Teman-teman yang menyukai "Dunia Kecil Indi"

Kamis, 24 Juni 2010

About His Second Family :)

Ah, I miss my blog so much... Skripsi gw akhirnya kelar (tinggal 1 ujian lagi, wish me luck) dan novel baru gw udah di revisi (tinggal menunggu kabar baik, hehe), akhirnya gw bisa nulis lagi disini.

Selama ini gw selalu nulis apa yang dekat dengan gw. Misalnya tentang keluarga, temen-teman kampus, my pet's atau ujung-ujungnya tentang diri sendiri (narsis! Lol). Tapi kali ini gw mau cerita tentang sesuatu yang (tadinya) nggak ada hubungannya sama gw. Tentang sebuah keluarga yang somehow bikin gw amaze meski baru gw temui satu kali.

Ray lah yang berjasa mempertemukan gw sama mereka. Tadinya gw nggak begitu tertarik dengan cerita Ray tentang keluarga ini. Maklum, gw tipe orang yang nggak percaya kalau ada keluarga yang bisa sayang sama seseorang layaknya anak kandung (kecuali kalau anak adopsi legal, ya. Itu sih lain cerita. Gw sendiri emang niat adopsi anak laki-laki atau perempuan suatu hari).
Ray cerita kalau dia dan keluarga Kendall (gw bahkan selalu plesetin namanya jadi "Keluarga Lilin", lol) udah saling mengenal sejak 6 tahun lalu. Awalnya mereka ketemu karena kerjaan Ray disebuah travel agent. Nah, sejak saat itu Ray (katanya) jadi part of their family.

Banyak sekali cerita Ray tentang keluarga ini. Terutama tentang kedekatan Ray dan mereka. Sekali waktu Ray pernah cerita kalau Daddy Jim (yes, he call him DADDY!) sering sekali datang ke kantornya untuk sekedar bilang "Take care" dan berdoa. Seenggaknya satu minggu sekali, itu katanya. Lain waktu, waktu Ray telepon gw dari kantornya, tiba-tiba kedengeran lagu "Happy Birthday" and people's claping. It's a surprise party for him. Hmm, ya gw mulai percaya kalau Ray memang deket sama keluarga Kendall, tapi gw nggak pernah kira kalau mereka seperti keluarga betulan.

Sekitar bulan lalu Ray cerita kalau "keluarganya" mau pulang ke Amerika Juni nanti. Mereka undang Ray dan gw ke farewell party'nya. Awalnya gw nggak ngerti kenapa gw diundang. Gw bahkan nggak pernah ketemu mereka. Apalagi Ray kenal mereka sejak 6 tahun lalu, 3 tahun sebelum kita saling mengenal.
Tapi semuanya jadi masuk akal waktu Ray jelasin kalau dia nggak pernah sekalipun mengenalkan (mantan) pasangannya ke keluarga Kendall. Ray mau gw jadi cewe pertama dan satu-satunya yang dikenalkan sama his second family. Ray bilang dia sering cerita banyak tentang gw dan mereka pengen banget ketemu gw. Hmm, setelah gw pikir-pikir, why not? Nggak ada salahnya gw penuhi undangannya apalagi ini bukan yg pertama kali. Christmas kemaren (atau new year??) Ray juga pernah ajak gw temui mereka, tapi gw nggak mengiyakan.

a surprise party for Ray


Akhirnya 20 Juni kemaren gw ikut Ray ke Kendall's Farewell Party. Sebelum pergi gw hampir kehilangan mood soalnya resleting dress gw sobek dan rasa marah bikin keringet tumpah kemana-mana, hehehe. Tapi begitu sampai di kediaman Kendall's (aneh banget gw ngetik namanya, soalnya nama belakang gw Indonesia banget, lol) rasa BT gw gara-gara insiden resleting langsung ilang. Mr. Kandell sambut kita dengan ramah meski kita dateng telat 1 jam (hey! it's not my fault!).

Waktu kita masuk ke dalam rumah mereka, ya ciri khas farewell moment, lah. Doa-doa, kesan-kesan, makan-makan hehehe... I can feel someone staring and grin at me (biasa, lah intuisi seorang wanita, lol).
"It's Jim Jr", bisik Ray. Maklum lah sesi berdoa, jadi kita harus ngobrol pelan-pelan.
Jim Jr, named after his dad. He's a (very) big guy with very unusual hair cut (nanggung-nanggung gitu).
Terus a lovely lady yang wajahnya ngingetin gw sama Katie Bates (I'm 24 y.o. Wajar lah kalau kenal dia, lol) senyum kearah gw. Ray bilang it's Mommy Sharon a.k.a Mrs. Kendall. Masih menurut Ray dialah yang paling sering menanyakan gw.
Gw mulai merasakan "kedekatan" yang nggak biasa. How Ray bound with them dan gimana cara the Kendall's "mengenal" gw. Gw jadi yakin kalau sedekat itulah Ray dengan mereka. Sedekat keluarga...

Setelah sesi "resmi" selesai lambat-laun gw semakin merasa nyaman sekaligus canggung disana. Mereka terus-terusan bilang kalau mereka seneng gw datang. Even they are said that's Ray talk a lot about me. *Sigh* Gw jadi ngerasa nggak enak selama ini nunda-nunda melulu untuk datang. Nyesel rasanya waktu tau ternyata disini rasanya seperti di rumah (termasuk makanannya!).
Nggak kerasa Ray dan gw disana sampai jam 10 malem (and we're forget that we have to chasing a cab -.-'). Sebelum pulang Daddy Jim berdoa dulu buat kita. We're holding hand and I almost shed a tears. Dia berdoa supaya Tuhan jaga kita sebagai pasangan dan suatu hari punya anak-anak yang lucu. Wah, kalau aja gw lagi PMS pasti gw udah kaya ibu-ibu di iklan indov*sion (jangan sebut iklan, lol).

Gw bisa liat Ray berat banget buat pisah dengan mereka. Sedikit lucu, mereka bilang "good bye" berkali-kali tapi kita nggak pulang-pulang, hehehe. Mereka peluk kita masing-masing dua kali dan gw (sekali lagi) hampir netesin air mata gw. Gosh... gw jadi takut Ray nggak kuat nahan emosinya dan nangis. Bukan gw nggak suka liat cowo nangis, gw cuma takut ikutan nangis, lol.


a "family" :)


Akhirnya kita sampai rumah jam 11 malem. Gw liat mata Ray berkali-kali buat mastiin kalau dia nggak nangis, hehehe. Ray ternyata nggak seemosional yang gw kira. Dia cuma berkali-kali bilang,
"Nggak tau apa gw bisa terbiasa. Rasanya ada yang ilang..." (aww, poor Ray).
Terus kita keingetan sesuatu. Ditengah acara Mommy Sharon kasih kita amplop yang belum kita buka. Ternyata isinya kartu yang bertuliskan: Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.
Aaaah, I'm melt... Rasanya gw baru dapet restu dari orang tua sendiri. Kata-kata itu bikin gw semakin terpacu untuk lulus kuliah dan menunggu Ray proposing me, hihihihi.

Sekarang gw ngerti, it's possible to love others as much you love your own family. Hmm, I think I'm already missing my "new family" :)

4 komentar:

  1. thx a lot, hon, really appreciate it :) it wasn't a goodbye, just a "see you later" moment. hugLUV

    BalasHapus
  2. you're welcome. nantikan kisah2 berikutnya, mas.. hahaha :p
    iya, nanti kan ketemu lagi. amen. huhLuv

    BalasHapus
  3. wah..enak banget ya disayang orang asing..Mereka sepertinya terbiasa sayang sama orang lain ya?

    BalasHapus
  4. @ POPI: iya, lagipula mereka memang sudah anggap ray keluarga, makanya sayang :)

    BalasHapus

Terima kasih untuk komentarnya, it's really nice to hear from you :)