Indi's Friends

Sabtu, 28 November 2015

Berkenalan dengan Mbak Tri Wahyuni Zuhri yang Inspiratif :)


Hai bloggies, post gue kali ini agak berbeda dari biasanya, nih. Kali ini gue akan melakukan wawancara dengan seseorang yang sangat inspiratif, Tri Wahyuni Zuhri atau gue biasa memanggilnya Mbak Tri :) Kami berkenalan di ajang Kartini Next Generation Award 2015 karena sama-sama menjadi finalis di sana. Setelah acaranya selesai kami nggak lost contact, tapi tetap rutin mengobrol via whatsapp juga Facebook. Teman-teman mungkin mengenalnya sebagai penulis buku "Kanker Bukan Akhir Dunia". Tapi ternyata banyak hal menarik lain lho tentang Mbak Tri. Mau tahu apa saja? Simak wawancaranya berikut, ya :)

***



~ Sekarang kesibukan Mbak Tri apa saja? Bisa diceritakan pada Indi's Friends?

Kesibukan saya sekarang masih berkutat dalam dunia penulisan saja. Trus juga masih aktif mengedukasi mengenai kanker. Berhubung saya masih terus pengobatan kanker dan agak sulit untuk mobile kemana-mana, jadi saya memanfaatkan media online untuk edukasi kanker. Selain itu ya saya lebih asyik menikmati waktu berkumpul dengan keluarga :)


~ Sebelumnya aku dan Mbak Tri kan pernah bertemu di Kartini Next Generation Awards 2015 karena sama-sama menjadi finalis. Nah, di sana aku jadi tahu bahwa Mbak adalah sosok yang istimewa :) Boleh diceritakan sebenarnya apa sih hubungan Mbak Tri dan kanker?

Jujur nih, saya tuh tidak menyangka sekaligus bahagia banget bisa jadi salah satu finalis Kartini Next Generation Award 2015.  Apalagi saya bisa bertemu dengan Indi dan para perempuan luar biasa lainnya.

Saya sendiri memang seorang survivor kanker tiroid.  Kanker tiroid yang saya derita sudah masuk stadium lanjut yaitu telah  menyebar ke tulang belakang dan paru paru. Saya akui, memang saya telat mendeteksi kanker dalam tubuh saya. Sehingga begitu tahu vonis kanker, ternyata kankernya sudah menyebar.  Saya bersyukur kondisi saya semakin banyak kemajuan setelah melakukan berbagai pengobatan.

Berawal dari pengalaman saya pribadi tersebut, saya jadi aktif memberikan informasi dan edukasi kanker kepada masyarakat. Saya sangat menganjurkan masyarakat khususnya para perempuan untuk lebih care terhadap kesehatan. Selain itu melakukan deteksi dini kanker agar tidak terlambat seperti yang terjadi dalam diri saya.

Saya berharap, di sisa sisa usia ini,saya bisa banyak melakukan berbagai kebaikan. Salah satunya dengan berbagi informasi dan edukasi mengenai kanker.  Selain itu bisa saling mendukung dan menguatkan kepada sesama survivor kanker.




~ Bagaimana perasaan Mbak ketika mendengar vonis dokter dan apa yang membuat Mbak bangkit seperti sekarang?

Waktu awal mendengar vonis kanker, tentu saja syok, stress, sedih, kecewa, takut. Pokoknya rasa gado gado deh perasaan ini. Saya tidak menyangka bisa menerima vonis kanker, apalagi kanker saya sudah menyebar ke tulang belakang waktu itu. Saat itu saya sempat merasa menjadi perempuan paling sedih sedunia hehehheeh..  Kayanya memang lebay banget ya... tapi itulah perasaan saya saat awal kena kanker.

Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu saya menjadi sadar untuk segera bangkit berjuang melawan kanker.  Saya beruntung di kelilingi oleh banyak orang yang benar benar mencintai dan peduli sama saya.  Keluarga, sahabat dan teman teman memberikan support dukungan luar biasa yang membantu saya untuk bangkit berjuang melawan kanker.


~ Mengenai buku yang Mbak tulis, "Kanker Bukan Akhir Dunia," bagaimana kisah awalnya memutuskan untuk menuangkan kisah Mbak dalam sebuah buku?

Jadi sebenarnya buku Kanker Bukan Akhir Dunia ini saya tulis saat saya awal berjuang melawan kanker. Saya ingat sekali menuliskan buku ini pun butuh perjuangan luar biasa. Waktu itu saya lebih banyak baring di tempat tidur karena rasa nyeri hebat akibat penyebaran kanker di rulang belakang. Saya menuliskan draf buku itu lebih banyak dalam posisi berbaring hehehe.

Inspirasi menulis buku itu sebenarnya lebih pada terapi diri dan niat untuk berbagi informasi pengalaman dan edukasi mengenai kanker kepada masyarakat.  Menulis saya anggap sebagai salah satu terapi diri saya untuk bisa bangkit dan berjuang melawan kanker. Dengan menulis, saya merasakan kekuatan dan semangat luar biasa.

Selain itu, saya ingin  buku Kanker Bukan Akhir Dunia akan bisa bermanfaat bagi masyarakat, walaupun kelak saya sudah tidak ada di dunia ini. Semuanya ini pun bisa terwujud dari para sahabat yang terus mendukung saya untuk menyelesaikan buku ini.



 ~ Selain "Kanker Bukan Akhir Dunia" adakah karya-karya Mbak yang lain?

Ya, selain buku Kanker Bukan Akhir Dunia, saya sudah menghasilkan beberapa karya buku dan masih aktif menulis di berbagai media cetak.  Dua buku terakhir yang baru terbit yaitu buku tentang bisnis, judulnya Pantangan dalam Bisnis terbitan  PT. Gramedia Pustaka Utama serta Buku Cerita Anak yang berjudul Kiki si Kijang Kuning terbitan Andi Publisher.


~ Sebagai orang awam aku hanya tahu kanker dari film dan cerita di buku. Apakah menurut Mbak apa yang digambarkan di sana cukup realistis atau malah melenceng dari fakta? Dan jika ada yang nggak sesuai, stereotype apa sih yang ingin Mbak ubah dari penggambaran kanker di film dan buku fiksi?

Kalau berbicara mengenai gambaran kanker di film atau buku, sebenarnya kurang lebih begitu lah. Hanya saja, ada beberapa film atau buku yang menggambarkan tokoh yang kena kanker itu terlihat sedih ataupun kesakitan terus. Mungkin hal ini yang menjadi salah satu pandangan sebagian masyarakat menjadi takut untuk mengenal lebih dalam  masalah kanker.

Contoh sederhana, mengenai pengobatan kanker. Saya sering sekali bertemu dengan sesama survivor atau keluarganya yang terlambat menjalani pengobatan kanker karena takut. Bayangan mereka pengobatan kanker itu sangat menakutkan karena pernah melihat cerita di televisi atau dengar informasi dari orang lain. Sehingga ada saja yang tidak berani lebih lanjut untuk berobat. Nah, biasanya kalau begini, saya akan coba membantu menjelaskan bagaimana pengobatan kanker itu. Atau saya biasanya menyarankan mereka untuk bertanya lebih detail mengenai pengobatan kanker kepada dokter yang menangani mereka. Biar tidak menebak nebak dan bingung sendiri.




~ Sebagai seorang scolioser aku tahu betul bahwa masih banyak orang yang percaya dengan mitos seputar kelainan tulang belakangku ini. Nah, apakah dalam kanker juga berlaku? Jika iya, mitos apa sih yang biasa beredar dan bagaimana fakta yang sebenarnya?

Wah sama dong.. pada penyakit kanker juga banyak mitos mitos kanker yang beredar di masyarakat. Dalam buku Kanker Bukan Akhir Dunia, saya jelaskan pula mengenai mitos-mitos penyakit kanker.
Mitos-mitos mengenai kanker itu antara lain tidak ada harapan hidup untuk pasien kanker. Dalam mitos ini, seakan akan orang yang tervonis kanker tidak punya harapan hidup. Padahal banyak lho, pasien kanker yang bisa sehat sampai lama sejak tervonis kanker.

Selain itu ada pula mitos yang berpandangan kalau kanker itu penyakit menular dan akibat banyak dosa. Nah, karena mitos begini, akhirnya banyak pasien kanker yang enggan berobat karena malu atau sedih dianggap banyak dosa.  Padahal untuk urusan dosa itu sudah masuk antara hubungan manusia dengan Allah saja. Kita sebagai sesama manusia tidak baik memvonis orang lain mengenai dosa dosanya.

Kalau saya pribadi menganggap kanker ini sebagai hikmah dan intropeksi diri saja.  Allah memberikan saya kesempatan berbenah diri melalui penyakit ini. Jadi saya berusaha lebih mendekatkan diri kepada Allah.


~ Apa yang ingin Mbak sampaikan tentang kanker dan apa pesan-pesan Mbak untuk Indi's friends?

Untuk Indi's friends, saya ingin menyampaikan untuk terus menjaga kesehatan. Seandainya tubuh sudah memberikan sinyal sinyal tidak nyaman, ada baiknya segera di periksakan ke dokter.
Selain itu, bisa juga melakukan deteksi dini dari awal.  Misalnya bila menemukan.gejala gejala yang aneh contohnya benjolan yang tumbuh tiba tiba, pendarahan yang tidak biasanya, dan lain.lain, maka segera  di periksakan saja

Oh ya, bagi teman teman.perempuan, jangan lupa rajin untuk SADARI atau pemeriksaan payudara sendiri. Ini untuk mencegah kanker payudara. Atau juga melakukan papsmear bagi perempuan yang sudah pernah aktif melakukan melakukan hubungan seksual, ini terkait untuk pencegahan kanker servix.


~ Jika ada yang mau berkenalan dengan Mbak Tri, kemana Indi's Friends bisa menghubungi? (blog, twitter, dll) Dan dimana bisa mendapatkan karya-karya Mbak?


Oke, terima kasih banyak ya Mbak atas waktunya. Aku yakin kisah Mbak akan menginspirasi siapapun yang membacanya :) Dan semoga kolaborasi kita menjadi langkah kecil untuk mengenalkan kanker dan scoliosis. Amen. Sampai bertemu lagi di lain kesempatan, Mbak Tri! :)  

***

Begitulah wawancara santai kaya manfaat gue dengan Mbak Tri. Semoga ini juga bisa menginspirasi teman-teman untuk terus semangat, ya. Oya, Mbak Tri juga mewawancarai gue untuk blognya, lho. Kalian bisa membacanya di sini :)

baca di sini


_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Senin, 23 November 2015

Apa yang Mereka Bilang tentang "Guruku Berbulu dan Berekor"? :)


Howdy do bloggies! Kalau teman-teman sering mampir ke "Dunia Kecil Indi" mungkin kalian tahu bahwa gue adalah penyayang hewan, atau animal lovers :) Selain menulis kisah-kisahnya di sini, gue juga menulisnya dalam bentuk novel, lho. Judulnya "Guruku Berbulu dan Berekor". Gue menulisnya nggak sendirian, tapi juga dibantu oleh banyak volunteer yang menyumbangkan kisahnya dengan suka rela. Diantaranya ada Evita Nuh, seorang fashion blogger muda ternama yang juga kolumnis di majalah GoGirl dan juga Monica Petra, seorang novelis yang menginspirasi. Mereka membagi kisah-kisah suka dukanya dengan hewan peliharaan mereka. Ada yang lucu, menggemaskan, mengharukan, ---dan yang pasti menginspirasi :)

Gue menulis novel ini karena punya tujuan. Gue nggak ingin lagi melihat ada hewan-hewan yang hidup menderita di jalanan :( Gue percaya bahwa seharusnya hewan bisa hidup berdampingan dengan kita, bisa hidup dengan layak. Mungkin gue memang nggak bisa terjun langsung, tapi gue menggunakan kemampuan menulis gue untuk membantu mereka. Royalti dari novel ini didonasikan kepada hewan-hewan yang membutuhkan lewat penampungan atau perorangan. Untuk royalti yang sekarang rencananya akan diserahkan pada "Peduli Kucing", sebuah kelompok yang peduli dengan kucing-kucing jalanan. Jika teman-teman ingin melangkah bersama gue untuk membantu teman-teman berbulu dan berekor, kalian bisa memesan novelnya melalui www.homerianshop.com, atau dengan cara mengirimkan pesan ke 081322339469. Harga per novel Rp. 45.000 ditambah ongkos kirim sesuai dengan lokasi pengiriman. Cara pemesanan manapun yang dipilih royaltinya akan tetap didonasikan :) Yuk kita buat langkah kecil ini menjadi besar dan jalan menuju "cruel free" world pun semakin terlihat :)

yang nyawanya pernah diselamatkan oleh seekor anjing,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Senin, 16 November 2015

I Wont End up Like a Fool Who Ripped His Pants :)

"Indi, kapan cerita Mika dibuat lanjutannya?"
Begitu kira-kira isi email yang mampir ke inbox gue. Ini bukan yang pertama kali, bukan juga yang kedua, ---gue sudah cukup sering mendapat pertanyaan serupa.
"Cerita Mika nggak ada lanjutannya, sudah selesai. Mika sudah meninggal jadi aku nggak akan menambah-nambahkan ceritanya."
Dan begitu gue biasanya menjawab.
Gue senang banyak orang yang menyukai kisah sederhana masa remaja gue dan Mika. Dimulai ketika sebuah penerbit membaca puisi singkat gue di media sosial tentang Mika, dilanjutkan dengan produser film yang membaca novel "Waktu Aku sama Mika" dan "Karena Cinta Itu Sempurna" lalu tertarik menjadikannya film layar lebar. Tanpa gue sadari kisah gue, seorang scolioser yang jatuh cinta dengan pemuda yang mengidap AIDS telah menyebar dengan cepat dan mendapatkan tempat istimewa di hati para pembaca dan penikmat film. Gue bersyukur, tentu saja. Sangat-sangat bersyukur. Dulu gue sangat kesulitan untuk menjelaskan tentang apa yang gue dan Mika idap, dan bahasa tulisan juga gambar rupanya bisa menjelaskan dengan lebih baik. Tapi gue menolak jika diminta untuk melanjutkan kisah Mika. Gue nggak mau mengarang kisah hidup seseorang, apalagi gue begitu menghormatinya, ---juga keluarganya. Dan sesuatu yang berulang belum tentu akan baik.



Orang mungkin mengganggap gue sudah terlalu tua untuk menonton kartun, tapi gue masih menonton SpongeBob Squarepants setiap hari, ---sebanyak dua kali; di tv lokal dan di tv kabel. Ada sebuah episode yang menjadi favorit gue, judulnya Ripped Pants. Menurut gue ini adalah sebuah episode dengan pesan moral yang kental, yang membuat gue berpikir, "Well, siapa saja bisa berada di posisi SpongeBob dan nggak menyadarinya... Termasuk gue..."
Ripped Pants sama lucunya dengan episode-episode lain. Penuh adegan-adegan konyol dan dengan durasi yang singkat. Tapi di balik itu ada makna-makna tersirat di dialog dan lirik lagu yang SpongeBob dan The Beach Boys nyanyikan. SpongeBob berusaha terlihat berkesan di depan Sandy, tapi alih-alih berhasil Sandy malah terkesan dengan Larry yang lebih kuat dan keren. Lalu tanpa sengaja celana SpongeBob sobek dan semua orang tertawa, ---tiba-tiba semua orang jadi menyukainya, termasuk Sandy. Merasa di atas angin SpongeBob terus-terusan menggunakan lelucon celana sobeknya di setiap kesempatan sampai akhirnya semua mulai bosan dan berubah jengkel.


Apa teman-teman bisa menangkap dimana persamaan kisah SpongeBob dengan apa yang gue alami? Waktu gue menerbitkan novel ketiga "Guruku Berbulu dan Berekor" yang tentang dunia hewan, dan buku keempat "Conversation for Preschoolers" yang merupakan buku edukasi anak-anak banyak yang terheran-heran. Mengapa gue mengambil resiko menulis tema lain? Mengapa gue nggak menulis kembali tentang Mika? Dan banyak 'mengapa-mengapa' lainnya. Novel pertama dan kedua gue best seller, bahkan pembacanya bukan hanya berasal dari Indonesia. Dan film Mika pun sempat menjadi film dengan jumlah penonton terbanyak, ---juga diputar di IFF Australia. Gue mengerti jika ada yang menyayangkan mengapa gue nggak memanfaatkan kepopuleran Mika. Well... selain disrespectful, melakukan hal yang sama hanya membuat gue berhenti berkembang.

"Now I learned a lesson I wont soon forget. So listen and you wont regret; Be true to your self, don't miss your chance and you wont end up like a fool who ripped his pants."

Gue nggak akan tahu apa yang menunggu di depan sana jika hanya terus berkutat dengan hal yang sama. Gue memilih untuk membebaskan kreatifitas, menulis apa yang disukai sekaligus belajar hal-hal yang baru. Sekarang gue sedang menulis buku baru, dengan tema yang baru. Dengan berhenti menulis tentang Mika bukan berarti gue melupakannya, tapi gue menghormatinya dengan nggak melebih-lebihkan cerita kami. Dan apa gue nggak takut jika akan menerima email-email yang bertanya tentang kelanjutan cerita Mika? Nop! Nggak! Nay! Karena gue nggak mau berakhir seperti SpongeBob yang celananya sobek ;)

Ripped Pants-SpongeBob and the Beach Boys Ukulele cover by Indi

don't ripped your pants,

Indi

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Minggu, 08 November 2015

Kulit Halus dengan Produk Cow Style (Milky Body Wash dan Skin Life Review) :)


Gue agak bingung waktu diberi tahu ada kiriman paket untuk gue, pasalnya sedang nggak menunggu apa-apa, ---atau membeli sesuatu dari online shop. Tapi di nama penerimanya memang betul tertulis nama gue. Ukuran paketnya sedang, kira-kira seukuran dengan novel Harry Potter yang ke tujuh, ---lebih tebal sedikit. Di sana tertulis nama pengirimnya, dari Cow Brand Soap Kyoshinsha Co, Ltd. Wah, sabun kah? Tapi kok berat, ya? Tanpa menunggu lama gue langsung membuka paketnya yang ternyata berisi satu buah Milky Body Wash dan 1 buah Skin Life. Pas sekali sabun mandi gue tinggal sedikit lagi, jadi senang deh rasanya. Eh, tapi kok gue dapat paket ini, ya? Dalam rangka apa? Jangan-jangan ada yang memberi tahu kalau gue sedang perlu sabun mandi, hihihi.


Waktu gue membolak-balik brosur yang ada di dalam paket, somehow gue merasa familiar dengan logo sapinya. Di sana tertulis "Cow Style for your Wellness Since 1909". Kalau memakai produk ini sih yakin belum pernah, tapi gambar sapinya gue pernah lihat dimana, ya?... Nah, waktu gue menyimpan sabun ini di kamar tanpa sengaja pandangan gue menyorot ke meja rias dan menemukan sesuatu. Itu dia! Rupanya logo yang sama pernah gue lihat di sabun Cherrybelle! Hihihi,  ini memang super random. Suatu hari gue dan seorang teman jalan-jalan ke toko musik dan melihat produknya dipajang di rak paling depan. Waktu itu gue pikir, "Oh, my God so cute," dan langsung membawanya ke kasir tanpa benar-benar tahu apa yang gue beli :D Syukurlah sabun ala chibi-chibi itu ternyata cocok untuk kulit gue, malah sebenarnya agak surprise karena awalnya gue pikir ini hanya produk merchandising yang mengandalkan faktor cute. Gue pun jadi penasaran untuk mencoba Milky Body Wash dan Skin Life yang baru gue terima. Apakah sebagus yang seri Cherrybelle? Hmm, let's see...

Yang pertama gue coba adalah sabunnya, alias Milky Body Wash. Begitu gue busakan dengan air teksturnya langsung lembuuuuut sekali. Nggak terlalu berbuih tapi tetap creamy. Kalau dibandingkan dengan si chibi-chibi yang ini aromanya lebih lembut dan tanpa butiran scrub. Cocok sekali dengan kulit gue yang cenderung kering. Setelah dibilas dan beberapa jam setelah mandi rasa lembabnya tetap terasa, bikin efek fresh-nya awet! :D Setelah itu gue mencoba facial wash nya, atau Skin Life. Yang pertama gue notice adalah aromanya yang soft begitu keluar dari tube nya. Dan sama seperti sabunnya, teksturnya super lembut. Bikin terharu, soalnya bikin wajah gue sehalus kulit bayi, hahaha. Hebatnya setelah beberapa jam pun wajah gue nggak berminyak, berbeda dengan facial wash yang biasa gue pakai, ---yang efeknya bikin wajah kering tapi lalu kembali mengkilap beberapa saat kemudian. 



Secara keseluruhan gue menyukai Milky Body Wash dan Skin Life. Waktu menulis ini gue sudah 3 kali memakai produk-produknya dan sama sekali nggak ada reaksi alergi di kulit sensitif gue. Mungkin karena Cow Brand menggunakan bahan baku alami dan berkualitas ya, makanya aman dipakai. Atau istilahnya "Kamadaki", begitu yang tertulis di brosurnya :) Kemungkinan besar sih setelah paket yang gue terima ini habis, gue akan melanjutkan memakai produk-produknya. Selain karena cocok di kulit ada faktor-faktor lain yang membuat gue jatuh cinta. Packagingnya super simple, tapi cute. Tahu dong kalau gue paling nggak tahan lihat sesuatu yang girly, hihihi. Dan aromanya yang nggak artificial, ---nggak wangi berlebih tapi nyaman dicium. Bikin segar waktu memakainya :)

Gue pun jadi ingin tahu lebih banyak tentang Cow Style. Lewat halaman Facebook officialnya, COWSTYLEID gue jadi tahu bahwa mereka mengeluarkan macam-macam produk dan jadi tahu kenapa gue mendapatkan kiriman paket! Hihihi, ternyata gue adalah salah satu dari 300 orang yang mereka pilih.Thank God :) Untuk teman-teman yang mau coba produk Cow Style kalian bisa mendapatkannya di outlet-outlet ini: Guardian, Century, Watsons, Papaya, Grand Lucky, Hypermart, AEON, Yogya Super, Setiabudi Super dan Food Mart. Dan untuk pemesanan online bisa ke www.sukamart.com, www.nihonmartbeauty.com, www.perfectbeautyshop.com, www.totoro.com dan www.bilna.com/kewpie. Sudah ada dimana-mana, jadi semakin mudah deh dapatnya. Atau mungkin kalian sudah pernah mencobanya? Kalau sudah, bagaimana pendapat kalian? :)


yang jadi rajin mandi,

Indi

***

Di hari yang sama akun YouTube gue mencapai 1.500 subscribers. What a big surprise mengingat tujuan awal membuat akun hanya untuk memberi komentar di video-video idola :) Dan ini sebuah video yang gue dedikasikan untuk para subscribers dan semua yang selalu men-support gue; Secret Admirer (Mocca) ukulele cover by Indi Sugar:

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Senin, 02 November 2015

Why I Love Halloween: Corpse Bride, Treats, Kostum dan Apa yang Orangtua gue Bilang.



“Sudah siap?” tanya Bapak.
“Sudah, sih... Tapi kalau di film Emily punya bekas luka di sini,” jawab gue sambil menunjuk ke arah pipi.
“Kalau begitu bikin dulu dong bekas lukanya,” sahut Bapak santai.
Gue bengong, menebak-nebak apa Bapak serius atau sedang menggoda gue. “Bikin pakai apa? Aku kan gak punya face painting.”
“Pensil alis kan bisa...”

Begitulah kira-kira percakapan gue dan Bapak tanggal 31 Oktober lalu, ---di malam Halloween. Berbeda dengan tahun lalu yang dihabiskan di theme park, tahun ini gue ber-Halloween di rumah saja. Untuk gue dimana pun Halloween sama fun-nya, karena of course, ---ini adalah salah satu hari favorit gue :D Sehari sebelumnya gue menyiapkan dekorasi untuk ditempel di tembok; kelalawar dan sarang laba-laba yang dibuat dari kertas. Sederhana, because I’m not a handy person, hihihi, ---yang penting suasana spookynya terasa :) Untuk kostum ini adalah tahun pertama dimana gue nggak dressed up sebagai cute character. Setelah pernah menjadi Dorothy Wizard of Oz dan Tinker Bell yang sangat fairy tale, akhirnya gue berdandan (mudah-mudahan...) seram juga! Gue menjadi Emily dari film Corpse Bride nya Tim Burton. Ini agak di luar dugaan, karena sebelum memutuskan untuk memakai kostum ini keinginan gue sempat berubah-ubah. Mulai dari ingin menjadi Rapuntzel, Glinda, Snow White (again, lol) sampai Annie Little Orphan, ---yang semuanya nggak ada seram-seramnya. Keinginan untuk menjadi Emily ini muncul tiba-tiba ketika gue menonton ulang film Corpse Bride. Emily was strangely adorable, lalu gue pikir, “Oh, I want to be her,” hahaha. 



Ide Bapak untuk menambahkan bekas luka di pipi sebenarnya menyelamatkan penampilan gue, karena kalau tanpa itu sepertinya nggak terlihat menyeramkan, hihihi. Beruntungnya waktu sedang mencari ide kostum gue teringat dengan dress putih yang Nenek beri beberapa tahun lalu. Dressnya sama sekali belum pernah dipakai karena modelnya sangat pas dengan tubuh, ---yang mana gue kurang nyaman untuk memakainya sehari-hari. Somehow di mata gue dress ini terlihat seperti gaun pengantin, jadi cocok dengan yang gue butuhkan untuk menjadi Emily. Dan karena Emily memakai kerudung yang dihiasi dengan bunga-bunga, gue pun memakai flower wreath DIY project dari beberapa tahun lalu. Oh, iya gue juga memakai sepatu yang sedikit ber-heels supaya kesannya formal. Bisa ditebak dong kalau ini pasti bukan sepatu gue (flat shoes ruleeees!), gue pinjam sepatunya dari rak sepatu Ibu, hihihi. Kalau tahun kemarin gue mengeluarkan sedikit uang untuk membeli glitter dan lem kain, tahun ini gue mengeluarkan Rp. 0 untuk kostum! Yay! Hihihi. Meski gue selalu ingin dressed up untuk Halloween, tapi bukan berarti boleh menghamburkan uang. Be wise. Usahakan mendapatkan hasil yang maksimal dengan budget sesedikit mungkin. Karena disitulah letak serunya, untuk menguji seberapa jauh kekreatifitasan gue, hihihi. 



Di malam Halloween ini Bapak lebih banyak terlibat dibandingkan Ibu. Jika tahun lalu beliau yang membantu gue membuat dressnya, tahun ini beliau hanya meminjamkan sepatunya karena sedang di luar kota. Selesai dressed up Bapak langsung bersiap untuk mengambil foto gue. Hihihi, kalau soal ini sepertinya sudah banyak yang tahu, ya, Bapak memang sekali mengambil gambar little girlnya ini :D Untuk gaya, setting, dll gue serahkan semuanya pada beliau. Gue sih cuma menempel sarang laba-laba dan kelalawar yang sudah gue buat sebagai background. Rupanya Bapak masih betah dengan tema cermin. Mungkin beliau puas dengan hasil photoshot “Poltergeist” gue beberapa waktu lalu jadi ingin mengulangnya lagi. Banyak foto yang diambil dari pantulan cermin, padahal gue sudah menghias tembok. Awalnya gue sempat protes, tapi setelah melihat hasilnya ternyata keren juga, hihihi. Meski tanpa darah-darah atau dekor macam-macam kesan spooky nya tetap terasa. Hmm, sepertinya gue akan pakai mirror trick ini untuk beberapa waktu ke depan, deh :p


Karena bertepatan dengan waktu dinner, gue pun membuat Halloween dinner dari bahan-bahan yang sudah ada di rumah. Dari hasil membuka-buka kotak penyimpanan ternyata masih ada spageti dan bakso ikan yang jumlahnya lumayan banyak. Langsung saja gue menusuk-nusukkan spageti ke bakso ikan sampai membentuk kaki. Oh, my God gue sudah lama sekali ingin membuat laba-laba dari spageti! Dan akhirnya tercapai juga :D Dari resep yang gue lihat online biasanya sosis yang digunakan sebagai tubuhnya, tapi berhubung gue pesco-vegetarian jadi nggak makan itu. Menggunakan bakso ikan sebagai pengganti ternyata hasilnya lumayan. Memang warnanya jadi nggak kontras, tapi yang penting.... rasanya enak, hahaha. Untuk alasnya gue membuat sarang laba-laba dari kertas nasi. Lagi-lagi kurang kontras, tapi gue sengaja karena bahannya aman jika bersentuhan langsung dengan makanan. Nah, bukan Halloween namanya kalau tanpa sweet treats. Biasanya gue cukup membeli banyak permen dan cokelat lalu dimakan bersama, tapi tahun ini gue ingin sesuatu yang berbeda. Gue bentuk treats yang sudah gue beli di minimarket menjadi bertema Halloween. Gue ingin membuatnya menjadi sedikit menyeramkan tanpa terlihat menjijikan, hihihi. Well, gue tahu Halloween treats itu rasanya enak meski bentuknya kadang bikin perut melilit. Tapi gue adalah tipe orang yang lidahnya kadang dipengaruhi oleh bentuk makanan :p Jadi gue membuat laba-laba colorful dari Oreo, Pocky dan chocolate chips. Semua bahannya adalah kesukaan gue yang sudah tentu cocok dengan lidah gue. Nah, yang tricky gue mau membuat pudding “Bangkit dari Kubur”. Puddingnya sih mudah, gue menggunakan pudding yang sudah ada cup’nya. Untuk tanahnya gue menggunakan bubuk Oreo dan ditambahkan cokelat berbentuk kepala manusia. Tapi untuk nisannya, gue sampai membuat Bapak keliling-keliling mini market untuk mencari biskuit yang bukan saja berbentuk nisan, tapi juga yang rasanya manis. Kebanyakan biskuit yang bentuknya pas adalah biskuit asin yang rasanya sudah pasti nggak cocok dengan puddingnya. Untung saja akhirnya Bapak menemukan biskuit kentang yang rasanya cocok dipadukan dengan pasta cokelat untuk tulisan “RIP” nya, hihihi. Ibu pulang bertepatan ketika gue selesai membuat treats. Beliau ternyata cukup terkesan lho dengan hasil kreasi gue.  Tapi juga jengkel ketika melihat dapur yang super berantakan, hihihi :p





Halloween night gue benar-benar menyenangkan, rasanya gembira sekali bisa berkreasi dengan dibantu Bapak. Di hari biasa belum tentu gue ingat untuk “bermain-main” dulu dengan makanan dan membuat to do list yang super panjang. Saking panjangnya gue sampai nggak sempat untuk melakukan semuanya, lho. Rencananya gue mau marathon film seram sebelum tidur tapi malah ketiduran dengan lampu menyela sampai pagi. Still a good sleep though, karena mood gue sangat bagus, hihihi :D Waktu bangun tidur perasaan excited gue jadi bertambah karena of course... It’s HALLOWEEN!! Ray yang bekerja di hari sabtu berencana untuk pulang cepat agar bisa menghabiskan waktu Halloween dengan gue dan orangtua gue di rumah. Ray masih belum ada clue tentang apa yang akan kami lakukan, jadi gue kirimi ia list apa saja yang harus dibawa, hihihi. Setelah Ibu memberikan izin untuk menggunakan dapur, gue dan Ray langsung beraksi dengan bahan-bahan yang telah dibawa. Gue melihat treats ini beberapa waktu lalu di internet, namanya Frankenstein pudding yang sebenarnya kurang tepat karena Frankenstein adalah nama dokternya sedangkan monsternya bernama Adam, atau cukup dipanggil The Monster saja (yup, gue tahu itu semua, lol). Nggak ada cara membuat atau bahan-bahannya, tapi dari gambarnya gue sudah bisa mengira-ngira apa saja yang digunakan untuk membuatnya. Gue menggunakan pudding pandan sebagai wajahnya dan my trusted Oreo “dirt” untuk rambutnya. Agar lebih mirip, gue gambar mata, mulut dan bekas jahitan di cup puddingnya dengan marker. Hasilnya ternyata sangat mirip. Bahkan dari warnanya saja sudah cukup dikenali sebagai The Monster (ingat ya, bukan Frankenstein, hihihi). Lucunya gue dan Ray sempat beragrumen tentang kapan waktu yang tepat untuk memasukan puddingnya ke lemari es. Ray bilang harus tunggu dingin, sementara gue percaya asal bagian atasnya sudah mengeras dan nggak terlalu panas itu sudah aman. Karena kami nggak menemukan kata sepakat akhirnya bertanya pada Ibu yang ternyata setuju dengan gue, hahaha. Yes :p




Sebenarnya Ibu sudah memasak dinner untuk kami, tapi gue ingin sekali merasakan stuffed Doritos. Itu lho, keju goreng yang berbalut bubuk Doritos. Meski sudah ada keju dan Doritos-nya sejak beberapa waktu lalu, tapi baru sekarang gue punya keberanian untuk mencobanya. Mumpung ditemani Ray, jadi kalau dapur berantakan yang ditegur bukan cuma gue saja, hihihi, ups :p Meski sedikit deg-degan tapi gue tetap berusaha PD untuk mencobanya. Kami berbagi tugas, gue yang memotong-motong keju dan membalutnya dengan telur dan dorito, sedangkan Ray yang menggorengnya. Gue khawatir keju yang meleleh akan membuat penggorengan lengkat, tapi ternyata ajaibnya bubuk Doritos bisa menahan keju tetap di dalam! Woooow, hasilnya bahkan lebih bagus dari video yang gue lihat di YouTube, hahaha. Dan rasanya pun ternyata super enak. Ibu bahkan sudah nggak sabar mencobanya sebelum gue mengambil fotonya. Gue pikir rasanya akan salty karena keju dan Doritos sama-sama asin. Tapi ternyata nggak, rasanya seperti keju goreng yang dijual di restoran pizza hanya saja lebih renyah. Sisa telur untuk menggoreng Ray jadikan Omelet untuk kami berdua. Ditambah masakan Ibu makan malam kami pun jadi super mengeyangkan. Selesai makan kami baru ingat kalau puddingnya belum dikeluarkan dari lemari es. Karena bentuknya agak mengerikan, jadi gue minta Bapak dan Ray yang terlebih dulu mencobanya. Cacing-cacing yang keluar dari tanah kelihatan sangat nyata. Untung saja mereka bilang rasanya enak, hihihi. Dan gue setuju, begitu juga Ibu. Ah, senangnya Halloween dinner ini berjalan sukses :D



Gue senang Bapak memuji kostum Halloween gue, katanya beliau belum pernah melihat dress itu sebelumnya (well, of course, hihihi). Dan gue juga senang karena Ibu menyukai stuffed Doritos yang gue dan Ray buat. Lain kali beliau akan membuatnya juga katanya :D Setelah Ray pulang gue membereskan dekorasi sederhana yang menempel di tembok. Hari yang melelahkan tapi gue sama sekali nggak menyesal karena hati gue berbunga-bunga (lol, nggak ada seram-seramnya). Halloween selalu jadi saat yang istimewa karena bisa memaksa gue untuk kreatif dan melakukan sesuatu yang kadang bahkan belum pernah terpikir sebelumnya. Begitu juga bagi Ibu, Bapak dan Ray, mereka pun merasakan hal yang sama. Karena Halloween gue dan Ibu pernah berkeliling toko kain untuk mencari kain yang harganya paling terjangkau untuk kostum gue. Bapak juga pernah membuat sayap Tinker Bell dari gantungan baju bekas yang caranya beliau lihat dari YouTube. Kalau hari-hari biasa mana pernah beliau menonton YouTube dan mau menghabiskan waktu berjam-jam untuk membengkokkan kawat gantungan baju, hihihi. Ray juga jadi pintar mix and match berkat Halloween. Tahun lalu ia datang ke rumah dengan kostum Peter Pan kreasinya sendiri! Padahal katanya sebelum mengenal gue ia belum pernah lho excited dengan Halloween, hihihi. 

Setiap gue upload foto-foto Halloween gue di media sosial, teman-teman dan pembaca pasti mengomentari. Ada yang memberi pujian, tapi ada juga yang heran kenapa gue melakukannya. Rupanya banyak yang nggak percaya bahwa Ibu dan Bapak totally okay dengan apa yang gue lakukan, ---bahkan begitu mendukung. Gue sendiri sebenarnya justru bingung jika ada orangtua yang melarang anaknya melakukan hal yang sama seperti gue. Ini hanya untuk bersenang-senang dan aktivitas yang dilakukan di hari Halloween bisa semakin mempererat hubungan gue dengan orangtua, ---dengan bonus menjadi semakin kreatif. Bapak bilang gue boleh melakukan apapun yang diinginkan selama itu nggak merugikan orang lain dan menyakiti diri sendiri. Dan Bapak melihat Halloween sebagai sesuatu yang positif, meskipun waktu beliau kecil belum mengenal hari ‘menakut-nakuti’ ini. Gue bersyukur mempunyai orangtua yang sangat open minded, nggak melarang sesuatu sebelum mencari tahu dan selalu ikut bersenang-senang dengan gue. Menutup diri nggak akan menghasilkan apa-apa, malah mungkin akan menjauhkan gue dengan orangtua. Hal yang baru bukan berarti buruk, dan hal yang lama bukan berarti lebih baik. Ibu dan Bapak setuju jika “budaya” ini seharusnya lebih acceptable daripada “budaya” bullying, lempar telur saat ulang tahun, corat-coret seragam ketika kelulusan sekolah dan berbagai macam hal “buang-buang” lainnya. Ini  hanya Halloween, dan ini di Indonesia bukan di Irlandia. Menjadi kreatif nggak akan menyakiti siapapun, dan mempunyai moment untuk melakukannya dengan orang-orang tersayang nggak ternilai harganya. So, why not? Gue lega Ibu dan Bapak melarang gue untuk mencorat-coret seragam saat kelulusan dan bukannya melarang gue untuk ber-Halloween. Thank you for your super awesome parenting style, Ibu dan Bapak. I love you :)


yang dibuatkan kostum halloween oleh ibu dan bapak setiap tahun,

Indi 

_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Vegan tapi Junk Food? Kok Bisa? :O