Rabu, 26 Januari 2011

Piknik sempurna: Di dalam kamar tidur!




Semenjak aku lulus kuliah, kebanyakan aku habisin waktu di rumah. Bukannya aku pemalas, tapi aku emang bekerja di rumah. Sedangkan untuk jalan-jalan keluar rumah seringnya kesehatanku nggak memungkinkan.
Seperti hari ini. Kepalaku pusing berat, punggungku ngilu (mungkin efek dari pengurangan kurva scoliosisku) dan lagi-lagi mataku bengkak (ya, ampuuun, tiap malem aku ngintip siapa sih sampai gini terus?? Hihi). Tapi tetep aja aktivitas nggak bisa menunggu. Setelah terima email dari publisher mengenai novel keduaku (horeee, covernya sebentar lagi siap aku publish!), aku langsung bersih-bersih kamar dan main sama Eris. Nah, part main ini jangan dianggap sepele, ya. Main disini maksudnya: Kasih makan, ajak jalan-jalan sampai waslap anjing kesayangan aku ini, hahaha. Maklum aja, meski usianya mau 2 tahun, tapi si Eris ini tetep lebih betah diwaslap daripada mandi :p

Selesai main sama Eris kepalaku langsung makin berat. Setelah santai sebentar aku putusin buat bersihin badan: cuci muka, pakai minyak telon dan ganti baju pakai daster (padahal biasanya pakai piyama, lol). Pusingku memang ilang, tapi kelamaan diem ternyata bikin aku bosen juga. Hmm, kayanya kalau aku piknik OK juga, nih!




Aku langsung buka lemari baju dan cari-cari kain untuk alas piknik. Nggak lupa aku gelar karpet juga supaya cukup empuk untuk dipakai selonjoran.
Eh? Karpet?
Hehehe, iya memang karpet betulan, kok. Soalnya aku piknik di dalam kamar!
Kebetulan kamarku punya space cukup luas untuk acara gelar-gelaran seperti itu. Jadi hari ini aku manfaatin aja untuk piknik sambil baca buku. Sengaja aku biarin jendela kamar terbuka supaya udara sore yang sejuk bisa aku hirup. Nggak lupa aku juga sediain teh manis hangat buat teman membaca novel-novel tentang petualangan seru!






Ternyata nikmat sekali piknik di dalam kamar sendiri. Sampai-sampai nggak terasa sore sudah berganti magrib. Untung aja aku pakai foot warmer jadi kaki nggak kedinginan :)
Besok-besok aku mau manfaatin bagian rumah lain ah buat piknik. Mungkin loteng tempat penyimpanan baju bakal asik. Atau dapur? Ruang tamu? Garasi??? Asiiiik, ternyata aku punya banyak stock spot untuk piknik! :D
Lingkungan luar rumahku memang nggak memungkinkan untuk dipakai karena berdekatan dengan jalan raya. Sudah penuh polusi dan anak-anak bandel yang hobi nongkrong. Tapi itu nggak masalah karena aku masih tetep bisa piknik, KAPANPUN! ;)



buku-buku: Lion Boy (Zizou Corder), Quidditch Through the Ages (Kennilworthy Whisp/JK. Rowling), Heroes (Robert Cormier), Secret Garden (Frances Hodgson Burnett).

Senin, 24 Januari 2011

Keajaiban untuk Indi :)

Sekecil apapun keajaiban selalu terjadi, setiap hari. Aku percaya.
Bagaimana dengan kalian?
:)





Hari ini sama seperti hari minggu sebelum, sebelum dan sebelumnya. Gua harus pergi terapi ke klinik yang jaraknya 30 menit ---40 menit kalau macet--- dari rumah. Cuaca agak mendung, jadi aku putusin untuk pakai baju panjang dan bawa minyak telon (sebetulnya sesuai isi SMS Ray yang ingetin supaya aku pakai sesuatu yang hangat, hihi).
Setelah mampir dulu di rumah nenek yang lagi sakit (getwell, Nek :)), aku sampai di tempat terapi jam 5 sore. Nggak lupa aku bawa foto hasil rontgen kemarin.
Dalem hati deg-deg'an juga, berdoa, semoga hasilnya baik---at least scoliosisku nggak bertambah parah, amen...



My cute purple OOTD.



Seperti biasa aku langsung exercise dan setelahnya menunggu giliran treatment sambil ditemani Ray. Kami ngobrol-ngobrol nggak jelas. Temanya pindah-pindah, dari mulai Oprah Winfrey, bath up aneh berbentuk ulekan yang kami lihat di majalah, acaranya dr. Phil, sampai ujung-ujungnya ngomongin scoliosisku...
Aku bilang sama Ray kalau aku deg-deg'an berat dengan sesi terapi kali ini. Aku khawatir kalau tulangku bertambah parah dan aku bakal freak out karena nggak bisa nerima kenyataan (nah, yang ini lebay, hihihihihi).
Ray tenangin aku. Katanya, dia yakin kalau tulangku baik-baik aja dan nggak memburuk karena aku rajin terapi.
Belum tuntas obrolan kami, tiba-tiba saja sudah waktunya giliran aku masuk ruangan treatment.
*Glup!*



Deg-degan di ruang tunggu.



Di ruangannya, dr. Albert (yup, he's my chiropractor) lagi sibuk ukur kelengkungan sudut tulang belakangku lewat hasil foto rontgen yang sebelumnya aku titipkan sama salah satu asistennya.
Di belakang punggungnya, aku sibuk atur napas supaya nggak pingsan (lol). Nggak tahu kenapa di mataku foto tulang belakang itu keliatan acak-acakan banget. Kayanya tulang belikatku keliatan sempit dan pinggulku naik sebelah. Hiks...
Lalu,
"Kelengkungan kamu sebelumnya 55 dan 18 derajat, sekarang kelengkungan kamu 55 dan 13 derajat".


Aku malah diem kaya patung. Niatku  sebenernya pengen jerit-jerit, tapi nggak tahu kenapa saking senengnya aku malah diem!


Foto dari sesi terapiku minggu sebelumnya.



Keluar dari ruangan treatment aku langsung kasih tahu Ray. Dia seneng banget dan kasih aku selamat. Di dalam pelukan singkatnya rasanya aku pengen nangis, tapi takut dibilang cengeng, hihi.
Semenjak aku 13 tahun (pertama mendapat vonis scoliosis) kelengkungan tulang belakangku selalu bertambah setiap tahunnya. Dan hari ini, untuk pertama kalinya, kelengkunganku berkurang!


Sebelum pulang Ray beliin aku cupcake blueberry sebagai penanda keajaiban kecil yang aku (kami) dapat hari ini. Setelah hari ini rasanya aku semakin percaya bahwa keajaiban bisa terjadi meski untuk situasi termustahil sekalipun.
Nah sekarang, bagaimana dengan kalian? ;)




Penanda keajaiban kecil hari ini.



nb: kami bertemu dengan salah seorang pembaca novelku yang manis, namanya "Widya" (maaf kalau spellingnya salah). Aku cuma mau bilang, terima kasih sudah say hi, aku seneng banget :)
Untuk teman-teman pembaca yang lain, please kalau ketemu jangan diam saja dan malah tulis komentar di FB/twitter setelahnya. Karena seperti yang sudah sering aku bilang, aku senang bertemu dengan teman baru ;)




Smile,
Indi





(Diedit 29/02/2024. I'm no longer with Ray, dan sekarang sudah happily married with Shane). 

Kamis, 20 Januari 2011

13 Things About Me! :)


Halo teman-teman blogger! Apa kabar? Semoga semua dalam keadaan baik, ya dan nggak ada yang lagi terserang kelopak-mata-bengkak-tibatiba kaya aku, hehehe.

Setelah sekian tahun aku nge-blog (bukan di sini, tapi di blog lain. Kalau di sini sih baru beberapa bulan, lol), aku baru sadar kalau aku belum pernah ceritain fakta-fakta "menarik" tentang diriku. Padahal biasanya blogger hobi banget bikin postingan macam "10 fakta tentangku", "7 things about me", "kehebatan-kehebatan aku yang diakui dunia", atau blah, blah dan lain sebagainya.
Nah, gimana kalau postku kali ini bahas tentang fakta-fakta unikku? Setuju?
Tidaaaak!!!...
Ya, sudah aku lanjutkan *pura-pura nggak denger yang protes bilang "tidak", hehehe*


1. Scolioser
Aku lahir dalam keadaan normal, gemuk dan sehat. Tapi diusia 9 tahun aku mulai nunjukin gejala-gejala scoliosis, seperti postur badan miring dan gerakan yang terbatas. Lalu baru di usia 13 dokter beri aku vonis scoliosis dengan kelengkungan 35 derajat dan mengharuskan aku memakai penyangga tubuh (back brace) selama 23 jam sehari. Yup, aku cuma punya jeda 1 jam perhari untuk melepas brace dan melakukan hal-hal pribadi seperti mandi dan melepas rasa pegal. Aku baru melepas brace di usia 18 tahun (atau kurang, sebelum lulus SMA tepatnya) dan menggantinya dengan terapi yang rutin karena tulangku sudah berenti tumbuh. Sampai hari ini aku masih terapi dan berusaha meminimalisir bertambahnya kelengkungan tulang belakangku yang sekarang sudah 55 derajat.




2. Naturally brunette

Believe it or not, tapi warna alisku memang lebih tua dari warna rambutku!
Waktu lahir rambutku warnanya keemasan, mungkin nama kerennya "strawberry blonde", hehehe. Ajaibnya, alisku warnanya hitam. Sampai-sampai nyokap bilang waktu lahir kepalaku nampak botak saking kontrasnya warna alis dan rambut, lol. Tapi seiring bertambahnya usia warna rambutku semakin gelap. Sampai detik ini, brunette lah warna tertua rambutku. Entah apa nanti akan bertambah tua sampai hitam legam? Who knows?! Hehehehe.


3. I use my left hand to eat

It's my habit since i wasa  baby. Maaf kalau mengganggu mata kalian, lol :D


4. Oh, Heather...
Aku pernah menangis untuk Heather O'Rourke selama semaleman. Sekalipun aku nggak pernah mengenal dia (dia bahkan meninggal waktu aku masih berusia 2 tahun), tapi somehow dia selalu jadi "anak impian" ku. Karena dia lah aku jadi ingin punya anak perempuan ketika menikah nanti. Rambut panjangnya, pipi tembamnya, wajah angelic'nya. She's so perfectly cute! RIP, Heather :')




5. I'm a tidy girl
Aku nggak pernah bisa pergi kemana-mana sebelum beresin kamar. Meski aku terlambat untuk janji sekalipun!




6. I don't mind being fashionably-nerdy

Banyak orang yang nanya kenapa aku selalu pakai feety (stocking tebal pelindung cuaca dingin) dan dress ala anak-anak Amerika tahun 30'an. Jawabanku sederhana aja: Karena nyaman. Aku nggak keberatan dibilang culun, ketinggalan jaman atau jauh dari kata "pretty". Buatku klasik nggak pernah ketinggalan jaman dan jadi diri sendiri adalah fashion yang paling baik.




7. Yes, I am truly a dork
Sejak aku balita, Bokap lebih suka beliin aku buku dari pada boneka. Jadi sejak aku mulai bisa baca ---usiaku 4 tahun--- aku nggak bisa berhenti baca buku. Dari mulai dongeng, ensiklopedia sampai novel-novel klasik. Lucunya, dari ratusan buku yang aku punya, aku cuma punya 2 nama penulis Indonesia di rak bukuku, yaitu: Arswendo Atmowiloto dan... aku sendiri!




8. I love bows & nail polish

They're just so cute and girly :)





9. I'm a movie lovers

Selain buku, hal lain yang aku pikirin kalau insomnia adalaha film. Aku punya ratusan DVD dari berbagai macam genre film. Kebanyakan sih film-film festival Prancis, film keluarga dan film-film musikal. Aku menikmati banget saat-saat nonton di atas tempat tidurku ditemani teh/coklat panas dan cemilan ringan :)




10. I'm a dog wishperer

I'm not joking or try to be funny. Aku mengerti bahasa anjing.
(ya, silakan teriak "Freaaaaaaak" dibelakangku, hehehe...).




11. Excuse me, this girly lady is a rock and roll fans too

Orang-orang sering salah menilaiku. Yah, bukan salah siapa-siapa sih, dengan haircut dan outfit yang selalu aku pakai siapapun nggak akan menyangka kalau aku itu die hard fans'nya Aerosmith! Hahahaha :)
Yup, sejak aku usia 7 tahun alu sudah mengagumi mereka, mendengar musiknya dan mengoleksi semua CD'nya. Bukan itu saja, aku bahkan punya gantungan kunci, topi, t shirt, poster sampai DVD official dari Aerosmith!
So don't judge a book by it's cover, guys ;)




12. I don't eat meat

Aku mulai jadi perscabegetarian sejak usia 15 tahun. Kenapa? I can't answer it, sorry :)


13. Walking to the bookstore and realize i see my name on the book cover

Terima kasih Tuhan novel perdanaku sudah dicetak (hampir) 5 kali. Tapi aku cuma punya 1 copy terbitan pertama di rumah. Hahaha, aku serius! Aku bahkan nggak tahu apa bedanya cetakan bukuku yang pertama, kedua, ketiga, dst, dst :D


***





Surprise? Biasa aja? Atau malah males baca postku kali ini? Hehehe... Kalau ada yang merasa biasa saja waktu baca post ini, terima kasih, artinya kalian sudah cukup mengenalku. Buat yang merasa surprise, ya, ini lah aku, semoga kalian bisa lebih mengenalku sekarang.

Aku nggak keberatan dibilang freak, nerd atau dork. Aku suka jadi diri sendiri karena itu rasanya nyaman. Aku rasa saat orang lain berkata sesuatu tentang kita, jelek atau buruk, itu tandanya mereka peduli. Lagipula, aku selalu percaya bahwa setiap manusia tercipta "spesial" :) So, bagaimana dengan kalian? Sudah siap berbagi tentang fakta-fakta unik kalian? ;)

xo,
Indi


*foto-foto: dokumentasi pribadi, foto heather: heatherOrourke.net


Kamis, 13 Januari 2011

It's Never too late :)

Seumur hidup, aku (hampir) selalu melakukan apa yang aku suka. Waktu aku ingin melukis, aku akan melukis meski hasilnya nggak bagus. Waktu aku ingin bernyanyi, aku akan ikut audisi choir--meski belum tentu diterima.

Ya, umurku bukan lagi remaja.
Orang bilang aku sudah terlambat untuk belajar bahasa Inggris.
Orang bilang seharusnya aku sudah lancar "cas-cis-cus" sejak 10 tahun lalu.

Tapi aku pikir,
"Memangnya kenapa? Lebih baik aku terlambat 10 tahun daripada 'do nothing' hanya karena malu atau merasa terlambat".



Belum sempat belajar sepeda? Belum pernah coba perosotan paling tinggi di Water Boom?
Coba SEKARANG juga!
It might be harder, but it's never too late to start something:)

Aku, Indi. Officially a young lady, dengan bangga memulai kelas bahasa Inggris pertamanya pada tanggal 10 Januari 2011.



Foto ini diambil sebelum pergi ke tempat les.




Rabu, 05 Januari 2011

Bukan cuma Baim dan Nayla yang Punya Buku Harian ;)

Buku harian milikku waktu umur 9 tahun.




Waktu aku umur 7 tahun, Bokap beliin aku buku harian. Warnanya pink, wangi dan ada gembok kecil di sampingnya. Katanya aku bisa pakai buku itu untuk menulis apapun dan nggak perlu share sama siapapun.
Aku senang, meski sebetulnya belum mengerti arti "rahasia". Jadi aku cuma tulisi dengan kejadian sehari-hari dan puisi-puisi konyol.

Tapi waktu aku umur 9 tahun, aku mulai menganggap buku harian sebagai sesuatu yang lebih pribadi. Aku berbagi rahasia pertamaku yang sekarang malah terdengar konyol: Aku jatuh cinta dengan Jason Donovan!
My God... Aku bahkan udah nggak inget siapa dia sekarang, hahahaha :D

Kebiasaanku menulis semakin lama semakin berkembang. Di buku harian aku mulai menceritakan dengan detail setiap kejadian yang aku alami. Dari mulai hari, tanggal sampai jam berapa aku mulai dan selesai menulis. Aku nggak bisa tidur sebelum menulis. Rasanya aku terlalu sayang untuk membiarkan moment-moment sepanjang hari untuk dilupakan begitu saja tanpa bisa dibaca kembali di buku harian...
Kebiasaanku bahkan sempat membawa masalah. Waktu SD sekolah mengadakan acara kemah di sebuah daerah yang agak terpencil. Semua anak diwajibkan ikut, termasuk aku. Ternyata anak-anak dilarang bawa benda-benda "pribadi", termasuk buku harian. Nah, aku yang bisa uring-uringan kalau nggak nulis satu hari aja langsung protes dan mogok nggak mau ikutan kemah kalau nggak diizinin bawa buku harian. Akhirnya berbekal surat keterangan dari ortu yang berisi tentang "keterikatan" aneh dengan buku harian, aku diizinkan kepala sekolah untuk tetap kemah dengan syarat menulis hanya di waktu malam, ckckckckck :p

Aku termasuk beruntung karena ortuku nggak berniat masukin aku ke RSJ atau setidaknya memeriksakan ke ahli jiwa soal "keanehan" ku ini. Ada beberapa anak yang terikat dengan anjingnya, mamanya atau malah sahabatnya. Tapi aku, entah kenapa malah sama benda mati yang sebetulnya nggak bisa merespon kalau aku cerita.


***

Waktu aku umur 13 tahun, aku divonis mengidap kelainan scoliosis. Masa pra-remajaku yang semula badung dan cerita seketika berubah 1 milyar derajat (apaan sih, hehehe)... Kehidupanku jadi serba terbatas, nggak ada lagi lompat-lompat atau berlarian semauku. Tubuhku harus menyesuaikan dengan penyangga keras yang melekat selama 23 jam perhari.
Di masa-masa sulit seperti ini, buku harian membantuku "memulihkan" perasaan. Berbagi ternyata bikin hatiku lebih tenang dan lega... Waktu aku yang mendadak lebih panjang (aku nggak harus ikut pelajaran olah raga, bela diri, dll) juga bisa aku pakai untuk menulis lebih lama. Buku harian bahkan aku pakai untuk membuat puisi yang lebih "serius" (bukan seperti waktu aku 7 tahun, lol).


Buku harianku hari ini, bonus dari majalah padahal 3 hari sebelumnya baru beli yang baru, hihi. 



Tapi yang paling bikin aku (dan orangtuaku juga!) terkejut, buku harian ternyata menyimpan "medical record" alias sejarah kesehatanku secara LENGKAP!
Setelah di baca ulang ternyata aku sebetulnya menyadari ada yang aneh ditubuhku sejak umur 9 tahun, malah aku juga menyebutkan kalau sempat jatuh dari perosotan kolam renang sampai pingsan, yang setelah dikonsultasikan dokter ternyata bisa menjadi salah satu penyebab terjadinya scoliosisku!


Semenjak hari itu aku makin nggak terpisahkan dengan buku harian. Aku bahkan menganggap buku harianlah yang "menyelamatkan" ku. Kalau saja aku nggak rajin menulis kegiatanku sehari-hari, mungkin scoliosisku  nggak akan pernah dapat penanganan yang tepat.
Sekarang, meskipun sudah punya blog, aku tetap menulis di buku harian, setiap malam, sebelum tidur, sama seperti waktu aku berumur 7 tahun. Aku sadar, blog sampai kapanpun juga nggak akan pernah bisa menggantikan posisi buku harian. Blog nggak dirancang seperti buku harian yang bisa menyimpan apa saja yang aku mau tulis karena tetap harus memikirkan bahwa ada yang membaca tulisanku selain aku dan Tuhan.


Oh, ya. Hampir saja aku lupa. Buku harian bahkan menciptakan sebuah profesi buatku:
Aku adalah seorang author dari buku best seller "Waktu Aku sama Mika" (dan akan menyusul akhir bulan ini, "Karena Cinta itu Sempurna").
Kalian tahu kedua buku itu tentang apa?

Kedua buku itu adalah hasil adaptasi dari buku harianku sejak umur 7 tahun sampai sekarang.


Pada akhirnya aku bisa membuktikan bahwa keterikatanku dengan buku harian bukan sekedar "kelainan jiwa" ;)



"Waktu Aku sama Mika", buku yang diambil dari buku harianku :)

Selasa, 28 Desember 2010

Liburan Paling Hebat Sedunia! (dan dapat award, hihihi) :D



"Libut 'tlah tiba, libur 'tlah tiba, hatiiiiiiku gembiraaaaa. Hore!"


Sepenggal lagu Tasya ini kayanya jadi "jeritan hati" anak-anak SD yang lega banget bisa bebas dari stress sekolah untuk semantara, hihihihi. Nah, bagaimana dengan kalian, teman-teman? How's your holiday? Apa kalian juga "hore" kaya si Tasya?

Aku iya.
Meskipun sebenarnya antara hari biasa dan hari libur hampir nggak ada bedanya, soalnya aku sudah lulus kuliah dan sekarang bekerja di rumah. Jadi libur nggak libur, sama-sama menghadap komputer dan "santai" tanpa deadline, hehehe. Tapi aku justru memanfaatkan moment libur orang-orang di sekitarku buat bikin masa liburan se "hore" liburannya Tasya :D


Orangtuaku dan Ray kerja 6 hari perminggu. Meski kantor ortuku bersatu dengan rumah, tapi kami baru benar-benar ketemu di waktu sore-malam aja. Sedangkan Ray, wah apalagi, dia baru pulang selepas magrib dan baru sampai rumah larut malam. Waktu berkualitas yang bisa kami punya cuma di hari minggu. Itu pun dimanfaatkan Ray untuk menemani aku terapi.
Waktuku dengan orang-orang tercinta benar-benar sangat sempit, makanya aku sibuk ngatur rencana gimana supaya liburan yang cuma 3 (24-26 Desember) hari ini jadi maksimal.



Tanggal 24 Desember.

Yeay! It's Christmas eve! Oya, hampir lupa, meski agak terlambat (tapi natal itu artinya sepanjang Desember, btw) aku ucapin selamat natal untuk teman-teman semua, ya. Semoga kasih Tuhan selalu menyertai kalian, amen.
Aku dan keluarga berkumpul dirumah sepupuku. Kenapa? Hehehe, sebenernya ini sekalian syukuran sepupuku dan istrinya yang baru menempati rumah baru. It was asuper fun day, soalnya aku juga jadi punya quality time sama nyokap! Kami makan es krim dan di perjalanan pulang kami mampir ke mini market untuk beli pop corn. Tahu dong buat apa? Yep, Christmas eve nggak lengkap tanpa film (hehe, jangan pada protes ya). Tapi movie marathon baru mulai jam 9 malam, sebelumnya kami grooming Eris supaya makin cantik. Hmm, sebenarnya sih yang mengerjakan dua mas-mas baik hati dari peternakan anjing. Tapi aku dan nyokap ikut bantuin jagain Eris, kok, hahahaha :)


Aku dan Ibu.


Eris lagi grooming.





Tanggal 25 Desember.

Ini hari spesial buatku. Soalnya selain keluarga, Ray juga bisa menemani karena sudah libur (wah, kantornya dia.. malam natal mana ada libur. Pulangnya juga tetep sama larutnya, sniff). Banyak hal seru yang aku kerjakan hari ini, tapi yang paling seru adalaaaaaaaaah (drum roll, please, lol): MOVIE MARATHON! Hihihihi... Kenapa? Soalnya akhirnya aku bisa memaksa Ray untuk nonton "Christmas Story". Ray memang nggak pernah menolak buat diajakin nonton, cuma aku nggak terlalu yakin dia mau nonton film lama yang gambarnya udah butek dan sound'nya getel di telinga. Tapi ternyata Ray suka. Dia tertawa sering sekali dan larut sama film'nya. Meski kesannya sepele, tapi ini film yang berarti banget buat keluargaku. Kalau keluarga lain mungkin memilih "Chistmas Carol" atau "Miracle on 34th Street" sebagai tradisi natal, tapi kami memilih film ini :D
Setelah itu aku dan Ray nonton film Jerman (lupa judulnya apa). Nice movie tentang anak perempuan yang ingin punya ayah di hari natal.

Kami nonton di rumah, di lantai atas ditemani pop corn, cookies dan soda. Sempurna :)


Cookies, mangkuk pop corn yang sudah kosong dan soda.



Tanggal 26 Desember.

Hari minggu artinya jadwal terapiku. Yup, nggak pernah ada kata libur buat terapi, hihihi. Agak sedih, tapi aku bersyukur karena masih bisa terapi. Aku tahu nggak semua gadis pengidap scoliosis bisa terapi rutin kaya aku sekarang :)
Seperti biasa Ray temenin aku sampai terapi selesai. Karena ini hari terakhir liburan (hiks), jadi kami putusin buat dinner di tempat yang nggak terlalu ramai. Tapi ternyata sulit banget cari tempat damai karena bertepatan dengan pertandingan bola! Dimana-mana ada acara nonton bareng, deh. Hahahaha, meski gagal tapi kami tetep bahagia meski harus makan di restoran fastfood yang banyak anak kecil berlarian dan teriak-teriak (bahkan ada yang nangis, lho sampai mirip di Posyandu, lol). Apalagi pulangnya Ray beliin aku buku. It's nice. Karena meskipun aku author (penulis) tapi tahun ini aku memang kurang baca buku, hihihihi...



Dress yang aku rancang khusus untuk liburan :D


Kami dan junk food, lol.



27 Desember.
Lho, lho? Liburannya sudah selesai, kan?
Ternyata belum :) Khusus hari ini Ray bisa pulang cepat. Jadi kami bisa ke mini market buat beli bahan makanan dan masak dinner sama-sama buat kami, bokap dan adik (nyokap lagi di RS nemenin Nenek). Wah, senangnya. Apalagi menu malam ini kesukaan aku: PASTA! :D
Rasanya bahagiaku berlipet-lipet deh bisa dikelilingin orang-orang yang aku sayangi selama liburan (plus satu hari) ini :)



Aksi kami di dapur, lol.



Jadi, bagaimana dengan kalian? Apa yang kalian lakukan? Rasanya makna liburan harus ditambahi sedikit selain untuk "lari" dari rutinitas. Tapi liburan juga sama dengan memaksimalkan waktu dengan orang-orang yang aku cintai. I'M BLESSED! :)









--------------------------------------------------------------------------------------



Oya, nggak nyambung sama post di atas, aku mau kasih kabar nih, kalau blogku dapat award. Senangnya... Apalagi aku dapat 2 award "STYLISH BLOGGER", hihihihi...
Terima kasih buat Azhia (http://azhiaminibook.blogspot.com/) dan Amelia (http://ameliasaga.blogspot.com/) atas award yang kalian berikan :)





(Diedit 29/02/2024. Aku sudah gak Ray dan happily married dengan  Shane).

Sabtu, 27 November 2010

Man's Best Friend...






Hari ini aku berencana buat diem di rumah. Mandi larut dan di tempat tidur seharian. Tapi baru aja jam 11 pagi, waktu aku lagi menikmati tempat tidur, tau-tau aja nyokap minta aku bangun dan pergi ke rumah Uak. Yah, setelah nego sana-sini, akhirnya pergi juga aku ke sana meski tanpa mandi dan gosok gigi (cuma ganti baju doang, hihihi).

Begitu sampai di rumah Uak ternyata aku berubah semangat. Pasalnya Uak minta bantuan untuk mengurusi anjing dan mengantar dia ke pet shop. Ya, maklum aja, soalnya Uak baru beberapa hari adopsi anjing. Katanya dia udah lupa "caranya" karena terakhir kali punya anjing ya waktu remaja dulu, namanya Cupy yang mati karena tua.
Setiap kali ada yang minta bantuan sama aku, kalau itu menyangkut anjing, pasti aku "iya-kan". Malah aku sering dianggap geek tentang anjing karena hampir hapal isi 1 ensikopedia tentang anjing, hehehe.
Jadilah hari ini aku melatih Doggy (nama anjing Uak) untuk shake hand (dan hal-hal basic lainnya) ditemani Eris anjing golden retriever ku :)



Bersama Eris di seberang rumah Uak.



Oya, sebelumnya harus aku ceritakan juga kalau asal-usul Doggy sebetulnya nggak terlalu jelas. Jadi suatu hari Uak yang lagi butuh anjing penjaga tiba-tiba aja "dihadiahi" bayi anjing oleh pengurus rumahnya. Katanya ini anjing liar yang ditinggalkan induknya. Nggak tau jelas induknya anjing jenis apa dan ada di mana, tapi si pengurus rumah yakin dia pernah lihat bapaknya. Waktu ditanya jenis anjingnya, dia cuma bilang, "Anjingnya besar, coklat". Begitu.
Uak sebenarnya nggak terlalu yakin mau pakai anjing nggak jelas ini sebagai penjaga, tapi berhubung belum menemukan anjing lain yang "tepat", jadi Uak putuskan untuk memelihara Doggy dulu sementara.


Setelah "bermain-main" (baca: berlatih) sedikit dengan Doggy, Uak dan aku langsung pergi ke pet shop. Di sepanjang perjalanan, Uak terus-terusan minta aku telepon atau SMS teman-teman yang berternak anjing penjaga. Ya, Uak mau mengadopsi anjing untuk menggantikan Doggy segera.
Ada beberapa kandidat anjing yang dirasa cocok. Uak berencana mau menemuinya sepulang dari pet shop.

Di pet shop Uak langsung melihat-lihat rantai untuk anjing Doberman. Dengan serius dia berdiskusi dengan penjaga toko tentang rantai yang paling tepat. Aku sendiri cuma mendengar sekilas pembicaraan mereka dan melihat-lihat makanan untuk bayi anjing.
Waktu aku lagi lengah tiba-tiba aja Uak muncul disampingku sambil bawa tali kecil untuk kucing.

"Ini bagus, nggak?" tanya Uak.
"Loh, itu apa?" bingung kan aku...
"Ini untuk si Doggy, kan lehernya masih kecil,"
"Oh...(??)"

Meski bingung aku nggak bertanya apa-apa. Otakku langsung menyimpulkan sendiri kalau Uak pasti mau beri talinya untuk Doggy setelah nggak dirawatnya lagi (Doggy rencananya akan diurus kembali oleh pengurus rumah Uak).

Sesuai rencana kami menuju rumah teman yang menjual macam-macam anjing penjaga. Di perjalanan Uak nggak banyak bicara. Dia cuma bilang kalau Doggy itu lucu, ukuran matanya kecil sebelah. Aku cuma senyum aja menanggapi kata-katanya.
Akhirnya kami sampai dan mobil diparkir agak jauh dari rumah temanku. Nggak ada salah satu dari kami yang keluar dari mobil. Bicarapun nggak. Cuma diam sampai kira-kira 15 menit...

"Sudah, lah kita pulang aja. Tolong jangan beritahu Uak kalau ada yang jual anjing, ya. Soalnya Uak mau pelihara Doggy. Selamanya!"

Dan aku pun tersenyum. Kalimat "Man's best friend" terbukti benar. Seekor anjing, jenis apapun itu, ras murni, campuran atau yang biasa disebut anjing kampung seperti Doggy selalu bisa menjadi sahabat manusia. Karena anjing nggak mengenal jenis, mereka semua sama: percaya dan akan menjaga tuannya selamanya.
Dalam hati aku langsung berjanji akan melatih Doggy dan membawanya ke dokter hewan untuk vaksin pertamanya. 

Selamat datang di keluarga kami, Doggy!



Doggy!





nb: Nama "Doggy" diambil dari kata "Dog". Karena Doggy sebelumnya memang nggak mempunyai nama, jadi hanya dipanggil seperti dirinya sendiri. Yaitu... anjing ;)

Jumat, 12 November 2010

Gaun Pengiring Pengantin di Hari Wisuda :)


Halo semua, apa kabar? Semoga baik-baik saja, ya. Soalnya cuaca yang sering berubah-rubah belakangan ini bikin rawan flu (termasuk aku yang juga kena, hehehe) :) Hari ini aku mau cerita tentang wisudaku yang serba mendadak (Ya, aku AKHIRNYA wisuda, lol).

Tanggal 10 November kemarin, disaat semua orang memperingati hari pahlawan, aku malah wisuda! Sebetulnya aku sudah nolak buat ikutan sejak bulan Juli lalu. Ya, sejak jauh-jauh bulan! (bukan jauh-jauh hari lagi). Alesannya karena aku sudah lulus, tau IPK ku, sudah salaman sama semua dosen juga, hehehe. Jadi apa lagi?
Tapi Nenek ku berpendapat lain. Baginya wisuda adalah suatu "kebanggaan". Lulus saja belum cukup, beliau pengen punya kenang-kenangan untuk dipajang di rumahnya: Fotoku yang lagi pakai toga dan kebaya.
Waaaah, andai Nenek tau... Sebetulnya pakai toga, kebaya dan konde'lah yang aku hindari. Soalnya terlalu ketat, gerah dan kondenya bikin pusing. Kalau harus pakai ini semua, gimana aku bisa menikmati prosesi wisuda yang berjam-jam? Bisa-bisa aku udah pingsan duluan...

Orangtuaku bisa mengerti. Mereka setuju lebih baik kami syukuran di rumah saja. Sesuatu yang sifatnya simbolis nggak terlalu penting. Toh, semua anak yang sekolah asalkan rajin belajar (dan fasilitas mendukung) pasti bisa lulus. Itu kan proses, jadi nggak perlu dibesar-besarkan.
Tapi akhirnya di detik-detik terakhir orangtuaku minta aku ikut wisuda. Alasannya bisa ditebak, mereka nggak mau mengecewakan Nenek. Ibu bilang, Nenek sudah tua, kadang sulit untuk diberi penjelasan kalau wisuda itu nggak penting. Lebih baik aku menurut daripada jadi kekecewaan berkepanjangan.

Jujur, beberapa hari sebelum wisuda aku sempat ngambek. Nolak pakai kebaya dan parno banget rambutku yang cuma segini-segini harus ditempeli konde (soalnya kalau hanya dicepol, paling cuma dapet sejempol, hehehe). Orangtuaku akhirnya kasih kebebasan apa yang akan aku pakai nanti. Syaratnya asalkan rapi dan formal. Dikejar waktu yang sudah sangat dekat, hal pertama yang aku inget cuma buku baju pengiring pengantin yang dikasih sama Mrs. Patty, hahaha. Akhirnya aku pilih long dress tercantik yang ada di sana. Dengan sedikit corat-coret (ya, aku suka sekali mendesain baju), aku minta Ibu untuk jahit long dress yang sudah dimodifikasi itu. Ibu agak nggak percaya aku mau pakai baju pengiring pengantin. Tapi setelah aku tunjukin desainnya, beliau setuju ;)

Waktu hari wisuda datang, aku putuskan buat nggak ambil pusing. Aku inget cerita sepupu dan teman-temanku yang harus bangun jam 4 subuh untuk persiapkan kebaya, make up dan konde. Tapi ceritaku ternyata nggak seperti itu (terima kasih Tuhan...). Aku bangun jam 7 pagi (hampir seperti biasa) dan cukup cuci muka (aku mandi 2 hari sekali, btw, lol). Setelah itu aku pakai long dress'nya. Almost no makeup. Aku cuma pakai bedak tipis, lip gloss dan blush on. Untuk rambut aku biarkan terurai, cuma aku kasih hiasan bunga-bunga kecil.

Nenek agak kaget dengan penampilanku. Beliau bilang, "Mana kondenya? Nggak pakai kebaya?". Tapi aku cuma senyum menanggapinya.




***


Aku diantar Bapak, Ibu dan Nenek. Sabuga, tempatku wisuda sudah penuh sepenuh-penuhnya. Agak heran juga kenapa banyak wisudawan/wati yang bawa rombongan sampai 2 mobil. Padahal sudah jelas undangan yang boleh masuk hanya 2 orang. Alhasil banyak wisudawan/wati yang mau masuk gedung malah terhalang sama tamu-tamu tanpa undangan. Untungnya, sejak tahun 2004 aku sering mengisi choir di sini, jadi sudah tau harus lewat mana supaya cepat, hihihi...

Di dalam gedung aku sering sekali dapat pertanyaan-pertanyaan heran seperti, "Indi, nggak pakai konde?" atau "Indi, nggak pakai kebaya? Padahal kan supaya cantik seperti yang lain", dll.
Aku sih tetap cuek aja, soalnya yang tau batas nyaman kan cuma diri sendiri. Soal cantik itu belakangan. Kalau teman-teman lain bisa tahan pakai baju daerah lengkap dan heels, nah nggak begitu denganku. Lagipula suasana nampaknya nggak mendukung untuk pakai baju yang agak ribet. Bayangkan aja, ada seribu lebih wisudawan/wati disana. Belum lagi jumlah security yang berlebihan bikin ruangan makin terasa sempit. Itu belum termasuk tamu tanpa undangan yang berhasil masuk. Bisa kebayang kan gimana suasananya? Sudah mirip nonton konser rock pakai konde aja, hihihihi :)

Akhirnya prosesi wisuda selesai. Beberapa teman dan dosen yang tadinya bilang aku "kurang cantik" berbalik memuji karena sampai akhir acara cuma aku lah yang wajahnya nggak belepotan karena makeup campur keringat. Tapi buatku yang paling lucu adalah pendapat Nenek. Beliau bilang,
"Bagus juga ternyata pakai baju santai. Emah (panggilan Nenek) mah kasian liat yang sebelumnya pada cantik malah pada selonjoran di lantai gara-gara pegel pakai sepatu tinggi".

Hihihi :)
Aku nggak mengecilkan teman-teman yang berpakaian ribet, tentu aja. Menurutku usaha mereka memang sepadan, kok. Di mataku mereka tampil sangat cantik. Tapi rasanya nggak masalah kalau aku berpendapat bahwa kebaya, konde dan high heels kurang tepat untuk dipakai di suasana ramai dan gedung yang kurang memadai. Wisuda sarjana itu satu kali seumur hidup, aku mau menikmati setiap detik moment'nya tanpa terganggu pakaianku. Sekali lagi, aku nggak mengecilkan teman-teman yang lain, lho. Aku cuma mau menekankan bahwa kenyamanan adalah yang utama. Dan yang terpenting cantik itu kan in the eye of the beholder ;)




Kamis, 11 November 2010

Ayo Menulis untuk Buku Keduaku! :)



Wah leganya novel keduaku hampir siap! :D

Setelah tahun lalu novel pertamaku terbit (Waktu aku Sama Mika), tahun ini novel keduaku akan menyusul. Masih dari penerbit yang sama, Homerian Pustaka, konsep kali ini adalah memoir. Ya, semacam buku harianku dari kecil sampai sekarang, deh, hihihihi. Di sana selain ada kisah-kisahku juga akan ada testimoni dari pembaca "Waktu aku Sama Mika". Awalnya, sih testimoni-testimoni itu berasal dari public figure dari macam-macam bidang. Ada dari bidang musik, novelis, televisi dan lain-lain. Tapi kemarin penerbit punya ide supaya teman-teman pembaca juga ikut menymbang testimoni di novelku.
Wah ide bagus! Sangat-sangat setuju :)

Kalian mau berpartisipasi? Dengan senang hati aku terima.

Caranya, kirim komentar singkat kalian tentang novel "Waktu aku Sama Mika" ke email namaku_indiankecil@yahoo.com
Atau, untuk pengguna Facebook bisa kirim pesan ke pageku, Indi Sugar. Sertakan nama, usia dan profesi kalian, ya. Cukup kirim ke salah satu account/email saja. Supaya aku lebih mudah bacanya :)

Untuk komentar yang terpilih akan dimuat di cover belakang novelku.



Supaya kalian nggak kebingungan, aku akan post beberapa testimoni yang sudah masuk ke Facebookku:

"Waktu aku Sama Mika ditulis dengan penuh cinta karena aku merasakan cinta ditiap tulisannya".
(Angela Febriani Tobing,19 tahun, Mahasiswi)

"Sempurna itu ada di semua orang, tergantung gimana cara kamu lihatnya. Touchy!".
(Inchan pratiwi, 18 tahun, Graphic design student)

"Jujur, tulus dan apa adanya. Tidak dilebih-lebihkan hanya supaya bisa menggunakan kata-kata yang terdengar hebat, melainkan sederhana dan mudah dimengerti oleh hati".
(Alice Ayu, 20 tahun, Penulis merangkap calon auditor)



Begitu :)
Aku tunggu email dari kalian, ya. Terima kasih banyak.



xo,
Indi "Sugar pie"


Kamis, 04 November 2010

Walking with "Giant" :p


Mau nulis nggak ya? Mau? Nggak? Mau? Nggak? Nggak mau? Mau!
Hahahaha, mulai ngaco deh aku. Hmm, sebenernya sih hari ini aku lelah banget. Tapi berhubung tidur nggak bisa dan kalau bengong malah mikir yang nggak-nggak, lebih baik aku nulis aja, deh, lol.

Kali ini aku mau cerita tentang Richard, temenku yang biasa dipanggil Om Bule (meski sebetulnya aku lebih tua sedikit dari dia, hehehe).
Aku mengenal si Om ini lewat dunia blog. Awalnya sih nggak sengaja, waktu aku lagi visit blog teman, di sana ada link ke suatu blog yang namanya aneh: Bule Juga Manusia. Iseng-iseng, aku klik dan mulai baca blog'nya. Wah, ternyata isinya lebih aneh daripada judulnya. Banyak cerita nggak penting dan foto-foto "mengerikan", lol. Tapi, entah aku mulai terhipnotis atau memang jatuh cinta, aku jadi ogah ninggalin blog itu dan malah betah baca postingannya satu persatu! Ckckckck... :p
Meskipun begitu, aku sama sekali nggak ninggalin komentar. Alasannya sederhana: Aku nggak mau dianggap sebagai orang asing yang nimbrungin cerita-cerita pribadi dia. (Seriously, it feels like reading a dude's diary, lol).

Sampai suatu hari (yang mana sangat jarang terjadi), aku melakukan random add di Facebook. Dan tanpa sengaja yang aku add itu account'nya Om Bule! Ternyata oh ternyata... dunia ini sempit sekali... (iya, lah. Namanya juga internet, lol). Langsung aja aku kasih link blogku dan bilang kalau aku suka sama blog'nya.
Entah berapa lama kemudian (yang pasti cukup lama sampai aku lupa pernah ninggalin link di wall'nya), waktu aku on line tengah malem, aku terima pesan di inbox FB dari si Om Bule. Isinya cukup panjang. Tapi intinya dia merasa nggak enak karena baru sempat baca blogku setelah sebelumnya dia dikejar deadline novel perdananya. Dia bilang tulisanku beautiful (ah, jadi malu, lol) dan punya ide untuk barter 1 kopi bukuku dengan traktiran wisata kuliner kalau dia berkunjung ke Bandung nanti.
Wah, jelas aja aku mau :)


***

2 November 2010
Dan inilah kami,
Aku langsung menyalami Om Bule dan nona manisnya (namanya Bian :) ) begitu sampai di BIP. Agak konyol juga karena tanpa basa-basi aku langsung bilang kalau aku lapar dan pengen langsung makan, hehehe. Alhasil, sebelum sempat ngobrol-ngobrol, kami langsung sibuk cari tempat makan, dan sudah bisa ditebak, aku pasti ngerepotin karena aku vegetarian, lol. Akhirnya supaya semua bisa makan, kami pilih untuk ke food court (yang ternyata percuma karena cuma aku doang yang makan, hahaha). Di sana barulah kami mulai ngobrol-ngobrol selayaknya teman on line yang baru ketemu.

Kesanku tentang Om Bule sedikit berbeda dari yang aku tangkap di blog'nya. Ternyata dia nggak se'ngehe yang dikira, hehehe. Aku pikir dia bakalan cerewet dan bersuara besar (sebesar badannya, lol), tapi ternyata dia bicara dengan volume dan kecepatan yang normal, kok, lol. Tapi kalau soal kocak, dia memang sekocak di blog'nya. Buktinya waktu kami foto-foto dia bisa bergaya aneh-aneh sampai aku puas ketawa lihat gayanya, hahaha. Sayang aku nggak punya gambarnya, soalnya fotonya diambil dari kamera Om Bule dan aku cuma dapet satu foto malu-malu yang diambil sama Bian, huhuhu. Aku jadi nggak sabar Om Bule upload foto-foto kami, nih. Soalnya selain fotoku dan Om Bule, ada juga fotoku dan Bian yang ala AL4Y :p



Foto malu-malu kami, hihihihi.



Aku yang baru sembuh dari sakit jadi nggak punya waktu cukup buat bawain kedua teman baruku ini hadiah. Aku cuma bawa 1 novel "Waktu Aku Sama Mika" yang nggak dibungkus pula, hihihihi... agak memalukan, ya? :p Tapi semoga aja mereka suka bukunya.
Ternyata Om Bule bawain aku oleh-oleh dari Australia. I'ts a cute Koala stuffed doll! Wah, aku seneng banget, soalnya bisa nambahin koleksi bonekaku :) Makasih ya Om Bule....
Oya, ada kejadian lucu lho pas acara "tuker kado", Bian bilang sama aku kalau dia pernah dikasih boneka koala sama Richard tapi buatan Cina, padahal belinya di Australia. Langsung aja aku masukin bonekaku ke dalem tas, takutnya Om Bule langsung berubah pikiran dan kasih bonekanya ke Bian, hahahaha.



Boneka koalanya sekarang jadi penghuni baru di atas tempat tidurku. Liat match banget kan sama wallpaper di kamarku? :)



Selesai (aku) makan kami ke bioskop. Entah ide dari mana (ehmm, sebenernya dari aku, sih, lol), kami putusin buat nonton "Setan Facebook". Wah posternya bikin penasaran banget, soalnya dari semua cast yang disebutin nggak ada satupun yang kami kenal. Tebakan kami, sih, ini pasti tipikal film Indonesia yang "konyol", alias baru 5 menit film diputar langsung ada adegan sun-sun'an, hehehe. Tapi ternyata kami nggak bisa langsung nonton (padahal udah nggak sabar, lol), soalnya film baru dimulai 1 jam lagi.

Sambil nunggu kami main dulu di Timezone. Ya, niatnya sih cuma mau have fun aja sambil habisin waktu. Tapi ternyata kami malah dirampok! Untuk yang berniat main ke Timezone, lebih baik baca dulu pengalamanku dan teman-teman tadi sore:
Tau kan mesin permainan boneka alias catcher doll machine yang menarik hati itu? Dengan mata berbinar, aku dan Bian pengen banget dapetin salah satu boneka di mesin itu. Om Bule yang baik hati ternyata mau dapetin bonekanya buat kami (hore... hore...). Setelah beli 1 kartu game, Om Bule mulai berjuang untuk dapetin boneka beruang warna biru. Awalnya sih dia cuma asal nangkep aja, cuma lama-lama gemes juga sampai-sampai dia mulai ukur "sudut ketepatan antara kait dengan boneka", hehehe. Boneka beruang incaran itu beberapa kali nyangkut di kaitnya, tapi anehnya malah terlepas waktu udah deket ke kotak keluar. Sampai akhirnya Om Bule yakin banget bidikannya kali ini bakal tepat. Dan... terbukti, bonekanya nyangkut, swinging berkali-kali... oops, ternyata meleset LAGI! Hfff...
Nggak tahu sudah berapa kali kartu digesekan ke mesin itu sampai tau-tau aja empty. Tadinya sih kami pikir sudah cukup, cuma musik yang keluar dari mesinnya itu lhooooo, kayaknya manas-manasin kami banget! Akhirnya diisi ulang lagi kartu game'nya si Om Bule. Kali ini kami mau coba mesin dengan boneka yang lebih besar, soalnya kami pikir peluang dapet bonekanya pasti lebih besar. Ternyata SALAH BESAR! Tekanan di mesin ini jauh lebih besar. Boneka-boneka besar yang asik nyengir ke arah kami ternyata cuma kasih harapan palsu. Mereka selalu jatuh TEPAT di samping kotak keluar! Hmm, mulai curiga kaitnya dirancang khusus untuk melonggar di waktu-waktu tertentu... Sniff, akhirnya kami keluar dari Timezone dengan tangan kosong. Bener-bener kosong, karena kartu game yang kedua juga isinya sudah habis, hahahaha (ketawa sedih).

Masih dalam rangka nunggu film dimulai, Om Bule beli pedang-pedangan dulu. Yes, betul pedang-pedangan pajangan gitu (Aku bantu kamu ya, Richard. Kalau nanti di bandara kamu dilarang bawa pedang ini karena dianggap senjata tajam, kamu tunjukin saja postingan aku, jadi ada bukti kalau yang kamu bawa itu memang pedang-pedangan, hahaha). Si Om Bule pilih-pilihnya lamaaaaa banget. Persis banget kalau aku masuk toko sepatu, lah, lol. Untungnya dia nggak minta pedangnya langsung dipakai, kaya kalau aku lagi belanja sepatu :p
Akhirnya pedang yang dipilih warna hitam. Keren banget, deh pokoknya. Ada tulisan Jepangnya juga, tapi aku nggak tau artinya apaan. Yang penting mah keren, hihihihi.


Waktu kita sampai di bioskop ternyata film'nya sudah dimulai. Terpaksa deh kita jongkok-jongkok takut ganggu orang-orang yang serius nonton "Setan Facebook" (aku dan Bian sih nggak apa-apa, soalnya pada imut. Nah, si Om Bule, tingginya hampir 2 meter, lol). Waktu aku jongkok-jongkok sebenernya agak mirip orang tiarap waktu perang, soalnya aku orangnya penakut abis kalau soal film hantu-hantuan, lol.
Akhirnya, setelah kami duduk dikursi sembarang, kami mulai nonton filmnya. Begini ceritanya...
*yawning* Ada hantu hobinya main Facebook, jadi dia bunuh orang-orang di friendlist'nya. Tamat.
Iya, betulan tamat. Ceritanya memang segitu-gitunya, suara pemainnya juga nggak begitu jelas, kaya orang lagi kumur-kumur gitu. Editornya juga jelek. Hantunya nggak serem. Tapi justru karena semua kekurangan itu kami jadi ribut ketawa-ketawa sepanjang film. Contohnya aja yang bikin ngakak, ada adegan bule (nggak tau siapa namanya) mau hack account'nya si hantu. Tau nggak dia ngapain? Dia cuma buka profile hantu dari account'nya sendiri, nggak ngapa-ngapain, geleng-geleng, isep rokok terus bilang, "Nggak bisa...", hahahahaha. Atau ada nenek-nenek yang mengenalkan diri, maksudnya sih misterius, tapi suaranya nggak jelas dan malah kedengeran kaya, "Panggil saya Oma POCHONG", whuahahahahaha...
Ada satu adegan yang sukses bikin Om Bule dan Bian ngakak, yang sayangnya aku nggak perhatiin. Katanya sih waktu hantunya mau nyergap pemeran utamanya yang lagi nyetir mobil, pemeran hantunya udah nongol-nongol di bangku belakang sambil nungguin aba-aba gitu! Hihihihihi, what a movie :')

Kami pun keluar bioskop sambil ketawa-ketawa heboh. Beberapa kali kami ngulang dialog-dialog konyol yang ada di film itu (dan favorit kami adalah, waktu si cowo bule bilang sama temen cewenya supaya jangan dulu bukan FB, si cewe langsung panik sambil bilang, "Sampai kapaaaan???!!!" Hahaha, seolah dia dilarang napas atau makan, lol). Rasanya kalau dipikir-pikir lagi cuma kami bertiga yang ketawa-ketawa waktu nonton. Eh, jangan-jangan penonton lain anggap film itu terlalu serius sampai-sampai berasa masuk ke setiap adegannya? Come on, you've gotta be kidding me :p

Akhirnya, kami harus berpisah. Selain waktu yang semakin larut, mall'nya juga hampir tutup, hihihihi.


Nice to meet you Om Bule, Bian. Makasih oleh-olehnya. Kapan-kapan kita main lagi, ya... Atau bikin film "Setan Blogger" sekalian, lol. Oya, ngomong-ngomong, boneka koala'nya aku kasih nama "Ribi". Tau kan singkatan dari apa? ;)




Yang paling depan itu koin dari Om Bule. Horeeee, dapet tambahan koleksi uang asing, deh :)



Blog'nya Om Bule: 
http://bulejugamanusia.blogspot.com/




(Diedit 29/04/2024. Aku dan Richard alias Om Bule masih berteman sampai sekarang. Dia sudah gak ngeblog lagi dan berprofesi sebagai polisi di Australia).