Jumat, 22 Maret 2013

Event Mangrovement bersama Green Smile: Langkah Kecil untuk Sesuatu yang Besar :)

Halo bloggies! Apa kabar? Wah, it's been a while ya gue nggak mampir ke blog ini dan jalan-jalan ke blog teman-teman. Sebenarnya gue ingin sekali, kalau bisa malah setiap hari, hihihi, tapi keadaan sedang nggak memungkinkan karena belakangan ini kegiatan gue bertambah. Well, sebenarnya ada waktu sih sepulang bekerja, tapi karena kelelahan gue nggak terpikir hal lain selain tidur :D Dan malam ini, gue sedang duduk di depan meja komputer kamar ditemani segelas teh dan sudah berpiyama, akhirnya punya waktu untuk bercerita pengalaman yang gue alami beberapa waktu lalu :)

Teman-teman tahukah bahwa sejak pertengahan tahun 2012 lalu gue menjadi volunteer di Green Smile? Green Smile adalah perkumpulan pemuda yang peduli terhadap lingkungan hidup yang berdiri sejak awal tahun 2012 lalu. Gue sendiri menjadi volunteer untuk menulis artikel-artikel tentang lingkungan, sesuai dengan profesi gue sebagai seorang penulis :D Meski gue peduli terhadap isu-isu tersebut tapi pengetahuan gue masih sangat sedikit. Melalui teman-teman lain di Green Smile lah gue banyak belajar hal baru. Jadi, kalau jika beberapa orang bergabung dengan komunitas lingkungan karena tahu banyak hal, gue malah sebaliknya, gue justru ingin belajar, hehehe :D

Selama ini yang gue tulis kebanyakan mengenai hal-hal sederhana yang bisa gue temui sehari-hari. Misalnya cara mengurangi sampah atau cara memanfaatkan kertas bekas. Untuk hal-hal lainnya gue selalu berpikir bahwa itu terlalu jauh dan sulit dilakukan oleh gue yang hanya satu orang ini. Sampai akhirnya gue diundang untuk menghadiri event Mangrovement yang diadakan oleh Green Smile bekerja sama dengan London School of Public Relation (LSPR 4C). Gue sama sekali nggak tahu apa itu mangrove, mendengar pun belum pernah. Jadi gue putuskan untuk mencari tahu dulu. Mangrove ternyata adalah tanaman bakau yang tumbuh diatas rawa-rawa wilayah air lainnya yang berfungsi sebagai pencegah abrasi, banjir, kerusakan alam dan lainnya. Sangat penting sekali, karena faktanya kerusakan 1 hektar mangrove setara dengan 5 hektar hutan Tropis!

Tanpa pikir-pikir lagi gue langsung sanggupi untuk menghadiri undangan ke event Mangrovement meski tahu bahwa medan yang ditempuh akan sangat berat. Penanaman mangrove diadakan di Kampung Garapan, Tanjung Pasir Tangerang. Daerah yang cukup pelosok dengan jalan-jalan berbatu yang tanpa aspal.

Pagi-pagi sekali pada tanggal 16 Maret gue diantar Bapak menggunakan mobil sedan kami. Sebenarnya kami sudah diperingatkan agar menggunakan mobil yang "tangguh" karena medannya akan sangat berat untuk ditaklukan mobil kecil. Tapi kami nggak punya pilihan, hanya ada 2 mobil di rumah dan dua-duanya berjenis sedan. Jadi kami putuskan untuk berharap yang terbaik dan jika ditengah perjalanan ada halangan kami akan menghubungi Green Smile untuk dijemput dengan motor, atau kalau itu nggak memungkinkan kami akan pulang lagi ke Bandung, yang penting sudah mencoba :) Syukurlah perjalanan cukup lancar. Terutama pada awal-awal perjalanan. Cuaca sangat cerah dan lalu lintas nggak begitu padat. Hanya ketika mendekati daerah tanjung pasir, kami sempat salah jalan beberapa kali meski berbekal peta yang sudah diberikan sebelum acara, hehehe. Sampai-sampai kami harus dijemput dan "dikawal" sampai lokasi karena teman-teman Green Smile khawatir kami nggak kunjung tiba padahal acara sudah dimulai 1 jam. Waktu tempuh kami juga terhambat oleh medannya yang berat, mobil kecil kami hanya bisa melaju pelan-pelan dan terombang-ambing :p

Medannya cukup sulit bahkan ketika gue sudah sampai, harus lewati jembatan bambu! :)

Ketika tiba di lokasi, ternyata gue sudah melewatkan sambutan dari Dadang Irawan, pembina dari Green Smile dan beberapa moment lainnya. Sebagian besar undangan dan partisipan sudah mulai menanam mangrove, bahkan ada yang sudah mulai bersih-bersih. Gue berpapasan dengan Mariska Sarika (Putri Indonesia Lingkungan Hidup 2013) yang sudah belepotan lumpur sementara gue masih bersih dan aman dibalik lindungan payung, hihihi, jadi malu :D Oya, di event ini juga turut hadir anggota komunitas-komunitas hijau dari Jakarta dan Tangerang, Mr. Luciano Da Silva (Honorary Consul of Indonesia in Portugal), Satrio (Direktur B Channel), Jeane Rosita Gunawan (Favorit Cici Jakarta 2012), Ongkodiputra Aries Surya (Finalis Koko Jakarta 2012), Laurencia Stephanie (Finalis Cici Jakarta 2012) dan para volunteer dari kalangan TNI serta warga sekitar. Kurang lebih ada 250 orang yang terlibat untuk menanam 10.000 mangrove.

Warga sekitar juga turut terlibat :)
Rombongan Cici dan Koko :)

Gue nggak betah bersih lama-lama (lol), Liza dari Green Smile langsung mengantar gue melihat-lihat lokasi dan bercerita sedikit tentang event mangrovement ini. Rupanya kenapa Tanjung Pasir yang dipilih itu karena dulu daerah ini hijau, tapi sekarang gersang dan bahkan akibat punahnya pohon magrove di sana abrasi sudah mencapai lebih dari 1 km dan masyarakat kesulitan untuk mendapatkan air bersih. So sad... Karena meski udara begitu kering dan terik gue masih bisa melihat sisa-sisa keindahan Tanjung Pasir :') Liza menunjukan bibit pohon mangrove pada gue, ternyata ukurannya sangat kecil dan terlihat rapuh. Tapi siapa sangka ketika tumbuh bisa menjadi kuat dan bisa mencegah abrasi. Gue langsung mengambil satu pohon dan siap untuk terjun ke air, tapi ups, gue nggak bawa baju dalam cadangan! Untunglah gue diberi tahu lagi bahwa menamam mangrove nggak sulit, selain ditancapkan langsung tapi bisa juga dilempar dengan jarak yang sudah diatur. Wah, siapa sangka pohon yang sangat hebat ini ternyata mudah sekali ditanam :D

Bersama Liza yang sangat sigap mengantar gue melihat-lihat lokasi :)

Lihat gue pegang apa :D

Suasana yang menyenangkan dan penuh keakraban membuat gue lupa dengan matahari yang bersinar terik (sudah tengah hari!), kulit gue terbakar dan sepatu gue penuh dengan tanah lengket, tapi gue sangat ceria dan bersemangat. Bahkan ketika tim Metro Tv menghampiri gue untuk interview, yang gue katakan pertama adalah tentang betapa senangnya gue terlibat di event ini. Gue benar-benar nggak menyangka bisa terlibat di sini, maksudnya, gue selama ini memang ingin melakukan sesuatu untuk lingkungan hidup, tapi yang terpikir hanya hal-hal sederhana yang ada di sekitar gue. Ternyata dengan melihat sedikit keluar, di balik tumpukan kertas dan sampah-sampah yang gue temui sehari-hari ada hal lain yang bisa gue lakukan dan caranya ternyata nggak sesulit yang gue bayangkan.

Yang di sebelah kanan itu Dani Pratomo direktur eksekutif Green Smile :)



Event mangrovement ini mempengaruhi gue dalam banyak hal, pengetahuan gue bertambah dan memberikan gue ide-ide tulisan dengan tema yang lebih luas. Tapi yang terpenting adalah gue jadi tahu bahwa untuk melakukan perubahan besar nggak perlu sesuatu yang besar dan sederhana bukan berarti dekat, karena alam adalah suatu kesatuan yang saling mempengaruhi. Event ini dihadiri oleh ratusan anak muda dan mampu menanam 10.000 pohon mangrove. Bayangkan jika beberapa dari mereka memberitahu temannya yang lain tentang apa yang baru mereka lakukan, mungkin akan ada yang terinspirasi. Dari 10.000 menjadi 15.000 pohon mangrove dan seterusnya. Kita nggak pernah tahu, dan yang bisa dilakukan adalah menularkan semangat positif untuk menjaga lingkungan kita. Setelah event ini gue jadi semangat untuk mencari tahu tentang tanaman-tanaman yang bermanfaat. Nggak semua tempat bisa ditanami mangrove, tapi gue selalu bisa memulai dari yang paling dekat, gue akan mencari tahu tanaman apa yang bisa gue tanam di halaman rumah.

Bangga, ya? :)



Gue rasa semuanya adalah tentang mempengaruhi, jika teman-teman-teman yang hadir di event ini nggak berhenti berbagi cerita pengamalamannya, pasti "trend" positif ini semakin meluas. Bukan nggak mungkin bumi akan tersenyum senang. Dan sekali lagi, ini semua tentang pengaruh, bayangkan apa pengaruhnya bagi kita jika bumi yang kita tinggali "tersenyum" :) Mungkin hasilnya nggak akan instan, tapi gue ingin sekali bumi menjadi tempat yang lebih baik bagi generasi selanjutnya.Kalian juga, kan? :)

go green, and keep smile,

Indi


Jika teman-teman ingin tahu lebih banyak tentang Green Smile dan kegiatannya, silakan kunjugi situsnya di sini. Dan untuk membaca tulisan-tulisan gue silakan search dengan kata kunci "Indi Taufik".
____________________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 10 Maret 2013

Pelajaran Berharga dari Bapak, Aerosmith dan Mika

"Pak, nanti aku mau ketemu Aerosmith. Kalau mereka nggak ke Indonesia tetap aku kejar, deh asalkan masih di Malaysia dan Singapur".

"Memang kamu punya uang? Sudah nggak takut lagi naik pesawat?"

"Ya... aku kan nabung. Naik pesawat juga nggak apa-apa, asal aku ketemu Steven Tyler. Tapi nanti temani, ya Pak?"

"Memang kapan Aerosmith mau datang?"

"Nggak tahu... Kan baru khayalan... Pokoknya temani, ya?"

"Iya..."


Itulah percakapan random-berulang gue dengan Bapak. Di perjalanan menuju mall. Di perjalanan menuju tempat kerja. Di sela-sela menonton TV. Selalu saja gue mengulang menyebutkan khayalan gue tentang bertemu Aerosmith. Bagaimana nggak, gue sudah menyukai band rock asal Amerika itu sejak gue berusia 7 tahun. Gue mengoleksi CD, kaset, poster, kaos, topi, dan... apapun, apapun itu asalkan tentang Aerosmith. Mungkin diantara teman-teman bloggies ada yang sudah tahu kenapa gue sangat menyukai Aerosmith. Gue bahkan pernah menulis tentang itu di sini. Gue menyukai mereka bukan sekedar karena musik mereka bagus atau personel mereka keren, tapi juga karena pengalaman pribadi gue sebagai remaja yang mirip dengan Steven Tyler, vokalis mereka yang juga personel favorit gue. Mereka adalah band besar dengan penggemar yang banyak, dan mempunyai masa lalu sebagai anak sekolah biasa (bukan yang popular) yang memberi bukti bahwa siapapun bisa menjadi something meski banyak orang yang menganggap sepele :)

Bapak sering menggoda gue dengan bertanya siapa saja musisi atau band yang ingin gue datangi konsernya selain Aerosmith. Kalau sudah begitu gue pasti pura-pura ngambek karena artinya Bapak secara nggak langsung bilang bahwa gue nggak akan pernah bertemu Aerosmith, hehehe. Tapi meski begitu gue tetap menjawab pertanyaan beliau. "Michael Jackson, Red Hot Chili Peppers dan Mika". Begitulah jawaban gue. Bapak bilang, salah kalau gue menjawab Michael Jackson karena ia sudah meninggal, dan untuk jawaban Red Hot Chili Peppers gue juga harus pikir-pikir lagi karena John Frusciante, gitaris favorit gue sudah nggak di sana. Akhirnya gue ralat kembali jawabannya. Gue bilang, "Kalau bukan Aerosmith itu artinya harus Mika!"
Berada di dunia khayalan bersama Bapak memang selalu terasa menyenangkan. Membuat gue merasa jadi gadis kecilnya Bapak untuk waktu yang nggak pernah berakhir :)

Gue memang punya banyak idola, tapi grup band idola gue yang nomor satu selalu Aerosmith. Semua orang juga tahu. Hehe, at least semua teman-teman sekolah dan keluarga besar sudah tahu. Sampai-sampai Aerosmith begitu identik dengan gue. Waktu gue bergabung dalam kelompok paduan suara gue selalu dipanggil "Smith" kependekan dari Aerosmith untuk membedakan gue dengan anggota lain yang juga bernama "Indi". Waktu SMA gue juga dipanggil "Steve" kependekan dari Steven Tyler dengan alasan yang juga sama. Gue nggak kesal karena nggak menjadi "Indi" satu-satunya, sebaliknya gue merasa bangga karena disamakan dengan band yang di mata gue sangat tangguh. Mereka pernah mengalami kecelakaan parah, terlibat narkoba, bahkan diserang oleh penyakit yang nggak bisa dibilang ringan. Tapi mereka berhasil bangkit dan bertahan sampai sekarang. Gue anggap itu sebagai doa agar gue sekuat mereka :)

Selain Aerosmith gue juga menyukai Michael Jackson, Red Hot Chili Peppers (era alm. Slovak dan Frusciante), Queen, Beatles, Mika dan banyak lagi. Tapi entahlah konser yang sangat ingin gue datangi hanya Aerosmith dan Mika (tapi kalau John Frusciante masih di RHCP pasti lain cerita, lol), yang lainnya rasanya cukup gue lihat di video sekalipun seandainya mereka masih aktif menggelar konser. Ngomong-ngomong soal Mika, sepertinya memang jarang yang tahu bahwa gue menyukai musiknya. Setiap kali gue menyebut nama "Mika" pasti yang diingat lebih dulu adalah almarhum Mika, pacar gue ketika SMA yang menjadi inspirasi dalam menulis novel (dan sekarang ada versi layar lebarnya juga) :) Bahkan orang-orang di sekitar gue pun sering menyangka bahwa gue sedang membicarakan Mika yang sudah almarhum ketika gue membicarakan Mika yang musisi asal Lebanon itu, hehehe. Tapi sebenarnya memang ada hubungannya diantara kedua Mika itu. Mereka memang nggak saling mengenal, tapi gue mempunyai cerita istimewa dibaliknya. Jadi pada tahun 2006 gue memutuskan untuk membagi kisah tentang alm. Mika di blog jejaring sosial gue. Waktu itu banyak pembaca yang berkomentar bahwa nama "Mika" terdengar janggal untu seorang laki-laki. Tapi gue bilang bahwa itu memang nama pemberian dari orang tuanya, dan di suatu tempat, di belahan dunia sana pasti ada orang yang juga bernama Mika. Lalu satu tahun kemudian, ketika gue membaca sebuah majalah remaja, ada artikel singkat dengan judul yang ditulis dengan huruf kapital berwarna merah: MIKA. Gue langsung tersenyum karena itu adalah nama yang sama dengan laki-laki yang membuat gue bahagia selama 3 tahun yang penuh berkah sebelum akhirnya ia pulang karena mengalah dengan AIDS nya. Gue langsung menunjukan artikel itu pada Silmi sepupu gue, dan di malam yang sama kami langsung menonton videonya di MTV. Gue langsung menyukai musiknya dan memutuskan untuk membeli CD nya satu minggu kemudian. Meski diselingi kontroversi, bagi gue banyak lirik-lirik lagu Mika yang menginspirasi :) Somehow ada sedikit tentang Mika yang mengingatkan gue pada alm. Mika. Mungkin rambut ikalnya yang panjang dan badannya yang kurus :)

Jadi beberapa waktu yang lalu ketika gue mendapat kabar bahwa Mika akan datang ke Indonesia, percakapan random-berulang dengan Bapak pun sedikit berubah...

"Pak, siapa idola nomor 1 aku?"

"Aerosmith".

"Kalau nomor dua?"

"Karena Red Hot Chili Peppers sudah keluar list, ya pasti Mika".

"Kalau Mika ke sini gimana, Pak?"

"Ah, bohong!"

"Beneran ini Pak! Akhirnya ada juga idolaku yang datang ke Indonesia, hehehe. Boleh nonton, nggak?"

"Boleh. Kalau nunggu Aerosmith takutnya nggak akan pernah datang".

"Ih, Bapak...."


Dan kami pun tertawa.

Sebelum pengumuman kapan tiketnya mulai dijual, gue dan Bapak nggak bisa berhenti membicarakan tentang konser Mika. Kami mendengar CD-CD nya saat perjalanan ke tempat bekerja dan mulai mengkhayal tentang baju yang akan gue pakai nanti. Karena gue senang mendesain baju gue bilang bahwa gue akan memakai baju seperti gadis kecil di video klip "Grace Kelly", hihihi, seru sekali :) Lalu  ketika akhirnya voucher tiket (pre sale) mulai dijual, gue langsung mencari info tentang dimana bisa mendapatkannya. Tapi ternyata hasilnya membuat gue sedih, voucher tiket hanya bisa dibeli di salah satu cabang Seven Eleven di Jakarta selama 24 jam, selebihnya berlaku harga normal. Gue yang tinggal di Bandung dan bekerja sampai sore bingung bukan main. Bagaimana caranya supaya gue mendapatkan tiket sebelum jam 12 malam? Apakah gue harus menempuh perjalanan Bandung-Jakarta dan mengabaikan kesehatan gue? Gue meminta pendapat pada Bapak dan Ibu tentang jalan keluarnya, tapi mereka juga sama kebingungannya seperti gue. Ketika waktu menunjukan jam 8 malam rasa sedih gue semakin besar, gue mulai menangis sendirian di dalam kamar dan berdoa pada Tuhan untuk jalan yang terbaik. Mungkin terdengar konyol karena ini hanya sebuah konser, tapi gue adalah tipe orang rela menabung untuk dipakai di moment yang jarang terjadi, dan sekarang lah moment itu akhirnya tiba. Lalu tanpa disangka-sangka, Gina, salah seorang sepupu gue yang tinggal di Jakarta bersedia mampir ke Seven Eleven dan membelikan vouchernya untuk gue. Bukan proses yang mudah karena tanda pengenal yang dipakai harus sama dengan tanda pengenal yang dibawa ketika menonton konser. Dengan bantuan Gina dan kebaikan pegawai Seven Eleven (mereka membantu via twitter dan telepon, how sweet!), akhirnya gue mendapatkan voucher itu meski tanda pengenal yang digunakan dikirim melalui foto, hehehe. Gue senang sekali dan bersyukur. Akhirnya, mungkin ini adalah kesempatan sekali seumur hidup, gue akan bertemu idola gue :)

Tanpa sengaja gue bikin dress seperti si gadis lolipop'nya Mika :) Btw, kelihatan banget gue baru nangis, hihi..

Meski konsernya masih 2 bulan lagi, Ibu sudah kasih banyak wejangan sama gue. Nanti gue nggak boleh pisah sama Bapak, nanti harus pakai stocking yang tebal, dan banyak lagi, hehehe. Gue menanggapinya dengan senyuman karena tahu Ibu nggak akan melarang gue nonton konser, beliau mengerti bahwa kesempatan gue bertemu salah satu idola gue sangat langka.
Di tengah kebahagiaan gue tiba-tiba ada kabar mengejutkan. Well, seharusnya sih menggembirakan seandainya waktunya tepat...
Waktu di mobil, di perjalanan menuju sebuah toko elektronik bersama Bapak, handphone gue bunyi terus-terusan. Aneh, inbox di facebook, mention di twitter, BBM dan lain sebagainya menerima laporan dalam waktu bersamaan. Karena penasaran gue langsung membuka pesan yang paling baru masuk. Isi pesan itu membuat perasaan gue campur aduk, tapi gue putuskan untuk membaca dulu sisanya karena siapa tahu hanya candaan. Sampai seluruh pesan terbaca, isinya ternyata sama. Semuanya memberi tahu berita yang mereka pikir akan membuat gue berteriak histeris: Aerosmith akhirnya akan datang ke Indonesia.
Di waktu yang bersamaan dengan Mika...Tanggalnya, bulannya... Tepat sama.

Gue nggak berteriak histeris. Butuh waktu beberapa menit sebelum gue membacakan pesan yang masuk satu per satu pada Bapak. Bahkan waktu gue membaca pun perasaan gue masih bingung, apakah gue sedang senang atau sedih. Bapak nggak percaya dengan apa yang didengarnya. Beliau pikir gue becanda, tapi setelah melihat wajah gue yang serius dan memerah karena menahan tangis, Bapak akhirnya percaya.

"Kamu senang nggak mau ketemu Aerosmith?"

"Waktunya bersamaan dengan konser Mika, Pak..."

"Iya, tapi kamu senang nggak? Kan sudah nunggu berapa tahun? Hampir 20 tahun, ya?"


Gue terdiam, bertanya pada hati gue sendiri. Apakah gue senang? Apakah gue senang?...
"Iya, Pak senang, aku nanti minta Steven Tyler tandatangani lengan aku ya? Terus aku jadikan tato permanen, boleh?"


Bapak tertawa.

"Tapi konser Mika nya gimana, Pak? Kan sudah beli tiket..."

"Jangan dulu dipikirkan, nikmati saja dulu perasaan senangnya..."

Dengan sebagian kecil koleksi Aerosmith gue. Iya, gue punya banyak karena mengumpulkan sejak umur 7 :)

Gue senang, senang, senaaaaang sekali. Bayangkan, gue menunggu kesempatan untuk bertemu Aerosmith sejak gue berusia 7 tahun dan sekarang akhirnya hampir terwujud. Tapi di sisi lain gue sangat kebingungan karena gue sudah membeli tiket konser Mika dan meskipun baru mengenal Mika selama 6 tahun tapi gue sudah jatuh cinta dengan musiknya. Saking bingungnya gue jadi takut untuk bermimpi bisa bertemu dengan Aerosmith. They're my number one idol, akan sangat menyedihkan jika ingat gue nggak bisa bertemu mereka. Bapak sempat menggoda gue bahwa inilah rasanya galau. Gue belum pernah merasa galau karena seorang pemuda dan sekarang gue galau karena laki-laki yang usianya jauh lebih tua dari Bapak. Beliau pikir ini lucu, tapi gue hanya bisa tersenyum sedikit :') Bapak bertanya, seandainya gue belum membeli tiket Mika, manakah yang akan gue pilih, konser Aerosmith atau Mika. Dengan mantap gue menjawab tentu saja konser Aerosmith. Lalu Bapak dengan ringan menanggapi jawaban gue, "Kalau begitu, pilihlah Aerosmith!"

Gue masih bingung, tapi sepertinya Bapak benar. Yang harus gue lakukan adalah bertanya pada diri sendiri tentang apa yang gue inginkan. Gue menginginkan Aerosmith, gue sudah tahu itu sejak hampir dari 20 tahun yang lalu. Lalu kenapa sekarang ragu? Pasti karena tiket Mika yang sudah gue beli. Gue sudah membeli dua buah tiket dari hasil menabung. Iya, dua buah karena gue ingin sekali mengajak Bapak. Akan gue kemanakan tiketnya? Haruskah gue beri pada orang yang gue percaya karena nanti harus membawa kartu identitas gue ketika menonton konser? Ketika hati gue semakin bertanya-tanya, gue ulang kembali satu buah pertanyaan yang ditekankan oleh Bapak. "Apa yang gue mau? Apa yang gue mau? Apa yang gue mau?". Pikiran gue kembali ke masa kecil gue, moment dimana pertama kali gue melihat video klip Aerosmith dan jatuh cinta dengan lirik "Livin' on the Edge"...
"Gue pilih karena gue menginginkannya. Gue pilih Aerosmith".

Bapak bilang seharusnya gue nggak bingung ketika Mika dan Aerosmith datang secara bersamaan, tapi seharusnya gue bersyukur. Gue sering berdoa bahwa suatu hari idola-idola gue datang ke Indonesia, dan sekarang menjadi kenyataan. Bapak bilang ini kesempatan gue untuk belajar memilih. Mungkin akan ada yang dikorbankan tapi pilihan harus tetap diambil, atau gue nggak akan mendapatkan apa-apa sama sekali. Mungkin bagi orang lain ini hanya sebuah konser, bukan hal serius yang perlu dipikirkan sungguh-sungguh. Tapi Bapak melihatnya lebih dari itu. Konser dan hal lain yang terjadi dalam hidup semuanya harus dilewati, kita nggak bisa lari dari itu, dan dalam prosesnya sering kali kita dihadapkan dengan pilihan. Lucu, tapi sepertinya benar, Aerosmith dan Mika membantu proses pendewasaan gue.

Gue nggak akan melihat konser warna-warni ala Mika dan memakai dress ala gadis kecil di video klip "Grace Kelly". Gue juga nggak akan mendengar Mika bernyanyi lagu "Elle Me Dit" yang sudah gue hapalkan jauh-jauh hari untuk sing along bersamanya. Tapi Bapak bilang jangan ingat-ingat apa yang gue lewatkan, tapi pikirkan apa yang akan gue dapatkan nanti. Gue akhirnya akan bertemu dengan idola masa kecil gue. Dapat sebuah tato, mungkin, lol. Dan akan berteriak "Honey!" ketika Aerosmith membawakan lagu "Crazy". Sekali lagi, dari setiap pilihan pasti akan ada yang dikorbankan, kita nggak bisa dapat semua yang kita mau tapi kita selalu bisa menikmati apa yang kita dapat. Semalam dengan bantuan seorang teman gue berhasil membeli 2 buah voucher tiket Aerosmith untuk gue dan Bapak. Sempat bingung untuk memilih antara VIP dan premium. Tapi kali ini gue yang memutuskan sendiri. Gue pilih premium. Gue memang akan melewatkan makanan gratis dan tempat duduk ala VIP, tapi gue mendapatkan akses untuk berdiri dekat dengan panggung dan dapat kesempatan lebih besar untuk menangkap harmonika, selendang atau topi jika Steven Tyler melemparnya atau nggak sengaja menjatuhkannya, lol. Gue nggak pernah menyangka Aerosmith dan Mika bisa memberikan gue pelajaran sebesar ini. Melalui Bapak mereka telah mengajarkan sebuah hal penting yang disebut dengan pilihan :)

"Pak, sebetulnya aku masih ada sedih 1 persen lho karena nggak jadi nonton Mika..."

"Masa? Kan dulu kamu hampir tiap hari ketemu Mika, sampai bolos sekolah segala, hahaha".

"Ih, bukan Mika yang itu, Bapaaaaaak..."


:D




walk this way,
INDI

twitter: here
facebook: here
contact person: 081322339469

Rabu, 27 Februari 2013

My 4th Meet and Greet: "For Jogja with Love" :)



Gue masih ingat waktu pertama kali ditawari untuk mengadakan meet and greet oleh Homerian Pustaka, penerbit dari novel-novel gue. Waktu itu tahun 2011, novel ke dua gue "Karena Cinta itu Sempurna" baru saja terbit. Gue sangat ingin bilang, "iya" saat itu juga. Bertemu dengan teman-teman pembaca adalah hal yang paling gue inginkan sejak novel pertama gue "Waktu Aku sama Mika" terbit. Tapi gue khawatir... Adakah yang mau datang? Apa teman-teman pembaca akan senang bertemu gue? Lalu, apa yang harus gue lakukan nanti?
Rasa khawatir gue baru berakhir setelah meet and greet perdana gue terlaksana. Semuanya ternyata begitu menyenangkan. Dan gue pun langsung berharap akan ada pertemuan-pertemuan selanjutnya dengan teman-teman baru ini... :)

Tuhan mengabulkan harapan gue, ada pertemuan-pertemuan lain setelahnya. Meet and greet ke dua, ke tiga, bahkan sebuah meet and greet mini yang diadakan di bioskop ketika teman-teman pembaca menonton film MIKA yang diinspirasi dari novel "Waktu Aku sama Mika" beberapa waktu yang lalu. Gue masih selalu deg-degan, tapi perasaan khawatir digantikan dengan perasaan exited karena akan bertemu dengan mereka. Gue selalu nggak sabar mendengar apa yang mereka rasakan waktu membaca karya-karya gue. Bagian mana yang paling mereka suka, dan tentu saja gue sangat menanti saat-saat sharing dengan mereka karena seperti itulah pertemanan seharusnya.
Mendapatkan kesempatan untuk bertemu langsung dengan teman-teman pembaca merupakan pengalaman berharga untuk gue. Gue sudah sangat bahagia meski baru sempat bertemu dengan teman-teman di kota Bandung saja. Gue memang ingin ke kota lain, menyapa teman-teman di sana. Dan gue nggak menyangka keinginan gue dengan cepat dikabulkan oleh Tuhan. Pada tanggal 24 Februari kemarin gue mendapatkan undangan untuk mengadakan meet and greet di Jogja!

Gue langsung memilih siapa yang akan menemani gue di sana. Bapak atau Ibu. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya gue memilih Bapak karena beliau sangat suka mendokumentasikan gue, hehehe. Kesempatan ini juga berarti pertemuan pertama gue dengan keluarga Homerian Pustaka! Iya, sejak pertama kali kami bertemu di dunia maya dan gue ditawari kontrak untuk novel "Waktu Aku sama Mika" pada tahun 2009, ini adalah pertemuan perdana kami yang secara nyata, bukan hanya lewat tulisan atau suara. Gue agak sedikit malu-malu pada awalnya, karena berbicara secara langsung rasanya berbeda dengan lewat internet atau telepon. Syukurlah mereka sangat ramah dan membuat gue merasa seperti di rumah.Bahkan mengajak gue dan Bapak untuk makan malam bersama ketika kami baru saja tiba. Belum apa-apa gue sudah merasa betah di Jogja dan semakin nggak sabar menunggu pagi untuk bertemu dengan teman-teman pembaca di sini :)

Acara meet and greet diadakan di toko buku Togamas cabang Affandi. Meski direncanakan cukup lama tapi acara ini baru dipublikasikan 2 minggu sebelumnya karena kami perlu waktu untuk menentukan tanggal yang tepat (perjalanan jauh membuat gue harus memastikan acara ini nggak berbarengan dengan aktivitas gue di Bandung). Sesekali terlintas dipikiran gue apakah teman-teman di Jogja akan datang. Gue nggak tahu bagaimana sambutan teman-teman di sini terhadap karya-karya gue. Yang bisa gue lakukan hanya berdoa, semoga acaranya berjalan lancar, berapapun teman-teman pembaca yang datang :)

Pukul 10.30 pagi gue sudah ada di Togamas, di cafe Djendelo tepatnya. Cuaca cukup terik meski masih pagi sehingga membuat gue keringetan dan haus berat, hehehe. Beruntung panitia sangat tanggap dengan memberikan gue kipas tangan lucu bergambar panda dan 1 gelas air mineral. Yang sangat berkesan, mereka memutarkan lagu-lagu rock kesukaan gue. Meski nggak semuanya, tapi seenggaknya ada 2 band favorit gue sejak kecil, yaitu Guns and Roses dan Red Hot Chili Peppers :) Karena cafe berada di lantai 2, gue sesekali menengok ke bawah untuk melihat bagaimana suasana di sana. Sudah ada 2 buah poster bertuliskan nama gue ternyata. Sebuah poster promo novel dan film, dan satunya lagi promo meet and greet. Gue juga melihat sekelompok orang yang sedang berkumpul di sana. Apakah itu teman-teman pembaca? Tadinya gue mau tersenyum pada mereka, tapi takut salah, nanti disangka sok akrab, hihihi. Karena sebentar lagi acara dimulai, gue putuskan untuk sedikit mengobrol dengan Prambanan, laki-laki kocak yang nanti akan menjadi MC acara ini. Dia ternyata baru membaca novel pertama gue saja, jadi untuk novel-novel selanjutnya gue ceritakan saja garis besarnya.

Gue dan Prambanan :)

Pukul 11 tepat pihak Togamas langsung mengumumkan bahwa acara akan dimulai. Teman-teman pembaca mulai berdatangan (ternyata benar beberapa sudah sudah menunggu sebelum acara dimulai) dan langsung naik ke lantai 2. Gue dan mereka sama-sama malu-malu. Seringnya gue menunduk dan tersenyum kecil. Sedangkan mereka malah duduk-duduk di ujung ruangan dan bergerombol :) Tapi mereka nggak bisa lama-lama seperti itu, karena beberapa saat kemudian ruangan semakin penuh dan mereka terpaksa harus memenuhi bagian depan ruangan, hihihi.
Acara dibuka dengan pembacaan profil singkat gue. Pembawaan Prambanan yang santai dan kocak membuat gue dan teman-teman pembaca merasa nyaman meski ruangan semakin panas setelah semakin banyak yang datang. Melihat banyaknya teman-teman pembaca membuat hati gue lega dan nggak bisa berhenti tersenyum. Thank God, gue nggak menyangka di sini ternyata gue banyak teman :)





Sama seperti biasa, di acara meet and greet pasti ada sesi tanya jawab. Baik dari teman-teman ataupun dari gue pada mereka. Banyak kejutan di sesi ini, banyak pertanyaan menarik yang mereka ajukan dan ternyata mereka pun sangat antusias dengan pertanyaan-pertanyaan dari gue, lho. Sepertinya nggak ada pertanyaan yang terlalu sulit untuk mereka. Buktinya ketika diberikan pertanyaan unik seperti, "Berapa berat badan Indi ketika lahir" dan "Siapakah nama orang yang ditonjok oleh Mika hingga hidungnya berdarah" teman-teman bisa menjawab, hihihi. Padahal Bapak saja hampir lupa berapa berat badan gue dulu :p Gue terharu sekali karena mereka begitu mengenal gue. Mereka tahu nama panggilan yang Mika berikan untuk gue, tahu dimana pertama kali gue digendong oleh Mika, tahu apa warna kesukaan gue... Tapi ada kejadian yang lucu, ketika gue bertanya siapa nama pemeran Bapak di film Mika, ada yang menjawab "Matias Muchus", hahaha, padahal yang benar adalah Izur Muchtar. Mungkin karena mereka berasal dari era yang hampir sama ya, hehehe :)

Gue mendapat banyak pertanyaan tentang bagaimana perasaan gue sekarang, apakah waktu "menyembuhkan" perasaan gue setelah ditinggal Mika. Gue bilang bahwa tentu saja gue sempat down dan nggak tahu harus bagaimana, tapi gue sadar bahwa Mika pasti nggak mau gue bersedih lama-lama, karena Mika selalu ingin membuat gue kuat dan berani. Nggak fair baginya jika terus bersedih dan malah "mati" disaat gue sebenarnya masih hidup :) Teman-teman juga bertanya tentang tema novel ke empat gue dan sudah sampai mana prosesnya. Gue bilang bahwa gue belum bisa bercerita banyak tentang ini, tapi yang pasti masih diambil dari kehidupan sehari-hari. Menyenangkan rasanya tahu bahwa mereka menunggu karya gue selanjutnya :)
Gue selalu nggak bisa menjawab jika ditanya apa yang gue harapkan ketika pembaca membaca novel-novel gue, karena bagi gue apa yang mereka rasakan dan bagaimana pengaruh terhadap diri mereka tentu akan berbeda-beda, tergantung dari apa yang pernah mereka alami dan dari sisi mana mereka melihatnya. Tapi gue selalu percaya dengan kekuatan "share". Dengan berbagi cerita, jika ada yang pernah mengalami kejadian serupa tentu akan merasa punya teman senasib dan nggak merasa sendirian. Ini juga berlaku untuk diri gue, setelah berbagi rasanya semakin lega dan tahu bahwa di luar sana banyak teman-teman yang mempunyai cerita serupa.



Di tengah acara teman-teman yang datang semakin banyak, ruangan cafe yang sebenarnya cukup luas pun jadi terasa sempit meski sudah disediakan tempat untuk lesehan dan bangku-bangku. Prambanan langsung mengingatkan bahwa di sini telah disediakan teh manis, air mineral juga camilan untuk teman-teman. Awalnya mereka malu-malu dan saling menunggu untuk mengambil snacks, tapi setelah ada yang memulai dalam hitungan menit langsung habis. Gue bahkan nggak kebagian teh manisnya, hihihi (haus, lol). Sambil menikmati camilan acara tanya jawab pun dilanjutkan. Teman-teman sepertinya nggak pernah kehabisan stock pertanyaan untuk diajukan. Bahkan semua hadiah dibagikan pun masih banyak yang ingin bertanya, hehehe. Oya, untuk yang bisa menjawab pertanyaan dan mengajukan pertanyaan memang disediakan hadiah. Ada novel ke tiga gue "Guruku Berbulu dan Berekor" juga lolipop dari film Mika. Nggak nyangka meski di Jogja masa tayang Mika sudah habis, tapi sebagian besar teman-teman di sini sudah menontonnya dan mereka hapal dengan adegan-adegannya, hihihi :)
By the way, tentang lolipop di Jogja mengingatkan gue dengan acara nonton bareng Mika Di Bandung. Sama seperti di sana, di sini juga banyak teman-teman yang memutuskan untuk menyimpannya saja daripada dimakan, hihihi... Ternyata lolipop ini sangat diminati, bahkan Prambanan dan panitia pun mau. Sayangnya hanya ada 20 lolipop saja :D

Lolipop yang jadi rebutan, hihihi :)

Sebelum sesi terakhir yaitu book signing dan foto gue masih mendapatkan pertanyaan-pertanyaan menarik. Ada satu yang membuat gue tertawa karena seorang teman pembaca bertanya dimana gue membeli sepatu yang sedang gue pakai. Aduh, ini sepatu kan sudah lama, mungkin sudah nggak diproduksi malah, hihihi. Gue juga mendapat banyak salam dari teman-teman yang nggak bisa datang langsung. Ada yang sedang sakit (beberapa diantaranya juga scolioser ---pengidap scoliosis--- sama seperti gue) dan ada juga yang sedang les atau ada kegiatan di sekolah.
Sebenarnya gue masih ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, sih. Tapi selain waktu yang sudah semakin siang, keadaan ruangan juga sudah semakin panas. Wajah gue rasanya meleleh dan baju gue sudah basah oleh keringat. Jadi sesi book signing sekaligus foto pun langsung dimulai :)

Seperti yang selalu gue bilang, setiap meet and greet book signing adalah sesi kesukaan gue karena bisa begitu dekat dengan teman-teman pembaca. Walau mungkin hanya beberapa detik, setiap kali gue menandatangani buku gue senang sekali memberikan pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti, "Nama kamu siapa?" atau "Rumahmu jauh atau nggak?". Karena gue ingin jika ada meet and greet selanjutnya dan mereka datang kembali, gue masih ingat dan bisa menyapa dengan memanggil namanya langsung :)
Sama seperti di Bandung, ternyata teman-teman di sini juga banyak mendapat titipan buku dari teman-temannya yang nggak bisa datang. Jadi ketika mereka menyodorkan buku kepada gue, yang ditandatangani bukan hanya 3 buah novel, tapi bisa lebih dari 2 kali lipat, hihihi. Bahkan banyak yang membawa agenda atau buku harian untuk gue tandatangani.  Yang paling mengharukan adalah ketika seorang teman dari Masyarakat Scoliosis Indonesia meminta gue menuliskan dukungannya untuk salah seorang temannya yang akan segera dioperasi scoliosis. Ah, speechless jadinya... :')



 
 
 

Di sesi ini juga banyak teman-teman pembaca yang meminta pelukan hangat. It's kinda cute, apalagi mereka sepertinya nggak terganggu dengan panasnya ruangan. Gue cuma berharap mereka nggak geli dengan keringat yang mengucur deras dari leher gue, hihihi...
Gue benar-benar amaze dengan keramahan teman-teman di sini, mereka sangat toleransi dengan seisi ruangan, padahal mereka baru saja bertemu di sini. Jika antrian tba-tiba stuck karena buku yang ingin mendapat tanda tangan terlalu banyak, mereka akan menyilakan agar orang yang di belakang mendapat tanda tangan lebih dulu. Mereka juga sangat sopan terhadap gue dan nggak pernah meminta gue untuk berdiri ketika berfoto. Kecuali jika gue yang bertanya. Itupun mereka rata-rata membiarkan gue untuk duduk :)

Sebuah pelukan hangat :)



Acara baru benar-benar selesai setelah teman-teman baru gue di Jogja pulang dan ada interview singkat dengan Syofara dari Youth Forum DIY (gue diberi kaos dan pin nya juga, lho. Thanks a lot ya, Syofara) :)
Gue sangat bersyukur karena acaranya berjalan sangat lancar dan menyenangkan. Gue benar-benar terharu dengan kehadiran teman-teman yang sangat antusias dengan acara ini. Cafe Djendelo mempunyai ruangan yang cukup luas dan ternyata sangat penuh dengan teman-teman yang hadir. Iseng-iseng gue membuka buku daftar tamu yang disediakan di lantai 1 Togamas, ternyata ada lebih dari 60 orang yang mengisinya. Angka yang buat gue sungguh luar biasa karena ini adalah meet and greet pertama gue di Jogja. Malah ada yang mengatakan bahwa yang hadir ada sekitar 100 orang tapi nggak semuanya mengisi buku tamu. Ah, berapapun itu gue sudah sangat senang karena bisa memiliki waktu yang berkualitas dengan mereka :) Apalagi ketika gue membaca tempat asal teman-teman yang hadir. Ternyata bukan hanya dari Jogja, ada yang jauh-jauh datang dari Madiun dan Jakarta! Luar biasa... Susah diungkapkan tentang betapa besarnya rasa bahagia dan syukur gue atas meet and greet ini.

Tanpa mereka acara ini nggak akan berjalan :)

Gue nggak pernah menyangka dari tulisan sederhana yang tadinya nggak direncanakan untuk dibukukan ternyata mendatangkan banyak teman baru. Gue bersyukur setelah ditinggal Mika gue diingatkan untuk nggak terus-terusan terpuruk dan memutuskan untuk berbagi. Gue bersyukur karena bertemu dengan penerbit yang menganggap gue seperti keluarga mereka sendiri dan membuat gue merasa seperti mempunyai rumah ke dua. Teman-teman baru, orang-orang disekitar gue membuat gue semakin semangat untuk berkarya dari hati. Bukan hanya sekedar karya, gue berharap yang menikmati bisa merasakan bahwa gue membuatnya dengan kesungguhan karena gue bisa merasakan bahwa mereka juga sungguh-sungguh ketika mendukung gue.

Terima kasih Jogja untuk keramahannya. Gue harap suatu hari bisa kembali ke sana dan bersenang-senang dengan teman-teman di sana. Sekali lagi terima kasih. Kalian benar-benar luar biasa! :)

sugar candy girl,

INDI




Terima kasih kepada Tuhan yang sangat baik, Homerian Pustaka, Solusi Distribusi, Togamas Affandi, Djendelo Cafe dan seluruh panitia, Ray, Ibu, Bapak, teman-teman yang telah mendukung dan membantu mempublikasi acara ini (Habibie Afsyah, Vino Bastian, Indi Sugar FC, Sugar Books dan Star Books), dan tentu saja untuk Mika yang bahkan setelah kepergiannya masih memberikan banyak teman baru :)
***

twitter: here
facebook: here
contact person: 081322339469

info: bulan ini film MIKA tayang di borobudur cineplex pekalongan :)
ternyata ada teman-teman pembaca yang menulis tentang meet and greet ini di blog mereka, lho. kunjungi di sini dan sini.

Jumat, 15 Februari 2013

Hadiah dari Tanisha Collection (review) :)

Memakai bando dari Tanisha Collection saat bekerja, hihihi :)



 

Aku ingat waktu masih SD, setiap tahun ajaran baru pasti aku dibelikan alat tulis baru sama Ibu dan Bapak. Nggak selalu lengkap, kadang hanya penghapus baru atau tempat pensil baru saja. Tapi pasti ada benda yang baru. Kalau sudah begitu pasti semangatku untuk sekolah berkali-kali lipat, hehehe. Sampai sekarang pun begitu. Meski aku sudah lepas secara finansial dari Ibu dan Bapak sejak tahun 2009, aku tetap mendapat "hadiah kecil" setiap kali aku memulai sesuatu atau setelah bekerja keras untuk mencapai sesuatu. Bedanya hadiah-hadiah itu berasal dari diriku sendiri :) Sama seperti dulu, hadiah nggak perlu besar, nggak perlu hebat. Aku cuma perlu sesuatu yang sederhana sebagai treat untuk diri sendiri. Es krim sehabis melakukan pekerjaan tepat waktu, stiker warna-warni dari mini market setelah menyelesaikan suatu project... dan lain sebagainya :)

Hadiah-hadiah itu memang kecil, tapi selalu berhasil membuatku tersenyum selama berhari-hari. Bagiku menghadiahi diri sendiri setelah melakukan sesuatu (yang menjadi "prestasi" pribadi) bukan pemborosan, tapi sebuah penghargaan. Well, setelah bekerja keras tubuh dan pikiran lelah kita deserve untuk mendapatkan sesuatu untuk melonggarkan ketegangan, kan? ;)

Nah, kalau hadiah dari diri sendiri saja sudah membuatku tersenyum selama berhari-hari, gimana kalau hadiah itu berasal dari orang lain? Tentunya senyumanku menjadi lebih lebar, hehehe :) Kebetulan aku baru saja mengalaminya. Belakangan ini kesibukanku bertambah daripada biasanya. Sering kali setelah pulang ke rumah aku sudah kelelahan dan waktu weekend aku manfaatkan untuk beristirahat. Aku bahkan nggak sempat pergi ke mini market untuk membelikan diriku treat. Tapi tiba-tiba saja ada paket kejutan dari Tanisha Collection yang diantar ke rumahku. Isinya tepat sekali yang aku butuhkan: bando dan sandal Hello Kitty berwarna pink! Ini treat yang manis! :)

Aku mengoleksi pernak-pernik Hello Kitty, nggak menyangka koleksiku bertambah 2 item sekaligus, hihihi. Bando yang aku dapat berbentuk pita dengan perpaduan warna pink dan kuning. Di atasnya ada beberapa manik-manik mengkilap dan pastinya boneka Hello Kitty full body. Sedangkan sandalnya berhias kepala Hello Kitty, lengkap dengan pitanya yang diletakan berlawanan di sisi kiri dan kanan :) Kualitasnya juga membuatku tersenyum karena super rapi, nggak ada lem yang mencuat-cuat dan menggumpal. Apalagi produk-produk dari Tanisha Collection semuanya handmade, jadi bisa disesuaikan dengan keinginan pembeli. Dan owner-nya keren sekali karena tahu aku menyukai Hello Kitty, hihihi...





Selain bando dan sandal, Tanisha Collection juga menyediakan hairclip dan pernak-pernik perempuan lainnya. Terutama produk fashion untuk Ibu dan anak. Mereka juga menyediakan aksesoris rambut "kembar" untuk Ibu dan anak, lho. Jadi dengan desain yang sama tapi dengan ukuran yang berbeda. Bahkan material yang digunakan pun bisa disesuaikan dengan usia. Untuk baby misalnya, Tanisha Collection menyediakan headband dengan karet elastis dan untuk yang lebih dewasa menggunakan bando biasa seperti yang aku punya :)






Treat dari Tanisha Collection ini benar-benar membuat hariku lebih ceria. Aku memakai bandonya hampir di setiap kesempatan. Jalan-jalan, ke pernikahan teman, bahkan dipakai saat aku sedang bekerja. Karena ukurannya besar, bando ini menjadi eye catching, banyak teman-teman yang bertanya dari mana aku mendapatkan bando yang "really me" ini, hehehe. Sedangkan sandalnya kupakai sehari-hari untuk di rumah karena nyaman dan manis. Jadi nggak malu-maluin kalau tiba-tiba ada tamu yang datang :p

Kalau teman-teman ingin melihat-lihat koleksi Tanisa Collection, kunjungi saja halaman facebook-nya di sini, atau invite saja via BBM di 292D1488. Kalau ada yang mau bertanya tentang produk-produknya pun boleh, SMS saja owner-nya yang baik hati di 081322085727 :)

Di saat aku nggak bisa memberikan treat untuk diri sendiri, ternyata malah datang paket kejutan yang membuatku tersenyum senang. Thank God, and thanks Tanisha Collection :)
Jadi bagaimana dengan teman-teman, what's your favorite treat? ;)

Candy girl,

Indi
***
Twitter | Facebook | Contact person: 081322339469

  Ps: Untuk teman-teman di Ambon, film MIKA hari ini tayang perdana, lho. Ayo serbu bioskopnya, hihihi :)

Keywords: homemade crafts, aksesoris buatan tangan, produk lokal, Hello Kitty, aksesoris anak perempuan.

Selasa, 05 Februari 2013

(Katanya, sih) Nonton Bareng Mika with "the Real" Indi, hihihi :)

foto dari @indisugar_fc
Hai, teman-teman bloggies! It's me again, Indi, hihihi. Akhirnya gue kembali juga ke dunia kecil favorit gue di dunia maya :) So, apa kabar? Baik-baik saja? Semoga bulan Januari kalian terlewati dengan baik, dan bulan Februari ini jadi awal bagus untuk kita semua, amen :)

Jadi film "Mika" yang diinspirasi dari novel pertama gue "Waktu Aku sama Mika", sekaligus kisah hidup gue sendiri akhirnya rilis sejak tanggal 17 Januari lalu. Gue nggak berharap sesuatu yang "wah" dari film ini, karena buat gue award nggak ada apa-apanya dibanding jika film ini diterima oleh penonton di Indonesia. Jika pun award itu akhirnya datang, gue anggap sebagai bonus dari kerja keras orang-orang yang bekerja untuk mewujudkan film ini :)

Nah, tanpa disangka-sangka gue ternyata mendapatkan hadiah terbesar dari film ini. Respon positif berdatangan dari teman-teman pengguna media sosial (terutama facebook dan twitter). Meskipun tanpa publikasi yang besar-besaran film Mika ternyata tumbuh di kalangan penikmat film dari mulut ke mulut. Bahkan dari seseorang yang nggak saling mengenal sebelumnya percakapan tentang film ini bisa mengalir hingga sampai ke pengguna media sosial lain. Blogger pun mulai mereview film ini. Meski nggak sempurna, tapi gue sangat bahagia sekali membaca review-review positif dari mereka. Rata-rata memberikan skor 8 dari 10 :)
Hadiah juga datang dari keluarga gue, seperti yang sudah sering gue ceritakan, film "Mika" lebih membuka mata Ibu dan Bapak tentang almarhum Mika. Jika sebelumnya mereka hanya tahu bahwa Mika adalah ODHA (orang dengan HIV/AIDS) bertato yang sesekali membuat gue bolos sekolah (gue masih kecil waktu itu, hehehe), sekarang mereka jadi tahu "bagian-bagian hilang" dari apa yang mereka lihat dulu. Ibu dan Bapak jadi sepenuhnya mengerti bahwa Mika begitu berarti dalam proses pendewasaan gue, dalam proses membuat kepribadian gue lebih "hidup"... Begitu juga dengan Nenek yang yang sebelumnya sudah lupa-lupa ingat dengan Mika, beliau langsung menonton film ini dua kali berturut-turut dengan mengajak serta teman-temannya agar mereka lebih mengerti bahwa nggak ada satu penyakitpun di dunia yang pantas disebut "kutukan". Ah, indahnya... :)

Hadiah juga ternyata datang dari teman-teman di Indi Sugar FC (friends club), mereka mengundang gue untuk nonton bareng film Mika tanggal 2 Februari lalu. Dengan senang hati gue langsung meng-iya-kan undangannya dan menyiapkan hadiah kecil untuk mereka. Beruntung pihak IFI mau memberikan poster official Mika secara gratis untuk teman-teman yang datang. Hore! Dan sebagai tambahan gue menyiapkan lolipop warna-warni seperti yang sering Mika beri pada Indi di film :)
Nggak disangka, ternyata cukup banyak yang ingin mengikuti acara nonton bareng ini. Menurut Sofie, admin dari Indi Sugar FC, ada 20 orang yang mendaftar, termasuk yang dari luar kota! Wah, terharu sekali... :) Apalagi waktu gue membaca banyak mention dari teman-teman (pembaca dan penonton Mika) yang ingin sekali ikut tapi nggak bisa karena terhambat oleh jarak dan waktu berhubung acaranya bukan di hari libur.
Oya, yang lucu Vino Bastian, pemeran Mika di film menyebut acara ini sebagai "nonton bareng Mika the Movie with the real Indi", hihihi. Gue masih belum terbiasa jika ada yang memanggil gue "the real Indi" karena selama ini gue nggak merasa ada Indi yang palsu, yang ada hanya Velove Vexia yang memerankan gue di film, hihihi :p


Gue datang ke acara nonton bareng 10 menit setelah film dimulai. Agak sedih karena nggak sempat menyapa teman-teman dari Indi Sugar FC dulu, tapi gue juga terlambat karena harus menunggu poster Mika sampai ke rumah gue. Sempat deg-degan posternya nggak sampai, tapi ternyata datang juga di detik-detik terakhir, hihihi :)
Waktu gue masuk teater, lampu sudah gelap dan sempat membuat gue terpaku beberapa detik di dekat pintu masuk. Lalu dari arah bangku penonton ada beberapa orang yang melambaikan tangan dan yang lainnya memanggil-manggil gue, "Indi, di sebelah sini, Indi!". Hihihi, lucu sekali, baru kali ini di dalam teater bioskop ada yang bicara dengan volume "normal" :p Gue langsung duduk di antara teman-teman Indi Sugar FC yang sudah lebih dulu datang. Terharu melihat bangku teater hampir full padahal saat itu masih siang dan bukan hari libur :')
Lucunya kami sempat mengobrol, lho meski volume suara agak dipelankan, hihihi. Gue langsung mengeluarkan lolipop dari dalam tas dan membagikannya tepat ketika adegan Mika memberi lolipop pada Indi di belakang sekolah. What a cute coincident :)

Waktu mau masuk bioskop sudah ditodong untuk berfoto, hihihi. Nice to meet you :)

Ini adalah kelima kalinya gue menonton Mika dan gue tetap 'merinding' seperti pertama kali menontonnya. Gue memang lebih kuat dibanding sebelumnya, tapi melihat flashback hidup gue selama 1 jam tentu saja bukan hal mudah. Mungkin diantara teman-teman bloggies ada yang belum tahu "Mika" bercerita tentang apa. Film ini diinspirasi oleh perjalanan hidup gue ketika berusia 13 tahun, ketika mendapat vonis scoliosis dan harus memakai back brace (penyangga tubuh) selama 23 jam perhari, lalu mengenal dan jatuh cinta pada Mika seorang laki-laki yang berusia 7 tahun lebih tua dari gue. Mika lalu merubah cara pandang gue tentang hidup, jika sebelumnya gue sering merasa lemah dan "berbeda", setelah ada Mika gue jadi lebih kuat dan merasa istimewa meski sebenarnya Mika pun harus melawan penyakit AIDS yang ada pada dirinya. Film ini menceritakan hidup gue hingga lulus kuliah dan seperti sekarang.

Meski film ini bertema drama tapi banyak adegan lucu yang disisipkan, karena meskipun kisah cinta gue dan Mika nggak mudah, tetap saja saat itu gue dan Mika seperti remaja kebanyakan. Sering konyol dan mencoba hal-hal baru :) Ketika ada adegan lucu gue nggak bisa berhenti tersenyum karena seluruh isi teater ikut tertawa (bahkan disertai celetukan-celetukan komentar, hihihi). Dan ketika ada adegan sedih terater yang tadinya ramai dengan suara tawa langsung sepi dan disusul oleh suara isak tangis... Ini adalah saat paling sulit untuk gue, melihat Mika pergi "lagi" untuk ke enam kalinya tetap membuat gue menangis meskipun sekarang gue lebih kuat... :')
Ketika film selesai kami diam dulu beberapa saat. Mata kami bengkak karena habis menangis tapi bibir kami tersenyum karena ending dari film ini sangat positif. Ketika lampu teater dinyalakan gue bisa melihat penonton lain di bangku belakang juga habis menangis. Gue percaya ini bukan sekedar tangisan, tapi artinya pesan di film ini telah sampai dengan baik pada yang menontonnya. Amen... :)
Beberapa penonton dari bangku belakang memanggil dan menyapa gue sambil berkomentar tentang filmnya. Gue amaze karena banyak yang mengenali gue di teater padahal mereka bukan peserta nonton bareng. Gue senang dan bersyukur sekali :)

Sedang ke Bandung menyempatkan nonton MIKA. Waaaah, terima kasih banyak! :)
Sofie, admin Indi Sugar FC. Thanks buat acaranya, ya :)
Baru tahu acara "nobar" di saat-saat terakhir, tanpa register dan nagih lolipop keesokan harinya, hihihi :p

Di luar teater ada beberapa penonton yang mengajak gue berfoto bersama. Sebenarnya gue agak malu karena wajah gue pasti bengkak (dan poni gue acak-acakan, hahaha), tapi karena hati gue senang jadi gue tetap tersenyum dan nggak terpikir untuk sedikit menyisir rambut gue dulu :) Sayangnya nggak seluruh peserta nonton bareng bisa berfoto bersama, sebagian dari mereka langsung pulang dan yang tersisa hanya 6 orang. Ray yang saat itu menemani gue berinisiatif untuk mengadakan meet and greet kecil-kecilan dengan teman-teman Indi Sugar FC yang tersisa. Setelah berfoto (dan membagikan poster pada yang beruntung) kami langsung menuju foodcourt dan diadakanlah sesi chit-chat santai. Meskipun Ray sudah menyediakan air minum, nggak ada satupun teman-teman Indi Sugar FC yang makan lolipopnya, lho. Alasannya mau difoto dulu sebelum dimakan, hihihi, cute!! :)) Padahal gue sendiri sudah hampir menghabiskan lolipop yang ke dua (rakus, lol).



Gue sangat senang dengan meet and greet mini ini karena membuat gue lebih mengenal teman-teman Indi Sugar FC. Gue rasa mereka pun jadi lebih mengenal gue karena yang kami lakukan lebih dari sekedar tanya jawab tapi juga sharing. Gue juga bercerita tentang tujuan dari film Mika yang bukan untuk mengejar angka, tapi ada misi untuk  mengenalkan scoliosis dan HIV/AIDS pada masyarakat dengan cara yang nggak berat. Tapi yang kami bicarakan nggak cuma tentang karya-karya gue lho, tapi juga hal-hal random, apalagi Ray sepertinya sedang mengembangkan bakatnya menjadi komedian :p Kami berbicara tentang sekolah, hewan peliharaan sampai tentang tempat-tempat di Bandung (nah, part yang ini Ray "sok tahu" banget, hihihi).
Akhirnya meet and greet mini super dadakan ini harus disudahi karena hari sudah mulai gelap (ssst, ada yang masih pakai seragam sekolah juga, lho, pasti belum sempat pulang, hihihi). Gue dan Ray berterima kasih pada teman-teman Indi Sugar FC yang telah mengadakan acara ini dan telah memutuskan untuk menonton film Mika di bioskop, bukan secara gratis. Karena dengan membeli tiketnya artinya sudah turut serta membantu "Mika-Mika" yang lain :)

Sampai di rumah gue masih tetap tersenyum karena membaca mention-mention dari teman-teman Indi Sugar FC. Berhubung gue nggak mengecek HP selama acara, gue jadi nggak tahu bahwa ada live report-nya di twitter, hihihi.
@indisugar_fc Yg bikin AMAZING dari nobar hari ini adalah, kita bisa ngobrol face to face langsung sama kak INDI @missbabbitt :') seneng bgt hari ini!?

Dan bahkan masih ada twit-twit yang menyenangkan untuk dibaca keesokan harinya. Ah, senang gue jadi berkali-kali lipat! :)
@SalmaKhalidah acara nobar kemarin lebih dari acara meet and great mana pun =D thanks juga lolypopnya ya ka sampe sekarang belum aku makan loh
@andysyrn Seneng banget yang kemaren nobar+dapet lolipop+poster ori Mika sama kak indi sugar @missbabbitt :)

Gue benar-benar senang dan puas dengan acaranya. Punya waktu berkualitas dengan teman-teman yang menikmati karya gue sungguh nggak bisa tergantikan dengan apa-apa. Seperti yang sering gue bilang, gue senang mendapatkan teman baru. Dulu waktu Mika masih ada ia sering mengenalkan gue pada teman-temannya, dan sekarang setelah kepergiannya pun ia masih "mengenalkan" gue pada banyak teman-teman baru yang menyenangkan. Juga terima kasih pada Ray untuk ide briliannya untuk mengadakan meet and greet mini dadakan. I'm blessed to have you guys! Thank God :)


Dan tadi siang, setelah gue mendapatkan banyak hadiah-hadiah nggak ternilai ini gue mendapatkan "bonus" nggak terduga. Vino Bastian memberi tahu gue bahwa film Mika sekarang berada di urutan ke satu perolehan jumlah penonton film yang di rilis tahun 2013! Padahal minggu lalu gue baru dapat kabar bahwa film Mika ada di urutan ke dua... Ya, Tuhan... Thank God... Thank God... gue senang dan bersyukur sekali... :) Gue harap kebahagiaan gue ini dirasakan juga dengan orang-orang yang menonton film ini, dan juga, tentu saja dirasakan oleh Mika yang sedang mengambil sayap malaikatnya di surga. Gue jadi ingat kata-kata Bapak, jangan pedulikan angka, yang penting apa yang dilakukan harus positif dan dengan niat yang baik, pasti ada hasil. Hmm, setuju, teman-teman? :)



sugar kecilnya Mika yang sudah besar,

Indi


***

Twitter: here | Facebook: here | Contact Person: 081322339469


Jadwal pemutaran Mika lihat di sini
Sumber foto: twit dari teman-teman di twitter :)