Minggu, 26 Juli 2015

Don't Kill Me!




Kalau ada acara kumpul-kumpul aku sering mendadak cemas dan pengen mengurung diri di kamar. Apalagi kalau kerabat-kerabat yang seusia dengan Ibu dan Bapak datang. Uh, mau menghilang saja rasanya... Bukan, aku bukan ingin menghindari mereka, ---tapi asap rokoklah yang membuat aku ketakutan setengah mati! 

“Tradisi” merokok sepertinya memang sudah mendarah daging. Semenjak aku kuliah pemandangan asap mengepul jadi pandangan sehari-hari. Saat aku lagi makan siang di kantin, lagi menunggu dijemput pulang, bahkan di dalam kelas, ---jika kebetulan kebagian dosen yang entah kenapa merasa nggak berdosa untuk membunuh mahasiswanya pelan-pelan. Katanya sih merokok bisa menambah keakraban, apalagi jika ditemani oleh kopi dan camilan hangat. At least begitulah kata teman-teman laki-laki dan om-omku, kalau sudah berkumpul sambil merokok bisa dipastikan betah berlama-lama. Ya, mungkin seperti suku Indian yang aku lihat di film koboi, mereka menghisap calumet sambil berkumpul setelah hari yang panjang untuk kedamaian. Bedanya teman-teman dan om-omku ini hidupnya di zaman modern, ---zaman di mana banyak hal lain yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu selain dengan merokok.

OOTD: Dress: Toko Kecil Indi (my design) | Shoes: Noche | Ukulele: Mahalo

Aku nggak bermasalah dengan perokok. Ibu dan Bapak perokok berat, meskipun frekuensi merokoknya sudah banyak berkurang dibandingkan dulu. Yang menjadi masalah buatku itu perokok egois, ---perokok yang hobi bagi-bagi penyakit. I hate to admit, tapi om-omku juga termasuk perokok egois. Kalau sedang acara kumpul-kumpul mereka dengan ringannya menghisap rokok sambil mengajak ngobrol keponakannya alias aku. Bla... bla... bla... wajah mereka tersenyum tapi di waktu bersamaan mereka juga mencekikku. Posisiku jadi serba salah, kalau menghindar dianggap nggak sopan sedangkan kalau tetap diam sama saja dengan nggak sayang diri sendiri. Padahal keinginan untuk melindungi diri dari asap rokok ini bukan tanpa usaha, lho. Aku sudah berusaha, ---sangat keras. Dari mulai acting batuk ala sinetron, meminta dengan baik-baik, meminta Ibu dan Bapak untuk nggak merokok saat ada om-omku (supaya mereka nggak enak, lol), sampai dengan menyembunyikan asbak dan membuang rokok mereka diam-diam.


Rumah Ibu dan Bapak cukup luas, tapi daerah garasi pun termasuk no smoking area karena di sana ada Eris (our lovely dog), lengkap dengan baju-baju dan segala perlengkapannya. Sayangnya om-omku (dan kerabat lainnya) menganggap kalau it’s okay untuk merokok di dekat hewan. Dan saat kubilang “jangan” malah aku yang dianggap berlebihan. Dulu pun Ibu dan Bapak begitu, mereka kadang merokok sambil bermain bersama Eris di garasi atau halaman. Prinsip mereka (dulu) asalkan nggak merokok di dalam rumah atau dekat-dekat aku artinya aman. Tapi sekarang setelah mereka tahu bahaya nikotin, jangankan dekat Eris, dekat bajunya pun nggak berani. Mereka hanya merokok sambil mengurung diri di ruang ber hexos fan atau di luar, di kursi yang letaknya dekat dengan pagar rumah.

Semoga meja di semua rumah bisa begini; nggak ada asbak dan rokoknya :)

Aku sadar karena sudah dianggap “tradisi” merokok itu susah ditinggalkan dan dianggap wajar. Untuk meyakinkan Ibu dan Bapak bahwa tindakan mereka bisa membunuhku pun perlu waktu yang cukup lama. Karena gambar-gambar di bungkus rokok nggak bisa menakuti mereka, aku pakai pendekatan lain. Aku bilang bahwa rokok bukan hanya mempengaruhi mereka, tapi juga aku, anaknya, ---ralat; anak kesayangannya. Dan dengan merokok di ruang terpisah bukan berarti aku aman, tapi bisa saja aku tetap dalam bahaya. Nikotin bisa menempel di kulit, di baju, di tirai, di taplak meja, di sofa dan lain sebagainya. Jadi jika Ibu dan Bapak merokok di ruang TV sementara aku sedang di dalam kamar, aku masih bisa terpapar nikotin dari sofa yang habis mereka duduki, atau dari pelukan hangat yang mereka beri, ---bahkan ketika rokoknya sudah dibuang jauh-jauh. Ibu dan Bapak memang masih merokok, tapi sekarang selain hanya merokok di tempat yang telah disepakati mereka juga selalu mengganti baju segera setelah merokok. Mereka takut membuatku sakit, mereka takut membunuhku

Aku mandapatkan banyak komentar ketika menulis status tentang ini di Facebook, terutama dari perokok. Mereka bilang aku nggak mengerti perasaan mereka yang kecanduan, bahkan ada yang bilang bahwa usahaku akan sia-sia karena merokok itu sudah “tradisi”. Well, aku memang nggak kecanduan rokok, tapi aku pernah kecanduan hal lain. Kalian tahu apa yang aku lakukan? Aku cari bantuan! Ikut support group, cari terapis. Kecuali jika memang belum mau berenti merokok, so go ahead, silakan merokok sebanyak-banyaknya tapi make sure jangan ajak orang lain untuk sakit. Aku nggak melarang orang untuk merokok, toh negara saja melegalkan rokok. Akucuma minta agar perokok nggak egois. Temanku anaknya harus dirawat di Rumah Sakit gara-gara terpapar nikotin dari baju ayahnya (suami temanku). Jika memang belum mau menjaga kesehatan diri sendiri, please... at least jangan sakiti keluarga, teman-teman atau bahkan orang asing yang nggak sengaja duduk di tempat bekas kalian merokok. Jika memang gambar-gambar di bungkus rokok belum bisa membuat kalian takut, please ingat  bahwa itu bukan hanya bisa menimpa kalian, tapi juga orang lain. Don’t be selfish. Don’t kill us...

Don’t kill me,

Indi

Fakta tentang rokok: 
~ Racun dari rokok yang menempel di baju, perabot rumah tangga, dll nggak akan hilang sampai berbulan-bulan, bahkan jika di ruangan ber hexos fan sekalipun.
~ Hanya melewati orang yang sedang merokok di jalan pun asapnya bisa menempel di baju kita dan dampaknya bukan hanya pada kita, tapi juga orang kita temui di rumah nanti (misalnya: anak, orangtua, etc)


 __________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 19 Juli 2015

(Another) Animal Abuse Story di Hari Raya :(


“Undangannya untuk berapa orang, Indi?” tanya Ibu.
“Untuk 2 orang, Bu. Pasti aku akan senang kalau Ibu dan Bapak bisa menemani di Jakarta. Ini moment penting buatku,” jawabku.
Bapak terdiam beberapa saat, “Jadi siapa yang akan menjaga Eris di rumah? Bi Ade? Atau Puja?”
Kami ikut terdiam, memikirkan solusi yang paling tepat untuk Eris, anjing peliharaan kami yang sudah pasti nggak bisa ikut menginap di hotel.
“Sudah, kamu pergi dengan Ibu saja ya. Biar Bapak menyusul di malam penobatan nanti,” Bapak memutuskan, --- yang langsung disetujui oleh Ibu.

***



Aku masih ingat betul percakapan kami ketika aku menjadi finalis Kartini Next Generation Award 2015. Sungguh aku ingin kedua orangtuaku menemani, tapi untuk kami Eris juga anggota keluarga, ---dan keluarga artinya ‘no one left behind’. Aku sering bilang bahwa aku dan Eris nggak terpisahkan, tapi sebenarnya ini juga berlaku untuk Ibu dan Bapak. Mereka selalu berusaha untuk nggak meninggalkan Eris sendirian di rumah. Itulah kenapa aku terkadang hanya bisa ditemani oleh salah satu dari mereka saja jika harus menginap di luar kota. Menjadikan Eris sebagai anggota keluarga merupakan sebuah komitmen. Aku, Ibu dan Bapak bahagia dengan kehadiran Eris, dan kami juga ingin memastikan Eris merasakan hal yang sama.



Heran rasanya jika mendengar ada orang yang menelantarkan atau menyia-nyiakan hewan peliharaannya. Alasanku memelihara Eris (teman-temannya) tentu saja karena aku menyayanginya. Tapi faktanya masih ada orang yang membawa hewan ke kehidupan mereka hanya sebagai kebanggaan atau penanda status sosial. Semakin mahal harga hewan yang mereka miliki, akan semakin bangga mereka. Let alone deh soal kelegalannya. Aku kenal kok dengan orang yang memelihara hewan eksotis ilegal di halaman rumahnya. Yang memelihara tanpa berpikir panjang pun ada (malah sepertinya paling banyak). Mereka membeli/mengadopsi hewan saat sedang lucu-lucunya, tapi malah kebingungan ketika hewan-hewan itu mulai tumbuh besar atau malah sakit-sakitan karena usia. Wajah puppy, kitten dan bayi-bayi hewan lainnya sudah pasti membuat siapa pun yang melihatnya jatuh cinta. Tapi bisakah mereka memastikan untuk jatuh cinta dengan hewan-hewan itu selamanya?


Di moment Lebaran yang indah ini aku malah mendengar berita yang memilukan. Seekor anjing betina ditinggalkan pemiliknya mudik berhari-hari dalam keadaan terikat dan tanpa makanan sama sekali! Ketika ada yang menemukan kondisikan sangat mengenaskan, sudah dehidrasi dan vaginanya dipenuhi belatung. Meski dalam keadaan lemah, anjing itu mengangkat kepalanya dan tersenyum (---yang punya anjing pasti mengerti apa maksudnya) ketika tahu ada yang datang untuk menyelamatkannya. Too bad, karena kondisinya begitu buruk ia hanya bisa bertahan selama 3 jam saja :( Hatiku pedih sekali mendengarnya, tapi juga marah. Sangat SANGAT marah. Aku nggak mau meninggalkan Eris terlalu lama karena tahu bahwa dalam konsep waktu anjing, berjam-jam terasa seperti berhari-hari bagi mereka. Dan bayangkan apa yang mereka rasakan jika ditinggalkan berhari-hari dengan leher dirantai, --- dan tanpa makanan sama sekali! Tersiksa sudah pasti! Dan juga bingung! Sudah sejak zaman nenek moyang anjing secara naluriah menjaga dan mempercayai manusia. Saat tuannya pergi mereka akan khawatir, dan kelaparan tentu membuat keadaan lebih buruk. Sampai saat mengetik ini pun aku  masih nggak ngerti dengan apa yang ada di kepala pemilik anjing malang itu :/


Aku nggak bilang tinggal serumah dengan hewan peliharaan itu mudah, apalagi jika jumlahnya lebih dari satu, ---bisa dibilang merepotkan malah. Tapi merepotkan bukan berarti nggak menyenangkan. Aku, Ibu dan Bapak somehow sangat menikmati kerepotan kami ketika berbagi tugas, termasuk di saat-saat membingungkan seperti ketika aku harus menginap di Jakarta tapi ingin ditemani oleh keduanya. Seperti yang kubilang tadi, ini adalah komitmen. Sejak hari pertama Eris ada di rumah kami sudah siap bahwa ia akan tumbuh besar, akan makan semakin banyak, akan ada waktunya ia sakit dan akan ada waktunya kami harus meninggalkannya, ---meskipun diusahakan jangan terlalu sering. Kami sudah membuat list kandidat siapa saja yang bisa dititipi Eris jika terpaksa harus meninggalkannya agar kami dan Eris sama-sama merasa nyaman.

Hari raya apapun sudah pasti merupakan moment yang sangat penting, dan sebagai orang yang tinggal di Indonesia aku mengerti betul dengan tradisi mudik. Siapa sih yang nggak senang jika bisa bertemu dengan sanak keluarga yang tinggal berjauhan, apalagi jika bisa sekalian berlibur? Tapi jangan sampai kita nggak memikirkan nasib hewan peliharaan di rumah. Jika memungkinkan ajak mereka bersama kita. Jika nggak memungkinkan pastikan ada orang yang bisa dititipi. Jika nggak bisa juga... you shouldn’t get a pet in the first place! Aku nggak memanusiakan hewan, tapi jangan pernah lupa bahwa mereka juga makhluk hidup. Don’t be selfish!


yang lagi makan kue lebaran sama Eris,

Indi



Nb: Guuuuys, selamat hari raya Idul Fitri, ya. Mohon maaf jika ada tulisan-tulisanku yang menyinggung. I never mean to do that :) Semoga waktu berkumpul kalian bersama keluarga dan kerabat menyenangkan. Amen! :)
Nb: Dan untuk yang bertanya tentang novel "Guruku Berbulu dan Berekor" di tulisanku sebelumnya, yup novel itu masih tersedia di sini dan royaltinya didonasikan ke hewan-hewan terlantar/korban kekerasan. 


________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469


Jumat, 03 Juli 2015

Indi dan Inis: Our Sleepover Story :)

Aku senang sekali waktu tahu Inis akhirnya datang ke Bandung. Sejak jauh-jauh hari aku dan Inis membicarakan rencana menginap, jalan-jalan dan hal-hal seru lainnya yang ingin kami lakukan jika bertemu nanti.  Rasa excited ku melebihi pertemuan-pertemuan  yang sebelumnya karena ini adalah kali pertama kami akan bertemu di Bandung, ---setelah sebelumnya selalu bertemu di Jakarta. Well, Inis sendiri sebenarnya nggak tinggal di Jakarta, sih, tapi di Makassar. Profesinya lah yang membuat ia sering mampir ke sana. Inis adalah seorang penyanyi ‘lulusan’ 10 besar X Factor Indonesia season pertama. Dari sana juga aku pertama kali mengenalnya dan langsung mengaguminya. Nggak disangka ternyata ia juga menyukai film “Mika” yang diinspirasi oleh novelku, “Waktu Aku sama Mika”. Perkenalan singkat yang terjadi melalui layar kaca dan layar lebar itu (hehehe) ternyata cukup untuk menjadikan kami teman baik. Mungkin karena kami juga sama-sama scolioser, ---pengidap scoliosis :)

Bersiap menjemput Inis. Cuma pose, yang nyetir Bapak, hahaha :D

Rencananya pertemuan kami akan sebentar saja, Inis hanya berada satu malam di Bandung untuk mengurus pekerjaannya, lalu bertemu aku di salah satu pusat perbelanjaan sebelum kembali ke Jakarta. Tapi ketika kami janjian lewat BBM tiba-tiba saja muncul ide untuk menginap dulu di rumahku! Urusan nggak bawa baju sih belakangan, bisa lah pakai punyaku meskipun Inis lebih mungil dari aku, hehehe. Segera saja aku minta izin pada Bapak dan Ibu bahwa ada teman yang akan menginap di rumah. Mereka mengizinkan dan senang, tentu saja, ---meskipun kaget karena begitu mendadak :D Dengan diantar Bapak aku menemui Inis di pusat perbelanjaan. Mumpung sedang di Bandung, ---yang konon banyak pakaian berkualitas dengan harga lebih hemat dibandingkan tempat lain---, Inis pun memanfaatkan kesempatan ini untuk berbelanja.

Soal belanjanya sih nggak perlu diceritakan, sudah pasti berdesak-desakan karena banyak yang berbelanja sambil ngabuburit (atau sekalian untuk lebaran juga, hihihi). Tapi yang menarik, ternyata Inis itu pintar menawar, lho. Biasanya aku selalu “oke-oke” saja dengan harga yang ditawarkan, makanya langsung mengeluarkan dompet begitu diberitahu harganya ketika aku mau membeli stocking. Tapi dengan sigap Inis menawar terlebih dahulu untukku sebelum uang yang aku keluarkan berpindah ke tangan penjual. Wow, sepertinya aku harus belajar darinya, karena menawar merupakan "must have skill" kalau tinggal di Bandung, hehehe. Setelah selesai rencananya aku dan Inis akan makan malam di luar, tapi Bapak bilang lalu lintas sudah semakin macet karena bertepatan dengan waktu berbuka puasa. Akhirnya kami langsung pulang ke rumah setelah membeli beberapa bahan masakan dan camilan di supermarket di dekat rumah.

Ada Inis di rumah terasa sangat menyenangkan. Aku satu-satunya girl di rumah (---kecuali kalau Eris juga dihitung, hehehe) dan sekarang jadi ada teman untuk girly talk, sharing tentang scoliosis, bahkan untuk melakukan hal-hal konyol. Kami tidur larut sekali, sepertinya topik pembicaraan kami nggak ada habis-habisnya. Inis juga sempat mencoba SpineCor (soft brace untuk scoliosis) milikku. Meskipun ukurannya nggak pas, tapi katanya terasa sangat nyaman. Inis juga sama sepertiku, di masa remaja sempat memakai boston brace yang rasanya sangat kaku. Mudah-mudahan saja bisa segera menyusulku untuk memakai SpineCor, ya. Amen... :) Aku sering membicarakan tentang perasaanku sebagai seorang scolioser kepada orangtua, sahabat, bahkan Ray. Tapi dengan Inis rasanya berbeda. Kami saling mengerti perasaan satu sama lain karena apa yang aku alami juga Inis alami. Ah, mungkin begini rasanya punya sister, huhuhu.

Saking randomnya sampai tengah malam kamarku masih ramai, ---atau kalau istilah Ibu; berisik banget, hehehe. Setelah selesai mengobrol aku dan Inis langsung asyik bernyanyi sambil main ukulele. Waktu di mobil, di perjalanan ke rumah Inis sempat bilang kalau ingin bernyanyi denganku. Tentu saja aku juga mau (---kapan lagi duet dengan lulusan X Factor, hihihi), apalagi setelah diingat-ingat ternyata ada salah satu follower di Instagram yang meminta kami untuk berduet. Jadi ya sudah sekalian memenuhi request. Tapi kami baru sadar kalau sudah memakai piyama yang kayanya nggak begitu nyaman untuk dilihat di video. Jadi kami putuskan untuk merekam penampilan kami di pagi hari nanti dan segera bersiap untuk beristirahat, ---setelah menghabiskan 2 potong lumpia mix mayonnaise dan Boncabe di atas tempat tidur, hehehe (jangan ditiru, aku langsung sakit perut).

Berfoto untuk thumbnail YouTube. Tadinya akan dihapus, tapi aku putuskan untuk disimpan, hehehe :)
Inis dan Indi :)

Ketika alarm berbunyi kami bersusah payah untuk bangun. Waktu tidur kami super singkat dan ke-randoman yang kami lakukan rupanya membuat stamina terkuras. Tapi begitu ingat kalau kami harus memanfaatkan waktu agar bisa menikmati quality time berdua, kami langsung bergantian masuk ke kamar mandi untuk bersiap memulai hari. Aku dan Inis pun super sibuk, kami menggotong kursi meja makan dan kursi di kamarku ke halaman depan. Bukan, kami bukan mau pindahan, tapi ini demi kualitas rekaman kami karena aku nggak punya tripod untuk menyangga kamera, hehehe. Setelah semuanya siap kami pun langsung beraksi. Jangan bayangkan yang serius-serius, aku itu bukan penyanyi, bermain ukulele pun nggak bagus-bagus amat. Makanya kami cuma bersenang-senang. Pembagian suara seadanya, ---atau lebih tepatnya Inis yang menyesuaikan nada dengan suaraku yang seadanya, hehehe :D Nih, aku share videonya, siapa tahu teman-teman mau dengar :p


Nggak terasa hari sudah semakin siang, Inis pun membereskan barang-barang bawaanya ke dalam tas. Mobil travel yang akan mengantarkannya ke Jakarta akan berangkat nanti sore, jadi kami punya sedikit waktu lagi untuk bersama. Dengan diantar Bapak kami melihat-lihat kota Bandung dari dalam mobil, ---yang sayangnya nggak bisa berhenti di tempat-tempat menarik karena sedang super macet. Rasanya belum puas untuk melakukan banyak girly thing bersama, tapi jadwal keberangkatan mobil travel Inis sudah semakin dekat. Kami pun berpisah di depan pool travel tanpa bisa menemani sampai mobil berangkat karena tempat parkirnya sudah penuh :( Aku dan Inis berharap agar bisa segera kembali bertemu. Mungkin sehabis Lebaran, setelah Inis merayakan hari besar dengan keluarganya di Makassar. Ah, can’t wait. Really! Siapa yang menyangka bahwa TV dan bioskop bisa menjadi awal pertemanan kami? And now I already missing that special girl from the talent show :’)

yang bukan penyanyi tapi penulis, ---tapi suka main ukulele,

Indi

nb: Tolong support aku di GoGirl! Passion Pitch 2015, ya. Caranya "like" dan berikan komentar di video ini.  Terima kasih :)


________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here

Selasa, 30 Juni 2015

Puasa ala Little Indi :)

Siang ini terik sekali. Pohon-pohon dan bunga-bunga yang ditanam oleh Ibu di halaman rumah ternyata masih kalah oleh matahari yang nampaknya sedang happy karena sinarnya berseri-seri sekali, hehehe. Kalau sudah begini aku jadi membayangkan teh manis dingin yang dicampur sedikit susu. Yumm, pasti nikmat sekali membasahi tenggorokanku yang kering. Eh... tapi jangan dulu, aku sedang puasa, ---harus tunggu dulu sampai adzan magrib berkumandang :D  Kalau suasananya seperti ini aku jadi ingat waktu kecil, waktu belajar puasa. Can’t believe how time flies... Sekarang hatiku bisa dengan mantap mengingatkan agar aku menahan diri. Tapi kalau dulu... jangankan hati, diingatkan Ibu pun pertahananku tetap goyah, hahaha.

Ibu dan Bapak nggak pernah memaksakanku untuk berpuasa. Mereka memastikan aku mengerti dengan maknanya sebelum ikut-ikutan menahan haus dan lapar. “Kalau datangnya bukan dari hati, ---hanya karena ikut-ikutan,--- bisa puasa sampai magrib pun itu percuma,” begitu kata Bapak. Jadi  waktu teman-teman sudah mulai puasa, aku dulu cuek saja makan es krim di tengah hari. Aku baru mengerti makna puasa di usia 9 tahun, itu pun sebatas penjelasan sederhana dari Ibu. “Kita berpuasa agar selalu ingat bahwa Tuhan sayang sama kita, Indi. Kita beruntung, diberi rezeki untuk makan 3 kali sehari. Satu bulan dalam satu tahun saja kita harus menjalankan ini, sementara ada orang lain yang hanya makan 1 kali sehari, ---meskipun sedang nggak berpuasa.” Sejak saat itulah aku mulai berlatih berpuasa, dimulai saat sahur dan berbuka ketika adzan dzuhur berkumandang.

Meskipun sudah mulai mengerti dengan makna puasa, pada kenyataannya aku masih sering tergoda. Baru jam 9 pagi perutku sudah bunyi dan mengeluh lapar pada Ibu. Biasanya beliau langsung mengalihkan perhatianku dengan mengajak beraktivitas, seperti menonton televisi atau bermain di luar. Tapi tentu saja itu nggak bisa dilakukan setiap hari karena selain sebagai ibu rumah tangga beliau juga seorang wanita karir. Meskipun letak kantornya nggak jauh-jauh, sih, masih di dalam rumah, hehehe. Ibu mempunyai butik yang dikelola sendiri setelah sebelumnya pernah bekerja di sebuah perusahaan. Beliau ingin tetap dekat dengan keluarganya tapi juga nggak meninggalkan hobi mendesain pakaiannya. Maka dengan bantuan Bapak dirombaklah ruang tamu kami menjadi sebuah butik mungil :)

Bagian rumah yang disulap menjadi butik mungil Ibu :)

Jika Ibu sedang bekerja terkadang aku bertemu dengan beberapa pelanggannya. Maklum letak butik yang berdekatan dengan ruang TV membuatku sering lalu-lalang di sana. Rata-rata pelanggan Ibu adalah para ibu muda, dengan anak yang usianya nggak jauh denganku. Mungkin karena itulah mereka sangat baik padaku. Pernah suatu kali aku sangat-sangat-sangaaaaat haus, padahal baru jam 10 pagi. Dengan wajah lesu aku masuk ke butik Ibu dan langsung duduk di sofa, ---tanpa melihat kalau sedang ada tamu di sana. Tamu Ibu, yang ternyata orangtua dari teman sekelasku langsung menatapku khawatir dan bertanya mengapa aku kelihatan lesu. Secara spontan aku menjawab, “Aku haus” yang rupanya terdengar sangat memilukan, hahaha. Singkat cerita, tamu Ibu tersebut tahu bahwa aku sedang berlatih puasa. Segera aku dihujani oleh pujian, katanya aku hebat karena putranya hanya berpuasa sampai jam 9 saja. Ia berkata pada Ibu bahwa lebih baik aku nggak perlu ikut berpuasa dulu. “Kasihan, lihat wajahnya sampai pucat,” begitu katanya. Mungkin karena merasa nggak enak dengan tamunya, Ibu pun mengizinkanku untuk berbuka puasa. 

Little Indi :)

Ide nakal pun muncul di kepalaku. Hari-hari setelahnya setiap kali merasa mulai haus atau lapar, aku masuk ke butik Ibu sambil memasang wajah lesu. Bisa ditebak, tamu-tamu Ibu langsung memberika tatapan simpatik, bahkan nggak jarang ada yang memberikanku macam-macam jajanan. Aku yakin perasaan Ibu pasti bercampur aduk, antara bangga karena anaknya dibanjiri pujian, tapi juga jengkel karena aku memanfaatkan bakat acting untuk menarik simpatik, hehehe.  Alhasil puasaku banyak yang bolong. Tapi Ibu nggak pernah menegur apalagi memarahi, beliau hanya mengingatkan bahwa Tuhan selalu tahu kalau aku pura-pura lapar atau bersungguh-sungguh.

Sampai sekarang Ibu masih mengingat dengan jelas apa yang dulu aku suka lakukan di butiknya. Kadang-kadang beliau bercerita tentang ini pada kerabat atau saudara-saudaranya, ---well, sepertinya Ibu menganggap ini kenangan yang lucu. Aku pun terkadang menggoda Ibu dengan berpura-pura haus atau lapar ketika beliau sedang bekerja. Tapi tentu saja nggak di depan tamu-tamunya, hehehe. Mengingat masa kecil memang terkadang bikin aku “nggak percaya” dengan kelakuan Little Indi dulu. Tapi aku beruntung karena Ibu dan Bapak selalu memperlakukanku sebagai anak-anak, nggak memaksaku untuk melakukan sesuatu kecuali jika aku sudah mengerti tujuannya. Aku beruntung karena begitu dekat dengan mereka sehingga berani untuk bilang secara langsung alih-alih makan atau minum secara diam-diam di belakang mereka. 

Ah, matahari nampaknya masih belum mau sembunyi. Lebih baik akh masuk dulu ke dalam rumah sebelum sinarnya membuatku teringat kembali dengan es teh manis, hehehe (ups, becanda). Hmm, kira-kira di dalam Ibu sedang apa, ya? Kalau sedang di butik sepertinya ini waktu yang tepat untuk mengasah bakat beractingku dengan memasang wajah lesu dan berkata, “Bu... aku lapaaaaaaaar.” :D

(not so) little indi (anymore),


Indi

 ______________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Selasa, 23 Juni 2015

Berkat ODHA Awareness 2015; Akhirnya Bertemu dengan Teman-Teman Pembaca di Surabaya! :)

Howdy-do, bloggies! Semoga semuanya dalam keadaan baik, dan bagi yang sedang berpuasa semoga lancar, ya :)
Selalu senang kalau bisa kembali ke sini, ---ke dunia kecilku--- untuk bercerita. Tanggal 13 Mei 2015 lalu aku diundang sebagai bintang tamu di acara “ODHA Awareness” yang diadakan oleh Opo Jare Unika Widya Mandala Surabaya. Iya, ini diadakan di hari yang sama dengan interview-ku di Colors Radio (baca ceritanya di sini). Jadi setelah selesai dari sana aku (dan juga Bapak) diantarkan ke Hotel Oval untuk berganti baju lalu langsung dilanjutkan ke kampus Unika Widya Mandala. Maunya sih waktu itu aku segera membagi cerita lengkapnya di sini, tapi berhubung sedang ada banyak PR menulis jadi baru sempat sekarang. Meski begitu semoga teman-teman tetap bisa merasakan keseruan acaranya lewat tulisanku yang tertunda ini, ya :)

Sekitar pukul 1 siang aku dan Bapak tiba di kampus Unika Widya Mandala. Di sana aku langsung bertemu dengan kru Opo Jare dan Ibu Mita, dosen mereka. Sempat khawatir dengan raut wajahku yang (pasti) terlihat datar, tapi ternyata mereka sudah tahu bahwa aku sedang sakit demam berdarah dan gejala tipus, hehehe. Satu mug besar jus jambu pun disuguhkan untukku. Sambil meneguknya aku berdoa semoga manfaatnya segera terasa, karena meski hatiku super excited tubuh rasanya lemaaaaas sekali, ---bahkan untuk bicara pun perlu tenaga ekstra. Nggak lama kemudian aku dikenalkan dengan narasumber dari Delta Crisis dan Alvin, yang akan menjadi moderator nanti. Sambil menikmati jus jambu (well, seharusnya lunch, tapi aku belum nafsu makan) kami diberi gambaran tentang bagaimana talk show nya nanti. Audiences kabarnya sudah mulai menonton film Mika dan aku baru akan muncul setelah filmnya selesai. Hmm, sebenarnya sih awalnya aku diminta untuk ikut nonton, tapi aku khawatir akan mendadak mellow. Karena meskipun aku sudah jauh lebih kuat, tapi tetap saja melihat “kepulangan” Mika nggak akan pernah mudah.





Film sebentar lagi selesai, aku pun bersiap dengan menunggu di depan ruang Dinoyo tempat diadakannya talk show. Sambil menunggu aku mengintip buku tamu untuk melihat siapa saja yang hadir. Ternyata ada beberapa nama yang aku kenal sebagai follower di Twitter dan Instagramku! Rasa lemas pun segera terlupakan, apalagi setelah tahu bahwa ada 190 pendaftar, ---melebihi target yang hanya 100 orang. Aku sadar dengan kondisi kesehatanku, keringat dingin yang terus mengalir dan suaraku yang agak gemetar nggak bisa ditutupi. Tapi aku ingin tampil maksimal. Moment ini sudah aku tunggu sejak lama, Surabaya adalah salah satu kota yang aku ingin kunjungi. Teman-teman pembaca di sini termasuk yang paling aktif berkomunikasi denganku di media sosial, jadi jangan sampai aku menyia-nyiakan kesempatan ini :)





Sekitar 30 menit kemudian aku dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan, suasana masih agak senyap karena film MIKA baru saja selesai. Tanpa menunggu lama aku dan seorang narasumber dari Delta Crisis dipersilakan untuk duduk di tempat yang telah disediakan. Alvin langsung membacakan profil kami, sementara mataku langsung melihat ke arah audiences, mencari wajah-wajah yang familiar. Tapi rupanya hanya Bapak saja yang aku kenal, hehehe, karena mengenali seseorang hanya dari akun media sosialnya saja ternyata nggak mudah :) 
Seperti yang aku ceritakan di tulisan sebelumnya, tema yang dibahas oleh acara ini memang agak berbeda dengan acara-acara yang pernah aku hadiri sebelumnya. Jika biasanya kampanye HIV/AIDS difokuskan pada informasi tentang virusnya, cara penyebarannya, dan lain sebagainya, ---acara ini justru berfokus pada ODHA, Orang dengan HIV/AIDS sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Dan tentu saja yang akan aku bagi adalah kisah tentang Mika, laki-laki yang menjadi pacarku selama 3 tahun, yang juga menjadi inspirasi dari novel “Waktu Aku sama Mika” dan film “Mika”.






Alvin mengajukan pertanyaan padaku dan narasumber dari Delta Crisis. Ia bertanya apa yang membuatku mau berpacaran dengan Mika meskipun ia ODHA. Mungkin teman-teman sudah ada yang tahu bahwa dulu aku bahkan nggak tahu apa itu HIV/AIDS. Meskipun Mika langsung berterus terang dengan statusnya tapi itu sama sekali nggak mempengaruhiku, karena well... itu tadi; aku sama sekali nggak tahu apa itu HIV/AIDS. Aku menyukai Mika karena kepribadiannya, ia adalah sosok laki-laki yang menyenangkan, spontan dan juga sangat melindungiku. Dulu aku adalah remaja yang pemalu, sering merasa tertinggal karena banyak aktivitasku yang terhambat karena harus memakai brace untuk scoliosisku. Tapi karena Mika aku merasa menjadi remaja yang seutuhnya. Karena Mika aku jadi tahu bagaimana rasanya makan di pinggir jalan, bolos waktu pelajaran olahraga (well, not really ‘bolos’, sih, aku kan memang nggak boleh ikut pelajaran itu), naik angkot, nongkrong di toko CD bekas, dan hal-hal seru lainnya. Setelah aku tahu apa itu HIV/AIDS pun penilaianku terhadap Mika pun sama sekali nggak berubah. Aku nggak melihat adanya alasan mengapa aku harus takut padanya. Mika hanya sedang sakit, ---sama seperti banyak orang lain di dunia. Dan Mika selalu melihatku sebagai aku, bukan dari scoliosis yang kuidap atau brace yang kupakai. Jadi kenapa aku harus memperlakukannya secara berbeda?





Setelah sesi sharing selesai audiences pun dipersilakan untuk bertanya padaku dan narasumber dari Delta Crisis. Nah, di sini aku mulai mengenali wajah-wajah mereka yang sering berkomunikasi denganku lewat media sosial :) Pertanyaan yang diajukan audiences adalah seputar ODHA dan penerimaan masyarakat terhadap mereka, ---apa saja problem yang mereka hadapi dan apa yang harus kita lakukan untuk membuat semuanya lebih baik. Menurutku dengan kita menerima mereka sebagai bagian dari masyarakat, dan nggak memperlakukan mereka secara ‘berbeda’ bisa membuat keadaan menjadi jauh lebih baik dibandingkan dengan memberi label atau dengan men-judge macam-macam. Aku berprinsip bahwa aku harus memperlakukan orang lain seperti aku ingin orang lain memperlakukanku. Aku nggak mau diberi label, hanya dikenal sebagai seorang scolioser, tapi aku ingin dikenal sebagai aku, ---sebagai Indi :)

Sebelum acara ditutup Alvin bertanya tentang harapan-harapanku. Well, harapanku sederhana saja, aku ingin suatu hari jika orang bertanya tentang Mika, mereka akan bertanya, “Bagaimana rasanya berpacaran dengan Mika?”, bukan malah bertanya bagaimana rasanya berpacaran dengan ODHA. Stop memberi label, I’ve told you :) Oh, iya aku juga membawa 5 buah novel “Guruku Berbulu dan Berekor” dari Homerian Pustaka untuk 5 audiences yang beruntung. Mereka dipilih secara random, lewat sticker yang ditinggalkan di kursi penonton. Tadinya sih aku juga mau membawa lolipop, tapi berhubung sedang sakit jadi batal, deh hunting permen kesukaanku itu. Tapi semoga teman-teman tetap senang dengan hadiahnya, ya :)







Sebenarnya acara sudah selesai, tapi panitia bertanya apakah aku bersedia jika ada audiences yang ingin berfoto bersama atau meminta tandatangan. Meski lemasnya mulai terasa, tapi aku selalu bersemangat jika bisa bertemu dengan teman-teman pembaca secara langsung. Jadi tentu saja aku setuju. Ah, ternyata nggak salah aku hadir di sini meskipun sedang sakit, semuanya ramah-ramah, lho! Sambil berfoto juga aku sempat mengobrol singkat dengan mereka. Ada Regika, follower twitterku sejak lama yang rupanya juga sama scolioser. Ada Caca, pembaca setiaku dari mulai “Waktu Aku sama Mika” sampai yang bukuku yang terbaru “Conversation for Preschoolers”. Pute, pacar penyiar Colors Radio yang sebelumnya mewawancaraiku juga datang, meski sempat nyasar terlebih dahulu. Wah, benar-benar bikin terharu :’D Apalagi banyak  di antara mereka yang membawa karya-karyaku untuk ditandatangani, malah ada juga titipan dari teman-teman mereka yang berhalangan hadir. Surprise... surprise, beberapa dari mereka memberi early birthday gifts, lho, dan... rupanya mereka tahu bahwa aku senang dengan Hello Kitty, hehehe. Acara yang seharusnya selesai jam 4 sore pun molor menjadi jam 6 sore karena mereka (dan aku!) begitu antusias :)











Aku dan Bapak langsung diantarkan ke Hotel Oval, di sana sudah ada keluarga Rosa; mama, papa dan adiknya. Rupanya adiknya Rosa, Agatha ingin bertemu denganku, ia pun mengajak 2 orang temannya untuk menemuiku. Mini meet and greet pun terjadi, hihihi. Keluarganya Rosa ramah sekali, mereka menawarkan untuk mengajakku dan Bapak melihat-lihat Surabaya. Tawaran yang super menggiurkan karena aku dan Bapak sama-sama baru pertama kali ke kota ini. Tapi aku belum mengiyakan tawaran mereka karena kondisiku yang sedang drop. Aku bilang jika keesokan harinya sehat, dengan senang hati aku ingin melihat-lihat Surabaya dan ingin berfoto di patung buaya, hehehe. Setelah itu aku pamit untuk ke kamar, di sana aku makan malam di atas tempat tidur, minum obat, lalu terlelap sambil mengingat betapa menyenangkannya acara ODHA Awareness yang baru saja aku hadiri. Tentu saja nggak lupa aku berdoa agar ada ketika bangun tidur ada keajaiban dengan kesehatanku.
Well, apakah doaku terkabul? Ceritanya akan aku lanjutkan di tulisan berikutnya, ya. See ya! :D





Nb:  Atas permintaan pihak Delta Crisis aku nggak bisa menyebut nama narasumber dan membagi kisahnya di sini. Semoga melalui tulisan ini pesan acaranya yang positif tetap tersampaikan, ya :)



yang baru sehari di surabaya,

Indi

 _____________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Kamis, 18 Juni 2015

Mendadak Ulang Tahun

“Tahun ini tema ulang tahunnya apa, Indi? Penasaran. Nanti update di blog, ya.”
Begitu kita-kira pesan yang aku terima di Twitter dan di Facebook. Nggak cuma satu dua, tapi jumlahnya lumayan. Seperti biasa aku selalu excited setiap ulang tahun, tapi kali ini kalau ditanya soal tema aku bingung mau jawab apa. Soalnya aku sendiri nggak tahu ulang tahunku bakal bagaimana, bahkan untuk tiup lilin saja nggak yakin, hehehe. Alasanku kenapa hampir setiap ulang tahun temanya berbeda nggak aneh-aneh, kok. Aku cuma ingin memberikan sentuhan personal di hari istimewa. Yup istimewa, ---karena berapa kali pun aku mengalaminya artinya tetap sama. Ulang tahun adalah moment dimana Ibu dan Bapak menyambut hari kelahiranku. Dengan memperingatinya setiap tahun itu menjadi pengingat bahwa aku begitu dinantikan, bahwa aku membuat Ibu dan Bapak bersuka cita bahkan sebelum aku bisa apa-apa :)




Aku nggak sengaja melupakan hari ulang tahun sendiri, ---aku cuma lupa tanggal. Bulan Mei menjadi bulan yang sibuk untukku, jadi begitu bulan Juni tiba yang aku ingat hanya istirahat, hehehe. Apalagi sepertinya aku belum fully recharge setelah terkena demam berdarah. Begitu juga Ibu dan Bapak, mereka sedang sibuk-sibuknya. Ada project yang sedang mereka kerjakan hingga setiap hari baru bisa pulang di waktu sore. Ajaibnya hari ulang tahunku, tanggal 8 Juni ternyata jatuh di hari senin, ---hari yang super sibuk! Perfect :D Akhirnya di detik-detik terakhir (lol, not literally, lah) aku ingat kalau akan berulang tahun. Waktu aku beritahu Ibu dan Bapak mereka pikir aku becanda. Tapi setelah melihat kalender mereka langsung minta maaf karena di hari senin sudah ada janji dengan salah satu kliennya. Aku bilang nggak apa-apa, toh kalau pun mereka melewatkan ulang tahunku karena harus pergi pagi-pagi sekali, kami masih bisa tiup lilin di malam hari. Sedangkan kesempatan untuk bertemu teman-teman dekat yang biasanya sengaja aku undang di hari ulang tahun supaya bisa melepas kangen... mungkin lain kali ;)

Di malam ulang tahun level dilemaku setara dengan jika harus memilih antara Steven Tyler atau John Frusciante (apaan coba, hehehe). Aku ingin tetap bertemu dengan teman-teman dekat, tapi terlalu mendadak jika baru memberi tahu mereka. Apalagi orangtuaku baru akan ada di rumah sore-sore. Sepertinya nggak mungkin untuk menyiapkan kue, masak dan lain sebagainya sendirian dalam waktu yang singkat. Saking dilemanya aku sampai susah tidur, ---dan memutuskan sesuatu yang konyol. Aku BBM Dhian, sahabatku di tengah malam untuk bertanya apa ia bisa mampir ke rumah sepulang bekerja! Tentu saja Dhian kaget, katanya nggak seperti biasanya aku mengundang secara mendadak (bangeeet). Tapi meski begitu ia berjanji akan datang di sore hari. Karena tanpa ada acara pun Dhian selalu ingat dengan hari ulang tahunku :)

Pagi harinya ketika aku bangun tidur Ibu dan Bapak sudah nggak ada di rumah. Aku mencoba mengingat-ingat kejadian di tengah malam yang terasa seperti mimpi. Setelah kesadaranku 100% terkumpul cepat-cepat aku BBM Ibu. Beliau belum tahu bahwa aku mengundang Dhian, jadi kemarin sama sekali nggak ada pembicaraan tentang akan masak apa, beli apa dan “apa-apa” lainnya untuk hari ini. Ibu terkejut, tentu saja. Tapi juga senang karena di hari ulang tahun aku nggak sendirian meskipun nggak ada acara syukuran. Katanya beliau akan mampir ke toko kue sebelum pulang, ---dan berharap agar Dhian nggak tiba lebih dulu.

Syukurlah Dhian belum datang ketika Ibu dan Bapak tiba di rumah. Mereka sempat membeli kue, pizza dan minuman untuk ulang tahun dadakan ini. Lucunya tulisan di atas kue tart’nya typo, harusnya “anakku” tapi malah “anaku”. Mungkin karena pesannya buru-buru, ya, hehehe. Dan sungguh kebetulan yang menyenangkan Uak mampir ke rumah bersama anak dan keponakan kesayanganku, Bian. Mereka juga nggak ingat kalau aku berulang tahun, jadi terkejut sekali ketika melihat kue tart di atas meja. Wah, ulang tahun kali ini rasanya seperti ulang tahun rahasia, ya, soalnya nggak ada yang ingat termasuk aku sendiri, hehehe :p Ya sudah akhirnya mereka ikut menikmati pizza dan camilan yang sudah Ibu dan Bapak beli.





Saking mendadaknya aku sampai lupa menempelkan tulisan “Happy Birthday” di dinding. Ruang tamu benar-benar polos tanpa dihias, di atas meja cuma ada kue tart dan camilan. Baju yang aku pakai pun yang tercepat yang bisa aku temukan di lemari. Tapi rupanya bagi Bian ini adalah ulang tahun yang keren. Pasalnya (menurut Bian) jika ia berulang tahun nggak selalu ada tiup lilin, makanya ia terkesima sekali dengan donat berwarna-warni yang ada di atas meja. Sampai-sampai dibandingkan aku, Bian lebih nggak sabar untuk memulai acaranya. Ia duduk di ruang tamu sendirian sambil makan pizza sementara aku dan yang lainnya masih bersantai di ruang TV. Hihi, reaksi Bian membuatku senyum-senyum :) Untuk mengalihkannya sambil menunggu Dhian datang, aku ajak ia ke kamar untuk berlatih ukulele. Ternyata ia senang sekali dan dengan semangat genjrang-genjreng nggak karuan. Akhirnya salah satu ukuleleku pun dihadiahkan untuknya :)





Selepas magrib Dhian tiba di rumah. Aku langsung siap menerima banyak pertanyaan karena mengundangnya secara mendadak dan tanpa mengundang siapa-siapa lagi. Aku jelaskan bahwa tahun ini nggak ada acara, dan mengundangnya benar-benar ide spontan di tengah malam karena aku kangen ingin bertemu (awww, hehehe). Dengan camilan yang seadanya kami mulai mengobrol di ruang tamu, ---dengan ditemani Bian. Nggak lama Ray yang juga baru pulang bekerja datang ke rumah. Ia terkejut karena ia pikir tahun ini nggak ada acara tiup lilin. Hehehe, aku bilang saja bahwa aku juga sama terkejutnya :p Dengan Ray obrolan semakin seru. Nggak ada yang benar-benar penting sih, mostly random, dari mulai ngobrolin (atau gosipin?) teman sampai artis yang keberadaannya antara ada dan tiada. Selalu senang jika orang-orang kesayanganku berkumpul bersama dan menjadi akrab, rasanya hangat :)






Sedang asyik-asyiknya mengobrol Ibu mengingatkan kami untuk memotong kuenya. Rupanya beliau khawatir es krim di dalamnya mencair. Puja, adikku dan istrinya yang tinggal terpisah dengan kami mampir sebentar untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Suasana pun terasa semakin ramai :) Seperti biasa kami berfoto bersama, tiup lilin dan tentu saja makan kue. Lucunya meski kuenya sudah berada di luar kulkas dalam waktu yang lama, tetap saja es krimnya masih keras. Moment potongan pertama kue yang seharusnya cute pun terpaksa gagal, karena yang memotong jadi bukan cuma aku, tapi Ray, Dhian dan Ibu. Bentuk kue pun jadi nggak karuan, dan potongan kue pun lebih mirip dengan “sendokan”, hehehe. Tapi yang penting rasanya enak :p






Kalau sedang bersenang-senang waktu selalu terasa singkat, nggak terasa waktu sudah menunjukan pukul 9 malam. Dhian pamit pulang dan menyisakan aku dan Ray di ruang tamu. Ada 3 buah kado di atas meja; yang pertama dari Ibu dan Bapak, sebuah ukulele Mahalo bergambar smiley face yang sudah lama aku inginkan. Yang kedua sebuah dompet Hello Kitty dari Ray, ---dan yang ketiga sebuah mug Hello Kitty dari Dhian. Yang bikin aku terharu, meskipun super-duper dadakan Dhian tetap membawakanku kado. Bayangkan, aku baru memberitahunya tengah malam, sedangkan di pagi hari ia bekerja dan baru pulang sore. Mengingat bahwa Dhian, ---juga Ibu, Bapak dan Ray meluangkan waktu mereka membuatku merasa begitu dicintai dan istimewa. Aku nggak ingat seperti apa wajah Ibu dan Bapak ketika aku lahir ke dunia. Tapi setiap kali berulang tahun aku jadi bisa membayangkannya; mereka bersuka cita :)








birthday girl,

Indi


Ps: Aku mengikuti "GoGirl! Passion Pitch 2015". Tolong support aku ya, teman-teman. Caranya tolong like dan beri komentar positif di video ini: https://www.youtube.com/watch?v=7titmVF6Jf4 Terima kasih :)))

 ___________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Email: namaku_indikecil@yahoo.com