Minggu, 05 Mei 2013

(Masih) Menunggu...

Sabtu, 4 Mei 2013

Pagi-pagi sekali gue sudah bangun. Sarapan tanpa disuruh dan langsung mandi tanpa kembali berbaring di sofa. Bapak bilang gue aneh, tapi gue nggak peduli dan sebelum beliau sadar gue sudah berdiri di garasi. Menunggu diantarkan ke suatu tempat yang istimewa.

Masih ingat tulisan gue tentang Aerosmith yang "ini"? Yup, betul, waktunya semakin dekat. Tinggal 7 hari lagi sampai gue dan Bapak bisa berdiri di front row sambil berharap-harap cemas Steven Tyler akan melemparkan harmonikanya untuk kami, hehehe. Kami sudah benar-benar siap, stamina, mental, dan bahkan Bapak sudah menyarankan gue segera membuat surat untuk Steven Tyler. Kemungkinan akan sampai memang kecil, tapi Bapak bilang nggak ada salahnya mencoba. Rasa exited kami semakin hari semakin menggebu. Kami selalu terkikik ketika membicarakannya. Mata gue berbinar dan Bapak pura-pura mengejek. Lalu kabar bahagia yang lainnya datang menghampiri kami. Aerosmith Indonesia, sebuah perkumpulan pengagum Aerosmith mengundang gue untuk interview di Global Radio Jakarta. Tentu saja ini dalam rangka menyambut kedatangan Aerosmith yang sebentar lagi :D

Jadilah kami menempuh perjalanan menuju Jakarta. Bapak di balik kemudi dan gue asyik mengganti-ganti CD di bangku penumpang. PUMP, Big Ones, Just Push Play dan album-album Aerosmith lainnya sudah gue siapkan dan pastikan cukup untuk menemani perjalanan kami. Bapak bertanya apakah gue hapal dengan sejarah Aerosmith. Gue bilang, "ini interview, Pak, bukan ujian", tapi Bapak tetap bertanya hal yang sama sampai gue mogok bicara. Beliau lalu tertawa dan berkata bahwa ia hanya menggoda gue. Beberapa saat kemudian gue ikut tertawa, nggak kalah kencang. Karena sebenarnya gue sudah tahu dari awal bahwa beliau hanya becanda dan gue tadi hanya pura-pura ngambek :)

Gue bernyanyi terus. Dengan penghayatan penuh, ekspersi konyol dan membuat suara serak ala rocker. Sesekali gue melirik Bapak, memastikan suara gue nggak mengganggu konsentrasinya menyetir. Bapak juga ikut menyanyi, tapi suaranya nggak jelas, hanya bergumam dan baru agak terdengar di bagian refrain lagunya saja, hehehe. Tapi gue lega, karena itu artinya Bapak nggak terganggu. Kami begitu terus sampai 2 jam kemudian. Gue sudah menghabiskan 1 botol minuman dan mulai kehilangan energi untuk bernyanyi. Gue bertanya pada Bapak kapan kami sampai. Tapi beliau nggak tahu pasti, "sudah dekat", cuma begitu katanya. Gue sangat kahwatir kami nyasar, dan sayangnya, kami ternyata memang nyasar.

Kami baru bisa menemukan MNC tower, tempat dimana Global Radio berada setelah 4 jam perjalanan. Gue berkeringat sangat banyak karena tegang. Dalam hati gue berdoa supaya nggak terlambat meski sebenarnya gue sadar sudah lewat 30 menit dari waktu yang disepakati. Gue berjalanan secepat mungkin dan meninggalkan Bapak yang sibuk mencari tempat parkir. Nggak lama kemudian gue bertemu Hans, menyalaminya dan sebisa mungkin menyembunyikan suara nafas gue yang hampir terdengar seperti dinosaurus, lol. Ajaibnya, semua yang ada di sana ternyata belum memulai interviewnya karena menunggu kedatangan gue. Selain Hans admin dari Aerosmith Indonesia, ada Wihel, seorang fans Aerosmith dan Lupi penyiar di sana. Kami mengobrol dulu dan baru berhenti setelah Bapak menemukan tempat kami. Karena ternyata mereka juga memutuskan untuk mengajak Bapak interview!

Awalnya jelas saja beliau menolak, seperti biasa Bapak lebih memilih jadi fotografer gue, mengabadikan setiap moment dari putri kecilnya ini. Tapi setelah gue bujuk dan ditambah sedikit tarikan di lengan (hihi), akhirnya beliau mau juga duduk di depan mikrofon :) Sebelum interview benar-benar dimulai Hans dan Wihel selalu menggoda bahwa gue adalah 'die hard fans' Aerosmith. Mereka bilang kalau mau bertanya yang sulit-sulit mending sama gue saja. Gue langsung melirik Bapak sambil nyengir. De javu, di mobil kan Bapak yang bergurau soal "sejarah Aerosmith", hehehe. 

Wihel, Bapak, Indi, Lupi, Hans :)

Interview berjalan lancar dan menyenangkan. Gue sesekali berbuat konyol tapi sepertinya semuanya bisa memaklumi karena gue terlalu exited setelah menunggu bad boys from Boston ini selama 20 tahun. Berkali-kali gue bilang bahwa akhirnya impian gue jadi nyata dan penantian gue terbayar. Dengan semangat gue menceritakan persiapan untuk konser nanti. Dari mulai pakaian dan apa yang akan gue lakukan kalau mempunyai kesempatan menemui mereka secara personal. Gue ingin sekali memberikan surat kepada Steven Tyler yang isinya ucapan terima kasih gue. Mungkin bagi sebagian orang ini terdengar konyol, tapi ia memang memberikan pengaruh positif kepada gue. Gue nggak akan seperti sekarang jika saja waktu berumur 7 tahun gue melewatkan video clip Crazy di TV (baca cerita lengkapnya di sini).

Bapak sangat menikmati suasana interview. Beliau sering menimpali gue dan mentertawakan setiap kali gue berbicara sesuatu yang konyol. Gue senang Bapak berlaku seolah nggak ada yang mendengar kami, hehehe. Lalu apa yang Bapak katakan menjadi kenyataan. Gue benar-benar ditanya soal sejarah Aerosmith! Untung saja bisa menjawab karena yang ditanyakan adalah hal-hal yang sudah gue ketahui sejak berusia 10 tahun: kapan Aerosmith berdiri dan kapan Steven Tyler berulang tahun. Hehehe, ternyata itu ya yang disebut sebagai "die hard fans" :p




Banyak moment berkesan selama interview 1 jam itu. Gue bercerita bahwa berkat Aerosmith gue berlatih bermain harmonika dan drum ketika masih kecil untuk menemukan bakat gue. Meski kedua alat musik itu sampai sekarang belum dikuasai tapi apa yang gue lakukan ternyata membantu apa yang gue inginkan dan gue suka sebenarnya. Gue suka menulis, dan ingin berkarya seperti Aerosmith. Dari hati, tulus, meski dalam bentuk seni yang berbeda. Lalu tiba-tiba Bapak mendekati mikrofon dan berkata, "Indi bukan sekedar nge-fans sama Aerosmith. Tapi ia terinspirasi". Gue mengangguk dan tersenyum. Tadinya mau melanjutkan bicara tapi takut menangis karena gue terharu dengan kata-kata Bapak...

Tapi bukan hanya moment mengharukan yang kami alami. Ada kenangan lucu yang gue dan Bapak bagi tadi. Kami pernah hampir mencuri poster "Just Push Play" Aerosmith di salah satu toko kaset. Gue memang masih kecil waktu itu, tapi sebenarnya sudah mengerti bahwa mencuri itu salah. Entah terinspirasi dari mana, gue tiba-tiba merengek meminta diambilkan poster itu pada Bapak. Mungkin karena takut gue menangis Bapak mengambilnya dan sempat berjalan sejauh beberapa meter. Tapi lalu kami tersadar bahwa itu perbuatan yang salah, dan dengan canggung Bapak mengembalikan poster itu ke tempat semula sambil diikuti tatapan heran orang-orang di sana, hahahaha :D Kami hampir nggak bisa berhenti tertawa waktu menceritakannya. Aerosmith memang sebuah band, tapi bagi kami lebih dari itu. Kehadiran mereka bisa membawa suasana haru sampai konyol :)

Interview ditutup dengan sesuatu yang agak mengerikan, kami ditantang untuk bernyanyi! Hehehe, kami sepakat menyanyikan lagu "Crazy". Gue melirik sekilas pada Bapak dan diluar dugaan beliau tampak exited sekali. Padahal Bapak paling malu bernyanyi di depan umum, apalagi Global radio bisa didengar oleh seluruh warga Jakarta, hehehe. Kami bernyanyi bagian refrain-nya saja. Meski pelan, gue bisa mendengar suara Bapak dan itu membuat gue tersenyum sangat lebar. Bapak berani mengalahkan rasa malunya, beliau pasti sedang bahagia sekali!

Gue dan Bapak langsung pamit pulang. Perjalanan kami masih jauh, another 4 hours dan hari sudah mulai gelap. Gue senang sekali bisa bertemu dengan Hans, Wihel dan Lupi. Ini adalah pertama kalinya gue dan Bapak bertemu dengan komunitas pengagum Aerosmith. Perjalanan pulang sama menyenangkannya seperti ketika pergi. Gue melanjutkan marathon CD Aerosmith, Bapak mengikutinya dengan gumaman dan terkadang kami mengenang-ngenang apa yang baru saja kami alami. Karena belum sempat makan malam kami memutuskan untuk mampir ke Burger King. Gue adalah seorang pesco vegetarian, dan hampir nggak punya pilihan lain selain kentang goreng kalau makan di sana. Tapi ini menjadi tradisi nggak tertulis, kami harus ke sana karena Steven Tyler menjadi bintang iklan Burger King! Hahaha... Jangan anggap serius, tentu saja kami hanya main-main dan melakukannya karena menganggap itu lucu :D

Gue membeli veggie's burger dari tempat lain dan hanya membeli kentang goreng dan soda di Burger King. Bapak bilang nggak apa-apa, yang penting aura Aerosmith nya tetap terasa, lol. Kami melanjutkan perjalanan kembali setalah Bapak selesai makan, sedangkan gue sengaja menyisakan kentang gorengnya. Best part, jangan cepat-cepat karena ini makanan kesukaan Aerosmith, hehehe. Lalu handphone gue berbunyi. Ada pesan singkat dari Aerosmith Indonesia. Gue langsung tersenyum karena pasti isinya mengenai Aerosmith. "Baru juga ketemu sudah kangen kita lagi nih, Pak", gue bergurau. Gue akan membacakan pesan itu keras-keras, tapi lalu berhenti ketika gue sadar isinya bukan berita baik...

"Aerosmith batal konser di Jakarta"
.
Suara gue datar, tanpa emosi. Bahkan gue juga kaget kenapa bisa seperti itu padahal biasanya gue sangat ekspresif. Bapak sepertinya nggak percaya dengan pendengarannya, beliau bilang "hah?" berkali-kali. Gue membacakan untuknya satu kali lagi dan langsung bersandar ke jendela mobi. Nggak menangis dan cuma terdiam. Bapak juga. Pelan-pelan ia mematikan CD player yang sedang memutarkan lagu "Blind Man". Suasana mobil begitu sepi dan entah kenapa mendadak canggung. Gue nggak berani menatap Bapak karena takut melihat wajah kecewanya. Dua jam yang lalu impian kami rasanya sudah di depan mata, dan tiba-tiba hilang bahkan saat kami masih jauh dari rumah. Gue nggak tahu harus berkomentar apa. 20 tahun gue menunggu dan itu sudah menjelaskan segalanya.

Lalu tiba-tiba dada gue terasa sesak. Tangis gue akhirnya meledak, air mata gue nggak bisa ditahan. Gue menangis seperti bayi. Di tengah tangis gue bercerita tentang sesuatu yang seharusnya menjadi kejutan untuk Bapak. Diam-diam gue sudah memesan T shirt official Aerosmith untuk beliau. Harganya bagi gue nggak murah dan gue khusus menabung untuk itu. Gue ingin Bapak memakainya ketika konser nanti karena selama ini Bapak belum punya T shirt Aerosmith. Sejak dulu semuanya buat gue. Hanya buat gue. Dan gue ingin memberikan satu hari istimewa untuk Bapak.

Gue terus menangis. Benar-benar nggak tertahan. Lalu Bapak terkekeh, seperti memaksakan tertawa. Gue melihat wajahnya, akhirnya, dan jelas sekali beliau sedih. Bapak mencoba menenangkan gue, beliau bilang bisa saja Aerosmith berubah pikiran, mungkin konsernya hanya diundur sebentar. "Kaosnya buat nanti saja, terima kasih sudah dibelikan. Nanti dipakai waktu kita nonton konser Aerosmith selanjutnya, ya..."
Kata-kata Bapak sama sekali nggak menenangkan gue. Gue menangis tanpa suara dan merubah posisi duduk gue jadi meringkuk menghadap ke kiri. Membelakangi Bapak dan memejamkan mata gue.

Dalam gelap gue membayangkan seorang gadis kecil berusia 7 tahun. Berambut acak-acakan berponi dengan gigi ompong sedang menatap serius ke layar TV. Ia begitu begitu terhipnotis dengan apa yang baru dilihatnya. Bapaknya berkata, "mereka itu Aerosmith", dan gadis itu pun tersenyum konyol. "Aku mau bertemu mereka, Pak". Bapaknya tersenyum lalu menjawab, "suatu hari, Indi... Suatu hari...".

Dan 20 tahun kemudian gadis kecil yang telah tumbuh dewasa itu masih menunggu "suatu hari" nya akan datang. Sekarang ia mungkin bersedih, kecewa, dan marah. Tapi dibalik itu, di lubuk hatinya yang paling dalam ia tetap gadis kecil yang sama. Ia akan kembali tersenyum konyol dan suatu hari akan memberikan langsung surat yang ditulis tangan olehnya dengan hati-hati kepada Steven Tyler. Mungkin ditambah menjabat tangannya. Mungkin ditambah tepukan hangat di bahu. Mungkin. Siapa yang tahu. Yang pasti suatu hari ia nggak perlu menunggu lagi.
Amen...

daddy's little girl,


Indi
Facebook: here | Twitter: here | Contact person: 081322339469

Senin, 29 April 2013

Wonderland di Rumah :)

Selama day off (hari sabtu sampai senin) gue nggak kemana-mana. Seharian cuma di rumah dan outfit yang dipakai pun dari piyama ke piyama. Jadi bangun tidur gue pakai piyama, siangan dikit ganti piyama, mau tidur balik lagi ke piyama, hihihi. Padahal sebelumnya gue dan Ray ada rencana untuk keluar rumah, lho. Ya, sekalian syukuran 5 tahun hubungan kami. Tapi berhubung Ray mendadak sakit, terpaksa jalan-jalannya ditunda dulu. Mungkin karena sudah terlalu ngarep, gue jadi kurang bersemangat di rumah. Bawaanya tidur dan malas-malasan. Kegiatan paling produktif yang gue lakukan cuma sampai mendengarkan Om John ngomong selama 6 jam non stop, hahaha. Dan hari ini, hari terakhir libur, tiba-tiba gue tersadar bahwa gue hampir menyia-nyiakan waktu luang gue! Wah, seharusnya gue nggak membiarkan 1 rencana yang gagal merusak 3 hari yang berharga :)

Gue pun langsung mencari-cari hal apa yang bisa gue lakukan di rumah. Mau bersih-bersih, semua sudah bersih karena meski judulnya "malas-malasan" gue paling anti sama kamar acak-acakan. Mau bikin day spa di rumah, orang tua lagi bekerja. Masa gue harus maskeran sama Eris... Eh, wait! Ngomong-ngomong soal Eris, dia ternyata bisa jadi penyelamat gue, hihihi. Kebetulan hari ini Eris nggak tidur siang, jadi gue ajak saja dia main air sekalian mandi. Sama seperti gue (dan kebanyakan manusia lain sepertinya, lol), Eris senang bermain air, tapi untuk mandi dia agak malas. Jadi biasanya dia hanya duduk seperti patung dan gue bakal kesusahan untuk membilas bagian ekornya, hahaha. Tapi syukurlah, tadi Eris ceria sekali, dari mulai proses main air, mandi sampai gosok gigi dia nggak banyak protes. Sedikit ciprat-ciprat air sih ada, tapi malah segar soalnya gue juga belum mandi :p Waktu bulunya dikeringkan dan disisiri Eris juga menurut. Malah jadi gue yang nggak enak, soalnya karena bulunya tebal prosesnya lumanyan lama, lho... Untuk sentuhan akhir bulu Eris disemprot parfum yang gue beli dari pet shop. Kalau sudah begini gue jadi ingin gigit dia, soalnya aromanya seperti mangga, hihihi. Ternyata memandikan Eris bikin mood gue lebih baik dan nggak sabar melakukan hal lain :D

Si kecil Eris bulunya mau dikeringkan :)
Peralatan "tempur" Eris minus sisir kesanyangannya yang sudah ada sejak zaman Veggie :)


Sore hari, waktu Ibu dan Bapak akhirnya pulang ke rumah, gue bertanya apa mereka membawa camilan karena perut gue terasa lapar. Sayangnya mereka nggak bawa apa-apa kecuali 1 bungkus kue kering yang ternyata di dalamnya ada daging. Gue nggak makan itu karena pesco vegetarian. Lalu gue dengar Ibu bicara pada Bapak, katanya beliau minta dibelikan roti tawar untuk sarapan besok pagi. Tiba-tiba saja gue teringat sesuatu. Gue pernah melihat cara membuat donat ala Mad Hatter dari dongeng Alice in the Wonderland di channel-nya RRcherrypie. Nah, berhubung gue suka sekali dengan Alice in the Wonderland, dan gue juga nggak pandai memasak, maka gue sangat terobsesi dengan resep itu karena tampak sederhana, hehehe. Setelah sekian lama cuma melihat video tutorialnya dan membaca resepnya secara online (resep ini juga bisa ditemukan di The Alice in Wonderland Cookbook: A Culinary Diversion), hari ini akhirnya gue memutuskan untuk membuatnya sendiri secara mendadak :p

Bahan-bahan yang gue butuhnya sudah ada di dapur (ditambah roti tawar yang baru dibeli Bapak). Yang kurang hanya dry wine dan gue memutuskan untuk melewatkan part itu tanpa menggantinya dengan bahan lain. Oh, iya untuk yang belum akrab dengan dongeng Alice in the Wonderland mungkin belum mengenal siapa Mad Hatter. Dia adalah tokoh laki-laki bertopi lucu yang selalu mengadakan pesta di tengah hutan. Sering kali dia menyebut "tea time!" di waktu-waktu yang sangat random. Dan donat adalah satu kesukaannya :) Jadi gue mulai mengumpulkan bahan-bahannya di atas meja dapur: 4 lembar roti tawar, 1 butir telur, 2 sendok minyak goreng dan cokelat tabur. Gue semangat sekali sampai-sampai nggak bisa berhenti tertawa, hehehe.

Tapi lalu gue lupa satu hal: roti yang gue punya bentuknya kotak, sedangkan donat bentuknya bulat dan gue nggak punya cetakan kue. Gue pun sibuk mencari-cari benda apa yang bisa digunakan untuk mencetak. Pakai mangkok, terlalu besar... Tutup cangkir terlalu kecil... Untung saja Bapak memeriksa kulkas dan menemukan sebuah mug punya Puja. Ternyata ukurannya pas. Wah, senang sekali! Dan untuk membuat lubang kecilnya gue menggunakan tutup air mineral. Karena roti yang gue punya tipis, maka gue menumpuknya menjadi 2 supaya tebal mirip donat betulan :) Setelah itu, roti-roti yang bentuknya mirip donat itu gue celupkan ke dalam kocokan telur, dikeringkan, digoreng sebentar, lalu... jadi deh! :) Untuk rasa manis gue tambahkan coklat tabur dan secangkir susu vanila untuk menemaninya. Rasanya ternyata enak, cocok untuk camilan sore dan juga sarapan.


Step by step membuat donat ala Mad Hatter :)
Bentuknya lumayan juga lah ya untuk ukuran pemula :p


Ibu dan Bapak memuji ide kreatif gue (well, ini bukan karya gue sih sebenarnya, lol), lalu dilanjutkan dengan marah-marah karena dapur menjadi acak-acakan, hehehe. Tapi gue nggak sebal, sebaliknya malah senang hari libur terakhir gue terasa berkesan dan produktif. Lucu ya, kadang kita suka lupa pada hal-hal fun di sekitar hanya karena sesuatu nggak berjalan sesuai rencana. Padahal saat kita bersedih atau kecewa dunia masih tetap sama, well at least keadaan di sekitar kita masih tetap sama: Eris masih tetap menggemaskan dan donat Mad Hatter masih tetap lezat. Gue nggak menyesal. Gue hanya berjanji akan berusaha memanfaatkan setiap detik hidup gue. Hari ini gue menemukan wonderland di dalam rumah seperti Alice. Bagaimana dengan kalian? :)

senyum,
Indi

nb: Mohon doanya, besok (selasa 30 April 2013) film MIKA akan diputar di IFF Melbourne Australia :)

facebook: here | twitter: here | contact person: 081322339469

Minggu, 21 April 2013

Senin yang Terasa Minggu: It's a Date! Yaiy! :D

Hai bloggies! Apa kabar? Semoga semua baik-baik saja ya, terutama yang rumahnya kebanjiran di musim hujan ini. Beberapa rekan kerja gue di pre school ada yang rumahnya kebanjiran, lho. Dan sedihnya cukup parah sampai masuk ke dalam rumah :( Tapi syukurlah keadaan semakin membaik :) Gue sendiri baik-baik saja karena tinggal di daerah yang bebas banjir. Tapi tetap, hujan yang terus-terusan lumayan berpengaruh sama kesehatan gue. Hampir setiap pulang kerja pasti gue kelelahan dan pusing. Pasalnya cuaca dingin bikin gue gampang kena flu. Ditambah gue sudah lama nggak refreshing, kondisi badan rasanya semakin menurun.Gue mau keluar rumah dan bermain tapi sulit sekali mencari waktu yang pas karena takut kehujanan. Gue serius lho waktu bilang "bermain", hehehe. Gue suka sekali bermain ---seperti anak-anak--- dibandingkan apapun untuk refreshing :)

Seperti yang pernah gue ceritakan sebelumnya, gue beruntung sekali karena waktu bekerja gue yang pendek (well, nggak termasuk pekerjaan gue yang lain, sih, hanya pre school). Gue bisa melakukan hal lain sepulang bekerja, termasuk liburan lebih cepat karena hari kerja gue dimulai di hari selasa. Tapi terkadang hal ini malah membuat gue menikmati hari libur sendirian, karena orang-orang di sekitar gue masih bekerja, termasuk Ray. Nah, tanggal 15, hari senin kemarin gue sangat sangat sangat ingin keluar rumah dan bermain ke Trans Studio. Apalagi saldo kartu Trans Studio gue sudah diisi oleh Ray 2 hari sebelumnya. Yang jadi masalah, gue harus bermain dengan siapa? Nggak asyik kan bermain di theme park sendirian... Berhubung keluarga dan teman-teman gue sibuk, jadi gue meminta Ray untuk pulang lebih cepat dari biasanya dari kantor. Dan ternyata, yaiy! Ray bisa pulang jam 5 sore! :D

Kenapa gue memilih Trans Studio? Alasan pertama tentu saja karena gue tinggal di Bandung dan cuaca memang nggak memungkinkan gue untuk bermain di luar. Meski gue sudah pernah ke sana sebelumnya, tapi gue sama exited-nya seperti pertama kali. Kalau ada yang bilang Trans Studio itu nggak seseru theme park di luar negeri, buat gue sih sudah cukup memuaskan hasrat gue untuk teriak-teriak dan tertawa sepuasnya, haha. Lagipula apa salahnya membanggakan theme park punya negeri sendiri (I love Dufan too, btw) :)
Tapi ternyata agak sedikit di luar rencana. Ray yang sudah selesai bekerja ternyata terjebak di kantor karena hujan sangat lebat. Padahal gue sudah berada di Trans Studio Mall dan kinda don't know what to do karena rencananya awalnya kami akan langsung bermain. Akhirnya gue pun memutuskan untuk toko buku, melihat-lihat buku apa yang kira-kira cocok masuk list kalau gue sudah ada rezeki untuk membelinya nanti :)

Jam 7 malam akhirnya Ray sampai di Trans Studio Mall (yup, gue menunggu 2 jam padahal gue rela nggak mandi hanya supaya cepat sampai, lol). Kami langsung cepat-cepat ke gate Trans Studio sambil cekikikan :p Belum apa-apa kami sudah disarankan petugasnya untuk kembali lagi besok saja, karena 2 jam lagi Trans Studio akan tutup, dan sekitar 40 menit lagi beberapa wahana berhenti beroperasi. Tapi gue tetap bilang kalau kami ke sini hanya ingin bersenang-senang, jadi kami ingin menikmati waktu 2 jam kami. Beberapa petugas langsung bengong, dan akhirnya salah satu dari mereka bilang "salut" sambil mengacungkan jempol, hahaha :) Memang, begitu masuk ternyata sudah sepi, beda sekali dengan waktu pertama kali gue ke sini. Tapi dengan begitu gue malah merasa lebih tenang dan bisa memilih wahana apa saja yang ingin gue mainkan.

Ray itu takut ketinggian. Well, sebenarnya bukan ketinggian sih, tapi mainan yang seram-seram (kecuali hantu-hantuan dia berani, hahaha). Jadi kalau ada permainan yang tinggi, diputar-putar apalagi dibanting-banting pasti Ray nggak mau. Nah, gue justru kebalikannya. Sangat suka dengan permainan menantang tapi takut sama hantu-hantuan :p Tadinya gue mau Ray cukup menunggui saja, biar gue yang main. Tapi setelah dipikir-pikir nggak seru kalau naik wahana sendirian, jadi gue pilih wahana paling harmless sedunia, yaitu Bolang! Hahaha :) Menurut gue sih satu-satunya yang mengerikan dari wahana ini cuma bonekanya. Sebenarnya cute, sih, cuma gue agak takut sama boneka yang gerak-gerak sendiri gitu... Gue benar-benar nggak bisa berhenti ketawa, dari satu baris kereta hanya kami berdua yang mengisi. Beda sekali dengan pertama kali gue ke sini, gue sampai harus bergabung dengan keluarga Ari Sigit (yup, 'that' Ari Sigit) saking penuhnya :D Sementara Ray sibuk mengambil foto, gue malah sibuk mengomentari boneka-bonekanya :p 


Sehabis dari si Bolang, kami nggak tergoda untuk membeli sesuatu di toko permennya (padahal banyak lolipop!). Kami memutuskan untuk mencari wahana lain dan membeli sesuatu ketika pulangnya saja. Berhubung gue sudah mengalah untuk naik wahana harmless, gue ajak Ray bermain di "Land of Giant". Ya, ampun ini wahana favorit gue sepanjang masa! *lebay* Di wahana ini kita akan duduk kursi dan naik sampai ketinggian 5 lantai lalu dilempar ke bawah. Seru deh pokoknya. Well... at least untuk gue, karena bagi Ray ini sama sekali nggak seru. Dia malah takut dan mau pegang tangan gue. Tapi gue bilang nanti serunya hilang, dan yang paling pas itu justru kalau tangan kita diangkat tinggi-tinggi. Hahaha, jelas saja Ray nggak mau dan dia turun dengan wajah pucat pasi sementara gue malah tertawa senang dan berjanji kalau masih ada waktu sebelum pulang akan naik wahana ini lagi.

Sehabis dari Land of Giant. Mau lagiiii :D

Karena sepi sepertinya kami berdua jadi pusat perhatian para pegawai di sana, hihihi (atau karena suara tawa gue yang kencang ya?). Sampai-sampai mereka sering kali menawarkan untuk memfoto kami berdua. Kami ke pojokan "ini" ditawari, kami kepojokan "itu" ditawari. Awalnya malu-malu, tapi senang juga, sih karena kami pikir karena perginya hanya berdua akan susah mendapatkan foto saat kami lagi bersama-sama :)
Wahana selanjutnya yang jadi incar gue yaitu "Trans Car Racing". Kenapa? Karena gue suka ngebut, belum lancar nyetir meski punya SIM, hahaha. Nah, berhubung ini baru pertama kali, gue pikir karena ada track-nya gue nggak harus menyetir "betulan". Ternyata gue salah, yang bertugas mengatur laju ya driver-nya alias gue. Pantas saja pegawainya pasang tampang khawatir begitu tahu bahwa gue yang pegang kendali, hahaha. Ray sebetulnya pengen sekali memainkan wahana ini, tapi berhubung ingin membuat gue senang, jadi dia mengalah dan cukup duduk di bangku penumpang :)
Cukup sulit mengontrol kemudinya, beberapa kali mobil gue berdecit karena salah belok. Ray menganggap itu lucu dan dia tertawa terus. Lalu gue putuskan untuk sedikit bergaya seperti idola gue. Ingat video "Scar Tissue" dari Red Hot Chili Peppers yang adegannya menyetir mobil sambil bernyanyi? Nah, gue persis seperti mereka, lengkap dengan penghayatan penuh terhadap liriknya, hahaha. Sungguh kebetulan yang "menyenangkan", John salah satu personel Red Hot Chili Peppers di kehidupan nyata juga nggak bisa menyetir tapi dia nyaman-nyaman saja tuh di video clip itu :p Tapi Ray lama-lama panik juga lho, dan mulai bilang, "slow down, John, slow down". Nama gue sampai diganti, lol. Oya, Ray bilang waktu gue bernyanyi suara gue terdengar kemana-mana. Karena malu gue hampir nggak mau turun dari mobil :(


Awas... awas... John Frusciante mau lewat! :p

Duduk dulu 5 detik untuk berfoto :p

gayanya stereotype sekali, hahaha :D

wilayah yang tabu untuk gue datangi.... :O :O :O

Setelah itu kami langsung naik wahana "Dragon Riders". Bukan wahana yang menegangkan tapi cukup mengocok-ngocok perut. Karena ini sudah ke dua kalinya, jadi gue nggak terlalu surprise, gue malah sibuk menceritakan bagaimana rasanya sama Ray :p Tadinya gue sangat ingin bermain Vertigo atau Giant Swing, tapi Ray baru mau naik itu semua kalau gue ikut ke wahana "Dunia Lain". Waaaah, jelas saja gue tolak. Gue penakut banget deh kalau soal rumah hantu. Nonton film horor baru berani. Susah ditakut-takuti malah :D Tapi "Dragon Riders" juga cukup seru, terutama karena melihat ekspresi Ray yang nggak menyangka kalau wahananya lumayan mengguncang sampai hampir bikin sepatu lepas, hehehe.
Selanjutnya kami bermain "Sky Pirates". Hitung-hitung wahana "calm down" setelah tertawa terus, hehehe. Wahana ini mirip seperti monorail, hanya saja bentuknya seperti balon udara. Di sini Ray sibuk mengambil foto ekspresi gue. Maklum, meski judulnya "calm down" tetap saja gue tertawa-tawa :D

senang! :D

masih harus bilang kalau gue senang? ;)

Waktu sudah makin menipis. Beberapa wahana sudah tutup dan pengunjung lain yang bisa kami temui hanyalah sekelompok kecil mahasiswa yang sebelumnya sempat bertemu ketika di wahana "Land of Giant". Kami semua menuju wahana yang sama, yaitu "Marvel 4D". Ini adalah wahana 4 dimensi yang waktu pertama kali gue ke sini belum ada. Gue exited sekali karena gue suka dengan Peter Parker, hahaha. Nggak disangka-sangka ketika menunggu masuk teater ada yang menyapa gue. Ternyata dia adalah Vany, salah satu pembaca novel gue yang juga pernah hadir di salah satu meet and greet gue. Vany bekerja di sini, baru 3 hari katanya. Wah, senangnya :D Wahananya ternyata sama menyenangkannya dengan pertemuan dengan Vany, gue dan Ray banyak tertawa dan sesekali gue menjerit kecil. Terutama waktu adegan diserang serangga. Hiii, gue langsung naikan kaki gue ke atas kursi karena benar-benar ada yang menggelitik di bawah, hahaha.




What I wore? Dress: Toko Kecil Indi | Bow ring: Heartwarmer | Shoes: Fladeo

"Marvel 4D" menjadi wahana terakhir untuk kami. Ketika kami keluar suasana benar-benar sepi dan toko suvenir sudah tutup. Gue sedikit kecewa karena nggak jadi membeli lolipop. Tapi setelah diingat-ingat gue nggak punya alasan untuk kecewa karena yang gue inginkan adalah refreshing dan gue sudah dapat itu. Sebelum kami benar-benar keluar area Trans Studio mbak security yang baik hati menawarkan untuk memfoto kami. Wah, jelas saja kami nggak menolak. Langsung saja gue bergaya konyol dan berfoto di dekat icon-icon Trans Studio layaknya turis. Padahal sih rumah gue nggak jauh dari sini :p Gue tahu Ray sebetulnya malu untuk bergaya konyol. Tapi setelah gue bujuk dia mau juga, hehehe. Waktu kami keluar menuju Trans Studio Mall ternyata masih ada 1 toko suvenir yang buka. Yaiy! Langsung saja gue dan Ray memilih-milih benda yang bisa kami bawa pulang. Meski nggak ada lolipop, tapi gue senang karena membawa 1 buah sumpit merah dengan holder berbentuk anak perempuan berkaos Trans Studio. Sedangkan Ray membeli sebuah pulpen berbentuk suntikan dari Science Center untuk dirinya :)

 

Kami pulang dengan perasaan senang dan nggak bisa berhenti tersenyum. Gue akhirnya bisa bermain keluar meskipun di hari senin dan Ray benar-benar membuatnya terasa seperti hari minggu.Buat gue inilah pengertian sebenarnya dari "bermain", karena gue banyak bergerak, banyak tertawa dan mempunyai waktu berkualitas dengan orang yang gue sayang :) Kalau nanti ada kesempatan lagi untuk ke tiga kalinya gue ke Trans Studio, gue akan senang sekali. Karena gue percaya setiap kunjungan rasanya beda, setiap hati gue bahagia pasti gue menemukan "sensasi" baru. Terima kasih Tuhan, terima kasih Ray dan terima kasih Trans Studio (lol, I'm serious) karena telah membuat 2 jam dalam hidup gue begitu menyenangkan!
Oh, iya hampir lupa. Ngomong-ngomong soal menyenangkan, ada 2 buah kabar gembira lho. Film Mika (yang diinspirasi dari novel "Waktu Aku sama Mika", berdasarkan kisah nyata gue) sekarang sudah tersedia dalam format VCD dan DVD. Kalian bisa menemukannya di Disc Tarra, Gramedia, Carrefour dan toko CD terkemuka. Jangan lupa membeli yang original, ya, kami orang-orang yang bekerja di balik film ini bekerja keras selama lebih dari 1 tahun lho untuk mewujudkan film ini :) Dan yang ke dua, tanggal 30 nanti Mika akan diputar di festival film Melbourne Australia! Doakan ya supaya semuanya lancar. Kapan-kapan gue ceritakan lengkapnya. Selamat weekend! :)

happy girl,

Indi
___________________
Facebook: here | Twitter: here | contact person: 081322339469

Kamis, 11 April 2013

Dolly Girl-Anna Sui dari www.chocolatop.com :)



Hai bloggies, sedang apa? Gue menulis post ini dalam keadaan berpiyama dan ditemani satu gelas jeruk hangat, karena ini hampir jam setengah 11 malam dan gue baru saja terbangun, hihihi. Besok gue harus bangun pagi-pagi, tapi berhubung belum bisa kembali tidur jadi mampir dulu sebentar, deh ke dunia kecil gue ini :) Beberapa waktu yang lalu gue menerima paket dari www.chocolatop.com isinya adalah sebuah parfum yang sudah lama gue inginkan. Dolly Girl dari Anna Sui! Tahu kenapa gue ingin parfum itu? Tentu saja karena botolnya yang cute dan berwarna pink. Sedangkan bagaimana aromanya, gue sama sekali nggak tahu, hihihi.


Waktu gue buka pembungkusnya ternyata botolnya memang super cute: transparan, berbentuk figur perempuan dengan pipi merona dan bulu mata yang lentik. Ukurannya juga pas untuk dibawa sehari-hari di dalam tas tangan. Tapi yang paling membuat gue penasaran tentu saja aromanya, karena selama ini gue hanya sering melihat botolnya, hihihi. Dilihat dari kemasannya gue langsung menebak kalau aroma si Dolly Girl ini bakal manis dan sedikit kekanakan. Tapi ternyata gue salah, Dolly girl beraroma sangat girly dan nggak terlalu tajam. Ringan dan cocok untuk perempuan seusia gue :D




Kemarin gue melakukan sedikit tes untuk menguji ketahanan aromanya. Gue semprotkan parfum ini pagi-pagi, sekitar pukul 7.30 sebelum gue berangkat kerja. Gue sama sekali nggak memakai ulang sampai jam kerja gue habis pukul 14.00. Ternyata aromanya hanya memudar sedikit, padahal pekerjaan gue mengharuskan gue untuk aktif mengejar anak-anak ke sana-kemari, hihi. Lucunya sebelum gue pulang salah satu pegawai cafe di pre school berkomentar bahwa gue tercium seperti baru mandi :D

Overall gue beri Dolly Girl dari Anna Sui ini 4 dari 5 poin sempurna. Gue suka hampir dengan semuanya kecuali tutupnya yang kadang meninggalkan embun (dan alangkah lebih menyenangkan kalau bentuknya diganti menjadi mahkota berwarna pink, lol). Tapi dari kemasan, aroma dan ketahanannya, gue sama sekali nggak bisa komplain. Jelas sekali ini menjadi salah satu parfum favorit gue :)
 
 

Oh, iya sedikit tentang www.chocolatop.com, ini adalah situs yang menjual parfum dan produk fashion impor. Situs ini memudahkan kita untuk berbelanja dari rumah, karena sangat user friendly, langkah-langkahnya sederhana. Kita tinggal meng-klik tombol "beli" pada item yang diinginkan, jika sudah selesai klik "check out" dan pilih alamat tujuan pengiriman pesanannya. Jika semua data yang dimasukan sudah benar, klik "OK". Terakhir, konfirmasi jika proses pembayaran sudah dilakukan lewat situs atau SMS ke 08997571234, dan setelah dapat balasan barang akan segera dikirim. Mudah sekali, kan ;)

Jika ingin bertanya tentang produk-produk yang dijual, SMS saja Yulia, ownernya di nomor yang sama. Ramah banget, kok, hihihi. Yang asyik dari www.chocolatop.com kita nggak perlu khawatir tertipu membeli parfum palsu atau yang kualitasnya nggak sesuai harapan, karena di situsnya tersedia link "categories" yang siap mengantar kita ke jenis parfum yang kita inginkan dengan sekali klik. Jadi nggak perlu ragu untuk mencoba berbelanja di situs ini, karena selain aman juga mudah untuk melakukannya dari rumah, termasuk untuk newbie seperti gue ini, hihihi.

Okay, sekarang waktunya gue kembali lagi ke tempat tidur. Nggak sabar mandi pagi dan pakai parfum Dolly Girl dari Anna Sui untuk memulai hari, hihihi ;) *genit*

smile,

Indi




_______________________________

Facebook: here | Twitter: here | Contact person: 081322339469

Senin, 01 April 2013

Tentang Rezeki :)

Hari Rabu siang, seperti biasa aku dan Miss. Rifa rekan kerja ku di preschool selonjoran di karpet sehabis makan siang. Ini menjadi ritual nggak tertulis kami, mengobrol berdua saja memisahkan diri dari teman-teman yang lain sambil memikirkan apa yang harus disiapkan untuk besok. Aku melirik ke arah jam dinding, masih 1 jam lagi sebelum waktunya pulang. Aku mengambil boneka beruang besar dan bersandar malas kepadanya. Terkantuk-kantuk. Tiba-tiba HP ku bunyi. Ada sebuah pesan masuk dari Vino Bastian. Vino adalah seorang teman baik yang aku kenal karena project film Mika. Iya, ia adalah yang memerankan almarhum Mika :)
"Indi, jangan lupa jam 18.30 nanti datang ya ke premiere Madre. Ajak Bapak dan Ibu juga".

Aku nggak langsung membalasnya, tapi meneruskan kembali obrolan random bersama Miss. Rifa. Kami sedang bercerita tentang teman masing-masing dan sudah sampai pada giliran Miss. Rifa. Ia bercerita semalam salah seorang temannya mengiriminya pesan, berbincang ringan sampai akhirnya bertanya tentang pekerjaannya. Dengan bangga Miss. Rifa menjawab bahwa ia menjadi guru di preschool. Tapi nggak disangka si teman malah berkomentar tentang "penghasilan" yang Miss. Rifa dapatkan dari profesinya ini. Yang dimaksud dengan "penghasilan" tentu saja materi. Si teman mempertanyakan apakah itu cukup untuk menghidupi kebutuhan sehati-harinya dan bertanya apakah berminat berganti profesi dengan penghasilan yang lebih besar.
Miss. Rifa bercerita sambil tertawa. Ia lalu bertanya apakah aku merasa apa yang kudapatkan nggak sepadan dengan yang aku kerjakan. Aku balas tertawa, mengubah posisiku dari selonjoran jadi berbaring."Memangnya berapa yang pantas kita minta untuk seharian dengan anak-anak dan bisa berbaring di sela-sela pekerjaan?"
Dan kami pun tertawa bersama.

Menjadi guru merupakan cita-citaku. Pilihan. Jadi apa yang kucapai sekarang ini merupakan apa yang aku inginkan sejak lama. Bukan karena aku mencari pekerjaan "apa saja" asalkan nggak menggangur lama setelah aku lulus kuliah. Preschool atau TK adalah tempat pertama yang aku datangi ketika ijazahku keluar. Aku ditolak di 2 preschool dan akhirnya diterima bekerja di sebuah preschool berbasis kurikulum British. Aku bahagia karena cita-citaku menjadi kenyataan dan sejak hari pertama aku bekerja sampai hari ini aku sangat menikmatinya. Melelahkan, namun selalu penuh rasa syukur. Begitu juga Miss. Rifa, ini memang pekerjaan yang ia inginkan dan materi sama sekali bukan alasan kenapa ia bertahan mengajar selama 3 tahun terakhir ini.
Bukan cuma miss. Rifa, aku juga sering mendapat pertanyaan yang sama, bahkan dari keluargaku. Apakah penghasilanku cukup untuk menghidupi kebutuhanku?
Sebenarnya pertanyaan itu nggak etis menurutku, bertanya tentang penghasilan seseorang buatku bukan hal yang wise. Tapi aku berpikir positif saja, mungkin orang bertanya begitu karena mereka peduli, hehe. Kadang aku teringat dengan teman-teman kuliah yang mempunyai profesi sama denganku. Kebanyakan dari mereka berpenghasilan setengah dari yang aku hasilkan dengan jam kerja yang lebih panjang. Apakah mereka mendapatkan pertanyaan yang sama? Bagaimana mereka menanggapinya? Tapi sebelum aku bertanya sepertinya raut wajah mereka sudah menjelaskan segalanya. Teman-temanku selalu tampak gembira dan nggak pernah mengeluh kekurangan. Hmm... mungkin itu karena mereka sudah menyadari sesuatu... :)

"Eh, tadi pesan dari siapa? Sudah dijemput?" Miss.Rifa tiba-tiba teringat dengan HP ku yang berbunyi tadi. Aku menggeleng dan menjelaskan bahwa itu dari Vino yang mengundangku ke Premiere film barunya. Aku dan Miss. Rifa sama-sama melirik jam dinding. Kami terkikik, masih banyak waktu.
"Rezeki, Ndi, masih jam segini. Sampai rumah kamu masih bisa mandi, makan, dandan, pilih-pilih baju.Kalau orang lain belum tentu sudah sampai rumah, jam 5 juga baru bubaran".
Aku tersenyum sambil bangkit dari posisi berbaring, meraih cubby untuk menyiapkan pekerjaan besok pagi. "Iya, Miss. Rifa, ini rezeki aku. Aku punya banyak."

Setelah percakapan dengan miss. Rifa, aku merenungkan apa yang sudah kudapat selama ini dan bertanya-tanya apakah aku sudah berterima kasih pada Tuhan dengan cara yang pantas. Aku terkadang berkata, "nggak punya budget", "uang belum cukup" dan lain sebagainya, tapi aku lupa bahwa aku punya waktu. Iya, aku punya waktu di saat orang lain mungkin mengeluh kekurangan waktu dan meminta pada Tuhan sedikit saja waktu untuk bertemu orangtuanya atau menghabiskan waktu bersama pasangannya. Aku punya banyak, aku masih punya waktu berjam-jam perhari untuk mengobrol panjang lebar dengan Bapak, berselisih dengan Ibu (lol), berbuat iseng pada Adik, bermain dengan Eris, anjingku dan berlama-lama di minimarket dengan Ray untuk mencari camilan kesukaan kami. Aku punya banyak rezeki, bukan uang, tapi dalam bentuk lain. Dan Miss. Rifa benar, di rabu sore aku masih sempat untuk mandi dan bersiap-siap dengan pantas untuk ke premiere film sementara tamu yang lain mungkin baru saja pulang bekerja dan belum sempat ganti baju. Thank God.

Aku sering bilang bahwa manusia pasti diciptakan Tuhan dengan fungsinya masing masing dan setiap manusia juga pasti sudah ada rezekinya. Tapi aku lupa bahwa pengertianku terlalu sempit. Dulu aku berpikir bahwa saat seseorang mendapat 10 dan lainnya mendapat 5 itu artinya ia memang pantas dan cukup dengan 5. Memang nggak sepenuhnya salah, tapi rezeki bukan berarti selalu angka. Tuhan telah menyediakan gantinya, rezeki dalam bentuk lain. Miss. Rifa selalu bilang bahwa ia orang yang paling tahan banting sedunia, dalam 1 bulan ia paling hanya 1 kali sakit, sementara aku pasti ada saja flu atau demam yang menghampiri dalam 1 minggu. Aku biasanya hanya tersenyum setiap Miss. Rifa bilang, "rezeki" saat ia melihat daftar hadirnya yang full. Tapi sekarang berbeda, hatiku menyadari penuh bahwa itu memang rezeki. Bagian Miss. Rifa yang Tuhan berikan istemewa untuknya :)

Keesokan harinya di kamis siang. Seperti biasa aku dan Miss. Rifa menjalankan ritual nggak tertulis kami. Aku masih sedikit kekenyangan dan langsung selonjoran sambil bersandar di tembok. Miss. Rifa dengan wajah cerianya menceritakan bahwa ia senang karena ini hari terakhir bekerjanya di minggu ini. "Besok libur, jadi aku langsung pulang ke Purwakarta sore ini. Senang bisa makan masakan rumah lebih cepat 1 hari". Aku tertawa dan pura-pura nggak mau kalah dengan membalas perkataannya, "Aku dong mau jalan-jalan sama Ray, mau cari buku murah. Asyik, kan?" Kami tertawa dan melanjutkan pekerjaan kami sampai jam 2 siang dengan perasaan senang.

Sorenya aku dan Ray janjian di sebuah toko elektronik. Ray nggak bisa jemput aku karena ia harus bekerja dan hari ini sengaja izin pulang lebih cepat. Aku menunggu di foodcourt yang lumayan lenggang karena masih jam nya orang-orang di sekolah atau di kantor :) Sekitar 10 menit kemudian Ray datang, kami langsung mengobrol seru sambil berjalan menuju sebuah kios aksesoris HP. Ray pernah bilang bahwa suatu hari ia akan membelikanku casing HP berbentuk Minnie Mouse, dan aku senang sekali karena akhirnya saatnya tiba! Saking senangnya ketika aku mendapatkannya aku langsung pakai casingnya dan nggak mau dimasukan ke dalam tas. Aku menentengnya terus bahkan sampai kami berjalan kaki dan tiba di toko buku di gedung sebrang :D


Meet my new best friend: Minnie Mouse! :p


Sore itu aku mendapatkan banyak rezeki, banyak berkah. Well, mungkin bukan "mendapat", tapi "melihat" karena setiap hari seharusnya memang penuh dengan berkah. Tapi kali itu aku lebih menyadarinya, mataku menjadi lebih terbuka dan sensitif melihat apa yang kudapat. Aku dan Ray berada di depan tumpukan buku-buku obral. Kami seperti raksasa yang berdiri di antara gunung-gunung kecil. Kami mulai menggali dan memilih. Buku-buku nggak diletakan sesuai tema, harga apalagi disusun di rak. Semua benar-benar digeletakan begitu saja dan butuh kejelian bahwa di sana mungkin saja ada harta karun. Entah sudah berapa lama sampai tahu-tahu kakiku pegal dan aku mendapatkan dua buah buku seharga rp.20.000 dan rp. 5.000 saja! Buku yang kudapat pun bukan sembarangan, tapi best seller pada zamannya. Aku gembira sekali dan dengan bangga menunjukkan buku-buku itu berkali-kali pada Ray, berulang kali bercerita bahwa salah satu dari buku itu sudah difilmkan dan aku menyukainya. Ray juga mendapatkan buku yang ia inginkan, 1 buah buku resep memasak yang ia cari selama... aku lupa berapa lama, yang pasti cukup lama sampai aku minta kami segera pindah tempat, hehehe.
Berbelanja buku obral seperti ini bukan yang pertama kali kami lakukan. Kami sudah lakukan ini beberapa kali tapi baru kali ini aku sadar bahwa Tuhan mengganti sesuatu yang nggak aku punya dengan hal lain. Beberapa orang mungkin hanya punya waktu beberapa jam untuk mencari buku, tapi aku punya waktu sepanjang sore untuk berpetualang di tumpukan buku dan membawa pulang harta karun.


Harta karunku! Aku lebih dulu menonton film "Saving Shiloh" dan baru sekarang punya bukunya. 5 ribu saja! ;)


Kami memutuskan untuk makan malam di coffee shop dekat toko buku. Ketika kami berjalan tanpa sengaja mataku menangkap sesuatu yang rasanya familiar. Kami melewatinya, lalu aku tiba-tiba sangat ingin untuk menoleh. Ya, ampun! Ternyata ada poster "Waktu Aku sama Mika" di lorong toko buku! Sejak kapan ada di sana? Ya, ampun! Aku kaget sekali dan terharu. Posternya besar dan ada lampunya, sejajar dengan buku-buku best seller lain. Aku langsung berteriak-teriak nggak karuan, cepat-cepat menyerahkan HP ku pada Ray supaya ia mengambil fotoku. Ray juga senang dan terus-terusan berkata, "Congrats, Hon." Satpam yang berada di sana memperhatikan kami terus, aku pikir ia akan melarang kami menambil foto tapi rupanya malah tersenyum geli, hehehe. Orang-orang yang lalu-lalang pun memandang kami (well, terutama aku) dengan heran, tapi aku nggak peduli karena aku begitu senang. Selesai berfoto aku memandangi poster itu selama beberapa detik, membaca semua tulisan yang ada di sana dan melihat setiap detailnya. Ada gambar poster film Mika dan cover novel "Waktu Aku sama Mika" di sana. Juga ada gambar Vino dan Bastian dan Velove Vexia yang sedang makan pizza. Aku tersenyum bangga. Novelku masuk jajaran best seller dan difilmkan. Ini merupakan rezeki dari Tuhan. Ia memberikan banyak waktu luang setelah aku bekerja, jadi aku bisa menulis dan berkarya lebih banyak. Aku benar-benar bersyukur, Tuhan maha baik dengan memberikanku rezeki dari banyak pintu. Mungin sedikit aneh bahwa waktu itu aku bersyukur di depan poster, hehehe, tapi ini jadi pelajaran untukku bahwa setiap hal yang kulihat, setiap hal yang kurasakan selalu terselip rezeki dari Tuhan di sana. Dan kali ini aku melihatnya melalui sebuah poster.


"Waktu Aku sama Mika" dan "MIKA" the movie :)

Hahaha, gak bisa berhenti nyengir! :p

Pizza untuk moment istimewa!


Sebenarnya pasti hanya aku dan Ray yang tahu bahwa aku adalah penulis dari novel yang posternya dipajang di lorong. Tapi entah kenapa aku berjalan dengan bangga menuju coffee shop sambil terus tersenyum dan terkadang terkikik (lol, aku memang silly). Ketika sampai kami memesan pizza dan Ray mengucapkan selamat padaku sekali lagi. Pizza adalah makanan perayaan bagi kami. Tadinya bagiku karena setiap kali aku berulang tahun atau ada moment istimewa pasti memesan pizza (itulah kenapa pizza menjadi makanan icon film Mika dan novel Waktu Aku sama Mika, hehehe). Tapi setelah ada Ray pizza menjadi makanan istimewa untuk kami berdua :) Aku mendapatkan hari jumat yang menyenangkan. Aku mempunyai waktu berkualitas dengan Ray, mendapatkan hadiah kejutan (aww, Minnie Mouse, lol), berburu buku-buku bagus, melihat poster dengan namaku di sana dan makan pizza dengan keju yang banyak. Tapi yang paling istimewa adalah aku pulang ke rumah dengan membawa pelajaran berharga, bahwa rezeki bukan selalu tentang angka dan nggak ada satu makhluk Tuhan pun yang kekurangan. Jika aku nggak punya suatu hal, pasti Ia menggantinya dengan hal lain. Istimewa, khusus untukku. Aku juga percaya apapun pekerjaan yang kupunya, selama aku berusaha dan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, Tuhan akan mencukupkan apa yang aku butuhkan. Aku berjanji akan lebih membuka mata dan hati untuk melihat hal-hal yang ada di sekitarku. Tuhan memberikanku banyak rezeki: waktu, kesehatan (aku cukup fit untuk pengidap scoliosis 58 derajat), teman-teman yang baik, keluarga yang bahagia, sense of humor dan banyak lainnya. Dan... eh, tunggu! Aku menulis post ini di minggu malam. Ini adalah rezeki! Karena hari bekerjaku adalah selasa sampai jumat jadi aku punya 1 hari libur ekstra dibandingkan orang lain, hihihi... Tuhan, Kau memang maha baik! Lewat Miss. Rifa aku diingatkan apa itu rezeki. Terima kasih untuknya, dan aku merasa sangat blessed diberikan kesempatan untuk mengenalnya.

Waktu sudah semakin larut, sekarang sudah waktunya aku naik ke atas tempat tidur dan menyusup ke balik selimut. Aku masih punya waktu 1 hari penuh untuk beristirahat sebelum hari selasa mulai kembali bekerja. Ini rezeki. Dan Tuhan beri aku banyak :)


good night,
Indi

----------------------------------------------------------------

Instagram: @indisugarmika | YouTube: Indi Sugar Taufik

Jumat, 22 Maret 2013

Event Mangrovement bersama Green Smile: Langkah Kecil untuk Sesuatu yang Besar :)

Halo bloggies! Apa kabar? Wah, it's been a while ya gue nggak mampir ke blog ini dan jalan-jalan ke blog teman-teman. Sebenarnya gue ingin sekali, kalau bisa malah setiap hari, hihihi, tapi keadaan sedang nggak memungkinkan karena belakangan ini kegiatan gue bertambah. Well, sebenarnya ada waktu sih sepulang bekerja, tapi karena kelelahan gue nggak terpikir hal lain selain tidur :D Dan malam ini, gue sedang duduk di depan meja komputer kamar ditemani segelas teh dan sudah berpiyama, akhirnya punya waktu untuk bercerita pengalaman yang gue alami beberapa waktu lalu :)

Teman-teman tahukah bahwa sejak pertengahan tahun 2012 lalu gue menjadi volunteer di Green Smile? Green Smile adalah perkumpulan pemuda yang peduli terhadap lingkungan hidup yang berdiri sejak awal tahun 2012 lalu. Gue sendiri menjadi volunteer untuk menulis artikel-artikel tentang lingkungan, sesuai dengan profesi gue sebagai seorang penulis :D Meski gue peduli terhadap isu-isu tersebut tapi pengetahuan gue masih sangat sedikit. Melalui teman-teman lain di Green Smile lah gue banyak belajar hal baru. Jadi, kalau jika beberapa orang bergabung dengan komunitas lingkungan karena tahu banyak hal, gue malah sebaliknya, gue justru ingin belajar, hehehe :D

Selama ini yang gue tulis kebanyakan mengenai hal-hal sederhana yang bisa gue temui sehari-hari. Misalnya cara mengurangi sampah atau cara memanfaatkan kertas bekas. Untuk hal-hal lainnya gue selalu berpikir bahwa itu terlalu jauh dan sulit dilakukan oleh gue yang hanya satu orang ini. Sampai akhirnya gue diundang untuk menghadiri event Mangrovement yang diadakan oleh Green Smile bekerja sama dengan London School of Public Relation (LSPR 4C). Gue sama sekali nggak tahu apa itu mangrove, mendengar pun belum pernah. Jadi gue putuskan untuk mencari tahu dulu. Mangrove ternyata adalah tanaman bakau yang tumbuh diatas rawa-rawa wilayah air lainnya yang berfungsi sebagai pencegah abrasi, banjir, kerusakan alam dan lainnya. Sangat penting sekali, karena faktanya kerusakan 1 hektar mangrove setara dengan 5 hektar hutan Tropis!

Tanpa pikir-pikir lagi gue langsung sanggupi untuk menghadiri undangan ke event Mangrovement meski tahu bahwa medan yang ditempuh akan sangat berat. Penanaman mangrove diadakan di Kampung Garapan, Tanjung Pasir Tangerang. Daerah yang cukup pelosok dengan jalan-jalan berbatu yang tanpa aspal.

Pagi-pagi sekali pada tanggal 16 Maret gue diantar Bapak menggunakan mobil sedan kami. Sebenarnya kami sudah diperingatkan agar menggunakan mobil yang "tangguh" karena medannya akan sangat berat untuk ditaklukan mobil kecil. Tapi kami nggak punya pilihan, hanya ada 2 mobil di rumah dan dua-duanya berjenis sedan. Jadi kami putuskan untuk berharap yang terbaik dan jika ditengah perjalanan ada halangan kami akan menghubungi Green Smile untuk dijemput dengan motor, atau kalau itu nggak memungkinkan kami akan pulang lagi ke Bandung, yang penting sudah mencoba :) Syukurlah perjalanan cukup lancar. Terutama pada awal-awal perjalanan. Cuaca sangat cerah dan lalu lintas nggak begitu padat. Hanya ketika mendekati daerah tanjung pasir, kami sempat salah jalan beberapa kali meski berbekal peta yang sudah diberikan sebelum acara, hehehe. Sampai-sampai kami harus dijemput dan "dikawal" sampai lokasi karena teman-teman Green Smile khawatir kami nggak kunjung tiba padahal acara sudah dimulai 1 jam. Waktu tempuh kami juga terhambat oleh medannya yang berat, mobil kecil kami hanya bisa melaju pelan-pelan dan terombang-ambing :p

Medannya cukup sulit bahkan ketika gue sudah sampai, harus lewati jembatan bambu! :)

Ketika tiba di lokasi, ternyata gue sudah melewatkan sambutan dari Dadang Irawan, pembina dari Green Smile dan beberapa moment lainnya. Sebagian besar undangan dan partisipan sudah mulai menanam mangrove, bahkan ada yang sudah mulai bersih-bersih. Gue berpapasan dengan Mariska Sarika (Putri Indonesia Lingkungan Hidup 2013) yang sudah belepotan lumpur sementara gue masih bersih dan aman dibalik lindungan payung, hihihi, jadi malu :D Oya, di event ini juga turut hadir anggota komunitas-komunitas hijau dari Jakarta dan Tangerang, Mr. Luciano Da Silva (Honorary Consul of Indonesia in Portugal), Satrio (Direktur B Channel), Jeane Rosita Gunawan (Favorit Cici Jakarta 2012), Ongkodiputra Aries Surya (Finalis Koko Jakarta 2012), Laurencia Stephanie (Finalis Cici Jakarta 2012) dan para volunteer dari kalangan TNI serta warga sekitar. Kurang lebih ada 250 orang yang terlibat untuk menanam 10.000 mangrove.

Warga sekitar juga turut terlibat :)
Rombongan Cici dan Koko :)

Gue nggak betah bersih lama-lama (lol), Liza dari Green Smile langsung mengantar gue melihat-lihat lokasi dan bercerita sedikit tentang event mangrovement ini. Rupanya kenapa Tanjung Pasir yang dipilih itu karena dulu daerah ini hijau, tapi sekarang gersang dan bahkan akibat punahnya pohon magrove di sana abrasi sudah mencapai lebih dari 1 km dan masyarakat kesulitan untuk mendapatkan air bersih. So sad... Karena meski udara begitu kering dan terik gue masih bisa melihat sisa-sisa keindahan Tanjung Pasir :') Liza menunjukan bibit pohon mangrove pada gue, ternyata ukurannya sangat kecil dan terlihat rapuh. Tapi siapa sangka ketika tumbuh bisa menjadi kuat dan bisa mencegah abrasi. Gue langsung mengambil satu pohon dan siap untuk terjun ke air, tapi ups, gue nggak bawa baju dalam cadangan! Untunglah gue diberi tahu lagi bahwa menamam mangrove nggak sulit, selain ditancapkan langsung tapi bisa juga dilempar dengan jarak yang sudah diatur. Wah, siapa sangka pohon yang sangat hebat ini ternyata mudah sekali ditanam :D

Bersama Liza yang sangat sigap mengantar gue melihat-lihat lokasi :)

Lihat gue pegang apa :D

Suasana yang menyenangkan dan penuh keakraban membuat gue lupa dengan matahari yang bersinar terik (sudah tengah hari!), kulit gue terbakar dan sepatu gue penuh dengan tanah lengket, tapi gue sangat ceria dan bersemangat. Bahkan ketika tim Metro Tv menghampiri gue untuk interview, yang gue katakan pertama adalah tentang betapa senangnya gue terlibat di event ini. Gue benar-benar nggak menyangka bisa terlibat di sini, maksudnya, gue selama ini memang ingin melakukan sesuatu untuk lingkungan hidup, tapi yang terpikir hanya hal-hal sederhana yang ada di sekitar gue. Ternyata dengan melihat sedikit keluar, di balik tumpukan kertas dan sampah-sampah yang gue temui sehari-hari ada hal lain yang bisa gue lakukan dan caranya ternyata nggak sesulit yang gue bayangkan.

Yang di sebelah kanan itu Dani Pratomo direktur eksekutif Green Smile :)



Event mangrovement ini mempengaruhi gue dalam banyak hal, pengetahuan gue bertambah dan memberikan gue ide-ide tulisan dengan tema yang lebih luas. Tapi yang terpenting adalah gue jadi tahu bahwa untuk melakukan perubahan besar nggak perlu sesuatu yang besar dan sederhana bukan berarti dekat, karena alam adalah suatu kesatuan yang saling mempengaruhi. Event ini dihadiri oleh ratusan anak muda dan mampu menanam 10.000 pohon mangrove. Bayangkan jika beberapa dari mereka memberitahu temannya yang lain tentang apa yang baru mereka lakukan, mungkin akan ada yang terinspirasi. Dari 10.000 menjadi 15.000 pohon mangrove dan seterusnya. Kita nggak pernah tahu, dan yang bisa dilakukan adalah menularkan semangat positif untuk menjaga lingkungan kita. Setelah event ini gue jadi semangat untuk mencari tahu tentang tanaman-tanaman yang bermanfaat. Nggak semua tempat bisa ditanami mangrove, tapi gue selalu bisa memulai dari yang paling dekat, gue akan mencari tahu tanaman apa yang bisa gue tanam di halaman rumah.

Bangga, ya? :)



Gue rasa semuanya adalah tentang mempengaruhi, jika teman-teman-teman yang hadir di event ini nggak berhenti berbagi cerita pengamalamannya, pasti "trend" positif ini semakin meluas. Bukan nggak mungkin bumi akan tersenyum senang. Dan sekali lagi, ini semua tentang pengaruh, bayangkan apa pengaruhnya bagi kita jika bumi yang kita tinggali "tersenyum" :) Mungkin hasilnya nggak akan instan, tapi gue ingin sekali bumi menjadi tempat yang lebih baik bagi generasi selanjutnya.Kalian juga, kan? :)

go green, and keep smile,

Indi


Jika teman-teman ingin tahu lebih banyak tentang Green Smile dan kegiatannya, silakan kunjugi situsnya di sini. Dan untuk membaca tulisan-tulisan gue silakan search dengan kata kunci "Indi Taufik".
____________________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 10 Maret 2013

Pelajaran Berharga dari Bapak, Aerosmith dan Mika

"Pak, nanti aku mau ketemu Aerosmith. Kalau mereka nggak ke Indonesia tetap aku kejar, deh asalkan masih di Malaysia dan Singapur".

"Memang kamu punya uang? Sudah nggak takut lagi naik pesawat?"

"Ya... aku kan nabung. Naik pesawat juga nggak apa-apa, asal aku ketemu Steven Tyler. Tapi nanti temani, ya Pak?"

"Memang kapan Aerosmith mau datang?"

"Nggak tahu... Kan baru khayalan... Pokoknya temani, ya?"

"Iya..."


Itulah percakapan random-berulang gue dengan Bapak. Di perjalanan menuju mall. Di perjalanan menuju tempat kerja. Di sela-sela menonton TV. Selalu saja gue mengulang menyebutkan khayalan gue tentang bertemu Aerosmith. Bagaimana nggak, gue sudah menyukai band rock asal Amerika itu sejak gue berusia 7 tahun. Gue mengoleksi CD, kaset, poster, kaos, topi, dan... apapun, apapun itu asalkan tentang Aerosmith. Mungkin diantara teman-teman bloggies ada yang sudah tahu kenapa gue sangat menyukai Aerosmith. Gue bahkan pernah menulis tentang itu di sini. Gue menyukai mereka bukan sekedar karena musik mereka bagus atau personel mereka keren, tapi juga karena pengalaman pribadi gue sebagai remaja yang mirip dengan Steven Tyler, vokalis mereka yang juga personel favorit gue. Mereka adalah band besar dengan penggemar yang banyak, dan mempunyai masa lalu sebagai anak sekolah biasa (bukan yang popular) yang memberi bukti bahwa siapapun bisa menjadi something meski banyak orang yang menganggap sepele :)

Bapak sering menggoda gue dengan bertanya siapa saja musisi atau band yang ingin gue datangi konsernya selain Aerosmith. Kalau sudah begitu gue pasti pura-pura ngambek karena artinya Bapak secara nggak langsung bilang bahwa gue nggak akan pernah bertemu Aerosmith, hehehe. Tapi meski begitu gue tetap menjawab pertanyaan beliau. "Michael Jackson, Red Hot Chili Peppers dan Mika". Begitulah jawaban gue. Bapak bilang, salah kalau gue menjawab Michael Jackson karena ia sudah meninggal, dan untuk jawaban Red Hot Chili Peppers gue juga harus pikir-pikir lagi karena John Frusciante, gitaris favorit gue sudah nggak di sana. Akhirnya gue ralat kembali jawabannya. Gue bilang, "Kalau bukan Aerosmith itu artinya harus Mika!"
Berada di dunia khayalan bersama Bapak memang selalu terasa menyenangkan. Membuat gue merasa jadi gadis kecilnya Bapak untuk waktu yang nggak pernah berakhir :)

Gue memang punya banyak idola, tapi grup band idola gue yang nomor satu selalu Aerosmith. Semua orang juga tahu. Hehe, at least semua teman-teman sekolah dan keluarga besar sudah tahu. Sampai-sampai Aerosmith begitu identik dengan gue. Waktu gue bergabung dalam kelompok paduan suara gue selalu dipanggil "Smith" kependekan dari Aerosmith untuk membedakan gue dengan anggota lain yang juga bernama "Indi". Waktu SMA gue juga dipanggil "Steve" kependekan dari Steven Tyler dengan alasan yang juga sama. Gue nggak kesal karena nggak menjadi "Indi" satu-satunya, sebaliknya gue merasa bangga karena disamakan dengan band yang di mata gue sangat tangguh. Mereka pernah mengalami kecelakaan parah, terlibat narkoba, bahkan diserang oleh penyakit yang nggak bisa dibilang ringan. Tapi mereka berhasil bangkit dan bertahan sampai sekarang. Gue anggap itu sebagai doa agar gue sekuat mereka :)

Selain Aerosmith gue juga menyukai Michael Jackson, Red Hot Chili Peppers (era alm. Slovak dan Frusciante), Queen, Beatles, Mika dan banyak lagi. Tapi entahlah konser yang sangat ingin gue datangi hanya Aerosmith dan Mika (tapi kalau John Frusciante masih di RHCP pasti lain cerita, lol), yang lainnya rasanya cukup gue lihat di video sekalipun seandainya mereka masih aktif menggelar konser. Ngomong-ngomong soal Mika, sepertinya memang jarang yang tahu bahwa gue menyukai musiknya. Setiap kali gue menyebut nama "Mika" pasti yang diingat lebih dulu adalah almarhum Mika, pacar gue ketika SMA yang menjadi inspirasi dalam menulis novel (dan sekarang ada versi layar lebarnya juga) :) Bahkan orang-orang di sekitar gue pun sering menyangka bahwa gue sedang membicarakan Mika yang sudah almarhum ketika gue membicarakan Mika yang musisi asal Lebanon itu, hehehe. Tapi sebenarnya memang ada hubungannya diantara kedua Mika itu. Mereka memang nggak saling mengenal, tapi gue mempunyai cerita istimewa dibaliknya. Jadi pada tahun 2006 gue memutuskan untuk membagi kisah tentang alm. Mika di blog jejaring sosial gue. Waktu itu banyak pembaca yang berkomentar bahwa nama "Mika" terdengar janggal untu seorang laki-laki. Tapi gue bilang bahwa itu memang nama pemberian dari orang tuanya, dan di suatu tempat, di belahan dunia sana pasti ada orang yang juga bernama Mika. Lalu satu tahun kemudian, ketika gue membaca sebuah majalah remaja, ada artikel singkat dengan judul yang ditulis dengan huruf kapital berwarna merah: MIKA. Gue langsung tersenyum karena itu adalah nama yang sama dengan laki-laki yang membuat gue bahagia selama 3 tahun yang penuh berkah sebelum akhirnya ia pulang karena mengalah dengan AIDS nya. Gue langsung menunjukan artikel itu pada Silmi sepupu gue, dan di malam yang sama kami langsung menonton videonya di MTV. Gue langsung menyukai musiknya dan memutuskan untuk membeli CD nya satu minggu kemudian. Meski diselingi kontroversi, bagi gue banyak lirik-lirik lagu Mika yang menginspirasi :) Somehow ada sedikit tentang Mika yang mengingatkan gue pada alm. Mika. Mungkin rambut ikalnya yang panjang dan badannya yang kurus :)

Jadi beberapa waktu yang lalu ketika gue mendapat kabar bahwa Mika akan datang ke Indonesia, percakapan random-berulang dengan Bapak pun sedikit berubah...

"Pak, siapa idola nomor 1 aku?"

"Aerosmith".

"Kalau nomor dua?"

"Karena Red Hot Chili Peppers sudah keluar list, ya pasti Mika".

"Kalau Mika ke sini gimana, Pak?"

"Ah, bohong!"

"Beneran ini Pak! Akhirnya ada juga idolaku yang datang ke Indonesia, hehehe. Boleh nonton, nggak?"

"Boleh. Kalau nunggu Aerosmith takutnya nggak akan pernah datang".

"Ih, Bapak...."


Dan kami pun tertawa.

Sebelum pengumuman kapan tiketnya mulai dijual, gue dan Bapak nggak bisa berhenti membicarakan tentang konser Mika. Kami mendengar CD-CD nya saat perjalanan ke tempat bekerja dan mulai mengkhayal tentang baju yang akan gue pakai nanti. Karena gue senang mendesain baju gue bilang bahwa gue akan memakai baju seperti gadis kecil di video klip "Grace Kelly", hihihi, seru sekali :) Lalu  ketika akhirnya voucher tiket (pre sale) mulai dijual, gue langsung mencari info tentang dimana bisa mendapatkannya. Tapi ternyata hasilnya membuat gue sedih, voucher tiket hanya bisa dibeli di salah satu cabang Seven Eleven di Jakarta selama 24 jam, selebihnya berlaku harga normal. Gue yang tinggal di Bandung dan bekerja sampai sore bingung bukan main. Bagaimana caranya supaya gue mendapatkan tiket sebelum jam 12 malam? Apakah gue harus menempuh perjalanan Bandung-Jakarta dan mengabaikan kesehatan gue? Gue meminta pendapat pada Bapak dan Ibu tentang jalan keluarnya, tapi mereka juga sama kebingungannya seperti gue. Ketika waktu menunjukan jam 8 malam rasa sedih gue semakin besar, gue mulai menangis sendirian di dalam kamar dan berdoa pada Tuhan untuk jalan yang terbaik. Mungkin terdengar konyol karena ini hanya sebuah konser, tapi gue adalah tipe orang rela menabung untuk dipakai di moment yang jarang terjadi, dan sekarang lah moment itu akhirnya tiba. Lalu tanpa disangka-sangka, Gina, salah seorang sepupu gue yang tinggal di Jakarta bersedia mampir ke Seven Eleven dan membelikan vouchernya untuk gue. Bukan proses yang mudah karena tanda pengenal yang dipakai harus sama dengan tanda pengenal yang dibawa ketika menonton konser. Dengan bantuan Gina dan kebaikan pegawai Seven Eleven (mereka membantu via twitter dan telepon, how sweet!), akhirnya gue mendapatkan voucher itu meski tanda pengenal yang digunakan dikirim melalui foto, hehehe. Gue senang sekali dan bersyukur. Akhirnya, mungkin ini adalah kesempatan sekali seumur hidup, gue akan bertemu idola gue :)

Tanpa sengaja gue bikin dress seperti si gadis lolipop'nya Mika :) Btw, kelihatan banget gue baru nangis, hihi..

Meski konsernya masih 2 bulan lagi, Ibu sudah kasih banyak wejangan sama gue. Nanti gue nggak boleh pisah sama Bapak, nanti harus pakai stocking yang tebal, dan banyak lagi, hehehe. Gue menanggapinya dengan senyuman karena tahu Ibu nggak akan melarang gue nonton konser, beliau mengerti bahwa kesempatan gue bertemu salah satu idola gue sangat langka.
Di tengah kebahagiaan gue tiba-tiba ada kabar mengejutkan. Well, seharusnya sih menggembirakan seandainya waktunya tepat...
Waktu di mobil, di perjalanan menuju sebuah toko elektronik bersama Bapak, handphone gue bunyi terus-terusan. Aneh, inbox di facebook, mention di twitter, BBM dan lain sebagainya menerima laporan dalam waktu bersamaan. Karena penasaran gue langsung membuka pesan yang paling baru masuk. Isi pesan itu membuat perasaan gue campur aduk, tapi gue putuskan untuk membaca dulu sisanya karena siapa tahu hanya candaan. Sampai seluruh pesan terbaca, isinya ternyata sama. Semuanya memberi tahu berita yang mereka pikir akan membuat gue berteriak histeris: Aerosmith akhirnya akan datang ke Indonesia.
Di waktu yang bersamaan dengan Mika...Tanggalnya, bulannya... Tepat sama.

Gue nggak berteriak histeris. Butuh waktu beberapa menit sebelum gue membacakan pesan yang masuk satu per satu pada Bapak. Bahkan waktu gue membaca pun perasaan gue masih bingung, apakah gue sedang senang atau sedih. Bapak nggak percaya dengan apa yang didengarnya. Beliau pikir gue becanda, tapi setelah melihat wajah gue yang serius dan memerah karena menahan tangis, Bapak akhirnya percaya.

"Kamu senang nggak mau ketemu Aerosmith?"

"Waktunya bersamaan dengan konser Mika, Pak..."

"Iya, tapi kamu senang nggak? Kan sudah nunggu berapa tahun? Hampir 20 tahun, ya?"


Gue terdiam, bertanya pada hati gue sendiri. Apakah gue senang? Apakah gue senang?...
"Iya, Pak senang, aku nanti minta Steven Tyler tandatangani lengan aku ya? Terus aku jadikan tato permanen, boleh?"


Bapak tertawa.

"Tapi konser Mika nya gimana, Pak? Kan sudah beli tiket..."

"Jangan dulu dipikirkan, nikmati saja dulu perasaan senangnya..."

Dengan sebagian kecil koleksi Aerosmith gue. Iya, gue punya banyak karena mengumpulkan sejak umur 7 :)

Gue senang, senang, senaaaaang sekali. Bayangkan, gue menunggu kesempatan untuk bertemu Aerosmith sejak gue berusia 7 tahun dan sekarang akhirnya hampir terwujud. Tapi di sisi lain gue sangat kebingungan karena gue sudah membeli tiket konser Mika dan meskipun baru mengenal Mika selama 6 tahun tapi gue sudah jatuh cinta dengan musiknya. Saking bingungnya gue jadi takut untuk bermimpi bisa bertemu dengan Aerosmith. They're my number one idol, akan sangat menyedihkan jika ingat gue nggak bisa bertemu mereka. Bapak sempat menggoda gue bahwa inilah rasanya galau. Gue belum pernah merasa galau karena seorang pemuda dan sekarang gue galau karena laki-laki yang usianya jauh lebih tua dari Bapak. Beliau pikir ini lucu, tapi gue hanya bisa tersenyum sedikit :') Bapak bertanya, seandainya gue belum membeli tiket Mika, manakah yang akan gue pilih, konser Aerosmith atau Mika. Dengan mantap gue menjawab tentu saja konser Aerosmith. Lalu Bapak dengan ringan menanggapi jawaban gue, "Kalau begitu, pilihlah Aerosmith!"

Gue masih bingung, tapi sepertinya Bapak benar. Yang harus gue lakukan adalah bertanya pada diri sendiri tentang apa yang gue inginkan. Gue menginginkan Aerosmith, gue sudah tahu itu sejak hampir dari 20 tahun yang lalu. Lalu kenapa sekarang ragu? Pasti karena tiket Mika yang sudah gue beli. Gue sudah membeli dua buah tiket dari hasil menabung. Iya, dua buah karena gue ingin sekali mengajak Bapak. Akan gue kemanakan tiketnya? Haruskah gue beri pada orang yang gue percaya karena nanti harus membawa kartu identitas gue ketika menonton konser? Ketika hati gue semakin bertanya-tanya, gue ulang kembali satu buah pertanyaan yang ditekankan oleh Bapak. "Apa yang gue mau? Apa yang gue mau? Apa yang gue mau?". Pikiran gue kembali ke masa kecil gue, moment dimana pertama kali gue melihat video klip Aerosmith dan jatuh cinta dengan lirik "Livin' on the Edge"...
"Gue pilih karena gue menginginkannya. Gue pilih Aerosmith".

Bapak bilang seharusnya gue nggak bingung ketika Mika dan Aerosmith datang secara bersamaan, tapi seharusnya gue bersyukur. Gue sering berdoa bahwa suatu hari idola-idola gue datang ke Indonesia, dan sekarang menjadi kenyataan. Bapak bilang ini kesempatan gue untuk belajar memilih. Mungkin akan ada yang dikorbankan tapi pilihan harus tetap diambil, atau gue nggak akan mendapatkan apa-apa sama sekali. Mungkin bagi orang lain ini hanya sebuah konser, bukan hal serius yang perlu dipikirkan sungguh-sungguh. Tapi Bapak melihatnya lebih dari itu. Konser dan hal lain yang terjadi dalam hidup semuanya harus dilewati, kita nggak bisa lari dari itu, dan dalam prosesnya sering kali kita dihadapkan dengan pilihan. Lucu, tapi sepertinya benar, Aerosmith dan Mika membantu proses pendewasaan gue.

Gue nggak akan melihat konser warna-warni ala Mika dan memakai dress ala gadis kecil di video klip "Grace Kelly". Gue juga nggak akan mendengar Mika bernyanyi lagu "Elle Me Dit" yang sudah gue hapalkan jauh-jauh hari untuk sing along bersamanya. Tapi Bapak bilang jangan ingat-ingat apa yang gue lewatkan, tapi pikirkan apa yang akan gue dapatkan nanti. Gue akhirnya akan bertemu dengan idola masa kecil gue. Dapat sebuah tato, mungkin, lol. Dan akan berteriak "Honey!" ketika Aerosmith membawakan lagu "Crazy". Sekali lagi, dari setiap pilihan pasti akan ada yang dikorbankan, kita nggak bisa dapat semua yang kita mau tapi kita selalu bisa menikmati apa yang kita dapat. Semalam dengan bantuan seorang teman gue berhasil membeli 2 buah voucher tiket Aerosmith untuk gue dan Bapak. Sempat bingung untuk memilih antara VIP dan premium. Tapi kali ini gue yang memutuskan sendiri. Gue pilih premium. Gue memang akan melewatkan makanan gratis dan tempat duduk ala VIP, tapi gue mendapatkan akses untuk berdiri dekat dengan panggung dan dapat kesempatan lebih besar untuk menangkap harmonika, selendang atau topi jika Steven Tyler melemparnya atau nggak sengaja menjatuhkannya, lol. Gue nggak pernah menyangka Aerosmith dan Mika bisa memberikan gue pelajaran sebesar ini. Melalui Bapak mereka telah mengajarkan sebuah hal penting yang disebut dengan pilihan :)

"Pak, sebetulnya aku masih ada sedih 1 persen lho karena nggak jadi nonton Mika..."

"Masa? Kan dulu kamu hampir tiap hari ketemu Mika, sampai bolos sekolah segala, hahaha".

"Ih, bukan Mika yang itu, Bapaaaaaak..."


:D




walk this way,
INDI

twitter: here
facebook: here
contact person: 081322339469