Sabtu, 14 April 2012

Reuni Paduan Suara: Bertemu Kak Immanuel Lagi dan Mendengar Cerita Darinya :)


Howdy my blogger friends?! :D
Wah, sudah weekend lagi, ya? Kok sepertinya ada aturan nggak tertulis kalau aku selalu nge-post di akhir minggu? Hihihi... Well, sebenarnya sih ini bukan disengaja, apalagi direncanakan. Tapi kebetulan saja waktuku selalu lebih senggang di akhir minggu. Sudah 2 minggu ini aku menjadi guru pendamping di playgroup dan 3 kali seminggu aku kuliah dari siang sampai sore. Setiap weekend pasti kuusahakan untuk memanfaatkannya dengan hal-hal fun. Nah, seperti hari sabtu tanggal 7 April kemarin, aku menghadiri reuni kecil-kecilan Paduan Suara Lisma! :)

Ide reuni ini datang dari Nisa, salah satu anggota paduan suara yang sangat loyal. Sama sepertiku, Nisa menjadi anggota sejak tahun 2005 sampai 2010 dan hanya lulus kuliah lah yang membuatnya berhenti bergabung dengan Lisma. Waktu 5 tahun kebersamaan membuat Nisa dan aku sangat akrab dengan anggota paduan suara yang lain, meskipun kebanyakan dari mereka datang dan pergi. Iya, paduan suara Lisma memang menerima anggota 'kontrak' alias anggota yang hanya bernyanyi ketika ada event dan boleh pergi sesuka hati jika event selesai. Syaratnya hanya dua: bersedia mengikuti latihan sebelum hari H dan nggak tahu nada. Jadi, meskipun total anggota paduan suara Lisma sangat banyak, anggota tetap yang selalu ada dalam setiap event dan lomba hanya itu-itu saja. Mungkin hanya 25 orang, itu sudah termasuk Nisa dan aku.

Waktu aku mencoba menghubungi mantan anggota paduan suara, ternyata hanya sedikit yang nomor ponselnya tetap. Singkat cerita, hanya 5 orang yang bisa datang (sudah termasuk aku dan Nisa). Ditambah Kak Immanuel, mantan pelatih kami, totalnya jadi 6 orang. Agak kecewa sebenarnya, tapi mengingat aku sudah 2 tahun nggak bertemu mereka, pertemuan ini pasti akan sangat menyenangkan meskipun hanya sedikit yang bisa hadir :)

Aku diantar adik ke Pizza Hut, BIP, tempat di mana aku dan teman-teman ex paduan suara Lisma bertemu. Aku terlambat 30 menit karena terjebak macet, dan waktu aku sampai sudah ada Nisa, Tessa, Septi dan Kak Immanuel di meja paling pojok. Rasanya gembira sekali melihat mereka, dan... sedikit ajaib, karena biasanya, dulu, kami hanya bertemu waktu latihan. Apalagi dengan Kak Immanuel yang super sibuk, seperti mimpi rasanya bisa duduk santai satu meja dengannya, hihihi.
Belum satu menit aku duduk, mereka sudah sibuk melontarkan komentar. Nisa bilang, "Kamu makin chubby sekarang, bagus". Kak Immanuel bilang, "Masih bule saja kamu. Nggak bosan?", dan sebagainya dan selanjutnya. Aku juga ingin mengomentari mereka sebenarnya, tapi entah kenapa, I was too stunned to see them again (apalagi ternyata ada Dian menyusul satu jam setelah aku datang). Yang keluar dari mulutku malah pertanyaan-pertanyaan penasaran seperti, "Pada tinggal di mana sekarang?", "Ada yang masih aktif nyanyi nggak?", "Anggota lain apa kabar?", dan seterusnya sampai mereka pusing :p

Meski pusing ternyata mereka tetap menjawab. Nisa sekarang bekerja di kantor lising Sumedang, Tessa menjadi guru SMP di Sukabumi, Dian menjadi guru tutor bahasa Inggris untuk orang Korea, sedangkan Septi baru saja diterima bekerja di tempat yang nggak terlalu jauh dari tempat tinggalku. Dan Kak Immanuel, dia lah yang mempunyai pekerjaan paling menarik sekarang. Well, mungkin bukan pekerjaannya yang menarik, tapi caranya bekerja. Dia menjadi guru sekarang, di sebuah SMP yang terletak di ujung kota Subang. Mendengar nama tempatnya saja aku sudah bisa membayangkan betapa berbedanya dengan keadaan di sini. Di sana susah sekali akses internet, untuk menuju 'kota' harus pakai ojek selama beberapa jam dan sinyal telepon masih belum bagus. Ditambah lagi menurut Kak Immanuel di sekolah tempatnya mengajar, setiap semester pasti ada saja siswinya yang keluar karena hamil. Wah...


Tessa and me :)

Tessa yang gak pernah nolak kalau kuajak nonton film musikal :p

Septi, Indi, Nisa, Kak Immanuel, Dian.

Senang bisa bertemu lagi dengan mereka :D


Tapi mendengar cerita Kak Immanuel membuatku dan teman-teman mencoba mengerti mengapa dia kerasan tinggal di sana. Menurutnya, pada awalnya memang sulit sekali untuk merasa nyaman, apalagi dia harus meninggalkan keluarganya di Bandung. Mama dan tunangannya terutama. Tapi setelah melihat keadaan sekolahnya, Kak Immanuel merasa bahwa anak-anak di sana sangat membutuhkannya. Bayangkan saja, di sana ada siklus berulang yang sudah terjadi sejak sangat-sangat-sangat lama. Rata-rata setelah lulus SMP mereka menikah karena hamil duluan dan kemudian bercerai di usia muda. Pendidikan menjadi bukan prioritas sehingga pekerjaan yang mereka dapatkanpun nggak pernah berkembang dari masa ke masa. Alumni sekolah yang berhasil lulus SMA dan melanjutkan ke jenjang kuliah pun bisa dihitung dengan jari. Itu pun mereka nggak pernah kembali lagi ke Subang dan menetap di Bandung atau kota besar lainnya. Anak-anak di sana menjadi miskin role model... 

Kak Immanuel bertekad mengubah keadaan itu, dia mulai berbicara pada guru-guru lain tentang situasi yang terjadi. Sayangnya guru-guru di sana sudah terlanjur 'malas', katanya sejak dulu memang keadaan sudah begitu, sudah diusakan berubah juga, tapi nggak ada hasilnya. Kak Immanuel yang jabatannya sebagai guru seni musik, bukan guru bimbingan konseling pun akhirnya memutuskan untuk bekerja 'di luar kewajibannya'. Mulai mengarahkan anak-anak ke jalur yang lebih positif (lewat musik tentunya), berbicara pada mereka secara pribadi sampai dengan berusaha mendatangkan role model yang diharapkan bisa membuat anak-anak lebih semangat. Usaha Kak Immanuel nggak berjalan mulus, anak-anak memang respect padanya, tapi hanya ketika di kelas. Di luar itu mereka tetap dengan 'tradisi' turun temurunnya. Kak Immanuel nggak kehilangan akal, dia meminta kepala sekolah untuk membelikan gitar dan biola agar anak-anak membentuk tim orkestra. Too bad, nggak ada seorang pun yang mendaftar :(
Aku mengenal Kak Immanuel cukup baik, 5 hampir 6 tahun aku menjadi muridnya. Aku tahu dia pantang menyerah. Tapi mendengar bahwa dia batal menikah karena dia mengharapkan pasangan yang mau ikut dengannya ke Subang benar-benar membuatku mengaguminya 100 kali lipat lebih banyak dari sebelumnya.


Aku jadi ingat pertama kali aku mengenal Kak Immanuel. Waktu itu aku adalah mahasiswa baru yang masih bingung dengan kegiatan ekstra yang mau kuikuti. Secara random aku memilih teater, fotografi dan paduan suara. Aku mengikuti ketiga kegiatan itu bersamaan, dengan rasa suka yang sama dan ketertarikan untuk belajar yang sama. Lalu suatu hari, beberapa minggu setelah aku mengikuti paduan suara, ada kabar bahwa pelatih yang selama ini mengajar digantikan oleh seorang pelatih baru. Masih muda dan penuh semangat, namanya Kak Immanuel. Entah kenapa aku memilih untuk meninggalkan teater dan fotografi lalu berkonsentrasi di paduan suara. Padahal dibandingkan dengan 2 kegiatan ekstra yang kutinggalkan, paduan suara adalah yang paling sedikit prestasinya. Satu-satunya undangan rutin hanya untuk mengisi acara wisuda atau acara kampus lainnya. Sedangkan untuk lomba, entah berapa belas tahun yang lalu paduan suara Lisma ini terakhir mengikuti lomba.


 
Seragam paduan suara kami, dasinya warna biru muda :D

Foto studio dengan kaos Lisma Choir yang masih kupakai sampai sekarang :D

Khusus acara wisuda seragam kami menjadi putih-hitam.









Aku heran melihat Kak Immanuel, dia begitu semangat untuk mengubah paduan suara yang, well, jujur saja... hancur ini. Dia selalu datang lebih awal dibandingkan murid-muridnya dan menyiapkan semuanya dengan serius. Partitur, keyboard, bahkan dia mengajari kami membaca not balok! Iya, terkadang dia meminjam kelas yang sudah selesai dipakai dan mengajari kami di sana, seolah di sekolah musik. Lambat laun usaha Kak Immanuel ada hasilnya. Dengan pelatih yang sebelumnya paduan suara Lisma hanya memiliki dua suara, tapi dengannya kami memiliki 4 suara: sopran, alto, bass dan tenor. Kami juga mulai digabungkan dengan orkestra lengkap, bukan hanya piano atau keyboard. Lalu hal yang nggak diduga pun datang, Kak Immanuel menawarkan agar paduan suara Lisma mengisi sebuah event (aku lupa nama event-nya apa). Itu adalah yang pertama buat kami, tapi Kak Immanuel menyemangati kami dan menyakinkan bahwa kami sudah siap tampil. Benar saja, sejak saat itu tawaran untuk mengisi event banyak berdatangan. Dalam satu bulan paduan suara Lisma bisa diundang ke beberapa acara sekaligus. Kami bahkan mendapatkan 'uang saku' yang benar-benar sangat lumayan secara rutin, hehehe ;)
Kegiatan ekstra yang tadinya kurang diperhatikan pun mendadak jadi sorotan. Banyak yang ingin menjadi anggota 'kontrak' karena tergiur dengan uang sakunya, dan ada pula yang ingin karena tergiur dengan tempat-tempat yang didatangi ketika mengisi event. Semuanya Kak Immanuel terima dengan senang hati.

Kak Immanuel itu orangnya galak. Eh, atau tegas ya? Hehehe... Dia nggak ragu untuk memarahi muridnya kalau memang dia bersalah. Kalau sudah marah, wah seram banget :( Syukurlah aku belum pernah dimarahi (hmm, pernah sih satu kali, tapi itu karena salah pengertian, lol). Berkat ketegasannya paduan suara Lisma akhirnya mencicipi bagaimana rasanya lomba, masuk TV, malah sampai merencanakan konser yang sayangnya harus batal karena beberapa kendala termasuk karena anggota tetapnya sudah banyak yang lulus kuliah dan mulai bekerja di tempat lain (termasuk aku). Kak Immanuel juga akhirnya mengundurkan diri karena memilih menjadi guru di Subang, dan paduan suara Lisma dikenang sebagai paduan suara yang bagus dan dispilin (ya, sekarang masih ada sih, tapi terakhir kudengar kualitasnya menurun tanpa Kak Immanuel).

Kembali lagi ke cerita Kak Immanuel di reuni kecil kami, aku penasaran kenapa dia memilih Subang bukannya Bandung yang lebih nyaman. Sebagai teman dari Nisa yang dulu pernah menjabat sebagai ketua koordinator, aku tahu betul berapa honor yang Kak Immanuel terima sebagai pelatih. Jumlahnya besar, lebih besar dibandingkan dengan gajinya sebagai guru di Subang. Dan tahukah apa jawaban Kak Immanuel? Katanya, "Mereka lebih butuh saya daripada anak-anak di sini. Kalau saya tinggalkan mereka kasihan. Ada saya saja masih susah teratur, apalagi kalau nggak ada...".
Aku terseyum. Aku rasa nggak ada alasan aku khawatir dengan keadaan Kak Immanuel di sana. Kalau 7 tahun yang lalu saja dia berhasil mengubah paduan suara super kacau menjadi paduan bersuara berprestasi, kenapa aku mesti nggak percaya kalau Kak Immanuel bisa mengubah anak-anak SMP itu untuk lebih teratur?
I know you can do it, Kak Immanuel. Yakin ;)


do re mi,
Indi




____________________________

Indi mengikuti giveaway 'Eksis dengan Batik' di sini :)


Diedit: 4/3/2024. Kak Immanuel sekarang sudah berkeluarga dan kembali ke Bandung. Usahanya membuahkan hasil, aku melihat video-video paduan suara anak didiknya di Subang yang mengikuti banyak lomba dan event :) Aku, Kak Immanuel dan Tessa masih berteman, kami berencana untuk bertemu kembali.

_________________________________________
Contact Me? HERE and HERE. Sponsorship? HERE.

Minggu, 08 April 2012

Daddy's Perspective :)

Hi bloggies! Ini aku, Indi, balik lagi dengan lebih cepat. Alasannya tentu saja karena ini sedang (yaiy!) long weekend! :D So, how's your holiday, guys? Fun? Aku harap begitu ya, dan untuk yang merayakan Paskah, aku ucapkan, "May the promise of Easter fill your heart with peace and joy! Happy Easter!" :)

Weekend kali ini terasa sangat spesial karena aku bisa melepas kangen dengan Bapak. Pasalnya, satu bulan belakangan ini beliau sedang bekerja di Purwakarta, ada proyek keluarga. Dan beliau hanya bisa pulang beberapa hari saja setiap satu minggu :( Padahal tahu sendiri kan aku dekat sekali dengan Bapak. Apa-apa maunya sama Bapak, soal makanan saja lebih suka buatan Bapak daripada Ibu (eits, bukan berarti masakan Ibu nggak enak, lho, beliau sangat pintar masak), hehehe. Pokoknya aku itu Daddy's little girl meskipun sudah besar. Jadi selama Bapak bekerja, banyak sekali hal yang aku rindukan...
Aku beranikan diri meminta Ibu untuk mengunjungi Bapak meski keadaan di rumah sebenarnya nggak terlalu memungkinkan, Ibu sedang sibuk. Tapi tanpa disangka-sangka ternyata Ibu setuju. "Soalnya Ibu juga kangen Bapak", begitu katanya, hihihi... Jadilah kami berdua berangkat ke Purwakarta di tanggal 6 April kemarin. Baru 10 menit perjalanan, Bapak sudah meneleponku 4 kali dan SMS aku berkali-kali untuk menanyakan kami sudah sampai mana. Beliau juga sangat kangen kami! :D

Di perjalanan aku semangat sekali bercerita pada Ibu tentang apa rencanaku dengan Bapak nanti. Aku bilang aku akan minta Bapak foto aku yang banyaaaaaaaak sekali seperti kebiasaan kami di rumah. Aku sudah pakai baju baru yang khusus kudesain beberapa hari sebelumnya, dan aku juga sudah mandi, sudah wangi. Pokoknya sudah siap! :) Tapi Ibu bilang aku nggak boleh mengganggu Bapak, karena beliau di sana untuk bekerja, bukan liburan. Ah, aku agak kecewa mendengar Ibu bilang seperti itu, masa Bapak nggak boleh libur beberapa jam saja untuk menghibur anaknya? Tapi sudahlah aku coba pikirkan yang baik-baik saja, apalagi aku percaya, Bapak selalu punya cara untuk membuatku senang ;)

Satu setengah jam kemudian kami sampai di Purwakarta. Aku langsung mencari Bapak di setiap sudut villa keluarga kami. Sayangnya Bapak nggak ada...
Oya, villa ini tadinya tanah kosong milik Kakek dan Nenek, lalu beberapa tahun kemudian keluarga besar kami membangun villa peristirahatan di sini, yang sejak saat itu dijadikan tempat berkumpul kami setiap tahun. Dan sekarang dengan ide dari salah satu kakak Ibu, di lingkungan sekitar villa sedang dibangun beberapa fasilitas untuk warga sekitar seperti masjid, rumah pintar dan rumah singgah. Nah, Bapak dan beberapa anggota keluarga lain lah yang bergantian mengawasi orang-orang yang sedang mengerjakan proyek ini.


Dress baru yang kudesain sendiri :)

Sepatu yang dibeli beberapa minggu sebelumnya. Cuma 50 ribu, dapat di rak diskon ;)








Beberapa menit nggak ada tanda kehadiran Bapak ---hanya ada Kakek di villa---, aku langsung SMS beliau pakai huruf besar semua, "PAAAAAK, AKU SUDAH SAMPAIIIIIII". Dan beberapa saat kemudian, bagai adegan di film-film drama, aku mendengar suara mobil dari kejauhan. Aku langsung bergegas ke arah datangnya suara itu, dan..... Bapak ada di sana sedang mengemudi dengan ngebut! Susah sekali menggambarkan perasaanku waktu melihat Bapak, mungkin di sini aku hanya bisa mengetik 'senang-senang-senang-senang-senang-senang-senang-senaaaaang!', tapi percayalah perasanku gue sangat-sangat beragam :'D Aku langsung memeluk Bapak dan mencium tangannya, dengan semangat aku bercerita tentang apa saja yang kualami selama beliau nggak ada. Bapak mengomentari semuanya, bahkan tentang baju baruku. Katanya "bagus", apalagi ditambah dengan tubuhku yang nampak gemukan. Hihihi, senangnya diperhatikan :)
Bapak meminta kerabat di sana untuk menyiapkan makan siang, tapi aku menolak. Aku bilang, aku nggak mau makan sebelum foto-foto dulu seperti biasanya. Pura-pura merengek, aku bilang nggak mau bajuku keburu kusut jadi harus cepat-cepat difoto selagi rapi. Bapak tertipu! Beliau langsung mengajakku ke hutan jati di samping villa diikuti dengan tatapan marah Ibu, hihihi...


Aku dan Engki, kakekku. I love him so much :)


Aku dan Ibu :)


Luar biasa rasanya waktu Bapak berhenti bekerja dulu sejenak demi aku. Iya, demi aku, putrinya yang bukan anak-anak lagi. Beliau menuntunku melewati akar-akan yang menyembul di sepanjang hutan sambil menceritakan tentang ide foto-fotonya nanti. Just me and my daddy. Aku percaya inilah impian setiap gadis di dunia, dan aku bahagia sekali masih bisa mengalaminya... :)
Bapak menunjuk sebuah pohon, menyuruhku berpose di sana dan membidikan kameranya. Klik. Sebuah foto indah karya Bapak pun berhasil dibuat...


Berpose di hutan jati.


Belum ada setengah jam langit tiba-tiba mendung disusul oleh hujan rintik-rintik. Bapak dan aku bergegas menuju kembali ke villa. Aku sedikit cemberut karena kami baru dapat beberapa foto saja. Tapi Bapak menghibur, katanya setelah makan siang hujan pasti reda, dan kami bisa melanjutkan foto-foto lagi. Aku menurut dan segera makan dengan lahap. Sop, kacang panjang, bahkan ikan sungai yang biasanya nggak suka pun aku habiskan. Entahlah, semuanya terasa enak :)
Bapak nggak ikut makan siang. Hanya gue, Ibu dan seorang kerabat bernama Nek Iyah yang yang tinggal di villa. Sementara Bapak dan Kakek kembali mengawasi proyek. Ibu kembali mengingatkanku supaya nggak mengganggu pekerjaan Bapak. Katanya foto-fotonya sudah cukup dan bisa dilanjutkan di hari Selasa ketika Bapak pulang. Aku mengangguk meski sebenarnya masih mau foto-foto...

















Foto-foto karya Bapak. Bagus kan semuanya? :)



Selesai makan siang HP ku berbunyi. SMS dari Bapak! Isinya adalah ajakan untuk melihat proyek rumah pintar yang hampir selesai. Aku langsung mengajak Ibu untuk cepat-cepat pergi selagi hujannya reda. Seharian hujan datang dan pergi, jadi aku takut hujan tiba-tiba datang lagi sebelum kami tiba di tempat Bapak.
Di sana aku melihat banyak bangunan bagus, rumput-rumput rapi dan tanaman yang ditata teratur. Aku membuka pintu bangunan yang paling dekat dan melihat isinya. Wah, luar biasa indah... Perpustakaan lengkap dengan bangku-bangku yang nyaman. Lalu Bapak bertanya apa aku membawa kamera. Aku bilang semua barang-barang, termasuk kamera ada di dalam tas Ibu. Bapak meninggalkanku di perpustakaan sendirian, dan beberapa menit kemudian beliau kembali dengan membawa kamera. "Foto-foto lagi, yuk!". Begitu ajaknya.
Dengan semangat dan senang hati ---tentu saja---, aku langsung bergaya sambil tersenyum. Bapak memberi isyarat supaya aku mengikutinya setelah foto pertama selesai. Katanya, "Ayo, kita foto-foto di luar saja. Kalau ketahuan Ibu nanti dia marah".
Bapak mengambil foto sambil bertanya banyak hal padaku, tentang apa saja yang beliau lewati selama nggak ada di rumah. Beliau juga memintaku menceritakan tentang pengalaman pertama aku mengajar TK dan tentang novel ketigaku. Aku bercerita dengan semangat, banyak tertawa meski kadang diselingi rengekan betapa aku merindukannya. Aku nggak mau terlihat rewel, tentu saja. Tapi perasaan rindu dengan hal-hal kecil dari Bapak memang nggak bisa ditutupi. Tanpa Bapak, nggak ada yang bisa aku dan adik ajak 'berkreasi' di dapur karena Ibu nggak suka kalau dapur acak-acakan.


Di depan perpustakaan.





















 
OOTD: Bow headband: My DIY | Dress: Toko Kecil Indi | Shoes: Nevada

Entah bagaimana aku terlihat di foto, keringat sudah membasahi seluruh tubuhku. Rambutku sangat lengket dengan kulit kepala dan bajuku sudah sangat kusut. Cuaca juga sudah berubah beberapa kali dari mendung ke terik sekali hingga sebaliknya. Yang aku tahu aku sangat berbahagia sehingga bisa dipastikan aku sedang tersenyum di setiap foto yang Bapak ambil, bahkan yang candid sekalipun.
Hari sudah semakin gelap dan Ibu sudah semakin nggak sabar menunggu kami. "Sudah waktunya pulang, Bapak besok harus bekerja lagi", begitu katanya. Sebelum aku benar-benar masuk mobil Bapak sempat mengambil fotoku lagi tapi sayang hasilnya blur. Aku bilang "biar saja" dan memeluknya dari dalam mobil sambil mengingatkan agar beliau cepat pulang. Lalu aku ingat satu hal. Ada yang belum kami lakukan semenjak aku sampai di sini. Aku membuka kembali pintu mobil dan menyerahkan kamera pada Ibu.
"Bu, tolong ambil fotoku dengan Bapak".





daddy's little girl,

Indi



 __________________________________________
Beberapa waktu yang lalu aku mendapat titipan satu paket baju-baju layak pakai dari Naomi, owner dari Tokyo Animefashion untuk diberikan pada teman-teman yang membutuhkan. Kebetulan di Purwakarta aku bertemu dengan Elas, anak perempuan yang tepat sekali untuk menerima paket ini. She was really happy! :) Thanks a lot, Naomi, semoga Tuhan membalas kebaikanmu! Amen...





_____________________________________
Contact Me? HERE and HERE. Sponsorship? HERE.

Senin, 02 April 2012

Selamat Ulang Tahun, Steven Tyler :)


OOTD Necklace: Bunga | T shirt: Aerosmith T | Shorts: Queenbee | Socks: Carefour


Hey! Ini sudah April ya? Hahaha, ya ampun aku sampai nggak sadar! Waktu terasa cepat belakangan ini, mungkin gara-gara aku terlalu menikmati dan, well, ya kesibukan juga berperan penting dalam amnesia temporari ini :p So, how's your early April, guys? Ada yang jadi korban April fools? Hihihi... :D
Sebelum Maret berakhir, aku mengalami beberapa kejadian menyenangkan. Yang pertama adalah, akhirnya aku dapat kesempatan mengajar secara langsung anak-anak TK! Wah, kapan-kapan aku harus cerita ya, karena ini seru sekali, at least menurutku, hihihi (siapa tahu ada yang protes bilang nggak seru, lol). Dan yang kedua, karena Paskah semakin dekat aku jadi sedikit sibuk mengerjakan beberapa desain untuk costumer. Doakan hasilnya baik-baik, ya.... Nah yang ketiga dan yang paling seru adalah... STEVEN TYLER ULANG TAHUN! WOO... HOOO!!
Eh... Ehm, okay, sepertinya cuma aku saja yang histeris, ya? Kalian mungkin baca sambil bengong :p






Steven Tyler, atau biasa dikenal sebagai vokalis Aerosmith, atau sebagai bapaknya artis cantik Liv Tyler, atau malah sebagai saingan 'dower'nya Mick Jagger (okay yang terakhir agak menyebalkan) adalah idola masa kecilku. Waktu itu, waktu aku masih berumur 7 tahun, ada video klip "Crazy" di TV. Aku ingat betul waktu itu aku begitu terhipnotis, dan setelah video klip-nya habis langsung bertanya pada Bapak, "Pak itu siapa?". Bapak menjawab bahwa orang yang sedang bernyanyi bernama 'Aerosmith'. Sejak saat itu aku memanggil sang vokalis dengan nama 'Aerosmith', karena aku pikir itu nama orang, bukan nama band, hihihi...
Beberapa bulan kemudian, album Aerosmith yang berjudul "Get a Grip" sangat-sangat-sangat booming di Indonesia. Lagu-lagunya semakin sering diputar di TV, seperti "Livin" on the Edge" dan "Cying". Dari sebuah acara di TV akhirnya aku tahu bahwa nama vokalisnya ternyata Steven Tyler. Entah kenapa, telingaku sangat mudah sekali menangkap lagu-lagu tersebut. Belum ada satu minggu aku sudah jagoan teriak lantang, "I was crying when I met you, now I'm dying just to forget youuuuu", padahal mengerti artinya saja nggak, hehehe. I'm only 7 remember? :p





Aku pun segera merengek pada Bapak minta dibelikan kasetnya. Waktu itu Bapak kaget karena meski beliau pecinta musik rock, beliau bukan fans berat dengan Aerosmith. Bapak lebih suka dengan Led Zeppelin, Black Sabbath, Deep Purple dan teman-temannya. Katanya Aerosmith itu norak, tenarnya nanggung dan Steven Tyler itu terlalu teriak-teriak, sama 'nggak enak'nya dengan Axl Rose (well, Bapak punya dendam pribadi dengan Axl Rose, kapan-kapan aku ceritakan, ya, hahaha). Diberi tahu seperti itu langsung saja aku menangis, aku bilang pada Bapak bahwa selama ini aku selalu mengikuti selera musiknya, jadi kenapa aku nggak boleh sekali ini saja memilih idola sendiri? Setelah nangis kejer dicampur acting meyakinkan, Bapak akhirnya membelikanku kaset "Get a Grip", dan secara resmi akupun dikenal sebagai, "Kak Indi, fans berat Aerosmith" di rumah :p
Belakangan aku tahu bahwa sama sekali nggak benci Aerosmith, beliau cuma jealous aku 'dekat' dengan laki-laki lain, lol.

Lama-lama Bapak mulai mengikhlaskan putri kecilnya punya idola sendiri, malah waktu aku sedikit lebih besar beliau membujuk kakak iparnya untuk memberikan CD "Big Ones" edisi import padaku. Aku senang bukan main, melompat-lompat dan nggak mengizinkan siapapun menyentuh CD itu. Setiap ke sekolah atau pergi les aku selalu membawa discman atau walkman supaya bisa mendengarkan suara Steven Tyler setiap waktu. Meski kesannya sedikit bandel, tapi Bapak dan Ibu nggak melarang. Ibu malah mengganggapnya sebagai hal lucu. Terkadang beliau malah menjadikan Steven Tyler sebagai 'senjata'. Kalau aku ke salon untuk potong rambut dan protes nggak mau pakai hairdryer dengan alasan panas, Ibu pasti langsung melotot dan bilang, "Masa sama hair dryer saja takut? Katanya mau jadi rocker seperti Steven Tyler. Di panggung lebih panas, lho, Kak!". Hahahaha, dan aku pun percaya apa yang Ibu bilang meski tetap meringis menahan panas.




Kaos-kaos pemberian Ibu waktu beliau ajak aku bolos sekolah dan ke Jakarta :D





Ada yang covernya berbeda? Itu memang aku yang print sendiri, lol.

Di masa pra remaja, kesukaanku terhadap Steven Tyler lebih dari sekedar obesesi tanpa arti. Aku nggak lagi melulu mendengarkan musiknya dan mengalami cinta buta akut. Selain Harry Potter, Steven Tyler juga sangat membantu dalam menghadapi para bully menyebalkan. Setelah lebih dewasa, setiap aku memikirkan kembali masa pra remajaku, semakin 'mengertilah' kenapa dulu aku sangat attached dengan Steven Tyler...
Seperti yang sering kusebutkan, dulu aku sering diejek karena kekurangan fisikku. Tapi Steven Tyler lah yang membuatku tahan untuk nggak menangis. Aku membaca biografinya dan menemukan bahwa ia juga dulu sering diejek karena fisiknya. Tapi bukannya menangis, Steven Tyler kecil justru menunjukkan pada teman-temannya bahwa ia juga hebat di luar kekurangannya. Malah dengan berani ia mengatakan pada teman-temannya bahwa suatu hari bibir tebalnya akan digilai para perempuan dan semua yang dulu mengejeknya akan berbalik memujinya.

Seperti Steven Tyler, aku mulai menggali potensi diri dan mencari apa yang kusuka. Awalnya aku hanya meniru apa yang idolaku lakukan, belajar drum karena ia juga begitu di masa remajanya. Meski aku nggak begitu berbakat tapi akhirnya bisa lulus sampai grade 2 dengan hasil yang lumayan. Aku juga ikut menyanyi seperti Steven, aku mengikuti latihan paduan suara dan mengambil suara sopran supaya bisa melengking dan dapat julukan 'Demon of Screaming', hihihi. Well, suaraku memang nggak bagus, apalagi punya range seperti Steven Tyler, tapi menyanyi ternyata lebih aku nikmati daripada menjadi drummer. Aku terus bergabung di paduan suara sampai aku kuliah, mengikuti banyak lomba dan event. Aku mendapatkan banyak pengalaman berharga di sana, yang nggak pernah aku duga sebelumnya. Siapa menyangka, mempunyai idola ternyata berpengaruh begitu banyak padaku, menjadi lebih percaya diri dan menemukan kemampuan diri :)








Bapak dan Ibu ternyata melihat perubahanku, mereka mendukung apa yang aku sukai. Steven Tyler mengubahku menjadi lebih baik, kecuali selera berpakaianku tentu saja, hahaha. Aku pernah lho mengalami fase di mana hanya mau pakai kaos Aerosmith dan nggak mau pakai baju lain. Ibu pernah sampai mengajakku ke Jakarta untuk membeli kaos-kaos Aerosmith supaya aku ada baju ganti. Untunglah fase itu cuma sebentar, karena aku sadar menyukai musiknya, menyukai kepribadiannya bukan berarti aku juga harus seperti Steven Tyler. Aku terinspirasi olehnya, tapi aku tetap menjadi diri sendiri ;)

Sampai hari ini, tepatnya 18 tahun kemudian, aku masih terhipnotis seperti pertama kali melihat Steven Tyler. Aku masih amaze dengan suaranya dan tentu saja tetap bangga dengan kepribadiannya yang berani. Entahlah apa aku sekarang sudah seberani ia atau belum, tapi mengingatnya selalu membuatku semangat untuk menjadi lebih baik dan lebih mempercayai kemampuan diri ketika ada seseorang yang memandang 'rendah'. Mungkin kalian masih nggak mengerti kenapa aku begitu 'WOO HOOO' di ulang tahun Steven Tyler ini. Begini, singkatnya, jelasnya: Semakin ia tua semakin berkembang dan positif kepribadiannya. Aku ingin sepertinya. Titik :)

Selamat ulang tahun, my idol!




kick some butty and leave a footprint,

INDI

notes:
* foto-foto ini dibuat pada tanggal 26 maret 2012, tepat di ulang tahun ke 64 steven tyler. bapak yang ambil foto-fotonya.
* yup, aku tahu masalah steven tyler dengan obat-obatan terlarang di masa lalu. but that's not the point, kan? yang terpenting bagaimana ia sekarang. so please don't talk something rude about his past :)
* dua kaosku mendadak menghilang waktu foto-foto ini diambil, jadi tinggal sisa 4 :(
* waktu ulang tahun ke 15 aku dapat kado tart bertuliskan 'aerosmith' dari bapak dan ibu :)
* sering malu-malu untuk menyapa steven tyler di twitter dan tepat di hari ulang tahunnya para followers ku yang baik hati membantu untuk me-RT twit ku ke steven tyler. terharu :')
* di skripi aku menulis quote dari lirik aerosmith, "you have to learn to to crawl, before you learn to walk".
* aku punya ke 14 album aerosmith dan single-single steven tyler. nggak sabar untuk menunggu album barunya juni nanti setelah aerosmith tur. oh ya, juni=my birthday! :D

* yang sedang aku pakai itu kacamata minus 4,5. bukan mainan :p


_________________________________
Contact Me? HERE and HERE. Sponsorship? HERE.