Rabu, 29 September 2010

Hati-hati the Osbournes, Kalian Punya Saingan! :p


Selamat malam semuanyaaaa... Apa kabar?
Hari ini aku nulis dengan keadaan nggak jelas. Alias nggak tau aku lagi mood nulis atau nggak mood nulis (apa sih? lol).
Seharian ini waktu rasanya pendek. Aku turun dari tempat tidur hampir tengah hari, soalnya semaleman aku restless akibat sakit kepala yang ajaib (udah minum obat masih sakit, padahal terapisku bilang aku nggak apa-apa. Nah, ajaib bukan!). Setelah itu buru-buru aku brunch (mau sarapan udah terlambat, hihihihi) terus ambil baju serampangan dan pergi ke kampus buat urusin kelulusan. Wah, sepanjang jalan rasanya kaya lagi ada gempa bumi besar. Kepala aku nyut-nyut-nyut sampai bikin jalankue sempoyongan, hahahaha...

Sykurlah semuanya lancar, surat lulusku udah ada dan tinggal nunggu di tanda-tangani PD I. La, la, la, la, senangnya (padahal PD I itu lah yang paling susah dicari, jadi nggak jelas juga dapet suratnya kapan, hihihihi).
Hmm, semenjak lulus ini aku sering merasa "stress" kalau diem di rumah. Meskipun aku fresh from the oven (alias baru BANGET lulus), tapi nyokap udah khawatir banget (duh!). Beliau pengen aku keluar rumah, menemui orang betulan dan berkomunikasi pake suaraku, bukan hanya lewat internet. Sniff, It would be hard, Ma :p

Akhirnya, sekitar minggu lalu aku mulai cari-cari kerjaan yang pas buatku. (Hmm, sebenernya sih, aku sempet ditawarin magang di sebuah media kampus, tapi sayang ternyata kerjaannya nggak cocok sama fisikku yang "unik", karena harus datang daerah-daerah terpencil di Indonesia, huhuhu).
Tanpa sengaja aku liat ada lowongan untuk host perempuan di sebuah stasiun TV lokal. Nggak pake liat tanggal deadline, syarat, dll aku langsung telepon aja produser TV itu dan bikin janji ketemu (nekat bener, lol). Setelah interview yang lalalala, blahblahblah (banyak becanda dan basa-basinya, hihihi) akhirnya aku dapet kabar kalo posisi host di program TV yang aku pengen udah keisi! Oh, no :'(
Untunglah mereka lagi siapin program TV lain. Memang sih baru bulan depan nanti, tapi nggak apa-apa, lah. Dapet pekerjaan kan nggak mungkin instan :D

Sambil mengisi waktu, produsernya ternyata punya ide gila (lol). Dia pikir pasti bagus kalau keluargaku dan rumah kami dibahas di program TV mereka. WHAT? Aku yang belum izin ortu langsung "iya-iya" aja di depan produser. Untunglah pas aku sampaikan kabar ini ortuku nggak masalah.


Jadilah tanggal 24 kemaren rumah keluargaku di survey. Aku yang waktu itu mau pergi ke kampus sempet-sempetin dulu jadi guide produsernya di rumah yang gedenya nggak seberapa ini (luas bangungan 350 m, 2 lantai dan taman belakang mentok sama jendela kamar, lol).
Sambil tunjukin ruangan-ruangan di rumah, aku pura-pura jadi pembawa acara MTV Cribs, hahahaha. Siapa tau produsernya mikir, "Wah, berbakat sekali gadis manis ini.."
Hihihihi...
Semuanya serba cepet dan mendadak, 3 hari yang lalu, alias tanggal 27 September keluargaku dan rumah kami langsung dishoot! Jadilah kami yang minus banget soal acting di"hajar" habis-habisan. Tapi seru juga, terutama nyokapku yang hobi banget bilang "CUUUUUUUT!" tiap kali dia salah ngomong, hahaha. Belum lagi bokap yang dengan konyolnya acting baca buku "Waktu aku sama Mika" tapi lupa pakai kaca-mata baca. Hihihihi, banyak banget kejadian konyol lah pokoknya. Sayang banget, Puja, adikku nggak bisa ikutan karena lagi kuliah. Sebagai gantinya aku minta kameramen zoom foto dia terus-terusan, lol.

Ya, meski acara ini nggak ada hubungannya dengan pekerjaanku, tapi aku nggak nyesel dan bangga bisa muncul disini. Soalnya pengalaman ini nggak akan pernah aku dapet kalau aku nggak "nekat" ngelamar jadi host di stasiun TV lokal, hihihi.
Oya, buat temen-temen yang tinggal di Bandung, jangan lupa saksikan keluarga kami (cieeee...) di program "IMAH" jam 5.30 sore di STV, hari Jumat tanggal 1 Oktober. Saran dan kritik kami terima dengan senang hati, hahahaha ;)

Sedikit foto-foto di rumah kami:


Kamarku yang girly tapi juga rock n roll


Kamar tidur ortu yang ala keraton, hahahaha.


Ruang tamu


Kamar mandi.


Sehabis shooting: Kang Zein (host), aku dan Kang Bram (arsitek).





My group: Waktu Aku sama Mika (Facebook)
My page: IndiSugar (Facebook)

Sabtu, 25 September 2010

Belajar dari Pak Benigni

Halo?
Ah, lama juga aku nggak duduk di depan komputer tua, nyentuh keyboard dan nulis pengalamanku sehari-hari. Hmm, sebenernya bukan berarti nggak ada yang mau aku ceritain. Belakangan ini hari-hariku menyenangkan dan banyak hal baru, kok. Tapi sakit yang nggak kunjung sembuh bikin aku agak "malas" buat menulis. Selama sebulan ini aku langsung istirahat setelah aktivitas. Maklum, tubuh lagi nggak bisa diajak kompromi :) Padahal banyak sekali hal-hal baru yang pengen aku bagi. Tentang aku yang (hampir) gagal jadi host di stasiun TV lokal, diundang ke acara talkshow favorit, sampai tentang sakitku yang nggak kunjung sembuh.

Tapi sekarang aku nggak akan bahas tentang hal-hal itu. Ya, itung-itung pemanasan setelah lama nggak nulis, aku mau nulis yang santai-santai dulu, hehehe.
Hmm, gimana kalau tentang idolaku? Setuju? Nggak?
Okay, kalau gitu aku bikin tulisan ini khusus buat yang setuju aja. Buat yang nggak setuju, silakan klik "Postingan lain" di sudut kanan halaman ini. Masih ada cerita-cerita aku yang lain, kok, lol.


Aku mengagumi Roberto Benigni. Ya, dia idolaku.
Waktu itu aku masih duduk di bangku SMP dan pertama kali mengenal ia lewat film "Life is Beautiful". Film ini sangat berkesan buatku karena sukses bikin aku nangis di masa pra remaja yang serba "jaim". It was amazing. Sebelumnya aku jarang sekali nunjukin emosi kalau nonton film (kecuali film "Air Bud". That's another story, lol).
Semakin aku dewasa, aku mulai sengaja mencari-cari film aktor asal Itali ini. Dan ternyata memang nggak mengecewakan. (Hampir) semua filmnya sukses bikin aku meneteskan air mata dengan cara yang nggak cengeng. Karena film-film'nya selalu penuh inspirasi dan mengubah rasa takut jadi sesuatu yang "fun".

Tapi ada 2 film favoritku. "Life is Beautiful" dan "The Tiger and the Snow". Film-film ini disutradarai oleh Mr. Benigni sendiri. Yup, he's a genius! Selain bisa akting, dia juga menulis cerita untuk film-film'nya. Dan selama aku mengalami "sakit lama-entah kapan sembuh" ini, aku jadi punya kesempatan buat nonton ulang 2 film kesukaanku ini. Entah untuk keberapa kalinya, tapi kali ini aku masiiiih aja meneteskan air mata.
Hmm, buat yang belum pernah nonton film-film'nya mungkin bakal nggak percaya dengan kesaktian idolaku ini. Aku tau selera orang beda-beda. Tapi aku sarankan kalian untuk menilai sendiri, minimal dari 2 film yang aku sebutkan tadi. Nih, aku kasih review singkatnya. Siapa tau bisa jadi bahan pertimbangan film mana yang mau kalian tonton duluan :)


Life is Beautiful (1997)



Sesuai judulnya, film ini memang menceritakan tentang betapa berharganya kehidupan. Aku menangkap arti yang luas dari film ini, bahwa betapa berharganya pasangan, anak, keluarga dan teman kita meski dalam keadaan tersulit sekalipun.

Guido, seorang Yahudi sederhana yang ceria suatu hari tanpa sengaja bertemu dengan Dora, seorang guru cantik yang berkelas. Meski hanya melihatnya sekilas, Guido langsung jatuh cinta pada Dora. Dengan segala keterbatasannya ia berusaha menarik perhatian Dora sampai akhirnya mereka berhasil menikah.
Beberapa tahun kemudian mereka memiliki anak laki-laki lucu, Giosue, yang membuat kehidupan mereka semakin indah. Hari-hari mereka jalani dengan rasa syukur dan iklas meski mereka hidup sangat sederhana (Dora meninggalkan kehidupan mewahnya dan memutuskan untuk membantu Guido mengelola toko buku kecil).

Hingga 5 tahun kemudian, kehidupan indah mereka dirusak oleh kehadiran tentara Jerman yang "memburu" seluruh keturunan Yahudi. Guido, yang memang seorang Yahudi dibawa secara paksa oleh tentara dan dipekerjakan secara semena-mena. Karena cintanya, Dora (beserta anak mereka, Giosue) menyusul suaminya dan ikut bekerja paksa meski ia sama sekali nggak diizinkan untuk melihat suami dan anaknya.

Selama di kamp pekerja Guido "membohongi" anaknya yang masih sangat kecil bahwa yang sedang mereka lakukan sebenarnya permainan dalam rangka merayakan ulang tahun Giosue. Giosue pun percaya dan menjalani siksaan Jerman dengan gembira karena mengira akan diberikan mobil-mobilan ketika permainan selesai.

Jujur aja, ini adalah film Mr. Benigni yang paling sering aku tonton ulang. Mungkin aku udah nonton film ini sebanyak 10 kali dan masih nangis waktu liat endingnya. Endingnya begitu indah dan "mengejutkan". Saking bagusnya aku sering mengajak teman dan keluarga buat nonton film ini. Aku menikmati sekali reaksi "surprise" mereka sepanjang film ini. Bener-bener film yang menginspirasi :)



The Tiger and the Snow (2005)




Nggak gampang buat me'review film ini. Selain karena twist ending yang nggak asik kalau diceritain duluan, alur film ini juga mungkin agak susah dimengerti kalau nggak ditonton langsung.

Attilio seorang duda beranak dua selalu memimpikan hal yang sama setiap malam. Ia selalu melihat dirinya sendiri menikah dengan mengenakan piama. Anehnya mimpinya selalu terputus karena ia selalu terbangun.
Attilio sangat terobsesi dengan mempelai wanita di mimpinya meskipun ia sudah memiliki seorang pacar. Sayang, Vittoria, wanita impiannya itu nggak mempedulikan Attilio di dunia nyata.

Suatu hari, Attilio mendengar kabar bahwa Vittoria mendapatkan kecelakaan di Baghdad. Tanpa pikir panjang Attilio langsung menyusulnya dari Prancis dengan cara menumpang pada sebuah organisasi kemanusiaan (semacam PMI gitu, lah, lol). Setiba di Baghdad ternyata Vittoria sudah dalam keadaan koma. Dokter yang memeriksanya menyatakan ia sudah sekarat karena di rumah sakit sedang kekurangan obat-obatan. Vittoria pun dibiarkan begitu saja karena keadaan sedang perang dan banyak nyawa yang lebih "berharga" untuk diselamatkan.

Attilio yang sebenarnya tau keadaan Vittoria tetap menemaninya dan menganggapnya seolah sedang tidur. Setiap hari ia mengajaknya berbicara dan mencarikan obat-obatan. Meskipun usahanya sangat beresiko, Attilio nggak pernah berhenti. Bahkan setelah ia ditodong senjata olah tentara Amerika yang menyangka dirinya seorang Arab karena memiliki logat "asing" dan warna kulit yang kecoklatan.

Adegan-adegan tentang perjuangan Atillio mengisi hampir di sepanjang film sampai akhirnya sampai pada ending yang "twist", yang lebih baik di tonton sendiri. Menurutku ini film percintaan yang paling "sempurna" yang pernah ada. Semuanya serba sederhana dan tanpa syarat. 


Ya, itulah reviewku tentang 2 film Mr. Benigni kesukaanku. Aku nulis ini tengah malem dengan mata sepet, tapi semoga aja kalian bisa mengerti bahasa "ajaib" ku, lol. Sekali lagi, aku tau selera orang beda-beda. Tapi aku berani bertaruh kalau kalian nggak akan bisa menolak pesona si jenius Roberto Benigni ;)



NB: Di kedua film, yang memerankan Dora dan Vittoria adalah istri Mr. Benigni di kehidupan nyata, lho.



Rabu, 11 Agustus 2010

Cita-cita

Potong kue di ultahku sama Ibu :)



My family. Ibu baru aja bangun tidur, hahahaha :)



Halo, apa kabar semuanya? Buat yang menjalankan ibadah puasa, aku ucapin selamat berpuasa, ya. Semoga ibadah tahun ini lebih baik dari tahun kemarin. Amen :)

Satu minggu belakangan, aku baru ngalamin "kerasnya hidup", hehehe. Maksudku, kehidupanku setelah lulus kuliah jauh lebih berat daripada waktu kuliah (yang memang sudah sulit, huhuhu). Aku mulai harus  untuk lebih mandiri, punya penghasilan sendiri dan pekerjaan yang stabil.
Aku sama sekali nggak keberatan dengan "peran" baru ini. Toh aku memang sudah dewasa dan terbiasa membiayai diri sendiri (sejak kuliah aku nggak dapet uang saku). Tapi yang jadi masalah justru kekhawatiran ortu (terutama nyokap) ku!

Sejak aku masih remaja, nyokap, yang aku panggil "Ibu" sudah khawatir dengan "masa depan" ku. Perkembanganku yang ajaib sebagai remaja, bikin dia ketakutan setengah mati kalau anaknya nggak bisa sehebat anak-anak lain.
Suatu waktu pernah Ibu bertanya apa cita-citaku. Dengan percaya diri aku jawab,
"Aku mau jadi penulis dan apapun, asalkan bekerja dengan anak-anak".
Dan kagetlah nyokapku.

Bahkan semenjak aku belum lulus SD, nyokap pernah bilang kalau dia bercita-cita punya anak yang sukses, punya karier yang cemerlang dan mapan. Jujur aja, awalnya memang menjadi beban tersendiri buatku, yang secara kebetulan dilahirkan sebagai anak pertama, hehehe. Tapi lama-lama aku pikir, aku  bisa kok sukses dengan pekerjaan yang aku sukai. Toh apapun kalau dikerjakan dengan serius pasti "menghasilkan".
Ternyata nyokap berpikir lain, baginya untuk sukses harus kerja kantoran. Begaji tetap dan bukan kerja "serabutan".
Agak menyakitkan, memang... Tapi begitulah, sebagai fresh graduate yang masih tinggal di rumah ortu, aku harus mendengarkan keinginan nyokap.



Adik, Bapak dan aku waktu Ibu ultah di Lembang.



Akhirnya di sinilah aku, mulai cari pekerjaan yang nggak ada hubungannya dengan dunia yang aku suka. Nggak ada tulis-menulis, khayal-mengkhayal (bahasa opo iki? lol) atau anak-anak. Sudah beberapa CV aku kirim via e-mail ke beberapa tempat. Ada yang ditanggapi ada juga yang nggak.
Salah satu yang ditanggapi datang dari sebuah lembaga pendidikan (nama dan profesinya rahasia, ya! Hehehe). My Mom was soooooo exited! Sampai-sampai dia langsung bikin baju baru buatku. Buat kasih "miracle" di interviewku katanya. Aku sih cuma bisa mesem-mesem nggak karuan. Soalnya kalau manyun aku nggak tega sama nyokap yang sudah begitu bahagia (dan mendoakan aku pagi-siang-malem--kapanpun--).



Me and Daddy di ultahku. Look at my face. Aku gak mandi karena lagi kena demam berdarah :p


Interviewku kebilang lancar, meski gagal bikin janji sebanyak 2 kali. Tapi setidaknya aku menunjukkan ketertarikan dengan interview'nya meski aku blank sama sekali tentang profesi "itu".
Sampai hari ini (3 hari kemudian setelah interview), aku masih belum dapet panggilan. Terlalu dini untuk bilang aku gagal dan terlalu "deg-degan" juga untuk bilang aku masih punya harapan. Nyokap mulai gelisah dan takut aku gagal. Aku, meskipun nggak terlalu menginginkan pekerjaan itu ikutan nggak enak dan berdoa semoga Tuhan kasih pekerjaan itu sama aku. Yah, kalaupun nantinya aku nggak cocok kerja disana, at least aku sudah mencoba dan bikin nyokap bahagia.



Daddy and me. Foto ini diambil sama Gina, sepupuku.



Di tengah kegelisahanku, justru bokap yang sangat optimis dengan masa depanku. Baginya pekerjaan itu apa saja, asal halal. Karena itulah kenapa dulu anak-anak diajari untuk punya cita-cita. Ya untuk dicapai, bukan untuk diubah ketika dewasa...
Jujur aku terharu dengan dukungan bokap. Selama ini aku selalu tahu kalau bokap sayang aku, tapi jarang sekali dia tunjukin dengan cara-cara verbal.
Aku masih inget dengan jelas percapakan kami waktu dia anterin aku interview,


Bokap (B): "Kalau ini nggak berhasil, jangan sedih. Bilang saja sama Ibu apa adanya. Mungkin nanti kamu diizinkan kerja di koran XX (nyebutin nama)."

Aku (A): "Iya, tapi Ibu kan maunya nulis hobi saja..."

B: "(Diam agak lama)... Kapan-kapan ambilah uang tabunganmu beberapa ratus ribu. Traktir Ibumu, Nenek juga Kakek."

A: "Untuk apa, Pak?"

B: "Bilang ini hasil menulis. Supaya mereka tahu, kalau menulis itu pekerjaan. Bukan sekedar hobi..."

***

Sampai detik ini aku masih deg-degan soal interviewku. Masih takut juga bikin nyokap kecewa. Tapi at least aku tahu kalau ada yang mendukung cita-citaku dan percaya sama aku apapun profesi yang aku ambil suatu hari nanti.



Bapak, Ibu... Aku kebingungan.
Aku menghargai impian kalian.
Sangat menghargai...
Jadi tolong doakan saja aku berhasil dengan jalan yang aku pilih.
Bukan dengan jalan yang sama sekali tidak aku kenal.
Jika kalian (terutama dirimu, Ibu) tetap menginginkan aku mengambil jalan lain,
aku akan menurut.
Tapi tolong tuntunlah aku agar tidak tersesat.
Dan berikanlah aku waktu untuk belajar...

Bapak, Ibu. Aku sayang kalian...




(Diedit pada 29/02/2024. Kayanya waktu nulis ini aku lagi mellow banget dan "gak kompak" sama Ibu, hahaha. Glad itu sudah berlalu, beliau hanya khawatir dan sebenarnya selalu mendukung cita-citaku. Look at me now, semua  yang aku raih sekarang berkat dukungan Ibu :) ).

Selasa, 10 Agustus 2010

Smiling with Their Tails :)


Aku baru aja nyuruh Eris, anjingku masuk rumah supaya nggak kehujanan. Wah, mengadopsi Eris itu seperti punya adik kecil. Kadang bikin jengkel, tapi seringnya bikin senyum lihat tingkah lucunya...

***

Aku dibesarkan di keluarga pecinta hewan. Sejak bayi aku sudah akrab dengan ikan, burung, tikus, kura-kura dan terutama anjing.
Sejak aku berusia 10, aku tahu anjing merupakan hewan yang istimewa. Setiap hari, sepulang sekolah, Black (anjingku saat itu) selalu menunggu di depan pagar. Menyambutku dengan keramahan berlebihan tapi menyenangkan. Black selalu menabrakkan badan besarnya ketubuhku, lalu menjilati pipiku sampai basah. Hahaha, terdengar jorok? Memang. Tapi waktu itu aku merasa kalau jilatan hangat Black sama rasanya seperti seorang sahabat yang menyapa, "Hai, bagaimana harimu tadi? Kemana saja? Aku kangen kamu!".

Seiring berjalannya waktu aku semakin kagum dengan binatang spesial ini. Malah, waktu aku SMA, aku bikin karangan untuk UAS Bahasa Indonesia dengan judul "Sahabat Anjingku". Bu guru bilang ceritaku bagus dan menginspirasi dia untuk mengadopsi anjing.
Beberapa temanku nggak ngerti kenapa aku bisa mencintai makhluk berliur berbulu protein. Malah ada yang bilang aku jorok. Tapi aku nggak pernah marah. Aku lebih memilih menjelaskan pada mereka apa yang aku lihat sebenarnya dari mahluk ini. Aku yakin, suatu hari mereka akan percaya kalau aku benar. Seperti bu guru.

Banyak yang aku kagumi dari anjing. Hal pertama adalah kesetiaannya atau loyalitasnya. Pernah kalian denger anjing yang ninggalin tuannya? Nggak? Aku yakin begitu.
Aku percaya tugas pertama yang diberikan Tuhan untuk seekor anjing adalah menjadi setia. Mereka (para anjing) nggak akan pernah punya alasan untuk meninggalkan tuannya, bagaimanapun keadaannya. Veggie, anjing golden retriever yang aku adopsi sejak berusia 1,5 bulan nggak pernah sekalipun meninggalkan rumah meski pintu nggak terkunci dan nggak ada siapa-siapa. Sebelum aku atau anggota keluargaku pulang, dia akan duduk manis didepan pintu dan siap menyambut kami. Pernah suatu hari karena suatu insiden, keluarga aku nggak bisa pulang ke rumah selama 2 hari. Ketika kami pulang, Veggie masih di tempat semula meski hanya ada jatah satu hari makanan!
Sungguh aku begitu kagum dengan cara pikir anjing yang selalu percaya kalau tuannya akan datang. Padahal, setahuku saat beberapa jam saja anjing menunggu, itu sama rasanya dengan beberapa hari kalau manusia menunggu. What an amazing creature!



Veggie main bola basket.


Veggie dan aku.


Veggie kedinginan.



Hal yang kedua sudah pasti insting melindunginya. Aku taruhan kalau orang yang mengadopsi anjing merasa lebih aman daripada yang nggak mengadopsi (kecuali yang "mengadopsi" bodyguard yah... Itu lain cerita dan aku nggak mau ikut-ikutan, ah, hehehe). Bahkan buat yang mengadopsi anjing chihuahua sekalipun! Anjing sekecil apapun, kalau merasa ada yang mengancam tuannya, dia pasti akan bereaksi. Minimal menggonggong.


Eris, anjingku yang berwatak sangat penakut (lihat jarum suntik aja nangis, hihihi) pernah menyerang orang nggak dikenal yang ternyata mau maling motor bokapku. Wah, keluargaku sampai heboh. Soalnya kami nggak pernah nyangka kalau anjing pendiam ini suatu hari bakal jadi pahlawan :)

Hal yang ketiga, aku kagum berat sama wataknya yang mau belajar. Meski sudah tua, anjing selalu mau belajar. Tahu kan pepatah yang bilang bahwa nggak pernah ada kata terlambat kalau kita mau ajarin trick baru sama anjing? Ini bukan sekedar pepatah, karena anjing pada dasarnya memang suka belajar. Veggie belajar trick terakhirnya justru beberapa saat sebelum kematiannya. Meski sakit-sakitan, dia tetap suka bermain. Waktu aku ajarin dia cara lepasin selot garasi, she was so excited! Nggak ada yang pernah menyangka kalau beberapa hari setelahnya Veggie pergi untuk selamanya...
Ya, anjing memang always young at heart. Nggak peduli setua apapun, mereka akan tetap semangat belajar. Aku yakin kita semua mau seperti itu, kan?


Dan yang terakhir: Mereka memandang hidup much funner than us!
Dogs smiling with their tails. Berapa kali anjing wagging tail dalam satu hari? Many times, kan? Itu artinya anjing lebih sering bergembira daripada kita. Anjing nggak akan pernah peduli berapa banyak mainan yang dia punya, seberapa lezat masakan kita atau seberapa sering dia pergi keluar kota.
Untuk berbahagia anjing cuma perlu satu tepukan hangat di kepalanya setiap pagi, digaruk perutnya disiang hari dan dipersilakan tidur di tempat hangat di malam hari.
Aku masih belajar untuk seperti itu. Aku ingin seperti mereka yang nggak pernah komplain dan menikmati semua yang diberikan Tuhan tanpa protes. Setiap kali aku lupa untuk tersenyum, aku selalu teringat Eris yang cuma punya 1 mainan karet tapi selalu tampak bahagia :) 



Eris pakai pita.



Nah, gimana, apa sekarang kalian mengerti kenapa aku sangat mengagumi anjing? Yah, aku rasa "jawaban" ku sudah cukup untuk membuat kalian punya alasan untuk mengadopsi anjing. Kalau belum, pikirkan dua hal ini: Kalian akan lebih sehat. Karena anjing selalu jadi alasan baik untuk berjalan-jalan di sore hari. Dan yang terakhir, anjing selalu jadi alasan untuk bersosialisasi di tempat yang paling asing sekalipun. Mau tahu buktinya? Aku rasa kalian harus coba sendiri ;)


Dedicated to: Black, Ted, Bob, Skippy di surga para anjing dan Eris, selamat datang di keluarga kami.



(must see dog movies: Air Bud, Rin Tin Tin, Homeward Bound, Lassie, Hatchiko - Japanese Version)




Selasa, 27 Juli 2010

Plagiator Oh Plagiator...

It’s me, Indi :)



Halo aku Indi!
Hehehe, pernah ada yang penasaran nggak sih kenapa aku sering banget "mengenalkan diri" sebelum menulis sesuatu? Sebenernya sih alasannya sederhana aja. Ini kebiasaan sejak kecil karena di sekolah dulu aku bukan tipe anak yang dikenal. Dengan kata lain, "I'm no body".
Sejauh yang aku ketahui, nggak ada seorang anakpun yang ingin sepertiku. Aku tipe anak clumsy dan rada dorky. Setiap hari diantar jemput dan kalau jam istirahat duduk manis di kelas, bawa bekal makanan dan novel tebal (aku satu-satunya anak yang baca novel Harry Potter di SMP, hahaha). Banyak orang yang keliru panggil namaku. Harusnya "Indi", tapi malah jadi "Indri".

Jadi, suatu hari, waktu aku temuin ada orang-orang yang ingin sepertiku... Aku terkejut!


***

Waktu itu aku masih di tahun awal kuliah dan baru 1 tahun belajar jadi blogger. Aku punya 2 buah blog. Yang pertama "Dunia Indian Kecil" dan yang kedua "Dari Mika di Surga". Jangan bayangin blogku itu berisi kata-kata cerdas nan bermanfaat. Kedua blogku isinya cuma curahan hati pribadi yang sederhana dan apa adanya. Khusus di blog kedua, aku bercerita tentang Mika, pacarku semasa SMA yang meninggal dunia karena AIDS.
Aku senang menulis tentang Mika. Karena buatku dia lebih dari sekedar pacar, tapi juga pahlawan. Banyak pelajaran yang aku dapat dari dia. Terutama tentang "cinta tanpa syarat". Sederhana dan bikin aku berbesar hati sebagai seseorang yang "bukan siapa-siapa".

Tapi sayangnya surat-surat pribadiku untuk Mika yang dipublish di blog mulai diambil orang. Yang pertama, tanpa sengaja aku baca sebuah puisi dengan judul yang sama seperti postinganku. Karena nggak mau berburuk sangka, (I'm nobody remember? Nggak mungkin ada orang yang mau sepertiku) aku putusin buat baca puisinya secara utuh. Lalu, ah.. air mataku segera meleleh. Puisi itu sama persis seperti yang aku tulis. Setiap kata, setiap rima yang dipakai. Bedanya cuma nama "Mika" diganti menjadi "kamu".
Ya, aku sadar, aku cuma pemula yang karyanya masih biasa-biasa aja. Tapi aku menangis karena jerih payahku membuat puisi spesial untuk almarhum tersayang malah dipakai sama orang yang belum tentu merasakan apa yang aku rasain. Begitu tega. Begitu mudah dia mengcopy lalu paste sesuatu tanpa melalui proses berpikir...

Aku kebingungan dan nggak tau harus melapor kemana. Teman-teman bloggerku yang prihatin malah memaki-maki di blog sang plagiator. Aku kurang suka dengan cara itu, karena semarah apapun, aku nggak setuju untuk menggunakan kata-kata kasar yang malah menunjukan betapa "liar" dan "tidak tahu sopan-santunnya" seseorang.
Akhirnya, seorang teman--blogger senior-- memberikan no HP admin blog tersebut. Di hari yang sama aku langung SMS dan menceritakan semuanya. Butuh waktu berminggu-minggu sampai postingan itu menghilang dari blog si plagiat...


Ternyata kejadian itu bukan untuk terakhir kalinya. Di akhir taun 2008 aku dapat kabar gembira dari sebuah penerbit. Mereka berminat untuk menerbitkan novel pertamaku yang diberi judul "Waktu aku Sama Mika". Ya, itu adalah novel yang aku dedikasikan untuk Mika. Sangat spesial dan aku tulis dengan sepenuh hati.
Aku sangat excited menunggu novel itu terbit. Sampai-sampai setelah mendapat kabar kalau novelku siap terbit, aku langung googling sana-sini untuk cari tau (hihihihi, jadi malu). Dan ternyata memang betul, novelku sudah masuk list "coming soon" di website penerbitnya :)

Tapi semakin dekat ke tanggal terbit (waktu itu Maret 2009), aku menemukan sesuatu yang aneh di blog "seseorang" (he used to be my friend!). Awalnya aku pikir dia bikin tulisan untuk promosi novelku. Tapi ternyata dia pakai tulisan-tulisanku untuk ikut lomba!
Aku kaget, sekaget-kagetnya karena nggak nyangka tulisanku malah dipakai untuk sesuatu yang bersifat komersil. Aku coba untuk sabar dan mengingatkan dia secara halus. Aku bilang, lebih baik pakai karya sendiri karena kalaupun menang atau kalah nantinya, pasti rasanya lebih memuaskan daripada pakai karya orang lain.
Dan... Kalian tau apa balasannya?


"Enak aja nuduh gue plagiat! Gue tuh udah email lo buat minta izin, tapi nggak dibales. Lagian tulisan gitu doang dipermasalahin. Ogah gue minta maaf sama lo!"



Hmm, agak aneh ya jawabannya? Masa sudah jelas meniru tapi nggak mau disebut plagiat? Lagipula meminta izin tapi nggak dapat izin kan artinya memang nggak dapat izin. Itu sangat menyakitiku. Terutama di part "tulisan gitu doang". Karena seburuk-buruknya tulisanku, itu tetap hasil pemikiran otakku. Nggak sepantasnya dia bilang seperti itu. Kalau memang buruk, kenapa dia meniru coba?...

Kasus ini nggak ada ujungnya. Si teman entah kemana dan sampai detik ini dia nggak pernah minta maaf. Tapi setidaknya karya dia batal dilombakan. Oh, ya hanya untuk meluruskan imajinasi kalian. Mungkin kalian membayangkan kalau orang yang meniru karyaku ini masih remaja, ya? Salah! Dia hampir seumur dengan bokapku.


Novelku akhirnya terbit 1 bulan kemudian. Bangga rasanya waktu copy pertamanya dikirim ke rumah. Sampai-sampai aku buka halamannya pelan-pelaaaaan banget. Takut sobek, hihihihi.
Masih ada sedikit kekhawatiran ceritaku  dicopy orang lagi. Tapi dengan berbekal kontrak & ISBN, rasanya nggak mungkin masih ada orang yang bakal nekat meniru.

Tapi ternyata aku salah...
Lewat Facebook aku berkenalan dengan anak ini. Ya, anak. Dia masih SMA. Awalnya dia mengaku sebagai pembaca "Waktu aku Sama Mika". Lalu suatu hari, dia meminta izin untuk post kutipan dari novelku ke note'nya. Aku bilang nggak apa-apa asalkan dicantumkan aja sumbernya.
Minggu-minggu berlalu, aku hampir lupa kalau ada anak yang mau post tulisanku. Iseng-iseng ku intip page'nya. Dan... alangkah kagetnya aku karena dia bukan cuma "mengutip" tapi mempost 4 puisi untuh tanpa menyebutkan sumber. Lebih menjengkelkannya lagi, dia ganti nama Mika dengan nama lain yang menurut pengakuannya adalah nama dari mantan pacarnya yang sudah meninggal.
Sebagai manusia biasa, aku bisa berempati. Aku tau gimana rasanya kehilangan. Mungkin aja dia mau bikin sesuatu yang spesial untuk mantannya tapi nggak tau caranya. Tapi ini nggak bisa aku biarin. Anak itu mengaku kalau puisiku adalah karyanya. Jerih payah dia sendiri. Sampai-sampai di wall dan komen note'nya, dia sering sekali bilang, "Iya, itu karya aku. Aku memang suka nulis, tapi baru kali ini dipublish. Terima kasih ya sudah suka tulisan aku,"
What the... Oops, aku harus tetep sabar. Dengan bahasa sehalus mungkin aku kirim pesan sama dia. Isinya sederhana dan pendek, cuma meminta supaya di note ditambahkan nama penulis aslinya.
Tapi saudara-saudara... Tau apa yang aku dapet kemudian?
Dia remove dan block FB ku!
Beberapa teman dan pembaca yang prihatin turut menasehati anak itu. Yang didapat nggak beda jauh denganku. Pesan-pesan mereka dihapus dan mereka diremove. *sigh*
(Dasar anak zaman sekarang, ckckck... Lol)


Beberapa bulan lalu tulisanku juga dicopy sama seorang mahasiswa dari universitas terkenal berinisial "G". Setelah sebelumnya aku selalu menegur langung penjiplaknya, kali ini aku memutuskan untuk lebih serius (sudah 4 kali, lama-lama bikin kesel juga...). Aku laporkan anak ini ke polisi. Aku nggak peduli ditanggapi dengan serius atau nggak, yang penting aku mencoba.
Ternyata prosesnya cukup sulit dan berbelit-belit. Apalagi polisi sempet salah pengertian dan mengira aku ini siswa SMA yang tugas karangannya dicontek teman sekelas (Oh, come on!). Akhirnya karena nggak ada ujungnya aku langung menghubungi kampus tempat mahasiswa itu kuliah. Dua hari, akhirnya aku dapat tanggapan. Pihak kampus memohon maaf dan berjanji akan mencabut nilai untuk mata kuliah tertentu. Ternyata tulisanku dipakai buat tugas kuliahnya. Gosh...
Aku nggak mempermasalahkan lebih lanjut. Aku bilang nggak apa-apa selama nggak diulang lagi. Meskipun, ya... ada tulisan di bawah copy'an mahasiswa itu yang bikin aku agak bete. Katanya, "Jangan dicopy, yaaa... Karena itu namanya plagiat,"
*nah itu tau...*


Sebetulnya ceritaku nggak habis sampai di sini. Masih ada 1 kasus lagi yang mau aku ceritain. Tapi berhubung anaknya masih 13 tahun, jadi aku tunda dulu "tegurannya". Tapi bukan berarti aku cuek, lho. Aku cuma nunggu saat yang tepat aja. Lagian, dia blogger disini juga, kok. Siapa tau aja dia kebetulan baca tulisanku. Dan seandainya dia baca, aku mau sampaikan ini sama dia,

"De, makasih ya sudah baca novel 'Waktu aku Sama Mika'. Aku lihat blog kamu, sepertinya kamu pandai menulis. Tulisanmu bagus, halus dan bahasanya baik. Saranku, teruslah menulis, siapa tau bisa berguna untuk yang membaca.
Oh, ya makasih juga sudah post tulisanku di blog kamu. Tapi jangan kamu tambah-tambahkan, ya, dear? Mika itu memang ada. Dia pasti sedih kalau tau kamu tulis cerita yang nggak betul kaya gitu..."

Salam,
Indi


Ps: Bloggers yang baik. Aku selalu yakin jadi diri sendiri lebih baik daripada meniru. Meskipun tulisan aku biasa-biasa aja, tapi memang beginilah aku. Dan aku bangga dengan ini. Jadi diri sendiri itu indah. Aku rasa ini cara sederhana untuk memaksimalkan potensi yang diberi oleh Tuhan :)

Rabu, 21 Juli 2010

Welcome to Our Family, Eris!

Nama: Eris Von Black Mumba
Lahir: Jakarta, 22 Mei 2009
Saudara: 1 saudara kembar (Rhea) dan 1 kakak perempuan (mendiang Veggie)
Hobi: Main di halaman dan ngobrol dengan Tn. Jeruk


Kehadiran Eris memang nggak terduga. Awalnya justru aku sempet kebingungan karena karakternya yang kelewat tenang. Khawatir dia sakit atau shock berat. Tapi ternyata dia bisa bikin aku, keluarga dan semua orang yang mengenalnya jatuh cinta...

***

Februari 2010 lalu, hanya 2 bulan setelah kematian Veggie, anjing golden retrieverku, ada seorang ibu yang menawarkan anjingnya untuk diadopsi. Katanya anjingnya betina, masih bayi dan berkarakter baik. Aku langsung tertarik. Tapi kemudian... ragu. Aku sama sekali nggak mengenal ibu ini (dia teman nyokap). Apalagi lokasi kami yang berbeda kota.

Meski aku ragu, tapi aku putusin untuk cari tahu latar belakang Eris. Aku dan ibu itu mulai sering SMS'an. Dari ceritanya, Eris ternyata punya 2 saudara dan semuanya akan dijual, termasuk Eris. Mulanya Eris akan dibeli sama seseorang di Bandung, tapi karena suatu hal (yang aku nggak pernah tau alesannya), Eris nggak jadi dibawa ke Bandung. "Pembelinya kurang pas. Mau cari rumah yang lebih baik," itu kata si ibu.
Lalu ibu itu mendengar cerita tentangku. Gadis yang lagi bersedih karena kematian anjing kesayangannya yang lucu. Ia lalu memutuskan untuk menghubungiku dan menawarkan anjingnya untuk diadopsi. For free. Gratis. Meskipun calon pembeli awal sudah setuju untuk mengeluarkan biaya sebesar 4 juta...

Tanpa berpikir dua kali, aku langsung setuju untuk mengadopsi Eris. Aku belum tau Eris seperti apa. Melihat fotonya aja belum. Satu-satunya petunjuk yang diberi ibu itu cuma: Eris itu lucu.
Entah kenapa di imajinasiku Eris itu anjing golden retriever berwarna gelap dan berbadan kecil, sama sekali nggak mirip dengan Veggie. Tapi itu kan cuma khayalan, aku nggak akan tau sampai ketemu Eris langsung nanti.


Sekitar jam 11 pagi aku diantar nyokap dan sekretarisnya pergi ke Jakarta. Perjalanan cukup melelahkan. Pinggangku sakit beberapa kali, tapi semangat untuk ketemu Eris berhasil bikin aku bertahan. Tiga jam kemudian akhirnya aku sampai ke rumah ibu baik hati. Rumahnya luas, indah dan ada kolam renangnya. Dalam hati aku langsung bilang, "Wah, beruntung sekali Eris. Kalau dibawa ke Bandung kasian juga harus ninggalin ini semua...". Lol.
Belum sempat aku masuk ke ruang tamu, 4 ekor anjing udah menyambut kedatanganku, nyokap dan sekretaris. Semuanya golden retriever. Tapi perhatianku langsung tertuju ke golden kecil berwarna gelap. Anjing itu mirip sekali dengan apa yang di khayalanku. Langsung aja aku peluk dia sambil teriak,
"Eris.. Eris... Kamu Eris, kan?"
Semua langsung natapku heran. Lalu ibu baik hati itu bilang,
"Kok langsung tau? Itu memang Eris".


Eris OTW menuju rumah barunya.



Pertemuan dengan Eris begitu berkesan. Eris langsung akrab sama aku sampai-sampai mukaku basah sama liurnya. Aku nggak banyak bicara sama ibu itu, kecuali nggak henti-hentinya bilang, "Makasih.. makasih banyak...".

Lalu ibu itu cerita lengkapnya kenapa ia kasih Eris dengan cuma-cuma. Ternyata di hari waktu Eris mau dibawa ke Bandung, anak si ibu yang baru bangun tidur tiba-tiba melarang Eris untuk dijual. Katanya,
"Mama, kasih aja anjingnya sama Indi. Cepet, sekarang juga,"
Nggak pake alesan. Nggak ada alesan... Dia cuma pengen anjingnya untukku.
Aku juga nggak berani nanya lagi. Aku udah terlalu senang untuk punya Eris.



Di rumah barunya Eris langsung akrab denganku.


Eris 10 bulan.



Cuma 2 jam aku di sana. Setelah itu aku langsung bawa Eris pulang ke rumah barunya. Sedikit khawatir di sini nggak ada kolam renang ataupun AC, meski soal cinta sudah pasti dia pasti dapat banyak. Tapi ternyata Eris bisa adaptasi dengan cepet. Dia cuma nangis di malam pertama. Malam-malam selanjutnya dia langsung akrab dengan seisi rumah. Sifat pendiamnya memang nggak hilang. Tapi itu justru bagus dan PAS banget denganku yang nggak bisa lari-lari (aku pengidap scoliosis).
Eris langsung jadi pelengkap keluarga kami. Memberikan kebahagiaan dan mengobati rasa kangen karena ditinggal Veggie. Ia bahkan merayakan ulang tahun pertamanya disini. Di keluarga barunya....

Welcome to our family, Eris :)



Cake ultah pertamanya. Hanya simbolis karena anjing gak boleh makan cokelat, lol.

Senyum birthday girl.



Senin, 19 Juli 2010

Scoliosis Is a Gift From God

Hi, aku Indi. Aku bahagia, menyelesaikan sekolah dengan baik dan juga seorang scolioser.
Ya, scolioser atau pengidap kelainan tulang belakang yang abnormal kearah samping di leher, dada dan pinggang yang biasa disebut scoliosis.
Waktu aku menulis postingan ini, kelengkunganku 55 derajat. Jalanku timpang dan kesulitan untuk menggerakkan tubuh bagian kanan. Tapi seperti yang sudah aku sebutkan di atas, aku bahagia. Dan aku menganggap scoliosis sebagai anugerah dari Tuhan.



***

Aku masih berusia 9 tahun waktu tahu ada yang aneh dari tubuhku. Sebagai seorang gadis kecil yang sedang mengalami masa pra pubertas, aku mulai mencoba-coba untuk memakai mini set (itu lho, training bra for young lady. Lol). Anehnya, kedua buah dadaku nggak fit di cup mini set. Awalnya nyokap pikir itu karena usiaku yang masih terlalu muda, tapi ternyata kecurigaanku makin bertambah waktu aku menginjak usia 11 tahun.
Aku mengalami menstruasi pertama dengan nyeri yang amat sangat. Ortuku nggak tahu apa penyebabnya. Begitu juga dengan dokter anak yang menanganiku sejak lahir. Dia nggak lihat ada yang salah dari tubuhku.


Hari ini, scoliosis 55 derajat.



Lalu di usia 13 akhirnya aku dapet jawaban pasti atas keanehan yang ku alami. Tanpa sengaja, aku baca artikel tentang scoliosis disuatu tabloid kesehatan. Hanya untuk iseng aku mencoba tips "Cara Mendeteksi Scoliosis". Aku mulai membungkuk dan melihat pantulan tubuhku di cermin. Kaget. Ada yang salah. Punggung bagian kananku tampak menonjol seperti hampir lepas. Waktu itu aku sedikit panik, tapi mencoba tenang dan menceritakan semuanya pada ortu. Beruntung mereka langsung membawaku ke RS khusus tulang.

Hasil pemeriksaan dokter menunjukan kalau kemiringan scoliosisku sudah 35 derajat. Belum termasuk parah, tapi tinggal 5 derajat lagi untuk masuk kategori parah.
Dokter langsung menyarankanku untuk pakai brace alias penyangga tulang belakang. Tadinya aku ngotot buat nolak, soalnya selain bentuknya yang nggak manusiawi (sekeras besi, menutupi seluruh bagian tubuh sampai panggul dan hanya ada 3 buah lubang "bernapas": di ketiak dan di pusar!), aku juga harus pakai selama 23 jam sehari. Tapi akhirnya aku nyerah juga, soalnya otak sadarku 100% tahu, kalau tanpa brace tubuhku justru malah nggak terkontrol. Suka gerak sana-sini yang malah memperparah scoliosisku.


Sesi terapi yang menyenangkan.


Pemotretan untuk majalah sport.



Aku harus kompromi sama banyak hal semenjak aku pakai brace (baca: semenjak ketahuan scoliosis). Aku nggak bisa lagi lari, loncat, noleh sana-sini dan bebas pakai semua model baju. Kompromi sama hal terakhir jadi yang paling sulit buat aku sebagai seorang remaja. Aku cuma bisa bilang "Da-dah" sama koleksi T shirt ketatku. Soalnya kalaupun nekat aku pake, bisa-bisa tonjolan skrup kelihatan jelas dan aku malah kelihatan kaya robot, bukannya keren! Begitu juga dengan kegiatan modeling yang otomatis harus aku tinggalin (aku sering jadi model untuk butik di tempat nyokap dulu bekerja). Bikin aku sedih dan nggak tahu kegiatan apalagi yang pas buatku.


Gueststar di launching Masyarakat Skoliosis Indonesia.


Profilku di majalah GoGirl!


Profil dan resensi novelku di M Teens.


"Waktu Aku sama Mika". Novel tentang kehidupanku sebagai scolioser.



Tapi lalu Tuhan kasih aku alternatif lain untuk tujuan hidup. Semenjak aku nggak lagi bisa bebas main di luar rumah seperti anak-anak lain, aku mulai menulis. Menulis, menulis dan menulis. Sampai akhirnya aku lupa dengan cita-cita yang pengen jadi model. Terbukti, walau lambat tapi pasti Tuhan semakin menunjukan kalau scoliosis dan aku adalah padanan yang paling sempurna. Dimulai dari artikel kecil di majalah remaja sampai novel akhirnya bisa aku hasilkan. Semua itu Ia tunjukkan melalui scoliosis.

Kadang aku masih mengeluh dengan rasa sakit yang aku alami. Masih sebal kalau panggulku sakit.  Atau masih manyun kalau lagi buru-buru tapi nggak bisa jalan dan naik tangga dengan cepat. Tapi itu jarang terjadi. Jarang sekali, malah. Seringnya aku malah menganggap kalau scoliosis itu anugerah dari Tuhan. Dengan kata lain, kado, hadiah atau berkat.

Aku nggak bisa bayangin diriku tanpa mengidap scoliosis. Mungkin aku nggak akan pernah seperti ini, nggak akan pernah tahu kalau aku sebenernya bisa menulis dan punya fungsi dalam hidup. Aku bukan aku yang sekarang kalau tanpa scoliosis. Seandainya ada yang ingin menukar hidupku sekarang dengan apapun, aku nggak akan pernah mau. Ini yang terbaik untukku. Ini jalan Tuhan!...



Resensi novelku di Jawa Pos.


Profilku di majalah Kartika.






My Page (FB): Indi Sugar
My Group (FB): Waktu aku Sama Mika





Kamis, 08 Juli 2010

Siapa Mau Jadi Sarjana?

Siapa diantara kalian yang punya gelar sarjana diusia 22? Ada? Salut untuk kamu.

Ceritaku berawal ketika aku menjadi fresh graduate dari sebuah SMU swasta. Nilaiku bagus, meski bukan yang terbagus. Rata-rata delapan dengan ijazah yang membanggakan (boleh lah dipajang. Lol). Tapi aku nggak punya universitas impian, sama sekali. Apalagi jurusan impian, aku sama sekali blank dengan dunia perkuliahan.
Waktu itu aku memang sangat kekanakan, nggak mau repot-repot ambil tanggung jawab sebagai seorang mahasiswa, ngambek waktu disuruh ikut test masuk sama ortu. Tapi akhirnya terbujuk juga ikut test di dua universitas swasta di kotaku. Di universitas pertama, secara random aku ambil jurusan psikologi, hukum dan komunikasi. Di universitas kedua, lagi-lagi secara random aku ambil jurusan seni musik dan hubungan internasional.
Hmm, aku sama sekali nggak ngerti dengan jurusan-jurusan yang ku pilih itu sebenernya. Apalagi waktu SMA aku masuk jurusan IPA, jadi aku blank banget dengan segala ilmu sosial. Tapi ya, namanya juga random. Jadi kalau diterima syukur, nggak juga nggak apa-apa. Toh aku belum siap jadi seorang mahasiswa.

Nggak disangka, 4 dari 5 jurusan yang aku pilih ternyata lolos. Lagi-lagi (lagi...) secara random aku pilih universitas yang kedua. Tapi waktu ditanya aku mau masuk jurusan apa, aku bingung antara seni musik dan hubungan internasional.
Waktu SMA aku anggota tetap kelompok choir. Pengen banget aku terusin minatku itu ke bangku kuliah. Tapi di sisi lain aku juga suka mempelajari bahasa, jadi Hubungan Internasional pasti cocok buatku.
Setelah dipikir cukup lama, aku putusin untuk ambil seni musik. Dan pilihanku ternyata nggak salah...

Aku merasa diterima di sana. Dalam waktu singkat aku bisa dapet banyak temen dan akrab dengan dosen-dosennya. Aku nggak peduli keberadaanku sebagai perempuan yang jadi minoritas di kelas. Dari 30an anak, hanya ada 2 orang perempuan.
Pengalamanku sekolah drum selama 2 grade memang nggak bantu terlalu banyak. Banyak anak laki-laki yang (bahkan) belajar secara otodidak lebih jago dari aku (lol). Tapi itu sama sekali nggak nurunin semangatku untuk belajar. Malah minat aku sebagai "player" pun berganti seiring berjalannya waktu. Aku mau jadi menejer musik. Itu ku pikir. Karena di seni musik selalu ada "jalan" meski nggak terlalu pandai memainkan instrumen.

Sayangnya baru 1 semester aku harus pindah dari seni musik. Alasannya ortu ngerasa pilihanku di sana nggak terlalu tepat. Mereka memang masih sedikit kolot, kadang meragukan kesempatan bekerja dari lulusan jurusan seni musik. Aku ngerti sebagai ortu mereka khawatir dengan masa depanku. Tapi aku nggak mau nyerah gitu aja.
Aku tetep pergi ke kampus seni musik meski aku bukan lagi mahasiswa disana. Status baruku sebagai mahasiswa hubungan internasional sama sekali nggak aku pake. Aku cuma mampir sebentar terus cabut sampai sore di kampus lama. Anehnya beberapa mahasiswa dosen masih nggak ngeh kalau aku sebenernya bukan mahasiswa di sana lagi. Padahal aku sering menyusup masuk kelas, lho disela-sela mata kuliah mereka.

Mengejar ketinggalan di HI (Hubungan Internasional) juga bukan hal gampang. Mata kuliah yang aku ikuti bener-bener berbeda dengan apa yang aku dapet di seni musik. Di mataku HI terlalu kaku, terlalu banyak politik dan nggak mengenal bersenang-senang. Itu termasuk para mahasiswanya. Aku nyaris nggak mengenal 1 orangpun sampai 1 tahun kemudian. Untung aja akhirnya aku nemu 2 orang sahabat yang salah 1 nya awet sampe detik ini :)

Tahun demi tahun (wah, bahasanya, hehehe) aku lalui di HI. Adaptasiku cuma sedikit membaik. Bolos berkurang dan mulai dekat dengan beberapa dosen. Aku sering gagal di beberapa mata kuliah. Malah sempet kena kasus yang agak memalukan. Gara-gara nggak bisa jawab satupun soal UTS, aku nulis surat di lembar jawaban yang isinya adalah curahan hati aku. Dengan jujur aku tulis kalau aku selalu boring ikut mata kuliah tsb (dirahasiakan ya nama mata kuliahnya. Lol) dan kadang aku ketiduran di bangku belakang. Semua itu aku tulis dengan bahasa Inggris. Nggak tau deh aku lagi kerasukan setan bule kali. Lol.
Hasilnya, aku pun dikejar-kejar sama dosen yang bersangkutan selama 1 semester lebih. Nilai mata kuliahku kosong dan SP (Semester Pendek) aku nggak diterima! O ow... Bad Indi... Setelah itu aku langsung menyesal dan janji mau perbaiki semua. Setelah kasih rayuan-rayuan maut (baik-baikin) sama Pak Dosen, akhirnya aku diizinin ikut satu kali SP (huhuhu...).

Baru ditahun akhir aku bisa lebih fokus dan bisa ngejar ketinggalan nilai-nilaiku. Nilai-nilai ku yang C perlahan berganti jadi B bahkan ada juga yang A. IPK ku semakin mendekati angka 3. Biar kata orang aku udah telat buat tobat (halaaaah, hahaha), tapi aku percaya kalau Tuhan pasti membantu umatnya yang berusaha, lol.
Meski dibantu Tuhan, bukan berarti semuanya mudah. Temen-teman satu kelasku satu persatu duluan lulus. Sedangkan aku masih disibukan dengan skripsi dan ngurusin nilai. Belum lagi sepupuku yang usianya 1 tahun dibawahku udah lulus duluan. Wah, tekanan dari keluarga langsung deh berdatangan. Dari pertanyaan halus macam, "Kapan lulus?" sampai "Nggak malu tuh dikalahin adiknya?" mulai terbiasa kedengeran sepanjang aku ngerjain skripsi.
Kalau aja aku nggak punya ketegaran ekstra, udah gantung di jalan kali tu skripsi. Untung aku punya jurus ampuh ngadepin tekanan. Jurus Budeg! Aku pura-pura nggak denger aja apa komentar negatif dari orang sekitar. Yang penting aku fokus dan mengerjakan sebaik-baiknya. Toh, aku mengejar semua ketinggalan aku ini hanya dalam waktu 1 tahun. Jadi aku rasa semua pencapaianku sejauh ini udah cukup.


Lagi nunggu giliran sidang.


Akhirnya aku berhasil selesaiin skripsiku di bulan Juni (thank you so much for Ray) dan sidang di bulan Juli. Terbukti karena Jurus Budeg ku bisa capai tujuan aku meski nggak secepat yang lain. Sempet khawatir hasil sidangku nggak baik mengingat track recordku yang rada-rada bikin dosen BT, lol. Tapi ternyata semuanya baik-baik aja. Bahkan 3 dari 4 penguji adalah fans "Waktu aku Sama Mika", novel yang aku tulis. Ssst... itu termasuk Pak Dosen "Kasus", lho, hihihi. Hasilnya proses sidangpun lebih santai dan dicampur sama tanya jawab tentang novelku! Lol.
Hasil sidang aku sangat baik. Aku lulus dengan nilai A, predikat sangat memuaskan. IPK ku pun diatas 3. Siapa yang sangka kalau itu semua aku kerjakan dalam waktu 1 tahun? :)



Lulus! :D


Kadang memenuhi pengharapan orang-orang sekitar itu susah. Jadi apa salahnya kalau kita bikin pengarapan untuk diri sendiri dulu? Meski (mungkin) nggak memuaskan orang lain dan dianggap biasa aja, tapi selalu ada perasaan bangga kalau kita bisa penuhi target yang kita buat sendiri. Sekecil apapun itu. Trust me! :)

(Diedit: 29/02/2024)

Sabtu, 29 Mei 2010

I'm Pretty and Can Read Maps Too



Post ku kali ini mungkin nggak terlalu penting (emang biasanya penting? hehe..). Tapi aku mau ngajak semuanya, terutama perempuan buat baca tulisanku.

Belakangan banyak perempuan dengan semangat membara cerita tentang girl power, inner beauty, smart is a new sexy, kepribadian OK, ini itu, ini itu... Aku perhatiin semakin jarang yang bahas tentang pentingnya kecantikan atau keindahan fisik seorang perempuan, bahkan di majalah dengan segmen perempuan sekalipun.

Well, aku sendiri MEMANG perempuan yang menjaga penampilan, menyukai keindahan fisik, tapi juga cerdas sekaligus (yes, nggak bermaksud untuk sombong, tapi aku memang cerdas, at least berusaha begitu dengan terus belajar). Bukan berarti aku sempurna, tapi aku mencintai diri sendiri segitu banyaknya dan menganggap dua hal tersebut sama pentingnya. Buatku keduanya saling mendukung, dan faktanya seseorang dengan kecantikan saja nggak akan menjadikannya cerdas. Begitu juga dengan seseorang dengan otak super. Itu nggak akan bikin dia "cantik", kalau dia lupa kapan terakhir kali pake conditioner sampe-sampe rambutnya sekering gurun pasir.

Oh, ya hampir lupa. Aku mau ingetin kalau apa yang aku maksud dengan kecantikan bukan tentang badan langsing, rambut lurus alami tanpa cela dan gigi rapi tanpa behel, ya! Tapi ini tentang jadi diri sendiri dan memaksimalkan apa yang diberikan Tuhan (baca: MERAWAT).





Me :)



LIVING BARBIE?

Okay, balik lagi ke topik awal. Dulu, ada beberapa laki-laki yang menganggapku sebagai living barbie (kedengerannya porno, ya? Lol). Mereka bilang that I look so cute dan mereka suka untuk lihat aku seharian. Tapi buat jadiin aku pacar? It's a BIG NO! Beberapa dari mereka terang-terangan bilang kalo cewe macem aku pasti cuma bisa ngabisin duit buat biaya ke salon. Ibaratnya punya mobil antik yang harus dirawat terus-terusan, tiap minggu pasti harus dibawa ke bangkel. Itu katanya. Terus terang perkataan mereka bikin aku sedikit sakit hati dan pengen buktiin kalo mereka salah. Tapi setelah dipikir, untuk apa? Lebih baik aku hanya menanggapi laki-laki yang nggak berotak shallow :)



YES, I LOVE MY BRAIN AND I LOVE MY SKIN TOO :)

Apa alasan kalian sekolah, ikut les dan baca banyak buku? Supaya cerdas? Kenapa? Aku yakin beberapa kalian pasti ingin menjadi cerdas sebagai bentuk dari penghargaan diri. Dengan kecerdasan, itu bisa membuat kalian merasa berharga, dihargai dan keberadaan kalian dibutuhkan untuk orang lain. Siapa yang akan diterima diperusahaan A? Siapa yang akan jadi editor di majalah B? Si cerdaslah jawabannya.
Ya, banyak pekerjaan yang nggak membutuhkan kecantikan. Kalau aku jadi seorang camera person, tim kreatif atau CS dibalik telepon yang masuk pagi buta dan pulang malem sampe nggak ada yang liat, buat apa aku tampil cantik? Jawabannya: Buat AKU sendiri! Aku lakuin itu sebagai penghargaan diri. Setelah aku kelelahan bekerja rasanya nggak berlebihan kalau aku kasih my lovely body sedikit perawatan.
If you feed your brain, feed your skin too!



AYO SEIMBANGKAN DAN KITA DAPATKAN KEDUANYA :)

Berapa banyak waktu yang kalian habisin untuk baca buku pelajaran, diem didalem kelas, cari bahan untuk skripsi atau bekerja untuk perusahaan tersayang? 6 jam perhari, 8 jam perhari, atau malah lebih? Menyisihkan waktu 2 jam aja perhari untuk rawat tubuh lelahmu, it won't hurt you, promise :) Aku juga janji kalau kalian lakukan ini, kalian akan menghargai diri kalian lebih banyak lagi. Sekarang aku mau share caranya. Ini cepat, mudah dan murah (simpan penghasilan kalian untuk sesuatu yang lebih penting. I love to look beauty tapi nggak suka habisin duit ratusan ribu cuma buat spa. Lol).

~ Rambut, wajah, bibir dan ketiak (yes, YOUR armpit. Lol) sekaligus.
Hehehe, kedengerannya ribet, ya? Nggak, kok. it's super easy dan nggak lebih dari 15 menit. Pertama, siapkan handuk, krim krimbat instan atau buatan sendiri (untuk rambut), masker instan atau buatan sendiri (untuk wajah), madu asli tanpa zat perasa, gula (untuk bibir) dan irisan lemon (untuk ketiak). Setelah lengkap, lakukan hal dibawah ini secara berurutan (ingat, ya berurutan, untuk mempermudah dan timingnya pas):

1. Dalam keadaan rambut bersih, oleskan krim krimbat sampai rata di kepala. Kalau nggak ada bisa pake ramuan sendiri, misalnya alpukat, strawberry atau lidah buaya yang diblender (nggak usah takut untuk mengoleskan dikepala, yang alami tanpa efek samping, kok. Lol). Pijat sampai rata dan relaxx, lalu bungkus kepala dengan handuk hangat. Cara "bikin" handuk hangat gampang, kok. Lo nggak perlu steamer, cukup celupin handuk kedalam air panas dari dispenser atau water heater kamar mandi, peras, jadi deh :) Proses ini habisin waktu sekitar 15 menit, sambil nunggu lalukan perawatan selanjutnya.
2. Berbaring. Oleskan masker diwajah, atau kalau nggak ada pakai buatan sendiri dari buah-buahan yang sesuai dengan jenis kulit lo. Cukup dihancurkan dengan blender. Ada tips cepat: Oleskan aja madu di wajah. Cocok untuk semua jenis kulit dan murah. Asal inget, pakai madu alami, bukan madu yang dicampur zat perasa atau buah.
3. Kalau madu yang dipilih untuk masker, it's much easier. Sekalian aja olesin ke bibir. Kalau bibir lo kering dan pecah-pecah, tempelin aja telunjuk lo di madu dan gula (gula pasir biasa, kok), terus gosok perlahan di bibir. Gula berfungsi sebagai scrub alami dan madu untuk melembabkan. Nggak perlu khawatir kalau tertelan. Lol.
4. Ambil 1 iris lemon pake tangan kiri dan 1 iris lagi pake tangan kanan, tempelkan di kedua ketiak untuk mengurangi stres dan mencerahkan warnanya (itulah kenapa aku bilang "berbaring", hehe). Selesai!
Tunggu aja sampai waktunya krim krimbatnya dibilas. Yang lainnya (wajah, bibir dan ketiak) bisa dibilas dengan waktu yang sama. Nggak ribet, kan? :)

~ Seluruh tubuh dan private area yang sering terlewatkan.
Ini termasuk pangkal paha, belakang telinga dan sela-sela jari, lho. Kira-kira ngabisin waktu 15-20 menit (nggak lama, kok mengingat tempat yang harus dibersiin banyak. Lol). Yang perlu disiapkan scrub tubuh, scrub kaki, loofah (atau sponge juga nggak apa-apa) dan nail brush. Langkahnya nggak perlu berurutan, asalkan srcub tubuh yang dilakukan pertama:

1. Oleskan scrub keseluruh tubuh dalam keadaan kering, pijat perlahan. Termasuk daerah armpit dan yang tersembunyi lainnya. Mafaatin waktu lo baik-baik, jangan sampai ada yang terlewat dan lakukan dengan teliti. Khusus untuk daerah perut, paha dan bokong perlu perhatian khusus, soalnya rawan stretch mark. Pijat daerah-daerah tersebut dengan gerakan memutar, jangan digosok terlalu keras. Kalau sudah terlanjur punya garis-garis putih (hihihihi), pilih scrub yang mengandung virgin coconut oil. Kalau nggak ada, lo bisa pake minyak kelapa yang dihangatkan atau kopi bubuk. Cara pakenya? Sama aja dengan scrub biasa, kok :) 
2. Sambil menunggu scrub mengering, oleskan kaki dengan foot scrub, kalau nggak ada pakai yang untuk tubuh atau pakai buatan sendiri (madu+gula juga masih bisa dipake kalo ada sisa. Lol). Lalu gosok kuku dan sela-selanya dengan nail brush. Lakukan hal yang sama untuk tangan juga.
3. Bilas seluruh tubuh dengan air hangat. Pastiin nggak ada yang terlewat. Pakai loffah untuk mengikis sisa-sisa scrub. Pakai sponge kalau nggak ada. Selain tubuh jadi bersih, loofah dan sponge bisa melancarkan peredaran darah juga, lho :)

~ Relaxing :)
Semuanya udah selesai, tapi jangan lupa sentuhan akhir. Oleskan lotion diseluruh tubuh. Termasuk daerah tersembunyi seperti pangkal paha, leher dan bokong. Tapi jangan oleskan disela-sela jari kaki dan belakang telinga. Setelah itu terserah. Mau baca majalah atau minum teh untuk santai juga boleh. Tapi yang terpenting, coba itung berapa waktu yang kalian habisin buat seluruh perawatan tadi. Surprise? Hehehe, yes, memang sesebentar itu, kok ;)


Lotion


Foot Scrub




Peel off mask



SO, WHAT DO YOU THINK?

Apa yang kalian rasain sehabis perawatan itu? Lebih cantik? Bersih? Sehat? Penghargaan diri yang lebih? Well, jawabanku adalah semuanya. Setiap kali aku habis scrubbing atau krimbat, aku pasti ngerasa cantik dan ngerasa berhasil memperhatikan tubuhku (setelah sebelumnya sibuk kuliah atau bekerja). Aku juga ngerasa lebih percaya diri dan punya "sesuatu" selain otakku. Aku bisa dengan percaya dirinya pake blazer pink dan rambut terurai disaat harus presentasi didepan kelas tanpa harus khawatir dosen akan membahas penampilanku. Itu karena aku tau aku BISA presentasi dengan baik dan dosen nggak punya alasan untuk mencelaku.

Apapun jawaban kalian untuk pertanyaanku, aku cuma mau sampaiin kalau kecerdasan dan kecantikan sama-sama penting. Dan keduanya bentuk dari penghargaan diri. Masih ragu? Coba nonton Freedom Writer, Legally Blonde atau Devil Wears Prada. They're smart and pretty. So nobody's want to mess with them! :)


n.b: Doain seminar skripsi aku berhasil, ya. Thanks, pals :)