Sabtu, 31 Oktober 2015

"Guruku Berbulu dan Berekor" goes to Pamulang Pet Festival! :)


Hai bloggies! Tulisanku kali ini akan singkat saja. Beberapa waktu lalu aku dihubungi oleh admin dari grup Animals Lovers yang memberi kabar bahwa akan diadakah sebuah event yang bernama "Pamulang Pet Festival". Mereka memintaku untuk mengisi talk show edukatif mengenai hewan, khususnya anjing dan menitipkan novel "Guruku Berbulu dan Berekor" untuk dijual di sana. Too bad karena jarak yang jauh dan adanya keperluan di Bandung, aku batal menjadi speaker dan hanya menitipkan novel saja. Sedikit mengenai event ini, Pamulang Pet Festival adalah sebuah acara outdoor yang menyenangkan dan juga bernilai edukatif. Di sana pengunjung bisa bermain, berbelanja serta belajar tentang alam dan hewan peliharaan. Sangat cocok untuk mengajak seluruh keluarga, termasuk hewan peliharaan! :)

Aku mau mengajak teman-teman semua untuk menghadiri Pamulang Pet Festival yang diadakan pada tanggal 31 Oktober sampai 1 November 2015 di Pacuan Kuda, Jl. Pajajaran Tangerang-Banten. Jangan lupa kunjungi booth Animals Lovers untuk mendapatkan novel "Guruku Berbulu dan Berekor" yang berisi kisah-kisah nyata menginspirasi tentang manusia dan hewan peliharaannya. Royalti dari penjualan novel ini digunakan untuk membantu hewan-hewan terlantar, lho. Harga tiket masuk Rp. 20.000, sedangkan biaya pendaftaran untuk kontes anjing RP. 100.000. Itu berlaku untuk satu hari kunjungan, jadi artinya kalian bisa bersenang-senang sepuasnya :D

Jangan sampai ketinggalan, ya. Yuk manfaatkan kegiatan menyenangkan ini sambil berdonasi. Tapi jika teman-teman nggak bisa hadir dan tetap ingin memiliki novel "Guruku Berbulu dan Berekor", jangan khawatir, kalian bisa mendapatkannya di www.homerianshop.com :)

cheers!

Indi

____________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Jumat, 23 Oktober 2015

Cerita dari Premiere Film Goosebumps, Review dan Halloween Costumes! :)

Boo! Yay, Halloween hampir tiba! :D
Kalau teman-teman sering membaca blog ini pasti tahu betapa terobsesinya aku dengan Halloween. Well, untuk yang baru tahu dan malas untuk membuka tulisan-tulisan yang lalu, aku ceritaan lagi deh sedikit, hihihi. Halloween ala aku adalah waktu istimewa yang nggak ada hubungannya dengan tradisi asalnya di Irlandia. Bagiku (dan Ray, dan orang-orang di rumah), Halloween adalah saat untuk bersenang-senang, bermain kostum, menonton film seram, menghias rumah dan tentu saja banyak permen! :D Jadi meskipun “Halloween party” bertebaran di mana-mana, belum tentu konsepnya akan cocok denganku. Bahkan beberapa waktu lalu, ketika masih bekerja di preschool yang berbasis kurikulum British aku nggak cocok dengan Halloween di sana karena berkiblat ke Irlandia. Sementara yang lain memakai kostum seram, aku malah ngotot ingin pakai outfit colorful, hahaha. Tapi sisi baiknya aku jadi ada alasan untuk punya dua buah kostum sekaligus :p Dan tahun ini rasa excited ku ternyata jadi berkali-kali lipat! Karena selain kostum baru, stok film Halloween juga bertambah. It’s Goosebumps the movie! :D

Kalau soal fakta yang ini mungkin hanya sedikit yang tahu (keluarga, Ray dan teman-teman dekat), aku adalah penggemar Goosebumps! Dan bukan hanya penggemar biasa, aku adalah die hard fans alias penggemar super berat, hihihi :D Kalau anak-anak seusiaku dulu hanya membaca buku-bukunya, nah aku sekalian buka lapak, ---alias menyewakan buku-bukunya karena koleksiku lengkap (plus bonus-bonusnya). Lalu beberapa tahun kemudian, tingkat jatuh cintaku pada Goosebumps semakin bertambah karena ada serialnya diputar di TV. Setiap pulang sekolah pasti deh aku duduk manis (eh, asem ding, belum mandi sore, hiiiii) lalu menatap layar Trans TV. Too bad, serialnya nggak diputar sampai habis dan aku pun harus beralih ke internet lalu mulai berlangganan TV kabel. Meski sampai pindah 3 kali, ---dan channelnya pun berganti-ganti, tapi hampir seluruh episode Goosebumps sudah aku tonton. Sebagai bonus, aku malah sudah menonton semua episode The Haunting Hour, serial “versi remaja” ala Goosebumps yang juga ditulis oleh R. L Stine.  Mungkin dibandingkan R. L Stine sendiri aku malah lebih hapal dengan cerita-ceritanya, hahaha.

Aku masih punya bonus stiker glow in the dark dan pembatas bukunya, lho :)

Waktu rumor Goosebumps akan dijadikan film layar lebar beredar aku langsung jingkrak-jingkrak nggak karuan. Gimana nggak, bukunya sudah terbit 21 tahun lalu dan aku yakin banyak penggemar di seluruh dunia yang berharap buku dan serial keren ini dijadikan film. Hampir setiap online aku cek diskusinya di IMDB (situs ini semacam ‘kitab’ ku kalau kata Ray, lol), dan begitu trailernya keluar aku sampai nonton berulang-ulang dan selalu terpekik excited bahkan di kali keseratus aku menontonnya. Satu hari sebelum filmnya diputar jantungku sepertinya hampir meledak karena over excited. Semalaman aku nggak bisa tidur karena nggak sabar ingin cepat-cepat menyaksikan monster-monster seram yang setia menakutiku semasa kecil, hihihi. Untuk meredakan ‘ketegangan’ yang cukup untuk mengganggu seisi rumah, aku menyiapkan outfit untuk dipakai di pemutaran film. Aku ingin apa yang dipakai nanti Halloween-ish, tapi tetap pantas untuk dipakai ke bioskop :D

Tengah malam aku membuka lemari baju dan menemukan sebuah dress orange yang mengingatkanku dengan pumpkin, ---dan juga cerita Goosebumps yang berjudul “Attack of the Jack O’-Lanterns”. Si Pumpkinhead ini menyeramkan, apalagi visualisasinya di serial The Haunting Hour. Tapi tentu di Halloween ala aku semuanya harus tetap colorful dan cheerful, jadi aku padukan dressnya dengan sneakers Converses warna hijau, ---yang mengingatkanku dengan style anak-anak tahun 90’an (Goosebumps rules! Lol). Aku juga mengganti casing handphone dengan model kamera agar mirip dengan tokoh di “Say Cheese and Die”, lengkap dengan gantungan cacingnya untuk memberikan sedikit sentuhan dari “Go Eat Worms”. Kuku-kukuku juga nggak mau ketinggalan “berkostum”, aku mengecatnya dengan warna hijau-ungu sesuai dengan cover buku Goosebumps yang iconic, hihihi (aku dapat ide ini dari blogger lain, btw). Karena rencananya aku akan nonton bersama Ray, jadi aku minta ia untuk berdandan seperti R. L Stine. Awalnya sih ia bilang nggak punya kemeja warna hitam, tapi akhirnya Ray punya jalan keluarnya ;) Mungkin teman-teman bingung, untuk apa aku dan Ray berdandan ala Goosebumps sementara orang yang melihat mungkin nggak akan ngeh dengan detail yang kami pakai. Well, kami lakukan ini untuk diri sendiri kok. Aku merasa happy karena we put effort for our costumes, kami membuat Halloween kami sendiri, iya, kan? ;)

Ray sebagai R. L Stine dan aku sebagai Pumpkin Head.

Go Eat Worms VS Say Cheese and Die. Dua-duanya seri favoritku :)

Purple and green, 2 warna iconic Goosebumps! :)

Beruntungnya aku (--dan Ray) karena bisa menonton Goosebumps di tanggal 14 Oktober 2015 sementara pemutaran serentaknya di seluruh dunia baru 2 hari kemudian. Di perjalanan sengaja aku merekam ke-excited-an kami untuk vlog di YouTube, siapa tahu nanti bisa ditonton sama anakku kelak. Hahaha, just kidding, ditonton sama sepupu-sepupu kecilku maksudnya, karena mereka suka sekali menonton video-video kakaknya ini :) Kami tiba right on time, waktu opening title nya baru muncul di layar. Segera setelah aku duduk di seat urutan ketiga, jiwaku pun langsung tenggelam di keajaiban film Goosebumps. Aku benar-benar terbawa dengan ceritanya, terpukau dengan visualisasinya dan nggak terhitung berapa kali mataku berkaca-kaca karena haru. It was a perfect day, ---bahkan super perfect seandainya laki-laki di sebelahku (---bukan Ray) nggak berisik dan jorok. Ia makan dengan mulut terbuka dan lidah mengecap lalu menjilatinya dengan berisik. Herannya pacarnya mau-mau saja dikiss tangannya sambil dipeluk-peluk. Eww, gross! Pemandangan seperti itu kasih aku goosebumps yang sesungguhnya, hahaha :’’’D

Bersama poster Goosebumps. Mata berkaca-kaca karena ini diambil setelah film selesai :p

Goosebumps the movie ini menceritakan tentang Zach, remaja yang baru saja pindah ke lingkungan baru yang membosankan bersama ibunya. Di sana ia berkenalan dengan Hannah, seorang remaja perempuan yang tinggal di sebelah rumahnya. Hannah menyenangkan, humoris dan juga cerdas, tapi Zach merasa ayah Hannah bukan ayah yang baik karena di malam hari ia mendengar suara mereka sedang berargumen. Lalu suatu hari Zach dan Champ, teman barunya di sekolah (he’s my favorite) memutuskan untuk menyelinap ke rumah Hannah dan menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Sebelum mendapatkan jawabannya mereka menemukan rak buku yang berisi naskah-naskah cerita Goosebumps! Karena penasaran mereka membuka salah satu bukunya, ---yang anehnya sengaja digembok, dan... BOOM! Monster pun keluar dari sana! Ternyata ayah Hannah adalah seorang penulis horror yang sangat Champ kagumi; R. L Stine!! :O

Aku nggak mau spoiler soal cerita lanjutnya karena akan lebih seru jika ditonton sendiri, tapi aku akan berbagi hal-hal menarik dari film ini dari sudut pandangku yang seorang penggemar berat Goosebumps, ---bukan kritikus film, hihihi. Film ini mewujudkan impian para die hard fans nya Goosebumps, baik buku ataupun serial TV. Kenapa? Karena Slappy menjadi “monster” utamanya! Sebelum muncul di film ini, aku sudah mengenal Slappy sebagai tokoh dari cerita “Night of the Living Dummy”, sebuah boneka yang bisa hidup ketika dibacakan kartu mantra yang terselip di saku jasnya. Yup, mirip seperti Chucky, hanya saja lebih seram dan aku percaya setelah Child's Play yang original banyak sekuelnya yang terinspirasi dari cerita Slappy, termasuk yang terbaru, “Chucky the Return”. Di sini Slappy seolah menjadi ketua gang yang merencanakan pembalasan dendam dari para monster. Pssst, kita bakal tahu gimana perasaannya selama ia menjadi ‘anaknya’ R. L Stine, lho. Untuk yang terbiasa menonton serial TV nya mungkin penampilan Slappy di sini terasa agak berbeda. Wajahnya lebih halus dan rambutnya gelap, bukan orange menyala yang membuat senyum sinisnya semakin menyeramkan. Awalnya aku juga heran, tapi setelah diingat-ingat di sampul buku “Night of the Living Dummy” pun sebenarnya Slappy digambarkan seperti itu, kok :) Dan untuk versi film tentu saja disesuaikan dengan Jack Black pengisi suaranya, yang surprisingly bagus meskipun style nya berbeda dengan Ron Stefaniuk, dubber versi TV :)

Di trailernya aku melihat banyak CGI untuk menciptakan efek monster. Not a bad thing, hanya saja di serial TV aku nggak banyak menemukan ini. Tapi ternyata aku salah karena menilai keseluruhan film hanya dari trailer. CGI ternyata hanya berlaku untuk monster-monster besar seperti Warewolf dan Snowman, sementara Jack si kepala labu, kadal dari “Calling All Creeps”, zombie dan teman-temannya masih menggunakan efek make up sama seperti di serial TV nya! Ah, what a memory. Banyak hal di film ini yang membawa the good old memory of Goosebumps series. Lelucon-lelucon yang diselipkan di adegan-adegan seram, camera work yang nggak terlalu too much dan style pemerannya yang sederhana. Suka sekali dengan style pemeran Hannah yang mirip dengan penampilannya di serial TV (ups, maaf nggak bermaksud spoiler, hehehe). Dengan kata lain, film ini cukup faithful dengan buku dan serialnya, dengan moderinisasi yang nggak membuat ciri khasnya hilang. Meski kalau boleh ada 1 yang ditambahkan, aku ingin film ini juga memiliki intro lama Goosebumps. Itu lho, yang ada seekor anjing duduk di beranda dengan mata menyala dan barking dengan nada soundtrack’nya, “woof woof woof woof woof,” hahaha :D

Tiap lihat intro Goosebumps aku selalu ingat Eris. Mereka mirip, apalagi kalau lagi cemberut. Setuju? :p

Awalnya aku dan Ray agak meragukan penampilan Jack Black sebagai R. L Stine. Meski aku nggak mengenal R. L Stine secara personal, tapi aku sering melihatnya di opening dan closing serial TV nya, jadi sedikit banyak tahu gesture tubuh dan cara bicaranya. Jack Black aktor yang baik (aku menyukainya dari film “School of Rock” dan “Envy”), tapi ia lebih sering berperan di film-film komedi, terutama belakangan. Surprise, surprise... actingnya membuat kami terkesan. Ia punya tatapan dingin yang bikin merinding tapi juga bisa melontarkan lelucon yang membuat tertawa. Penampilannya sebagai dubber Slappy dan Invisible Boy juga patut diacungi jempol. Aku merasa ia punya banyak potensi, sepertinya bisa jadi the next Robin Williams :D Pemeran Zach tentu saja lebih “terformula” alias jadi tipikal pemeran utama yang good looking dan lucky dalam berbagai situasi. Tapi justru itu yang aku suka karena “sangat Goosebumps”, hehehe. Sedangkan Hannah membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama, she’s beautiful dan karakternya kuat. Nggak tahu kenapa, mungkin karena terlalu banyak membaca Goosebumps aku jadi punya “weird hint” dengan perannya di sana, ---yang ternyata benar. Lagi-lagi aku nggak mau spoiler tapi aku akan beri clue’nya; Hannah adalah Hannah yang sama dengan yang ada di salah satu judul Goosebumps! (tissue, mana tissue? Hiks). Tapi tokoh favoritku justru Champ, teman Zach yang super kocak. Melihat wajahnya rasanya familiar tapi sampai filmnya selesai aku tetap nggak ingat pernah melihatnya dimana. Ketika di rumah gue baru sadar bahwa ia adalah Ryan Lee, aktor yang waktu kecil pernah bermain di serial The Haunting Hour episode “My Imaginary Friend”! Oh, my God... bagaimana aku bisa lupa, padahal itu salah satu episode terbaik! Well, mungkin karena waktu kecil ia lebih chubby dan rambutnya agak panjang, ya :) Btw, berdasarkan halaman IMDB nya, ini adalah film layar lebar perdananya. Aku harap ia akan berperan di lebih banyak film lagi karena actingnya bagus. Di The Haunting Hour ia berhasil membuatku menangis, sedangkan di Goosebumps ia begitu menghibur. Hebat, kan? ;)

Bukan Goosebumps namanya (---atau bukan R. L Stine? Lol) kalau ceritanya nggak punya twist ending. Begitu juga dengan  film ini. Meski aku menonton serialnya ribuan kali, ---literally---, tapi aku masih surprise, apalagi puncak dari film ini ada 2 kali. Mau tahu apa? Nonton sendiri, ya, hihihi. Dan aku suka karena di film ini juga diselipkan “inside joke” yang hanya akan dimengerti oleh penggemar Goosebumps. Misalnya saja dengan menyebut nama Mr. Shivers yang sebenarnya versi rip off dari buku Goosebumps. Well, aku belum pernah membacanya karena bukunya nggak beredar di sini (bahkan katanya hanya dijual di tempat semacam dollar store atau dollar tree, hihihi). Tapi menyebut Shivers di film Goosebumps jadi terdengar seperti menyebut Ganteng-Ganteng Srigala di film Twilight, hahaha :D Para orangtua yang mengantar anaknya menonton film ini juga dijamin nggak bosan, karena ada lelucon yang mungkin nggak akan dimengerti oleh anak-anak, ---tentang seorang penulis horror senior yang karyanya sering dibuat film layar lebar. Well, aku nggak mau spoiler (again and again), tapi mungkin “The Shining” akan mengingatkan pada sesuatu? ;) 

Aku beri film ini nilai 9 dari 10. Ceritanya sempurna, benar-benar dreams come true. Tapi ya itu dia... aku rindu dengan intro Goosebumps yang klasik (OMG, anjingnya mirip seperti Eris! Hahaha). Oh, iya untuk yang bukan penggemar Goosebumps pun nggak akan kebingungan kalau menonton film ini. Memang mungkin akan bingung dengan inside jokesnya, tapi ceritanya ringan dan menghibur. Cocok untuk ditonton seluruh keluarga, bahkan anak-anak sekalipun. Karena versi yang ini sengaja dibuat nggak terlalu seram. Dulu, waktu serialnya diputar di TV saking seramnya menurut polling penggemarnya malah orang dewasa usia 20-30 tahunan. Padahal target serialnya untuk anak di atas usia 7 tahun, lho! Hihihi, Pak R. L Stine memang terlalu pintar menakut-nakuti, ya :p Jadi kalau teman-teman sedang mencari film bertema Halloween, Goosebumps bisa jadi pilihan yang seru. Jarang-jarang kan ada film horror yang aman untuk mengajak sepupu atau keponakan kecil kita ikut nonton? Hihihi.

Di perjalanan pulang aku nggak bisa berhenti membicarakan film yang baru saja ditonton itu. Meski Ray bukan fans berat Goosebumps (ia hanya membaca buku-bukunya saja), tapi ia juga setuju kalau filmnya sangat bagus. Menurut Ray ada 3 hal yang bisa menggambarkan film ini, yaitu; Lucu, twisted dan banyak unexpected thing happen. Yup, aku juga setuju ;) Sepertinya film ini akan membuatku excited sepanjang bulan Oktober. Sekarang saja aku sudah nggak sabar menunggu DVD nya rilis, padahal baru saja 10 hari yang lalu aku menontonnya :D Halloween baru akan dimulai, tapi aku sudah bisa bilang bahwa ini adalah best Halloween ever! Apa? Setiap tahun aku bilang begitu? Well, memang, sih :p Okay, sebaiknya aku sudahi dulu tulisan ini, jangan sampai aku malah nggak tahan untuk spoiler karena over excited, hihihi. Sekarang aku mau menikmati Halloween morningku dengan marathon serial Goosebumps dan menikmati gummy worms hadiah dari Ray. Celebrating or not, aku harap bulan Oktober kalian menyenangkan. Dan happy Halloween, however. Don’t take it too serious, karena ini Halloween ala aku! Boo! :D



treat OR treat,

Indi


__________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Sabtu, 17 Oktober 2015

Scoliosis? Jangan Sampai Diabaikan! ;)

Teman-teman, sudah tahu belum scoliosis itu apa? Nah, hari ini aku akan mengenalkan kalian dengan sesuatu yang sudah menemaniku selama bertahun-tahun. Yup, aku sudah bersama scoliosis sejak berusia 13 tahun :) Scoliosis adalah kondisi kesehatan tulang belakang yang memiliki kelainan 3 dimensi dengan struktur yang nggak simetris. Meskipun 3 dimensinya rumit, tapi ketika dirontgen kelainan tulang belakang yang berbentuk S atau C ini akan terlihat lurus, lho!

Ada 3 etiologi scoliosis (penyebab), yang pertama adalah idopatik, atau nggak diketahui penyebabnya. Ini terjadi sebanyak 80-85% dari kasus scoliosis yang ditemukan, termasuk scoliosis yang aku idap. Yang kedua adalah kongenital, atau kelainan dalam pertumbuhan. Dan yang ketiga adalah neoromuskeletal, atau kondisi syaraf dan otot yang bisa menyebabkan scoliosis. Secara umum ada 2 jenis pengobatan untuk scoliosis, yaitu bedah dan intervensi non bedah, juga perawatan non bedah seperti latihan, rehabilitasi dan beberapa teknik konservatif lainnya.

Tapi tahukah kalian, sejak tahun 2007 (sesuai J. Paed Ortho) SpineCor ditemukan sebagai pengobatan non bedah yang paling efektif untuk scoliosis! :D Cara kerja soft brace (penyangga) yaitu dengan "mengajarkan" tubuh kita untuk kembali ke biomekanik normal. Keren, kan? ;) 
Mungkin kalian bertanya-tanya, karena baru ada 8 tahun kira-kira banyak nggak sih yang sudah memakai SpineCor? Jawabannya, tentu saja! Selain aku yang sudah memakainya selama 11 bulan belakangan, di bawah ini aku share foto-foto before dan after pengidap scoliosis yang juga menggunakan SpineCor.

Hasil rontgen pasien berusia 21 tahun setelah memakai SpineCor :)

Hasil rontgen pasien besusia 14 tahun setelah memakai SpineCor :)

Meskipun sama-sama melengkung, setiap jenis scoliosis itu unik lho, teman-teman. Tindakan yang diambil pun tentu harus berbeda-beda. Hasil riset membuktukan bahwa SpineCor terbukti efektif 89% untuk menstabilisasi dan memperbaiki scoliosis. Dan hasil riset terhadap 400 pengidap scoliosis selama 10 tahun, SpineCor ternyata hasilnya konsisten! Cool! Aku makin semangat deh untuk memakai brace yang super keren ini ;)

Di balik dress merah ini aku memakai SpineCor, lho. Nggak terlihat, kan? ;)

Adakah di antara teman-teman yang mengidap scoliosis? Jika kalian sudah mencoba bermacam-macam terapi dan pengobatan tapi hasilnya kurang berkenan (---well, seperti aku dulu), SpineCor ini sangat pantas untuk dicoba. Aku dan banyak scolioser lain sudah banyak terbantu, dan aku harap semakin banyak yang merasakan "keajaiban" SpineCor, hihihi. Kalau ingin tahu lebih banyak tentang SpineCor, kalian bisa membuka situs Spine Body Center di www.spinebodycenter.com. Alamatnya di APL Tower, Lt. 25 Jakarta, atau hubungi langsung ke 021 29339295. Dr. Anthony Fong konsultan mereka, pasti dengan senang hati membantu kalian.

Saranku, jika merasa ada yang "salah" dengan tulang belakang kalian, segera periksakan ya. Karena mencegah itu tentu lebih baik daripada mengobati. Tapi jika sudah terlanjur terkena scoliosis, don't be sad... yuk kita lawan sama-sama dengan SpineCor! ;)

cheers,

Indi

__________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Sabtu, 03 Oktober 2015

Support Indi Sugar di Gogirl! Passion Pitch 2015 :)


Teman-teman! Aku mengikuti "Gogirl! Passion Pitch 2015", nih. Ini adalah bagian dari rangkaian acara tahunannya Gogirl!, Gogirl! Expo. Kalau kamu perempuan, ---atau punya adik perempuan kemungkinan besar tahu dengan majalah yang super stylish dan inspiring ini. Di ajang ini Gogirl! bakal mewujudkan passion pembacanya dengan memberi mentor untuk membimbing sesuai dengan bidang yang dipilih. Passionku sendiri, (---sudah tahu, dong, hihihi) adalah di bidang menulis. Sejak kecil aku terbiasa menulis di buku harian setiap hari. Awalnya aku nggak tahu bahwa itu adalah yang dinamakan passion sampai akhirnya aku kecanduan! Satu hari saja nggak menulis rasanya ada yang kurang. Kebiasaan itu terbawa sampai dewasa dan sampai aku berhasil menerbitkan 4 buah buku best seller yang salah satunya menjadi film layar lebar. Dari menulis juga aku mendapatkan beberapa penghargaan, termasuk menjadi salah satu finalis di Kartini Next Generation Award 2015 dari Kominfo :)

Mungkin teman-teman bertanya-tanya, kenapa dengan pencapaian yang sudah diraih aku masih ingin ikutan Gogirl! Passion Pitch, ya? Alasannya karena selama ini aku hanya menulis mengandalkan feeling dan pengalaman, sama sekali belum pernah belajar secara formal. Jadi betapa menyenangkannya jika aku mempunyai tutor untuk menggali passionku sekaligus menambah pengalaman. 

Aku berharap Gogirl! memilihku sebagai salah satu finalis dari kontes ini, dan I'm gonna show my best jika diberi kesempatan :) Nah, teman-teman juga bisa membantu agar juri mempertimbangkanku untuk terpilih, lho. Caranya dengan menonton video profileku di sini, like dan tinggalkan komentar postiif. Satu buah feedback postitif dari kalian berarti sekali untukku karena itu dihitung sebagai bentuk dukungan.
Jadi please, please, please, support aku di Gogirl! Passion Pitch 2015 dan doakan agar aku berhasil, ya! :)

like dan tinggalkan komentar di video ini

cheers,

Indi

___________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 27 September 2015

(Bukan) Piknik Impian Kami yang Berkesan :)

Kapan terakhir kali kalian piknik? Kalau ada yang jawab, “Sudah lama”, atau malah “Nggak ingat,” aku nggak kaget. Soalnya untukku sendiri ide piknik ini sempat terasa mustahil. Bayangkan saja di awal aku dan Ray berkenalan kami sering berencana untuk piknik berdua, tapi baru terealisasi 8 tahun kemudian! Hahaha :D 

Waktu kecil aku sangat akrab dengan piknik. Hampir ke mana pun, ---terutama jika bersama Nenek,--- kami membawa tikar dan bekal makanan. Di taman asyik, di kebun binatang jadi, malah di pinggir jalan ketika macet pun oke-oke saja. Tapi setelah beranjak dewasa aktivitas piknik semakin berkurang hingga akhirnya menghilang sama sekali. Alasannya selain semakin sibuk, tempat nyaman untuk piknik pun semakin berkurang. Polusi di mana-mana dan... uh, piknik di taman komplek rumah bukan lagi ide bagus karena semakin gersang dan penuh dengan pedagang kaki lima :( Karena hal-hal inilah aku dan Ray hanya bisa berencana sambil mengkhayal tempat ideal untuk piknik kami. Well, sebenarnya kami sempat terpikir untuk piknik di museum, tapi ternyata dilarang membawa makanan dari luar, hahaha :p

Di zaman sekarang ini tempat nge-date ada di mana-mana. Mall ada di tiap belokan (eh, itu mah mini market, lol), bioskop besar sampai bioskop mini juga ada di hampir semua daerah. Belum lagi tempat-tempat yang bikin betah untuk berlama-lama nongkrong sambil menikmati wifi macam restoran atau foodcourt juga bukan lagi tempat yang ekslusif. Tapi tetap, aku dan Ray pengen banget bisa mengalami yang namanya piknik berdua. Selain waktu yang dihabiskan jadi lebih berkualitas, kami juga ingin bertukar masakan masing-masing. Kebetulan Ray suka sekali masak, dan aku... suka sekali bikin dapur berantakan alias bereksperimen. Belum lagi kalau kami bisa menikmati hari gadget free sambil melihat matahari terbenam, pasti keren banget tuh, hahaha :D

Makanya waktu Bandung, ---kota tempat di mana aku dan Ray tumbuh,--- sekarang menjadi kota yang memiliki banyak taman tematik, kami excited sekali. Nggak sabar rasanya mencoba piknik di salah satunya. Aku sendiri pernah ke taman film dan taman Cibeunying, tapi dalam rangka mengisi acara bersama ODHA Berhak Sehat dan D-100, bukan untuk ngedate, hehehe. Tempatnya sih nyaman-nyaman, tapi menurutku nggak pas untuk dipakai piknik atau makan-makan, ---jadi 2 taman itu kami keluarkan dari list. Akhirnya atas saran Ayu, ---temanku, kami memilih taman Masjid Agung Bandung. Katanya di sana cocok untuk piknik karena tempatnya luas dan jadi favorit para keluarga. Setelah tempatnya fix kami tinggal tentukan waktunya. Masih atas saran Ayu, kami putuskan untuk piknik di sore hari karena kalau siang (katanya) taman terbuka itu cukup terik.

Sekitar jam setengah 5 sore kami berangkat ke Masjid Agung. Di perjalanan kami super super super excited. Bayangkan saja penantian selama 8 tahun akhirnya hampir jadi nyata, hahaha. Kami sudah super siap dengan perbekalan kami. Aku membawa macaroni tuna, jus strawberry dan tentu my trusty friend... si ukulele pink, lol. Sedangkan Ray membawa tortilla chips dan saus keju buatannya. Nggak lupa aku juga sudah menyiapkan alas untuk kami duduk-duduk di rumput sintetis nanti (yup, bukan rumput sungguhan, sih... tapi better than nothing, kan). Pokoknya super siap, seolah disiapkan selama 8 tahun, hahaha. Waktu kami tiba di parkiran ternyata penuuuuh sekali. Mobil Hello Kitty kesayanganku sampai harus memutar beberapa kali. Tapi karena kami sedang super happy jadi itu bukan masalah ;)

Dari tempat parkir di basement kami harus melewati banyak penjual makanan dan mainan. Pokoknya ramai, mirip seperti suasana sebelum masuk ke Kebun Binatang Bandung. What a memory :D Butuh waktu sekitar 30 menit sampai kami bisa masuk ke area taman dan kami pun langsung disambut dengan... Lautan manusia! Hahaha... Aku sampai nggak mengenali taman Masjid Agung ini karena terlihat berbeda dengan yang dilihat di internet. Tempatnya indah, tentu. Tapi maksudku suasananya ramai sekali, sampai-sampai kami nggak bisa melangkah tanpa melewati seseorang yang sedang duduk. Aku dan Ray sempat kebingungan karena seluruh tempat nampaknya sudah terisi. Tapi akhirnya kami ‘menyempil’ di antara banyak pengunjung lain, hanya beberapa meter saja dari batas taman karena kami nggak bisa masuk lebih jauh lagi :p

Belum apa-apa kami sudah jadi pusat perhatian. Dengan canggung aku membentangkan kain untuk alas duduk kami (btw, kain ini diberi oleh salah satu pembacaku, namanya Caca. Thanks a lot, ya!) dan meletakan perbekalan di atasnya. Rupanya kami satu-satunya yang membawa perlengkapan piknik, ---pengunjung lain lebih memilih selonjoran langsung di rumput. Entah berapa kali aku mendapat pertanyaan tentang tujuan kedatangan kami, banyak yang mengira aku akan show atau semacamnya. Mungkin karena ukulele yang kubawa, hahaha. Tapi kami berusaha tetap tenang dan menikmati waktu. Di antara lautan manusia kami pun menikmati bekal dan mengobrol santai :)




Jujur saja, suasana taman Masjid Agung ini di luar dugaan kami. Piknik sunyi dan damai hanya tinggal khayalan. Bahkan untuk makan dengan tenang saja kami kesulitan. Banyak pengunjung yang kurang bisa menghormati kehadiran orang lain, mereka bermain bola sambil berlari-lari sementara ada yang sedang berusaha menikmati camilan sore. Beberapa kali aku terkena tendangan bola dan bahkan sampah kecil seperti tutup botol. Ajaibnya, kebanyakan yang bermain dengan liar bukan anak-anak, tapi justru para orangtuanya. Mungkin karena over excited mereka juga jarang yang meminta maaf. Sampai-sampai malah jadi aku yang menasehati, “Hati-hati Pak kalau main, kena kepala orang bisa bahaya,” hahaha. Dua hal lain yang mengganggu kenyaman kami, pengunjung juga banyak yang menyepelekan sampah. Bekal yang mereka bawa ada yang tercecer dan mereka enggan untuk memungutnya. Padahal tempat sampah disediakan di sudut-sudut taman, lho. Mungkin di foto juga terlihat kalau aku duduk di antara ceceran popcorn, hiks. Yang terakhir, dan yang paling membuatku sedih, saat adzan magrib berkumandang suasana riuh sama sekali nggak berubah. Yang mengobrol tetap nggak mengecilkan volume suaranya, dan yang main bola tetap sibuk menghajar kepala random citizen, lol. Well, meskipun nggak shalat, tapi at least homatilah yang sedang beribadah. Toh mereka juga pasti nggak suka kalau sedang private moment dengan Tuhan dengar suara orang yang ngobrol random tentang selfie dan Facebook, lol.



Dari pengalaman pertama kami, aku bisa membagi sedikit tips, nih. Siapa tahu saja bermanfaat untuk teman-teman yang berencana piknik ke taman Masjid Agung.
1. Sore hari memang jadi waktu yang paling sibuk, karena bertepatan dengan jam pulang kantor dan sekolah. Tapi jika ingin menghindari teriknya matahari jam 3 atau 4 sore adalah waktu yang tepat untuk menikmati suasana sore.
2. Bawa kantung plastik dari rumah. Karena sepatu dikhawatirkan mengotori rumput sintetis, ada baiknya disimpan saja di kantung plastik. Dan kantung plastik juga berguna untuk menampung sampah sementara jika kesulitan untuk mencapai tempat sampah yang berada di ujung-ujung taman. 
3. Bawa alas! Mungkin kalian akan mendapatkan tatapan yang bikin canggung, tapi trust me, alas itu bermanfaat sekali. Selain menjaga agar tubuh kita nggak terpapar langsung dengan rumput, alas juga menghindari bekal makanan kita tercecer dan meninggalkan jejak sampah saat pulang nanti. 
4. Selalu ingat bahwa ini adalah tempat umum, kita nggak pernah tahu akan bertemu dengan siapa. Aku dan Ray dihampiri oleh seorang little girl, anak dari orangtua yang berjualan di basement. Ia terus-terusan bertanya tentang bekal makanan kami, ukuleleku, bahkan tas yang aku bawa dan duduk di samping kami untuk waktu yang cukup lama. Be polite, jangan kasar. Jawab saja pertanyaannya seperti menjawab adik/keponakan sendiri karena ia juga sama-sama pengunjung di tempat ini. 
5. Bermain bola dan lempar tangkap panah karet bukan ide bagus untuk dilakukan di tempat ramai. You might hurt someone. Tapi jika suasana agak sepi, silakan.
6. Meski tamannya asyik, jangan lupa ini adalah bagian dari halaman tempat ibadah. Saat adzan hentikan dulu aktivitas, hormati orang-orang yang akan sholat di masjid.
7. Kalau kalian termasuk orang yang gampang terganggu dengan hal-hal kecil, piknik di taman Masjid Agung mungkin bukan ide yang bagus :)




Meski nggak mudah untukku dan Ray beradaptasi di sini, tapi kami tetap menikmati waktu berkualitas berdua (---di antara ratusan orang, hahaha). Bekal kami habis dan kami banyak mengobrol hal-hal seru. Kami bahkan baru ingat pulang setelah angin mulai bertiup kencang. Piknik kali ini memang nggak seperti khayalanku dan Ray 8 tahun yang lalu. Tapi nggak ada salahnya sesekali menikmati waktu di tengah-tengah suasana yang di luar comfort zone kami. Toh pada akhirnya dengan siapa aku menghabiskan waktu menjadi lebih penting daripada di mana aku menghabiskan waktu. Aku dan Ray tetap akan berusaha mewujudkan impian piknik kami, of course. Tapi piknik di taman Masjid Agung ini juga tetap akan dikenang dan tercatat sebagai piknik kami yang berkesan ;)

yang pikniknya bawa ukulele,


Indi

___________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Email: namaku_indikecil@yahoo.com

Senin, 21 September 2015

Kata Gaby; Tentang Kepergian :)

My two “little sisters”, Gaby dan Billa :)
  
Gaby (kiri) dan Billa (kanan) sangat kritis, jika ada yang mengganjal pasti akan bertanya.


Di hari pemakaman Kakek hampir seluruh keluarga besar hadir, termasuk 2 orang sepupuku, Gaby (8 tahun) dan Billa (6 tahun)

Gaby bertanya, "Kak, meninggal itu apa?"
"Meninggal itu artinya waktu tinggal di dunia sudah habis, ---sudah waktunya pulang ke tempat Tuhan," jawabku.
"Oh, ke surga ya?" tanya Billa.
Aku mengangguk, mengiyakan.

Kami bertiga duduk di ujung tangga sambil melihat keluarga dan kerabat yang saling berpelukan, melepas kepergian Kakek. 
Lalu tiba-tiba saja Gaby kembali bertanya, "Kenapa semua orang menangis? Seharusnya mereka nggak sesedih itu. Iya, kan Kak?"
Aku sedikit terkejut, tapi tetap berusaha tenang dan balik bertanya padanya, "Mereka menangis karena kangen sama Kakek... Memangnya kamu nggak kangen?"
Gaby tersenyum lebar, "Kan Kakak yang barusan bilang kalau Kakek pulang ke surga. Semua orang juga akan ke sana, kan? Jadi buat apa sedih? Nanti juga bertemu lagi."
Aku ikut tersenyum. Sepertinya aku baru saja mendapatkan pelajaran berharga dari seorang anak berusia 8 tahun... :) 


Kakek dan aku. Foto ini diambil di Villa Purwakarta. Kakek dimakamkan tepat di depan villa ini.


 Persembahan dariku untuk Kakek :)


yang suatu hari akan bertemu lagi dengan Kakek,

Indi

__________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Selasa, 08 September 2015

Jadi "Princess" di Exclusive Screening Disney Descendants :D

Heeeeey, it's me again, Indi! Lol. Belakangan adalah hari yang melelahkan, rasanya waktuku banyak dihabiskan di perjalanan. Jadi rasanya senang sekali bisa duduk di depan komputer dan kembali berbagi cerita di sini, hihihi. Teman-teman mungkin tahu kalau aku adalah penggemar film-film Disney, dan itu menginspirasiku dalam kehidupan sehari-hari, terutama caraku berpakaian. Dua tahun yang lalu, waktu film perdanaku, "Mika" diputar, aku menghadiri premierenya dengan memakai dress yang diinspirasi oleh Annie Little Orphan, ---salah satu drama musikal yang diremake oleh Disney. Lalu satu tahun setelahnya, aku mendapatkan peran di School Leavers sebagai Snow White. Dan yang terakhir, ketika Halloween tahun lalu, aku dan Ray memakai kostum Tinker Bell dan Peter Pan yang of course, kami ambil dari versi Disney. Bahkan kalau dilihat-lihat dressku sehari-haripun banyak yang terinspirasi oleh Disney. Lihat saja ada berapa banyak dress yang aku punya dengan desain seperti "dress Annie" dengan warna yang bermacam-macam, hihihi. Nah, siapa sangka my little Disney obsession membuatku mendapatkan pengalaman yang menyenangkan :)

Waktu tahu ada kontes Disney Inspired di Instagram tanpa pikir panjang aku langsung ikutan. Alasannya karena rulesnya simple dan buatku sih easy peasy, hehehe. Aku cuma diminta untuk upload foto OOTD, ---outfit of the day, yang diinspirasi oleh tokoh Disney. Berhubung dressku kebanyakan memang terinspirasi dari tokoh-tokoh Disney, jadi aku upload 3 buah foto sekaligus. Meski begitu aku sama sekali nggak terpikir untuk jadi pemenang, soalnya aku lihat banyak yang foto OOTD nya keren-keren, ---benar-benar niat, bukan foto sehari-hari sepertiku. Tapi seperti biasa, saat mengikuti sesuatu aku hanya have fun. Menang atau kalau bukan masalah asalkan sudah berusaha, hihihi. Nah, waktu namaku keluar sebagai pemenang, aku sampai nggak percaya! Pasalnya aku baru saja bangun tidur, jadi jaga-jaga jangan terlalu excited karena siapa tahu cuma bermimpi, hihihi.

Hadiah yang aku terima super keren, ---at least bisa membuat teman-teman yang juga menggemari film-film Disney iri :p Aku diundang untuk menghadiri exclusive screening/premiere film Disney Descendants! Undangannya untuk 2 orang, ---aku sempat menulis nama Ray sebagai orang yang akan menemaniku, tapi berhubung di tanggal 5 September Ray masih bekerja, jadi aku meminta Bapak untuk menemani. Meski sudah bapak-bapak (lol), tapi Bapak juga penggemar film-film Disney. Dibanding Ibu beliau lebih sering menemaniku menonton di bioskop dan beliau benar-benar menikmatinya. Salah satu film Disney yang sangat berkesan untuk Bapak adalah Brother Bear. Meski sudah 12 tahun berlalu, tapi aku masih ingat dengan jelas waktu kami bertepuk tangan setelah filmnya selesai, hihihi. Well, meski Bapak nggak begitu menikmati film Disney bertemakan "Princess" yang keluar beberapa tahun belakangan (misalnya "Brave", "Frozen", etc) tapi aku berharap beliau menikmati film Disney Descendants. Aku sendiri belum melihat trailernya, tapi cukup penasaran karena di Instagram sepertinya banyak sekali yang nggak sabar untuk menonton film ini.



Karena screening diadakan di bioskop Epicentrum XXI Jakarta, aku dan Bapak berangkat pagi-pagi sekali dari Bandung. Syukurlah lalu-lintas super lancar, jadi kami bisa tiba tepat waktu cenderung kepagian, hehehe. Sekitar jam 9 pagi kami tiba dan langsung disambut oleh red carpet yang terbentang panjang. Suasana masih sepi, mungkin karena film baru dimulai 30 menit kemudian. Setelah menunjukan ID untuk ditukarkan dengan tiket, kami langsung masuk ke dalam. Di sana aku mendapatkan merchandise-merchandise lucu seperti T shirt, sablon DIY dan instant photo berframe Disney Descendants. Aku juga mendapatkan soft drink dan popcorn, ---yang kemudian disayangkan karena kemasannya aku buang padahal desainnya super cute, hahaha :p Baru saja duduk selama 5 menit, kami sudah dihampiri oleh kru. Awalnya aku nggak mengerti apa maksudnya karena mereka bolak-balik mengambil fotoku (harusnya aku mandi dulu sebelum pergi, lol). Rupanya mereka memasukkanku ke daftar best dressed karena outfit yang aku pakai dianggap menarik. Waktu ditanya aku dressed up sebagai siapa, aku bingung karena ini penampilanku sehari-hari, hihihi. I still won the prize, anyway. Aku mendapatkan buku The Isle of the Lost yang akan dikirimkan ke alamatku dalam waktu sekitar 2 bulan. Waktu aku mengabari Ibu tentang ini beliau langsung menyesal karena anaknya ini nggak dressed up dengan salah satu dress ala Disney buatannya :p





Film akhirnya dimulai, ---aku dan Bapak sengaja duduk di barisan tengah supaya lebih nyaman. Honestly, ini adalah premiere film kedua di mana aku dan Bapak bisa duduk dengan nyaman. Biasanya kami kebagian duduk di paling belakang karena terlambat datang, hahaha. Kami bahkan terlambat di pemutaran perdana filmku sendiri, ---untungnya untukku dan keluarga sudah ada tempat khusus. Bad habit. Jangan ditiru, ya :p Aku nggak akan spoiler soal ceritanya, tapi jelas sekali sejak menit-menit awal pun aku dan Bapak sudah tahu bahwa akan menikmati film ini. Menurut Bapak film ini cocok untuk ditonton oleh yang seusia denganku karena sudah pernah menonton film-film Disney yang terdahulu. Menurut beliau anak-anak mungkin nggak akan mengenal siapa itu Cruella Deville, Evil Queen dan teman-temannya kecuali orangtua mereka mengenalkannya. Tapi menurutku anak-anak juga bisa menikmatinya karena filmnya memang fun to watch... dengan gerakan dance dan lagu yang catchy sepertinya bisa membuat mereka betah menonton film ini :) Aku dan Bapak tertarik dengan 2 hal yang berbeda dari film ini. Bapak tertarik sekali dengan outfit yang para cast nya pakai. Katanya, "Kok bisa kepikiran ya bikin desain seperti itu?". Sedangkan aku justru tertarik dengan salah satu cast seniornya, yaitu Kristin Chenoweth. Ah, selalu suka dengan dia, terutama setelah menonton Pushing Daisies dan drama musikal Wicked. Mendengarnya bernyanyi di film ini membuat mataku berkaca-kaca, ---kok suaranya bisa bagus amat, ya? Hihihi. Dan seperti film Disney lainnya, Disney Descendants pun diakhiri dengan pesan moral yang manis. Ini adalah salah satu yang membuatku jatuh cinta dengan film-film Disney nggak peduli jika usiaku 8, 18, 28, 38, ---atau bahkan 800 tahun, lol.




Setelah filmnya selesai kami langsung bersiap pulang karena sudah tengah hari dan somehow berfirasat perjalanan akan macet nggak seperti tadi pagi, hehehe. Di dekat pintu keluar ternyata aku melihat Jessica Yamada, seorang blogger yang juga teman Facebook (atau malah di Friendster juga?) sejak 6 tahun yang lalu. Jessica, ---yang biasa dipanggil Jess datang dengan adiknya, Elle. Sedikit silly story, karena ini adalah kali pertama aku bertemu dengannya, aku salah mengenali Elle sebagai Jess, hahaha. Entah kenapa di mataku mereka terlihat mirip, padahal menurut Bapak mereka sangat berbeda. Untung saja salahnya nggak berlangsung lama karena Jess langsung menyapaku, ---atau secara halus mengingatkanku, "kamu salah orang kali, Ndi!", lol.
Sepanjang perjalanan pulang aku dan Bapak nggak bisa berhenti membicarakan film Disney Descendants yang baru saja kami tonton. Siapa sangka bahwa movie made for TV bisa membuat kami terkesan. Terakhir aku merasakan ini tahun 1999, lalu waktu Disney membuat Annie sebagai FTV. Jadi film ini benar-benar worth to watch, nggak menyesal kami harus menempuh perjalanan Bandung-Jakarta-Bandung dan terjebak macet ketika perjalanan pulangnya, hehehe. 

Untuk teman-teman yang ingin menyaksikan film ini, tanggal 13 September 2015 nanti Disney Descendants akan diputar di Disney Channel jam 10 pagi. Siapkan popcorn yang banyak, kalian akan bersenang-senang! ;)

not as white as a snow, ---but still cast as a snow white,

Indi

 __________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Rabu, 02 September 2015

More about Shave for Hope :)


Welcoooome September! Whoaaa, rupanya sekarang sudah masuk bulan baru, ya. Mungkin karena belakangan aku cukup sibuk beraktivitas (---well, dua minggu sakit batuk juga menambah kesibukanku, hehehe), waktu jadi terasa cepat :D Bulan Agustus ini ditutup dengan kemenanganku di kontes Disney Inspired untuk menghadiri premiere Disney Descendants dan dengan menjadi social angel di event Shave for Hope terbaru.

Soal kontesnya kapan-kapan akan aku ceritakan, tapi sekarang aku akan bercerita lebih banyak tentang Shave for Hope. Yang membaca postku sebelumnya pasti tahu kalau beberapa hari lalu aku menantang teman-teman untuk mengikuti Shave for Hope 2015 Challenge. Well, akhirnya ada 2 orang yang menjawab tantanganku, yaitu Syifa dan Tisya. Mereka rela memotong rambutnya untuk menemani adik-adik pengidap kanker yang terpaksa kehilangan rambut. Nantinya video pemotongan rambut mereka akan diuangkan senilai Rp. 100.000 (masing-masing) dan akan digunakan untuk membantu biaya pengobatan adik-adik di YPKAI-3C (Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia).


Video proses pemotongan rambutku :)


Social Angels :)

Sebelum dan sesudah pemotongan rambut :)


Event Shave for Hope kali ini memang berbeda dengan 2 tahun yang lalu, tahun ini rambut yang dipotong nggak dijadikan wig, tapi diuangkan. Kita diberi kebebasan untuk menentukan mau dikemanakan potongan rambutnya nanti. Boleh disimpan, dibuang, atau malah didonasikan di tempat lain. Kalau aku sendiri, sama seperti yang kulakukan tahun lalu, ---potongan rambut akan didonasikan pada organisasi yang menyediakan wig untuk anak-anak yang kehilangan rambut. Aku sudah pernah share caranya di sini dan di sini, tapi nanti akan kutulis ulang kalau-kalau ada teman-teman yang ingin melakukan hal yang sama :)

Tantangan video Shave for Hope memang sudah berakhir, tapi untuk yang ingin berdonasi  masih bisa, lho. Teman-teman bisa mengirimnya ke: Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia, 117-00-00222026 Bank Mandiri Cabang RS Kanker Dharmais. Dan jangan lupa ikuti potong rambut masalnya. Sama seperti video, rambut kalian akan diuangkan senilai Rp. 100.000 dan digunakan untuk membantu adik-adik di YPKAI-3C. 

Acaranya akan diadakan di: Lippo Mall Kemang, Jakarta
Pukul: 10.00 sampai 22.00
Tapi sebelumnya jangan lupa untuk registrasi terlebih dahulu karena tempatnya terbatas. Caranya buka www.shaveforhope.org lalu klik “registration” nanti kalian akan mendapatkan email konfirmasi. Mudah, kan :)

Sampai hari ini tulisanku mengenai donasi rambut masih menjadi yang paling banyak dikunjungi. Aku menerima banyak sekali email yang bertanya tentang itu. Rupanya banyak yang masih belum tahu bahwa rambut, ---yang biasanya hanya disapu di lantai salon setelah dipotong, bisa menjadi sangat bermanfaat. Waktu menulisnya aku hanya ingin berbagi pengalaman, sama seperti saat aku menulis hal-hal lain. Jadi aku sama sekali nggak menyangka akan mendapatkan banyak perhatian. Katanya kalau berbuat kebaikan cukup diri sendiri saja yang tahu. Tapi menurutku it’s okay untuk membaginya selama tujuannya bukan pamer. Karena saat semakin banyak orang yang tahu, semakin banyak juga yang terinspirasi. Dan saat semakin banyak yang melakukannya, maka semakin banyak pula yang dibantu. It's just a chain reaction... Jangan berhenti berbagi! :) 

yang baru potong rambut,

Indi


 ________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 30 Agustus 2015

Indi Sugar Menantang Kalian Potong Rambut untuk Kanker! :)

Teman-teman yang waktu itu ramai bertanya tentang donasi rambut mana nih suaranya? :) Aku sempat dapat banyak sekali tanggapan dan pertanyaan tentang donasi yang aku lakukan tahun lalu, tapi ternyata banyak yang batal ikutan dengan alasan biaya pengiriman rambut yang cukup mahal :(
Nah, sekarang ada alternatifnya nih teman-teman. Kalian tetap bisa ikut berdonasi tanpa harus membayar mahal :)

Aku ajak kalian untuk mengikuti tantangan Shave for Hope 2015. Caranya seperti ini:
1. Buat video yang berisi before dan after pemotongan rambut kalian. Untuk laki-laki sampai botak dan untuk perempuan minimal di atas bahu.
2. Di video berikan ucapan untuk Shave for Hope dan pesan untuk adik-adik yang mengidap kanker.
3. Jangan lupa akhiri video dengan tagline, "Be the hero, be the hope".

Setelah itu upload video kalian ke YouTube dengan judul #SFH2015Challenge, nantinya setiap video akan dihargai Rp.100.000 dan uangnya akan digunakan untuk donasi atau untuk bantuan biaya pengobatan adik-adik di YPKAI-3C. Kirim melalui email link video kalian ke sfh2015challenge@gmail.com, dan... selesai! Dengan cara sesederhana itu kalian sudah membuat perubahan :)

Ayo, langsung lakukan ya, teman-teman. Potong rambutnya gak perlu di salon, bisa minta bantuan keluarga atau teman karena yang penting syarat pemotongannya terpenuhi (nanti setelahnya baru bisa dirapikan). Videonya ditunggu sampai BESOK, 31 Agustus 2015. Tolong sebarkan juga tentang kabar ini agar semakin banyak yang ikutan! Kalau masih bingung kalian bisa lihat videoku yang disertakan di bawah ini:



Be the hero, be the hope. Kalian juga bisa ;)


let's shave for hope,

Indi


________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Jumat, 28 Agustus 2015

Belajar Selfie dengan Universal Clip Lens dari @ealymorning_shop (Review) :)

Well... I'm not a "selfie" person, hahaha. Aku nggak tahu apa ada di antara kalian yang notice kalau aku senang sekali difoto tapi jaraaaang sekali selfie. Seringnya sih difotoin orang lain, ---terutama oleh Bapak, fotografer favoritku :D Alasannya gara-gara malas cari angle yang bagus buat foto, dan... seram saja kalau lihat hasil foto isinya wajah semua :p 





Sebenarnya kadang kepengen juga sih bisa selfie, soalnya nggak setiap waktu aku pergi dengan orang yang bisa dimintai tolong untuk mengambil foto. Atau kalaupun ada, nggak semua orang mengerti apa yang aku mau alias asal jepret (kalau ini Ibu ahlinya, beliau suka ambil fotoku tanpa melihat ke kamera, hahaha). Nah, ini yang bikin aku akhirnya kepikiran buat belajar selfie. Nggak ada kata terlambat buat belajar, kan? Lol.

Makanya kemarin pagi waktu Universal Clip Lens dari @earlymorning_shop tiba di rumah aku happy banget. Selain karena excited mau nyobain, aku juga excited karena bentuk clip nya kepala Hello Kitty yang super imut. Sudah tahu dong kalau aku fans berat dari kucing berpita yang satu itu? Hihihi. Packagingnya juga cute banget, kotaknya bergambar Hello Kitty dan di dalamnya ada mini pouch yang juga bergambar, ---of course, Hello Kitty :D Di dalam satu kemasan ini ada 3 lensa, yaitu Fish eye, Macro dan Wide Angle Lens. Ketiganya mempunyai fungsi masing-masing. Yang pertama katanya sih jadi bisa lihat unreal world lebih luas (dari sudut pandang mata ikan kali, ya? Hahaha), yang kedua untuk mengambil object kecil agar lebih jelas dan yang terakhir untuk mengambil gambar lebih lebar, sesuai namanya.




Cara pakainya mudah sekali, tinggal dijepitkan ke handphone tepat di kameranya. Nggak merusak HP dan bisa dipindah-pindah dari kamera depan ke belakang. Hmm, mungkin ada yang penasaran, apa hubungannya selfie sama lensa? Kan tinggal buka kamera depan terus ambil foto, deh. Nah, kalau buat aku yang nggak begitu sreg dengan hasil foto yang isinya "hanya wajah", lensa yang bisa meng-capture background atau minimal sedikit dari outfitku tentu jadi pilihan ;)

Yang pertama aku coba yaitu Fish Eye Lens. Begitu dipasang dan lihat ke kamera, aku langsung... "Whoaaa, kok ajaib ya?". Soalnya object yang  kuambil jadi lebih fokus dan pemandangan sekitarnya ikut terbawa. Aku coba foto satu object, ---salah satu tanaman Ibu dengan Fish Eye Lense dan dengan kamera saja dari jarak yang sama. Hasilnya ternyata jauuuh berbeda. Seolah aku mengambil foto dari jarak yang lebih jauh karena pintu yang tadinya nggak terlihat jadi terlihat di foto yang menggunakan Fish Eye Lens. Nggak percaya? Nih aku share foto berfore dan afternya :)




Yang kedua, ---dan yang paling bikin aku excited yaitu Wide Angle Lense. Awalnya aku coba mengambil  salah satu sudut di halaman rumah. Supaya gampang lihat hasilnya aku pakai sepeda Mang Ayi, ---tukang reparasi sofa, untuk menjadi patokan. Seperti sebelumnya, aku berdiri di tempat yang sama. Saat mengambil foto hanya dengan kamera saja, sepeda hanya terlihat bagian stangnya saja. Dan setelah memakai Wide Angle Lens ternyata joknya pun terlihat, ---even better (or wider? Lol), pengki dan sapu lidi yang seharusnya disembunyikan dari pandangan pun jadi ikut terlihat, hihihi. Langsung saja aku coba untuk selfie menggunakan Wide Angle Lens, dan.... suka banget sama hasilnya! Hasil foto jadi nggak "hanya wajah" dan aku jadi bisa menunjukan outfitku yang berbunga-bunga :p Sepertinya sih kalau mau best result bisa dengan bantuan tongsis, dan lensa yang ini juga bakal membantu banget kalau mau foto bareng dengan teman-teman. Oh, iya mau lihat hasil belajar selfieku? Nih, aku tunjukan :p






Dan yang ketiga, Macro Lens, sayangnya aku nggak bisa tunjukan hasilnya di sini. Aku sudah coba, ternyata memang membuat object kecil jadi besar tapi sayangnya blurry :( Aku nggak tahu apa ini karena kesalahanku sebagai pengguna atau kamera di HP ku yang nggak support (HP ku sudah seusia dengan anak TK, lol). Kapan-kapan aku akan coba lagi dan tentu akan aku share hasilnya. Tapi buatku sih itu bukan big deal, Fish Eye Lens dan Wide Angle Lens nya sudah bikin aku super happy, ---memudahkanku untuk selfie, hihihi. Setelah ini aku pasti akan lebih sering ambil foto sendiri dan mempelajari angle yang keren. Jadi lain kali kalau aku lagi sendirian nggak perlu kebingungan lagi deh kalau mau difoto :p Kalau teman-teman ingin Universal Clip Lens seperti yang aku punya ini, langsung saja ke:
Instagram @earlymorning_shop, atau hubungi ownernya yang super ramah di sini:
  082299203179
Dijamin deh, taking picture will never be the same again ;)

cheese,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469