Indi's Friends

Sabtu, 27 November 2010

Man's Best Friend...







Hari ini gue berencana buat diem dirumah. Mandi larut dan ditempat tidur seharian. Biar deh 1 minggu sekali aja gue dapetin perhatian full dari Ray yang lagi di kantor. Maklum, setiap hari gue selalu nunggu-nunggu teleponnya (yang seharusnya) setiap satu jam sekali ;)) Tapi baru aja jam 11 pagi, waktu gue lagi menikmati tempat tidur dan telepon ke 4 dari Ray, tau-tau aja nyokap minta gue bangun dan pergi ke rumah Uak. Yah, setelah nego sana-sini, akhirnya pergi juga gue kesana meski tanpa mandi dan gosok gigi (cuma ganti baju doang, hihihi).

Begitu sampai di rumah Uak ternyata gue berubah semangat. Pasalnya Uak minta bantuan untuk mengurusi anjing dan mengantar dia ke pet shop. Ya, maklum aja, soalnya Uak baru beberapa hari adopsi anjing. Katanya dia udah lupa "caranya" karena terakhir kali punya anjing ya waktu remaja dulu, namanya Cupy yang mati karena tua.
Setiap kali ada yang minta bantuan sama gue, kalau itu menyangkut anjing, pasti gue "iya-kan". Malah gue sering dianggap geek tentang anjing karena hampir hapal isi 1 ensikopedia tentang anjing, hehehe.
Jadilah hari ini gue melatih Doggy (nama anjing Uak) untuk shake hand (dan hal-hal basic lainnya) ditemani Eris anjing golden retriever gue :)


bersama eris disebrang rumah uak


Oya, sebelumnya harus gue ceritakan juga kalau asal-usul Doggy sebetulnya nggak terlalu jelas. Jadi suatu hari Uak yang lagi butuh anjing penjaga tiba-tiba aja "dihadiahi" bayi anjing oleh pengurus rumahnya. Katanya ini anjing liar yang ditinggalkan induknya. Nggak tau jelas induknya anjing jenis apa dan ada dimana, tapi si pengurus rumah yakin dia pernah lihat bapaknya. Waktu ditanya jenis anjingnya, dia cuma bilang, "Anjingnya besar, coklat". Begitu.
Uak sebenarnya nggak terlalu yakin mau pakai anjing nggak jelas ini sebagai penjaga, tapi berhubung belum menemukan anjing lain yang "tepat", jadi Uak putuskan untuk memelihara Doggy dulu sementara.


Setelah "bermain-main" (baca: berlatih) sedikit dengan Doggy, Uak dan gue langsung pergi ke pet shop. Disepanjang perjalanan, Uak terus-terusan minta gue telepon atau SMS teman-teman yang berternak anjing penjaga. Ya, Uak mau mengadopsi anjing untuk menggantikan Doggy segera.
Ada beberapa kandidat anjing yang dirasa cocok. Uak berencana mau menemuinya sepulang dari pet shop.

Di pet shop Uak langsung melihat-lihat rantai untuk anjing Doberman. Dengan serius dia berdiskusi dengan penjaga toko tentang rantai yang paling tepat. Gue sendiri cuma mendengar sekilas pembicaraan mereka dan melihat-lihat makanan untuk bayi anjing.
Waktu gue lagi lengah tiba-tiba aja Uak muncul disamping gue sambil bawa tali kecil untuk kucing.
"Ini bagus, nggak?" tanya Uak.
"Loh, itu apa?" bingung kan gue...
"Ini untuk si Doggy, kan lehernya masih kecil,"
"Oh...(??)"
Meski bingung gue nggak bertanya apa-apa. Otak gue langsung menyimpulkan sendiri kalau Uak pasti mau beri talinya untuk Doggy setelah nggak dirawatnya lagi (Doggy rencananya akan diurus kembali oleh pengurus rumah Uak).

Sesuai rencana kami menuju rumah teman yang menjual macam-macam anjing penjaga. Diperjalanan Uak nggak banyak bicara. Dia cuma bilang kalau Doggy itu lucu, ukuran matanya kecil sebelah. Gue cuma senyum aja menanggapi kata-katanya.
Akhirnya kami sampai dan mobil diparkir agak jauh dari rumah teman gue. Nggak ada salah satu dari kami yang keluar dari mobil. Bicarapun nggak. Cuma diam sampai kira-kira 15 menit...

"Sudah, lah kita pulang aja. Tolong jangan beritahu Uak kalau ada yang jual anjing, ya. Soalnya Uak mau pelihara Doggy. Selamanya!"

Dan gue pun tersenyum. Kalimat "Man's best friend" terbukti benar. Seekor anjing, jenis apapun itu, ras murni, campuran atau yang biasa disebut anjing kampung seperti Doggy selalu bisa menjadi sahabat manusia. Karena anjing nggak mengenal jenis, mereka semua sama: percaya dan akan menjaga tuannya selamanya.
Dalam hati gue langsung berjanji akan melatih Doggy dan membawanya ke dokter hewan untuk vaksin pertamanya. Selamat datang di keluarga kami, Doggy!



doggy!



nb: Nama "Doggy" diambil dari asal katanya yaitu "Dog". Karena Doggy sebelumnya memang nggak mempunyai nama, jadi hanya dipanggil seperti dirinya sendiri. Yaitu... anjing ;)

Selasa, 23 November 2010

Membuka Keep-Sake Box Kami :))


Hari ini gue seneng banget. Pasalnya sahabat gue datang kerumah tanpa disangka-sangka! Sebelumnya kami memang sudah janjian ketemu di mall, tapi karena suatu sebab gue terpaksa batalin dan stay dirumah. Tiba-tiba aja tadi siang dia telepon dan bilang mau mampir ke rumah!! :D


Gue dan Dhian sudah bersahabat sejak kami berusia 15 tahun (sekarang gue 24 dan Dhian 23 tahun). Kami langsung tahu bahwa kami cocok satu sama lain sejak kami duduk satu bangku dikelas 1 SMA. Kami nyaris nggak terpisahkan. Sampai-sampai meski kemudian kami kuliah di fakultas berbeda, kami tetap bergabung di kelompok choir yang sama. Malah kami "memaksakan" untuk sama-sama mengambil suara sopran, hehehe.

Meski begitu kami bukan 2 orang yang sama persis. Kami berbeda. Sangat berbeda, malah. Dhian lebih suka pelajaran matematika, sedangkan gue lebih suka bahasa. Dhian menggunakan tangan kanan, sedangkan gue menggunakan tangan kiri. Dhian anak bungsu, sedangkan gue anak sulung.
Satu-satunya persamaan kami adalah, kami sama-sama memakai kacamata tebal! Yup, kami nerd disekolah. Memang tidak selalu menjadi rangking pertama, tapi kami bangga menjadi 10 besar meski banyak yang mengejek kami culun :))

Kedekatan kami "memicu" sebuah ide unik. Waktu kami duduk dikelas 3 SMA, gue bisa merasakan hubungan kami pasti nggak akan seerat dulu karena perbedaan hobi yang makin mencolok. Gue lebih fokus menulis, sedangkan Dhian lebih fokus dengan hobi berhitungnya. Jadi suatu hari, dengan sisa uang jajan selama satu bulan gue beli sebuah "keepsake box". Harganya memang nggak murah, tapi gue yakin suatu hari kotak ini akan jadi harta kami yang berharga...


Hari ini:
Dhian datang kerumah gue dengan jaket tebal dan senyuman yang lebar. Kami sama sekali nggak tau apa yang mau kami lakuin. Untuk nonton DVD terlalu malas dan untuk order pizza uang kami terlalu sedikit, hehehe. Akhirnya kami bermalas-malasan di kamar gue sambil ngobrol sana-sini.
Entah karena apa, tiba-tiba gue inget keepsake box yang dulu kami "kubur" dibawah lemari. Buru-buru gue minta Dhian gali harta karun kami. Nggak gampang. Buku-buku dan banyak benda menghalagi tangan kecil Dhian untuk meraih ujung kotak dan menariknya sampai lepas. Sampai akhirnya...

"Ini, ambil!"

Dhian berhasil ambil harta karun kami...


our keepsake box


dhian


gueeeee :D


Dengan perasaan exiting kami berebutan buka kotaknya. Gue berhasil buka karet segelnya lebih dulu. Benda pertama yang gue ambil adalah amplop pink dengan segel (stiker mainan, hihihihi) warna hijau. Gue minta Dhian buka dan baca isinya (Dhian terus-terusan nolak dan bilang, "Aku nggak inget ini apa... Aku bener-bener nggak inget!", hahaha).
Raut wajah herannya berubah merah. Itu tulisan yang dia buat 6 tahun baru. Isinya tentang cita-citanya, siapa laki-laki yang paling mau dia kencani, musik favorit dan masih banyak hal sepele (tapi lucu) lainnya. Dhian genggam amplopnya sampai 5 menit karena dia takut gue baca kertasnya dan mengejek dia, hahaha.
Sekarang giliran gue. Dibelakang kotak itu ada tulisan panjang tentang apa aja yang gue ingin capai ketika dewasa. Ya Tuhan.. Benarkah itu gue??? Gue mau jadi rockstar, bergabung dengan Aerosmith dan belajar main harmonika! Hahahaha, ya, itu gue 6 tahun lalu :)) Sampai detik ini gue masih mengidolakan Aerosmith dan belajar harmonika. Tapi, hey! Siapa yang kira kalau gue dulu sempat bercita-cita jadi rockstar? :p


dhian malu baca tulisannya sendiri, hihihi...


Kami tertawa sampai super-heboh, malah kadang sampai teriak segala. Mungkin apa yang kami tulis dulu cuma hal sepele, tapi siapa sangka diusia kami yang bukan ABG lagi sekarang semua malah terdengar konyol, lol.
Setelah tawa kami reda, gue buka bagian dasar kotak demi melihat sesuatu yang lebih sentimentil...
Disana ada bukti pembayaran SPP bulanan sekolah kami, kupon makanan di kolam renang umum, kertas bertuliskan ucapan selamat ultah untuk Veggie, anjing gue yang tahun lalu mati dari Dhian, tiket izin memotret di monumen Yogyakarta Kembali, contekan-contekan kecil yang kami buat ketika ujian (kebanyakan malah nggak digunakan karena kami cukup cerdas, lol) dan masih banyak lagi.


isinya macam-macam... dari mulai ucapan ultah sampai kertas contekan...


Semua benda itu membuat kami teringat masa SMA yang indah. Masa dimana gue dan Dhian sangat asyik dengan "dunia-naif" kami. Sangat fokus dengan cita-cita dan penuh dengan obsesi mustahil (Dhian menulis, dia ingin mengencani Kian Westlife, lol). Hari ini kami membukanya kembali. Kenangan itu pasti nggak akan pernah terulang lagi. Tapi satu hal yang membuat kami bersyukur pernah mengisi keepsake box bersama-sama adalah:
"Kami bisa mendapatkan semangat dari dua orang remaja nerdy ketika kami mulai stuck atau putus asa diusia dewasa kami". Begitu ;)


Hmm, tiba-tiba aja gue punya ide... Besok gue mau cerita sama Ray soal hari ini, ah. Kayanya asik juga punya keepshake box sama pasangan sendiri ;)

Sabtu, 20 November 2010

Foto Bercerita dibulan November



Halo teman-teman, sudah delapan hari gue nggak post cerita baru, ya? Hehehe, nggak nyangka bakal selama ini. Tapi bukan berarti hati gue stuck di tanggal 12 November, lho :))

Selama 8 hari ini gue sempat ada "adu mulut" dengan Ray selama beberapa hari. Pasalnya bulan Desember nanti dia bakal pergi ke Singapur selama 4 hari untuk pekerjaannya. Dan itu bikin gue kehilangan berat. Sayang cara gue mengekspresikan "kemanjaan" kurang tepat, sampai Ray sempat ikut emosi dan kami panik. Tapi syukurlah semua selesai dan hati gue sudah lebih tenang sekarang :)

Tadi waktu gue buka-buka file komputer, gue temuin 1 foto kami yang gue pikir menarik untuk di share disini. Memang sih gambarnya kurang jelas karena fotonya sudah lama. Tapi coba perhatiin, deh baik-baik: disebelah kiri itu foto Ray kecil dan disebelah kanan itu Indi kecil (It's me, lol). Ada yang temuin persamaannya? Yup! Kami sama-sama berusia 5 tahun waktu foto itu diambil dan kami juga sama-sama pakai baju tentara. Tapi persamaan yang paling lucu adalah, kami sama-sama nggak suka kalau baju kesayangan kami itu dicuci! Hahahaha :) Lucu, ajaib. Padahal kami berdua dulu nggak saling kenal.


sama-sama berasa PD dan "hebat" kalau pakai baju ini, hahahaha :))



Selain itu keluarga gue juga kedatangan "anggota" baru nih :) Namanya "VANESSA". Dia adalah new baby born dari istri Om gue yang tinggal di Tanggerang. Ain't she's so cute?? ;)
Bertambah lagi deh sepupu perempuan gue. Seneng. Cuma sayangnya yang sebaya sama gue cuma Gina yang tinggal dibeda kota, hihihi...

vanessa: sangat mirip bapaknya. tapi rata-rata bayi perempuan yang baru lahir memang begitu. nanti setelah beberapa lama baru agak mirip ibunya juga (terjadi sama gue, sepupu dan hampir semua orang yang gue kenal, lol)



Sisanya bakal gue share dalam bentuk foto-foto, ya. Yang pertama gue nemu foto-foto gue dan Om Bule (Richard from "Gue Bule Ngehe" blog) waktu kami kopdar di Bandung dari album Facebooknya. Dan yang terakhir foto-foto sepulang wisuda sarjana gue di studio foto dekat rumah yang hasilnya baru gue ambil kemarin.
Enjoy!
Semoga kalian juga menikmati bulan November, btw ;)



richard dan gue tertawa ala "bangsawan" (HAHAHAHA, masih pengen ketawa kalau inget moment ini)

gue dan bianca (ricahrd GF) bergaya ala ABG (ya Tuhan... usia kami berapa, ya?)


sepulang wisuda tanpa toga dan jubah. nyokap suka foto ini. gue keliatan dewasa katanya :)


do i look smart? lol


with my mommy and daddy. sekarang kalian jadi tahu kan kulit pucat ini gue dapat darimana? ;)



Jumat, 12 November 2010

Gaun Pengiring Pengantin dihari Wisuda :)


Halo semua, apa kabar? Semoga baik-baik saja, ya. Soalnya cuaca yang sering berubah-rubah belakangan ini bikin rawan flu (termasuk gue yang juga kena, hehehe) :) Hari ini gue mau cerita tentang wisuda gue yang serba mendadak (Ya, gue AKHIRNYA wisuda, lol).

Tanggal 10 November kemarin, disaat semua orang memperingati hari pahlawan, gue malah wisuda! Sebetulnya gue sudah nolak buat ikutan sejak bulan Juli lalu. Ya, sejak jauh-jauh bulan! (bukan jauh-jauh hari lagi). Alesannya karena gue sudah lulus, tau IPK gue, sudah salaman sama semua dosen juga, hehehe. Jadi apa lagi?
Tapi Nenek gue berpendapat lain. Baginya wisuda adalah suatu "kebanggaan". Lulus saja belum cukup, beliau pengen punya kenang-kenangan untuk dipajang dirumahnya: Foto gue yang lagi pakai toga dan kebaya.
Waaaah, andai Nenek tau... Sebetulnya pakai toga, kebaya dan konde'lah yang gue hindari. Soalnya terlalu ketat, gerah dan kondenya bikin pusing. Kalau harus pakai ini semua, gimana gue bisa menikmati prosesi wisuda yang berjam-jam? Bisa-bisa gue udah pingsan duluan...

Orang tua gue bisa mengerti. Mereka setuju lebih baik kami syukuran dirumah saja. Sesuatu yang sifatnya simbolis nggak terlalu penting. Toh, semua anak yang sekolah asalkan rajin belajar (dan fasilitas mendukung) pasti bisa lulus. Itu kan proses, jadi nggak perlu dibesar-besarkan.
Tapi akhirnya di detik-detik terakhir orang tua gue minta gue ikut wisuda. Alasannya bisa ditebak, mereka nggak mau mengecewakan Nenek. Ibu bilang, Nenek sudah tua, kadang sulit untuk diberi penjelasan kalau wisuda itu nggak penting. Lebih baik gue menurut daripada jadi kekecewaan berkepanjangan...

Jujur, beberapa hari sebelum wisuda gue sempat ngambek. Nolak pakai kebaya dan parno banget rambut gue yang cuma segini-segini harus ditempeli konde (soalnya kalau hanya dicepol, paling cuma dapet sejempol, hehehe). Orang tua gue akhirnya kasih kebebasan apa yang akan gue pakai nanti. Syaratnya asalkan rapi dan formal. Dikejar waktu yang sudah sangat dekat, hal pertama yang gue inget cuma buku baju pengiring pengantin yang dikasih sama Mrs. Patty, hahaha. Akhirnya gue plilih long dress tercantik yang ada disana. Dengan sedikit corat-coret (ya, gue suka sekali mendesain baju), gue minta Ibu untuk jahit long dress yang sudah di modifikasi itu. Ibu agak nggak percaya gue mau pakai baju pengiring pengantin. Tapi setelah gue tunjukin desainnya, beliau setuju ;)

Waktu hari wisuda datang, gue putuskan buat nggak ambil pusing. Gue inget cerita sepupu dan teman-teman gue yang harus bangun jam 4 subuh untuk persiapkan kebaya, make up dan konde. Tapi cerita gue ternyata nggak seperti itu (terima kasih Tuhan...). Gue bangun jam 7 pagi (hampir seperti biasa) dan cukup cuci muka (gue mandi 2 hari sekali, btw, lol). Setelah itu gue pakai long dress'nya. Almost no make up. Gue cuma pakai bedak tipis, lip gloss dan blush on. Untuk rambut gue biarkan terurai, cuma gue kasih hiasan bunga-bunga kecil.

Nenek agak kaget dengan penampilan gue. Beliau bilang, "Mana kondenya? Nggak pakai kebaya?", tapi gue cuma senyum dan biarkan Nenek tau sendiri jawabannya nanti.

***

Gue diantar Bapak, Ibu dan Nenek. Sabuga, tempat gue wisuda sudah penuh sepenuh-penuhnya. Agak heran juga kenapa banyak wisudawan/wati yang bawa rombongan sampai 2 mobil. Padahal sudah jelas undangan yang boleh masuk hanya 2 orang. Alhasil banyak wisudawan/wati yang mau masuk gedung malah terhalang sama tamu-tamu tanpa undangan. Untungnya, sejak tahun 2004 gue sering mengisi choir disini, jadi sudah tau harus lewat mana supaya cepat, hihihi...

Di dalam gedung gue sering sekali dapat pertanyaan-pertanyaan heran seperti, "Indi, nggak pakai konde?" atau "Indi, nggak pakai kebaya? Padahal kan supaya cantik seperti yang lain", dll.
Gue sih tetap cuek aja, soalnya yang tau batas nyaman kan cuma diri sendiri. Soal cantik itu belakangan. Kalau teman-teman lain bisa tahan pakai baju daerah lengkap dan heels, nah nggak begitu dengan gue. Lagipula susana nampaknya nggak mendukung untuk pakai baju yang agak ribet. Bayangkan aja, ada seribu lebih wisudawan/wati disana. Belum lagi jumlah security yang berlebihan bikin ruangan makin terasa sempit. Itu belum termasuk tamu tanpa undangan yang berhasil masuk. Bisa kebayang kan gimana suasananya? Sudah mirip nonton konser rock pakai konde aja, hihihihi :)

Akhirnya prosesi wisuda selesai. Beberapa teman dan dosen yang tadinya bilang gue "kurang cantik" berbalik memuji karena sampai akhir acara cuma gue lah yang wajahnya nggak belepotan karena make up campur keringat. Tapi buat gue yang paling lucu adalah pendapat Nenek gue. Beliau bilang,
"Bagus juga ternyata pakai baju santai. Emah (panggilan Nenek) mah kasian liat yang sebelumnya pada cantik malah pada selonjoran dilantai gara-gara pegel pakai sepatu tinggi".

Hihihi :)
Gue nggak mengecilkan teman-teman yang berpakaian ribet, tentu aja. Menurut gue usaha mereka memang sepadan, kok. Dimata gue mereka tampil sangat cantik. Tapi rasanya nggak masalah kalau gue berpendapat bahwa kebaya, konde dan high heels kurang tepat untuk dipakai disuasana ramai dan gedung yang kurang memadai. Wisuda sarjana itu satu kali seumur hidup, gue mau menikmati setiap detik moment'nya tanpa terganggu pakaian gue. Sekali lagi, gue nggak mengecilkan teman-teman yang lain, lho. Gue cuma mau menekankan bahwa kenyamanan adalah yang utama. Dan yang terpenting cantik itu kan in the eye of the beholder ;)




Kamis, 11 November 2010

Ayo menulis untuk buku kedua gue! :D


Wah leganya novel kedua gue hampir siap! :D

Setelah tahun lalu novel pertama gue terbit (Waktu aku Sama Mika), tahun ini novel kedua gue akan menyusul. Masih dari penerbit yang sama, Homerian Pustaka, konsep kali ini adalah memoir. Ya, semacam buku harian gue dari kecil sampai sekarang, deh, hihihihi. Disana selain ada kisah-kisah gue juga akan ada testimoni dari pembaca "Waktu aku Sama Mika". Awalnya, sih testimoni-testimoni itu berasal dari public figure dari macam-macam bidang. Ada dari bidang musik, novelis, televisi dan lain-lain. Tapi kemarin penerbit punya ide supaya teman-teman pembaca juga ikut sumbang testimoni di novel gue.
Wah ide bagus! Sangat-sangat setuju :)
Kalian mau berpartisipasi? Dengan senang hati gue terima.

Caranya, kirim komentar singkat kalian tentang novel "Waktu aku Sama Mika" ke namaku_indiankecil@yahoo.com
Atau, untuk pengguna Facebook bisa kirim pesan ke inbox gue (INDI KECIL BABBITT atau INDI SUGAR). Sertakan nama, usia dan profesi kalian, ya. Cukup kirim ke salah satu account/email saja. Supaya gue lebih mudah bacanya :)

Untuk komentar yang terpilih akan dimuat di cover belakang novel gue.



Supaya kalian nggak kebingungan, gue akan post beberapa testimoni yang sudah masuk ke Facebook gue:

"Waktu aku Sama Mika ditulis dengan penuh cinta karena aku merasakan cinta ditiap tulisannya".
(Angela Febriani Tobing,19 tahun, Mahasiswi)

"Sempurna itu ada di semua orang, tergantung gimana cara kamu lihatnya. Touchy!".
(Inchan pratiwi, 18 tahun, Graphic design student)

"Jujur, tulus dan apa adanya. Tidak dilebih-lebihkan hanya supaya bisa menggunakan kata-kata yang terdengar hebat, melainkan sederhana dan mudah dimengerti oleh hati".
(Alice Ayu, 20 tahun, Penulis merangkap calon auditor)



Begitu :)
Gue tunggu email dari kalian, ya. Terima kasih banyak.

xo,
Indi "Sugar pie"


Senin, 08 November 2010

Another Ray's "best" birthday, ever!


birthday boy! :)



Hari ini (7-11-10) Ray ulang tahun. He's 27. Yes, he's getting older of course :)
Tapi ada hal-hal yang nggak berubah (dan gue harap nggak akan): Kami rayakan ultahnya sama-sama dan we belong each other...

Gue masih inget tiga tahun lalu. Waktu itu hubungan kami mirip seperti kakak-adik. Gue cuma ucapin selamat lewat testimoni di friendster. Tanpa kado, lilin apalagi kue. Lalu satu tahun kemudian kami berpacaran. Kado pertama gue untuk Ray adalah buku Enyd blyton. Gue bungkus bukunya pakai kotak daur ulang. Karena kotaknya cukup besar, gue tambahi plester komedo dan gantungan HP boneka teddy Mr. Bean. Hahahaha, silly me. Tapi Ray bilang itu kado terindah yang pernah dia dapat. "Plesternya dipake sambil baca buku." Itu katanya...

Lalu satu tahun kemudian. Kami berselisih. Gue lupa gara-gara apa. Yang pasti gue terlambat dijemput sepulang terapi scoliosis. Gue tunggu Ray di restoran fast-food sambil nulis surat buat dia. Konyol. Isinya "raport Ray selama 2 tahun". Hahahaha, disana gue tulis kalau Ray itu blah, blah... Beberapa ada yang ditulis penuh emosi dengan tinta merah.
Waktu Ray datang gue kasih kadonya: Surat penuh amarah dan komik Doraemon.
Ternyata Ray sudah punya komiknya. Tapi dia tetap bilang terima kasih. Dan lagi-lagi dia bilang ini ulang tahunnya yang terindah...


raport untuk ray (hehe)

komik doraemon (yang ternyata ray sudah punya, hihihihi)



Tahun ini semuanya masih tetap sama. Nggak ada kado mahal, nggak ada surprise party atau hura-hura. Kami cuma duduk berdua di food court sepulang gue terapi. Gue bawa cake yang dibeli didekat rumah. It's cheap and very small :) Diatasnya gue kasih lilin yang tampak kebesaran buat kue sekecil itu. Tapi Ray tetap gembira. Dia bilang terima kasih berkali-kali dan nggak nyangka gue lakuin ini. Nggak ada makanan spesial. Cuma waffle dan teh kotak. Kami berdoa, tiup lilin dan makan kue'nya. Selesai. Ray bilang, "This is my best birthday, ever". Begitu.

berfoto bersama kue tart kecil yang enak :)

our waffle. makanan untuk "rayakan" ultah ;)



Kami selalu bahagia setiap salah satu dari kami berulang tahun. Setiap tahun sama spesialnya. Waktu ulang tahun Ray... atau gue. Waktu gue kasih kado komik Doraemon atau waktu Ray kasih gue tempat CD dan pensil HSM :)
Selalu kami berusaha memberi, setidaknya memperingati bersama setiap tahun. Supaya kami selalu ingat... beruntung sekali kami lahir, bertemu dan saling memiliki.

Happy birthday, Ray. May God bless you with smile in every single day... and, I'm blessed to have you in my life :)

Kamis, 04 November 2010

Walking with "Giant" :p


Mau nulis nggak ya? Mau? Nggak? Mau? Nggak? Nggak mau? Mau!
Hahahaha, mulai ngaco deh gue. Hmm, sebenernya sih hari ini gue lelah banget. Tapi berhubung tidur nggak bisa dan kalau bengong malah mikir yang nggak-nggak, lebih baik gue nulis aja, deh, lol.

Kali ini gue mau cerita tentang Richard, temen gue yang biasa dipanggil Om Bule (meski sebetulnya gue lebih tua dari dia, hehehe).
Gue mengenal si Om ini lewat dunia blog. Awalnya sih nggak sengaja, waktu gue lagi visit blog teman, disana ada link ke suatu blog yang namanya aneh: Bule Juga Manusia. Iseng-iseng, gue klik dan mulai baca blog'nya. Wah, ternyata isinya lebih aneh daripada judulnya. Banyak cerita nggak penting dan foto-foto "mengerikan", lol. Tapi, entah gue mulai terhipnotis atau memang jatuh cinta, gue jadi ogah ninggalin blog itu dan malah betah baca postingannya satu persatu! Ckckckck... :p
Meskipun begitu, gue sama sekali nggak ninggalin komentar. Alasannya sederhana: Gue nggak mau dianggap sebagai orang asing yang nimbrungin cerita-cerita pribadi dia. (Seriously, it's like reading a dude's diary, lol).

Sampai suatu hari (yang mana sangat jarang terjadi), gue melakukan random add di Facebook. Dan tanpa sengaja yang gue add itu account'nya Om Bule! Ternyata oh ternyata... dunia ini sempit sekali... (iya, lah. Namanya juga internet, lol). Langsung aja gue kasih link blog gue dan bilang kalau gue suka sama blog'nya.
Entah berapa lama kemudian (yang pasti cukup lama sampai gue lupa pernah ninggalin link di wall'nya), waktu gue on line tengah malem, gue terima pesan di inbox FB dari si Om Bule. Isinya cukup panjang. Tapi intinya dia merasa nggak enak karena baru sempat baca blog gue setelah sebelumnya dia dikejar deadline novel perdananya. Dia bilang tulisan gue beautiful (ah, jadi malu, lol) dan punya ide untuk barter 1 kopi buku gue dengan traktiran wisata kuliner kalau dia berkunjung ke Bandung nanti.
Wah, jelas aja gue mau :)


***

2 November 2010
Dan inilah kami,
Gue langsung menyalami Om Bule dan nona manisnya (namanya Bian :) ) begitu sampai di BIP. Agak konyol juga karena tanpa basa-basi gue langsung bilang kalau gue lapar dan pengen langsung makan, hehehe. Alhasil, sebelum sempat ngobrol-ngobrol, kami langsung sibuk cari tempat makan, dan sudah bisa ditebak, gue pasti ngerepotin karena status gue yang vegetarian, lol. Akhirnya supaya semua bisa makan, kami pilih untuk ke food court (yang ternyata percuma karena cuma gue doang yang makan, hahaha). Disana barulah kami mulai ngobrol-ngobrol selayaknya teman on line yang baru ketemu.

Kesan gue tentang Om Bule sedikit berbeda dari yang gue tangkap di blog'nya. Ternyata dia nggak se'ngehe yang dikira, hehehe. Gue pikir dia bakalan cerewet dan bersuara besar (sebesar badannya, lol), tapi ternyata dia bicara dengan volume dan kecepatan yang normal, kok, lol. Tapi kalau soal kocak, dia memang sekocak di blog'nya. Buktinya waktu kami foto-foto dia bisa bergaya aneh-aneh sampai gue puas ketawa lihat gayanya, hahaha. Sayang gue nggak punya gambarnya, soalnya fotonya diambil dari kamera Om Bule dan gue cuma dapet satu foto malu-malu yang diambil sama Bian, huhuhu. Gue jadi nggak sabar Om Bule upload foto-foto kami, nih. Soalnya selain foto gue dan Om Bule, ada juga foto gue dan Bian yang ala AL4Y :p


foto malu-malu kami, hihihihi


Gue yang baru sembuh dari sakit jadi nggak punya waktu cukup buat bawain kedua teman baru gue ini hadiah. Gue cuma bawa 1 novel "Waktu Aku Sama Mika" yang nggak dibungkus pula, hihihihi... agak memalukan, ya? :p Tapi semoga aja mereka suka bukunya.
Ternyata Om Bule bawain gue oleh-oleh dari Australia. I'ts a cute Koala stuffed doll! Wah, gue seneng banget, soalnya bisa nambahin koleksi boneka gue :) Makasih ya Om Bule....
Oya, ada kejadian lucu lho pas acara "tuker kado", Bian bilang sama gue kalau dia pernah dikasih boneka koala sama Richard tapi buatan Cina, padahal belinya di Australia. Langsung aja gue masukin boneka gue ke dalem tas, takutnya Om Bule langsung berubah pikiran dan kasih bonekanya ke Bian, hahahaha.



boneka koalanya sekarang jadi penghuni baru diatas tempat tidur gue. liat match banget kan sama wallpaper dikamar gue? :)


Selesai (gue) makan kami ke bioskop. Entah ide dari mana (ehmm, sebenernya dari gue, sih, lol), kami putusin buat nonton "Setan Facebook". Wah posternya bikin penasaran banget, soalnya dari semua cast yang disebutin nggak ada satupun yang kami kenal. Tebakan kami, sih, ini pasti tipikal film Indonesia yang "konyol", alias baru 5 menit film diputar langsung ada adegan sun-sun'an, hehehe. Tapi ternyata kami nggak bisa langsung nonton (padahal udah nggak sabar, lol), soalnya film baru dimulai 1 jam lagi.

Sambil nunggu kami main dulu di Timezone. Ya, niatnya sih cuma mau have fun aja sambil habisin waktu. Tapi ternyata kami malah dirampok! Untuk yang berniat main ke Timezone, lebih baik baca dulu pengalaman gue dan teman-teman tadi sore:
Tau kan mesin permainan boneka alias catcher doll machine yang menarik hati itu? Dengan mata berbinar, gue dan Bian pengen banget dapetin salah satu boneka di mesin itu. Om Bule yang baik hati ternyata mau dapetin bonekanya buat kami (hore... hore...). Setelah beli 1 kartu game, Om Bule mulai berjuang untuk dapetin boneka beruang warna biru. Awalnya sih dia cuma asal nangkep aja, cuma lama-lama gemes juga sampai-sampai dia mulai ukur "sudut ketepatan antara kait dengan boneka", hehehe. Boneka beruang incaran itu beberapa kali nyangkut di kaitnya, tapi anehnya malah terlepas waktu udah deket ke kotak keluar. Sampai akhirnya Om Bule yakin banget bidikannya kali ini bakal tepat. Dan... terbukti, bonekanya nyangkut, swinging berkali-kali... oops, ternyata meleset LAGI! Hfff...
Nggak tahu sudah berapa kali kartu digesekan ke mesin itu sampai tau-tau aja empty. Tadinya sih kami pikir sudah cukup, cuma musik yang keluar dari mesinnya itu lhooooo, kayaknya manas-manasin kami banget! Akhirnya diisi ulang lagi kartu game'nya si Om Bule. Kali ini kami mau coba mesin dengan boneka yang lebih besar, soalnya kami pikir peluang dapet bonekanya pasti lebih besar. Ternyata SALAH BESAR! Tekanan dimesin ini jauh lebih besar. Boneka-boneka besar yang asik nyengir ke arah kami ternyata cuma kasih harapan palsu. Mereka selalu jatuh TEPAT disamping kotak keluar! Hmm, mulai curiga kaitnya dirancang khusus untuk melonggar di waktu-waktu tertentu... Sniff, akhirnya kami keluar dari Timezone dengan tangan kosong. Bener-bener kosong, karena kartu game yang kedua juga isinya sudah habis, hahahaha (ketawa sedih).

Masih dalam rangka nunggu film dimulai, Om Bule beli pedang-pedangan dulu. Yes, betul pedang-pedangan pajangan gitu (Aku bantu kamu ya, Richard. Kalau nanti dibandara kamu dilarang bawa pedang ini karena dianggap senjata tajam, kamu tunjukin saja postingan aku, jadi ada bukti kalau yang kamu bawa itu memang pedang-pedangan, hahaha). Si Om Bule pilih-pilihnya lamaaaaa banget. Persis banget kalau gue masuk toko sepatu, lah, lol. Untungnya dia nggak minta pedangnya langsung dipakai, kaya kalau gue lagi belanja sepatu :p
Akhirnya pedang yang dipilih warna hitam. Keren banget, deh pokoknya. Ada tulisan Jepangnya juga, tapi gue nggak tau artinya apaan. Yang penting mah keren, hihihihi.


Waktu kita sampai dibioskop ternyata film'nya sudah dimulai. Terpaksa deh kita jongkok-jongkok takut ganggu orang-orang yang serius nonton "Setan Facebook" (gue dan Bian sih nggak apa-apa, soalnya pada imut. Nah, si Om Bule, tingginya hampir 2 meter, lol). Waktu gue jongkok-jongkok sebenernya agak mirip orang tiarap waktu perang, soalnya gue orangnya penakut abis kalau soal film hantu-hantuan, lol.
Akhirnya, setelah kami duduk dikursi sembarang, kami mulai nonton filmnya. Begini ceritanya...
*yawning* Ada hantu hobinya main Facebook, jadi dia bunuh orang-orang di friendlist'nya. Tamat.
Iya, betulan tamat. Ceritanya memang segitu-gitunya, suara pemainnya juga nggak begitu jelas, kaya orang lagi kumur-kumur gitu. Editornya juga jelek. Hantunya nggak serem. Tapi justru karena semua kekurangan itu kami jadi ribut ketawa-ketawa sepanjang film. Contohnya aja yang bikin ngakak, ada adegan bule (nggak tau siapa namanya) mau hack account'nya si hantu. Tau nggak dia ngapain? Dia cuma buka profile hantu dari account'nya sendiri, nggak ngapa-ngapain, geleng-geleng, isep rokok terus bilang, "Nggak bisa...", hahahahaha. Atau ada nenek-nenek yang mengenalkan diri, maksudnya sih misterius, tapi suaranya nggak jelas dan malah kedengeran kaya, "Panggil saya Oma POCHONG", whuahahahahaha...
Ada satu adegan yang sukses bikin Om Bule dan Bian ngakak, yang sayangnya gue nggak perhatiin. Katanya sih waktu hantunya mau nyergap pemeran utamanya yang lagi nyetir mobil, pemeran hantunya udah nongol-nongol di bangku belakang sambil nungguin aba-aba gitu! Hihihihihi, what a movie :')

Kamipun keluar bioskop sambil ketawa-ketawa heboh. Beberapa kali kami ngulang dialog-dialog konyol yang ada di film itu (dan favorit kami adalah, waktu si cowo bule bilang sama temen cewenya supaya jangan dulu bukan FB, si cewe langsung panik sambil bilang, "Sampai kapaaaan???!!!" Hahaha, seolah dia dilarang nafas atau makan, lol). Rasanya kalau dipikir-pikir lagi cuma kami bertiga yang ketawa-ketawa waktu nonton. Eh, jangan-jangan penonton lain anggap film itu terlalu serius sampai-sampai berasa masuk ke setiap adegannya? Come on, you've gotta be kidding me :p

Akhirnya, kami harus berpisah. Selain waktu yang semakin larut, mall'nya juga hampir tutup, hihihihi. Nice to see you Om Bule, Bian. Makasih oleh-olehnya. Kapan-kapan kita main lagi, ya... Atau bikin film "Setan Blogger" sekalian, lol. Oya, ngomong-ngomong, boneka koala'nya gue kasih nama "Ribi". Tau kan singkatan dari apa? ;)




Blog'nya Om Bule: http://bulejugamanusia.blogspot.com/



yang paling depan itu koin dari Om Bule. horeeee, dapet tambahan koleksi uang asing deh :)


My Puppy is 8 Years Old! OMG! :D