Indi's Friends

Sabtu, 28 Januari 2017

Ikut Menulis bersama Indi di "Guruku Berbulu dan Berekor 2', yuk! :)

Howdy-do bloggies?! Yay, weekend sudah tiba :D Untuk yang sekolah atau bekerja sekarang waktunya untuk santai sejenak sebelum menghadapi hari senin. Eh, untuk gue juga sih meskipun gue sudah lulus dan nggak bekerja kantoran, hihihi. Bulan ini cukup menyibukkan untuk gue, selain harus menyelasaikan PR yang tertunda di tahun lalu, gue juga sedang mengerjakan beberapa project. Sepertinya gue akan lebih menseriusi (word? lol) hobi menggenjreng ukulele, di bulan ini ada beberapa musisi (YouTuber) yang mengajak gue berkolaborasi. Dan tentu ada project menulis juga yang sedang gue kerjakan, salah satunya adalah "Guruku Berbulu dan Berekor" bagian kedua. Dan gue ingin mengajak kalian untuk terlibat di dalamnya! :)

Mungkin diantara kalian sudah ada yang pernah mendengar tentang "Guruku Berbulu dan Berekor", ---atau mungkin malah sudah pernah membacanya. Novel ketiga gue itu terbit di bulan Juli tahun 2012 lalu. Berbeda dengan dua novel terdahulu yang bercerita tentang hubungan gue dan cinta pertama gue, ---Mika, "Guruku Berbulu dan Berekor" bercerita tentang hubungan gue dengan mahkluk-mahkluk ciptaan Tuhan yang nggak kalah menggemaskannya (eh...) dengan Mika, yaitu para hewan, hihihi. Sebelum ada Eris, anjing golden retriever yang setia menemani sejak 7 tahun yang lalu ada Veggie anjing cantik yang super cerdas. Juga ada Black, anjing gagah yang setia, Mr. Jingles, tikus yang cerdas, Marco, burung nuri yang cerewet dan masih banyaaaaak lagi. Mereka semua mempunyai tempat istimewa di hati gue, dan mereka bukan "sekedar" hewan peliharaan tapi juga guru! 



Nggak bosan-bosannya gue bercerita tentang Veggie yang mengajari gue (dan keluarga) banyak hal. Di tahun-tahun terakhir hidupnya Veggie mengidap epilepsi (gangguan syaraf otak) tapi itu nggak menghentikannya untuk menikmati hidup. Saat kondisinya sedang baik ia senang berlari-lari sambil mengejar bayangannya sendiri. Semangat belajarnya pun sangat luar biasa, Veggie mengerti berbagai macam tricks dan dengan bangga menunjukkannya pada seluruh penghuni rumah :) Kehadiran Veggie yang hanya 6 tahun sudah cukup untuk mengubah hidup gue menjadi lebih positif. Jika Veggie dengan segala keterbatasannya tetap live the fullest, mengapa gue nggak bisa? Dan gue percaya ini juga dialami oleh teman-teman yang memiliki hewan peliharaan. Well, memiliki pets mungkin memang bukan untuk semua orang, tapi kisah-kisahnya tentu bisa menghangatkan hati siapa saja yang membacanya. Karena itulah novel "Guruku Berbulu dan Berekor" hadir :)

Bukan hanya gue yang berbagi cerita di "Guruku Berbulu dan Berekor" tapi gue juga mengajak para pemilik hewan peliharaan untuk berbagi ceritanya di sana. Amazingly, gue berhasil mengumpulkan 30-an kisah inspiratif yang dikirim dari berbagai penjuru Indonesia! (---Ups, plus satu cerita yang dikirim dari Belanda). Dan para kontributor bukan hanya berasal dari berbagai tempat, tapi juga dari berbagai macam profesi dan usia ---dari mulai anak-anak sampai nenek berusia 70 tahunan. Gue membuat ini sebagai ucapan terima kasih kepada hewan-hewan yang hadir di hidup gue, jadi hasilnya pun gue kembalikan pada mereka. Royalti novel digunakan untuk membantu penampungan-penampungan dan hewan-hewan yang membutuhkan (lihat tag: Guruku Berbulu dan Berekor). Terakhir, royalti telah disalurkan pada Peduli Kucing, sebuah organisasi yang memperjuangkan hak-hak kucing semua ras.


"Guruku Berbulu dan Berekor" bagian pertama tentu hanya mampu merekam secuil pengalaman luar biasa dari para penyayang hewan. Itulah mengapa gue mengajak kalian untuk membagikan kisah-kisah inspiratif di "Guruku Berbulu dan Berekor" bagian kedua. Sama seperti yang sebelumnya, kalian hanya perlu mengirimkan cerita pengalaman bersama hewan peliharaan atau hewan yang pernah kalian temui. Nggak harus mengharukan, hihihi. Yang penting pengalaman yang dibagi memiliki pelajaran berharga. Kalau masih ragu-ragu untuk menulis, no worry, semua cerita yang terpilih akan gue sunting. Eh, bukan berarti tulisan gue bagus, ya... Kita sama-sama belajar :)

Yuk, Ikut Menyumbang Cerita di "Guruku Berbulu dan Berekor" bagian 2! :)


1. Ceritakan pengalaman menarik dan inspiratif kalian bersama hewan peliharaan atau hewan yang pernah ditemui. 
2. Ketik rapi dengan jenis huruf Calibri, spasi 1,2 dan ukuran kertas A4.
3. Kirimkan ke email namaku_indikecil@yahoo.com, sertakan nama, profesi dan domisili kalian.
4. Cerita ditunggu paling lambat Rabu, 28 Februari 2017.
5. Jika punya pertanyaan silakan mention ke twitter @missbabbitt atau instagram @indisugarmika.

Gue harap novel "Guruku Berbulu dan Berekor" bagian kedua ini nantinya tetap mendapat tempat istimewa di hati para membaca, ---atau bahkan lebih baik lagi :) Sengaja gue memilih buku sebagai media untuk membantu hewan-hewan yang membutuhkan. Karena selain karena menulis adalah passion gue, lewat royaltinya mereka yang nggak bisa berdekatan dengan hewan pun bisa tetap turut membantu. Jadi tunggu apa lagi? Segera buka laptop, kirimkan cerita kalian dan menjadi bagian dari langkah kecil gue, ---kita, "Guruku Berbulu dan Berekor 2" :)

murid dan sahabatnya Eris,

Indi
Dapatkan "Guruku Berbulu dan Berekor" pertama di sini. 
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Sabtu, 14 Januari 2017

Scoliosis, HIV/AIDS dan Skripsi

Sore itu gue menunggu Bapak pulang dengan nggak sabar. Gue ada janji dengan seseorang pukul 4 sore sementara waktu sudah menunjukan pukul setengah 4 sore, ---lebih sedikit. Desember selalu menjadi bulan yang sibuk untuk keluarga gue. Ibu dan Bapak sibuk dengan pekerjaannya di bidang fashion, sementara gue sibuk dengan kegiatan yang berhubungan dengan hari AIDS sedunia. Tapi hari itu gue berusaha menyempatkan diri untuk bertemu dengan seorang mahasiswi dari salah satu universitas di Bandung. Gue sudah berjanji jauh-jauh hari, jadi meskipun sebentar gue harus bisa.

Menunggu Bapak untuk mengantarkan gue wawancara.

Waktu akhirnya Bapak datang gue masih belum bisa lega. Sepanjang jalan sangat macet. Mungkin karena tempat kami janjian berada di pusat kota, mungkin karena banyak yang sedang menghabiskan libur akhir tahun, ---atau mungkin juga karena keduanya. Setelah masuk area parkir gue jadi agak menyesal karena memilih mall sebagai tempat pertemuan. Gue dan Bapak harus memutar beberapa kali sebelum menemukan tempat yang kosong. Uh, 15 minutes worth, lho... Padahal maksud gue memilih mall agar tempatnya mudah dijangkau dan jaraknya fair bagi kedua belah pihak, tapi malah begini :'D Kalau dipikir lucu juga ya, seharusnya sebagai warga Bandung gue sadar kalau musim liburan Bandung pasti jadi milik bersama :p

Seperti yang gue duga, Dyah, ---nama mahasiswi itu, sudah menunggu gue di area food court. Ah, rasanya nggak enak sekali karena sudah membuatnya menunggu selama 15 menit:( Dyah ingin mewawancarai gue sebagai narasumber untuk skripsinya yang bertema scoliosis. Rupanya ia juga seorang scolioser, ---yang kurvanya lebih kecil dari gue, dan dulu sempat terapi di tempat yang sama dengan gue. Tanpa berlama-lama ia langsung mengeluarkan handphonenya untuk merekam dan mengajukan beberapa pertanyaan. Gue sudah sering menjadi narasumber, ---bahkan sebelum skripsi gue sendiri selesai, hehehe, ---tapi kali ini agak berbeda karena pertanyaan-pertanyaan Dyah yang unik.

Sama seperti yang sudah-sudah, selalu ada pertanyaan 'standar' seperti, kapan gue tahu mengidap scoliosis dan tentang terapi-terapi apa saja yang sudah pernah gue lakukan. Tapi lalu Dyah bertanya tentang terapi favorite dan least favorite gue. Hahaha, biasanya pertanyaan seperti itu diajukan kalau bicara soal film, musik atau bahkan makanan kan :D Dyah juga bertanya tentang apa yang gue pikirkan jika ada game dengan tema scoliosis. Well, honestly meski gue berusaha 'memasyarakatkan' scoliosis dengan cara menyematkannya di daily basis, tapi soal game sama sekali belum pernah terpikir :O Genius! Rupanya Dyah memang ada rencana untuk membuat game scoliosis. Gue belum tahu seperti apa detailnya, tapi mendengarnya saja sudah membuat gue super happy :D

Setelah wawancara selesai gue langsung pamit untuk pulang. Agak terburu-buru, tapi gue pastikan Dyah mendapatkan semua jawaban yang ia butuhkan. Gue berpesan padanya jika masih ada yang kurang bisa mengirimi gue email dan akan gue jawab kemudian. Fiuh, lega rasanya karena akhirnya ada janji wawancara skripsi di Bulan Desember yang terpenuhi. Sebenarnya di bulan yang sama cukup banyak yang meminta gue menjadi narasumber, tapi sayangnya terpaksa harus gue tolak karena waktunya kurang pas. Gue selalu berusaha untuk menyempatkan memenuhi meskipun sebatas via email atau telepon. Kalau ada yang terlewat rasanya 'ganjel' sekali. Mungkin teman-teman heran kenapa gue segitu ngototnya soal skripsi ini. Memang apa untungnya untuk gue?

Bersama Dyah. Meski sedikit terburu-buru tapi semua pertanyaan sudah terjawab :)

Scoliosis, HIV/AIDS; Dua Hal Berbeda tapi Sama yang Jarang Dibicarakan

Gue didiagnosis mengidap scoliosis ketika berusia 13 tahun dan 2 tahun kemudian mengenal Mika yang ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). Selain saling mencintai, kami juga punya persamaan lain yaitu memiliki 'sesuatu' di tubuh kami yang somehow orang jarang sekali mau membicarakannya. Gue masih ingat dulu ketika awal menggunakan brace (penyangga tulang belakang untuk scoliosis), keluarga besar gue enggan sekali membicarakannya. Gue nggak yakin dengan alasan tepatnya. Entah karena denial, berpura-pura brace gue invisible atau malah karena menganggap scoliosis bukan sesuatu hal yang penting. Ibu dan Bapak pun awalnya begitu, mereka hampir nggak pernah membicarakannya kecuali jika memang harus sekali, ---seperti misalnya saat mendaftar ke sekolah baru. 

Karena sudah terbiasa gue pun jadi sempat menganggap apa yang mereka lakukan adalah benar. Gue jadi ikut enggan membicarakannya, bahkan saat ada teman satu kelas yang bertanya tentang kondisi gue. Tapi pelan-pelan gue dan orangtua mulai sering membicarakan tentang scoliosis, terutama karena mereka akhirnya sadar bahwa apa yang gue alami bukan sekedar masalah 'kosmetik'. Ini mempengaruhi gue 24 jam sehari dan sepanjang hidup gue. Kami mulai berinisiatif untuk 'memasyarakatkan' scoliosis pada lingkungan sekitar. Gue di encourage untuk memakai brace di luar baju dan bahkan menjadi narasumber untuk beberapa acara TV dengan didampingi Ibu dan Bapak.

Tapi jika bicara soal keluarga besar lain lagi ceritanya. Ada salah satu om gue yang nggak setuju jika gue bercerita tentang scoliosis di media, terutama TV. Beliau bahkan sampai mengutarakan keberatannya kepada Bapak. Alasannya sungguh membuat gue tersinggung. Beliau berkata bahwa gue nggak perlu melakukan itu, dan dengan jujur soal kondisi gue bisa membuat laki-laki 'berpikir dua kali' untuk dekat dengan gue (---padahal nggak ngaruh ya, yang naksir gue banyak, lol). Gue nggak akan cerita tentang detailnya, yang pasti ini sempat membuat orangtua gue meradang. Apalagi pernyataan om gue itu nggak mendasar; beliau hanya tahu scoliosis sebagai 'masalah' fisik. Syukurlah pada akhirnya om gue meminta maaf. Goal gue adalah agar suatu hari nggak ada lagi yang berpikir seperti beliau. Karena saat gue berbicara tentang scoliosis sebenarnya ada misi penting di dalamnya (---akan gue jelaskan di bawah).

HIV/AIDS mungkin sekilas terkesan jauh berbeda dengan scoliosis. Tapi semenjak mengenal Mika gue jadi sadar bahwa 'kondisi' kami nggak jauh berbeda. Sama seperti scoliosis, orang juga enggan membicarakan tentang HIV/AIDS. ---Bahkan lebih buruk lagi, pengidapnya mendapatkan stigma dan diskriminasi. Gue masih ingat ketika SMA teman-teman dan guru nggak begitu mengganggap Mika. Jika pun ia dibicarakan pasti hanya dari sisi negatifnya saja. Mika bisa melakukan seribu kebaikan dan orang masih juga nggak bisa melihatnya. Orang nggak akan peduli betapa Mika membuat gue happy, membuat gue lebih percaya diri dan hal-hal baik lainnya. Yang mereka lihat hanya satu: virus yang ia idap. Padahal Mika lebih dari itu. Mika adalah laki-laki tercerdas dengan sense of humor terbaik yang pernah gue kenal!

Speak UP! Raise the awareness!

Semakin dewasa gue semakin sadar bahwa berpura-pura dan menolak membicarakan scoliosis dan HIV/AIDS hanya membuat keadaan semakin buruk. Let's talk about scoliosis first. Berapa banyak orang yang tahu apa itu scoliosis? Berapa banyak orang yang tahu bahwa scoliosis bisa jadi sesuatu yang serius terutama jika kurva pengidapnya sudah besar? Sayangnya masih sedikit. Bahkan memiliki anggota keluarga yang mengidap scoliosis pun bukan jaminan memiliki pengetahuan yang cukup. Gue mengerti bahwa sebagian orang enggan membicarakannya karena dari luar scoliosis hanya terlihat seperti tulang yang bengkok. Padahal scoliosis bisa mempengaruhi kualitas hidup pengidapnya karena, ---of course organ tubuh lainnya pun ikut terpengaruh.

Gue bersyukur karena sekarang semakin banyak media yang bisa digunakan untuk 'bicara'. Dari berbagai macam sosial media, blog sampai situs-situs unggah video gratis. Gue bisa memberikan informasi yang benar (---well, gue berusaha) tentang scoliosis dan berbagi tentang kehidupan gue sebagai seorang scolioser. Semakin banyak orang yang tahu tentang scoliosis maka semakin berkurang pula ke ignorant-an orang tentang isu ini. Scoliosis memang bukan hal yang menyenangkan, tapi deteksi dini bisa mempermudah koreksi dan penanganan pengidapnya. Sering kali gue menerima email dari para orangtua yang baru sadar anaknya mengidap scoliosis setelah menonton film Mika! Siapa sangka, hal sesederhana melihat cara gue berjalan dan melihat lengkung punggung gue di film bisa 'menyelamatkan' anak-anak remaja mereka. Banyak diantara mereka yang ketahuan saat kurvanya masih kecil sehingga belum membutuhkan operasi :)

Dengan berani berbicara juga membuat scolioser lain yang tadinya bersembunyi mulai bermunculan. Banyak diantara mereka yang ragu untuk bicara karena takut dibilang manja atau dikira ingin diistimewakan. Dan itu juga yang terjadi pada gue dulu. Betapa takutnya untuk berbicara tentang kondisi gue pada guru olahraga karena khawatir dinilai lemah dan menjadi bahan ejekan teman-teman. Dan hal terpenting yang "didapat" dari speak up adalah bisa membuat scolioser sadar bahwa mereka nggak sendirian. Saat sedang berjuang di ruang fisioterapi, saat sedang memakai brace 23 jam setiap hari, saat sedang menunggu di pinggir lapangan sementara teman-teman sekalas mengikuti pelajaran olahraga, ---mereka, kita akan ingat bahwa di suatu tempat ada scolioser lain yang juga sedang merasakan hal yang sama :)

Dan tentang Mika, gue merasa ia bisa mendapatkan lebih banyak kesempatan dalam berbagai hal jika saja orang melihat ia di luar status ODHA nya. Menolak untuk membicarakan, berpura-pura nggak ada yang terjadi dan meng-ignore keberadaannya hanya membuat keadaan semakin buruk. Dan yang gue maksud sebagai 'semakin buruk' bukan hanya tentang Mika, tapi juga tentang mereka. Gue berani bilang dengan menolak Mika mereka miss out banyak hal seru dan menarik tentang Mika. Mereka nggak akan pernah tahu betapa cerdas dan betapa hangatnya kepribadian Mika hanya karena mereka 'takut' dengan HIV/AIDS. Gue nggak menyalahkan mereka, karena apa yang sudah melekat selama berpuluh-puluh tahun pasti susah sekali dihilangkan. Saat mendengar HIV/AIDS yang melintas di benak kebanyakan orang pasti kesan seram. Padahal benarkah demikian?

Karena menolak membicarakannya orang terkadang lupa bahwa HIV/AIDS 'sama saja' seperti flu dan virus lainnya. Siapa saja bisa terjangkit dan belum tentu karena apa yang dilakukannya. Tahukah kalian bahwa banyak ibu rumah tangga dan anak-anak yang juga berstatus sebagai ODHA? Dan jika pun ada orang yang terjangkit virus HIV karena lifestyle atau sesuatu yang mereka lakukan... we are human after all. Kita nggak punya hak untuk men-judge atau berkata hal buruk tentang mereka. Mari kita mencoba menilai seseorang 'melewati' apa yang ia idap. Perlakukan setiap orang sebagaimana kita ingin diperlakukan. Terdengar klise dan sangat PPKN, ---but it works, haha, trust me. Kenapa kita mengucilkan seseorang sebelum mengenalnya lebih jauh? Padahal kita nggak tahu apa pengaruhnya orang itu terhadap diri kita, ---bahkan orang banyak jika saja diberikan kesempatan.

Gue pakai Mika sebagai contoh kecilnya saja, bahwa banyak orang di sekitarnya yang miss out dengan kepribadian luar biasa Mika (---saat mengetik ini pun gue tiba-tiba teringat dengan aksi ala 'rockstar' nya yang membanting gitar imajiner, hahaha). Kita mungkin pernah membaca berita tentang seorang anak yang dikucilkan atau diusir dari desanya karena ia mengidap HIV. Atau malah pernah menonton video tentang anak yatim piatu yang sulit diadopsi karena ia mengidap HIV. Coba bicarakan tentang HIV/AIDS, speak up, ---edukasi diri sendiri dengan fakta-faktanya maka 2 headline tersebut akan terasa janggal karena tiba-tiba kita nggak lagi melihat ada kata "HIV" di judulnya. Siapa yang tahu di masa depan apa yang terjadi dengan anak-anak itu? Mereka bisa saja calon penemu hebat, calon pemimpin hebat, ---siapa tahu. Dan kita missing out hanya karena menolak kehadiran mereka.

Scoliosis dan HIV/AIDS Sekarang

Things get better, gue percaya itu. Perjalanan memang masing panjang. Bahkan keluarga besar gue belum 100% menerima baik tentang scoliosis (baca: kalau scoliosis itu nggak lebih dari masalah kosmetik a.k.a nggak penting) juga tentang HIV/AIDS. Tapi gue percaya nggak ada hal yang sia-sia, dan yang instan pun belum tentu baik. Gue menikmati perjalanan gue dalam memasyarakatkan scoliosis dan menghapuskan stigma pada ODHA. Gue nggak akan pernah berhenti speak up dengan cara memanfaatkan setiap kesempatan sekecil apapun itu. Kalau ini film Toy Story, situasi sekarang mirip seperti saat Woody dan teman-teman melihat claws saat hampir dibakar di pembuangan sampah. "I see the light", hehehe (---eh, kok malah film Tangled, lol). Sepupu gue yang berusia 10 tahun bisa secara santai berbicara tentang bagaimana HIV bisa menjangkiti tubuh seseorang tanpa di "sssh" oleh orangtuanya karena dianggap tabu. Dan gue pun bisa tersenyum lebar ketika ipar gue bercerita bertemu dengan seseorang yang menggunakan brace di luar baju dengan penuh percaya diri. 

Sekali lagi, I believe things (will) get better. Berpura-pura nggak melihat apa yang terjadi di sekitar kita nggak membuat situasi menjadi lebih baik. Speak up, ---beritahu dunia bahwa kita ada. Bukan karena ingin diistimewakan tapi karena semua orang punya hak yang sama untuk mendapatkan kesempatan :)

Lagu yang gue ciptakan untuk teman-teman istimewa :) #scoliosisawareness

the girl with cheeky spine,

Indi

_____________________________________________________
*Ingin mensupport gue dengan memiliki karya-karya gue? Klik www.homerianshop.com dan ketik judul novel gue (Waktu Aku sama Mika/Karena Cinta Itu Sempurna/Guruku Berbulu dan Berekor) di kolom "cari".
*Ingin berkontribusi untuk novel Guruku Berbulu dan Berekor Part 2? Kirim cerita menarik dan menginspirasi kalian dengan hewan peliharaan ke namaku_indikecil@yahoo.com. Royalti untuk didonasikan ke penampungan hewan.


______________________________________________________


Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com

Rabu, 04 Januari 2017

Dream Come True 2016: Berduet dengan Para Idola! :)

Wah, sekarang rupanya sudah tahun 2017! Hihihi. New year's eve gue tertidur sebelum tengah karena kelelahan, jadi rasanya seperti mimpi kalau sudah berganti tahun :D Bagaimana nih dengan malam tahun baru teman-teman? Semoga menyenangkan, ya. Dan kalau ada yang main petasan semoga nggak menganggu lingkungan sekitar. ---Ups, curhat nih, soalnya Eris anjing gue yang super imut semalam benar-benar nggak bisa tidur karena kaget dengan suara petasan dan kembang api, hiks :( Lingkungan rumah orangtua gue memang ajaib, kalau siang sepertinya penghuninya orang dewasa semua. Tapi di malam tahun baru, entah darimana asalnya bocah-bocah itu datang, ---dan orang dewasanya malah hilang, hehehe.

Ah, tapi sudahlah. Gue maklumi saja jika ributnya satu tahun sekali. Asalkan jangan sering-sering karena bisa-bisa yang stress bukan cuma Eris, tapi seisi rumah :D Mungkin saja mereka begitu riuh merayakan pergantian tahun karena sangat happy bisa menjalankan semua resolusi tahun 2016, hehehe. Gue juga pasti supeeeeer happy kalau goals gue tercapai. Ya... meski nggak sampai main-main petasan, sih. Cukup menangis haru sambil berdiri di atas kasur sementara di playlist terdengar lagu "Climb Every Mountain", lol. Teman-teman sendiri bagaimana? Ada yang menulis resolusi kah? Dan bagaimana hasilnya? Well, gue sendiri nggak literally menulisnya lalu menempelnya di tembok. Tapi gue memang punya beberapa hal yang ingin dicapai di tahun 2016. Salah satunya menerbitkan buku kelima yang sayangnya harus tertunda karena masalah 'pribadi' :( Syukurlah meski begitu ada resolusi lain yang tercapai dan gue sangat bangga karenanya! :)

Tahun 2016 adalah tepat satu tahunnya gue mengenal ukulele. Dan sejak pertama kali memainkannya gue langsung jatuh cinta, hihihi. Awalnya gue memainkannya hanya untuk diri sendiri dan sesekali menguploadnya ke YouTube. Tapi komentar-komentar viewers ternyata membuat gue lebih semangat belajar dan, ---ehm berani untuk bernyanyi :p Dalam proses belajar, gue terinspirasi dengan beberapa musisi YouTube senior. Nggak selalu yang sama-sama memainkan ukulele, tapi gue salut dengan kreatifitas dan konsistensi mereka dalam berkarya. Apalagi sampai bisa menghasilkan karya viral. Wah, gue sih ditonton sama 100 viewers yang isinya kalau nggak teman ya saudara saja sudah girang banget, hehehe :p Saat melihat video-video mereka kadang gue berandai-andai bagaimana rasanya kalau bisa berkolaborasi dengan mereka. Gue tahu kesempatan itu nggak akan datang secara ajaib, jadi gue berusaha meningkatkan kemampaun diri dulu agar layak untuk bekerja bersama mereka. Siapa sangka di tahun 2016 impian gue terwujud! :D Gue bisa berkolaborasi dengan beberapa dari mereka, ---dan bahkan salah satu dari mereka ingin membawakan lagu original karya gue! Waaaah, saat mengetik ini pun gue masih nggak menyangka :')

1. Berkolaborasi (ramai-ramai) dengan Pockets, si "Legenda" Kazookeylele (Skotlandia)



Gue suka sekali dengan Red Hot Chili Peppers, terutama era John Frusciante dan karya-karya solonya John sendiri. ---Well, kalau sering mampir ke channel "Indi Sugar Taufik" mungkin nggak perlu disebutkan lagi karena sebagian besar yang gue bawakan ya cover lagu mereka, hehehe. Suatu hari di awal tahun 2016, di list rekomendasi YouTube gue melihat judul video yang sangat menarik perhatian; Red Hot Chili Peppers -Can't Stop - Ukulele -Pockets. Tanpa berlama-lama langsung saja gue klik, dan... whoah, gue amaze dengan permainan Pockets, yang nggak hanya memainkan ukulele tapi juga alat musik lain. Saking amazenya, gue sampai langsung menonton videonya dua kali berturut-turut dan setelahnya baru ingat untuk berkomentar, hehehe :p Gue bilang kalau ia "awesome", lalu beberapa menit kemudian Pockets membalas dan kami berbincang sedikit.  Gue pikir, ---well sepertinya timingnya yang tepat karena kami online di waktu bersamaan (waktu itu hampir pukul 2 pagi). Jadi gue 'cuma' lucky bisa kebetulan berbicara dengannya.  

Tapi ternyata bukan kebetulan, nggak lama setelah itu Pockets menjadi salah satu subscribers di channel 'alakadar' gue. Bahkan di salah satu videonya ia menyebut gue sebagai "orang ter happy yang pernah ia lihat" dan meminta fans nya untuk berkunjung ke channel gue! Aww, gue senang sekali, ---plus malu-malu karena rasanya gue nggak ada apa-apanya dibanding ia :'D Sedikit tentang Pockets, kalian mungkin pernah melihat video viral "Skateboarding Lobster", nah lagu yang kalian dengar di latar asalnya dari video Pockets. Pada tahun 2008 ia membuat video cover "The Final Countdown" dari Europe dengan alat musik uniknya yang bernama kazokeylele. Video itu sekarang sudah ditonton sebanyak LEBIH dari tujuh juta kali dengan total channel views sebanyak LEBIH dari 10 juta kali (gue ngetiknya gemeteran, lol). Tapi bukan video itu saja lho yang keren. Coba deh kalian kunjungi channelnya, kemungkinan besar kalian menemukan lagu favorite di sana karena genre musik yang Pockets bawakan luas sekali. Ia bahkan punya beberapa lagu original.

Singkat cerita, di bulan Mei 2016 Pockets mengajak subscribersnya berkolaborasi dengannya. Gue ingin sekali mengikutinya, tapi sayang kemampuan bermain ukulele gue belum 'selumayan' hari ini. Di lagu yang akan dibawakan, "With a Little Help from My Friends" ada beberapa chords yang belum akrab di jari-jari gue. Gue berlatih, berlatih dan berlatih, ---tapi sampai hampir deadline permainan gue masih juga fals, hahaha (ukulele kalau fals nyakitin telinga, lho). Gue pun berterus terang padanya dan guess what?! Gue diziinkan untuk bernyanyi tanpa harus bermain ukulele :'D Jadilah gue menjadi bagian kecil di "The Biggest Ukulele Collaboration" bersama 12 kolaborator lainnya yang berasal dari berbagai negara. Yang membuat gue semakin terharu, videonya diupload 2 hari saja sebelum gue berulang tahun. Jadi rasanya seperti early birthday present dan ulang tahun gue dirayakan bersama mereka :'D Sampai hari ini, kolaborasi Pockets adalah yang terbesar untuk gue. Sampai kapanpun akan gue kenang meski mungkin suatu hari ada yang lebih besar lagi. ---Apalagi berkat kolaborasi ini setelahnya gue jadi tahu cara memainkan "B", hahaha.



2. Berkolaborasi Membawakan Lagu Ciptaan Gue dengan Shane Combs, Artist yang Kreatif (Amerika)



Cerita kolaborasi gue dengan Shane agak ajaib. Jika Pockets adalah pribadi yang upbeat dan cepat akrab, Shane justru kebalikannya. Gue menemukannya dari video-video cover John Frusciante yang ia buat. Seperti biasa, gue selalu excited tingkat tinggi jika ada yang membawakan lagu dari idola gue. Apalagi Shane ini berbeda, covernya begitu raw tapi penuh penjiwaan. Hmm, gimana ya menjelaskannya, ---well produce tapi nggak over produce. Gue betah sekali berada di channelnya dan cukup sering juga meninggalkan komentar meski nggak pernah dibalas :p Menurut gue nggak masalah sih mengekspsresikan kekaguman pada idola, nggak perlu berharap apa-apa karena apa yang gue sampaikan itu tulus :) Suatu hari gue menemukan komentarnya di salah satu video Princess Chelsea (check her music, she's amazing). Karena kaget ia mendengarkan musik yang sama dengan gue, gue pun me-reply nya dengan bilang bahwa gue surprise melihat ia di sini. Dan ternyata yang membuat gue lebih surprise lagi adalah jawabannya. Ia bilang ia tahu Princess Chelsea dari video cover yang gue buat! Oh, ya ampun, ternyata diam-diam ia menengok channel gue meskipun nggak meninggalkan komentar! Hahaha, lagi-lagi gue malu :p

Di akhir bulan Oktober gue mengupload lagu ciptaan gue yang berjudul "One Day". Lagu ini gue ciptakan di tengah malam waktu tiba-tiba saja ada nada random yang terlintas di kepala gue, hihihi. Lagunya jauh sekali dari "rapi", apa yang gue upload adalah percobaan pertama waktu merekam dan volumenya nggak diubah sama sekali. Tapi rupanya (SURPRISEEEEEE) lagu ini menarik perhatian Shane. Ia meninggalkan beberapa komentar yang isinya antara lain bertanya tentang chords lagu "One Day", bahwa ia play along dengan lagu gue, bertanya tentang kontak gue... dan akhirnya mengajak kolaborasi! Wah, saking senangnya gue sampai laporan sama si Bapak. "Pak, Pak, akhirnya aku di notice dong sama Shane." Huahahaha. Ehm, ---selanjutnya kami pun berkomunikasi via private message. Tadinya Shane ingin kami membawakan lagu "One Day". Tapi menurut gue liriknya begitu girly (---tentang perempuan yang berkhayal akan bertemu pangerannya, lol), jadi gue tawarkan saja lagu lain yang gue ciptakan tahun 2015 lalu. Judulnya "Secret Note to John". Gue rasa ini lebih cocok karena lagunya memang gue tulis sebagai ucapan terima kasih pada John Frusciante yang musiknya telah membantu gue melewati masa-masa sulit ketika ditinggal Alm. Mika. Shane setuju, dan ia ingin lagunya apa adanya tanpa mengubah apa yang gue buat. Ia hanya akan menambahkan gitar, drum, backing vocal dan mixed lagunya agar lebih enak didengar. (Tapi gue putuskan untuk memberikan space agar ia bisa memasukan solo gitarnya yang keren).

Pengerjaannya sangat singkat. Kami hanya begadang 2 malam (perbedaan waktunya besaaaar sekali) dan semuanya selesai. Meski gue much much much smaller YouTuber (account nya memiliki lebih dari 8 juta viewers!) tapi ia sangat mendengarkan pendapat gue, --- dan itu membuat gue semakin kagum dengannya. Shane juga membuat artwork khusus untuk lagu ini yang gue gunakan sebagai latar untuk video clip nya. Kehadiran Shane di "Secret Note to John" membuat lagu sederhana gue menjadi lebih berwarna. Sampai-sampai Bapak, sebagai orang pertama yang mendengar lagu ini ketika pertama kali gue ciptakan, kagum karena terdengar pangling, hehehe. Hubungan gue dan Shane pun berubah menjadi nggak terlalu canggung setelah kami berkolaborasi. Ia bahkan menyemangati gue untuk membuat album sendiri dan kami berencana untuk membuat lagu bersama. Hmmm, bagaimana teman-teman, apa membuat album bisa gue masukan ke dalam list resolusi tahun 2017? Hehehe.


3. Kolaborasi Beda Generasi dengan Ukuleleist Senior, John Pak (Jepang)



Gue sudah lupa bagaimana awalnya menemukan channel John Pak, yang pasti beliau adalah salah satu pemain ukulele pertama yang channelnya gue subscribe. Meski viewersnya sudah lebih dari satu juta (---gue baru dua ratus ribuan, hehe) tapi John cukup rajin membalas komentar-komentar penggemarnya. Selain permainan ukulelenya, gue juga kagum dengan kreatifitasnya dalam membuat video. Lagu apapun yang dibawakan, pasti videonya keren dan cocok. Meski John cukup rajin berkolaborasi, tapi gue merasa nggak pantas untuk satu video dengannya. Bukannya gue merendah, tapi gue tahu diri, hehehe. Terbukti, di akhir 2015 lalu gue terpaksa menolak ketika (akhirnyaaaa) diajak berkolaborasi karena lagunya terlalu sulit :( Gue sedih bukan main, tapi gue dan John tetap berteman baik :) Mungkin karena perbedaan usia kami yang jauh, John jadi sangat care dengan gue. Bahkan pernah suatu kali ia mengirimi gue gantungan handphone Hello Kitty edisi khusus Hawaii karena tahu gue mengoleksi benda-benda bergambar si kucing girly itu. Ibu dan Bapak pun nggak segan untuk menitipkan salam padanya karena gue sering menunjukan video-videonya.

Di penghujung tahun 2016 akhirnya tawaran berkolaborasi datang lagi! OMG, I'm so thrilled!:D Sebagai tribute bagi Charmian Carr, actress yang memerankan Liesl di "The Sound of Music", John ingin kami membawakan lagu "Sixteen Going on Seventeen". Gue tentu langsung saja mengiyakan karena selain kesempatan ini sudah ditunggu-tunggu, Liesl juga tokoh yang paling gue sukai di film! Bahkan sebelum kolaborasi ini pun gue sudah hapal dengan part nya Liesl. Ada cerita konyol, nih, beberapa tahun lalu waktu bekerja di preschool, gue dan Miss. Rifa (lead teacher gue di kelas) sukaaaa banget ngobrolin adegan Liesl waktu dansa terus dicium di tengah hujan. Kami selalu bilang, "Mau dong jadi dia," hahahaha. Nggak kebayang kalau Miss. Rifa tahu sekarang impian gue "menjadi" Liesl benar-benar terwujud :p  Oh iya untuk kolaborasi ini John saja yang bermain ukulele, gue hanya bernyanyi. Sebenarnya gue ingin sekali bermain ukulele dengannya. Tapi kata Bapak lebih baik gue ikuti saja karena yang mengajak pun John, dan beliau yakin kesempatan akan datang lagi :)

Waktu part suara gue direkam sebenarnya kondisi gue lagi sedikit uhuk-uhuk. Mungkin karena kebanyakan makan yang manis-manis, ---maklum hari curang akhir tahun, hehehe. Gue berusaha sebaik mungkin, tapi tetap hasilnya nggak "selumayan" biasanya. Syukurlah John bilang suara gue bagus, dan itu membuat rasa "bersalah" gue berkurang :') Tepat sebelum tahun baru kolaborasi kami selesai diedit. John sebelumnya sudah memberitahu konsep video clipnya, tapi tetap saja ketika melihatnya langsung gue amaze! Gue seolah-olah sedang berada di dalam frame foto dan bergerak untuk bernyanyi bersama John. Rapi sekali. Siapa yang menyangka kalau semuanya dilakukan di dua negara berbeda :D Dan ternyata kejutannya belum selesai, John bilang di tahun 2017 ini kami harus berkolaborasi lagi dan kali ini idenya diserahkan pada gue. Ya, ampun... nggak apa-apa deh kalau kalian mau bilang gue lebay. Tapi reaksi gue benar-benar seperti Liesl yang teriak "Wiiiiiii" sambil hujan-hujanan, hahaha :)


Gue benar-benar happy dan bersyukur dengan hal-hal yang terjadi pada gue di tahun 2016 kemarin. Iya, semua, ---termasuk beberapa hal yang agak menyedihkan kalau dibahas di sini. Karena gue percaya setiap hal terjadi karena suatu alasan. Gue sudah berusaha keras untuk novel gue, tapi ternyata gagal untuk selesai tepat waktu. Tapi hey, lihat sisi baiknya. Ketika mentok ide menghampiri, gue punya lebih banyak waktu luang untuk belajar benyanyi dan bermain ukulele. Dan setelahnya justru inspirasi jadi mengalir lebih lancar :D Di tahun 2016 juga gue (lagi-lagi) belajar bahwa sesuatu yang awalnya dikira nggak mungkin bisa saja terjadi. Mungkin selama ini kita menganggap bahwa idola itu unreachable, padahal mereka juga sama seperti kita; manusia, hehehe. Untuk di notice oleh mereka kita nggak perlu begging atau caper, tapi cukup menjadi diri sendiri dan tunjukan kemampuan kita. Gue tahu, gue masih harus banyaaaaaaak belajar, ---but I'm sure I'm getting better :) Jadi bagaimana bloggies, sudah siap menghadapi tahun 2017? Share rencana kalian di kolom komentar, ya. ---Dan... of course, doa terbaik untuk kita semua. Selamat tahun baruuuu! :)

QOTD: Kapan ya ada musisi lokal yang notice gue dan mengajak kolaborasi? :p


ukulele girl yang kadang gak main ukulele, lol,

Indi

______________________________________________________


Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | YouTube: here | Contact person: namaku_indikecil@yahoo.com