Senin, 10 September 2012

Work Trip: Jogja (part 2 and 3) :D

Halo, apa kabar bloggies? Yaiy, senang sekali karena post terakhirku yang berjudul "Work Trip: Jogja! (Part 1-Aerophobia)" mendapatkan respon positif :D Nah,sekarang aku mau lanjutkan ceritanya, nih. Berhubung hari ke tiga di Jogja berlangsung sangat-sangat-sangat singkat, jadi post-nya aku gabung saja, ya. Bersiaplah melihat banyak foto di post ini, hehehe. Well, sebenarnya foto-foto di post ini sudah semua foto yang aku punya, lho. Jadi sebenarnya 'not that much', tapi karena disatukan dalam satu post, siap-siap pegal, ya :p


Day 2: I Love Becak and I love Jogja!

Hari ke dua di Jogja aku bangun pagi-pagi sekali dalam keadaan lapar. Tanpa mandi dan hanya berganti baju aku, Ibu dan Frisky langsung mencari sarapan. Agak bingung, karena disekitar hotel belum banyak toko dan pedagang kaki lima yang buka. Setelah tanya sana-sini kami baru tahu bahwa di Malioboro rata-rata pedagang baru berjualan di atas jam 9 pagi. Untung saja, kami nggak perlu berjalan terlalu jauh dan menemukan pedagang nasi goreng. Well, sebenarnya aku alergi nasi, kalau tubuh lagi kurang fit pasti langsung gatal-gatal meski makan sedikit saja. Tapi karena nggak ada pilihan makanan yang lain, dan aku juga sudah sangat-sangat-sangat lapar akhirnya aku melahap 1 porsi nasi goreng polos dengan semangat, hahahaha :D Nasi gorengnya enak sekali, harganya hanya Rp. 10.000 per piring. Itu masih ditambah teh panas dan lalapan segar :D Setelah kenyang, reaksi alergiku baru muncul. Lengan, pipi dan bibir mulai gatal-gatal. Ibu menawarkan untuk kembali lagi ke hotel dan mengambil obat alergiku dulu sebelum kami melanjutkan perjalanan.Tapi aku menolak, karena somehow aku tahu akan baik-baik saja ;)


Ibu dan aku di depan kamar hotel, beberapa menit sebelum sarapan :)

Karena tujuanku ke Jogja adalah untuk bekerja, aku nggak mau buang waktu. Apalagi keesokan paginya aku harus sudah bersiap pulang lagi ke Bandung. Kalau sampai ada yang terlewat, wah... pasti repot sekali. Jadi aku pikir biarlah hari ini dimulai sangat awal karena jika nanti ada yang di luar rencana aku masih bisa memperbaikinya di waktu sore atau malam nanti.
Tujuan pertama adalah mencari batik tulis asli Jogja. Iya, aku tahu di tempat lain bahkan Bandung pun ada. Tapi Jogja punya batik yang 'berbeda' dan itu yang aku cari :) Apalagi desain-desainku nanti untuk Green Smile, jadi selain bagus juga harus memperkenalkan budaya Indonesia pada dunia.
Kami pergi naik becak. Aku dan Ibu di satu becak dan Frisky di becak lainnya. Tadinya kami mau menyewa mobil, jadi menghubungi Mas Tyo, sopir yang aku ceritakan di post sebelumnya untuk mengantarkan kami. Tapi tebak apa yang ia katakan? Katanya sayang sekali kalau harus menyewa mobil karena biaya yang dikeluarkan akan mahal, jadi lebih baik gunakan becak karena biayanya lebih murah. Wow, he's really really really kind! :D Di Bandung, jarang sekali orang yang menolak untuk memberikan jasanya dan malah menyerahkannya kepada orang lain.Oh, I love Jogja :)

Aku lupa bertanya siapa nama dua orang sopir dari becak yang kami tumpangi. Tapi kami banyak mengobrol waktu di perjalanan. Mereka bercerita tentang pekerjaan, keluarga dan tentu saja tempat-tempat menarik di Jogja. Rasanya seperti punya guide gratis, hihihi. Karena masih pagi aku memilih nggak menggunakan penutup becak, jadi bisa menikmati udaranya sambil melihat suasana. Lucky me, cuaca Jogja sangat bersahabat :) Kesanku mengenai jalan di Jogja terutama Malioboro adalah, banyak sekali andong! Hihihi, seperti jaman kerajaan saja (eh, memang masih kan, ya). Senangnya para sopirnya rapi, mereka memakai baju tradisional dan treat their horses very well. Hampir di setiap andong aku melihat ember makanan dan air minum. Nice :) Lalu lintasnya juga menyenangkan, sepertinya nggak ada orang yang sedang terburu-buru di sini. Meski motor, mobil dan kendaraan lainnya bisa menyalip becak atau andong yang jalannya lebih lambat, tapi mereka nggak melakukannya.







Kami sampai di sebuah rumah yang menjual batik tulis. Aku melihat banyak hal menarik di sana, tapi ternyata mereka nggak menjual kain dalam partai besar, hanya kain yang sudah dipotong dan siap di jahit. Karena kami nggak berniat membeli oleh-oleh dulu (first thing first, lol) jadi kami langsung pergi tanpa membeli apa-apa. Waktu aku, Ibu dan Frisky sudah duduk di becak, tiba-tiba pemilik rumah keluar dan menghampiri kami, ia memberi tahu beberapa pilihan rumah dan toko yang sepertinya menjual kain dalam partai besar. Ia juga berbicara pada para sopir becak dan memastikan mereka membantu kami. Baik sekali :)
Jarak hotel dan tempat yang kami datangi ini cukup jauh, jadi kami bertanya dulu berapa ongkosnya untuk mencapai tempat lain yang direkomendasikan pemilik toko. Tanpa waktu lama mereka langsung menjawab bersamaan, "Lima ribu rupiah saja, Mbak. Nanti diantar ke hotel lagi".
Wow, benar-benar harga yang bersahabat :)

Setelah itu kami diantar ke "Batik Rumah", sebuah butik yang menyediakan pakaian siap pakai dan kain batik gulungan. Tempatnya sangat nyaman dan terlihat ekslusif. Sempat khawatir harga yang ditawarkan akan mahal, tapi ternyata nggak, masih terjangkau dan sepadan dengan kualitasnya.
Rencananya koleksi untuk Green Smile akan dibagi dua, satu adalah koleksi dengan kualitas seperti Toko Kecil Indi dan yang kedua adalah koleksi dengan harga yang lebih terjangkau (tapi tetap bagus pastinya). Nah, yang kain-kain yang dibeli dari sini adalah untuk koleksi yang pertama :)
Menyenangkan melihat koleksi di butik ini, banyak desain pakaian yang menginspirasi dan the best part is butik ini mengizinkan pengunjung untuk mengambil foto, hihihi. Ini benar-benar kesempatan yang jarang terjadi karena biasanya di pintu depan butik sudah ada gambar kamera yang dicoret. Dan tentu saja, pelayanan yang super ramah menjadi nilai tambah ;)


*drooling* Banyak sekali kain batik bagus di sini! :D



Selesai di "Batik Rumah" kami minta diantar ke pasar Beringharjo. Aku sudah lama mendengar tentang pasar ini dan kebetulan Ibu sudah pernah ke sini. Ini adalah pasar tradisional yang merupakan pusat perdagangan batik. Ada banyak sekali pilihan dan harga yang ditawarkan juga super murah. Yup, super murah. Aku tahu "murah"itu realtif, tapi aku yakin harga delapan ribu rupiah untuk sebuah baju tidur anak itu pasti termasuk super murah :) Kain-kain dari pasar ini rencananya untuk koleksi Green Smile yang kedua, meski terjangkau tapi pilihannya banyak, dan yang pasti kualitasnya bagus-bagus. Saking banyaknya pilihan, aku jadi semangat sekali, bolak-balik sana-sini dan tanya-tanya sama penjualnya, hehehe. Di beberapa toko harganya bisa ditawar, lho, dan harga akhirnya jauh lebih murah daripada di Bandung! Wah, benar-benar tepat pilihan untuk ke Jogja :D
Sama seperti di "Batik Rumah" pedagangnya ramah-ramah dan nggak segan untuk rekomen tempat lain kalau barang yang aku cari nggak ada. Saking ramahnya, mereka kadang mengantarkanku, Ibu dan Frisky ke kios yang dimaksud. Ada kejadian yang membekas sekali di hatiku, ada seorang Ibu penjual kain yang meminta aku untuk memilih kain dagangannya. Waktu kubilang aku nggak ada budget, Ibu itu bilang beliau memang ingin memberikan 3 meter kain batik secara cuma-cuma untukku! Wah... :'D

Selama kami di pasar Beringharjo, para sopir becak menunggu dengan sabar di luar. Ditawari untuk ikut masuk, makan, minum, dan lain sebagainya mereka menolak, katanya sudah membawa bekal. Untung saja nggak banyak tempat lagi yang mau kami kunjungi :D
Meski aku ke Jogja untuk bekerja, tapi aku juga ingin datang ke tempat wisata. Nggak perlu yang jauh, dekat-dekat juga nggak apa-apa karena sayang kan sudah jauh-jauh ke sini tapi nggak ada kenang-kenangan foto dengan latar belakang khas Jogja :D Ibu punya ide untuk ke museum kereta, aku senang sekali, karena it was my first time! Aku hanya pernah ke museum kereta Cirebon, dan setiap kali ke Jogja entah kenapa selalu skip tempat ini :(
Tiket masuknya hanya rp.3.000 per orang, dan untuk izin membawa kamera pengunjung kena charge sebesar rp. 1.000. Saranku, meski hanya membawa kamera handphone lebih baik tetap gunakan izin kamera ini. Banyak kereta dan benda-benda menarik di sini yang sayang kalau nggak diabadikan :)




Ibu ngumpet-ngumpet :p

Poor tiger.... Tapi kalau jaman dulu memang begini, ya :)




Mata kudanya kaya mau copot :O

Ini karet asli, sudah ratusan tahun belum diganti, lho. Keren, kan :)

Untuk turis ternyata ada fasilitas free guide, lho! Yeay!! Aku kan turis, hehehe. Sayang aku lupa siapa nama bapak yang menjadi guide kami :( He was really nice and kind, sabar banget menghadapiku yang hobi bertanya dan... kadang pertanyaannya nggak penting, hehehe. Menurutku museum ini nggak seperti museum kebanyakan, bangunannya sederhana dan aku nggak lihat ada pengamanan yang modern seperti misalnya CCTV. Hanya gerbang dan gembok biasa. Mungkin karena kereta kan besar, nggak mungkin ada yang ambil, hehehe, dan selain itu menurut mas Tyo warga di sini masih percaya bahwa leluhur selalu melindungi mereka :)
Banyak kereta dengan cerita yang unik. Kereta pembawa jenazah was my favorite. Kenapa? Karena awalnya aku nggak tahu bahwa itu adalah kereta pembawa jenazah. Keretanya mirip kereta di film-film tema princess dengan warna muda dan ukurannya besaaaaaar. Kata bapak guide kereta ini baru dipakai 3 kali, dan yang boleh dibawa hanya jenazah sultan. Permaisuri pun nggak boleh! Katanya, pada zamannya, rakyat dan pengikut setia sultan akan mengikuti kereta ini sampai tiba di tempat peristirahatan terakhir tanpa alas kaki! Yang terdengar hanya suara sepatu kuda. Wow....

Selain itu ada juga ada kereta yang ditutupi dengan kain putih dan diberi sesaji di bawahnya. Dulu kereta ini dilarang untuk diambil gambarnya karena sering kali hasilnya rusak atau malah ada yang "ikut" (you know what I mean, kan... Hehehe). Tapi sekarang pengunjung diizinkan untuk mencoba dan melihat hasilnya sendiri. Aku mencoba dan hasilnya fotoku baik-baik saja :D Menurut bapak guide itu artinya aku 'direstui' yang punya kereta dan permohonan aku akan dikabulkan. Well, I believe in God, jadi kalaupun permohonanku terkabul sepulang dari Jogja, aku yakin itu karena kehendak Tuhan. Dan hanya untuk bersenang-senang di depan kereta, aku bilang bahwa aku ingin bertemu dengan Steven Tyler, vokalis dari Aerosmith. Setelah beberapa langkah meninggalkan kereta itu, I was like... "Dang! How could I forget about John Frusciante?!!!", hahahaha :D
Tur singkat diakhiri dengan melihat-lihat pelana kuda. Sebenarnya kami ditawari untuk melihat koleksi senjata dan pembuatan batik di gedung lain. Tapi sayang, waktunya nggak cukup, kami sudah harus makan siang dan kembali ke hotel sebelum magrib tiba. Lain kali, kalau aku ke Jogja lagi semoga bisa lebih lama di sini. Dan bisa mengambil banyak foto juga, hehehe. Oya, bapak guide ini baik banget, lho. Beliau lah yang mengambil foto kami bertiga selama di museum :D



Katanya kereta ini bisa mempertemukanku dengan Steven Tyler :p

Karena kami ke Jogja tanpa referensi untuk tempat wisata kuliner, jadi kami mengandalkan saran-saran yang didapat dari reply komentar dari facebook atau twitter akunku. Kebanyakan mereka menyarankan supaya aku makan di Raminten. Nah, entahlah Raminten (House of Raminten ---beberapa menyebutnya begitu---) itu di mana, kami langsung meminta sopir becak untuk mengantarkan kami ke sana. Sepanjang perjalanan aku sama Ibu bertanya-tanya, kok nggak sampai-sampai, ya? Akhirnya Frisky bertanya pada mereka seberapa jauh lagi perjalanan ke Raminten. Tenyata... masih JAUH sekali! Hahahaha. Memangnya orang Jogja itu ramah-ramah, sudah tahu jauh masih saja nggak mengeluh :) Karena kami takut para sopir becak kelelahan, kami minta diantar ke yang dekat saja. Mereka menyarankan kami untuk ke Gadri Resto, yang letaknya tepat di samping museum kereta. Oh, la la... balik lagi ke tempat sebelumnya ternyata :D


Masuk ke Gadri Resto awalnya bikin aku nggak yakin ini restoran atau bukan, soalnya mirip sekali seperti rumah. Aku, Ibu dan Frisky langsung dipersilakan duduk di pekarangan (atau seenggaknya terlihat seperti itu) oleh mas-mas dan mbak-mbaknya yang super ramah. Banyak menu yang menarik, tapi karena aku vegetarian dan aku bosan kalau harus makan nasi goreng lagi, jadi aku memesan salad, menu standar, hehehe. Sedangkan Ibu dan Frisky memesan menu andalan: nasi blawong. Untuk minumannya Ibu memesan Bir Jawa ditambah menu penutup tempe mendoan :)
Setelah beberapa lama di sini aku jadi tahu kenapa restoran ini mirip rumah. Ternyata kami MEMANG sedang di rumah Gusti Joyokusuma, adik kandung dari Hamenungku Buono X. Pantas saja suasananya hommy sekali, dan waktu aku ke toilet aku menemukan ruangan-ruangan yang 'normalnya' ada di rumah kebanyakan, seperti dapur, ruang TV dan ruang keluarga. Hanya saja perabotannya mewah-mewah, nggak seperti di rumah keluargaku yang sederhana, hehehe.
Tahu seperti itu aku langsung mengajak Ibu dan Frisky untuk melihat-lihat ke dalam. Mereka sama sepertiku, kagum, dan secara otomatis memelankan suara kami karena di bagian belakang rumah ada keluarga Gusti Joyokusuma yang sedang beristirahat, hihihi.


Aku dan Ibu di Gadri Resto. Lip gloss di atas meja itu memalukan sekali! :p

Bir jawa yang segar :D

Ibu dan Frisky yang malu-malu, hihihi :)

Saladnya ENAK BANGET!!! :D

Tempe mendoan :)

Di bawah ini foto-foto di dalam rumah, tapi kami cuma 'berani' masuk sampai kamar tidur depan saja...




Buat upacara anak, aku lupa apa namanya.




Setelah perut kenyang kami kembali ke hotel. Cukup kelelahan, tapi banyak senangnya :D Kami bertanya kepada kedua sopir becak tentang ongkosnya, tapi mereka malah menyerahkan kepada kami. Mereka bilang terserah, karena di Jogja memang seperti ini. Duh, kami malah bingung dan diam cukup lama, hehehe. Akhirnya salah satu dari mereka bertanya dengan hati-hati apakah kami mau membayar rp. 75.000 untuk 2 buah becak. Langsung saja kami setujui dan memberi mereka uang rp.100.000 :)
Aku dan Ibu cukup terkejut dengan tarif becak di sini. Dengan jarak yang kami tempuh dan waktu menunggu mereka yang sangat lama,mereka hanya memasang tarif rp. 37.500 per becak. Padahal di Bandung untuk jarak yang lebih dekat dan tanpa menunggu sopir becak mematok Rp. 50.000, itu pun hanya satu kali jalan.

Waktu sudah menunjukan pukul 3.30 sore, aku punya waktu beberapa jam untuk bersantai dulu sebelum packing karena besok pagi kami akan pulang ke Bandung. Kesempatan ini langsung aku pakai untuk luluran, hehehe. Setelah seharian bepergian kulitku langsung berubah merah dan timbul biang keringat. Ya, kulitku memang sensitif, aku nggak mau kulit yang rusak menjadi oleh-oleh sesampainya di Bandung, hehehe. Setelah selesai, aku langsung memakai piyama, packing, dinner (aku pesan junk food, lol) dan tidur sambil ditemani siaran berita lokal Jogja.

Ah, what a great day. Sepertinya berat sekali untuk meninggalkan Jogja :')




Day 3: Naik Kereta Api, tut tut tut dan Sampai Jumpa Jogja!

Aku, Ibu dan Frisky bangun pagi-lagi sekali dan bersiap untuk sarapan di hotel. Well, Frisky sedikit terlambat, mungkin ia ketiduran karena kemarin hari yang melelahkan, hehehe. Kami dapat menu nasi goreng, sop dan beberapa pilihan minuman. Tadinya aku makan nasi goreng dan sop sekaligus, tapi takut terlambat ke stasiun, hehehe. Oh, ya kami memilih pulang menggunakan kereta, karena itu merupakan "syarat" yang aku ajukan pada Green Smile. Aku hanya mau naik pesawat ketika pergi untuk menghemat waktu, sedangkan untuk pulangnya biarkan aku menikmati perjalanan darat, hehehe (padahal karena aerophobia, lol).


Super sleepy face!!! Hahahaha :p

Outfit untuk perjalanan ke Bandung, nggak lupa Onci di gendongan :)


Jarak stasiun dan hotel cukup dekat, kami pergi menggunakan becak yang kami tumpangi kemarin. Entah kenapa agak sedih berpisah dengan bapak-bapak sopir yang baik hati ini... Mereka mendoakan kami agar selamat di perjalanan dan meminta kami agar berkunjung lagi ke Jogja lain kali. Sebelum berpisah aku meminta nomor handphone mereka, agar kalau aku ada kesempatan mampir ke Jogja lagi, aku bisa menghubungi mereka untuk berjalan-jalan menggunakan becak :')


Di stasiun :)

Pukul 9 pagi kereta kami datang. Kami menggunakan kereta eksekutif jurusan Bandung. Sama seperti di pesawat, aku duduk bersama Onci. Bedanya kali ini dengan perasaan khawatir yang lebih sedikit dan hati yang super gembira. Hanya satu hari di Jogja tapi begitu banyak pengalaman dan teman baru :)
Delapan jam perjalanan terasa begitu nyaman, aku dan Ibu banyak mengobrol terutama tentang kenangan-kenangan di Jogja. Baru di perjalanan pulang saja kami sudah rindu, apalagi ketika di rumah nanti, ya, hihihi. Kami bahkan sudah sibuk mengkhayal tentang perjalanan kami berikutnya. Ibu ingin lain kali kami mengajak Bapak dan Adik. Bahkan Kakek dan Nenek juga kalau mereka mau! :) Kami juga tertidur entah berapa lama, dan ketika membuka mata kami sudah tiba di Bandung! :)

Yang belakang mau ikutan difoto, hihihi. Nggak sempat kenalan, tapi mereka smiley sekali sama aku :))

Aku langsung menghubungi Bapak dan Adik untuk menjemput kami, dan ketika menunggu ada sedikit surprise. Ternyata salah satu pembaca novel aku berada di dalam kereta yang sama, dan ia menghampiriku untuk menyapa dan meminta foto bersama. It was nice, soalnya ketika masih di Jogja ada 2 orang pembaca yang melihatku tapi nggak berani menyapa :( Apakah aku kurang tersenyum sehingga membuat wajahku seram? Padahal seperti yang aku sering katakan, aku senang mendapat teman baru :)

Bapak dan Adik tiba 10 menit kemudian, kami nggak langsung pulang ke rumah, tapi dinner dulu. Well, meski aku sangat-sangat-sangat menikmati Jogja dan kulinernya, tapi tetap saja aku juga rindu makanan Bandung setelah 3 hari nggak bertemu, hahaha :D Kami makan baso tahu dan jagung bakar. Sepanjang waktu dinner aku cerewet sekali menceritakan tentang Jogja pada Bapak dan Adik. Aku bahkan langsung perlihatkan foto-foto selama di sana :D


Makanan Bandung :D



Aku bersyukur dan merasa beruntung sekali memiliki pekerjaan yang menyenangkan.Berkat Green Smile aku berkesempatan mengunjungi tempat baru, mendapat teman baru dan of course mendapatkan 'terapi' untuk aerophobia ku, hehehe. Aku juga bersyukur meski tujuannya bekerja tapi aku sempat mendapatkan wisata singkat dan sempat membeli oleh-oleh untuk keluargaku di Bandung.

Nggak heran kenapa banyak turis mancanegara yang selalu kembali lagi ke Jogja. Jogja bahkan ramah pada turis lokal sepertiku. Aku akan kembali lagi for sure. I love you, Jogja. Sungguh :)


smile,

Indi

_____________________________________________________________

nb:
- Ini adalah ke empat kalinya aku ke Jogja, tapi ini adalah pengalaman pertamaku ke sana untuk bekerja.
- Buka link ini untuk mengenal Green Smile, my newest project lebih jauh:  HERE.
- My link: facebook and twitter :)

Rabu, 29 Agustus 2012

Work Trip: Jogja! (Part 1-Aerophobia)

Beberapa waktu lalu aku ditawari oleh Green Smile untuk mendesain dan membuat produk-produk fashion untuk mereka. Nope, nope, Green Smile itu bukan merk dari sebuah label fashion, kok, hehehe. Green Smile itu adalah gerakan yang mengajak anak-anak muda untuk hidup hijau sekaligus memperkenalkan keindahan/budaya Indonesia ke mancanegara. Nah, bagaimana produk fashion bisa jadi ramah lingkungan sekaligus memperkenalkan negara kita? Nanti akan aku ceritakan lagi, setelah semua produk selesai dan sudah dekat waktunya launching. Sekarang aku minta doanya saja supaya semuanya lancar. Amen... :D

Yang mau aku ceritakan sekarang bukan tentang Green Smile (soal ini akan aku ceritakan berbarengan dengan launching), tapi tentang proses pengerjaan produk-produk fashion ini yang ternyata membuat aku nggak bisa tidur! Sudah ada yang tahukah bahwa aku takut terbang (aerophobia)? Iya, aku takut, sangat takut terbang (baca: naik pesawat) malah. Dan karena lokasi untuk membeli bahan produk-produk yang akan kudesain dan buat itu di Jogja, aku pun terpaksa harus naik pesawat setelah berabad-abad menghindarinya!

Well, okay, "berabad-abad" terdengar berlebihan. Tapi aku memang sudah lama menghindari pesawat. Sebenarnya ini agak aneh karena dari kecil sampai aku berusia sekitar 13 tahun aku nggak bermasalah dengan terbang. Aku bisa dengan ceria ke bandara lalu menikmati penerbangan sambil bermain dengan Onci, boneka kelinciku. Lalu ketika menginjak usia remaja, entah kenapa aku jadi takuuuuuut sekali untuk terbang. Dipaksa seperti apapun aku nggak akan mau. Onci nggak bisa menenangkanku lagi. Aku lebih memilih perjalanan lewat darat meski itu memakan waktu seharian daripada harus menghabiskan 1 jam di atas pesawat. Setelah aku mengenal Ray, dia juga ikut membujukku untuk nggak "setakut" itu dengan pesawat. Katanya, bagaimana aku bisa bertemu dengan Steven Tyler yang berada di Amerika sana kalau aku nggak mau naik pesawat? Dengan yakin aku menjawab, "Nggak perlu, gue tunggu dia yang ke sini saja!".

Tapi kali ini lain cerita. Ini bukan liburan, aku nggak bisa memilih transportasi apa yang aku akan digunakan. Setakut apapun, aku sudah berjanji kalau soal pekerjaan harus profesional. Ya... at least mencoba, karena se-profesional apapun aku coba, tampang takutku tetap kelihatan, hahaha. Eh, btw aku sering ditanya apakah aku mendadak takut naik pesawat karena film "Final Destination", soalnya film ini terkenal banget waktu aku beranjak remaja. Hmm, mungkin saja, sih. Tapi tepatnya kenapa, sepertinya sampai kapanpun aku nggak akan tahu :')

Jadi akhirnya, tanggal 25 Agustus lalu aku bangun pagi-pagi sekali. Demi mengejar penerbangan jam 2 siang di Jakarta yang katanya bertepatan dengan arus balik sesudah Lebaran. Aku nyaris nggak tidur semalaman, kalau dihitung totalnya cuma 1 jam, sisanya aku habiskan dengan bolak-balik keluar kamar, berdoa dan sembunyi di balik selimut. Perjalanan dari Bandung ke bandara Soekarno-Hatta pun aku gunakan untuk 'menenangkan diri'. Minta diyakinkan oleh Bapak bahwa pesawat itu aman dan sibuk bertanya pada Ray tentang keamanan pesawat Lion Air. Memang agak ironis, Ray bekerja di travel agent tapi aku anti pesawat, hahahaha :'D

Ternyata aku sampai di Bandara terlalu pagi. jam 9.30 aku, Ibu dan Bapak sudah sampai, padahal diperkirakan jam 12 baru bisa sampai mengingat jalanan sedang macet. Kami terpaksa keliling-keliling bandara dulu sambil cari makanan dan menunggu Frisky, partnerku di Green Smile. Kenapa terpaksa? Karena bandaranya kotor sekali, satu-satunya bagian yang wangi cuma tempat spa. Aku mau mampir ke sana, tapi masa baru datang langsung spa? :p
Aku memesan menu "aman" di A&W, yaitu veggie burger. Menu ini aman karena tanpa daging, dan harganya juga 'aman' karena rata-rata fastfood harganya sama. Tahu kan harga makanan di airport itu gimana, hehehe. Nggak lama setelah aku selesai makan, Frisky datang. Bapak bisa pulang ke rumah karena aku dan Ibu nggak perlu ditunggui lagi. Iya, aku pergi bersama Ibu supaya lebih nyaman. Dan Onci juga ikut, karena meski tetap ketakutan, tapi takutku jadi berkurang 1% deh kalau ada dia :'D

Aku, Ibu dan Frisky menunggu sambil ngobrol sana-sini. Setengah hatiku ingin cepat berangkat karena sudah bosan menunggu, setengah lagi ingin pesawatnya delay, lalu batal terbang karena aku takut. Kalau batal kan bisa naik kereta api atau bis saja yang aku nggak takut :p Aku nggak mau berpisah dari Onci, aku berjanji bakal menyerang siapa saja yang berusaha menyimpan dia di bagasi. Rrrrroooarh!! (okay, aku becanda). Jadi aku selalu simpan Onci di pangkuanku dan kadang aku peluk-peluk untuk memberikan perasaan lebih tenang. Btw, Onci ini keren lho buat ukuran boneka. Soalnya dia sering banget pergi keluar kota, hehehe....


Menunggu pesawat datang, Ibu asyik membaca tulisanku untuk Green Smile di tablet :)

Well, kelihatan banget ya aku takut dan kurang tidur :p

Today's outfit: Hairband: lupa dari mana :p | Dress: Toko Kecil Indi | Shoes: FLD

Bersama Frisky, dia agak-agak anti difoto gitu, hehehe.


Lalu pesawat pun datang. Tepat waktu, sangat jauh dari delay apalagi batal. Bahkan kalau dilihat dari jam di ponselku sepertinya ini pesawat datang 1 menit lebih cepat T_T Waktu ada panggilan untuk penerbangan ke Jogja, aku langsung, "What the... itu pesawat baru datang langsung mau terbang lagi? Cek dulu dong siapa tahu ada yang kurang", dan dilanjutkan dengan umpatan yang nggak bisa diterjemahkan (bahasa ciptaan sendiri, lol).
Sambil memegang Onci aku berjalan dan duduk di bangku pesawat sambil berdoa. Pengen nangis tapi malu, mau marah juga marah kenapa? Nanti dituduh meresahkan warga lagi, hehehe... Aku lihat ke luar jendela langit agak mendung. Frisky ngotot ubah modus ponselnya menjadi "modus pesawat" daripada mematikannya seperti yang aku minta. Pikiranku sudah aneh-aneh dan berniat menyalahkan Frisky kalau sampai pesawat ini jatuh.


Mencoba terlihat ceria bersama Onci :p


Langsung mules pas tahu di luar agak mendung :')



Aku tahu ini pasti terdengar aneh untuk yang nggak punya masalah dengan terbang. Sama seperti cinta, rasa takut juga kadang nggak pakai logika (lagu Agnes Monica ini mah, lol). Para aerophobia, termasuk aku sebenarnya tahu kok kalau pakai pesawat itu sebenarnya 25 lipat lebih aman daripada dengan menggunakan mobil. Tapi ya itu dia, phobia kadang nggak logis dan nggak bisa diatasi dengan hanya mengumpulkan fakta-fakta bahwa terbang itu aman. Ray sampai berkali-kali bilang bahwa pesawat yang aku gunakan ini masih baru lho...
Ditenangkan orang lain nggak bisa jadi aku coba menenangkan diri sendiri. Well, sebenarnya lebih ke mengalihkan perhatian, sih. Agak-agak cheesy, tapi demi mengurangi fokusku sama cuaca mendung dan perut mual karena pesawatnya "tuing-tuing", aku berusaha menguping SEMUA pembicaraan penumpang lain, termasuk pramugarinya. Ini benar-benar nggak baik dan jangan sampai ada yang niru *ketok-ketok kayu* Tapi ternyata berhasil membuat aku konsentrasi dan lupa hal lainnya (baca: terbang).

Dan... pesawat pun mendarat dengan selamat tepat setelah keluarga di depanku cerita tentang poros roda patah dan pesawat akan jatuh (what the...!!!). Nggak begitu mulus karena landasannya memang lebih pendek daripada di Soekarno Hatta, tapi yang terpenting kami selamat sampai di Jogja :D
Aku pun langsung super ceria dan mengucap syukur berkali-kali. Terima kasih, Tuhan :') Aku bahagia sekali karena kami semua selamat dan bangga karena aku berhasil mengatasi rasa takutku walau cuma sedikit.


SAMPAI DI JOGJA DENGAN SELAMAT! YAIIIY! :) Thank God :)


Melihatku seperti sekarang rasanya nggak percaya bahwa aku dulu begitu menikmati terbang. Setiap kali diajak berlibur aku pasti langsung semangat dan membawa tas yang paling bisa memuat banyak barang (girl... lol). Orangtuaku penasaran sekali kenapa aku berubah, tapi sebenarnya aku juga penasaran, soalnya aku selalu cukup bisa menikmati segala suasana (I won't blame "Final Destination", lol). Tapi yah, kalau penyebabnya nggak ketemu bukan berarti nggak bisa diatasi, kan? Aku tahu aku pasti bisa. Dan bisa melewati 1 penerbangan tanpa tangisan merupakan kemajuan, kan? ;)


Keluar dari bandara, udara Jogja begitu panas dan matahari bersinar terik. Tapi aku nyaman karena orang-orang di sana sangat ramah. Aku naik angkutan bandara ke hotel dan segera berteman dengan sopirnya. Namanya Mas Tyo, dia banyak bercerita tentang Jogja. Aku memang nggak bisa berkunjung ke mana-mana karena datang untuk bekerja, tapi menikmati ceritanya saja sudah menyenangkan :) Setelah sampai di hotel kami langsung bersiap untuk makan malam karena sudah sore. Kami berjalan di sekitar hotel dan menemukan banyak makanan enak yang harganya juga terjangkau. Dan guess what? Setelah Mas Tyo temanku pun bertambah satu lagi, namanya Joni, dia seorang pelukis jalanan yang membuat wajahku terlihat lebih muda 10 tahun di lukisannya, hihihi.
Ah, ternyata Jogja begitu ramah. Perjalanan menakutkan dengan pesawat pun terasa begitu sepadan ketika tiba. Okay, mungkin aerophobiaku nggak akan sembuh dengan satu kali percobaan, tapi sekarang aku punya alasan tambahan kenapa aku nggak harus takut naik pesawat selain dengan fakta bahwa pesawat 25 kali lipat lebih aman daripada mobil: "Ingat dengan apa yang menanti di tempat tujuan". Itu akan membuatku merasa lebih baik di penerbangan selanjutnya :)


Satu-satunya hotel yang tersisa di Malioboro. Kecil, tapi cukup bersih :)

Onci sudah tidur duluan :p

Karya Joni, aku malah kaya anak kecil, hahaha :D


Baru beberapa jam di Jogja sudah banyak hal menyenangkan yang menyambutku. Dan masih banyak hal-hal menyenangkan lainnya selama aku di sana. Aku akan share di post selanjutnya. Sedikit bocoran, aku mendapat beberapa teman baru lagi! :D Semoga kalian menikmati ceritaku selama work trip di Jogja, ya. Sampai jumpa ;)


faith, trust and pixie dust,

Indi


------------------------------------------------------------------
contact me: here and here.

Selasa, 21 Agustus 2012

Pelajaran dari Bapak dan Ibu :)

Sebelum pergi terapi, sebelum tahu akan mendapat kejutan :)


Hi, my lovely readers! Apa kabar? Selamat Hari Lebaran ya bagi yang merayakan. Mohon maafkan aku kalau selama ini ada kesalahan atau ada tulisan yang kurang berkenan di hati kalian. Semoga Lebaran kali ini mendatangkan berkah bagi kita semua dan kita bisa memulai semuanya dengan lebih baik, amen... :)

Ngomong-ngomong soal Lebaran, beberapa hari sebelumnya tepatnya tanggal 16 Agustus, aku mengalami hari yang menyenangkan. Well, kebanyakan hari memang menyenangkan, sih, hehehe, tapi aku nggak nyangka akan semenyenangkan ini :D Jadi, seperti hari libur biasanya aku memulai hari dengan terapi. No special outfit, no special hairstyle. Semuanya benar-benar seperti biasa. Diantar Bapak, lalu dijemput kembali satu setengah jam kemudian. Tapi lalu ada yang berbeda. Waktu mobil Bapak terparkir di halaman tempat terapi, yang menjemput ke ruangan terapi bukan Bapak, melainkan Ibu! Aku senang tentu saja, lalu bertanya mengapa Bapak menunggu di tempat parkir. Ibu bilang kami akan makan malam di luar, just 4 of us, me, my brother, Bapak and Ibu. Aku langsung mengangguk gembira, dan nggak menyangka bahwa banyak hal menyenangkan lainnya yang menunggu di hari itu...


:D

Ring: Bandung Indah Plaza.

OOTD: Hair accessory: Naughty | Dress:  Toko Kecul Indi | Handbag: BSM | Shoes: Nevada Kids


Kami berencana untuk dinner di restoran 'all you can eat' di sebuah mall. Waktu menunjukan pukul 5, dan hanya satu jam kurang sebelum waktunya berbuka puasa. Lucunya Ibu nggak ingat soal itu, jadi nggak reservasi dulu sebelumnya. Beliau pikir, cabang di mall ini biasanya sepi, jadi buat apa reservasi. Tapi ternyata di bulan puasa luar biasa penuh sampai-sampai kami harus masuk waiting list dan kembali lagi jam 8 malam! Bukan waktu yang sebentar, hahaha :D 
Setelah berunding singkat, Ibu memutuskan untuk menunggu dan membeli beberapa keperluan rumah tangga di supermarket. Hmm, ibu-ibu kan selalu menikmati belanja, jadi pasti bisa 'membunuh waktu' sampai waktunya dinner, hahaha. Sedangkan Bapak dan Adik, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan keluar mall. Dan aku... aku nggak punya rencana apa-apa dan memilih untuk menemani Ibu belanja. Tapi lalu Ibu bertanya apa aku nggak menginginkan sesuatu yang lain, sesuatu yang benar-benar aku inginkan. Sambil tertawa aku menjawab bahwa aku kehabisan blush on, lip gloss dan ingin beberapa aksesoris rambut. Jawaban main-main, tentu saja. Tapi ternyata Ibu mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya sambil berkata, "Ini pakai saja uang Ibu".


Treat from Mommy :)

They're just too cute :) Thanks, Mom! :*


Aku terkejut sekaligus senang. Bukan, bukan karena jumlahnya besar, tapi karena... aku nggak menyangka, di usiaku yang bukan anak-anak lagi beliau masih menyenangkanku dengan treat kecil di waktu yang nggak diduga-duga. Mungkin bagi sebagian anak ini adalah hal biasa, tapi untukku ini adalah moment yang mengharukan... Bapak dan Ibu adalah orangtua yang penuh kasih, tapi juga sangat disiplin. Sejak kecil, jika aku menginginkan sesuatu, aku harus menabung dulu dari sisa uang jajan. Mereka sangat selektif dengan barang yang aku miliki. Aku memang dibebaskan untuk memilih apa yang aku inginkan, tapi selalu diberikan 'pertimbangan' apakah aku benar-benar membutuhkannya atau nggak. Setelah aku beranjak remaja, aku mulai menyadari bahwa Bapak dan Ibu berbeda dari orangtua teman-temanku. Waktu teman-teman satu kelas sudah mempunyai HP, Ibu bertanya apa aku menginginkannya juga. Aku bilang, tentu saja aku ingin. Lalu Ibu  memintaku untuk menabung, dan setiap kali nilaiku baik, aku mendapatkan uang jajan tambahan. Hasilnya, aku berhasil mengumpulkan sejumlah uang yang cukup untuk dibelikan sebuah HP monokrom merk Nokia. Aku gembira luar biasa dan menjaga HP ku baik-baik :)

Bapak selalu bilang bahwa tugas orangtua adalah memfasilitasi kebutuhan anaknya. Aku suka menulis, maka Bapak membelikanku sebuah komputer tua yang usianya hampir sama denganku untuk berlatih menulis. Aku juga suka mendesain pakaian, maka Ibu membelikanku buku-buku fashion dan membagi ilmu desainnya padaku. Tapi jika aku menginginkan Barbie, boneka binatang, lampu-lampu hiasan dan lainnya, aku harus menabung dulu. Alasannya sederhana, karena usiaku waktu itu sudah cukup untuk mengerti konsep menabung: sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit. Atau kalimat lainnya, "Ini mungkin akan memerlukan waktu lama, tapi jika berusaha terus pasti akan tercapai" :) Semua yang aku inginkan didapat dari hasil menabung (meski waktu itu 'sumber' uangnya masih dari Bapak dan Ibu, lol), terkecuali jika aku membuat suatu prestasi, ulang tahun dan di hari raya,  Bapak dan Ibu selalu memberikanku sesuatu :)

Jangan salah kira, orangtuaku bukan orang-orang yang pelit. Mereka hanya menginginkan yang terbaik, dan itu cara mereka mendidikku, dan aku menyukainya karena aku mulai mendapat hasilnya di usia dewasa :) Ternyata, dengan memanfaatkan semua fasilitas yang diberi Bapak dan Ibu ditambah dengan menabung berhasil membuatku melewati fase remaja ke dewasa dengan relatif lancar :) Buatku, juga buat Ibu dan Bapak, menjadi dewasa adalah bisa bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, —-membawa stuffed animal ke mana-mana bukan berarti imatture, selama nggak bertingkah kekanakan :D
Ketika kuliah, dari pertengahan sampai semester akhir, aku membiayai sendiri. Nggak ada uang saku terkecuali dapat fasilitas antar-jemput menggunakan mobil Bapak. Itu bukan permintaan orangtua. Mereka justru berpendapat bahwa seharusnya untuk biaya pendidikan aku harus dapat sampai sarjana. Tapi kupikir, aku sudah punya pendapatan sendiri dan mencukupi, jadi kenapa aku nggak mencoba untuk lebih mandiri, toh usia dewasa sudah semakin dekat :) Syukurlah mereka bisa mengerti dan membantuku berlatih sehingga aku hampir 'nggak' sadar sudah memasuki usia dewasa :)

Selepas kuliah aku menanggung hidupku 'sendiri', dalam artian finansial, karena untuk mental orangtua pasti men-support anaknya bahkan sampai akhir hayat. Aku memang masih tinggal di sebuah kamar di rumah Bapak dan Ibu, tapi untuk biaya listrik, internet, telepon dan belanja bulanan (pribadi) mereka menyerahkan sepenuhnya padaku. Banyak yang mengira aku anak manja karena Bapak atau Ibu sering mengantarku bepergian, tapi menurutku itu bukan bentuk manja, tapi bentuk kasih sayang mereka. Mereka hanya ingin berada di sekitarku, hanya ingin melihat anak gadisnya dari dekat. Dan untuk biaya bensin, tentu saja aku yang menanggung. Mereka murni mengantar :))
Bahagia rasanya ketika mendengar Bapak dan Ibu berkata "bangga" dan terseyum dengan puas :')

Perjalananku masih panjang, dan akan selalu membutuhkan proses belajar. Aku nggak pernah menyesal dengan cara didik orangtuaku, sebaliknya aku bangga dan merasa beruntung karena tetap mendapatkan masa kecil yang super indah sembari mendapatkan pelajaran berharga. Apa yang aku hadapi sekarang suatu hari akan berubah ke level yang lebih tinggi. Suatu hari aku harus meninggalkan kamar di rumah orangtuaku dan memulai keluarga kecilku sendiri. Hidupku akan lebih menantang dan akan ada banyak hal yang harus diatur. Jika sekarang aku hanya bertanggung jawab untuk diri sendiri, maka suatu hari aku akan mengatur biaya pendidikan anak dan lain sebagainya (bersama suami tentu saja, lol). Aku nggak perlu takut menghadapi itu semua karena dengan support mental dari Bapak dan Ibu aku pasti bisa :)

Dan sekarang, kembali lagi pada 'hari itu', aku membelanjakan uang dari Ibu dengan perasaan yang sangat gembira. Aku nggak menghabiskan semuanya dan menyerahkan sisanya pada Ibu. Hari itu aku belajar sebuah hal baru lagi. Selain untuk mengajarkan anakku kelak untuk menabung, meyakinkannya bahwa ia bisa mandiri... memberikannya kejutan di waktu nggak terduga akan memberikannya senyuman bahagia sepanjang hari. Seperti yang alami di hari itu :) :) :) :) :)



Ibu dan Bapak, ketika akhirnya waktu dinner tiba :)



blessed girl,
INDI
______________________

contact me: namaku_indikecil@yahoo.com (email) or HERE and HERE

Kamis, 16 Agustus 2012

Bekerja itu Menyenangkan :))

YAIY!! :D

Howdy-do bloggies? Apakah puasanya lancar? :D Bulan puasa sudah hampir selesai, nih, untuk yang mau mudik hati-hati di jalan dan tetap semangat puasanya, ya, jangan sampai bolong, hihihi :)
Gue ingat, waktu masih kecil suka sekali dengan bulan puasa dan lebaran. Guess why? Karena liburannya panjang! Hihihi... Apalagi waktu SD dan SMP, bisa hampir satu bulan,lho. Dan biasanya gue dan keluarga pergi ke luar kota, menginap di sebuah hotel dan melakukan random things. Dari mulai memancing sampai mengunjungi tempat-tempat wisatanya karena kami memang nggak punya tradisi mudik, sejak lahir kami sudah di Bandung, hihihi. Tapi sekarang, setelah dewasa libur panjang nggak lagi gue dapatkan. Di bulan puasa sampai sesudahnya malah merupakan "bulan padat" untuk gue. Kadang rindu masa kecil juga, sih... tapi semua kan ada fasenya. Sekarang waktunya gue mendapat kesenangan selain dari hari libur :)

Dulu nggak pernah terbayang bagaimana rasanya menjadi dewasa. Sekolah dari pagi sampai siang saja rasanya sudah cukup bikin gue ingin tidur siang sampai waktunya makan malam,hihihi. Setiap kali melihat Bapak dan Ibu yang bekerja sampai sore rasanya itu masih sangat jauuuuuuh sekali untuk gue alami. Atau istilah lainnya, "Hey, gue nggak mungkin menjadi seperti mereka". Tapi lalu, BAM! Waktu berjalan dan here I am now :)
Orang tua gue adalah pekerja keras, mereka bekerja dari senin sampai sabtu. Malah, jika sedang sibuk-sibuknya mereka bekerja di hari minggu, full day, lalu pulang ke rumah untuk menghadapi dua anak remajanya yang bandel-bandel. That was me and my brother, hehehe :p Bagaimana cara mereka tetap have fun padahal hampir nggak punya waktu untuk diri sendiri, itu menjadi misteri... sampai gue yang mengalaminya sendiri :)

Keberhasilan mereka di mata keluarga! Iya, saat Bapak dan Ibu berhasil menyekolahkan gue dan adik sampai kuliah, saat Ibu bisa menyajikan makanan bergizi setiap hari, saat Bapak bisa mengantarkan gue dengan mobil yang dibeli dari jerih payahnya... Itu keberhasilan mereka. Itu yang membuat mereka merasa sepadan untuk terus bekerja, mengorbankan "met time"-nya dan terus merasa bahagia! Seperti sebuah lingkaran, mereka bekerja untuk keluarga, keluarga menghargainya dan mereka ikut bahagia :) Gue mengalaminya sekarang, gue tahu bagaimana rasanya. Ini bukan tentang rasa bahagia ketika rekening gue jumlahnya bertambah, tapi ini tentang rasa bahagia ketika ada orang-orang yang menghargai karya gue, mengirimi gue email hangat dan menyapa gue di tempat-tempat umum. Ini membuat gue merasa super bahagia! :)

Seperti sebuah keluarga, bekerja, profesi apapun itu pasti memberi pengaruh pada sekitar, lalu akan kembali lagi pada diri sendiri, baik itu disadari atau nggak. Ketika gue masih kecil dan bercita-cita menjadi seorang penulis, yang gue inginkah hanya mempunyai buku untuk dipajang di rak dengan nama gue tercetak di cover-nya. That's it. Lalu ketika gue sudah menjadi seorang penulis sungguhan, gue mendapatkan lebih dari itu. Gue menerima banyak komentar-komentar dari pembaca yang isinya sangat menyenangkan hati. Email, surat, pesan di facebook, twitter... sangat menyenangkan untuk membaca dan membalasnya satu-persatu. Gue anggap mereka semua teman karena mereka begitu baik, menginginkan gue untuk terus bertumbuh. Dari bekerja gue mendapatkan banyak teman baru... :)

'Pengaruh' memang kata yang besar, tapi gue percaya, pengaruh itu selalu  ada meskipun kecil. Di novel pertama dan kedua gue ada tokoh bernama Mika, dia adalah 'pahlawan' gue sejak gue berusia 15 tahun... sampai sekarang. Di mata gue, Mika begitu berani dan selalu siap melindungi gue sampai AIDS membuatnya harus kembali menjadi malaikat Tuhan. Menceritakannya membuat gue merasa lebih ringan dan membuat gue tersenyum, kembali mengingat masa-masa penuh hal konyol dan mengharukan bersama Mika. Membaginya merupakan 'terapi' untuk gue. Siapa sangka bahwa apa yang gue tulis bisa ternyata mempengaruhi orang lain? Melalui novel-novel gue ternyata Mika seolah hidup kembali, banyak yang mengaku ingin mengenal Mika, bahkan ada yang ingin mempunyai pasangan seperti Mika :) Itu manis sekali... Dan di bulan Agustus ini ada kejutan yang sangat menyenangkan juga mengharukan... Ada dua orang Ibu yang mengaku memberi nama bayinya yang baru lahir dengan nama "Miracle" karena terinspirasi oleh Mika dari novel-novel gue... Ah, gue nggak bisa berkata apa-apa selain "terima kasih" dan "terima kasih Tuhan..." :)

Bekerja dengan hati membuat gue merasa diberkati Tuhan, I'm blessed karena teman-teman pembaca menghargai usaha yang gue lakukan dengan sungguh-sungguh... Mempunyai mereka membuat gue merasa dicintai :) Menyenangkan rasanya ketika tahu ada yang membuat sebuah karya karena termotivasi oleh yang gue lakukan. Ada yang ingin menjadi penulis, ada yang membuat film indie dengan "Waktu Aku sama Mika" sebagai kisahnya. Ada yang membuat pementasan drama, juga ada yang membuat artwork karena membaca "Karena Cinta itu Sempurna". Menyenangkan, sungguh. Bahkan waktu menulis ini pun gue nggak bisa berhenti tersenyum :)

Gue dan Mika, gambar imajinasi dari Sharon Citara :)

Masih karya Sharon, ini Mika, gue dan Ray. Diberi judul seperti novel gue, Karena Cinta itu Sempurna :)


Karya @littlelaugh18, dengan perbandingan foto aslinya :)


Karya Vindy Putri, dengan perbandingan foto aslinya :)


Karya Gluck Fraulein, dengan perbandingan foto aslinya :)

Kebahagiaan dari bekerja dengan sungguh-sungguh juga gue di tempat lain. Membaca nama gue di cover novel sudah membuat gue kegirangan setengah mati, apalagi membacanya di poster :) Beberapa kali gue melihat dua buah novel gue ada di rak best seller atau di recommended list. Tapi melihatnya di toko buku paling besar di Bandung... waw itu benar-benar luar biasa... Ingin menangis rasanya melihat nama dan gambar cover novel-novel gue di sana :') Semua nggak ada yang sia-sia, butuh proses berbulan-bulan sampai kedua novel ini keluar, dan ini hasilnya, thank God... thank God...


Thank God, they're BEST SELLER!! :D

Pekerjaan, apapun itu, selama dilakukan dengan sungguh-sungguh pasti ada hasilnya, gue percaya itu. Nggak peduli jika ada yang memandang rendah pekerjaan kalian, just follow your heart, do your best dan buktikan bahwa semua pekerjaan itu sama mulianya. Waktu gue sekolah teman-teman (bahkan beberapa guru) sering heran kalau gue menjawab "penulis" sebagai cita-cita gue. Mereka bilang, itu hobi, bukan pekerjaan. Gue sempat sedih, tapi gue percaya selalu ada jalan untuk maksud baik :) Dan ini lah gue sekarang, dengan bangga menyebut bahwa gue adalah seorang penulis. Mungkin bukan penulis yang baik karena masih harus banyak belajar, tapi, apapun itu, gue memang penulis :)

Gue nggak menyesal dengan kesibukan yang gue dapat, gue juga nggak sedih karena waktu liburan gue jauuuuuuuh lebih berkurang dibanding masa sekolah dulu. Thanks to my parents karena mengenalkan gue dengan nikmatnya bekerja dan percaya bahwa reward terbesar adalah penghargaan dari orang-orang sekitar, bukan uang :)
Setelah liburan lebaran yang sangat-sangat singkat gue siap untuk bekerja, gue nggak sabar untuk mendapatkan senyuman dan sapaan dari siapa saja yang menikmati karya gue. Novel ke tiga gue "Guruku yang Berbulu dan Berekor" akan terbit nggak lama setelah lebaran. Lalu di bulan September ada sebuah project yang akan gue kerjakan bersama Ray (it's a TV show and meet and greet, yaiy, yaiy). Dan, mungkin ada yang sudah tahu bahwa "Waktu Aku sama Mika" (IFI) akan ada versi layar lebarnya (inspired by my first novel)? :) Yes, film yang dikerjakan sejak tahun kemarin ini pada tanggal 13 lalu sudah selesai shooting dan akan diputar di bioskop bulan Desember 2012!! Senang, senang, senang sekali. Semua yang berasal dari hati dan sungguh-sungguh pasti ada hasilnya :)


It's a wrap! :)

Jadi, apalagi yang bisa gue bilang selain: cintai pekerjaanmu, lakukan dengan sungguh-sungguh. Apa yang menurutmu terbuang ketika mengerjakannya pasti akan tergantikan. Percaya, deh ;)

smile,
Indi


nb: Selain yang sudah disebutkan, ada sebuah project lagi yang gue kerjakan bersama teman-teman bernama "green smile". Project ini bertujuan untuk mengenalkan gaya hidup hijau. Silakan kunjungi web'nya di sini. Ada tulisan gue juga, lho :) Dan terima kasih banyak untuk teman-teman yang sudah membuatkan gue/novel-novel gue fans page dan akun twitter (Waktu Aku sama Mika, @indisugarindo, @indisugar_fc, @sugarsbook dan yang lainnya). Ini berarti banyak untuk gue... sekali lagi, terima kasih :')
_________________________________

Kontak Indi: di sini, sini atau email namaku_indikecil@yahoo.com
Akun Waktu Aku sama Mika dan Karena Cinta itu Sempurna resmi: di sini dan di sini

Jumat, 10 Agustus 2012

Hello, Hello Kitty :)

Hayyyy, bloggies! Apa kabar? Semoga semuanya baik-baik saja ya :) Gue juga baik, terkecuali kalau sakit lutut gue mau dihitung, hihihi. Semua berjalan dengan baik di bulan Agustus ini, thank God, apa yang sudah direncanakan sedikit-sedikit mulai terwujud. Salah satunya project novel ke tiga gue yang sudah selesai cetak dan akan beredar secara resmi di seluruh Indonesia sesudah lebaran nanti. Senang :D Mohon doanya ya, teman-teman :)

Nah, kali ini gue nggak akan cerita tentang novel ke tiga gue, apalagi soal pekerjaan. Tapi gue mau cerita sesuatu yang ringan dan membuat gue tersenyum belakangan ini. Sejak kecil gue selalu punya idola. Dari mulai tokoh kartun sampai tokoh yang nyata. Seingat gue, idola pertama gue adalah Mickey Mouse, lalu berganti Sailor Moon, lalu Barbie, lalu berganti banyak tokoh kartun lain yang gue sudah nggak ingat, hihihi. Meski ada banyak, tapi selalu ada kesamaan, tokoh yang gue suka pasti memberikan pelajaran buat gue, atau bahasa orang dewasanya: inspiring. Iya, serius, bahkan Barbie menginspirasi gue, lho. Siapa bilang boneka cantik itu cuma bagus untuk didandani dan diganti bajunya? Barbie itu "sosok" perempuan yang cerdas, lho. Lihat saja pekerjaan yang dia punya, dari mulai dokter sampai pemain band! Wah, perempuan yang serba bisa, kan? Hihihi :) Barbie membuat gue semangat untuk belajar banyak hal dan membuat gue percaya bahwa brain dan beauty harus berjalan beriringan :)

Sampai gue dewasa pun setiap kali gue menyukai sesuatu (nggak pakai kata "idola" lagi, ya. "Idola" kata yang terlalu berat untuk orang dewasa, lol) pasti ada alasannya, pasti karena memberikan pengaruh baik baik buat gue. Hmm, apa terdengar terlalu serius? Hihihi, gue memang selalu percaya bahwa hal sekecil apapun bisa berpengaruh terhadap gue. Misalnya saja gue sedang pakai dompet bergambar Mickey Mouse, maka setiap kali gue mau mengambil uang, gue akan mengingat Mickey yang hidup sederhana tapi akan berusaha sekeras mungkin untuk membuat Minnie bahagia. Sweet. Membuat gue tersenyum :))

Nah, belakangan gue memperhatikan sesuatu yang nggak biasa dari barang-barang di sekitar gue. Gue sangat suka warna pink dan selama masih memungkinkan gue senang jika barang yang gue pakai sehari-hari juga berwarna pink. Ternyata ada 1 tokoh yang jarang gue perhatikan padahal perniknya ada di mana-mana, terutama di kamar gue, yaitu Hello Kitty! Selama ini sepertinya gue hanya tahu bahwa warnanya pink dan cute, tapi nggak mengenal tokohnya.
Di pre school tempat gue bekerja, banyak yang bertanya apakah gue Hello Kitty, dan gue selalu menjawab "nggak". Well, she's cute for sure, tapi seperti gue bilang tadi, gue nggak tahu apa-apa tentangnya.

Lalu gue putuskan untuk berlaku "adil" dengan tokoh yang satu ini. Gue mencari tahu tentang si kucing imut ini. Bagaimana karakternya, dan apa "alasan bagus" kenapa gue harus menyukainya. Ternyata faktanya cukup mengejutkan, lho! Hello Kitty ini ternyata punya profesi yang pasti diinginkan oleh seluruh manusia di dunia.Dia ahli membuat orang lain merasa senang! How cute :) Dia juga menyukai sesuatu yang sangat indah, yaitu persahabatan. Dan soal percintaan dia sangat setia, sejak kecil dia hanya punya satu pasangan bernama Daniel Star. Hello Kitty juga cerdas, lho. Dia menguasai bahasa Inggris, musik dan seni visual! Awww, gue langsung jatuh cinta, she's really adorable :)

Jadi, sekarang kalau ada yang bertanya apakah gue suka Hello Kitty, gue akan langsung menjawab "IYA!". Karena di balik wajah cute nya ternyata dia mempunyai karakter yang inspiring!
Hello, Hello Kitty. You're my new idol... eh, kesukaan baru, hihihi :))



Celengan, hihihi :)

Head set, hadiah dari Ray :)

Super cute body mist! Nggak sabar mau coba lotion'nya juga :)

Hello Kitty Lotion: The packaging just toooo cute :p

Harusnya bukaannya di samping, jadi gue nggak perlu sobek gambar Hello Kitty'nya :p

Jam dinding. Tik-tok :)

Bouncy pillow. Hughug :)

Handphone :)

Jam tangan :)

Hard case blackberry kesukaan :D

Cring.. cring... Gantungannya bisa bunyi, lho :)

Mouse pad yang menemani waktu gue post tulisan ini :D

Wallpaper dan stylus! :)

Sisir hadiah dari Ray :)

Kuas pembersih keyboard :D Unik, ya? Hahahaha....

Botol minuman lipat.

Hardcase Nokia :D

Dan.... ada satu kesamaan yang nggak disengaja antara gue dan Hello Kitty. Kami sama-sama bergolongan darah "A" dan suka pakai pita pink di sebelah kiri, hihihi ;)





Miawmiau,

Indi :)

Contact me? Here and Here.