lho. Makanya waktu film berakhir dan terdengar tepuk tangan yang riuh aku lega sekali. Rupanya mereka hanya pemalu. Terbukti saat sesi tanya-jawab mereka hapal dan paham betul dengan ceritanya, ---bahkan mendetail! Ternyata diam-diam mereka memperhatikan, ya, hehehe. Pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan pun cukup smart. Dengan senang hati aku menjawabnya karena nggak ada satupun yang menyinggu privacy ku dan jauh dari kesan kepo. Yay, good job Malang :))

Suasana waktu nobar film “Mika”.

Setelah nggak ada lagi pertanyaan yang ingin mereka ajukan, aku sharing tentang isu kesenjangan yang (sayangnya) masih terjadi di keseharian kita. Meski event ini dalam rangka Hari AIDS Sedunia, tapi apa yang terjadi pada ODHA sebenarnya bisa terjadi juga pada kita. Bayangkan bagaimana rasanya dibedakan hanya karena kondisi kita, padahal di balik itu kita adalah manusia yang "sama". I mean, ---well, iya manusia memang berbeda-beda tapi bukan berarti harus dibeda-bedakan, kan? Dengan memahami dulu kondisi yang terjadi aku yakin akan menumbuhkan empati dan menghilangkan 'kebiasaaan' untuk judging. Lagipula, apa gunanya menghakimi? Kita bisa membenci seseorang mati-matian dan itu cuma membuat semuanya lebih buruk. Lebih baik perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan, be nice. Kita nggak pernah tahu apa yang seseorang bisa lakukan atau apa pengaruh mereka di masa depan. Dulu banyak orang yang berkata buruk tentang Mika. But look at him now...

Sesi sharing.

Aku berbicara tentang kesenjangan yang sering terjadi di keseharian kita.


Aku pernah membaca komentar di blog ini (atau di media sosialkuyang lain? Maaf lupa, hehe) yang isinya kurang lebih bahwa yang terpenting justru edukasi soal pencegahan penularan virus HIV, bukan soal masalah kesenjangannya. Tapi menurutku keduanya sama pentingnya. Bahkan edukasi mengenai kesetaraan bisa jadi lebih mudah diterima karena bisa dimengerti oleh anak-anak sekalipun. Contohnya saja sepupuku yang berusia 10 tahun bertanya tentang alasan mengapa Mika dikucilkan, bukan bertanya tentang asal usul virusnya ketika menonton "Mika". Ini sih mengenai perspektif, ---mana yang efektif mana yang nggak tergantung kepada siapa kita 'berbicara'. Aku percaya nggak ada cara 'kampanye' yang salah atau buruk. Kapan-kapan aku akan bahas lebih jauh lagi, tapi sekarang balik lagi ke event Close the Gap yang keren dulu, ya :)

Setelah sharing, sesiku ditutup dengan foto bersama dan interview. --Well, nggak benar-benar selesai, sih, hehehe. Setelah 'turun panggung' justru audiences lebih akrab untuk bertanya dan mengajak selfie. Meski agak crowded tapi aku happy sekali dengan reaksi mereka. Aku selalu terbuka untuk menjawab pertanyaan asalkan itu bukan hal-hal yang terlalu pribadi (---kurasa aku sudah cukup banyak berbagi kisah tentang Mika, kan). Satu pertanyaan yang banyak ditanyakan adalah soal pendapatku mengenai sukses atau nggak nya acara ini. Dan, ya menurutku acara ini sukses! Nggak ada acara yang sempurna, tapi menurutku "Close the Gap" ini berhasil mengcaptured apa pesan yang ingin disampaikan. Aku suka dengan konsep semua orang duduk bersama untuk menonton film dan berbincang, ---tanpa harus disebut 'kamu ODHA dan aku bukan'. Karena honestly acara yang dibuat seperti itu malah berkesan seperti freak show. Itu lho show yang isinya orang-orang diberi label "si A", si B" atau "si C". Barbar sekali (---meminjam istilah Robin Williams), dan justru malah membuat kesenjangan semakin terasa.

Foto bersama. —-Iya, bapakku juga ikutan :D

Aku dan Bapak nggak langsung diantarkan kembali ke guesthouse. Tapi kami makan siang (super late, hehe) dulu sambil masih berbincang dengan beberapa kru IFL. Thumbs up lho buat chef dari Cafe Gembira yang secara khusus membuatkanku masakan vegan meskipun itu nggak ada di menu. Meski kesannya 'biasa' tapi saat penyelenggara acara memperhatikan hal-hal kecil yang sifatnya personal, bisa membuatku lebih nyaman, lho! :) Aku dan Bapak lalu diantar oleh Salsa dan Ferdy untuk melihat-lihat kota Malang setelah kami sedikit rapi-rapi (hehe) di guesthouse. Meski waktunya singkat karena sudah malam tapi kesampaian juga untuk melihat Tugu Malang dan mobil odong-odong yang super ramai, hehehe. Aku juga membeli sedikit oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Ada dompet batik berwarna pink yang cuteee sekali. Sayangnya cuma 1, jadi aku berikan sama iparku deh (---karena gue baik, lol).

Berfoto bersama Bapak. Maunya sih Tugu Malangnya kelihatan, tapi ternyata gelap :p

Keesokan paginya setelah tidur beberapa jam (---tradisiku dan Bapak kalau nggak ada Ibu pasti ngobrol sampai pagi), kami diantarkan ke Bandara Juanda untuk pulang menuju Bandung. Aku kembali bertemu dengan Dina dan ia mengantarkan kami sampai gate untuk mengucapkan sampai jumpa. Pertemuanku dengan teman-teman baru di Malang memang singkat tapi begitu berkesan. Aku harap bisa kembali lagi suatu hari, ---dan tentu aku juga berharap telah meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi mereka. Apa yang aku lakukan memang nggak banyak, tapi aku berusaha berbagi apa yang kumiliki. Aku berbicara, agar Mika selalu ada, ---agar semangat Mika selalu ada di hati orang-orang yang mendengarkan kisahnya :)

vlog perjalanan, sesi sharing dan jalan-jalan

smile,

Indi

________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact: namaku_indikecil@yahoo.com

Jumat, 02 Desember 2016

Come Roll with Hunter Kelch! :)


Pertemanan memang bisa dimulai darimana saja, termasuk dari dunia maya. Seperti perkenalanku dengan Hunter Kelch yang dimulai dari Instagram. Waktu itu somehow ia menemukan akunku dan segera kami menemukan banyak kesamaan! Kami sama-sama senang menulis (baca website nya: www.comerollwithme.com), mendengarkan musik rock, menonton film, makan pizza dan sama-sama mengidap scoliosis! Meski begitu sebenarnya kondisi kami nggak sama persis karena penyebab scoliosis kami berbeda. Agar lebih saling mengenal, kami memutuskan untuk saling mewawancarai. Dan ini adalah hasil wawancaraku dengan Hunter tentang kondisi cerebral palsy dan kegiatannya! :)


www.comerollwithme.com


1. Hai Hunter, bisa kamu ceritakan tentang dirimu?
Aku seorang pria berusia 24 tahun yang mengidap Cerebral Palsy. Aku lahir 3 bulan prematur dan mengalami infeksi serius yang mengakibatkan kerusakan otak. Aku tinggal di sebuah gedung apartemen bersama orang-orang yang juga memiliki disabilitas, tapi aku punya apartemen sendiri. Aku punya caregiver yang datang untuk membantu kebutuhan pribadiku. Ibuku adalah caregiver utamaku, tapi aku juga punya tiga orang lain yang membantu. Sejak dua tahun yang lalu aku memutuskan untuk menjadi seorang blogger profesional dan fokus pada tema "hidup dengan cerebral palsy" sambil memberikan wawasan pada orang lain yang juga memiliki disabilitas. Selain itu aku juga membahas tentang aksebilitas. Sekarang baru sebatas di kampung halaman saja, tapi aku berharap suatu hari akan berjalan-jalan dan blogging ke seluruh penjuru dunia.

Aku punya seekor "kucing gila" bernama Sully yang terkadang bisa sangat manis dan penuh kasih sayang, tapi di lain waktu ia bisa menjadi kucing yang nakal!

Aku selalu suka olahraga, ---kalau dipikir mungkin sejak aku di dalam kandungan! Olahraga favoritku untuk ditonton adalah American Football, bisbol dan gulat profesional! Aku telah menonton beberapa pertandingan dan pernah ke acara gulat profesional sebanyak 3 kali!

Aku juga suka menonton acara memasak, acara kriminal dan acara tentang medis. Dan aku juga suka bermain video game. Aku mulai bermain video game sejak usia 2 tahun. Waktu itu aku bermain Mario Bros di Super Nintendo milik ibuku! Tapi sekarang aku bermain di PS4 milikku sendiri, kebanyakan aku bermain game tentang  olahraga dan perang.

Aku suka makan di luar, burger adalah makanan kesukaanku. Aku juga suka pizza! Aku sering pergi ke tempat bermain bowling, pertandingan balapan dan bioskop.

Aku menikmati musik rock keras yang diputar keras-keras! Tapi kalau di apartemen aku tidak bisa memutarnya telalu kencang karena penghuni lain kebanyakan orang-orang yang usianya lebih tua. Untungnya, sampai sekarang belum ada komplain dari mereka! 

2. Apa itu cerebral palsy? Dan waktu usia berapa ketika kamu didiagnosis oleh dokter?
Cerebral Palsy pada dasarnya adalah gangguan motorik non-progresif yang disebabkan oleh kerusakan otak pada tahun-tahun pertama kehidupan. Aku lahir 3 bulan lebih awal, punya pendarahan otak dan juga infeksi. Ini berpengaruh ke keempat anggota tubuhku, jadi aku bisa disebut sebagai quadriplegic. Aku sudah memakai kursi roda sejak usia 3 tahun. Tidak ada obat untuk cerebral palsy, tapi terapi fisik dan terapi okupasi bisa membantu. Beberapa orang yang mengidap CP juga terkadang memiliki masalah lain seperti ketulian, kebutaan dan perkembangan kognitif. Selain kemampuan motorik, kemampuan bicaraku juga terpengaruh (aku bicara terpatah-patah dan juga gagap). Aku juga mengalami gangguan penglihatan. Ini artinya otakku memberikan pesan yang salah pada mataku. Yang menarik, karena gangguan mataku orang tuaku dulu pernah diberitahu bahwa aku tidak akan pernah bisa membaca. Tapi lalu orangtuaku memberitahu dokter bahwa aku bisa membaca waktu usiaku masih 4 tahun! Padahal aku belajar membaca sendiri. Saat itulah aku memutuskan bahwa tidak ada seorang pun yang bisa membatasiku!

Aku baru didiagnosis pada usia 1 tahun. Tapi aku sudah ke terapi fisik dan terapi okupasi sejak usia 6 bulan.

Hunter waktu berusia beberapa minggu, beratnya 2lbs 13oz. Yang di sampingnya itu tangan ayahnya.

Bersama Nghia, saudara laki-lakinya yang diadopsi dari Vietnam.

Bersama Katie, anjing pertamanya yang sangat istimewa :)


3. Apa sih yang sering menjadi kesalahpahaman atau menjadi mitos tentang cerebral palsy? Dan apa yang orang perlu tahu tentang fakta-faktanya?
Salah satu kesalahpahaman yang aku sendiri pernah alami adalah bahwa banyak orang mengira semua pengidap CP memiliki gangguan perkembangan kognitif (keterlambatan). Pernah suatu hari waktu aku berada di sebuah turnamen renang, ada seorang wanita datang dan berbicara padaku seolah aku masih balita, padahal waktu itu aku sudah berusia 21 tahun. Aku percaya bahwa meskipun ada yang memiliki keterlambatan, tetap saja layak untuk diajak bicara sesuai dengan usia mereka yang sesungguhnya. Berbicara pada orang dewasa dengan gaya berbicara seperti pada balita itu tidak sopan.

Aku rasa salah satu kesalahpahaman yang utama tentang CP adalah bahwa orang mengira ada sesuatu yang salah dengan lengan dan kaki kami. Padahal kaki dan tangan kami "normal". Karena kerusakan adanya di otak kami, bukan tubuh kami. Otak kamilah yang salah mengirimkan pesan kepada tubuh kami.

Kesalahpahaman lainnya adalah bahwa aku dikira tidak bisa menikmati aktivitas yang sama dengan orang pada umumnya. Aku mungkin harus melakukan sesuatu yang berbeda, dan hasilnya mungkin tetap tidak sama. Tapi aku masih ingin berpartisipasi, kok. Salah satu contohnya saja dengan kecintaan aku pada sebak bola. Secara fisik aku tidak bisa bermain bersama rekan-rekanku. Tapi aku masih bisa pergi ke pertandingan dan membantu pelatih dari pinggir lapangan. Ada kok pelatih dari tim Miami Dolphins yang sebenarnya tidak pernah menendang tapi tetap dihormati!!

Bersama temannya, Daryl, di pertandingan bisbol.


4. Apa tantangan terbesar yang pernah kamu hadapi?
Kalau harus menjawab jujur yang paling sulit itu menemukan pasangan. Berkencan sebagai orang dengan disabilitas itu sangat sulit. Perempuan non disabel kebanyakan tidak ingin mendapat tanggung jawab untuk merawatku, dan banyak yang tidak mau punya pasangan yang tidak bisa melakukan beberapa hal. Pengalaman pacaranku terbatas di kemah anak-anak berkebutuhan khusus dan waktu SMA. Sekarang setelah dewasa, aku malah merasa lebih susah untuk mendapatkan pacar. Aku ingin bertemu dengan perempuan yang bisa melihat di balik kursi roda dan di balik keterbatasanku, karena sebenarnya masih banyak hal lain yang bisa aku tawarkan.

5. Bagaimana perasaanmu tentang penggambaran orang dengan cerebral palsy di film dan televisi? Misalnya saja seperti Walter White Jr dari serial "Breaking Bad", atau Michael Connolly dari film "Rory O'Shea was Here".
Aku belum pernah menonton dua-duanya, baru rencana. Tapi ibuku pernah menonton serial Breaking Bad. Katanya karakter Walter Jr benar-benar tidak mewakili apa yang beliau bayangkan. Disabilitsnya digunakan untuk dijadikan alasan sebagai perilaku kriminal ayahnya. Jadi tidak berfokus pada kehidupannya sebagai pengidap CP.

Aku pernah menonton Fundamentals of Caring di Netflix. Meskipun tokohnya mengidap Muscular Dystrophy, bukan CP, tapi aku merasa sangat relatable dengannya. Selera humornya yang gelap dan caranya menguji caregiver nya sangat tepat sasaran. Ia juga orangnya blak-blakan, mirip sepertiku. Aku suka cara mereka menggambarkan rasa keterasingan karena memiliki disabilitas. Ibuku juga menontonnya dan setuju dengan penggambaran tantangan-tantangan sebagai seorang ibu yang juga merangkap caregiver.

Sekarang aku sedang mendengarkan audiobook nya Zach Anner, ia juga mengidap CP. Kalau sudah selesai, nanti aku akan ceritakan tentangnya di blog. Zach tidak takut untuk membahas tentang disabilitasnya dan juga membahas "sisi gelap" dari mengidap CP. Ia bercerita dengan sangat jujur dan penuh humor! Aku sarankan orang-orang yang memiliki disabilitas dan para caregiver untuk membaca/mendengar buku ini karena bisa memberikan wawasan tentang tantangan apa saja yang mungkin kami hadapi.

(Dua hari setelah wawancara ini, Hunter bercerita bahwa akhirnya ia menonton film "Rory O'Shea was Here". Katanya filmnya sangat bagus dan ia merasa related dengan Michael. Bahkan ibunya pun menangis di sepanjang film. Berbeda denganku yang merasa adegan measurement sangat nggak nyaman karena aku pribadi harus mengalaminya paling nggak sebulan sekali, bagi Hunter measurement rasanya lebih mudah karena sebagai pengidap CP ia selalu membutuhkan perawatan fisik total).

6. Kenapa kamu memutuskan untuk menjadi seorang penulis? Ngomong-ngomong, aku suka situsmu, lho.
Waktu itu awalnya tidak direncanakan. Aku sedang bosan jadi mulai mencoba menulis. Kamu bisa anggap ini 'kecelakaan'. Tapi terkadang hal-hal besar bisa dimulai dari sebuah 'kecelakaan'. Ibuku lalu punya ide agar aku mulai blogging. Kami lalu mencobanya. Awalnya secara mandiri, tapi kemudian kami menghubungi agen untuk membantuku belajar mengenai seluk-beluk blogging profesional. Aku masih belajar, dan aku punya mentor hebat yang selalu siap membimbing.

Kolase hidup Hunter.


7. Apa impian terbesar dan tujuan hidupmu?
Salah satu tujuan utamaku adalah untuk menjadi penasehat yang lebih baik bagi diri sendiri, dan suatu hari blog ku juga bisa menjadi penasehat bagi orang lain. Aku ingin berkeliling dunia dan menulis pengalamanku untuk membantu orang lain. Aku ingin mencoba sebanyak mungkin hal-hal baru. Pada dasarnya aku hanya ingin menjadi yang terbaik sebisaku.

Berperahu di danau Wausau bersama temannya, Dave. Ah, seperti di surga! :)


8. Terakhir, apa pesan kamu bagi yang sedang membaca wawancara ini?
Jika kamu ingin melakukan sesuatu, jangan biarkan keterbatasanmu menghentikanmu untuk menemukan cara mencapainya! Aku mendorong semua orang untuk melihat di balik semua jenis disabilitas, lihat orangnya... lihat jiwanya... lihat sosoknya. Aku bukanlah kursi rodaku, aku bukan cedera otakku dan aku juga bukan gangguan mataku. Aku Hunter, aku adalah pria santai, lucu, unik dan mempunyai hati yang besar.

***

Wah, dari wawancara ini aku jadi banyak belajar hal-hal baru. Coba deh teman-teman mampir ke website nya untuk membaca tulisan-tulisan keren (review, pengalaman, ide, dll) dari sudut pandangnya. Kalian pasti akan menikmatinya seperti aku yang betah menghabiskan sore dengan membaca tulisan-tulisannya. Di sana kalian juga bisa membaca wawancara Hunter denganku. Penasaran kan dengan pertanyaan-pertanyaan cerdasnya? Klik di sini ;)

Baca interview Hunter denganku di sini :)
cheers,


Indi

______________________________________________________


Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com